Sabtu, 08 Juli 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.58

-- Volume 3 chapter 58 --



Perang semakin meluas, bahkan desa terpencilpun tidak terlewatkan.

Kedukaan atas kematian Raja tidak bertahan lama, dilibas berita penaklukan He Xia yang semakin luas,  membuat khawatir orang-orang yang masih bertahan hidup.

“Aku mengumumkan, Suami Ratu dari Yun Chang telah menurunkan titahnya. Rakyat dari setiap desa akan didata dan setiap orang harus menyerahkan tiga karung beras, beras itu akan diambil dalam dua hari kedepan, tidak boleh kurang.”

Rakyat yang berkumpul menjadi panik.

“Tiga karung beras, bagaimana kita akan menghadapi musim dingin?”

“Dia tidak membiarkan kita hidup!”

“Tuan petugas,” seseorang menarik jubah si prajurit yang baru saja selesai membacakan pengumuman. Orang itu menangis, “Kau tahu bagaimana kehidupan keluargaku. Istriku sakit, semua beras sudah dijual untuk membeli obat. Aku bahkan tidak mungkin menyerahkan satu karung apalagi tiga.”

Si petugas juga menjadi pucat. Ia berkata pelan, “Apa yang bisa kulakukan? Anak-anakku juga dihitung, aku juga pusing memikirkannya. Luo, kita harus membayar, sebagai upeti untuk militer. Kalau terlambat atau kurang, mereka akan mengambil nyawamu. Para prajurit Yun Chang itu, membunuh tanpa berkedip.”

Luo menjadi pucat. Ia mengosok matanya yang berair dan berkata, “Ketika Raja kita masih hidup, kita tidak pernah di minta membayar tiga karung beras sekaligus. He Xia, mengapa ia harus menaklukan Bei Mo ?”

“Apa kau tidak sayang nyawamu? Berani sekali membawa nama Raja.” Si petugas melihat sekelilingnya, dan ia memberi isyarat jarinya memotong lehernya. Ia memperingatkan, “Patuhi saja, kita juga tidak tahu kemana Jendral Ruo Han melarikan diri, jadi berhati-hatilah dan jangan bertidak ceroboh.”

Selama ia bicara, langit bergetar karena suara langkah kaki kuda yang mendekat, kerumunan orang-orang melangkah mundur, dan mereka semua melihat kearah pintu masuk desa. Terlihat bendera pasukan Yun Chang dari kejauhan.

“Apa yang terjadi? Apa ada masalah?”

Para prajurit mencapai pintu masuk desa dan menghentikan kuda mereka. Rakyat desa menatap mereka, untuk sesaat dibutakan oleh sinar yang dipantulkan pedang mereka.

“Siapa yang berwenang di sini?” prajurit yang berdiri di depan memperhatikan di petugas, “Apa kau sudah tahu perintah Suami Ratu untuk mengumpulkan beras?”

“Sudah, sudah, baru saja dibacakan.”

“Apa ada yang membuat masalah?”

“Tidak, tidak, semuanya penduduk desa yang patuh.”

“Baiklah.” Si kepala prajurit menguman dan berkata, “Kalian rakyat Bei Mo seharusnya menjadi budak kami pasukan Yun Chang, tapi Suami Ratu berbaik hati, membiarkan kalian menjadi sumber pangan untuk pasukan. Kalian bertanilah dengan baik dan hasilkan kuda yang bagus. Suami Ratu juga memerintahkan untuk membuat batas daerah. Mulai hari ini, kalau kalian menemukan orang asing, harus segera melaporkannya. Kalau kalian berani menyembunyikannya, desa ini akan dimusnahkan karena pemberontakan. Apa sudah jelas?”

Si petugas sangat ketakutan. Ia segera menangguk dan memaksa tawa, “Sudah, sudah, sudah jelas. Kami semua penduduk desa yang baik, penduduk yang baik.”

Si pemimpin prajurit melihat si petugas begitu ketakutan sampai gemetar, dan ia tertawa mengejek. “Penduduk yang baik? Desa Jiaokou yang berjarak lima puluh mil dari sini mengatakan kalau mereka juga penduduk yang baik, tapi mereka menyembunyikan beberapa mantan prajurit Bei Mo. Seluruh penduduk desa yang berjumlah seratus tujuh belas orang, seluruhnya dibantai oleh kami. Hmph, kurasa aku harus meletakan beberapa kepala terputus, agar kalian ingat apa arti - penduduk yang baik. Ayo pergi.”

Luo tiba-tiba terjatuh ke tanah, memegangi kepalanya sambil menangis.

“Luo untuk apa kau menangis?”

“Jangan Tanya.” Jawab seseorang, dan beberapa orang menghela napas, “Kakak perempuannya menikah dengan penduduk desa Jiaokou.”

Semua orang turut bersedih.

--

Negara sudah jatuh.

Hidup dan mati bukan pilihan, hanya masalah sabar dan menderita.

AHan melewati pagar dengan langkah lebar langsung menuju kursi batu yang terletak di halaman. Ia berteriak pada Ze Yin, “Kakak, ini tidak baik. Aku sudah tidak tahan lagi. Aku ingin menjadi prajurit dan menyerang si brengsek He Xia! Hidup seperti apa ini! Begitu banyak beras, darimana kau dapat begitu banyak beras? Kalau itu untuk menghidupi para prajurit, lantas bagaimana dengan istri dan anakku?”

“AHan diamlah. Jangan membuat masalah.” Yangfeng segera keluar dan melotot pada AHan. Ia berkata pelan, “He Xia memberi pengumuman, akan menghadiahkan lima puluh dua koin emas untuk setiap pemberontak. Jaga ucapanmu atau kau akan dilaporkan seseorang, jangan berkata seperti itu dengan berteriak.”

“Beras di rampok, rumah di rampok, bahkan ayampun hilang. Apa yang perlu dikhawatirkan?” AHan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak takut mati.”

“Lalu bagaimana dengan istri dan anakmu?”

“Aku…” perkataan AHan terhenti. Pundaknya lesu, “Apa gunanya hidup? mereka membuat kita mustahil untuk bertahan hidup…” suaranya melemah.

Kesunyian mendadak terasa dari halaman. Ze Yin yang menjadi diam tiba-tiba, menyeka pacul di tangannya. Ze Yin memandangi pacul seolah sebuah pedang, pedang yang indah yang selalu menggantung di pinggangnya ketika dulu.

Weiting berjalan mendekatinya. Ia berkata pelan, “Kalau ini terus berlansung, kita akan di paksa untuk mati. Mengapa kita tidak…”

“Tidak apa? Pasukan Bei Mo sudah kalah, pasukan mana lagi yang bisa mengalahkan pasukan He Xia?”


“Jangan katakan kalau kita akan menjadi tahanan perang seterusnya dan membiarkan anak-anak kita menanggung malu.” Kata-kata Weiting agak kasar, dan ia sulit mengendalikan nada suaranya. “Dengan membawa nama Jendral, kalau turun gunung sekarang, dan memanggil mereka, seharusnya banyak yang terkumpul.”

Perkataan Weiting membuat Ze Yin bersemangat luar biasa, tapi itu hanya berlangsung sesaat. Bara semangat di matanya segera menghilang.

Kalau ia turun gunung, jelas ia mampu mengumpulkan anak-anak muda Bei Mo yang bersemangat. Tapi, sebanyak apapun yang terkumpul, tetap tidak cukup untuk mengalahkan pasukan He Xia.

Lawan mereka bukan orang lain, melainkan He Xia.

Ia menyaksikan sendiri kekuatan Chu Beijie, dan tahu pasti kalau He Xia sebanding dengan Chu Beijie. Kesempatan untuk menanh sama sekali tidak ada, meskipun jika jumlah pasukan mereka seimbang.

Apalagi kalau perbedaan jumlah prajurit terlalu jauh.

Hanya akan membuat tragedy. Dan rakyat Bei Mo akan kehilangan kepercayaan padanya. Hal itu akan lebih tersiksa, daripada dibantai dalam pertempuran Zhouqing.

“Jendral…”

“Sudahlah tak perlu berkata lagi.” Ze Yin meletakan paculnya. “Siapkan air dan makanan yang sudah disiapkan Yangfeng. Waktunya ke lading.”

--
Berita menyebar ke seluruh desa paling terpencil bersama awan gelap, menyebarkan kegerian dan gossip.

Adik Raja, Pangerang Zhong Tan, mengumpulkan orang-orang untuk membentuk pasukan dan hendak berperang melawan He Xia. Kurang dari sepuluh hari, tiga puluh ribu orang terkumpul. Pasukan yang terdiri dari relawan itu, dikalahkan oleh salah satu Jendral He Xia tiga pulu mil dari pinggir kota, dan Pangerang Zhong Tan ditangkap hidup-hidup. ia disiksa dan dihukum mati dengan dipotong sampai berkeping-keping.

Pasukan Dong Lin yang mundur sekali lagi mengumpulkan kekuatan mereka dan menyerang Yun Chang dengan sekali pukulan telak. Tapi He Xia dengan rencana liciknya, menyergap mereka di lembah. Pasukan Dong Lin sekali lagi gagal dan kehilangan sebagian besar dari mereka. Mayat mereka bertebaran dimana-mana, mencemarkan sungai Fuzha Dong Lin.

Awan bahaya sekarang merangkak menuju Gui Li. Pasukan Yun Chang semakin dekati ibukota Gui Li dan Raja Gui Li yang menyedihkan, lebih senang mengibarkan bendera putih. Le Zhen yang selalu mengamati Raja, menyadari situasinya sangat tidak bagus. Ia segera membawa pasukannya menuju perbatasan Gui Li, menjauhi pasukan Yun Chang.

Berita demi berita mengabarkan penaklukan He Xia dan kehebatan pasukan Yun Chang. Karena kebutuhan mendesak untuk perkembangan pasukan mereka, kebutuhan militer dipenuhi dari negara yang telah di taklukan.

Awalnya mereka meminta beras, sekarang setiap keluarga harus menyerahkan tiga kilo besi. Agar mereka memiliki bahan baku untuk membuat senjata.

Pasar-pasar sepi, dan toko-toko besi tertutup rapat.

Para penduduk desa sangat khawatir.

“Lima belas kilo besi. Apa mereka ingin kita menyerahkan panci masak kita? Aku menolak!”

“Kau menolak. Apa kau ingin bernasib seperti Luo?”

Orang paling miskin di desa, Luo, tidak mampu menyerahkan tiga karung beras sehingga kepalanya yang kecil itu digantung tinggi di tengah desa. Istrinya yang sakit-sakitan menggantung diri dengan kain keesokan harinya.

“Kalau kita memberikan panci kita, lantas bagaimana kita akan memasak?”

“Kau ingin hidup, atau kau ingin panci?”

“Bahkan kalau kita memberikan panci, masih belum cukup.”

Si petugas yang sudah tua memandang penduduk desa yang sudah dikenalnya bertahun-tahun. Ia berkata dengan pelan, “Kalian harus menyerahkan pacul juga…”

“Mengapa He Xia menjadi begitu kejam?”

“Ia memiliki pasukan.”

“Bagaimana dengan pasukan Bei Mo kita?”

“Dikalahkan. Tak ada yang bisa melawan He Xia.”

“Mengapa tak ada yang bisa mengalahkannya, dunia begitu luas, mengapa ada ketidak adilan seperti ini?”

“Aku dengar ada seseorang…” suara seseorang diantara kerumunan.

Mata para penduduk seketika melebar sambil menatap seseorang yang membuka mulutnya.

“Siapa?”

Para penduduk hanya mendengar penggalan berita tentang itu. Setelah berpikir sejenak orang itu berkata, “Kurasa namanya Tuan Besar Bei ......, sesuatu seperti Chu mungkin….”

“Lalu dimana dia?”

“Itu… Aku tidak tahu..”

Para penduduk menjadi kecewa lagi. Mata mereka yang sempat bersinar menjadi redup kembali. Mereka yang dalam posisi jongkok atau bersandar di dinding semuanya menjadi sangat diam.

Lima belas kilo besi harus diserahkan hari ini. Entah apalagi besok.

Panci dan cangkul yang biasa mereka pakai akhirnya diserahkan pada para prajurit, dan syukurlah jumlahnya mencukupi. Sinar matahari sepertinya tidak mempedulikan kemarahan dan keputusasaan, ia tetap menyinari bumi dengan semangat tinggi.

--

Ze Yin sedang berada di lading, berkeringat ketika ia menggunakan paculnya. Tinggal pacul itu yang tersisa di rumah.

Raja sudah mati, negara sudah jatuh.

Para prajurit datang dan pergi, berkuda sesuka mereka, merusak pertanian dan peternakan yang sudah susah payah ia buat. Hati Ze Yin seperti di tekan batu besar, menghancurkannya sampai berkeping-keping dan berdarah.

Ia dulu seorang Panglima dan memegang kekuasaan penuh atas militer Bei Mo, ia memimping pasukan dengan disiplin tinggi dan berjanji akan melindungi Negaranya, Rajanya dan para penduduk.

Dan sekarang, Raja sudah mati, rakyat diinjak-injak oleh penguasa lain.

Kalau saja lawannya bukan He Xia, kalau saja ia tidak perlu khawatir dengan istri dan anaknya, apa ia akan diam saja disini sambil mencangkul, membiarkan para prajurit kejam itu merampas hasil kerja kerasnya?

Yangfeng memperhatikan Ze Yin dengan hati terluka. Hanya ketika Ze Yin menyaksikan Qing Er dan Changxiao, dua anak yang tidak tahu kesedihan, hatinya bisa bergembira sedikit.

Tapi ketika ia berbalik, beban di hatinya semakin berat hingga hampir mencekiknya.

“Kakak! Kakak!”

Ze Yin mendongakkan kepalanya, keringat besar-besar terlihar di wajahnya. AHan berteriak sambil berlari dari jalan kecil. “Kakak, Kakak, bahaya! Kakak Wei di tangkap prajurit!”

Ze Yin terkejut. Ia melemparkan paculnya dan berlari ke arahnya, “Dimana dia?”

“Dia diluar desa, disisi bukit, dekat sudut padang rumput yang luas.”

Tidak menunggu AHan menyelesaikan kata-katanya, Ze Yin segera berlari ke jalan masuk desa.

Weting, ia sangat tahu pribadi Weiting.

Orang yang galak, ia bahkan tidak mempedulikan atasannya ketika di militer dulu. Ia hanya tahu bagaimana memukul, merapatkan giginya dan berkelahi. Sifatnya yang senang melanggar aturan sangat luar biasa. Ze Yin memintanya untuk berada di sekitar dataran rerumputan, agar ia bisa mengetahui lebih dulu perintah He Xia berikutnya, yang seperti hukuman mati bagi penduduk desa. Mengapa ia malah mendatangi prajurit Yun Chang?

Ze Yin berlari secepatnya kearah lereng. Dibawah, terlihat rerumputan kacau balau, sepertinya beberapa orang telah menginjak-injak daerah itu. Ada bercak darah disisi lain bukit.

“Weiting! Ze Yin menangis sambil berlari ke arah sisi lain bukit.

Weiting berbaring di lereng, sepertinya terguling jatuh di rerumputan dari jejak darahnya. Ze Yin segera menghampirinya, dan berlutut di dekatnya, lalu membantunya duduk. “Weiting bagaimana keadaanmu?”

“Mereka….mereka….” wajah dan tubuh Weiting sangat pucat, darah mengalir dari lukanya. Sepertinya luka karena pedang dan tombak. “….merampas kuda …. Dan….. domba…. Aku…”

“Jangan bicara, dan jangan bergerak.” Ze Yin berkata pelan, “Aku mengerti.”

Yangfeng dan Pingting terkejut ketika Ze Yin membawa Weiting pulang. Si pengasuh segera membawa pergi keduan anak kecil itu keruangan lain sementara mereka berdua saling berbagi tugas membalut luka Weiting.

“Kuda dan domba, semuanya…”

“Jangan bicara lagi.” Yangfeng berkata dengan lembut pada Weiting yang masih bersikeras berbicara. Ia menghela napas, “Merampok tidak masalah, tapi apa perlu dihajar sampai seperti ini?”

Ze Yin menjawab, “Sudah bagus ia masih hidup.”

Weiting yang sudah tinggal bersama mereka di pedalaman sudah seperti keluarga sendiri. Begitu lukanya selesai di balut mereka meninggalkannya di tempat tidur untuk beristirahat. Begitu mereka keluar dari ruangan, masing-masing dari mereka memikirkan sesuatu. Yangfeng memasak bubur untuk Weiting, karena tidak banyak beras tersisa, selain weiting mereka semua memakan ubi jalar.

Setelah hari yang melelahkan, akhirnya waktunya untuk berisitirahat. Yangfeng berbaring di tempat tidur tapi tidak bisa terlelap. Ia melihat Ze Yin yang sudah tertidur pulas, lalu turun dari tempat tidurnya.

Saat ini sudah pertengahan musim gugur, dan angin malam sangat tidak bersahabat. Ia berjalan ke depan rumah tapi terkejut oleh kehadiran seseorang yang berdiri di halaman, berdiri, melawan terpaan angin.

“Pingting?”

Pinting perlahan berbalik.

Di bawah sinar bulan, Yangfeng bisa melihat benda yang ia pegang di tangannya. Pedang “Semangat Surga” yang telah dipajang di tembok ruangan.

Yangfeng menghampirinya.

“Kau juga tidak bisa tidur?”

“Apa orang itu benar-benar menghilang?”

Sepertinya sekarang waktunya untuk berkumpul lagi dengan cahaya bulan. Dibawah cahaya bulan, sebuah wajah, sama tapi tidak sama.

Gagah, kuat, senang menguasai, angkuh….

Ketika menyerang Gui Li, hanya dengan sebuah taktik, menghancurkan Kediaman Jin Anwang yang selama berpuluh-puluh tahun mengukir sejarah. Ketika menyerang Bei Mo, hanya dengan tiga jurus melemahkan semangat juang seluruh prajurit. Hanya mendengar namanya saja, mereka akan bermimpi buruk. Ketika ia menyerang Yun Chang, ia mengetarkan seluruh negeri, dari Tuan Putri sampai rakyatnya. Semua orang tanpa terkecuali menjadi cemas dan gelisah.

Tuan Besar Zhen Beiwang dari Dong Lin, Chu Beijie.

Ia penerus takhta Dong Lin, seorang Jendral yang dihormati dimanapun. Setiap negara takut padanya, tapi jejaknya menghilang begitu pasukan Yun Chang mulai menempatkan posisinya di dunia.

“Pingting kau lebih mengerti masalah ini daripada aku. Aku hanya ingin tahu, apa ada, orang yang mungkin bisa mengalahkan He Xia?”

“Tuan Muda… bukan, He Xia…” Pingting menghela dan tersenyum pahit. “Aku khawatir, hanya ada satu orang yang bisa melakukannya, kau tahu siapa yang kumaksud. Yangfeng, apa menurutmu, aku perlu…”

“Tidak!” Yangfeng segera menyelanya. Walau wajahnya terlihat cemas, ia menggelengkan kepalanya, seperti berusaha menghilangkan mimpi buruk yang paling menyakitinya. Agak lama sampai akhirnya ia bisa menguasai emosinya, ia memegang kepalanya dan berkata dengan sedih, “Jangan bertanya padaku. Apa bedanya sekarang dengan situasi ketika peperangan di Kanbu? Aku sudah melakukan kesalahan satu kali. Aku tidak boleh melakukannya dua kali. Pingting, aku sudah bersumpah, apapun yang terjadi, aku tidak akan pernah memohon padamu untuk meninggalkan gunung. Apalagi pria itu sudah menghilang lama sekali. Kalau kau pergi, kemana kau akan mencarinya?”

Pingting mendengarkan, hanya diam. Setelah lama, ia menyengkram pedang di tangannya dan berjalan masuk kedalam. Changxiao tertidur pulas di dalam ayunan. Sinar bulan dengan lembut memantul di wajah mungilnya, menampilkan wajah tampannya di masa depan, tiruan sempurna dari ayahnya.

Pingting memperhatikan anaknya, dan ia tersenyum sambil berguman, “Changxiao, Changxiao, apa kau tahu kenapa aku menamaimu Changxiao? Aku berharap wajah mungilmu ini selalu tersenyum, dan  mampu menghadapi masalah apapun dengan tersenyum.”

“Anakku, aku sungguh berharap kau tidak jatuh cinta pada wanita pintar.”

“Wanita yang terlalu pintar akan selalu melakukan kesalahan bodoh. Begitu hatimu terikat, kau tidak akan mampu melepaskannya.”

“Kalau ia tidak menyukaimu, kau akan kecewa, dan kalau ia terlalu mencintaimu, kalian berdua akan kacau.”
--

Yun Chang, Kota Qierou.

“Kau bohong!”

“Aku bohong apa?”

“Kau bilang, akan mengirimkannya pada Guruku. Fanlu, kau berbohong!”

Fanlu dengan mudah menangkap tangan Zuiju yang seputih giok, yang berniat memukul dadanya. Ia mengerutkan dahi sambil berkata, “Berapa kali aku harus mengatakannya agar kau mengerti? Situasi di Dong Lin saat ini sangat kacau balau, prajurit yang melarikan diri dan rakyat yang mengungsi bercampur baur dan berada dimana-mana. Bahkan Ratu Dong Lin saat ini tidak diketahui keberadaannya. Si pengirim pesan tidak mungkin menemukan gurumu. Masih ingin memukulku? Kau berani? Aku akan melawan!”

Saat ini kehidupannya sedang tidak baik. Setelah kematian Pejabat Senior, para pejabat yang mendukung He Xia mulai rewel pada para pejabat yang diangkat oleh Pejabat Senior.

Suatu waktu laporannya tidak disampaikan pada pihak atas, dan lain waktu surat perintah dari pusat tidak ditulis dengan jelas. Terlihat jelas kalau mereka berusaha membuatnya menajadi pihak yang bersalah sebagai Walikota.

Dan disini, setelah Zuiju mengetahui situasi Dong Lin yang sangat kacau, ia menjadi khawatir berlebihan dan selalu berteriak. “Bohong!” kedua tangan Zuiju sekarang digenggam Fanlu, jadi Zuiju hanya bisa melotot padanya.

“Kapan aku berbohong padamu?” Fanlu menatapnya balik.

“Kapan kau mengatakan yang sebenarnya padaku?”

Fanlu kesal dan ekspresinya menjadi gelap, “Tentu saja, aku mengatakan yang sebenarnya sejak awal”

Zuiju mulai merasa tidak nyaman, tapi bagaimanapun ia berusaha melepaskan pergelangan tangannya, tidak ada hasil sama sekali. Wajahnya memerah karena menahan amarah, “Kebenaran? Hmmph, kapan?”

Fanlu berpikir dan berkata, “Ketika pertama kali, aku berkata, desas desus mengatakan kalau kau tidak cantik, tapi menurutku kau lumayan. Iya, itu yang sebenarnya.”

Zuiju terkejut mendengarnya. Rona merah karena amarah, sekarang menyebar ke telinga dan sekitarnya, bahkan lehernya terasa panas.

Ia berusaha tenang, tapi segera menyadari kalau ia hampir berada di pelukan Fanlu. Ia mengigit bibirnya dan berkata, “Hei, Lepaskan,” dan mengulanginya sambil merasa malu.

“Siapa Hei?”

Zuiju melepaskan pisau terbang dengan tatapannya tapi ia melihat sudut bibir Fanlu terangat. Pria itu jelas-jelas memikirkan sesuatu, Zuiju merasa sedikit takut dan merasa situasi ini semakin tidak baik. Ia memendam rasa kesalnya dan berkata dengan hati-hati, “Tolong lepaskan aku, Tuan walikota.”

Fanlu menyeringai, senang mendengar perkataan Zuiju, ia melepaskan gengamannya. Zuiju segera menarik tangannya dan menyadari pergelangannya memerah. Pria menyebalkan itu memang kuat. Zuiju melolot padanya dan duduk di tempat tidur. Memikirkan gurunya dan para pengungsi yang melarikan diri membuatnya khawatir sehingga matanya mulai memerah.

Fanlu melihat Zuiju menundukan kepalanya dan diam. Keisengannya menghilang melihat Zuiju seperti itu, karena biasanya Zuiju selalu ceroboh dan berisik. Fanlu mendekat dan duduk disampingnya, “Aku akan mencarikan seseorang untuk menyampaikan suratmu lagi dan kuharap orang itu akan berhasil menemukan gurumu.”

Zuiju bergeser sedikit, “Jangan duduk begitu dekat.” Suaranya kecil seperti nyamuk.

“Apa kau bilang?” Fanlu bertanya dengan kencang, ia bergeser menjadi lebih dekat dari sebelumnya.

Zuiju segera berdiri dan menghentakan kakinya. “Kau… apa kau tidak mengerti, tidak seharusnya pria dna wanita seperti itu.”

“Kau,” Fanlu berdiri, dan ia lebih tinggi dari Zuiju. Suaranya tegas, “Apa kau tahu kalau wanita selalu mengatakan tidak padahal yang ia menginginkannya.”

“Siapa yang ingin?”

“Kau! Kalau aku mendekat kau begitu gembira, jadi mengapa kau malah berkata sebaliknya?”

“Aku…aku…” Zuiju hampir menangis karena marah dan ia terus menghentakan kakinya, “Kapan aku gembira? Aku masih mengkhawatirkan guruku dan kau terus mengejekku…seharusnya aku membiarkanmu mati di gunung Songsen sehingga para serigala itu bisa memakan isi perutmu dan…”

Perkataan Zuiju masih belum selesai ketika sosok Fanlu memenuhi matanya, dengan terkejut Zuiju melangkah mundur dan menutup matanya. Ia tidak menyangka pinggannya akan dipeluk begitu erat.

Bibir Fanlu menyelinap di bibirnya yang merah seperti bara api.

“Ah….” Zuiju pucat karena terkejut. Matanya membelak ketika menatap wajah Fanlu yang menyerigai kesal.

Seringai Fanlu mulai menghilang dan ia tersenyum, “Jangan pikirkan gurumu malam ini, pikirkan aku saja.” Ia melambaikan tangan di depan Zuiju yang berdiri kaku dan meninggalkannya untuk mengurus dokumen-dokumennya.
--

Yangfeng berjalan ke dalam kamarnya. Tempat tidur sudah kosong dan Ze Yin tidak terlihat. Jantungnya menjadi berdetak tidak teratur. Ia berjalan perlahan ke ruangan samping dan mengintip ke dalam. Ze Yin sedang membungkuk, membongkar tumpukan barang.

“Apa yang kau cari?” Yangfeng berbisik.

Ze Yin menjadi kaku. Setelah beberapa saat ia berbalik dan menegakkan punggungnya. Di bawah cahaya bulan, Yangfeng bisa melihat jelas matanya.

Matanya penuh semangat.

Tapi ketika mata itu begitu bersinar, artinya si empunyanya telah membuat keputusan penting.

Sebuah keputusan yang tidak bisa diubah.

Yangfeng teringat ketika Ze Yin menjadi perwakilan Raja Bei Mo untuk memberi salam pada Raja Gui Li. Mereka bertemu di kediaman Pangeran He Su. Ia memainkan kecapi, lalu menyibak tirainya sedikit. Saat itu ia melihat sorot mata yang sama dengan saat ini.

Hati Yangfeng serasa seperti di cabut keluar.

Setelah itu, Ze Yin mengatakan kalau ia telah memutuskan, meskipun ia harus menghadapi seluruh penghuni istana Gui Li, ia pasti akan menikahinya.

Ia tidak tampan dan jika dibandingkan dengan Tuan Muda Jin Anwang, ia sama sekali tidak romantis. Tapi ia memiliki bola mata hitam yang bersinar, seakan apapun yang terlihat selalu diperhatikan dan tidak ada apaun di dunia yang mampu membuatnya ragu.

“Suamiku, apa yang kau cari?” Yangfeng bertanya dengan lembur sekali lagi. Hatinya mengira-ngira dan gelisah, ia melangkah mendekati agar bisa melihat wajah Ze Yin dengan lebih jelas.

“Aku tidak mencari apa-apa.” Ekspresi Ze Yin agak ragu sejenak sebelum menatap mata Yangfeng.

Yangfeng melihat tangannya terkepal, ia memperhatikannya dan berusaha melihat isi hatinya.

Mereka sudah menjadi suami istri selama beberapa tahun, sejak ia melarikan diri dari Raja Gui Li dan tinggal di pengasingan, kembali ke ibukota Bei Mo untuk pertempuran Kanbu, lalu kembali ke pengasingan lagi….

Sampai hari ini, semua itu perjalanan yang sangat panjang. Sekarang mereka memiliki Qing Er. Ketika mereka bersumpah untuk hidup sederhana di pedalaman, mereka sungguh berharap mampu melakukannya.

Yangfeng adalah pemain kecapi terkenal Gui Li dan Ze Yin adalah Panglima Utama Bei Mo. Semua kejayaan masa lalu, mereka pikir mereka telah meninggalkan semuanya, ternyata nasib berputar lagi.

Hari ini, setelah mereka saling berpandangan di bawah sinar bulan, mereka mengerti kehidupan impian mereka, hanya bisa dilewati bersama begitu singkat.

“Di kotak sebelah kanan.” Yangfeng berkata pelan.

“Hm?”

“Pedangmu, di kotak sebelah kanan.”

Ze Yin menatap istrinya yang lembut, dan matanya tiba-tiba terasa panas.

“Yangfeng…”

Sebuah jari menutup mulutnya, menghentikannya. Yangfeng menatapnya dalam, seakan tidak pernah puas, ia memperhatikan wajahnya baik-baik.

“Sungguh bagus, Wing Er mirip denganmu. Ayahnya… seorang pahlawan.” Yangfeng bersandar di dada suaminya yang hangat berusaha merasakan detak jantungnya. Ia mengeraskan hati, menegakkan punggungnya dan berbalik keluar, “Aku akan menunggumu.”

Ia mengatupkan bibirnya dan kembali ke kamarnya, Yangfeng tak mampu lagi menahan beban tubuhnya ia terduduk di tempat tidurnya.

Ia tidak terlelap, hanya duduk. Diam seperti batu.

Lalu ia mendengar langkah kaki di luar. Suaranya terdengar semakin jelas, setiap langkah yang terdengar membuat hatinya semakin gelisah sampai akhirnya suara langkah kaki itu tidak terdengar lagi. Pikirannya mulai kembali ke masa lalu. Ia terus duduk sampai bulan menghilang di balik sinar matahari yang perlahan mulai mendaki, warna jinga kemerahan menampilkan wajahnya yang berurai airmata.

“Yangfeng sudah waktunya bangun.” Pingting membuka tirai dan melihat punggung Yangfeng. Ia terkejut dan menyadari sesuatu, “Dimana Ze Yin?” suaranya mengambang.

“Pegi.”

“Pergi?” Pingting mendekatinya. Ekspresi Yangfeng membuktikan kecurigaan Pingting. “Oh tidak…” Pingting menarik napas panjang dan dalam, “Kenapa kau tidak menghentikannya? Bukankah kau sudah membuatnya bersumpah untuk hidup di pengasingan? Bukankah kau tidak ingin ia terlibat dengan hal semacam itu lagi?”

Yangfeng menatapnya. Ia tampak hancur, tapi ia tersenyum getir, “Aku tidak pernah menyukainya ketika ia bertarung dalam peperangan karena perintah seseorang. Berperang untuk kekuasaan, melindungi kerajaan, tapi Raja Bei Mo hanya memandangnya sebagai alat untuk membunuh, sebuah boneka dengan pedang di tangan. Kali ini aku membiarkannya pergi, karena ia melakukannya untuk dirinya sendiri.” Angin pagi menyapu wajah Yangfeng dengan lembut. “Kalau ia ingin melakukannya, tanpa tekanan, tanpa perintah, sesuatu yang ia inginkan dari hati. Aku tidak boleh menghentikannya.”

Meskipun kata-katanya diucapkan dengan tidak jelas, tapi Pingting bisa mengerti. Ia menghela napas, “Lalu bagaimana denganmu dan Qing Er?”

“Qing Er dan aku akan hidup dengan baik. Ia akan tumbuh seperti ayahnya, menjalani kehidupan seperti yang diinginkannya.” Yangfeng menyeringai, kecantikannya sungguh memukau.

Suara tawa terdengar dari luar. Kedua anak itu sudah terbangun. Si pengasuh segera bergegas dan memeluk yang satu untuk menyuapinya bubur.

Pingting menemani Yangfeng hingga pertengahan hari, lalu ia pergi keluar. Matahari sudah mulai rendah, Chanxiao dan Ze Qing berlarian keluar masuk timbunan rumput tertawa tanpa henti.

“Ayah…. Ayah….” Di malam hari, Ze Qing mencari sosoknya.

Ze Qing mengangguk meskipun ia tidak mengerti sama sekali. Tak lama kemudian, ia mengeledah seluruh ruangan, berusaha mencari ayahnya yang bersembunyi. Chanxiao juga membantu mencari.

Hari demi hari keadaan semakin sulit. Kendi beras semakin kosong. Mungkin dalam sepuluh hari anak-anak tidak akan cukup makan.

Weiting terbaring di tempat tidur. Ketika ia diberitahu Ze Yin sudah pergi, ia hanya mengangguk dan tidak berkata apa-apa.

Beberapa hari telah berlalu. Pasukan Yun Chang tiba-tiba merubah perintah, mereka berkata harus mencari pasukan Bei Mo yang melarikan diri. Setiap yang berhasil menangkap akan diberikan hadiah besar, dan mereka yang menyembunyikan, akan dihukum mati.

Para prajurit itu segera berlalu. Setiap kali mereka datang selalu membawa bencana bagi penduduk desa. Semua orang hidup dalam ketakutan.

Yangfeng dan Pingting mulai khawatir dengan keadaan Ze Yin.


--00--


Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar