Mereka
berdua diam-diam merasa kecewa.
Moran
berkata, “Meskipun He Xia berkata tidak akan bergerak sampai tanggal enam, kita
tidak boleh meremehkannya. Aku akan melakukan persiapan untuk mempertahankan
kediaman ini.”
Zuiju
mengangguk setuju dan melihat Moran berbalik pergi. Ia memikirkan sesuatu dan
berkata pelan, “Ah,” tapi ia segera menahan suaranya untuk memanggil Moran dan
membiarkannya pergi.
Zuiju
kembali ke dalam ruangan, ia melihat Hongqian masih duduk di kursi sambil
ketiduran.
Hongqian
sudah terlalu banyak menerima kejutan untuk pikirannya yang sederhana. Melihat
Moran dan Pingting telah kembali dengan selamat, ia menyadari kalau bahaya
telah berlalu dan akhirnya tertidur. Kemudian ia mendengar tirai disibak, ia
membuka matanya dan melihat Zuiju telah kembali. Ia meletakan ibujarinya di
mulutnya.
“Hush…”
ia menunjuk pada ruang dalam, memejamkan matanya dan meletakan kedua tangannya
terkatup di satu sisi wajahnya, memperlihatkan gaya tidur.
Zuiju
memberikan tatapan mengerti dan bergerak dengan tanpa bersuara, memperhatikan
Pingting.
Pingting
berbaring di tempat tidurnya, rambut panjangnya terurai disekitarnya. Sebagian
rambutnya jatuh dari tempat tidur. Matanya terpejam dan ia terlihat pulas.
Sebuah
selimut tebal menutupinya, tapi jendela masih terbuka, membiarkan angin dingin
berhembus ke dalam.
Zuiju
berbisik, “Sungguh kebiasaan buruk yang harus dirubah.” Ia berjingkat
perlahan-lahan ke samping tempat tidur, dengan hati-hati mengapai daun jendela.
Sebelum ia berhasil meraihnya ia mendengar sebuah suara dari bawah.
“Jangan
di tutup. Hembusan angin menyegarkan pikiranku.”
Zuiju
menoleh ke bawah untuk melihat, Pingting sudah membuka matanya. Bagaimana
mereka bisa berpikir kalau ia tertidur saat cuaca begitu terang?
“Lebih
baik di tutup, karena sangat tidak lucu kalau Nona terkena pilek.” Zuiju dengan
keras kepala menutup jendela dan duduk di samping tempat tidur. Ia memasukan
tangannya ke balik selimut dan menarik tangan Pingting untuk memeriksa nadinya.
Ia mendengarkan dengan seksama dan akhirnya tertawa ringan, “Kau baik-baik
saja.”
Ia
mengembalikan tangan Pingting ke dalam selimut kembali dan berkata dengan suara
pelan. “Aku sudah mendengarnya dari Moran. Aku sungguh tidak tahu harus berkata
apa.”
Pingting
mengeluarkan senyum lembut dan balik bertanya, “Jangan katakan kalau kau juga
khawatir Tuan tidak kembali.”
Zuiju
menatap mata Pingting.
Ia
telah menemani gurunya menyelamatkan banyak nyawa dan terbiasa dengan para
bangsawan dan pejabat. Ia telah menjadi akrab dengan para Nona dan Nyonya dari
para keluarga penting di Dong Lin, bahkan juga para Selir di istana, tapi ia
belum pernah bertemu seseorang yang seperti Bai Pingting.
Sangat
pintar, ceria, tapi juga sangat penyendiri. Bagaimana bisa Kediaman Jin Anwang
menghasilkan seseorang yang begitu terhormat seperti He Xia, membawa pedang dan
lagu untuk mengejar seorang Bai Pingting?
Pingting
melihat Zuiju begitu diam dan ia perlahan mengembalikan pandangannya.
Mereka
berdua saling memandang dalam diam, seperti mencoba saling mengerti pemikiran
masing-masing.
Hongqian
masuk dan melihat mereka saling bertatapan satu sama lain. Dan ia berkata denga
suara terkejut, “Jadi Nona Bai tidak sedang tertidur? Aku bergerak dengan
sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkanmu. Apa yang
membuat kalian saling bertatapan seperti itu? Tatapan seperti itu bisa
membentuk sebuah bunga.”
Zuiju
mengalihkan tatapannya dan menoleh pada Hongqian. Ia setengah tertawa dan
setengah cembetut, “Kau sangat berisik, menggangu orang yang sedang memikirkan
sesuatu dengan sangat serius.”
Pingting
juga menoleh padanya dan berkata, “Ada yang ingin kau sampaikan?”
“Lihat
jam berapa sekarang,” Hongqian menunjuk ke arah luar “Karena Nona Bai sedang
tertidur, aku tidak berani menanyakan, tapi tidakkah kalian berdua merasa
lapar?”
Zuiju
menggerakan kepalanya dan melihat keluar, “Benar, tak heran aku merasa lapar.
Berkat ketegangan hari ini, aku benar-benar lupa makan.”
“Makanan
sudah siap, aku akan membawanya kemari.” Hongqian pergi keluar.
Meskipun
pelayan dapur sangat tegang seharian, tapi hasil masakannya sangat lezat.
Beberapa
jenis hidangan dibawa masuk. Seperti biasa, dua hidangan daging, dua hidangan
sayur dan beberapa hidangan ringan.
Napsu
makan Pingting tidak pernah bagus. Apalagi saat ini suasana hatinya sangat
tidak baik, ia kehilangan napsu makannya lebih dari sebelumnya. Ia mengambil
sedikit dan menjatuhkannya dari sumpitnya.
Zuiju
melihatnya meletakan sumpitnya dan segera berkata, “Setidaknya habiskan supnya
dan semangkuk nasi.”
Zuiju
segera menambahkan beberapa potong daging di mangkuk nasi Pingting, dan
memberikan tatapan tajam.
Pingting
sama sekali kehilangan napsu makannya, tapi melihat tatapan mengerikan dari
Zuiju, ia meraba perut bagian bawahnya dan akhirnya memaksakan makanan itu
masuk ke mulutnya dengan diam.
Dan
melihat itu, Zuiju tersenyum, merasa puas.
Setelah
makan malam, Zuiju dan Hongqian mengambil nampan dan merapikan piring-piring
serta mangkuk-mangkuk di atasnya.
Zuiju
lalu berkata, “Biar aku saja.” Ia meninggalkan Hongqian untuk menemani Pingting
dan membawa nampan makanan melewati halaman ketika ia melihat pelayan dapur
datang mendekatinya.
“Nona
Zuiju sekarang sangat dingin. Kau tidak perlu mengembalikannya sendiri, aku
bisa melakukannya.” Si pelayan menghentikannya ketika melihat Zuiju.
Zuiju
menyerahkan nampan padanya, dan mengambil sesuatu dari lengan bajunya. “Tidak
pa-pa, aku harus memberikanmu daftar makanan untuk besok. Masak resep ini dan
tambahkan bahan lain untuk rasanya. Gunakan bahan terbaik dan jangan lupa,
dengan takaran yang tepat.
Semua
orang di Kediaman mematuhi perintahnya. Si Pelayan dapur membaca resep di bawah
sinar bulan dan berkata, “Sungguh resep yang sangat rinci. Kerja bagus Nona
Zuiju, kau sangat teliti untuk mengembalikan kesehatannya. Tak heran wajah Nona
Bai terlihat lebih cerah dari sebelumnya. Tapi….” Nada suara Si Pelayan Dapur
berubah menjadi lebih serius, “tapi bahan ini sudah digunakan untuk Nona Bai
beberapa hari lalu, jadi kami kehabisan persediaannya. Kami tidak pernah
menggunakan daun peony, tapi ada beberapa aster.”
Zuiju
menjawab, “Resep ini tidak boleh ditunda. Bahkan kalau aku jelaskan, kau tidak
akan mengerti. Jadi secepatnya cari atau minta seseorang untuk membelinya
sesuai resepku.”
“Nona,
anda pasti lupa. Siapa yang bisa meninggalkan kediaman disaat seperti ini?
Penjagaan di pintu masuk kita bahkan lebih ketat dari pada penjagaan di pintu
masuk ibukota.”
Dan
akhirnya Zuiju mengingat sepasukan prajurit yang sedang mengepung mereka. Ia
menepuk dahinya dengan telapak tangannya, “Benar, aku sungguh pelupa. Bicara
tentang itu, apa dapur punya persediaan sampai tanggal enam?”
“Persediaan
beras cukup sampai akhir tahun. Sepertinya kita tidak akan mati kelaparan, tapi
tidak cukup sayuran, meskipun ada kebun sayur kecil di belakang dan sedikit
ternak ayam, Nona harus memperhitungkan keseluruhan jumlah penghuni disini.
Lupakan para wanita, mereka tidak makan terlalu banyak, tapi bagaimana para
penjaga itu tetap mendapatkan semangkuk besar nasi dan daging? Aku
memperkirakan daging dan sayuran itu hanya bertahan sampai besok.”
Si
pelayan dapur melihat sekeliling dan merendahkan suaranya, “Daging babi dikirim
setiap tiga hari dan kami sudah menghabiskannya dalam dua hari ini, jadi tidak
akan ada daging babi mulai besok. Kita juga tidak punya ikan segar, jadi hanya
akan ada ayam dan bebek. Jendral Chu bilang ini bukan sesuatu yang penting jadi
sebaiknya tidak memberitahu Nona Bai. Aku terlanjur memberitahumu, tapi tolong
jangan katakan pada Nona Bai”
Zuiju
mengangguk setuju. “Aku ikut dengamu ke dapur untuk melihat apalagi yang
tersisa. Aku akan menyesuaikan resepku. Pastikan kau melakukannya dengan baik,
tak peduli berapa banyak prajurit mengepung di luar, aku ingin memastikan hanya
hidangan terbaik yang diberikan pada Nona Bai.”
“Tentu
saja, selama dapur memiliki bahan tersebut dalam persediaan, maka kami akan
mengerjakannya sesuai petunjuk resepmu.”
Mereka
berdua berjalan melewati salju. Bulan keluar dari balik awan, tapi tidak
seterang malam sebelumnya. Sinar kuningnya sedikit kabur. Kaki mereka berjalan
dengan agak sulit melewati lapisan tipis salju. Salju-salju itu hancur di bawah
tekanan tapak kaki mereka.
Ketika
mereka tiba di dapur mereka melihat sebuah gerakan tiba-tiba.
“Apa
itu?”
Zuiju
berteriak ketakutan ketika mereka melihat cahaya merah yang menyala di pintu
masuk utama. Sepertinya beberapa nyala api dari obor.
Suara
berat pintu terbuka terdengar dari kejauhan. Meskipun sangat pelan tapi membawa
suasana bahaya.
Si
pelayan dapur melihat api di langit, dan bibirnya gemetar, “Oh tidak, jangan
katakan musuh sudah masuk kesini?”
Zuiju
tetap diam dan mengumpulkan keberaniannya untuk meninggalkan dapur. Ia melewati
jalan samping untuk menuju pintu utama. Ia sangat berhati-hati, berjalan sambil
bersembunyi di samping dinding. Zuiju melihat seseorang memegang obor diluar
pintu. Di malam seperti ini, ia menduga pasti itu prajurit He Xia.
Tak
lama kemudian, pintu perlahan di tutup. Menyembunyikan nyala api yang berada di
luar dan hanya meninggalkan cahaya redup di dalam Kediaman.
Zuiju
melihat Moran bersama dua penjaga lainnya mendorong kereta dengan hati-hati
melewati dinding tempat ia berdiri.
“Siapa
itu?” Moran tiba-tiba bersuara. Pedang kedua penjaga lainnya dengan segera
tercabut dari sarungnya.
“Ini
aku.”
Moran
menghela napas lega dan menegurnya dengan marah. “Kenapa kau tidak menemani
Nona Bai di saat seperti ini? Apakah masih belum cukup kacau diluar sini?”
Kedua
penjaga memastikan bahwa itu adalah Zuiju sebelum mereka menyarungkan pedangnya
kembali.
“Aku
sedang menuju dapur, dan berjalan kemari setelah aku melihat sebuah gerakan.
Apa yang mereka lakukan?”
“Mengirim
sesuatu.”
“Mengirim
sesuatu ?”
“Daging
segar, ikan segar dan beberapa macam buah berwarna warni. Aku sudah memeriksa
keretanya tidak ada orang yang bersembunyi atau juga senjata.” Moran tertawa
kecut dan menunjuk pada kereta yang penuh barang. “Kau datang di waktu yang
tepat. Setelah membawa ini ke dapur, periksa dengan jarummu untuk memeriksa
apakah ada yang aneh.”
Zuiju
melihat kea rah kereta yang penuh dan menghela napas. “Karena ini He Xia, tidak
mungkin ia menggunakan cara seperti ini, tapi aku akan memeriksanya dengan
teliti.”
Dua
penjaga membantu Zuiju membawa kereta ke dapur dan membongkar semuanya. Selain
daging babi, sapi, ikan segar dan sayuran, ada tambahan beberapa barang langka
lainnya.
Beberapa
kendi bumbu asli Gui Li, ikan kering musiman yang langka, dan suatu hidangan
Bei Mo yang cukup layak untuk disajikan pada seorang Ratu sepiring hidangan
pencuci mulut yang lembut dan renyah.
Seorang
pelayan dapur lain sedang berdiri di samping sambil memperhatikan Zuiju
memeriksa hidangan dengan jarum. Mereka tak bisa menahan pujian mereka ketika
melihat hidangan yang begitu elok yang pastinya hanya bisa dibuat oleh koki
paling berpengalaman. “Hanya dari penampilannya saja sudah bisa dipastikan
kalau hidangan pencuci mulut Gui Li memang luar biasa.”
Selain
itu ada juga sebuah kotak kayu yang dibungkus oleh beberapa helai kain sutra.
Diletakan di posisi paling bawah kereta. Zuiju melepaskan sehelai demi sehelai
dan menyadari kalau isinya bukan makanan tapi beberapa benda kecil yang biasa
digunakan wanita.
Ada
sebuah kulit kerang yang berisi krim kulit dari bahan terbaik yang harumnya
sangat memikat.
Setidaknya
ada selusin koral kecil yang diletakan di bawah kotak. Zuiju menatap tiga benda
yang berada di dalamnya, tatapannya tidak bergerak. Akhirnya ia menghela napas,
memujinya dan juga kagum.
Selama
ia melakukan pemeriksaan, langit sudah mulai terang. Punggung Zuiju terasa kaku
karena kelelahan. Ia berkata pada pelayan dapur. “Semua ini aman, pakailah
sesukamu. He Xia sungguh orang baik, ia bahkan memberikan bahan makanan untuk
memulihkan kesehatan wanita. Gunakan saja resepku yang sebelumnya tidak usah di
rubah.”
“Tapi
kami masih tidak punya daun peony.”
“Tak
pa-pa tidak usah ditambahkan. Daun peony tidak begitu penting. Yang penting
bahan utamanya sudah ada.” Zuiju menjawabnya dan dengan lelah memijat bahunya.
Ia lalu menuju bangunan kecil, membawa kotak kayu tadi bersamanya.
Hongqian
sudah bangun dan sedang merenggangkan tubuh di tengah salju. Melihat Zuiju ia
bertanya, “Aku tidak melihatmu kemarin malam seharian. Sebelum Nona terlelap ia
memintaku untuk memeriksa, apa yang menahanmu di dapur.”
“Dimana
Nona?”
“Masih
terlelap.” Hongqian menunjuk pintu bangunan dengan dagunya. “Aku tidur
bersamanya disini kemarin malam. Ia terus berbalik dan menoleh, tidak bisa
tertidur. Ah, Aku mendengar para penjaga mengatakan kalau kita masih di kepung?
Bukankah mereka sudah mundur ketika Nona Bai dan Moran kembali kemarin? Dan apa
maksudnya perjanjian di tanggal enam? Apa yang kita lakukan kalau Tuan Besar
tidak kembali di tanggal enam?”
Zuiju
merendahkan suaranya, “Bahkan kalau kau berharap kau bisa mengendalikan
keadaan, kau tidak bisa, jadi lebih baik kalau kau tidak menanyakannya.”
Hongqian
tadinya berpikir kalau penjaga yang biasa suka bercanda dengannya sedang
berusaha menakutinya. Tapi dengan jawaban Zuiju barusan, wajahnya menjadi
pucat, dan ia mengerti betapa bahayanya situasi saat ini.
Zuiju
tahu kalau situasi saat ini lebih buruk dari apa yang diperkirakan Hongqia,
tapi ia memutuskan untuk tidak berkata lebih banyak lagi. Ia menepuk pundaknya
dan berjalan maju, memasuki ruangan Pingting.
Pingting
sudah terbangun beberapa saat lalu dan sudah menyingkirkan selimutnya ke
samping. Mantel pohon lilac tersampir di bahunya. Ia melirik ke samping,
tangannya sedang merapikan rambutnya. Ketika melihat Zuiju masuk membawa sebuah
kotak kayu ia bertanya, “Apa itu ?”
Zuiju
tahu Pingting kurang tidur dan ingin mengodanya. Ia meletakan kotak kayu
diujung tempat tidur, lalu tersenyum jahil. “Tebak, kalau kau bisa menerkanya
dengan benar, maka kau mendapatkan pengakuanku.”
Pingting
melihat ke arah kotak kayu, tatapannya bergerak ke samping. “Sesuatu yang membosankan
lagi…”
Ia
menghela, tidak memperdulikan Zuiju, ia membukanya.
Ia
menatap dengan terkejut pada tiga benda di dalamnya. Ia salah satunya, sebuah
sisir. Ia memperhatikannya dan merenung, lalu berkata, “Aku biasa
menggunakannya, dulu, ketika di Kediaman Jin Anwang.”
Ia
meletakan sisirnya kembali dan tidak menyentuh dua benda lainnya. Ia mengambil
batu koral dan menghitungnya lalu mengembalikannya kembali ke dalam kotak kayu.
Pingting tertawa pedih, “Aku menggunakan lima belas tahun pertemanan untuk membuat
kesepakatan, dan ia menggunakan lima belas tahun pertemanan untuk
memerangkapku.” Ia menutup kotak dengan keras dan membuangnya dari tempat
tidur.
Setelah
membersihkan diri dengan air hangat, Zuiju menyisir rambut Pingting. Zuiju
membuat sebuah bentuk bunga peony dari rambutnya. Ia melihat, wajah Pingting
tidak lagi menampilkan ekspresi bahagia atau juga khawatir. Ia sama sekali
tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, seperti sebuah kabut tipis muncul di
luar permukaan cermin.
“Nona!
Mengapa kau tidak berkata apapun?”
Pingting
diam sangat lama, tapi akhirnya ia bersuara, “Aku sangat lelah.”
Zuiju
membalas, “Karena Nona sangat lelah, Nona seharusnya tidur karena hari ini
tidak akan terjadi apapun. Aku akan pergi ke dapur dan membuat bubur kacang merah
dengan merebusnya. Dengan begitu, Nona bisa memakannya ketika bangun.”
Pingting
menggelengkan kepalanya.
Ketika
Zuiju meletakkan sisir, Pingting menoleh pada cermin perunggu dan berdiri,
menyibak tirai dan berjalan keluar. Zuiju segera mengikutinya keluar. Pingting
masuk ke ruang samping dan mengeluarkan kendi kelopak bunga plum.
“Biar
aku bawakan.”
Pingting
berbalik ke sampingnya sehingga Zuiju bisa mengambilnya tapi kemudian Pingting
menggelengkan kepalanya. Ia membawa kendinya keluar dan berjalan ke sudut
dimana Hongqian telah memutuskan membuat lubang di hari sebelumnya. Meskipun
semalam salju turun tidak terlalu banyak tapi tetap menghasilkan selapis tipis
es di tanah.
Pingting
meletakan kendinya di tanah, membersihkan tanahnya lalu mengambil sekop.
Zuiju
tidak berkata apapun. Ia sebenarnya agak takut. Ia berdiri di sisi lain,
membantunya sambil berkata, “Hati-hati jangan terlalu memaksa punggungmu.”
Pingting
tidak terburu-buru. Ia menggunakan sekop menggali sedikit demi sedikit. Lapisan
paling atas adalah yang paling keras tapi setelah itu lebih lembut sehingga
lebih mudah di gali.
Setelah
beberapa saat, sebuah lubang kecil mulai terbentuk. Keringat mulai terlihat di
dahi Pingting. Pipinya menjadi lebih merah.
Ia
tetap tidak tergesa-gesa. Pingting meletakan sekopnya, beristirahat sebentar
untuk menarik napas dan menenangkan diri. Lalu ia mengambil kendi disampingnya
dan meletakannya dengan rapi di lubang. Ia menggerakkannya ke kiri dan ke kanan
sampai ia merasa puas, lalu ia mengguburnya dengan tanah menggunakan tangannya
sendiri.
Setelah
usahanya ini, Pingting menarik napas dalam dan menegadahkan kepalanya,
tersenyum pada Zuiju yang masih berdiri di sampingnya. “Yang harus dilakukan
sekarang adalah menyalakan api diatasnya.”
Matanya
yang hitam bersinar, senyum di matanya terbentuk seperti gelombang dengan
percikan ringan.
Zuiju
tidak mengerti mengapa sepertinya jantungnya berasa berhenti berdetak sesaat.
Sebuah sensasi bertahan di pangkal hidungnya bersiap untuk menangis. Ia segera
mengusap matanya dan memperlihatkan wajah ceriah, “Tentu, aku akan mengambil
kayu bakar.”
Ia
mendapatkan kayu bakar dari dapur. Tugasnya digantikan Hongqian yang kemudian
membawanya ke tempat Pingting menunggu. Ia membuat gundukan dan berusaha
menyalakan apinya, tak lama kemudian di antara kayu kayu itu mulai muncul lidah
lidah api. Warnanya sangat merah di tengah salju, mewarnai pipi mereka, lembut
dan hangat.
Pingting
berkeringat banyak, tapi sepertinya kondisinya lebih baik. Ia menatap api, dan
tiba-tiba berkata, “Jangan hanya berdiri disekitar api. Pergilah ke dapur,
minta beberapa helai daging dan garam. Kita makan daging panggang.”
Meskipun
Hongqian khawatir dengan para prajurit mengepung mereka, ia mengerti istilah
kebahagiaan juga bisa muncul dari penderitaan. Ia berkata, “Aku akan
mengambilnya.”
Tak
lama kemudian ia kembali, kakinya melewati salju dan tangannya membawa
keranjang yang terlihat berat.
“Daging
babi tanpa tulang, sayap ayam, kaki bebek yang sudah bersih dan, dua ikan yang
sudah tanpa kepala dan isi perut. Aku tidak tahu apa yang Nona suka untuk
dipanggang, jadi aku minta pelayan dapur untuk menyiapkannya.” Hongqian
meletakan keranjangnya di bawah, menggelar sebuah selimut biru di atas salju
dan mengeluarkan isi keranjangnya. “Aku juga membawa garam dan semua bumbu.
Pelayan darpur juga bilang kalau hanya memakan panggangan akan membuat leher
kering jadi akan segera membawakan sup begitu matang.”
Pingting
menepuk tangannya, “Bagus Hongqian, sangat cermat. Kalau aku seorang Jendral,
aku akan memberimu posisi penasihat cadangan setidaknya.”
Pingting
duduk di atas batu dengan sebuah selendang tebal di pundaknya. Zuiju khawatir
ia kedinginan maka ia kembali ke ruangan untuk mengambil selendang itu
untuknya.
Hongqian
melihat Pingting tersenyum. Hatinya menjadi lebih tenang. Ia tertawa, “Bukan
begitu, Pelayan dapur memberitahu untuk tidak memegangnya seperti itu, tapi
ditusuk, jadi aku juga membawa batang besi tipis untuk itu.”
Ia
menunduk dan mengeluarkan beberapa batang besi tipis dari kerangjang. Benda itu
sudah di cuci bersih.
Setelah
semua persiapan beres, mereka bertiga duduk disekitar api dan menikmati acara
memanggang di musim dingin.
Mereka
mengambil batang besi tipis dan menusukan daging atau ikan lalu meletakannya di
atas api. Api merah membakar dengan perlahan sehingga hasilnya terlihat segar
dan sangat mengugah selera. Semakin lama mereka semakin menikmatinya.
“Ayahku
memiliki kompor untuk berburu. Aku pernah menggunakannya ketika menemani ayah
berburu, aku memainkannya beberapa kali.” Hongqian sepertinya cukup
berpengalaman dalam hal panggang memanggang ketika ia membalik besi di
tangannya. Ia menghela, “Setelah aku masuk ke Kediaman Zhen Beiwang, aku sudah
tak bisa melakukan hal seperti itu lagi.”
“Bagaimana
kau bisa masuk ke Kediaman Zhen Beiwang? Apa Tuan Besar membelimu?”
Hongqian
menggelengkan kepalanya. “Kediaman Zhen Beiwang tidak perlu membeli orang.
Mereka akan melakukan apa saja untuk bisa diakui. Disini cukup makan dan
minuman, sedikit pertengkaran dan Tuan kami adalah Tuan Besar Zhen Beiwang.
Ketika ayah berhasil menangkap sesuatu, aku setengah kenyang, tapi ketika ia
tidak berhasil menangkap apapun, aku kelaparan. Kehidupan yang keras, tapi
syukurlah aku cukup beruntung untuk bisa berada disini. Terkadang, aku membawakan
beberapa benda untuk ayah.”
Ini
pertama kalinya Zuiju mendengar kisah kehidupan Hongqian. Tapi ia tidak ragu
untuk bertanya, “Apa kau tidak rindu pada ayahmu setelah datang ke tempat
terpencil seperti ini?”
“Bagaimana
aku tahu? Ayahku, sayangnya, kurang beruntung. Ia meninggal tiga tahun setelah
aku masuk ke Kediaman Zhen Beiwang. Tuan Besar mencari mereka yang sudah tidak
memiliki keluarga, ia tahu aku tidak bisa pergi kemana-mana lagi, jadi ia
membawaku.”
Akhirnya
Zuiju mengerti mengapa jumlah pelayan muda sangat sedikit disini, malah lebih
banyak pelayan yang sudah tua. Mereka
sudah tua dan tidak punya tempat untuk pulang.
Zuiju
memanggang kaki bebek. Dagingnya cukup tebal, jadi ia harus sangat bersabar
sampai matang benar. Ia menatap Pingting dan berkata, “Warna api ini agak
menyengat untuk mata. Makanan yang dipanggang akan menaikkan suhu tubuh. Ini
tidak baik untuk kesehatan Nona.”
Ikan
di tangan Pingting sudah hampir matang. Meskipun ini pertama kalinya ia
memanggang sendiri dan pikirannya entah berada dimana, tapi ikannya benar-benar
terpanggang dengan kecoklatan dan garing. Mendengar perkataan Zuiju, ia dengan
hati-hati melepaskan ikannya dari besi dan meletakannya diatas piring. Lalu
menyerahkannya pada mereka, “Karena Zuiju berkata seperti itu, maka aku tidak
bisa memakannya. Jadi kalian berdua harus menghabiskannya.”
Hongqian
menatap dengan berdecak kearah ikan itu. Ia bersorak dengan riang dan
menyerahkan daging yang sedang dipanggangnya kepada Zuiju, “Pegang ini.”
Lalu
Hongqian mengambil piring yang berisi ikan yang sudah terpangang matang dan
terlihat lezat itu.
Zuiju
berpikir kalau Pingting memikirkan yang terbaik untuk kandungannya dan ia
tersenyum kagum padanya. Ia memberikan kata-kata untuk menenangkannya,
“Meskipun kau bilang tidak ingin memakannya, tapi masih ada beberapa hidangan
yang lezat yang akan siap. Aku sudah meminta pelayan dapur untuk menyiapkan
babi kukus dengan akutiloba dan kacang merah.”
Baru
saja Zuiju selesai berkata, pelayan dapur tiba dengan beberapa hidangan di nampannya.
Ia melihat mereka semua berwajah gembira karena bermain, ia lalu tersenyum dan
berkata, “Hati-hati dengan tanganmu. Kalau kau menyentuh besinya akan sangat
menyakitkan. Aku pernah mengalaminya beberpa kali.”
Ia
membuka nampannya di atas kain biru dan menyajikan satu mangkuk untuk setiap
orang lalu berlalu. Hidangan untuk Pingting tentu saja berupa daging kukus
dengan atikuloba dan kacang merah.
Pingting
memegang sendoknya dan mulai makan dengan santai dari mangkuknya sambil
memperhatikan mereka berdua masih memanggang makanan mereka. Dan ia tersenyum.
Kegiatan
itu berlangsung sekitar satu jam. Semua makanan sudah habis dimakan, api
tinggal tersisa kerlipan terakhir. Mereka bertiga berdiri dan menyiramkan air
ke api.
“Apakah
sebaiknya kita pindahkan kendinya ?” Tanya Hongqian.
“Tak
perlu, lebih baik ia terendam untuk rasa yang lebih baik, kita akan menunggu
Tuan Besar datang sebelum membukanya.”
Seperti
itulah pertengahan hari pertama berlalu. Sisa setengahnya berlalu dengan lebih
lambat. Zuiju dan Hongqian berbincang-bincang di dalam ruangan, sementara
Pingting tidur siang. Ia terlelap selama hampir tiga jam, ketika ia terbangun
hari sudah gelap.
Ia
bangun dengan pelan dan membuka jendela. Angin malam tidak begitu kencang, tapi
udara sangat terasa dingin. Ia tidak melihat bulan sama sekali.
“Zuiju…
Zuiju…” ia memanggil dengan agak keras.
Zuiju
berjalan masuk dan bertanya, “Kau sudah bangun?”
“Jam
berapa sekarang? Apa bulan sudah hilang setengah? Apa sekarang sudah tanggal
enam?”
Zuiju
berhenti untuk sesaat. Lalu ia berjalan pelan dan duduk di samping tempat
tidur. “Nona Bai, langit belum lama gelap, hari ini masih tanggal lima.” Ia
menjawab.
Mendengar
ucapannya, kekhawatiran Pingting berkurang. Ia dengan pucat berkata, “Oh,” dan
akhirnya tubuhnya bisa lebih santai, lalu ia berbaring kembali di tempat tidur.
Zuiju
lalu bertanya, “Pelayan dapur sudah membawakan makan malam, tapi karena kulihat
kau tidur dengan sangat lelap, aku minta Hongqian untuk tidak mengganggumu.
Hidangan itu sekarang sedang dihangatkan dengan kompor kecil di ruangan
sebelah. Karena kau sudah bangun, sebaiknya kau makan sedikit.”
Pingting
sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Awalnya ia menggelengkan kepala atas
perkataan Zuiju, tapi setelah memikirkannya kembali akhirnya ia mengangguk,
“Bawa kemari, aku akan makan sedikit.”
Hongqian
segera menyajikan hidangan yang masih hangat.
Pingting
berusaha menghabiskan separuh mangkuk sebelum akhirnya berkata, “Aku tidak bisa
makan lagi.” Ia meletakan sumpitnya.
Zuiju
melihat Pingting benar-benar sudah tidak bisa makan lagi dan dari ekspresinya
ia tahu, ia tak bisa memaksanya lagi. Maka ia berkata dengan suara lembut, “Tak
pa-pa.”
Hongqian
membereskan makanan dan pergi keluar dari ruangan bersama Zuiju. Ia berhenti di
depan pintu dan bertanya, “Ia sangat gembira tadi pagi. Kenapa setelah tidur
siang begitu berubah seperti ini? Seperti menjadi orang pintar sama sekali
tidak baik. Mereka memiliki emosi yang ajaib.”
Zuiju
segera menyuruhnya diam, merendahkan suaranya dan berkata, “Apa yang kau tahu?
Kalau kau jadi dia, kau mungkin sudah lama menjadi gila.”
Hongqian
menjulurkan lidahnya dan masuk ke ruangan samping.
Zuiju
tetap berdiri diluar dan melihat ke arah jalanan yang tertutup salju yang
menuju halaman. Sebuah hembusan angin dingin sepertinya menyentuh lehernya.
Seperti yang Pingting harapkan, sangat menyengarkan.
Pingting
bukan satu-satunya yang merasa kecewa, hatinya serasa dicakar seekor kucing
juga.
Hal
terburuk yang mungkin terjadi yang ia tahu, jalan berbahaya yang menggiring
mereka menuju jurang tak berujung yang terbentang di depan.
Perang
antara empat negara semakin hebat. Seharusnya pasukan Dong Lin yang menyerang
Gui Li dan Bei Mo tapi sekarang, persekutuan antara Yun Chang dan Bei Mo yang
sedang menyerang Dong Lin.
Menyebabkan
kematian yang tak terkira.
Semua
orang mengerti apa artinya bahaya, bahkan bagi seorang bangsawan yang bodoh.
Gurunya,
Huo Yunan lahir sebagai seorang bangsawan. Ia sangat mengerti pemikiran para
kalangan atas dan bisa menduga reaksi mereka.
Siapa
yang bisa menjamin negara mereka tidak akan jatuh karena kekuatan negara musuh?
Siapa yang akan berdiri di ambang kehancuran rumah mereka?
Sebuah
negara adalah sebuah rumah, tapi tidak ada negara tanpa rumah.
Bukan
begitu?
Zuiju
menarik napas dalam, dadanya begitu sesak sehingga terasa sakit. Ia merapatkan
giginya dan membuka kerah bajunya membiarkan angin dingin mengalir masuk. Ia
gemetar tiga atau empat kali sebelum akhirnya merapikan kerah bajunya lagi dan
membawa teh hangat dari ruang samping, ke ruangan Pingting lalu membantu
Pingting untuk tidur.
Malam
itu, ia tidur di ruangan Pingting dengan kasur lain.
Tiba-tiba
di tengah malam ia mendengar sebuah suara. Zuiju terbangun dan menggosok
matanya, ia melihat Pingting telah bangun dan duduk di tempat tidurnya.
“Kenapa
anda bangun lagi, Nona Bai?” Zuiju bangkit dari kasurnya dan berjalan sampai ia
tiba disampingnya. Suaranya lembut ketika bertanya.
Pingting
dengan diam menatap langit di luar jendelanya. Tatapannya tidak beralih ketika
ia berkata, “Bulan sudah keluar.”
Zuiju
mengikuti pandangannya dan melihat ke langit. Bulan memang sudah benar-benar
terlihat, ia keluar dari balik awan beberapa waktu sebelumnya, tapi sinarnya
sangat redup.
Memperhatikan
posisinya, ia menyadari kalau bulan sudah melewati setengah langit.
Bulan
sudah lewat setengah langit.
Tanggal
enam sudah tiba….
Zuiju
merasa hatinya tertusuk, tapi ia tetap berkata dengan lembut. “Masih ada satu
hari dan Tuan Besar pasti sedang menuju kemari dengan cepat.”
Suara
Pingting seperti ombak yang tenang. “Ia pasti sedang diatas kudanya, sangat,
sangat kelelahan. Lehernya pasti sangat kering dan terasa serak, tubuhnya
tertutup debu kecuali bahunya yang tertutup salju.”
Zuiju
berpikir kalau suaranya seperti melayang menuju akhir dunia. Ia menundukkan
kepalanya untuk melihat ekspresinya tapi tidak menemukan petunjuk apapun.
Lalu
ia menarik selimut disekitar Pingting, menemaninya dengan duduk di ujung tempat
tidur. Mereka berdua menatap bulan bergerak. Satu jam berlalu dan akhirnya
Zuiju mengumpulkan keberaniannya untuk berkata, “Tidurlah.”
Pingting
dengan patuh berbaring dan menutup matanya. Zuiju menghela napas lega dan turun
dari tempat tidur untuk kembali ke kasurnya sendiri. Di ujung matanya ia
melihat mata Pingting berkedip.
“Kenapa?”
Pingting
menatap Zuiju, tertawa kesal, “Tidak pa-pa.” lalu ia memejamkan matanya sekali
lagi.
Malam
itu di Kediaman Hua, Chu Beijie yang mengira dirinya pelayan bisu Nona Hua
pernah berkata, “Tidur,” ketika ia melihatnya sedang sakit.
Orang
itu, yang akan melakukan apa saja yang ia inginkan, tanpa memperdulikan sedikitpun
adat masyarakat. Pria itu tidak mengenalnya sama sekali, tapi ia membopongnya
dan membawanya ke kamarnya, menurunkannya di tempat tidur dan dengan kaku
menyelimutinya.
Ia
berkata dengan kaku, “Tidur” seperti sebuah perintah yang diberikan pada
prajuritnya, tapi hal itu sangat dikenangnya ketika ia mengingatnya seperti
saat ini.
Ia akan kembali, ia
pasti akan kembali.
Telapak
tangannya mengepal dengan kuat di balik selimut.
Itu
sungguh cinta yang dalam yang akan melewati ujian seperti apapun dan dengan
mudahnya larut dalam air yang mengalir, apa maksudnya dua pedang itu? Jiwa yang
terpisah dan Semangat Surga?
--
Bulan
sudah melewati setengah langit.
Tanggal
enam sudah tiba.
Chu
Beijie berkuda dengan sangat cepat.
Angin
pagi utara bersiul di telinganya.
Dalam
hidupnya ia telah berkuda dengan sangat tergesa-gesa beberapa kali, membuat
empat kaki kudanya melayang. Ia membiarkan jubahnya berkibar. Bahkan gunungpun
tak bisa menghentikan sosoknya yang datang mendekat.
Berkuda
melewati tanah datar adalah sebuah kebahagiaan.
Tapi
kali ini ia sama sekali tidak menikmatinya.
Angin
menghantamnya dengan keras. Terasa sakit seperti wajahnya terluka oleh pedang. Angin
tidak hanya melukai wajahnya tapi juga merobek hatinya.
Hatinya
seperti dibakar dan abunya masih bertahan di udara.
Kediaman
itu masih belum terlihat dimatanya.
Tapi
wangi bunga plum yang sedang mekar, melekat di hatinya.
Chu
Beijie sangat mengerti maksud Raja. Ia tahu dari cara kakaknya melakukannya,
berusaha menahannya di istana agar sepasukan prajurit bisa menuju Kediamannya
yang terpencil.
Bagaimana
mungkin tangan Pingting yang seputih giok, yang memainkan kecapi, bisa
mengembalikan kemenangan perang pada Raja Dong Lin.
Apa
He Xia sedang menggarahkan pedang padanya?
Tubuh
lembut yang belum puas ia peluk, wajah cantik yang belum puas ia lihat, suara
jernih nyanyian yang belum puas ia dengar…..
…
Kenapa si pria brengsek itu tidak mau melepaskan Pingting, melepaskannya dengan
baik?
Pingting
sudah mengucilkan dirinya sendiri.
Ia
tidak lagi peduli dengan urusan luar.
Ia
telah cukup menderita dan telah terluka lagi dan lagi. Ia hanya ingin kembali
seperti dulu dan jika bisa menjadi wanita yang bahagia.
Sebagai
kekasih Chu Beijie.
“Pingting
tidak serakah, hanya berharap Tuan akan datang melihat Pingting sebelum pergi
ke medan perang. Di hari ulangtahun Tuan, Pingting ingin menyampaikan sesuatu
yang penting.”
Itu
hanya sebuah keinginan yang sederhana.
Sebuah
harapan yang setiap pria, pasti bisa kabulkan.
Tapi
ia bukan seorang pria biasa. Ia adalah Chu Beijie, Tuan Besar Zhen Beiwang
milik Dong Lin.
Chu
Beijie mengangkat cemetinya dan memacu kudanya, matanya lelah. Angin masih
terus menghantam wajahnya, sama sekali tidak membantu menenangkan hatinya yang
sangat jengkel.
Perpaduan
antara salju dan lumpur berserakan di pinggir jalanan yang sepertinya tidak
berujung.
Perjalanan
pulang sepertinya lebih lama sekali.
Chu
Beijie berkuda sambil pandangannya melihat kaki langit.
Apa
Pingting masih selamat dibalik awan?
Sebuah
bendera berkibar di kejauhan, berkelebat di matanya. Segerombolan pria berkuda
melaju ke arahnya. Chu Beijie memperhatikan bendera yang berkibar dan berhasil
membaca tulisannya “Mu”.
Hati
Chu Beijie berdetak sangat kencang. Ia memacu kudanya lagi yang sudah berbusa
di mulutnya. Ia bergerak menuju gerombolan yang mendekatinya, setelah dekat ia
menghentikan kudanya dan berteriak, “Mengapa Chen Mu berada disini?” ia sudah
agak lama tidak menegak air, maka suaranya sangat serak.
Melihat
Chu Beijie, ia segera maju ke depan. Turun dari kudanya dan berlutut, “Tuan,
Chen Mu disini!”
“Berani
sekali kau, meninggalkan Barak Naga Harimau ?”
Chen
Mu menjawab, “Aku menerima perintah dari Raja lima hari lalu untuk pindah ke
Luo Meng dan melapor pada Tuan Fu Lang dan sekarang sedang menuju ibukota untuk
melapor pada Raja.”
“Siapa
yang sekarang memimping di Barak Naga Harimau?”
“Berdasarkan
perintah Raja, yang memimpin sementara adalah Jendral Fen Min perwakilan Tuan
Fu Lang.”
Jendral
Fen Min hanya menerima perintah dari Tuan Fu Lang, meskipun Pingting
menggunakan pedang Semangat Surga miliknya tidak akan cukup untuk menggerakkan
pasukan.
Raja
Dong Lin telah mengambil langkah luar biasa untuk melawan adiknya sendiri.
Kemarahan
Chu Bejie telah menguasai hati dan pikirannya.
Pingting
tanpa harapan pertolongan, terpisah jauh darinya.
Mengingat
kepintaran Pingting, ia pasti ingat janjinya di tanggal enam dan akan melakukan
apa saja untuk menghambat musuh sampai kepulangannya.
Tunggu aku, kau
harus menungguku!
Telapak
tangan Chu Beijie penuh luka merah melepuh, tapi ia tidak merasakan sakit sama
sekali. Ia menarik tali kekang dan menegakkan punggungnya.
Chen
Mu pernah mengikutinya ke medan pertempuran selama beberapa tahun. Melihat ekspresinya
ia tahu kalau Chu Beijie telah berkuda dengan kecepatan penuh selama beberapa
hari. Ia menyerahkan kantung air kepadanya, “Minumlah air ini Tuan. Apa Tuan
tergesa-gesa menuju medan pertempuran? Tidak ada prajurit ataupun kuda yang
mampu bertahan dengan perjalanan seperti itu.”
Chu
Beijie melihat kantung air dan mengosongkannya hanya dalam beberapa tegukkan. Lalu
ia berbalik dan melihat tiga ribu prajurit yang berkuda bersamanya selama dua
malam.
Sejak
meninggalkan ibukota, mereka telah memacu kuda mereka dengan sangat cepat,
bergerak dengan kecepatan penuh. Mereka tidak beristirahat dan mereka semua
sangat kelelahan. Bekas tali kekang bercetak darah di tangan mereka. Beberapa lusin
sudah sampai batasnya dan mereka jatuh dari kuda mereka.
Ia
telah memimpin pasukan selama bertahun-tahun tapi tidak pernah kurang perhatian
seperti ini.
Ekspresi
Chu Beijie merasa bersalah ketika ia berbalik menatap Chen Mu dan bertanya, “Berapa
prajurit yang bersamamu?”
“Tidak
banyak, hanya seribu tujuh ratus. Tapi mereka adalah yang terbaik dari
pasukanku.”
“Berikan
mereka padaku.” Lalu Chu Beijie mengeluarkan bendera komando dan mengangkatnya
tinggi di udara, kemudian berseru, “Aku memimpin semua kekuatan pasukan negara
ini, jadi kalian semua para prajurit dengarkan! Diantara kalian tiga ribu
prajurit, mereka yang sudah tidak bisa bertahan dan mereka yang kudanya sudah
tidak bisa melanjutkan, ikut bersama Chen Mu menuju ibukota. Dan seribu tujuh
ratus prajurit yang sekarang juga berada di bawah komandoku, kita akan segera
berangkat.” Selesai berkata, Chu Beijie turun dari kudanya dan melompat naik ke
kuda Chen Mu sambil berkata dengan pelan, “Pinjamkan kudamu.”
“Kemana
Tuan akan pergi?”
“Sebelum
bulan melewati setengah hari tanggal enam, aku harus segera sampai di tempat
pengasinganku.”
Chen
Mu sangat terkejut mendengarnya. “Sekarang sudah tanggal enam, dan hanya
tersisa sepuluh jam lagi. Bagaimana mungkin Tuan tiba tepat waktu?”
Chu
Beijie tidak menjawab. Ia menarik tali kekangnya dan beranjak pergi.
Chen
Mu tidak tahu secara pasti apa yang terjadi, tapi ia tahu kalau situasinya
sangat darurat. Ketika ia menyaksikan punggung Chu Beijie menghilang di
kejauhan, ia menggertakkan giginya lalu memanggil wakilnya.
“Aku
harus pergi dengan Panglima kau pimpin prajurit yang lelah kembali ke ibukota. Berikan
kudamu.” Chen Mu berkata, kemudian ia memacu kudanya mengejar pasukan yang
sudah berjalan jauh.
Kumpulan
debu kuning berterbangan di udara di atas jalan tak beraspal.
Tanggal
enam.
Pingting, hari ulang
tahunku sudah tiba.
--
Suasana
Kediaman sangat berkabut membuat orang-orang sulit bernapas.
Gunung
dan hutan dibelakang masih tertutup warna putih. Bulan sudah beristirahat,
sementara sinar matahari mulai mengintip di balik awan membuat sinar terang
yang sepertinya tidak berhasil mencerahkan ketegangan.
Butiran
salju mulai turun lagi.
Banyak
dan tipis, sebagian lingkaran kecil salju dengan pasrah dihembus angin.
Sebuah
suara pelan kecapi tidak terpengaruh oleh salju. Terdengar melewati dinding
seperti pelangi di langit berawan yang menyingkirkan cuaca cerah.
Pingting
memainkan kecapinya.
Sekarang
sudah tanggal enam, mungkin para prajurit dengan pedang di tangan, yang
mengepung mereka, sudah semakin dekat?
Hari
ini tanggal enam. Pria itu yang punggungnya yang tegap seperti gunung, tawanya
yang kuat sangat gagah, telah lahir dihari bersalju seperti ini.
Pria
itu sangat diberkahi oleh langit.
Langit
telah memberikannya kehidupan yang baik. Ia memiliki kekuatan, tubuh yang
sehat, hidung yang lurus, mata hitam yang penuh kharisma, pembawaan yang
bermatabat, dan sangat percaya diri.
Langit
telah membuat jenis yang langka yang dikenal dengan nama Chu Beijie, pria yang
telah mengacaukan pikirannya dan menaklukannya.
Hari
ini tanggal enam.
Pingting
memetik senar kecapinya dengan ibu jarinya.
Ia
bermain dengan seluruh perasaannya, dikeluarkan melalui suara petikan
kecapinya.
Hanya
dengan membiarkan kedua tangannya menekan lembut senar yang tipis itu ia mampu
menutup pikirannya yang sangat kacau. Ia memejamkan matanya, pikirannya
terbenam dalam kenangan.
Ia
mengingat dengan jelas, kenangan yang muncul.
Debaran
jantungnya adalah yang pertama ia ingat.
Ia
kembali ketika ia sedang dikejar di lembah kecil. Chu Beijie menahan dirinya di
atas kudanya, melingkarkan lengannya di pinggangnya, menghentikannya dan
menunggu ia menjawab.
Dada
Chu Beijie terasa hangat dan jantungnya berdetak kencang di telinganya.
Lalu
ingatannya kembali ketika Chu Beijie memegang mangkuk sup dengan kikuk menyuapinya.
Chu Beijie menyuruhnya untuk tidur, menemaninya ketika ia memandang bintang dan
bulan.
Persaingan,
kemarahan, dan sikap sopannya, hal yang manis dan berbahaya juga menyayat hati.
Bagaimana
mungkin Chu Beijie tidak mencintainya?
Bagaimana
mungkin Chu Beijie melanggar janjinya bahkan melupakannya?
Bagaimana
mungkin ia begitu kejam meninggalkan dirinya hanya untuk mempertahankan
kepahlawanannya melindungi negaranya?
Beijie, kalau memang
Pingting adalah orang yang sangat berharga di hatimu, tak peduli seberapa luas
dunia, apa yang bisa menghentikanmu?
Aku telah menggubur
kendi Yang Menggunci Diri untuk menanti kepulanganmu.
Zuiju
berdiri dibelakang Pingting, tangannya diturunkan ketika menyaksikan punggung
Pingting. Punggung itu sangat lemah dan rapuh, tapi postur tubuhnya tetap
tegap. Sepertinya sebuah rangka besi telah menopang dagingnya yang tipis.
Zuiju
mendengarkan.
Irama
kecapi itu, seperti sebuah suara yang sedang menceritakan setiap moment yang
terjadi. Walaupun bukan pengalaman sendiri bagi orang lain tapi mereka bisa
kesedihan dibaliknya.
Meskipun
udara sangat dingin, dan kondisi sangat kacau, tapi suara kecapi sangat jernih.
Mana
yang lebih penting, seseorang atau sebuah negara?
Apakah
ia lebih memilih melindungi sebuah cinta sejati atau melindungi negaranya?
Menahan
diri untuk menyentuh masalah hati, sungguh mengerikan seperti jarum yang
tertahan di langit membelah tubuh Zuiju yang mengakibatkan penderitaan dalam.
Manusia
bukan benda mati dan tidak bisa tanpa perasaan.
Senar
yang tipis seperti sebuah senjata yang mencekik, menyiksanya sampai ia hancur,
dengan kejam.
Zuiju
tak mampu lagi menahan dirinya mendengar suara keras kecapi, ia maju, berusaha
mengendalikan perasaannya dan berbisik, “Nona, anda harus berhenti. Makan siang
sudah siap sejak tadi.”
Pingting
menekan tangannya di atas senar kecapi, menghentikan permainannya dengan
tiba-tiba. Ia menegadah, matanya sangat jernih bersinar ketika menatap Zuiju.
“Setidaknya
makanlah sedikit.” Zuiju mengabaikan tatapan tajamnya dan membantunya bangun.
Hongqian
dengan cekatan menyusun hidangan diatas meja.
Pingting
memperhatikan hidangan-hidangan dan terkejut, karena ada beberapa hidangan Gui
Li yang tersedia di atas meja, beberapa macam hidangan lezat sehari-hari. Ia duduk
di atas kursi memilih beberapa dan meletakannya di atas mangkuknya.
“Semua
ini hidangan Gui Li yang dimasak sendiri oleh He Xia.” Pingting diam beberapa saat lalu berkata lagi.
“He Xia sungguh-sungguh menunjukan kebaikan hatinya.”
Rasa
tegang karena tekanan di hatinya menghilang sama sekali.
Hongqian
masih bisa bernapas di suasana yang begitu sunyi ini dan ia berkata, “Meskipun
Kediaman sedang dikepung pasukan prajurit, melihat tindakan Tuan Besar Jin
Anwang ini, sepertinya ia masih mengingat pertemanan dengan Nona, Meskipun….”
Hongqian tiba-tiba diperingatkan oleh Zuiju dengan gerakan mengunci mulut, ia
menyadari perkataannya dan segera menutup mulutnya.
Pingting
tidak menyalahkannya. Sebuah senyum pahit terbentuk di bibirnya ketika ia
berkata, “Dan seberapa berharga kenangan manis atas hubungan yang begitu erat ?”
Sepertinya
mungkin He Xia bisa menerima siapapun yang mendapatkan Pingting, kecuali satu
orang… Chu Beijie.
Chu
Beijie, satu-satunya orang di bawah langit ini yang mampu membuat seorang He
Xia merasa takut.
Chu
Beijie, juga satu-satunya orang di bawah langit ini yang bisa membuat He Xia
merasa cemburu.
Kalau
dunia adalah sebuah medan perang, tidak mungkin persaingan dua musuh lama
dibatasi hanya dengan api dari medan pertempuran.
Salju
meninggi di luar ruangan. Biasanya setiap orang pasti akan menutup pintu dan
berlindung di dalam ruagan yang hangat, mencair bersama airmata musim dingin.
Lingkaran
bola matahari tergantung tepat di atas, menghasilkan bayangan kearah timur.
Setengah
hari sudah lewat.
Tinggal
setengah hari lagi. Dua belas jam lagi.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar