Selain
Gui Li, masih ada pasukan lain yang menyaksikan pertikaian Yun Chang dan Dong
Lin.
Setelah
Ze Yin mengundurkan diri dan tinggal di tempat terpencil, Ruohan menggantikan
posisinya sebagai Panglima Bei Mo. Ruohan telah menemani Ze Yin selama
bertahun-tahun terjun di medan perang, prestasinya di militer luar biasa, dan
sebagai sosok yang berkharisma, kenaikan pangkatnya sudah bisa ditebak oleh
semua orang.
Ruohan
memimpin pasukan Bei Mo, menunggu tak jauh dari perbatasan Yun Chang. Bei Mo
hampir dihancurkan oleh Chu Beijie dalam pertempuran terakhir mereka, karena
itu semua para Jendral Bei Mo memandang Chu Beijie sebagai utusan pencabut
nyawa. Kalau mereka bisa masuk ketika ada jeda antara Yun Chang dan Dong Lin,
menambahkan sedikit tenaga mereka dalam usaha membunuh Chu Beijie, tentunya
akan memberikan keuntungan bagi Bei Mo.
Bagaimanapun….
“Pertempuran
sudah berakhir.”
“Bukan
berakhir, lebih tepatnya mereka tidak memulainya sama sekali.”
“Apa
yang terjadi?”
Di
dalam tenda penasihat, Ruohan meletakan laporan militer di atas meja. Ia menggenggam
tangannya di belakang, dan ia menegadahkan kepalanya melihat keseliling
langit-langit tenda.
“Panglima?”
“Bai
Pingting…” Ruohan seperti mencoba mengingat sesuatu, ketika dulu berada di kota
Kanbu. “Nona Bai, apa yang kau tulis di surat itu untuk mengagalkan peperangan?
Ruohan benar-benar tidak tahu apakah harus kecewa atau malah kagum padamu.”
Ruohan tersenyum masam.
Bahkan
saat ini, ia masih bisa mendengar dengan jelas suara kecapi itu. Tembok kota
Kanbu yang sudah hancur, keadaan yang sanggat menyedihkan, Chu Beijie datang
dengan beberapa ribu prajurit khusus, bersiaga di depan tembok. Lalu, saat itu
ketika suasana menjadi genting, ia mendengar suara kecapi yang paling merdu.
Bai
Pingting meletakan dirinya di tempat tertinggi. Lengan bajunya yang lebar
diterbangkan angin, berkibar kencang.
Wanita
itu telah menyelamatkan Kanbu, menyelamatkan Bei Mo. Atau bisa dibilang
kenaikan pangkat Ruohan adalah berkat rencana yang ia buat untuk hari itu.
Tapi,
kemana wanita yang membuat seluruh para Jendral Bei Mo bersedia menundukan
kepala padanya hari ini?
“Panglima,
pasukan Dong Lin sudah mundur. Apa yang harus kita lakukan?”
“Perang
ini bahkan tidak dimulai, pasukan inti Dong Lin sama sekali tidak terluka. Kita
tdak boleh ceroboh mengambil resiko menyerang. Karena kesempatan ini sudah
hilang, seluruh pasukan kita akan mundur juga.” Ruohan memerintahkan dengan
tegas, “Sampaikan perintah, istirahat malam ini, besok pagi-pagi sekali kita
pulang.”
Beberapa
Jendral mulai pergi dan kembali ke tenda masing-masing. Sen Ron, Komandan
pasukan sayap kanan yang terakhir pergi, tapi ia berhenti di pintu tenda. Ia
berpikir sebentar sebelum berbalik dan bertanya, “Panglima, apakah ada kabar
dari Nona Bai?”
“Kudengar
ia meninggalkan Yun Chang. Keberadaannya sekarang tidak diketahui.” Ruohan
menghela napas.
Sen
Ron mengerutkan dahi, “Bai Pingting dibenci oleh Raja Dong Lin karena telah
membunuh dua anaknya, He Xia di Yun Chang ingin mengurungnya, dan sepertinya ia
juga tidak bisa kembali ke Gui Li. Panglima, apa kau pikir ia akan…”
“Aku
juga berpikir seperti itu.” Ruohan mengangguk. “Ketika kita berangkat besok,
kau pilih tiga puluh bawahanmu yang paling terpercaya, tetap disini dan
berpatroli disekitar perbatasan. Kalau mereka menemukannya, setidaknya kita
bisa memberi bantuan sedikit.”
Sen
Rong segera mengangguk. “Baik, aku juga berpikir seprti itu. Sungguh terasa
pahit, tapi hanya ini yang bisa kita lakukan.” Ia menatap Ruohan sebelum
berkata lagi. Kata-kata itu sudah menggantung di tenggorokannya, tapi ia tak
sanggup mengeluarkannya, dan akhirnya ia pergi.
Ruohan
bisa melihatnya, Sen Rong menahan ucapannya. Hanya ada mereka berdua di dalam
tenda. Mereka bersaudara yang telah melalui bertahun-tahun medan peperangan.
Tidak ada yang tidak mengerti pemikiran masing-masing. Ia berkata dengan suara
pelan, “Kau tidak perlu berkata lagi, aku sangat mengerti. Sejak Panglima Ze
Yin pergi, pemikiran Raja semakin tidak terduga. Tidak ada yang pernah berpikir
kalau Raja akan bersekutu dengan He Xia untuk membuat jumlah pasukan sebesar
tiga ratus ribu demi menekan perbatasan Dong Lin, memaksa Raja Dong Lin
menyerahkan Nona Bai. Sepertinya perbuatan buruk belum mendapat balasannya.
Meskipun banyak yang tidak setuju, perintah Raja tidak bisa dilanggar. Sen
Rong, aku telah memimpin pasukan selama bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah
merasa bersalah sampai saat itu.”
Mereka
berdua berpikiran sama. Sen Rong menghentakan kaki dengan keras, dan berkata
dengan kasar, “Jangan dilanjutkan, hal ini sungguh menyebalkan. Kalau Panglima
Ze Yin masih disini, ia pasti akan menyakinkan Raja untuk tidak bersekutu
dengan si berengsek He Xia itu. Kalau saja… haaah….” Ia menghela napas keras
sambil keluar dari tenda dan melangkah menjauh.
Ruohan
tertinggal sendirian di dalam tenda dan memikirkan banyak hal.
Meskipun
perang penentuan antara Yun Chang dan Dong Lin tidak dimulai, situasi antara
empat negara telah menjadi lebih sulit. Masing-masing telah mengumpulkan
kekuatan di balik kegelapan, menunggu badai yang akan menghancurkan keheningan
saat ini. Sepertinya pertempuran antara empat negara yang sebenarnya akan
terjadi dalam tiga tahun mendatang. Apakah kekuatan militer Bei Mo cukup kuat
untuk bertahan dari malapetakan saat itu?
Ia
melangkah bolak-balik, tak lama kemudian ia telah memutuskan apa yang perlu di
ubah di dalam pasukannya. Ia berbalik, duduk di kursinya, menyebarkan beberapa
kertas di meja dan mulai menulis laporan untuk Raja Bei Mo.
Setelah
beberapa ratus kata, Ruohan meniup tinta di kertas yang sudah hampir kering. Ia
berpikir untuk memanggil seseorang, untuk membawa surat ini dengan kuda
tercepat menuju ibukota, ia menengadah dan terkejut.
Ada
sebuah sosok di depannya. Ia sama sekali tidak bisa menduga sudah berapa lama
pria itu berdiri di depannya dengan tenang.
“Aku
akan bertaruh denganmu Panglima, sebelum kau sempat berteriak memanggil
bantuan, aku sudah selesai mengiris tenggorokanmu.”
Pria
itu mengenakan pakaian hitam dan penutup wajah yang juga berwarna hitam, hanya
tersisa sepasang mata yang tajam. Tangan kanannya menggenggam pedangnya. Pedang
itu belum keluar dari sarungnya, tapi sudah penuh hawa membunuh.
Ruohan
telah berpengalaman ratusan pertempuran dan beberapa diantaranya membuatnya
mendekati kematian. Tapi, ketenangan dan ekspresinya membuatnya benar-benar tak
berdaya.
Sangat
mengesankan, sangat berani, siapa pria ini?
“Lantas
mengapa kalau kau membunuhku, tidak ada kemungkinan juga kau bisa keluar dari
sini hidup-hidup.” Ruohan menatap balik, dan merendahkan suaranya.
Pria
itu tiba-tiba tertawa, “Kalau begitu biar aku membuat taruhan lain dengan
Panglima. Setelah membunuhmu, tidak hanya aku bisa keluar dengan aman seperti
ketika aku datang, aku pastikan aku juga akan menyingkirkan beberapa Jendral
Bei Mo. Pertempuran Yun Chang dan Dong Lin tidak terjadi, maka para prajurit
sedang sangat bersantai karena berpikir mereka tidak akan terlibat pertempuran.
Panglima sudah memerintahkan seluruh pasukan untuk kembali besok pagi. Saat ini
sudah tengah malam, kurasa semua prajurit akan menggunakan kesempatan ini untuk
beristirahat. Semuanya terdengar, tertidur sangat pulas.”
Meskipun
saat ini tidak dalam suasana pertempuran dan para penjaga lebih santai, pria
ini telah berhasil menyelinap ke jantung perkemahan tanpa ada suara peringatan.
Kemampuannya sungguh luar biasa.
Ruohan
mengamatinya lama.
Warna
kulit di tangannya terlihat coklat karena terbakar matahari, warna coklatnya
terlihat padat seperti baja yang dilumerkan. Seseorang yang sangat
berpengalaman bahkan seumur hidupnya sudah berkelut dibidang ini, karena itu
akan sulit menjatuhkannya hanya dengan sebuah pukulan.
Ruohan
menatapnya lama sebelum berbisik pelan, “Chu Beijie?”
“Seperti
yang diharapkan dari seorang Ze Yin, setidaknya kau bisa menebak sedikit.” Chu
Beijie terkekeh, melepaskan cadar hitamnya. Wajahnya tampan.
Ini
pertama kalinya Ruohan melihat dari dekat dan sangat jelas wajah musuh terbesar
Bei Mo.
Tak
heran ia begitu mengesankan dan berani. Tak heran ia bisa masuk ke perkemahan
pasukan Bei Mo seperti sedang bermain-main. Orang ini adalah Panglima Zhen
Beiwang dari Dong Lin, Chu Beijie.
Dan
pria yang sangat dicintai oleh Bai Pingting.
“Apakah
alasan Panglima Zhen Beiwang menyelinap masuk ke perkemahan ini untuk
membunuhku?”
“Aku
tidak menginginkan nyawamu saat ini.” Chu Beijie menjawab, “Aku disini karena
aku ingin kau menyampaikan pesan pada Raja Bei Mo.”
“Pesan
apa?”
“Ia
berani mengirim pasukannya untuk menyelidiki pasukan Dong Lin, berpikir kalau
ia bisa mengambil keuntungan. Ia harus menghadapi resikonya.” Chu Beijie
menunduk dan memandang pedang berharganya. “Tanganku sangat gatal karena
pertempuran dengan Yun Chang batal. Mulai sekarang, aku akan membunuh para
Jendral Bei Mo, satu persatu, dimulai dari yang berpangkat paling tinggi,
sampai Raja Bei Mo kehabisan Jendral. Dengan begitu ia bisa menyaksikan
pasukannya perlahan hancur seiring berlalunya waktu. Bukankah itu sangat
menarik?”
Ruohan
terkejut sesaat tapi ia berhasil memberikan senyum mengejek, “Dengan kata lain,
Panglima Zhen Beiwang akan terus berada disini sebagai pembunuh.” Ia berpikir
kalau ia akan menjemput kematiannya sebentar lagi, tapi ia sama sekali tidak
gentar. Ia tiba-tiba berdiri, mengeluarkan pedangnya. Ia berteriak, “Perkemahan
Bei Mo tidak akan membiarkanmu pergi semudah kedatanganmu. Bahkan jika aku
harus memberikan nyawaku hari ini, aku harus membunuhmu untuk Raja Bei Mo.
Penjaga kemarilah !” ia berteriak dan menunggu sebentar, tapi tak seorangpun
yang datang.
Ruohan
lagi-lagi terkejut.
Chu
Beijie menjawab dengan meremehkan, “Kalau kau ingin berteriak, kau harus
melakukannya lebih baik dari yang tadi. Semua para pengawal pribadimu telah
kehilangan kepala mereka, dan tenda terdekat berjarak lima kaki dari sini.
Semua ini berkat peraturan tidak masuk akal, milik pasukan Bei Mo, yang
mengatakan kalau tenda utama butuh jarak agak jauh dari tenda lainnya.”
Jantung
Ruohan membeku mendengarnya. Para pengawal yang berada di luar tenda sangat
dipilih, dan mereka semua telah di bunuh Chu Beijie tanpa suara. Kemarahannya
luar biasa meningkat dan ia berteriak sangat keras, “Siapapun datanglah! Ada
pembunuh!” ia mengangkat pedangnya ke atas dan menyerang ke depan.
Chu
Beijie memperhatikan dengan dingin ketika musuhnya mengarahkan pedangnya
kepadanya. Matanya menyipit ketika ia mengeluarkan pedangnya sendiri dari
sarungnya. Kilauan sinar dingin mulai terlihat dan suara pedang beradu
terdengar oleh yang lainnya. Ruohan merasakan gelombang kekuatan yang besar
ketika mengadu beradu. Pundaknya menjadi kaku, ia kembali berkonsentrasi untuk
melihat sosok Chu Beijie yang tidak terlihat, silau cahaya lilin ketika
pedangnya tadi beradu. Ruohan menjadi lebih siaga dan mengayunkan pedangnya ke
kiri dan ke kanan. Ia melangkah mundur dua langkah dan tiba-tiba merasakan rasa
sakit luar biasa. Ia berteriak kesakitan, dan merasakan pingangnya terluka.
Ruohan
menahan sakitnya dan mengayunkan pedangnya untuk menusuk, tapi tangan Chu
Beijie sudah mengenai lukanya terlebih dahulu, sehingga pedangnya terjatuh ke
tanah. Pedang itu menyentuh lilin, membuat lilin-lilin itu jatuh ke tanah dan
padam, meyebabkan tenda berada dalam kegelapan yang sunyi.
Ruohan
hanya melihat hitam, tapi ia merasakan sebuah benda yang dingin di lehernya. Ia
tahu Chu Beijie telah meletakan pedang berharganya di lehernya.
Dulu,
orang ini, dengan tiga gerakan, berhasil membunuh Mengchu, wakil terbaik
Panglima Ze Yin ketika di Kanbu. Dan sesuai dengan kemasyurannya, ia sungguh
orang yang terlatih.
Ruohan
tahu ia akan segera mati, tapi ia tidak akan memohon belas kasihan. Ia
mendengar suara langkah-langkah kaki yang kalut di luar tenda, “Kau bisa
membunuhku kalau kau ingin, tapi jelas, kau tidak akan lolos dari sini.”
Chu
Beijie menjawab dengan sangat percaya diri, “Tentu saja, kalau aku berniat
membunuhmu. Aku akan memulainya darimu, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku
tidak menginginkan nyawamu saat ini. Ketika kau bertemu Raja Bei Mo, pastikan
kau ingat untuk menyampaikan padanya untuk tidak membuat masalah dengan Dong
Lin.”
Ruohan
belum sempat membalas ucapan Chu Beijie ketika ia merasakan denyutan di
kepalanya dan pingsan.
--
Gunung
Songsen tertutup es dan salju. Ketika matahari bersinar di atas salju,
memantulkan sinar merah. Sebuah sosok kecil melangkah di atasnya, terkadang
dalam, terkadang dangkal, ia tergesa-gesa dalam langkahnya.
Lapisan
salju sangat tinggi, terkadang sampai ke lutunya. Setiap langkah membutuhkan
tenaga yang banyak.
Zuiju
bernapas dengan berat. Sinar kemerahan yang terpancar dari salju membuat
matanya berkunang-kunang. Mulai membutakannya dan membuatnya sulit melihat arah
di depannya. Terkadang, ia tak kuat dan bersandar di pohon untuk mengatur
napasnya, tapi ketika ia berhenti, hatinya mulai digerogoti rasa bersalah.
Pingting
kesakitan, dan menunggunya di area bebatuan.
Pingting
dan anak dalam kandungannya sedang menunggunya.
Zuiju
tahu persis, Pingting sedang berjuang. Ia seorang tabib, jadi tak mungkin ia
tidak tahu kondisi Pingting. Bagaimanapun, tidak ada kemungkin mereka bisa
bertahan hidup kalau tetap berdua. Pingting benar, jalan sendirian mencari
Yangfeng meminta bantuan, adalah kemungkinan satu-satunya untuk mereka bisa
bertahan hidup.
Oh langit, mengapa
keadaan harus jadi seperti ini?
Hanya
dalam sekejab mata, bunga plum yang belum sempat mekar di kediaman terpencil,
harumnya telah mengalir di udara dan selanjutnya menjadi layu.
Mengapa wanita yang paling pandai yang
mencintai pria yang paling gagah harus mengalami nasib seperti ini?
Tusuk
rambut giok pemberian Yangfeng dikenakan oleh Zuiju di rambutnya. Benda itu
terasa seberat satu ton, menekan kuat tubuhnya seperti keselamatan nyawa
Pingting dan anaknya.
Ia
mengeluarkan peta dan mempelajarinya dengan seksama.
“Tersesat
lagi?” Zuiju menjadi pucat karena khawatir. Gunung Songsen yang putih telah
membuat orang-orang yang berada disitu kehilangan pijakan arah. Ia tahu ia
sudah sangat dekat ke tempat Yangfeng karena itu ia telah bergegas tanpa
istirahat.
Tujuannya
adalah gunung Bei Mo terdekat dari Gunung Songsen.
Gunung
itu sudah dekat, harus sudah dekat.
“Kyaa!”
Kakinya terpeleset dan Zuiju jatuh ke salju lagi.
Tidak apa-apa, aku
sudah terjatuh ratusan kali, mungkin bahkan sudah ribuan kali. Guru, Guru, aku
bertaruh kau tidak pernah berpikir kalau Zuiju kecil akan begitu berani suatu
hari.
Udaranya begitu
dingin, tapi hatiku memiliki api yang akan membakar seluruh tubuhku.
Ia
menggertakan giginya dan berusaha berdiri di salju. Ia segera melangkah mundur
begitu ia melihat sosok seorang pria di matanya. ia telah berjalan di gunung
Songseng agak lama dan tidak pernah melihat satu orangpun kecuali Pingting.
Seorang
pria.
Pria
itu mengenakan pakaian gunung. Tangannya memegangpanah dan sepertinya
menghalangi arah tujuan Zuiju.
Zuiju
menatap pada tatapannya yang dingin dan mulai khawatir.
Ia
perlahan menegakan punggungnya.
Fanlu
memperhatikannya dengan seksama dan akhirnya bibirnya terangkat, ia tersenyum
dan berkata, “Bai Pingting?”
“Siapa
kau?”
“Jadi,
kau Bai Pingting.” Tatapan Fanlu jatuh ke tusuk rambut yang dikenakan Zuiju,
“Sungguh tusuk rambut yang indah.”
Zuiju
mulai bergetar dan merasa jantungnya di pukul.
Ia
menatap Fanlu, perlahan melangkah mundur.
Fanlu
perlahan menaikan busurnya. Anak panah yang tajam bersinar ketika ia
mengarahkannya pada dada Zuiju.
Zuiju
merasa ia bisa mati saat itu. Tubuhnya menjadi dingin dan setiap helai
rambutnya gemetar. Tusuk rambut itu terasa sangat berat dan jatuh ke tanah.
Tidak, aku tidak
boleh mati.
Ia
memikirkan Pingting.
Pingting
yang membaca buku dengan anggun, Pingting yang memainkan kecapi di salju dan
Pingting yang memetik bunga plum. Ia mengingat Pingting yang berlutut di lantai
ketika bulan di hari ke enam telah muncul di langit malam, menangis pedih dan
hancur.
Aku tidak boleh mati
disini.
Zuiju dengan berani melotot pada Fanlu. Ia sudah kehabisan tenaga untuk
melawan, dan pria itu memegang busur, tapi ia tetap memberikan tatapan tajam
pada pria itu.
Fanlu
hampir bingung dengan tatapannya. Ia tak pernah tahu seorang wanita bisa
menghadapi kematian tanpa rasa takut.
Ketika
ia merasa ragu, Zuiju berbalik dan berlari dengan sekuat tenaga.
Tidak, aku tidak
boleh mati!
Ia
meminjam kekuatan dari langit, untuk berlari sekuatnya ke dalam hutan.
Whuuusss.
Suaran
angin dibelah mengejarnya, di telinganya, ia melihat sebuah anak panah
melewatinya, tertancap ke pohon di sebelahnya. Zuiju terkejut dan langkah
kakinya semakin cepat.
Whuss,
whuuusss….
Suara
angin terdengar lagi, mendekatinya. Satu demi satu, anak panah menancap di
pohon dan semak-semak. Zuiju menghindarinya satu demi satu.
Oh dewa, apa kau
tidak berniat menolongku?
Tolong bantu aku
sampai selesai. Bantu aku bertemu Yangfeng dan memberitahunya kalau Nona Bai
menunggu pertolongannya.
Juga anaknya, darah
daging Tuan Besar Zhen Beiwang, salah satu anggota keluarga kerajaan Dong Lin.
Ia
begitu putus asa berusaha melarikan diri. Semua yang ia lihat berwarna putih.
Dan kakinya tak berasa menyentuh apapun.
“Ah!”
Zuiju berteriak panik. Dan terjatuh di tanah.
Ia
jatuh ke dalam salju yang tebal. Kaki kanannya telah tersandung batu yang
menonjol ke atas.
Rasa
sakit yang megerikan menjalar di kakinya. Begitu sakit, hampir membuatnya
pingsan.
“Ah…”
Zuiju mengeram, berusaha untuk duduk. Dan memeriksa keadaan kakinya.
Benar-benar
patah. Seluruh tubuhnya bergetar karena rasa sakit dari tulang.
Apa
yang harus kulakukan? Ia masih harus segera menyampaikan pesan. Ia tidak bisa
berhenti disini. Tumbuhan obat, selama ada tumbuhan obat yang bisa
digunakannya, ia bisa menahan sakitnya.
Tapi
dimana tumbuhan obatnya?
Ia
berbalik, mencari disekitarnya. Tapi sekelilingnya benar-benar putih dan
pepohonan mati dan beberapa batu yang muncul di salju, tak ada apa-apa lagi?
Ia
menoleh ke kiri dan tidak percaya dengan penglihatannya. Ia menggosok matanya
dengan kedua tangannya.
“Ah,
rupanya disitu!” Zuiju merasa terkejut dan senang. Matanya mulai terasa basah.
Aku melihatnya, aku
melihatnya! Gunung tempat kediaman Yangfeng akhirnya terlihat di mataku. Aku
telah mencapai kaki gunung.
Zuiju akhirnya bisa
menangis gembira, karena telah menemukannya. Nona Bai, kita selamat.
“Nona
Bai, tunggu aku. Aku sudah melihatnya.”
Rasa
sakit muncul begitu Zuiju berusaha bangun. Ia hampir berdiri ketika tiba-tiba
tubuhnya kehilangan tenaga dan kembali jatuh ke tanah.
“Tak
pa-pa, tak pa-pa.” ia mengatakannya pada dirinya sendiri. “Aku bisa mendaki ke
sana. Aku bisa mendaki gunung itu.”
Sesuatu
berkelebat di matanya, seperti mutiara bersinar di kedalaman laut, mutiara yang
telah melewati waktu begitu lama yang akhirnya siap untuk bersinar.
Zuiju
menyeret tubuhnya melewati salju. Mengapa jarak kesana masih begitu jauh? Ia
mengertakan giginya dan berjuang bergerak maju. Ia merasa ia mendekati ujung
dunia, putih yang tanpa ujung berada di sekelilingnya.
Darahnya
yang merah cerah tercecer di salju, membuat sebuah lukisan indah.
Ia
mendengar suara langkah kaki, tidak jauh. Ia menoleh, keputusasaan
mencengkramnya sampai mencekik jantungnya.
Pria
itu berdiri disana, menyaksikannya dengan dingin.
Tidak, tidak….
Zuiju
dengan galak menatap balik.
Aku sudah sampai
disini, kau tak bisa mengambil perjuangan kami dengan begitu mudahnya.
Hanya tinggal
selangkah, satu langkah lagi.
Tangan
Fanlu tidak bergerak. Tangan kanannya memegang busur, dan tangan kirinya
memegang anak panah. Ia telah melepaskan semua anak panahnya tadi. Dua puluh
tujuh, dan tidak satupun yang meleset.
Zuiju
menatap tajam pada pria itu dan pada anak panahnya.
Aku tidak boleh
mati.
Pingting masih
menungguku di salju berangin. Ada batas waktu tiga hari, untuk Pingting dan
anaknya.
Chu Beijie telah
melanggar janji tanggal enam, menghancurkan kebahagiaannya. Aku tidak boleh
membuat kesalahan dan menggacaukan hidupnya lagi.
Tanah
bersalju dan gunung sangat dingin dan tidak berperasaan. Membawa rasa kematian
yang kuat, bisa memenuhi seluruh hati, membuat rasa putus asa begitu memilukan.
Zuiju
menegakkan kepalanya dan mulai berteriak dengan sedih, “Yangfeng! Yangfeng! Kau
disana? Tolong aku!”
“Yangfeng,
istri Panglima, Yangfeng, kau bisa mendengarku?”
“Siapa
saja, Chu Beijie, Tuan Besar Zhen Beiwang, tolong selamatkan Bai Pingting! Apa
kalian semua sudah melupakan Bai Pingting?”
“Chu
Beijie, kau pengecut, kau telah melupakan Bai Pingting?”
Ia istrimu, bersama
darah dagingmu. Ia tidak seharusnya pergi ke ujung dunia, tidak seharusnya
terkubur di gunung Songsen.
“Bagaimana
bisa kau tidak muncul? Bagaimana bisa…..” Zuiju menangis putus asa, “Apa kau
masih ingat Bai Pingting? Apa kau masih ingat janji yang kau ucapkan? Bagaimana
bisa kau melupakannya….”
Suaranya
bergema di hutan, tapi keajaiban tetap tidak terjadi.
Sungguh
tidak adil, sangat tidak adil.
Ia
menengadahkan kepalanya, wajahnya penuh airmata ketika ia melihat senyum di
wajah pria itu.
“Bisakah
kau mencium wangi salju?” Pingting pernah bertanya padanya seperti itu, ketika
pertama kali mereka bertemu.
Ia
telah menemani gurunya ke rumah-rumah keluarga kaya, keluarga bangsawan dan
keluarga kerajaan, melihat begitu banyak orang berbeda dan peristiwa
berbeda-beda, tapi ia tak pernah melihat cinta yang sedalam itu.
Bai
Pingting dan Tuan Besar Zhen Beiwang.
Sungguh
cinta yang hebat, tapi juga sangat menyedihkan, begitu sulit dan mematahkan
hati.
Oh langit, mengapa
kau begitu kejam.
Mengapa kau tidak
tersentuh oleh cinta yang seperti itu?
Zuiju yang tak
berarti ini bersedia membayar dengan nyawanya, tapi dengan begitupun tidak
membuat keadaan berakhir bahagia.
“Yangfeng!
Yangfeng! Cepatlah datang! Aku memohon padamu, datanglah!”
Gunung
terus mengemakan tangisan Zuiju. Fanlu dengan tenang duduk menyaksikan kepedihannya.
Fanlu
tidak mengangkat panahnya, karena ia merasa tidak perlu.
Zuiju
berteriak sampai suaranya serak. Begitu ia kehabisan tenaga untuk menangis, ia
diam. Wangi salju mengalir di hidungnya, begitu juga wangi darah segarnya.
Darah
yang merah menyala, mengalir dari kakinya.
Zuiju
sepertinya menyadari sesuatu. Ia mengangkat tubuhnya dengan kekuatan luar
biasa, dengan gugup melihat kesekeliling.
Di
tengah malam, ia melihat warna hijau menyala dengan tenang dan diam mendekat
dari arah hutan.
Srigala!
Ia
akhirnya mengerti senyum dingin pria itu.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia