Selasa, 19 Juli 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.36

-- Volume 2 chapter 36 --


He Xia berdiri diatas pijakan yang tinggi di gunung, menatap ke arah timur dengan lengan di belakang punggungnya.

 

Di hari bersalju lebat, dengan kediaman yang begitu tenang di bawah matanya, menyembunyikan seseorang yang biasa ia panggil Pingting.

 

Pingting, pelayannya selama lima belas tahun, teman bermainnya, seorang penilai music. Ia selalu menemaninya ketika ia membaca, menemaninya berlatih pedang bertepuk tangan sambil memberi semangat.

 

Siapa yang begitu mudah menyerahkan lima belas tahun? Dari seorang anak kecil menjadi Nona yang berpendidikan, Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang, juga salah satu pemain kecapi terbaik Gui Li. Ia benar-benar seperti bunga yang mekar di lembah.

 

Banyak orang yang menginginkannya dan banyak orang yang memujinya.

 

Ia dengan diam-diam menjaganya, menghargainya dan membawanya kesemua tempat bahan sampai ke medan perang. Ia membawanya untuk melihat pasukan prajurit bersenjata dan badai pasir yang menari.

 

Ia seharusnya miliknya, dalam keadaan seperti ini, ia seharusnya berada disisinya.

 

Ia tak pernah berpikir akan pernah memerangkapnya seperti ini.

 

Pingtingnya adalah seekor burung phoenik dengan sayap berwarna cerah, yang menunggu seorang pria yang memiliki kekuatan yang hebat, yang akan membawanya dari tempat itu. Untuk bersatu kembali dengannya.

 

Itulah harapan Pingting, kebahagiaannya sampai akhir dunia.

 

Bukan Chu Beijie, seharusnya hanya dirinya, He Xia,  yang memiliki bagian terbesar di hati Pingting.

 

Tapi bagaimanapun yang telah mencuri hatinya adalah Chu Beijie.

 

Boleh siapa saja, siapa saja, kecuali Chu Beijie.

 

Bagaimanan mungkin ia membiarkan Bai Pingtingnya bersama Chu Beijie, musuh utamanya? Bisanya Pingting bertukar pandang dengan Chu Beijie, berbicara tentang kehidupan dengan Chu Beijie, menyanyi untuknya dan bermain kecapi untuknya.

 

He Xia tidak bisa menerimanya. Kesabaran dan penderitaannya menahan perpisahan dengan Pingting harus ditukar dengan pria murahan seperti Chu Beijie.

 

Ia bisa merasakan salju diterbangkan angina.

 

Langit hampir gelap. Sekarang sudah tanggal enam.

 

“Tuan?” Dongzhuo berlajan ke tempat tinggi dan berhenti di belakang He Xia.

 

“Dongzuo suaramu berat dan sedih.” He Xia kemudian berkata dengan serius, “Menurutmu Chu Beijie akan kembali tepat waktu?”

 

“Tidak.”

 

“Apa kau kecewa karena Chu Beijie tidak bisa kembali ?”

 

Dongzhuo menggelengkan kepalanya. Ia diam sejenak sebelum mendongak dan berkata, “Tuan, tolong perintahkan untuk menyerang. Kediaman itu tidak punya kemampuan untuk bertahan dan keahlian Tuan tidak sulit untuk menangkap Pingting hidup-hidup. Ketika ia sudah bersama kita, kita bisa membujuknya kembali untuk berubah pikiran.”

 

He Xia tidak menjawab. Punggungnya dihiasi sinar mentari sore di barat, terasa jauh.

 

“Tuan, apa kau tidak merasa kasihan sama sekali pada Pingting karena kita sudah tumbuh bersama?” Dongzhuo merasa sangat sedih ketika menatap punggung He Xia. Ia berlutut dan meletakkan kepalanya di tanah, menangis, “Tuan, anda tahu kalau Chu Beijie tidak bisa kembali, kenapa anda membuat Pingting patah hati dengan menunggunya?”

 

Sebuah kilatan gelap terlintas di kedalaman kedua mata He Xia yang hitam, kesedihan tak terhingga muncul sekilas tapi segera hilang dengan cepat.

 

“Tidak hanya aku ingin membuatnya patah hati,” Mata He Xia memantulkan titik-titik api yang mulai bermunculan di dalam Kediaman dan ia mengertakan giginya, “Aku harus membuatnya hilang harapan terhadap Chu Bieijie sama sekali.”

 

--

Ketika malam tiba, di dalam Kediaman semakin sunyi.

 

Bahkan daerah pemakaman tidak bisa sesunyi ini. Bahkan suara salju yang berterbangan di udarapun tidak terdengar. Seperti ilusi mata.

 

Seperti sebuah mimpi, ketika tangan berusaha mengapainya mimpi itu menghilang, meninggalkan rasa hampa.

 

Pingting menyaksikan ke arah barat.

 

Waktu begitu kejam, berlalu sedikit demi sedikit lewat jari-jarinya.

 

Ia telah menatap begitu lama ke arah luar, tidak berkedip sama sekali, sepertinya saat ini adalah hal yang sangat penting baginya dalam hidupnya sejak kelahirannya.

 

Dari barat Chu Beijie akan kembali. Ia tak bisa melihat ke jalan utama di barat karena terhalang hutan dan gunung, dimana pasukan He Xia berkemah. Pingting sama sekali tidak khawatir, kalau mereka berhasil menghentikan Chu Beijie.

 

Hari ini tanggal enam.

 

Bulan sudah muncul, tapi Chu Beijie masih belum tiba.

 

Zuiju perlahan membuka tirai. Ia telah berdiri diluar sangat lama, cukup lama sampai rasanya hari dengan tanggal enam tertancap di hatinya.

 

Ia mendekati Pingting, wajah cantiknya sedang menatap bulan. Hal itu sangat menusuk hati Zuiju, sehingga tubuhnya agak goyah sedikit.

 

“Nona Bai…”

 

Pingting menoleh padanya dan tersenyum. Senyumnya lebih terasa memilukan daripada sebuah tangisan histeris.

 

Tapi ia harus mengatakannya.

 

Zuiju menatap padanya, sama sekali tidak ada keraguan di matanya. Ia merasakan angina utara melewati dadanya. Cukup dingin untuk membekukan sebuah benda.

 

Ia memilih kata-katanya sebelum akhirnya membuka mulutnya. “Karena kematian dua pangeran, Dong Lin saat ini tanpa pewaris. Sungguh baik kalau para selir Raja ada yang  bisa melahirkan seorang bayi laki-laki untuk mewarisi tahta. Jika tidak, Tuan Besar akan menjadi Raja Dong Lin berikutnya.”

 

Dengan beberapa kata saja sudah membuat Zuiju ketakuran dan ia takut kekuatannya menghilang. Ia tidak berani membuat pandangannya goyah dan terus menatap Pingting dengan tekad.

 

“Lanjutkan.” Pingting berkata dengan tenang.

 

“Kalau anak yang Nona kandung, laki-laki, maka ia akan menjadi anak tertua Tuan Besar.”

 

“Zuiju.” Akhirnya Pingting menatapanya dengan serius, “Apa yang ingin kau katakan ?”

 

Zuiju tegang dan ia menundukkan kepalanya berpikir dengan sangat dalam. Ia lalu mengigit bibirnya dengan keras, membiarkan darahnya mengalir melewati giginya. Ia berkata dengan pelan, “Nona tahu dengan jelas, identitas anak itu sangat penting bagi Dong Lin. He Xia lawan yang sangat berat, Nona tidak boleh membiarkan darah daging Tuan Besar jatuh ketangannya.” Kata-katanya sangat jelas dan langsung, sama sekali tidak bisa dibantah. Ia berbalik ke arah mangkuk obat yang masih hangat di meja dibelakangnya yang ia bawa untuk Pingting.

 

Pandangan Pingting menjadi sangat gelap, dan reaksi pertamanya adalah mengambil satu langkah ke belakang.

 

“Nona, janinmu masih sangat muda dan Tuan Besar belum tahu. Nona dan Tuan Besar masih sangat muda.” Zuiju memegang mangkuk obat dan maju selangkah.

 

Pandangan Pingting tiba-tiba menjadi kabur. Ia melindungi perut bawahnya dan segera mengambil empat atau lima langkah mundur sampai ia menyentuh dinding. Ketika punggungnya menyentuh dinding yang dingin, ia berusaha untuk tenang. Ia berdiri dan menegakkan tubuhnya, kepalanya menoleh ke mangkuk dan berkata, “Di akhir tanggal enam, Tuan Besar pasti kembali.”

 

“Dan jika tidak?”

 

Pingting merapatkan giginya, menekankan setiap kata-katanya, “Ia pasti akan kembali.”

 

“bagaimana kalau Tuan Besar tidak bisa tepat waktu ?” Zuiju mengeraskan hatinya dan berkata dengan kejam.

 

Kesunyian sangat mencekik, menaklukan segalanya.

 

Pingting menatap tajam pada Zuiju.

 

Kuku-kuku Pingting menancap pada telapak tangannya, terasa sangat sakit.

 

Matanya tak lagi menampilkan kelembutan. Seperti lahar hitam dalam seketika membeku menjadi sebuah batu. Matanya tegas dan sangat yakin dengan penuh kepedihan. “Kalau Tuan Besar benar-benar tidak tiba tepat waktu,” Pingting berkata dengan mantap, “Dan Bulan sudah lewat pertengahan langit, aku pasti akan meminumnya.”

 

Zuiju memperhatikan Pingting dan ia menarik napas lega.

 

Ia meletakan mangkuk obatnya di meja, berlutut dan bersujud tiga kali. Lalu ia keluar melewati pintu tanpa berkata apa-apa lagi.

 

Si tabib lalu masuk ke ruang samping, kepalanya jatuh ke atas bantak di tempat tidur yang kecil dan menagis.

 

--

Chu Beijie masih berkuda dengan sangat cepat. Bukit-bukit berlalu di belakangnya, setiap bukit yang dilewatinya membuat ilusi Kediamannya yang masih sangat jauh dari penglihatannya.

 

Ia tak berani membayangkan apa yang terjadi disana ketika ia sampai.

 

Apakah bunga plum sudah mekar?

 

Apakah masih ada kecapi yang cermelang itu?

 

Atau malah ada asap?

 

Tiga tibu tujuh ratus prajurit berkuda bersamanya di belakangnya. Seribu prajurit khusus yang berangkat bersamanya sudah kelelahan dan kembali ke ibukota, tersisa dua ribu dan seribu tujuh ratus prajurit Chen Mu.

 

Ribuan kuda.

 

Suara derap langkah kuda dari pasukan terdengar sampai melewati gunung dan sungai.

 

Tali kekang telah berubah warna menjadi merah dari telapak tangan Chu Beijie yang melepuh.

 

Ia berkuda sejak kecil dan saat ini ia berkuda secepat yang ia bisa. Mengejutkan tiba-tiba ada seseorang yang berkuda lebih cepat darinya, yang telah melewati seluruh pasukan dan mendekat padanya, menghadapi angin dingin yang menerpa wajah dan berkata padanya, “Apa anda Tuan Besar Zhen Beiwang, Chu Beijie ?”

 

Chu Beijie tidak menjawab, hanya mengertakan giginya dan terus maju.

 

Ia tahu kalau kuda barunya sudah sangat lelah. Meskipun masih berderap tapi kecepatannya sudah berkurang dengan pasti.

 

Ia tak bisa menyagkalnya, memang melambat. Dan ini membuatnya kesal.

 

“Tuan Chu tolong berhenti sebentar. Aku dari Bei Mo dan harus menyerahkan surat penting dari Jendral Ze Yin…”

 

“Pergilah!”  Chu Beijie berkata dengan marah. Ia harus cepat-cepat cepat-cepat, tidak boleh menyia-nyiakan sedikitpun waktu bahkan tidak boleh menyia-nyiakan setetespun tenaga.

 

Orang itu sangat mengesalkan dan sangat keras kepala. Mungkin karena ia telah mencari Chu Beijie sejak lama dan tidak mau meninggalkannya. Ia dengan putus asa mengikutinya, angin dingin memenuhi mulutnya ketika ia berteriak lagi, “Jendral mengirimkan surat penting untuk disampaikan pada Tuan. Karena Jendral khawatir surat itu tidak sampai tepat waktu di ibukota, ia menulis dua surat. Satu secara diam-diam dikirimkan ke istana, dan satu lagi padaku. Aku diminta untuk menunggu di sepanjang jalan diluar.”

 

“Pergilah!” Chu Beijie menatap tajam padanya, tapi kemudian ia melihat pada kuda orang itu.

 

“Tuan!” Orang yang telah menyelinap ke Dong Lin untuk menyampaikan surat pada Chu Beijie tidak mungkin takut pada kematian. Ia menolak untuk menyerah dan berteriak dengan kencang, “Tolong hanya membaca surat dari Jendral Ze Yin, ini tentang Bai Pingting…” tapi kata-katanya terhenti ketika sebuah sosok tiba-tiba mendarat di kudanya. Chu Beijie telah berpindah dari kudanya ke kuda orang itu di tengah udara dan mengambil alih tali kekangnya. Suaranya terdengar serius, “Pinjamkan kudamu.”

 

Dan seperti yang diharapkan dari bawahan terbaik Ze Yin, keahliannya tidak buruk. Meskipun ia telah di dorong mundur oleh Chu Beijie, ia mampu bertahan dan tidak terjatuh.

 

Dengan satu tangan berpegangan pada kuda sebelah tangannya lagi meraih kantungnya. Ia mengeluarkan surat yang ditulis dengan rahasia oleh Ze Yin dengan hati-hati, dan berkata dengan cepat, “Yang sebenarnya membunuh kedua pangerang adalah He Xia bukan Bai Pingting. Surat ini ditulis sendiri oleh Jendral Ze Yin dan bisa digunakan sebagai bukti bahwa Bai Pingting tidak bersalah.”

 

Ekspresi Chu Bejie sama sekali tidak berubah ketika mendengarnya, tanpa berpaling ia melemparkan surat itu ke udara.

 

“Ah!” orang itu berteriak, menatap surat yang ia antarkan dengan susah payah menghilang antara pasukan yang sedang berkuda dengan cepat. Ia menatap tajam pada Chu Beijie dan berkata, “Kau…”

 

“Tidak masalah Pingting bersalah atau tidak.” Mata Chu Beijie sangat tegas dan suaranya sangat serius. “Meskipun rencananya sangat licik, ia tetap Bai Pingtingku.”

 

Lalu Chu Beijie mendorong orang itu, memaksanya untuk melompat turun dan mendarat dengan aman di samping jalan.

 

Chu Beijie sekarang memiliki kuda baru dan berderap dengan lebih cepat, meninggalkan pasukan di belakangnya.

 

Ia sangat khawatir dan serasa tersiksa dengan kejam. Semua ini hanya akan berakhir ketika ia memeluk sosok kurus itu.

 

Pingting sayangku, Chu Beijie mengakui kesalahannya.

 

Bai Pingting yang cerdas, Bai Pingting yang bodoh, Bai Pingting yang baik hati, Bai Pingting yang jahat semua itu adalah Bai Pingting yang Chu Beijie cintai.

 

Untuk selama-selamanya.

 

--

 

Bulan bersinar.

 

Dalam seluruh ingatan Pingting, ia tak pernah melihat sinar bulan yang begitu memilukan.

 

Ia dengan lembut menyinari dunia, memberikan sinar pucat tidak peduli pada kesedihan atau penderitaan, menawakan lebih banyak kesuraman.

 

“Ayo bersumpah pada bulan, tidak akan pernah berpaling satu sama lain.”

 

Dan di bawah bulan juga, Pingting begitu anggun dan mempesona sedangkan Chu Beijie begitu lembut seperti air.

 

“Iya, mulai sekarang, kau akan menjadi Nyonya dan aku akan menjadi suamimu.”

 

“Bukan.”

 

“Aku hanya seorang pelayan… pemain kecapi.”

 

“Aku suka permainanmu.”

 

“Aku tidak cukup bagus untuk Tuan.”

 

“Aku cukup bagus untukmu.”

 

“Aku tidak cantik.”

 

“Kurasa kau enak dilihat.”

 

Kata-kata ini tergiang di telinganya.

 

Apa kau ingat, bulan? Di gunung Dianqing, Bai Pingting berusaha keluar selangkah demi selangkah dari setumpuk masalah yang paling dibenci sebuah negara, melewati api peperangan antara dua negara, pasukan bersenjata dan lima belas tahun kehidupan mewahnya.

 

Ia tahu ia telah melewati api, dan ia juga tahu ia telah melewati lima belas tahun setiap musim di Kediaman Jin Anwang.

 

Ia tahu ia telah benar-benar melebarkan tangannya untuk menyelesaikan banyak masalah-masalah negara.

 

Apakah memang benar-benar tidak ada tempat untuk bersembunyi dari kebangaan negara?

 

Pingting mengalihkan pandangannya dari bulan ke langit.

 

Bulan dengan kejam, secara diam-diam telah merangkak sampai mendekati pepohonan di hutan.

 

Tapi, dari arah timur masih belum ada tanda-tanda.

 

Langit perlahan semakin menekan perasaannya, dan bumi tetap diam sesunyi kematian, dan semua orang menanti dengan jantung berdegup.

 

Di atas sebuah meja kecil di sampingnya, semangkuk obat yang berwarna gelap telah sangat dingin.

 

Sinar bulan begitu kejam, begitu juga bayangannya. Pingting menaikkan kepalanya dan melihat, bulan tak mau berhenti bergerak. Sedikit demi sedikit, ia mencapai puncak pepohonan.

 

Entah sudah berapa tetes darah mengalir dari bibirnya melewati giginya.

 

Sebuah perasaan tidak enak timbul di matanya, dan memanas dengan cepat. Tapi ia tak mau membiarkan setetespun airmatanya jatuh. Ia takut, ketika ia mulai menangis maka mimpi buruknya akan segera datang.

 

Ia berdiri di jendela, punggungnya tegap, seperti tulang rusuk yang terbuat dari pedang. Ia hanya bisa berdiri tegap selama ia mampu. Karena ia takkan bisa berdiri lagi kalau membuat sedikit saja gerakan. Sebab begitu ia bergerak, ia akan hancur remuk dan disapu angin utara tanpa tersisa sedikitpun.

 

“Mulai sekarang, kau tidak boleh menyia-nyiakan atau juga menyakiti dirimu sendiri.” Ia tak bisa melupakan kata-kata Chu Beijie dan tidak bisa melupakan perasaan hangat yang mengalir di dadanya ketika menatap mata Chu Beijie dalam-dalam.

 

Mengapa harus takut pada kebencian seluruh negri jika kau punya cinta sejati?

 

Kalau memang tulus, tetap memegang cintanya, tak peduli ratusan atau ribuan rintangan dan halangan, mereka seharusnya tidak pernah berubah pikiran.

 

Lagipula, apa yang lebih penting daripada memandang orang yang kau cintai setiap hari, siang dan malam?

 

Waktu terus berlalu, sedikit demi sedikit menetes.

 

Bulan, aku mohon padamu, jangan kecewakan diriku.

 

Kali ini saja, disepanjang kehidupanku, tolong, jangan kecewakan diriku.

 

Telapak tangannya menyengkram pakaian dan dadanya.

 

Tapi bulan tidak punya telinga. Atau mungkin bulan mendengarnya tapi dengan kejam mengabaikannya.

 

Dari arah timur tetap masih sunyi.

 

Keputusasaan perlahan muncul dan menguasai di kedua matanya yang jernih.

 

Bulan sudah melewati setengah langit.

 

Pingting melihatnya melewati pepohonan, bersinar tanpa belas kasihan.

 

Saat itu, ia benar-benar lupa hari ini adalah tanggal enam, lupa tentang sepasukan prajurit yang mengepungnya, lupa tentang Zuiju, lupa tentang He Xia dan lupa pada janjinya.

 

Ia melupakan segalanya.

 

Pikirannya kosong seperti lubang. Anggota tubuhnya masih lengkap tapi ia berasa lumpuh.

 

Hanya terdengar suara debaran jantungnya, pelan dan kasar, detak demi detak.

 

Seperti Kristal bunga teratai, kelopak bunganya mulai berguguran tanpa ampun sampai tak bersisa.

 

Hancur.

 

Hancur sampai berkeping-keping.

 

“Nona…”

 

Pingting perlahan berbalik dan melihat ekspresi Zuiju yang sangat sedih.

 

Tatapan Zuiju mengarah pada mangkuk obat di meja.

 

Pandangan Zuiju mengikuti Pingting, ketika ia bergerak berjalan, dan mengambil mangkuknya. Mangkuk itu beratnya serasa satu ton. Tanganya gemetar, membuat riak besar di atasnya, air obat mengalir jatuh lewat samping mangkuk mendarat di atas meja. Ruangan sunyi dan suasana sangat mencekik.

 

Hatinya.

 

Kelembutannya telah menghilang.

 

Kegembiraannya telah pergi.

 

Hanya keputusasaan dan kepedihan yang tertinggal di matanya, berpijar dengan pasti. Matanya melebar seperti menyaksikan seseorang sedang mencabut jantung dan hatinya.

 

Zuiju tahu, ia takkan pernah melupakan ekspresi wajah Pingting saat itu.

 

Pingting mendekatkan mangkuk obat ke mulutnya dan terdiam, seperti ia sudah kehabisan tenaga untuk bergerak. Rasa dingin menyentuh bibirnya. Ia tiba-tiba teringat kalau ia akan kehilangan sesuatu yang sangat penting, membuat mangkuk tergelincir dari tangannya.

 

Prang!

 

Mangkuk pecah berkeping-keping, dan air berwarna gelap itu menyebar di lantai.

 

Airmata pahit yang telah tahan begitu lama akhirnya jatuh dari matanya yang bergetar, seperti kalung mutiara yang benangnya putus.

 

Pingting terjatuh berlutut di atas lututnya, rasa sakit menerjang seluruh tubuhnya dan tangannya menyengkram pundaknya erat-erat.

 

Tangisannya yang keluar dari bibirnya yang berdarah, menunjukan perasaannya yang disembunyikannya.

 

“Nona Bai…”

 

Zuiju mengelengkan kepala dengan sedih tapi ini hanya membuat Pingting semakin menjadi-jadi. Pingting menatap Zuiju dengan wajah penuh airmata, “Zuiju jangan paksa aku. Kumohon, kumohon, jangan paksa aku seperti ini!” Ia berkata.

 

Perasaan Zuiju seperti ia baru saja di gigit ular, ia berlutut untuk menyentuh tangan Pingting.

 

Apakah ini sosok Pingting yang romantis dan periang?

 

Sesorang yang mampu bertahan beberapa hari tanpa makan dan minum, dengan santainya berbaring di dipan dan membaca sambil berkata, “Bisakah kau mencium wangi salju?” Bai Pingting yang itu?

 

Bukan.

 

Orang yang romantis, yang seperti dicerita-cerita dongeng, telah hancur.

 

Dihancurkan oleh He Xia, oleh Raja Dong Lin, oleh Chu Beijie, dan oleh Zuiju sendiri.

 

Dunia berdarah ini, tidak bisa bersabar dengan kebanggan yang dipersembahkan Bai Pingting.

 

Ia disana didepan matanya tapi kenyataannya sangat jauh. Sentuhan ringan saja bisa membuatnya hilang seperti asap.

 

Obat yang ia masak dengan tangannya sendiri itu, sekarang tumpah di lantai, berbentuk seperti darah hitam yang kental. Zuiju menatap Pingting yang sedang menangis, hatinya sangat menderita.

 

Ia tidak tahu kalau ia bisa begitu kejam.

 

Moran muncul di pintu.

 

“He Xia telah mengirim kereta di depan gerbang.”

 

Berita ini adalah satu lagi batu berat yang menekan hati Pingting.

 

Pingting melepaskan tanganya, menggapai tembok untuk membantunya perlahan berdiri. Ia menghapus airmatanya, wajahnya sangat pucat di bawah sinar bulan. Ia berbisik, “Aku tahu.”

 

Sumpah harus ditepati.

 

Wajah Moran tetap tenang ketika ia mengeluarkan tali dari balik punggungnya. Ia melemparkan pada Zuiju yang wajahnya masih penuh airmata. Ia berkata, “Ikat Nona Bai.” Perintah ini sangat mengejutkan, keluar dari nada suara yang begitu tegas.

 

‘Moran?”

 

“Nona Bai, ini bukan karena kau melanggar sumpahmu, tapi karena diculik olehku.” Tangan Moran mengenggam pedang di pinggangnya. “Aku berjanji pada Tuan Besar selama aku hidup, Nona juga harus hidup.”

 

---

Chu Beijie telah berada setengah mil jauhnya dari pasukan di belakangnya.

 

Ia menolak untuk menatap pergerakan bulan yang menggores hatinya. Semakin tinggi bulan, semakin dalam hatinya tertusuk pisau yang membuatnya berdarah-darah, tak bisa dihentikan, setiap gerakannya.

 

Tapi tangannya memegang tali kekang semakin kencang. Keringat melewati senjatanya yang berat dan angin dingin tak berhenti menghantam wajah tampannya dan mulutnya yang berdarah.

 

Bulan sudah melewati setengah langit.

 

Sudah lewat setengah langit.

 

Chu Beijie menegadah, melihat ke arah gunung di barat. Salju yang terlihat disana membekukan hati dan paru-parunya.

 

Tunggu aku Pingting!

 

Aku akan menyerahkan berkah yang kumiliki dalam hidupku.

 

Kumohon, tunggu aku kali ini.

 

Aku mohon, tunggu sebentar lagi.

 

Aku takkan pernah meninggalkanmu lagi.

 

Mulai sekarang, masalah negara ataupun masalah keluarga takkan bisa memisahkan kita.

 

Aku berjanji mulai sekarang, dimata Chu Beijie, harta yang paling berharga hanya Bai Pingting.

 

Pingting, Pingting!

 

Kumohon, tunggu sebentar lagi.

 

Chu Beijie sangat kelelahan ketika kudanya mulai mendaki ke gunung, ia memacu kudanya secepat yang ia bisa melewati dahan pohon yang tak terhitung dan pepohonan yang lebat sampai akhirnya sosoknya mulai terlihat.

 

Jauh di hutan gunung, berdiri sebuah kediaman yang terasing.

 

Langkah kaki kuda membawa salju berterbangan di sampingnya.

 

Setelah hutan yang suram, satu-satunya jalan untuk melewati hutan, diterangi sinar bulan ditutupi oleh salju yang berjatuhan ke tanah, Chu Beijie tak lagi mencium harum wangi dari kejauhan melainkan bau asap dan benda terbakar.

 

Aku kembali!

 

Pingting lihat keluar, jadi aku bisa melihatmu.

 

Aku akan menukar seluruh hidupku untuk dua jam keterlambatanku.

 

Eskpresi Chu Beijie tetap tenang, tangannya mencengkram pedang di pinggangnya ketika ia memacu kudanya untuk bergerak lebih cepat lagi.

 

Kudanya berlari secepat panah dari hutan yang lebat.

 

Kediaman yang tersembunyi akhirnya terlihat di matanya.

 

Api menyala di langit.

 

Bau darah mengalir di udara malam, lebih mengerikan dibanding melihatnya langsung.

 

Tubuhnya menjadi kaku dan jantungnya berhenti berdetak saat itu.

 

Hawa dingin yang kejam menembus tulang-tulangnya.

 

Dengan keberanian terakhirnya, ia melaju ke dalam Kediamannya. Mayat-mayat, beberapa sosok yang ia kenal, mereka semua adalah para penjaga yang masih muda.

 

Orang-orang yang dilatihnya siang dan malam, menyusahkan tapi lumayan ahli, orang-orang yang tidak takut mati.

 

Pingting, Pingting.

 

Dimana kau?

 

Ia berharap dalam hati, sebuah ketakutan, suatu teriakan akan menyingkirkan jejak hidupnya.

 

Ia sudut matanya, ia menemukan Moran.

 

Moran terluka, berdarah dimana-mana, sebuah panah menembus di tubuh sebelah kanannya, membuatnya berlutut diatas tanah. Didekatnya sebuah mayat prajurit musuh sedang memegangi perutnya.

 

Moran masih bernapas.

 

“Moran? Moran!” Chu Beijie berlutut, berteriak memanggil namanya.

 

Karena menunggu suara Chu Beijie, begitu lama, Moran segera membuka matanya dengan susah payah. Sampai akhirnya ia menyadari kalau itu memang wajah Chu Beijie, kesuramannya segera berubah menjadi semangat. “Tuan… anda akhirnya tiba…”

 

“Apa yang terjadi? Dimana Pingting?” Suaranya serius, “Dimana Pingting?”

 

Ia menatap Moran, matanya yang tajam sekarang sedikit bergetar. Ia menyadari, cukup satu kata saja dari mulut Moran, bisa membuat langit dan bumi terbelah.

 

“He Xia membawanya pergi.” Moran bernapas dengan cepat, menolehkan wajahnya. Chu Beijie memejamkan matanya dan menggumpulkan kekuatannya, lalu ia membuka matanya dan berteriak, “Kejar mereka!”

 

Chu Beijie segera berdiri dan berlari ke gerbang.

 

Ia disambut Chen Mu dan para prajurit yang baru tiba di gerbang, tapi langkahnya tidak berhenti. Dengan suara dalam ia berkata, “Matikan apinya, tinggalkan tabib dan dua ratus prajurit untuk mengobati yang terluka! Sisanya, ikuti aku!”

 

Sambil bicara, ia menaiki kudanya.

 

Kuda itu sepertinya sadar dengan keyakinan diri Chu Beijie yang luar biasa. Ia meringkik kencang, bersiap dan berdiri dengan gagah di atas salju.

 

He Xia, He Xia milik Yun Chang.

 

Chu Beijie menatap tajam ke arah ibukota Yun Chang.

 

Pingting disana.

 

Ia sedang dalam perjalanan menuju Yun Chang. Setidaknya butuh satu setengah hari sampai mereka meninggalkan wilayah Dong Lin.

 

Dimanapun Pingting berada, meskipun ke ujung dunia, itu tidak jauh.

 

“Tuan!” Chen Mu berlari keluar dari Kediaman, melaporkan, “Ada beberapa prajurit musuh yang masih hidup. Aku menanyai prajurit tingkat tinggi. Mereka bilang, mereka melewati daerah Hengduan untuk sampai kemari dan sepertinya akan melewati jalan yang sama untuk kembali. Jumlah mereka sangat banyak, sekitar delapan ribu.”

 

Mungkin Chu Beijie merasa ketakutan berlebihan tapi, ia merasakan perasaan genting yang akrab. Ia membuat tenang bawahannya dengan menampilkan ekspresi tenang yang biasa di gunakannya di medan perang. “He Xia mungkin sama sekali tidak menduga kalau aku sudah tiba di kediamanku. Sepertinya mereka tiba dengan kelompok kecil dan akan kembali melewati jalur yang sama, berkumpul kembali di Yun Chang.”

 

Suara langkah kaki kuda berderap mendekat, sisa para prajurit yang tertinggal dibelakang akhirnya tiba.

 

Chu Beijie tidak membiarkan mereka beristirahat, ia segera mengangkat pedangnya dan berkata lantang, “Para pria Dong Lin, Yun Chang telah mencuri Nyonya Zhen Bei Wang. Apa kalian masih punya kekuatan untuk mengejar?”

 

Nyonya Zhe Bei Wang?

 

Siapa yang berani mencuri kekasih milik Tuan Zhen Bei Wang?

 

Sunyi sesaat, kemudian jawaban lantang diteriakkan mengguncang kesunyian gunung. “Masih?”

 

“Jumlah mereka delapan ribu, dan kita hanya punya tiga ribu prajurit yang sudah lelah dan kurang tidur beberapa malam.” Tatapan Chu Beijie menyapu melewati kerumunan para prajurit muda Dong Lin. Suaranya yang dalam masuk ke telinga mereka, “Kalau kita tidak bisa mendapatkan Nyonya kembali, kalian mungkin mati sia-sia, kalian bisa memilih, ikut mengejar atau tinggal.”

 

“Kejar!” suara raungan terdengar tanpa keraguan sedikitpun. Gema yang dihasilkan bisa membuat cabang-cabang pohon yang bersalju berlompatan.

 

Chen Mu juga mengatakan beberapa hal untuk meningkatkan semangat. Ia menaiki kudanya dan berdiri disisi Chu Beijie, suaranya tegas, “Tidak ada yang merasa dipaksa ketika kami mengikuti Tuan. Katakan perintah anda Tuan.”

 

Chu Beijie merendahkan suaranya, “Lepaskan semua merpati yang kau bawa, agar prajurit di perbatasan Dong Lin bersiap dengan pasukan Yun Chang di jalur Hengduan. He Xia telah berani masuk begitu dalam ke wilayah Dong Lin, sepertinya ia memiliki lebih banyak pasukan bersiaga di perbatasan Yun Chan, untuk persiapan penyergapan. Perigati mereka untuk berhati-hati.”

 

Setelah memberikan perintahnya, Chu Beijie mengangkat pedangnya lagi, melawan angin utara mengarah ke langit, “Kejar!”

 

“Kejar!” sekitar tiga ribu pedang dari para prajurit, dikeluarkan dari sarungnya, berkilau di malam yang dingin.

 

Suaranya seperti guntur yang pecah.

 

Suara langkah kaki kuda sepertinya sekali lagi membelah bumi.

 

Udara dingin sekali lagi menghantam wajah Chu Biejie, tapi matanya penuh dengan tekad.

 

Aku akan pergi ke ujung dunia, selama kau ada disana, Pingting.

 

Itu tidak jauh.

 

Selama kau ada disana.

 

--00--


Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar