Di
dalam kereta Yun Chang terasa sangat hangat dan nyaman.
Pemandangan
penuh darah sudah tidak terlihat lagi.
Pingting
duduk di pojok, melihat bulan dengan tanpa perasaan.
Mulai
sekarang, bulan yang sangat ia sukai, sudah tidak bisa lagi memberikannya
kelembutan.
Bulan
tidak mau mengatakan apapun, mencerminkan orang yang sedang patah hati, ia
memberikan sinarnya untuk jeritan pertempuran dan memperlihatkan ekspresi wajah
para penjaga yang meninggal, sebuah kematian yang sia-sia. He Xia medorong
pintu ruangan yang berat dan dengan baik hati melepaskan tali yang mengikatnya.
Lalu ia pergi mengambil kotak kayu dan membawanya.
Ia
harus melewati darah para penjaga muda yang basah untuk sampai ke pintu
gerbang.
Sepatu
sutranya yang berwarna putih sekarang semerah matahari senja, meninggalkan
jejak sepatu merah di atas salju.
Hatinya
seperti teriris pisau.
Kereta
sudah menunggu di depan.
Jendelanya
di tutupi tirai berwarna putih. Keretanya sendiri telah di lapisi kain bermutu
tinggi.
Zuiju
tiba-tiba muncul entah dari mana. Ada cipratan merah di lengan bajunya dan
tanganya tertutup darah ketika ia menjatuhkan dirinya di kaki Pingting,
berkata, “Nona! Nona! Tolong biarkan aku merawatmu selama perjalanan!”
Prajurit
He Xia sudah mengangkat pedangnya, bersiap menyerang.
Pingting
berputar, menatap He Xia, “Ia pelayanku.”
He
Xia melihat Zuiju, yang sangat memohon dan berkata dengan suara lembut,
“Baiklah.”
Zuiju,
mengapa kau menyusahkan dirimu?
Pingting
bersandar di jendela, mendengarkan gemuruh langkah kaki kuda. Suara roda kereta
membawanya menjauh dari kediaman Chu Biejie sesenti demi sesenti.
Ia
tidak merasa menderita juga tidak merasa ingin menangis.
Ia
telah memutuskan untuk melupakan sakit dan airmata, jadi ia bisa melupakan
suara pria itu dan juga wajahnya.
Ia
akhirnya mengerti kalau cinta sejati tidaklah penting.
Kebaikan
negara seperti laut dan masalah negara seperti gunung.
Bagaimana
mungkin ia bisa melebihi, dalamnya laut dan beratnya gunung?
Bagaimana
mungkin, bernyanyi di bawah bulan atau memainkan kecapi diantara bunga-bunga,
mengalahkan seseorang yang memiliki negara?
Cinta
sejati di dunia ini bukan yang terhebat, tidak sebanding dengan popularitas dan
kekuasaan, tidak sebanding dengan bakti pada negara, dan benar-benar tidak
sebanding dengan harga diri sebuah negara.
“Sebagai
seorang pelayan, apa kau tidak tahu kalau Tuanmu adalah Jendral tersohor.”
“Apa
itu Jendral tersohor? Ia memutuskan apa yang lebih penting dan menghancurkan
hati seseorang hanya untuk kepentingan egonya.”
Ia
memikirkan kata-kata ini, dan tersenyum.
Bukankah
ada saatnya ketika setiap orang adalah seorang Jendral tersohor?
Bahkan
ketika mereka tidak bisa memutuskan mana yang lebih penting, mereka tetap pergi
dan menghancurkan hati seseorang hanya untuk kepentingan egonya?
--
Pilihan
He Xia sudah tepat, ia benar-benar memikirkannya dengan matang.
Sebagai
seorang Jendral terkenal, Ia harus maju, meninggalkan semua dibelakang, hati
yang hancur, tanpa tempat tinggal, dan perasaan kacau yang ia ciptakan.
Sampai
janji mereka, senyum mereka, semua terlupakan.
Seorang
Jendral termasyhur.
Sebagai
seorang Jendral termasyhur, tidak boleh ada penyesalan.
Roda
kereta terus berputar dengan cepat, melewati kerasnya jalanan.
He
Xia ingin sekali pulang kerumah. Ia telah mendapatkan Pingting dan sedang
menuju ke rumah, tidak peduli pada angin atau embun beku didepannya.
Apakah
Yun Chang, tanah yang bersembunyi di balik awan, dimana istrinya Putri Yaotian
telah menunggu di dalam ruangan yang ditata dengan mewah, apakah itu bisa
disebut rumah?
Kalau
bukan, kemana mereka harus pergi?
Dimana
Kediaman Jin Anwang yang dulu?
Baik
He Xia maupun Bai Pingting, tidak bisa kembali?
Tidak
akan pernah bisa kembali.
Rasa
kekalahan mengalir di tubuhnya, masuk ke tulang-tulangnya. He Xia berbalik dan
menatap kereta yang berjalan di belakangnya.
Pingting
sudah kembali, kecewa dan patah hati. Sepertinya ia telah kehilangan jiwanya
tapi kenangan tentang Jin Anwang masih ada.
Pingting
disana, dan dirinya yang dulu akan kembali.
Kalau
Pingting berada disana, maka He Xia yang sering bercanda tentang empat negara
dengan mata bersinar dan rasa hormat akan hadir.
“Tuan!”
Dongzhuo tiba-tiba berkata, mengembalikan perhatian He Xia. Ia berkuda dari
depan pasukan ke tempat He Xia. “Tuan, ada beberapa orang yang menghadang di
depan. Mereka bilang ingin bertemu dengan Tuan.”
Tatapan
tajam muncul di mata He Xia. Ia berpikir keras, lalu akhirnya mengangkat
tangannya untuk menghentikan pasukan di belakangnya.
Seluruh
pasukan berhenti.
“Bawa
mereka kemari.”
Seorang
pria dengan tangan terikat didorong ke depan kuda He Xia.
“Kau
ingin bertemu denganku?” He Xia menatapnya dibawah, mengira-ngira tingginya.
Ia
mengenakan pakaian pelajar dan sangat kurus. Suara dan gerakannya sangat
tenang, ia melihat dua penjaga di belakangnya sebelum akhirnya menatap He Xia.
Ia sama sekali tidak menampakkan ketakutan ketika mengangkat kepalanya, “Namaku
Fei Zhaoxing. Aku tidak tidur selama beberapa hari dan telah menunggu Tuan
Besar dari Jin Anwang untuk menyampaikan pesan penting.”
He
Xia menatapnya lama, tidak bertanya tentang isi pesannya. Ekspresinya semakin
gelap dan ia mengerutu. Suaranya sangat dingin, “Bagaimana kau bisa tahu, kalau
aku, Suami Ratu akan lewat sini?”
Dua
penjaga dibelakangnya menaikan pedang mereka, bersiap untuk menusuknya kapanpun
diperintahkan.
Fei
Zhaoxing tidak terkejut, malah tertawa. Ia melihat mereka dengan waspada,
“Siapa diantara empat negara yang tidak memiliki mata-mata? Sebenarnya, bahkan
Tuanku sama sekali tidak menduga kalau Tuan Besar Jin Anwang akan lewat sini
pada saat seperti ini, jadi keberadaanku disini benar-benar sebuah
keberuntungan. Lagipula, kalau Tuan Besar Jin Anwang berada disini pada saat
ini, maka pesan yang kubawa sudah tidak penting lagi.”
Tatapan
He Xia sangat tajam berusaha menerka maksud pria itu, tapi ia tahu pria itu
tidak berbohong. He Xia berkata dengan pelan, “Siapa Tuanmu, pesan apa yang kau
bawa?”
“Tuanku
berasal dari Gui Li.” Fei Zhaoxing maju selangkah, merendahkan suaranya, “Ratu
Gui Li.”
--
Pasukan
berkuda terus melangkah tergesa-gesa menuju barat, dipimpin oleh Chu Beijie.
Baik
orang maupun kuda, mereka sama-sama kelelahan, tapi tidak ada yang tertinggal
dibelakang.
Bulan
sepertinya sedikit malu, ia bersembunyi entah dimana dan taka da seorangpun
yang bisa melihatnya, sementara matahari sudah mulai memunculkan wajahnya.
Sudah
hampir fajar, tapi langit tak pernah segelap ini.
“Maju!”
Chu Beijie masih berkuda melawan angin.
Tangan
dan kakinya sudah mati rasa. Ia hanya bisa merasakan benda dingin dari besi
pedangnya dipinggangnya menguasai keinginannya.
Darah
segar, tulang dan pasir.
Khawatir
dan sedih memenuhi dadanya. Ia ingin sekali mengayunkan pedangnya dan merasakan
serangan adrenalin ketika membuat musuhnya berlutut di hadapan Pingting.
Matahari musim dingin mulai muncul perlahan, membuat segalanya berwarna jinga.
sinar itu mendarat dimatanya juga sehingga ia terlihat bertenaga. Ia melihat
sekelilingnya sekali lagi. Sebuah gerakan terlihat dimatanya.
Maju!
Digelapan,
sebuah bayangan melintas.
Chu
Beijie menahan napasnya.
Ekspresinya
tidak berubah ketika ia mengeluarkan pedangnya dari sarungnya. Matanya menunjukan
ia sangat ingin segera lompat ke sebelah kanannya.
Chen
Mu mengikuti tatapan Chu Beijie. Ia juga melihat gerakan sebuah bayangan. Ia
telah menjadi Jendral beberapa tahun dan segera mengerti situasinya. Ia
berbisik, “Sepertinya jumlah mereka sedikit dan mereka seperti prajurit. He Xia
meninggalkan mereka untuk berjaga dari sergapan.”
Sekarang
setelah Chu Beijie melihat jejak musuh, kepercayaan dirinya muncul. Ia
berbisik, “Kalau He Xia meninggalkan pasukan disini, artinya memang benar
pasukan utama melewati jalur Hengduan.”
Ketika
pasukan utama sudah melewati Hengduan dengan aman, pasukan kecil akan segera
menyusul mereka untuk berkumpul di tempat aman.
“Serang
mereka dan biarkan prajurit tingkat tinggi hidup. Siksa, sampai mereka
mengatakan arah pasukan utama.”
“Baik!”
Pedang
di tangan kanannya terasa sangat panas.
Tapi
hatinya jauh lebih panas.
Chu
Beijie mengepalkan tangannya dan menatap jalur pegunungan yang dikenalnya.
Pingting, apa kau
masih di dalam Gunung ini?
Kumohon perlihatkan
dirimu sebentar saja.
Tempat suci ini tak
mau bicara padamu.
Tiga ribu pedang
yang dingin ini bersinar hanya untukmu.
Tangan
yang mengenggam pedang berkeringat banyak.
Chu
Beijie berbalik lagi membelakangi gunung, perlahan menaikan pedangnya, menembus
kegelapan langit dan berteriak, “Serang!”
“Serang!
Serang! Serang!”
Tanah
mulai bergetar.
Cahaya
dingin dari pedang mulai bergetar dan jeritan pertarungan mengamuk.
Ratusan
prajurit dan kuda menyerang lereng bukit, memotong kesunyian fajar.
Para
prajurit di hutan berharap bisa mengalahkan musuh mereka, mereka sudah
mempersiapkan anak panah tajam dan beberapa batu besar serta beberapa lubang
jebakan. Mereka tidak mengharapkan tiga ribu prajurit yang sangat marah menuju
mereka dengan amukan yang dashyat.
Mereka
tidak takut terluka atau mati.
“Ahhh!”
Teriakan
mengerikan dan Chu Beijie dikelilingi oleh perkelahian tanpa belas kasihan.
Seperti sebuah lukisan yang penuh dengan warna darah bercipratan dan kuda-kuda
berantakan menginjak-injak disetiap arah.
Tidak
ada yang bisa melawan Chu Beijie. Semua musuh segera dikalahkan.
Ketika
dua pedang beadu, tiga ribu prajurit bergerak dari timur ke barat, menyapu
semua musuh sampai bersih. Ketika kuda Chu Beijie tiba di tempat terjauh kemah
prajurit musuh, pertempuran sudah selesai.
Tapi
kemarahan belum hilang.
Ini
adalah serangan paling dungu, tapi sangat menghemat waktu.
Bau
logam mengalir di hutan, mengapung di udara.
Ini
bukan perang, ini hanya kekacauan. Pasukan musuh tak lebih dari seratus orang.
Kebanyakan dari mereka sudah terkubur dalam tumpukan mayat.
Teriak
pertempuran sudah digantikan dentuman langkah kaki kuda. Kesunyian yang datang
kemudian, menguasai kematian.
Butiran
darah mengalir melewati ujung pedang.
Chen
Mu membawa prajurit yang diinginkan Chu Beijie, walaupun musuh mengenakan
pakaian rakyat biasa, pakaian pemimpinnya, dan sikapnya, sangat berbeda dari
prajurit lainnya. Bagaimana mungkin orang seperti itu lolos dari orang yang
sudah perpengalaman perang.
Prajurit
musuh yang sudah banyak terluka itu, di dorong dengan keras ke depan kuda Chu
Beijie.
“Dimana
prajurit utama He Xia?” suara Chu Beijie sangat berbahaya.
Tapi
bukan suaranya yang membuat hati kecut, melainkan tatapan tajamnya.
Jendral
prajurit musuh itu terkejut sesaat, lalu ia menatap mata Chu Beijie. Ia melihat
kalau pria di atas kuda itu sangat terburu-buru dan ia juga bisa melihat wajah
kelelahan di balik cahaya redup. “Jendral, siapakah nama anda?” ia bertanya.
“Chu
Beijie.”
“Panglima
Zhen Beiwang dari Dong Lin?” ia sangat terkejut ketika berseru, “Anda Panglima
Zhen Beiwang?” wajahnya penuh kebingungan.
Sebuah
kekhawatiran melintas di wajah Chu Beijie, lalu ia berkata dengan sangat pelan,
“Kau bukan prajurit He Xia?”
“Tentu
saja bukan.”
“Jawab
dengan jelas!”
Jendral
musuh diam untuk sesaat. Ia berpikir, merapatkan giginya dan akhirnya berkata
dengan patuh, “Aku pemimpin pasukan yang sedang menyamar ini, dan tidak
berhasil menunaikan tugas, seperti yang anda lihat. Aku akan dihukum mati
kalaupun kembali ke negaraku. Karena itu, aku membuat permohonan pada anda,
Panglima Zhen Beiwang. Aku akan mengatakan semuanya untuk keselamatan para
prajuritku yang masih hidup.”
Tidak bagus….
Chu
Beijie sudah tahu kalau ia berada di jalur yang salah untuk menemukan musuh.
Hatinya sangat kacau, tapi wajahnya tetap tenang. Suaranya sangat dingin ketika
berkata, “Katakan.”
Ketika
mendegarnya, Jendral musuh mengerti kalau permohonannya telah dikabulkan. Ia
tahu kalau ia bisa memegang kata-kata Panglima Zhen Beiwang ini, maka ia segera
berkata, “Aku Jendral dari Sekolah Berkuda Xiaoben di negara Gui Li, Zhao Wen.
Raja Gui Li menerima informasi kalau He Xia akan melewati jalur Hengduan untuk
menculik Bai Pingting. Kesempatan ini sungguh langka, maka Raja memintaku untuk
segera bersembunyi dan menunggu mereka disini, agar kami bisa menyergapnya dan
merebut Bai Pingting.”
“Raja
Gui Li, He Su?” Chu Beijie menjadi pucat, “Bagaimana ia bisa tahu kalau He Xia
akan lewat jalur Hengduan?”
Seperti
yang diduga, Jendral musuh itu masih menyimpan beberapa informasi. “Menurut
laporan, jalur Hengduan yang paling dekat dengan perbatasan Yun Chang. Mereka
meletakan pasukan prajurit dalam jumlah besar disana, bagaimana mungkin tak ada
yang bisa menebak kalau mereka akan melewati jalur itu ?”
Chen
Mu menyela, bertanya, “Berapa orang yang kau bawa?”
“Sembilan
ratus.”
Ekspresi
Chen Mu menjadi curiga dan ia menyeringai, “Hanya dengan sembilan ratus
prajurit, kau berani memasuki wilayah Dong Lin dan berniat mengejar He Xia ?”
“Bagaimanapun,
bukankan pasukan perbatasan Dong Lin akan segera mengetahui kami, kalau aku
membawa terlalu banyak prajurit. Pasukanku adalah yang terbaik, untuk tugas
menyelinap, jadi kami berhasil masuk tanpa jejak. Tapi entah mengapa, bukannya
bertemu He Xia, kami malah bertemu Panglima Zhen Beiwang dan sekitar tiga ribu
pasukannya.”
Chen
Mu bisa menilai kalau ia berkata jujur. Ia bertanya lagi, “Apa kau tahu berapa
jumlah prajurit He Xia ?”
“Jangan
katakan kalau jumlahnya lebih dari seribu ?”
“Seluruhnya,
delapan ribu.”
Zhao
Wen tidak mau mempercainya dan menggelengkan kepalanya. “Mustahil, He Xia
memasuki wilayah Dong Lin lebih dalam dari kami. Kalau mereka memang membawa
delapan ribu prajurit, pasukan Dong Lin harusnya sudah waspada padanya.”
Chen
Mu tidak bisa memikirkannya, karena ia sendiri bertemu Chu Beijie ketika dalam
perjalanan menuju ibukota. Mendengar perkataan Zhao Wen, ia segera teringat
pemindahannya yang terburu-buru dari barak Naga Harimau, ia merasakan hatinya
gelisah. Ia menoleh pada Chu Beijie.
Wajah
Chu Beijie sangat muram, matanya memancarkan rasa gelisah dan sedih.
Satu-satunya
alasan yang masuk akal adalah, Raja Dong Lin telah ikut campur dalam hal ini.
Raja
telah membuka perbatasan, membiarkan musuh masuk dan mengambil Bai Pingting,
kekasih Chu Beijie.
Chu
Beije tak mau menyesal lama-lama saat ini, karena waktu sangat menentukan. Ia segera menanyakan hal yang paling penting,
“Karena kau sudah menunggu begitu lama, sepertinya He Xia tidak melewati jalur
ini, tapi kita berada di jalur seharusnya He Xia lewati. Kemana kemungkinannya
He Xia dan pasukannya menghilang, apakah ini jalan lain ?”
Zhao
Wen menggelengkan kepalanya, “Hanya ini jalan satu-satunya untuk memasuki jalur
Hengduan dan aku menjamin kalau He Xia tidak lewat sini.”
Chen
Mu menghela, “Satu-satunya penjelasan, He Xia telah mengubah arah.”
Zhao
Wen merasa kecewa mendengarnya. “Kalau Rajaku menerima laporan yang sebenarnya,
maka pasukan penyambut seharusnya hanya bisa ditempatkan di ujung jalur
Hengduan. Kalau He Xia sampai mengubah arah, entah ia telah merasakan bahaya
atau ia telah mengetahui kalau kami akan menyergapnya disini.”
“Bisa
mengetahui hal seperti itu dengan pasti sungguh mustahil, atau seperti Gui Li,
apakah Yun Chang juga memiliki mata-mata ?”
Perasaan
Chu Beijie sangat resah, ia memikirkan mengapa He Xia mengubah rutenya secara
tiba-tiba. Ia mengeluarkan pedangnya perlahan dan memerintahkan, “Kuburkan para
prajurit yang meninggal dan bersiap, kita akan berkemah tiga mil dari sini.
Berikan makan.an pada setiap orang dan tidur kita akan berangkat saat tengah
hari.”
Chen
Mu sangat terkejut, “Kita tidak mengejar lagi?”
“Apakah
mungkin kita bisa mengejarnya?” Chu Beijie bertanya dengan berbisik, hatinya
sangat sakit. Ia mengepalkan tangannya begitu kuat, dan suaranya terdengar
lemah, “Kita sudah berada di jalur yang salah, kalau memutar balikpun, sangat
terlambat.”
Meskipun
kudanya mampu berjalan ratusan mil dalam satu jam, ketika ia berhasil mengejar,
He Xia pasti sudah masuk wilayah Yun Chang.
Saat
itu, para prajurit He Xia tidak semudah yang berjumlah delapan ribu saat ini.
Meskipun
mereka belum mencapai Yun Chang, tetap saja tiga ribu melawan delapan ribu.
Kecuali setiap satu orang membunuh sembilan orang. Kemungkinan bertahan hidup
sangat kecil.
Terutama
kalau mereka sudah mencapai Yun Chang, perbedaan jumlah mereka semakin besar,
tiga ribu melawan entah berapa puluh ribu. Apa kesempatan mereka untuk bisa
memasuki daerah dalam dimana He Xia dan prajurit utamanya berkumpul? Bahkan
kalau para prajuritnya memiliki dua nyawa dan mengalahkan musuh sebanyak mereka
bisa, tidak ada kemungkinan untuk bisa melihat wajah mempesona itu lagi sebelum
kematiannya.
Dan
kalau ia memilih untuk tidak melawan, suara kecapi itu akan kesepian dan tetap
terkurung disuatu tempat.
Chu
Beijie merasa sangat tidak senang.
Bagaimana
bisa?
“Tuan…
apa rencana Tuan selanjutnya?” Chen Mu membebaskan Zhao Wen dan para
prajuritnya seperti yang dijanjikan. Chen Mu menemukan wajah Chu Beijie penuh
dengan kepiluan dan kemarahan di wajahnya.
“Aku
akan ke perbatasan dan mengumpulkan bala tentara.” Angin fajar telah tiba, pandangan
Chu Beijie jauh ke arah perbatasan Yun Chang, sudut bibirnya membuat sebuah
senyuman dingin tanpa penyesalan. “Aku akan menggunakan setiap tetes kekuatan
militer Dong Lin untuk membelah wilayah Yun Chang sampai He Xia mengembalikan
Pingting dengan tangannya sendiri.”
Wanita
yang takdirnya terikat dengannya, wanita yang menggunakan kecapi untuk menahan
pedangnya.
Pingting hanya
dengan sebuah senyum, kau membuatku hatiku rindu pada pesonamu.
Kumohon, kembalilah
di hadapanku dan tersenyum sekali lagi.
Satu senyuman saja.
Aku akan menukar
semua kehebatan pertempuranku dimasa lalu dan yang akan segera terjadi, dengan seluruh kekuatan bangsa, hanya untuk senyummu.
--
Musim
dingin hampir berakhir tapi udara dingin belum pergi.
Telah
terjadi perubahan situasi luar biasa pada empat negara. Setelah menerima kabar,
perbatasannya di taklukan oleh pasukan Dong Lin, Raja Bei Mo segera menarik
persekutuannya dengan negara Yun Chang.
Tujuan
He Xia telah tercapai. Ia telah berhasil mundur bersama pasukannya yang
berjumlah lebih dari tiga ratus ribu prajurit tanpa pertempuran.
Rakyat
berpikir kalau langit masih berbaik hati dan tidak tahu mengenai situasi
mencekam di perbatasan yang akan membuat mereka risau.
Orang-orang
sudah bersiap. Meskipun situasi telah menjadi sangat tidak terduga, mereka
berusaha tetap tenang.
Anggota
kerajaan Dong Lin menerima kabar kalau musuh telah mundur, mereka yang selama
ini kehilangan nafsu makan dan kurang istirahat akhirnya bisa bernapas lega.
Tapi sebelum mereka sempat merasa gembira, sebuah kabar tak terduga datang
seperti petir dari angkasa.
Tuan
Besar Zhen Beiwang, Chu Beijie, telah menggunakan bendera komando,
memerintahkan seluruh pasukan Dong Lin untuk berkumpul dan mengempur perbatasan
Yun Chang!
Tawa
lebar di seluruh istana hilang dalam kesunyian, para pejabat saling melirik
satu sama lain dalam kebingungan dan tak tahu harus berkata apa.
Yun
Chang tidak seperti Gui Li dan Bei Mo. Negara itu memiliki kekuatan untuk
berperang tapi selalu menghindarinya, pasukan mereka sangat ahli. Dan yang
memimpin sekarang adalah Jendral yang sudah dikenal luas, He Xia. Menyerang Yun
Chang, seperti berjalan menuju kematian. Bahkan kalau hanya Gui Li dan Bei Mo
saja yang bersekutu, Dong Lin tidak memiliki cukup pasukan untuk
mengimbanginya.
Bagaimana
bisa Tuan Besar Zhen Beiwang, yang selama ini selalu berhati-hati melakukan hal
ceroboh seperti ini. Apa ia berniat bunuh diri?
“Benarkah?”
Cangkir arak yang dipegang Rang Dong Lin tidak bergerak ketika ia menatap si
prajurit pembawa pesan dengan baju penuh debu, berlutut di lantai.
Si
prajurit telah berkuda dengan terburu-buru selama beberapa hari dan suaranya
sangat parau. Tapi ia masih bisa berkata dengan lantang, “Melapor pada Raja,
Tuan Besar Zhen Bei Wang mengeluarkan perintahnya enam hari lalu. Semua Jendral
yang bertugas di perbatasan dan di empat barak telah di perintahkan untuk
meninggalkan tempat mereka dan bertemu Tuan Zhen Beiwang.”
Raja
Dong Lin tidak berkata apapun, ia berbalik dan menoleh pada Ratu, wajahnya
sudah sangat pucat. Perlahan ia meletakan cangkir araknya, tatapannya menyapu
seluruh ruangan. “Bagaimana menurut kalian?”
Ketika
Tuan Besar Zhen Beiwang kembali ke ibukota, mereka semua merayakannya, tapi
beberapa hari kemudian, ia bergegas pergi. Sebagian besar para pejabat tidak
tahu persis hubungan Chu Beijie dengan Pingting, maka mereka tidak berani
berucap apapun, hanya diam saja.
Kesunyian
mencekik memenuhi seluruh ruangan yang besar itu.
Pejabat
senior yang sudah tua, Chu Zairan sepertinya memikirkan sesuatu. Ia membuka
mulutnya, “Karena Tuan Besar Zhen Beiwang telah menggerakan seluruh pasukan di
perbatasan dan pasukan di barak, berapa banyak yang ia sisakan untuk menjaga
perbatasan Bei Mo dan Gui Li ?”
“Ia
meninggalkan sepuluh prajurit di setiap pos perbatasan.”
Hanya
sepuluh?
Para
pejabat berteriak sedih.
Dengan
jumlah itu, sama saja tidak ada pertahanan. Kalau tiba-tiba kedua negara
memutuskan untuk menyerang, mereka akan masuk, langsung ke jantung Dong Lin.
Semua
mata menatap Raja Dong Lin.
Ekspresi
wajah Raja sangat buruk, matanya berpijar beberapa kali. Ia mengangkat cangkir
araknya dan perlahan meneguknya. “Aku ingin menenangkan diri, tolong kalian
semua bubar.”
Para
pejabat berdiri dengan panik lalu berbaris dan membungkuk.
“Pejabatmu
yang setia mohon diri!”
Para
pelayan, penari dan pemain musik semuanya, pergi dengan perlahan meninggalkan
ruangan.
Kesunyian
yang sesungguhnya benar-benar terjadi setelah para pejabat pergi seluruhnya.
Ruangan sangat kacau setelah acara perayaan yang batal.
Seluruh
pasukan berkumpul di perbatasan untuk menantang He Xia.
Untuk
negaranya, ia mengorbankan adiknya dan Bai Pingting.
Dan
sekarang, Chu Beijie mengorbankan kakaknya kandungnya dan Dong Lin untuk Bai
Pingting.
Apa
sebabnya ?
Apa
akibatnya ?
Raja
duduk di kursi tahtanya, melihat sekeliling ruangan yang luas, dalam sunyi
menyesap araknya seteguk demi seteguk.
Sebuah
tangan putih menyentuhnya, dengan lembut melepaskan cangkir emas itu.
“Yang
Mulia…” Ratu berada di sampingnya, suaranya berbisik, “Tolong, cepatlah
pikirkan sebuah cara, berikan perintah untuk mengambil kembali bendera komando
dari tangan Zhen Beiwang.”
Raja
menoleh padanya, menatap matanya. Ia tersenyum pahit, “Apakah adikku tidak mampu
menggerakan seluruh pasukan tanpa sesuatu seperti bendera komando?”
Para
prajurit utama Dong Lin tanpa ragu, menyerang ibukota dan mengepung istana dibawah
perintahnya, waktu itu.
Ada
orang yang terlahir dengan kemampuan memimpin dan memberikan keberanian pada
setiap orang.
“Meskipun
begitu, kita tidak bisa hanya duduk dan menutup mata, Yang Mulia.” Jantungnya
berdetak kencang sampai terasa sakit di dadanya, “Hanya untuk seorang Bai
Pingting, ia telah mempertaruhkan keamanan negara. Saat ini apa bedanya Zhen
Beiwang dengan orang gila? Apa yang akan ia dapat dari mengutamakan emosinya
dan menghianati kerajaan?”
Raja
menatap jauh melewati pintu, ke suatu tempat yang sangat jauh. “Ia sudah
melakukannya.”
Ia
tak peduli lagi dengan hidupnya, kerajaan, maupun negaranya.
Untuk
pertama kalinya, rasa tanggungjawab yang ditekankan padanya sejak lahir telah
digantikan oleh egonya, tanpa harapan untuk bisa membujuknya.
Hanya
untuk seorang wanita.
Seorang
Bai Pingting.
“Beijie,
Beijie, apa kau masih adikku yang akan mengobarkan segalanya untuk Dong Lin ?”
Raja perlahan berdiri, menatap langit-langit, berpikir dalam-dalam. Tiba-tiba
ia merasakan rasa sakit luar biasa di tenggorokannya dan ia memuntahkan darah
segar ke atas meja dengan suara “ohok”.
“Yang
Mulia!” Ratu berteriak, suaranya panik. “Siapapun! Cepat kemari !”
Para
pelayan berdatangan dengan tergesa-gesa dan mereka sangat terkejut melihat
keadaan Raja mereka.
“Yang
Mulia!”
“hati-hati,
Yang Mulia!”
“Tabib,
panggil tabib!”
Hujan
gerimis mulai membasahi sebuah wilayah.
Dari
sebuah istana kerajaan kuno, dukacita dan kepanikan melanda.
Disekitar
singasana dipenuhi percikan darah, merah terang seperti sungai darah dari para
penjaga di sebuah kediaman terasing, tak berbeda dengan cairan yang menetes
dari sebuah pedang di medan pertempuran.
Sebuah
negara adalah sebuah rumah dan sebuah rumah dibuat oleh orang-orang. Amarah
yang tinggi seperti gunung yang padat.
Bai Pingting apa
yang tidak mustahil untukmu ?
--00—
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia