He
Xia berdiri diatas pijakan yang tinggi di gunung, menatap ke arah timur dengan
lengan di belakang punggungnya.
Di
hari bersalju lebat, dengan kediaman yang begitu tenang di bawah matanya,
menyembunyikan seseorang yang biasa ia panggil Pingting.
Pingting,
pelayannya selama lima belas tahun, teman bermainnya, seorang penilai music. Ia
selalu menemaninya ketika ia membaca, menemaninya berlatih pedang bertepuk
tangan sambil memberi semangat.
Siapa
yang begitu mudah menyerahkan lima belas tahun? Dari seorang anak kecil menjadi
Nona yang berpendidikan, Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang, juga salah satu
pemain kecapi terbaik Gui Li. Ia benar-benar seperti bunga yang mekar di
lembah.
Banyak
orang yang menginginkannya dan banyak orang yang memujinya.
Ia
dengan diam-diam menjaganya, menghargainya dan membawanya kesemua tempat bahan
sampai ke medan perang. Ia membawanya untuk melihat pasukan prajurit bersenjata
dan badai pasir yang menari.
Ia
seharusnya miliknya, dalam keadaan seperti ini, ia seharusnya berada disisinya.
Ia
tak pernah berpikir akan pernah memerangkapnya seperti ini.
Pingtingnya
adalah seekor burung phoenik dengan sayap berwarna cerah, yang menunggu seorang
pria yang memiliki kekuatan yang hebat, yang akan membawanya dari tempat itu. Untuk
bersatu kembali dengannya.
Itulah
harapan Pingting, kebahagiaannya sampai akhir dunia.
Bukan
Chu Beijie, seharusnya hanya dirinya, He Xia, yang memiliki bagian terbesar di hati Pingting.
Tapi
bagaimanapun yang telah mencuri hatinya adalah Chu Beijie.
Boleh
siapa saja, siapa saja, kecuali Chu Beijie.
Bagaimanan
mungkin ia membiarkan Bai Pingtingnya bersama Chu Beijie, musuh utamanya?
Bisanya Pingting bertukar pandang dengan Chu Beijie, berbicara tentang
kehidupan dengan Chu Beijie, menyanyi untuknya dan bermain kecapi untuknya.
He
Xia tidak bisa menerimanya. Kesabaran dan penderitaannya menahan perpisahan
dengan Pingting harus ditukar dengan pria murahan seperti Chu Beijie.
Ia
bisa merasakan salju diterbangkan angina.
Langit
hampir gelap. Sekarang sudah tanggal enam.
“Tuan?”
Dongzhuo berlajan ke tempat tinggi dan berhenti di belakang He Xia.
“Dongzuo
suaramu berat dan sedih.” He Xia kemudian berkata dengan serius, “Menurutmu Chu
Beijie akan kembali tepat waktu?”
“Tidak.”
“Apa
kau kecewa karena Chu Beijie tidak bisa kembali ?”
Dongzhuo
menggelengkan kepalanya. Ia diam sejenak sebelum mendongak dan berkata, “Tuan,
tolong perintahkan untuk menyerang. Kediaman itu tidak punya kemampuan untuk
bertahan dan keahlian Tuan tidak sulit untuk menangkap Pingting hidup-hidup.
Ketika ia sudah bersama kita, kita bisa membujuknya kembali untuk berubah
pikiran.”
He
Xia tidak menjawab. Punggungnya dihiasi sinar mentari sore di barat, terasa
jauh.
“Tuan,
apa kau tidak merasa kasihan sama sekali pada Pingting karena kita sudah tumbuh
bersama?” Dongzhuo merasa sangat sedih ketika menatap punggung He Xia. Ia
berlutut dan meletakkan kepalanya di tanah, menangis, “Tuan, anda tahu kalau
Chu Beijie tidak bisa kembali, kenapa anda membuat Pingting patah hati dengan
menunggunya?”
Sebuah
kilatan gelap terlintas di kedalaman kedua mata He Xia yang hitam, kesedihan
tak terhingga muncul sekilas tapi segera hilang dengan cepat.
“Tidak
hanya aku ingin membuatnya patah hati,” Mata He Xia memantulkan titik-titik api
yang mulai bermunculan di dalam Kediaman dan ia mengertakan giginya, “Aku harus
membuatnya hilang harapan terhadap Chu Bieijie sama sekali.”
--
Ketika
malam tiba, di dalam Kediaman semakin sunyi.
Bahkan
daerah pemakaman tidak bisa sesunyi ini. Bahkan suara salju yang berterbangan
di udarapun tidak terdengar. Seperti ilusi mata.
Seperti
sebuah mimpi, ketika tangan berusaha mengapainya mimpi itu menghilang,
meninggalkan rasa hampa.
Pingting
menyaksikan ke arah barat.
Waktu
begitu kejam, berlalu sedikit demi sedikit lewat jari-jarinya.
Ia
telah menatap begitu lama ke arah luar, tidak berkedip sama sekali, sepertinya
saat ini adalah hal yang sangat penting baginya dalam hidupnya sejak
kelahirannya.
Dari
barat Chu Beijie akan kembali. Ia tak bisa melihat ke jalan utama di barat
karena terhalang hutan dan gunung, dimana pasukan He Xia berkemah. Pingting
sama sekali tidak khawatir, kalau mereka berhasil menghentikan Chu Beijie.
Hari
ini tanggal enam.
Bulan
sudah muncul, tapi Chu Beijie masih belum tiba.
Zuiju
perlahan membuka tirai. Ia telah berdiri diluar sangat lama, cukup lama sampai
rasanya hari dengan tanggal enam tertancap di hatinya.
Ia
mendekati Pingting, wajah cantiknya sedang menatap bulan. Hal itu sangat
menusuk hati Zuiju, sehingga tubuhnya agak goyah sedikit.
“Nona
Bai…”
Pingting
menoleh padanya dan tersenyum. Senyumnya lebih terasa memilukan daripada sebuah
tangisan histeris.
Tapi
ia harus mengatakannya.
Zuiju
menatap padanya, sama sekali tidak ada keraguan di matanya. Ia merasakan angina
utara melewati dadanya. Cukup dingin untuk membekukan sebuah benda.
Ia
memilih kata-katanya sebelum akhirnya membuka mulutnya. “Karena kematian dua
pangeran, Dong Lin saat ini tanpa pewaris. Sungguh baik kalau para selir Raja
ada yang bisa melahirkan seorang bayi
laki-laki untuk mewarisi tahta. Jika tidak, Tuan Besar akan menjadi Raja Dong
Lin berikutnya.”
Dengan
beberapa kata saja sudah membuat Zuiju ketakuran dan ia takut kekuatannya
menghilang. Ia tidak berani membuat pandangannya goyah dan terus menatap
Pingting dengan tekad.
“Lanjutkan.”
Pingting berkata dengan tenang.
“Kalau
anak yang Nona kandung, laki-laki, maka ia akan menjadi anak tertua Tuan
Besar.”
“Zuiju.”
Akhirnya Pingting menatapanya dengan serius, “Apa yang ingin kau katakan ?”
Zuiju
tegang dan ia menundukkan kepalanya berpikir dengan sangat dalam. Ia lalu
mengigit bibirnya dengan keras, membiarkan darahnya mengalir melewati giginya.
Ia berkata dengan pelan, “Nona tahu dengan jelas, identitas anak itu sangat
penting bagi Dong Lin. He Xia lawan yang sangat berat, Nona tidak boleh
membiarkan darah daging Tuan Besar jatuh ketangannya.” Kata-katanya sangat
jelas dan langsung, sama sekali tidak bisa dibantah. Ia berbalik ke arah
mangkuk obat yang masih hangat di meja dibelakangnya yang ia bawa untuk
Pingting.
Pandangan
Pingting menjadi sangat gelap, dan reaksi pertamanya adalah mengambil satu
langkah ke belakang.
“Nona,
janinmu masih sangat muda dan Tuan Besar belum tahu. Nona dan Tuan Besar masih
sangat muda.” Zuiju memegang mangkuk obat dan maju selangkah.
Pandangan
Pingting tiba-tiba menjadi kabur. Ia melindungi perut bawahnya dan segera
mengambil empat atau lima langkah mundur sampai ia menyentuh dinding. Ketika
punggungnya menyentuh dinding yang dingin, ia berusaha untuk tenang. Ia berdiri
dan menegakkan tubuhnya, kepalanya menoleh ke mangkuk dan berkata, “Di akhir
tanggal enam, Tuan Besar pasti kembali.”
“Dan
jika tidak?”
Pingting
merapatkan giginya, menekankan setiap kata-katanya, “Ia pasti akan kembali.”
“bagaimana
kalau Tuan Besar tidak bisa tepat waktu ?” Zuiju mengeraskan hatinya dan
berkata dengan kejam.
Kesunyian
sangat mencekik, menaklukan segalanya.
Pingting
menatap tajam pada Zuiju.
Kuku-kuku
Pingting menancap pada telapak tangannya, terasa sangat sakit.
Matanya
tak lagi menampilkan kelembutan. Seperti lahar hitam dalam seketika membeku
menjadi sebuah batu. Matanya tegas dan sangat yakin dengan penuh kepedihan.
“Kalau Tuan Besar benar-benar tidak tiba tepat waktu,” Pingting berkata dengan
mantap, “Dan Bulan sudah lewat pertengahan langit, aku pasti akan meminumnya.”
Zuiju
memperhatikan Pingting dan ia menarik napas lega.
Ia
meletakan mangkuk obatnya di meja, berlutut dan bersujud tiga kali. Lalu ia
keluar melewati pintu tanpa berkata apa-apa lagi.
Si
tabib lalu masuk ke ruang samping, kepalanya jatuh ke atas bantak di tempat
tidur yang kecil dan menagis.
--
Chu
Beijie masih berkuda dengan sangat cepat. Bukit-bukit berlalu di belakangnya,
setiap bukit yang dilewatinya membuat ilusi Kediamannya yang masih sangat jauh
dari penglihatannya.
Ia
tak berani membayangkan apa yang terjadi disana ketika ia sampai.
Apakah
bunga plum sudah mekar?
Apakah
masih ada kecapi yang cermelang itu?
Atau
malah ada asap?
Tiga
tibu tujuh ratus prajurit berkuda bersamanya di belakangnya. Seribu prajurit
khusus yang berangkat bersamanya sudah kelelahan dan kembali ke ibukota,
tersisa dua ribu dan seribu tujuh ratus prajurit Chen Mu.
Ribuan
kuda.
Suara
derap langkah kuda dari pasukan terdengar sampai melewati gunung dan sungai.
Tali
kekang telah berubah warna menjadi merah dari telapak tangan Chu Beijie yang
melepuh.
Ia
berkuda sejak kecil dan saat ini ia berkuda secepat yang ia bisa. Mengejutkan
tiba-tiba ada seseorang yang berkuda lebih cepat darinya, yang telah melewati
seluruh pasukan dan mendekat padanya, menghadapi angin dingin yang menerpa
wajah dan berkata padanya, “Apa anda Tuan Besar Zhen Beiwang, Chu Beijie ?”
Chu
Beijie tidak menjawab, hanya mengertakan giginya dan terus maju.
Ia
tahu kalau kuda barunya sudah sangat lelah. Meskipun masih berderap tapi
kecepatannya sudah berkurang dengan pasti.
Ia
tak bisa menyagkalnya, memang melambat. Dan ini membuatnya kesal.
“Tuan
Chu tolong berhenti sebentar. Aku dari Bei Mo dan harus menyerahkan surat
penting dari Jendral Ze Yin…”
“Pergilah!” Chu Beijie berkata dengan marah. Ia harus
cepat-cepat cepat-cepat, tidak boleh menyia-nyiakan sedikitpun waktu bahkan
tidak boleh menyia-nyiakan setetespun tenaga.
Orang
itu sangat mengesalkan dan sangat keras kepala. Mungkin karena ia telah mencari
Chu Beijie sejak lama dan tidak mau meninggalkannya. Ia dengan putus asa
mengikutinya, angin dingin memenuhi mulutnya ketika ia berteriak lagi, “Jendral
mengirimkan surat penting untuk disampaikan pada Tuan. Karena Jendral khawatir
surat itu tidak sampai tepat waktu di ibukota, ia menulis dua surat. Satu secara
diam-diam dikirimkan ke istana, dan satu lagi padaku. Aku diminta untuk
menunggu di sepanjang jalan diluar.”
“Pergilah!”
Chu Beijie menatap tajam padanya, tapi kemudian ia melihat pada kuda orang itu.
“Tuan!”
Orang yang telah menyelinap ke Dong Lin untuk menyampaikan surat pada Chu
Beijie tidak mungkin takut pada kematian. Ia menolak untuk menyerah dan
berteriak dengan kencang, “Tolong hanya membaca surat dari Jendral Ze Yin, ini
tentang Bai Pingting…” tapi kata-katanya terhenti ketika sebuah sosok tiba-tiba
mendarat di kudanya. Chu Beijie telah berpindah dari kudanya ke kuda orang itu
di tengah udara dan mengambil alih tali kekangnya. Suaranya terdengar serius,
“Pinjamkan kudamu.”
Dan
seperti yang diharapkan dari bawahan terbaik Ze Yin, keahliannya tidak buruk.
Meskipun ia telah di dorong mundur oleh Chu Beijie, ia mampu bertahan dan tidak
terjatuh.
Dengan
satu tangan berpegangan pada kuda sebelah tangannya lagi meraih kantungnya. Ia
mengeluarkan surat yang ditulis dengan rahasia oleh Ze Yin dengan hati-hati,
dan berkata dengan cepat, “Yang sebenarnya membunuh kedua pangerang adalah He
Xia bukan Bai Pingting. Surat ini ditulis sendiri oleh Jendral Ze Yin dan bisa
digunakan sebagai bukti bahwa Bai Pingting tidak bersalah.”
Ekspresi
Chu Bejie sama sekali tidak berubah ketika mendengarnya, tanpa berpaling ia
melemparkan surat itu ke udara.
“Ah!”
orang itu berteriak, menatap surat yang ia antarkan dengan susah payah
menghilang antara pasukan yang sedang berkuda dengan cepat. Ia menatap tajam
pada Chu Beijie dan berkata, “Kau…”
“Tidak
masalah Pingting bersalah atau tidak.” Mata Chu Beijie sangat tegas dan
suaranya sangat serius. “Meskipun rencananya sangat licik, ia tetap Bai
Pingtingku.”
Lalu
Chu Beijie mendorong orang itu, memaksanya untuk melompat turun dan mendarat
dengan aman di samping jalan.
Chu
Beijie sekarang memiliki kuda baru dan berderap dengan lebih cepat,
meninggalkan pasukan di belakangnya.
Ia
sangat khawatir dan serasa tersiksa dengan kejam. Semua ini hanya akan berakhir
ketika ia memeluk sosok kurus itu.
Pingting sayangku,
Chu Beijie mengakui kesalahannya.
Bai
Pingting yang cerdas, Bai Pingting yang bodoh, Bai Pingting yang baik hati, Bai
Pingting yang jahat semua itu adalah Bai Pingting yang Chu Beijie cintai.
Untuk
selama-selamanya.
--
Bulan
bersinar.
Dalam
seluruh ingatan Pingting, ia tak pernah melihat sinar bulan yang begitu memilukan.
Ia
dengan lembut menyinari dunia, memberikan sinar pucat tidak peduli pada
kesedihan atau penderitaan, menawakan lebih banyak kesuraman.
“Ayo
bersumpah pada bulan, tidak akan pernah berpaling satu sama lain.”
Dan
di bawah bulan juga, Pingting begitu anggun dan mempesona sedangkan Chu Beijie
begitu lembut seperti air.
“Iya,
mulai sekarang, kau akan menjadi Nyonya dan aku akan menjadi suamimu.”
“Bukan.”
“Aku
hanya seorang pelayan… pemain kecapi.”
“Aku
suka permainanmu.”
“Aku
tidak cukup bagus untuk Tuan.”
“Aku
cukup bagus untukmu.”
“Aku
tidak cantik.”
“Kurasa
kau enak dilihat.”
Kata-kata
ini tergiang di telinganya.
Apa kau ingat,
bulan? Di gunung Dianqing, Bai Pingting berusaha keluar selangkah demi
selangkah dari setumpuk masalah yang paling dibenci sebuah negara, melewati api
peperangan antara dua negara, pasukan bersenjata dan lima belas tahun kehidupan
mewahnya.
Ia
tahu ia telah melewati api, dan ia juga tahu ia telah melewati lima belas tahun
setiap musim di Kediaman Jin Anwang.
Ia
tahu ia telah benar-benar melebarkan tangannya untuk menyelesaikan banyak
masalah-masalah negara.
Apakah
memang benar-benar tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kebangaan negara?
Pingting
mengalihkan pandangannya dari bulan ke langit.
Bulan
dengan kejam, secara diam-diam telah merangkak sampai mendekati pepohonan di
hutan.
Tapi,
dari arah timur masih belum ada tanda-tanda.
Langit
perlahan semakin menekan perasaannya, dan bumi tetap diam sesunyi kematian, dan
semua orang menanti dengan jantung berdegup.
Di
atas sebuah meja kecil di sampingnya, semangkuk obat yang berwarna gelap telah
sangat dingin.
Sinar
bulan begitu kejam, begitu juga bayangannya. Pingting menaikkan kepalanya dan
melihat, bulan tak mau berhenti bergerak. Sedikit demi sedikit, ia mencapai
puncak pepohonan.
Entah
sudah berapa tetes darah mengalir dari bibirnya melewati giginya.
Sebuah
perasaan tidak enak timbul di matanya, dan memanas dengan cepat. Tapi ia tak
mau membiarkan setetespun airmatanya jatuh. Ia takut, ketika ia mulai menangis
maka mimpi buruknya akan segera datang.
Ia
berdiri di jendela, punggungnya tegap, seperti tulang rusuk yang terbuat dari
pedang. Ia hanya bisa berdiri tegap selama ia mampu. Karena ia takkan bisa
berdiri lagi kalau membuat sedikit saja gerakan. Sebab begitu ia bergerak, ia
akan hancur remuk dan disapu angin utara tanpa tersisa sedikitpun.
“Mulai
sekarang, kau tidak boleh menyia-nyiakan atau juga menyakiti dirimu sendiri.”
Ia tak bisa melupakan kata-kata Chu Beijie dan tidak bisa melupakan perasaan
hangat yang mengalir di dadanya ketika menatap mata Chu Beijie dalam-dalam.
Mengapa
harus takut pada kebencian seluruh negri jika kau punya cinta sejati?
Kalau
memang tulus, tetap memegang cintanya, tak peduli ratusan atau ribuan rintangan
dan halangan, mereka seharusnya tidak pernah berubah pikiran.
Lagipula,
apa yang lebih penting daripada memandang orang yang kau cintai setiap hari,
siang dan malam?
Waktu
terus berlalu, sedikit demi sedikit menetes.
Bulan, aku mohon
padamu, jangan kecewakan diriku.
Kali ini saja,
disepanjang kehidupanku, tolong, jangan kecewakan diriku.
Telapak
tangannya menyengkram pakaian dan dadanya.
Tapi
bulan tidak punya telinga. Atau mungkin bulan mendengarnya tapi dengan kejam
mengabaikannya.
Dari
arah timur tetap masih sunyi.
Keputusasaan
perlahan muncul dan menguasai di kedua matanya yang jernih.
Bulan
sudah melewati setengah langit.
Pingting
melihatnya melewati pepohonan, bersinar tanpa belas kasihan.
Saat
itu, ia benar-benar lupa hari ini adalah tanggal enam, lupa tentang sepasukan
prajurit yang mengepungnya, lupa tentang Zuiju, lupa tentang He Xia dan lupa
pada janjinya.
Ia
melupakan segalanya.
Pikirannya
kosong seperti lubang. Anggota tubuhnya masih lengkap tapi ia berasa lumpuh.
Hanya
terdengar suara debaran jantungnya, pelan dan kasar, detak demi detak.
Seperti
Kristal bunga teratai, kelopak bunganya mulai berguguran tanpa ampun sampai tak
bersisa.
Hancur.
Hancur
sampai berkeping-keping.
“Nona…”
Pingting
perlahan berbalik dan melihat ekspresi Zuiju yang sangat sedih.
Tatapan
Zuiju mengarah pada mangkuk obat di meja.
Pandangan
Zuiju mengikuti Pingting, ketika ia bergerak berjalan, dan mengambil
mangkuknya. Mangkuk itu beratnya serasa satu ton. Tanganya gemetar, membuat
riak besar di atasnya, air obat mengalir jatuh lewat samping mangkuk mendarat
di atas meja. Ruangan sunyi dan suasana sangat mencekik.
Hatinya.
Kelembutannya
telah menghilang.
Kegembiraannya
telah pergi.
Hanya
keputusasaan dan kepedihan yang tertinggal di matanya, berpijar dengan pasti.
Matanya melebar seperti menyaksikan seseorang sedang mencabut jantung dan
hatinya.
Zuiju
tahu, ia takkan pernah melupakan ekspresi wajah Pingting saat itu.
Pingting
mendekatkan mangkuk obat ke mulutnya dan terdiam, seperti ia sudah kehabisan
tenaga untuk bergerak. Rasa dingin menyentuh bibirnya. Ia tiba-tiba teringat
kalau ia akan kehilangan sesuatu yang sangat penting, membuat mangkuk
tergelincir dari tangannya.
Prang!
Mangkuk
pecah berkeping-keping, dan air berwarna gelap itu menyebar di lantai.
Airmata
pahit yang telah tahan begitu lama akhirnya jatuh dari matanya yang bergetar,
seperti kalung mutiara yang benangnya putus.
Pingting
terjatuh berlutut di atas lututnya, rasa sakit menerjang seluruh tubuhnya dan
tangannya menyengkram pundaknya erat-erat.
Tangisannya
yang keluar dari bibirnya yang berdarah, menunjukan perasaannya yang
disembunyikannya.
“Nona
Bai…”
Zuiju
mengelengkan kepala dengan sedih tapi ini hanya membuat Pingting semakin
menjadi-jadi. Pingting menatap Zuiju dengan wajah penuh airmata, “Zuiju jangan
paksa aku. Kumohon, kumohon, jangan paksa aku seperti ini!” Ia berkata.
Perasaan
Zuiju seperti ia baru saja di gigit ular, ia berlutut untuk menyentuh tangan
Pingting.
Apakah
ini sosok Pingting yang romantis dan periang?
Sesorang
yang mampu bertahan beberapa hari tanpa makan dan minum, dengan santainya
berbaring di dipan dan membaca sambil berkata, “Bisakah kau mencium wangi
salju?” Bai Pingting yang itu?
Bukan.
Orang
yang romantis, yang seperti dicerita-cerita dongeng, telah hancur.
Dihancurkan
oleh He Xia, oleh Raja Dong Lin, oleh Chu Beijie, dan oleh Zuiju sendiri.
Dunia
berdarah ini, tidak bisa bersabar dengan kebanggan yang dipersembahkan Bai
Pingting.
Ia
disana didepan matanya tapi kenyataannya sangat jauh. Sentuhan ringan saja bisa
membuatnya hilang seperti asap.
Obat
yang ia masak dengan tangannya sendiri itu, sekarang tumpah di lantai,
berbentuk seperti darah hitam yang kental. Zuiju menatap Pingting yang sedang
menangis, hatinya sangat menderita.
Ia
tidak tahu kalau ia bisa begitu kejam.
Moran
muncul di pintu.
“He
Xia telah mengirim kereta di depan gerbang.”
Berita
ini adalah satu lagi batu berat yang menekan hati Pingting.
Pingting
melepaskan tanganya, menggapai tembok untuk membantunya perlahan berdiri. Ia
menghapus airmatanya, wajahnya sangat pucat di bawah sinar bulan. Ia berbisik,
“Aku tahu.”
Sumpah
harus ditepati.
Wajah
Moran tetap tenang ketika ia mengeluarkan tali dari balik punggungnya. Ia
melemparkan pada Zuiju yang wajahnya masih penuh airmata. Ia berkata, “Ikat
Nona Bai.” Perintah ini sangat mengejutkan, keluar dari nada suara yang begitu
tegas.
‘Moran?”
“Nona
Bai, ini bukan karena kau melanggar sumpahmu, tapi karena diculik olehku.”
Tangan Moran mengenggam pedang di pinggangnya. “Aku berjanji pada Tuan Besar
selama aku hidup, Nona juga harus hidup.”
---
Chu
Beijie telah berada setengah mil jauhnya dari pasukan di belakangnya.
Ia
menolak untuk menatap pergerakan bulan yang menggores hatinya. Semakin tinggi
bulan, semakin dalam hatinya tertusuk pisau yang membuatnya berdarah-darah, tak
bisa dihentikan, setiap gerakannya.
Tapi
tangannya memegang tali kekang semakin kencang. Keringat melewati senjatanya
yang berat dan angin dingin tak berhenti menghantam wajah tampannya dan
mulutnya yang berdarah.
Bulan
sudah melewati setengah langit.
Sudah
lewat setengah langit.
Chu
Beijie menegadah, melihat ke arah gunung di barat. Salju yang terlihat disana
membekukan hati dan paru-parunya.
Tunggu aku Pingting!
Aku akan menyerahkan
berkah yang kumiliki dalam hidupku.
Kumohon, tunggu aku
kali ini.
Aku mohon, tunggu sebentar
lagi.
Aku takkan pernah
meninggalkanmu lagi.
Mulai sekarang,
masalah negara ataupun masalah keluarga takkan bisa memisahkan kita.
Aku berjanji mulai
sekarang, dimata Chu Beijie, harta yang paling berharga hanya Bai Pingting.
Pingting, Pingting!
Kumohon, tunggu
sebentar lagi.
Chu
Beijie sangat kelelahan ketika kudanya mulai mendaki ke gunung, ia memacu
kudanya secepat yang ia bisa melewati dahan pohon yang tak terhitung dan
pepohonan yang lebat sampai akhirnya sosoknya mulai terlihat.
Jauh
di hutan gunung, berdiri sebuah kediaman yang terasing.
Langkah
kaki kuda membawa salju berterbangan di sampingnya.
Setelah
hutan yang suram, satu-satunya jalan untuk melewati hutan, diterangi sinar
bulan ditutupi oleh salju yang berjatuhan ke tanah, Chu Beijie tak lagi mencium
harum wangi dari kejauhan melainkan bau asap dan benda terbakar.
Aku kembali!
Pingting lihat
keluar, jadi aku bisa melihatmu.
Aku akan menukar
seluruh hidupku untuk dua jam keterlambatanku.
Eskpresi
Chu Beijie tetap tenang, tangannya mencengkram pedang di pinggangnya ketika ia
memacu kudanya untuk bergerak lebih cepat lagi.
Kudanya
berlari secepat panah dari hutan yang lebat.
Kediaman
yang tersembunyi akhirnya terlihat di matanya.
Api
menyala di langit.
Bau
darah mengalir di udara malam, lebih mengerikan dibanding melihatnya langsung.
Tubuhnya
menjadi kaku dan jantungnya berhenti berdetak saat itu.
Hawa
dingin yang kejam menembus tulang-tulangnya.
Dengan
keberanian terakhirnya, ia melaju ke dalam Kediamannya. Mayat-mayat, beberapa
sosok yang ia kenal, mereka semua adalah para penjaga yang masih muda.
Orang-orang
yang dilatihnya siang dan malam, menyusahkan tapi lumayan ahli, orang-orang
yang tidak takut mati.
Pingting, Pingting.
Dimana kau?
Ia
berharap dalam hati, sebuah ketakutan, suatu teriakan akan menyingkirkan jejak
hidupnya.
Ia
sudut matanya, ia menemukan Moran.
Moran
terluka, berdarah dimana-mana, sebuah panah menembus di tubuh sebelah kanannya,
membuatnya berlutut diatas tanah. Didekatnya sebuah mayat prajurit musuh sedang
memegangi perutnya.
Moran
masih bernapas.
“Moran?
Moran!” Chu Beijie berlutut, berteriak memanggil namanya.
Karena
menunggu suara Chu Beijie, begitu lama, Moran segera membuka matanya dengan
susah payah. Sampai akhirnya ia menyadari kalau itu memang wajah Chu Beijie,
kesuramannya segera berubah menjadi semangat. “Tuan… anda akhirnya tiba…”
“Apa
yang terjadi? Dimana Pingting?” Suaranya serius, “Dimana Pingting?”
Ia
menatap Moran, matanya yang tajam sekarang sedikit bergetar. Ia menyadari,
cukup satu kata saja dari mulut Moran, bisa membuat langit dan bumi terbelah.
“He
Xia membawanya pergi.” Moran bernapas dengan cepat, menolehkan wajahnya. Chu
Beijie memejamkan matanya dan menggumpulkan kekuatannya, lalu ia membuka
matanya dan berteriak, “Kejar mereka!”
Chu
Beijie segera berdiri dan berlari ke gerbang.
Ia
disambut Chen Mu dan para prajurit yang baru tiba di gerbang, tapi langkahnya
tidak berhenti. Dengan suara dalam ia berkata, “Matikan apinya, tinggalkan
tabib dan dua ratus prajurit untuk mengobati yang terluka! Sisanya, ikuti aku!”
Sambil
bicara, ia menaiki kudanya.
Kuda
itu sepertinya sadar dengan keyakinan diri Chu Beijie yang luar biasa. Ia
meringkik kencang, bersiap dan berdiri dengan gagah di atas salju.
He
Xia, He Xia milik Yun Chang.
Chu
Beijie menatap tajam ke arah ibukota Yun Chang.
Pingting
disana.
Ia
sedang dalam perjalanan menuju Yun Chang. Setidaknya butuh satu setengah hari
sampai mereka meninggalkan wilayah Dong Lin.
Dimanapun
Pingting berada, meskipun ke ujung dunia, itu tidak jauh.
“Tuan!”
Chen Mu berlari keluar dari Kediaman, melaporkan, “Ada beberapa prajurit musuh
yang masih hidup. Aku menanyai prajurit tingkat tinggi. Mereka bilang, mereka
melewati daerah Hengduan untuk sampai kemari dan sepertinya akan melewati jalan
yang sama untuk kembali. Jumlah mereka sangat banyak, sekitar delapan ribu.”
Mungkin
Chu Beijie merasa ketakutan berlebihan tapi, ia merasakan perasaan genting yang
akrab. Ia membuat tenang bawahannya dengan menampilkan ekspresi tenang yang
biasa di gunakannya di medan perang. “He Xia mungkin sama sekali tidak menduga
kalau aku sudah tiba di kediamanku. Sepertinya mereka tiba dengan kelompok kecil
dan akan kembali melewati jalur yang sama, berkumpul kembali di Yun Chang.”
Suara
langkah kaki kuda berderap mendekat, sisa para prajurit yang tertinggal
dibelakang akhirnya tiba.
Chu
Beijie tidak membiarkan mereka beristirahat, ia segera mengangkat pedangnya dan
berkata lantang, “Para pria Dong Lin, Yun Chang telah mencuri Nyonya Zhen Bei
Wang. Apa kalian masih punya kekuatan untuk mengejar?”
Nyonya
Zhe Bei Wang?
Siapa
yang berani mencuri kekasih milik Tuan Zhen Bei Wang?
Sunyi
sesaat, kemudian jawaban lantang diteriakkan mengguncang kesunyian gunung.
“Masih?”
“Jumlah
mereka delapan ribu, dan kita hanya punya tiga ribu prajurit yang sudah lelah
dan kurang tidur beberapa malam.” Tatapan Chu Beijie menyapu melewati kerumunan
para prajurit muda Dong Lin. Suaranya yang dalam masuk ke telinga mereka,
“Kalau kita tidak bisa mendapatkan Nyonya kembali, kalian mungkin mati sia-sia,
kalian bisa memilih, ikut mengejar atau tinggal.”
“Kejar!”
suara raungan terdengar tanpa keraguan sedikitpun. Gema yang dihasilkan bisa
membuat cabang-cabang pohon yang bersalju berlompatan.
Chen
Mu juga mengatakan beberapa hal untuk meningkatkan semangat. Ia menaiki kudanya
dan berdiri disisi Chu Beijie, suaranya tegas, “Tidak ada yang merasa dipaksa
ketika kami mengikuti Tuan. Katakan perintah anda Tuan.”
Chu
Beijie merendahkan suaranya, “Lepaskan semua merpati yang kau bawa, agar
prajurit di perbatasan Dong Lin bersiap dengan pasukan Yun Chang di jalur
Hengduan. He Xia telah berani masuk begitu dalam ke wilayah Dong Lin,
sepertinya ia memiliki lebih banyak pasukan bersiaga di perbatasan Yun Chan,
untuk persiapan penyergapan. Perigati mereka untuk berhati-hati.”
Setelah
memberikan perintahnya, Chu Beijie mengangkat pedangnya lagi, melawan angin
utara mengarah ke langit, “Kejar!”
“Kejar!”
sekitar tiga ribu pedang dari para prajurit, dikeluarkan dari sarungnya,
berkilau di malam yang dingin.
Suaranya
seperti guntur yang pecah.
Suara
langkah kaki kuda sepertinya sekali lagi membelah bumi.
Udara
dingin sekali lagi menghantam wajah Chu Biejie, tapi matanya penuh dengan
tekad.
Aku akan pergi ke
ujung dunia, selama kau ada disana, Pingting.
Itu tidak jauh.
Selama kau ada
disana.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar