Langit
mulai terang, angin bertiup dari utara dan matahari sudah sepenuhnya terbangun
dari balik awan dan membawa kehangatan dengan sinarnya.
Hal
pertama yang dilakukan Pingting pagi itu mengolah sebaskom bunga plum yang
telah ia petik, menambahkan arak, gula, garam dan rumput musim dingin. Setelah
bekerja beberapa lama ia beristirahat, “Mungkin sebaiknya kita tambahkan juga
panili.”
“Aku
akan ambilkan.” Hongqian sangat bersemangat dan memandangi baskom dengan kagum,
“Sungguh terlihat enak pasti rasanya juga. Apa Nona menyiapkan ini untuk
menyambut kepulangan Tuan Besar?”
Zuiju
segera mengerti maksud Hongqian dan segera menatapnya untuk menggodanya, “Aku
yakin begitu sajian ini siap kau akan segera mencicipinya.”
Hongqian
bertepuk tangan beberapa kali dan akhirnya bertanya, “Apa masih ada yang bisa
kubantu?”
Pingting
telah melewatkan malam dengan menatap bulan dan merasakan dirinya ikut
bersemangat. Ia dengan gembira berkata, “Pergilah dan temukan tempat bagus di
halaman, bersihkan saljunya dan gali lubang kecil. Salju menutup tanah sehingga
menahan cahaya dan menyegarkan wanginya. Kita akan mengubur kendi ini di bawah
salju dan mengasapinya setengah jam agar wanginya meresap dalam kendi. Dan
ketika Tuan Besar kembali kita bisa membuka kendi ‘Yang Mengunci Diri” ini.”
Zuiju
berseru “Yang Mengunci Diri? Nama yang menarik, pilihan bagus, membuatku
penasaran akan rasanya.”
Pingting
menatapnya menggoda dan tersenyum, menyebabkan mata Zuiju berbinar terang.
Hongqian
mengambil sapu dan pergi keluar untuk mencari tempat yang cocok.
Pingting
mengangkat kendi yang ternyata agak berat. Kehilangan keseimbangannya, ia
berjalan dengan sempoyongan dan Zuiju yang ketakutan segera menghampiri dan
mengabil alih kendi. “Tolonglah, jangan seperti ini lagi, cepat atau lambat kau
akan membuatku terkena serangan jantung.”
Lalu
Zuiju membawa kendinya keluar.
Hongqian
agak lama mencari lokasi dan akhirnya ia membersihkan salju. Ia sedang menggali
dan mengalami banyak kesulitan ketika melakukannya.
“Biar
aku lanjutkan.” Zuiju menarik lengan bajunya dan mengambil sekop. Setelah
bekerja dengan berkeringat, ia juga tidak bisa menggali lebih dalam lalu
berkata dengan kesal, “Tanah ini menyebalkan, begitu keras seperti batu.”
Pingting
merasa geli menyaksikan tingkah mereka. Begitu mendengar komentar Zuiju,
Pingting tak mampu lagi menahan tawanya. “Kau memang tidak cocok sebagai
pekerja kasar. Ketika musim dingin tanah akan menjadi sangat keras jadi kita
tidak akan bisa menggalinya. Akan lebih mudah jika kita minta seorang penjaga untuk
melakukannya.”
“Itu
mudah, aku akan pergi mencari seorang penjaga untuk kita.” Hongqian memiliki
hubungan baik dengan para penjaga, maka ia bisa dengan cepat mendapatkan
seseorang.
Ketika
ia berbalik, Zuiju menahan punggungnya, “Tidak perlu memanggil seseorang.
Bantuan akan datang dengan sendirinya.”
Mereka
bertiga menatap pintu masuk halaman, dan melihat seseorang sedang berjalan ke
arah mereka. Dari kejauhan sosoknya terlihat seperti Moran.
“Oh,
Jendral Chu…” Hongqian berkata, tapi ketika melihat ekspresi wajahnya ia
menahan ucapannya.
Dan
itu memang Moran.
Ia
menggenakan pakaian yang sama sejak semalam dan pedangnya di pinggangnya.
Rambutnya rapi, tapi ekspresinya menghianatinya.
Bahkan
berita tentang pasukan musuh yang menekan perbatasanpun takkan mampu membuatnya
berekspresi seperti itu.
Melihat
ekspresinya, senyum Pingting dan Zuiju segera membeku.
Setelah
agak lama, akhirnya Pingting bertanya, “Ada apa?”
Sikap
Moran yang tenang menyembunyikan kekhawatirannya. Moran mengambil napas panjang
dan berkata dengan tenang agar Pingting tidak terkejut, “Situasi telah berubah,
kita tidak bisa tetap disini. Tolong ikuti saya segera.”
Moran
bebalik dan mulai melangkah tapi kemudian ia menyadari kalau Pingting tidak
mengikutinya dan ia mengerutkan dahi. “Jangan membuang waktu, cepatlah.”
Pingting
diam tak bergerak, angin utara terasa mengigit kulitnya. Ia menggenggam
tanganya untuk mencari sedikit kehangatan dan berkata, “Ikuti aku.” Lalu
berbalik dan berjalan.
Melihat
ekspresinya yang tenang, Moran agak terkejut. Ia agak ragu tapi akhirnya
mengikutinya.
Zuiju
dan Hongqian bisa merasakan suasana yang tegang, tapi mereka tidak bisa menduga
seberapa seriusnya kondisi mereka. Mengetahui kalau Pingting membicarakan
masalah serius dengan Moran, Zuiju menarik lengan baju Hongqian dan mereka
berdua membawa kendi yang tidak jadi dikubur itu kedalam ruangan dan berusaha
menunggu dengan tenang.
Pingting
masuk ke ruangan dan duduk. Matanya terlihat bingung ketika ia duduk tak
bergerak merenung. Setelah beberapa lama ia mengambil secangkir teh di
depannya. Menahannya di bibirnya dan ia menyadari kalau tehnya sudah dingin,
kemudian meletakannya kembali dan perlahan bertanya pada Moran, “Apa mereka
dikirim oleh Ratu?”
Moran
sekali lagi merasa terkejut.
Chu
Beijie pasti tidak akan memberitahunya tentang pasukan Ratu yang bersembunyi di
sekitar, pikir Moran.
Ia
menatap Pingting.
Pingting
tertawa kasar, “Tidak sulit untuk di tebak. Jika memikirkan betapa ia begitu
membenciku… Tuan tidak mengijinkan aku keluar selangkahpun dari kediaman dan
meninggalkan para penjaga disini bahkan termasuk dirimu Moran. Dari seluruh
Dong Lin, siapa yang begitu berani menantang dirinya dan membenciku begitu
dalam sehingga bisa berbuat seperti itu? Katakan saja seberapa buruk kondisinya?”
Dengan
kata-kata Pingting, Moran jadi bersemangat. Mata Pingting memancarkan
kepintaran dan perhitungan mengingatkannya bahwa berkat Pingtinglah Bei Mo
selamat dari kehancuran.
Moran
menatap wajah yang lembut itu sebelum ia mengaku, “Kondisinya lebih menakutkan
dari yang kuperkirakan. Aku mengirim 10 penjaga ke dalam hutan untuk mengintai.
Tak seorangpun kembali. Pagi ini, aku mengirim lagi beberapa orang untuk
mencari tahu lokasi mereka dan melihat pergerakannya…”
“Para
penjaga itu juga tidak kembali,” Pingting menyela dan ia menghela napas lalu
melanjutkan, “Kalau begitu, aku takut gunung telah terkepung total. Apakah Ratu
sungguh memiliki pasukan sebesar itu?”
“Nona
Bai, kita sudah membuang waktu cukup banyak, tolong ikut aku menuju belakang
gunung.” Moran berkata, “Tuan Besar membuat bangunan tersembunyi untuk hal
darurat. Tempatnya sulit untuk dilacak, kediaman ini benar-benar sudah tidak
aman.”
Pingting
melihat ke arahnya, “Kita hanya punya satu tim penjaga, bahkan bila kita
termasuk kau, melawan pasukan yang mengepung kita. Hasilnya sudah sangat jelas.
Kenapa mereka masih bergerak?”
Moran
berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap ke atas dan berkata dengan tidak
percaya, “Mungkinkah mereka sudah menemukan lokasi persembunyian? Dan mereka hanya
menunggu, untuk bisa menangkap kita ketika dalam perjalan kesana?”
Untuk
memikirkan rencana lawan, dengan jumlah pasukan lawan yang jauh lebih besar,
apalagi yang bisa dilakukan? Perasaan tidak ada harapan sulit untuk dihilangkan
ketika berada dalam jebakan.
Pingting
tidak menjawab, ia membuka tirai dan melihat keluar mengira-ngira waktu saat
ini lalu berkata, “Berapa banyak burung dara yang kita punya?”
“Seluruhnya
lima belas, kenapa ?” Tanya Moran.
“Lepaskan
mereka semua, lepaskan pada semua sudut mata angin.”
Suaranya
lembut dan tenang tapi penuh kharisma. Moran mematuhinya tanpa pertanyaan,
“Baik, akan kulakukan segera.”
Zuiju
berjalan masuk setelah melihat Moran terburu-buru pergi. Ia membawa teh hangat
dan menatap Pingting sedang melihat kelangit dari pintu. Mereka begitu sibuk
mempersiapkan bunga plum yang telah dipetik sehingga rambut Pingting belum
sempat disanggul. Meskipun begitu kayu hitam pintu membingkai wajahnya yang
penuh kesedihan. Ekspresinya membuat Zuiju menjadi takut. Ia perlahan menyentuh
lengannya, “Nona Bai?”
Pingting
kembali pada kenyataan ketika melihatnya, “Itu kau?” dan ia tertawa sedih, lalu
berkata, “Sepertinya selama kita masih hidup, tidak akan pernah ada kedamaian.”
Pingting terlihat tanpa harapan. Lalu Zuiju berkata, “Disini sangat dingin.
Masuklah dan kita minum teh untuk menghangatkan diri.”
Zuiju
masuk dengan membawa teh dan menuangkannya untuk Pingting dan dirinya sendiri.
Sambil menggenggam cangirnya untuk menghangatkan tangannya ia mempelajari
ekspresi Pingting. Setelah beberapa saat ia berkata, “Tak peduli apa yang
terjadi, Moran akan membereskannya. Ini masih wilayah Tuan Besar Zhen Beiwang,
siapa yang berani macam-macam disini?”
Pingting
tahu Zuiju sangat cerdas dan tabib yang berbakat tapi bagaimanapun ia masih
sangat muda. Ia menjawab dengan lembut, “Justru, karena mengetahui bahwa ini
adalah wilayah Tuan Besar Zhen Beiwang yang membuat aku khawatir. Siapa yang
berani melakukannya, siapa orang yang memiliki kekuasaan sebanding dengan Tuan
Besar? Bahkan kepergian Tuan Besar, pasti juga sudah diperhitungkan oleh
mereka, aku takut…” Pingting melihat ke arah perutnya yang masih rata,
tangannya memeluk melindunginya. Matanya menoleh kea rah Zuiju.
Zuiju
terkejut dengan pandangan tajam Pingting dan membalas, “Aku tidak memberitahu
siapapun. Aku bahkan tidak memberitahu Tuan Besar. Siapa lagi yang bisa
kuberitahu.”
Pingting
mengangguk setuju dan menghela, “Kuharap keadaan tidak seburuk yang kuduga.”
Tirai
yang tergantung disingkap dengan cepat dan Moran masuk ke ruangan.
Mereka
berdua menatap Moran dan menyadari eskpresinya lebih buruk dari sebelumnya.
“Burung-burung
itu tidak terbang begitu jauh sebelum mereka semua di panah jatuh,” Moran
berkata dengan sulit, “Lima belas burung dara, semuanya tidak ada yang selamat.
Kediaman telah dikepung total.”
Dan
akhirnya Zuiju mengerti sepenuhnya kondisi saat ini. Ia berteriak dan matanya
membelak.
Moran
berpikir sejenak sebelum berbicara dengan gigi terkatup, “Bisakah Nona Bai
memberikan padaku pedang yang diberikan Tuan Besar pada anda? Aku akan mengirim
penjaga dan membuka jalan untuknya. Sebuah pasukan berdiam sekitar 20 mil di
selatan. Begitu Jendral disana melihat pedang itu, ia akan segera mengirim
pasukannya untuk membantu.”
Pingting
menegadahkan kepalanya dan menatap pedang yang tergantung di dinding.
Chu
Beijie telah meninggalkannya untuknya.
Tangan
Chu Beijie begitu hangat ketika mengenggam tangannya, “Aku meninggalkan Moran
dan para penjaga disini untuk melindungimu. Kalau terjadi hal-hal yang tidak
terduga, kirim seseorang dengan kuda cepat bersama pedang ini menuju Barak Naga
Harimau 20 mil ke arah selatan dari sini, dan minta Jendral Chen Mu untuk
membantu. Ia akan mengenali pedangku.”
Kata-katanya
terngiang di telinga Pingting.
Pedang
yang dihiasi pertama yang pernah membantai musuh-musuh, tergantung dalam diam
di dinding.
Pingting
tidak tahu apakah ia ingin tertawa atau menangis.
Chu
Beijie telah memikirkan segalanya begitu baik, memikirkan segala kemungkinan,
kecuali yang satu ini.
Siapa
yang bisa menyalahkannya? Tak ada yang bisa menduga kondisinya akan berjalan
sampai seperti ini.
Pingting
berjalan, perlahan menurunkan pedang dan mengusap pangkal pedangnya.
Mengetahui
bahwa mereka tidak bisa menyia-nyiakan waktu dan melihat Pingting begitu cemas,
Moran akhirnya berkata, “Hanya pedang ini yang bisa mewaliki Tuan Besar dan
menggerakan pasukan. Setelah pasukan bantuan tiba, pedang itu akan segera
dikembalikan.”
Moran
melangkah mendekat untuk menerima pedang, tapi Pingting melangkah menjauh.
Pingting
selalu memikirkan keadaan dari sudut pandang luas dan tidak pernah bertingkah
egois, tapi pada saat kritis seprti ini, mengapa ia memiliki pemikiran lain?
Menghadapi
musuh yang berat, setiap detiknya sangat menentukan. Mengingat jumlah pasukan
musuh yang begitu besar yang mengepung mereka, membuat hatinya kecut.
Dengan
kedua tangan mengenggam kuat pedang, Pingting duduk kembali. Ia menatap Moran
dan dengan sedikit rasa takut dimatanya ia bertanya, “Kediaman Tuan Besar Zhen
Beiwang dikepung total seperti ini, menurutmu apakah Raja tidak tahu tentang
hal ini?”
Moran
terlihat terguncang dan menjadi pucat ketika menyadarinya.
Bukan
atas perintah rahasia Ratu?
Melainkan
Raja sendiri?
Kalau
Raja juga ikut campur dalam masalah ini, apakah masih ada harapan?
Pingting
melanjutkan, “Menutup jalur di gunung bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Ini
karena kita telah dikepung agak lama, dan mereka tidak ingin kita
mengetahuinya. Dan untuk penduduk sekitar juga barak prajurit yang berjarak 20
mil, apakah mungkin mereka tidak memperhitungkannya?”
Moran
tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menjawabnya.
Sebenarnya
ia tidak harus menjawabnya.
Seperti
kabut yang tersingkap, segalanya mulai terlihat jelas dan masuk akal.
Chu
Beijie telah mempersiapkan segala kemungkinan, menjaganya dari musuhnya juga
kakak iparnya, tapi apakah ia pernah memperhitungkan untuk menjaganya dari
kakaknya sendiri, Raja yang termulia dari Dong Lin.
Ikatan
darah yang begitu kuat.
Kakaknya
yang paling mengenalnya dengan baik, kakaknya yang seharusnya paling mengerti
betapa berartinya Pingting baginya.
Zuiju
menyadari kalau ia sedang menahan napasnya.
Pingting
melihat kearah pedang yang ia genggam didadanya, ia bisa merasakan kehangatan
Chu Beijie merambat keluar dari besi yang dingin itu.
“Pasukan
tidak akan bergerak saat ini, atau Jendral disana telah diganti. Tidak akan ada
bantuan.” Pingting menatap keluar jendela, kemudian ia bertanya, “Tanggal
berapa sekarang?”
Zuiju
segera menjawab, “Empat.”
Matahari
sudah berada di tengah, saat ini sudah siang hari.
“Tanggal
empat?” Pingting tersenyum dan wajahnya penuh kehangatan dan harapan, “Kalau
begitu tinggal dua hari lagi.” Ia berbalik dan berkata pada Moran, “Aku ingin
peta daerah ini dan semua informasi rinci yang memungkinkan, jumlah penjaga,
kemampuan mereka, persediaan makanan dan sumber air. Juga termasuk jalur
berburu dan jalur penebang kayu penduduk sekitar…”
Setelah
mengucapkan semua perintahnya, Pingting menarik napas dalam, dan bernapas
dengan tenang sebelum berkata dengan dingin, “Mengepung total musuh dan masih
tidak membuat gerakan, sepertinya mereka mengharapkan kita untuk menyerahkan
diri. Ini bukan ciri khas Raja Dong Lin tapi seseorang yang sangat tidak asing.
Siapakah kemungkinannya?” Pingting memikirkannya, alis matanya berkerut.
Tatapannya menjadi lebih tegas dan stabil.
---
Sementara
itu di ibukota Dong Lin.
Sinar
matahari membelah kegelapan, mengelilingi tanah dengan cahaya dan kehangatan.
Meskipun sinar matahari menyinari seluruh istana tapi ada kemuraman yang juga
tidak hilang.
Raja
dan Ratu Dong Lin melangkah masuk ke ruangan Selir Li dan dengan lembut
menenangkan wajah pucat Selir Li. Pelayan istana dengan cepat membawakan bayi
perempuannya, terbungkus kain sutra putih. Ia menyerahkannya pada Raja dan
Ratu.
“Ia
mirip Yang Mulia,” Ratu berbisik.
Alis
mata Raja berkerut. Melihat anak perempuannya yang baru lahir, ia memaksa
senyumnya. Ujung bibirnya masih tersenyum ketika terdengar suara pedang beradu
di luar.
“Yang
Mulia, tolong berhati-hati!” suara pedang teradu semakin keras. Penjaga pribadi
Raja saling bertukar pandang dan menyadari terjadi pertarungan di luar.
Keempatnya bergerak untuk melindungi Raja dan Ratu. Mereka mengeluarkan pedang
mereka dan berdiri di depan, waspada dengan sekitarnya. Dua penjaga berjaga di
jendela untuk melihat musuh.
Jeritan
kesakitan terdengar bersamaan suara pukulan keras. Keributan akhirnya sampai ke
ruangan, membangunkan sang bayi dan ia mulai menanggis.
Suara
adu pedang tiba-tiba berhenti, dan kesunyian menandakan pertarungan telah
selesai.
Sebuah
cahaya bersinar di mata Raja. Ia tiba-tiba berdiri, membuka pintu dan berdiri
di undankan paling tinggi.
Sosok
Chu Beijie yang tenang tertangkap pandangannya.
Perkelahian
telah selesai.
Para
penjaga telah terluka dan berdarah, mereka berjalan sempoyongan dan mengertakan
gigi. Mereka tidak bersuara meskipun sangat kesakitan.
Beberapa
penjaga yang terluka mengenggam erat tombak mereka dan mengepung Chu Beijie,
tapi tak seorangpun dari mereka berani menyerangnya.
Chu
Beijie berdiri di tengah halaman, melihat ke arah pedang di tangannya. Darah
mengalir turun dari ujungnya membasahi lantai yang halus.
Wajahnya
sangat tenang, sama sekali tidak menghiraukan para penjaga disekitarnya. Bahkan
seorang prajurit hebatpun takkan mampu menahannya.
Mungkin
itulah masalahnya.
Sikap
dinginnya membuat gemetar.
Semua
orang menatap Tuan Besar Zhen Beiwang yang perkasa dan hebat. Tidak berkedip
dan menahan napas mereka, mereka tak berani membuat gerakan sekecil apapapun.
Ketika
tetes terakhir darah jatuh dari pedangnya, Chu Beijie menatap kakaknya. Dengan
rasa sakit dan terluka di matanya, ia bertanya, “Kenapa?”
Suaranya
lembut tapi tidak menyembunyikan ancaman di baliknya.
Berbalut
darah tapi masih menolak untuk menyerah, pemimpin para penjaga yang sebelumnya
diperintahkan untuk menghentikan Chu Beijie.
Ratu
terguncang dengan tatapan tajamnya. Ia membuka mulut untuk berbicara, tapi Raja
segera mengenggam tanggannya. Ratu menundukkan kepala dan berdiri diam
disamping Raja.
“Aku
ceroboh.” Raja berdiri diatas undakan, menoleh ke bawah kepada adik
satu-satunya dan menghela, “Setelah memimpin pasukan bertahun-tahun, kau terus
memegang bendera komando setiap saat. Tentu saja kau tidak perlu ke ibukota
untuk menerimanya kembali. Beijie, apakah kau akan menyia-nyiakan semua yang
telah kulakukan untukmu?”
Chu
Beijie tetap menatapnya dan bertanya kembali, “Kenapa?”
Itu
adalah titik dimana kau tidak bisa berbalik.
“Karena
kau satu-satunya adikku. Kau adalah Tuan Besar Zhen Beiwangnya Dong Lin.” Suara
Raja semakin kencang ketika ia berbicara, menjadi lebih percaya diri,
“Sepertinya aku tidak akan memiliki anak laki-laki lagi. Suatu hari semua ini
akan menjadi milikmu. Negara ini akan menjadi milikmu seorang, seluruh rakyat
yang tidak terhitung dan para prajurit pemberani yang menjaga perbatasan kita.
Segalanya akan menjadi milikmu.”
Kata-katanya
menggema.
Chu
Beijie tidak tertarik. Tetap berdiri tegap, dan ia menatap tajam pada Raja.
Sinar mata Raja memancarkan penyesalan tapi kemudian berubah menjadi kesedihan
yang menyiksa dan penderitaan.
“Dalam
menghadapi perang, sebagai anggota kerajaan, keamanan Negara seharusnya yang
utama bagi kita. Kakak, kau melakukan segala hal untuk menunda keberangkatanku.
Apa kau tidak khawatir dengan kondisi di perbatasan?” Chu Beijie berkata
sebelum menggelengkan kepalanya, “Bukan, bukan itu.” Eskpresinya menjadi
semakin gelap, “Kau ingin menghentikan aku kembali ke kediamanku.”
Sebuah
kediaman kecil dan terasing, mengapa Raja dan Ratu begitu peduli?
Chu
Beijie menyadari ekspresi Ratu yang hampir tidak terlihat dan merasakan
jantungnya berdebar kencang. Dengan sedikit gemetar, meskipun sudah mengetahui
jawabannya, ia bertanya, “Apakah karena Pingting?”
Pingting
berada jauh dari perlindungannya. Kalau Raja ikut campur, meskipun dengan
bantuan Moran, kecil harapan untuk keselamatannya.
Melihat
Raja enggan untuk menjawab, Chu Beijie merasakan hatinya menjadi semakin
dingin.
“Kakak?”
Chu Beijie berkata dengan pelan, sambil menahan amarah yang memuncak.
Suaranya
sangat tenang dengan sedikit gemetar. Kalau saja pedang yang digenggamnya tidak
terbuat dari besi pasti telah hancur sejak tadi.
Pingting.
Mereka
membuat dirinya kembali untuk mendapatkan Pingting.
Apakah
ada kekacauan besar selama keterlambatannya keluar dari istana kerajaan ?
Mungkinkah
ketika ia kembali nanti, ia takkan bisa lagi melihat sosoknya yang sedang duduk
di bawah pohon?
Chu
Beijie menatap Raja, merasakan bukti sebuah penghianatan tapi ia tetap bisa
merasakan sedikit kerlipan harapan.
Ia
sungguh berharap setidaknya dengan memandang ikatan mereka sebagai adik kakak,
kakaknya akan memberi sebuah kesempatan bagi Pingting untuk bertahan hidup.
Bahkan
seorang Raja Dong Lin yang telah mengeraskan hatinya menolak untuk bertemu
pandang dengannya, ia malah menoleh kearah lain.
Karena
kakaknya tidak bersedia menatap matanya, Chu Beijie membeku.
Hatinya
hancur. Ia merasa kegelapan telah menelan dirinya hidup-hidup.
Hari
keenam.
“Pada
hari ulangtahun Tuan, bisakah kita bersama?”
Suara
burung bersiul terdengar di telinga Chu Beijie. Ia bisa melihat semua senyum
dan gerakan Pingting dalam kenangannya di hatinya.
Ia
telah membuat janji pada hari keenam.
Ia
merasakan dirinya mati rasa.
Semakin
ketakutan menguasainya, ia merasakan hatinya semakin dingin.
Tak
lama kemudian, sebuah keputusan melintas di kepala Chu Beijie. Dengan mengenggam
kuat pedangnya, ia berbalik untuk melangkah pergi.
Para
penjaga di sekeliling Chu Beijie menggerakkan tombak mereka dengan hati-hati. Seiring
ia berjalan menuju pintu keluar, kekuatan memancar dari tiap langkahnya. Para penjaga
begitu terkejut sehingga tidak yakin apakah mereka sebaiknya menghentikannya
atau tidak. Mata pedang Chu Beijie masih mengarah ke tanah. Tidak peduli pada
besi tajam yang mengarah padanya, Chu Beijie menekankan pada setiap langkahnya
bahwa, tak ada apapun yang bisa menghentikannya, meskipun sebuah pisau tajam diarahkan
tepat ke jantungnya.
Tatapannya
segelap lautan luas, tak bisa diterka. Semua orang bisa merasakan badai besar
yang siap mengamuk.
Tak
ada yang berani menatap matanya dan tidak ada juga yang berani menyenggol pedangnya.
Siapa
yang tidak pernah mendengar Tuan Besar Zhen Beiwang yang luar biasa hebat ?
Para
penjaga di paksa melangkah mundur.
“Biarkan
dia pergi.” Raja memerintahkan.
Para
penjaga bergerak, membuat jalan untuk Chu Beijie lewati.
Perhiasan
burung phenik Ratu bergoyang ketika ia berteriak, “Yang Mulia!”
“Apa
Ratu berharap agar aku membunuhnya, atau membiarkannya membunuh seluruh
prajurit yang kita miliki?” Raja berdiri dengan kaku. Ia memandang sosok Chu
Beijie sampai menghilang dari halaman, lalu menghela napas dengan berat, “Biarkan
ia pergi. Seharusnya sudah hampir selesai sekarang. Bahkan jika ia berhasil
tiba di kediamannya, sudah sangat terlambat baginya untuk melakukan apapun.”
Bahkan
setelah kepergian Chu Beijie yang agak lama, suasana masih terasa mencekam. Tak
ada seorangpun yang berani bergerak. Bahkan sang bayi bisa turut merasakan
bahaya dan kesuraman.
Raja
Dong Lin menatap langit yang perlahan semakin gelap, matanya sulit diterka. Tapi
didalamnya terlihat penderitaan dan penyesalan.
Suara
langkah kaki akhirnya memecah keheningan, Pejabat Senior Chu Zairan melangkah
menaiki undakan dan berlujut di depan Raja, “Yang Mulia, setelah meninggalkan
istana, Tuan Besar Zhen Beiwang secara pribadi menunjuk dua belas prajurit
muda, menggumpulkan tiga ribu pasukan berkuda dengan bendera komando dan
berangkat dari gerbang barat.”
“Biarkan
ia pergi.” Raja Dong Lin menatap pada kejauhan, berusaha menenangkan dirinya, lalu
ia berjalan menuruni undakan sambil berkata dengan tenang, “Tanpa belajar rasa
sakit karena kehilangan, bagaimana ia bisa tumbuh menjadi Raja Dong Lin di masa
depan?”
Beijie, pergilah dan
lihatlah dengan matamu sendiri, kekacauan yang terjadi di kediamanmu.
Kuharap dengan
melihat api yang membakar, kau akan melihatnya menghanguskan irisan terakhir
dari keegoisanmu.
Sebagai seorang
Raja, untuk mengatur Negara, kau belum memiliki syarat terakhir.
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia