Di
dalam tenda penerangan hanya dari cahaya lilin.
Chu
Beijie membantu Pingting melewati tirai memasuki tenda dan segera melihat Ratu
yang sedang berbaring di tempat tidur. Rambutnya yang dulu sehitam mutiara
sudah hampir memutih semua.
Wajah
Ratu dari penguasa negara itu sangat lesu dan lemah. Keriput muncul akibat
kekhawatirannya, menutupi wajah yang dulu cantik dan sangat mempesona.
Ia
telah menemani Raja sampai ajalnya, dan menderita melebihi siksaan kejam apapun
ketika Dong Lin jatuh.
“Kakak
ipar.” Chu Beijie melangkah pelan ke sisi tempat tidur, berkata dengan
berbisik.
Bulu
mata Ratu yang panjang mulai bergerak ketika ia membuka matanya yang dulu penuh
kemuliaan. Ia menatap sejenak sebelum akhirnya mulai menyadari sepenuhnya.
“Kau
kembali.” Ratu bernapas dengan lemah, dan berkata tanpa kekuatan. “Kudengar kau
mengusir pasukan Yun Chang yang mengepung kami.”
“Kakak
ipar, kau sudah sangat menderita.”
Ratu
menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil. Tatapannya jatuh ke belakang Chu
Beijie dan ia terkejut.
Chu
Beijie menyadarinya. Ia mundur dan menggenggam tangan Pingting untuk
menenangkannya.
Suasana
di dalam kemah menjadi kaku.
Ratu
menatap Pinting lama sekali.
“Bai
Pingting?” suaranya sangat pelan dan lambat, masa lalu yang telah menghancurkan
dirinya.
Pingting
berlutu dan membungkuk rendah, “Ratu.”
“Bai
Pingting, Nona Bai…” Ratu berkata, “Kemarilah, biar aku melihatmu.”
Pingting
menjawab dengan berjalan mendekat hingga tiba di samping tempat tidur.
Dalam
cahaya lilin, dua ekspresi wajah yang rumit bertemu.
Inilah
pertama kalinya mereka bertemu muka.
Masa
lalu menghilang dibawa angin, tapi kenangan tidak mudah pudar.
Masih
tersisa rasa kepedihan, cinta dan benci. Pingting yang dibawa secara paksa dari
kediaman terpencil di gunung, Ratu yang kehilangan anak-anaknya, Chu Beijie yang
kehilangan Pingting, dan Dong Lin yang kehilangan Chu Beijie.
Dan
di bawah cakar tajam pergerakan pasukan Yun Chang, Dong Lin juga harus kalah.
Mereka
telah terikat oleh nasib, saling menyakiti satu sama lain yang juga menyakiti
diri mereka sendiri, tapi hari ini mereka akhirnya saling bertatapan satu sama
lain.
Ratu
menatap Pingting sambil berkata, “Apa kau membenciku?”
Pingting
menjawan dengan pertanyaan juga, “Apa Ratu membenciku?”
Seluruh
tragedi di masa lalu seperti batu yang dihantam petir, menghilang dalam
sekejab, meninggalkan bekas yang tersisa sedikit. Tak lebih dari segenggam asap
di tangan.
Tatapan
Ratu beralih dari Pingting, ia menatap Chu Beijie disampingnya. Ia menghela
napasnya.
“Sebelum
Raja meninggal, ia bertanya padaku.” Wajahnya menjadi sendu dan nampak
kesepian, “Raja berkata kalau kita berdua terlahir di antara negara yang
berperang dan berada di posisi saling berhadapan, apa kita berdua bisa tetap
berdampingan?”
Ia
tidak melanjutkan, wajahnya menunjukan ia sedang berada di masa lalu.
“Apa
jawaban kakak ipar?” setelah agak lama, Chu Beijie akhirnya membuka mulutnya
untuk bertanya.
Ratu
menatap Chu Beijie, senyum pedih terlihat di sudut bibirnya. Ia tidak menjawab
pertanyaannya, ia berkata pelan, “Raja selalu berharap Tuan Besar Zhen Beiwang
akan kembali untuk meneruskan takhta. Aku akhirnya bisa beristirahat dan
pergi.”
“Kakak
ipar.” Chu Beijie separuh berlutut di samping tempat tidur. Ia dengan lembut
menggenggam tangan Ratu, dengan hati-hati menatap wanita yang telah dengan
susah payah mempertahankan Dong Lin selama ini. Mereka adalah keluarga. Dulu
sekali, karena ia sangat dekat dengan kakaknya, ia sangat mengerti kakak
iparnya. Ia melihat mereka selalu duduk berdampingan di setiap perayaan sambil
menyaksikan tarian-tarian, tertawa bersama sementara anak-anak mereka bermain.
“Kau akan sembuh.”
“Tidak
masalah apakah aku akan sembuh atau tidak.” Ratu tersenyum pahit, “Tuan Besar
Zhen Beiwang kami semua telah melakukan banyak kesalahan.”
Chu
Beijie memikirkan kakaknya yang selalu memanjakannya, ia menutup matanya. ia
berkata dengan pelan, “Chu Beijie bersalah telah mengecewakan kakak dan membuat
kakak ipar menderita.”
Ratu
menatap mata Chu Beijie dan memejamkan matanya. Kenangan kematian suaminya
bermunculan di kepalanya. Juga ingatan istana Dong Lin yang terbakar habis.
Ia
menghela napas panjang. “Siapa yang tidak pernah melakukan kesalahan?” ia
menatap Pingting dan terdiam, “Apakah Raja dan aku tidak pernah melakukan
kesalahan sebelumnya? Hari itu ketika kami melakukan persetujuan dengan He Xia,
kami melakukan segala hal untuk memisahkan Nona Bai yang sangat dicintai Zhen
Beiwang untuk ditukar dengan pembatalan persekutuan antara Yun Chang dengan Bei
Mo. Kami tahu itu salah, tapi kami tetap menyetujuinya. Sebenarnya, Nona Bailah
yang tidak pernah melakukan kesalahan dengan sengaja.”
Pingting
menggelengkan kepalanya, ia menatap Chu Beijie. Dan ia menghela napas sambil
berkata pada Ratu, “Tidak benar Ratu, Pingting tahu kalau dunia akan menjadi
kacau, tapi tetap berpura-pura mati dan bersembunyi hanya karena kebencian
pribadi. Aku tidak mau menjelaskan kesalahpahaman dengan Tuan, tidak mau bertindak,
dan akhinya dikabarkan meninggal. Meskipun aku tahu aku salah, tapi aku tidak
mau kembali.”
Pingting
menatap Chu Beijie kembali.
Motan
dan Luoshang menunggu di luar tenda. Kegembiraan mereka masih belum menghilang.
Meskipun sekitar mereka sangat gelap karena berada di tengah hutan tapi
matahari sudah hendak terbit, setiap pasang mata penuh cahaya terang. Sepertinya
mereka telah menyambut matahari terbit di hari berikutnya.
“Ini
kenyataan….ini kenyataan…” setiap beberapa saat, Luoshang mengulang kata-kata
ini, wajahnya penuh keceriaan.
Moran
menepuk pundak Luoshang dengan bersemangat. Ia berbalik untuk menatap
saudaranya yang telah berhasil bertahan hidup dalam pertempuran sulit ini
bersamanya. Beberapa saat tadi, mereka telah bersumpah untuk mati dalam
pertempuran, sama sekali tidak berharap salah satu dari mereka akan tetap
hidup. Kegembiraan yang tidak terucapkan meluap dalam dirinya.
Mereka
menunggu lama sekali sampai akhirnya tirai tenda terbuka sedikit.
Luoshang
segera berdiri, “Mereka datang.”
Seluruh
prajurit berdiri, tenaga mereka melimpah ruah. Mereka menatap tirai tenda
dengan bersemangat.
Chu
Beijie dan Pingting berjalan keluar.
“Kakak
ipar telah memberikan wewenang tertinggi kerajaan Dong Lin padaku. Mulai hari
ini, seluruh pasukan Dong Lin harus mendengarkanku.”
Suara
Chu Beijie yang tenang dan mantap masuk ke telinga setiap orang.
Ia
selalu menjadi penerus takhta resmi yang diakui. Tidak ada seorangpun yang
menolak hal ini.
“Situasi
perang sangat genting, kita tidak punya waktu untuk bersantai.” Chu Beijie
menatap langit, “Pasukan Yun Chang hancur karena kekacauan dalam diri mereka.
Pasukan Yun Chang tidak selemah itu, dan mereka akan segera pulih. Kita harus
segera pergi dari tempat ini sebelum bendera mereka berkibar lagi. Moran.”
“Siap!”
“Segera
susun pasukan dan bersiap untuk berangkat.”
“Baik!”
“Luoshang.”
“Siap!”
“Kau
bertanggung jawab untuk keselamatan Ratu. Pilih kuda yang baik dan letakan
jerami yang agak lembut dalam kereta.” Chu Beijie berkata dengan lebih pelan, “Hati-hati,
jangan sampai Ratu terlalu terguncang.”
“Aku
akan segera mempersiapkannya.”
Chu
Beijie memberikan perintahnya dengan singkat dan jelas, kepada beberapa
prajurit lagi. Para prajurit itu telah menemaninya melewati api dan air
sehingga telah terbiasa dengan perintah-perintahnya. Melihat pemimpin mereka
telah kembali, mereka segera menegakkan punggung mereka dan menjadi lebih
bersemangat. Ada beberapa kali terdengar, “Baik!, Baik!” dan terlihat beberapa
kelompok yang bergegas menyelesaikan tugasnya.
Mereka
bergerak dengan cepat. Tak lebih dari setegah jam, segala persiapan telah
rampung. Setiap prajurit kembali untuk melapor pada Chu Beijie. Tenda telah
menghilang dari tempatnya untuk menghilangkan jejak mereka, sebelum mereka
berangkat menuju arah selatan.
Chu
Beijie memisahkan beberapa prajurit untuk membuat jejak palsu. Hal ini
seharusnya cukup untuk membuat binggung musuh, sehinga pasukan Yun Chang tidak
bisa menemukan rute perjalan mereka.
Ketika
mereka berhenti untuk beristirahat di malam hari, Chu Beijie memanggil semua
Jendral. Setelah begitu lama, Dong Lin akhirnya melakukan pertemuan militer
mereka di tengah area hutan yang terbuka.
Chu
Beijie telah hidup terpencil selama dua tahun. Begitu ia kembali, ia segera
bergegas menyelamatkan kerajaan Dong Lin dari penggepungan sehingga ia tidak
memiliki kesempatan untuk benar-benar mengerti kondisi ke empat negara.
Moran
dengan cekatan mulai menjelaskannya, ia membuat kesimpulan, “He Xia
mengumpulkan harta dan persediaan bahan pangan dengan menentapkan pajak yang
tinggi, semua itu digunakan untuk kepentingan militer. Bayaran untuk menjadi
prajurit Yun Chang telah meningkat drastis. Setelah ditempa oleh He Xia sendiri
melewati pertempuran yang tak terhitung, pasukan Yun Chang saat ini bukan lagi
pasukan tidur yang hanya melindungi diri sendiri.”
“Tapi
lagi-lagi pasukan resmi Dong Lin maupun Bei Mo dikalahkan oleh pasukan Yun
Chang yang dipimpin He Xia.” mengingat kembali situasi saat ini, Luoshang
menambahkan, “Pasukan yang mungkin bisa menahan Yun Chang saat ini, mungkin
hanya pasukan Gui Li.”
“Gui
Li saat ini sedang menghadapi masalah dalam kerajaannya. Raja He Su dan
Panglima Le Zhen sedang bertikai, mereka hanya peduli diri sendiri, sama sekali
tidak memikirkan pasukan Yun Chang.”
Ruohan
berkata, “Bei Mo memiliki beberapa tempat rahasia untuk mengumpulkan pasukan
secara diam-diam. Sejak Panglima Ze Yin menantang He Xia secara terbuka, jumlah
pemuda yang ingin bergabung meningkat drastis. Saat ini sudah mencapai jumlah sepuluh
ribu, tapi kami tidak memiliki kuda dan senjata.”
“Setelah
kekalahan di pertempuran sungai Fuzha, Dong Lin benar-benar kehilangan kekuatan
militer kami. Beberapa prajurit benar-benar kehilangan semangat sehingga mereka
melarikan diri, dan sisanya semuanya ada disini.” Moran berbalik menatap
perkemahan yang terlihat hampir kosong. “Termasuk yang terluka, jumlahnya tidak
lebih dari delapan ribu.”
Hening
sejenak.
Jika
dipikirkan, pasukan Yun Chang yang bersenjata lengkap berjumlah sekitar tiga
ratus ribu. Dan jumlah mereka untuk kekuatan penuh, hanya berkisar lima belas
ribu.
Setelah
satu hari perjalanan, kegembiraan mereka melihat Chu Beijie telah menjadi lebih
tenang, dan mulai menyadari kenyataan pahit yang terbentang di hadapan mereka.
Mereka
memiliki Panglima Zhen Beiwang yang mampu memimpin pasukan, tapi bagaimana
dengan kuda?
Chu
Beijie berpikir sejenak, kemudian ia berkata, “Kalian semua pergilah
beristirahat. Kita masih harus melakukan perjalan dengan cepat besok agar
pasukan Yun Chang tidak bisa menyusul.”
Mereka
semua tahu sang penasihat butuh waktu untuk berpikir, maka mereka semua pergi
meninggalkannya. Hanya Moran yang tetap mengikutinya berjalan dibelakangnya,
seperti yang selalu ia lakukan sebelum Tuannya pergi tidur.
Mereka
berdua menikmati suasana tenang dengan semilir angin dingin. Mereka melihat
cahaya lilin yang berkelip perlahan mulai menghilang.
“Kau
sama sekali tidak menyebut Chen Mu.”
“Jendral
Chen Mu… ia meninggal dalam pertempuran ketika Yun Chang menyerang ibukota.”
Suara Moran tenggelam, “Pejabat Senior terlalu lemah sehingga tidak bisa ikut
kami untuk melarikan diri. Yang kudengar ia tidak mau dipermalukan akibat
tertangkap, maka ia bunuh diri dengan racun.”
Suasana
menjadi sangat berat. Chu Beijie menghela napas dengan berat, ia menggenggam
tangannya di belakang tubuhnya sambil memperhatikan sekitar.
Ini
kesempatan pertama bagi Moran untuk berbicara secara pribadi sejak pertemuan
mereka. Dalam pikirannya berkecamuk begitu banyak pertanyaan yang tak mampu ia
tahan, “Tuan, Nona Bai….”
“Ia
masih hidup. Ia memaafkan aku dan kembali padaku.”
“Saat
itu, bukankah kondisinya tubuhnya sedang….”
Chu
Beijie tiba-tiba menghentikan langkahnya. Wajah tegasnya menunjukan jejak
kepahitan. Moran telah bersamanya selama ini, dan ia jarang sekali melihat
Tuannya tak mampu menahan emosinya. Ia menyesal atas ucapannya, tapi kemudian
ia mendengar Chu Beijie berkata pelan, “Pingting telah mengalami penderitaan
terlalu banyak. Mempertahankan hidupnya sendiri sudah sangat sulit, bagaimana
ia mempertahankan kandungannya? Aku….”
Tangannya
terkepal kencang, lalu ia melepaskannya dan mengepalkannya lagi.
“…..Aku
tidak mampu menanyakannya.”
Anak
itu kemungkinan besar sudah tiada.
Setelah
bertemu Pingting ia telah melakukan perjalanan tanpa henti, sambil memikirkan
cara untuk menyelesaikan kekacauan situasi saat ini. Dari hutan lebat ia
melalui beribu-ribu kilometer hingga tiba di kota tua Jiangling, lalu bertemu
Moran dan yang lainnya. Ia punya waktu untuk membicarakan masa lalu dengan
Pingting.
Sebenarnya
tidak seperti itu, ia Zhen Beiwang yang terkenal mampu menghadapi ribuan
prajurit tanpa berkedip, tidak mampu mengeluarkan sedikit saja keberanian untuk
menyinggung hal ini. Ia tahu tak peduli seberapa halus kata-katanya dan tak
peduli betapa ia sangat bersyukur pada langit, ia tidak akan pernah memiliki
cukup keberanian.
Ia
tidak berani membayangkan bagaimana para prajurit Yun Chang memburu Pingting, sehingga
ia jatuh ke dalam situasi berbahaya sampai kehilangan anak dalam kandungannya.
Dan
mungkin tragedi ini telah menjadi luka berdarah di hati Pingting, hal yang
tidak ingin ia ungkit sampai hari ini.
Chu
Beijie berdiri diluar tendanya sendiri, perasaannya yang kacau membuatnya tak
mampu melangkah masuk ke dalam.
Pertanyaan
Moran telah mengusik duri yang berada di hatinya. Ia sungguh ingin
mengeluarkannya tapi ia melakukannya bukankah akan melukai Pingting sekali
lagi?
Pingting
telah bersusah payah kembali ke sisinya. Chu Beijie lebih senang memberikan
nyawanya daripada harus membuat Pingting kembali mengingat kesengsaraannya.
Anak
itu…
“Berapa
lama Tuan berniat berdiri diluar?” sebuah suara lembut bertanya. Tirai tenda
terangkat dan Pingting keluar dari arah dalam.
Pingting
berjalan keluar, mengenggam tangan Chu Beijie dan membawanya masuk ke dalam
tenda. Ia tersenyum, “Pingting tak pernah meragukan kemampuan Tuan dalam
memimpin pasukan. Tak peduli seberapa sulit situasinya, Tuan tidak perlu sampai
merasa menderita. Apa yang sedang Tuan bicarakan bersama Moran sampai Tuan
berwajah seperti itu?”
Chu
Beijie menggenggam tangan Pingting yang halus, hangat dan lembut. Ia
menggenggam dengan lebih erat dan merasa bahwa seperti inilah surga, keindahan
yang sangat luar biasa. Ia memikirkan bagaimana satu pertanyaan yang hendak ia
ucapkan akan menghancurkan segalanya, ia menggertakan giginya dan membulatkan
tekad.
“Pingting,
hari itu di kediaman terpencil….”
“Panglima,
mata-mata yang dikirim telah kembali.” Pada saat yang paling tidak tepat,
sebuah laporan terdengar di balik tenda.
Dan
untuk beberapa alasan, Chu Beijie merasa sangat lega. Ia segera keluar tenda,
“Bicaralah!”
--
Di
ibukota Yun Chang, semua wajah tidak berwarna.
“Apa?”
He Xia berpakaian serba putih, mengebrak meja sambil berdiri. Ia berkata dengan
tidak percaya, “Chu Beijie tiba-tiba muncul?”
“Benar.”
Si pengirim pesan berlutut, tidak berani mengangkat kepalanya. “Banyak prajurit
melihat sendiri, Panglima Zhen Beiwang membunuh Jendral Chengjing dengan
melepaskan sebuah anak panah dari atas bukit.”
“Berapa
jumlah pasukan yang ia miliki?”
“Aku
telah bertanya pada beberapa prajurit, tapi mereka berkata, kalau mereka tidak
tahu pasti.”
He
Xia mengerutu, “Ketika dua pasukan bertabrakan, bagaimana mungkin kau tidak
tahu berapa banyak prajurit yang muncul dari belakang untuk menyergap?”
“Melapor
pada Suami Ratu. Pada saat itu… ketika mereka melihat Panglima Zhen Beiwang,
mereka semua ketakutan dan kacau. Pasukan bubar, berlarian kesegala arah
sebelum bentrokan terjadi…”
“Berengsek!”
He Xia berteriak.
Si
pengirim pesan seperti serangga di musim dingin, tidak berani membuat suara
sedikitpun.
“Puluhan
ribu pasukan melarikan diri ketika sebuah bayangan seseorang muncul di atas
bukit, bahkan sebelum terjadi baku hantam.” He Xia melangkah bolak balik di
dalam ruangan, ia sangat marah, “Apa saja yang dikerjakan Chenjing? Meskipun ia
bertahan hidup, aku akan memberinya hukuman berat karena tidak melatih
pasukannya dengan keras.”
Sejak
kematian Tuan Putri Yaotian, He Xia telah sepenuhnya menguasai wewenang utama
kerajaan Yun Chang. Sebuah tatapan keji terlihat di kedua bola matanya, membuat
siapapun yang melihatnya menjadi gemetar ketakutan.
Si
pengirim pesan berlutut di lantai, mendengarkan He Xia memukul benda-benda,
setiap suara yang terdengar seperti mengelegar. Tiba-tiba ia mendengar sebuah
suara, seseorang datang melapor, “Suami Ratu, prajurit yang ditugaskan di
istana Dong Lin telah tiba.”
“Bawa
dia masuk.”
Pintu
terdorong terbuka dan seorang prajurit dengan tubuh tertutup debu melangkah
masuk dan berlutut. Ia bicara dengan terengah-engah, “Melapor pada Suami Ratu,
Panglima Zhen Beiwang tiba-tiba muncul di ibukota Dong Lin, membunuh beberapa orang
prajurit Yun Chang.”
“Apa?”
He Xia berkata, “Jelaskan dengan rinci.”
“Enam
hari lalu, Panglima Zhen Beiwang menampakan diri di luar gerbang ibukota Dong
Lin, menggunakan sebuah busur dan anak panah, membunuh beberapa prajurit yang
ditempatkan di tembok kota.”
“Dan
mengapa kalian tidak mengejarnya?”
“Jendral
segera mengirim pasukan keluar ibukota, tapi begitu Panglima Zhen Beiwang
selesai membuat kekacauan, ia segera membawa para pengikutnya pergi. Begitu
kami tiba diluar, mereka telah menghilang. Saat itu sudah begitu larut,
sehingga jejak mereka sulit ditemukan.”
“Tengah
malam?” He Xia memicingkan matanya, “Ia berada di ibukota enam malam lalu?”
“Benar.”
He
Xia memandang si pengirim pesan yang datang terlebih dahulu, “Dan kau
mengatakan, Chu Beijie muncul di bukit enam hari lalu, ketika menyergap Ratu
Dong Lin di hutan?”
“Benar,
Suami Ratu.”
“Kedua
tempat ini terlalu jauh, bagaimana mungkin Chu Beijie bisa berada di dua tempat
pada saat bersamaan?”
“Itu…”
“Apa
wajahnya terlihat jelas?” He Xia bertanya pada si prajurit yang dikirim dari
ibukota Dong Lin.
“Wajahnya
tidak terlihat. Menurut prajurit yang berada di tempat, orang-orang di
sekitarnya meneriakkan kata-kata ‘Panglima Zhen Beiwang’…”
“Sinting,
kau memastikan ia Panglima Zhen Beiwang hanya karena pihak lain berteriak
sedikit? Kau pikir aku akan terjebak tipu muslihat seperti itu?” He Xia
berteriak, “Prajurit, bawa ia pergi!”
“Mohon
ampun! Suami Ratu, mohon ampun! Aku tidak berani bicara tidak benar, bagaimana
mungkin aku merencanakan tipu muslihat seperti itu! Semua penduduk Dong Lin
mengatakan Panglima Zhen Beiwang telah kembali, entah benar atau tidak, aku
akan segera menyelidikinya dengan pasti…” Si pengirim pesan berkata sambil
berlutut.
Dongzhuo
menerobos pintu dengan tergesa-gesa dengan sebuah surat di tangannya. Melihat
ekspresi wajah He Xia yang dingin, ia menatap ke arah si pengirim pesan yang
sedang mengiba. Ia berkata, “Tuan?”
He
Xia melihatnya menggenggam laporan militer dan ia tahu pasti ada sesuatu yang
sangat penting. Ia berkata, “Aku tidak ingin diganggu, kalian pergilah,”
Nyawa
kedua pengirim pesan masih bertahan. Mereka keluar sambil tersandung.
“Tuan,
Chu Beijie muncul di ibukota Bei Mo.”
“Kapan?”
“Enam
hari lalu.”
He
Xia menyeringai, “Enam hari lalu, Chu Beijie muncul di tiga tempat, ibukota
Dong Lin, hutan, dan ibukota Bei Mo, bahkan orang bodoh saja tahu apa yang
sedang berlangsung.”
Dongzhuo
tiba-tiba mengerti, “Seseorang menggunakan ketenaran Chu Biejie dan menyamar
sebagai dirinya untuk menguncang semangat juang pasukan kita. Memang benar, Chu
Beijie telah menghilang begitu lama. Seharusnya ia muncul lebih cepat ketika
ibukota Dong Lin diserang, jadi tidak mungkin ia malah muncul di saat seperti
ini.”
He
Xia memejamkan matanya sesaat, mendengarkan kata-kata Dongzhuo. Ia membuka
matanya dan sebuah sinar terpancar dari bola matanya.
“Tidak,
hal ini benar-benar membuktikan kalau Chu Beijie memang benar-benar muncul.
Rencana kemunculannya di tiga tempat dan menyerang musuh dengan sekali
serangan, berusaha membuat kita percaya kalau seseorang sedang menyamar sebagai
dirinya, sayang sekali, rencana ini bisa berhasil pada orang lain tapi tidak
untukku.”
Dongzhuo
terkejut dan berpikir sejenak sebelum menarik napas panjang di udara dingin. Ia
berpikir lebih cermat lagi, “Kalau ia memang benar Chu Beijie, apa Tuan akan
segera menyiapkan pasukan dan segera pergi sendiri ke Dong Lin untuk
mengalahkannya?”
“Chu
Beijie sangat pintar menyembunyikan jejaknya. Apa kau tahu seberapa banyak
sumber daya dan waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan pertempuran di
wilayah Dong Lin yang luas itu?” wajah tampan He Xia menyembunyikan senyumnya.
Tapi akhirnya sudut bibirnya sedikit terangkat, “Kirimkan perintah, bersiap
berangkat, aku akan pergi ke Gui Li.”
Ekspresi
Dongzhuo bingung, “Fei Zhaoxing dan Shang Lu telah dikirim ke Gui Li, sudah
cukup untuk menghabisi Gui Li yang sedang cekcok di dalam negaranya sendiri.
Mengapa Tuan harus pergi sendiri kesana?”
“Ketika
menghadapi raksasa, serang pergelangan kakinya. Dongzhuo, apa kau tahu dimana
pergelangan kaki Chu Beijie?” mata He Xia bersinar ketika memandang Dongzhuo
dengan bangga.
“Pergelangan
kaki Chu Biejie?” Dongzhuo tidak bisa menebaknya, alisnya berkerut ketika ia
mempertimbangkan beberapa jawaban.
He
Xia melihatnya tidak dapat menebak dengan pasti dan terkekeh, “Pergelangan kaki
Chu Beijie ada dua hal, prajurit dan kuda.”
Langsung
ke inti masalah.
Dongzhuo
segera bergembira ketika menyadarinya.
Pasukan
utama Dong Lin dan Bei Mo telah hancur. Bila Chu Beijie berniat mengumpulkan
prajurit dalam jumlah besar, ia harus mempertaruhakn keberuntungannya pada
pasukan Gui Li.
He
Xia harus secepatnya mencapai Gui Li. Kalau ia bisa menghancurkan pasukan Gui
Li, ia akan menghancurkan satu-satunya harapan terakhir Chu Beijie untuk
mendapatkan pasukan.
Seorang
istri tidak bisa memasak daging tanpa nasi. Tanpa pasukan dan kuda, apa yang
bisa dilakukan Chu Beijie?
Bahkan
jika ia dewa perang, kekuatannya tidak akan cukup untuk menghancurkan pasukan
Yun Chang yang luar biasa besar ini.
Setelah
segalanya ditentukan, mereka berdua berjalan keluar dari ruangan.
“Bahkan
sampai saat ini, aku masih sulit percaya, mengapa tiba-tiba Chu Beijie muncul?”
Dongzhuo berguman sambil berjalan. “Mengapa ia muncul di gunung itu tanpa
alasan.”
“Chu
Beijie tidak mungkin muncul tanpa alasan, sama sekali.”
“Tuan?”
“Pasti
ada tujuannya.” He Xia menjawab dengan nada sangat serius. Matanya memandang ke
arah belakang halaman di balik bayangan, ia melihat ruangan yang pernah di
tempati Pingting.
Pintu
ruangan itu tertutup rapat.
Di
dunia yang luas ini, siapa lagi selain Pingting yang mampu membuat Chu Beijie
si penghancur, turun gunung?
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar