Selasa, 16 Mei 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.56

-- Volume 3 chapter 56 --



Begitu kuda-kuda mulai menggemuk, begitu juga para domba. Hujan di tahun ini sangat baik, rerumputan tumbuh tanpa henti. Domba, sapi dan kuda tidak kekurangan makanan. Mengembala mereka tidak sulit untuk dilakukan karena mudah sekali menemukan tempat untuk mereka makan.

Ze Yin adalah seorang pria yang pernah memimpin pasukan di pertempuran, maka ia sangat kuat dan tidak takut hidup susah. Ia bersama Weiting menanam sayuran dan mencari kebutuhan hidup, sementara Yangfeng menenun kain di waktu bebasnya. Mereka mencukupi kebutuhan dengan mandiri dan melewatkan hari-hari dengan santai.

“Changxiao sudah bisa berjalan sekarang.”

“Berjalan? Kupikir ia akan berlari begitu kakinya bisa menyentuh tanah. Ia tidak bisa diam, kau tidak tahu betapa sulitnya menahannya.”

Pingting telah memberikan anak ini nama yang pas dan anak itu sungguh senang tertawa.

Yangfeng sangat gembira menyaksikan anak itu setiap harinya. “Anak itu selalu gembira, aku heran apa yang membuatnya selalu tertawa.”

Pingting menahan tubuh CHangxiao dan menunju hidungnya, sambil mengomelinya, “Cara berjalanmu belum benar, jangan berlari. Berapa kali kau harus jatuh dan merasakan sakit?”

Ze Qing menyentuh ujung pakaian Pingting. “Gendong.”

Yangfeng segera menarik anaknya ke samping, dan menahan tawanya. “Kau masih begitu kecil, belum waktunya. Bagaimana kalau kau menjatuhkannya?” ia menggelengkan kepalanya dan menoleh pada Pingting. “Aku menyarankan sebaiknya kau membiarkan Changxiao dan Qing Er menjadi saudara. Ia sungguh menyukai dan sangat lengket pada Chanxiao.”

“Mengapa saudara? Mereka selalu bersama dan terlihat seperti saudara kandung bagi orang lain.”

“Bagaimana bisa mereka terlihat seperti saudara kandung? Qing Er berwajah biasa dan terlihat bodoh sedangkan Changxiao terlahir dengan bakat seorang penguasa. Lihat saja mata dan hidungnya, benar-benar jiplakan sempurna dari ….” Nama Zhen Beiwang tersangkut di leher Yangfeng. Ia tahu ia telah mengatakan hal yang tidak seharusnya, hatinya menjadi tidak enak dan ia menatap Pingting.

Pingting sedang bercanda dengan anakknya tapi wajahnya menjadi muram. Tapi akhirnya ia berkata dengan masam. “Bukan hanya mata dan hidungnya, tapi ekspresi wajahnya juga.” Ia mencubit hidung anaknya dan berkata dengan sedikit kesal, “Apa salahnya mirip aku? Mengapa harus mengambil wajah orang itu?”

Anakku apa kau tahu nama Zhen Beiwang?

Panglima Zhen Beiwang yang bernama Chu Beijie.

Ia mampu menggunakan Pedang yang berat, menangkap Jendral musuh yang berada di tengah ribuan prajuritnya, dan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menaklukan dunia. Keberadaannya saja bisa membuat semua orang gemetar.

Ia sangat pintar, berani dan tidak terkalahkan dari seluruh Jendral hebat di dalam medan perang.

Ia seharusnya berada di istana Dong Lin saat ini. Begitu musim gugur berlalu dan musim dingin tiba, akan ada perayaan besar untuk hari kelahirannya.

Tanggal enam, aku masih ingat.

Ulang tahunnya di tanggal enam.

--
Prajurit Yun Chang mengepung perbatasan Dong Lin, membuat istana Dong Lin terbangun dari mimpi indahnya. Mereka akhirnya menyadari, betapa tidak berdayanya mereka tanpa Chu Beijie. Ratu Dong Lin segera menyerahkan bendera komando pada Chen Mu, untuk memimpin pasukan menghadapi He Xia.

Pemimpin pasukan musuh adalah He Xia, Ratu dan juga Chen Mu sangat mengerti, kalau peperangan ini tanpa harapan kemenangan.

Begitu He Xia tiba di perbatasan Dong Lin, ia segera menggumpulkan seluruh Jendral dan memberikan tugas pertama mereka.

“Laporan dari mata-mata di tempat musuh mengatakan, bendera komando diberikan pada Chen Mu dan ia sekarang sudah dalam perjalanan, pasukan Dong Lin akan segera tiba disini. Pasukanku harus mempertahankan tempat ini. Pertama, kita akan menaklukkan Kota Yan Lin. Siapa diantara kalian yang ingin memberikan kemenangan pertama?” begitu He Xia selesai berbicara ia tersenyum dan berkeliling memandang wajah-wajah para Jendralnya yang sudah dikenalnya.

Para Jendral bertempur demi hadiah, siapa yang tidak ingin menjadi orang yang pertama mendapatkannya? Beberapa Pejabat muda sangat berhasrat, tapi Gui Yan yang pertama membuka mulut dan berdiri, “Gui Yan berniat membantu Suami Ratu mendapatkan Kota Yan Lin.”

Sepertinya He Xia telah menunggu lama sekali, mengharapkan Gui Yanlah yang pertama kali mengajukan diri. Ia mendengarkan dengan seksama kata-katanya dan bertanya dengan pelan, “Apakah Jendral muda Gui sudah tahu siapa yang menjaga Kota Yan Lin?”

“Tahu, salah satu Jendral andalan Chu Beijie, Luoshang.”

“Benar.” He Xia mengangguk dengan cepat, ekspresi wajahnya tidak bisa dibaca. “Luoshang seorang Jendral hebat yang dididik langsung oleh Chu Beijie. Ia sangat hebat dalam pertahanan dan memiliki jumlah pasukan yang cukup. Resimen pasukan Yongxiao milik Jendral muda Gui takutnya tidak mampu melakukannya. Kurasa mengirim Resimen Weibei bersama akan lebih baik, agar…”

“Tidak perlu.” Gui Yan menolak dengan penuh keangkuhan. “Aku sudah mengirim mata-mata untuk mengetahui situasi musuh. Jumlah resimen Yangxiao dua kali lebih banyak dari pasukan pertahanan Kota Yan Lin, cukup untuk melakukan pengepungan. Ia hanya seorang Luoshang bukan Chu Beijie, untuk apa Paman Keduaku ikut serta?”

Gui Changning setuju dengan menggerutu, lalu ia berkata dengan keras, “Pertempuran ini seperti memburu ayam dengan sapi besar. Tidak perlu sampai menurunkan dua resiman hanya untuk menyerang kota kecil seperti itu, anda hanya akan menjadi bahan ejekan pasukan Dong Lin.”

He Xia melihat mereka berdua saling membantu, tapi ia sama sekali tidak marah. Ia malah menyetujuinya, “Baiklah kalau begitu, Aku akan menunggu untuk merayakan kabar kemenangan dari Jendral muda.”

Gui Yan mendapatkan kesempatan untuk berjasa. Ia mengingat peringatan ayahnya dan menjadi curiga. Ia membungkuk dan berkata, “Suami Ratu, sebelum aku berangkat, aku memiliki permohonan kecil.”

He Xia bertanya, “Permohonan apa?”

“Kalau terjadi suatu hal diluar dugaan dan di butuhkan pasukan bantuan, tolong biarkan Paman Keduaku yang memimpin.”

Ia sangat muda tapi kata-katanya sangat pas. Dengan ini, ia menyatakan kalau ia khawatir He Xia merencakan sesuatu untuk mecelakainya dan ia juga tidak mempercayai Jendral lainnya.

Jendral lainnya telah lama mengagumi sikap He Xia, dan mereka tidak berniat ikut dalam perseteruan Keluarga Gui yang menentang He Xia dalam kesempatan apapun. Dengan perkataan ini semua Jendral memandang ke arah Gui Yan, seorang anak muda yang berhasil menduduki jabatannya berkat keluarganya.

Jawaban He Xia diluar dugaan semua orang. Ia mengangguk dan berkata, “Permohonan kecil seperti itu, kau bisa memegang janjiku.”

Gui Yan dengan mudah mendapatkan persetujuan He Xia, ia merasa sedikit bingung. Begitu seluruh pembicaraan selesai, para Jendral berhamburan keluar. Gui Yan dan Gui Changning keluar bersama. Gui Changning berkata sambil berjalan, “Aku tidak berharap ia setuju begitu cepat. Tapi, untuk sebuah kota kecil seperti Yan Lin… resimen Yangxiao sudah lebih dari cukup. Untuk apa menyiapkan bala bantuan? Yang dia lakukan seolah membuat kita berhutang padanya. Yan Er kau harus membuat semua orang melihat kemampuanmu dan membawa kemenangan untuk Keluarga Gui kita.”

“Tentu saja.” Gui Yan terkekeh. Setelah berpikir sejenak, dan wajahnya menjadi kaku. “Aku tidak menghawatirkan pasukan pertahanan kota Yan Lin, aku hanya takut kalau… Paman Kedua, aku akan segera berangkat membawa pasukan, kau harus sangat berhati-hati disini. Kau sama sekali tidak boleh….”

“Minum arak, benarkan.” Gui Changning menatap marah padanya, “Apa aku sama sekali tidak bisa di percaya? Aku sudah berjanji pada ayahmu tidak akan minum arak dan mencelakakan semua orang. Jangan khawatir!”

Hari berikutnya, menjelang fajar, Gui Yan memimpin resimennya menuju Kota Yan Lin.

Gui Changning sebagai keluarganya merasa khawatir. Ia mengantarnya sampai keluar perkemahan. Ia berbisik padanya, “Luoshang, adalah orang yang dilatih sendiri oleh Chu Beijie. Kalau kau menemui hal yang tidak terduga, jangan berlagak pemberani, segera kirim orang untuk memberi kabar padaku.”

Gui Yan mengangguk, ia tersenyum penuh percaya diri. “Dan kalau berhasil, aku juga akan segera mengirim seseorang untuk memberi kabar pada Paman Kedua.”

Gui Changning tertawa, “Pergilah, aku menunggu kabar baik darimu.”

Saat sebelum fajar, langit lebih gelap daripada malam. Gui Changning menyaksikan Gui Yan diatas kudanya sampai menghilang, lalu ia berbalik menuju perkemahan.

Di dalam perkemahan pasukan dari resimen lain masih beristirahat dan hanya ada beberapa penjaga yang berpatroli.

Gui Changning berpikir, hari ini tidak ada hal penting lain selain menunggu kabar dari Kota Yan Lin, jadi ia kembali ke tendanya untuk melanjutkan tidurnya. Ia melangkah melewati tenda pasukannya sampai tiba di tendanya sendiri, ia meletakan pedangnya yang berat di tempat tidur dan mulai menguap.


Sebuah tangan muncul dari belakang, tanpa suara, tiba-tiba menutup mulutnya.

“Mmfmm…”

Gui Changning, matanya  terbelak. Bagaimanapun ia cukup berpengalaman dalam peperangan. Ia mengerakan tangannya berusaha meraih pedangnya. Ketika ia hampir berhasil mencapainya kepalanya di pukul dari belakang. Si penyerang memukul dengan keras, tapi karena lawannya cukup kuat, ia harus memukulnya sekali lagi dengan sangat keras sampai akhirnya lawan tidak sadarkan diri tergeletak di tanah.

Begitu ia pingsan, si penyerang menampilkan sosoknya. Ia berpakaian serba hitam dan wajahnya di tutupi kain hitam, menyisakan sepasang mata yang bersinar di dalam tenda yang remang-remang. Ia menmperhatikan Gui Changning yang tergeletak di tanah, sorot matanya menunjukan sikap meremehkan. Ia memeriksa napas Gi Changning lalu mengeluarkan beberapa kendi arak yang telah disembunyikan Gui Changning dengan sangat rapi. Ia mengeluarkan bungkusan obat dari lengan bajunya dan menuangkannya ke dalam botol arak lalu mengocoknya, agar obat dan arak tercampur sempurna.

“Arak ini dipersembahkan untuk kakakmu, Pejabat Senior negara Yun Chang.” Si penyerang menggumankan hal itu. Rupanya ia adalah He Xia, si pemegang kendali di perkemahan.

He Xia membantu Gui Changning yang tidak sadar untuk duduk, membuka beberapa botol dan membuka paksa mulutnya. He Xia benar-benar membenci keluarga Gui dan ia sama sekali tidak berbelas kasihan, ia menghabiskan sembilan kendi arak sebelum akhirnya meletakan Gui Changning kembali ke tempat tidur, dan pergi sambil bersenandung.

Bada, bada, bada bump!

“Minta bala bantuan!” teriak seorang prajurit, di atas kudanya yang berlari kencang.

Siang hari, seekor kuda cepat, berderap dengan kekuatan penuh menuju perkemahan. Si penunggang mengenakan seragam prajurit Yun Chang dan bersimbah darah. Begitu ia tiba di depan gerbang utama, ia menegadah dan berteriak, “Tolong kirim pasukan bantuan! Jenderal Gui Yan meminta pasukan bantuan! Sampaikan pesannya segera!”

Para penjaga gerbang mengenali prajurit itu, ia salah satu orang kepercayaan Gui Yan dan mereka sangat terkejut. Mereka segera membuka pintu gerbang dan membiarkannya masuk.

Begitu berita sampai ke telinga para Jendral, mereka segera berlari ke tenda utama.

“Tolong segera kirim pasukan bantuan! Segera kirim pasukan bantuan!” si prajurit berlari masuk tenda. Ia terjatuh dan bernapas dengan berat.

“Suami Ratu, pasukan kami di sergap diluar Kota Yan Lin. Situasinya sangat kritis, mohon segera kirimkan pasukan bantuan!”

He Xia sudah memperkirakan sebelumnya, tapi tetap saja hal ini membuatnya terkejut. Ia melangkah maju dan bertanya pada si prajurit. “Bagaimana kejadiannya?”

“Ini penyergapan! Jendral Gui Yan membawa kami mendekati Kota Yan Lin, tapi begitu kami tiba disana dua pasukan dari dua arah sudah menunggu, kami diserang serempak dari arah depan dan belakang.”

“Penyergapan? Pasukan siapa?”

“Pasukan itu dipimpin oleh Chu Morang.”

“Bagaimana situasinya saat ini?”

“Pasukan Dong Lin sudah menyiapkan jebakan, dan jumlah mereka lebih banyak dari perkiraan. Pasukan kami tidak cukup cepat bertindak, sehingga banyak jatuh korban. Jendral Gui memimpin kami untuk menyerang, sampai akhirnya kami berhasil mundur ke lembah Heng Lian. Sekarang mereka bertahan mati-matian di pintu lembah. Jendral memerintahkan aku, mencari jalan sendiri untuk menyampaikan pesan. Suami Ratu, pasukan musuh menekan kami habis-habisan dan para prajurit yang tersisa tidak akan mampu bertahan lama, tolong segera kirim bantuan!”

Setelah mendengar pasukan pertama yang dikirim untuk menyerang Dong Lin telah di sergap, seluruh Jendral Yun Chang terlihat berekspresi muram.

“Segera kirim pasukan bantuan!” He Xia menghentikan ketegangan dan memandangi semua yang berada di dalam tenda, “Hm? Dimana Jendral Gui Changning?”

Beberapa Jendral sudah menyadari ketidakhadiran Gui Changning. Dan sekarang setelah He Xia bertanya, mereka memerintahkan seorang prajurit untuk mencarinya. Seorang Jendral bertanya, “Mengapa Jendral Gui Changning belum datang ?”

Seorang prajurit yang disuruh mencari ke tenda Gui Changning segera melapor, “Jendral Gui sangat mabuk, dan tidak mau bangun meskipun aku sudah memanggilnya.”

Gui Changningsudah terkenal sangat menyukai arak. Mendengar hal itu, semua yang berkumpul saling mengerutkan dahi.

“Ayo kita lihat.”

He Xia memimpin para Jendral menuju tenda Gui Changning. Ketika ia membuka tirai, tercium bau arak yang menyengat.

Mereka melihat kendi-kendi arak berserakan dan dalam keadaan kosong. Tubuh Gui Changning sepenuhnya bau arak, ia tergeletak di tempat tidur dan dengkurnya seperti guntur.

Beberapa prajurit yang berada disisi tempat tidur menjadi pucat dan berkeringat dingin, mereka memanggil-manggil namanya untuk membangunkannya, “Jendral, Jendral, Bangunlah! Jendral Gui Yan membutuhkan pasukan bantuan!”


He Xia berkata pelan, “AKu sudah berjanji pada Jendral Gui Yan, kalau ia membutuhkan bantuan hanya akan mengirim Jendral Gui Changning, sekarang apa yang harus kita lakukan?” Ia segera memerintahkan para prajurit yang disana, “Siram dia dengan air dingin, dan gunakan cara apa saja untuk membangunkannya!”

Para prajurit itu sangat mengerti kalau situasi saat ini sangat genting. Mereka segera membawa air dan menyiramnya, membasahi muka dan kepala Gui Changning.

Tapi, bagaimana mungkin Gui Changning bisa tersadar, setelah dipaksa meneguk arak begitu banyak beserta obat tidur? Ia tetap mendengkur.

Si pengirim pesan yang telah berjuang mati-matian untuk menyampaikan pesan adalah teman sejak kecil Gui Yan. Ia diam-diam menyalahkan Paman Kedua Jendralnya karena telah menjadi orang yang mengecewakan, akhirnya ia berlutut pada He Xia dan memohon, “Suami Ratu, tolong kirim Jendral yang lain!”

Wajah tampan He Xia menunjukan ekspresi gelisah tapi ia menggelengkan kepalanya, “Janji seorang pria harus di tepati. Jendral Gui Yan cukup pintar, ia meminta hanya Jendral Gui Changning yang boleh memimpin pasukan bantuan. Ia pasti memiliki alasan sendiri, dan karena aku sudah menyetujuinya, aku tidak bisa menarik kata-kataku sendiri.”

Mendengar itu si prajurit hampir menangis, ia berjalan mendekati Gui Changning dan mulai menampar pipinya di kanan dan kiri beberapa kali. Ia berteriak, “Bangun! Bangun! Apa kau ingin Jendral mudaku mati?”

Gui Changning setelah beberapa kali tamparan tetap tertidur tapi dengkurannya berhenti.

Para Jendral tidak pernah menilai baik atas sikap Gui Changning selama ini. Mereka curiga kalau jabatan tinggi yang ia miliki saat ini adalah berkat keluarganya. Dengan keadaan saat ini, mereka semua luar biasa kecewa padanya.

Si prajurit tak bisa berbuat apapun lagi, dan ia sangat putus asa. Ia berlutut sekali lagi di depan He Xia sambil bersujud sampai kepalanya menyentuh tanah berkali-kali. “Suami Ratu, Suami Ratu, nasib Jendralku berada di tanganmu. Aku mohon padamu, tolong kirimkan pasukan bantuan!” lalu ia berbalik bersujud pada Jendral yang lainnya, “Jendral semuanya, aku memohon pada kalian. Di pintu lembah, panah Dong Lin seperti hujan. Para prajurit yang bertahan adalah anak-anak Yun Chang. Para Jendral, aku mohon berbelas kasihanlah dan yakinkan Suami Ratu untuk….”

Prajurit ini telah berjuang mati-matian untuk keluar dari situasi disana. Tubuhnya penuh darah dan debu. Dengan ia bersujud sampai seperti itu, wajahnya pun dipenuhi darah dan ia terlihat mengerikan.

Mental seluruh Jendral telah menjadi kuat karena peperangan. Meskipun mereka tidak menyukai Gui Changning tapi mereka tersentuh melihat prajurit setia ini.

He Xia melihat tatapan para Jendral terarah padanya dan ia cukup pintar untuk menyadari, peperangan berikutnya akan dilakukan bersama para Jendral ini. Ia tidak bisa menolak lebih lama lagi. Sebelum mereka sempat bersuara, ia bertanya, “Siapa diantara kalian yang bersedia pergi dan menolong mereka?”

Mereka semua bertukar pandang dan tak lama kemudian, Jendral Qing Tian dari Resimen Shuitai melangkah maju. “Aku bersedia.”

“Baiklah, kalau begitu Jendral Qi segera berangkat dan selamatkan Jendral Gui Yan.”

Misi menyelamatkan seperti memadamkan api. Sudah banyak waktu terbuang untuk membangunkan Gui Changning dari mabuknya. Qing Tian dengan segera menyiapkan pasukannya.

Sekitar hampir setengah jam kemudian mereka berangkat. Seorang prajurit datang melapor ke tenda utama, “Suami Ratu, Jendral Gui Changning akhirnya bangun.”

He Xia dan beberapa Jendral lainnya masih membicarakan strategi perang. Ketika ia mendengar laporan itu ia berkata dengan dingin, “Ikat dia.”

Beberapa orang kepercayaan He Xia segera pergi ke tenda Gui Changning. Mereka segera menyeret Gui Changning yang baru saja tersadar dan masih linglung lalu mengikatnya dengan kuat. Mereka telah diperintahkan He Xia sebelumnya untuk menyumbat mulutnya juga dengan kain, agar ia tidak membuat mental pasukan menjadi gelisah karena teriakannya.

Seluruh orang kepercayaan Gui Changning sudah tahu situasi saat ini. Mereka tahu Suami Ratu sangat marah dan tidak berani menghentikannya. Mereka justru merasa malu jika melakukannya, jadi mereka hanya menyaksikan dengan diam melihat Jendral mereka di ikat.

Setelah siang, Jendral Qing Tian kembali, tubuhnya berbalut debu.

Ia kembali bersama Gui Yan yang sudah menjadi mayat, ia melapor pada He Xia, “Aku sedikit terlambat, Begitu kami tiba, pasukan Dong Lin sudah mundur dan resimen Yongxiao tidak tersisa satupun yang  hidup. Jendral Gui Yan mati di tempat.”

Selusin panah tertancap di mayat Gui Yan. Terlihat mengerikan, bahkan mereka yang telah menyaksikan peperangan tak berani membayangkan betapa dahsyatnya pertempuran mereka.

“Kalau saja ia mendengar… kalau saja resimen Yongxiao dan Weibei pergi bersama, ini tidak akan terjadi…”

He Xia merasa terpukul sejenak lalu ia menjadi marah, “Masalah ini menyebabkan kerugian pada pasukan kita. Bagaimana aku akan menjelaskan pada Putri? Seseorang bawa Gui Changning kemari!”

Gui Changning didorong masuk, terikat dan mulutnya tersumbat. Ia telah di ikat begitu tersadar dan sama sekal tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi. Awalnya ia hendak marah pada He Xia, tapi ia sama sekali tidak menyangka suasana di dalam tenda akan begitu suram. Ekspresi semua orang sangat kacau. Bau darah tercium di udara. Sebuah mayat tergeletak di tanah. Tubuhnya terbalut darah dan ia mengenakan seragam Yun Chang.

Ia memperhatikan dengan lebih seksama, kepalanya serasa dipukul dengan keras dan ia merasa hampir pingsan.

“Gui Changning, sebagai Jendral penting Yun Chang dan bertanggung jawab atas resimen Weibei, apa yang ingin kau katakan setelah melanggar peraturan militer dengan minum arak sampai kau mabuk di tendamu, menyebabkan misi penyelamatan tertunda sehingga resimen Yaoxiao musnah.”

He Xia memberikan isyarat pada seorang prajurit untuk membuka sumpal mulutnya. Gui Changning menatap keponakannya yang beberapa saat lalu masih hidup dan mengucapkan kata-kata gurauan. Ia merasa dunia berputar di depannya, kepalanya seperti di sambar petir berkali-kali. Ia berkata dengan berbisik, “Bagaimana… bagaimana ini bisa terjadi…”

He Xia berteriak, “Gui Changning, apa kau mengakui kesalahanmu?”

Tubuh Gui Changning bergetar dan ia mendongakkan kepalanya, “Tidak, aku tidak mimum, aku tidak minum arak! Aku tidak bersalah!”

Para Jendral telah menyaksikan sendiri ia tertidur pulas dengan bau arak yang menyengat. Melihatnya menyangkal kebenaran membuat mereka memandang rendah padanya. Mata mereka tidak bisa menyembunyikan hal itu.

“Berani sekali kau menyangkal, dengan tanpa bersalah. Aku tidak berani menghadap Putri kecuali kau terbunuh. Prajurit! Bunuh dia!”

Gui Changning menyadari situasinya sangat genting. Ia berteriak, “Aku tidak bersalah, aku tidak minum! Keluargaku adalah pejabat penting di Yun Chang dari generasi ke generasi. Pengabdian kami pada Yun Chang tidak terhitung. He Xia, kau tak bisa membunuhku! Aku akan mengadukanmu pada Putri!”

“Dibawah bendera komando, dan wewenang atas tiga resimen, apakah masih belum cukup untuk membunuhmu?” He Xia tertawa dingin. Dan berteriak, “Prajurit, bawa dia keluar.”

Para prajuritnya telah mempersiapkan segalanya. Mereka membawakan nasi untuk Gui Changning. Dan tak lama kemudian wajah Gui Changning yang marah di angkat ke atas terlepas dari tubuhnya.

Seorang Jendral bertanya pada He Xia, “Pertempuran di Kota Yan Lin berakhir kalah, satu dari tujuh resimen Yun Chang telah hilang. Sekarang, bagaimana Suami Ratu berencana untuk menyerang Dong Lin?”

“Kita tidak akan menyerang Dong Lin.”

“Suami Ratu bermaksud..…”

“Kita akan kembali ke ibukota.”

Semua Jendral terkejut, tapi Dongzhuo sudah tahu rencana lain He Xia, jadi ia hanya tenang saja berdiri di sampingnya dan ekspresi wajahnya biasa saja.

“Sekarang, setelah satu resimen Yun Chang hilang karena permasalah di dalam Yun Chang sendiri, dan bukan karena kekuatan pasukan Dong Lin, bukankah ini berarti sekarang bukan saatnya untuk menyerang pasukan lain?” He Xia melanjutkan, “Pasukan Dong Lin saat ini, bukan masalah untukku. Kalian semua yang berada di sini penuh ambisi. Aku berharap, kalian bersedia membantuku menyelesaikan masalah internal terlebih dahulu sebelum mengirim pasukan, keluar, untuk menaklukan dunia.”

Mereka semua adalah orang-orang pintar, sehingga mereka segera mengerti maksud He Xia sebenarnya. Semua orang tahu He Xia telah menjadi Suami Ratu, tapi keluarga Gui selalu melakukan segala cara untuk mengekangnya. Sekarang setelah kejadian ini, kesempatan untuk menyingkirkan keluarga Gui terbuka lebar.

Tiba-tiba di dlaam tenda menjadi sunyi.

He Xia tersenyum, “Jangan khawatir. Jika kalian ada sesuatu yang ingin dikatakan, sampaikan saja.”

Rencana kecil ini, memang untuk tujuan menghancurkan kekuasaan keluarga Gui. Dan sekarang setelah hal itu berhasil. He Xia menatap setiap orang dengan tenang dan ramah, membuat jantung mereka berdebar agak kencang.

“Menyia-nyiakan keringat atau darah tidak masalah. Kami para Jendral hanya khawatir akan menjadi malas. Mengurung kami di dalam ibukotapun tidak masalah, Suami Ratu bisa memikirkan langkah selanjutnya.” Qing Tian berkata, setelah sebelumnya ia agak ragu untuk mengatakannya, tapi akhirnya ia mengumpulkan seluruh keberaniannya.

Dan para Jendral lainnya setuju dengan perkataannya.

Suami Ratu jelas-jelas berniat membungkam keluarga Gui, tapi cara apa yang akan digunakannya? Para Jendral khawatir mereka tidak akan jadi berperang. Gui Changqing selalu menghindari peperangan dan hal itu selalu bertentangan dengan mereka yang berada disisi militer. Kalau Suami Ratu, seorang Jendral yang memiliki kekuasaan dan wewenang yang cukup kuat, ia pasti akan memihak kepentingan militer.

Para Jendral saling bertukar pandang dan akhirnya membuat kesepakatan untuk berada di sisinya. Dengan serentak mereka berkata. “Kami semua akan patuh pada perintah Suami Ratu!”

“Bagus.” He Xia mengangguk. “Kalau begitu, para Jendral semua kita akan segera berangkat untuk kembali ke ibukota bersamaku.”

--

Yun Chang, Kota Qierou.

Sekarang sudah waktunya pepohonan willow bersemi, tapi musim itu tidak tiba di ruangan itu. Entah musim dingin atau musim panas, yang bisa dilihat hanya tembok di empat sisi dan jendela.

Suara gembok terbuka dan sesosok pria berjalan masuk, Fanlu.

“Mengapa kau tidak makan lagi?”

“Tidak suka.” Hidangan telah di tersedia di atas meja, tapi sepertinya sama sekali tidak tersentuh. Zuiju duduk di atas tempat tidur, kepalany tertunduk sambil merapikan baju di pangkuannya.

Fanlu menghela napas dan berkata, “Sudahlah.”

Pria itu menyerah begitu saja, dan itu membuat Zuiju terkejut. Pria ini memperlakukannya seperti babi, menguncinya di sebuah ruangan dan terus memberinya makan. Kalau ia tidak menghabiskan makanannya, pria itu akan melakukan apa saja sampai akhirnya ia dengan terpaksa menghabiskannya. Tapi kenapa hari ini tiba-tiba berubah?

“Hei…”

Fanlu berhenti. “Kenapa?”

Zuiju berjalan maju dan menatapnya tajam, “Apa yang terjadi?”

“Bukan urusanmu.” Perkataan itu membuat Zuiju marah, tapi Fanlu sudah menebaknya.

Zuiju terkejut sesaat. Dan ia berguman, “Mencoba bersikap congkak? Anggap saja aku tidak bertanya.” Ia berbalik, kembali ke tempat tidurnya dan melanjutkan merapikan bajunya sambil berkata, “Kalau kau memang tidak berani melepaskan aku, setidaknya ijinkan aku menulis surat untuk guruku. Kau bisa menganggap aku sedang memohon padamu. Tapi jangan lupa, aku penyelamat hidupmu.” Ketika terdengan suara gembok, Zuiju segera menoleh dan ia melihat Fanlu sudah pergi. Pintu itu terkunci lagi. Zuiju sangat marah, “Si berengsek itu, suatu hari aku akan menjadikanmu umpan para serigala.”

Zuiju berbalik lagi untuk merapikan bajunya dan menyimpannya di lemari.

Ruang tempat Zuiju tinggal tidak sepenuhnya berubah. Seprei tempat tidur diganti secara berkala. Motifnya dipilih langsung oleh Fanlu. Dan terlihat sangat indah. Beberapa bulan lalu, Fanlu membawa lemari untuk pakaian, dan setelah itu : meja rias, kotak perhiasan, pemerah pipi, bedak, dan peralatan merias wajah yang lainnya.

Gantungan mantel, lonceng angin, cermin perunggu, sekat ruangan berwarna hijau, selimut sutra, secara keseluruhan benar-benar ruangan seorang Nona, kalau saja tanpa rantai dan gembok terkunci di pintu luarnya.

Pria itu datang dan pergi, meninggalkan sebuah benda kecil setiap kali datang. Ia tidak pernah memberikannya secara langsung pada Zuiju, ia selalu mengejeknya sampai Zuiju kesal. Dan pada akhirnya Zuiju menyadari sebuah benda tertinggal, seperti tusuk rambut perak atau sebuah boneka cantik ketika pria itu menghilang di balik pintu.

Zuiju telah di kurung cukup lama dan ia merasa sudah cukup muak dengan itu. Ia sangat tersiksa untuk bisa melihat orang lain, meskipun itu hanya seorang pria menjengkelkan seperti Fanlu. Sudah dua hari, Fanlu datang dan pergi dengan cepat, membawakan makanan atau membereskannya. Zuiju tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi dan ia sangat gelisah.

Klik.

Pintu terbuka dan Zuiju menoleh ke arah sana.

Fanlu berdiri di muka ruangan, melangkah masuk dan duduk lesu di kursi. Ia tidak mengatakan apapun, hanya menatap Zuiju.

Dengan terkejut Zuiju bertanya, “Kenapa kau kembali?”

--00—



Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar