Perang
semakin meluas, bahkan desa terpencilpun tidak terlewatkan.
Kedukaan
atas kematian Raja tidak bertahan lama, dilibas berita penaklukan He Xia yang
semakin luas, membuat khawatir
orang-orang yang masih bertahan hidup.
“Aku
mengumumkan, Suami Ratu dari Yun Chang telah menurunkan titahnya. Rakyat dari
setiap desa akan didata dan setiap orang harus menyerahkan tiga karung beras,
beras itu akan diambil dalam dua hari kedepan, tidak boleh kurang.”
Rakyat
yang berkumpul menjadi panik.
“Tiga
karung beras, bagaimana kita akan menghadapi musim dingin?”
“Dia
tidak membiarkan kita hidup!”
“Tuan
petugas,” seseorang menarik jubah si prajurit yang baru saja selesai membacakan
pengumuman. Orang itu menangis, “Kau tahu bagaimana kehidupan keluargaku.
Istriku sakit, semua beras sudah dijual untuk membeli obat. Aku bahkan tidak
mungkin menyerahkan satu karung apalagi tiga.”
Si
petugas juga menjadi pucat. Ia berkata pelan, “Apa yang bisa kulakukan?
Anak-anakku juga dihitung, aku juga pusing memikirkannya. Luo, kita harus
membayar, sebagai upeti untuk militer. Kalau terlambat atau kurang, mereka akan
mengambil nyawamu. Para prajurit Yun Chang itu, membunuh tanpa berkedip.”
Luo
menjadi pucat. Ia mengosok matanya yang berair dan berkata, “Ketika Raja kita
masih hidup, kita tidak pernah di minta membayar tiga karung beras sekaligus.
He Xia, mengapa ia harus menaklukan Bei Mo ?”
“Apa
kau tidak sayang nyawamu? Berani sekali membawa nama Raja.” Si petugas melihat
sekelilingnya, dan ia memberi isyarat jarinya memotong lehernya. Ia
memperingatkan, “Patuhi saja, kita juga tidak tahu kemana Jendral Ruo Han
melarikan diri, jadi berhati-hatilah dan jangan bertidak ceroboh.”
Selama
ia bicara, langit bergetar karena suara langkah kaki kuda yang mendekat,
kerumunan orang-orang melangkah mundur, dan mereka semua melihat kearah pintu
masuk desa. Terlihat bendera pasukan Yun Chang dari kejauhan.
“Apa
yang terjadi? Apa ada masalah?”
Para
prajurit mencapai pintu masuk desa dan menghentikan kuda mereka. Rakyat desa
menatap mereka, untuk sesaat dibutakan oleh sinar yang dipantulkan pedang
mereka.
“Siapa
yang berwenang di sini?” prajurit yang berdiri di depan memperhatikan di
petugas, “Apa kau sudah tahu perintah Suami Ratu untuk mengumpulkan beras?”
“Sudah,
sudah, baru saja dibacakan.”
“Apa
ada yang membuat masalah?”
“Tidak,
tidak, semuanya penduduk desa yang patuh.”
“Baiklah.”
Si kepala prajurit menguman dan berkata, “Kalian rakyat Bei Mo seharusnya
menjadi budak kami pasukan Yun Chang, tapi Suami Ratu berbaik hati, membiarkan
kalian menjadi sumber pangan untuk pasukan. Kalian bertanilah dengan baik dan
hasilkan kuda yang bagus. Suami Ratu juga memerintahkan untuk membuat batas
daerah. Mulai hari ini, kalau kalian menemukan orang asing, harus segera
melaporkannya. Kalau kalian berani menyembunyikannya, desa ini akan dimusnahkan
karena pemberontakan. Apa sudah jelas?”
Si
petugas sangat ketakutan. Ia segera menangguk dan memaksa tawa, “Sudah, sudah,
sudah jelas. Kami semua penduduk desa yang baik, penduduk yang baik.”
Si
pemimpin prajurit melihat si petugas begitu ketakutan sampai gemetar, dan ia
tertawa mengejek. “Penduduk yang baik? Desa Jiaokou yang berjarak lima puluh
mil dari sini mengatakan kalau mereka juga penduduk yang baik, tapi mereka
menyembunyikan beberapa mantan prajurit Bei Mo. Seluruh penduduk desa yang
berjumlah seratus tujuh belas orang, seluruhnya dibantai oleh kami. Hmph,
kurasa aku harus meletakan beberapa kepala terputus, agar kalian ingat apa arti
- penduduk yang baik. Ayo pergi.”
Luo
tiba-tiba terjatuh ke tanah, memegangi kepalanya sambil menangis.
“Luo
untuk apa kau menangis?”
“Jangan
Tanya.” Jawab seseorang, dan beberapa orang menghela napas, “Kakak perempuannya
menikah dengan penduduk desa Jiaokou.”
Semua
orang turut bersedih.
--
Negara
sudah jatuh.
Hidup
dan mati bukan pilihan, hanya masalah sabar dan menderita.
AHan
melewati pagar dengan langkah lebar langsung menuju kursi batu yang terletak di
halaman. Ia berteriak pada Ze Yin, “Kakak, ini tidak baik. Aku sudah tidak
tahan lagi. Aku ingin menjadi prajurit dan menyerang si brengsek He Xia! Hidup
seperti apa ini! Begitu banyak beras, darimana kau dapat begitu banyak beras?
Kalau itu untuk menghidupi para prajurit, lantas bagaimana dengan istri dan
anakku?”
“AHan
diamlah. Jangan membuat masalah.” Yangfeng segera keluar dan melotot pada AHan.
Ia berkata pelan, “He Xia memberi pengumuman, akan menghadiahkan lima puluh dua
koin emas untuk setiap pemberontak. Jaga ucapanmu atau kau akan dilaporkan
seseorang, jangan berkata seperti itu dengan berteriak.”
“Beras
di rampok, rumah di rampok, bahkan ayampun hilang. Apa yang perlu
dikhawatirkan?” AHan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak takut mati.”
“Lalu
bagaimana dengan istri dan anakmu?”
“Aku…”
perkataan AHan terhenti. Pundaknya lesu, “Apa gunanya hidup? mereka membuat
kita mustahil untuk bertahan hidup…” suaranya melemah.
Kesunyian
mendadak terasa dari halaman. Ze Yin yang menjadi diam tiba-tiba, menyeka pacul
di tangannya. Ze Yin memandangi pacul seolah sebuah pedang, pedang yang indah
yang selalu menggantung di pinggangnya ketika dulu.
Weiting
berjalan mendekatinya. Ia berkata pelan, “Kalau ini terus berlansung, kita akan
di paksa untuk mati. Mengapa kita tidak…”
“Tidak
apa? Pasukan Bei Mo sudah kalah, pasukan mana lagi yang bisa mengalahkan
pasukan He Xia?”
“Jangan
katakan kalau kita akan menjadi tahanan perang seterusnya dan membiarkan
anak-anak kita menanggung malu.” Kata-kata Weiting agak kasar, dan ia sulit
mengendalikan nada suaranya. “Dengan membawa nama Jendral, kalau turun gunung
sekarang, dan memanggil mereka, seharusnya banyak yang terkumpul.”
Perkataan
Weiting membuat Ze Yin bersemangat luar biasa, tapi itu hanya berlangsung
sesaat. Bara semangat di matanya segera menghilang.
Kalau
ia turun gunung, jelas ia mampu mengumpulkan anak-anak muda Bei Mo yang
bersemangat. Tapi, sebanyak apapun yang terkumpul, tetap tidak cukup untuk
mengalahkan pasukan He Xia.
Lawan
mereka bukan orang lain, melainkan He Xia.
Ia
menyaksikan sendiri kekuatan Chu Beijie, dan tahu pasti kalau He Xia sebanding
dengan Chu Beijie. Kesempatan untuk menanh sama sekali tidak ada, meskipun jika
jumlah pasukan mereka seimbang.
Apalagi
kalau perbedaan jumlah prajurit terlalu jauh.
Hanya
akan membuat tragedy. Dan rakyat Bei Mo akan kehilangan kepercayaan padanya. Hal
itu akan lebih tersiksa, daripada dibantai dalam pertempuran Zhouqing.
“Jendral…”
“Sudahlah
tak perlu berkata lagi.” Ze Yin meletakan paculnya. “Siapkan air dan makanan
yang sudah disiapkan Yangfeng. Waktunya ke lading.”
--
Berita
menyebar ke seluruh desa paling terpencil bersama awan gelap, menyebarkan
kegerian dan gossip.
Adik
Raja, Pangerang Zhong Tan, mengumpulkan orang-orang untuk membentuk pasukan dan
hendak berperang melawan He Xia. Kurang dari sepuluh hari, tiga puluh ribu
orang terkumpul. Pasukan yang terdiri dari relawan itu, dikalahkan oleh salah
satu Jendral He Xia tiga pulu mil dari pinggir kota, dan Pangerang Zhong Tan
ditangkap hidup-hidup. ia disiksa dan dihukum mati dengan dipotong sampai
berkeping-keping.
Pasukan
Dong Lin yang mundur sekali lagi mengumpulkan kekuatan mereka dan menyerang Yun
Chang dengan sekali pukulan telak. Tapi He Xia dengan rencana liciknya,
menyergap mereka di lembah. Pasukan Dong Lin sekali lagi gagal dan kehilangan
sebagian besar dari mereka. Mayat mereka bertebaran dimana-mana, mencemarkan
sungai Fuzha Dong Lin.
Awan
bahaya sekarang merangkak menuju Gui Li. Pasukan Yun Chang semakin dekati
ibukota Gui Li dan Raja Gui Li yang menyedihkan, lebih senang mengibarkan bendera
putih. Le Zhen yang selalu mengamati Raja, menyadari situasinya sangat tidak
bagus. Ia segera membawa pasukannya menuju perbatasan Gui Li, menjauhi pasukan
Yun Chang.
Berita
demi berita mengabarkan penaklukan He Xia dan kehebatan pasukan Yun Chang. Karena
kebutuhan mendesak untuk perkembangan pasukan mereka, kebutuhan militer dipenuhi
dari negara yang telah di taklukan.
Awalnya
mereka meminta beras, sekarang setiap keluarga harus menyerahkan tiga kilo besi.
Agar mereka memiliki bahan baku untuk membuat senjata.
Pasar-pasar
sepi, dan toko-toko besi tertutup rapat.
Para
penduduk desa sangat khawatir.
“Lima
belas kilo besi. Apa mereka ingin kita menyerahkan panci masak kita? Aku
menolak!”
“Kau
menolak. Apa kau ingin bernasib seperti Luo?”
Orang
paling miskin di desa, Luo, tidak mampu menyerahkan tiga karung beras sehingga
kepalanya yang kecil itu digantung tinggi di tengah desa. Istrinya yang
sakit-sakitan menggantung diri dengan kain keesokan harinya.
“Kalau
kita memberikan panci kita, lantas bagaimana kita akan memasak?”
“Kau
ingin hidup, atau kau ingin panci?”
“Bahkan
kalau kita memberikan panci, masih belum cukup.”
Si
petugas yang sudah tua memandang penduduk desa yang sudah dikenalnya
bertahun-tahun. Ia berkata dengan pelan, “Kalian harus menyerahkan pacul juga…”
“Mengapa
He Xia menjadi begitu kejam?”
“Ia
memiliki pasukan.”
“Bagaimana
dengan pasukan Bei Mo kita?”
“Dikalahkan.
Tak ada yang bisa melawan He Xia.”
“Mengapa
tak ada yang bisa mengalahkannya, dunia begitu luas, mengapa ada ketidak adilan
seperti ini?”
“Aku
dengar ada seseorang…” suara seseorang diantara kerumunan.
Mata
para penduduk seketika melebar sambil menatap seseorang yang membuka mulutnya.
“Siapa?”
Para
penduduk hanya mendengar penggalan berita tentang itu. Setelah berpikir sejenak
orang itu berkata, “Kurasa namanya Tuan Besar Bei ......, sesuatu seperti Chu
mungkin….”
“Lalu
dimana dia?”
“Itu…
Aku tidak tahu..”
Para
penduduk menjadi kecewa lagi. Mata mereka yang sempat bersinar menjadi redup
kembali. Mereka yang dalam posisi jongkok atau bersandar di dinding semuanya
menjadi sangat diam.
Lima
belas kilo besi harus diserahkan hari ini. Entah apalagi besok.
Panci
dan cangkul yang biasa mereka pakai akhirnya diserahkan pada para prajurit, dan
syukurlah jumlahnya mencukupi. Sinar matahari sepertinya tidak mempedulikan
kemarahan dan keputusasaan, ia tetap menyinari bumi dengan semangat tinggi.
--
Ze
Yin sedang berada di lading, berkeringat ketika ia menggunakan paculnya.
Tinggal pacul itu yang tersisa di rumah.
Raja
sudah mati, negara sudah jatuh.
Para
prajurit datang dan pergi, berkuda sesuka mereka, merusak pertanian dan
peternakan yang sudah susah payah ia buat. Hati Ze Yin seperti di tekan batu
besar, menghancurkannya sampai berkeping-keping dan berdarah.
Ia
dulu seorang Panglima dan memegang kekuasaan penuh atas militer Bei Mo, ia
memimping pasukan dengan disiplin tinggi dan berjanji akan melindungi
Negaranya, Rajanya dan para penduduk.
Dan
sekarang, Raja sudah mati, rakyat diinjak-injak oleh penguasa lain.
Kalau
saja lawannya bukan He Xia, kalau saja ia tidak perlu khawatir dengan istri dan
anaknya, apa ia akan diam saja disini sambil mencangkul, membiarkan para
prajurit kejam itu merampas hasil kerja kerasnya?
Yangfeng
memperhatikan Ze Yin dengan hati terluka. Hanya ketika Ze Yin menyaksikan Qing
Er dan Changxiao, dua anak yang tidak tahu kesedihan, hatinya bisa bergembira
sedikit.
Tapi
ketika ia berbalik, beban di hatinya semakin berat hingga hampir mencekiknya.
“Kakak!
Kakak!”
Ze
Yin mendongakkan kepalanya, keringat besar-besar terlihar di wajahnya. AHan
berteriak sambil berlari dari jalan kecil. “Kakak, Kakak, bahaya! Kakak Wei di
tangkap prajurit!”
Ze
Yin terkejut. Ia melemparkan paculnya dan berlari ke arahnya, “Dimana dia?”
“Dia
diluar desa, disisi bukit, dekat sudut padang rumput yang luas.”
Tidak
menunggu AHan menyelesaikan kata-katanya, Ze Yin segera berlari ke jalan masuk
desa.
Weting,
ia sangat tahu pribadi Weiting.
Orang
yang galak, ia bahkan tidak mempedulikan atasannya ketika di militer dulu. Ia
hanya tahu bagaimana memukul, merapatkan giginya dan berkelahi. Sifatnya yang
senang melanggar aturan sangat luar biasa. Ze Yin memintanya untuk berada di
sekitar dataran rerumputan, agar ia bisa mengetahui lebih dulu perintah He Xia
berikutnya, yang seperti hukuman mati bagi penduduk desa. Mengapa ia malah
mendatangi prajurit Yun Chang?
Ze
Yin berlari secepatnya kearah lereng. Dibawah, terlihat rerumputan kacau balau,
sepertinya beberapa orang telah menginjak-injak daerah itu. Ada bercak darah
disisi lain bukit.
“Weiting!
Ze Yin menangis sambil berlari ke arah sisi lain bukit.
Weiting
berbaring di lereng, sepertinya terguling jatuh di rerumputan dari jejak
darahnya. Ze Yin segera menghampirinya, dan berlutut di dekatnya, lalu membantunya
duduk. “Weiting bagaimana keadaanmu?”
“Mereka….mereka….”
wajah dan tubuh Weiting sangat pucat, darah mengalir dari lukanya. Sepertinya
luka karena pedang dan tombak. “….merampas kuda …. Dan….. domba…. Aku…”
“Jangan
bicara, dan jangan bergerak.” Ze Yin berkata pelan, “Aku mengerti.”
Yangfeng
dan Pingting terkejut ketika Ze Yin membawa Weiting pulang. Si pengasuh segera
membawa pergi keduan anak kecil itu keruangan lain sementara mereka berdua
saling berbagi tugas membalut luka Weiting.
“Kuda
dan domba, semuanya…”
“Jangan
bicara lagi.” Yangfeng berkata dengan lembut pada Weiting yang masih bersikeras
berbicara. Ia menghela napas, “Merampok tidak masalah, tapi apa perlu dihajar
sampai seperti ini?”
Ze
Yin menjawab, “Sudah bagus ia masih hidup.”
Weiting
yang sudah tinggal bersama mereka di pedalaman sudah seperti keluarga sendiri.
Begitu lukanya selesai di balut mereka meninggalkannya di tempat tidur untuk
beristirahat. Begitu mereka keluar dari ruangan, masing-masing dari mereka
memikirkan sesuatu. Yangfeng memasak bubur untuk Weiting, karena tidak banyak
beras tersisa, selain weiting mereka semua memakan ubi jalar.
Setelah
hari yang melelahkan, akhirnya waktunya untuk berisitirahat. Yangfeng berbaring
di tempat tidur tapi tidak bisa terlelap. Ia melihat Ze Yin yang sudah tertidur
pulas, lalu turun dari tempat tidurnya.
Saat
ini sudah pertengahan musim gugur, dan angin malam sangat tidak bersahabat. Ia
berjalan ke depan rumah tapi terkejut oleh kehadiran seseorang yang berdiri di
halaman, berdiri, melawan terpaan angin.
“Pingting?”
Pinting
perlahan berbalik.
Di
bawah sinar bulan, Yangfeng bisa melihat benda yang ia pegang di tangannya.
Pedang “Semangat Surga” yang telah dipajang di tembok ruangan.
Yangfeng
menghampirinya.
“Kau
juga tidak bisa tidur?”
“Apa
orang itu benar-benar menghilang?”
Sepertinya
sekarang waktunya untuk berkumpul lagi dengan cahaya bulan. Dibawah cahaya
bulan, sebuah wajah, sama tapi tidak sama.
Gagah,
kuat, senang menguasai, angkuh….
Ketika
menyerang Gui Li, hanya dengan sebuah taktik, menghancurkan Kediaman Jin Anwang
yang selama berpuluh-puluh tahun mengukir sejarah. Ketika menyerang Bei Mo, hanya
dengan tiga jurus melemahkan semangat juang seluruh prajurit. Hanya mendengar
namanya saja, mereka akan bermimpi buruk. Ketika ia menyerang Yun Chang, ia
mengetarkan seluruh negeri, dari Tuan Putri sampai rakyatnya. Semua orang tanpa
terkecuali menjadi cemas dan gelisah.
Tuan
Besar Zhen Beiwang dari Dong Lin, Chu Beijie.
Ia
penerus takhta Dong Lin, seorang Jendral yang dihormati dimanapun. Setiap
negara takut padanya, tapi jejaknya menghilang begitu pasukan Yun Chang mulai
menempatkan posisinya di dunia.
“Pingting
kau lebih mengerti masalah ini daripada aku. Aku hanya ingin tahu, apa ada,
orang yang mungkin bisa mengalahkan He Xia?”
“Tuan
Muda… bukan, He Xia…” Pingting menghela dan tersenyum pahit. “Aku khawatir,
hanya ada satu orang yang bisa melakukannya, kau tahu siapa yang kumaksud.
Yangfeng, apa menurutmu, aku perlu…”
“Tidak!”
Yangfeng segera menyelanya. Walau wajahnya terlihat cemas, ia menggelengkan
kepalanya, seperti berusaha menghilangkan mimpi buruk yang paling menyakitinya.
Agak lama sampai akhirnya ia bisa menguasai emosinya, ia memegang kepalanya dan
berkata dengan sedih, “Jangan bertanya padaku. Apa bedanya sekarang dengan
situasi ketika peperangan di Kanbu? Aku sudah melakukan kesalahan satu kali.
Aku tidak boleh melakukannya dua kali. Pingting, aku sudah bersumpah, apapun
yang terjadi, aku tidak akan pernah memohon padamu untuk meninggalkan gunung.
Apalagi pria itu sudah menghilang lama sekali. Kalau kau pergi, kemana kau akan
mencarinya?”
Pingting
mendengarkan, hanya diam. Setelah lama, ia menyengkram pedang di tangannya dan
berjalan masuk kedalam. Changxiao tertidur pulas di dalam ayunan. Sinar bulan
dengan lembut memantul di wajah mungilnya, menampilkan wajah tampannya di masa
depan, tiruan sempurna dari ayahnya.
Pingting
memperhatikan anaknya, dan ia tersenyum sambil berguman, “Changxiao, Changxiao,
apa kau tahu kenapa aku menamaimu Changxiao? Aku berharap wajah mungilmu ini
selalu tersenyum, dan mampu menghadapi
masalah apapun dengan tersenyum.”
“Anakku,
aku sungguh berharap kau tidak jatuh cinta pada wanita pintar.”
“Wanita
yang terlalu pintar akan selalu melakukan kesalahan bodoh. Begitu hatimu
terikat, kau tidak akan mampu melepaskannya.”
“Kalau
ia tidak menyukaimu, kau akan kecewa, dan kalau ia terlalu mencintaimu, kalian
berdua akan kacau.”
--
Yun
Chang, Kota Qierou.
“Kau
bohong!”
“Aku
bohong apa?”
“Kau
bilang, akan mengirimkannya pada Guruku. Fanlu, kau berbohong!”
Fanlu
dengan mudah menangkap tangan Zuiju yang seputih giok, yang berniat memukul
dadanya. Ia mengerutkan dahi sambil berkata, “Berapa kali aku harus
mengatakannya agar kau mengerti? Situasi di Dong Lin saat ini sangat kacau
balau, prajurit yang melarikan diri dan rakyat yang mengungsi bercampur baur
dan berada dimana-mana. Bahkan Ratu Dong Lin saat ini tidak diketahui
keberadaannya. Si pengirim pesan tidak mungkin menemukan gurumu. Masih ingin
memukulku? Kau berani? Aku akan melawan!”
Saat
ini kehidupannya sedang tidak baik. Setelah kematian Pejabat Senior, para
pejabat yang mendukung He Xia mulai rewel pada para pejabat yang diangkat oleh
Pejabat Senior.
Suatu
waktu laporannya tidak disampaikan pada pihak atas, dan lain waktu surat
perintah dari pusat tidak ditulis dengan jelas. Terlihat jelas kalau mereka
berusaha membuatnya menajadi pihak yang bersalah sebagai Walikota.
Dan
disini, setelah Zuiju mengetahui situasi Dong Lin yang sangat kacau, ia menjadi
khawatir berlebihan dan selalu berteriak. “Bohong!” kedua tangan Zuiju sekarang
digenggam Fanlu, jadi Zuiju hanya bisa melotot padanya.
“Kapan
aku berbohong padamu?” Fanlu menatapnya balik.
“Kapan
kau mengatakan yang sebenarnya padaku?”
Fanlu
kesal dan ekspresinya menjadi gelap, “Tentu saja, aku mengatakan yang
sebenarnya sejak awal”
Zuiju
mulai merasa tidak nyaman, tapi bagaimanapun ia berusaha melepaskan pergelangan
tangannya, tidak ada hasil sama sekali. Wajahnya memerah karena menahan amarah,
“Kebenaran? Hmmph, kapan?”
Fanlu
berpikir dan berkata, “Ketika pertama kali, aku berkata, desas desus mengatakan
kalau kau tidak cantik, tapi menurutku kau lumayan. Iya, itu yang sebenarnya.”
Zuiju
terkejut mendengarnya. Rona merah karena amarah, sekarang menyebar ke telinga
dan sekitarnya, bahkan lehernya terasa panas.
Ia
berusaha tenang, tapi segera menyadari kalau ia hampir berada di pelukan Fanlu.
Ia mengigit bibirnya dan berkata, “Hei, Lepaskan,” dan mengulanginya sambil
merasa malu.
“Siapa
Hei?”
Zuiju
melepaskan pisau terbang dengan tatapannya tapi ia melihat sudut bibir Fanlu
terangat. Pria itu jelas-jelas memikirkan sesuatu, Zuiju merasa sedikit takut
dan merasa situasi ini semakin tidak baik. Ia memendam rasa kesalnya dan
berkata dengan hati-hati, “Tolong lepaskan aku, Tuan walikota.”
Fanlu
menyeringai, senang mendengar perkataan Zuiju, ia melepaskan gengamannya. Zuiju
segera menarik tangannya dan menyadari pergelangannya memerah. Pria menyebalkan
itu memang kuat. Zuiju melolot padanya dan duduk di tempat tidur. Memikirkan
gurunya dan para pengungsi yang melarikan diri membuatnya khawatir sehingga
matanya mulai memerah.
Fanlu
melihat Zuiju menundukan kepalanya dan diam. Keisengannya menghilang melihat
Zuiju seperti itu, karena biasanya Zuiju selalu ceroboh dan berisik. Fanlu
mendekat dan duduk disampingnya, “Aku akan mencarikan seseorang untuk
menyampaikan suratmu lagi dan kuharap orang itu akan berhasil menemukan
gurumu.”
Zuiju
bergeser sedikit, “Jangan duduk begitu dekat.” Suaranya kecil seperti nyamuk.
“Apa
kau bilang?” Fanlu bertanya dengan kencang, ia bergeser menjadi lebih dekat
dari sebelumnya.
Zuiju
segera berdiri dan menghentakan kakinya. “Kau… apa kau tidak mengerti, tidak
seharusnya pria dna wanita seperti itu.”
“Kau,”
Fanlu berdiri, dan ia lebih tinggi dari Zuiju. Suaranya tegas, “Apa kau tahu
kalau wanita selalu mengatakan tidak padahal yang ia menginginkannya.”
“Siapa
yang ingin?”
“Kau!
Kalau aku mendekat kau begitu gembira, jadi mengapa kau malah berkata
sebaliknya?”
“Aku…aku…”
Zuiju hampir menangis karena marah dan ia terus menghentakan kakinya, “Kapan
aku gembira? Aku masih mengkhawatirkan guruku dan kau terus mengejekku…seharusnya
aku membiarkanmu mati di gunung Songsen sehingga para serigala itu bisa memakan
isi perutmu dan…”
Perkataan
Zuiju masih belum selesai ketika sosok Fanlu memenuhi matanya, dengan terkejut
Zuiju melangkah mundur dan menutup matanya. Ia tidak menyangka pinggannya akan
dipeluk begitu erat.
Bibir
Fanlu menyelinap di bibirnya yang merah seperti bara api.
“Ah….”
Zuiju pucat karena terkejut. Matanya membelak ketika menatap wajah Fanlu yang
menyerigai kesal.
Seringai
Fanlu mulai menghilang dan ia tersenyum, “Jangan pikirkan gurumu malam ini,
pikirkan aku saja.” Ia melambaikan tangan di depan Zuiju yang berdiri kaku dan
meninggalkannya untuk mengurus dokumen-dokumennya.
--
Yangfeng
berjalan ke dalam kamarnya. Tempat tidur sudah kosong dan Ze Yin tidak
terlihat. Jantungnya menjadi berdetak tidak teratur. Ia berjalan perlahan ke
ruangan samping dan mengintip ke dalam. Ze Yin sedang membungkuk, membongkar
tumpukan barang.
“Apa
yang kau cari?” Yangfeng berbisik.
Ze
Yin menjadi kaku. Setelah beberapa saat ia berbalik dan menegakkan punggungnya.
Di bawah cahaya bulan, Yangfeng bisa melihat jelas matanya.
Matanya
penuh semangat.
Tapi
ketika mata itu begitu bersinar, artinya si empunyanya telah membuat keputusan
penting.
Sebuah
keputusan yang tidak bisa diubah.
Yangfeng
teringat ketika Ze Yin menjadi perwakilan Raja Bei Mo untuk memberi salam pada
Raja Gui Li. Mereka bertemu di kediaman Pangeran He Su. Ia memainkan kecapi,
lalu menyibak tirainya sedikit. Saat itu ia melihat sorot mata yang sama dengan
saat ini.
Hati
Yangfeng serasa seperti di cabut keluar.
Setelah
itu, Ze Yin mengatakan kalau ia telah memutuskan, meskipun ia harus menghadapi
seluruh penghuni istana Gui Li, ia pasti akan menikahinya.
Ia
tidak tampan dan jika dibandingkan dengan Tuan Muda Jin Anwang, ia sama sekali
tidak romantis. Tapi ia memiliki bola mata hitam yang bersinar, seakan apapun
yang terlihat selalu diperhatikan dan tidak ada apaun di dunia yang mampu
membuatnya ragu.
“Suamiku,
apa yang kau cari?” Yangfeng bertanya dengan lembur sekali lagi. Hatinya
mengira-ngira dan gelisah, ia melangkah mendekati agar bisa melihat wajah Ze
Yin dengan lebih jelas.
“Aku
tidak mencari apa-apa.” Ekspresi Ze Yin agak ragu sejenak sebelum menatap mata
Yangfeng.
Yangfeng
melihat tangannya terkepal, ia memperhatikannya dan berusaha melihat isi
hatinya.
Mereka
sudah menjadi suami istri selama beberapa tahun, sejak ia melarikan diri dari
Raja Gui Li dan tinggal di pengasingan, kembali ke ibukota Bei Mo untuk
pertempuran Kanbu, lalu kembali ke pengasingan lagi….
Sampai
hari ini, semua itu perjalanan yang sangat panjang. Sekarang mereka memiliki
Qing Er. Ketika mereka bersumpah untuk hidup sederhana di pedalaman, mereka
sungguh berharap mampu melakukannya.
Yangfeng
adalah pemain kecapi terkenal Gui Li dan Ze Yin adalah Panglima Utama Bei Mo.
Semua kejayaan masa lalu, mereka pikir mereka telah meninggalkan semuanya,
ternyata nasib berputar lagi.
Hari
ini, setelah mereka saling berpandangan di bawah sinar bulan, mereka mengerti
kehidupan impian mereka, hanya bisa dilewati bersama begitu singkat.
“Di
kotak sebelah kanan.” Yangfeng berkata pelan.
“Hm?”
“Pedangmu,
di kotak sebelah kanan.”
Ze
Yin menatap istrinya yang lembut, dan matanya tiba-tiba terasa panas.
“Yangfeng…”
Sebuah
jari menutup mulutnya, menghentikannya. Yangfeng menatapnya dalam, seakan tidak
pernah puas, ia memperhatikan wajahnya baik-baik.
“Sungguh
bagus, Wing Er mirip denganmu. Ayahnya… seorang pahlawan.” Yangfeng bersandar
di dada suaminya yang hangat berusaha merasakan detak jantungnya. Ia
mengeraskan hati, menegakkan punggungnya dan berbalik keluar, “Aku akan
menunggumu.”
Ia
mengatupkan bibirnya dan kembali ke kamarnya, Yangfeng tak mampu lagi menahan
beban tubuhnya ia terduduk di tempat tidurnya.
Ia
tidak terlelap, hanya duduk. Diam seperti batu.
Lalu
ia mendengar langkah kaki di luar. Suaranya terdengar semakin jelas, setiap
langkah yang terdengar membuat hatinya semakin gelisah sampai akhirnya suara
langkah kaki itu tidak terdengar lagi. Pikirannya mulai kembali ke masa lalu.
Ia terus duduk sampai bulan menghilang di balik sinar matahari yang perlahan
mulai mendaki, warna jinga kemerahan menampilkan wajahnya yang berurai airmata.
“Yangfeng
sudah waktunya bangun.” Pingting membuka tirai dan melihat punggung Yangfeng.
Ia terkejut dan menyadari sesuatu, “Dimana Ze Yin?” suaranya mengambang.
“Pegi.”
“Pergi?”
Pingting mendekatinya. Ekspresi Yangfeng membuktikan kecurigaan Pingting. “Oh
tidak…” Pingting menarik napas panjang dan dalam, “Kenapa kau tidak
menghentikannya? Bukankah kau sudah membuatnya bersumpah untuk hidup di pengasingan?
Bukankah kau tidak ingin ia terlibat dengan hal semacam itu lagi?”
Yangfeng
menatapnya. Ia tampak hancur, tapi ia tersenyum getir, “Aku tidak pernah
menyukainya ketika ia bertarung dalam peperangan karena perintah seseorang.
Berperang untuk kekuasaan, melindungi kerajaan, tapi Raja Bei Mo hanya
memandangnya sebagai alat untuk membunuh, sebuah boneka dengan pedang di
tangan. Kali ini aku membiarkannya pergi, karena ia melakukannya untuk dirinya
sendiri.” Angin pagi menyapu wajah Yangfeng dengan lembut. “Kalau ia ingin
melakukannya, tanpa tekanan, tanpa perintah, sesuatu yang ia inginkan dari
hati. Aku tidak boleh menghentikannya.”
Meskipun
kata-katanya diucapkan dengan tidak jelas, tapi Pingting bisa mengerti. Ia
menghela napas, “Lalu bagaimana denganmu dan Qing Er?”
“Qing
Er dan aku akan hidup dengan baik. Ia akan tumbuh seperti ayahnya, menjalani
kehidupan seperti yang diinginkannya.” Yangfeng menyeringai, kecantikannya
sungguh memukau.
Suara
tawa terdengar dari luar. Kedua anak itu sudah terbangun. Si pengasuh segera
bergegas dan memeluk yang satu untuk menyuapinya bubur.
Pingting
menemani Yangfeng hingga pertengahan hari, lalu ia pergi keluar. Matahari sudah
mulai rendah, Chanxiao dan Ze Qing berlarian keluar masuk timbunan rumput
tertawa tanpa henti.
“Ayah….
Ayah….” Di malam hari, Ze Qing mencari sosoknya.
Ze
Qing mengangguk meskipun ia tidak mengerti sama sekali. Tak lama kemudian, ia
mengeledah seluruh ruangan, berusaha mencari ayahnya yang bersembunyi. Chanxiao
juga membantu mencari.
Hari
demi hari keadaan semakin sulit. Kendi beras semakin kosong. Mungkin dalam
sepuluh hari anak-anak tidak akan cukup makan.
Weiting
terbaring di tempat tidur. Ketika ia diberitahu Ze Yin sudah pergi, ia hanya
mengangguk dan tidak berkata apa-apa.
Beberapa
hari telah berlalu. Pasukan Yun Chang tiba-tiba merubah perintah, mereka
berkata harus mencari pasukan Bei Mo yang melarikan diri. Setiap yang berhasil
menangkap akan diberikan hadiah besar, dan mereka yang menyembunyikan, akan
dihukum mati.
Para
prajurit itu segera berlalu. Setiap kali mereka datang selalu membawa bencana
bagi penduduk desa. Semua orang hidup dalam ketakutan.
Yangfeng
dan Pingting mulai khawatir dengan keadaan Ze Yin.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar