Selasa, 16 Mei 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.57

-- Volume 3 chapter 57 --



Perang pembalasan dengan Dong Lin berlangsung cepat dan menakjubkan. Ratusan ribu prajurit berbaris rapi disekeliling ibukota, sementara Yaotian sedang panik, mengetahui dirinya hamil. Hal ini membawa keberuntungan bagi He Xia, ia memiliki alasan untuk mengirim Putri ke istana belakang atau membuatnya menjadi tahanan rumah, dan melarangnya terlibat masalah pemerintahan.

Dalam beberapa hari, sebuah dokumen berisi pengakuan penghianatan yang sudah ditanda tangangi Gui Changqing, tiba di hadapan Yaotian. Tak lama kemudian, Gui Changqing di pertontonkan di tembok kota bersama para penghianat lainnya dan keluarga Gui yang tersisa, agar rakyat mengetahui kesalahan mereka.

“Tidak pernah menyangka, Pejabat Senior Gui akan berhianat.”

“Keluarga Gui telah menduduki posisi penting dari generasi ke generasi, mengapa mereka harus berhianat kali ini?”

Bukti-bukti bermunculan terus-menerus, setiap harinya ada saja yang melaporkan penghianatan yang dilakukan keluarga Gui. Sekarang setelah Pejabat Senior yang paling berwenang selama ini, sudah mengakui sendiri penghianatannya, apa perlunya lagi mencari tahu mana yang benar dan salah?

Apalagi ditambah kegagalan membalas Dong Lin, karena dua Jendral dari keluarga Gui yang sangat mengecewakan. Yang satu berlagak hebat dan yang satunya lagi sangat pemabukan, sehingga mengakibatkan satu resimen, yang berjumlah ribuan prajurit meninggal semua.

Bagaimana mungkin, mereka yang mengirim orang kesayangannya pergi sebagai prajurit, hanya untuk mengantar nyawa dengan mengenaskan, tidak membenci dua Jendral itu, yang sama sekali tidak memikirkan nyawa bawahannya.

Dan untungnya atas permasalahan rumit ini, Suami Ratu dengan tangkasnya menunjukan kemampuan militernya, dan berhasil menyingkirkan para penghianat. Bukan hanya itu, ia juga segera membuat pertemuan besar dengan mengumpulkan seluruh Pejabat dalam waktu singkat. Kurang dari satu bulan, sekali lagi, rakyat melepas kepergian seluruh resimen prajurit Yun Chang.

Bendera berkibar di udara dan ratusan ribu prajurit siap berangkat.

Suami Ratu, terlihat bersinar terang, lebih terang dari cahaya apapun yang pernah mereka lihat.

“Dunia sangat luas, tapi tidak ada tempat yang tak bisa diraih oleh Yun Chang!” di atas podium tembok kota, He Xia berkata sambil menghunuskan pedangnya.

Sosok Tuan Putri Yaotian tidak lagi terlihat disamping He Xia. Ia berada di istana belakang, mengandung calon Raja Yun Chang berikutnya.

Para prajurit menjadi bersemangat dan mereka berteriak gembira.

Sorak-sorai untuk He Xia, karena mereka memiliki seorang pahlawan.

Gui Li pernah memiliki He Xia, Dong Lin memiliki Chu Beijie dan Bei Mo setidaknya memiliki seorang Ze Yin. Tapi saat ini, Chu Beijie entah dimana dan Ze Yin sudah pensiun ke tempat terpencil.

Sedangkan He Xia sekarang milik Yun Chang.

Bersama He Xia, prajurit Yun Chang mampu pergi kemanapun.

Apa yang membuat para prajurit terkejut adalah, begitu He Xia memimpin mereka meninggalkan ibukota, ia segera memerintahkan seluruh pasukan untuk mendirikan kemah setelah berjalan hanya sejauh lima puluh mil. Ia memanggil seluruh Jendral ke tenda utama dan melakukan pembahasan rencana.

Begitu mereka semua tiba, He Xia segera berkata, “Kita akan berubah haluan, tidak menuju Dong Lin.”

Para Jendral sudah mulai terbiasa dengan keunikan He Xia yang senang berubah tiba-tiba, dan mereka sudah mulai menduganya ketika mereka diberhentikan tadi, sehingga tidak lagi terkejut dan hanya bertanya dengan ringan, “Kalau bukan meuju Dong Lin, lantas kita mau kemana ?”

“Pasukan akan dibagi menjadi dua, dan berjalan terus mekipun malam, kita akan bertemu di perbatasan Bei Mo.”

Mereka semua segera mengerti, kalau mereka hendak menyerang Bei Mo terlebih dahulu.

Strategi menyerang Bei Mo terlebih dahulu memang lebih tepat. Meskipun pasukan Dong Lin tidak lagi memiliki Chu Beijie, tapi, bahkan untuk sebuah kapal karam, mereka masih memiliki paku yang kuat di bangkainya. Dong Lin bukan musuh yang mudah dikalahkan. Pasukan Bei Mo tidak memiliki Jendral yang cukup kuat, lagi pula mereka sudah tidak memiliki Ze Yin. Perang seperti hendak makan buah kesemek, kau pasti akan memilih bagian yang lunak terlebih dahulu.

Qing Tian telah beberapa kali melakukan misi. Ia memikirkan sesuatu dan sangat penasaran. Ia bertanya pada He Xia dengan sopan, “Suami Ratu menginginkan kami menyerang Bei Mo terlebih dahulu, bukan suatu masalah bagi kami. Bagaimanapun, Dong Lin adalah musuh utama kita, dan Gui Li sedang memperhatikan kita. Bagaimana kalau selama kita menyerang Bei Mo, mereka berdua memutuskan untuk berkoalisi, dan pada akhirnya kita harus menghadapi serangan dari tiga sisi?”

“Tak ada seorangpun yang berharap akan menghadapi serangan dari tiga sisi. Karena itu, Bei Mo pasti tidak menyangka sama sekali kita akan menyerang mereka secara tiba-tiba.”

He Xia tertawa ringan, “Jangan khawatir Jendral. Aku berani menantang Bei Mo karena aku sudah punya rencana untuk menyingkirkan mereka dengan cepat. Wewenang kerajaan Dong Lin saat ini dipegang oleh seorang Ratu, seorang wanita jika berurusan dengan masalah militer tidak pernah tegas dan plin plan. Selama ia memikirkan apakah sebaiknya menyerang kita, kita sudah selesai memusnahkan kekuatan militer Bei Mo.”

Mereka masih agak ragu dengan rencana He Xia. “Begitu kita menyingkirkan Bei Mo, kita masih harus menghadapi Dong Lin. Lantas apa kita masih ada kekuatan untuk menghentikan Gui Li ?”

“Ini memang hal yang harus dipikirkan.” He Xia telihat percaya diri. Ia berkata dengan agak keras, “Zhaoxing, masuklah!”

Tirai tenda tersibak. Seorang prajurit bertubuh kurus melangkah masuk. Ia memberi hormat pada Jendral yang lain dan berdiri di sisi He Xia. Ia terlihat tenang.

Ia memperkenalkannya, “Fei Zhaoxing adalah orang kepercayaan Jendral Le Zhen dari Gui Li. Ia adalah orang yang memberi kabar pada kami tentang rencana penyergapan Raja Gui Li waktu itu.” He Xia mempersilakan Fei Zhaoxing untuk bicara.

Fei Zhaxing bicara dengan agak pelan. “Ratu Gui Li, memerintahkan aku untuk memperingati Tuan Muda Jin Anwang secara diam-diam. Ketika Raja Gui Li melaksanakan rencana untuk menyergap orang-orang Jin Anwang. Asalkan aku menulis surat, tentang penghianatan Ratu dan keluarga Le, serta memastikan seseorang menyampaikan surat itu ke tangan Raja Gui Li, kestabilan pemerintahan Gui Li pasti kacau balau. Mereka tidak akan peduli dengan pertempuran antara Dong Lin dan Yun Chang.”

Jendral dari resimen Weimo sangat penasaran, “Ratu dari keluarga Le sangat mendukung negara Gui Li. Mengapa ia sendiri mengutus seseorang untuk memperingatkan keluarga Jin Anwang, menghianati Rajanya?”

Fei Zhaoxing menjawab ringan, “Untuk menghalangi Bai Pingting memasuki istana selir.”

Para Jendral menjadi lega.

Mendengar nama Bai Pingting disebut, bola mata He Xia mengelap. Ia diam agak lama sampai sinar matanya kembali normal, ia berkata, “Surat Fei Zhaoxing sudah dalam perjalanan menuju ibukota Gui Li. Raja Bei Mo sama sekali tidak memikirkan kita, dan Dong Lin untuk saat ini – takut pada kita, jadi mereka tidak akan segera menyerang. Semuanya, ini saat yang tepat untuk menaklukan Bei Mo.”

Rencana He Xia sangat rapi dan benar-benar direncanakan dengan matang. Awalnya para Jendral tidak percaya dengan pendengaran mereka, tapi sekarang mereka bergembira. Dan mereka segera berkata dengan kompak, “Kami selalu patuh pada perintah Suami Ratu!”

Jejak pasukan Yun Chang menghilang, tidak ada yang tahu kemana mereka pergi.

--
“Waaaah….waaaahhhh….”

Pingting segera berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Ze Qing tengkurap di kaki Yangfeng dan pantatnya terlihat. Tangen Yangfeng naik turun memukul pantat Ze Qing.

“Yangfeng, mengapa kau memukulnya?”

Yangfeng menjawab sambil marah. Ia menunjuk pada sesuatu di bawah di lantai, “Lihat apa yang ia keluarkan dari bawah tempat tidur. Tidak hanya itu, ia juga memainkannya bersama Changxiao. Bagaimana kalau benda itu akan melukai Changxiao?”

Pingting menunduk untuk melihat ke lantai dan ia terkejut melihat sebuah pedang tergeletak. “Mereka berdua terlalu nakal. Changxiao kau juga harus di hukum.” Pingting menarik Changxiao yang sedang berdiri.

Changxiao masih belum bisa berbicara. Ia terlihat mengemaskan, matanya cerah dan bersinar. Ia hanya meringis ketika melihat ibunya masuk.

“Yangfeng jangan memukul Ze Qing lagi. Aku yakin semua ini salah Changxiao. Jangan tertipu olehnya karena ia masih kecil. Begitu ia berjalan dan berlari, kau tidak akan menyangka betapa lihainya dia.”

Pantat Ze Qing telah di pukul beberapa kali. Ia sangat menyukai Changxiao dan ia tidak suka melihatnya menangis, maka ia segera turun ke lantai. Yangfeng yang memukulnya merasa hatinya sangat sakit, maka ia hanya bisa melepaskannya.

“Ah…tersenyumlah… tersenyumlah….” Begitu Ze Qing terbebas dari hukuman ibunya, ia segera menghibur Changxiao. Ia menarik tangan Changxiao dan membawanya keluar sambil berkata, “Bambu, bambuu…” ia sangat cepat jika berlari sehingga Changxiao melompat dan agak sempoyongan ketika keluar dari pintu.

“Ze Qing, jangan memainkan bambu itu sampai menempel ke pakaianmu.” Yangfeng mengejar mereka ke pintu, “Lepaskan Changxiao dan jaga dia jangan sampai jatuh.”

“Yangfeng tidak pa-pa.” Pingting berjalan mendekatinya dan menepuk pundaknya. Ia tersenyum, “Lihatlah wajahmu itu. Jangan mengkhawatirkan Changxiao. Biarkan anak-anak jatuh agar mereka bisa tumbuh.” Ia berbalik dan mengambil pisau di lantai.

Sebuah pedang yang bagus. Mata pisaunya sangat tajam. Sedikit gerakan saja sudah bisa membuat cahaya menjadi gemetar. Pingting memperhatikan pangkal pedangnya, dan seperti dugaannya tulisan “Semangat Langit” terukir disana. Ia menjadi diam. Dan setelah beberapa saat, akhirnya ia bertanya, “Mengapa pedang berharga yang pernah menguncang dunia berkali-kali, berada disini dan tertutup debu? Sungguh disayangkan.”

Yangfeng berbalik dan melihat Pingting menatapi pedang. Jantungnya serasa melompat keluar. Chu Beijie datang dan mendapati kabar kalau Pingting telah meninggal, sehingga ia kehilangan semangat hidupnya. Ia tidak memberitahu Pingting kalau Chu Beijie meninggalkan pedang berharganya. Ia menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Mungkin takdir atau hanya ketidaksengajaan, dua berandal kecil itu menemukannya. Ia berpikir sejenak dan berkata dengan pelan, “Chu Beijie meninggalkannya. Ia datang untuk mencarimu.” Melihat Pingting tetap diam, Yangfeng berkata lagi, “Pingting, apa kau masih merindukan pria itu?”

Pingting tidak menjawab, hanya berdiri diam di dalam ruangan. Setelah beberapa saat, ia memasukan kembali pedang ke dalam sarungnya, menggantungnya di dinding dan berjalan keluar. Ia memanggil anaknya, “Changxiao, kemarilah, ibumu akan menyanyikan lagu indah untukmu.” Dan ia tersenyum.

“Ma…mama!” Changxiao terkekeh sambil melangkah mendekat.

“Aku juga mau mendengarkan!” Ze Qing selalu berada di sisi Changxiao. Ia berdiri di belakang Changxiao.

Matahari bersinar terik. Sebuah riak kecil muncul di sebuah permukaan kolam kecil di depan pondok mereka.

Seseorang sedang bernyanyi dengan lembut.

“Ketika ada masalah, disana ada pahlawan, dimana ada pahlawan, disana ada wanita cantik, bertahan dari kekacauan, bertahan dari kekacauan….”

Anakku, ibumu menyimpan sebuah cerita dalam hatinya.

Cerita itu berisi seorang pahlawan dan seorang wanita cantik.

Si cantik dan sang pahlawan saling bersumpah pada bulan, tidak akan pernah saling berhadapan.

Tidak akan pernah, selamanya, saling berhadapan satu sama lainnya.

Lagu itu terdengar lembut dan sangat menyentyh, penuh cinta dari hati dan kemarahan dari bibir. Meskipun dua anak itu tidak mengerti arti sesungguhnya dari lagu itu, mereka mendengarkan dengan takjub.

Sebelum lagunya selesai, sosok Ze Yin muncul di seberang pagar. Ia berjalan cepat dan raut wajahnya gelap.

Pingting segera menhentikan nyanyiannya ketika melihat ekspresi Ze Yin. Ia mengerti ada sesuatu yang sangat penting, “Ada apa?”

Raut wajah Ze Yin semakin gelap ketika ia menggelengkan kepalanya. Weiting mengikutinya di belakangnya. Ekspresi mereka berdua sangat kacau. Tak ada yang berkata apa-apa sambil mereka masuk ke dalam ruangan.

Setelah si pengasuh datang dan membawa anak-anak ke tempat lain untuk bermain, Ze Yin menutup pintu dan berkata pelan, “Raja sudah meninggal.”

Yangfeng sangat terkejut mendengarnya, “Kesehatan Raja selama ini baik-baik saja, apa yang terjadi?”

“He Xia.” Weiting menjawab dengan sedih. “He Xia mengirim undangan kepada Raja untuk bertemu di perbatasan, untuk sebuah perayaan. Yun Chang dan Bei Mo telah bersekutu, Raja memiliki hubungan baik dengan He Xia, sehingga ia sama sekali tidak curiga.”

“Si licik He Xia, ia sungguh berani memberikan arak beracun. Mereka juga disergap oleh sepasukan prajurit, sehingga Raja, rombongan para pejabat dan penjaga, semuanya dibunuh dalam sekejap. Kabar ini sekarang sudah tersebar ke seluruh negri. Rakyat menjadi panik.” Mengingat hubungan terdahulunya antara Bei Mo dan dirinya, seorang mantan Jendral seperti Ze Yin tak kuasa menahan airmatanya.

Ekspresi Yangfeng penuh ketidakpercayaan. “Apa He Xia sudah gila? Setelah kematian Raja, pasukan Bei Mo pasti akan segera menyerangnya.”

“Pasukan Bei Mo pasti tidak berani untuk segera menyerang.” Sebuah suara tegas terdengar dari belakang mereka.

Mereka bertiga berbalik menatap Pingting yang berdiri di samping meja, “Karena He Xia, berani membunuh Raja Bei Mo, maka ia pasti memiliki jumlah pasukan yang cukup besar untuk bisa menghabisi seluruh pasukan Bei Mo, meskipun pasukan Bei Mo dalam kondisi marah karena niat balas dendam.”

Ze Yin menjadi kaku mendengarkan hal itu. “Kalau Yun Chang berani menyerang penuh Bei Mo, seharusnya Dong Lin dan Gui Li tidak akan diam dan melihat saja. Apa He Xia berani berperang melawan tiga kekuatan?”

“Jendral, kau tbelum pernah melawan He Xia.” Pingting mengatupkan bibirnya, bingung apakah ia merasa marah atau malah bangga. Ia berbisik, “Di medan perang, ia tidak akan melakukan apapun, kecuali ia merasa sangat yakin dan pasti.”

“Kalau begitu, apa sebaiknya kita mengirim berita kepada Ruo Han untuk berhati-hati?”

“… itu sudah terlambat…”

--

Surat Fei Zhaoxing benar-benar berhasil membuat pertengkaran hebat antara Raja Gui Li dan Keluarga Le.

Masalah terkait Bai Pingting tidak bisa di ungkap ke luar, jadi Raja Gui Li mencari-cari alasan untuk mengirim Ratu ke istana dingin.

Tapi kekuatan Keluarga Le sudah mengakar di dalam kerajaan Gui Li, sehingga sulit untuk dibersihkan. Tetua Li Di sudah mengantisipasi kejadian ini jauh sebelumnya. Maka sebelum Raja sempat mengambil tindakan, ia membuat langkah cerdik. Ia menjadikan anaknya Le Zhen, sebagai Panglima utama dalam militer. Sehingga, sebelum Raja sempat memerintahkan untuk menyergap mereka, anaknya sudah meninggalkan ibukota dengan alasan melatih pasukan.

Seperti itulah situasinya, Raja Gui Li berada di dalam, sementara Panglima Utamanya Le Zhen berada di luar ibukota bersama sebagian besar pasukan. Kalau mereka berdua akhirnya bentrok, itu sungguh sesuatu yang dinantikan seseorang.

Kerajaan Gui Li terjebak di dalam permasalahan internnya, sehingga meskipun kabar Raja Bei Mo telah dibunuh oleh He Xia sampai ke dalam istana, tidak ada yang peduli tentang hal itu.

--

Dari empat negara, Dong Lin yang paling waspada dengan tindakan He Xia.

“Kita harus membahas masalah ini.”

Dalam istana kerajaan, Ratu Dong Lin duduk sebagai pemegang takhtah. Ia dengan gugup memandang seluruh Pejabat yang berkumpul. “Kalian semua sudah membaca laporan militer, jadi jangan katakan, kalau tidak ada yang bisa kalian sampaikan padaku? Para Jendral dan Pejabat, kita harus membicarakan masalah ini.”

Chen Mu menghela napas. Ia menguatkan tekad dan melangkah maju, “Ratu, pendapatku tetap sama. Kalau He Xia berani menyerang pasukan Bei Mo, maka sasaran selanjutnya adalah Dong Lin. Waktu sangat berharga, kita harus segera bergabung bersama Bei Mo untuk mengalahkan Yun Chang.”

“Tentu saja tidak.” Chu Zairan berteriak.

Kedua pangeran telah di bunuh atas rencana Raja Bei Mo, sehingga Ratu sama sekali tidak berniat membantu Bei Mo atas masalah mereka. Mendengar Chu Zairan tidak setuju ia bertanya dengan lebih sabar, “Kalau begitu apa saran dari Pejabat Senior, katakanlah.”

Chu Zairan berjalan dengan agak goyah. Ia mendongak dan berkata, “Ratu, kerajaan kita tidak seperti dulu lagi. Kalau kita masih memiliki Tuan Besar Zhen Beiwang, apa yang kita takuti dari seorang He Xia? karena Zhen Beiwang tidak disini dan tidak diketahui jejaknya sama sekali, maka sebaiknya kita jangan memancing He Xia, jadi jangan memancing He Xia.”

Chen Mu berkata dengan tidak sabaran, “He Xia sangat berambisi. Bahkan kalau kita tidak memancingnya, ia tetap akan menyerang kita. Tuan Besar Zhen Beiwang sudah pergi, dan militer kita lemah, itulah sebabnya kita harus mengambil tindakan terlebih dahulu. Kita harus berkerja sama dengan pasukan Bei Mo melawan He Xia untuk keselamatan kita sendiri.”

“Prajurit sangat ganas dan perang sangat berbahaya. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan melindungi diri sendiri.”

“Satu-satunya cara paling tepat, adalah menyerang saat ini juga.”

“Pejabat Senior, kalau kau ada pendapat, katakan saja dengan jelas.”

“Setelah Yun Chang berperang dengan Bei Mo, mereka butuh waktu untuk menyusun kekuatan kembali. Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk melatih prajurit dengan sebaik-baiknya…”

“Jangan terlalu terburu-buru, kita bicarakan dengan hati-hati…”

“Bicarakan apa? Setelah kita menunggu He Xia menaklukan Bei Mo. Dong Lin yang akan menjadi target berikutnya. Aku rasa musuh akan segera sampai disini bahkan sebelum pelatihan dimulai!”

“Berhenti berdebat!” beberapa Pejabat mulai berdebat masing-masing. Ratu menyaksikan mereka satu per satu, kesabarannya habis, ia melempar tatakan tangan, dan seluruh pejabat menjadi terdiam seketika.

“Mengirim pasukan adalah keputusan penting, tidak bisa dilakukan terburu-buru.” Ratu menggosok keningnya dan menghela napas, “Kita akan memikirkan masalah ini dan melanjutkan pembicaraan besok.”

Alis mata Chen Mu berkerut. Ia melangkah maju dan berkata, “Yang Mulia Ratu, kita tidak boleh menunda kesempatan ini lebih lama lagi. Panglima Utama Bei Mo, Ruo Han, sudah melakukan serangan. Perencanaan He Xia sangat matang, aku khawatir hanya dalam beberapa hari, Pasukan Bei Mo akan segera dibinasakan.”

Ratu menjadi marah. “Bukankah sudah kukatakan, kita akan memikirkan masalah ini dan melanjutkan pembicaraan besok. Jendral Chen tak perlu berkata apapun lagi.” Ia berdiri dan segera meninggalkan ruangan.

Reaksi Ratu Dong Lin persis seperti dugaan He Xia, tanpa campur tangan Gui Li dan Dong Lin, He Xia dengan bebas menggerakan pasukannya menyerang Bei Mo dengan kekuatan penuh.

--

Apa yang tejadi selanjutkan sangat mengejutkan ke empat negara.

Dibawah kaki gunung Songseng, sebuah tempat yang dikenal dengan nama Zhouqing. Pasukan Yun Chang seperti terbentuk dari udara yang muncul dari permukaan tanah, membentuk barisan rapat pasukan prajurit. mereka memajang kepala Raja Bei Mo yang mati dengan menyedihkan, membuat murka para prajurit Bei Mo yang sedang berduka. Dibawah perintah dan perencanaan He Xia yang sangat matang, pertempuran penentuan ini menjadi ajang pembataian besar-besaran.

Pasukan Yun Chang sepenuhnya menbinasakan pasukan Ruo Han, hanya sepersepuluh dari mereka yang mampu melarikan diri dan selamat.

Pasukan itu adalah pasuakan utama dan merupakan andalan militer Bei Mo.

Sekali lagi, pertempuran Zhouqing membuktikan kemampuan militer He Xia yang luar biasa.

Setelah itu, kekuatan pasukan He Xia semakin berkembang diluar perkiraan. Setelah mengalahkan pasukan Ruo Han, langkah He Xia selanjutnya adalah menghancurkan pasukan Bei Mo yang tersisa dengan kecepatan penuh. Dan berikutnya, sasaran mengarah pada Dong Lin yang telah kehilangan satu-satunya kesempatan mereka.

Para pejuang Yun Chang tidak pernah menyangka, kalau mengambil alih empat negara begitu mudah dilakukan. Kemenangan berturut-turut membuat semangat mereka melambung tinggi.

Setelah beberapa kali pertempuran, mereka akhirnya berhasil menjatuhkan perbatasan Dong Lin. Di tengah pertumpahan darah, bendera He Xia berkibar paling depan.

Di mata para prajurit yang mengikutinya, sosoknya terlihat seperti dewa perang.

Darah mengalir beratus-ratus mil. Yun Chang menjadi pusat bayangan peperangan yang tersebar ke seluruh jurusan bersama perluasan daerah kekuasaan mereka, sedikit demi sedikit.

Pasukan Bei Mo sepenuhnya musnah. Bahkan sisa-sisa kerajaan Bei Mo turut menghilang.

Pasukan Dong Lin sudah dimusnahkan juga. Jendral Chen Mu terbunuh dalam pertempuran, Moran memimpin pasukan yang tersisa untuk melindungi Ratu, melarikan diri dari istana kerajaan.

Pejabat Senior, dengan rambut putihnya yang panjang, merasa dipermalukan jika tertangkap, sehingga ia memutuskan bunuh diri sebelum prajurit Yun Chang mendobrak rumahnya.

Tidak ada yang menduga He Xia akan mampu melakukan semua ini dalam waktu yang sangat singkat.

“Pasukan Yun Chang datang! Pasukan Yun Chang datang!”

“Lari! Kita harus lari…”

“Ayah! Ayah, dimana kau?”

Mayat-mayat bergeletakan di tanah. Prajurit yang menyerah dan rakyat yang melarikan diri, semuanya berlari. Setiap orang tidak mau tertinggal dibelakang. Yang tua dengan tenang menunggu nasib, yang muda melarikan diri dengan putus asa.

Tapi siapa yang bisa mengalahkan kecepatan kuda perang He Xia?

--00--



Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.56

-- Volume 3 chapter 56 --



Begitu kuda-kuda mulai menggemuk, begitu juga para domba. Hujan di tahun ini sangat baik, rerumputan tumbuh tanpa henti. Domba, sapi dan kuda tidak kekurangan makanan. Mengembala mereka tidak sulit untuk dilakukan karena mudah sekali menemukan tempat untuk mereka makan.

Ze Yin adalah seorang pria yang pernah memimpin pasukan di pertempuran, maka ia sangat kuat dan tidak takut hidup susah. Ia bersama Weiting menanam sayuran dan mencari kebutuhan hidup, sementara Yangfeng menenun kain di waktu bebasnya. Mereka mencukupi kebutuhan dengan mandiri dan melewatkan hari-hari dengan santai.

“Changxiao sudah bisa berjalan sekarang.”

“Berjalan? Kupikir ia akan berlari begitu kakinya bisa menyentuh tanah. Ia tidak bisa diam, kau tidak tahu betapa sulitnya menahannya.”

Pingting telah memberikan anak ini nama yang pas dan anak itu sungguh senang tertawa.

Yangfeng sangat gembira menyaksikan anak itu setiap harinya. “Anak itu selalu gembira, aku heran apa yang membuatnya selalu tertawa.”

Pingting menahan tubuh CHangxiao dan menunju hidungnya, sambil mengomelinya, “Cara berjalanmu belum benar, jangan berlari. Berapa kali kau harus jatuh dan merasakan sakit?”

Ze Qing menyentuh ujung pakaian Pingting. “Gendong.”

Yangfeng segera menarik anaknya ke samping, dan menahan tawanya. “Kau masih begitu kecil, belum waktunya. Bagaimana kalau kau menjatuhkannya?” ia menggelengkan kepalanya dan menoleh pada Pingting. “Aku menyarankan sebaiknya kau membiarkan Changxiao dan Qing Er menjadi saudara. Ia sungguh menyukai dan sangat lengket pada Chanxiao.”

“Mengapa saudara? Mereka selalu bersama dan terlihat seperti saudara kandung bagi orang lain.”

“Bagaimana bisa mereka terlihat seperti saudara kandung? Qing Er berwajah biasa dan terlihat bodoh sedangkan Changxiao terlahir dengan bakat seorang penguasa. Lihat saja mata dan hidungnya, benar-benar jiplakan sempurna dari ….” Nama Zhen Beiwang tersangkut di leher Yangfeng. Ia tahu ia telah mengatakan hal yang tidak seharusnya, hatinya menjadi tidak enak dan ia menatap Pingting.

Pingting sedang bercanda dengan anakknya tapi wajahnya menjadi muram. Tapi akhirnya ia berkata dengan masam. “Bukan hanya mata dan hidungnya, tapi ekspresi wajahnya juga.” Ia mencubit hidung anaknya dan berkata dengan sedikit kesal, “Apa salahnya mirip aku? Mengapa harus mengambil wajah orang itu?”

Anakku apa kau tahu nama Zhen Beiwang?

Panglima Zhen Beiwang yang bernama Chu Beijie.

Ia mampu menggunakan Pedang yang berat, menangkap Jendral musuh yang berada di tengah ribuan prajuritnya, dan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menaklukan dunia. Keberadaannya saja bisa membuat semua orang gemetar.

Ia sangat pintar, berani dan tidak terkalahkan dari seluruh Jendral hebat di dalam medan perang.

Ia seharusnya berada di istana Dong Lin saat ini. Begitu musim gugur berlalu dan musim dingin tiba, akan ada perayaan besar untuk hari kelahirannya.

Tanggal enam, aku masih ingat.

Ulang tahunnya di tanggal enam.

--
Prajurit Yun Chang mengepung perbatasan Dong Lin, membuat istana Dong Lin terbangun dari mimpi indahnya. Mereka akhirnya menyadari, betapa tidak berdayanya mereka tanpa Chu Beijie. Ratu Dong Lin segera menyerahkan bendera komando pada Chen Mu, untuk memimpin pasukan menghadapi He Xia.

Pemimpin pasukan musuh adalah He Xia, Ratu dan juga Chen Mu sangat mengerti, kalau peperangan ini tanpa harapan kemenangan.

Begitu He Xia tiba di perbatasan Dong Lin, ia segera menggumpulkan seluruh Jendral dan memberikan tugas pertama mereka.

“Laporan dari mata-mata di tempat musuh mengatakan, bendera komando diberikan pada Chen Mu dan ia sekarang sudah dalam perjalanan, pasukan Dong Lin akan segera tiba disini. Pasukanku harus mempertahankan tempat ini. Pertama, kita akan menaklukkan Kota Yan Lin. Siapa diantara kalian yang ingin memberikan kemenangan pertama?” begitu He Xia selesai berbicara ia tersenyum dan berkeliling memandang wajah-wajah para Jendralnya yang sudah dikenalnya.

Para Jendral bertempur demi hadiah, siapa yang tidak ingin menjadi orang yang pertama mendapatkannya? Beberapa Pejabat muda sangat berhasrat, tapi Gui Yan yang pertama membuka mulut dan berdiri, “Gui Yan berniat membantu Suami Ratu mendapatkan Kota Yan Lin.”

Sepertinya He Xia telah menunggu lama sekali, mengharapkan Gui Yanlah yang pertama kali mengajukan diri. Ia mendengarkan dengan seksama kata-katanya dan bertanya dengan pelan, “Apakah Jendral muda Gui sudah tahu siapa yang menjaga Kota Yan Lin?”

“Tahu, salah satu Jendral andalan Chu Beijie, Luoshang.”

“Benar.” He Xia mengangguk dengan cepat, ekspresi wajahnya tidak bisa dibaca. “Luoshang seorang Jendral hebat yang dididik langsung oleh Chu Beijie. Ia sangat hebat dalam pertahanan dan memiliki jumlah pasukan yang cukup. Resimen pasukan Yongxiao milik Jendral muda Gui takutnya tidak mampu melakukannya. Kurasa mengirim Resimen Weibei bersama akan lebih baik, agar…”

“Tidak perlu.” Gui Yan menolak dengan penuh keangkuhan. “Aku sudah mengirim mata-mata untuk mengetahui situasi musuh. Jumlah resimen Yangxiao dua kali lebih banyak dari pasukan pertahanan Kota Yan Lin, cukup untuk melakukan pengepungan. Ia hanya seorang Luoshang bukan Chu Beijie, untuk apa Paman Keduaku ikut serta?”

Gui Changning setuju dengan menggerutu, lalu ia berkata dengan keras, “Pertempuran ini seperti memburu ayam dengan sapi besar. Tidak perlu sampai menurunkan dua resiman hanya untuk menyerang kota kecil seperti itu, anda hanya akan menjadi bahan ejekan pasukan Dong Lin.”

He Xia melihat mereka berdua saling membantu, tapi ia sama sekali tidak marah. Ia malah menyetujuinya, “Baiklah kalau begitu, Aku akan menunggu untuk merayakan kabar kemenangan dari Jendral muda.”

Gui Yan mendapatkan kesempatan untuk berjasa. Ia mengingat peringatan ayahnya dan menjadi curiga. Ia membungkuk dan berkata, “Suami Ratu, sebelum aku berangkat, aku memiliki permohonan kecil.”

He Xia bertanya, “Permohonan apa?”

“Kalau terjadi suatu hal diluar dugaan dan di butuhkan pasukan bantuan, tolong biarkan Paman Keduaku yang memimpin.”

Ia sangat muda tapi kata-katanya sangat pas. Dengan ini, ia menyatakan kalau ia khawatir He Xia merencakan sesuatu untuk mecelakainya dan ia juga tidak mempercayai Jendral lainnya.

Jendral lainnya telah lama mengagumi sikap He Xia, dan mereka tidak berniat ikut dalam perseteruan Keluarga Gui yang menentang He Xia dalam kesempatan apapun. Dengan perkataan ini semua Jendral memandang ke arah Gui Yan, seorang anak muda yang berhasil menduduki jabatannya berkat keluarganya.

Jawaban He Xia diluar dugaan semua orang. Ia mengangguk dan berkata, “Permohonan kecil seperti itu, kau bisa memegang janjiku.”

Gui Yan dengan mudah mendapatkan persetujuan He Xia, ia merasa sedikit bingung. Begitu seluruh pembicaraan selesai, para Jendral berhamburan keluar. Gui Yan dan Gui Changning keluar bersama. Gui Changning berkata sambil berjalan, “Aku tidak berharap ia setuju begitu cepat. Tapi, untuk sebuah kota kecil seperti Yan Lin… resimen Yangxiao sudah lebih dari cukup. Untuk apa menyiapkan bala bantuan? Yang dia lakukan seolah membuat kita berhutang padanya. Yan Er kau harus membuat semua orang melihat kemampuanmu dan membawa kemenangan untuk Keluarga Gui kita.”

“Tentu saja.” Gui Yan terkekeh. Setelah berpikir sejenak, dan wajahnya menjadi kaku. “Aku tidak menghawatirkan pasukan pertahanan kota Yan Lin, aku hanya takut kalau… Paman Kedua, aku akan segera berangkat membawa pasukan, kau harus sangat berhati-hati disini. Kau sama sekali tidak boleh….”

“Minum arak, benarkan.” Gui Changning menatap marah padanya, “Apa aku sama sekali tidak bisa di percaya? Aku sudah berjanji pada ayahmu tidak akan minum arak dan mencelakakan semua orang. Jangan khawatir!”

Hari berikutnya, menjelang fajar, Gui Yan memimpin resimennya menuju Kota Yan Lin.

Gui Changning sebagai keluarganya merasa khawatir. Ia mengantarnya sampai keluar perkemahan. Ia berbisik padanya, “Luoshang, adalah orang yang dilatih sendiri oleh Chu Beijie. Kalau kau menemui hal yang tidak terduga, jangan berlagak pemberani, segera kirim orang untuk memberi kabar padaku.”

Gui Yan mengangguk, ia tersenyum penuh percaya diri. “Dan kalau berhasil, aku juga akan segera mengirim seseorang untuk memberi kabar pada Paman Kedua.”

Gui Changning tertawa, “Pergilah, aku menunggu kabar baik darimu.”

Saat sebelum fajar, langit lebih gelap daripada malam. Gui Changning menyaksikan Gui Yan diatas kudanya sampai menghilang, lalu ia berbalik menuju perkemahan.

Di dalam perkemahan pasukan dari resimen lain masih beristirahat dan hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli.

Gui Changning berpikir, hari ini tidak ada hal penting lain selain menunggu kabar dari Kota Yan Lin, jadi ia kembali ke tendanya untuk melanjutkan tidurnya. Ia melangkah melewati tenda pasukannya sampai tiba di tendanya sendiri, ia meletakan pedangnya yang berat di tempat tidur dan mulai menguap.


Sebuah tangan muncul dari belakang, tanpa suara, tiba-tiba menutup mulutnya.

“Mmfmm…”

Gui Changning, matanya  terbelak. Bagaimanapun ia cukup berpengalaman dalam peperangan. Ia mengerakan tangannya berusaha meraih pedangnya. Ketika ia hampir berhasil mencapainya kepalanya di pukul dari belakang. Si penyerang memukul dengan keras, tapi karena lawannya cukup kuat, ia harus memukulnya sekali lagi dengan sangat keras sampai akhirnya lawan tidak sadarkan diri tergeletak di tanah.

Begitu ia pingsan, si penyerang menampilkan sosoknya. Ia berpakaian serba hitam dan wajahnya di tutupi kain hitam, menyisakan sepasang mata yang bersinar di dalam tenda yang remang-remang. Ia menmperhatikan Gui Changning yang tergeletak di tanah, sorot matanya menunjukan sikap meremehkan. Ia memeriksa napas Gi Changning lalu mengeluarkan beberapa kendi arak yang telah disembunyikan Gui Changning dengan sangat rapi. Ia mengeluarkan bungkusan obat dari lengan bajunya dan menuangkannya ke dalam botol arak lalu mengocoknya, agar obat dan arak tercampur sempurna.

“Arak ini dipersembahkan untuk kakakmu, Pejabat Senior negara Yun Chang.” Si penyerang menggumankan hal itu. Rupanya ia adalah He Xia, si pemegang kendali di perkemahan.

He Xia membantu Gui Changning yang tidak sadar untuk duduk, membuka beberapa botol dan membuka paksa mulutnya. He Xia benar-benar membenci keluarga Gui dan ia sama sekali tidak berbelas kasihan, ia menghabiskan sembilan kendi arak sebelum akhirnya meletakan Gui Changning kembali ke tempat tidur, dan pergi sambil bersenandung.

Bada, bada, bada bump!

“Minta bala bantuan!” teriak seorang prajurit, di atas kudanya yang berlari kencang.

Siang hari, seekor kuda cepat, berderap dengan kekuatan penuh menuju perkemahan. Si penunggang mengenakan seragam prajurit Yun Chang dan bersimbah darah. Begitu ia tiba di depan gerbang utama, ia menegadah dan berteriak, “Tolong kirim pasukan bantuan! Jenderal Gui Yan meminta pasukan bantuan! Sampaikan pesannya segera!”

Para penjaga gerbang mengenali prajurit itu, ia salah satu orang kepercayaan Gui Yan dan mereka sangat terkejut. Mereka segera membuka pintu gerbang dan membiarkannya masuk.

Begitu berita sampai ke telinga para Jendral, mereka segera berlari ke tenda utama.

“Tolong segera kirim pasukan bantuan! Segera kirim pasukan bantuan!” si prajurit berlari masuk tenda. Ia terjatuh dan bernapas dengan berat.

“Suami Ratu, pasukan kami di sergap diluar Kota Yan Lin. Situasinya sangat kritis, mohon segera kirimkan pasukan bantuan!”

He Xia sudah memperkirakan sebelumnya, tapi tetap saja hal ini membuatnya terkejut. Ia melangkah maju dan bertanya pada si prajurit. “Bagaimana kejadiannya?”

“Ini penyergapan! Jendral Gui Yan membawa kami mendekati Kota Yan Lin, tapi begitu kami tiba disana dua pasukan dari dua arah sudah menunggu, kami diserang serempak dari arah depan dan belakang.”

“Penyergapan? Pasukan siapa?”

“Pasukan itu dipimpin oleh Chu Morang.”

“Bagaimana situasinya saat ini?”

“Pasukan Dong Lin sudah menyiapkan jebakan, dan jumlah mereka lebih banyak dari perkiraan. Pasukan kami tidak cukup cepat bertindak, sehingga banyak jatuh korban. Jendral Gui memimpin kami untuk menyerang, sampai akhirnya kami berhasil mundur ke lembah Heng Lian. Sekarang mereka bertahan mati-matian di pintu lembah. Jendral memerintahkan aku, mencari jalan sendiri untuk menyampaikan pesan. Suami Ratu, pasukan musuh menekan kami habis-habisan dan para prajurit yang tersisa tidak akan mampu bertahan lama, tolong segera kirim bantuan!”

Setelah mendengar pasukan pertama yang dikirim untuk menyerang Dong Lin telah di sergap, seluruh Jendral Yun Chang terlihat berekspresi muram.

“Segera kirim pasukan bantuan!” He Xia menghentikan ketegangan dan memandangi semua yang berada di dalam tenda, “Hm? Dimana Jendral Gui Changning?”

Beberapa Jendral sudah menyadari ketidakhadiran Gui Changning. Dan sekarang setelah He Xia bertanya, mereka memerintahkan seorang prajurit untuk mencarinya. Seorang Jendral bertanya, “Mengapa Jendral Gui Changning belum datang ?”

Seorang prajurit yang disuruh mencari ke tenda Gui Changning segera melapor, “Jendral Gui sangat mabuk, dan tidak mau bangun meskipun aku sudah memanggilnya.”

Gui Changningsudah terkenal sangat menyukai arak. Mendengar hal itu, semua yang berkumpul saling mengerutkan dahi.

“Ayo kita lihat.”

He Xia memimpin para Jendral menuju tenda Gui Changning. Ketika ia membuka tirai, tercium bau arak yang menyengat.

Mereka melihat kendi-kendi arak berserakan dan dalam keadaan kosong. Tubuh Gui Changning sepenuhnya bau arak, ia tergeletak di tempat tidur dan dengkurnya seperti guntur.

Beberapa prajurit yang berada disisi tempat tidur menjadi pucat dan berkeringat dingin, mereka memanggil-manggil namanya untuk membangunkannya, “Jendral, Jendral, Bangunlah! Jendral Gui Yan membutuhkan pasukan bantuan!”


He Xia berkata pelan, “AKu sudah berjanji pada Jendral Gui Yan, kalau ia membutuhkan bantuan hanya akan mengirim Jendral Gui Changning, sekarang apa yang harus kita lakukan?” Ia segera memerintahkan para prajurit yang disana, “Siram dia dengan air dingin, dan gunakan cara apa saja untuk membangunkannya!”

Para prajurit itu sangat mengerti kalau situasi saat ini sangat genting. Mereka segera membawa air dan menyiramnya, membasahi muka dan kepala Gui Changning.

Tapi, bagaimana mungkin Gui Changning bisa tersadar, setelah dipaksa meneguk arak begitu banyak beserta obat tidur? Ia tetap mendengkur.

Si pengirim pesan yang telah berjuang mati-matian untuk menyampaikan pesan adalah teman sejak kecil Gui Yan. Ia diam-diam menyalahkan Paman Kedua Jendralnya karena telah menjadi orang yang mengecewakan, akhirnya ia berlutut pada He Xia dan memohon, “Suami Ratu, tolong kirim Jendral yang lain!”

Wajah tampan He Xia menunjukan ekspresi gelisah tapi ia menggelengkan kepalanya, “Janji seorang pria harus di tepati. Jendral Gui Yan cukup pintar, ia meminta hanya Jendral Gui Changning yang boleh memimpin pasukan bantuan. Ia pasti memiliki alasan sendiri, dan karena aku sudah menyetujuinya, aku tidak bisa menarik kata-kataku sendiri.”

Mendengar itu si prajurit hampir menangis, ia berjalan mendekati Gui Changning dan mulai menampar pipinya di kanan dan kiri beberapa kali. Ia berteriak, “Bangun! Bangun! Apa kau ingin Jendral mudaku mati?”

Gui Changning setelah beberapa kali tamparan tetap tertidur tapi dengkurannya berhenti.

Para Jendral tidak pernah menilai baik atas sikap Gui Changning selama ini. Mereka curiga kalau jabatan tinggi yang ia miliki saat ini adalah berkat keluarganya. Dengan keadaan saat ini, mereka semua luar biasa kecewa padanya.

Si prajurit tak bisa berbuat apapun lagi, dan ia sangat putus asa. Ia berlutut sekali lagi di depan He Xia sambil bersujud sampai kepalanya menyentuh tanah berkali-kali. “Suami Ratu, Suami Ratu, nasib Jendralku berada di tanganmu. Aku mohon padamu, tolong kirimkan pasukan bantuan!” lalu ia berbalik bersujud pada Jendral yang lainnya, “Jendral semuanya, aku memohon pada kalian. Di pintu lembah, panah Dong Lin seperti hujan. Para prajurit yang bertahan adalah anak-anak Yun Chang. Para Jendral, aku mohon berbelas kasihanlah dan yakinkan Suami Ratu untuk….”

Prajurit ini telah berjuang mati-matian untuk keluar dari situasi disana. Tubuhnya penuh darah dan debu. Dengan ia bersujud sampai seperti itu, wajahnya pun dipenuhi darah dan ia terlihat mengerikan.

Mental seluruh Jendral telah menjadi kuat karena peperangan. Meskipun mereka tidak menyukai Gui Changning tapi mereka tersentuh melihat prajurit setia ini.

He Xia melihat tatapan para Jendral terarah padanya dan ia cukup pintar untuk menyadari, peperangan berikutnya akan dilakukan bersama para Jendral ini. Ia tidak bisa menolak lebih lama lagi. Sebelum mereka sempat bersuara, ia bertanya, “Siapa diantara kalian yang bersedia pergi dan menolong mereka?”

Mereka semua bertukar pandang dan tak lama kemudian, Jendral Qing Tian dari Resimen Shuitai melangkah maju. “Aku bersedia.”

“Baiklah, kalau begitu Jendral Qi segera berangkat dan selamatkan Jendral Gui Yan.”

Misi menyelamatkan seperti memadamkan api. Sudah banyak waktu terbuang untuk membangunkan Gui Changning dari mabuknya. Qing Tian dengan segera menyiapkan pasukannya.

Sekitar hampir setengah jam kemudian mereka berangkat. Seorang prajurit datang melapor ke tenda utama, “Suami Ratu, Jendral Gui Changning akhirnya bangun.”

He Xia dan beberapa Jendral lainnya masih membicarakan strategi perang. Ketika ia mendengar laporan itu ia berkata dengan dingin, “Ikat dia.”

Beberapa orang kepercayaan He Xia segera pergi ke tenda Gui Changning. Mereka segera menyeret Gui Changning yang baru saja tersadar dan masih linglung lalu mengikatnya dengan kuat. Mereka telah diperintahkan He Xia sebelumnya untuk menyumbat mulutnya juga dengan kain, agar ia tidak membuat mental pasukan menjadi gelisah karena teriakannya.

Seluruh orang kepercayaan Gui Changning sudah tahu situasi saat ini. Mereka tahu Suami Ratu sangat marah dan tidak berani menghentikannya. Mereka justru merasa malu jika melakukannya, jadi mereka hanya menyaksikan dengan diam melihat Jendral mereka di ikat.

Setelah siang, Jendral Qing Tian kembali, tubuhnya berbalut debu.

Ia kembali bersama Gui Yan yang sudah menjadi mayat, ia melapor pada He Xia, “Aku sedikit terlambat, Begitu kami tiba, pasukan Dong Lin sudah mundur dan resimen Yongxiao tidak tersisa satupun yang  hidup. Jendral Gui Yan mati di tempat.”

Selusin panah tertancap di mayat Gui Yan. Terlihat mengerikan, bahkan mereka yang telah menyaksikan peperangan tak berani membayangkan betapa dahsyatnya pertempuran mereka.

“Kalau saja ia mendengar… kalau saja resimen Yongxiao dan Weibei pergi bersama, ini tidak akan terjadi…”

He Xia merasa terpukul sejenak lalu ia menjadi marah, “Masalah ini menyebabkan kerugian pada pasukan kita. Bagaimana aku akan menjelaskan pada Putri? Seseorang bawa Gui Changning kemari!”

Gui Changning didorong masuk, terikat dan mulutnya tersumbat. Ia telah di ikat begitu tersadar dan sama sekal tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi. Awalnya ia hendak marah pada He Xia, tapi ia sama sekali tidak menyangka suasana di dalam tenda akan begitu suram. Ekspresi semua orang sangat kacau. Bau darah tercium di udara. Sebuah mayat tergeletak di tanah. Tubuhnya terbalut darah dan ia mengenakan seragam Yun Chang.

Ia memperhatikan dengan lebih seksama, kepalanya serasa dipukul dengan keras dan ia merasa hampir pingsan.

“Gui Changning, sebagai Jendral penting Yun Chang dan bertanggung jawab atas resimen Weibei, apa yang ingin kau katakan setelah melanggar peraturan militer dengan minum arak sampai kau mabuk di tendamu, menyebabkan misi penyelamatan tertunda sehingga resimen Yaoxiao musnah.”

He Xia memberikan isyarat pada seorang prajurit untuk membuka sumpal mulutnya. Gui Changning menatap keponakannya yang beberapa saat lalu masih hidup dan mengucapkan kata-kata gurauan. Ia merasa dunia berputar di depannya, kepalanya seperti di sambar petir berkali-kali. Ia berkata dengan berbisik, “Bagaimana… bagaimana ini bisa terjadi…”

He Xia berteriak, “Gui Changning, apa kau mengakui kesalahanmu?”

Tubuh Gui Changning bergetar dan ia mendongakkan kepalanya, “Tidak, aku tidak mimum, aku tidak minum arak! Aku tidak bersalah!”

Para Jendral telah menyaksikan sendiri ia tertidur pulas dengan bau arak yang menyengat. Melihatnya menyangkal kebenaran membuat mereka memandang rendah padanya. Mata mereka tidak bisa menyembunyikan hal itu.

“Berani sekali kau menyangkal, dengan tanpa bersalah. Aku tidak berani menghadap Putri kecuali kau terbunuh. Prajurit! Bunuh dia!”

Gui Changning menyadari situasinya sangat genting. Ia berteriak, “Aku tidak bersalah, aku tidak minum! Keluargaku adalah pejabat penting di Yun Chang dari generasi ke generasi. Pengabdian kami pada Yun Chang tidak terhitung. He Xia, kau tak bisa membunuhku! Aku akan mengadukanmu pada Putri!”

“Dibawah bendera komando, dan wewenang atas tiga resimen, apakah masih belum cukup untuk membunuhmu?” He Xia tertawa dingin. Dan berteriak, “Prajurit, bawa dia keluar.”

Para prajuritnya telah mempersiapkan segalanya. Mereka membawakan nasi untuk Gui Changning. Dan tak lama kemudian wajah Gui Changning yang marah di angkat ke atas terlepas dari tubuhnya.

Seorang Jendral bertanya pada He Xia, “Pertempuran di Kota Yan Lin berakhir kalah, satu dari tujuh resimen Yun Chang telah hilang. Sekarang, bagaimana Suami Ratu berencana untuk menyerang Dong Lin?”

“Kita tidak akan menyerang Dong Lin.”

“Suami Ratu bermaksud..…”

“Kita akan kembali ke ibukota.”

Semua Jendral terkejut, tapi Dongzhuo sudah tahu rencana lain He Xia, jadi ia hanya tenang saja berdiri di sampingnya dan ekspresi wajahnya biasa saja.

“Sekarang, setelah satu resimen Yun Chang hilang karena permasalah di dalam Yun Chang sendiri, dan bukan karena kekuatan pasukan Dong Lin, bukankah ini berarti sekarang bukan saatnya untuk menyerang pasukan lain?” He Xia melanjutkan, “Pasukan Dong Lin saat ini, bukan masalah untukku. Kalian semua yang berada di sini penuh ambisi. Aku berharap, kalian bersedia membantuku menyelesaikan masalah internal terlebih dahulu sebelum mengirim pasukan, keluar, untuk menaklukan dunia.”

Mereka semua adalah orang-orang pintar, sehingga mereka segera mengerti maksud He Xia sebenarnya. Semua orang tahu He Xia telah menjadi Suami Ratu, tapi keluarga Gui selalu melakukan segala cara untuk mengekangnya. Sekarang setelah kejadian ini, kesempatan untuk menyingkirkan keluarga Gui terbuka lebar.

Tiba-tiba di dlaam tenda menjadi sunyi.

He Xia tersenyum, “Jangan khawatir. Jika kalian ada sesuatu yang ingin dikatakan, sampaikan saja.”

Rencana kecil ini, memang untuk tujuan menghancurkan kekuasaan keluarga Gui. Dan sekarang setelah hal itu berhasil. He Xia menatap setiap orang dengan tenang dan ramah, membuat jantung mereka berdebar agak kencang.

“Menyia-nyiakan keringat atau darah tidak masalah. Kami para Jendral hanya khawatir akan menjadi malas. Mengurung kami di dalam ibukotapun tidak masalah, Suami Ratu bisa memikirkan langkah selanjutnya.” Qing Tian berkata, setelah sebelumnya ia agak ragu untuk mengatakannya, tapi akhirnya ia mengumpulkan seluruh keberaniannya.

Dan para Jendral lainnya setuju dengan perkataannya.

Suami Ratu jelas-jelas berniat membungkam keluarga Gui, tapi cara apa yang akan digunakannya? Para Jendral khawatir mereka tidak akan jadi berperang. Gui Changqing selalu menghindari peperangan dan hal itu selalu bertentangan dengan mereka yang berada disisi militer. Kalau Suami Ratu, seorang Jendral yang memiliki kekuasaan dan wewenang yang cukup kuat, ia pasti akan memihak kepentingan militer.

Para Jendral saling bertukar pandang dan akhirnya membuat kesepakatan untuk berada di sisinya. Dengan serentak mereka berkata. “Kami semua akan patuh pada perintah Suami Ratu!”

“Bagus.” He Xia mengangguk. “Kalau begitu, para Jendral semua kita akan segera berangkat untuk kembali ke ibukota bersamaku.”

--

Yun Chang, Kota Qierou.

Sekarang sudah waktunya pepohonan willow bersemi, tapi musim itu tidak tiba di ruangan itu. Entah musim dingin atau musim panas, yang bisa dilihat hanya tembok di empat sisi dan jendela.

Suara gembok terbuka dan sesosok pria berjalan masuk, Fanlu.

“Mengapa kau tidak makan lagi?”

“Tidak suka.” Hidangan telah di tersedia di atas meja, tapi sepertinya sama sekali tidak tersentuh. Zuiju duduk di atas tempat tidur, kepalany tertunduk sambil merapikan baju di pangkuannya.

Fanlu menghela napas dan berkata, “Sudahlah.”

Pria itu menyerah begitu saja, dan itu membuat Zuiju terkejut. Pria ini memperlakukannya seperti babi, menguncinya di sebuah ruangan dan terus memberinya makan. Kalau ia tidak menghabiskan makanannya, pria itu akan melakukan apa saja sampai akhirnya ia dengan terpaksa menghabiskannya. Tapi kenapa hari ini tiba-tiba berubah?

“Hei…”

Fanlu berhenti. “Kenapa?”

Zuiju berjalan maju dan menatapnya tajam, “Apa yang terjadi?”

“Bukan urusanmu.” Perkataan itu membuat Zuiju marah, tapi Fanlu sudah menebaknya.

Zuiju terkejut sesaat. Dan ia berguman, “Mencoba bersikap congkak? Anggap saja aku tidak bertanya.” Ia berbalik, kembali ke tempat tidurnya dan melanjutkan merapikan bajunya sambil berkata, “Kalau kau memang tidak berani melepaskan aku, setidaknya ijinkan aku menulis surat untuk guruku. Kau bisa menganggap aku sedang memohon padamu. Tapi jangan lupa, aku penyelamat hidupmu.” Ketika terdengan suara gembok, Zuiju segera menoleh dan ia melihat Fanlu sudah pergi. Pintu itu terkunci lagi. Zuiju sangat marah, “Si berengsek itu, suatu hari aku akan menjadikanmu umpan para serigala.”

Zuiju berbalik lagi untuk merapikan bajunya dan menyimpannya di lemari.

Ruang tempat Zuiju tinggal tidak sepenuhnya berubah. Seprei tempat tidur diganti secara berkala. Motifnya dipilih langsung oleh Fanlu. Dan terlihat sangat indah. Beberapa bulan lalu, Fanlu membawa lemari untuk pakaian, dan setelah itu : meja rias, kotak perhiasan, pemerah pipi, bedak, dan peralatan merias wajah yang lainnya.

Gantungan mantel, lonceng angin, cermin perunggu, sekat ruangan berwarna hijau, selimut sutra, secara keseluruhan benar-benar ruangan seorang Nona, kalau saja tanpa rantai dan gembok terkunci di pintu luarnya.

Pria itu datang dan pergi, meninggalkan sebuah benda kecil setiap kali datang. Ia tidak pernah memberikannya secara langsung pada Zuiju, ia selalu mengejeknya sampai Zuiju kesal. Dan pada akhirnya Zuiju menyadari sebuah benda tertinggal, seperti tusuk rambut perak atau sebuah boneka cantik ketika pria itu menghilang di balik pintu.

Zuiju telah di kurung cukup lama dan ia merasa sudah cukup muak dengan itu. Ia sangat tersiksa untuk bisa melihat orang lain, meskipun itu hanya seorang pria menjengkelkan seperti Fanlu. Sudah dua hari, Fanlu datang dan pergi dengan cepat, membawakan makanan atau membereskannya. Zuiju tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi dan ia sangat gelisah.

Klik.

Pintu terbuka dan Zuiju menoleh ke arah sana.

Fanlu berdiri di muka ruangan, melangkah masuk dan duduk lesu di kursi. Ia tidak mengatakan apapun, hanya menatap Zuiju.

Dengan terkejut Zuiju bertanya, “Kenapa kau kembali?”

--00—



Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia