Di
kerajaan Dong Lin.
“Berita
baik! Berita baik, Yang Mulia!”
Pejabat
Senior Chu Zairan memegang laporan militer dan berlari ke dalam istana.
Teriakan gembiranya terdengar jauh sebelum ia memasuki ruangan.
Raja
Dong Lin telah sakit beberapa hari dan selalu merasa pusing. Ratu berada disisi
tempat tidur, menemani Raja. Ia mendengar teriakan dan berbalik untuk melihat
Chu Zairan berlari masuk, “Kabar baik apa?”
“Yang
Mulia Ratu, Panglima Zhen Beiwang telah menarik mundur pasukan. Pertempuran
akhir tidak terjadi.”
Ratu
terkejut dengan berita ini. Ia ragu agak lama, dan akhirnya bertanya dengan
tidak percaya, “Zhen Bei Wang tidak berperang dengan pasukan Yun Chang?”
Tangan
Chu Zairan yang memegang laporan militer mengelengkan kepalanya dan gemetar
beberapa kali kegirangan. “Hampir,
kudengar ketika dua pasukan hampir saling menyerang, Tuan Putri Yun
Chang tiba-tiba muncul dan menyakinkan Tuan Zhen Beiwang untuk menarik mundur
pasukan. Yang Mulia Ratu, ratusan ribu nyawa prajurit Dong Lin telah selamat!”
“Ulangi
apa yang kau katakana.” Suara lemah seorang pria dari tempat tidur.
“Ah,
Yang Mulia Raja! Yang Mulia sudah bangun?” Ratu segera berbalik dan membantu
Raja untuk duduk. “Hati-hati, Yang Mulia. Tabib bilang kau harus sembuh dengan
tenang.”
Tangan
Raja Dong Lin menyibakan tangan Ratu untuk membuang jauh-jauh ide itu.
Tatapannya jatuh pada Chu Zairan. “Pejabat Senior, tolong ulangi lagi. Apa yang
dilakukan Zhen Beiwang?”
“Melapor
pada Yang Mulia, Tuan Besar Zhen Beiwang telah menarik mundur pasukan. Pasukan
Dong Lin dan Yun Chang tidak bertempur.” Meskipun Chu Zairan sangat tua, ia
masih ada tenaga cadangan.
“Oh?”
Raja meresap kata-kata Chu Zairan, ia masih sulit untuk menerima berita luar
biasa ini. Matanya agak kuning karena sakit, tapi saat ini sinar matanya
sedikit bersemangat. Tangannya memegang pundak Ratu ia mengamati ke depan
sebelum berkata, “Mana laporannya? Biar kulihat.”
Chu
Zairan segera memberikan laporan itu dengan kedua tangannya.
Ratu
sangat khawatir dengan Raja yang terlalu bersemangat. Ia membantu Raja membuka
laporannya. Dan Raja membacanya sambil berbaring di bantal.
Raja
membacanya dua kali sebelum menghela napas lega. Ia merasakan tubuhnya sedikit
mengigil, kesakitan dan sesak yang ia rasakan beberapa hari sebelumnya seperti mengalir
menghilang. Ia menyerahkan laporan itu pada Ratu, yang kemudian merapikannya
kembali dan tersenyum, “Aku tahu adikku, adik masih memikirkan seluruh
situasi…. Uhuk…. Uhuk uhuk uhuk….. uhuk…” Raja tiba-tiba mulai terbatuk terus
menerus.
Ratu
segera memijat punggungnya untuk melancarkan napasnya. Ia berkata dengan
lembut, “Kau harus lebih memperhatikan tubuhmu, Yang Mulia, perang sudah
berakhir, dan Tuan Besar Zhen Beiwang sudah menghentikan kegilaannya. Kalau
Yang Mulia bisa sehat kembali, tentunya merupakan berkah bagi seluruh rakyat
Dong Lin.”
Raja
bersusah payah menahan sakit di punggungnya. Ia menarik napas dalam beberapa
kali sebelum bertanya, “Dimana letak pasukan sekarang?”
“Mereka
sedang bergerak kembali ke ibukota. Tuan Besar Zhen Beiwang sudah memberikan
perintah, begitu mereka tiba di perbatasan semua dibubarkan dan kembali ke
posisi masing-masing.”
Raja
berpikir beberapa saat, dan akhirnya memberikan perintah, “Tulislah perintah,
Pejabat Senior, lalu kirimkan pada Zhen Beiwang dengan kuda tercepat. Katakan
padanya, surat yang kutulis sebelumnya karena aku sedang emosi. Keluarga
kerajaan Dong Lin hanya ada dua bersaudara, dan aku masih sangat
mengharapkannya. Katakan padanya untuk kembali secepat mungkin dan jangan
pernah meninggalkan ibukota lagi.”
Chu
Zairan agak ragu sebelum melangkah mendekat dan berbisik, “Yang Mulia, Tuan
Besar Zhen Beiwang sudah tidak bersama pasukan. Yang memimpin pasukan saat ini,
adalah Chen Mu.”
Raja
dan Ratu Dong Lin sangat terkejut.
“Tidak
bersama pasukan?” alis Raja yang baru saja mulai santai mulai mengerut lagi. Ia
berusaha untuk duduk tegak, “Apa lagi ini?”
“Jendral
yang menyampaikan berita mengatakan, setelah Tuan Besar Zhen Beiwang
memerintahkan untuk mundur, ia menyerahkan bendera komando pada Chen Mu,
setelah itu ia berkuda sendiri, dan sekarang, keberadaannya tidak diketahui.”
Langit
yang jernih yang baru dating, tiba-tiba tertutup awan hujan lagi. Raja menghela
napas, dan berbaring kembali ke tempat tidur.
“Ada
berita dari Bai Pingting?” Ratu menyela bertanya.
“Keberadaan
Bai Pingting saat ini juga tidak diketahui. Ada sebuah berita…” Chu Zairan
mengangkat matanya untuk melihat ekspresi Raja.
“Lanjutkan,
katakan saja Pejabat Senior.”
“Ini…
ini hanya kabar burung, belum dipastikan kebenarannya.” Chu Zairan membungkuk
sambil mengatakannya, “Sepertinya ketika Bai Pingting dibawa He Xia, ia sudah…”
Ratu
tersentak oleh kata-kata ini dan segera berkata, “Sudah apa?”
“….
sudah mengandung darah daging Tuan Besar Zhen Beiwang.”
Setelah
kata-kata ini terucapkan, bukan hanya Ratu tapi Raja juga sangat terkejut.
“Benarkah?”
“Yang
Mulia, ini baru kabar burung….”
“Darah
keluarga kerajaan Dong Lin telah dikirim ke tangan He Xia?” Mata Raja melebar
karena marah, napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan ia terbatuk panjang.
Hati
Ratu menjadi beku sedingin es. Ia dengan kikuk membantu meringankan sakit Raja,
air matanya mulai mengalir. Melihat batuk Raja sudah berhenti, ia segera
berdiri dan berlutut sambil menangis, “Yang Mulia, ini salahku! Ini hasil dari dosaku.”
Raja
diam agak lama, dan akhirnya ia menghela napas panjang. “Ratu tidak bersalah,
ini kesalahanku sepenuhnya. Ini sungguh lelucon dari langit, keturunan kerajaan
Dong Lin belum berakhir….. Pejabat Senior.”
“Disini.”
“Segera
tulis perintah dan kirim beberapa orang untuk menemukan Bai Pingting. Ia dan anak
dalam kandungannya harus dilindungi.” Lalu Raja menambahkan dengan pelan,
“Ketika ia ditemukan, katakan padanya, selama ia bersedia melahirkan anak
adiku, aku akan memberikannya kedudukan sebagai istri resmi dari Tuan Besar
Zhen Beiwang.”
Kondisi
tubuh Raja sudah tidak seperti sebelumnya. Setelah Dong Lin kehilangan dua
Pangeran kecil mereka, maka yang berikutnya berhak mewarisi takhta adalah Zhen
Beiwang dan keturunannya.
--
Gunung
Songsen terbentang beberapa ratus mil. Musim dingin membuat dataran sepi, tapi
pohon pinus masih berdiri tegak. Zuiju telah mengumpulkan jarum pinus agar bisa
melakukan akupuntur pada Pingting untuk perjalanan mereka selanjutnya.
Perawatannya selama ini telah memungkinkan Pingting untuk melakukan perjalanan
sampai sejauh ini.
Mereka
berdua tahu, doa mereka pada langit tidak pernah terjawab. Berdoa pada bumi
tidak terlalu berhasil. Mereka hanya bisa menggunakan kemampuan mereka untuk
bertahan hidup. Meskipun sangat sulit, mereka hanya bisa meneruskannya tanpa
pernah sekalipun mengucapkan kata lelah.
Kadang
nadi Pingting sangat bagus, tapi terkadang juga mengkhawatirkan. Warna putih
dari hutan dan gunung terbentang luas di kaki langit. Jarak yang harus ditempuh
sepertinya semakin jauh dari hari ke hari. Mereka berdua pernah tersesat
beberapa kali di hutan gunung. Mereka berputar-putar sampai akhirnya bisa
menemukan arah yang benar dengan sangat sulit.
Kaki
Pingting akhir-akhir ini menjadi lebih lemas. Sepertinya satu langkah menjadi
lebih melelahkan dibanding sepuluh langkah. Pingting tahu ia tak mungkin
bertahan lebih lama lagi, tapi ia tak mau membuat Zuiju khawatir jadi ia diam
saja.
Di
siang hari ini, mereka akhirnya telah mencapai area bebatuan. Di area itu
tumbuh tanaman berry yang bisa berbuah bahkan ketika musim dingin berlangsung.
Meskipun rasanya tidak enak, tapi bagi mereka berdua buah itu sangat bagus.
“Duduklah
Nona. Aku akan memetik beberapa untuk kita.” Zuiju membantu Pingting duduk. Tak
lama kemudian, ia membawa tumpukan berry berwarna merah tua dan unggu diikat di
rok bajunya. Cabang-cabang tumbuhan berry berbuah lebat tapi juga berduri
banyak, mengakibatkan banyak luka di tangan Zuiju.
Mereka
telah merasakan penderitaan yang sangat parah selama perjalanan, jadi Zuiju
tidak memperhatikan luka di tangannya sama sekali. Ia meletakan buah berry yang
dipetiknya di depan Pingting dan mereka berdua memakannya sambil menikmati
kehangatan matahari untuk memenuhi perut mereka yang kosong.
“Kita
hampir menyebrangi gunung Songsen yak an?”
“Benar.”
“Oh,
akhirnya kita hampir sampai. Ketika anakmu lahir nanti, kita harus
memberitahunya semua perjuangan perjalanan ini sampai kesetiap detilnya. Kita
harus memberitahunya kalau ibunya berjuang sangat keras untuk…” Zuiju berkata
sambil melirik ke arah Pingting.
Pingting
duduk sambil menjulurkan kakinya dan bersandar di batu. Wajahnya menampak
seperti menahan rasa sakit yang amat sangat, Zuiju merasa sangat gelisah.
“Nona?”
ia berbisik, berusaha membangunkannya. Ia berlutut, “Nona Bai?”
“Hmm?”
Pingting bergerak sedikit, dan membuka matanya. sudut bibirnya tebuka dan
berkata, “Zuiju…”
Zuiju
mulai merasa gugup. “Kenapa, Nona Bai?” ia segera memeriksa nadi Pingting.
Pingting
berusaha menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya.
Ia
memberi isyarat pada Zuiju untuk mendekat, sampai ia bisa berbisik di telinga
Zuiju, “Gunung Songseng membelah wilayah Yun Chang dan Bei Mo. Kalau kau turun
kesana, kau akan segera memasuki perbatasan Bei Mo. Kediaman kecil Yangfeng dan
Ze Yin di sisi sebelah sana gunung Songsen. Kau pergilah….”
“Tidak!”
Zuiju mulai menangis, menatap pada pandangan kosong Pingting. “Nona, apa yang
kau katakana? Kita tetap bersama. Kita hampir sampai, sudah begitu dekat.
Lihat, aku menemukan beberapa tanaman obat, aku akan merebusnya untukmu. Dan…
dan aku butuh jarum, aku sudah mengumpulkan jarum pinus, cukup kuat untuk
digunakan.”
“Zuiju….”
“Tidak
mau! Tidak mau!”
Pingting
sangat tenang dan yakin. Kali ini, ia terlihat sangat tidak berdaya.
“Zuiju,
aku benar-benar tidak dapat melanjutkan sama sekali. Kalau saja tidak ada kau,
aku pasti sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan sama sekali sejak beberapa
hari sebelumnya.” Pingting tersenyum pahit.
Zuiju
menatapnya, merasakan hawa dingin di punggungnya. Ia berbalik dan menatap
sekitarnya.
Jalan
setapak bersalju itu nampak mengerikan sekali.
“Nona…”
bibir Zuiju bergetar. Ia merasaka ketakutan yang luar biasa menyelubunginya.
“Aku
hanya bisa mengandalkanmu sekarang. Ini peta, pergilah, temukan Yangfeng.” Pingting
mengigit bibirnya, sambil menahan sakit, berusaha mengeluarkan peta yang
disembunyikannya di balik bajunya. “Ze Yin seorang Jendral. Ia pasti
menempatkan beberapa orang di sekitar gunung. Kalau kau bertemu dengannya,
segera minta ia mengirim seseorang untuk menjemputku.”
Zuiju
menggelengkan kepalanya. “Kalau kau tidak bisa berjalan, aku akan
menggendongmu. Aku masih punya tenaga…”
“Itu
hanya akan membuat kita berdua mati. kita tidak punya cukup makanan dan aku
takut tidak ada lagi area bebatuan di depan. Kau masih ada tenaga. Kalau kau
berjalan sendiri, seharusnya kau bisa turun gunung dalam dua hari. Orang-orang
Ze Yin sudah berpengalaman di wilayah gunung, mungkin mereka bisa menemukan
tempat ini dalam sehari.”
“Tidak,
aku jelas tidak mau melakukannya.”
Dua
mata Pingting menatapnya, suaranya sedikit lebih keras. “Kalau kau
menggendongku, kau tidak akan bisa menuruni gunung ini bahkan dalam sepuluh
hari.” Pingting benar-benar sudah kehabisan energy. Ia sangat kelelahan dan
dadanya mulai terasa sakit. Ia mengangkat kepalanya, berkata dengan susah payah
sambil memberikan petanya pada Zuiju, “Ambilah!”
Zuiju
menerima petanya, hatinya di penuhi kepanikan.
Ia
tahu Pingting sedang sekarat. Kalau Pingting memiliki sedikit ide saja, ia tahu
Pingting pasti tidak akan menghentikan langkahnya.
Zuiju
benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan berpisah.
“Pergilah,
temukan Yangfeng, katakan padanya utnuk mengirim orang terbaiknya untuk
menemukanku. Kedatangan mereka, seharusnya hanya butuh dua hari.” Pingting
melihat sekelilingnya, “Di area bebatuan ini seharusnya ada tempat untuk aku
berlindung dari angin dan hujan, dan ada berry untuk makananku. Aku akan
menunggu disini.”
Zuiju
menyengkeram petanya.
Seluruh
kekuatanya yang tersisa sepertinya terkumpul di tangannya. Peta yang sudah
lusuh itu seperti hendak hancur di tangannya.
“Aku
mengerti.” Seperti hendak berpisah seabad, Zuiju akhirnya mampu bersuara tegas.
Ia menatap Pingting dalam-dalam, “Aku akan cepat-cepat mencari Yangfeng dan
memintanya untuk mengirim pendaki gunung terbaiknya kesini, sambil membawa
gingseng terbaik. Aku akan membuat persiapan disana, jadi mereka akan siap
begitu kau tiba.”
Pingting
menatap lembut padanya, ujung bibirnya naik keatas membuat senyuman ringan. Ia
tersenyum, “Benar, benar sekali.” Ia menggerakan tangannya dan mengambil tusuk
rambutnya, tangannya bergetar agak lama. Bagaimanapun ia berusaha tangannya tak
bisa mencapainya.
Zuiju
terlihat cemas melihatnya. Ia membantunya mengambil tusuk rambut itu dan
menyerahkannya pada Pingting.
Pingting
tidak mengambilnya, ia berkata, “Kau ambilah. Ini diberikan oleh Yangfeng
padaku, seharusnya ini bisa menjadi bukti.”
Zuiju
tidak menjawabnya. Setelah agak lama, Zuiju hanya diam saja menatap Pingting.
Pingting
tahu, Zuiju sangat khawatir, ia terbatuk sekali, “Zuiju.”
“Hm.”
“Pergilah.”
Zuiju
menjawab. Ada sedikit isakan dalam suaranya. Ia perlahan berdiri, tangannya
mengenggam peta erat-erat dan tusuk rambut giok di tangan satunya lagi. “Nona,
aku akan pergi sekarang.” Ia ragu agak lama dan akhirnya berbalik dan melangkah
menjauh.
Pingting
memperhatikannya dengan matanya, melihat punggungnya yang perlahan menghilang
di area bebatuan. Akhirnya Pingting bernapas lega. Ia berpikir untuk
mengerahkan sisa tenaganya untuk memeriksa sekitarnya tapi, ia benar-benar
kehabisan tenaga. Ia lalu berpikir untuk beristirahat, karena ia sekarang tidak
perlu terburu-buru melakukan perjalanan. Pingting memejamkan matanya, kepalanya
bersandar di batu. Tak lama kemudian ia membuka matanya karena mendengar suara
langkah kaki.
“Nona.”
Zuiju telah kembali, di tangannya penuh buah berry. “Aku akan meletakan ini
disini.” Zuiju dengan hati-hati meletakan buah itu di depan Pingting dan
berdiri. Ia menatap Pingting beberapa saat, lalu berkata, “Aku akan benar-benar
pergi kali ini.”
“Zuiju,”
Pingting melihat punggungnya.
Zuiju
segera berbalik dan mendekatinya. “Kenapa?”
Pingting
menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum, “Tidak apa-apa, kau harus
berhati-hati. Semakin cepat kau turun, semakin cepat kau bisa beristirahat.”
“Iya,
aku mengerti.” Zuiju menganggukkan kepalanya.
Kali
ini, Zuiju benar-benar pergi.
--
Perang
yang hampir terjadi, telah dicegah oleh sebuah percakapan pribadi, antara Tuan
Putri Yun Chang dan Chu Beijie. Semua orang telah mengharapkan sungai darah
tapi tiba-tiba batal. Dua orang yang paling merasa salah perhitungan adalah,
dua kepala negara lainnya.
Dulu,
Raja Gui Li berpikir, begitu He Xia, pemimpin Jin Anwang berikutnya, memperoleh
kemasyuran karena berhasil membuat pasukan Dong Lin mundur, akan segera
memperoleh kekuasaan penuh militer sebagai balasan yang pantas dari Raja. Raja
Gui Li, He Su, yang baru saja naik takhtah selama setahun menjebak He Xia,
membuatnya seolah merencanakan pemberontakan dihari kepulangannya untuk
menerima penghargaan.
Dibawah
rencana yang luar biasa dipersiapkan dengan matang, keluarga terpandang selama
ratusan tahun, hancur dalam sekejab.
Bagaimana
mungkin He Xia melupakan dendam seperti itu?
Ketika
mendengar Chu Beijie mengerahkan pasukan Dong Lin dan hendak melawan He Xia
sampai akhir, peperangan sampai mati. Raja Gui Li menunggu dengan gembira.
Sungguh sulit mengambarkan dengan kata-kata, kegembiraan yang dirasakannya saat
itu.
Pasukan
Gui Li telah bersiap disuatu tempat. Begitu He Xia dikalahkan, Gui Li akan
segera bergabung dalam peperangan, menghancurkan pos permeriksaan Yun Chang.
Lalu, mereka akan melakukan serangan langsung pada He Xia, satu-satunya orang
yang sangat dibenci Raja Gui Li.
Siapa
menyangka kalau Tuan Putri Yun Chang akan muncul dan menghancurkan semua
rencana yang telah ia persiapkan.
“Itu
bukan Tuan Putri Yun Chang.” Raja Gui Li melepaskan mahkotanya dan
merenggangkan otot-ototnya. Ia telah mendengarkan laporan selama setengah hari
dan akhirnya bisa mengeluarkan beberapa kesimpulan.
“Yang
Mulia?” Le Di, seorang Pejabat tua, bertanya dengan terkejut. “Apa Yang Mulia
berpikir kalau laporannya salah?”
“Bukan,
Maksudku, bukan Tuan Putri Yaotian yang membuat Chu Beijie menarik mundur
pasukannya.” Raja mengangkat wajahnya menatap langit sambil medesah berat.
Ekspresinya memancarkan kesepian yang di sudut hatinya yang dalam. “Itu Bai
Pingting.”
Ekspresi
Le Di berubah, “Bai Pingting? Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang?”
Mengapa
ia selalu mendengar nama itu? Wanita itu hanya seorang pelayan dari Kediaman
Jin Anwang. Ia bisa memainkan beberapa lagu dengan kecapi, tapi mengapa ia
terlibat langsung dengan seluruh kejadian ini?
Bahkan
Ratu menyinggung namanya dalam pembicaraan pribadi mereka berdua.
“Pejabat
Senior pasti tidak percaya juga. Chu Beijie adalah seorang pahlawan, tapi ia
mendeklarasikan perang hanya demi seorang wanita biasa. Kemudian, wanita biasa
itu juga yang menghentikan perang. Dan sekarang setelah kupikir-pikir, nasib
Yun Chang dan Dong Lin sepenuhnya terletak di tangan satu wanita ini.”
Le
Di tidak setuju, “Yang Mulia terlalu berlebihan. Seorang wanita seharusnya diam
di rumah, memikirkan bagaimana melayani suami dan ayah mereka. Chu Beijie
sungguh bodoh melakukan hal itu hanya demi seorang wanita, dan pemikiran
seperti itu adalah salah didikan. Ia pernah memimpin pasukan dan mengotori
tanah Gui Li. Sekarang melihatnya menghancurkan dirinya sendiri, sungguh
kegembiraan terbesar bagi Gui Li.
Raja
melihat pada si pengirim pesan yang berdiri di samping, diam saja tak bisa
berkata-kata. Sudut bibir Raja tiba-tiba naik dan ia tersenyum. Ia mungkin
tersenyum tapi mungkin juga tidak. “Biar aku memberitahu Pejabat senior,
sesuatu yang menarik. Ketika Bai Pingting direbut oleh He Xia, dibawa dari Dong Lin menuju Yun Chang, aku telah
mengirim pasukan untuk menyergap mereka di wilayah Dong Lin, berharap untuk
membawa Bai Pingting kembali ke Gui Li.”
“Apa?”
Le Di sangat terkejut mendengarnya.
“Aku
tidak merundingkan hal ini dengan Pejabat Senior karena, aku tahu Pejabat
Senior tidak akan setuju.” Dari samping, ekspresi Raja memperlihatkan ketetapan
hati dan kekeras kepalaan. “Sebenarnya, aku telah memikirkan beberapa
pertanyaan belakangan ini. Bai Pingting, seorang pelayan rendah dari Kediaman
Jin Anwang, dan telah berada di bawah pengawasanku selama bertahun-tahun. He
Xia dan Chu Beijie saat ini berperang untuk dirinya, artinya nilai dirinya
ratusan kali berlipat ganda di banding sebelumnya. Kalau aku tahu akan jadi
seperti ini, bukankah sebaiknya aku memasukan Bai Pingting ke istana sebagai
salah satu selirku.” Pembicaraan ini sangat mengejutkan dan tiba-tiba bergeser
membicarakan selir.
Ekspresi
Le Di berubah, jantungnya berdetak kencang seperti kincir angin yang berputar
karena angin menerjangnya dengan cepat. Anak perempuan satu-satunya saat ini
adalah Ratu Gui Li. Karena anak permpuannya telah menjadi ibu negara, maka
keluarga Le bersinar terang seperti matahari di saat siang. Ia secara alami
memperoleh kekuasaan militer setelah mengalahkan Jin Anwang.
Le
Di mempertimbangkan sebentar sebelum akhirnya tersenyum tenang. “Yang Mulia
pasti bergurau. Bai Pingting berasal dari kalangan biasa dan statusnya seorang
pelayan. Dan yang sering kudengar wajahnya juga biasa-biasa saja. He Xia
bertindak sejauh ini karena masa lalu mereka, sedangkan Chu Beijie, ia berpikir
pendek dan dibutakan oleh wanita itu.”
“Bergurau?”
Raja Gui Li itu tersenyum kecil. Ia berbalik ke tempat duduknya dan bersandar
di singgasananya. Kata-katanya memperingatkan, “Pejabat Senior, kau salah
besar.”
“Oh?”
“Kecantikan
Bai Pingting tidak terletak pada wajahnya tapi kepintaran dan kepribadiannya.
Kalau kita mau membahas ini, maka, semua Ratu dari empat negara sama sekali
tidak bisa dibandingkannya. Kalau tidak, bagaimana bisa seorang pahlawan
seperti Chu Beijie dengan cepat menarik mundur pasukannya hanya dengan selembar
surat dari Bai Pingting?” Raja menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Kau
dan aku tahu, tindakan Chu Beijie, benar-benar tidak seperti biasanya.” Raja
tersenyum pahit.
Le
Di tidak tahu harus berkata apa lagi. Mereka mendengar seorang penjaga
berteriak, “Ratu telah tiba.”
Mendengar
suara langkah akrab yang terburu-buru, pintu aula terbuka pelan, menampilkan
wajah tersenyum Ratu Gui Li.
“Oh,
Ratu disini.” Le Di secara diam-diam merasa lega karena pembicaraan tentang Bai
Pingting terhenti disini. Ia segera bangun dari kursinya.
“Yang
Mulia.” Ratu berlutut pada Raja Gui Li sebelum berbalik menuju Le Di. “Ayah
juga berada disini? Duduklah.” Ia berkata dengan suara lembut. Ia duduk sambil
membuka pembicaraan dengan berisik. “Cuaca hari ini sungguh tidak bisa ditebak.
Aku khawatir kaki ayah kambuh lagi, aku berencana mengirimkan obat untuk ayah.
Meskipun masalah negara penting, tapi ayah harus memperhatikan kesehatan juga.”
Setelah Ratu berkata sebanyak itu, ia berbalik dan tersenyum pada Raja. “Apa
Raja akan terjaga sepanjang malam lagi? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
Raja
tersenyum hangat padanya, menggelengkan kepalanya. “Yun Chang dan Dong Lin
sudah tidak terlibat peperangan lagi, tidak ada masalah tentang itu. Kami hanya
membicarakan tentang Bai Pingting.”
Ratu
mendengar nama Bai Pingting disebut dan jantungnya serasa lompat. Tapi ekspresi
wajahnya tidak berubah. “Dari yang kudengar ia mengikuti He Xia ke Yun Chang.
Aku penasaran bagaimana kabarnya sekarang.”
“Apa
Ratu sudah tahu, Chu Beijie menarik mundur seluruh pasukannya hanya karena
selembar surat dari Bai Pingting.”
“Hal
seperti itu bisa terjadi?” Ratu menarik napas panjang sambil berbisik pelan.
Aula
tiba-tiba menjadi sunyi.
Raja
dan Le Di melanjutkan pembahasan masalah negara. Le Di meninggalkan istana
ketika hari sudah sangat terang. Begitu ia keluar dan menaiki keretanya, ia
berguman, “Kita pergi ke kediaman Jendral Utama, cepatlah!”
Si
kusir segera memacu kudanya menuju kediaman Jendral Utama. Jendral Le Zhen dan
selirnya telah berpesta dan minum-minum sepanjang malam, sehingga mereka masih
tertidur ketika mendengar kedatangan ayahnya. Le Zhen segera turun dari tempat
tidurnya.
“Mengapa
kau disini ayah? Ada masalah? Kalau ada perlu suruh seseorang menyampaikan
pesan.” Le Zhen berkata ketika menyambut ayahnya di gerbang sebelum melihat
ekspresi muram ayahnya.
Le
Di diam saja. Ia berjalan menuju ruang kerja. Begitu mereka tiba di kantor, ia
melihat ke kiri dan kanan sebelum menutup sendiri pintunya. Ia menghela napas
lega dan berkata dengan pelan, “Raja sudah mulai curiga.”
Le
Zhen berkata, “Apa” dan ia bertanya lagi dengan penasaran, “Apa yang dikatakan
Yang Mulia Raja?”
“Yang
Mulia terus membicarakan Bai Pingting, Yang Mulia berkata, seharusnya ia
menjadikan Bai Pingting sebagai selirnya.” Le Di menatap anaknya dan mengerutu,
“Ini merupakan peringatan bagi kita, kedudukan Ratu bisa digeser.”
“Kediaman
Jin Anwang selama beberapa generasi terus menerus menduduki Jabatan utama. Bai
Pingting tidak bisa diremehkan. Wanita itu tidak hanya berhubungan dengan He
Xia yang saat ini sebagai Suami dari Penguasa Yun Chang, tapi juga Panglima
Zhen Beiwang dari Dong Lin. Ia bahkan memiliki hubungan dengan beberapa Jendral
Bei Mo.”
“Ayah…”
“Apa
kau sudah membereskan orang yang kau kirim untuk memperingati He Xia?”
Le
Zhen menjawab, “Ayah, jangan khawatir. Aku sudah mengatur agar ia meninggalkan
ibukota secepat mungkin. Raja tidak akan memperhatikan.”
“Jangan!”
Mata Le Di menjadi gelap. “Kau harus membersihkan semuanya sampai ke akarnya,
agar tidak menjadi masalah nantinya.”
Wajah
Le Zhen menjadi muram. “Fei Zhaoxing salah satu Jendral yang langka. Ia selalu
menyertaiku dan sangat setia….”
“Sudah
jangan dibahas lagi, lakukan saja apa yang kukatakan.” Le Di berkata dengan
dingin. “Raja mengirim pasukan untuk menyergap He Xia, tapi kita secara rahasia
memperingatkannya dengan mengirim surat. Kalau hal ini sampai diketahui Raja,
ini akan menjadi alasan untuk menghancurkan keluarga kita sampai habis.
Kemasyuran keluarga Le kita hanya sesaat. Kalau Raja memang mencurigai kita dan
berhasil menemukan bukti, maka, apa yang terjadi pada Kediaman Jin Anwang juga
bisa terjadi pada kita.” Suaranya sangat pelan dan matanya bersirat sinar
dingin. Ia mengertakan giginya dan berguman, “Fei Zhaoxing harus mati! Kalau ia
mati, tidak ada saksi mata. Bahkan jika Raja curiga, ia tak bisa melakukan
apapun pada Ratu dan kau sebagai Jendral Utama.”
Le
Zhen menampilkan ekspresi ragu-ragu. Ia berpikir sejenak dan akhirnya membuat
keputusan bulat. “Aku mengerti.”
--
Separuh
buah-buah berry itu sudah habis dimakan.
Angin
dingin bertiup sepanjang malam. Pingting dengan beruntungnya bersembunyi di
dalam gua bebatuan, menyelamatkan dirinya dari udara dingin. Langit sudah
keabu-abuan, ia berharap cuaca hari ini cukup bersahabat agar Zuiju bisa
mencapai perbatasan dan aman berada di tempat Yangfeng, tidak bertemu badai
salju lagi.
Tiga
hari bukan waktu yang lama jika diucapkan tapi juga bukan waktu yang cukup
singkat.
Meskipun
Pingting telah berjanji beberapa hal pada Zuiju, hatinya terasa kosong. Bayinya
sedang tenang di dalam rahimnya. Ia tidak lagi merasakan sakit yang akhir-akhir
ini selalu bersamanya. Ia sangat, sangat, memikirkan hal itu.
Anakku kau akan
baik-baik saja.
Pingting
dengan lembut mengusap perutnya berharap bisa merasakan pergerakan di dalamnya.
Anak itu secara perlahan tumbuh semakin besar. Dalam perjalanan mereka,
Pingting merasa yakin kalau anak itu menendang perutnya dengan kaki kecilnya.
Zuiju
bilang anaknya masih sangat kecil dan belum bisa menendang, tapi Pingting tahu
pasti anak itu bergerak. Aksi dari sebuah nyawa kecil yang penuh semangat
hidup. Setiap gerakan yang ia buat membuat airmata Pingting mengalir.
“Anakku,
lindungi bibi Zuiju dan lindungi ibumu untuk melewati kesulitan ini.” Pingting
dengan lembut mengusap perutnya, membisikan beberapa permohonan.
Ia
tahu permohonan ini tidak berguna, tapi di mimpinya, ia tahu anak ini memiliki
semangat yang gigih seperti ayahnya, mereka berdua memiliki semangat melindungi
siapapun.
Melindungi?
Bibir
Pingting sedikit terangkat membuat sebuah senyum. Berry yang di petik Zuiju
masih tersisa beberapa. Kulit buah berry mulai berkeriput sedikit, warna mereka
tidak lagi sejernih hari kemarin. Pingting merasa pusing, ingatannya kembali ke
jalur Lembah Awan.
Orang
itu telah melewati hutan yang lebat, terjatuh, dan mendarat di tanah yang
dipenuhi buah berry.
Ia
dan Chu Beijie saling bertukar pandangan curiga.
Sosok
Chu Beijie sangat jelas dibawah sinar bulan, sangat kokoh ,penuh kekuatan dan
gagah.
Pingting
berkata dengan terus terang, “Aku yang memerintahkan mereka untuk mencegahmu
mencapai tenda kami, maaf aku lupa memberitahumu.”
Mata
Chu Beijie yang sedingin mata harimau menatapnya sangat lama. Ia menegadah dan
tertawa keras dan berguman pada langit, “Ckck ckck, Chu Beijie kau sungguh
bodoh!”
Tawanya
menembus sampai ke tulang belakang Pingting.
Pingting
tiba-tiba tersadar, buah berry dalam gengamannya telah remuk dan hancur,
tangannya penuh warna merah.
Oh,
buah berrynya.
Saat
itu, ia telah memetik beberapa buah berry juga. Pria itu sedang marah. Meskipun
ia seorang Jendral hebat, ketika marah, pria itu lebih mirip anak kecil yang
sedang merajuk. Ia tidak peduli dengan lukanya sendiri, berpura-pura kuat. Ia
tak memperbolehkan Pingting membalut lukanya dan juga tidak mau memakan buah
berrynya.
Berry
itu sangat pahit dan keras, seperti yang sekarang ia genggam.
Entah
mengapa, pada akhirnya mereka bisa bersatu?
Pria
itu tersenyum padanya dan mencium bibirnya.
Napasnya
yang hangat mengalir ke jantung dan paru-parunya seperti menyatakan pada dunia
kalau Bai Pingting milik Chu Beijie.
Pria
itu berkata, “Aku akan menunggumu di Dong Lin.”
Pria
itu tersenyum, sungguh-sungguh percaya kalau ke depannya hanya akan ada
kegembiraan dan kebahagiaan.
Apa
yang terjadi?
Apa
yang terjadi kemudian?
Sepertinya
langit belum mengijinkan mereka untuk bersama, dengan membuat pertikaian. Air
mata Pingting mengalir jatuh ke pakaiannya. Dan ia menyadari kalau wajahnya
sudah penuh air mata.
Tidak, jangan
memikirkan pria itu lagi. Hal itu tidak akan berakhir baik. Tak peduli seberapa
keras kau berusaha sampai berdarah-darah tidak akan berakhir baik.
Jangan dipikirkan
lagi, jangan sakiti lagi hatimu.
Pingting
berusaha mengeluarkan kehangatan itu dari hatinya. Setelah beristirahat semalam
ia jadi lebih bertenaga. Ia berbaring di dinding batu, berusaha untuk berdiri.
Ia berencana memetik beberapa buah berry segar lagi. Setelah berjalan dua
langkah, ia merasakan sakit luar biasa di perut bawahnya seperti di tuduk pisau
tajam.
“Ah!”
Pingting
berteriak, memegangi perutnya dan ia terjatuh di tanah.
Keringat
dingin mulai mengalir.
Anakku, anakku
tersayang, ada apa?
Apa kau tidak suka
berry pahit?
Apa kau kedinginan?
Ayahmu tidak disini,
jadi ibu yang akan melindungimu.
“Ah!
Ah! Semburan rasa sakit di perutnya membuatnya berguling di tanah. Keringat
sebesar biji kacang mulai keluar di dahinya, sepuluh jari-jarinya menyengkram
tanah, mencakar tanah meninggalkan jejak goresan yang panjang.
“Beijie,
Beijie….” Ia membelakan matanya, menatap langit abu-abu yang semakin mendekat
dan mendekat, menekan kepalanya. “Chu Beijie, dimana kau?”
Mengapa kau tidak di
dekatku?
Kalau kau muncul
saat ini, aku bersumpah pada langit, aku akan selalu berada di sampingmu, memainkan
kecapi dan bernyanyi untukmu. Asal kau mengenggam tanganku saat ini dan
berkata, “Pingting, aku menemukanmu,” aku akan melupakan semuanya. Aku akan
melupakan langit yang rusak malam itu, juga bulan yang kejam, di hari tanggal
enam.
Aku akan mengumpulkan
setiap pecahan hatiku di tanah, asal kau muncul saat ini sekarang juga.
Aku benar-benar
ingin melihatmu. Aku ingin melihatmu.
Bukankah kau bilang,
kau mencintaiku?
Bukankah kau bilang
akan segera kembali? Aku menyiksa pikiranku sehingga aku mampu menunggu bulan
di tanggal enam muncul, tapi sampai akhir aku tidak bisa melihat sosokmu
kembali pulang.
Aku ingin melihatmu,
cukup satu tatapan atau bayanganmu saja.
Kau tahu, tidak ada
kata-kata yang bisa mewakilkan keputusasaanku.
Kau bilang, kita
bersumpah pada bulan untuk tidak pernah saling melawan. Bisakah kita tidak
saling berhadapan satu sama lain?
Benarkah kita tidak
akan pernah saling bermusuhan lagi?
“Aku
benci kau….”
Pingting
telah menghabiskan semua tenaganya untuk menangis, sampai ia jatuh ke dalam
kegelapan total. Ia hanya menyadari kalau membenci seseorang jauh lebih mudah
dibanding melupakannya.
--00--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar