Rabu, 22 Juni 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.34

-- Volume 2 chapter 34 --


Para penjaga bersiaga dan para pelayan diam seribu bahasa. Suasana kediaman yang besar itu menjadi hening hanya dalam sehari. Bukan hanya karena kehilangan suara-suara burung merpati yang saling bercumbu, tapi lebih seperti suasana hening kematian.

 

Tak ada seorangpun yang terbatuk atau berbicara dengan suara keras. Bahkan ketika berjalanpun dilakukan dengan berjinjit. Sepertinya jika mengeluarkan suara sekecil apapun, bisa memancing keluar serangan musuh dari berbagai arah.

 

Pingting sedang duduk di ruang kerja Chu Beijie untuk pertama kalinya.

 

Ia membuka dan membaca gulungan perkamen yang berkaitan dengan informasi yang dibutuhkannya di atas meja. Beberapa dokumen ditambahkan sedikit catatan kaki oleh Chu Beijie sendiri. Jika berkaitan dengan masalah militer nadanya dingin dan kasar, berbeda jika berkaitan dengan kehidupan rakyat tulisan yang digunakannya sederhana dan sabar.

 

Ada satu atau dua dokumen yang terpisah yang isinya puisi tulisan tangan Chu Beijie. Tulisan tangannya yang terlihat akrab sungguh mewakili dirinya, tenang tapi juga liar disaat yang sama.

 

Ada sebuah sudut putih terlihat dari bawah tumpukan gulungan yang sangat hati-hati disembunyikan oleh pemiliknya. Mata tajam Pingting telah melihatnya. Terlihat sangat rapi dan sepertinya digambar dengan lihai.

 

Gambar itu sangat hidup, sapuannya kuasnya sangat tegas.

 

Terdapat pohon-pohon, sebuah danau, kecapi dan seseorang yang sedang memegang kecapi dalam balutan gaun hijau pucat. Angin menyapu helaian rambutnya yang hitam dan sehalus sutra ketika  tersenyum dan berbicara.

 

Senyumnya sangat cantik, begitu cantiknya sampai Pingting merasa dirinya terbuai.

 

Ia terus memperhatikan lukisan itu dan tak berani mengalihkan pandangannya.

 

“Nona Bai, disini hanya ada dokumen lama dan beberapa milik Tuan diatas meja. Dan untuk peta serta laporan kondisi terakhir, aku sudah mengumpulkan semuanya.”

 

Ia segera menghentikan kesenangannya yang seperti berlayar di empat samudra ketika ia mendengar suara Moran melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Ia segera merapikan kembali lukisannya, berniat meletakan kembali ketempat asalnya. Tapi kemudian ia berhenti, mengertakan giginya dan menyembunyikan lukisan itu di lengannya.

 

Ia menegadah dan melihat Moran sedang membawa setumpuk gulungan perkamen.

 

“Ini surat pribadi yang dikirim oleh Yang Mulia Raja yang meminta Tuan untuk segera kembali ke ibukota.” Moran membuka surat pribadi itu yang berwana kuning dan memiliki rumbai di ujung-ujungnya.

 

Pingting menundukan kepalanya untuk membacanya dengan seksama. “Yun Chang dan Bei Mo telah menggabungkan kekuatan? Ze Yin telah mengundurkan diri, yang tersisa hanya Ruohan dan Sen Rong. Aku tahu kalau Ruohan memang bagus, tapi Yun Chang…..” Sebuah nama yang akrab tiba-tiba muncul di pikirannya dan ingatannya dan membuatnya menjadi pening seketika. Ia berkedip dan berusaha membacanya dengan sangat hati-hati, tapi nama yang menusuk tajam di hatinya itu tidak berubah ada di bagian paling bawah gulungan.

 

Sebuah duri yang menusuk hatinya.

 

Wajah Pingting menjadi pucat dan ia perlahan duduk di kursi.  Suaranya memancarkan rasa tidak percaya, “He Xia saat ini sedang menjadi buronan Raja Gui Li. Bagaiamana bisa ia menjadi Komandan pasukan Yun Chang dan mengancam perbatasan Dong Lin ?”

 

Moran merasa agak canggung ketika menjelaskan, “He Xia menikahi Putri Mahkota Yaotian, karena itu ia menjadi Suami Ratu dan menguasai kekuatan militer Yun Chan. Semua orang dibawah langit mengetahui berita ini tapi di tempat ini…. Tuan Besar berkata Nona Bai tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan He Xia maka kami tidak membiarkan anda tahu.”

 

Moran menatap wajah pucat Pingting yang semakin pucat seperti salju.

 

Jadi begitu.

 

He Xia telah menikah.

 

Istrinya adalah Putri Mahkota dari Kerajaan Yun Chang.

 

He Xia menggunakan pernikahannya.

 

Dan ia memutuskan untuk tidak melepaskan dirinya.

 

Atau, ia tak mau melepaskan Chu Beijie.

 

Segalanya menjadi jelas sekarang, kesimpulan yang sungguh memilukan. Meskipun ia sangat pintar tapi ia tak bisa menghentikan hatinya yang menjadi semakin gelisah.

 

Pingting tetap diam, dengan perlahan menggulung perkamen surat dari Raja Dong Lin. Ia meletakannya di samping dan perlahan berkata, “Pertempuran di perbatasan sepertinya tidak akan terjadi.”

 

“Bagaiana anda bisa pasti?” Moran bertanya dengan tidak percaya.

 

Pingting menggelengkan kepalanya perlahan. “Karena He Xia sudah berada disini. Didalam wilayah Dong Lin. Kalau He Xia bisa masuk ke dalam area ini bukankah berarti Dong Lin sudah dikalahkan?”

 

“Apanya yang menang dan kalah? Ini hanya persetujuan yang menguntungkan kedua belah pihak. Tanpa dukungan Raja Dong Lin, bagaimana mungkin He Xia membawa pasukannya ke tempat ini ?” Pingting tersenyum geti, perlahan berdiri dari kursinya dan berjalan.

 

Lawannya sungguh seorang He Xia.

 

Ia satu-satunya Jendral terkenal yang mampu menyaingi Chu Beijie. Dulu, berkat keberadaannyalah Dong Lin kesulitan mengalahkan Gui Li. Chu Beijie harus mengerahkan segala kemampuannya untuk membuat perpecahan antara Kediaman Jin Anwang dengan pihak Kerajaan, untuk menyingkirkannya dari Gui Li.

 

Perencanaan He Xia sangat hati-hati, selalu memastikan jebakannya seketat kain tenun sebelum memutuskan untuk mengepung musuh dengan diam-diam. Ia akan tiba-tiba menyerang di detik-detik terakhir, tidak akan membiarkan kemungkinan musuh melarikan diri.

 

Dan hari ini, ia menggunakan taktik berderapnya untuk mendapatkan Bai Pingting.

 

Hati Pingting terasa pahit. Ia sangat ingin menangis, tapi mulutnya malah mengeluarkan tawa dingin. “Singkirkan semua peta dan informasi tentang kondisi disini, aku tidak perlu melihatnya. Bahkan jika kita sebanding kita tetap harus berjuang. Bagaimanapun, dengan kondisi kita saat ini, sama sekali tidak ada kemungkinan untuk menang.”

 

Matanya yang dingin menatap Moran dan suaranya sangat tenang. “Meskipun kita tidak mungkin menang, kita tidak boleh kalah.”

 

Tidak memperdulikan kebingungan di wajah Moran, Pingting berjalan keluar dari ruang kerja dan melangkah menuruni undakan.

 

Ia segera menuju pintu masuk utama, langkah kakinya perlahan berhenti ketika separuh jalan. Ia sepertinya memikirkan sesuatu. Ia berbelok dan berjalan kembali menuju ruangannya.

 

Zuiju dan Hongqian sedang menunggunya dengan gugup, melihat Pingting berjalan menuju ke arah mereka, mereka segera berjalan keluar menyambutnya. Mereka menyapanya, tapi kemudian tak tahu harus berkata apa.

 

Pingting memperhatikan mereka, mereka diam tak bicara apapun. Hatinya menjadi gelisah kembali. Sekarang bukan waktunya untuk menenangkan mereka, maka ia berkata, “Siapa yang punya pakaian warna merah tua?”

 

“Aku punya satu,” Jawab Hongqian.

 

“Segera bawa kemari.” Pingting memasuki ruangan dan mengambil sisir, ia melurukan rambutnya yang sehalus sutra sampai seperti air terjun hitam yang menggertarkan.

 

Zuiju melihatnya menyisir rambutnya lalu berjalan mendekatinya. “Biar kubantu,” ia menawarkan dan meminta sisirnya.

 

Pingting menggelengkan kepalanya, “Biar aku saja.”

 

Di depan cermin, ia membagi dua rambutnya. Ia mengambil satu bagian dan mengulung-gulungnya hingga menjadi seperti bentuk bunga.

 

Pingting menatap cermin dan memperhatikan hasilnya. Ia menggelengkan kepalanya, merasa tidak puas dan melepaskannya, membiarkan rambutnya jatuh seperti semula lagi.

 

Kemudia Hongqian memasuki ruangan, besama gaun merah tua ditangannya. Ia menyerahkannya pada Pingting dan berkata, “Ini pakaian warna merah tua, tapi sangat tipis, karena ini pakaian untuk musim panas.”

 

“Warnanya persis seperti yang kubutuhkan.” Pingting mengambilnya, merentangkannya, dan memang sangat tipis, “Bantu aku mengenakannya.”

 

“Bagaiman mungkin Nona mengenakannya dihari sedingin ini?” Zuiju memprotes, “Aku punya pakaian warna ungu, meskipun warnanya tidak sama persis tapi lebih hangat.”

 

Pingting tidak setuju, “Harus warna ini.”

 

Alismatanya menaik, tidak membiarkan mereka untuk menentangnya. Dan akhirnya mereka membantunya berpakaian. Saat ini musim dingin. Meskipun mereka di dalam ruangan, Pingting tetep membuka pakaian dalamnya, dan ia gemetar kedinginan. Zuiju bergegas memakaikan mantel di pundaknya, menyelimutinya.

 

Pingting menatapnya penuh rasa terima kasih dan berbisik, “Aku masih harus menggulung rambutku.”

 

Ia menolak bantuan Hongqiang dan Zuiju, ia duduk di depan cermin dan melakukannya sendiri untuk beberapa saat. Zuiju memperhatikan ekspresi wajah Pinting sangat penuh perhatian. Sementara jari-jarinya berusaha membentuk rambutnya. Akhirnya sejumput rambutnya terbentuk seperti sebuah bunga yang sedang mekar. Kedua sisi rambutnya disisir sangat rapi, jatuh dengan lembut di kulitnya yang putih, menyempurnakan penampilannya.

 

Hongqian berada di satu sisi, memperhatikan dengan tenang. Ia menghela, “Meskipun sangat cantik, tapi begitu sulit. Syukurlah Nona sangat trampil. Kalau aku, mungkin butuh waktu lebih lama.”

 

Zuiju juga ikut berkomentar, “Sangat cantik. Sungguh pantas untuk wajah dan mata Nona. Menyempurnakan watak alami Nona sesuai dengan struktur kerangka tulang anda. Model rambut ini pasti dibuat hanya untuk Nona.”

 

Sebuah rona kembali ke wajah Pingting karena komentar mereka. Ia menatap kembali ke cermin dan berkata dengan malas, “Rambutku kurang rapi, aku seperti baru pertama kali saja melakukannya sendiri.” Lalu ia berdiri, memikirkan betapa dinginnya udara hari itu. Ia melipat tangannya ke dalam mantelnya untuk melindunginya dari angin dingin. Ia memejamkan matanya sebelum membukanya kembali dengan tatapan pasti dan berjalan keluar pintu.

 

Moran telah menunggu sambil berdiri di depan ruangan. Melihat Pingting berjalan keluar, tatapannya tertuju pada mantelnya. Pingting sangat kurus. Meskipun mantelnya menyembunyikan segalanya, ia masih bisa melihat kalau dibaliknya Pingting mengenakan pakaian yang sangat tipis.

 

Pingting masih menyembunyikan tangannya dibalik mantelnya. Ia menengadah dan melihat Moran tanpa menghentikan langkahnya. Sambil melewatinya ia berkata, “Kau, ikut aku.”

 

Sepertinya Pingting telah mengambil sebuah keputusan, langkah kakinya tanpa keraguan sedikitpun.

 

Ketegangan dan kecemasan sedang merajalela, nyata atau hanya halusinasi. Para penjaga bersiaga berdekatan dan mereka memegang pedang sambil berdiri tegak, mata mereka terbuka lebar. Perhatian telah meningkat dan mereka sangat waspada pada setiap gerakan, tapi ketika mereka melihat sosok Pingting yang seperti bunga plum yang sedang mekar dan Moran yang mengikutinya dari belakang, mereka terlihat sangat terkejut.

 

Pingting berhenti di pintu gerbang utama, memperhatikan pintu kokoh yang terbuat dari batangan besi. Meskipun kondisinya sangat baik, tapi tidak cukup untuk menahan satu serangan He Xia. Tidak dibuat demi kepentingan pertempuran, apa ada kemungkinan untuk bertahan dari serangan pasukan bersenjata?

 

Tangannya mengepal. Tapi tak seorangpun yang menyadari pundaknya bergetar. Pingting menarik napas panjang dari udara yang sedingin es dan memejamkan matanya.

 

Ketika ia membukanya kembali, sinar matanya memancarkan kebulatan tekad.

 

“Buka pintunya.”

 

Para penjaga terkejut dan saling memandang satu sama lain.

 

Moran segera menghampirinya, menundukan kepalanya dan berkata pelan dengan sangat khawatir. “Nona Bai…”

 

“Kau juga seorang prajurit militer senior. Tempat ini takkan bertahan lama. Daripada membiarkan He Xia menyerang masuk, lebih baik mempersilahkannya datang.” Ia berkata dengan yakin disetiap kata-katanya, seperti tetesan hujan batu Kristal yang mengukir disetiap hati para penjaga.

 

Sungguh hal yang sangat mengejutkan, tapi hal itu telah mengkikis habis keraguan di hati mereka. Semua orang sudah tidak khawatir lagi pada kekalahan yang akan mereka terima, dan mereka menjadi lebih tenang dan stabil seperti ketika bersama Chu Beijie.

 

“Buka pintunya.” Pingting memerintahkan dengan pelan sekali lagi.

 

Semua orang mengingat sikapnya yang membanggakan, punggungnya berdiri dengan tegap.

 

Mereka menggeser gerendel pintu yang berat. Perlahan pintu terbuka dengan suara keras. Sedikit demi sedikit, jalan setapak yang terbentang diluar kediaman, gunung yang tertutup salju yang bersinar dibawah cahaya matahari, muncul di pandangan mereka.

 

Pingting berdiri di tengah gerbang, menyambut angin yang bertiup masuk.  Sebuah tatapan ringan dari Pingting menyapu pepohonan dan hutan di depannya. Sebuah tatapan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

 

Kediaman Jin Anwang di masa lalu terasa sangat jauh tapi juga berada sangat dekat.

 

Seperti kaki telanjangnya yang dipisahkan oleh selapis tipis tanah dari udara hangat yang berada di bawah tanah. Kalau saja lapisan tanah yang tipis ini di gali dengan sangat hati-hati, udara hangat itu akan memancar keluar.

 

Memancar melewati rambutnya, tubuhnya, bibirnya, darahnya yang mengalir, organ-organ tubuhnya, setiap pori-pori kulitnya sampai terasa hangat dan sakit pada saat yang bersamaan.

 

Pandangannya beralih jauh kedepan. Siapa yang masih ingat arah menuju Gui Li ? Siapa yang masih ingat lantai hijau di dalam Kediaman Jin Anwang?

 

Nyonya Besar, pasukan Tuan Muda sekarang berada di gunung bersalju sedang mengarah kesini.

 

Hanya dengan sebuah perintah, tempat ini akan menjadi sungai darah dan lubang kematian, sebuah bukti atas tindakan tanpa belas kasihan dan tanpa penyesalan.

 

Angin dingin bertiup melewati mereka. Pingting berbalik dan menoleh pada Moran.

 

Ia menggatupkan gigi-giginya tapi matanya tanpa keraguan sama sekali. “Pada tempat yang paling tinggi di gerbang ini, kibarkan bendera putih.”

 

Pingting sama seperti Chu Beijie, ketika ia sudah memutuskan sesuatu, tak ada seorangpun yang bisa membujuknya berubah pikiran. Moran mengangguk dengan patuh.

 

Semua orang tahu, tanpa bantuan dari luar, kediaman akan segera jatuh cepat atau lambat.

 

Tertangkap atau menyerah semuanya sama saja.

 

Bendera seputih salju perlahan berkibar di ujung tertinggi gerbang masuk. Membentang diterpa angin utara, berkibar seperti tangisan ketidakpuasan.

 

Pingting melepaskan mantelnya yang tebal, menampilkan pakaiannya yang berwarna merah tua cerah.

 

Warna merahnya sesuai dengan kulitnya yang putih. Ia berdiri di tengah salju, pakaiannya berkibar dengan semangat dan terlihat sangat indah.

 

Tidak hanya Moran tapi mungkin bahkan Chu Beijiepun tidak pernah menyaksikan penampilan Pingting yang begitu memikat.

 

Hanya dengan berdiri disana dalam diam, ia telah menelan semua kekuatan alam, mengalihkan seluruh pandangan langit dan bumi.

 

Kesedihan, keprihatinan, kepedihan yang tak terucapkan, dan sedikit jejak kehangatan tersembunyi dengan baik di dalam matanya.

 

Tatapannya menuju satu tempat, di tengah hutan tidak terlalu jauh.

 

Cabang-cabang pohon tertutup salju tipis, seperti selimut perak. Pantulan putih bersinar balik ke hati setiap orang, yang telah penuh dengan keputusasaan dan kekecewaan. Sebenarnya seberapa banyak pasukan musuh yang bersembunyi disana?

 

Hanya dengan sebuah dentuman genderang perang, ribuan prajurit musuh akan bergerak maju, atau bahkan mungkin jutaan prajurit akan membanjiri mereka.

 

Tapi tatapan Pingting sama sekali tidak menunjukan ketakutan atau juga kemarahan.

 

Ekspresinya wajahnya agak lembut. Orang yang dikenalnya berada disana, ia yang pernah di hukum bersamanya, menghabiskan malam untuk berjaga, belajar, mengagumi salju sambil bermain kecapi, orang yang tumbuh besar bersamanya sejak kecil.

 

Tatapannya membuat orang-orang sekitarnya penasaran. Mereka semua mengalihkan tatapan menuju arah yang sama, dan akhirnya tatapan mereka terkunci kearah hutan di gunung.

 

Awalnya sama sekali tidak ada gerakan yang bisa di lihat dikejauhan. Tiba-tiba, selusin prajurit kekar keluar dari salju, mereka berpencar tanpa suara di tengah, mempersilahkan sebuah sosok tinggi dan tampan dibelakang mereka untuk maju.

 

Bersinar, seperti sebuah bintang.

 

Bibirnya tidak bergerak, tapi sepertinya ia hendak tertawa.

 

Tidak seperti Chu Beijie yang pembawaannya sedikit kaku, He Xia lebih lembut dan romantic.

 

Tapi tangannya tetap menggenggam sebuah pedang, kuat persis seperti Chu Beijie.

 

Sejak kemunculannya, tatapan Pingting tidak beralih, begitu juga tatapan He Xia tidak beralih dari Pingting.

 

He Xia dengan santai berjalan menuju Pingting. Di tengah salju, ia meninggalkan jejak kaki yang sama lebarnya.

 

Moran memindahkan tangannya di pangkal pedang, bersiaga, matanya memperhatikan He Xia seperti seekor elang begitu juga dengan para penjaga yang lainnya. Punggungnya sedikit menunduk bersiap untuk menyerang dengan kecepatan tinggi dan kekuatan penuh untuk menjatuhkannya begitu ia melihat peringatan.

 

Beberapa orang kepercayaannya mengenakan pakaian sederhana, menemani He Xia. Mereka melindunginya dari kedua sisi. Setiap kali He Xia melangkah, para pemanah bergantian maju, mereka menarik busur mereka mengarah pada para penjaga di sekitar Pingting. Mereka bersiap tapi tidak melepaskan anak panahnya.

 

Begitu kedua pihak telah cukup dekat untuk saling bertukar pukulan, He Xia menghentikan langkahnya. Ia berdiri berhadapan dengan Pingting, cukup dekat sehingga Pingting bisa melihat perjuangan dan tekanan di balik sinar matanya.

 

Udara dingin membekukan udara dan jarak di antara mereka. He Xia tak mampu mengambil langkah maju, tapi ia juga tak mau mengambil langkah mundur.

 

Udara yang membekukan tubuh mereka, juga turut membekukan suara mereka. Sepertinya ingatan mereka terperangkap di Kediaman Jin Anwang yang hangat.

 

He Xia tidak memperhitungkan perasaan Pingting yang tercampur aduk dan rasa pedih di balik matanya, ketika berdiri berhadapan dengannya.

 

“Lihat Tuan.” Akhirnya Pingting memecah kesunyian. Pingting tersenyum lebar dan menunjuk dirinya sendiri dengan jarinya yang ramping. “Tidakkah terlihat cantik ?”

 

Warna pakaian yang merah sangat memikat mata ditengah putihnya salju. Hal ini membawa kenangan He Xia kembali ke masa-masa damai di Kediaman Jin Anwang, ketika Pingting berusia sekitar tiga belasan, ia berlari menuju ke arahnya di hari bersalju. Pakaiannya yang berwarna merah tua terlihar seperti jejak yang lebar di salju, Pingting mencebik padanya yang sedang membaca di pavilium. “Tuan berbohong. Warna ini sangat jelek untuk sebuah gaun. Aku tidak akan pernah menggenakan warna ini lagi karena berkesan kuno dan bodoh.” Pingting berkata sambil berjalan pergi.

 

“Jangan pergi! Itu terlihat cantik, sangat cantik. Aku tidak bohong! Pingting, Pingting, jangan pergi. Biar aku melukismu.” He Xia segera melompat ke salju menghentikannya. Ia berkata dengan riang, “Satu gambar saja, ketika kau melihatnya, kau akan tahu kalau aku tidak berbohong.”

 

Salju masih turun.

 

Tapi Kediaman Jin Anwang telah berubah menjadi debu.

 

He Xia menarik napas panjang. “Kau paling tidak suka warna merah tua.”

 

“Tapi Tuan paling suka aku mengenakan warna ini.” Pingting memandangi pakaiannya yang berwarna terang. Ia berbisik, “Tuan masih ingat pakaian merah tua yang aku pakai ketika bersalju waktu itu?” suaranya terdengar seperti sutra, jauh dan kecil seperti mengakhiri begitu banyak kenangan yang telah mereka buat.

 

“Aku ingat.” He Xia menghela napas. “Aku juga tahu, saat ini kau mengenakannya hanya untukku.”

 

He Xia menghela lagi dengan pelan, melepaskan mantel bulunya yang tebal dari pundaknya dan melangkah maju.

 

Hampir semua orang bersiaga dan bertanya-tanya dengan tindakannya. Anak-anak panah di busurnya hampir saja dilepaskan.

 

Tapi yang ia lakukan hanya meletakan mantelnya dengan lembut di pundak Pingting dan menyentuh pipinya, menghangatkannya seperti yang biasa ia lakukan dulu.

 

“Lihat, kau sangat dingin seperti mayat.” Bahkan senyum di wajahnya masih sama.

 

Pingting dengan patuh membiarkannya memakaikan mantelnya dan menghangatkan wajahnya yang pucat. Lalu ia mendengar He Xia mengerutu, “Kenapa kau harus melakukan ini? Apakah aku tidak akan datang melihatmu kalau kau tidak mengenakan warna ini? Apa aku begitu kejam sama sekali melupakan lima belas tahun kebersamaan dan pertemanan kita?”

 

He Xia memandangnya dengan belas kasihan, ia mengangkat tangannya dan perlahan membuka untaian rambutnya, membiarkannya perlahan jatuh. “Kau tak pernah merapikan rambutmu sendiri. Meskipun terlihat mirip, caraku membuatnya tidak seperti ini.”

 

Mata setiap orang memperhatikan dengan seksama.

 

Yang satu seorang Suami Ratu dari Yun Chang, dan yang satunya kekasih Tuan Besar Zhen Beiwang.

 

Kalau di perhatikan, situasi saat ini sangat indah untuk mereka simpan sebagai kenangan terbaik dalam hati mereka. Sebuah tempat dimana tidak ada ketakutan telah dihancurkan hanya dengan sebuah batuk, mengembalikan mereka pada kenyataan.

 

Masa lalu dan saat ini sepertinya sangat jauh.

 

Rasanya seperti Pingting masih menjadi pelayannya, ketika mereka berkuda bersama, makan bersama, dan melakukan permainan konyok yang tidak berguna. Kenangan yang indah dan rapuh bersama matanya yang sejernih Kristal dan senyumnya yang menawan, sejak mereka masih kanak-kanak.

 

Kapapun, yang perlu ia lakukan hanya memanggilnya, “Pingting! Pingting!” yang kemudian akan terdengar gema di seluruh Kediaman hingga sampai ke telinga Pingting. Dan Pingting akan datang dengan segera begitu mendengar ia dipanggil. Pingting menegadah, matanya jernih dan terang dan He Xia mendengarnya berkata, “Ada apa? Aku sangat sibuk dan tidak bisa menjadi model lukisan Tuan.”

 

Dan Chu Beijie, kenapa harus Chu Beijie?

 

Bagaimana bisa ia mencuri jiwanya, hatinya dan lima belas tahun kebersamaan mereka, hanya dalam waktu yang sekejab?

 

“Pingting, aku merindukanmu.”

 

“Tiga ratus ribu prajurit untuk menekan Raja Dong Lin agar menjauhkan Chu Beijie, dikirim hanya untukmu.”

 

“Lihat bagaimana Chu Beijie memperlakukanmu? Ia pergi karena Raja memerintahkannya.”

 

“Ia sama sekali tidak pantas untukmu, kenapa merendahkan dirimu hanya untuknya? Tidakkah kau lebih bahagia jika kita hidup seperti sebelumnya?”

 

He Xia menunjuk pada pasukan khusus di belakangnya. “Aku telah membawa pasukan ini sampai kesini dan menahan serangan. Pingting, kau mengerti apa artinya bukan? Aku tidak pernah berniat menyakitimu.”

 

“Apakah artinya, Tuan menginginkan Pingting pergi dengan Tuan?” ekspresi Pingting kosong ketika berkata dengan perlahan.

 

“Apa kau tidak mau?”

 

“Apa aku bisa menolak?” Pingting memandang bendera putih yang kibarkan tinggi yang mungkin telah menodai kebesaran Chu Beijie. “Bendera putih telah dikibarkan, apa lagi yang bisa Pingting katakana?” Ia tertawa kecil dan memandang He Xia, wajahnya dimiringkan. “Tuan ingin membawa orangnya? Atau Tuan ingin membawa hatinya?”

 

He Xia memandang dengan ekspresi terluka yang segera disembunyikannya. Ia merendahkan suaranya, “Semuanya.”

 

Sebuah tanda kesedihan, dan sebuah senyum pahit terlihat dari bibir Pingting. Ia menghela, “Tuan, seberapa banyak dari semua ini yang benar-benar untuk Pingting? Tuan tidak ingin menggunakan kekerasan padaku untuk memberikan efek yang lebih besar pada Chu Beijie. Kalau ia tahu, aku dengan sukarela mengikutimu, ini artinya kekalahan yang lebih besar di banding kalah di perbatasan.” Pingting menghela dengan perlahan sekali lagi. Suaranya terdengar lebih tegas, “Baiklah, selama Tuan menjanjikan Pingting satu hal. Pingting akan mengikutimu dengan sukarela.”

 

He Xia telah mendengarkan suaranya yang luwes dan terkejut. Ia segera bertanya, “Berapa lama kau ingin menunggu?”

 

“Sampai tanggal enam.”

 

“Pingting, Chu Beijie tak akan datang.”

 

“Kalau begitu, Pingting akan ikut Tuan.” Ia mengangkat ibujarinya ke mulutnya dan mengigitnya. Darahnya yang berwarna merah terang jatuh ke salju berlumuran, tetesan darahnya terlihat seperti bunga plum yang tiba-tiba merekah.

 

“Aku, Bai Pingting, bersumpah pada langit, kalau Tuan Zhen Beiwang tidak kembali pada tanggal enam, aku dengan sukarela ikut pergi bersama He Xia, Suami dari Ratu Yun Chang. Kalau aku melanggar janji ini, aku akan mati tanpa pemakaman yang layak.”

 

Semua orang di kedua sisi mendengarkan sumpahnya yang jernih dan mereka sangat terkesan.

 

Bayangan pertempuran sudah di depan mata dengan kehadiran pasukan prajurit dan identitas He Xia merupakan ancaman bagi Negara ini, itu artinya semakin cepat mereka pergi semakin baik. Dan pihak Chu Beijie telah mengibarkan bendera putih, maka seharusnya Bai Pingting hanya perlu pergi bersama mereka. Mengapa harus menunggu dua hari lagi?

 

Orang yang waras takkan menyetujui persyaratan ini.

 

Suara He Xia tetap penuh kharisma. Ia mengangguk, “Baiklah, aku akan menjemputmu pada tanggal enam.”

 

Moran melihat He Xia berbalik dan pergi, dan tanpa keraguan memberi isyarat pada para penjaga untuk melindungi Bai Pingting. Para pemanah sambil tetap mengarahkan anak panah mereka ke Kediaman Chu Beijie melangkah mundur.

 

Moran menyaksikan mereka berangsur-angsur mundur ke dalam hutan dan akhirnya ia menyadari kalau pengangan pangkal pedangnya basah oleh keringat dari tanganya.

 

Salju menutupi tanah di depan mereka, kosong dan suram.

 

Pingting hanya berdiri disana, menatap ke arah He Xia menghilang.

 

“Nona Bai?” Moran melangkah mendekat, suaranya berupa bisikan keras.

 

Pingting berbalik ke arahnya, matanya sejernih kristal. Senyumnya terlihat sedih di bibirnya. “Lima belas tahun kebersamaan hanya bisa di tukar dengan dua hari.” Pingting tidak bergerak, ia menegadahkan kepalanya dan melihat jauh ke arah timur. Dengan suara pelan ia berkata, “Dari perkataannya, sepertinya Tuan Besar tidak bisa tiba tepat waktu pada tanggal enam. Bagaimana menurutmu ?”

 

Moran menjawab dengan ragu, “He Xia terlihat sangat yakin. Mungkin Raja turut membantunya di ibukota. Kalau memang seperti itu, aku takut….”

 

“Tapi untuk seorang Chu Beijie, siapa yang bisa menghentikannya bila ia ingin kembali?” Suara Pingting jadi lebih santai ketika ia berbisik, “Kalau memang ia memiliki aku dihatinya, ia pasti kembali pada tanggal enam.”

 

Ia harus kembali.

 

Arak, wanita, kekuasaan dan tekanan tidak bisa menghentikannya.

 

Selama ia mengingat janjinya, ia harus kembali untuk menemuiku.

 

Zuiju menemani Hongqian di dalam halaman, jantung mereka berdetak kacau. Mereka melihat bendera putih yang dikibarkan di kejauhan. Hongqian, wajahnya sudah seputih kertas, dengan ragu memperhatikan sekelilingnya, mendengarkan dengan seksama untuk suara apapun.

 

Tidak terdengar suara pertempuran sedikitpun.

 

Sepertinya anginpun menjadi takut sehingga tak mau bersuara sedikitpun.

 

Mereka telah menunggu sampai rasanya hatinya berubah menjadi sebuah benang, dan sudah hampir putus, sampai akhirnya mereka melihat Moran menemani Pingting masuk ke dalam. Pingting pucat seputih pualam dan terlihat sangat kelelahan. Mantel di pundaknya tidak lagi terlihat putih seperti yang ia kenakan ketika ia pergi, melainkan berwana gelap dan terbuat dari bulu binatang. Mereka berdua masuk ke ruangan dengan diam. Karena Pingting tidak berkata apapun, Zuiju tidak mengatakan apapun juga hanya membawakan teh hangat dan membantunya berbaring di tempat tidur dengan nyaman. Ketika semuanya selesai dilakukan, ia melihat pada Moran sebelum menurunkan tirai,  mereka pergi keluar.

 

“Apa yang terjadi? Aku melihat bendera putih.”  Zuiju bertanya ketika ia membuka pintu yang memperlihatkan pemandangan gunung. Zuiju memiliki status berbeda karena ia juga seorang teman lama bagi Moran.

 

Moran mengerutkan dahi dan ia menceritakan apa yang terjadi dengan sangat rinci.

 

Perkembangannya sungguh sangat mengejutkan. Meskipun sangat mustahil, Bai Pingting telah memenangkan perpanjangan waktu selama dua hari.

 

Ketika Zuiju mendengar kalau He Xia langsung setuju, matanya langsung membelak. Ia menghela napas dalam dan perlahan menghembuskannya. “Tak heran kalau orang-orang mengatakan Tuan Besar dari Jin Anwang adalah lawan sepadan bagi Tuan Besar kita. Sungguh orang yang tidak berperasaan! Apa kau tidak penasaran mengapa He Xia tidak mengajari Tuan Putri Yun Chang mengatur masalah militer?”

 

Tapi taktik ini hanya bisa dilakukan oleh Bai Pingting dan hanya akan disetujui oleh He Xia.

 

Kecuali mereka berdua, bagaimanapun juga pertukaran semacam ini adalah hal yang mustahil terjadi.

 

Pikiran Moran sangat penuh kekhawatiran. Ia mengerutkan dahinya, “Nona Bai dengan tenangnya berkata, Tuan Besar pasti akan datang. Tapi bagaimana kalau Tuan terlambat, apa yang harus kita lakukan? Dengan keuntungan di pihak He Xia meskipun kita memutuskan untuk melawan, kita tidak mungkin bisa pergi dengan membawa Nona Bai.”

 

Zuiju diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Bahkan, meskipun kau bisa melarikan diri bersama Nona Bai, Nona Bai tidak akan mau ikut denganmu. He Xia mempertaruhkan nyawanya dengan mengabulkan permohonannya, bagaimana bisa ia mengingkari janjinya? Tanpa memperdulikan…..” Zuiju mengatupkan bibirnya dan melihat ke bawah ke arah sepatunya yang di bordir agak lama. Suaranya sedikit sedih, “Mengapa ia harus tinggal, kalau Tuan tidak menganggapnya penting dan tidak kembali secepatnya?”

 

Sungguh romantis, Bai Pingting memang bukan orang biasa.

 

Ia mampu menahan ratusan kali rasa sakit tapi tak bisa bertahan dari kesedihan.

 

--00--

Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar