Minggu, 22 November 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.22

-- Volume 1 chapter 22 --

Udara sangat panas, dan keringat terus bercucuran dari wajahnya.

“Berikan Pingting kesempatan terakhir. Biar Pingting membuktikan padamu kebenarannya, bahwa Pingting takkan pernah apapun untuk menyakitmu.”

Ia berada di dalam lengannya dan tersenyum.

“Pingting tidak berani melukaimu, dan takkan pernah melukai orang-orang di sekelilingmu.”

“Aku akan menunggumu di Dong Lin.”

Ayo bersumpah pada bulan...

Takkan pernah bermusuhan satu sama lain....

“Geez geez, Chu Beijie, kau sungguh seorang idiot!” dan tawa getir melengking terdengar di telinganya.

Rasanya seperti seseorang telah membuka kulit tengkoraknya, menyobek urat-urat syarafnya dengan paku, dan mengigitnya denga gigi yang sangat tajam.

Sebuah mimpi, ini seharusnya hanya sebuah mimpi.

Terlalu panas, seperti di dalam lava gunung berapi.

Ini hanya mimpi, tapi ia tak bisa terbangun. Pingting masih bermimpi, perlahan mengunyah buah berry liar. Sepertinya buah itu masak sempurna dengan warnanya yang merah, tapi yang ini lebih pahit daripada yang sebelumnya. Sangat tidak karuan.

Kenapa begitu pahit?

Kenapa buah ini sepahit ini?

Ini mimpi, mimpi yang tidak bisa terbangun darinya.

Sebuah kereta kuda mewah berderap menuju rumah. Tidak ada bendera Jendral di atasnya dan para penonton Bei Mo yang penasaran tidak tahu bahwa, orang yang telah menyelamatkan negara mereka berada di dalamnya – seorang wanita, seorang wanita yang bahkan bukan bagian dari Bei Mo.

Ia pernah menjadi bagian dari Gui Li, dan Dong Lin mungkin, tapi sekarang ia tidak lagi menjadi dirinya sendiri.

“Aku menunggumu di Dong Lin.”

Menunggumu...

Percakapan mereka dan mata yang penuh cinta, sangat lembut di malam bulan terang.

Tapi, itu hanya mimpi, sebuah mimpi yang kau harap tidak pernah terbangun.

Tapi ia harus bangun, untuk melihat siapa yang mengacaukannya. Mengacaukan seorang Bai Pingting dengan mudahnya. Mengacaukan segala yang ia tunggu dengan susah payah.

Ia mengertakan giginya dan berjuang dengan segala kebenciannya untuk bangun, berusaha untuk membuka matanya yang terasa berat, sangat berat, sedikit demi sedikit.

Cahaya menyelinap kelopak matanya, terasa menusuk. Ia membuka lebar kedua matanya, mengumpulkan semua kekuatannya untuk menatap seseorang yang berada di depannya, terus berusaha menatapnya sampai matanya serasa pecah.

Istri Jendral Utama, Yangfeng.

Ia telah kembali ke kediaman Yangfeng, berbaring di tempat tidur dimana ia pernah berbincang semalam penuh denganya. Bantal sutra yang halus, masih tetap indah seperti dulu.

Yangfeng yang telah menunggu disisinya selama beberapa hari, sangat ingin melihat Pingting membuka matanya tapi, ketika ia melihat ekspresi di wajahnya, tiba-tiba ia merasa takut dan gemetar. “Pingting, kau akhirnya sadar.” Kata-kata itu biasanya mudah di ucapkan, tapi kali ini tersumbat di lehernya setelah melihat raut wajah Pingting.

“Kepada siapa kau memberikan obat itu?” Pingting bersuara dengan serak.

“Raja...”

“Apa Raja menemui seseorang setelah mendapatkannya?”

Yangfeng mengigit bibirnya, dan tiba-tiba bertanya, “Kenapa kau bilang itu hanya obat bius? Walaupun tidak bisa menyebabkan kematian bagi seorang dewasa dengan tubuh yang kuat, tapi cukup untuk membunuh seorang anak. Bahkan tidak diperlukan sebanyak itu, sedikit saja sudah cukup.”

Hati Pingting serasa di lilit dan jari-jarinya yang kurus gemetar menyengkram jantungnya. Ia menutup matanya beberapa saat, lalu membukanya lagi, mengumpulkan keberanian untuk bersuara. “Jadi kau memberikan obat itu untuk meracuni kedua pangeran agar meninggal? Yangfeng, apa kau begitu kejamnya? Tidakkah kau berpikir untuk lebih banyak berbuat kebaikan agar anakmu yang akan lahir mendapat kehidupan yang penuh berkah.”

Kata-kata ini menusuk Yangfeng, ia mengelus perutnya yang besar sambil mengambil dua langkah mundur. Ia terduduk diatas lututnya, airmatanya berurai. Dengan suara pelan ia berkata, “Aku membawa obatnya ke istana, tapi Raja memanggilku setelah beberapa saat kemudian. Ia bertanya apakah aku tahu kalau obat itu bisa meracuni anak kecil. Raja berkata, kalau hanya membuat Raja Dong Lin koma tidak akan menyebabkan kekacauan berarti untuk Dong Lin, tapi kalau kedua pangerang mereka mati, maka mereka akan kacau untuk beberapa tahun. Pingting, aku di tahan di istana, tidak bisa memberikan kabar apaapun. Sungguh, tidak bisa memberi kabar apapun! Ze Yin.... Ze Yin juga tidak berada di Bei Yali....” ia telah berada dalam ketakutan dalam beberapa hari dan saat ini ia tidak bisa menahannya lagi. Ia mulai menagis.

“Yangfeng,” Pingting berusaha bangun dan duduk dengan susah payah, rambut hitamnya terjuntai di satu sisi wajahnya yang kurus. Ia berusaha untuk turun dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah Yangfeng, lalu menekan pundaknya. Ia menatapnya dan bertanya, “Yangfeng, siapa yang memberitahu Raja Bei Mo tentang hal itu? Katakan, kau tahu – ya kan?”

“Aku...” Yangfeng menatap mata Pingting dengan matanya yang berlinang airmata. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, “Jangan bertanya, Pingting.... jangan bertanya.”

Pingting menatap Yangfeng agak lama, matanya tiba-tiba bersinar, akhirnya ia mengerti. Ia berbalik, tatapannya tidak lagi menusuk, hanya kesedihan dan ketidakpercayaan yang tertinggal dimatanya. Ia menahan napasnya, dengan ragu-ragu mengucapkan dua kata, ‘He Xia?”

Yangfeng tak bisa berkata, hanya menatap kejauhan.

Tangan Pingting yang memegang pundak Yangfeng terlepas dan memegang lututnya sendiri. Bibirnya yang sudah pucat gemetar agak lama, sampai akhirnya ia tersenyum. “Benar, selain dia siapa lagi yang tahu kegunaan obat itu? Kami berdua yang meracik obat itu bersama.”

Ia masih agak pusing beberapa saat, tapi kemudian sesuatu mengingatkannya dan ia berusaha berdiri. Yangfeng berusaha membantunya, tapi Pingting dengan lembut menolaknya, ia menggunakan kursi untuk membantunya berdiri. “Siapkan kuda.”

Yangfeng melihat kalau Pingting bahkan tidak bisa berdiri dengan stabil, ia menatap dengan heran, dan bertanya dengan hati-hati, “Kau mau kemana?”

“Bertemu He Xia.” Gigi Pingting yang putih bergemertak pelan dan tatapannya pada kejauhan. Suaranya bergaung ketika berkata, “Aku ingin bertanya sendiri padanya.... kenapa ia melakukan ini padaku?”

Yangfeng diam beberapa saat, dan akhirnya menghela sedih. “Kau tak perlu pergi untuk mencarinya. Ia berada disisni saat ini. Sejak kau kembali, ia telah menunggu kau tersadar.”

--0--



novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.21

-- Volume 1 chapter 21 --

Suara angin, mendera keras telinga mereka. Mata Pingting tertutup rapat, tapi ia masih bisa merasakan tangan Chu Beijie mendekapnya erat-erat. Walaupun Chu Beijie jatuh setelah Pingting, tapi ia berhasil menangkap Pingting sehingga punggung Chu Beijielah yang menghadap daratan.

Ada beberapa kali suara dahan patah sepanjang mereka terjatuh melewati pepohonan hutan yang lebat. Cabang-cabang pohon terlihat berterbangan disekitar mereka.

Di tengah hutan lebat, yang dipenuhi pohon yang telah tumbuh berabad-abad, suara patahan masih berlangsung, dan kecepatan jatuh mereka mulai berkurang sedikit demi sedikit. Pingting dan Chu Beijie saling mengeratkan pelukan mereka, menolak untuk terpisah, karena mereka tahu kalau sebentar lagi akan menyentuh dataran dan entah mereka akan selamat atau tidak.

Dan kalau mereka mati, paling tidak, mereka mati bersama.

Dug! Dug! Dua kali suara teredam terdengar dari kesunyian hutan. Tidak terdengar suara tulang patah ketika mereka menyentuh tanah, hanya dua suara aneh tadi. Dan sepertinya tanahnya lumayan lembut, seperti kapas sehingga menggurangi benturan jatuh mereka.

Pingting dan Chu Beijie membuka mata mereka, tidak berani berpikir kalau mereka berhasil selamat. Mereka berdua melihat sekeliling dan akhirnya berteriak, “Ahh!” masih dalam keadaan terkejut dan gembira. Disekitar mereka tumbuh buah berry yang tidak diketahui jenisnya. Agak jauh dari sana terdapat bunga yang mekar dengan bebas, dan buah-buah berry itu, tidak ada yang pernah memetiknya sehingga mereka berjatuhan ke tanah. Tahun demi tahun, lapisan berry liar dan daun semakin meninggi. Dan pada tahun ini, berry liar telah matang, dan sekali lagi berjatuhan di tanah yang membuat lapisannya semakin tebal dan cukup untuk menyelamatkan mereka.

Dedaunan yang terbujur nyaman di tanah, seperti bantal empuk untuk mereka mendarat dan selamat, seperti yang sudah di gariskan takdir.

Pingting tersenyum manis pada Chu Beijie, saat ini mereka berada di tempat yang belum terjamah oleh seorangpun. Tapi sudut mulut Chu Beijie sama sekali tak bergerak, malah membeku dan menampakkan ekspresi aneh.

Melihat prilakunya, wajah Pingting menjadi keras dan berusaha menebak pikiran Chu Beijie.

Sepertinya Chu Beijie memikirkan sesuatu dan ekspresi wajahnya semakin mengelap. Dan, karena lapisan tempat mereka mendarat sepertinya ditutupi embun dingin, ia berputar ketempat yang lebih rendah untuk beristirahat.

Pingting memandanginya ketika ia bergerak menjauh. Ia melihat Chu Beijie melepaskan ransel perangnya dan melihat darah segar menetes ke tanah, dari lengan kanannya. Hal ini mengejutkannya dan Pingting segera menghampirinya, kepalanya tertunduk karena khawatir. “Aku akan membantumu,” ia berbisik.

“Pergilah.” Chu Beijie menggerutu dengan dingin dan kasar. Chu Beijie mendengar Pingting terkejut dan mundur selangkah, tapi matanya tetap menatap ke arahnya. Chu Beijie mengabaikannya dan mengeluarkan obat-obatan dari ranselnya yang selalu disimpannya, untuk berjaga-jaga ketika keadaan darurat. Ia mengoleskannya disekitar lukanya, menggertakkan giginya menahan sakit lalu membalutnya.

“Jalur Lembah Awan...” Pingting tahu Chu Beijie sedang marah sehingga ia berkata dengan suara pelan, “Akulah yang memerintahkan, untuk menghentikanmu, agar tidak bisa mencapai perkemahan kami, maaf, aku lupa memperingatkanmu.”

Chu Beijie sepertinya tidak mendengarkan. Kepalanya tertunduk juga, dan ia masih berkutat membalut lukanya.

“Sebelumnya, dua pasukan sedang berperang, dan aku sebagai penasihat utama militer harus menentukan sebuah rencana. Aku... siapa yang bisa menebak, kalau kau akan pulang, melewati jalur yang sama....”

Chu Beijie menyentakkan kepalanya, matanya yang tajam menusuk Pingting. Dengan suara dingin, ia berkata, “Datang atau pulang, aku akan melewati jalur itu. Jadi rencanamu yang sebenarnya adalah ..... membunuhku. Bagus, bagus sekali.” Ia menatap Pingting dengan lebih menusuk. Bagaimana ia tidak marah, pertama ia merasa sangat gembira, kemudian menyadari bahwa ia mungkin saja dibunuh oleh orang yang sama, orang yang sangat dikasihinya?

Ia sudah berhenti mengatup giginya, tapi digantikan senyum dingin ketika berkata lagi. “Mari bersumpah pada bulan, tidak akan pernah saling bermusuhan....”

“Hah....” Ia menggulangi dua kali, lalu menengadahkan kepalanya dan tertawa keras, penuh kepedihan. “Geez geez, Chu Beijie, kau sungguh bodoh!”

Pingting membeku mendengar kata-katanya. Kemarin, ketika diatas ia berada di atas bangunan yang paling tinggi dan menatap ribuan pasukan musuh seorang diri, ia tidak merasa dingin sama sekali. Wajahnya menjadi pucat pasi, dan ia berkata, “A...ku aku....” Ia telah memerintahkan Rouhan untuk memutus jalur Lembah Awan, tapi ia tidak berharap Rouhan akan tetap membuatnya terlihat baik-baik saja sehingga pasukan musuh akan melewatinya tanpa curiga dan menuju kematian. Tapi bagaimanapun, kalau kau sebagai Rouhan, membunuh atau melukai semakin banyak prajurit musuh sangat diperlukan ketika perang, maka hal ini bisa dimengerti.

Pingting berkata lagi, “Aku.....” jeda agak lama. Menatap Chu Beijie, airmata mengalir melewati pipinya, tapi ia tetap tak mampu mengeluarkan sepatah katapun.

Bulan mengantung tinggi di langit, hutan sangat tenang. Lutut Pingting gemetar. Menyandar pada sebuah pohon agar tidak terjatuh, lalu pelan-pelan ia duduk, dan berbisik, “Kau pasti kedinginan karena lukamu. Apa sebaiknya aku menyalakan api?”

Chu Beijie duduk juga, di pohon yang bersebrangan. Ia menatap ke kejauhan tanpa ekspresi. “Ketika kau menyalakan api, aku ingin tahu siapa yang lebih dulu menemukan kita, pasukanku atau pasukan Bei Mo.”

Pingting seperti terkena pukulan di dada. Sangat sakit sehingga ia tak mampu lagi berkata. Matanya berlinang sekali lagi dan ia menahannya mengalir dengan sulit. Hatinya seperti meleleh, ketika memikirkan kalau Chu Beijie menganggapnya seperti seekor ular beracun. Ia menghapus airmatanya dengan lengan bajunya lalu berdiri dan berbalik pergi.

“Kau mau kemana?” Chu Beijie mendengarnya pergi, walaupun ia tak mau menatapnya dan suaranya masih terdengar dingin.

Pingting menghela napas, “Sudah pasti bukan, aku pergi mencari pasukan Bei Mo.” Tidak menunggu balasan Chu Beijie, ia segera berjalan pergi tanpa ragu-ragu.

Chu Beijie mendengus dan akhirnya menatap ke arahnya setelah ia pergi.

Dalam kegelapan, sebuah sinar terlihat dari sebuah jepit rambut panjang yang di selipkan di rambutnya yang lembut. Yangfeng memberinya sebuah tusuk rambut, terbuat dari giok, yang sangat mahal dan halus.

Chu Beijie melihatnya membungkuk tak jauh dari sana, disekitar semak-semak, dan ia diam-diam merasa lega karena Pingting tidak pergi terlalu jauh. Didalam hutan, banyak binatang buas dan tanaman beracun, artinya kebanyakan orang tidak akan mampu berhasil keluar dengan selamat. Karena memikirkan itu, kemarahannya sedikit berkurang dan pandangannya tak mau melepaskan Pingitng.

Tak lama kemudian, Pingting berjalan kembali, tas ranselnya penuh dengan berbagai macam buah dan tanaman, dan ia meletakkannya di depan Chu Beijie. Ada beberapa buah matang dan akar pohon yang entah apa namanya. Chu Beijie telah kembali ke sikap acuhnya.

Pingting duduk dan mengambil sebuah buah. “Ada cukup berry liar di hutan untuk mengisi perut kita, tapi, karena aku berniat membunuhmu, lebih baik kalau kau tidak memakannya.”

Chu Beijie tidak menjawab, maka Pingting mengambil akar pohon yang baru saja ia kumpulkan. “Tentu saja akarnya juga beracun, lebih baik kalau kau tidak memakannya juga. Jauh lebih baik menjadi seorang Jendral berlengan satu daripada dibunuh oleh seorang wanita berhati iblis.”

Pingting mencibir dengan menyebalkan, tapi Chu Beijie tetap tidak bereaksi, dan ia segera kehilangan semangatnya. Ia terdiam, mengunyah beberapa berry tapi kemudian membuang karena terasa pahit di mulut. Ia duduk kembali di pohon.

Angin hutan bahkan lebih dingin ketika malam, membekukan hati seseorang.

Mereka berdua sangat diam dan saling membuang muka. Pingting menatap kakinya, dan Chu Beijie menghadap utara. Mereka hanya terpisah jarak beberapa langkah, tapi seperti rasanya seperti terpisah ribuah kilo. Tak peduli seberapa keras mereka mencoba, mereka tak bisa mendekat dan merasa putus asa.

Apa yang terjadi sebelumnya seperti sebuah mimpi. Dan jika itu memang mimpi, mereka bangun terlalu cepat.

Mata Pingting mengerjap menahan kantuk tapi ia menolak untuk terlelap, walaupun kedua matanya sangat menginginkannya. Disudut matanya Pingting memperhatikan Chu Beijie yang sama sekali tidak bergerak. Mengerjap lagi, airmatanya mengalir dalam diam. Awalnya ia berusaha menghapusnya tapi kemudian ia membiarkannya saja. Biarkan mereka jatuh, pikirnya, sepertinya bisa menggurangi sakitnya sedikit.

Chu Beijie memasang teliganya mendengarkan Pingting. Hatinya bergetar mendengarnya menangis, tapi ia tetap bertahan untuk tidak menoleh, ia mengutuk dirinya sendiri karena menjadi bagian dari Kerajaan Dong Lin yang memiliki kekerasan hati. Beberapa saat kemudian, ia mendengar sebuah suara batuk yang tertahan. Sepertinya Pingting menutup mulutnya, berusaha batuk tanpa suara. Dan Chu Beijie dengan perlahan berbalik, tak mampu berkeras hati lagi. Ia menarik jubahnya yang sudah kering oleh angin dan melempar pelan. Jubahnya terbang dan mendarat dengan tepat di dekat Pingting.

Pingting membeku dan menatap jubah itu, sepertinya itu adalah benda aneh yang belum pernah di lihatnya sebelumnya. Setelah beberapa saat, ia memakainya di pundaknya. Mata sedihnya menatap Chu Beijie dan ia mengigit bibirnya lalu berdiri. Ia mengambil akar-akar yang tadi dikumpulkannya dan bergerak perlahan mendekati Chu Beijie.

Pingting kesulitan menyentuk tangan kanan Chu Beijie yang di perban dengan berantakan. Pria ini hampir tidak pernah terluka dan sangat kikuk ketika membalutnya.

Tubuh Chu Beijie terasa kaku dan pandangannya sangat gelap. Dan yang mengejutkan, ia tidak bersuara juga tidak beraksi. Pingting menghela napas lega, ia melepaskan balutannya yang berantakan. Mencari sebuah batu, menumbuk akar-akar tadi lalu melumurkan dan meratakannya disekitar lukanya.

Tangan kanan Chu Beijie terasa dingin dan nyaman. Jari-jari cekatan Pingting menyentuh lembut otot-otot tangan Chu Beijie yang kuat.

Lalu Pingting membalut lagi lukanya. Kemudian Pingting memperhatikan hasil perkerjaannya dengan matanya yang sangat lelah, mengangguk puas. Ia berdiri hendak kembali ke tempatnya semula.

Merasakan lutunya tak bisa bergerak, ia menyadari bahwa Chu Beijie memegangi pergelangan kakinya.

Pingting perlahan berbalik dan menatapnya.

Chu Beijie tak berkata sepatah katapun, hanya menarik Pingting untuk duduk dengan lengan kirinya. Tangan kanannya bergerak ke arah wajah Pingting dan membelainya.

Mata Pingting yang bergetar menatap Chu Beijie, yang hampir tidak terlihat di bawah sinar bulan. Pingting dengan sepenuh hati mematuhinya, ia bersandar di lengannya.

Baddump, baddump..... jantung Chu Beijie berdebar, terdengar di teliganya.

Mungkin itu suara debar jantungnya sendiri.

“Apa aku salah?” Chu Beijie menghela napas, “Pingting, katakan.”

“Apakah Pingting seharusnya gembira?” Pingting menjawab pelan, “Siapa di dunia ini yang mampu membuat seorang Chu Beijie salah mengerti?”

Chu Beijie merasa tak berdaya, sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sejak ia lahir. “Bagaimana aku harus menghadapimu? Apalagi yang kau sembunyikan dariku?”

“Apa kau akan percaya kalau kukatakan?”

“Katakan, karena kau menjadi seorang penasihat utama militer di pasukan Bei Mo, mengapa kau menggunakan rencana menggulur waktu?  Apa kau menunggu sesuatu?”

Mata jernih Pingting menatap Chu Beijie ketika ia menjawab dengan jujur, “Aku menunggu datangnya kabar dari Raja Dong Lin.” Merasakan Chu Beijie menjadi kaku, Pingting tertawa pelan lalu bersandar kembali di lengannya. “Berikan Pingting kesempatan sekali lagi. Biarkan Pingting membuktikan padamu dengan kebenaran, kalau Pingting tidak akan pernah melakukan apapun untuk menyakitimu.”

Chu Beijie berbisik, “Apa yang akan terjadi pada keluarga kerajaan?”

“Tak peduli seburuk apapun kabarnya, itu hanya sebuah salah paham.” Mata indah Pingting bersinar di bawah cahaya bulan yang redam. Dengan suara yang manis ia berkata lagi, “Ketika kau tiba di Dong Lin, kau akan tahu kalau Pingting tidak berani menyakitimu dan orang-orang disekitarmu. Beijie, kembalilah ke Dong Lin dan lihat niatku sesungguhnya.” 

Dibawah cahaya bulan, itu adalah moment yang indah, bahkan angin yang bertiup keraspun sepertinya ikut melunak. Angin dingin yang mengigit sepertinya sudah berlalu dan meninggalkan kehanggatan di belakangnya.

Tak ada lagi yang perlu di katakan, tak ada lagi yang bisa di ubah.

Seperti itulah, keduanya menjadi tenang begitu juga sekitarnya, hati mereka saling mendengarkan.

Mereka berdua meringkuk bersama, menyaksikan bulan memudar bersamaan dengan matahari terbit dari timur, mendengarkan bunyi siulan gembira para burung.

Pingting seperti terbangun dari khayalan yang indah yang melebihi kata-kata, ketika ia dengan malas merengangkan tubuhnya.

“Aku berpikir apa yang sedang terjadi diluar sana.”

“Kedua pasukan kehilangan ahli strategi mereka. Pasukan Dong Lin jelas akan kacau, tapi selama pasukan Bei Mo masih menunggu, mereka takkan menyerang juga.” Chu Beijie dengan tenang menganalisa, “Kedua pihak sama, yang satu tidak tahu apa yang terjadi dengan musuh, sementara yang lainnya masih menunggu di kaki gunung, mencari kita berdua.”

Mereka bertukar pandangan, memikirkan kembali pertempuran.

Kemudian terdengar suara seseorang dan Chu Beijie segera bangkit. Bersembunyi di semak-semak, berkata, “Pasuka Bei Mo.”

Raut wajah Pingting berubah. “Kalau mereka menemukanmu, bahkan akupun tidak bisa melindungimu.” Ia melepaskan ransel perangnya dan menyerahkannya pada Chu Beijie lalu segera berbisik, “Aku akan keluar dan mereka akan menemukanku, jadi mereka tak akan memperluas pencarian lagi. Tetaplah bersembunyi sampai kau menemukan pasukan pencari dari Dong Lin.”

Chu Beijie menariknya dan menciumnya dengan ganas. Merendahkan suaranya dan berkata, “Kalau kau sudah sampai disana, cari cara untuk pergi dari mereka. Aku menunggumu di Dong Lin.”

Pingting bersemu merah, putus asa berusaha membaca pikiran Chu Beijie, di saat perpisaahan ini.

Pasukan pencari Bei Mo sangat lega ketika menemukan penasihat mereka.

Pingting menceritakan kejadiannya sejak ia terjatuh, dan semua orang mengatakan bahwa karena takdirlah ia masih hidup. Tidak peduli dengan Chu Beijie sama sekali, dan tidak menyinggung sama sekali, kalau mereka bertemu dengan pasukan pencari dari Dong Lin maka akan menjadi arena pertumpahan darah.

Lagipula, menemukan penasihat utama sudah merupakan hasil yang luar biasa. Pingting segera dikawal menuju perkemahan utama.

Di perkemahan utama, Ze Yin sendiri yang memimpin para komandan untuk menyambutnya kembali. Seorang wanita yang ikut serta dalam pasukan diminta membantunya membersihkan diri. Setelah mengenakan pakaian bersih dan sedikit perfume, ia dibawa menuju tenda utama, dimana Ze Yin dan yang lainnya menunggu dengan sabar.

“Selamat Nona atas kemenangannya! Gelar ‘tidak terkalahan’ Chu Beijie telah dipatahkan.” Ze Yin tertawa ketika menambahkan, “Sungguh disayangkan gerakan Chu Beijie sangat cepat, sementara kita masih bersiap, ia sudah melewati jalurnya. Kalau tidak, kita akan mengalahkan pasukan Dong Lin dengan tuntas.”

Rouhan menyela, “Kalau bukan karena nasihat dari Nona, kita takkan mampu membalikan situasi sehingga musuh menyerah, dan kami telah lama meninggal karena Chu Beijie.”

“Dan yang lebih mengejutkan adalah, keberanian Nona untuk mati demi menjebak musuh untuk masuk perangkap. Itu adalah sesuatu yang bahkan kami, para pria, tak bisa lakukan.” Sen Rong menyela dengan keras, ia adalah komandan pasukan sayap kanan.

Pingting merasa malu atas kesalahpahaman para komandan pasukan Bei Mo. Karena kesalahpahaman ini sulit untuk dijelaskan maka ia membiarkannya saja. Dengan wajah bersemu, ia berkata, “Para Jendral kalian terlalu memujiku, kalau aku tidak mendapat dukungan kalian, bagaimana mungkin Pingting yang lemah ini, mampu melakukan segalanya? Sayangnya dilembah itu banyak terdapat buah berry, jadi kemungkinan pasukan Dong Lin tidak kehilangan Panglima Terkuat mereka.” Berharap pasukan Dong Lin sudah menemukan Chu Beijie, tiba-tiba ia teringat kata-kata terakhir yang di ucapkan padanya. “Aku menunggumu di Dong Lin.” Hatinya tidak lagi merasa kesepian, seperti bunga yang mekar dengan cepatnya.

Ze Yin melihat Pingting merona, tapi berpikir bahwa Pingting telah merasa bersalah karena tidak mati bersama Komandan musuh, segera berkata, “Nona tugas anda sudah selesai. Tadi pagi, kami menerima kabar bahwa di Kerajaan Dong Lin telah terjadi kekacauan.” Ia memikirkan sesuatu ia seorang wanita yang terjatuh ke dalam hutan lebat, dan hanya keberuntungan yang membuatnya bisa selamat, dengan mendarat di tempat yang aman. Kesetiaan seperti itu sungguh sudah langka. Yangfeng benar tentang sifatnya, dan nasihatnya untuk mematuhi setiap perkataannya walaupun sangat tidak masuk akal.

Mengingat istrinya di rumah, hatinya mencair dan ia tersenyum.

“Kerajaan Dong Lin sedang kacau, maka pasukan Dong Lin juga akan segera mendapat kabar resmi. Dengan kata lain, Bei Mo akan selamat begitu Chu Beijie pergi setelah mendengar kabar.” Pingting berkata dengan yakin.

“Apa Nona yakin?” Sen Rong masih merasa agak ragu. Beberapa hari lalu, ia masih berusaha mati-matian mempertahankan Bei Mo sampai titik darah terakhir dan sekarang tiba-tiba pasukan Dong Lin menyerah dan mundur?

Pingting memberikan ekspresi menyakinkan, dan mengangguk dengan wajah lembut. “Jendral Sen, Pingting sebagai Penasihat Utama sangat yakin akan hal itu.”

“Musuh menarik diri!” Sebuah suara berteriak di luar tenda. Pintu tenda terbuka dan seorang mata-mata menjelaskan dengan suara keras, “Musuh bergerak mundur! Pemberitahuan kepada semua Jendral bahwa pasukan Dong Lin telah bergerak mundur! Pasukan Dong Lin telah bergerak mundur!” terdengar suara bergemuruh atas kabar yang mengembirakan ini.

Ze Yin sangat terkejut dan melankah maju, menarik bahu si mata-mata dan berkata, “Apa kau telah sungguh-sungguh mengamati? Pasukan Dong Lin benar-benar telah bergerak mundur? Ini bukan taktik lain yang sedang di rencanakan?”

“Ini Benar!” si mata-mata menatap keatas, dengan mata berkaca-kaca, dan suara yang hampir ingin menangis karena gembira. “Ketika saudara kita yang lain mendengar ini, mereka hampir tidak percaya jadi mereka memeriksa sendiri sebelum akhirnya melaporkan pada kalian semua, para Jendral. Pasukan Dong Lin bergerak mundur dengan rapi, bersama dengan barang-barang mereka juga. Bahkan Jendral mereka, Moran terlihat sangat tertekan. Mereka sungguh-sungguh mundur!”

Walaupun sudah lama merencanakan ini, tapi ketika terjadi, tetap terdengar tidak sulit di mengerti. Apakah Bei Mo sungguh sudah aman? Seperti seekor srigala atau singa, pasukan Dong Lin mundur dengan patuh, tanpa melakukan serangan kejutan terakhir? Noda darah di langit, mata yang putus asa di medan peperangan, tidak lagi terpampang di depan mata?

Sunyi yang mencekam, sepertinya mereka tidak mempercayai berita hebat ini. Setelah beberapa saat, terdengar suara gembira Sen Rong yang telah lompat berdiri dari kursinya, dan menyentak lepas jubah dibahunya. kemudian bersimpuh lutut di depan Pingting sambil menyengkram jubahnya kotor dan bernoda darah. Menegadah ke atas, lalu berkata, “Jubah ini telah bersama Sen Ron melalui sekian banyak perjalanan, tolong terimalah Nona.”

Pingting tidak bisa menerimanya, kemudian ia berdiri dan berkata, “Bagaimana aku bisa menerima benda yang begitu berharga?”

“Nona... apa Nona memandang rendah diriku? Aku, Sen Rong, berhutang kampung halaman dan keluargaku kepada Nona yang telah menyelamatkan mereka semua.” Wajah pria ini berantakan tapi suaranya sangat lantang seperti singa, dan saat ini suaranya seperti tercekik karena dipenuhi emosi.

Pingting kebingungan dan mengertakkan giginya. “Baiklah aku akan menerimanya.” Segera setelah ia menerima jubah Sen Rong, ia mendengar suara-suara lutut bersimpuh di dalam seluruh tenda. Semua Jendral telah bersimpuh di atas lutut mereka, mengikuti tindakan Sen Rong.

Rouhan tidak menunggu Pingting bersuara dan segera berkata, “Dari seluruh warga Bei Mo, hanya kami yang telah bertarung bersama Nona di pertarungan Kanbu ini, yang tahu bahwa semua ini adalah berkat Nona yang telah membalikkan keadaan atas kekalahan Bei Mo. 

Pingting kehilangan kata-kata, Ia berbalik menatap mereka dengan sungguh-sungguh dan bergerak pelan menghampiri, lalu mengambil jubah di tangan mereka dengan perlahan-lahan. Termasuk jubah Ze Yin, semuanya ada dua belas. Ia meletakannya di atas meja, dan melihat jubah-jubah itu penuh dengan darah teman-teman mereka dan juga musuh mereka. Ia mengeluh, “Perang sungguh terlalu menakutkan, Aku harap, Aku takkan pernah terlibat di dalamnya lagi.”

“Pasukan Dong Lin sudah mundur, dengan begitu perang sudang usai.” Ze Yin berdiri, warna di pipinya sudah kembali, dan ia mengenggam tangan Pingting, “Raja telah memerintahkan Nona untuk mengembalikan bendera komando dan kembali ke ibukota, Bei Yali, untuk menerima hadiah anda.” Ze Yin berkata dengan tanpa putus.

Pingting mengangguk, “Itu memang sudah seharusnya.” Ia mengeluarkan bendera komando dan mengembalikannya pada Ze Yin. Ia telah bebas dan sejenak merasa tenang. Terkekeh, ia berkata, “Dari ibukota Dong Lin sampai ke Kanbu, bahkan dengan kuda tercepat masih membutuhkan waktu lima hari, artinya Raja Dong Lin mungkin sudah koma selama lima atau enam hari.” Melihat wajah Ze Yin yang terkejut, Pingting bertanya dengan curiga, “Ada apa?”

Sen Rong mengelengkan kepala, dan menghembuskan napas, “Nona tidak tahu kabar terbaru? Kerajaan Dong Lin dalam keadaan kacau bukan karena Raja mereka sedang koma, tapi karena kedua pangeran yang bahkan belum genap berusia sepuluh tahun, telah di racun hingga meninggal. Sekarang seluruh penghuni kerajaan sedang bertengkar tentang posisi putra mahkota.”

Mata Pingting membelak, sepertinya kepalanya telah terbelah dua oleh petir, dan suaranya terdengar bergetar.

Kupingnya berdengung dan ia samar-samar melihat Ze Yin berkata sesuatu, tapi ia tak mendengar apapun.

“Apa kau bilang....” Pingting berkata dengan parau, tenggorokannya terasa kering. Pingting menangis, dan terbatuk mengeluarkan darah. Sebuah sinar putih menyilaukan dimatanya dan kemudian gelap seluruhnya dan ia terjatuh pingsan.


--0--


Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia