Rabu, 22 Juni 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.35

-- Volume 2 chapter 35 --


Mereka berdua diam-diam merasa kecewa.

 

Moran berkata, “Meskipun He Xia berkata tidak akan bergerak sampai tanggal enam, kita tidak boleh meremehkannya. Aku akan melakukan persiapan untuk mempertahankan kediaman ini.”

 

Zuiju mengangguk setuju dan melihat Moran berbalik pergi. Ia memikirkan sesuatu dan berkata pelan, “Ah,” tapi ia segera menahan suaranya untuk memanggil Moran dan membiarkannya pergi.

 

Zuiju kembali ke dalam ruangan, ia melihat Hongqian masih duduk di kursi sambil ketiduran.

 

Hongqian sudah terlalu banyak menerima kejutan untuk pikirannya yang sederhana. Melihat Moran dan Pingting telah kembali dengan selamat, ia menyadari kalau bahaya telah berlalu dan akhirnya tertidur. Kemudian ia mendengar tirai disibak, ia membuka matanya dan melihat Zuiju telah kembali. Ia meletakan ibujarinya di mulutnya.

 

“Hush…” ia menunjuk pada ruang dalam, memejamkan matanya dan meletakan kedua tangannya terkatup di satu sisi wajahnya, memperlihatkan gaya tidur.

 

Zuiju memberikan tatapan mengerti dan bergerak dengan tanpa bersuara, memperhatikan Pingting.

 

Pingting berbaring di tempat tidurnya, rambut panjangnya terurai disekitarnya. Sebagian rambutnya jatuh dari tempat tidur. Matanya terpejam dan ia terlihat pulas.

 

Sebuah selimut tebal menutupinya, tapi jendela masih terbuka, membiarkan angin dingin berhembus ke dalam.

 

Zuiju berbisik, “Sungguh kebiasaan buruk yang harus dirubah.” Ia berjingkat perlahan-lahan ke samping tempat tidur, dengan hati-hati mengapai daun jendela. Sebelum ia berhasil meraihnya ia mendengar sebuah suara dari bawah.

 

“Jangan di tutup. Hembusan angin menyegarkan pikiranku.”

 

Zuiju menoleh ke bawah untuk melihat, Pingting sudah membuka matanya. Bagaimana mereka bisa berpikir kalau ia tertidur saat cuaca begitu terang?

 

“Lebih baik di tutup, karena sangat tidak lucu kalau Nona terkena pilek.” Zuiju dengan keras kepala menutup jendela dan duduk di samping tempat tidur. Ia memasukan tangannya ke balik selimut dan menarik tangan Pingting untuk memeriksa nadinya. Ia mendengarkan dengan seksama dan akhirnya tertawa ringan, “Kau baik-baik saja.”

 

Ia mengembalikan tangan Pingting ke dalam selimut kembali dan berkata dengan suara pelan. “Aku sudah mendengarnya dari Moran. Aku sungguh tidak tahu harus berkata apa.”

 

Pingting mengeluarkan senyum lembut dan balik bertanya, “Jangan katakan kalau kau juga khawatir Tuan tidak kembali.”

 

Zuiju menatap mata Pingting.

 

Ia telah menemani gurunya menyelamatkan banyak nyawa dan terbiasa dengan para bangsawan dan pejabat. Ia telah menjadi akrab dengan para Nona dan Nyonya dari para keluarga penting di Dong Lin, bahkan juga para Selir di istana, tapi ia belum pernah bertemu seseorang yang seperti Bai Pingting.

 

Sangat pintar, ceria, tapi juga sangat penyendiri. Bagaimana bisa Kediaman Jin Anwang menghasilkan seseorang yang begitu terhormat seperti He Xia, membawa pedang dan lagu untuk mengejar seorang Bai Pingting?

 

Pingting melihat Zuiju begitu diam dan ia perlahan mengembalikan pandangannya.

 

Mereka berdua saling memandang dalam diam, seperti mencoba saling mengerti pemikiran masing-masing.

 

Hongqian masuk dan melihat mereka saling bertatapan satu sama lain. Dan ia berkata denga suara terkejut, “Jadi Nona Bai tidak sedang tertidur? Aku bergerak dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkanmu. Apa yang membuat kalian saling bertatapan seperti itu? Tatapan seperti itu bisa membentuk sebuah bunga.”

 

Zuiju mengalihkan tatapannya dan menoleh pada Hongqian. Ia setengah tertawa dan setengah cembetut, “Kau sangat berisik, menggangu orang yang sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.”

 

Pingting juga menoleh padanya dan berkata, “Ada yang ingin kau sampaikan?”

 

“Lihat jam berapa sekarang,” Hongqian menunjuk ke arah luar “Karena Nona Bai sedang tertidur, aku tidak berani menanyakan, tapi tidakkah kalian berdua merasa lapar?”

 

Zuiju menggerakan kepalanya dan melihat keluar, “Benar, tak heran aku merasa lapar. Berkat ketegangan hari ini, aku benar-benar lupa makan.”

 

“Makanan sudah siap, aku akan membawanya kemari.” Hongqian pergi keluar.

 

Meskipun pelayan dapur sangat tegang seharian, tapi hasil masakannya sangat lezat.

 

Beberapa jenis hidangan dibawa masuk. Seperti biasa, dua hidangan daging, dua hidangan sayur dan beberapa hidangan ringan.

 

Napsu makan Pingting tidak pernah bagus. Apalagi saat ini suasana hatinya sangat tidak baik, ia kehilangan napsu makannya lebih dari sebelumnya. Ia mengambil sedikit dan menjatuhkannya dari sumpitnya.

 

Zuiju melihatnya meletakan sumpitnya dan segera berkata, “Setidaknya habiskan supnya dan semangkuk nasi.”

 

Zuiju segera menambahkan beberapa potong daging di mangkuk nasi Pingting, dan memberikan tatapan tajam.

 

Pingting sama sekali kehilangan napsu makannya, tapi melihat tatapan mengerikan dari Zuiju, ia meraba perut bagian bawahnya dan akhirnya memaksakan makanan itu masuk ke mulutnya dengan diam.

 

Dan melihat itu, Zuiju tersenyum, merasa puas.

 

Setelah makan malam, Zuiju dan Hongqian mengambil nampan dan merapikan piring-piring serta mangkuk-mangkuk di atasnya.

 

Zuiju lalu berkata, “Biar aku saja.” Ia meninggalkan Hongqian untuk menemani Pingting dan membawa nampan makanan melewati halaman ketika ia melihat pelayan dapur datang mendekatinya.

 

“Nona Zuiju sekarang sangat dingin. Kau tidak perlu mengembalikannya sendiri, aku bisa melakukannya.” Si pelayan menghentikannya ketika melihat Zuiju.

 

Zuiju menyerahkan nampan padanya, dan mengambil sesuatu dari lengan bajunya. “Tidak pa-pa, aku harus memberikanmu daftar makanan untuk besok. Masak resep ini dan tambahkan bahan lain untuk rasanya. Gunakan bahan terbaik dan jangan lupa, dengan takaran yang tepat.

 

Semua orang di Kediaman mematuhi perintahnya. Si Pelayan dapur membaca resep di bawah sinar bulan dan berkata, “Sungguh resep yang sangat rinci. Kerja bagus Nona Zuiju, kau sangat teliti untuk mengembalikan kesehatannya. Tak heran wajah Nona Bai terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Tapi….” Nada suara Si Pelayan Dapur berubah menjadi lebih serius, “tapi bahan ini sudah digunakan untuk Nona Bai beberapa hari lalu, jadi kami kehabisan persediaannya. Kami tidak pernah menggunakan daun peony, tapi ada beberapa aster.”

 

Zuiju menjawab, “Resep ini tidak boleh ditunda. Bahkan kalau aku jelaskan, kau tidak akan mengerti. Jadi secepatnya cari atau minta seseorang untuk membelinya sesuai resepku.”

 

“Nona, anda pasti lupa. Siapa yang bisa meninggalkan kediaman disaat seperti ini? Penjagaan di pintu masuk kita bahkan lebih ketat dari pada penjagaan di pintu masuk ibukota.”

 

Dan akhirnya Zuiju mengingat sepasukan prajurit yang sedang mengepung mereka. Ia menepuk dahinya dengan telapak tangannya, “Benar, aku sungguh pelupa. Bicara tentang itu, apa dapur punya persediaan sampai tanggal enam?”

 

“Persediaan beras cukup sampai akhir tahun. Sepertinya kita tidak akan mati kelaparan, tapi tidak cukup sayuran, meskipun ada kebun sayur kecil di belakang dan sedikit ternak ayam, Nona harus memperhitungkan keseluruhan jumlah penghuni disini. Lupakan para wanita, mereka tidak makan terlalu banyak, tapi bagaimana para penjaga itu tetap mendapatkan semangkuk besar nasi dan daging? Aku memperkirakan daging dan sayuran itu hanya bertahan sampai besok.”

 

Si pelayan dapur melihat sekeliling dan merendahkan suaranya, “Daging babi dikirim setiap tiga hari dan kami sudah menghabiskannya dalam dua hari ini, jadi tidak akan ada daging babi mulai besok. Kita juga tidak punya ikan segar, jadi hanya akan ada ayam dan bebek. Jendral Chu bilang ini bukan sesuatu yang penting jadi sebaiknya tidak memberitahu Nona Bai. Aku terlanjur memberitahumu, tapi tolong jangan katakan pada Nona Bai”

 

Zuiju mengangguk setuju. “Aku ikut dengamu ke dapur untuk melihat apalagi yang tersisa. Aku akan menyesuaikan resepku. Pastikan kau melakukannya dengan baik, tak peduli berapa banyak prajurit mengepung di luar, aku ingin memastikan hanya hidangan terbaik yang diberikan pada Nona Bai.”

 

“Tentu saja, selama dapur memiliki bahan tersebut dalam persediaan, maka kami akan mengerjakannya sesuai petunjuk resepmu.”

 

Mereka berdua berjalan melewati salju. Bulan keluar dari balik awan, tapi tidak seterang malam sebelumnya. Sinar kuningnya sedikit kabur. Kaki mereka berjalan dengan agak sulit melewati lapisan tipis salju. Salju-salju itu hancur di bawah tekanan tapak kaki mereka.

 

Ketika mereka tiba di dapur mereka melihat sebuah gerakan tiba-tiba.

 

“Apa itu?”

 

Zuiju berteriak ketakutan ketika mereka melihat cahaya merah yang menyala di pintu masuk utama. Sepertinya beberapa nyala api dari obor.

 

Suara berat pintu terbuka terdengar dari kejauhan. Meskipun sangat pelan tapi membawa suasana bahaya.

 

Si pelayan dapur melihat api di langit, dan bibirnya gemetar, “Oh tidak, jangan katakan musuh sudah masuk kesini?”

 

Zuiju tetap diam dan mengumpulkan keberaniannya untuk meninggalkan dapur. Ia melewati jalan samping untuk menuju pintu utama. Ia sangat berhati-hati, berjalan sambil bersembunyi di samping dinding. Zuiju melihat seseorang memegang obor diluar pintu. Di malam seperti ini, ia menduga pasti itu prajurit He Xia.

 

Tak lama kemudian, pintu perlahan di tutup. Menyembunyikan nyala api yang berada di luar dan hanya meninggalkan cahaya redup di dalam Kediaman.

 

Zuiju melihat Moran bersama dua penjaga lainnya mendorong kereta dengan hati-hati melewati dinding tempat ia berdiri.

 

“Siapa itu?” Moran tiba-tiba bersuara. Pedang kedua penjaga lainnya dengan segera tercabut dari sarungnya.

 

“Ini aku.”

 

Moran menghela napas lega dan menegurnya dengan marah. “Kenapa kau tidak menemani Nona Bai di saat seperti ini? Apakah masih belum cukup kacau diluar sini?”

 

Kedua penjaga memastikan bahwa itu adalah Zuiju sebelum mereka menyarungkan pedangnya kembali.

 

“Aku sedang menuju dapur, dan berjalan kemari setelah aku melihat sebuah gerakan. Apa yang mereka lakukan?”

 

“Mengirim sesuatu.”

 

“Mengirim sesuatu ?”

 

“Daging segar, ikan segar dan beberapa macam buah berwarna warni. Aku sudah memeriksa keretanya tidak ada orang yang bersembunyi atau juga senjata.” Moran tertawa kecut dan menunjuk pada kereta yang penuh barang. “Kau datang di waktu yang tepat. Setelah membawa ini ke dapur, periksa dengan jarummu untuk memeriksa apakah ada yang aneh.”

 

Zuiju melihat kea rah kereta yang penuh dan menghela napas. “Karena ini He Xia, tidak mungkin ia menggunakan cara seperti ini, tapi aku akan memeriksanya dengan teliti.”

 

Dua penjaga membantu Zuiju membawa kereta ke dapur dan membongkar semuanya. Selain daging babi, sapi, ikan segar dan sayuran, ada tambahan beberapa barang langka lainnya.

 

Beberapa kendi bumbu asli Gui Li, ikan kering musiman yang langka, dan suatu hidangan Bei Mo yang cukup layak untuk disajikan pada seorang Ratu sepiring hidangan pencuci mulut yang lembut dan renyah.

 

Seorang pelayan dapur lain sedang berdiri di samping sambil memperhatikan Zuiju memeriksa hidangan dengan jarum. Mereka tak bisa menahan pujian mereka ketika melihat hidangan yang begitu elok yang pastinya hanya bisa dibuat oleh koki paling berpengalaman. “Hanya dari penampilannya saja sudah bisa dipastikan kalau hidangan pencuci mulut Gui Li memang luar biasa.”

 

Selain itu ada juga sebuah kotak kayu yang dibungkus oleh beberapa helai kain sutra. Diletakan di posisi paling bawah kereta. Zuiju melepaskan sehelai demi sehelai dan menyadari kalau isinya bukan makanan tapi beberapa benda kecil yang biasa digunakan wanita.

 

Ada sebuah kulit kerang yang berisi krim kulit dari bahan terbaik yang harumnya sangat memikat.

 

Setidaknya ada selusin koral kecil yang diletakan di bawah kotak. Zuiju menatap tiga benda yang berada di dalamnya, tatapannya tidak bergerak. Akhirnya ia menghela napas, memujinya dan juga kagum.

 

Selama ia melakukan pemeriksaan, langit sudah mulai terang. Punggung Zuiju terasa kaku karena kelelahan. Ia berkata pada pelayan dapur. “Semua ini aman, pakailah sesukamu. He Xia sungguh orang baik, ia bahkan memberikan bahan makanan untuk memulihkan kesehatan wanita. Gunakan saja resepku yang sebelumnya tidak usah di rubah.”

 

“Tapi kami masih tidak punya daun peony.”

 

“Tak pa-pa tidak usah ditambahkan. Daun peony tidak begitu penting. Yang penting bahan utamanya sudah ada.” Zuiju menjawabnya dan dengan lelah memijat bahunya. Ia lalu menuju bangunan kecil, membawa kotak kayu tadi bersamanya.

 

Hongqian sudah bangun dan sedang merenggangkan tubuh di tengah salju. Melihat Zuiju ia bertanya, “Aku tidak melihatmu kemarin malam seharian. Sebelum Nona terlelap ia memintaku untuk memeriksa, apa yang menahanmu di dapur.”

 

“Dimana Nona?”

 

“Masih terlelap.” Hongqian menunjuk pintu bangunan dengan dagunya. “Aku tidur bersamanya disini kemarin malam. Ia terus berbalik dan menoleh, tidak bisa tertidur. Ah, Aku mendengar para penjaga mengatakan kalau kita masih di kepung? Bukankah mereka sudah mundur ketika Nona Bai dan Moran kembali kemarin? Dan apa maksudnya perjanjian di tanggal enam? Apa yang kita lakukan kalau Tuan Besar tidak kembali di tanggal enam?”

 

Zuiju merendahkan suaranya, “Bahkan kalau kau berharap kau bisa mengendalikan keadaan, kau tidak bisa, jadi lebih baik kalau kau tidak menanyakannya.”

 

Hongqian tadinya berpikir kalau penjaga yang biasa suka bercanda dengannya sedang berusaha menakutinya. Tapi dengan jawaban Zuiju barusan, wajahnya menjadi pucat, dan ia mengerti betapa bahayanya situasi saat ini.

 

Zuiju tahu kalau situasi saat ini lebih buruk dari apa yang diperkirakan Hongqia, tapi ia memutuskan untuk tidak berkata lebih banyak lagi. Ia menepuk pundaknya dan berjalan maju, memasuki ruangan Pingting.

 

Pingting sudah terbangun beberapa saat lalu dan sudah menyingkirkan selimutnya ke samping. Mantel pohon lilac tersampir di bahunya. Ia melirik ke samping, tangannya sedang merapikan rambutnya. Ketika melihat Zuiju masuk membawa sebuah kotak kayu ia bertanya, “Apa itu ?”

 

Zuiju tahu Pingting kurang tidur dan ingin mengodanya. Ia meletakan kotak kayu diujung tempat tidur, lalu tersenyum jahil. “Tebak, kalau kau bisa menerkanya dengan benar, maka kau mendapatkan pengakuanku.”

 

Pingting melihat ke arah kotak kayu, tatapannya bergerak ke samping. “Sesuatu yang membosankan lagi…”

 

Ia menghela, tidak memperdulikan Zuiju, ia membukanya.

 

Ia menatap dengan terkejut pada tiga benda di dalamnya. Ia salah satunya, sebuah sisir. Ia memperhatikannya dan merenung, lalu berkata, “Aku biasa menggunakannya, dulu, ketika di Kediaman Jin Anwang.”

 

Ia meletakan sisirnya kembali dan tidak menyentuh dua benda lainnya. Ia mengambil batu koral dan menghitungnya lalu mengembalikannya kembali ke dalam kotak kayu. Pingting tertawa pedih, “Aku menggunakan lima belas tahun pertemanan untuk membuat kesepakatan, dan ia menggunakan lima belas tahun pertemanan untuk memerangkapku.” Ia menutup kotak dengan keras dan membuangnya dari tempat tidur.

 

Setelah membersihkan diri dengan air hangat, Zuiju menyisir rambut Pingting. Zuiju membuat sebuah bentuk bunga peony dari rambutnya. Ia melihat, wajah Pingting tidak lagi menampilkan ekspresi bahagia atau juga khawatir. Ia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, seperti sebuah kabut tipis muncul di luar permukaan cermin.

 

“Nona! Mengapa kau tidak berkata apapun?”

 

Pingting diam sangat lama, tapi akhirnya ia bersuara, “Aku sangat lelah.”

 

Zuiju membalas, “Karena Nona sangat lelah, Nona seharusnya tidur karena hari ini tidak akan terjadi apapun. Aku akan pergi ke dapur dan membuat bubur kacang merah dengan merebusnya. Dengan begitu, Nona bisa memakannya ketika bangun.”

 

Pingting menggelengkan kepalanya.

 

Ketika Zuiju meletakkan sisir, Pingting menoleh pada cermin perunggu dan berdiri, menyibak tirai dan berjalan keluar. Zuiju segera mengikutinya keluar. Pingting masuk ke ruang samping dan mengeluarkan kendi kelopak bunga plum.

 

“Biar aku bawakan.”

 

Pingting berbalik ke sampingnya sehingga Zuiju bisa mengambilnya tapi kemudian Pingting menggelengkan kepalanya. Ia membawa kendinya keluar dan berjalan ke sudut dimana Hongqian telah memutuskan membuat lubang di hari sebelumnya. Meskipun semalam salju turun tidak terlalu banyak tapi tetap menghasilkan selapis tipis es di tanah.

 

Pingting meletakan kendinya di tanah, membersihkan tanahnya lalu mengambil sekop.

 

Zuiju tidak berkata apapun. Ia sebenarnya agak takut. Ia berdiri di sisi lain, membantunya sambil berkata, “Hati-hati jangan terlalu memaksa punggungmu.”

 

Pingting tidak terburu-buru. Ia menggunakan sekop menggali sedikit demi sedikit. Lapisan paling atas adalah yang paling keras tapi setelah itu lebih lembut sehingga lebih mudah di gali.

 

Setelah beberapa saat, sebuah lubang kecil mulai terbentuk. Keringat mulai terlihat di dahi Pingting. Pipinya menjadi lebih merah.

 

Ia tetap tidak tergesa-gesa. Pingting meletakan sekopnya, beristirahat sebentar untuk menarik napas dan menenangkan diri. Lalu ia mengambil kendi disampingnya dan meletakannya dengan rapi di lubang. Ia menggerakkannya ke kiri dan ke kanan sampai ia merasa puas, lalu ia mengguburnya dengan tanah menggunakan tangannya sendiri.

 

Setelah usahanya ini, Pingting menarik napas dalam dan menegadahkan kepalanya, tersenyum pada Zuiju yang masih berdiri di sampingnya. “Yang harus dilakukan sekarang adalah menyalakan api diatasnya.”

 

Matanya yang hitam bersinar, senyum di matanya terbentuk seperti gelombang dengan percikan ringan.

 

Zuiju tidak mengerti mengapa sepertinya jantungnya berasa berhenti berdetak sesaat. Sebuah sensasi bertahan di pangkal hidungnya bersiap untuk menangis. Ia segera mengusap matanya dan memperlihatkan wajah ceriah, “Tentu, aku akan mengambil kayu bakar.”

 

Ia mendapatkan kayu bakar dari dapur. Tugasnya digantikan Hongqian yang kemudian membawanya ke tempat Pingting menunggu. Ia membuat gundukan dan berusaha menyalakan apinya, tak lama kemudian di antara kayu kayu itu mulai muncul lidah lidah api. Warnanya sangat merah di tengah salju, mewarnai pipi mereka, lembut dan hangat.

 

Pingting berkeringat banyak, tapi sepertinya kondisinya lebih baik. Ia menatap api, dan tiba-tiba berkata, “Jangan hanya berdiri disekitar api. Pergilah ke dapur, minta beberapa helai daging dan garam. Kita makan daging panggang.”

 

Meskipun Hongqian khawatir dengan para prajurit mengepung mereka, ia mengerti istilah kebahagiaan juga bisa muncul dari penderitaan. Ia berkata, “Aku akan mengambilnya.”

 

Tak lama kemudian ia kembali, kakinya melewati salju dan tangannya membawa keranjang yang terlihat berat.

 

“Daging babi tanpa tulang, sayap ayam, kaki bebek yang sudah bersih dan, dua ikan yang sudah tanpa kepala dan isi perut. Aku tidak tahu apa yang Nona suka untuk dipanggang, jadi aku minta pelayan dapur untuk menyiapkannya.” Hongqian meletakan keranjangnya di bawah, menggelar sebuah selimut biru di atas salju dan mengeluarkan isi keranjangnya. “Aku juga membawa garam dan semua bumbu. Pelayan darpur juga bilang kalau hanya memakan panggangan akan membuat leher kering jadi akan segera membawakan sup begitu matang.”

 

Pingting menepuk tangannya, “Bagus Hongqian, sangat cermat. Kalau aku seorang Jendral, aku akan memberimu posisi penasihat cadangan setidaknya.”

 

Pingting duduk di atas batu dengan sebuah selendang tebal di pundaknya. Zuiju khawatir ia kedinginan maka ia kembali ke ruangan untuk mengambil selendang itu untuknya.

 

Hongqian melihat Pingting tersenyum. Hatinya menjadi lebih tenang. Ia tertawa, “Bukan begitu, Pelayan dapur memberitahu untuk tidak memegangnya seperti itu, tapi ditusuk, jadi aku juga membawa batang besi tipis untuk itu.”

 

Ia menunduk dan mengeluarkan beberapa batang besi tipis dari kerangjang. Benda itu sudah di cuci bersih.

 

Setelah semua persiapan beres, mereka bertiga duduk disekitar api dan menikmati acara memanggang di musim dingin.

 

Mereka mengambil batang besi tipis dan menusukan daging atau ikan lalu meletakannya di atas api. Api merah membakar dengan perlahan sehingga hasilnya terlihat segar dan sangat mengugah selera. Semakin lama mereka semakin menikmatinya.

 

“Ayahku memiliki kompor untuk berburu. Aku pernah menggunakannya ketika menemani ayah berburu, aku memainkannya beberapa kali.” Hongqian sepertinya cukup berpengalaman dalam hal panggang memanggang ketika ia membalik besi di tangannya. Ia menghela, “Setelah aku masuk ke Kediaman Zhen Beiwang, aku sudah tak bisa melakukan hal seperti itu lagi.”

 

“Bagaimana kau bisa masuk ke Kediaman Zhen Beiwang? Apa Tuan Besar membelimu?”

 

Hongqian menggelengkan kepalanya. “Kediaman Zhen Beiwang tidak perlu membeli orang. Mereka akan melakukan apa saja untuk bisa diakui. Disini cukup makan dan minuman, sedikit pertengkaran dan Tuan kami adalah Tuan Besar Zhen Beiwang. Ketika ayah berhasil menangkap sesuatu, aku setengah kenyang, tapi ketika ia tidak berhasil menangkap apapun, aku kelaparan. Kehidupan yang keras, tapi syukurlah aku cukup beruntung untuk bisa berada disini. Terkadang, aku membawakan beberapa benda untuk ayah.”

 

Ini pertama kalinya Zuiju mendengar kisah kehidupan Hongqian. Tapi ia tidak ragu untuk bertanya, “Apa kau tidak rindu pada ayahmu setelah datang ke tempat terpencil seperti ini?”

 

“Bagaimana aku tahu? Ayahku, sayangnya, kurang beruntung. Ia meninggal tiga tahun setelah aku masuk ke Kediaman Zhen Beiwang. Tuan Besar mencari mereka yang sudah tidak memiliki keluarga, ia tahu aku tidak bisa pergi kemana-mana lagi, jadi ia membawaku.”

 

Akhirnya Zuiju mengerti mengapa jumlah pelayan muda sangat sedikit disini, malah lebih banyak pelayan  yang sudah tua. Mereka sudah tua dan tidak punya tempat untuk pulang.

 

Zuiju memanggang kaki bebek. Dagingnya cukup tebal, jadi ia harus sangat bersabar sampai matang benar. Ia menatap Pingting dan berkata, “Warna api ini agak menyengat untuk mata. Makanan yang dipanggang akan menaikkan suhu tubuh. Ini tidak baik untuk kesehatan Nona.”

 

Ikan di tangan Pingting sudah hampir matang. Meskipun ini pertama kalinya ia memanggang sendiri dan pikirannya entah berada dimana, tapi ikannya benar-benar terpanggang dengan kecoklatan dan garing. Mendengar perkataan Zuiju, ia dengan hati-hati melepaskan ikannya dari besi dan meletakannya diatas piring. Lalu menyerahkannya pada mereka, “Karena Zuiju berkata seperti itu, maka aku tidak bisa memakannya. Jadi kalian berdua harus menghabiskannya.”

 

Hongqian menatap dengan berdecak kearah ikan itu. Ia bersorak dengan riang dan menyerahkan daging yang sedang dipanggangnya kepada Zuiju, “Pegang ini.”

 

Lalu Hongqian mengambil piring yang berisi ikan yang sudah terpangang matang dan terlihat lezat itu.

 

Zuiju berpikir kalau Pingting memikirkan yang terbaik untuk kandungannya dan ia tersenyum kagum padanya. Ia memberikan kata-kata untuk menenangkannya, “Meskipun kau bilang tidak ingin memakannya, tapi masih ada beberapa hidangan yang lezat yang akan siap. Aku sudah meminta pelayan dapur untuk menyiapkan babi kukus dengan akutiloba dan kacang merah.”

 

Baru saja Zuiju selesai berkata, pelayan dapur tiba dengan beberapa hidangan di nampannya. Ia melihat mereka semua berwajah gembira karena bermain, ia lalu tersenyum dan berkata, “Hati-hati dengan tanganmu. Kalau kau menyentuh besinya akan sangat menyakitkan. Aku pernah mengalaminya beberpa kali.”

 

Ia membuka nampannya di atas kain biru dan menyajikan satu mangkuk untuk setiap orang lalu berlalu. Hidangan untuk Pingting tentu saja berupa daging kukus dengan atikuloba dan kacang merah.

 

Pingting memegang sendoknya dan mulai makan dengan santai dari mangkuknya sambil memperhatikan mereka berdua masih memanggang makanan mereka. Dan ia tersenyum.

 

Kegiatan itu berlangsung sekitar satu jam. Semua makanan sudah habis dimakan, api tinggal tersisa kerlipan terakhir. Mereka bertiga berdiri dan menyiramkan air ke api.

 

“Apakah sebaiknya kita pindahkan kendinya ?” Tanya Hongqian.

 

“Tak perlu, lebih baik ia terendam untuk rasa yang lebih baik, kita akan menunggu Tuan Besar datang sebelum membukanya.”

 

Seperti itulah pertengahan hari pertama berlalu. Sisa setengahnya berlalu dengan lebih lambat. Zuiju dan Hongqian berbincang-bincang di dalam ruangan, sementara Pingting tidur siang. Ia terlelap selama hampir tiga jam, ketika ia terbangun hari sudah gelap.

 

Ia bangun dengan pelan dan membuka jendela. Angin malam tidak begitu kencang, tapi udara sangat terasa dingin. Ia tidak melihat bulan sama sekali.

 

“Zuiju… Zuiju…” ia memanggil dengan agak keras.

 

Zuiju berjalan masuk dan bertanya, “Kau sudah bangun?”

 

“Jam berapa sekarang? Apa bulan sudah hilang setengah? Apa sekarang sudah tanggal enam?”

 

Zuiju berhenti untuk sesaat. Lalu ia berjalan pelan dan duduk di samping tempat tidur. “Nona Bai, langit belum lama gelap, hari ini masih tanggal lima.” Ia menjawab.

 

Mendengar ucapannya, kekhawatiran Pingting berkurang. Ia dengan pucat berkata, “Oh,” dan akhirnya tubuhnya bisa lebih santai, lalu ia berbaring kembali di tempat tidur.

 

Zuiju lalu bertanya, “Pelayan dapur sudah membawakan makan malam, tapi karena kulihat kau tidur dengan sangat lelap, aku minta Hongqian untuk tidak mengganggumu. Hidangan itu sekarang sedang dihangatkan dengan kompor kecil di ruangan sebelah. Karena kau sudah bangun, sebaiknya kau makan sedikit.”

 

Pingting sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Awalnya ia menggelengkan kepala atas perkataan Zuiju, tapi setelah memikirkannya kembali akhirnya ia mengangguk, “Bawa kemari, aku akan makan sedikit.”

 

Hongqian segera menyajikan hidangan yang masih hangat.

 

Pingting berusaha menghabiskan separuh mangkuk sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak bisa makan lagi.” Ia meletakan sumpitnya.

 

Zuiju melihat Pingting benar-benar sudah tidak bisa makan lagi dan dari ekspresinya ia tahu, ia tak bisa memaksanya lagi. Maka ia berkata dengan suara lembut, “Tak pa-pa.”

 

Hongqian membereskan makanan dan pergi keluar dari ruangan bersama Zuiju. Ia berhenti di depan pintu dan bertanya, “Ia sangat gembira tadi pagi. Kenapa setelah tidur siang begitu berubah seperti ini? Seperti menjadi orang pintar sama sekali tidak baik. Mereka memiliki emosi yang ajaib.”

 

Zuiju segera menyuruhnya diam, merendahkan suaranya dan berkata, “Apa yang kau tahu? Kalau kau jadi dia, kau mungkin sudah lama menjadi gila.”

 

Hongqian menjulurkan lidahnya dan masuk ke ruangan samping.

 

Zuiju tetap berdiri diluar dan melihat ke arah jalanan yang tertutup salju yang menuju halaman. Sebuah hembusan angin dingin sepertinya menyentuh lehernya. Seperti yang Pingting harapkan, sangat menyengarkan.

 

Pingting bukan satu-satunya yang merasa kecewa, hatinya serasa dicakar seekor kucing juga.

 

Hal terburuk yang mungkin terjadi yang ia tahu, jalan berbahaya yang menggiring mereka menuju jurang tak berujung yang terbentang di depan.

 

Perang antara empat negara semakin hebat. Seharusnya pasukan Dong Lin yang menyerang Gui Li dan Bei Mo tapi sekarang, persekutuan antara Yun Chang dan Bei Mo yang sedang menyerang Dong Lin.

 

Menyebabkan kematian yang tak terkira.

 

Semua orang mengerti apa artinya bahaya, bahkan bagi seorang bangsawan yang bodoh.

 

Gurunya, Huo Yunan lahir sebagai seorang bangsawan. Ia sangat mengerti pemikiran para kalangan atas dan bisa menduga reaksi mereka.

 

Siapa yang bisa menjamin negara mereka tidak akan jatuh karena kekuatan negara musuh? Siapa yang akan berdiri di ambang kehancuran rumah mereka?

 

Sebuah negara adalah sebuah rumah, tapi tidak ada negara tanpa rumah.

 

Bukan begitu?

 

Zuiju menarik napas dalam, dadanya begitu sesak sehingga terasa sakit. Ia merapatkan giginya dan membuka kerah bajunya membiarkan angin dingin mengalir masuk. Ia gemetar tiga atau empat kali sebelum akhirnya merapikan kerah bajunya lagi dan membawa teh hangat dari ruang samping, ke ruangan Pingting lalu membantu Pingting untuk tidur.

 

Malam itu, ia tidur di ruangan Pingting dengan kasur lain.

 

Tiba-tiba di tengah malam ia mendengar sebuah suara. Zuiju terbangun dan menggosok matanya, ia melihat Pingting telah bangun dan duduk di tempat tidurnya.

 

“Kenapa anda bangun lagi, Nona Bai?” Zuiju bangkit dari kasurnya dan berjalan sampai ia tiba disampingnya. Suaranya lembut ketika bertanya.

 

Pingting dengan diam menatap langit di luar jendelanya. Tatapannya tidak beralih ketika ia berkata, “Bulan sudah keluar.”

 

Zuiju mengikuti pandangannya dan melihat ke langit. Bulan memang sudah benar-benar terlihat, ia keluar dari balik awan beberapa waktu sebelumnya, tapi sinarnya sangat redup.

 

Memperhatikan posisinya, ia menyadari kalau bulan sudah melewati setengah langit.

 

Bulan sudah lewat setengah langit.

 

Tanggal enam sudah tiba….

 

Zuiju merasa hatinya tertusuk, tapi ia tetap berkata dengan lembut. “Masih ada satu hari dan Tuan Besar pasti sedang menuju kemari dengan cepat.”

 

Suara Pingting seperti ombak yang tenang. “Ia pasti sedang diatas kudanya, sangat, sangat kelelahan. Lehernya pasti sangat kering dan terasa serak, tubuhnya tertutup debu kecuali bahunya yang tertutup salju.”

 

Zuiju berpikir kalau suaranya seperti melayang menuju akhir dunia. Ia menundukkan kepalanya untuk melihat ekspresinya tapi tidak menemukan petunjuk apapun.

 

Lalu ia menarik selimut disekitar Pingting, menemaninya dengan duduk di ujung tempat tidur. Mereka berdua menatap bulan bergerak. Satu jam berlalu dan akhirnya Zuiju mengumpulkan keberaniannya untuk berkata, “Tidurlah.”

 

Pingting dengan patuh berbaring dan menutup matanya. Zuiju menghela napas lega dan turun dari tempat tidur untuk kembali ke kasurnya sendiri. Di ujung matanya ia melihat mata Pingting berkedip.

 

“Kenapa?”

 

Pingting menatap Zuiju, tertawa kesal, “Tidak pa-pa.” lalu ia memejamkan matanya sekali lagi.

 

Malam itu di Kediaman Hua, Chu Beijie yang mengira dirinya pelayan bisu Nona Hua pernah berkata, “Tidur,” ketika ia melihatnya sedang sakit.

 

Orang itu, yang akan melakukan apa saja yang ia inginkan, tanpa memperdulikan sedikitpun adat masyarakat. Pria itu tidak mengenalnya sama sekali, tapi ia membopongnya dan membawanya ke kamarnya, menurunkannya di tempat tidur dan dengan kaku menyelimutinya.

 

Ia berkata dengan kaku, “Tidur” seperti sebuah perintah yang diberikan pada prajuritnya, tapi hal itu sangat dikenangnya ketika ia mengingatnya seperti saat ini.

 

Ia akan kembali, ia pasti akan kembali.

 

Telapak tangannya mengepal dengan kuat di balik selimut.

 

Itu sungguh cinta yang dalam yang akan melewati ujian seperti apapun dan dengan mudahnya larut dalam air yang mengalir, apa maksudnya dua pedang itu? Jiwa yang terpisah dan Semangat Surga?

 

--

Bulan sudah melewati setengah langit.

 

Tanggal enam sudah tiba.

 

Chu Beijie berkuda dengan sangat cepat.

 

Angin pagi utara bersiul di telinganya.

 

Dalam hidupnya ia telah berkuda dengan sangat tergesa-gesa beberapa kali, membuat empat kaki kudanya melayang. Ia membiarkan jubahnya berkibar. Bahkan gunungpun tak bisa menghentikan sosoknya yang datang mendekat.

 

Berkuda melewati tanah datar adalah sebuah kebahagiaan.

 

Tapi kali ini ia sama sekali tidak menikmatinya.

 

Angin menghantamnya dengan keras. Terasa sakit seperti wajahnya terluka oleh pedang. Angin tidak hanya melukai wajahnya tapi juga merobek hatinya.

 

Hatinya seperti dibakar dan abunya masih bertahan di udara.

 

Kediaman itu masih belum terlihat dimatanya.

 

Tapi wangi bunga plum yang sedang mekar, melekat di hatinya.

 

Chu Beijie sangat mengerti maksud Raja. Ia tahu dari cara kakaknya melakukannya, berusaha menahannya di istana agar sepasukan prajurit bisa menuju Kediamannya yang terpencil.

 

Bagaimana mungkin tangan Pingting yang seputih giok, yang memainkan kecapi, bisa mengembalikan kemenangan perang pada Raja Dong Lin.

 

Apa He Xia sedang menggarahkan pedang padanya?

 

Tubuh lembut yang belum puas ia peluk, wajah cantik yang belum puas ia lihat, suara jernih nyanyian yang belum puas ia dengar…..

 

… Kenapa si pria brengsek itu tidak mau melepaskan Pingting, melepaskannya dengan baik?

 

Pingting sudah mengucilkan dirinya sendiri.

 

Ia tidak lagi peduli dengan urusan luar.

 

Ia telah cukup menderita dan telah terluka lagi dan lagi. Ia hanya ingin kembali seperti dulu dan jika bisa menjadi wanita yang bahagia.

 

Sebagai kekasih Chu Beijie.

 

“Pingting tidak serakah, hanya berharap Tuan akan datang melihat Pingting sebelum pergi ke medan perang. Di hari ulangtahun Tuan, Pingting ingin menyampaikan sesuatu yang penting.”

 

Itu hanya sebuah keinginan yang sederhana.

 

Sebuah harapan yang setiap pria, pasti bisa kabulkan.

 

Tapi ia bukan seorang pria biasa. Ia adalah Chu Beijie, Tuan Besar Zhen Beiwang milik Dong Lin.

 

Chu Beijie mengangkat cemetinya dan memacu kudanya, matanya lelah. Angin masih terus menghantam wajahnya, sama sekali tidak membantu menenangkan hatinya yang sangat jengkel.

 

Perpaduan antara salju dan lumpur berserakan di pinggir jalanan yang sepertinya tidak berujung.

 

Perjalanan pulang sepertinya lebih lama sekali.

 

Chu Beijie berkuda sambil pandangannya melihat kaki langit.

 

Apa Pingting masih selamat dibalik awan?

 

Sebuah bendera berkibar di kejauhan, berkelebat di matanya. Segerombolan pria berkuda melaju ke arahnya. Chu Beijie memperhatikan bendera yang berkibar dan berhasil membaca tulisannya “Mu”.

 

Hati Chu Beijie berdetak sangat kencang. Ia memacu kudanya lagi yang sudah berbusa di mulutnya. Ia bergerak menuju gerombolan yang mendekatinya, setelah dekat ia menghentikan kudanya dan berteriak, “Mengapa Chen Mu berada disini?” ia sudah agak lama tidak menegak air, maka suaranya sangat serak.

 

Melihat Chu Beijie, ia segera maju ke depan. Turun dari kudanya dan berlutut, “Tuan, Chen Mu disini!”

 

“Berani sekali kau, meninggalkan Barak Naga Harimau ?”

 

Chen Mu menjawab, “Aku menerima perintah dari Raja lima hari lalu untuk pindah ke Luo Meng dan melapor pada Tuan Fu Lang dan sekarang sedang menuju ibukota untuk melapor pada Raja.”

 

“Siapa yang sekarang memimping di Barak Naga Harimau?”

 

“Berdasarkan perintah Raja, yang memimpin sementara adalah Jendral Fen Min perwakilan Tuan Fu Lang.”

 

Jendral Fen Min hanya menerima perintah dari Tuan Fu Lang, meskipun Pingting menggunakan pedang Semangat Surga miliknya tidak akan cukup untuk menggerakkan pasukan.

 

Raja Dong Lin telah mengambil langkah luar biasa untuk melawan adiknya sendiri.

 

Kemarahan Chu Bejie telah menguasai hati dan pikirannya.

 

Pingting tanpa harapan pertolongan, terpisah jauh darinya.

 

Mengingat kepintaran Pingting, ia pasti ingat janjinya di tanggal enam dan akan melakukan apa saja untuk menghambat musuh sampai kepulangannya.

 

Tunggu aku, kau harus menungguku!

 

Telapak tangan Chu Beijie penuh luka merah melepuh, tapi ia tidak merasakan sakit sama sekali. Ia menarik tali kekang dan menegakkan punggungnya.

 

Chen Mu pernah mengikutinya ke medan pertempuran selama beberapa tahun. Melihat ekspresinya ia tahu kalau Chu Beijie telah berkuda dengan kecepatan penuh selama beberapa hari. Ia menyerahkan kantung air kepadanya, “Minumlah air ini Tuan. Apa Tuan tergesa-gesa menuju medan pertempuran? Tidak ada prajurit ataupun kuda yang mampu bertahan dengan perjalanan seperti itu.”

 

Chu Beijie melihat kantung air dan mengosongkannya hanya dalam beberapa tegukkan. Lalu ia berbalik dan melihat tiga ribu prajurit yang berkuda bersamanya selama dua malam.

 

Sejak meninggalkan ibukota, mereka telah memacu kuda mereka dengan sangat cepat, bergerak dengan kecepatan penuh. Mereka tidak beristirahat dan mereka semua sangat kelelahan. Bekas tali kekang bercetak darah di tangan mereka. Beberapa lusin sudah sampai batasnya dan mereka jatuh dari kuda mereka.

 

Ia telah memimpin pasukan selama bertahun-tahun tapi tidak pernah kurang perhatian seperti ini.

 

Ekspresi Chu Beijie merasa bersalah ketika ia berbalik menatap Chen Mu dan bertanya, “Berapa prajurit yang bersamamu?”

 

“Tidak banyak, hanya seribu tujuh ratus. Tapi mereka adalah yang terbaik dari pasukanku.”

 

“Berikan mereka padaku.” Lalu Chu Beijie mengeluarkan bendera komando dan mengangkatnya tinggi di udara, kemudian berseru, “Aku memimpin semua kekuatan pasukan negara ini, jadi kalian semua para prajurit dengarkan! Diantara kalian tiga ribu prajurit, mereka yang sudah tidak bisa bertahan dan mereka yang kudanya sudah tidak bisa melanjutkan, ikut bersama Chen Mu menuju ibukota. Dan seribu tujuh ratus prajurit yang sekarang juga berada di bawah komandoku, kita akan segera berangkat.” Selesai berkata, Chu Beijie turun dari kudanya dan melompat naik ke kuda Chen Mu sambil berkata dengan pelan, “Pinjamkan kudamu.”

 

“Kemana Tuan akan pergi?”

 

“Sebelum bulan melewati setengah hari tanggal enam, aku harus segera sampai di tempat pengasinganku.”

 

Chen Mu sangat terkejut mendengarnya. “Sekarang sudah tanggal enam, dan hanya tersisa sepuluh jam lagi. Bagaimana mungkin Tuan tiba tepat waktu?”

 

Chu Beijie tidak menjawab. Ia menarik tali kekangnya dan beranjak pergi.

 

Chen Mu tidak tahu secara pasti apa yang terjadi, tapi ia tahu kalau situasinya sangat darurat. Ketika ia menyaksikan punggung Chu Beijie menghilang di kejauhan, ia menggertakkan giginya lalu memanggil wakilnya.

 

“Aku harus pergi dengan Panglima kau pimpin prajurit yang lelah kembali ke ibukota. Berikan kudamu.” Chen Mu berkata, kemudian ia memacu kudanya mengejar pasukan yang sudah berjalan jauh.

 

Kumpulan debu kuning berterbangan di udara di atas jalan tak beraspal.

 

Tanggal enam.

 

Pingting, hari ulang tahunku sudah tiba.

 

--

Suasana Kediaman sangat berkabut membuat orang-orang sulit bernapas.

 

Gunung dan hutan dibelakang masih tertutup warna putih. Bulan sudah beristirahat, sementara sinar matahari mulai mengintip di balik awan membuat sinar terang yang sepertinya tidak berhasil mencerahkan ketegangan.

 

Butiran salju mulai turun lagi.

 

Banyak dan tipis, sebagian lingkaran kecil salju dengan pasrah dihembus angin.

 

Sebuah suara pelan kecapi tidak terpengaruh oleh salju. Terdengar melewati dinding seperti pelangi di langit berawan yang menyingkirkan cuaca cerah.

 

Pingting memainkan kecapinya.

 

Sekarang sudah tanggal enam, mungkin para prajurit dengan pedang di tangan, yang mengepung mereka, sudah semakin dekat?

 

Hari ini tanggal enam. Pria itu yang punggungnya yang tegap seperti gunung, tawanya yang kuat sangat gagah, telah lahir dihari bersalju seperti ini.

 

Pria itu sangat diberkahi oleh langit.

 

Langit telah memberikannya kehidupan yang baik. Ia memiliki kekuatan, tubuh yang sehat, hidung yang lurus, mata hitam yang penuh kharisma, pembawaan yang bermatabat, dan sangat percaya diri.

 

Langit telah membuat jenis yang langka yang dikenal dengan nama Chu Beijie, pria yang telah mengacaukan pikirannya dan menaklukannya.

 

Hari ini tanggal enam.

 

Pingting memetik senar kecapinya dengan ibu jarinya.

 

Ia bermain dengan seluruh perasaannya, dikeluarkan melalui suara petikan kecapinya.

 

Hanya dengan membiarkan kedua tangannya menekan lembut senar yang tipis itu ia mampu menutup pikirannya yang sangat kacau. Ia memejamkan matanya, pikirannya terbenam dalam kenangan.

 

Ia mengingat dengan jelas, kenangan yang muncul.

 

Debaran jantungnya adalah yang pertama ia ingat.

 

Ia kembali ketika ia sedang dikejar di lembah kecil. Chu Beijie menahan dirinya di atas kudanya, melingkarkan lengannya di pinggangnya, menghentikannya dan menunggu ia menjawab.

 

Dada Chu Beijie terasa hangat dan jantungnya berdetak kencang di telinganya.

 

Lalu ingatannya kembali ketika Chu Beijie memegang mangkuk sup dengan kikuk menyuapinya. Chu Beijie menyuruhnya untuk tidur, menemaninya ketika ia memandang bintang dan bulan.

 

Persaingan, kemarahan, dan sikap sopannya, hal yang manis dan berbahaya juga menyayat hati.

 

Bagaimana mungkin Chu Beijie tidak mencintainya?

 

Bagaimana mungkin Chu Beijie melanggar janjinya bahkan melupakannya?

 

Bagaimana mungkin ia begitu kejam meninggalkan dirinya hanya untuk mempertahankan kepahlawanannya melindungi negaranya?

 

Beijie, kalau memang Pingting adalah orang yang sangat berharga di hatimu, tak peduli seberapa luas dunia, apa yang bisa menghentikanmu?

 

Aku telah menggubur kendi Yang Menggunci Diri untuk menanti kepulanganmu.

 

Zuiju berdiri dibelakang Pingting, tangannya diturunkan ketika menyaksikan punggung Pingting. Punggung itu sangat lemah dan rapuh, tapi postur tubuhnya tetap tegap. Sepertinya sebuah rangka besi telah menopang dagingnya yang tipis.

 

Zuiju mendengarkan.

 

Irama kecapi itu, seperti sebuah suara yang sedang menceritakan setiap moment yang terjadi. Walaupun bukan pengalaman sendiri bagi orang lain tapi mereka bisa kesedihan dibaliknya.

 

Meskipun udara sangat dingin, dan kondisi sangat kacau, tapi suara kecapi sangat jernih.

 

Mana yang lebih penting, seseorang atau sebuah negara?

 

Apakah ia lebih memilih melindungi sebuah cinta sejati atau melindungi negaranya?

 

Menahan diri untuk menyentuh masalah hati, sungguh mengerikan seperti jarum yang tertahan di langit membelah tubuh Zuiju yang mengakibatkan penderitaan dalam.

 

Manusia bukan benda mati dan tidak bisa tanpa perasaan.

 

Senar yang tipis seperti sebuah senjata yang mencekik, menyiksanya sampai ia hancur, dengan kejam.

 

Zuiju tak mampu lagi menahan dirinya mendengar suara keras kecapi, ia maju, berusaha mengendalikan perasaannya dan berbisik, “Nona, anda harus berhenti. Makan siang sudah siap sejak tadi.”

 

Pingting menekan tangannya di atas senar kecapi, menghentikan permainannya dengan tiba-tiba. Ia menegadah, matanya sangat jernih bersinar ketika menatap Zuiju.

 

“Setidaknya makanlah sedikit.” Zuiju mengabaikan tatapan tajamnya dan membantunya bangun.

 

Hongqian dengan cekatan menyusun hidangan diatas meja.

 

Pingting memperhatikan hidangan-hidangan dan terkejut, karena ada beberapa hidangan Gui Li yang tersedia di atas meja, beberapa macam hidangan lezat sehari-hari. Ia duduk di atas kursi memilih beberapa dan meletakannya di atas mangkuknya.

 

“Semua ini hidangan Gui Li yang dimasak sendiri oleh He Xia.”  Pingting diam beberapa saat lalu berkata lagi. “He Xia sungguh-sungguh menunjukan kebaikan hatinya.”

 

Rasa tegang karena tekanan di hatinya menghilang sama sekali.

 

Hongqian masih bisa bernapas di suasana yang begitu sunyi ini dan ia berkata, “Meskipun Kediaman sedang dikepung pasukan prajurit, melihat tindakan Tuan Besar Jin Anwang ini, sepertinya ia masih mengingat pertemanan dengan Nona, Meskipun….” Hongqian tiba-tiba diperingatkan oleh Zuiju dengan gerakan mengunci mulut, ia menyadari perkataannya dan segera menutup mulutnya.

 

Pingting tidak menyalahkannya. Sebuah senyum pahit terbentuk di bibirnya ketika ia berkata, “Dan seberapa berharga kenangan manis atas hubungan yang begitu erat ?”

 

Sepertinya mungkin He Xia bisa menerima siapapun yang mendapatkan Pingting, kecuali satu orang… Chu Beijie.

 

Chu Beijie, satu-satunya orang di bawah langit ini yang mampu membuat seorang He Xia merasa takut.

 

Chu Beijie, juga satu-satunya orang di bawah langit ini yang bisa membuat He Xia merasa cemburu.

 

Kalau dunia adalah sebuah medan perang, tidak mungkin persaingan dua musuh lama dibatasi hanya dengan api dari medan pertempuran.

 

Salju meninggi di luar ruangan. Biasanya setiap orang pasti akan menutup pintu dan berlindung di dalam ruagan yang hangat, mencair bersama airmata musim dingin.

 

Lingkaran bola matahari tergantung tepat di atas, menghasilkan bayangan kearah timur.

 

Setengah hari sudah lewat.

 

Tinggal setengah hari lagi. Dua belas jam lagi.

 

--00--



Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar