Jumat, 27 Februari 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.3

-- Volume 1 chapter 3 --

Sejak kunjungannya ke kuil bersama Pingting, Nona Hua menjadi sangat dekat dengan Pingting dan tidak pernah kehabisan topik untuk dibicarakan dengannya. Ia bahkan lebih dekat kepada Pingting daripada gadis lain yang pernah bersamanya selama beberapa tahun terakhir ini. Kebetulan, pelayan Nona Hua, Dong'er sedang sakit dan harus pulang kerumahnya agar orang tuanya bisa merawatnya. Nona Hua lantas meminta Pinting sebagai pelayan pribadinya.

Seperti itulah, Pingting memulainya dari pekerja kasar menjadi penjahit baju pengantin dan pelayan pribadi Nona Hua. Ia telah melewati beberapa tahap yang mengejutkan setiap orang.

September baru saja lepas musim panas, tapi harimau musim gugur sangat ganas.

Suara tawa dari dua orang gadis sering terdengar di balik pepohonan kamar utama Nona Hua.

“Seperti ini?”

“Bukan.”

“Jadi... apa seperti ini?”

“Bukan juga.”

Nona Hua mencoba menyulam sepanjang hari, tapi dia tetap tak berhasil. Ia melempar sulamannya dan mendesah berlebihan. “Aku menolak untuk belajar, ini tidak menyenangkan dan jari-jariku penuh luka.”

Pingting tertawa, “Aku sudah memperingatkanmu Nona, menjahit bukan hal yang menyenangkan. Waktu aku pertama kali mencobanya, sepuluh jari-jariku bengkak. Jari-jari Nona hanya terluka kecil.” Rencananya  seharusnya ia sudah melarikan diri lebih cepat, tapi karena ia belum mendengar kabar apapun dari Tuan Mudanya, ia memutuskan untuk tinggal lebih lama.

Kecapi pemberian itu sangat bagus. Walaupun Pingting menyukainya, ia harus meminta ijin jika ingin memainkannya, dan kecapi itu diletakan di kamar Nona Hua. Bagaimanapun, kecapi itu diberikan kepada 'Nona dari Kediaman Hua'.

“Aku ingin menyulam sesuatu untuknya...” Nona Hua membicarakan kekasih rahasianya.

“Nona,” Nyonya Hua sepertinya sedang mencarinya. Wajahnya tersenyum ketika ia melihat mereka dan tersenyum lebar, “Oh, jadi Nona disini, aku kesulitan menemukanmu. Seseorang ingin bertemu denganmu.”

“Siapa yang ingin bertemu denganku?”

“Seorang pria tampan dan pria yang dulu memberikan Nona kecapi juga disana. Ia menyebutkan namanya Dong Dingnan.”

Wajah Pingting menjadi gelap. “Ia benar-benar datang.”

“Bawa dia kedalam,” Nona Hua berkata pada Penggurus Rumah kemudian berputar ke arah Pingting dan menarik tangan Pingting. Matanya bersinar ketika berkata, “Kau lihat? Tebakanku benar khan? Ia benar-benar ingin melihatmu.”

Pingting tertawa, “Ia datang untuk melihat Nona, bukan aku.”

Nona Hua menjawab balik, “Geez, kenapa kita masih diam disini? Ayo ikut aku.”

Ia mendorong Pingting ke ruang tamu dan mereka duduk di balik tirai. Tak lama kemudian Penggurus Rumah membawa para tamunya masuk.

“Nona, Tuan Dong tiba.”

“Terima kasih. Nyonya Hua kau boleh pergi.”

Nona Hua dan Pingting mengintip si pria.

Penggurus Rumah sudah pergi. Hanya seorang pria muda yang berdiri di ruangan. Pakaiannya mahal tapi tidak mencolok, kainnya terbuat dari sutra. Alis matanya hitam dan keanggunan seorang bangsawan menyelimutinya  ini membuatnya terlihat sebagai pria muda yang luar biasa tampan.

Nona Hua membelak lalu berbisik di kuping Pingting, “Kemampuan bermain kecapimu pasti sangat hebat, sampai bisa menarik perhatian seorang pria seperti ini.”

Pingting sama terkejutnya dengan Nona Hua, walaupun pemikirannya berbeda dengannya.

Ia sudah bertahun-tahun berada di Kediaman Jin Anwang maka ia langsung tahu kalau pria ini bukan seorang pria kaya biasa.

Mungkinkah ia seorang pejabat Dong Lin.

Bukan, apa mungkin seorang anggota keluarga kerajaan?

Bukan hal yang mustahil untuk bertemu anggota kerajaan, ini ibukota Dong Lin. Dari kesopanannya dan caranya  memberikan kecapi bahkan lebih mencurigakan.

“Saya, Dong Dingnan, sudah begitu lancang datang kemari menemui Nona.” Dong Dingnan memasuki ruangan.  Ketika ia melihat tirai, ia segera tahu bahwa ia sedang diperhatikan secara seksama. Ia sangat percaya diri dan  tertawa kecil.

Nama keluarganya bukan 'Dong' dan namanya sudah pasti bukan 'Dingnan'. Ia adalah adik dari penguasa Dong Lin saat ini, Tuan Besar Zhen Beiwang, Chu BeiJie. Ia sering pergi ke medan perang dan terbiasa menerka strategi musuh. Ia sedang berjalan-jalan di sekitar pekarangan luar kuil, merasa sangat bosan ketika ia mendengar alunan suara kecapi yang menyejukan hatinya.

Siapa yang akan melewatkan kesempatan untuk bertemu si cantik?

Sebagai seorang adik dari seorang Raja di Dong Lin dan sebagai orang yang paling penting, Tuan Besar Zhen Beiwang. Ia telah merencanakan segalanya dengan teliti. Pertama, menunggu dan mendengarkan, meminta  bertemu di lain waktu, menghadiahkan kecapi dan menyelidiki terlebih dahulu tentang Keluarga Hua, sebelum masuk ke Kediaman mereka.

Nona Hua melihat bagaimana Pinting menatap pria itu tanpa berkata-kata dan menyimpulkan bahwa ia menemukan seorang pria tampan dan bermatabat dibalik tirai yang memisahkan mereka. Tak tahu apa yang harus dikatakan, ia memutar matanya dan berkata, “Kalau kau sudah tahu hal ini membuat Nona tidak nyaman, mengapa kau masih datang menemui Nona? Nonaku tidak terbiasa menerima orang asing.”

Pinting menaikan alisnya, tapi Nona Hua terlihat gembira.

“Suara kecapi Nona selalu teringat dan saya dating, meminta untuk bisa mendengarnya lagi, “Chu BeiJie menjawab, memberikan senyuman mempesona.

Pingting mulai meneliti Dong Dingnan, tapi ia tak bisa mengingat nama keluarga 'Dong' di Dong Lin. Orang ini menggunakan nama palsu, ini sangat mencurigakan. Jika ia mengetahui siapa aku, aku mungkin dalam masalah besar. Melihat Nona Hua hendak bicara ia segera menyela, “Apa kau disini hanya untuk mendengarkan sebuah lagu?”

“Benar.”

“Jadi kau memberiku kecapi Feng Tong yang mahal, hanya untuk mendengar aku memainkannya?”

“Itu benar.”

Pingting meletakkan kecapi didepannya dan memetik sebuah senar.

Sebuah nada lembut kecapi mengalun keluar dari balik tirai, seperti sungai kecil mengalir melewati pegunungan rumput musim semi yang segar. Sangat memikat.

Bahkan orang-orang diluar ikut mendengarkan, menarik napas dengan serentak.

Irama awal sangat kuat dan bertenaga, berangsur-angsur melambat, lembut dan terasa manis, dan akhirnya di tutup dengan nada tinggi.

Setelah selesai satu lagu, Pingting berkata, “Suara kecapi ini benar-benar seperti terbang di udara, menghilang sebelum datang. Aku menduga kalau Tuan menginginkan sebuah lagu lagi?”

Dan ia yang mengaku Dong Dingnan tersenyum, “Nona sangat pengertian, benar, aku berharap mendengar sebuah lagu lagi.”

“Aku sudah membalas kebaikanmu dengan lagu yang baru saja selesai kumainkan.” Nada suara Pingting menjadi dingin, “Memainkan kecapi menyenangkan untukku, tapi memainkan kecapi untuk seseorang yang menggunakan nama palsu, membuatku merasa tidak nyaman.”

Chu BeiJie terlihat sedikit bingung. “Kapan Nona menyadari aku menggunakan nama samaran?”

“Tuan tidak perlu tahu kapan.” Pingting tahu kecurigaannya benar dan sebuah senyum licik tergores di wajahnya. “Tuan hanya perlu memberitahu apakah tebakanku benar atau tidak.”

Chu BeiJie menatap dalam-dalam ke balik tirai. Ia sudah mendengar bahwa Nona dari Kediaman Hua gadis cantik yang punya gaya sendiri dalam permainan kecapinya. Sepertinya tekniknya menghidupkan namanya, dan sangat sulit untuk menemukan seseorang dengan teknik yang mirip. “Nona benar, Dong Dingnan adalah salah satu nama samaranku, aku tidak menyangka Nona bisa menerkanya.”

“Mengapa Tuan menggunakan nama samaran?”

Chu BeiJie berpikir kalau gadis di balik tirai sangat cerdas. Percakapan mereka seperti kegembiraan untuk bisa  mengalahkan musuh, walaupun tidak terang-terangan. Ia tertawa dan bertanya balik, “Lantas, mengapa Nona bersembunyi di balik tirai?”

“Apa wajahku begitu penting?”

“Lalu apa nama lebih penting?”

“Bagaimana bisa Tuan membandingkan keduanya? Kau menginginkan sebuah lagu dariku dan aku sudah memberikannya. Tentu saja kau harus menggunakan namamu yang sebenarnya.”

Chu BeiJie bersandar di meja dan menyesap teh dinginnya, “Apa Nona tidak menginginkan sesuatu?”

“Eh?” Pingting menaikan alisnya, “Apa yang aku inginkan?”

“Apa yang Nona inginkan sewajarnya adalah, sebuah penilaian atas permainan Nona.” ia tertawa ringan, suaranya dalam.

Pingting berpikir ia sulit ditebak, tapi harus diakui ia memiliki kepercayaan diri yang kuat, cukup untuk menyeimbangkan sikap angkuhnya.

Jantungnya berdetak kencang, ia berjalan ke tirai dan diam-diam melihat lebih dekat.

Chu BeiJie duduk disana dengan bangga dan wajah puas seolah berkata 'Aku tahu kau diam-diam memperhatikanku.' Pingting mengingat-ingat motip pakaiannya, dan akhirnya matanya jatuh ke arah hiasan gioknya yang tergantung dipinggangnya.

Tubuh langsingnya terkejut dan ia membeku.

Hiasan gioknya berkilau dan halus, barang kualitas tinggi. Dan yang membuatnya terkejut adalah, bentuk lambang keluarga kerajaan Dong Lin.

Ia salah satu anggota keluarga kerajaan Dong Lin.

Mata Pingting tiba-tiba berkobar. Dia belum mendengar kabar apapun tentang Tuan Muda Jin Anwang, sejak kedatangannya di Dong Lin setelah beberapa bulan. Ia percaya ini adalah kesempatan baik. Kenapa tidak bertanya pada 'Dong Dingnan'?

Denga pemikiran seperti itu, mata hitam Pingting sekarang penuh kecerdikan.

“Jadi, Tuan adalah kritikus musik, apa pendapatmu setelah mendengar permainanku tadi?”

“Pendapatku?” Chu BeiJie menatap ke balik tirai, sudut bibirnya tiba-tiba terangkat membentuk senyuman. Dengan kagum ia membalas. “Lagu tadi seperti seekor angsa ajaib yang terbang melewati awan dan seperti seekor elang yang gagah menaklukkan padang rumput. Ini menunjukan ketertarikan Nona pada semua hal kehidupan dan tidak begitu peduli dengan kekayaan. Nona lebih seperti seorang pria dalam hal ini.

Pingting terdiam.

Chu BeiJie ternyata lebih pintar dari perkiraannya. Dia mampu menggambarkan kepribadiannya hanya dari satu lagu. Walaupun ia sadar akan bahaya yang bisa datang darinya, ia tak bisa menyembunyikan kekagumannya.

Pingting membalas, “Tuan memang benar, tapi tidak seperti seorang pria, aku tak bisa berbuat apapun. Seperti misalnya, dunia diluar pasti lebih luas dan indah, tapi aku tak bisa melihatnya sendiri.”

Inilah yang terjadi pada seluruh wanita di dunia, yang terikat pada keluarga dan status. Bahkan Nona hua yang masih mendengarkan permbicaraan mereka, menganggukkan kepalanya.

Pingting menarik napas dalam, “Ku dengar bahwa... selain Dong Lin, ada sebuah negara cantik yang disebut Gui Li. Apakah mereka juga senang musik?”

“Itu benar. Gui Li memiliki banyak pemandangan gunung, masyarakat disana senang menari dan bernyanyi tapi hal yang berharga dari Gui Li adalah tembaga. Gui Li menghasilkan tembaga lebih banyak dalam satu tahun dibanding penghasilan Dong Lin dalam tiga tahun.” Chu BeiJie bersemangat ketika membicarakan Gui Li karena itu salah satu dari sedikit yang menarik minatnya. Ia menghabiskan berhari-hari memperhatikan peta Gui Li dan tanpa berpikir ia mengungkapkannya.

“Tak heran mereka mengatakan Gui Li sangat kaya. Pasti karena perunggu mereka.”

“Benar sekali, mereka adalah negara kaya, tapi hal ini membuat mereka terlalu santai. Mereka negara yang lemah saat ini, karena Raja dan para bangsawannya selalu bertempur dalam negri.

Chu BeiJie merangkum masalah yang terjadi di Gui Li dengan beberapa kalimat.

Pingting mendesah.

Kediaman Jin Anwang adalah inti dari Gui Li, dan karena Pingting besar disana, maka ia lebih tahu masalahnya dari pada kebanyakan orang.

Jika Raja tidak cemburu pada Keluarga Jin Anwang yang sudah ada sejak berpuluh-puluh tahun lalu, seluruh Kediaman tidak mungkin, bisa hangus terbakar dalam semalam bukan?

Ketika Pingting mendengar masalah terbesar Gui Li dari seorang musuh yang bersikat acuh, ia tak bisa menahan diri untuk bertanya, “jadi Gui Li tidak memiliki bentuk kerajaan atau pemerintahan ?”

“Tentu saja Gui Li memiliki pejabat pemerintahan namanya Tuan Besar Jin Anwang. Ia menggurus pasukan tentara dan mengatur negara selama bertahun-tahun.” Ia tersenyum lembut, terlihat senang, “Tapi karena tentara Jin Anwang terlalu besar dan sukses, Raja yang baru memutuskan untuk melenyapkannya.”

“Apa?” suara berdesir terdengar dari balik tirai, “Bukankah kau bilang orang-orang Jin Anwang adalah orang-orang baik ? Raja dari Gui Li sungguh aneh.”

Chu Beijie meluruskan duduknya, wajahnya penuh tekad. Ia tertawa, “Kediaman Jin Anwang mungkin setia pada Gui Li, tapi ia membenci negaraku Dong Lin. Sekarang mereka sudah hilang, dan Gui Li tanpa pemimpin yang kuat, Dong Lin bisa dengan mudah menaklukkan Gui Li.

Pingting menyerap informasi itu dengan sakit hati, tapi ia berpura-pura senang, “Begitu, jadi Dong Lin kita lebih kuat. Dan.. tak seorangpun dari Kediaman Jin Anwang yang selamat?”

“Ada beberapa orang cerdik di Kediaman Jin Anwang, terutama Tuan Mudanya yang bernama He Xia. Yang kudengar mereka tidak disana ketika terjadi kebakaran. Dipercaya bahwa mereka berhasil kabur dari Gui Li. He Su masih mencoba menangkap mereka,  membuat mereka berada disisi yang sama dengan kita. Sungguh menyedihkan. Maksud sebenarnya dari dua kalimat terakhirnya adalah 'sungguh disayangkan He Su tak berhasil menghabisi seluruh Kediaman Jin Anwang'.

Ia akhirnya mengetahui kalau Tuannya masih belum tertangkap. Dan ia merasa sedikit lega.

Tuan dan yang lainnya mungkin selamat, ya kan?  Walaupun ia berusaha, ia tidak tahu darimana harus mulai mencari mereka. Mengapa tidak tinggal disini lebih lama, menemani Nona Hua, dan menggunakan dia untuk mengetahui kabar terbaru.

Setelah berpikir seperti itu, Pingting memetik sebuah senar lagi.

Di sisi lain, Chu Beijie mendengar nada itu diikuti sebuah lagu. Harmoni yang kasar, tapi juga halus seperti tetesan air. Sangat membangkitkan semangat seperti yang pertama tapi sedikit lebih feminim.

Sebelum seseorang mampu menarik napas, sebuah suara menemani suara kecapi.

“Ketika ada masalah, disana ada pahlawan.... ketika ada pahlawan, disana ada wanita cantik... bertahan dari  kekacauan, bertahan dari kekacauan...” suara yang merdu bergema, seperti seorang dewi.

Chu Beijie untuk sesaat terperangkap oleh suaranya dan lagunya. Semangatnya dibangkitkan oleh alunan musiknya. Walaupun ia baru dua puluh tahun, ia telah dilatih kemiliteran sejak kecil dan ia melampaui semua pelajarannya. Ia dibesarkan dilingkungan istana, jadi ia telah melihat banyak wanita cantik dalam hidupnya setiap saat, dari menggagumi jadi merasa jijik dan akhirnya memandang rendah mereka.

Ia bertekad untuk menemukan seorang yang memilik kecantikan sesungguhnya.

Wanita dibalik tirai ini, ia tahu pasti, adalah seorang pemain kecapi terbaik yang pernah dengar. Dan mustahil untuk menemukan kesalahannya. Walaupun ia belum melihatnya langsung, ia tahu kalau wanita itu sangat cantik berdasarkan lukisan yang di dapatnya ketika ia menyelidikinya.

Melihat bentuk tubuh di dalam tirai, ia tahu kalau itu adalah dia.

Setiap kata memenuhi hati dan pikiran pendengarnya, seperti tasbih giok bergemerincing di piring, dan terkadang seperti cangkir teh yang diletakan dengan tenang di atas meja.

Pingting menyelesaikan permainannya dengan mengulang bait 'bertahan dari kekacauan' beberapa kali, dan menahan nadanya disana, membiarkan suaranya hilang perlahan.

Chu Beijie memejamkan matanya untuk menilai musiknya dan ia membutuhkan beberapa saat untuk mengembalikan pikirannya. “Lagu 'bertahan dari masalah' ini menggambarkan rasa sakit dan penderitaan dari 'seorang wanita cantik'. Tapi permainan Nona memberikan perasaan yang benar-benar berbeda. Lebih banyak kemenangan, daripada penderitaan dan rasa sakit.”

“Terima kasih Tuan.” Pingting membalas dengan suara sedikit ditekan dan wajahnya merona. Bermain kecapi dan bernyanyi sangat melelahkan untuknya, tapi ia masih ingin tahu lagi dan untuk menahan pria itu, ia  menyenangkan pendengarannya, “Aku juga mendengar tentang Tuan Muda dari Jin Anwang He Xia. Bukankah mereka mengatakan ia adalah Panglima terbaik di Gui Li.”

“Itu benar.”

“Lantas... apakah Panglima Dong Lin kita lebih kuat dari mereka?”

Chu BeiJie tersenyum ketika membicarakan dirinya sendiri, “Bagaimana menurut Nona ?”

“Aku berada di rumah terlalu lama, bagaimana aku bisa tahu? Aku hanya mendengar kabar dari pelayan baru, kalau He Xia bertempur melawan Chu BeiJie beberapa waktu lalu di perbatasan Gui Li.”

“Ya, itu benar.”

“Siapa yang memenangkan pertarungan?” Pingting tahu kemenangan berada dipihak Tuannya tapi ia berpikir kalau kemenangannya terlalu mudah. Tentu saja, ia berhasil menjebak mereka dalam perangkap, dan pasukan Zhen Beiwang cukup besar untuk memberi mereka perlawan. Tapi, mereka mengakui kekalahan dan mundur terlalu cepat.

Ketika Panglima Zen Beiwang kembali ke Dong Lin, apakah ia dihukum atas kekalahannya? Jika Raja Dong Lin mengambil kewenangan Chu Beijie, itu akan menguntungkan Gui Li.

“He Xia menang.” Chu BeiJie menjawab dengan datar.

“Dengan kata lain, Panglima Zhen Beiwang kalah?”

“Tidak, Panglima Zhen Beiwang menang juga.”

“Oh?”

Chu BeiJie memberikan senyum bermakna ganda, “He Xia kemenangan kecil, Chu Beijie kemenangan besar.”

Kebanyakan orang tidak mengerti, tapi ini sangat sangat mengejutkan Pingting.

Ia sangat tahu pertempuran ini, Dong Lin sudah menyerang perbatasan selama dua tahun. Awalnya, Raja bertahan menolak untuk mengirim Tuan Mudanya kesana. Sampai pasukan disana hampir dikalahkan, ia segera mengeluarkan perintah penugasan, mengumumkan bahwa He Xia harus melindungi perbatasan kota apapun resikonya.

Dengan kekurangan pasokan obat dan makanan, tentunya akan menyemangati pasukan musuh yang telah begitu kuat menyerang pasukan Gui Li.

Tapi mengapa mereka menang? Ia memikirkan berbagai alasan untuk menjawab pertanyaan ini, dan Dong Dingnan telah menegaskan kekhawatiran terbesarnya.

“Mengapa Nona sangat diam?” suaranya sangat dalam.

Pingting berpikir sejenak, lalu mendesah, “Manusia tak bisa berhenti berperang, sangat menjengkelkan.”

Chu BeiJie menangkap nada jengkel di suaranya, tidak begitu mengerti maksudnya, “Nona, untuk apa merasa terganggu dengan urusan politik. Mari kita bicarakan sesuatu yang lebih menyenangkan hati?”

“Benar. Membicarakan hal yang umum, tentunya lebih menarik.”

Pingting tidak ingin membuatnya curiga maka ia membicarakan sastra dan seni. Ia khawatir ia mungkin secara tidak sengaja membuka identitasnya. Ia menjaga jawabannya tetap singkat dan bicara dengan penasaran.

Ini merupakan kesempatan bagus bagi Chu Beijie untuk pamer, walaupun ia berusaha untuk terkesan biasa saja, seperti orang yang pernah berpergian beberapa kali. Tapi darah kerajaannya masih mengalir di pembuluh darahnya, dan ia berbelok tentu saja. Ia mulai membicarakan bentuk suatu daerah, dan bagaimana melakukan serangan balasan ketika diserang. Kemudian ia menjelaskan kapan harus menyerang secara terbuka, dan kapan harus merencanakan pembunuhan. Bahkan komentarnya tentang sistem pemerintahan dijelaskan dengan baik.

Mendengar kesunyian dari balik tirai, ia mulai tersenyum. “Pembicaraanku tidak begitu menarik. Aku kembali membicarakan perang.”

Pingting didalam tirai berpikir, orang ini pasti seorang petarung hebat pasukan Dong Lin. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas, mungkinkah orang ini adalah Panglima Zhen Beiwang?

Tak mungkin... bagaimana ada kebetulan seperti ini? Ia menggelengkan kepala beberapa kali untuk melupakan apa baru saja ia pikirkan. Ia berkata pelan, “Terima kasih Tuan. Seperti yang kau tahu, aku seorang wanita, jadi aku tidak mengerti hal-hal seperti ini.”

Dua orang ini tanpa disadari telah berbicara sepanjang siang.

Dan sebelum matahari tengelam, dua ketukan terdengar diluar pintu. Seorang pria muda yang memberi kecapi, masuk dan berbisik di telinga Chu BeiJie.

Pingting melihatnya dan merasa mereka sedang membicarakan masalah peperangan, kemungkinan tentang Tuannya sendiri. Ia mencoba mendengar apa mereka katakan, tapi ia terlalu jauh.

Chu BeiJie duduk lebih tegak, “Berbincang dengan Nona dan mendengar permainan Nona sangat menyenangkan. Aku tak akan mengganggu Nona lagi, Dingnan mengucapkan terima kasih. Dingnan akan datang lagi dalam dua hari.”

Ia berdiri dengan cepat, begitu tiba-tiba. Pingting menjadi semakin curiga ini berkaitan dengan Tuannya. Ia bersikap tidak senang, “Mungkin seorang gadis lain sudah menunggu di rumahmu.”

Dong Dingnan berpikir kalau Pingting telah bersikap tidak sopan dan akan membalasnya, tapi Pingting tiba-tiba tertawa. “Aku tahu, Aku tahu. Wanita tidak membuat Tuan Dong tertarik, yang Tuan suka adalah perang. Tentu saja aku tidak seharusnya menahanmu.”

Chu BeiJie tertawa hangat dan matanya bersinar jenaka. “Tuan Muda Jin Anwang dari Gui Li yang Nona bicarakan hari ini, mungkin Nona akan bisa melihatnya beberapa hari lagi.”

Ini menyambarnya seperti petir. Pingting hampir menjatuhkan cangkir tehnya. Mungkinkah Tuannya telah ditemukan, tertangkap dan ditawan di ibukota Dong Lin?

Ia baru akan bertanya lagi tapi Chu BeiJie sudah berdiri. “Aku minta maaf, tapi aku harus pergi, secepatnya, sampai jumpa.”

Pingting bersuara tertahan, “Tolong Tuan...jangan pergi dulu.”

Tapi Chu BeiJie sedang sangat terburu-buru. Ia melambaikan tangan ringan sebelum dengan cepat berjalan menuju kegelapan malam.


--0--




novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Selasa, 24 Februari 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.2

-- Volume 1 Chapter 2 --

Cuaca lumayan bagus, matahari bersembunyi di balik awan dan tidak sepanas dua hari kemarin.

Pingting sudah menyelesaikan cuciannya dan sedang menyeka keringatnya dari wajahnya ketika Nyonya Chen menghampirinya.

“Hong, kau sibuk?”

“Aku baru saja menyelesaikan cucianku. Apa yang kau butuhkan, Nyonya Chen ? Aku sudah menyelesaikan cucian kemarin juga, kecuali aku masih harus melipatnya ….”

“Jangan pikirkan itu.” Nyonya Chen mengikuti Pingting ke jemuran pakaian dan tertawa kecil, “Kau bisa meletakannya sebentar. Aku ingin bicara denganmu.”

Pingting meletakan keranjang cuciannya, ”kenapa?”

“Kau memperbaiki dua lubang di pakaianku, ya kan?”

“Aku melihat lubang itu dan menambalnya. Apa kurang rapi?”

Nyonya Chen tertawa kecil lagi, ”Bukannya tidak bagus. Aku tak bisa berkata bahwa ada lubang disana sebelumnya! Aku tak pernah menyangka kau memiliki jari yang cekatan!” ia menarik tangan Pingting, memperhatikannya dan bertanya, “Kenapa kau tidak katakan pada kami tentang kemampuanmu? Biar kuberi tahu, pernikahan Nona akan segera dilaksanakan dan kami sedang terburu-buru menyelesaikan pakaiannya. Hanya ada tiga gadis di seluruh Kediaman ini yang pandai menjahit, jadi aku khawatir tidak akan selesai pada waktunya. Mulai hari ini dan seterusnya, kau tak perlu mengerjakan pekerjaan kasar lagi, kau akan membantu menjahit!” Nyonya Chen adalah pengasuh Nona Hua, maka ia sangat bersemangat dengan urusan pernikahannya.

“Ini...” akhir-akhir ini, kesehatannya membaik pesat dan ia berencana melarikan diri segera. Dan itu akan mudah dilakukan jika ia hanya seorang pelayan yang bertugas mencuci pakaian.

“Ini apa? Apa kau lebih suka mengerjakan pekerjaan kasar?” Nyonya Chen menepuk tangan Pingting, ”ini kesempatan besar. Aku akan mengatakan pada Kepala Rumah Tangga tentang ini. Masuklah kerumah inti dan jangan mengkhawatirkan apapun.” dia pergi dengan gembira, sebelum Pingting sempat menjawabnya.

Pingting tak punya pilihan lain kecuali membereskan barang-barangnya dan masuk ke rumah inti.

Keluarga Hua adalah salah satu pedagang paling terkenal di Dong Lin. Kepala Keluarga hanya memiliki seorang anak perempuan, maka acara pernikahannya menjadi hal yang paling utama. Pakaiannya membutuhkan setidaknya empat orang penjahit dan sekarang mereka mendapat tenaga tambahan.

Sebagai seorang penjahit, makanan dan pakaian Pingting menjadi lebih baik dibanding ketika ia masih sebagai pelayan pekerja kasar. Bagaimanapun, Pingting sudah dimanjakan sejak dahulu di Kediaman Jin Anwang, jadi ia tidak begitu memperhatikan perubahan itu. Walaupun gaya hidupnya menurun, dia mudah beradaptasi dan tidak mengeluh.

Untuk alasan yang tidak diketahui, para penjahit diletakan dekat kamar Nona Hua.

“Kain yang indah, kuharap aku bisa mengenakan yang seperti ini ketika aku menikah. Tak bisa dibayangkan betapa cantiknya aku!” para penjahit duduk di dalam, di masing-masing pojok. Kepala mereka menunduk mengikuti jalur jarum yang melintasi kain.

“Jangan bodoh, memangnya kau bisa seberuntung apa?”

Ruo'er gadis yang bicara pertama, di angkat sebagai penjahit bebarengan dengan Pingting. Mendegar Zi Hua mengejeknya, ia menjawab ketus, “bagaimana kau bisa yakin dengan itu?”

“Sudah, sudah, cepatlah kembali bekerja.” Nyonya Chen di dalam ruangan juga dan melihat betapa Pingting terpikat pada perkerjaannya, dia bahkan menghentikan jahitannya untuk melihat apa yang dikerjakannya. “Wow ! Ini sulaman yang indah!”

Pingting terkejut, dan sesaat hilang kendali atas jarumnya, menusuk jarinya sendiri.

“Hong, tanganmu sangat luar biasa.” Nyonya Chen mengambil sulaman Pingting dan mencermatinya, bentuk burung Phoenix yang sangat hidup. Selama ia bekerja di Kediaman Hua, baru kali ini ada yang membangunkan rasa tertariknya. Tiba-tiba saja, dia berpikir. “Teknik ini … aku ragu kau bisa menemukan dua orang dengan kemampuan yang sama seperti ini di Dong Lin. Yeah, aku rasa sayap Phoenixnya tidak seperti tradisi di Dong Lin, kurasa lebih seperti...”

Jantung Pingting berdetak kencang dan ia tertawa gugup sambil mengambil kembali rajutannya. ”Aku tidak begitu mengerti, tapi ini terlihat bagus, ya kan?”

Hasil rajutannya di Gui Li dinilai sangat menakjubkan. Walaupun pihak Jin Anwang tidak mengumumkan tentang hal itu, tapi ada beberapa permintaan pribadi untuk hasil jahitannya.

Pingting termasuk orang yang agak malas, jadi ia menolak untuk menjahit lagi kecuali beberapa bentuk untuk Tuan Besarnya. Hal ini agar tidak meninggalkan banyak jejak jahitan khas Kediaman Jin Anwang.

Ketika nyonya Chen sedang tidak melihatnya, ia melepas sulaman sayap phoenixnya. Ia baru saja hendak mengistirahatkan matanya ketika seorang gadis cantik masuk keruangan. Tubuhnya ramping, ia memiliki mata yang besar yang sayu dan hidungnya seperti jembatan yang sempurna. Ia mengenakan gaun sulaman ungu muda dan mutiara berkilau disekeliling lehernya.

Nyonya Chen segera berdiri dan bertanya, ”Mengapa anda disini, Nona?”

Jadi, ia Nona Hua. Pinting selama ini berada di rumah luar untuk mengerjakan pekerjaan kasar, jadi ini pertama kalinya ia melihat Nona. Para penjahit lain ikut berdiri.

“Oh Ibu asuh, kau juga disini?”

“Tentu saja, ini adalah pakaian pernikahan Nona, bukankah sudah seharusnya aku mengawasi semuanya? Lihat motip ini, butuh waktu lama untuk memilihnya.... aku mendapat ini dari...”

Nona Hua tidak tertarik dengan perkataan Nyonya Chen. Dia melirik ke arah kain merah dan rasa jengkel terlihat di matanya. Dia berjalan ke arah para pelayan dan memperhatikan mereka, seperti mencari seseorang.

Di berhati-hati mengukur setiap orang dengan matanya, dan akhirnya matanya terpaku pada Pingting.

“Kau, ikut aku.” Nona Hua menunjuk Pingting dan berjalan pergi, tak menunggu jawaban.

“Aku?” Pingting menunjuk dirinya sendiri sambil terkejut dan melihat Nyonya Chen.

“Nona memintamu mengikutinya, jadi kenapa kau masih berdiri disini ? Pergilah.” Nyonya Chen mendorong ringan pundaknya.

Apa yang Nona Hua ingingkan dariku? Jangan katakan kalau … ia tahu siapa aku sebenarnya?

Pingting mengikutinya masuk ke kamar utama Nona dan wangi yang tersebar di ruangannya membuatnya tenang. Pingting menarik napas panjang, Tuan Besar Hua sangat baik pada anak perempuannya. Wewangian salju ini adalah kemewahan yang hanya bisa didapatkan keluarga kerajaan.

Nona Hua memberi isyarat pada Pingting untuk masuk keruangan, “kesini”.

Pingting mengikutinya dan Nona Hua melemparkan beberapa pakaian, dan memerintahkan “Kenakan.”

Pakaiannya sangat bagus, menampilkan hasil pekerjaan yang sangat indah. Dan sangat jelas bahwa pakaian ini adalah milik Nona Hua sendiri.

Dia melihat kebingungan di wajah Pingting, kemudian mendecakkan lidah dan ternsenyum. “Kau tahu, bentuk tubuhmu mirip denganku. Geez, aku tidak berencana mencari pengganti tapi Dong Er tiba-tiba saja sakit.”

“Sempurna!” Nona Hua membantu Pingting memakai pakaiannya dan menyuruhnya berputar. Ia terlihat sangat senang ketika berkata, “bentuk tubuhmu benar-benar sama denganku. Kau akan dikira cantik, selama tak ada yang melihat wajahmu.” Nona Hua sangat polos dan ia yakin bahwa kata-katanya tak bermaksud buruk.

Pingting tertawa gugup, tak tahu harus berbuat apa.

“Siapa namamu?”

“Hong.”

“Hong. Aku butuh bantuanmu.”Nona Hua menarik napas dalam dan berbisik, “jika kau berhasil berpura-pura sebagai aku, aku akan memberimu hadiah. Kalau kau mengacaukannya.... katakan saja, aku akan menghukummu seperti di neraka. Juga, jangan berani mengatakan pada siapapun tentang ini! Jika seseorang mendengar tentang ini, aku akan meminta Nyonya Hua untuk mencambukmu!” kata-katanya mengancam tapi tak ada paksaan pada nadanya.

Pingting tak tahu sebaiknya tertawa atau tidak. “Nona, aku berjanji tidak akan memberitahu siapapun, aku akan melakukan yang Nona minta.”

“Hm, itu bagus. Jangan takut, aku bukan orang yang kejam sebenarnya,” dia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, “Aku ingin kau ikut denganku pergi keluar kota, kita akan pergi ke kuil di bukit. Setibanya kita disana, aku ingin kau mengenakan pakaianku dan memainkan kecapi, tanpa bicara macam-macam. Oh yeah, aku lupa, kau bisa bermain kecapi ?” Ia baru saja mengingat hal yang paling penting.

Pingting melihat Nona Hua menatapnya dengan berharap, mau tak mau ia segera mengangguk, “sedikit...”

“Tak masalah.” Nona Hua mengulangi tugas-tugasnya lagi dan menambahkan, “jangan khawatir. Jika terjadi masalah, masih ada aku.” Dia menepuk dadanya dan mengedipkan bulu matanya. Ia terlihat sangat mengemaskan.

Pingting segera menyadari kalau Nona Hua berniat menemui kekasihnya. Ia merasa kasihan pada tunangan Nona, yang akan menikahi seseorang gadis yang berani dan nekat.

Kereta sudah dipersiapkan pada siang hari. Penggurus Rumah sudah menunggu di luar. Walaupun ayahnya sangat menyanyanginya, dia tetap seorang Nona dari keluarga terpandang, maka ia tak punya banyak kesempatan untuk meninggalkan kediaman. Artinya waktu bagi Nona untuk bisa menemui kekasihnya sangat terbatas, maka ia sangat bersemangat dan gugup saat ini.

“Hong akan menemaniku di dalam kereta,” Nona mengumumkan ketika mereka keluar. Nona Hua mendahului Pingting masuk kedalam kereta. Permintaan Nona Hua biasanya memang tidak biasa, maka ketika ia membawa masuk ke kereta seorang penjahit, itu tidak mengejutkan lagi.

Pingting mengenakan pakaiannya yang biasa dan pakaian yang akan ia kenakan dimasukan di buntalan. Perjalanan ini mengingatkannya dengan salah satu perjalanan dengan Tuannya. Melihat bagaimana Nona Hua begitu polos dan manis, semangatnya kembali berkobar dan ia ingin sekali membantu.

Beruntung keretanya cukup besar, jadi mereka berdua masih merasa agak lega.

“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

Pingting menyentuh rambutnya, “Aku biasa di rumah luar mencuci baju. Bagaimana Nona akan melihatku?”

“Mencuci baju? Itu melelahkan.” Nona bergeliat dan memasukan permen ke mulutnya dan mengambil sebuah lagi, “Mau coba?”

Pingting menyukai manis juga. Tuannya selalu memerintahkan untuk menyimpankan beberapa untuk Pingting, ketika mereka menemukan yang manis-manis. Bahkan saat ini, ia tak bisa menolak dan segera mengangguk, “iya mau.”

Nona Hua tertawa dan meletakan beberapa di mulut Pingting.

Keharuman permen menyebar di mulutnya, dan wanginya bermain di ujung lidahnya. Pingting sudah diperlakukan sebagai pelayan biasa tepatnya selama dua bulan, dan wajahnya sangat gembira ketika ia merasakan kelezatannya. “Ini sangat enak.”

Seiring percakapan berlangsung, mereka saling mengenal satu sama lain.

Segera, kereta meninggalkan gerbang kota.

Kereta berenti dan Nyonya Hua berkata, ”Nona kita sudah tiba!”

Nona Hua menjawab dan mengajak Pingting keluar dari kereta. Seorang biksu sudah menunggu, menyambut Nona Hua untuk masuk kedalam. Sepertinya Keluarga Hua adalah pengunjung tetap.

Penggurus Rumah dan yang lainnya tidak diperkenankan masuk – hanya Pingting dan Nona Hua yang diperkenankan masuk. Mereka mengunci pintu dibelakang mereka.

“Nyonya Hua terkadang melihat ke jendela, jadi kenakan pakaianku, duduk disana dan mainkan kecapi.” Nona Hua mengedipkan mata, “Ingat, jangan membuat jeda terlalu lama. Jika mereka tak mendengar suara kecapi, para biksu dan Nyonya Hua mungkin akan curiga dan mereka akan memeriksa keadaanmu.”

Dia berkata sambil terburu-buru mengenakan pakaian seorang sarjana yang sudah di persiapkannya. Ia menghapus make upnya dan dengan cepat berubah menjadi seorang pria tampan. Ia memberikan pakaiannya kepada Pingting dan mengedipkan mata. Ia sangat cepat, jadi ia pasti pernah melakukan ini sebelumnya.

“Aku berangkat. Aku akan kembali tepat waktu.” ia menuju pojok dan entah bagaimana membuka jalan rahasia. Berkata dengan pelan, “Hanya dia dan aku yang tahu tentang pintu ini, tak ada lagi.”

Pingting pernah melihat beberapa jalan rahasia di Kediaman Jin Anwang. Sepertinya setiap rumah besar pasti punya beberapa jadi ia tak bisa menahan senyumnya dan menggelengkan kepalanya, sementara sosok Nona Hua segera menghilang.

Dia duduk seperti yang diperintahkan, tanganya dengan ringan menyentuh kecapi.

Senar-senar kecapi di bawah ke lima jari-jari Pingting mendapat sentuhan penyambutan.

Dia sangat suka bermain kecapi. Semakin cepat nadanya, semakin menyerupai arak berkualitas tinggi, yang memiliki kemampuan memabukkan si peminumnya.

Di Kediaman Jin Anwang, is seorang gadis legenda. Tak banyak yang pernah melihatnya langsung, tapi setiap orang tahu tentang kemampuan taktik berperangnya, menyulam, dan teknik permainan kecapinya yang luar biasa...

Bahkan Rajapun tahu kalau ada seorang pelayan serba bisa yang bekerja untuk Tuan Muda Jin Anwang.

Zeng...

Pingting memetik ringan sebuah senar, membiarkan bunyinya mengantung di udara seperti makanan pembuka yang mempesona sebelum hidangan utama.

Dalam, tidak kasar. Ringan, penuh irama.

Setelah nada yang suram menyusul irama yang sangat gembira. Seperti seekor bangau mengepakan sayap kebanggaanya, membubung tinggi melewati hutan hijau yang subur di pagi hari.

Di sudut bibir Pingting terbentuk senyuman, seperti jari-jarinya yang menari di atas senar. Permainannya berlanjut membubung tinggi, membuat para pendengarnya tengelam dalam kegembiraan.

Dia sudah agak lelah setelah satu lagu. Pingting mencari saputangannya dan mengelap keringatnya dari wajahnya. Ia ingat apa yang dikatakan Nona Hua dan tersenyum kecil. “Dia bilang kau harus terus memainkan kecapimu, meski tangamu patah karena kelelahan. Itu menunjukkan betapa sedikitnya pengetahuan yang ia miliki tentang kecapi.”

Tiba-tiba ia mendengar suara seorang pria di depan pintu.

“Aku belum pernah mendengar nada seindah ini selama hidupku. Boleh aku melihat wajah Nona, yang memiliki kemampuan memainkan musik seperti ini?” Suaranya sangat sopan dan membuat orang menjadi tenang.

Orang ini pasti sudah berdiri disana cukup lama, menungguku menyelesaikan lagu ini. Ia pasti orang yang sangat mengenal musik.

Pingting segera merasa putus asa karena sesaat ia lupa apa yang diperintahkan kepadanya. Geez, Pingting, apa yang baru saja kau lakukan di wilayah musuh? Saat ini, Nona sedang menemui kekasihnya, jadi jika orang ini masuk, penyamaran ini akan terbongkar ?”

Dia menggunakan ibu jarinya untuk memetik ringan sebuah senar. Tapi, sebelum ia sempat menolak, orang itu tiba-tiba berkata, ”Permainan kecapi Nona penuh penyesalan. Dan sepertinya anda berharap tidak diganggu olehku lagi, maka aku hanya bisa menunggu takdir mempertemukan.”

Sungguh seorang pria terhormat yang sopan.

Pingting menunggu sebentar, mendengarkan dengan teliti, dan perlahan mulai tersenyum. Sunyi. Ia berjingkat ke jendela dan menggintip keluar. Tak ada siapapun disana.

Apa dia sudah pergi? Rasa penyesalan terlihat di matanya seiring jantungnya yang mulai berdetak tenang.

Sementara Pinting melihat keluar dari jendela, ia melihat Nyonya Hua melihat ke arahnya dan ia segera menurunkan kepalanya.

Menjelang sore, Nona Hua kembali melewati pintu rahasia. Mukanya merona dan ia terlihat seperti telah melewati hari yang paling bahagia. Nona Hua dan Pingting bertukar pakaian dan mengatakan pada Penggurus Rumah mereka akan kembali pulang. 

Di dalam kereta, Nona Hua membicarakan tentang kekasihnya dengan bersemangat. Karena ia merasa sangat gembira, ia lupa menutup mulutnya dan tertawa riang.

Pingting melihat betapa Nona Hua sangat bahagia dan ia turut senang untuknya.

“Ah, hari berlalu sangat cepat.” Nona Hua mendesah lagi dan berkata lagi, “Bukankah akan sangat menyenangkan jika aku tak perlu menikah?”

Pingting berpikir itu agak aneh. “Tuan Besar sangat menyayangi Nona, jadi mengapa ia menjodohkanmu dengan Keluarga Chan tanpa menanyakan perasaanmu terlebih dahulu?”

Wajah Nona Hua menjadi kelam ketika membicarakan masalah pernikahan. “Ayah mungkin menyayangiku, tapi bisnis ayah bersaing dengan Keluarga XU. Tidak mungkin ia takkan membiarkan aku menikahi anak dari orang yang paling ia benci. Jangan katakan ini pada ayah atau ia akan membuatku menikah lebih cepat.”

“Nona, pernikahanmu sudah sangat dekat. Kau takkan bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi.”

“Yach aku tahu...” Nona Hua mendesah dan melihat kearah Pingting. Tiba-tiba saja ia mendapat sebuah gagasan lalu menarik tangan Pingting dan memohon, “Jika kau tak menyelesaikan pakaian pengantinku, bukankah itu artinya aku tak perlu menikah? Ini gagasan yang bagus, cukup membuat lubang kecil di pakaian pengantinku setiap hari dan buat Nyonya Chen serta yang lain bekerja keras, yach?” ia mengedipkan bulu matanya, memohon dengan sangat.

Pingting tertawa dan memutar matanya dengan ide kekanak-kanakkannya. Ia hendak mengatakan kepada Nona Hua kalau ide itu takkan berhasil ketika kereta tiba-tiba berhenti. 

Sekumpulan orang-orang tak di kenal mengitari mereka dan perlahan menggurung mereka di dalamnya. Ada sekitar sepuluh orang, dan mereka semua menunggani kuda.

Orang – orang ini mengenakan pakaian petani tapi raut muka mereka terlalu terpelajar, dan tindakan mereka sangat rapi.

Matahari mulai terngelam dan kereta mereka masih di luar kota. Tidak ada orang lain lagi dijalan. Orang-orang Kediaman Hua tahu jika mereka diserang perampok, maka mereka tak akan bisa menyelamatkan diri. Penggurus Rumah akhirnya menggumpulkan keberanian, dengan gagah berdiri di depan kereta, wajah gemuknya berhadapan dengan seorang pria muda, yang terlihat seperti pimpinannya, yang turun dari kudanya. “Tuan, Nona kami ada di dalam kereta. Kami baru saja dari kuil jadi kami menyumbangkan sebagian besar uang kami. Tak banyak yang tersisa...”

Seorang pria muda yang sepertinya seseorang yang punya kepentingan melihat betapa si Penggurus Rumah menjadi sangat tergagap. Ia tertawa, ”Nyonya, anda salah paham. Aku disini mewakili Tuanku.” ia berbalik menghadap kereta dan berkata lagi, “Mohon maaf atas ketidaksopananku Nona, terimalah ini.”

Nona Hua tidak yakin apa yang sedang terjadi tapi ia merasa senang, “Apa yang kau berikan padaku?”

“Teknik bermain kecapi Nona sangat luar biasa. Tuan memintaku untuk memberikan kecapi ini kepada Nona.”

Pingting berteriak kecil dan tiba-tiba teringat pada pria yang ingin melihatnya. Ia mendekat dan berbisik ke telinga Nona Hua.

“Siapa Tuanmu?” tanya Nona Hua.

Pria itu menjawab dengan sopan, “Aku minta maaf Nona. Tuan berharap namanya tetap tak diketahui untuk saat ini. Tapi Tuan juga mengatakan ketika waktunya tiba, ia akan datang menemuimu.” Setelah mengatakan itu, ia membungkuk dan dengan hati-hati menyerahkan kecapinya pada Penggurus Rumah. Kemudian dia menaiki kudanya lagi dan pergi.

Yang lainnya melihat ia pergi dan mengikutinya.

Penggurus Rumah melihat mereka semua pergi dan akhirnya merasa tenang. Ia menyerahkan kecapi ke dalam kereta dan tertawa kecil, “Tadi itu sangat mengejutkan, hehe, Nona pasti bermain sangat baik hari ini sampai menarik perhatian seorang pria kaya. Aku juga berpikir permainan Nona sangat bagus hari ini. Sangat menakjubkan!”

Nona mengedipkan mata pada Pingting dan berbisik, “Jadi kau hebat bermain kecapi huh? Aku tak akan bilang.”

Pingting melihat lebih dekat dan mempelajari kecapinya. Papan kecapi dibuat dari kayu yang berasal dari pohon yang sangat tua cukup mengetuknya dengan jari saja sudah menghasilkan suara yang nyaring.

Pingting tiba-tiba menjadi pucat. “Kecapi Feng Tong?”

Kecapi Feng Tong sangat langka. Ini adalah sesuatu yang bahkan, uang Tuannya tidak bisa beli. Pemilik sebelumnya pasti orang yang sangat istimewa, memberikan benda berharga seperti ini sebagai hadiah.

“Sebuah kecapi bagus untuk si cantik huh. Aku tanpa sengaja mengambil gadis berbakat, sangat menarik.” Nona Hua berkata, terlihat sangat senang dan menyenggol Pingting, “Orang itu bilang akan datang menemuimu, aku yakin ia tertarik padamu.” Gui Li dan Dong Lin adalah kota yang kaya dan para wanitanya tidak merasa malu membicarakan masalah cinta.

Tertarik denganku? Pingting menyentuh kecapi dengan jarinya.

Jantungnya berdebar dan ia tak yakin apa yang akan dia lakukan.

Orang itu jelas sangat lihai, tindakannya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat. Pertama dengan tenang mendengarkan permainan, lalu minta bertemu, pergi tanpa kata-kata kemudian memberikannya kecapi yang sangat mahal. Segala sesuatunya sangat diperhitungkan dengan alasan berbeda, seperti strategi perang.

Walaupun mereka belum bertemu muka, itu sudah cukup untuk menyalakan keingintahuan Pingting .

“Hong,” Nona Hua menyenggolnya dan tertawa kecil, “lihat wajahmu, dan wajah linglungmu.”

Pingting tertawa malu membalasnya, tapi matanya tak lepas dari kecapi.

Dong Lin bukan tempat bermain, aku harus lebih hati-hati.

---0---





Novel, translate, cina, chinese, terjemahan, klasik