Jumat, 13 Januari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.48

-- Volume 2 chapter 48 --


Selain Gui Li, masih ada pasukan lain yang menyaksikan pertikaian Yun Chang dan Dong Lin.

 

Setelah Ze Yin mengundurkan diri dan tinggal di tempat terpencil, Ruohan menggantikan posisinya sebagai Panglima Bei Mo. Ruohan telah menemani Ze Yin selama bertahun-tahun terjun di medan perang, prestasinya di militer luar biasa, dan sebagai sosok yang berkharisma, kenaikan pangkatnya sudah bisa ditebak oleh semua orang.

 

Ruohan memimpin pasukan Bei Mo, menunggu tak jauh dari perbatasan Yun Chang. Bei Mo hampir dihancurkan oleh Chu Beijie dalam pertempuran terakhir mereka, karena itu semua para Jendral Bei Mo memandang Chu Beijie sebagai utusan pencabut nyawa. Kalau mereka bisa masuk ketika ada jeda antara Yun Chang dan Dong Lin, menambahkan sedikit tenaga mereka dalam usaha membunuh Chu Beijie, tentunya akan memberikan keuntungan bagi Bei Mo.

 

Bagaimanapun….

 

“Pertempuran sudah berakhir.”

 

“Bukan berakhir, lebih tepatnya mereka tidak memulainya sama sekali.”

 

“Apa yang terjadi?”

 

Di dalam tenda penasihat, Ruohan meletakan laporan militer di atas meja. Ia menggenggam tangannya di belakang, dan ia menegadahkan kepalanya melihat keseliling langit-langit tenda.

 

“Panglima?”

 

“Bai Pingting…” Ruohan seperti mencoba mengingat sesuatu, ketika dulu berada di kota Kanbu. “Nona Bai, apa yang kau tulis di surat itu untuk mengagalkan peperangan? Ruohan benar-benar tidak tahu apakah harus kecewa atau malah kagum padamu.” Ruohan tersenyum masam.

 

Bahkan saat ini, ia masih bisa mendengar dengan jelas suara kecapi itu. Tembok kota Kanbu yang sudah hancur, keadaan yang sanggat menyedihkan, Chu Beijie datang dengan beberapa ribu prajurit khusus, bersiaga di depan tembok. Lalu, saat itu ketika suasana menjadi genting, ia mendengar suara kecapi yang paling merdu.

 

Bai Pingting meletakan dirinya di tempat tertinggi. Lengan bajunya yang lebar diterbangkan angin, berkibar kencang.

 

Wanita itu telah menyelamatkan Kanbu, menyelamatkan Bei Mo. Atau bisa dibilang kenaikan pangkat Ruohan adalah berkat rencana yang ia buat untuk hari itu.

 

Tapi, kemana wanita yang membuat seluruh para Jendral Bei Mo bersedia menundukan kepala padanya hari ini?

 

“Panglima, pasukan Dong Lin sudah mundur. Apa yang harus kita lakukan?”

 

“Perang ini bahkan tidak dimulai, pasukan inti Dong Lin sama sekali tidak terluka. Kita tdak boleh ceroboh mengambil resiko menyerang. Karena kesempatan ini sudah hilang, seluruh pasukan kita akan mundur juga.” Ruohan memerintahkan dengan tegas, “Sampaikan perintah, istirahat malam ini, besok pagi-pagi sekali kita pulang.”

 

Beberapa Jendral mulai pergi dan kembali ke tenda masing-masing. Sen Ron, Komandan pasukan sayap kanan yang terakhir pergi, tapi ia berhenti di pintu tenda. Ia berpikir sebentar sebelum berbalik dan bertanya, “Panglima, apakah ada kabar dari Nona Bai?”

 

“Kudengar ia meninggalkan Yun Chang. Keberadaannya sekarang tidak diketahui.” Ruohan menghela napas.

 

Sen Ron mengerutkan dahi, “Bai Pingting dibenci oleh Raja Dong Lin karena telah membunuh dua anaknya, He Xia di Yun Chang ingin mengurungnya, dan sepertinya ia juga tidak bisa kembali ke Gui Li. Panglima, apa kau pikir ia akan…”

 

“Aku juga berpikir seperti itu.” Ruohan mengangguk. “Ketika kita berangkat besok, kau pilih tiga puluh bawahanmu yang paling terpercaya, tetap disini dan berpatroli disekitar perbatasan. Kalau mereka menemukannya, setidaknya kita bisa memberi bantuan sedikit.”

 

Sen Rong segera mengangguk. “Baik, aku juga berpikir seprti itu. Sungguh terasa pahit, tapi hanya ini yang bisa kita lakukan.” Ia menatap Ruohan sebelum berkata lagi. Kata-kata itu sudah menggantung di tenggorokannya, tapi ia tak sanggup mengeluarkannya, dan akhirnya ia pergi.

 

Ruohan bisa melihatnya, Sen Rong menahan ucapannya. Hanya ada mereka berdua di dalam tenda. Mereka bersaudara yang telah melalui bertahun-tahun medan peperangan. Tidak ada yang tidak mengerti pemikiran masing-masing. Ia berkata dengan suara pelan, “Kau tidak perlu berkata lagi, aku sangat mengerti. Sejak Panglima Ze Yin pergi, pemikiran Raja semakin tidak terduga. Tidak ada yang pernah berpikir kalau Raja akan bersekutu dengan He Xia untuk membuat jumlah pasukan sebesar tiga ratus ribu demi menekan perbatasan Dong Lin, memaksa Raja Dong Lin menyerahkan Nona Bai. Sepertinya perbuatan buruk belum mendapat balasannya. Meskipun banyak yang tidak setuju, perintah Raja tidak bisa dilanggar. Sen Rong, aku telah memimpin pasukan selama bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah merasa bersalah sampai saat itu.”

 

Mereka berdua berpikiran sama. Sen Rong menghentakan kaki dengan keras, dan berkata dengan kasar, “Jangan dilanjutkan, hal ini sungguh menyebalkan. Kalau Panglima Ze Yin masih disini, ia pasti akan menyakinkan Raja untuk tidak bersekutu dengan si berengsek He Xia itu. Kalau saja… haaah….” Ia menghela napas keras sambil keluar dari tenda dan melangkah menjauh.

 

Ruohan tertinggal sendirian di dalam tenda dan memikirkan banyak hal.

 

Meskipun perang penentuan antara Yun Chang dan Dong Lin tidak dimulai, situasi antara empat negara telah menjadi lebih sulit. Masing-masing telah mengumpulkan kekuatan di balik kegelapan, menunggu badai yang akan menghancurkan keheningan saat ini. Sepertinya pertempuran antara empat negara yang sebenarnya akan terjadi dalam tiga tahun mendatang. Apakah kekuatan militer Bei Mo cukup kuat untuk bertahan dari malapetakan saat itu?

 

Ia melangkah bolak-balik, tak lama kemudian ia telah memutuskan apa yang perlu di ubah di dalam pasukannya. Ia berbalik, duduk di kursinya, menyebarkan beberapa kertas di meja dan mulai menulis laporan untuk Raja Bei Mo.

 

Setelah beberapa ratus kata, Ruohan meniup tinta di kertas yang sudah hampir kering. Ia berpikir untuk memanggil seseorang, untuk membawa surat ini dengan kuda tercepat menuju ibukota, ia menengadah dan terkejut.

 

Ada sebuah sosok di depannya. Ia sama sekali tidak bisa menduga sudah berapa lama pria itu berdiri di depannya dengan tenang.

 

“Aku akan bertaruh denganmu Panglima, sebelum kau sempat berteriak memanggil bantuan, aku sudah selesai mengiris tenggorokanmu.”

 

Pria itu mengenakan pakaian hitam dan penutup wajah yang juga berwarna hitam, hanya tersisa sepasang mata yang tajam. Tangan kanannya menggenggam pedangnya. Pedang itu belum keluar dari sarungnya, tapi sudah penuh hawa membunuh.

 

Ruohan telah berpengalaman ratusan pertempuran dan beberapa diantaranya membuatnya mendekati kematian. Tapi, ketenangan dan ekspresinya membuatnya benar-benar tak berdaya.

 

Sangat mengesankan, sangat berani, siapa pria ini?

 

“Lantas mengapa kalau kau membunuhku, tidak ada kemungkinan juga kau bisa keluar dari sini hidup-hidup.” Ruohan menatap balik, dan merendahkan suaranya.

 

Pria itu tiba-tiba tertawa, “Kalau begitu biar aku membuat taruhan lain dengan Panglima. Setelah membunuhmu, tidak hanya aku bisa keluar dengan aman seperti ketika aku datang, aku pastikan aku juga akan menyingkirkan beberapa Jendral Bei Mo. Pertempuran Yun Chang dan Dong Lin tidak terjadi, maka para prajurit sedang sangat bersantai karena berpikir mereka tidak akan terlibat pertempuran. Panglima sudah memerintahkan seluruh pasukan untuk kembali besok pagi. Saat ini sudah tengah malam, kurasa semua prajurit akan menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat. Semuanya terdengar, tertidur sangat pulas.”

 

Meskipun saat ini tidak dalam suasana pertempuran dan para penjaga lebih santai, pria ini telah berhasil menyelinap ke jantung perkemahan tanpa ada suara peringatan. Kemampuannya sungguh luar biasa.

 

Ruohan mengamatinya lama.

 

Warna kulit di tangannya terlihat coklat karena terbakar matahari, warna coklatnya terlihat padat seperti baja yang dilumerkan. Seseorang yang sangat berpengalaman bahkan seumur hidupnya sudah berkelut dibidang ini, karena itu akan sulit menjatuhkannya hanya dengan sebuah pukulan.

 

Ruohan menatapnya lama sebelum berbisik pelan, “Chu Beijie?”

 

“Seperti yang diharapkan dari seorang Ze Yin, setidaknya kau bisa menebak sedikit.” Chu Beijie terkekeh, melepaskan cadar hitamnya. Wajahnya tampan.

 

Ini pertama kalinya Ruohan melihat dari dekat dan sangat jelas wajah musuh terbesar Bei Mo.

 

Tak heran ia begitu mengesankan dan berani. Tak heran ia bisa masuk ke perkemahan pasukan Bei Mo seperti sedang bermain-main. Orang ini adalah Panglima Zhen Beiwang dari Dong Lin, Chu Beijie.

 

Dan pria yang sangat dicintai oleh Bai Pingting.

 

“Apakah alasan Panglima Zhen Beiwang menyelinap masuk ke perkemahan ini untuk membunuhku?”

 

“Aku tidak menginginkan nyawamu saat ini.” Chu Beijie menjawab, “Aku disini karena aku ingin kau menyampaikan pesan pada Raja Bei Mo.”

 

“Pesan apa?”

 

“Ia berani mengirim pasukannya untuk menyelidiki pasukan Dong Lin, berpikir kalau ia bisa mengambil keuntungan. Ia harus menghadapi resikonya.” Chu Beijie menunduk dan memandang pedang berharganya. “Tanganku sangat gatal karena pertempuran dengan Yun Chang batal. Mulai sekarang, aku akan membunuh para Jendral Bei Mo, satu persatu, dimulai dari yang berpangkat paling tinggi, sampai Raja Bei Mo kehabisan Jendral. Dengan begitu ia bisa menyaksikan pasukannya perlahan hancur seiring berlalunya waktu. Bukankah itu sangat menarik?”

 

Ruohan terkejut sesaat tapi ia berhasil memberikan senyum mengejek, “Dengan kata lain, Panglima Zhen Beiwang akan terus berada disini sebagai pembunuh.” Ia berpikir kalau ia akan menjemput kematiannya sebentar lagi, tapi ia sama sekali tidak gentar. Ia tiba-tiba berdiri, mengeluarkan pedangnya. Ia berteriak, “Perkemahan Bei Mo tidak akan membiarkanmu pergi semudah kedatanganmu. Bahkan jika aku harus memberikan nyawaku hari ini, aku harus membunuhmu untuk Raja Bei Mo. Penjaga kemarilah !” ia berteriak dan menunggu sebentar, tapi tak seorangpun yang datang.

 

Ruohan lagi-lagi terkejut.

 

Chu Beijie menjawab dengan meremehkan, “Kalau kau ingin berteriak, kau harus melakukannya lebih baik dari yang tadi. Semua para pengawal pribadimu telah kehilangan kepala mereka, dan tenda terdekat berjarak lima kaki dari sini. Semua ini berkat peraturan tidak masuk akal, milik pasukan Bei Mo, yang mengatakan kalau tenda utama butuh jarak agak jauh dari tenda lainnya.”

 

Jantung Ruohan membeku mendengarnya. Para pengawal yang berada di luar tenda sangat dipilih, dan mereka semua telah di bunuh Chu Beijie tanpa suara. Kemarahannya luar biasa meningkat dan ia berteriak sangat keras, “Siapapun datanglah! Ada pembunuh!” ia mengangkat pedangnya ke atas dan menyerang ke depan.

 

Chu Beijie memperhatikan dengan dingin ketika musuhnya mengarahkan pedangnya kepadanya. Matanya menyipit ketika ia mengeluarkan pedangnya sendiri dari sarungnya. Kilauan sinar dingin mulai terlihat dan suara pedang beradu terdengar oleh yang lainnya. Ruohan merasakan gelombang kekuatan yang besar ketika mengadu beradu. Pundaknya menjadi kaku, ia kembali berkonsentrasi untuk melihat sosok Chu Beijie yang tidak terlihat, silau cahaya lilin ketika pedangnya tadi beradu. Ruohan menjadi lebih siaga dan mengayunkan pedangnya ke kiri dan ke kanan. Ia melangkah mundur dua langkah dan tiba-tiba merasakan rasa sakit luar biasa. Ia berteriak kesakitan, dan merasakan pingangnya terluka.

 

Ruohan menahan sakitnya dan mengayunkan pedangnya untuk menusuk, tapi tangan Chu Beijie sudah mengenai lukanya terlebih dahulu, sehingga pedangnya terjatuh ke tanah. Pedang itu menyentuh lilin, membuat lilin-lilin itu jatuh ke tanah dan padam, meyebabkan tenda berada dalam kegelapan yang sunyi.

 

Ruohan hanya melihat hitam, tapi ia merasakan sebuah benda yang dingin di lehernya. Ia tahu Chu Beijie telah meletakan pedang berharganya di lehernya.

 

Dulu, orang ini, dengan tiga gerakan, berhasil membunuh Mengchu, wakil terbaik Panglima Ze Yin ketika di Kanbu. Dan sesuai dengan kemasyurannya, ia sungguh orang yang terlatih.

 

Ruohan tahu ia akan segera mati, tapi ia tidak akan memohon belas kasihan. Ia mendengar suara langkah-langkah kaki yang kalut di luar tenda, “Kau bisa membunuhku kalau kau ingin, tapi jelas, kau tidak akan lolos dari sini.”

 

Chu Beijie menjawab dengan sangat percaya diri, “Tentu saja, kalau aku berniat membunuhmu. Aku akan memulainya darimu, tapi seperti yang kukatakan tadi, aku tidak menginginkan nyawamu saat ini. Ketika kau bertemu Raja Bei Mo, pastikan kau ingat untuk menyampaikan padanya untuk tidak membuat masalah dengan Dong Lin.”

 

Ruohan belum sempat membalas ucapan Chu Beijie ketika ia merasakan denyutan di kepalanya dan pingsan.

 

--

Gunung Songsen tertutup es dan salju. Ketika matahari bersinar di atas salju, memantulkan sinar merah. Sebuah sosok kecil melangkah di atasnya, terkadang dalam, terkadang dangkal, ia tergesa-gesa dalam langkahnya.

 

Lapisan salju sangat tinggi, terkadang sampai ke lutunya. Setiap langkah membutuhkan tenaga yang banyak.

 

Zuiju bernapas dengan berat. Sinar kemerahan yang terpancar dari salju membuat matanya berkunang-kunang. Mulai membutakannya dan membuatnya sulit melihat arah di depannya. Terkadang, ia tak kuat dan bersandar di pohon untuk mengatur napasnya, tapi ketika ia berhenti, hatinya mulai digerogoti rasa bersalah.

 

Pingting kesakitan, dan menunggunya di area bebatuan.

 

Pingting dan anak dalam kandungannya sedang menunggunya.

 

Zuiju tahu persis, Pingting sedang berjuang. Ia seorang tabib, jadi tak mungkin ia tidak tahu kondisi Pingting. Bagaimanapun, tidak ada kemungkin mereka bisa bertahan hidup kalau tetap berdua. Pingting benar, jalan sendirian mencari Yangfeng meminta bantuan, adalah kemungkinan satu-satunya untuk mereka bisa bertahan hidup.

 

Oh langit, mengapa keadaan harus jadi seperti ini?

 

Hanya dalam sekejab mata, bunga plum yang belum sempat mekar di kediaman terpencil, harumnya telah mengalir di udara dan selanjutnya menjadi layu.

 

 Mengapa wanita yang paling pandai yang mencintai pria yang paling gagah harus mengalami nasib seperti ini?

 

Tusuk rambut giok pemberian Yangfeng dikenakan oleh Zuiju di rambutnya. Benda itu terasa seberat satu ton, menekan kuat tubuhnya seperti keselamatan nyawa Pingting dan anaknya.

 

Ia mengeluarkan peta dan mempelajarinya dengan seksama.

 

“Tersesat lagi?” Zuiju menjadi pucat karena khawatir. Gunung Songsen yang putih telah membuat orang-orang yang berada disitu kehilangan pijakan arah. Ia tahu ia sudah sangat dekat ke tempat Yangfeng karena itu ia telah bergegas tanpa istirahat.

 

Tujuannya adalah gunung Bei Mo terdekat dari Gunung Songsen.

 

Gunung itu sudah dekat, harus sudah dekat.

 

“Kyaa!” Kakinya terpeleset dan Zuiju jatuh ke salju lagi.

 

Tidak apa-apa, aku sudah terjatuh ratusan kali, mungkin bahkan sudah ribuan kali. Guru, Guru, aku bertaruh kau tidak pernah berpikir kalau Zuiju kecil akan begitu berani suatu hari.

 

Udaranya begitu dingin, tapi hatiku memiliki api yang akan membakar seluruh tubuhku.

 

Ia menggertakan giginya dan berusaha berdiri di salju. Ia segera melangkah mundur begitu ia melihat sosok seorang pria di matanya. ia telah berjalan di gunung Songseng agak lama dan tidak pernah melihat satu orangpun kecuali Pingting.

 

Seorang pria.

 

Pria itu mengenakan pakaian gunung. Tangannya memegangpanah dan sepertinya menghalangi arah tujuan Zuiju.

 

Zuiju menatap pada tatapannya yang dingin dan mulai khawatir.

 

Ia perlahan menegakan punggungnya.

 

Fanlu memperhatikannya dengan seksama dan akhirnya bibirnya terangkat, ia tersenyum dan berkata, “Bai Pingting?”

 

“Siapa kau?”

 

“Jadi, kau Bai Pingting.” Tatapan Fanlu jatuh ke tusuk rambut yang dikenakan Zuiju, “Sungguh tusuk rambut yang indah.”

 

Zuiju mulai bergetar dan merasa jantungnya di pukul.

 

Ia menatap Fanlu, perlahan melangkah mundur.

 

Fanlu perlahan menaikan busurnya. Anak panah yang tajam bersinar ketika ia mengarahkannya pada dada Zuiju.

 

Zuiju merasa ia bisa mati saat itu. Tubuhnya menjadi dingin dan setiap helai rambutnya gemetar. Tusuk rambut itu terasa sangat berat dan jatuh ke tanah.

 

Tidak, aku tidak boleh mati.

 

Ia memikirkan Pingting.

 

Pingting yang membaca buku dengan anggun, Pingting yang memainkan kecapi di salju dan Pingting yang memetik bunga plum. Ia mengingat Pingting yang berlutut di lantai ketika bulan di hari ke enam telah muncul di langit malam, menangis pedih dan hancur.

 

Aku tidak boleh mati disini. Zuiju dengan berani melotot pada Fanlu. Ia sudah kehabisan tenaga untuk melawan, dan pria itu memegang busur, tapi ia tetap memberikan tatapan tajam pada pria itu.

 

Fanlu hampir bingung dengan tatapannya. Ia tak pernah tahu seorang wanita bisa menghadapi kematian tanpa rasa takut.

 

Ketika ia merasa ragu, Zuiju berbalik dan berlari dengan sekuat tenaga.

 

Tidak, aku tidak boleh mati!

 

Ia meminjam kekuatan dari langit, untuk berlari sekuatnya ke dalam hutan.

 

Whuuusss.

 

Suaran angin dibelah mengejarnya, di telinganya, ia melihat sebuah anak panah melewatinya, tertancap ke pohon di sebelahnya. Zuiju terkejut dan langkah kakinya semakin cepat.

 

Whuss, whuuusss….

 

Suara angin terdengar lagi, mendekatinya. Satu demi satu, anak panah menancap di pohon dan semak-semak. Zuiju menghindarinya satu demi satu.

 

Oh dewa, apa kau tidak berniat menolongku?

 

Tolong bantu aku sampai selesai. Bantu aku bertemu Yangfeng dan memberitahunya kalau Nona Bai menunggu pertolongannya.

 

Juga anaknya, darah daging Tuan Besar Zhen Beiwang, salah satu anggota keluarga kerajaan Dong Lin.

 

Ia begitu putus asa berusaha melarikan diri. Semua yang ia lihat berwarna putih. Dan kakinya tak berasa menyentuh apapun.

 

“Ah!” Zuiju berteriak panik. Dan terjatuh di tanah.

 

Ia jatuh ke dalam salju yang tebal. Kaki kanannya telah tersandung batu yang menonjol ke atas.

 

Rasa sakit yang megerikan menjalar di kakinya. Begitu sakit, hampir membuatnya pingsan.

 

“Ah…” Zuiju mengeram, berusaha untuk duduk. Dan memeriksa keadaan kakinya.

 

Benar-benar patah. Seluruh tubuhnya bergetar karena rasa sakit dari tulang.

 

Apa yang harus kulakukan? Ia masih harus segera menyampaikan pesan. Ia tidak bisa berhenti disini. Tumbuhan obat, selama ada tumbuhan obat yang bisa digunakannya, ia bisa menahan sakitnya.

 

Tapi dimana tumbuhan obatnya?

 

Ia berbalik, mencari disekitarnya. Tapi sekelilingnya benar-benar putih dan pepohonan mati dan beberapa batu yang muncul di salju, tak ada apa-apa lagi?

 

Ia menoleh ke kiri dan tidak percaya dengan penglihatannya. Ia menggosok matanya dengan kedua tangannya.

 

“Ah, rupanya disitu!” Zuiju merasa terkejut dan senang. Matanya mulai terasa basah.

 

Aku melihatnya, aku melihatnya! Gunung tempat kediaman Yangfeng akhirnya terlihat di mataku. Aku telah mencapai kaki gunung.

 

Zuiju akhirnya bisa menangis gembira, karena telah menemukannya. Nona Bai, kita selamat.

 

“Nona Bai, tunggu aku. Aku sudah melihatnya.”

 

Rasa sakit muncul begitu Zuiju berusaha bangun. Ia hampir berdiri ketika tiba-tiba tubuhnya kehilangan tenaga dan kembali jatuh ke tanah.

 

“Tak pa-pa, tak pa-pa.” ia mengatakannya pada dirinya sendiri. “Aku bisa mendaki ke sana. Aku bisa mendaki gunung itu.”

 

Sesuatu berkelebat di matanya, seperti mutiara bersinar di kedalaman laut, mutiara yang telah melewati waktu begitu lama yang akhirnya siap untuk bersinar.

 

Zuiju menyeret tubuhnya melewati salju. Mengapa jarak kesana masih begitu jauh? Ia mengertakan giginya dan berjuang bergerak maju. Ia merasa ia mendekati ujung dunia, putih yang tanpa ujung berada di sekelilingnya.

 

Darahnya yang merah cerah tercecer di salju, membuat sebuah lukisan indah.

 

Ia mendengar suara langkah kaki, tidak jauh. Ia menoleh, keputusasaan mencengkramnya sampai mencekik jantungnya.

 

Pria itu berdiri disana, menyaksikannya dengan dingin.

 

Tidak, tidak….

 

Zuiju dengan galak menatap balik.

 

Aku sudah sampai disini, kau tak bisa mengambil perjuangan kami dengan begitu mudahnya.

 

Hanya tinggal selangkah, satu langkah lagi.

 

Tangan Fanlu tidak bergerak. Tangan kanannya memegang busur, dan tangan kirinya memegang anak panah. Ia telah melepaskan semua anak panahnya tadi. Dua puluh tujuh, dan tidak satupun yang meleset.

 

Zuiju menatap tajam pada pria itu dan pada anak panahnya.

 

Aku tidak boleh mati.

 

Pingting masih menungguku di salju berangin. Ada batas waktu tiga hari, untuk Pingting dan anaknya.

 

Chu Beijie telah melanggar janji tanggal enam, menghancurkan kebahagiaannya. Aku tidak boleh membuat kesalahan dan menggacaukan hidupnya lagi.

 

Tanah bersalju dan gunung sangat dingin dan tidak berperasaan. Membawa rasa kematian yang kuat, bisa memenuhi seluruh hati, membuat rasa putus asa begitu memilukan.

 

Zuiju menegakkan kepalanya dan mulai berteriak dengan sedih, “Yangfeng! Yangfeng! Kau disana? Tolong aku!”

 

“Yangfeng, istri Panglima, Yangfeng, kau bisa mendengarku?”

 

“Siapa saja, Chu Beijie, Tuan Besar Zhen Beiwang, tolong selamatkan Bai Pingting! Apa kalian semua sudah melupakan Bai Pingting?”

 

“Chu Beijie, kau pengecut, kau telah melupakan Bai Pingting?”

 

Ia istrimu, bersama darah dagingmu. Ia tidak seharusnya pergi ke ujung dunia, tidak seharusnya terkubur di gunung Songsen.

 

“Bagaimana bisa kau tidak muncul? Bagaimana bisa…..” Zuiju menangis putus asa, “Apa kau masih ingat Bai Pingting? Apa kau masih ingat janji yang kau ucapkan? Bagaimana bisa kau melupakannya….”

 

Suaranya bergema di hutan, tapi keajaiban tetap tidak terjadi.

 

Sungguh tidak adil, sangat tidak adil.

 

Ia menengadahkan kepalanya, wajahnya penuh airmata ketika ia melihat senyum di wajah pria itu.

 

“Bisakah kau mencium wangi salju?” Pingting pernah bertanya padanya seperti itu, ketika pertama kali mereka bertemu.

 

Ia telah menemani gurunya ke rumah-rumah keluarga kaya, keluarga bangsawan dan keluarga kerajaan, melihat begitu banyak orang berbeda dan peristiwa berbeda-beda, tapi ia tak pernah melihat cinta yang sedalam itu.

 

Bai Pingting dan Tuan Besar Zhen Beiwang.

 

Sungguh cinta yang hebat, tapi juga sangat menyedihkan, begitu sulit dan mematahkan hati.

 

Oh langit, mengapa kau begitu kejam.

 

Mengapa kau tidak tersentuh oleh cinta yang seperti itu?

 

Zuiju yang tak berarti ini bersedia membayar dengan nyawanya, tapi dengan begitupun tidak membuat keadaan berakhir bahagia.

 

“Yangfeng! Yangfeng! Cepatlah datang! Aku memohon padamu, datanglah!”

 

Gunung terus mengemakan tangisan Zuiju. Fanlu dengan tenang duduk menyaksikan kepedihannya.

 

Fanlu tidak mengangkat panahnya, karena ia merasa tidak perlu.

 

Zuiju berteriak sampai suaranya serak. Begitu ia kehabisan tenaga untuk menangis, ia diam. Wangi salju mengalir di hidungnya, begitu juga wangi darah segarnya.

 

Darah yang merah menyala, mengalir dari kakinya.

 

Zuiju sepertinya menyadari sesuatu. Ia mengangkat tubuhnya dengan kekuatan luar biasa, dengan gugup melihat kesekeliling.

 

Di tengah malam, ia melihat warna hijau menyala dengan tenang dan diam mendekat dari arah hutan.

 

Srigala!

 

Ia akhirnya mengerti senyum dingin pria itu.

 

--00--


Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.47

-- Volume 2 chapter 47 --


Di kerajaan Dong Lin.

 

“Berita baik! Berita baik, Yang Mulia!”

 

Pejabat Senior Chu Zairan memegang laporan militer dan berlari ke dalam istana. Teriakan gembiranya terdengar jauh sebelum ia memasuki ruangan.

 

Raja Dong Lin telah sakit beberapa hari dan selalu merasa pusing. Ratu berada disisi tempat tidur, menemani Raja. Ia mendengar teriakan dan berbalik untuk melihat Chu Zairan berlari masuk, “Kabar baik apa?”

 

“Yang Mulia Ratu, Panglima Zhen Beiwang telah menarik mundur pasukan. Pertempuran akhir tidak terjadi.”

 

Ratu terkejut dengan berita ini. Ia ragu agak lama, dan akhirnya bertanya dengan tidak percaya, “Zhen Bei Wang tidak berperang dengan pasukan Yun Chang?”

 

Tangan Chu Zairan yang memegang laporan militer mengelengkan kepalanya dan gemetar beberapa kali kegirangan. “Hampir,  kudengar ketika dua pasukan hampir saling menyerang, Tuan Putri Yun Chang tiba-tiba muncul dan menyakinkan Tuan Zhen Beiwang untuk menarik mundur pasukan. Yang Mulia Ratu, ratusan ribu nyawa prajurit Dong Lin telah selamat!”

 

“Ulangi apa yang kau katakana.” Suara lemah seorang pria dari tempat tidur.

 

“Ah, Yang Mulia Raja! Yang Mulia sudah bangun?” Ratu segera berbalik dan membantu Raja untuk duduk. “Hati-hati, Yang Mulia. Tabib bilang kau harus sembuh dengan tenang.”

 

Tangan Raja Dong Lin menyibakan tangan Ratu untuk membuang jauh-jauh ide itu. Tatapannya jatuh pada Chu Zairan. “Pejabat Senior, tolong ulangi lagi. Apa yang dilakukan Zhen Beiwang?”

 

“Melapor pada Yang Mulia, Tuan Besar Zhen Beiwang telah menarik mundur pasukan. Pasukan Dong Lin dan Yun Chang tidak bertempur.” Meskipun Chu Zairan sangat tua, ia masih ada tenaga cadangan.

 

“Oh?” Raja meresap kata-kata Chu Zairan, ia masih sulit untuk menerima berita luar biasa ini. Matanya agak kuning karena sakit, tapi saat ini sinar matanya sedikit bersemangat. Tangannya memegang pundak Ratu ia mengamati ke depan sebelum berkata, “Mana laporannya? Biar kulihat.”

 

Chu Zairan segera memberikan laporan itu dengan kedua tangannya.

 

Ratu sangat khawatir dengan Raja yang terlalu bersemangat. Ia membantu Raja membuka laporannya. Dan Raja membacanya sambil berbaring di bantal.

 

Raja membacanya dua kali sebelum menghela napas lega. Ia merasakan tubuhnya sedikit mengigil, kesakitan dan sesak yang ia rasakan beberapa hari sebelumnya seperti mengalir menghilang. Ia menyerahkan laporan itu pada Ratu, yang kemudian merapikannya kembali dan tersenyum, “Aku tahu adikku, adik masih memikirkan seluruh situasi…. Uhuk…. Uhuk uhuk uhuk….. uhuk…” Raja tiba-tiba mulai terbatuk terus menerus.

 

Ratu segera memijat punggungnya untuk melancarkan napasnya. Ia berkata dengan lembut, “Kau harus lebih memperhatikan tubuhmu, Yang Mulia, perang sudah berakhir, dan Tuan Besar Zhen Beiwang sudah menghentikan kegilaannya. Kalau Yang Mulia bisa sehat kembali, tentunya merupakan berkah bagi seluruh rakyat Dong Lin.”

 

Raja bersusah payah menahan sakit di punggungnya. Ia menarik napas dalam beberapa kali sebelum bertanya, “Dimana letak pasukan sekarang?”

 

“Mereka sedang bergerak kembali ke ibukota. Tuan Besar Zhen Beiwang sudah memberikan perintah, begitu mereka tiba di perbatasan semua dibubarkan dan kembali ke posisi masing-masing.”

 

Raja berpikir beberapa saat, dan akhirnya memberikan perintah, “Tulislah perintah, Pejabat Senior, lalu kirimkan pada Zhen Beiwang dengan kuda tercepat. Katakan padanya, surat yang kutulis sebelumnya karena aku sedang emosi. Keluarga kerajaan Dong Lin hanya ada dua bersaudara, dan aku masih sangat mengharapkannya. Katakan padanya untuk kembali secepat mungkin dan jangan pernah meninggalkan ibukota lagi.”

 

Chu Zairan agak ragu sebelum melangkah mendekat dan berbisik, “Yang Mulia, Tuan Besar Zhen Beiwang sudah tidak bersama pasukan. Yang memimpin pasukan saat ini, adalah Chen Mu.”

 

Raja dan Ratu Dong Lin sangat terkejut.

 

“Tidak bersama pasukan?” alis Raja yang baru saja mulai santai mulai mengerut lagi. Ia berusaha untuk duduk tegak, “Apa lagi ini?”

 

“Jendral yang menyampaikan berita mengatakan, setelah Tuan Besar Zhen Beiwang memerintahkan untuk mundur, ia menyerahkan bendera komando pada Chen Mu, setelah itu ia berkuda sendiri, dan sekarang, keberadaannya tidak diketahui.”

 

Langit yang jernih yang baru dating, tiba-tiba tertutup awan hujan lagi. Raja menghela napas, dan berbaring kembali ke tempat tidur.

 

“Ada berita dari Bai Pingting?” Ratu menyela bertanya.

 

“Keberadaan Bai Pingting saat ini juga tidak diketahui. Ada sebuah berita…” Chu Zairan mengangkat matanya untuk melihat ekspresi Raja.

 

“Lanjutkan, katakan saja Pejabat Senior.”

 

“Ini… ini hanya kabar burung, belum dipastikan kebenarannya.” Chu Zairan membungkuk sambil mengatakannya, “Sepertinya ketika Bai Pingting dibawa He Xia, ia sudah…”

 

Ratu tersentak oleh kata-kata ini dan segera berkata, “Sudah apa?”

 

“…. sudah mengandung darah daging Tuan Besar Zhen Beiwang.”

 

Setelah kata-kata ini terucapkan, bukan hanya Ratu tapi Raja juga sangat terkejut. “Benarkah?”

 

“Yang Mulia, ini baru kabar burung….”

 

“Darah keluarga kerajaan Dong Lin telah dikirim ke tangan He Xia?” Mata Raja melebar karena marah, napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan ia terbatuk panjang.

 

Hati Ratu menjadi beku sedingin es. Ia dengan kikuk membantu meringankan sakit Raja, air matanya mulai mengalir. Melihat batuk Raja sudah berhenti, ia segera berdiri dan berlutut sambil menangis, “Yang Mulia, ini salahku! Ini hasil dari dosaku.”

 

Raja diam agak lama, dan akhirnya ia menghela napas panjang. “Ratu tidak bersalah, ini kesalahanku sepenuhnya. Ini sungguh lelucon dari langit, keturunan kerajaan Dong Lin belum berakhir….. Pejabat Senior.”

 

“Disini.”

 

“Segera tulis perintah dan kirim beberapa orang untuk menemukan Bai Pingting. Ia dan anak dalam kandungannya harus dilindungi.” Lalu Raja menambahkan dengan pelan, “Ketika ia ditemukan, katakan padanya, selama ia bersedia melahirkan anak adiku, aku akan memberikannya kedudukan sebagai istri resmi dari Tuan Besar Zhen Beiwang.”

 

Kondisi tubuh Raja sudah tidak seperti sebelumnya. Setelah Dong Lin kehilangan dua Pangeran kecil mereka, maka yang berikutnya berhak mewarisi takhta adalah Zhen Beiwang dan keturunannya.

 

--

Gunung Songsen terbentang beberapa ratus mil. Musim dingin membuat dataran sepi, tapi pohon pinus masih berdiri tegak. Zuiju telah mengumpulkan jarum pinus agar bisa melakukan akupuntur pada Pingting untuk perjalanan mereka selanjutnya. Perawatannya selama ini telah memungkinkan Pingting untuk melakukan perjalanan sampai sejauh ini.

 

Mereka berdua tahu, doa mereka pada langit tidak pernah terjawab. Berdoa pada bumi tidak terlalu berhasil. Mereka hanya bisa menggunakan kemampuan mereka untuk bertahan hidup. Meskipun sangat sulit, mereka hanya bisa meneruskannya tanpa pernah sekalipun mengucapkan kata lelah.

 

Kadang nadi Pingting sangat bagus, tapi terkadang juga mengkhawatirkan. Warna putih dari hutan dan gunung terbentang luas di kaki langit. Jarak yang harus ditempuh sepertinya semakin jauh dari hari ke hari. Mereka berdua pernah tersesat beberapa kali di hutan gunung. Mereka berputar-putar sampai akhirnya bisa menemukan arah yang benar dengan sangat sulit.

 

Kaki Pingting akhir-akhir ini menjadi lebih lemas. Sepertinya satu langkah menjadi lebih melelahkan dibanding sepuluh langkah. Pingting tahu ia tak mungkin bertahan lebih lama lagi, tapi ia tak mau membuat Zuiju khawatir jadi ia diam saja.

 

Di siang hari ini, mereka akhirnya telah mencapai area bebatuan. Di area itu tumbuh tanaman berry yang bisa berbuah bahkan ketika musim dingin berlangsung. Meskipun rasanya tidak enak, tapi bagi mereka berdua buah itu sangat bagus.

 

“Duduklah Nona. Aku akan memetik beberapa untuk kita.” Zuiju membantu Pingting duduk. Tak lama kemudian, ia membawa tumpukan berry berwarna merah tua dan unggu diikat di rok bajunya. Cabang-cabang tumbuhan berry berbuah lebat tapi juga berduri banyak, mengakibatkan banyak luka di tangan Zuiju.

 

Mereka telah merasakan penderitaan yang sangat parah selama perjalanan, jadi Zuiju tidak memperhatikan luka di tangannya sama sekali. Ia meletakan buah berry yang dipetiknya di depan Pingting dan mereka berdua memakannya sambil menikmati kehangatan matahari untuk memenuhi perut mereka yang kosong.

 

“Kita hampir menyebrangi gunung Songsen yak an?”

 

“Benar.”

 

“Oh, akhirnya kita hampir sampai. Ketika anakmu lahir nanti, kita harus memberitahunya semua perjuangan perjalanan ini sampai kesetiap detilnya. Kita harus memberitahunya kalau ibunya berjuang sangat keras untuk…” Zuiju berkata sambil melirik ke arah Pingting.

 

Pingting duduk sambil menjulurkan kakinya dan bersandar di batu. Wajahnya menampak seperti menahan rasa sakit yang amat sangat, Zuiju merasa sangat gelisah.

 

“Nona?” ia berbisik, berusaha membangunkannya. Ia berlutut, “Nona Bai?”

 

“Hmm?” Pingting bergerak sedikit, dan membuka matanya. sudut bibirnya tebuka dan berkata, “Zuiju…”

 

Zuiju mulai merasa gugup. “Kenapa, Nona Bai?” ia segera memeriksa nadi Pingting.

 

Pingting berusaha menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya.

 

Ia memberi isyarat pada Zuiju untuk mendekat, sampai ia bisa berbisik di telinga Zuiju, “Gunung Songseng membelah wilayah Yun Chang dan Bei Mo. Kalau kau turun kesana, kau akan segera memasuki perbatasan Bei Mo. Kediaman kecil Yangfeng dan Ze Yin di sisi sebelah sana gunung Songsen. Kau pergilah….”

 

“Tidak!” Zuiju mulai menangis, menatap pada pandangan kosong Pingting. “Nona, apa yang kau katakana? Kita tetap bersama. Kita hampir sampai, sudah begitu dekat. Lihat, aku menemukan beberapa tanaman obat, aku akan merebusnya untukmu. Dan… dan aku butuh jarum, aku sudah mengumpulkan jarum pinus, cukup kuat untuk digunakan.”

 

“Zuiju….”

 

“Tidak mau! Tidak mau!”

 

Pingting sangat tenang dan yakin. Kali ini, ia terlihat sangat tidak berdaya.

 

“Zuiju, aku benar-benar tidak dapat melanjutkan sama sekali. Kalau saja tidak ada kau, aku pasti sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan sama sekali sejak beberapa hari sebelumnya.” Pingting tersenyum pahit.

 

Zuiju menatapnya, merasakan hawa dingin di punggungnya. Ia berbalik dan menatap sekitarnya.

 

Jalan setapak bersalju itu nampak mengerikan sekali.

 

“Nona…” bibir Zuiju bergetar. Ia merasaka ketakutan yang luar biasa menyelubunginya.

 

“Aku hanya bisa mengandalkanmu sekarang. Ini peta, pergilah, temukan Yangfeng.” Pingting mengigit bibirnya, sambil menahan sakit, berusaha mengeluarkan peta yang disembunyikannya di balik bajunya. “Ze Yin seorang Jendral. Ia pasti menempatkan beberapa orang di sekitar gunung. Kalau kau bertemu dengannya, segera minta ia mengirim seseorang untuk menjemputku.”

 

Zuiju menggelengkan kepalanya. “Kalau kau tidak bisa berjalan, aku akan menggendongmu. Aku masih punya tenaga…”

 

“Itu hanya akan membuat kita berdua mati. kita tidak punya cukup makanan dan aku takut tidak ada lagi area bebatuan di depan. Kau masih ada tenaga. Kalau kau berjalan sendiri, seharusnya kau bisa turun gunung dalam dua hari. Orang-orang Ze Yin sudah berpengalaman di wilayah gunung, mungkin mereka bisa menemukan tempat ini dalam sehari.”

 

“Tidak, aku jelas tidak mau melakukannya.”

 

Dua mata Pingting menatapnya, suaranya sedikit lebih keras. “Kalau kau menggendongku, kau tidak akan bisa menuruni gunung ini bahkan dalam sepuluh hari.” Pingting benar-benar sudah kehabisan energy. Ia sangat kelelahan dan dadanya mulai terasa sakit. Ia mengangkat kepalanya, berkata dengan susah payah sambil memberikan petanya pada Zuiju, “Ambilah!”

 

Zuiju menerima petanya, hatinya di penuhi kepanikan.

 

Ia tahu Pingting sedang sekarat. Kalau Pingting memiliki sedikit ide saja, ia tahu Pingting pasti tidak akan menghentikan langkahnya.

 

Zuiju benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan berpisah.

 

“Pergilah, temukan Yangfeng, katakan padanya utnuk mengirim orang terbaiknya untuk menemukanku. Kedatangan mereka, seharusnya hanya butuh dua hari.” Pingting melihat sekelilingnya, “Di area bebatuan ini seharusnya ada tempat untuk aku berlindung dari angin dan hujan, dan ada berry untuk makananku. Aku akan menunggu disini.”

 

Zuiju menyengkeram petanya.

 

Seluruh kekuatanya yang tersisa sepertinya terkumpul di tangannya. Peta yang sudah lusuh itu seperti hendak hancur di tangannya.

 

“Aku mengerti.” Seperti hendak berpisah seabad, Zuiju akhirnya mampu bersuara tegas. Ia menatap Pingting dalam-dalam, “Aku akan cepat-cepat mencari Yangfeng dan memintanya untuk mengirim pendaki gunung terbaiknya kesini, sambil membawa gingseng terbaik. Aku akan membuat persiapan disana, jadi mereka akan siap begitu kau tiba.”

 

Pingting menatap lembut padanya, ujung bibirnya naik keatas membuat senyuman ringan. Ia tersenyum, “Benar, benar sekali.” Ia menggerakan tangannya dan mengambil tusuk rambutnya, tangannya bergetar agak lama. Bagaimanapun ia berusaha tangannya tak bisa mencapainya.

 

Zuiju terlihat cemas melihatnya. Ia membantunya mengambil tusuk rambut itu dan menyerahkannya pada Pingting.

 

Pingting tidak mengambilnya, ia berkata, “Kau ambilah. Ini diberikan oleh Yangfeng padaku, seharusnya ini bisa menjadi bukti.”

 

Zuiju tidak menjawabnya. Setelah agak lama, Zuiju hanya diam saja menatap Pingting.

 

Pingting tahu, Zuiju sangat khawatir, ia terbatuk sekali, “Zuiju.”

 

“Hm.”

 

“Pergilah.”

 

Zuiju menjawab. Ada sedikit isakan dalam suaranya. Ia perlahan berdiri, tangannya mengenggam peta erat-erat dan tusuk rambut giok di tangan satunya lagi. “Nona, aku akan pergi sekarang.” Ia ragu agak lama dan akhirnya berbalik dan melangkah menjauh.

 

Pingting memperhatikannya dengan matanya, melihat punggungnya yang perlahan menghilang di area bebatuan. Akhirnya Pingting bernapas lega. Ia berpikir untuk mengerahkan sisa tenaganya untuk memeriksa sekitarnya tapi, ia benar-benar kehabisan tenaga. Ia lalu berpikir untuk beristirahat, karena ia sekarang tidak perlu terburu-buru melakukan perjalanan. Pingting memejamkan matanya, kepalanya bersandar di batu. Tak lama kemudian ia membuka matanya karena mendengar suara langkah kaki.

 

“Nona.” Zuiju telah kembali, di tangannya penuh buah berry. “Aku akan meletakan ini disini.” Zuiju dengan hati-hati meletakan buah itu di depan Pingting dan berdiri. Ia menatap Pingting beberapa saat, lalu berkata, “Aku akan benar-benar pergi kali ini.”

 

“Zuiju,” Pingting melihat punggungnya.

 

Zuiju segera berbalik dan mendekatinya. “Kenapa?”

 

Pingting menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum, “Tidak apa-apa, kau harus berhati-hati. Semakin cepat kau turun, semakin cepat kau bisa beristirahat.”

 

“Iya, aku mengerti.” Zuiju menganggukkan kepalanya.

 

Kali ini, Zuiju benar-benar pergi.

 

--

Perang yang hampir terjadi, telah dicegah oleh sebuah percakapan pribadi, antara Tuan Putri Yun Chang dan Chu Beijie. Semua orang telah mengharapkan sungai darah tapi tiba-tiba batal. Dua orang yang paling merasa salah perhitungan adalah, dua kepala negara lainnya.

 

Dulu, Raja Gui Li berpikir, begitu He Xia, pemimpin Jin Anwang berikutnya, memperoleh kemasyuran karena berhasil membuat pasukan Dong Lin mundur, akan segera memperoleh kekuasaan penuh militer sebagai balasan yang pantas dari Raja. Raja Gui Li, He Su, yang baru saja naik takhtah selama setahun menjebak He Xia, membuatnya seolah merencanakan pemberontakan dihari kepulangannya untuk menerima penghargaan.

 

Dibawah rencana yang luar biasa dipersiapkan dengan matang, keluarga terpandang selama ratusan tahun, hancur dalam sekejab.

 

Bagaimana mungkin He Xia melupakan dendam seperti itu?

 

Ketika mendengar Chu Beijie mengerahkan pasukan Dong Lin dan hendak melawan He Xia sampai akhir, peperangan sampai mati. Raja Gui Li menunggu dengan gembira. Sungguh sulit mengambarkan dengan kata-kata, kegembiraan yang dirasakannya saat itu.

 

Pasukan Gui Li telah bersiap disuatu tempat. Begitu He Xia dikalahkan, Gui Li akan segera bergabung dalam peperangan, menghancurkan pos permeriksaan Yun Chang. Lalu, mereka akan melakukan serangan langsung pada He Xia, satu-satunya orang yang sangat dibenci Raja Gui Li.

 

Siapa menyangka kalau Tuan Putri Yun Chang akan muncul dan menghancurkan semua rencana yang telah ia persiapkan.

 

“Itu bukan Tuan Putri Yun Chang.” Raja Gui Li melepaskan mahkotanya dan merenggangkan otot-ototnya. Ia telah mendengarkan laporan selama setengah hari dan akhirnya bisa mengeluarkan beberapa kesimpulan.

 

“Yang Mulia?” Le Di, seorang Pejabat tua, bertanya dengan terkejut. “Apa Yang Mulia berpikir kalau laporannya salah?”

 

“Bukan, Maksudku, bukan Tuan Putri Yaotian yang membuat Chu Beijie menarik mundur pasukannya.” Raja mengangkat wajahnya menatap langit sambil medesah berat. Ekspresinya memancarkan kesepian yang di sudut hatinya yang dalam. “Itu Bai Pingting.”

 

Ekspresi Le Di berubah, “Bai Pingting? Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang?”

 

Mengapa ia selalu mendengar nama itu? Wanita itu hanya seorang pelayan dari Kediaman Jin Anwang. Ia bisa memainkan beberapa lagu dengan kecapi, tapi mengapa ia terlibat langsung dengan seluruh kejadian ini?

 

Bahkan Ratu menyinggung namanya dalam pembicaraan pribadi mereka berdua.

 

“Pejabat Senior pasti tidak percaya juga. Chu Beijie adalah seorang pahlawan, tapi ia mendeklarasikan perang hanya demi seorang wanita biasa. Kemudian, wanita biasa itu juga yang menghentikan perang. Dan sekarang setelah kupikir-pikir, nasib Yun Chang dan Dong Lin sepenuhnya terletak di tangan satu wanita ini.”

 

Le Di tidak setuju, “Yang Mulia terlalu berlebihan. Seorang wanita seharusnya diam di rumah, memikirkan bagaimana melayani suami dan ayah mereka. Chu Beijie sungguh bodoh melakukan hal itu hanya demi seorang wanita, dan pemikiran seperti itu adalah salah didikan. Ia pernah memimpin pasukan dan mengotori tanah Gui Li. Sekarang melihatnya menghancurkan dirinya sendiri, sungguh kegembiraan terbesar bagi Gui Li.

 

Raja melihat pada si pengirim pesan yang berdiri di samping, diam saja tak bisa berkata-kata. Sudut bibir Raja tiba-tiba naik dan ia tersenyum. Ia mungkin tersenyum tapi mungkin juga tidak. “Biar aku memberitahu Pejabat senior, sesuatu yang menarik. Ketika Bai Pingting direbut oleh He Xia, dibawa  dari Dong Lin menuju Yun Chang, aku telah mengirim pasukan untuk menyergap mereka di wilayah Dong Lin, berharap untuk membawa Bai Pingting kembali ke Gui Li.”

 

“Apa?” Le Di sangat terkejut mendengarnya.

 

“Aku tidak merundingkan hal ini dengan Pejabat Senior karena, aku tahu Pejabat Senior tidak akan setuju.” Dari samping, ekspresi Raja memperlihatkan ketetapan hati dan kekeras kepalaan. “Sebenarnya, aku telah memikirkan beberapa pertanyaan belakangan ini. Bai Pingting, seorang pelayan rendah dari Kediaman Jin Anwang, dan telah berada di bawah pengawasanku selama bertahun-tahun. He Xia dan Chu Beijie saat ini berperang untuk dirinya, artinya nilai dirinya ratusan kali berlipat ganda di banding sebelumnya. Kalau aku tahu akan jadi seperti ini, bukankah sebaiknya aku memasukan Bai Pingting ke istana sebagai salah satu selirku.” Pembicaraan ini sangat mengejutkan dan tiba-tiba bergeser membicarakan selir.

 

Ekspresi Le Di berubah, jantungnya berdetak kencang seperti kincir angin yang berputar karena angin menerjangnya dengan cepat. Anak perempuan satu-satunya saat ini adalah Ratu Gui Li. Karena anak permpuannya telah menjadi ibu negara, maka keluarga Le bersinar terang seperti matahari di saat siang. Ia secara alami memperoleh kekuasaan militer setelah mengalahkan Jin Anwang.

 

Le Di mempertimbangkan sebentar sebelum akhirnya tersenyum tenang. “Yang Mulia pasti bergurau. Bai Pingting berasal dari kalangan biasa dan statusnya seorang pelayan. Dan yang sering kudengar wajahnya juga biasa-biasa saja. He Xia bertindak sejauh ini karena masa lalu mereka, sedangkan Chu Beijie, ia berpikir pendek dan dibutakan oleh wanita itu.”

 

“Bergurau?” Raja Gui Li itu tersenyum kecil. Ia berbalik ke tempat duduknya dan bersandar di singgasananya. Kata-katanya memperingatkan, “Pejabat Senior, kau salah besar.”

 

“Oh?”

 

“Kecantikan Bai Pingting tidak terletak pada wajahnya tapi kepintaran dan kepribadiannya. Kalau kita mau membahas ini, maka, semua Ratu dari empat negara sama sekali tidak bisa dibandingkannya. Kalau tidak, bagaimana bisa seorang pahlawan seperti Chu Beijie dengan cepat menarik mundur pasukannya hanya dengan selembar surat dari Bai Pingting?” Raja menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Kau dan aku tahu, tindakan Chu Beijie, benar-benar tidak seperti biasanya.” Raja tersenyum pahit.

 

Le Di tidak tahu harus berkata apa lagi. Mereka mendengar seorang penjaga berteriak, “Ratu telah tiba.”

 

Mendengar suara langkah akrab yang terburu-buru, pintu aula terbuka pelan, menampilkan wajah tersenyum Ratu Gui Li.

 

“Oh, Ratu disini.” Le Di secara diam-diam merasa lega karena pembicaraan tentang Bai Pingting terhenti disini. Ia segera bangun dari kursinya.

 

“Yang Mulia.” Ratu berlutut pada Raja Gui Li sebelum berbalik menuju Le Di. “Ayah juga berada disini? Duduklah.” Ia berkata dengan suara lembut. Ia duduk sambil membuka pembicaraan dengan berisik. “Cuaca hari ini sungguh tidak bisa ditebak. Aku khawatir kaki ayah kambuh lagi, aku berencana mengirimkan obat untuk ayah. Meskipun masalah negara penting, tapi ayah harus memperhatikan kesehatan juga.” Setelah Ratu berkata sebanyak itu, ia berbalik dan tersenyum pada Raja. “Apa Raja akan terjaga sepanjang malam lagi? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

 

Raja tersenyum hangat padanya, menggelengkan kepalanya. “Yun Chang dan Dong Lin sudah tidak terlibat peperangan lagi, tidak ada masalah tentang itu. Kami hanya membicarakan tentang Bai Pingting.”

 

Ratu mendengar nama Bai Pingting disebut dan jantungnya serasa lompat. Tapi ekspresi wajahnya tidak berubah. “Dari yang kudengar ia mengikuti He Xia ke Yun Chang. Aku penasaran bagaimana kabarnya sekarang.”

 

“Apa Ratu sudah tahu, Chu Beijie menarik mundur seluruh pasukannya hanya karena selembar surat dari Bai Pingting.”

 

“Hal seperti itu bisa terjadi?” Ratu menarik napas panjang sambil berbisik pelan.

 

Aula tiba-tiba menjadi sunyi.

 

Raja dan Le Di melanjutkan pembahasan masalah negara. Le Di meninggalkan istana ketika hari sudah sangat terang. Begitu ia keluar dan menaiki keretanya, ia berguman, “Kita pergi ke kediaman Jendral Utama, cepatlah!”

 

Si kusir segera memacu kudanya menuju kediaman Jendral Utama. Jendral Le Zhen dan selirnya telah berpesta dan minum-minum sepanjang malam, sehingga mereka masih tertidur ketika mendengar kedatangan ayahnya. Le Zhen segera turun dari tempat tidurnya.

 

“Mengapa kau disini ayah? Ada masalah? Kalau ada perlu suruh seseorang menyampaikan pesan.” Le Zhen berkata ketika menyambut ayahnya di gerbang sebelum melihat ekspresi muram ayahnya.

 

Le Di diam saja. Ia berjalan menuju ruang kerja. Begitu mereka tiba di kantor, ia melihat ke kiri dan kanan sebelum menutup sendiri pintunya. Ia menghela napas lega dan berkata dengan pelan, “Raja sudah mulai curiga.”

 

Le Zhen berkata, “Apa” dan ia bertanya lagi dengan penasaran, “Apa yang dikatakan Yang Mulia Raja?”

 

“Yang Mulia terus membicarakan Bai Pingting, Yang Mulia berkata, seharusnya ia menjadikan Bai Pingting sebagai selirnya.” Le Di menatap anaknya dan mengerutu, “Ini merupakan peringatan bagi kita, kedudukan Ratu bisa digeser.”

 

“Kediaman Jin Anwang selama beberapa generasi terus menerus menduduki Jabatan utama. Bai Pingting tidak bisa diremehkan. Wanita itu tidak hanya berhubungan dengan He Xia yang saat ini sebagai Suami dari Penguasa Yun Chang, tapi juga Panglima Zhen Beiwang dari Dong Lin. Ia bahkan memiliki hubungan dengan beberapa Jendral Bei Mo.”

 

“Ayah…”

 

“Apa kau sudah membereskan orang yang kau kirim untuk memperingati He Xia?”

 

Le Zhen menjawab, “Ayah, jangan khawatir. Aku sudah mengatur agar ia meninggalkan ibukota secepat mungkin. Raja tidak akan memperhatikan.”

 

“Jangan!” Mata Le Di menjadi gelap. “Kau harus membersihkan semuanya sampai ke akarnya, agar tidak menjadi masalah nantinya.”

 

Wajah Le Zhen menjadi muram. “Fei Zhaoxing salah satu Jendral yang langka. Ia selalu menyertaiku dan sangat setia….”

 

“Sudah jangan dibahas lagi, lakukan saja apa yang kukatakan.” Le Di berkata dengan dingin. “Raja mengirim pasukan untuk menyergap He Xia, tapi kita secara rahasia memperingatkannya dengan mengirim surat. Kalau hal ini sampai diketahui Raja, ini akan menjadi alasan untuk menghancurkan keluarga kita sampai habis. Kemasyuran keluarga Le kita hanya sesaat. Kalau Raja memang mencurigai kita dan berhasil menemukan bukti, maka, apa yang terjadi pada Kediaman Jin Anwang juga bisa terjadi pada kita.” Suaranya sangat pelan dan matanya bersirat sinar dingin. Ia mengertakan giginya dan berguman, “Fei Zhaoxing harus mati! Kalau ia mati, tidak ada saksi mata. Bahkan jika Raja curiga, ia tak bisa melakukan apapun pada Ratu dan kau sebagai Jendral Utama.”

 

Le Zhen menampilkan ekspresi ragu-ragu. Ia berpikir sejenak dan akhirnya membuat keputusan bulat. “Aku mengerti.”

 

--

Separuh buah-buah berry itu sudah habis dimakan.

 

Angin dingin bertiup sepanjang malam. Pingting dengan beruntungnya bersembunyi di dalam gua bebatuan, menyelamatkan dirinya dari udara dingin. Langit sudah keabu-abuan, ia berharap cuaca hari ini cukup bersahabat agar Zuiju bisa mencapai perbatasan dan aman berada di tempat Yangfeng, tidak bertemu badai salju lagi.

 

Tiga hari bukan waktu yang lama jika diucapkan tapi juga bukan waktu yang cukup singkat.

 

Meskipun Pingting telah berjanji beberapa hal pada Zuiju, hatinya terasa kosong. Bayinya sedang tenang di dalam rahimnya. Ia tidak lagi merasakan sakit yang akhir-akhir ini selalu bersamanya. Ia sangat, sangat, memikirkan hal itu.

 

Anakku kau akan baik-baik saja.

 

Pingting dengan lembut mengusap perutnya berharap bisa merasakan pergerakan di dalamnya. Anak itu secara perlahan tumbuh semakin besar. Dalam perjalanan mereka, Pingting merasa yakin kalau anak itu menendang perutnya dengan kaki kecilnya.

 

Zuiju bilang anaknya masih sangat kecil dan belum bisa menendang, tapi Pingting tahu pasti anak itu bergerak. Aksi dari sebuah nyawa kecil yang penuh semangat hidup. Setiap gerakan yang ia buat membuat airmata Pingting mengalir.

 

“Anakku, lindungi bibi Zuiju dan lindungi ibumu untuk melewati kesulitan ini.” Pingting dengan lembut mengusap perutnya, membisikan beberapa permohonan.

 

Ia tahu permohonan ini tidak berguna, tapi di mimpinya, ia tahu anak ini memiliki semangat yang gigih seperti ayahnya, mereka berdua memiliki semangat melindungi siapapun.

 

Melindungi?

 

Bibir Pingting sedikit terangkat membuat sebuah senyum. Berry yang di petik Zuiju masih tersisa beberapa. Kulit buah berry mulai berkeriput sedikit, warna mereka tidak lagi sejernih hari kemarin. Pingting merasa pusing, ingatannya kembali ke jalur Lembah Awan.

 

Orang itu telah melewati hutan yang lebat, terjatuh, dan mendarat di tanah yang dipenuhi buah berry.

 

Ia dan Chu Beijie saling bertukar pandangan curiga.

 

Sosok Chu Beijie sangat jelas dibawah sinar bulan, sangat kokoh ,penuh kekuatan dan gagah.

 

Pingting berkata dengan terus terang, “Aku yang memerintahkan mereka untuk mencegahmu mencapai tenda kami, maaf aku lupa memberitahumu.”

 

Mata Chu Beijie yang sedingin mata harimau menatapnya sangat lama. Ia menegadah dan tertawa keras dan berguman pada langit, “Ckck ckck, Chu Beijie kau sungguh bodoh!”

 

Tawanya menembus sampai ke tulang belakang Pingting.

 

Pingting tiba-tiba tersadar, buah berry dalam gengamannya telah remuk dan hancur, tangannya penuh warna merah.

 

Oh, buah berrynya.

 

Saat itu, ia telah memetik beberapa buah berry juga. Pria itu sedang marah. Meskipun ia seorang Jendral hebat, ketika marah, pria itu lebih mirip anak kecil yang sedang merajuk. Ia tidak peduli dengan lukanya sendiri, berpura-pura kuat. Ia tak memperbolehkan Pingting membalut lukanya dan juga tidak mau memakan buah berrynya.

 

Berry itu sangat pahit dan keras, seperti yang sekarang ia genggam.

 

Entah mengapa, pada akhirnya mereka bisa bersatu?

 

Pria itu tersenyum padanya dan mencium bibirnya.

 

Napasnya yang hangat mengalir ke jantung dan paru-parunya seperti menyatakan pada dunia kalau Bai Pingting milik Chu Beijie.

 

Pria itu berkata, “Aku akan menunggumu di Dong Lin.”

 

Pria itu tersenyum, sungguh-sungguh percaya kalau ke depannya hanya akan ada kegembiraan dan kebahagiaan.

 

Apa yang terjadi?

 

Apa yang terjadi kemudian?

 

Sepertinya langit belum mengijinkan mereka untuk bersama, dengan membuat pertikaian. Air mata Pingting mengalir jatuh ke pakaiannya. Dan ia menyadari kalau wajahnya sudah penuh air mata.

 

Tidak, jangan memikirkan pria itu lagi. Hal itu tidak akan berakhir baik. Tak peduli seberapa keras kau berusaha sampai berdarah-darah tidak akan berakhir baik.

 

Jangan dipikirkan lagi, jangan sakiti lagi hatimu.

 

Pingting berusaha mengeluarkan kehangatan itu dari hatinya. Setelah beristirahat semalam ia jadi lebih bertenaga. Ia berbaring di dinding batu, berusaha untuk berdiri. Ia berencana memetik beberapa buah berry segar lagi. Setelah berjalan dua langkah, ia merasakan sakit luar biasa di perut bawahnya seperti di tuduk pisau tajam.

 

“Ah!”

 

Pingting berteriak, memegangi perutnya dan ia terjatuh di tanah.

 

Keringat dingin mulai mengalir.

 

Anakku, anakku tersayang, ada apa?

 

Apa kau tidak suka berry pahit?

 

Apa kau kedinginan?

 

Ayahmu tidak disini, jadi ibu yang akan melindungimu.

 

“Ah! Ah! Semburan rasa sakit di perutnya membuatnya berguling di tanah. Keringat sebesar biji kacang mulai keluar di dahinya, sepuluh jari-jarinya menyengkram tanah, mencakar tanah meninggalkan jejak goresan yang panjang.

 

“Beijie, Beijie….” Ia membelakan matanya, menatap langit abu-abu yang semakin mendekat dan mendekat, menekan kepalanya. “Chu Beijie, dimana kau?”

 

Mengapa kau tidak di dekatku?

 

Kalau kau muncul saat ini, aku bersumpah pada langit, aku akan selalu berada di sampingmu, memainkan kecapi dan bernyanyi untukmu. Asal kau mengenggam tanganku saat ini dan berkata, “Pingting, aku menemukanmu,” aku akan melupakan semuanya. Aku akan melupakan langit yang rusak malam itu, juga bulan yang kejam, di hari tanggal enam.

 

Aku akan mengumpulkan setiap pecahan hatiku di tanah, asal kau muncul saat ini sekarang juga.

 

Aku benar-benar ingin melihatmu. Aku ingin melihatmu.

 

Bukankah kau bilang, kau mencintaiku?

 

Bukankah kau bilang akan segera kembali? Aku menyiksa pikiranku sehingga aku mampu menunggu bulan di tanggal enam muncul, tapi sampai akhir aku tidak bisa melihat sosokmu kembali pulang.

 

Aku ingin melihatmu, cukup satu tatapan atau bayanganmu saja.

 

Kau tahu, tidak ada kata-kata yang bisa mewakilkan keputusasaanku.

 

Kau bilang, kita bersumpah pada bulan untuk tidak pernah saling melawan. Bisakah kita tidak saling berhadapan satu sama lain?

 

Benarkah kita tidak akan pernah saling bermusuhan lagi?

 

“Aku benci kau….”

 

Pingting telah menghabiskan semua tenaganya untuk menangis, sampai ia jatuh ke dalam kegelapan total. Ia hanya menyadari kalau membenci seseorang jauh lebih mudah dibanding melupakannya.

 

--00--

 
 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia