Para
penjaga bersiaga dan para pelayan diam seribu bahasa. Suasana kediaman yang
besar itu menjadi hening hanya dalam sehari. Bukan hanya karena kehilangan
suara-suara burung merpati yang saling bercumbu, tapi lebih seperti suasana
hening kematian.
Tak
ada seorangpun yang terbatuk atau berbicara dengan suara keras. Bahkan ketika
berjalanpun dilakukan dengan berjinjit. Sepertinya jika mengeluarkan suara
sekecil apapun, bisa memancing keluar serangan musuh dari berbagai arah.
Pingting
sedang duduk di ruang kerja Chu Beijie untuk pertama kalinya.
Ia
membuka dan membaca gulungan perkamen yang berkaitan dengan informasi yang
dibutuhkannya di atas meja. Beberapa dokumen ditambahkan sedikit catatan kaki
oleh Chu Beijie sendiri. Jika berkaitan dengan masalah militer nadanya dingin
dan kasar, berbeda jika berkaitan dengan kehidupan rakyat tulisan yang
digunakannya sederhana dan sabar.
Ada
satu atau dua dokumen yang terpisah yang isinya puisi tulisan tangan Chu
Beijie. Tulisan tangannya yang terlihat akrab sungguh mewakili dirinya, tenang
tapi juga liar disaat yang sama.
Ada
sebuah sudut putih terlihat dari bawah tumpukan gulungan yang sangat hati-hati
disembunyikan oleh pemiliknya. Mata tajam Pingting telah melihatnya. Terlihat
sangat rapi dan sepertinya digambar dengan lihai.
Gambar
itu sangat hidup, sapuannya kuasnya sangat tegas.
Terdapat
pohon-pohon, sebuah danau, kecapi dan seseorang yang sedang memegang kecapi
dalam balutan gaun hijau pucat. Angin menyapu helaian rambutnya yang hitam dan
sehalus sutra ketika tersenyum dan
berbicara.
Senyumnya
sangat cantik, begitu cantiknya sampai Pingting merasa dirinya terbuai.
Ia
terus memperhatikan lukisan itu dan tak berani mengalihkan pandangannya.
“Nona
Bai, disini hanya ada dokumen lama dan beberapa milik Tuan diatas meja. Dan
untuk peta serta laporan kondisi terakhir, aku sudah mengumpulkan semuanya.”
Ia
segera menghentikan kesenangannya yang seperti berlayar di empat samudra ketika
ia mendengar suara Moran melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Ia segera
merapikan kembali lukisannya, berniat meletakan kembali ketempat asalnya. Tapi
kemudian ia berhenti, mengertakan giginya dan menyembunyikan lukisan itu di
lengannya.
Ia
menegadah dan melihat Moran sedang membawa setumpuk gulungan perkamen.
“Ini
surat pribadi yang dikirim oleh Yang Mulia Raja yang meminta Tuan untuk segera
kembali ke ibukota.” Moran membuka surat pribadi itu yang berwana kuning dan
memiliki rumbai di ujung-ujungnya.
Pingting
menundukan kepalanya untuk membacanya dengan seksama. “Yun Chang dan Bei Mo
telah menggabungkan kekuatan? Ze Yin telah mengundurkan diri, yang tersisa
hanya Ruohan dan Sen Rong. Aku tahu kalau Ruohan memang bagus, tapi Yun
Chang…..” Sebuah nama yang akrab tiba-tiba muncul di pikirannya dan ingatannya
dan membuatnya menjadi pening seketika. Ia berkedip dan berusaha membacanya
dengan sangat hati-hati, tapi nama yang menusuk tajam di hatinya itu tidak
berubah ada di bagian paling bawah gulungan.
Sebuah
duri yang menusuk hatinya.
Wajah
Pingting menjadi pucat dan ia perlahan duduk di kursi. Suaranya memancarkan rasa tidak percaya, “He
Xia saat ini sedang menjadi buronan Raja Gui Li. Bagaiamana bisa ia menjadi
Komandan pasukan Yun Chang dan mengancam perbatasan Dong Lin ?”
Moran
merasa agak canggung ketika menjelaskan, “He Xia menikahi Putri Mahkota
Yaotian, karena itu ia menjadi Suami Ratu dan menguasai kekuatan militer Yun
Chan. Semua orang dibawah langit mengetahui berita ini tapi di tempat ini….
Tuan Besar berkata Nona Bai tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan He Xia
maka kami tidak membiarkan anda tahu.”
Moran
menatap wajah pucat Pingting yang semakin pucat seperti salju.
Jadi
begitu.
He
Xia telah menikah.
Istrinya
adalah Putri Mahkota dari Kerajaan Yun Chang.
He
Xia menggunakan pernikahannya.
Dan
ia memutuskan untuk tidak melepaskan dirinya.
Atau,
ia tak mau melepaskan Chu Beijie.
Segalanya
menjadi jelas sekarang, kesimpulan yang sungguh memilukan. Meskipun ia sangat
pintar tapi ia tak bisa menghentikan hatinya yang menjadi semakin gelisah.
Pingting
tetap diam, dengan perlahan menggulung perkamen surat dari Raja Dong Lin. Ia
meletakannya di samping dan perlahan berkata, “Pertempuran di perbatasan
sepertinya tidak akan terjadi.”
“Bagaiana
anda bisa pasti?” Moran bertanya dengan tidak percaya.
Pingting
menggelengkan kepalanya perlahan. “Karena He Xia sudah berada disini. Didalam
wilayah Dong Lin. Kalau He Xia bisa masuk ke dalam area ini bukankah berarti
Dong Lin sudah dikalahkan?”
“Apanya
yang menang dan kalah? Ini hanya persetujuan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Tanpa dukungan Raja Dong Lin, bagaimana mungkin He Xia membawa pasukannya ke
tempat ini ?” Pingting tersenyum geti, perlahan berdiri dari kursinya dan
berjalan.
Lawannya
sungguh seorang He Xia.
Ia
satu-satunya Jendral terkenal yang mampu menyaingi Chu Beijie. Dulu, berkat
keberadaannyalah Dong Lin kesulitan mengalahkan Gui Li. Chu Beijie harus
mengerahkan segala kemampuannya untuk membuat perpecahan antara Kediaman Jin
Anwang dengan pihak Kerajaan, untuk menyingkirkannya dari Gui Li.
Perencanaan
He Xia sangat hati-hati, selalu memastikan jebakannya seketat kain tenun
sebelum memutuskan untuk mengepung musuh dengan diam-diam. Ia akan tiba-tiba
menyerang di detik-detik terakhir, tidak akan membiarkan kemungkinan musuh
melarikan diri.
Dan
hari ini, ia menggunakan taktik berderapnya untuk mendapatkan Bai Pingting.
Hati
Pingting terasa pahit. Ia sangat ingin menangis, tapi mulutnya malah
mengeluarkan tawa dingin. “Singkirkan semua peta dan informasi tentang kondisi
disini, aku tidak perlu melihatnya. Bahkan jika kita sebanding kita tetap harus
berjuang. Bagaimanapun, dengan kondisi kita saat ini, sama sekali tidak ada
kemungkinan untuk menang.”
Matanya
yang dingin menatap Moran dan suaranya sangat tenang. “Meskipun kita tidak
mungkin menang, kita tidak boleh kalah.”
Tidak
memperdulikan kebingungan di wajah Moran, Pingting berjalan keluar dari ruang
kerja dan melangkah menuruni undakan.
Ia
segera menuju pintu masuk utama, langkah kakinya perlahan berhenti ketika
separuh jalan. Ia sepertinya memikirkan sesuatu. Ia berbelok dan berjalan
kembali menuju ruangannya.
Zuiju
dan Hongqian sedang menunggunya dengan gugup, melihat Pingting berjalan menuju
ke arah mereka, mereka segera berjalan keluar menyambutnya. Mereka menyapanya,
tapi kemudian tak tahu harus berkata apa.
Pingting
memperhatikan mereka, mereka diam tak bicara apapun. Hatinya menjadi gelisah
kembali. Sekarang bukan waktunya untuk menenangkan mereka, maka ia berkata,
“Siapa yang punya pakaian warna merah tua?”
“Aku
punya satu,” Jawab Hongqian.
“Segera
bawa kemari.” Pingting memasuki ruangan dan mengambil sisir, ia melurukan
rambutnya yang sehalus sutra sampai seperti air terjun hitam yang
menggertarkan.
Zuiju
melihatnya menyisir rambutnya lalu berjalan mendekatinya. “Biar kubantu,” ia
menawarkan dan meminta sisirnya.
Pingting
menggelengkan kepalanya, “Biar aku saja.”
Di
depan cermin, ia membagi dua rambutnya. Ia mengambil satu bagian dan
mengulung-gulungnya hingga menjadi seperti bentuk bunga.
Pingting
menatap cermin dan memperhatikan hasilnya. Ia menggelengkan kepalanya, merasa
tidak puas dan melepaskannya, membiarkan rambutnya jatuh seperti semula lagi.
Kemudia
Hongqian memasuki ruangan, besama gaun merah tua ditangannya. Ia menyerahkannya
pada Pingting dan berkata, “Ini pakaian warna merah tua, tapi sangat tipis,
karena ini pakaian untuk musim panas.”
“Warnanya
persis seperti yang kubutuhkan.” Pingting mengambilnya, merentangkannya, dan
memang sangat tipis, “Bantu aku mengenakannya.”
“Bagaiman
mungkin Nona mengenakannya dihari sedingin ini?” Zuiju memprotes, “Aku punya
pakaian warna ungu, meskipun warnanya tidak sama persis tapi lebih hangat.”
Pingting
tidak setuju, “Harus warna ini.”
Alismatanya
menaik, tidak membiarkan mereka untuk menentangnya. Dan akhirnya mereka
membantunya berpakaian. Saat ini musim dingin. Meskipun mereka di dalam
ruangan, Pingting tetep membuka pakaian dalamnya, dan ia gemetar kedinginan.
Zuiju bergegas memakaikan mantel di pundaknya, menyelimutinya.
Pingting
menatapnya penuh rasa terima kasih dan berbisik, “Aku masih harus menggulung
rambutku.”
Ia
menolak bantuan Hongqiang dan Zuiju, ia duduk di depan cermin dan melakukannya
sendiri untuk beberapa saat. Zuiju memperhatikan ekspresi wajah Pinting sangat
penuh perhatian. Sementara jari-jarinya berusaha membentuk rambutnya. Akhirnya
sejumput rambutnya terbentuk seperti sebuah bunga yang sedang mekar. Kedua sisi
rambutnya disisir sangat rapi, jatuh dengan lembut di kulitnya yang putih,
menyempurnakan penampilannya.
Hongqian
berada di satu sisi, memperhatikan dengan tenang. Ia menghela, “Meskipun sangat
cantik, tapi begitu sulit. Syukurlah Nona sangat trampil. Kalau aku, mungkin
butuh waktu lebih lama.”
Zuiju
juga ikut berkomentar, “Sangat cantik. Sungguh pantas untuk wajah dan mata
Nona. Menyempurnakan watak alami Nona sesuai dengan struktur kerangka tulang
anda. Model rambut ini pasti dibuat hanya untuk Nona.”
Sebuah
rona kembali ke wajah Pingting karena komentar mereka. Ia menatap kembali ke
cermin dan berkata dengan malas, “Rambutku kurang rapi, aku seperti baru pertama
kali saja melakukannya sendiri.” Lalu ia berdiri, memikirkan betapa dinginnya
udara hari itu. Ia melipat tangannya ke dalam mantelnya untuk melindunginya
dari angin dingin. Ia memejamkan matanya sebelum membukanya kembali dengan
tatapan pasti dan berjalan keluar pintu.
Moran
telah menunggu sambil berdiri di depan ruangan. Melihat Pingting berjalan
keluar, tatapannya tertuju pada mantelnya. Pingting sangat kurus. Meskipun
mantelnya menyembunyikan segalanya, ia masih bisa melihat kalau dibaliknya Pingting
mengenakan pakaian yang sangat tipis.
Pingting
masih menyembunyikan tangannya dibalik mantelnya. Ia menengadah dan melihat
Moran tanpa menghentikan langkahnya. Sambil melewatinya ia berkata, “Kau, ikut
aku.”
Sepertinya
Pingting telah mengambil sebuah keputusan, langkah kakinya tanpa keraguan
sedikitpun.
Ketegangan
dan kecemasan sedang merajalela, nyata atau hanya halusinasi. Para penjaga
bersiaga berdekatan dan mereka memegang pedang sambil berdiri tegak, mata
mereka terbuka lebar. Perhatian telah meningkat dan mereka sangat waspada pada
setiap gerakan, tapi ketika mereka melihat sosok Pingting yang seperti bunga
plum yang sedang mekar dan Moran yang mengikutinya dari belakang, mereka
terlihat sangat terkejut.
Pingting
berhenti di pintu gerbang utama, memperhatikan pintu kokoh yang terbuat dari
batangan besi. Meskipun kondisinya sangat baik, tapi tidak cukup untuk menahan
satu serangan He Xia. Tidak dibuat demi kepentingan pertempuran, apa ada
kemungkinan untuk bertahan dari serangan pasukan bersenjata?
Tangannya
mengepal. Tapi tak seorangpun yang menyadari pundaknya bergetar. Pingting
menarik napas panjang dari udara yang sedingin es dan memejamkan matanya.
Ketika
ia membukanya kembali, sinar matanya memancarkan kebulatan tekad.
“Buka
pintunya.”
Para
penjaga terkejut dan saling memandang satu sama lain.
Moran
segera menghampirinya, menundukan kepalanya dan berkata pelan dengan sangat
khawatir. “Nona Bai…”
“Kau
juga seorang prajurit militer senior. Tempat ini takkan bertahan lama. Daripada
membiarkan He Xia menyerang masuk, lebih baik mempersilahkannya datang.” Ia
berkata dengan yakin disetiap kata-katanya, seperti tetesan hujan batu Kristal
yang mengukir disetiap hati para penjaga.
Sungguh
hal yang sangat mengejutkan, tapi hal itu telah mengkikis habis keraguan di
hati mereka. Semua orang sudah tidak khawatir lagi pada kekalahan yang akan
mereka terima, dan mereka menjadi lebih tenang dan stabil seperti ketika
bersama Chu Beijie.
“Buka
pintunya.” Pingting memerintahkan dengan pelan sekali lagi.
Semua
orang mengingat sikapnya yang membanggakan, punggungnya berdiri dengan tegap.
Mereka
menggeser gerendel pintu yang berat. Perlahan pintu terbuka dengan suara keras.
Sedikit demi sedikit, jalan setapak yang terbentang diluar kediaman, gunung
yang tertutup salju yang bersinar dibawah cahaya matahari, muncul di pandangan
mereka.
Pingting
berdiri di tengah gerbang, menyambut angin yang bertiup masuk. Sebuah tatapan ringan dari Pingting menyapu
pepohonan dan hutan di depannya. Sebuah tatapan yang sulit diungkapkan dengan
kata-kata.
Kediaman
Jin Anwang di masa lalu terasa sangat jauh tapi juga berada sangat dekat.
Seperti
kaki telanjangnya yang dipisahkan oleh selapis tipis tanah dari udara hangat
yang berada di bawah tanah. Kalau saja lapisan tanah yang tipis ini di gali
dengan sangat hati-hati, udara hangat itu akan memancar keluar.
Memancar
melewati rambutnya, tubuhnya, bibirnya, darahnya yang mengalir, organ-organ
tubuhnya, setiap pori-pori kulitnya sampai terasa hangat dan sakit pada saat
yang bersamaan.
Pandangannya
beralih jauh kedepan. Siapa yang masih ingat arah menuju Gui Li ? Siapa yang
masih ingat lantai hijau di dalam Kediaman Jin Anwang?
Nyonya Besar,
pasukan Tuan Muda sekarang berada di gunung bersalju sedang mengarah kesini.
Hanya
dengan sebuah perintah, tempat ini akan menjadi sungai darah dan lubang
kematian, sebuah bukti atas tindakan tanpa belas kasihan dan tanpa penyesalan.
Angin
dingin bertiup melewati mereka. Pingting berbalik dan menoleh pada Moran.
Ia
menggatupkan gigi-giginya tapi matanya tanpa keraguan sama sekali. “Pada tempat
yang paling tinggi di gerbang ini, kibarkan bendera putih.”
Pingting
sama seperti Chu Beijie, ketika ia sudah memutuskan sesuatu, tak ada seorangpun
yang bisa membujuknya berubah pikiran. Moran mengangguk dengan patuh.
Semua
orang tahu, tanpa bantuan dari luar, kediaman akan segera jatuh cepat atau
lambat.
Tertangkap
atau menyerah semuanya sama saja.
Bendera
seputih salju perlahan berkibar di ujung tertinggi gerbang masuk. Membentang
diterpa angin utara, berkibar seperti tangisan ketidakpuasan.
Pingting
melepaskan mantelnya yang tebal, menampilkan pakaiannya yang berwarna merah tua
cerah.
Warna
merahnya sesuai dengan kulitnya yang putih. Ia berdiri di tengah salju,
pakaiannya berkibar dengan semangat dan terlihat sangat indah.
Tidak
hanya Moran tapi mungkin bahkan Chu Beijiepun tidak pernah menyaksikan
penampilan Pingting yang begitu memikat.
Hanya
dengan berdiri disana dalam diam, ia telah menelan semua kekuatan alam,
mengalihkan seluruh pandangan langit dan bumi.
Kesedihan,
keprihatinan, kepedihan yang tak terucapkan, dan sedikit jejak kehangatan
tersembunyi dengan baik di dalam matanya.
Tatapannya
menuju satu tempat, di tengah hutan tidak terlalu jauh.
Cabang-cabang
pohon tertutup salju tipis, seperti selimut perak. Pantulan putih bersinar
balik ke hati setiap orang, yang telah penuh dengan keputusasaan dan
kekecewaan. Sebenarnya seberapa banyak pasukan musuh yang bersembunyi disana?
Hanya
dengan sebuah dentuman genderang perang, ribuan prajurit musuh akan bergerak
maju, atau bahkan mungkin jutaan prajurit akan membanjiri mereka.
Tapi
tatapan Pingting sama sekali tidak menunjukan ketakutan atau juga kemarahan.
Ekspresinya
wajahnya agak lembut. Orang yang dikenalnya berada disana, ia yang pernah di
hukum bersamanya, menghabiskan malam untuk berjaga, belajar, mengagumi salju
sambil bermain kecapi, orang yang tumbuh besar bersamanya sejak kecil.
Tatapannya
membuat orang-orang sekitarnya penasaran. Mereka semua mengalihkan tatapan
menuju arah yang sama, dan akhirnya tatapan mereka terkunci kearah hutan di
gunung.
Awalnya
sama sekali tidak ada gerakan yang bisa di lihat dikejauhan. Tiba-tiba, selusin
prajurit kekar keluar dari salju, mereka berpencar tanpa suara di tengah,
mempersilahkan sebuah sosok tinggi dan tampan dibelakang mereka untuk maju.
Bersinar,
seperti sebuah bintang.
Bibirnya
tidak bergerak, tapi sepertinya ia hendak tertawa.
Tidak
seperti Chu Beijie yang pembawaannya sedikit kaku, He Xia lebih lembut dan
romantic.
Tapi
tangannya tetap menggenggam sebuah pedang, kuat persis seperti Chu Beijie.
Sejak kemunculannya, tatapan Pingting tidak
beralih, begitu juga tatapan He Xia tidak beralih dari Pingting.
He Xia dengan santai berjalan menuju
Pingting. Di tengah salju, ia meninggalkan jejak kaki yang sama lebarnya.
Moran memindahkan tangannya di pangkal
pedang, bersiaga, matanya memperhatikan He Xia seperti seekor elang begitu juga
dengan para penjaga yang lainnya. Punggungnya sedikit menunduk bersiap untuk
menyerang dengan kecepatan tinggi dan kekuatan penuh untuk menjatuhkannya
begitu ia melihat peringatan.
Beberapa orang kepercayaannya mengenakan
pakaian sederhana, menemani He Xia. Mereka melindunginya dari kedua sisi.
Setiap kali He Xia melangkah, para pemanah bergantian maju, mereka menarik
busur mereka mengarah pada para penjaga di sekitar Pingting. Mereka bersiap
tapi tidak melepaskan anak panahnya.
Begitu kedua pihak telah cukup dekat untuk
saling bertukar pukulan, He Xia menghentikan langkahnya. Ia berdiri berhadapan
dengan Pingting, cukup dekat sehingga Pingting bisa melihat perjuangan dan
tekanan di balik sinar matanya.
Udara dingin membekukan udara dan jarak di
antara mereka. He Xia tak mampu mengambil langkah maju, tapi ia juga tak mau
mengambil langkah mundur.
Udara yang membekukan tubuh mereka, juga
turut membekukan suara mereka. Sepertinya ingatan mereka terperangkap di
Kediaman Jin Anwang yang hangat.
He Xia tidak memperhitungkan perasaan
Pingting yang tercampur aduk dan rasa pedih di balik matanya, ketika berdiri berhadapan
dengannya.
“Lihat Tuan.” Akhirnya Pingting memecah
kesunyian. Pingting tersenyum lebar dan menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya
yang ramping. “Tidakkah terlihat cantik ?”
Warna pakaian yang merah sangat memikat mata
ditengah putihnya salju. Hal ini membawa kenangan He Xia kembali ke masa-masa
damai di Kediaman Jin Anwang, ketika Pingting berusia sekitar tiga belasan, ia
berlari menuju ke arahnya di hari bersalju. Pakaiannya yang berwarna merah tua
terlihar seperti jejak yang lebar di salju, Pingting mencebik padanya yang
sedang membaca di pavilium. “Tuan berbohong. Warna ini sangat jelek untuk
sebuah gaun. Aku tidak akan pernah menggenakan warna ini lagi karena berkesan
kuno dan bodoh.” Pingting berkata sambil berjalan pergi.
“Jangan pergi! Itu terlihat cantik, sangat
cantik. Aku tidak bohong! Pingting, Pingting, jangan pergi. Biar aku
melukismu.” He Xia segera melompat ke salju menghentikannya. Ia berkata dengan
riang, “Satu gambar saja, ketika kau melihatnya, kau akan tahu kalau aku tidak
berbohong.”
Salju masih turun.
Tapi Kediaman Jin Anwang telah berubah
menjadi debu.
He Xia menarik napas panjang. “Kau paling
tidak suka warna merah tua.”
“Tapi Tuan paling suka aku mengenakan warna
ini.” Pingting memandangi pakaiannya yang berwarna terang. Ia berbisik, “Tuan
masih ingat pakaian merah tua yang aku pakai ketika bersalju waktu itu?”
suaranya terdengar seperti sutra, jauh dan kecil seperti mengakhiri begitu
banyak kenangan yang telah mereka buat.
“Aku ingat.” He Xia menghela napas. “Aku juga
tahu, saat ini kau mengenakannya hanya untukku.”
He Xia menghela lagi dengan pelan,
melepaskan mantel bulunya yang tebal dari pundaknya dan melangkah maju.
Hampir semua orang bersiaga dan
bertanya-tanya dengan tindakannya. Anak-anak panah di busurnya hampir saja
dilepaskan.
Tapi yang ia lakukan hanya meletakan
mantelnya dengan lembut di pundak Pingting dan menyentuh pipinya,
menghangatkannya seperti yang biasa ia lakukan dulu.
“Lihat, kau sangat dingin seperti mayat.”
Bahkan senyum di wajahnya masih sama.
Pingting dengan patuh membiarkannya
memakaikan mantelnya dan menghangatkan wajahnya yang pucat. Lalu ia mendengar
He Xia mengerutu, “Kenapa kau harus melakukan ini? Apakah aku tidak akan datang
melihatmu kalau kau tidak mengenakan warna ini? Apa aku begitu kejam sama
sekali melupakan lima belas tahun kebersamaan dan pertemanan kita?”
He Xia memandangnya dengan belas kasihan, ia
mengangkat tangannya dan perlahan membuka untaian rambutnya, membiarkannya
perlahan jatuh. “Kau tak pernah merapikan rambutmu sendiri. Meskipun terlihat
mirip, caraku membuatnya tidak seperti ini.”
Mata setiap orang memperhatikan dengan
seksama.
Yang satu seorang Suami Ratu dari Yun Chang,
dan yang satunya kekasih Tuan Besar Zhen Beiwang.
Kalau di perhatikan, situasi saat ini sangat
indah untuk mereka simpan sebagai kenangan terbaik dalam hati mereka. Sebuah tempat
dimana tidak ada ketakutan telah dihancurkan hanya dengan sebuah batuk,
mengembalikan mereka pada kenyataan.
Masa lalu dan saat ini sepertinya sangat
jauh.
Rasanya seperti Pingting masih menjadi
pelayannya, ketika mereka berkuda bersama, makan bersama, dan melakukan
permainan konyok yang tidak berguna. Kenangan yang indah dan rapuh bersama
matanya yang sejernih Kristal dan senyumnya yang menawan, sejak mereka masih
kanak-kanak.
Kapapun, yang perlu ia lakukan hanya
memanggilnya, “Pingting! Pingting!” yang kemudian akan terdengar gema di
seluruh Kediaman hingga sampai ke telinga Pingting. Dan Pingting akan datang
dengan segera begitu mendengar ia dipanggil. Pingting menegadah, matanya jernih
dan terang dan He Xia mendengarnya berkata, “Ada apa? Aku sangat sibuk dan tidak
bisa menjadi model lukisan Tuan.”
Dan Chu Beijie, kenapa harus Chu Beijie?
Bagaimana bisa ia mencuri jiwanya, hatinya
dan lima belas tahun kebersamaan mereka, hanya dalam waktu yang sekejab?
“Pingting, aku merindukanmu.”
“Tiga ratus ribu prajurit untuk menekan Raja
Dong Lin agar menjauhkan Chu Beijie, dikirim hanya untukmu.”
“Lihat bagaimana Chu Beijie memperlakukanmu?
Ia pergi karena Raja memerintahkannya.”
“Ia sama sekali tidak pantas untukmu, kenapa
merendahkan dirimu hanya untuknya? Tidakkah kau lebih bahagia jika kita hidup
seperti sebelumnya?”
He Xia menunjuk pada pasukan khusus di
belakangnya. “Aku telah membawa pasukan ini sampai kesini dan menahan serangan.
Pingting, kau mengerti apa artinya bukan? Aku tidak pernah berniat
menyakitimu.”
“Apakah artinya, Tuan menginginkan Pingting
pergi dengan Tuan?” ekspresi Pingting kosong ketika berkata dengan perlahan.
“Apa kau tidak mau?”
“Apa aku bisa menolak?” Pingting memandang
bendera putih yang kibarkan tinggi yang mungkin telah menodai kebesaran Chu
Beijie. “Bendera putih telah dikibarkan, apa lagi yang bisa Pingting katakana?”
Ia tertawa kecil dan memandang He Xia, wajahnya dimiringkan. “Tuan ingin
membawa orangnya? Atau Tuan ingin membawa hatinya?”
He Xia memandang dengan ekspresi terluka
yang segera disembunyikannya. Ia merendahkan suaranya, “Semuanya.”
Sebuah tanda kesedihan, dan sebuah senyum
pahit terlihat dari bibir Pingting. Ia menghela, “Tuan, seberapa banyak dari
semua ini yang benar-benar untuk Pingting? Tuan tidak ingin menggunakan
kekerasan padaku untuk memberikan efek yang lebih besar pada Chu Beijie. Kalau
ia tahu, aku dengan sukarela mengikutimu, ini artinya kekalahan yang lebih
besar di banding kalah di perbatasan.” Pingting menghela dengan perlahan sekali
lagi. Suaranya terdengar lebih tegas, “Baiklah, selama Tuan menjanjikan
Pingting satu hal. Pingting akan mengikutimu dengan sukarela.”
He Xia telah mendengarkan suaranya yang
luwes dan terkejut. Ia segera bertanya, “Berapa lama kau ingin menunggu?”
“Sampai tanggal enam.”
“Pingting, Chu Beijie tak akan datang.”
“Kalau begitu, Pingting akan ikut Tuan.” Ia
mengangkat ibujarinya ke mulutnya dan mengigitnya. Darahnya yang berwarna merah
terang jatuh ke salju berlumuran, tetesan darahnya terlihat seperti bunga plum
yang tiba-tiba merekah.
“Aku, Bai Pingting, bersumpah pada langit,
kalau Tuan Zhen Beiwang tidak kembali pada tanggal enam, aku dengan sukarela
ikut pergi bersama He Xia, Suami dari Ratu Yun Chang. Kalau aku melanggar janji
ini, aku akan mati tanpa pemakaman yang layak.”
Semua orang di kedua sisi mendengarkan
sumpahnya yang jernih dan mereka sangat terkesan.
Bayangan pertempuran sudah di depan mata
dengan kehadiran pasukan prajurit dan identitas He Xia merupakan ancaman bagi
Negara ini, itu artinya semakin cepat mereka pergi semakin baik. Dan pihak Chu
Beijie telah mengibarkan bendera putih, maka seharusnya Bai Pingting hanya
perlu pergi bersama mereka. Mengapa harus menunggu dua hari lagi?
Orang yang waras takkan menyetujui
persyaratan ini.
Suara He Xia tetap penuh kharisma. Ia
mengangguk, “Baiklah, aku akan menjemputmu pada tanggal enam.”
Moran melihat He Xia berbalik dan pergi, dan
tanpa keraguan memberi isyarat pada para penjaga untuk melindungi Bai Pingting.
Para pemanah sambil tetap mengarahkan anak panah mereka ke Kediaman Chu Beijie
melangkah mundur.
Moran menyaksikan mereka berangsur-angsur
mundur ke dalam hutan dan akhirnya ia menyadari kalau pengangan pangkal
pedangnya basah oleh keringat dari tanganya.
Salju menutupi tanah di depan mereka, kosong
dan suram.
Pingting hanya berdiri disana, menatap ke
arah He Xia menghilang.
“Nona Bai?” Moran melangkah mendekat,
suaranya berupa bisikan keras.
Pingting berbalik ke arahnya, matanya
sejernih kristal. Senyumnya terlihat sedih di bibirnya. “Lima belas tahun
kebersamaan hanya bisa di tukar dengan dua hari.” Pingting tidak bergerak, ia
menegadahkan kepalanya dan melihat jauh ke arah timur. Dengan suara pelan ia
berkata, “Dari perkataannya, sepertinya Tuan Besar tidak bisa tiba tepat waktu
pada tanggal enam. Bagaimana menurutmu ?”
Moran menjawab dengan ragu, “He Xia terlihat
sangat yakin. Mungkin Raja turut membantunya di ibukota. Kalau memang seperti
itu, aku takut….”
“Tapi untuk seorang Chu Beijie, siapa yang
bisa menghentikannya bila ia ingin kembali?” Suara Pingting jadi lebih santai
ketika ia berbisik, “Kalau memang ia memiliki aku dihatinya, ia pasti kembali
pada tanggal enam.”
Ia harus kembali.
Arak, wanita, kekuasaan dan tekanan tidak
bisa menghentikannya.
Selama
ia mengingat janjinya, ia harus kembali untuk menemuiku.
Zuiju menemani Hongqian di dalam halaman,
jantung mereka berdetak kacau. Mereka melihat bendera putih yang dikibarkan di
kejauhan. Hongqian, wajahnya sudah seputih kertas, dengan ragu memperhatikan
sekelilingnya, mendengarkan dengan seksama untuk suara apapun.
Tidak terdengar suara pertempuran
sedikitpun.
Sepertinya anginpun menjadi takut sehingga
tak mau bersuara sedikitpun.
Mereka telah menunggu sampai rasanya hatinya
berubah menjadi sebuah benang, dan sudah hampir putus, sampai akhirnya mereka
melihat Moran menemani Pingting masuk ke dalam. Pingting pucat seputih pualam
dan terlihat sangat kelelahan. Mantel di pundaknya tidak lagi terlihat putih
seperti yang ia kenakan ketika ia pergi, melainkan berwana gelap dan terbuat
dari bulu binatang. Mereka berdua masuk ke ruangan dengan diam. Karena Pingting
tidak berkata apapun, Zuiju tidak mengatakan apapun juga hanya membawakan teh
hangat dan membantunya berbaring di tempat tidur dengan nyaman. Ketika semuanya
selesai dilakukan, ia melihat pada Moran sebelum menurunkan tirai, mereka pergi keluar.
“Apa yang terjadi? Aku melihat bendera
putih.” Zuiju bertanya ketika ia membuka
pintu yang memperlihatkan pemandangan gunung. Zuiju memiliki status berbeda
karena ia juga seorang teman lama bagi Moran.
Moran mengerutkan dahi dan ia menceritakan
apa yang terjadi dengan sangat rinci.
Perkembangannya sungguh sangat mengejutkan.
Meskipun sangat mustahil, Bai Pingting telah memenangkan perpanjangan waktu
selama dua hari.
Ketika Zuiju mendengar kalau He Xia langsung
setuju, matanya langsung membelak. Ia menghela napas dalam dan perlahan
menghembuskannya. “Tak heran kalau orang-orang mengatakan Tuan Besar dari Jin
Anwang adalah lawan sepadan bagi Tuan Besar kita. Sungguh orang yang tidak
berperasaan! Apa kau tidak penasaran mengapa He Xia tidak mengajari Tuan Putri
Yun Chang mengatur masalah militer?”
Tapi taktik ini hanya bisa dilakukan oleh
Bai Pingting dan hanya akan disetujui oleh He Xia.
Kecuali mereka berdua, bagaimanapun juga
pertukaran semacam ini adalah hal yang mustahil terjadi.
Pikiran Moran sangat penuh kekhawatiran. Ia
mengerutkan dahinya, “Nona Bai dengan tenangnya berkata, Tuan Besar pasti akan
datang. Tapi bagaimana kalau Tuan terlambat, apa yang harus kita lakukan?
Dengan keuntungan di pihak He Xia meskipun kita memutuskan untuk melawan, kita
tidak mungkin bisa pergi dengan membawa Nona Bai.”
Zuiju diam beberapa saat sebelum akhirnya
berkata, “Bahkan, meskipun kau bisa melarikan diri bersama Nona Bai, Nona Bai
tidak akan mau ikut denganmu. He Xia mempertaruhkan nyawanya dengan mengabulkan
permohonannya, bagaimana bisa ia mengingkari janjinya? Tanpa memperdulikan…..”
Zuiju mengatupkan bibirnya dan melihat ke bawah ke arah sepatunya yang di
bordir agak lama. Suaranya sedikit sedih, “Mengapa ia harus tinggal, kalau Tuan
tidak menganggapnya penting dan tidak kembali secepatnya?”
Sungguh romantis, Bai Pingting memang bukan
orang biasa.
Ia mampu menahan ratusan kali rasa sakit
tapi tak bisa bertahan dari kesedihan.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar