Begitu
kuda-kuda mulai menggemuk, begitu juga para domba. Hujan di tahun ini sangat
baik, rerumputan tumbuh tanpa henti. Domba, sapi dan kuda tidak kekurangan
makanan. Mengembala mereka tidak sulit untuk dilakukan karena mudah sekali
menemukan tempat untuk mereka makan.
Ze
Yin adalah seorang pria yang pernah memimpin pasukan di pertempuran, maka ia
sangat kuat dan tidak takut hidup susah. Ia bersama Weiting menanam sayuran dan
mencari kebutuhan hidup, sementara Yangfeng menenun kain di waktu bebasnya.
Mereka mencukupi kebutuhan dengan mandiri dan melewatkan hari-hari dengan
santai.
“Changxiao
sudah bisa berjalan sekarang.”
“Berjalan?
Kupikir ia akan berlari begitu kakinya bisa menyentuh tanah. Ia tidak bisa
diam, kau tidak tahu betapa sulitnya menahannya.”
Pingting
telah memberikan anak ini nama yang pas dan anak itu sungguh senang tertawa.
Yangfeng
sangat gembira menyaksikan anak itu setiap harinya. “Anak itu selalu gembira,
aku heran apa yang membuatnya selalu tertawa.”
Pingting
menahan tubuh CHangxiao dan menunju hidungnya, sambil mengomelinya, “Cara
berjalanmu belum benar, jangan berlari. Berapa kali kau harus jatuh dan
merasakan sakit?”
Ze
Qing menyentuh ujung pakaian Pingting. “Gendong.”
Yangfeng
segera menarik anaknya ke samping, dan menahan tawanya. “Kau masih begitu
kecil, belum waktunya. Bagaimana kalau kau menjatuhkannya?” ia menggelengkan
kepalanya dan menoleh pada Pingting. “Aku menyarankan sebaiknya kau membiarkan
Changxiao dan Qing Er menjadi saudara. Ia sungguh menyukai dan sangat lengket
pada Chanxiao.”
“Mengapa
saudara? Mereka selalu bersama dan terlihat seperti saudara kandung bagi orang
lain.”
“Bagaimana
bisa mereka terlihat seperti saudara kandung? Qing Er berwajah biasa dan
terlihat bodoh sedangkan Changxiao terlahir dengan bakat seorang penguasa.
Lihat saja mata dan hidungnya, benar-benar jiplakan sempurna dari ….” Nama Zhen
Beiwang tersangkut di leher Yangfeng. Ia tahu ia telah mengatakan hal yang
tidak seharusnya, hatinya menjadi tidak enak dan ia menatap Pingting.
Pingting
sedang bercanda dengan anakknya tapi wajahnya menjadi muram. Tapi akhirnya ia
berkata dengan masam. “Bukan hanya mata dan hidungnya, tapi ekspresi wajahnya
juga.” Ia mencubit hidung anaknya dan berkata dengan sedikit kesal, “Apa
salahnya mirip aku? Mengapa harus mengambil wajah orang itu?”
Anakku apa kau tahu
nama Zhen Beiwang?
Panglima Zhen
Beiwang yang bernama Chu Beijie.
Ia
mampu menggunakan Pedang yang berat, menangkap Jendral musuh yang berada di
tengah ribuan prajuritnya, dan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menaklukan
dunia. Keberadaannya saja bisa membuat semua orang gemetar.
Ia
sangat pintar, berani dan tidak terkalahkan dari seluruh Jendral hebat di dalam
medan perang.
Ia seharusnya berada
di istana Dong Lin saat ini. Begitu musim gugur berlalu dan musim dingin
tiba, akan ada perayaan besar untuk hari kelahirannya.
Tanggal enam, aku
masih ingat.
Ulang tahunnya di
tanggal enam.
--
Prajurit
Yun Chang mengepung perbatasan Dong Lin, membuat istana Dong Lin terbangun dari
mimpi indahnya. Mereka akhirnya menyadari, betapa tidak berdayanya mereka tanpa
Chu Beijie. Ratu Dong Lin segera menyerahkan bendera komando pada Chen Mu,
untuk memimpin pasukan menghadapi He Xia.
Pemimpin
pasukan musuh adalah He Xia, Ratu dan juga Chen Mu sangat mengerti, kalau
peperangan ini tanpa harapan kemenangan.
Begitu
He Xia tiba di perbatasan Dong Lin, ia segera menggumpulkan seluruh Jendral dan
memberikan tugas pertama mereka.
“Laporan
dari mata-mata di tempat musuh mengatakan, bendera komando diberikan pada Chen
Mu dan ia sekarang sudah dalam perjalanan, pasukan Dong Lin akan segera tiba
disini. Pasukanku harus mempertahankan tempat ini. Pertama, kita akan menaklukkan
Kota Yan Lin. Siapa diantara kalian yang ingin memberikan kemenangan pertama?”
begitu He Xia selesai berbicara ia tersenyum dan berkeliling memandang
wajah-wajah para Jendralnya yang sudah dikenalnya.
Para
Jendral bertempur demi hadiah, siapa yang tidak ingin menjadi orang yang
pertama mendapatkannya? Beberapa Pejabat muda sangat berhasrat, tapi Gui Yan
yang pertama membuka mulut dan berdiri, “Gui Yan berniat membantu Suami Ratu
mendapatkan Kota Yan Lin.”
Sepertinya
He Xia telah menunggu lama sekali, mengharapkan Gui Yanlah yang pertama kali
mengajukan diri. Ia mendengarkan dengan seksama kata-katanya dan bertanya
dengan pelan, “Apakah Jendral muda Gui sudah tahu siapa yang menjaga Kota Yan
Lin?”
“Tahu,
salah satu Jendral andalan Chu Beijie, Luoshang.”
“Benar.”
He Xia mengangguk dengan cepat, ekspresi wajahnya tidak bisa dibaca. “Luoshang
seorang Jendral hebat yang dididik langsung oleh Chu Beijie. Ia sangat hebat
dalam pertahanan dan memiliki jumlah pasukan yang cukup. Resimen pasukan
Yongxiao milik Jendral muda Gui takutnya tidak mampu melakukannya. Kurasa
mengirim Resimen Weibei bersama akan lebih baik, agar…”
“Tidak
perlu.” Gui Yan menolak dengan penuh keangkuhan. “Aku sudah mengirim mata-mata
untuk mengetahui situasi musuh. Jumlah resimen Yangxiao dua kali lebih banyak
dari pasukan pertahanan Kota Yan Lin, cukup untuk melakukan pengepungan. Ia
hanya seorang Luoshang bukan Chu Beijie, untuk apa Paman Keduaku ikut serta?”
Gui
Changning setuju dengan menggerutu, lalu ia berkata dengan keras, “Pertempuran
ini seperti memburu ayam dengan sapi besar. Tidak perlu sampai menurunkan dua resiman
hanya untuk menyerang kota kecil seperti itu, anda hanya akan menjadi bahan
ejekan pasukan Dong Lin.”
He
Xia melihat mereka berdua saling membantu, tapi ia sama sekali tidak marah. Ia
malah menyetujuinya, “Baiklah kalau begitu, Aku akan menunggu untuk merayakan
kabar kemenangan dari Jendral muda.”
Gui
Yan mendapatkan kesempatan untuk berjasa. Ia mengingat peringatan ayahnya dan
menjadi curiga. Ia membungkuk dan berkata, “Suami Ratu, sebelum aku berangkat,
aku memiliki permohonan kecil.”
He
Xia bertanya, “Permohonan apa?”
“Kalau
terjadi suatu hal diluar dugaan dan di butuhkan pasukan bantuan, tolong biarkan
Paman Keduaku yang memimpin.”
Ia
sangat muda tapi kata-katanya sangat pas. Dengan ini, ia menyatakan kalau ia
khawatir He Xia merencakan sesuatu untuk mecelakainya dan ia juga tidak
mempercayai Jendral lainnya.
Jendral
lainnya telah lama mengagumi sikap He Xia, dan mereka tidak berniat ikut dalam
perseteruan Keluarga Gui yang menentang He Xia dalam kesempatan apapun. Dengan
perkataan ini semua Jendral memandang ke arah Gui Yan, seorang anak muda yang
berhasil menduduki jabatannya berkat keluarganya.
Jawaban
He Xia diluar dugaan semua orang. Ia mengangguk dan berkata, “Permohonan kecil
seperti itu, kau bisa memegang janjiku.”
Gui
Yan dengan mudah mendapatkan persetujuan He Xia, ia merasa sedikit bingung.
Begitu seluruh pembicaraan selesai, para Jendral berhamburan keluar. Gui Yan
dan Gui Changning keluar bersama. Gui Changning berkata sambil berjalan, “Aku
tidak berharap ia setuju begitu cepat. Tapi, untuk sebuah kota kecil seperti
Yan Lin… resimen Yangxiao sudah lebih dari cukup. Untuk apa menyiapkan bala
bantuan? Yang dia lakukan seolah membuat kita berhutang padanya. Yan Er kau
harus membuat semua orang melihat kemampuanmu dan membawa kemenangan untuk
Keluarga Gui kita.”
“Tentu
saja.” Gui Yan terkekeh. Setelah berpikir sejenak, dan wajahnya menjadi kaku.
“Aku tidak menghawatirkan pasukan pertahanan kota Yan Lin, aku hanya takut
kalau… Paman Kedua, aku akan segera berangkat membawa pasukan, kau harus sangat
berhati-hati disini. Kau sama sekali tidak boleh….”
“Minum
arak, benarkan.” Gui Changning menatap marah padanya, “Apa aku sama sekali
tidak bisa di percaya? Aku sudah berjanji pada ayahmu tidak akan minum arak dan
mencelakakan semua orang. Jangan khawatir!”
Hari
berikutnya, menjelang fajar, Gui Yan memimpin resimennya menuju Kota Yan Lin.
Gui
Changning sebagai keluarganya merasa khawatir. Ia mengantarnya sampai keluar
perkemahan. Ia berbisik padanya, “Luoshang, adalah orang yang dilatih sendiri
oleh Chu Beijie. Kalau kau menemui hal yang tidak terduga, jangan berlagak
pemberani, segera kirim orang untuk memberi kabar padaku.”
Gui
Yan mengangguk, ia tersenyum penuh percaya diri. “Dan kalau berhasil, aku juga
akan segera mengirim seseorang untuk memberi kabar pada Paman Kedua.”
Gui
Changning tertawa, “Pergilah, aku menunggu kabar baik darimu.”
Saat
sebelum fajar, langit lebih gelap daripada malam. Gui Changning menyaksikan Gui
Yan diatas kudanya sampai menghilang, lalu ia berbalik menuju perkemahan.
Di
dalam perkemahan pasukan dari resimen lain masih beristirahat dan hanya ada
beberapa penjaga yang berpatroli.
Gui
Changning berpikir, hari ini tidak ada hal penting lain selain menunggu kabar
dari Kota Yan Lin, jadi ia kembali ke tendanya untuk melanjutkan tidurnya. Ia
melangkah melewati tenda pasukannya sampai tiba di tendanya sendiri, ia
meletakan pedangnya yang berat di tempat tidur dan mulai menguap.
Sebuah
tangan muncul dari belakang, tanpa suara, tiba-tiba menutup mulutnya.
“Mmfmm…”
Gui
Changning, matanya terbelak.
Bagaimanapun ia cukup berpengalaman dalam peperangan. Ia mengerakan tangannya
berusaha meraih pedangnya. Ketika ia hampir berhasil mencapainya kepalanya di
pukul dari belakang. Si penyerang memukul dengan keras, tapi karena lawannya
cukup kuat, ia harus memukulnya sekali lagi dengan sangat keras sampai akhirnya
lawan tidak sadarkan diri tergeletak di tanah.
Begitu
ia pingsan, si penyerang menampilkan sosoknya. Ia berpakaian serba hitam dan
wajahnya di tutupi kain hitam, menyisakan sepasang mata yang bersinar di dalam
tenda yang remang-remang. Ia menmperhatikan Gui Changning yang tergeletak di
tanah, sorot matanya menunjukan sikap meremehkan. Ia memeriksa napas Gi
Changning lalu mengeluarkan beberapa kendi arak yang telah disembunyikan Gui
Changning dengan sangat rapi. Ia mengeluarkan bungkusan obat dari lengan
bajunya dan menuangkannya ke dalam botol arak lalu mengocoknya, agar obat dan
arak tercampur sempurna.
“Arak
ini dipersembahkan untuk kakakmu, Pejabat Senior negara Yun Chang.” Si
penyerang menggumankan hal itu. Rupanya ia adalah He Xia, si pemegang kendali
di perkemahan.
He
Xia membantu Gui Changning yang tidak sadar untuk duduk, membuka beberapa botol
dan membuka paksa mulutnya. He Xia benar-benar membenci keluarga Gui dan ia sama
sekali tidak berbelas kasihan, ia menghabiskan sembilan kendi arak sebelum
akhirnya meletakan Gui Changning kembali ke tempat tidur, dan pergi sambil
bersenandung.
Bada, bada, bada
bump!
“Minta
bala bantuan!” teriak seorang prajurit, di atas kudanya yang berlari kencang.
Siang
hari, seekor kuda cepat, berderap dengan kekuatan penuh menuju perkemahan. Si
penunggang mengenakan seragam prajurit Yun Chang dan bersimbah darah. Begitu ia
tiba di depan gerbang utama, ia menegadah dan berteriak, “Tolong kirim pasukan
bantuan! Jenderal Gui Yan meminta pasukan bantuan! Sampaikan pesannya segera!”
Para
penjaga gerbang mengenali prajurit itu, ia salah satu orang kepercayaan Gui Yan
dan mereka sangat terkejut. Mereka segera membuka pintu gerbang dan
membiarkannya masuk.
Begitu
berita sampai ke telinga para Jendral, mereka segera berlari ke tenda utama.
“Tolong
segera kirim pasukan bantuan! Segera kirim pasukan bantuan!” si prajurit
berlari masuk tenda. Ia terjatuh dan bernapas dengan berat.
“Suami
Ratu, pasukan kami di sergap diluar Kota Yan Lin. Situasinya sangat kritis,
mohon segera kirimkan pasukan bantuan!”
He
Xia sudah memperkirakan sebelumnya, tapi tetap saja hal ini membuatnya
terkejut. Ia melangkah maju dan bertanya pada si prajurit. “Bagaimana
kejadiannya?”
“Ini
penyergapan! Jendral Gui Yan membawa kami mendekati Kota Yan Lin, tapi begitu
kami tiba disana dua pasukan dari dua arah sudah menunggu, kami diserang
serempak dari arah depan dan belakang.”
“Penyergapan?
Pasukan siapa?”
“Pasukan
itu dipimpin oleh Chu Morang.”
“Bagaimana
situasinya saat ini?”
“Pasukan
Dong Lin sudah menyiapkan jebakan, dan jumlah mereka lebih banyak dari perkiraan.
Pasukan kami tidak cukup cepat bertindak, sehingga banyak jatuh korban. Jendral
Gui memimpin kami untuk menyerang, sampai akhirnya kami berhasil mundur ke
lembah Heng Lian. Sekarang mereka bertahan mati-matian di pintu lembah. Jendral
memerintahkan aku, mencari jalan sendiri untuk menyampaikan pesan. Suami Ratu,
pasukan musuh menekan kami habis-habisan dan para prajurit yang tersisa tidak
akan mampu bertahan lama, tolong segera kirim bantuan!”
Setelah
mendengar pasukan pertama yang dikirim untuk menyerang Dong Lin telah di
sergap, seluruh Jendral Yun Chang terlihat berekspresi muram.
“Segera
kirim pasukan bantuan!” He Xia menghentikan ketegangan dan memandangi semua
yang berada di dalam tenda, “Hm? Dimana Jendral Gui Changning?”
Beberapa
Jendral sudah menyadari ketidakhadiran Gui Changning. Dan sekarang setelah He
Xia bertanya, mereka memerintahkan seorang prajurit untuk mencarinya. Seorang
Jendral bertanya, “Mengapa Jendral Gui Changning belum datang ?”
Seorang
prajurit yang disuruh mencari ke tenda Gui Changning segera melapor, “Jendral
Gui sangat mabuk, dan tidak mau bangun meskipun aku sudah memanggilnya.”
Gui
Changningsudah terkenal sangat menyukai arak. Mendengar hal itu, semua yang
berkumpul saling mengerutkan dahi.
“Ayo
kita lihat.”
He
Xia memimpin para Jendral menuju tenda Gui Changning. Ketika ia membuka tirai,
tercium bau arak yang menyengat.
Mereka
melihat kendi-kendi arak berserakan dan dalam keadaan kosong. Tubuh Gui
Changning sepenuhnya bau arak, ia tergeletak di tempat tidur dan dengkurnya
seperti guntur.
Beberapa
prajurit yang berada disisi tempat tidur menjadi pucat dan berkeringat dingin,
mereka memanggil-manggil namanya untuk membangunkannya, “Jendral, Jendral,
Bangunlah! Jendral Gui Yan membutuhkan pasukan bantuan!”
He
Xia berkata pelan, “AKu sudah berjanji pada Jendral Gui Yan, kalau ia
membutuhkan bantuan hanya akan mengirim Jendral Gui Changning, sekarang apa
yang harus kita lakukan?” Ia segera memerintahkan para prajurit yang disana,
“Siram dia dengan air dingin, dan gunakan cara apa saja untuk membangunkannya!”
Para
prajurit itu sangat mengerti kalau situasi saat ini sangat genting. Mereka
segera membawa air dan menyiramnya, membasahi muka dan kepala Gui Changning.
Tapi,
bagaimana mungkin Gui Changning bisa tersadar, setelah dipaksa meneguk arak
begitu banyak beserta obat tidur? Ia tetap mendengkur.
Si
pengirim pesan yang telah berjuang mati-matian untuk menyampaikan pesan adalah
teman sejak kecil Gui Yan. Ia diam-diam menyalahkan Paman Kedua Jendralnya
karena telah menjadi orang yang mengecewakan, akhirnya ia berlutut pada He Xia
dan memohon, “Suami Ratu, tolong kirim Jendral yang lain!”
Wajah
tampan He Xia menunjukan ekspresi gelisah tapi ia menggelengkan kepalanya,
“Janji seorang pria harus di tepati. Jendral Gui Yan cukup pintar, ia meminta
hanya Jendral Gui Changning yang boleh memimpin pasukan bantuan. Ia pasti
memiliki alasan sendiri, dan karena aku sudah menyetujuinya, aku tidak bisa
menarik kata-kataku sendiri.”
Mendengar
itu si prajurit hampir menangis, ia berjalan mendekati Gui Changning dan mulai
menampar pipinya di kanan dan kiri beberapa kali. Ia berteriak, “Bangun!
Bangun! Apa kau ingin Jendral mudaku mati?”
Gui
Changning setelah beberapa kali tamparan tetap tertidur tapi dengkurannya
berhenti.
Para
Jendral tidak pernah menilai baik atas sikap Gui Changning selama ini. Mereka
curiga kalau jabatan tinggi yang ia miliki saat ini adalah berkat keluarganya.
Dengan keadaan saat ini, mereka semua luar biasa kecewa padanya.
Si
prajurit tak bisa berbuat apapun lagi, dan ia sangat putus asa. Ia berlutut
sekali lagi di depan He Xia sambil bersujud sampai kepalanya menyentuh tanah
berkali-kali. “Suami Ratu, Suami Ratu, nasib Jendralku berada di tanganmu. Aku
mohon padamu, tolong kirimkan pasukan bantuan!” lalu ia berbalik bersujud pada
Jendral yang lainnya, “Jendral semuanya, aku memohon pada kalian. Di pintu
lembah, panah Dong Lin seperti hujan. Para prajurit yang bertahan adalah
anak-anak Yun Chang. Para Jendral, aku mohon berbelas kasihanlah dan yakinkan
Suami Ratu untuk….”
Prajurit
ini telah berjuang mati-matian untuk keluar dari situasi disana. Tubuhnya penuh
darah dan debu. Dengan ia bersujud sampai seperti itu, wajahnya pun dipenuhi
darah dan ia terlihat mengerikan.
Mental
seluruh Jendral telah menjadi kuat karena peperangan. Meskipun mereka tidak
menyukai Gui Changning tapi mereka tersentuh melihat prajurit setia ini.
He
Xia melihat tatapan para Jendral terarah padanya dan ia cukup pintar untuk
menyadari, peperangan berikutnya akan dilakukan bersama para Jendral ini. Ia
tidak bisa menolak lebih lama lagi. Sebelum mereka sempat bersuara, ia
bertanya, “Siapa diantara kalian yang bersedia pergi dan menolong mereka?”
Mereka
semua bertukar pandang dan tak lama kemudian, Jendral Qing Tian dari Resimen
Shuitai melangkah maju. “Aku bersedia.”
“Baiklah,
kalau begitu Jendral Qi segera berangkat dan selamatkan Jendral Gui Yan.”
Misi
menyelamatkan seperti memadamkan api. Sudah banyak waktu terbuang untuk
membangunkan Gui Changning dari mabuknya. Qing Tian dengan segera menyiapkan
pasukannya.
Sekitar
hampir setengah jam kemudian mereka berangkat. Seorang prajurit datang melapor
ke tenda utama, “Suami Ratu, Jendral Gui Changning akhirnya bangun.”
He
Xia dan beberapa Jendral lainnya masih membicarakan strategi perang. Ketika ia
mendengar laporan itu ia berkata dengan dingin, “Ikat dia.”
Beberapa
orang kepercayaan He Xia segera pergi ke tenda Gui Changning. Mereka segera
menyeret Gui Changning yang baru saja tersadar dan masih linglung lalu
mengikatnya dengan kuat. Mereka telah diperintahkan He Xia sebelumnya untuk
menyumbat mulutnya juga dengan kain, agar ia tidak membuat mental pasukan
menjadi gelisah karena teriakannya.
Seluruh
orang kepercayaan Gui Changning sudah tahu situasi saat ini. Mereka tahu Suami
Ratu sangat marah dan tidak berani menghentikannya. Mereka justru merasa malu
jika melakukannya, jadi mereka hanya menyaksikan dengan diam melihat Jendral
mereka di ikat.
Setelah
siang, Jendral Qing Tian kembali, tubuhnya berbalut debu.
Ia
kembali bersama Gui Yan yang sudah menjadi mayat, ia melapor pada He Xia, “Aku
sedikit terlambat, Begitu kami tiba, pasukan Dong Lin sudah mundur dan resimen
Yongxiao tidak tersisa satupun yang
hidup. Jendral Gui Yan mati di tempat.”
Selusin
panah tertancap di mayat Gui Yan. Terlihat mengerikan, bahkan mereka yang telah
menyaksikan peperangan tak berani membayangkan betapa dahsyatnya pertempuran
mereka.
“Kalau
saja ia mendengar… kalau saja resimen Yongxiao dan Weibei pergi bersama, ini
tidak akan terjadi…”
He
Xia merasa terpukul sejenak lalu ia menjadi marah, “Masalah ini menyebabkan
kerugian pada pasukan kita. Bagaimana aku akan menjelaskan pada Putri?
Seseorang bawa Gui Changning kemari!”
Gui
Changning didorong masuk, terikat dan mulutnya tersumbat. Ia telah di ikat begitu
tersadar dan sama sekal tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi. Awalnya ia
hendak marah pada He Xia, tapi ia sama sekali tidak menyangka suasana di dalam
tenda akan begitu suram. Ekspresi semua orang sangat kacau. Bau darah tercium
di udara. Sebuah mayat tergeletak di tanah. Tubuhnya terbalut darah dan ia
mengenakan seragam Yun Chang.
Ia
memperhatikan dengan lebih seksama, kepalanya serasa dipukul dengan keras dan
ia merasa hampir pingsan.
“Gui
Changning, sebagai Jendral penting Yun Chang dan bertanggung jawab atas resimen
Weibei, apa yang ingin kau katakan setelah melanggar peraturan militer dengan
minum arak sampai kau mabuk di tendamu, menyebabkan misi penyelamatan tertunda
sehingga resimen Yaoxiao musnah.”
He
Xia memberikan isyarat pada seorang prajurit untuk membuka sumpal mulutnya. Gui
Changning menatap keponakannya yang beberapa saat lalu masih hidup dan
mengucapkan kata-kata gurauan. Ia merasa dunia berputar di depannya, kepalanya
seperti di sambar petir berkali-kali. Ia berkata dengan berbisik, “Bagaimana…
bagaimana ini bisa terjadi…”
He
Xia berteriak, “Gui Changning, apa kau mengakui kesalahanmu?”
Tubuh
Gui Changning bergetar dan ia mendongakkan kepalanya, “Tidak, aku tidak mimum,
aku tidak minum arak! Aku tidak bersalah!”
Para
Jendral telah menyaksikan sendiri ia tertidur pulas dengan bau arak yang
menyengat. Melihatnya menyangkal kebenaran membuat mereka memandang rendah
padanya. Mata mereka tidak bisa menyembunyikan hal itu.
“Berani
sekali kau menyangkal, dengan tanpa bersalah. Aku tidak berani menghadap Putri
kecuali kau terbunuh. Prajurit! Bunuh dia!”
Gui
Changning menyadari situasinya sangat genting. Ia berteriak, “Aku tidak
bersalah, aku tidak minum! Keluargaku adalah pejabat penting di Yun Chang dari
generasi ke generasi. Pengabdian kami pada Yun Chang tidak terhitung. He Xia,
kau tak bisa membunuhku! Aku akan mengadukanmu pada Putri!”
“Dibawah
bendera komando, dan wewenang atas tiga resimen, apakah masih belum cukup untuk
membunuhmu?” He Xia tertawa dingin. Dan berteriak, “Prajurit, bawa dia keluar.”
Para
prajuritnya telah mempersiapkan segalanya. Mereka membawakan nasi untuk Gui
Changning. Dan tak lama kemudian wajah Gui Changning yang marah di angkat ke
atas terlepas dari tubuhnya.
Seorang
Jendral bertanya pada He Xia, “Pertempuran di Kota Yan Lin berakhir kalah, satu
dari tujuh resimen Yun Chang telah hilang. Sekarang, bagaimana Suami Ratu
berencana untuk menyerang Dong Lin?”
“Kita
tidak akan menyerang Dong Lin.”
“Suami
Ratu bermaksud..…”
“Kita
akan kembali ke ibukota.”
Semua
Jendral terkejut, tapi Dongzhuo sudah tahu rencana lain He Xia, jadi ia hanya
tenang saja berdiri di sampingnya dan ekspresi wajahnya biasa saja.
“Sekarang,
setelah satu resimen Yun Chang hilang karena permasalah di dalam Yun Chang
sendiri, dan bukan karena kekuatan pasukan Dong Lin, bukankah ini berarti
sekarang bukan saatnya untuk menyerang pasukan lain?” He Xia melanjutkan,
“Pasukan Dong Lin saat ini, bukan masalah untukku. Kalian semua yang berada di
sini penuh ambisi. Aku berharap, kalian bersedia membantuku menyelesaikan
masalah internal terlebih dahulu sebelum mengirim pasukan, keluar, untuk
menaklukan dunia.”
Mereka
semua adalah orang-orang pintar, sehingga mereka segera mengerti maksud He Xia
sebenarnya. Semua orang tahu He Xia telah menjadi Suami Ratu, tapi keluarga Gui
selalu melakukan segala cara untuk mengekangnya. Sekarang setelah kejadian ini,
kesempatan untuk menyingkirkan keluarga Gui terbuka lebar.
Tiba-tiba
di dlaam tenda menjadi sunyi.
He
Xia tersenyum, “Jangan khawatir. Jika kalian ada sesuatu yang ingin dikatakan,
sampaikan saja.”
Rencana
kecil ini, memang untuk tujuan menghancurkan kekuasaan keluarga Gui. Dan
sekarang setelah hal itu berhasil. He Xia menatap setiap orang dengan tenang
dan ramah, membuat jantung mereka berdebar agak kencang.
“Menyia-nyiakan
keringat atau darah tidak masalah. Kami para Jendral hanya khawatir akan
menjadi malas. Mengurung kami di dalam ibukotapun tidak masalah, Suami Ratu
bisa memikirkan langkah selanjutnya.” Qing Tian berkata, setelah sebelumnya ia
agak ragu untuk mengatakannya, tapi akhirnya ia mengumpulkan seluruh
keberaniannya.
Dan
para Jendral lainnya setuju dengan perkataannya.
Suami
Ratu jelas-jelas berniat membungkam keluarga Gui, tapi cara apa yang akan
digunakannya? Para Jendral khawatir mereka tidak akan jadi berperang. Gui
Changqing selalu menghindari peperangan dan hal itu selalu bertentangan dengan
mereka yang berada disisi militer. Kalau Suami Ratu, seorang Jendral yang
memiliki kekuasaan dan wewenang yang cukup kuat, ia pasti akan memihak
kepentingan militer.
Para
Jendral saling bertukar pandang dan akhirnya membuat kesepakatan untuk berada
di sisinya. Dengan serentak mereka berkata. “Kami semua akan patuh pada
perintah Suami Ratu!”
“Bagus.”
He Xia mengangguk. “Kalau begitu, para Jendral semua kita akan segera berangkat
untuk kembali ke ibukota bersamaku.”
--
Yun
Chang, Kota Qierou.
Sekarang
sudah waktunya pepohonan willow bersemi, tapi musim itu tidak tiba di ruangan
itu. Entah musim dingin atau musim panas, yang bisa dilihat hanya tembok di
empat sisi dan jendela.
Suara
gembok terbuka dan sesosok pria berjalan masuk, Fanlu.
“Mengapa
kau tidak makan lagi?”
“Tidak
suka.” Hidangan telah di tersedia di atas meja, tapi sepertinya sama sekali
tidak tersentuh. Zuiju duduk di atas tempat tidur, kepalany tertunduk sambil
merapikan baju di pangkuannya.
Fanlu
menghela napas dan berkata, “Sudahlah.”
Pria
itu menyerah begitu saja, dan itu membuat Zuiju terkejut. Pria ini
memperlakukannya seperti babi, menguncinya di sebuah ruangan dan terus
memberinya makan. Kalau ia tidak menghabiskan makanannya, pria itu akan
melakukan apa saja sampai akhirnya ia dengan terpaksa menghabiskannya. Tapi
kenapa hari ini tiba-tiba berubah?
“Hei…”
Fanlu
berhenti. “Kenapa?”
Zuiju
berjalan maju dan menatapnya tajam, “Apa yang terjadi?”
“Bukan
urusanmu.” Perkataan itu membuat Zuiju marah, tapi Fanlu sudah menebaknya.
Zuiju
terkejut sesaat. Dan ia berguman, “Mencoba bersikap congkak? Anggap saja aku
tidak bertanya.” Ia berbalik, kembali ke tempat tidurnya dan melanjutkan
merapikan bajunya sambil berkata, “Kalau kau memang tidak berani melepaskan
aku, setidaknya ijinkan aku menulis surat untuk guruku. Kau bisa menganggap aku
sedang memohon padamu. Tapi jangan lupa, aku penyelamat hidupmu.” Ketika
terdengan suara gembok, Zuiju segera menoleh dan ia melihat Fanlu sudah pergi.
Pintu itu terkunci lagi. Zuiju sangat marah, “Si berengsek itu, suatu hari aku
akan menjadikanmu umpan para serigala.”
Zuiju
berbalik lagi untuk merapikan bajunya dan menyimpannya di lemari.
Ruang
tempat Zuiju tinggal tidak sepenuhnya berubah. Seprei tempat tidur diganti
secara berkala. Motifnya dipilih langsung oleh Fanlu. Dan terlihat sangat
indah. Beberapa bulan lalu, Fanlu membawa lemari untuk pakaian, dan setelah itu
: meja rias, kotak perhiasan, pemerah pipi, bedak, dan peralatan merias wajah
yang lainnya.
Gantungan
mantel, lonceng angin, cermin perunggu, sekat ruangan berwarna hijau, selimut
sutra, secara keseluruhan benar-benar ruangan seorang Nona, kalau saja tanpa rantai
dan gembok terkunci di pintu luarnya.
Pria
itu datang dan pergi, meninggalkan sebuah benda kecil setiap kali datang. Ia
tidak pernah memberikannya secara langsung pada Zuiju, ia selalu mengejeknya
sampai Zuiju kesal. Dan pada akhirnya Zuiju menyadari sebuah benda tertinggal,
seperti tusuk rambut perak atau sebuah boneka cantik ketika pria itu menghilang
di balik pintu.
Zuiju
telah di kurung cukup lama dan ia merasa sudah cukup muak dengan itu. Ia sangat
tersiksa untuk bisa melihat orang lain, meskipun itu hanya seorang pria
menjengkelkan seperti Fanlu. Sudah dua hari, Fanlu datang dan pergi dengan
cepat, membawakan makanan atau membereskannya. Zuiju tidak bisa menebak apa
yang sedang terjadi dan ia sangat gelisah.
Klik.
Pintu
terbuka dan Zuiju menoleh ke arah sana.
Fanlu
berdiri di muka ruangan, melangkah masuk dan duduk lesu di kursi. Ia tidak
mengatakan apapun, hanya menatap Zuiju.
Dengan
terkejut Zuiju bertanya, “Kenapa kau kembali?”
--00—
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar