Jumat, 27 Mei 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.33

-- Volume 2 chapter 33 --


Langit mulai terang, angin bertiup dari utara dan matahari sudah sepenuhnya terbangun dari balik awan dan membawa kehangatan dengan sinarnya.

 

Hal pertama yang dilakukan Pingting pagi itu mengolah sebaskom bunga plum yang telah ia petik, menambahkan arak, gula, garam dan rumput musim dingin. Setelah bekerja beberapa lama ia beristirahat, “Mungkin sebaiknya kita tambahkan juga panili.”

 

“Aku akan ambilkan.” Hongqian sangat bersemangat dan memandangi baskom dengan kagum, “Sungguh terlihat enak pasti rasanya juga. Apa Nona menyiapkan ini untuk menyambut kepulangan Tuan Besar?”

 

Zuiju segera mengerti maksud Hongqian dan segera menatapnya untuk menggodanya, “Aku yakin begitu sajian ini siap kau akan segera mencicipinya.”

 

Hongqian bertepuk tangan beberapa kali dan akhirnya bertanya, “Apa masih ada yang bisa kubantu?”

 

Pingting telah melewatkan malam dengan menatap bulan dan merasakan dirinya ikut bersemangat. Ia dengan gembira berkata, “Pergilah dan temukan tempat bagus di halaman, bersihkan saljunya dan gali lubang kecil. Salju menutup tanah sehingga menahan cahaya dan menyegarkan wanginya. Kita akan mengubur kendi ini di bawah salju dan mengasapinya setengah jam agar wanginya meresap dalam kendi. Dan ketika Tuan Besar kembali kita bisa membuka kendi ‘Yang Mengunci Diri” ini.”

 

Zuiju berseru “Yang Mengunci Diri? Nama yang menarik, pilihan bagus, membuatku penasaran akan rasanya.”

 

Pingting menatapnya menggoda dan tersenyum, menyebabkan mata Zuiju berbinar terang.

 

Hongqian mengambil sapu dan pergi keluar untuk mencari tempat yang cocok.

 

Pingting mengangkat kendi yang ternyata agak berat. Kehilangan keseimbangannya, ia berjalan dengan sempoyongan dan Zuiju yang ketakutan segera menghampiri dan mengabil alih kendi. “Tolonglah, jangan seperti ini lagi, cepat atau lambat kau akan membuatku terkena serangan jantung.”

 

Lalu Zuiju membawa kendinya keluar.

 

Hongqian agak lama mencari lokasi dan akhirnya ia membersihkan salju. Ia sedang menggali dan mengalami banyak kesulitan ketika melakukannya.

 

“Biar aku lanjutkan.” Zuiju menarik lengan bajunya dan mengambil sekop. Setelah bekerja dengan berkeringat, ia juga tidak bisa menggali lebih dalam lalu berkata dengan kesal, “Tanah ini menyebalkan, begitu keras seperti batu.”

 

Pingting merasa geli menyaksikan tingkah mereka. Begitu mendengar komentar Zuiju, Pingting tak mampu lagi menahan tawanya. “Kau memang tidak cocok sebagai pekerja kasar. Ketika musim dingin tanah akan menjadi sangat keras jadi kita tidak akan bisa menggalinya. Akan lebih mudah jika kita minta seorang penjaga untuk melakukannya.”

 

“Itu mudah, aku akan pergi mencari seorang penjaga untuk kita.” Hongqian memiliki hubungan baik dengan para penjaga, maka ia bisa dengan cepat mendapatkan seseorang.

 

Ketika ia berbalik, Zuiju menahan punggungnya, “Tidak perlu memanggil seseorang. Bantuan akan datang dengan sendirinya.”

 

Mereka bertiga menatap pintu masuk halaman, dan melihat seseorang sedang berjalan ke arah mereka. Dari kejauhan sosoknya terlihat seperti Moran.

 

“Oh, Jendral Chu…” Hongqian berkata, tapi ketika melihat ekspresi wajahnya ia menahan ucapannya.

 

Dan itu memang Moran.

 

Ia menggenakan pakaian yang sama sejak semalam dan pedangnya di pinggangnya. Rambutnya rapi, tapi ekspresinya menghianatinya.

 

Bahkan berita tentang pasukan musuh yang menekan perbatasanpun takkan mampu membuatnya berekspresi seperti itu.

 

Melihat ekspresinya, senyum Pingting dan Zuiju segera membeku.

 

Setelah agak lama, akhirnya Pingting bertanya, “Ada apa?”

 

Sikap Moran yang tenang menyembunyikan kekhawatirannya. Moran mengambil napas panjang dan berkata dengan tenang agar Pingting tidak terkejut, “Situasi telah berubah, kita tidak bisa tetap disini. Tolong ikuti saya segera.”

 

Moran bebalik dan mulai melangkah tapi kemudian ia menyadari kalau Pingting tidak mengikutinya dan ia mengerutkan dahi. “Jangan membuang waktu, cepatlah.”

 

Pingting diam tak bergerak, angin utara terasa mengigit kulitnya. Ia menggenggam tanganya untuk mencari sedikit kehangatan dan berkata, “Ikuti aku.” Lalu berbalik dan berjalan.

 

Melihat ekspresinya yang tenang, Moran agak terkejut. Ia agak ragu tapi akhirnya mengikutinya.

 

Zuiju dan Hongqian bisa merasakan suasana yang tegang, tapi mereka tidak bisa menduga seberapa seriusnya kondisi mereka. Mengetahui kalau Pingting membicarakan masalah serius dengan Moran, Zuiju menarik lengan baju Hongqian dan mereka berdua membawa kendi yang tidak jadi dikubur itu kedalam ruangan dan berusaha menunggu dengan tenang.

 

Pingting masuk ke ruangan dan duduk. Matanya terlihat bingung ketika ia duduk tak bergerak merenung. Setelah beberapa lama ia mengambil secangkir teh di depannya. Menahannya di bibirnya dan ia menyadari kalau tehnya sudah dingin, kemudian meletakannya kembali dan perlahan bertanya pada Moran, “Apa mereka dikirim oleh Ratu?”

 

Moran sekali lagi merasa terkejut.

 

Chu Beijie pasti tidak akan memberitahunya tentang pasukan Ratu yang bersembunyi di sekitar, pikir Moran.

 

Ia menatap Pingting.

 

Pingting tertawa kasar, “Tidak sulit untuk di tebak. Jika memikirkan betapa ia begitu membenciku… Tuan tidak mengijinkan aku keluar selangkahpun dari kediaman dan meninggalkan para penjaga disini bahkan termasuk dirimu Moran. Dari seluruh Dong Lin, siapa yang begitu berani menantang dirinya dan membenciku begitu dalam sehingga bisa berbuat seperti itu? Katakan saja seberapa buruk kondisinya?”

 

Dengan kata-kata Pingting, Moran jadi bersemangat. Mata Pingting memancarkan kepintaran dan perhitungan mengingatkannya bahwa berkat Pingtinglah Bei Mo selamat dari kehancuran.

 

Moran menatap wajah yang lembut itu sebelum ia mengaku, “Kondisinya lebih menakutkan dari yang kuperkirakan. Aku mengirim 10 penjaga ke dalam hutan untuk mengintai. Tak seorangpun kembali. Pagi ini, aku mengirim lagi beberapa orang untuk mencari tahu lokasi mereka dan melihat pergerakannya…”

 

“Para penjaga itu juga tidak kembali,” Pingting menyela dan ia menghela napas lalu melanjutkan, “Kalau begitu, aku takut gunung telah terkepung total. Apakah Ratu sungguh memiliki pasukan sebesar itu?”

 

“Nona Bai, kita sudah membuang waktu cukup banyak, tolong ikut aku menuju belakang gunung.” Moran berkata, “Tuan Besar membuat bangunan tersembunyi untuk hal darurat. Tempatnya sulit untuk dilacak, kediaman ini benar-benar sudah tidak aman.”

 

Pingting melihat ke arahnya, “Kita hanya punya satu tim penjaga, bahkan bila kita termasuk kau, melawan pasukan yang mengepung kita. Hasilnya sudah sangat jelas. Kenapa mereka masih bergerak?”

 

Moran berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap ke atas dan berkata dengan tidak percaya, “Mungkinkah mereka sudah menemukan lokasi persembunyian? Dan mereka hanya menunggu, untuk bisa menangkap kita ketika dalam perjalan kesana?”

 

Untuk memikirkan rencana lawan, dengan jumlah pasukan lawan yang jauh lebih besar, apalagi yang bisa dilakukan? Perasaan tidak ada harapan sulit untuk dihilangkan ketika berada dalam jebakan.

 

Pingting tidak menjawab, ia membuka tirai dan melihat keluar mengira-ngira waktu saat ini lalu berkata, “Berapa banyak burung dara yang kita punya?”

 

“Seluruhnya lima belas, kenapa ?” Tanya Moran.

 

“Lepaskan mereka semua, lepaskan pada semua sudut mata angin.”

 

Suaranya lembut dan tenang tapi penuh kharisma. Moran mematuhinya tanpa pertanyaan, “Baik, akan kulakukan segera.”

 

Zuiju berjalan masuk setelah melihat Moran terburu-buru pergi. Ia membawa teh hangat dan menatap Pingting sedang melihat kelangit dari pintu. Mereka begitu sibuk mempersiapkan bunga plum yang telah dipetik sehingga rambut Pingting belum sempat disanggul. Meskipun begitu kayu hitam pintu membingkai wajahnya yang penuh kesedihan. Ekspresinya membuat Zuiju menjadi takut. Ia perlahan menyentuh lengannya, “Nona Bai?”

 

Pingting kembali pada kenyataan ketika melihatnya, “Itu kau?” dan ia tertawa sedih, lalu berkata, “Sepertinya selama kita masih hidup, tidak akan pernah ada kedamaian.” Pingting terlihat tanpa harapan. Lalu Zuiju berkata, “Disini sangat dingin. Masuklah dan kita minum teh untuk menghangatkan diri.”

 

Zuiju masuk dengan membawa teh dan menuangkannya untuk Pingting dan dirinya sendiri. Sambil menggenggam cangirnya untuk menghangatkan tangannya ia mempelajari ekspresi Pingting. Setelah beberapa saat ia berkata, “Tak peduli apa yang terjadi, Moran akan membereskannya. Ini masih wilayah Tuan Besar Zhen Beiwang, siapa yang berani macam-macam disini?”

 

Pingting tahu Zuiju sangat cerdas dan tabib yang berbakat tapi bagaimanapun ia masih sangat muda. Ia menjawab dengan lembut, “Justru, karena mengetahui bahwa ini adalah wilayah Tuan Besar Zhen Beiwang yang membuat aku khawatir. Siapa yang berani melakukannya, siapa orang yang memiliki kekuasaan sebanding dengan Tuan Besar? Bahkan kepergian Tuan Besar, pasti juga sudah diperhitungkan oleh mereka, aku takut…” Pingting melihat ke arah perutnya yang masih rata, tangannya memeluk melindunginya. Matanya menoleh kea rah Zuiju.

 

Zuiju terkejut dengan pandangan tajam Pingting dan membalas, “Aku tidak memberitahu siapapun. Aku bahkan tidak memberitahu Tuan Besar. Siapa lagi yang bisa kuberitahu.”

 

Pingting mengangguk setuju dan menghela, “Kuharap keadaan tidak seburuk yang kuduga.”

 

Tirai yang tergantung disingkap dengan cepat dan Moran masuk ke ruangan.

 

Mereka berdua menatap Moran dan menyadari eskpresinya lebih buruk dari sebelumnya.

 

“Burung-burung itu tidak terbang begitu jauh sebelum mereka semua di panah jatuh,” Moran berkata dengan sulit, “Lima belas burung dara, semuanya tidak ada yang selamat. Kediaman telah dikepung total.”

 

Dan akhirnya Zuiju mengerti sepenuhnya kondisi saat ini. Ia berteriak dan matanya membelak.

 

Moran berpikir sejenak sebelum berbicara dengan gigi terkatup, “Bisakah Nona Bai memberikan padaku pedang yang diberikan Tuan Besar pada anda? Aku akan mengirim penjaga dan membuka jalan untuknya. Sebuah pasukan berdiam sekitar 20 mil di selatan. Begitu Jendral disana melihat pedang itu, ia akan segera mengirim pasukannya untuk membantu.”

 

Pingting menegadahkan kepalanya dan menatap pedang yang tergantung di dinding.

 

Chu Beijie telah meninggalkannya untuknya.

 

Tangan Chu Beijie begitu hangat ketika mengenggam tangannya, “Aku meninggalkan Moran dan para penjaga disini untuk melindungimu. Kalau terjadi hal-hal yang tidak terduga, kirim seseorang dengan kuda cepat bersama pedang ini menuju Barak Naga Harimau 20 mil ke arah selatan dari sini, dan minta Jendral Chen Mu untuk membantu. Ia akan mengenali pedangku.”

 

Kata-katanya terngiang di telinga Pingting.

 

Pedang yang dihiasi pertama yang pernah membantai musuh-musuh, tergantung dalam diam di dinding.

 

Pingting tidak tahu apakah ia ingin tertawa atau menangis.

 

Chu Beijie telah memikirkan segalanya begitu baik, memikirkan segala kemungkinan, kecuali yang satu ini.

 

Siapa yang bisa menyalahkannya? Tak ada yang bisa menduga kondisinya akan berjalan sampai seperti ini.

 

Pingting berjalan, perlahan menurunkan pedang dan mengusap pangkal pedangnya.

 

Mengetahui bahwa mereka tidak bisa menyia-nyiakan waktu dan melihat Pingting begitu cemas, Moran akhirnya berkata, “Hanya pedang ini yang bisa mewaliki Tuan Besar dan menggerakan pasukan. Setelah pasukan bantuan tiba, pedang itu akan segera dikembalikan.”

 

Moran melangkah mendekat untuk menerima pedang, tapi Pingting melangkah menjauh.

 

Pingting selalu memikirkan keadaan dari sudut pandang luas dan tidak pernah bertingkah egois, tapi pada saat kritis seprti ini, mengapa ia memiliki pemikiran lain?

 

Menghadapi musuh yang berat, setiap detiknya sangat menentukan. Mengingat jumlah pasukan musuh yang begitu besar yang mengepung mereka, membuat hatinya kecut.

 

Dengan kedua tangan mengenggam kuat pedang, Pingting duduk kembali. Ia menatap Moran dan dengan sedikit rasa takut dimatanya ia bertanya, “Kediaman Tuan Besar Zhen Beiwang dikepung total seperti ini, menurutmu apakah Raja tidak tahu tentang hal ini?”

 

Moran terlihat terguncang dan menjadi pucat ketika menyadarinya.

 

Bukan atas perintah rahasia Ratu?

 

Melainkan Raja sendiri?

 

Kalau Raja juga ikut campur dalam masalah ini, apakah masih ada harapan?

 

Pingting melanjutkan, “Menutup jalur di gunung bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Ini karena kita telah dikepung agak lama, dan mereka tidak ingin kita mengetahuinya. Dan untuk penduduk sekitar juga barak prajurit yang berjarak 20 mil, apakah mungkin mereka tidak memperhitungkannya?”

 

Moran tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menjawabnya.

 

Sebenarnya ia tidak harus menjawabnya.

 

Seperti kabut yang tersingkap, segalanya mulai terlihat jelas dan masuk akal.

 

Chu Beijie telah mempersiapkan segala kemungkinan, menjaganya dari musuhnya juga kakak iparnya, tapi apakah ia pernah memperhitungkan untuk menjaganya dari kakaknya sendiri, Raja yang termulia dari Dong Lin.

 

Ikatan darah yang begitu kuat.

 

Kakaknya yang paling mengenalnya dengan baik, kakaknya yang seharusnya paling mengerti betapa berartinya Pingting baginya.

 

Zuiju menyadari kalau ia sedang menahan napasnya.

 

Pingting melihat kearah pedang yang ia genggam didadanya, ia bisa merasakan kehangatan Chu Beijie merambat keluar dari besi yang dingin itu.

 

“Pasukan tidak akan bergerak saat ini, atau Jendral disana telah diganti. Tidak akan ada bantuan.” Pingting menatap keluar jendela, kemudian ia bertanya, “Tanggal berapa sekarang?”

 

Zuiju segera menjawab, “Empat.”

 

Matahari sudah berada di tengah, saat ini sudah siang hari.

 

“Tanggal empat?” Pingting tersenyum dan wajahnya penuh kehangatan dan harapan, “Kalau begitu tinggal dua hari lagi.” Ia berbalik dan berkata pada Moran, “Aku ingin peta daerah ini dan semua informasi rinci yang memungkinkan, jumlah penjaga, kemampuan mereka, persediaan makanan dan sumber air. Juga termasuk jalur berburu dan jalur penebang kayu penduduk sekitar…”

 

Setelah mengucapkan semua perintahnya, Pingting menarik napas dalam, dan bernapas dengan tenang sebelum berkata dengan dingin, “Mengepung total musuh dan masih tidak membuat gerakan, sepertinya mereka mengharapkan kita untuk menyerahkan diri. Ini bukan ciri khas Raja Dong Lin tapi seseorang yang sangat tidak asing. Siapakah kemungkinannya?” Pingting memikirkannya, alis matanya berkerut. Tatapannya menjadi lebih tegas dan stabil.

 

---

Sementara itu di ibukota Dong Lin.

 

Sinar matahari membelah kegelapan, mengelilingi tanah dengan cahaya dan kehangatan. Meskipun sinar matahari menyinari seluruh istana tapi ada kemuraman yang juga tidak hilang.

 

Raja dan Ratu Dong Lin melangkah masuk ke ruangan Selir Li dan dengan lembut menenangkan wajah pucat Selir Li. Pelayan istana dengan cepat membawakan bayi perempuannya, terbungkus kain sutra putih. Ia menyerahkannya pada Raja dan Ratu.

 

“Ia mirip Yang Mulia,” Ratu berbisik.

 

Alis mata Raja berkerut. Melihat anak perempuannya yang baru lahir, ia memaksa senyumnya. Ujung bibirnya masih tersenyum ketika terdengar suara pedang beradu di luar.

 

“Yang Mulia, tolong berhati-hati!” suara pedang teradu semakin keras. Penjaga pribadi Raja saling bertukar pandang dan menyadari terjadi pertarungan di luar. Keempatnya bergerak untuk melindungi Raja dan Ratu. Mereka mengeluarkan pedang mereka dan berdiri di depan, waspada dengan sekitarnya. Dua penjaga berjaga di jendela untuk melihat musuh.

 

Jeritan kesakitan terdengar bersamaan suara pukulan keras. Keributan akhirnya sampai ke ruangan, membangunkan sang bayi dan ia mulai menanggis.

 

Suara adu pedang tiba-tiba berhenti, dan kesunyian menandakan pertarungan telah selesai.

 

Sebuah cahaya bersinar di mata Raja. Ia tiba-tiba berdiri, membuka pintu dan berdiri di undankan paling tinggi.

 

Sosok Chu Beijie yang tenang tertangkap pandangannya.

 

Perkelahian telah selesai.

 

Para penjaga telah terluka dan berdarah, mereka berjalan sempoyongan dan mengertakan gigi. Mereka tidak bersuara meskipun sangat kesakitan.

 

Beberapa penjaga yang terluka mengenggam erat tombak mereka dan mengepung Chu Beijie, tapi tak seorangpun dari mereka berani menyerangnya.

 

Chu Beijie berdiri di tengah halaman, melihat ke arah pedang di tangannya. Darah mengalir turun dari ujungnya membasahi lantai yang halus.

 

Wajahnya sangat tenang, sama sekali tidak menghiraukan para penjaga disekitarnya. Bahkan seorang prajurit hebatpun takkan mampu menahannya.

 

Mungkin itulah masalahnya.

 

Sikap dinginnya membuat gemetar.

 

Semua orang menatap Tuan Besar Zhen Beiwang yang perkasa dan hebat. Tidak berkedip dan menahan napas mereka, mereka tak berani membuat gerakan sekecil apapapun.

 

Ketika tetes terakhir darah jatuh dari pedangnya, Chu Beijie menatap kakaknya. Dengan rasa sakit dan terluka di matanya, ia bertanya, “Kenapa?”

 

Suaranya lembut tapi tidak menyembunyikan ancaman di baliknya.

 

Berbalut darah tapi masih menolak untuk menyerah, pemimpin para penjaga yang sebelumnya diperintahkan untuk menghentikan Chu Beijie.

 

Ratu terguncang dengan tatapan tajamnya. Ia membuka mulut untuk berbicara, tapi Raja segera mengenggam tanggannya. Ratu menundukkan kepala dan berdiri diam disamping Raja.

 

“Aku ceroboh.” Raja berdiri diatas undakan, menoleh ke bawah kepada adik satu-satunya dan menghela, “Setelah memimpin pasukan bertahun-tahun, kau terus memegang bendera komando setiap saat. Tentu saja kau tidak perlu ke ibukota untuk menerimanya kembali. Beijie, apakah kau akan menyia-nyiakan semua yang telah kulakukan untukmu?”

 

Chu Beijie tetap menatapnya dan bertanya kembali, “Kenapa?”

 

Itu adalah titik dimana kau tidak bisa berbalik.

 

“Karena kau satu-satunya adikku. Kau adalah Tuan Besar Zhen Beiwangnya Dong Lin.” Suara Raja semakin kencang ketika ia berbicara, menjadi lebih percaya diri, “Sepertinya aku tidak akan memiliki anak laki-laki lagi. Suatu hari semua ini akan menjadi milikmu. Negara ini akan menjadi milikmu seorang, seluruh rakyat yang tidak terhitung dan para prajurit pemberani yang menjaga perbatasan kita. Segalanya akan menjadi milikmu.”

 

Kata-katanya menggema.

 

Chu Beijie tidak tertarik. Tetap berdiri tegap, dan ia menatap tajam pada Raja. Sinar mata Raja memancarkan penyesalan tapi kemudian berubah menjadi kesedihan yang menyiksa dan penderitaan.

 

“Dalam menghadapi perang, sebagai anggota kerajaan, keamanan Negara seharusnya yang utama bagi kita. Kakak, kau melakukan segala hal untuk menunda keberangkatanku. Apa kau tidak khawatir dengan kondisi di perbatasan?” Chu Beijie berkata sebelum menggelengkan kepalanya, “Bukan, bukan itu.” Eskpresinya menjadi semakin gelap, “Kau ingin menghentikan aku kembali ke kediamanku.”

 

Sebuah kediaman kecil dan terasing, mengapa Raja dan Ratu begitu peduli?

 

Chu Beijie menyadari ekspresi Ratu yang hampir tidak terlihat dan merasakan jantungnya berdebar kencang. Dengan sedikit gemetar, meskipun sudah mengetahui jawabannya, ia bertanya, “Apakah karena Pingting?”

 

Pingting berada jauh dari perlindungannya. Kalau Raja ikut campur, meskipun dengan bantuan Moran, kecil harapan untuk keselamatannya.

 

Melihat Raja enggan untuk menjawab, Chu Beijie merasakan hatinya menjadi semakin dingin.

 

“Kakak?” Chu Beijie berkata dengan pelan, sambil menahan amarah yang memuncak.

 

Suaranya sangat tenang dengan sedikit gemetar. Kalau saja pedang yang digenggamnya tidak terbuat dari besi pasti telah hancur sejak tadi.

 

Pingting.

 

Mereka membuat dirinya kembali untuk mendapatkan Pingting.

 

Apakah ada kekacauan besar selama keterlambatannya keluar dari istana kerajaan ?

 

Mungkinkah ketika ia kembali nanti, ia takkan bisa lagi melihat sosoknya yang sedang duduk di bawah pohon?

 

Chu Beijie menatap Raja, merasakan bukti sebuah penghianatan tapi ia tetap bisa merasakan sedikit kerlipan harapan.

 

Ia sungguh berharap setidaknya dengan memandang ikatan mereka sebagai adik kakak, kakaknya akan memberi sebuah kesempatan bagi Pingting untuk bertahan hidup.

 

Bahkan seorang Raja Dong Lin yang telah mengeraskan hatinya menolak untuk bertemu pandang dengannya, ia malah menoleh kearah lain.

 

Karena kakaknya tidak bersedia menatap matanya, Chu Beijie membeku.

 

Hatinya hancur. Ia merasa kegelapan telah menelan dirinya hidup-hidup.

 

Hari keenam.

 

“Pada hari ulangtahun Tuan, bisakah kita bersama?”

 

Suara burung bersiul terdengar di telinga Chu Beijie. Ia bisa melihat semua senyum dan gerakan Pingting dalam kenangannya di hatinya.

 

Ia telah membuat janji pada hari keenam.

 

Ia merasakan dirinya mati rasa.

 

Semakin ketakutan menguasainya, ia merasakan hatinya semakin dingin.

 

Tak lama kemudian, sebuah keputusan melintas di kepala Chu Beijie. Dengan mengenggam kuat pedangnya, ia berbalik untuk melangkah pergi.

 

Para penjaga di sekeliling Chu Beijie menggerakkan tombak mereka dengan hati-hati. Seiring ia berjalan menuju pintu keluar, kekuatan memancar dari tiap langkahnya. Para penjaga begitu terkejut sehingga tidak yakin apakah mereka sebaiknya menghentikannya atau tidak. Mata pedang Chu Beijie masih mengarah ke tanah. Tidak peduli pada besi tajam yang mengarah padanya, Chu Beijie menekankan pada setiap langkahnya bahwa, tak ada apapun yang bisa menghentikannya, meskipun sebuah pisau tajam diarahkan tepat ke jantungnya.

 

Tatapannya segelap lautan luas, tak bisa diterka. Semua orang bisa merasakan badai besar yang siap mengamuk.

 

Tak ada yang berani menatap matanya dan tidak ada juga yang berani menyenggol pedangnya.

 

Siapa yang tidak pernah mendengar Tuan Besar Zhen Beiwang yang luar biasa hebat ?

 

Para penjaga di paksa melangkah mundur.

 

“Biarkan dia pergi.” Raja memerintahkan.

 

Para penjaga bergerak, membuat jalan untuk Chu Beijie lewati.

 

Perhiasan burung phenik Ratu bergoyang ketika ia berteriak, “Yang Mulia!”

 

“Apa Ratu berharap agar aku membunuhnya, atau membiarkannya membunuh seluruh prajurit yang kita miliki?” Raja berdiri dengan kaku. Ia memandang sosok Chu Beijie sampai menghilang dari halaman, lalu menghela napas dengan berat, “Biarkan ia pergi. Seharusnya sudah hampir selesai sekarang. Bahkan jika ia berhasil tiba di kediamannya, sudah sangat terlambat baginya untuk melakukan apapun.”

 

Bahkan setelah kepergian Chu Beijie yang agak lama, suasana masih terasa mencekam. Tak ada seorangpun yang berani bergerak. Bahkan sang bayi bisa turut merasakan bahaya dan kesuraman.

 

Raja Dong Lin menatap langit yang perlahan semakin gelap, matanya sulit diterka. Tapi didalamnya terlihat penderitaan dan penyesalan.

 

Suara langkah kaki akhirnya memecah keheningan, Pejabat Senior Chu Zairan melangkah menaiki undakan dan berlujut di depan Raja, “Yang Mulia, setelah meninggalkan istana, Tuan Besar Zhen Beiwang secara pribadi menunjuk dua belas prajurit muda, menggumpulkan tiga ribu pasukan berkuda dengan bendera komando dan berangkat dari gerbang barat.”

 

“Biarkan ia pergi.” Raja Dong Lin menatap pada kejauhan, berusaha menenangkan dirinya, lalu ia berjalan menuruni undakan sambil berkata dengan tenang, “Tanpa belajar rasa sakit karena kehilangan, bagaimana ia bisa tumbuh menjadi Raja Dong Lin di masa depan?”

 

Beijie, pergilah dan lihatlah dengan matamu sendiri, kekacauan yang terjadi di kediamanmu.

 

Kuharap dengan melihat api yang membakar, kau akan melihatnya menghanguskan irisan terakhir dari keegoisanmu.

 

Sebagai seorang Raja, untuk mengatur Negara, kau belum memiliki syarat terakhir.

 
--0--
 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.32

-- Volume 2 chapter 32 ----


Di kediaman pengasingan jauh di dalam gunung suasana terasa sangat damai.

 

Para penjaga berdiri di luar dan para pelayan wanita bekerja di dalam, mereka saling bertukar salam bila bertemu wajah-wajah yang dikenalnya. Udara begitu penuh cinta.

 

Hongqian tidak banyak bekerja lagi sejak Zuiju bertanggung jawab atas kepulihan Pingting, ia tersenyum dan menyelinap keluar untuk bermain. Pingting dan Zuiju tidak keberatan.

 

Akhir-akhir ini salju hanya turun ringan dan matahari bersinar terang. Sinar yang hangat yang mencairkan selapis tipis salju dan es di tanah. Zuiju selalu khawatir kalau Pingting akan terpeleset karena itu ia memaksa untuk selalu menemaninya setiap kali Pingting keluar untuk berjalan-jalan.

 

“Hati-hati, tanahnya licin.”

 

Pingting berdiri di bawah pohon plum yang sedang bermekaran, meraih tangkainya untuk memetik kuncup bunga. Ia tertawa, “Setiap kali aku bergerak kau pasti mengingatkanku. Kalau kau begitu khawatir, bagaimana kalau kau membantuku.”

 

Tak berdaya, Zuiju hanya bisa membantu Pingting menarik batang pohon plum ke bawah, membiarkan Pingting memetik pucuk-pucuk bunga plumnya.

 

“Apakah kau ingin meletakan mereka di ruanganmu ?”

 

“Tidak,” Pingting menjawab sambil tersenyum iseng, “Ini untuk di masak.”

 

“Masak ?”

 

Ia membayangkan harum masakan dari panci rebusan ayam yang dicampur tumbuh-tumbuhan obat dan pucuk-pucuk bunga plum.

 

Pingting dengan riang meletakan pucuk-pucuk bunga plum dan bunga-bunga yang mekar ke dalam sebuah wadah kecil, dan ia berkata, “Aku ingat pernah membaca sebuah buku tua tentang khasiat dari bunga plum. Aku berencana mencampurkan pucuk-pucuk ini bersama sedikit gula, garam dan anggur juga beberapa sayuran musim dingin dan menjadikannya acar seperti yang kami lakukan di Gui Li. Dan ketika Tuan Besar kembali nanti, kita bisa menikmatinya bersama.”

 

Zuiju segera teringat, “Aku belum pernah mendengar kalau bunga plum bisa digunakan sebagai obat, jadi aku sama sekali tidak bisa menebak apa pengaruhnya. Tak masalah kalau Tuan Besar yang mencobanya tapi Nona kau harus hati-hati.”

 

“Aku tahu,” Pingting menjawab, “Bukankah aku selalu mengikuti petunjukmu untuk masalah gizi?”

 

Menyadari kalau ia agak keterlaluan dan kata-kata Zuiju memang benar, Pingting jadi sedikit malu.

 

“Sayang sekali saat ini sedang musim dingin jadi hanya sedikit bunga plum yang bermekaran. Begitu musim semi dan musim panas tiba akan lebih banyak bunga untuk di petik dan kita bisa membuat banyak hidangan. Misalnya, hanya untuk memasak peony saja bisa menggunakan beberapa cara.” Pingting berbicara sambil memetik pucuk-pucuk bunga plum lebih banyak lagi. Setelah beberapa saat ia merasa sedikit lelah. Karena ia sedang mengandung anak Chu Beijie, ia tidak boleh mengambil resiko dengan melakukan kegiatan yang terlalu melelahkan. Pingting menyerahkan wadah bunga ke Zuiju  dan mereka berdua kembali ke kamar.

 

“Sekarang sudah senja.” Pingting berucap, “Seharusnya Tuan Besar sudah menerima bendera komando.”

 

Tebakannya hanya benar sebagian.

 

Chu Beijie sudah menerima bendera komando agak lama tapi ia masih belum bisa berangkat.

 

Chu Beijie menjaga kediaman Selir Li. Penampilan luarnya sangat tenang seperti biasanya tapi di dalam, ia sangat gelisah.

 

Sejak senja di hari kelima ia sudah melewatkan waktu keberangkatan seperti rencananya.

 

Ia berpikir bagaimana reaksi Pingting. Pingting sangat ingin melewatkan hari ulangtahunnya bersamanya. Ia takut sekali, seberapa hebat Pingting akan tersakiti karena ia melanggar janjinya.

 

Ia takkan sanggup menghadapinya kalau Pingting tidak mau melihatnya lagi sama sekali.

 

“Apakah Tuan akan tetap menemaniku? Besok akan turun salju. Tolong ijinkan aku memainkan beberapa lagu untuk Tuan nikmati saat salju turun.”

 

Ia telah mengecewakan Pingting satu kali sebelumnya.

 

Dan sekarang ia akan dikecewakan sekali lagi.

 

Kakak laki-lakinya, kakak iparnya, Selir Li, Chu Zairan dan semua orang di negaranya takkan mengerti bagaimana musiknya, suaranya, gerakan tangan-tangannya yang ramping, bibirnya yang merah dan pucat, dan gerakannya yang anggun selalu menghantui pikirannya. Ia sangat merindukan keberadaannya.

 

Istana sangat hebat tapi terasa kosong. Banyak makanan mewah dan wanita-wanita cantik tapi tak bisa menghilangkan rasa rindunya.

 

“Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”

 

Ia rindu ingin melingkarkan lengannya di tubuh Pingting yang lembut, menikmati musim semi yang berbunga dan bulan musim gugur yang bulat besar, berdua berkelana ke ujung dunia, mengagumi keindahan alam dan takkan pernah berpisah. Ia akan melindunginya, tak akan membiarkann penderitaan atau kesedihan sekecil apapun menimpanya.

 

Tapi ia sedang dihadapkan pada dilemma. Ini adalah keputusan yang bisa membuat negaranya kecewa. Bagaimana mungkin ia lebih memilih seorang wanita di banding kedamaian dan kemakmuran rakyatnya sendiri, meskipun ia adalah satu-satunya wanita yang dicintainya? Hari ulangtahun pasti datang setiap tahun. Tapi keturunan darah kerajaan Dong Lin…. Ini adalah sinar harapan terakhir.

 

Tanpa ia ketahui pesan yang dikirimkan Ze Yin untuknya telah ditahan oleh Ratu.

 

Wajah Ratu menjadi pucat dan terkejut ketika ia perlahan melangkah menuju kediaman Raja dan memberi salam. Ia memberi tanda agar para pelayan meninggalkan mereka berdua.

 

“Ratuku mengapa kau terlihat sangat pucat?” Raja bertanya ketika mereka sudah berdua saja, “Bukankah adikku sudah memutuskan untuk tetap tinggal?”

 

Rambut sang Ratu dipenuhi hiasan bentuk burung phoenix dan mutiara. Dengan kaku, ia perlahan duduk di samping tempat tidur, seakan ia harus mengatakan sesuatu yang sangat buruk dan tak tahu bagaimana memulainya.

 

Setelah detak jantungnya agak tenang, ia mengeluarkan surat yang disimpannya si ikat pinggang dan meletakannya di samping Raja dan berkata dengan suara parau. “Aku menghadangnya, penerimanya adalah Tuan Besar Zhen Bei Wang, Aku yakin Yang Mulia akan terkejut kalau tahu penggirimnya.”

 

Raja mengambil suratnya dan memandangnya sebelum berkata, “Jendral Bei Mo, Ze Yin?” Ratu sangat gelisah. Ia menggigit bibirnya dan tergagap, “Isinya lebih mengejutkan Yang Mulia.”

 

Suratnya sangat panjang, tapi Raja tak berani melewatkan satu katapun. Ia dengan hati-hati membaca isinya dan akhirnya sampai di akhir kalimat - orang dibelakang semua rencana pembunuhan itu adalah He Xia. Kalimat terakhir terus berulang di kepalanya, menganggunya. Setelah beberapa saat ia akhirnya menarik napas panjang dan memandang wajah Ratu yang tersiksa, “Menurut Ratu, bagaimana tentang hal ini ?”

 

“Aku sudah memerintahkan untuk mengecek identitas si pengirim, hasilnya ini memang tulisan tangan Ze Yin. Segelnya pun merupakan segel pribadi, tidak mungkin salah.”

 

“Ze Yin seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan adikku, mengapa Ze Yin mengirim surat padanya ?”

 

“Itu bukan masalahnya, Ze Yin tidak mungkin berbohong dalam suratnya. Mengungkap rencana rahasia antara He Xia dan Raja Bei Mo, bukankah malah meletakkan dirinya dalam posisi berbahaya.” Mata Ratu berkaca-kaca ketika menatap Raja. Ia memejamkan matanya berharap dirinya bisa bersembunyi, terlindung dari kenyataan. Ia menangis keras, “He Xia…. Anak-anakku yang malang, semua karena He Xia….”

 

Tak mampu lagi menahan kesedihannya, Ratu menangis di bahu Raja.

 

Dengan sorot mata yang penuh kepedihan, Raja perlahan memeluk Ratu untuk menenangkannya. “Kalau hal ini memang benar, maka Bai Pingting bukanlah pelakunya. Apakah adikku tahu tentang hal ini?”

 

Dengan masih menangis Ratu menggelengkan kepalanya. Setelah mulai bisa menguasai dirinya, ia berkata, “Kalau Bai Pingting bukan pelakunya, apa yang harus kita lakukan dengan rencana He Xia yang ingin menculiknya ?”

 

Raja terdiam.

 

Raja berdiri, raut wajahnya tampak serius. Ia berbalik dan berkata dengan tenang pada Ratu, “Bai Pingting bukan pelakunya, tapi saat ini permasalahannya sudah berbeda. Kita melakukan ini demi keselamatan banyak nyawa para prajurit, kita harus menyerahkan Bai Pingting pada He Xia. Sebagai anggota keluarga Kerajaan Dong Lin, kita harus mengutamakan kepentingan rakyat dan mengabaikan hasrat pribadi.

 

Ratu menatap punggung suaminya dengan sikap hormat di matanya. Punggungnya yang kuat menahan beban seluruh rakyat.

 

“Aku mengerti,” Ratu mengangguk, “Bai Pingting bersalah atau tidak, kita harus menyelesaikan masalah ancaman di perbatasan. Pasukan He Xia seharusnya sudah mencapai kediaman pengasingan Beijie di malam hari ini. Beijie sedang focus menjaga Selir Li yang akan melahirkan. Kita harus memastikan ia tidak meninggalkan istana.”

 

Menyadari bahwa mereka harus bekerjasama dengan pembunuh anak mereka, Ratu merasa muak. Tapi sebagai seorang Ratu, sebagai seorang ibu Negara, bagaimana bisa ia mendahulukan perasaannya diatas tugasnya?

 

“Bicara tentang Selir Li,” Raja berkata dengan alis berkerut, “kemarin malam tabib kerajaan melaporkan kalau kondisi Selir Li sedang menghadapi tekanan kuat, sehingga keadaan bayinya sedikit….”

 

Ratu menyadari maksud perkataan Raja. Agar bisa menahan Chu Beijie lebih lama, Ratu telah mengancam Selir Li dan mengirim pelayan diam-diam untuk menasihatinya agar meminta bantuan pada Chu Beijie.

 

Selama Selir Li tidak menyadari apa yang terjadi sebenarnya, ia bisa menipu Chu Beijie dengan sempurna. Tanpa masalah yang serius, seperti kelangsungan pewaris tahta, apa yang bisa menjauhkan Chu Beijie dari Bai Pingting.

 

Bayi yang di kandung Selir Li adalah satu-satunya keturunan dari Raja. Jika terjadi suatu kesalahan…. Apa yang harus mereka lakukan?

 

“Kondisi bayinya tidak stabil? Yang Mulia jangan khawatir. Bayi itu pewaris kekuasaanmu, para leluhur pasti melindunginya. Aku akan kesana dan melihatnya…”

 

Tiba-tiba suara langkah kaki menyela perkataan Ratu.

 

“Yang… Yang Mulia!” Pelayan pribadi Selir Li berlari masuk dan berlutut di hadapannya, napasnya berat dan ia berbicara dengan gagap, “Bayi Selir Li, telah bergerak, ia akan segera melahirkan!”

 

Ratu dengan ragu berjalan menuju si pelayan dan berkata, “Bagaimana bisa begitu cepat? Dari pemeriksaan terakhir bukankah menurut tabib sekitar 7 atau 8 hari lagi ?”

 

Si pelayan menoleh pada Ratu dan mengingat kalau Nyonyanya mungkin telah di sakiti oleh Ratu, ia berlutut dan berkata, “Aku tidak tahu. Selir Li sedang duduk di tengah ruangan baik-baik saja, tiba-tiba ia berteriak kalau perutnya sakit. Aku sangat ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.”

 

Ratu tidak memiliki perasaan apapun apa Selir Li tapi ia sangat memikirkan bayi yang belum lahir, yang sangat penting itu. Suaminya sangat bijaksana dan berkuasa. Tapi pada saat serperti ini ia terdiam, tak bisa berkata-kata. Akhirnya Ratu yang menjadi panik segera berkata, “Apa yang dilakukan tabib, apa dia sudah tiba?”

 

Si pelayan menjawab dengan tergagap “Su….sudah dipanggil.”

 

“Yang Mulia!”

 

Wajah Raja juga terlihat panik, tapi ia segera menggantinya dengan ekspresi tabah dlalu menggenggam tangan Ratu dan menenangkannya, “Ratuku, jangan takut. Selir Li sangat sehat dan kuat. Lagipula melahirkan lebih cepat 7 atau 8 hari adalah hal yang normal.”

 

Bersama Ratu, Raja segera menuju kediaman Selir Li.

 

Diluar bangunan sangat terlihat kacau, beberapa pelayan muda dan beberapa pelayan yang lebih berumur berjalan dengan tergesa-gesa.

 

“Air panas! Cepat bawakan air panas!”

 

“Handuk bersih!”

 

“Sup gingseng! Cepat, pergi dan bawakan sup gingseng!” Para pelayan segera berlarian.

 

‘Ahhhhh! Ahhhhh! Ahhhh, Yang Mulia…!” Teriakan Selir Li semakin keras dan kencang, mengalahkan suara gaduh para pelayan.

 

Chu Beijie tetap memegang janjinya dan berdiri diluar kediaman dengan pedang di tangannya, menunggu kelahiran si bayi. Ketika melihat kedatangan Raja dan Ratu, ia berlutut menyambut mereka, “Kakak, kakak ipar.”

 

Raja tiba bersama rombongan dan segera menghampiri tabib kerajaan, “Bagaimana kondisinya ?”

 

“Yang Mulia, Aku rasa Selir Li kurang istirahat sehingga ia tidak tidur dan makan dengan baik beberapa hari belakangan ini. Hal inilah yang membuat kondisi bayinya tidak stabil.” Dahi tabib penuh dengan keringat, “Aku khawtir Selir Li akan melahirkan lebih cepat.”

 

“Ahhhhhh!  Ahhhhhh!” Suara Selir Li memecah suasana.

 

Tabib segera berlari ke dalam ruangan.

 

Raja berdiri di depan pintu dan berkata keras, “Sayanku tolong jangan takut, aku disini untukmu. Tabib mengatakan kalau bayinya sangat sehat, semuanya akan segera baik-baik segera.”

 

Teriakan Selir Li masih berlanjut tidak memperdulikan kata-kata Raja yang berusaha menenangkannya.

 

“Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan?” Ratu bertanya dengan berbisik tak bisa menyembunyikan rasa khawatir di matanya. Dengan menggunakan Selir Li dalam rencananya, ia sama sekali tidak menduga akan menyakiti bayi yang dikandungnya.

 

Kalau bayi itu sampai meninggal, ia satu-satunya yang patut disalahkan.

 

Chu Beijie berdiri disamping dan mempelajari ekspresi wajah Raja dan Ratu dan mulai merasa curiga.

 

Meskipun Ratu sangat panik, ia berhasil mengendalikan dirinya karena menyadari tatapan mata Chu Bejie padanya. Raja juga menyadari sikap Chu Bejie sehingga ia bertukar pandang dengan Ratu. Mereka menyadari perasaan masing-masing yang merasa gusar.

 

Mereka mengandalkan Selir Li yang akan melahirkan sekitar 7 atau 8 hari lagi, dan bisa dipastikan  saat itu Bai Pingting telah berada di tangan He Xia sehingga kepungan pasukan di perbatasan akan mundur teratur.

 

Dengan kejadian ini, waktu mereka untuk menahan kepergian Chu Beijie akan segera berakhir.

 

Dan atas kejadian ini pula, sebodoh-bodohnya Chu Beijie, dengan akal sehatnya bahkan rencana yang paling sempurna pun akan segera terbongkar.

 

Ratu menguatkan dirinya untuk bersikap tenang. Saat ini, hanya sedikit yang bisa mereka lakukan. Yang paling utama adalah kelahiran bayi dengan selamat, karena itulah ia tetap berdiri disamping Raja dan menunggu.

 

--

Tidak begitu jauh di dalam hutan sekawanan burung terbang dengan terkejut dan tiba-tiba.

 

Pingting segera membuka matanya dan terduduk di tempat tidurnya.

 

Bulan purnama berada tinggi di langit, sinar pucat menyinari tumpukan salju dan es yang tipis. Bintang-bintang sedang bersembunyi mala mini.

 

“Nona?” Zuiju tidur dikamar Pingting untuk menemaninya. Ia menggosok matanya dan mengenakan mantelnya lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Pingting. “Apa Nona haus?”

 

Pingting menggelengkan kepalanya.

 

Sinar bulan menerangi wajahnya yang lembut dan penuh kesedihan.

 

“Burung-burung terbang karena terkejut. Ada orang-orang yang sedang menuju ke gunung ini.”

 

Zuiju melihat ke luar jendela kea rah hutan. di kegelapan hutan ia tak bisa melihat dengan pasti, “Tidak mungkinkah hanya para penebang kayu?”

 

“Apa yang dilakukan penebang kayu di tengah malam begini di tengah hutan? Di kegelapan, hewan liar pasti sedang kelaparan dan mencari makan. Tidak, penebang kayu hanya akan pergi di siang hari.” Pingting tenggelam dalam pikirannya. Setelah beberapa saat matanya berkedip dan ia menyadari sesuatu. “Panggil Moran.”

 

Zuiju mengangguk dan membuka pintu lalu memerintahkan penjaga malam yang bersiaga di depan.

 

Moran tiba tak lama kemudia, pakaiannya rapi dan sopan dan tak sehelaipun rambutnya berjuntai. Tidak terlihat seperti seseorang yang terbangun dengan terburu-buru. Memasuki ruangan dan mencari Pingting, lalu bertanya, “Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk anda Nona Bai?”

 

“Ini sudah sangat larut malam, kenapa kau tidak beristirahat?” Pingting bertanya, “Apa telah terjadi sesuatu?”

 

Moran menjawab, “Sebagai kepala penjaga, aku membuat giliran jagaku pada jam seperti ini setiap malam. Beberapa saat tadi sekawanan burung terbang dengan terkejut. Aku memerintahkan beberapa penjaga untuk pergi memeriksa, seharusnya baik-baik saja tapi lebih baik kalau kita berjaga-jaga.” Dengan ekspresi yang sedikit berubah ia bertanya lagi, “Apakah Nona Bai terbangun karena burung-burung itu?”

 

Setelah mendengar kalau Moran telah memerintahkan penjaga untuk memeriksa, Pingting menjadi agak tenang dan ia mengangguk, “Aku pernah ikut ke medan perang. Di tengah malam, sekawanan burung yang tiba-tiba berterbangan bisa berari penanda pasukan musuh datang mendekat.”

 

Moran tersenyum dan mengangguk, “Benar, setelah bertahun-tahun berada di medan perang, mendengar suara burung berterbangan memang harus segera bersiaga. Nona Bai tidak perlu khawatir. Aku sendiri dan para penjaga akan mengurus masalah ini. Angin malam sangat mengigit, anda seharusnya beristirahat.”

 

Dengan tugas yang sudah menunggunya, Moran memberikan beberapa kata-kata untuk menenangkan Pingting dan segera berlalu.

 

Zuiju menguap dan berkata dengan mengantuk, “Nona sudah mendengar sendiri dari Moran, segalanya akan baik-baik saja. Ia akan menyelidiki masalah ini. Anginnya sangat dingin, boleh saya tutup jendelanya sekarang?”

 

Pinting selalu tidur dengan cahaya, dan setelah kejadian ini, ia takkan bisa melanjutkan tidurnya. Ia sudah sepenuhnya terjaga dan sangat mengerti ia takkan bisa terlelap. “Bulan purnama musim dingin sangat cantik, menyinari salju, bercahaya seperti kapas. Tidak akan terasa dingin.”

 

Zuiju menggelengkan kepalanya atas keras kepalanya Pingting. Dan mengetahui bahwa ia takkan berhasil membujuknya untuk kembali tidur, ia menghela napas, “Nona biasanya sangat dewasa. Dari mana munculnya sifat kekanakkan ini?” merayap dibawah selimutnya lalu ia duduk di sebelah Pingting dan ikut menatap bulan.

 

“Tuan Besar akan segera kembali, benar kan ?” sambil menatap bulan Pingting berbisik dengan tatapan lembut.

 

Zuiju terkekeh dan berkata dengan gembira, “Aku tahu Nona akan berkata seperti itu. Aku bertaruh Nona pasti terus memikirkan hal ini.” Ia bergerak untuk mengambil pergelangan tangan Pingting dan memeriksanya lalu ia mengela napas lagi, “Cinta memang hal yang menarik, kalian berdua menjadi bodoh pada saat tertentu.”

 

Pingting menoleh ke arah Zuiju, “Tentu, tertawakan aku sekarang. Cinta adalah sesuatu yang tidak akan kau mengerti sampai kau menghadapinya.” Pingting berbalik untuk kembali menatap bulan, dan ia berbisik lembut, “Sungguh bulan yang cantik. Andai aku bisa duduk di atas salju dan memainkan kecapi ditemani sinar lembut ini, itu akan sangat sempurna.”

 

Zuiju segera menghentikan pikirannya, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya. Malam ini sangat dingin. Kalau duduk di tengah salju dan memainkan kecapi kondisimu akan memburuk lagi. Kondisi Nona sudah lebih baik setelah meminum obat beberapa lama. Apa Nona akan menyia-nyiakannya?”

 

Pingting mengerti kalau yang dikatakan Zuiju memang benar, dan ia tidak berkata-kata lagi.

 

Meskipun akan sangat menyenangkan memainkan kecapi di bawah cahaya bulan, tapi pendengar setianya sedang tidak ada.

 

Dalam diam menggagumi salju yang semakin menumpuk, ingatan Pingting kembali ke Kediaman  Hua ketika Chu Beijie pertama kali berkunjung dan meminta dimainkan sebuah lagu. Pingting mengabulkannya dan Chu Beijie meminta sebuah lagu lagi.

 

Saat itu ia sama sekali tidak menduga siapa Chu Beijie sebenarnya tapi sudah tahu dengan pasti kalau pria itu menggunakan nama samaran. “Tuan menginginkan sebuah lagu dariku, tentu aku mengabulkannya. Dan tentunya dengan nama asli Tuan.”

 

“Apa Nona tidak menginginkan hal lain?” Tanya Chu Beijie.

 

“Apa yang kuingingkan?”

 

“Apa yang Nona inginkan secara alami tentu saja, sebuah penilaian atas permainan Nona.”

 

Sebuah tawa yang menyenangkan, penuh percaya diri dan kegembiraan. Bergema di benak Pingting.

 

Sangat yakin bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menghancurkannya.

 

Pingting menyadari kalau ia tidak melupakan satu kata maupun tindakan Chu Beijie di hari itu. Ia bisa mengingatnya dengan sangat rinci..

 

Ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau saat itu akan membawa mereka sampai ke hari ini.

 

Kalau ini memang sebuah berkah langit, langit sungguh sangat murah hati. Ia memiliki sebuah nyawa yang sedang tumbuh setiap harinya dan tertidur dengan nyamannya di dalam perutnya.

 

Pingting mengusap perut bawahnya, masih terasa rata dan rasa hangat menjalar dari jari-jarinya ke hatinya, sepertinya nyawa kecil itu sedang melindunginya seperti yang dilakukan ayahnya.

 

Ia berbalik dan berbisik, “Zuiju, terima kasih.”

 

“Untuk apa?”

 

“Terima kasih sudah mengijinkanku untuk mengatakannya sendiri pada Tuan Besar tentang berita ini.” Tatapannya sangat lembut dan penuh impian, “Itu pasti akan menjadi saat yang paling bahagia dalam hidupku.”

 

Pingting menatap keluar jendela ke arah timur. Sangat tenang. Pohon tinggi membentuk tembok, menghalangi pandangannya.

 

Itu adalah arah Chu Beijie kembali pulang.

 

----

 

Langit perlahan mulai terang.

 

Sebuah tangisan bayi menyela ketegangan di dalam ruangan, samar dan perlahan merambat melalui lubang pintu. Suara yang meninggalkan tanda pada hati setiap orang.

 

Raja Dong Lin berdiri dari kursinya.

 

“Bayinya sudah lahir?”

 

Tabib berlari keluar dari ruangan, wajahnya pucat karena letih, ia segera berlutut pada Raja dan Ratu lalu mengumumkan, “Selamat, keduanya, anak dan ibu baik-baik saja.”

 

“Bayinya apakah laki-laki atau perempuan?” Ratu menyela.

 

Semua mata menatap tabib istana.

 

“Yang Mulia Ratu, bayinya seorang putri kecil yang cantik.”

 

Hampir semua wajah tiba-tiba menjadi gelap.

 

Bukan pangeran.

 

Dong Lin tanpa seorang pangeran mahkota.

 

Tabib mengerti kalau mereka bukannya tidak pernah menduga hal ini, maka ia berkata dengan pelan pada Raja, “Selir Li dan bayinya baik-baik saja, apa Yang Mulia ingin melihat mereka?”

 

“Tentu.”  Raja mengangguk, meluruskan alisnya yang berkerut. “Selir Li telah berjuang keras.” Ia lalu berbalik menatap adiknya.

 

“Selamat kakak.” Chu Beijie berjalan mendekat dan berlutut, kemudian berkata lagi, “Perang masih membayangi. Sama sekali tidak boleh membuang waktu, aku sudah menerima bendera komando dan sekarang sudah seharusnya menuju garis depan. Begitu aku kembali dengan kemenangan kita bisa merayakannya dengan minum bersama.”

 

Raja terlihat terkejut tapi dengan segera menenangkan dirinya, “Adik tidak perlu terburu-buru. Untuk perang yang begitu penting setidaknya kau harus membiarkan aku melepasmu di depan gerbang masuk.”

 

Chu Beijie membalas dengan tajam, “Masalah militer adalah hal yang terpenting. Tidak diperlukan  kemewahan untuk saat seperti ini.” Meskipun ia berbicara pada Raja tapi tatapannya terus memperhatikan ekspresi Ratu.

 

Sulit untuk Ratu, tapi ia berhasil mempertahankan wajah tenangnya dan berkata pada Raja, “Yang Mulia, perkataan Chu Beijie tidak bermaksud menyinggung. Masalah militer adalah hal yang utama. Ia telah berada di istana untuk beberapa hari saat ini. Aku yakin para prajurit telah menunggu perintahnya.”

 

Raja bertukar pandangan dengan Ratu dan segera mengangguk, “Baiklah, aku melepasmu adik. Tetap hidup. Aku menunggumu kembali dengan kejayaan agar ktia bisa merayakannya bersama.”

 

Chu Beijie mengangguk setuju. Ia berbalik dan pergi dengan langkah kaki yang keras dan berisik.

 

Setelah sosoknya menghilang di kejauhan, Ratu memanggil ketua penjaga yang baru, “Segera tutup jalan di Kediaman Zhau Qing, lakukan seperti perintahku sebelumnya.”

 

“Yang Mulia Ratu segalanya sudah dipersiapkan seperti diperintahkan. Anak panah sudah diganti dengan yang tidak terlalu tajam seperti yang digunakan untuk latihan. Hanya akan menembus paling dalam setengah inci. Penjaga yang ikut, adalah yang tidak pernah di latih oleh Tuan Besar Zhen Beiwang sendiri.”

 

“Bagus.” Ratu mengangguk sebelum menoleh pada Raja, matanya penuh kebulatan tekad, “Pergilah.”

 

“Baik!”

--0--
 
 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia