Selasa, 19 Juli 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.37

-- Volume 2 chapter 37 --


Di dalam kereta Yun Chang terasa sangat hangat dan nyaman.

 

Pemandangan penuh darah sudah tidak terlihat lagi.

 

Pingting duduk di pojok, melihat bulan dengan tanpa perasaan.

 

Mulai sekarang, bulan yang sangat ia sukai, sudah tidak bisa lagi memberikannya kelembutan.

 

Bulan tidak mau mengatakan apapun, mencerminkan orang yang sedang patah hati, ia memberikan sinarnya untuk jeritan pertempuran dan memperlihatkan ekspresi wajah para penjaga yang meninggal, sebuah kematian yang sia-sia. He Xia medorong pintu ruangan yang berat dan dengan baik hati melepaskan tali yang mengikatnya. Lalu ia pergi mengambil kotak kayu dan membawanya.

 

Ia harus melewati darah para penjaga muda yang basah untuk sampai ke pintu gerbang.

 

Sepatu sutranya yang berwarna putih sekarang semerah matahari senja, meninggalkan jejak sepatu merah di atas salju.

 

Hatinya seperti teriris pisau.

 

Kereta sudah menunggu di depan.

 

Jendelanya di tutupi tirai berwarna putih. Keretanya sendiri telah di lapisi kain bermutu tinggi.

 

Zuiju tiba-tiba muncul entah dari mana. Ada cipratan merah di lengan bajunya dan tanganya tertutup darah ketika ia menjatuhkan dirinya di kaki Pingting, berkata, “Nona! Nona! Tolong biarkan aku merawatmu selama perjalanan!”

 

Prajurit He Xia sudah mengangkat pedangnya, bersiap menyerang.

 

Pingting berputar, menatap He Xia, “Ia pelayanku.”

 

He Xia melihat Zuiju, yang sangat memohon dan berkata dengan suara lembut, “Baiklah.”

 

Zuiju, mengapa kau menyusahkan dirimu?

 

Pingting bersandar di jendela, mendengarkan gemuruh langkah kaki kuda. Suara roda kereta membawanya menjauh dari kediaman Chu Biejie sesenti demi sesenti.

 

Ia tidak merasa menderita juga tidak merasa ingin menangis.

 

Ia telah memutuskan untuk melupakan sakit dan airmata, jadi ia bisa melupakan suara pria itu dan juga wajahnya.

 

Ia akhirnya mengerti kalau cinta sejati tidaklah penting.

 

Kebaikan negara seperti laut dan masalah negara seperti gunung.

 

Bagaimana mungkin ia bisa melebihi, dalamnya laut dan beratnya gunung?

 

Bagaimana mungkin, bernyanyi di bawah bulan atau memainkan kecapi diantara bunga-bunga, mengalahkan seseorang yang memiliki negara?

 

Cinta sejati di dunia ini bukan yang terhebat, tidak sebanding dengan popularitas dan kekuasaan, tidak sebanding dengan bakti pada negara, dan benar-benar tidak sebanding dengan harga diri sebuah negara.

 

“Sebagai seorang pelayan, apa kau tidak tahu kalau Tuanmu adalah Jendral tersohor.”

 

“Apa itu Jendral tersohor? Ia memutuskan apa yang lebih penting dan menghancurkan hati seseorang hanya untuk kepentingan egonya.”

 

Ia memikirkan kata-kata ini, dan tersenyum.

 

Bukankah ada saatnya ketika setiap orang adalah seorang Jendral tersohor?

 

Bahkan ketika mereka tidak bisa memutuskan mana yang lebih penting, mereka tetap pergi dan menghancurkan hati seseorang hanya untuk kepentingan egonya?

 

--

Pilihan He Xia sudah tepat, ia benar-benar memikirkannya dengan matang.

 

Sebagai seorang Jendral terkenal, Ia harus maju, meninggalkan semua dibelakang, hati yang hancur, tanpa tempat tinggal, dan perasaan kacau yang ia ciptakan.

 

Sampai janji mereka, senyum mereka, semua terlupakan.

 

Seorang Jendral termasyhur.

 

Sebagai seorang Jendral termasyhur, tidak boleh ada penyesalan.

 

Roda kereta terus berputar dengan cepat, melewati kerasnya jalanan.

 

He Xia ingin sekali pulang kerumah. Ia telah mendapatkan Pingting dan sedang menuju ke rumah, tidak peduli pada angin atau embun beku didepannya.

 

Apakah Yun Chang, tanah yang bersembunyi di balik awan, dimana istrinya Putri Yaotian telah menunggu di dalam ruangan yang ditata dengan mewah, apakah itu bisa disebut rumah?

 

Kalau bukan, kemana mereka harus pergi?

 

Dimana Kediaman Jin Anwang yang dulu?

 

Baik He Xia maupun Bai Pingting, tidak bisa kembali?

 

Tidak akan pernah bisa kembali.

 

Rasa kekalahan mengalir di tubuhnya, masuk ke tulang-tulangnya. He Xia berbalik dan menatap kereta yang berjalan di belakangnya.

 

Pingting sudah kembali, kecewa dan patah hati. Sepertinya ia telah kehilangan jiwanya tapi kenangan tentang Jin Anwang masih ada.

 

Pingting disana, dan dirinya yang dulu akan kembali.

 

Kalau Pingting berada disana, maka He Xia yang sering bercanda tentang empat negara dengan mata bersinar dan rasa hormat akan hadir.

 

“Tuan!” Dongzhuo tiba-tiba berkata, mengembalikan perhatian He Xia. Ia berkuda dari depan pasukan ke tempat He Xia. “Tuan, ada beberapa orang yang menghadang di depan. Mereka bilang ingin bertemu dengan Tuan.”

 

Tatapan tajam muncul di mata He Xia. Ia berpikir keras, lalu akhirnya mengangkat tangannya untuk menghentikan pasukan di belakangnya.

 

Seluruh pasukan berhenti.

 

“Bawa mereka kemari.”

 

Seorang pria dengan tangan terikat didorong ke depan kuda He Xia.

 

“Kau ingin bertemu denganku?” He Xia menatapnya dibawah, mengira-ngira tingginya.

 

Ia mengenakan pakaian pelajar dan sangat kurus. Suara dan gerakannya sangat tenang, ia melihat dua penjaga di belakangnya sebelum akhirnya menatap He Xia. Ia sama sekali tidak menampakkan ketakutan ketika mengangkat kepalanya, “Namaku Fei Zhaoxing. Aku tidak tidur selama beberapa hari dan telah menunggu Tuan Besar dari Jin Anwang untuk menyampaikan pesan penting.”

 

He Xia menatapnya lama, tidak bertanya tentang isi pesannya. Ekspresinya semakin gelap dan ia mengerutu. Suaranya sangat dingin, “Bagaimana kau bisa tahu, kalau aku, Suami Ratu akan lewat sini?”

 

Dua penjaga dibelakangnya menaikan pedang mereka, bersiap untuk menusuknya kapanpun diperintahkan.

 

Fei Zhaoxing tidak terkejut, malah tertawa. Ia melihat mereka dengan waspada, “Siapa diantara empat negara yang tidak memiliki mata-mata? Sebenarnya, bahkan Tuanku sama sekali tidak menduga kalau Tuan Besar Jin Anwang akan lewat sini pada saat seperti ini, jadi keberadaanku disini benar-benar sebuah keberuntungan. Lagipula, kalau Tuan Besar Jin Anwang berada disini pada saat ini, maka pesan yang kubawa sudah tidak penting lagi.”

 

Tatapan He Xia sangat tajam berusaha menerka maksud pria itu, tapi ia tahu pria itu tidak berbohong. He Xia berkata dengan pelan, “Siapa Tuanmu, pesan apa yang kau bawa?”

 

“Tuanku berasal dari Gui Li.” Fei Zhaoxing maju selangkah, merendahkan suaranya, “Ratu Gui Li.”

 

--

Pasukan berkuda terus melangkah tergesa-gesa menuju barat, dipimpin oleh Chu Beijie.

 

Baik orang maupun kuda, mereka sama-sama kelelahan, tapi tidak ada yang tertinggal dibelakang.

 

Bulan sepertinya sedikit malu, ia bersembunyi entah dimana dan taka da seorangpun yang bisa melihatnya, sementara matahari sudah mulai memunculkan wajahnya.

 

Sudah hampir fajar, tapi langit tak pernah segelap ini.

 

“Maju!” Chu Beijie masih berkuda melawan angin.

 

Tangan dan kakinya sudah mati rasa. Ia hanya bisa merasakan benda dingin dari besi pedangnya dipinggangnya menguasai keinginannya.

 

Darah segar, tulang dan pasir.

 

Khawatir dan sedih memenuhi dadanya. Ia ingin sekali mengayunkan pedangnya dan merasakan serangan adrenalin ketika membuat musuhnya berlutut di hadapan Pingting. Matahari musim dingin mulai muncul perlahan, membuat segalanya berwarna jinga. sinar itu mendarat dimatanya juga sehingga ia terlihat bertenaga. Ia melihat sekelilingnya sekali lagi. Sebuah gerakan terlihat dimatanya.

 

Maju!

 

Digelapan, sebuah bayangan melintas.

 

Chu Beijie menahan napasnya.

 

Ekspresinya tidak berubah ketika ia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya. Matanya menunjukan ia sangat ingin segera lompat ke sebelah kanannya.

 

Chen Mu mengikuti tatapan Chu Beijie. Ia juga melihat gerakan sebuah bayangan. Ia telah menjadi Jendral beberapa tahun dan segera mengerti situasinya. Ia berbisik, “Sepertinya jumlah mereka sedikit dan mereka seperti prajurit. He Xia meninggalkan mereka untuk berjaga dari sergapan.”

 

Sekarang setelah Chu Beijie melihat jejak musuh, kepercayaan dirinya muncul. Ia berbisik, “Kalau He Xia meninggalkan pasukan disini, artinya memang benar pasukan utama melewati jalur Hengduan.”

 

Ketika pasukan utama sudah melewati Hengduan dengan aman, pasukan kecil akan segera menyusul mereka untuk berkumpul di tempat aman.

 

“Serang mereka dan biarkan prajurit tingkat tinggi hidup. Siksa, sampai mereka mengatakan arah pasukan utama.”

 

“Baik!”

 

Pedang di tangan kanannya terasa sangat panas.

 

Tapi hatinya jauh lebih panas.

 

Chu Beijie mengepalkan tangannya dan menatap jalur pegunungan yang dikenalnya.

 

Pingting, apa kau masih di dalam Gunung ini?

 

Kumohon perlihatkan dirimu sebentar saja.

 

Tempat suci ini tak mau bicara padamu.

 

Tiga ribu pedang yang dingin ini bersinar hanya untukmu.

 

Tangan yang mengenggam pedang berkeringat banyak.

 

Chu Beijie berbalik lagi membelakangi gunung, perlahan menaikan pedangnya, menembus kegelapan langit dan berteriak, “Serang!”

 

“Serang! Serang! Serang!”

 

Tanah mulai bergetar.

 

Cahaya dingin dari pedang mulai bergetar dan jeritan pertarungan mengamuk.

 

Ratusan prajurit dan kuda menyerang lereng bukit, memotong kesunyian fajar.

 

Para prajurit di hutan berharap bisa mengalahkan musuh mereka, mereka sudah mempersiapkan anak panah tajam dan beberapa batu besar serta beberapa lubang jebakan. Mereka tidak mengharapkan tiga ribu prajurit yang sangat marah menuju mereka dengan amukan yang dashyat.

 

Mereka tidak takut terluka atau mati.

 

“Ahhh!”

 

Teriakan mengerikan dan Chu Beijie dikelilingi oleh perkelahian tanpa belas kasihan. Seperti sebuah lukisan yang penuh dengan warna darah bercipratan dan kuda-kuda berantakan menginjak-injak disetiap arah.

 

Tidak ada yang bisa melawan Chu Beijie. Semua musuh segera dikalahkan.

 

Ketika dua pedang beadu, tiga ribu prajurit bergerak dari timur ke barat, menyapu semua musuh sampai bersih. Ketika kuda Chu Beijie tiba di tempat terjauh kemah prajurit musuh, pertempuran sudah selesai.

 

Tapi kemarahan belum hilang.

 

Ini adalah serangan paling dungu, tapi sangat menghemat waktu.

 

Bau logam mengalir di hutan, mengapung di udara.

 

Ini bukan perang, ini hanya kekacauan. Pasukan musuh tak lebih dari seratus orang. Kebanyakan dari mereka sudah terkubur dalam tumpukan mayat.

 

Teriak pertempuran sudah digantikan dentuman langkah kaki kuda. Kesunyian yang datang kemudian, menguasai kematian.

 

Butiran darah mengalir melewati ujung pedang.

 

Chen Mu membawa prajurit yang diinginkan Chu Beijie, walaupun musuh mengenakan pakaian rakyat biasa, pakaian pemimpinnya, dan sikapnya, sangat berbeda dari prajurit lainnya. Bagaimana mungkin orang seperti itu lolos dari orang yang sudah perpengalaman perang.

 

Prajurit musuh yang sudah banyak terluka itu, di dorong dengan keras ke depan kuda Chu Beijie.

 

“Dimana prajurit utama He Xia?” suara Chu Beijie sangat berbahaya.

 

Tapi bukan suaranya yang membuat hati kecut, melainkan tatapan tajamnya.

 

Jendral prajurit musuh itu terkejut sesaat, lalu ia menatap mata Chu Beijie. Ia melihat kalau pria di atas kuda itu sangat terburu-buru dan ia juga bisa melihat wajah kelelahan di balik cahaya redup. “Jendral, siapakah nama anda?” ia bertanya.

 

“Chu Beijie.”

 

“Panglima Zhen Beiwang dari Dong Lin?” ia sangat terkejut ketika berseru, “Anda Panglima Zhen Beiwang?” wajahnya penuh kebingungan.

 

Sebuah kekhawatiran melintas di wajah Chu Beijie, lalu ia berkata dengan sangat pelan, “Kau bukan prajurit He Xia?”

 

“Tentu saja bukan.”

 

“Jawab dengan jelas!”

 

Jendral musuh diam untuk sesaat. Ia berpikir, merapatkan giginya dan akhirnya berkata dengan patuh, “Aku pemimpin pasukan yang sedang menyamar ini, dan tidak berhasil menunaikan tugas, seperti yang anda lihat. Aku akan dihukum mati kalaupun kembali ke negaraku. Karena itu, aku membuat permohonan pada anda, Panglima Zhen Beiwang. Aku akan mengatakan semuanya untuk keselamatan para prajuritku yang masih hidup.”

 

Tidak bagus….

 

Chu Beijie sudah tahu kalau ia berada di jalur yang salah untuk menemukan musuh. Hatinya sangat kacau, tapi wajahnya tetap tenang. Suaranya sangat dingin ketika berkata, “Katakan.”

 

Ketika mendegarnya, Jendral musuh mengerti kalau permohonannya telah dikabulkan. Ia tahu kalau ia bisa memegang kata-kata Panglima Zhen Beiwang ini, maka ia segera berkata, “Aku Jendral dari Sekolah Berkuda Xiaoben di negara Gui Li, Zhao Wen. Raja Gui Li menerima informasi kalau He Xia akan melewati jalur Hengduan untuk menculik Bai Pingting. Kesempatan ini sungguh langka, maka Raja memintaku untuk segera bersembunyi dan menunggu mereka disini, agar kami bisa menyergapnya dan merebut Bai Pingting.”

 

“Raja Gui Li, He Su?” Chu Beijie menjadi pucat, “Bagaimana ia bisa tahu kalau He Xia akan lewat jalur Hengduan?”

 

Seperti yang diduga, Jendral musuh itu masih menyimpan beberapa informasi. “Menurut laporan, jalur Hengduan yang paling dekat dengan perbatasan Yun Chang. Mereka meletakan pasukan prajurit dalam jumlah besar disana, bagaimana mungkin tak ada yang bisa menebak kalau mereka akan melewati jalur itu ?”

 

Chen Mu menyela, bertanya, “Berapa orang yang kau bawa?”

 

“Sembilan ratus.”

 

Ekspresi Chen Mu menjadi curiga dan ia menyeringai, “Hanya dengan sembilan ratus prajurit, kau berani memasuki wilayah Dong Lin dan berniat mengejar He Xia ?”

 

“Bagaimanapun, bukankan pasukan perbatasan Dong Lin akan segera mengetahui kami, kalau aku membawa terlalu banyak prajurit. Pasukanku adalah yang terbaik, untuk tugas menyelinap, jadi kami berhasil masuk tanpa jejak. Tapi entah mengapa, bukannya bertemu He Xia, kami malah bertemu Panglima Zhen Beiwang dan sekitar tiga ribu pasukannya.”

 

Chen Mu bisa menilai kalau ia berkata jujur. Ia bertanya lagi, “Apa kau tahu berapa jumlah prajurit He Xia ?”

 

“Jangan katakan kalau jumlahnya lebih dari seribu ?”

 

“Seluruhnya, delapan ribu.”

 

Zhao Wen tidak mau mempercainya dan menggelengkan kepalanya. “Mustahil, He Xia memasuki wilayah Dong Lin lebih dalam dari kami. Kalau mereka memang membawa delapan ribu prajurit, pasukan Dong Lin harusnya sudah waspada padanya.”

 

Chen Mu tidak bisa memikirkannya, karena ia sendiri bertemu Chu Beijie ketika dalam perjalanan menuju ibukota. Mendengar perkataan Zhao Wen, ia segera teringat pemindahannya yang terburu-buru dari barak Naga Harimau, ia merasakan hatinya gelisah. Ia menoleh pada Chu Beijie.

 

Wajah Chu Beijie sangat muram, matanya memancarkan rasa gelisah dan sedih.

 

Satu-satunya alasan yang masuk akal adalah, Raja Dong Lin telah ikut campur dalam hal ini.

 

Raja telah membuka perbatasan, membiarkan musuh masuk dan mengambil Bai Pingting, kekasih Chu Beijie.

 

Chu Beije tak mau menyesal lama-lama saat ini, karena waktu sangat menentukan.  Ia segera menanyakan hal yang paling penting, “Karena kau sudah menunggu begitu lama, sepertinya He Xia tidak melewati jalur ini, tapi kita berada di jalur seharusnya He Xia lewati. Kemana kemungkinannya He Xia dan pasukannya menghilang, apakah ini jalan lain ?”

 

Zhao Wen menggelengkan kepalanya, “Hanya ini jalan satu-satunya untuk memasuki jalur Hengduan dan aku menjamin kalau He Xia tidak lewat sini.”

 

Chen Mu menghela, “Satu-satunya penjelasan, He Xia telah mengubah arah.”

 

Zhao Wen merasa kecewa mendengarnya. “Kalau Rajaku menerima laporan yang sebenarnya, maka pasukan penyambut seharusnya hanya bisa ditempatkan di ujung jalur Hengduan. Kalau He Xia sampai mengubah arah, entah ia telah merasakan bahaya atau ia telah mengetahui kalau kami akan menyergapnya disini.”

 

“Bisa mengetahui hal seperti itu dengan pasti sungguh mustahil, atau seperti Gui Li, apakah Yun Chang juga memiliki mata-mata ?”

 

Perasaan Chu Beijie sangat resah, ia memikirkan mengapa He Xia mengubah rutenya secara tiba-tiba. Ia mengeluarkan pedangnya perlahan dan memerintahkan, “Kuburkan para prajurit yang meninggal dan bersiap, kita akan berkemah tiga mil dari sini. Berikan makan.an pada setiap orang dan tidur kita akan berangkat saat tengah hari.”

 

Chen Mu sangat terkejut, “Kita tidak mengejar lagi?”

 

“Apakah mungkin kita bisa mengejarnya?” Chu Beijie bertanya dengan berbisik, hatinya sangat sakit. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat, dan suaranya terdengar lemah, “Kita sudah berada di jalur yang salah, kalau memutar balikpun, sangat terlambat.”

 

Meskipun kudanya mampu berjalan ratusan mil dalam satu jam, ketika ia berhasil mengejar, He Xia pasti sudah masuk wilayah Yun Chang.

 

Saat itu, para prajurit He Xia tidak semudah yang berjumlah delapan ribu saat ini.

 

Meskipun mereka belum mencapai Yun Chang, tetap saja tiga ribu melawan delapan ribu. Kecuali setiap satu orang membunuh sembilan orang. Kemungkinan bertahan hidup sangat kecil.

 

Terutama kalau mereka sudah mencapai Yun Chang, perbedaan jumlah mereka semakin besar, tiga ribu melawan entah berapa puluh ribu. Apa kesempatan mereka untuk bisa memasuki daerah dalam dimana He Xia dan prajurit utamanya berkumpul? Bahkan kalau para prajuritnya memiliki dua nyawa dan mengalahkan musuh sebanyak mereka bisa, tidak ada kemungkinan untuk bisa melihat wajah mempesona itu lagi sebelum kematiannya.

 

Dan kalau ia memilih untuk tidak melawan, suara kecapi itu akan kesepian dan tetap terkurung disuatu tempat.

 

Chu Beijie merasa sangat tidak senang.

 

Bagaimana bisa?

 

“Tuan… apa rencana Tuan selanjutnya?” Chen Mu membebaskan Zhao Wen dan para prajuritnya seperti yang dijanjikan. Chen Mu menemukan wajah Chu Beijie penuh dengan kepiluan dan kemarahan di wajahnya.

 

“Aku akan ke perbatasan dan mengumpulkan bala tentara.” Angin fajar telah tiba, pandangan Chu Beijie jauh ke arah perbatasan Yun Chang, sudut bibirnya membuat sebuah senyuman dingin tanpa penyesalan. “Aku akan menggunakan setiap tetes kekuatan militer Dong Lin untuk membelah wilayah Yun Chang sampai He Xia mengembalikan Pingting dengan tangannya sendiri.”

 

Wanita yang takdirnya terikat dengannya, wanita yang menggunakan kecapi untuk menahan pedangnya.

 

Pingting hanya dengan sebuah senyum, kau membuatku hatiku rindu pada pesonamu.

 

Kumohon, kembalilah di hadapanku dan tersenyum sekali lagi.

 

Satu senyuman saja.

 

Aku akan menukar semua kehebatan pertempuranku dimasa lalu dan yang akan segera terjadi, dengan  seluruh kekuatan bangsa, hanya untuk senyummu.

 

--

Musim dingin hampir berakhir tapi udara dingin belum pergi.

 

Telah terjadi perubahan situasi luar biasa pada empat negara. Setelah menerima kabar, perbatasannya di taklukan oleh pasukan Dong Lin, Raja Bei Mo segera menarik persekutuannya dengan negara Yun Chang.

 

Tujuan He Xia telah tercapai. Ia telah berhasil mundur bersama pasukannya yang berjumlah lebih dari tiga ratus ribu prajurit tanpa pertempuran.

 

Rakyat berpikir kalau langit masih berbaik hati dan tidak tahu mengenai situasi mencekam di perbatasan yang akan membuat mereka risau.

 

Orang-orang sudah bersiap. Meskipun situasi telah menjadi sangat tidak terduga, mereka berusaha tetap tenang.

 

Anggota kerajaan Dong Lin menerima kabar kalau musuh telah mundur, mereka yang selama ini kehilangan nafsu makan dan kurang istirahat akhirnya bisa bernapas lega. Tapi sebelum mereka sempat merasa gembira, sebuah kabar tak terduga datang seperti petir dari angkasa.

 

Tuan Besar Zhen Beiwang, Chu Beijie, telah menggunakan bendera komando, memerintahkan seluruh pasukan Dong Lin untuk berkumpul dan mengempur perbatasan Yun Chang!

 

Tawa lebar di seluruh istana hilang dalam kesunyian, para pejabat saling melirik satu sama lain dalam kebingungan dan tak tahu harus berkata apa.

 

Yun Chang tidak seperti Gui Li dan Bei Mo. Negara itu memiliki kekuatan untuk berperang tapi selalu menghindarinya, pasukan mereka sangat ahli. Dan yang memimpin sekarang adalah Jendral yang sudah dikenal luas, He Xia. Menyerang Yun Chang, seperti berjalan menuju kematian. Bahkan kalau hanya Gui Li dan Bei Mo saja yang bersekutu, Dong Lin tidak memiliki cukup pasukan untuk mengimbanginya.

 

Bagaimana bisa Tuan Besar Zhen Beiwang, yang selama ini selalu berhati-hati melakukan hal ceroboh seperti ini. Apa ia berniat bunuh diri?

 

“Benarkah?” Cangkir arak yang dipegang Rang Dong Lin tidak bergerak ketika ia menatap si prajurit pembawa pesan dengan baju penuh debu, berlutut di lantai.

 

Si prajurit telah berkuda dengan terburu-buru selama beberapa hari dan suaranya sangat parau. Tapi ia masih bisa berkata dengan lantang, “Melapor pada Raja, Tuan Besar Zhen Bei Wang mengeluarkan perintahnya enam hari lalu. Semua Jendral yang bertugas di perbatasan dan di empat barak telah di perintahkan untuk meninggalkan tempat mereka dan bertemu Tuan Zhen Beiwang.”

 

Raja Dong Lin tidak berkata apapun, ia berbalik dan menoleh pada Ratu, wajahnya sudah sangat pucat. Perlahan ia meletakan cangkir araknya, tatapannya menyapu seluruh ruangan. “Bagaimana menurut kalian?”

 

Ketika Tuan Besar Zhen Beiwang kembali ke ibukota, mereka semua merayakannya, tapi beberapa hari kemudian, ia bergegas pergi. Sebagian besar para pejabat tidak tahu persis hubungan Chu Beijie dengan Pingting, maka mereka tidak berani berucap apapun, hanya diam saja.

 

Kesunyian mencekik memenuhi seluruh ruangan yang besar itu.

 

Pejabat senior yang sudah tua, Chu Zairan sepertinya memikirkan sesuatu. Ia membuka mulutnya, “Karena Tuan Besar Zhen Beiwang telah menggerakan seluruh pasukan di perbatasan dan pasukan di barak, berapa banyak yang ia sisakan untuk menjaga perbatasan Bei Mo dan Gui Li ?”

 

“Ia meninggalkan sepuluh prajurit di setiap pos perbatasan.”

 

Hanya sepuluh?

 

Para pejabat berteriak sedih.

 

Dengan jumlah itu, sama saja tidak ada pertahanan. Kalau tiba-tiba kedua negara memutuskan untuk menyerang, mereka akan masuk, langsung ke jantung Dong Lin.

 

Semua mata menatap Raja Dong Lin.

 

Ekspresi wajah Raja sangat buruk, matanya berpijar beberapa kali. Ia mengangkat cangkir araknya dan perlahan meneguknya. “Aku ingin menenangkan diri, tolong kalian semua bubar.”

 

Para pejabat berdiri dengan panik lalu berbaris dan membungkuk.

 

“Pejabatmu yang setia mohon diri!”

 

Para pelayan, penari dan pemain musik semuanya, pergi dengan perlahan meninggalkan ruangan.

 

Kesunyian yang sesungguhnya benar-benar terjadi setelah para pejabat pergi seluruhnya. Ruangan sangat kacau setelah acara perayaan yang batal.

 

Seluruh pasukan berkumpul di perbatasan untuk menantang He Xia.

 

Untuk negaranya, ia mengorbankan adiknya dan Bai Pingting.

 

Dan sekarang, Chu Beijie mengorbankan kakaknya kandungnya dan Dong Lin untuk Bai Pingting.

 

Apa sebabnya ?

 

Apa akibatnya ?

 

Raja duduk di kursi tahtanya, melihat sekeliling ruangan yang luas, dalam sunyi menyesap araknya seteguk demi seteguk.

 

Sebuah tangan putih menyentuhnya, dengan lembut melepaskan cangkir emas itu.

 

“Yang Mulia…” Ratu berada di sampingnya, suaranya berbisik, “Tolong, cepatlah pikirkan sebuah cara, berikan perintah untuk mengambil kembali bendera komando dari tangan Zhen Beiwang.”

 

Raja menoleh padanya, menatap matanya. Ia tersenyum pahit, “Apakah adikku tidak mampu menggerakan seluruh pasukan tanpa sesuatu seperti bendera komando?”

 

Para prajurit utama Dong Lin tanpa ragu, menyerang ibukota dan mengepung istana dibawah perintahnya, waktu itu.

 

Ada orang yang terlahir dengan kemampuan memimpin dan memberikan keberanian pada setiap orang.

 

“Meskipun begitu, kita tidak bisa hanya duduk dan menutup mata, Yang Mulia.” Jantungnya berdetak kencang sampai terasa sakit di dadanya, “Hanya untuk seorang Bai Pingting, ia telah mempertaruhkan keamanan negara. Saat ini apa bedanya Zhen Beiwang dengan orang gila? Apa yang akan ia dapat dari mengutamakan emosinya dan menghianati kerajaan?”

 

Raja menatap jauh melewati pintu, ke suatu tempat yang sangat jauh. “Ia sudah melakukannya.”

 

Ia tak peduli lagi dengan hidupnya, kerajaan, maupun negaranya.

 

Untuk pertama kalinya, rasa tanggungjawab yang ditekankan padanya sejak lahir telah digantikan oleh egonya, tanpa harapan untuk bisa membujuknya.

 

Hanya untuk seorang wanita.

 

Seorang Bai Pingting.

 

“Beijie, Beijie, apa kau masih adikku yang akan mengobarkan segalanya untuk Dong Lin ?” Raja perlahan berdiri, menatap langit-langit, berpikir dalam-dalam. Tiba-tiba ia merasakan rasa sakit luar biasa di tenggorokannya dan ia memuntahkan darah segar ke atas meja dengan suara “ohok”.

 

“Yang Mulia!” Ratu berteriak, suaranya panik. “Siapapun! Cepat kemari !”

 

Para pelayan berdatangan dengan tergesa-gesa dan mereka sangat terkejut melihat keadaan Raja mereka.

 

“Yang Mulia!”

 

“hati-hati, Yang Mulia!”

 

“Tabib, panggil tabib!”

 

Hujan gerimis mulai membasahi sebuah wilayah.

 

Dari sebuah istana kerajaan kuno, dukacita dan kepanikan melanda.

 

Disekitar singasana dipenuhi percikan darah, merah terang seperti sungai darah dari para penjaga di sebuah kediaman terasing, tak berbeda dengan cairan yang menetes dari sebuah pedang di medan pertempuran.

 

Sebuah negara adalah sebuah rumah dan sebuah rumah dibuat oleh orang-orang. Amarah yang tinggi seperti gunung yang padat.

 

Bai Pingting apa yang tidak mustahil untukmu ?

 

--00—


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia