Kamis, 27 Juli 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.63

-- Volume 3 chapter 63 --


Di dalam tenda penerangan hanya dari cahaya lilin.

 

Chu Beijie membantu Pingting melewati tirai memasuki tenda dan segera melihat Ratu yang sedang berbaring di tempat tidur. Rambutnya yang dulu sehitam mutiara sudah hampir memutih semua.

 

Wajah Ratu dari penguasa negara itu sangat lesu dan lemah. Keriput muncul akibat kekhawatirannya, menutupi wajah yang dulu cantik dan sangat mempesona.

 

Ia telah menemani Raja sampai ajalnya, dan menderita melebihi siksaan kejam apapun ketika Dong Lin jatuh.

 

“Kakak ipar.” Chu Beijie melangkah pelan ke sisi tempat tidur, berkata dengan berbisik.

 

Bulu mata Ratu yang panjang mulai bergerak ketika ia membuka matanya yang dulu penuh kemuliaan. Ia menatap sejenak sebelum akhirnya mulai menyadari sepenuhnya.

 

“Kau kembali.” Ratu bernapas dengan lemah, dan berkata tanpa kekuatan. “Kudengar kau mengusir pasukan Yun Chang yang mengepung kami.”

 

“Kakak ipar, kau sudah sangat menderita.”

 

Ratu menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Tatapannya jatuh ke belakang Chu Beijie dan ia terkejut.

 

Chu Beijie menyadarinya. Ia mundur dan menggenggam tangan Pingting untuk menenangkannya.

 

Suasana di dalam kemah menjadi kaku.

 

Ratu menatap Pinting lama sekali.

 

“Bai Pingting?” suaranya sangat pelan dan lambat, masa lalu yang telah menghancurkan dirinya.

 

Pingting berlutu dan membungkuk rendah, “Ratu.”

 

“Bai Pingting, Nona Bai…” Ratu berkata, “Kemarilah, biar aku melihatmu.”

 

Pingting menjawab dengan berjalan mendekat hingga tiba di samping tempat tidur.

 

Dalam cahaya lilin, dua ekspresi wajah yang rumit bertemu.

 

Inilah pertama kalinya mereka bertemu muka.

 

Masa lalu menghilang dibawa angin, tapi kenangan tidak mudah pudar.

 

Masih tersisa rasa kepedihan, cinta dan benci. Pingting yang dibawa secara paksa dari kediaman terpencil di gunung, Ratu yang kehilangan anak-anaknya, Chu Beijie yang kehilangan Pingting, dan Dong Lin yang kehilangan Chu Beijie.

 

Dan di bawah cakar tajam pergerakan pasukan Yun Chang, Dong Lin juga harus kalah.

 

Mereka telah terikat oleh nasib, saling menyakiti satu sama lain yang juga menyakiti diri mereka sendiri, tapi hari ini mereka akhirnya saling bertatapan satu sama lain.

 

Ratu menatap Pingting sambil berkata, “Apa kau membenciku?”

 

Pingting menjawan dengan pertanyaan juga, “Apa Ratu membenciku?”

 

Seluruh tragedi di masa lalu seperti batu yang dihantam petir, menghilang dalam sekejab, meninggalkan bekas yang tersisa sedikit. Tak lebih dari segenggam asap di tangan.

 

Tatapan Ratu beralih dari Pingting, ia menatap Chu Beijie disampingnya. Ia menghela napasnya.

 

“Sebelum Raja meninggal, ia bertanya padaku.” Wajahnya menjadi sendu dan nampak kesepian, “Raja berkata kalau kita berdua terlahir di antara negara yang berperang dan berada di posisi saling berhadapan, apa kita berdua bisa tetap berdampingan?”

 

Ia tidak melanjutkan, wajahnya menunjukan ia sedang berada di masa lalu.

 

“Apa jawaban kakak ipar?” setelah agak lama, Chu Beijie akhirnya membuka mulutnya untuk bertanya.

 

Ratu menatap Chu Beijie, senyum pedih terlihat di sudut bibirnya. Ia tidak menjawab pertanyaannya, ia berkata pelan, “Raja selalu berharap Tuan Besar Zhen Beiwang akan kembali untuk meneruskan takhta. Aku akhirnya bisa beristirahat dan pergi.”

 

“Kakak ipar.” Chu Beijie separuh berlutut di samping tempat tidur. Ia dengan lembut menggenggam tangan Ratu, dengan hati-hati menatap wanita yang telah dengan susah payah mempertahankan Dong Lin selama ini. Mereka adalah keluarga. Dulu sekali, karena ia sangat dekat dengan kakaknya, ia sangat mengerti kakak iparnya. Ia melihat mereka selalu duduk berdampingan di setiap perayaan sambil menyaksikan tarian-tarian, tertawa bersama sementara anak-anak mereka bermain. “Kau akan sembuh.”

 

“Tidak masalah apakah aku akan sembuh atau tidak.” Ratu tersenyum pahit, “Tuan Besar Zhen Beiwang kami semua telah melakukan banyak kesalahan.”

 

Chu Beijie memikirkan kakaknya yang selalu memanjakannya, ia menutup matanya. ia berkata dengan pelan, “Chu Beijie bersalah telah mengecewakan kakak dan membuat kakak ipar menderita.”

 

Ratu menatap mata Chu Beijie dan memejamkan matanya. Kenangan kematian suaminya bermunculan di kepalanya. Juga ingatan istana Dong Lin yang terbakar habis.

 

Ia menghela napas panjang. “Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan?” ia menatap Pingting dan terdiam, “Apakah Raja dan aku tidak pernah melakukan kesalahan sebelumnya? Hari itu ketika kami melakukan persetujuan dengan He Xia, kami melakukan segala hal untuk memisahkan Nona Bai yang sangat dicintai Zhen Beiwang untuk ditukar dengan pembatalan persekutuan antara Yun Chang dengan Bei Mo. Kami tahu itu salah, tapi kami tetap menyetujuinya. Sebenarnya, Nona Bailah yang tidak pernah melakukan kesalahan dengan sengaja.”

 

Pingting menggelengkan kepalanya, ia menatap Chu Beijie. Dan ia menghela napas sambil berkata pada Ratu, “Tidak benar Ratu, Pingting tahu kalau dunia akan menjadi kacau, tapi tetap berpura-pura mati dan bersembunyi hanya karena kebencian pribadi. Aku tidak mau menjelaskan kesalahpahaman dengan Tuan, tidak mau bertindak, dan akhinya dikabarkan meninggal. Meskipun aku tahu aku salah, tapi aku tidak mau kembali.”

 

Pingting menatap Chu Beijie kembali.

 

Motan dan Luoshang menunggu di luar tenda. Kegembiraan mereka masih belum menghilang. Meskipun sekitar mereka sangat gelap karena berada di tengah hutan tapi matahari sudah hendak terbit, setiap pasang mata penuh cahaya terang. Sepertinya mereka telah menyambut matahari terbit di hari berikutnya.

 

“Ini kenyataan….ini kenyataan…” setiap beberapa saat, Luoshang mengulang kata-kata ini, wajahnya penuh keceriaan.

 

Moran menepuk pundak Luoshang dengan bersemangat. Ia berbalik untuk menatap saudaranya yang telah berhasil bertahan hidup dalam pertempuran sulit ini bersamanya. Beberapa saat tadi, mereka telah bersumpah untuk mati dalam pertempuran, sama sekali tidak berharap salah satu dari mereka akan tetap hidup. Kegembiraan yang tidak terucapkan meluap dalam dirinya.

 

Mereka menunggu lama sekali sampai akhirnya tirai tenda terbuka sedikit.

 

Luoshang segera berdiri, “Mereka datang.”

 

Seluruh prajurit berdiri, tenaga mereka melimpah ruah. Mereka menatap tirai tenda dengan bersemangat.

 

Chu Beijie dan Pingting berjalan keluar.

 

“Kakak ipar telah memberikan wewenang tertinggi kerajaan Dong Lin padaku. Mulai hari ini, seluruh pasukan Dong Lin harus mendengarkanku.”

 

Suara Chu Beijie yang tenang dan mantap masuk ke telinga setiap orang.

 

Ia selalu menjadi penerus takhta resmi yang diakui. Tidak ada seorangpun yang menolak hal ini.

 

“Situasi perang sangat genting, kita tidak punya waktu untuk bersantai.” Chu Beijie menatap langit, “Pasukan Yun Chang hancur karena kekacauan dalam diri mereka. Pasukan Yun Chang tidak selemah itu, dan mereka akan segera pulih. Kita harus segera pergi dari tempat ini sebelum bendera mereka berkibar lagi. Moran.”

 

“Siap!”

 

“Segera susun pasukan dan bersiap untuk berangkat.”

 

“Baik!”

 

“Luoshang.”

 

“Siap!”

 

“Kau bertanggung jawab untuk keselamatan Ratu. Pilih kuda yang baik dan letakan jerami yang agak lembut dalam kereta.” Chu Beijie berkata dengan lebih pelan, “Hati-hati, jangan sampai Ratu terlalu terguncang.”

 

“Aku akan segera mempersiapkannya.”

 

Chu Beijie memberikan perintahnya dengan singkat dan jelas, kepada beberapa prajurit lagi. Para prajurit itu telah menemaninya melewati api dan air sehingga telah terbiasa dengan perintah-perintahnya. Melihat pemimpin mereka telah kembali, mereka segera menegakkan punggung mereka dan menjadi lebih bersemangat. Ada beberapa kali terdengar, “Baik!, Baik!” dan terlihat beberapa kelompok yang bergegas menyelesaikan tugasnya.

 

Mereka bergerak dengan cepat. Tak lebih dari setegah jam, segala persiapan telah rampung. Setiap prajurit kembali untuk melapor pada Chu Beijie. Tenda telah menghilang dari tempatnya untuk menghilangkan jejak mereka, sebelum mereka berangkat menuju arah selatan.

 

Chu Beijie memisahkan beberapa prajurit untuk membuat jejak palsu. Hal ini seharusnya cukup untuk membuat binggung musuh, sehinga pasukan Yun Chang tidak bisa menemukan rute perjalan mereka.

 

Ketika mereka berhenti untuk beristirahat di malam hari, Chu Beijie memanggil semua Jendral. Setelah begitu lama, Dong Lin akhirnya melakukan pertemuan militer mereka di tengah area hutan yang terbuka.

 

Chu Beijie telah hidup terpencil selama dua tahun. Begitu ia kembali, ia segera bergegas menyelamatkan kerajaan Dong Lin dari penggepungan sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk benar-benar mengerti kondisi ke empat negara.

 

Moran dengan cekatan mulai menjelaskannya, ia membuat kesimpulan, “He Xia mengumpulkan harta dan persediaan bahan pangan dengan menentapkan pajak yang tinggi, semua itu digunakan untuk kepentingan militer. Bayaran untuk menjadi prajurit Yun Chang telah meningkat drastis. Setelah ditempa oleh He Xia sendiri melewati pertempuran yang tak terhitung, pasukan Yun Chang saat ini bukan lagi pasukan tidur yang hanya melindungi diri sendiri.”

 

“Tapi lagi-lagi pasukan resmi Dong Lin maupun Bei Mo dikalahkan oleh pasukan Yun Chang yang dipimpin He Xia.” mengingat kembali situasi saat ini, Luoshang menambahkan, “Pasukan yang mungkin bisa menahan Yun Chang saat ini, mungkin hanya pasukan Gui Li.”

 

“Gui Li saat ini sedang menghadapi masalah dalam kerajaannya. Raja He Su dan Panglima Le Zhen sedang bertikai, mereka hanya peduli diri sendiri, sama sekali tidak memikirkan pasukan Yun Chang.”

 

Ruohan berkata, “Bei Mo memiliki beberapa tempat rahasia untuk mengumpulkan pasukan secara diam-diam. Sejak Panglima Ze Yin menantang He Xia secara terbuka, jumlah pemuda yang ingin bergabung meningkat drastis. Saat ini sudah mencapai jumlah sepuluh ribu, tapi kami tidak memiliki kuda dan senjata.”

 

“Setelah kekalahan di pertempuran sungai Fuzha, Dong Lin benar-benar kehilangan kekuatan militer kami. Beberapa prajurit benar-benar kehilangan semangat sehingga mereka melarikan diri, dan sisanya semuanya ada disini.” Moran berbalik menatap perkemahan yang terlihat hampir kosong. “Termasuk yang terluka, jumlahnya tidak lebih dari delapan ribu.”

 

Hening sejenak.

 

Jika dipikirkan, pasukan Yun Chang yang bersenjata lengkap berjumlah sekitar tiga ratus ribu. Dan jumlah mereka untuk kekuatan penuh, hanya berkisar lima belas ribu.

 

Setelah satu hari perjalanan, kegembiraan mereka melihat Chu Beijie telah menjadi lebih tenang, dan mulai menyadari kenyataan pahit yang terbentang di hadapan mereka.

 

Mereka memiliki Panglima Zhen Beiwang yang mampu memimpin pasukan, tapi bagaimana dengan kuda?

 

Chu Beijie berpikir sejenak, kemudian ia berkata, “Kalian semua pergilah beristirahat. Kita masih harus melakukan perjalan dengan cepat besok agar pasukan Yun Chang tidak bisa menyusul.”

 

Mereka semua tahu sang penasihat butuh waktu untuk berpikir, maka mereka semua pergi meninggalkannya. Hanya Moran yang tetap mengikutinya berjalan dibelakangnya, seperti yang selalu ia lakukan sebelum Tuannya pergi tidur.

 

Mereka berdua menikmati suasana tenang dengan semilir angin dingin. Mereka melihat cahaya lilin yang berkelip perlahan mulai menghilang.

 

“Kau sama sekali tidak menyebut Chen Mu.”

 

“Jendral Chen Mu… ia meninggal dalam pertempuran ketika Yun Chang menyerang ibukota.” Suara Moran tenggelam, “Pejabat Senior terlalu lemah sehingga tidak bisa ikut kami untuk melarikan diri. Yang kudengar ia tidak mau dipermalukan akibat tertangkap, maka ia bunuh diri dengan racun.”

 

Suasana menjadi sangat berat. Chu Beijie menghela napas dengan berat, ia menggenggam tangannya di belakang tubuhnya sambil memperhatikan sekitar.

 

Ini kesempatan pertama bagi Moran untuk berbicara secara pribadi sejak pertemuan mereka. Dalam pikirannya berkecamuk begitu banyak pertanyaan yang tak mampu ia tahan, “Tuan, Nona Bai….”

 

“Ia masih hidup. Ia memaafkan aku dan kembali padaku.”

 

“Saat itu, bukankah kondisinya tubuhnya sedang….”

 

Chu Beijie tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajah tegasnya menunjukan jejak kepahitan. Moran telah bersamanya selama ini, dan ia jarang sekali melihat Tuannya tak mampu menahan emosinya. Ia menyesal atas ucapannya, tapi kemudian ia mendengar Chu Beijie berkata pelan, “Pingting telah mengalami penderitaan terlalu banyak. Mempertahankan hidupnya sendiri sudah sangat sulit, bagaimana ia mempertahankan kandungannya? Aku….”

 

Tangannya terkepal kencang, lalu ia melepaskannya dan mengepalkannya lagi.

 

“…..Aku tidak mampu menanyakannya.”

 

Anak itu kemungkinan besar sudah tiada.

 

Setelah bertemu Pingting ia telah melakukan perjalanan tanpa henti, sambil memikirkan cara untuk menyelesaikan kekacauan situasi saat ini. Dari hutan lebat ia melalui beribu-ribu kilometer hingga tiba di kota tua Jiangling, lalu bertemu Moran dan yang lainnya. Ia punya waktu untuk membicarakan masa lalu dengan Pingting.

 

Sebenarnya tidak seperti itu, ia Zhen Beiwang yang terkenal mampu menghadapi ribuan prajurit tanpa berkedip, tidak mampu mengeluarkan sedikit saja keberanian untuk menyinggung hal ini. Ia tahu tak peduli seberapa halus kata-katanya dan tak peduli betapa ia sangat bersyukur pada langit, ia tidak akan pernah memiliki cukup keberanian.

 

Ia tidak berani membayangkan bagaimana para prajurit Yun Chang memburu Pingting, sehingga ia jatuh ke dalam situasi berbahaya sampai kehilangan anak dalam kandungannya.

 

Dan mungkin tragedi ini telah menjadi luka berdarah di hati Pingting, hal yang tidak ingin ia ungkit sampai hari ini.

 

Chu Beijie berdiri diluar tendanya sendiri, perasaannya yang kacau membuatnya tak mampu melangkah masuk ke dalam.

 

Pertanyaan Moran telah mengusik duri yang berada di hatinya. Ia sungguh ingin mengeluarkannya tapi ia melakukannya bukankah akan melukai Pingting sekali lagi?

 

Pingting telah bersusah payah kembali ke sisinya. Chu Beijie lebih senang memberikan nyawanya daripada harus membuat Pingting kembali mengingat kesengsaraannya.

 

Anak itu…

 

“Berapa lama Tuan berniat berdiri diluar?” sebuah suara lembut bertanya. Tirai tenda terangkat dan Pingting keluar dari arah dalam.

 

Pingting berjalan keluar, mengenggam tangan Chu Beijie dan membawanya masuk ke dalam tenda. Ia tersenyum, “Pingting tak pernah meragukan kemampuan Tuan dalam memimpin pasukan. Tak peduli seberapa sulit situasinya, Tuan tidak perlu sampai merasa menderita. Apa yang sedang Tuan bicarakan bersama Moran sampai Tuan berwajah seperti itu?”

 

Chu Beijie menggenggam tangan Pingting yang halus, hangat dan lembut. Ia menggenggam dengan lebih erat dan merasa bahwa seperti inilah surga, keindahan yang sangat luar biasa. Ia memikirkan bagaimana satu pertanyaan yang hendak ia ucapkan akan menghancurkan segalanya, ia menggertakan giginya dan membulatkan tekad.

 

“Pingting, hari itu di kediaman terpencil….”

 

“Panglima, mata-mata yang dikirim telah kembali.” Pada saat yang paling tidak tepat, sebuah laporan terdengar di balik tenda.

 

Dan untuk beberapa alasan, Chu Beijie merasa sangat lega. Ia segera keluar tenda, “Bicaralah!”

 

--

 

Di ibukota Yun Chang, semua wajah tidak berwarna.

 

“Apa?” He Xia berpakaian serba putih, mengebrak meja sambil berdiri. Ia berkata dengan tidak percaya, “Chu Beijie tiba-tiba muncul?”

 

“Benar.” Si pengirim pesan berlutut, tidak berani mengangkat kepalanya. “Banyak prajurit melihat sendiri, Panglima Zhen Beiwang membunuh Jendral Chengjing dengan melepaskan sebuah anak panah dari atas bukit.”

 

“Berapa jumlah pasukan yang ia miliki?”

 

“Aku telah bertanya pada beberapa prajurit, tapi mereka berkata, kalau mereka tidak tahu pasti.”

 

He Xia mengerutu, “Ketika dua pasukan bertabrakan, bagaimana mungkin kau tidak tahu berapa banyak prajurit yang muncul dari belakang untuk menyergap?”

 

“Melapor pada Suami Ratu. Pada saat itu… ketika mereka melihat Panglima Zhen Beiwang, mereka semua ketakutan dan kacau. Pasukan bubar, berlarian kesegala arah sebelum bentrokan terjadi…”

 

“Berengsek!” He Xia berteriak.

 

Si pengirim pesan seperti serangga di musim dingin, tidak berani membuat suara sedikitpun.

 

“Puluhan ribu pasukan melarikan diri ketika sebuah bayangan seseorang muncul di atas bukit, bahkan sebelum terjadi baku hantam.” He Xia melangkah bolak balik di dalam ruangan, ia sangat marah, “Apa saja yang dikerjakan Chenjing? Meskipun ia bertahan hidup, aku akan memberinya hukuman berat karena tidak melatih pasukannya dengan keras.”

 

Sejak kematian Tuan Putri Yaotian, He Xia telah sepenuhnya menguasai wewenang utama kerajaan Yun Chang. Sebuah tatapan keji terlihat di kedua bola matanya, membuat siapapun yang melihatnya menjadi gemetar ketakutan.

 

Si pengirim pesan berlutut di lantai, mendengarkan He Xia memukul benda-benda, setiap suara yang terdengar seperti mengelegar. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara, seseorang datang melapor, “Suami Ratu, prajurit yang ditugaskan di istana Dong Lin telah tiba.”

 

“Bawa dia masuk.”

 

Pintu terdorong terbuka dan seorang prajurit dengan tubuh tertutup debu melangkah masuk dan berlutut. Ia bicara dengan terengah-engah, “Melapor pada Suami Ratu, Panglima Zhen Beiwang tiba-tiba muncul di ibukota Dong Lin, membunuh beberapa orang prajurit Yun Chang.”

 

“Apa?” He Xia berkata, “Jelaskan dengan rinci.”

 

“Enam hari lalu, Panglima Zhen Beiwang menampakan diri di luar gerbang ibukota Dong Lin, menggunakan sebuah busur dan anak panah, membunuh beberapa prajurit yang ditempatkan di tembok kota.”

 

“Dan mengapa kalian tidak mengejarnya?”

 

“Jendral segera mengirim pasukan keluar ibukota, tapi begitu Panglima Zhen Beiwang selesai membuat kekacauan, ia segera membawa para pengikutnya pergi. Begitu kami tiba diluar, mereka telah menghilang. Saat itu sudah begitu larut, sehingga jejak mereka sulit ditemukan.”

 

“Tengah malam?” He Xia memicingkan matanya, “Ia berada di ibukota enam malam lalu?”

 

“Benar.”

 

He Xia memandang si pengirim pesan yang datang terlebih dahulu, “Dan kau mengatakan, Chu Beijie muncul di bukit enam hari lalu, ketika menyergap Ratu Dong Lin di hutan?”

 

“Benar, Suami Ratu.”

 

“Kedua tempat ini terlalu jauh, bagaimana mungkin Chu Beijie bisa berada di dua tempat pada saat bersamaan?”

 

“Itu…”

 

“Apa wajahnya terlihat jelas?” He Xia bertanya pada si prajurit yang dikirim dari ibukota Dong Lin.

 

“Wajahnya tidak terlihat. Menurut prajurit yang berada di tempat, orang-orang di sekitarnya meneriakkan kata-kata ‘Panglima Zhen Beiwang’…”

 

“Sinting, kau memastikan ia Panglima Zhen Beiwang hanya karena pihak lain berteriak sedikit? Kau pikir aku akan terjebak tipu muslihat seperti itu?” He Xia berteriak, “Prajurit, bawa ia pergi!”

 

“Mohon ampun! Suami Ratu, mohon ampun! Aku tidak berani bicara tidak benar, bagaimana mungkin aku merencanakan tipu muslihat seperti itu! Semua penduduk Dong Lin mengatakan Panglima Zhen Beiwang telah kembali, entah benar atau tidak, aku akan segera menyelidikinya dengan pasti…” Si pengirim pesan berkata sambil berlutut.

 

Dongzhuo menerobos pintu dengan tergesa-gesa dengan sebuah surat di tangannya. Melihat ekspresi wajah He Xia yang dingin, ia menatap ke arah si pengirim pesan yang sedang mengiba. Ia berkata, “Tuan?”

 

He Xia melihatnya menggenggam laporan militer dan ia tahu pasti ada sesuatu yang sangat penting. Ia berkata, “Aku tidak ingin diganggu, kalian pergilah,”

 

Nyawa kedua pengirim pesan masih bertahan. Mereka keluar sambil tersandung.

 

“Tuan, Chu Beijie muncul di ibukota Bei Mo.”

 

“Kapan?”

 

“Enam hari lalu.”

 

He Xia menyeringai, “Enam hari lalu, Chu Beijie muncul di tiga tempat, ibukota Dong Lin, hutan, dan ibukota Bei Mo, bahkan orang bodoh saja tahu apa yang sedang berlangsung.”

 

Dongzhuo tiba-tiba mengerti, “Seseorang menggunakan ketenaran Chu Biejie dan menyamar sebagai dirinya untuk menguncang semangat juang pasukan kita. Memang benar, Chu Beijie telah menghilang begitu lama. Seharusnya ia muncul lebih cepat ketika ibukota Dong Lin diserang, jadi tidak mungkin ia malah muncul di saat seperti ini.”

 

He Xia memejamkan matanya sesaat, mendengarkan kata-kata Dongzhuo. Ia membuka matanya dan sebuah sinar terpancar dari bola matanya.

 

“Tidak, hal ini benar-benar membuktikan kalau Chu Beijie memang benar-benar muncul. Rencana kemunculannya di tiga tempat dan menyerang musuh dengan sekali serangan, berusaha membuat kita percaya kalau seseorang sedang menyamar sebagai dirinya, sayang sekali, rencana ini bisa berhasil pada orang lain tapi tidak untukku.”

 

Dongzhuo terkejut dan berpikir sejenak sebelum menarik napas panjang di udara dingin. Ia berpikir lebih cermat lagi, “Kalau ia memang benar Chu Beijie, apa Tuan akan segera menyiapkan pasukan dan segera pergi sendiri ke Dong Lin untuk mengalahkannya?”

 

“Chu Beijie sangat pintar menyembunyikan jejaknya. Apa kau tahu seberapa banyak sumber daya dan waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pertempuran di wilayah Dong Lin yang luas itu?” wajah tampan He Xia menyembunyikan senyumnya. Tapi akhirnya sudut bibirnya sedikit terangkat, “Kirimkan perintah, bersiap berangkat, aku akan pergi ke Gui Li.”

 

Ekspresi Dongzhuo bingung, “Fei Zhaoxing dan Shang Lu telah dikirim ke Gui Li, sudah cukup untuk menghabisi Gui Li yang sedang cekcok di dalam negaranya sendiri. Mengapa Tuan harus pergi sendiri kesana?”

 

“Ketika menghadapi raksasa, serang pergelangan kakinya. Dongzhuo, apa kau tahu dimana pergelangan kaki Chu Beijie?” mata He Xia bersinar ketika memandang Dongzhuo dengan bangga.

 

“Pergelangan kaki Chu Biejie?” Dongzhuo tidak bisa menebaknya, alisnya berkerut ketika ia mempertimbangkan beberapa jawaban.

 

He Xia melihatnya tidak dapat menebak dengan pasti dan terkekeh, “Pergelangan kaki Chu Beijie ada dua hal, prajurit dan kuda.”

 

Langsung ke inti masalah.

 

Dongzhuo segera bergembira ketika menyadarinya.

 

Pasukan utama Dong Lin dan Bei Mo telah hancur. Bila Chu Beijie berniat mengumpulkan prajurit dalam jumlah besar, ia harus mempertaruhakn keberuntungannya pada pasukan Gui Li.

 

He Xia harus secepatnya mencapai Gui Li. Kalau ia bisa menghancurkan pasukan Gui Li, ia akan menghancurkan satu-satunya harapan terakhir Chu Beijie untuk mendapatkan pasukan.

 

Seorang istri tidak bisa memasak daging tanpa nasi. Tanpa pasukan dan kuda, apa yang bisa dilakukan Chu Beijie?

 

Bahkan jika ia dewa perang, kekuatannya tidak akan cukup untuk menghancurkan pasukan Yun Chang yang luar biasa besar ini.

 

Setelah segalanya ditentukan, mereka berdua berjalan keluar dari ruangan.

 

“Bahkan sampai saat ini, aku masih sulit percaya, mengapa tiba-tiba Chu Beijie muncul?” Dongzhuo berguman sambil berjalan. “Mengapa ia muncul di gunung itu tanpa alasan.”

 

“Chu Beijie tidak mungkin muncul tanpa alasan, sama sekali.”

 

“Tuan?”

 

“Pasti ada tujuannya.” He Xia menjawab dengan nada sangat serius. Matanya memandang ke arah belakang halaman di balik bayangan, ia melihat ruangan yang pernah di tempati Pingting.

 

Pintu ruangan itu tertutup rapat.

 

Di dunia yang luas ini, siapa lagi selain Pingting yang mampu membuat Chu Beijie si penghancur, turun gunung?

 

--00--



Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar