Jumat, 13 Januari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.47

-- Volume 2 chapter 47 --


Di kerajaan Dong Lin.

 

“Berita baik! Berita baik, Yang Mulia!”

 

Pejabat Senior Chu Zairan memegang laporan militer dan berlari ke dalam istana. Teriakan gembiranya terdengar jauh sebelum ia memasuki ruangan.

 

Raja Dong Lin telah sakit beberapa hari dan selalu merasa pusing. Ratu berada disisi tempat tidur, menemani Raja. Ia mendengar teriakan dan berbalik untuk melihat Chu Zairan berlari masuk, “Kabar baik apa?”

 

“Yang Mulia Ratu, Panglima Zhen Beiwang telah menarik mundur pasukan. Pertempuran akhir tidak terjadi.”

 

Ratu terkejut dengan berita ini. Ia ragu agak lama, dan akhirnya bertanya dengan tidak percaya, “Zhen Bei Wang tidak berperang dengan pasukan Yun Chang?”

 

Tangan Chu Zairan yang memegang laporan militer mengelengkan kepalanya dan gemetar beberapa kali kegirangan. “Hampir,  kudengar ketika dua pasukan hampir saling menyerang, Tuan Putri Yun Chang tiba-tiba muncul dan menyakinkan Tuan Zhen Beiwang untuk menarik mundur pasukan. Yang Mulia Ratu, ratusan ribu nyawa prajurit Dong Lin telah selamat!”

 

“Ulangi apa yang kau katakana.” Suara lemah seorang pria dari tempat tidur.

 

“Ah, Yang Mulia Raja! Yang Mulia sudah bangun?” Ratu segera berbalik dan membantu Raja untuk duduk. “Hati-hati, Yang Mulia. Tabib bilang kau harus sembuh dengan tenang.”

 

Tangan Raja Dong Lin menyibakan tangan Ratu untuk membuang jauh-jauh ide itu. Tatapannya jatuh pada Chu Zairan. “Pejabat Senior, tolong ulangi lagi. Apa yang dilakukan Zhen Beiwang?”

 

“Melapor pada Yang Mulia, Tuan Besar Zhen Beiwang telah menarik mundur pasukan. Pasukan Dong Lin dan Yun Chang tidak bertempur.” Meskipun Chu Zairan sangat tua, ia masih ada tenaga cadangan.

 

“Oh?” Raja meresap kata-kata Chu Zairan, ia masih sulit untuk menerima berita luar biasa ini. Matanya agak kuning karena sakit, tapi saat ini sinar matanya sedikit bersemangat. Tangannya memegang pundak Ratu ia mengamati ke depan sebelum berkata, “Mana laporannya? Biar kulihat.”

 

Chu Zairan segera memberikan laporan itu dengan kedua tangannya.

 

Ratu sangat khawatir dengan Raja yang terlalu bersemangat. Ia membantu Raja membuka laporannya. Dan Raja membacanya sambil berbaring di bantal.

 

Raja membacanya dua kali sebelum menghela napas lega. Ia merasakan tubuhnya sedikit mengigil, kesakitan dan sesak yang ia rasakan beberapa hari sebelumnya seperti mengalir menghilang. Ia menyerahkan laporan itu pada Ratu, yang kemudian merapikannya kembali dan tersenyum, “Aku tahu adikku, adik masih memikirkan seluruh situasi…. Uhuk…. Uhuk uhuk uhuk….. uhuk…” Raja tiba-tiba mulai terbatuk terus menerus.

 

Ratu segera memijat punggungnya untuk melancarkan napasnya. Ia berkata dengan lembut, “Kau harus lebih memperhatikan tubuhmu, Yang Mulia, perang sudah berakhir, dan Tuan Besar Zhen Beiwang sudah menghentikan kegilaannya. Kalau Yang Mulia bisa sehat kembali, tentunya merupakan berkah bagi seluruh rakyat Dong Lin.”

 

Raja bersusah payah menahan sakit di punggungnya. Ia menarik napas dalam beberapa kali sebelum bertanya, “Dimana letak pasukan sekarang?”

 

“Mereka sedang bergerak kembali ke ibukota. Tuan Besar Zhen Beiwang sudah memberikan perintah, begitu mereka tiba di perbatasan semua dibubarkan dan kembali ke posisi masing-masing.”

 

Raja berpikir beberapa saat, dan akhirnya memberikan perintah, “Tulislah perintah, Pejabat Senior, lalu kirimkan pada Zhen Beiwang dengan kuda tercepat. Katakan padanya, surat yang kutulis sebelumnya karena aku sedang emosi. Keluarga kerajaan Dong Lin hanya ada dua bersaudara, dan aku masih sangat mengharapkannya. Katakan padanya untuk kembali secepat mungkin dan jangan pernah meninggalkan ibukota lagi.”

 

Chu Zairan agak ragu sebelum melangkah mendekat dan berbisik, “Yang Mulia, Tuan Besar Zhen Beiwang sudah tidak bersama pasukan. Yang memimpin pasukan saat ini, adalah Chen Mu.”

 

Raja dan Ratu Dong Lin sangat terkejut.

 

“Tidak bersama pasukan?” alis Raja yang baru saja mulai santai mulai mengerut lagi. Ia berusaha untuk duduk tegak, “Apa lagi ini?”

 

“Jendral yang menyampaikan berita mengatakan, setelah Tuan Besar Zhen Beiwang memerintahkan untuk mundur, ia menyerahkan bendera komando pada Chen Mu, setelah itu ia berkuda sendiri, dan sekarang, keberadaannya tidak diketahui.”

 

Langit yang jernih yang baru dating, tiba-tiba tertutup awan hujan lagi. Raja menghela napas, dan berbaring kembali ke tempat tidur.

 

“Ada berita dari Bai Pingting?” Ratu menyela bertanya.

 

“Keberadaan Bai Pingting saat ini juga tidak diketahui. Ada sebuah berita…” Chu Zairan mengangkat matanya untuk melihat ekspresi Raja.

 

“Lanjutkan, katakan saja Pejabat Senior.”

 

“Ini… ini hanya kabar burung, belum dipastikan kebenarannya.” Chu Zairan membungkuk sambil mengatakannya, “Sepertinya ketika Bai Pingting dibawa He Xia, ia sudah…”

 

Ratu tersentak oleh kata-kata ini dan segera berkata, “Sudah apa?”

 

“…. sudah mengandung darah daging Tuan Besar Zhen Beiwang.”

 

Setelah kata-kata ini terucapkan, bukan hanya Ratu tapi Raja juga sangat terkejut. “Benarkah?”

 

“Yang Mulia, ini baru kabar burung….”

 

“Darah keluarga kerajaan Dong Lin telah dikirim ke tangan He Xia?” Mata Raja melebar karena marah, napasnya tiba-tiba menjadi sesak dan ia terbatuk panjang.

 

Hati Ratu menjadi beku sedingin es. Ia dengan kikuk membantu meringankan sakit Raja, air matanya mulai mengalir. Melihat batuk Raja sudah berhenti, ia segera berdiri dan berlutut sambil menangis, “Yang Mulia, ini salahku! Ini hasil dari dosaku.”

 

Raja diam agak lama, dan akhirnya ia menghela napas panjang. “Ratu tidak bersalah, ini kesalahanku sepenuhnya. Ini sungguh lelucon dari langit, keturunan kerajaan Dong Lin belum berakhir….. Pejabat Senior.”

 

“Disini.”

 

“Segera tulis perintah dan kirim beberapa orang untuk menemukan Bai Pingting. Ia dan anak dalam kandungannya harus dilindungi.” Lalu Raja menambahkan dengan pelan, “Ketika ia ditemukan, katakan padanya, selama ia bersedia melahirkan anak adiku, aku akan memberikannya kedudukan sebagai istri resmi dari Tuan Besar Zhen Beiwang.”

 

Kondisi tubuh Raja sudah tidak seperti sebelumnya. Setelah Dong Lin kehilangan dua Pangeran kecil mereka, maka yang berikutnya berhak mewarisi takhta adalah Zhen Beiwang dan keturunannya.

 

--

Gunung Songsen terbentang beberapa ratus mil. Musim dingin membuat dataran sepi, tapi pohon pinus masih berdiri tegak. Zuiju telah mengumpulkan jarum pinus agar bisa melakukan akupuntur pada Pingting untuk perjalanan mereka selanjutnya. Perawatannya selama ini telah memungkinkan Pingting untuk melakukan perjalanan sampai sejauh ini.

 

Mereka berdua tahu, doa mereka pada langit tidak pernah terjawab. Berdoa pada bumi tidak terlalu berhasil. Mereka hanya bisa menggunakan kemampuan mereka untuk bertahan hidup. Meskipun sangat sulit, mereka hanya bisa meneruskannya tanpa pernah sekalipun mengucapkan kata lelah.

 

Kadang nadi Pingting sangat bagus, tapi terkadang juga mengkhawatirkan. Warna putih dari hutan dan gunung terbentang luas di kaki langit. Jarak yang harus ditempuh sepertinya semakin jauh dari hari ke hari. Mereka berdua pernah tersesat beberapa kali di hutan gunung. Mereka berputar-putar sampai akhirnya bisa menemukan arah yang benar dengan sangat sulit.

 

Kaki Pingting akhir-akhir ini menjadi lebih lemas. Sepertinya satu langkah menjadi lebih melelahkan dibanding sepuluh langkah. Pingting tahu ia tak mungkin bertahan lebih lama lagi, tapi ia tak mau membuat Zuiju khawatir jadi ia diam saja.

 

Di siang hari ini, mereka akhirnya telah mencapai area bebatuan. Di area itu tumbuh tanaman berry yang bisa berbuah bahkan ketika musim dingin berlangsung. Meskipun rasanya tidak enak, tapi bagi mereka berdua buah itu sangat bagus.

 

“Duduklah Nona. Aku akan memetik beberapa untuk kita.” Zuiju membantu Pingting duduk. Tak lama kemudian, ia membawa tumpukan berry berwarna merah tua dan unggu diikat di rok bajunya. Cabang-cabang tumbuhan berry berbuah lebat tapi juga berduri banyak, mengakibatkan banyak luka di tangan Zuiju.

 

Mereka telah merasakan penderitaan yang sangat parah selama perjalanan, jadi Zuiju tidak memperhatikan luka di tangannya sama sekali. Ia meletakan buah berry yang dipetiknya di depan Pingting dan mereka berdua memakannya sambil menikmati kehangatan matahari untuk memenuhi perut mereka yang kosong.

 

“Kita hampir menyebrangi gunung Songsen yak an?”

 

“Benar.”

 

“Oh, akhirnya kita hampir sampai. Ketika anakmu lahir nanti, kita harus memberitahunya semua perjuangan perjalanan ini sampai kesetiap detilnya. Kita harus memberitahunya kalau ibunya berjuang sangat keras untuk…” Zuiju berkata sambil melirik ke arah Pingting.

 

Pingting duduk sambil menjulurkan kakinya dan bersandar di batu. Wajahnya menampak seperti menahan rasa sakit yang amat sangat, Zuiju merasa sangat gelisah.

 

“Nona?” ia berbisik, berusaha membangunkannya. Ia berlutut, “Nona Bai?”

 

“Hmm?” Pingting bergerak sedikit, dan membuka matanya. sudut bibirnya tebuka dan berkata, “Zuiju…”

 

Zuiju mulai merasa gugup. “Kenapa, Nona Bai?” ia segera memeriksa nadi Pingting.

 

Pingting berusaha menarik tangannya dan menggelengkan kepalanya.

 

Ia memberi isyarat pada Zuiju untuk mendekat, sampai ia bisa berbisik di telinga Zuiju, “Gunung Songseng membelah wilayah Yun Chang dan Bei Mo. Kalau kau turun kesana, kau akan segera memasuki perbatasan Bei Mo. Kediaman kecil Yangfeng dan Ze Yin di sisi sebelah sana gunung Songsen. Kau pergilah….”

 

“Tidak!” Zuiju mulai menangis, menatap pada pandangan kosong Pingting. “Nona, apa yang kau katakana? Kita tetap bersama. Kita hampir sampai, sudah begitu dekat. Lihat, aku menemukan beberapa tanaman obat, aku akan merebusnya untukmu. Dan… dan aku butuh jarum, aku sudah mengumpulkan jarum pinus, cukup kuat untuk digunakan.”

 

“Zuiju….”

 

“Tidak mau! Tidak mau!”

 

Pingting sangat tenang dan yakin. Kali ini, ia terlihat sangat tidak berdaya.

 

“Zuiju, aku benar-benar tidak dapat melanjutkan sama sekali. Kalau saja tidak ada kau, aku pasti sudah tidak bisa melanjutkan perjalanan sama sekali sejak beberapa hari sebelumnya.” Pingting tersenyum pahit.

 

Zuiju menatapnya, merasakan hawa dingin di punggungnya. Ia berbalik dan menatap sekitarnya.

 

Jalan setapak bersalju itu nampak mengerikan sekali.

 

“Nona…” bibir Zuiju bergetar. Ia merasaka ketakutan yang luar biasa menyelubunginya.

 

“Aku hanya bisa mengandalkanmu sekarang. Ini peta, pergilah, temukan Yangfeng.” Pingting mengigit bibirnya, sambil menahan sakit, berusaha mengeluarkan peta yang disembunyikannya di balik bajunya. “Ze Yin seorang Jendral. Ia pasti menempatkan beberapa orang di sekitar gunung. Kalau kau bertemu dengannya, segera minta ia mengirim seseorang untuk menjemputku.”

 

Zuiju menggelengkan kepalanya. “Kalau kau tidak bisa berjalan, aku akan menggendongmu. Aku masih punya tenaga…”

 

“Itu hanya akan membuat kita berdua mati. kita tidak punya cukup makanan dan aku takut tidak ada lagi area bebatuan di depan. Kau masih ada tenaga. Kalau kau berjalan sendiri, seharusnya kau bisa turun gunung dalam dua hari. Orang-orang Ze Yin sudah berpengalaman di wilayah gunung, mungkin mereka bisa menemukan tempat ini dalam sehari.”

 

“Tidak, aku jelas tidak mau melakukannya.”

 

Dua mata Pingting menatapnya, suaranya sedikit lebih keras. “Kalau kau menggendongku, kau tidak akan bisa menuruni gunung ini bahkan dalam sepuluh hari.” Pingting benar-benar sudah kehabisan energy. Ia sangat kelelahan dan dadanya mulai terasa sakit. Ia mengangkat kepalanya, berkata dengan susah payah sambil memberikan petanya pada Zuiju, “Ambilah!”

 

Zuiju menerima petanya, hatinya di penuhi kepanikan.

 

Ia tahu Pingting sedang sekarat. Kalau Pingting memiliki sedikit ide saja, ia tahu Pingting pasti tidak akan menghentikan langkahnya.

 

Zuiju benar-benar tidak menyangka kalau mereka akan berpisah.

 

“Pergilah, temukan Yangfeng, katakan padanya utnuk mengirim orang terbaiknya untuk menemukanku. Kedatangan mereka, seharusnya hanya butuh dua hari.” Pingting melihat sekelilingnya, “Di area bebatuan ini seharusnya ada tempat untuk aku berlindung dari angin dan hujan, dan ada berry untuk makananku. Aku akan menunggu disini.”

 

Zuiju menyengkeram petanya.

 

Seluruh kekuatanya yang tersisa sepertinya terkumpul di tangannya. Peta yang sudah lusuh itu seperti hendak hancur di tangannya.

 

“Aku mengerti.” Seperti hendak berpisah seabad, Zuiju akhirnya mampu bersuara tegas. Ia menatap Pingting dalam-dalam, “Aku akan cepat-cepat mencari Yangfeng dan memintanya untuk mengirim pendaki gunung terbaiknya kesini, sambil membawa gingseng terbaik. Aku akan membuat persiapan disana, jadi mereka akan siap begitu kau tiba.”

 

Pingting menatap lembut padanya, ujung bibirnya naik keatas membuat senyuman ringan. Ia tersenyum, “Benar, benar sekali.” Ia menggerakan tangannya dan mengambil tusuk rambutnya, tangannya bergetar agak lama. Bagaimanapun ia berusaha tangannya tak bisa mencapainya.

 

Zuiju terlihat cemas melihatnya. Ia membantunya mengambil tusuk rambut itu dan menyerahkannya pada Pingting.

 

Pingting tidak mengambilnya, ia berkata, “Kau ambilah. Ini diberikan oleh Yangfeng padaku, seharusnya ini bisa menjadi bukti.”

 

Zuiju tidak menjawabnya. Setelah agak lama, Zuiju hanya diam saja menatap Pingting.

 

Pingting tahu, Zuiju sangat khawatir, ia terbatuk sekali, “Zuiju.”

 

“Hm.”

 

“Pergilah.”

 

Zuiju menjawab. Ada sedikit isakan dalam suaranya. Ia perlahan berdiri, tangannya mengenggam peta erat-erat dan tusuk rambut giok di tangan satunya lagi. “Nona, aku akan pergi sekarang.” Ia ragu agak lama dan akhirnya berbalik dan melangkah menjauh.

 

Pingting memperhatikannya dengan matanya, melihat punggungnya yang perlahan menghilang di area bebatuan. Akhirnya Pingting bernapas lega. Ia berpikir untuk mengerahkan sisa tenaganya untuk memeriksa sekitarnya tapi, ia benar-benar kehabisan tenaga. Ia lalu berpikir untuk beristirahat, karena ia sekarang tidak perlu terburu-buru melakukan perjalanan. Pingting memejamkan matanya, kepalanya bersandar di batu. Tak lama kemudian ia membuka matanya karena mendengar suara langkah kaki.

 

“Nona.” Zuiju telah kembali, di tangannya penuh buah berry. “Aku akan meletakan ini disini.” Zuiju dengan hati-hati meletakan buah itu di depan Pingting dan berdiri. Ia menatap Pingting beberapa saat, lalu berkata, “Aku akan benar-benar pergi kali ini.”

 

“Zuiju,” Pingting melihat punggungnya.

 

Zuiju segera berbalik dan mendekatinya. “Kenapa?”

 

Pingting menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum, “Tidak apa-apa, kau harus berhati-hati. Semakin cepat kau turun, semakin cepat kau bisa beristirahat.”

 

“Iya, aku mengerti.” Zuiju menganggukkan kepalanya.

 

Kali ini, Zuiju benar-benar pergi.

 

--

Perang yang hampir terjadi, telah dicegah oleh sebuah percakapan pribadi, antara Tuan Putri Yun Chang dan Chu Beijie. Semua orang telah mengharapkan sungai darah tapi tiba-tiba batal. Dua orang yang paling merasa salah perhitungan adalah, dua kepala negara lainnya.

 

Dulu, Raja Gui Li berpikir, begitu He Xia, pemimpin Jin Anwang berikutnya, memperoleh kemasyuran karena berhasil membuat pasukan Dong Lin mundur, akan segera memperoleh kekuasaan penuh militer sebagai balasan yang pantas dari Raja. Raja Gui Li, He Su, yang baru saja naik takhtah selama setahun menjebak He Xia, membuatnya seolah merencanakan pemberontakan dihari kepulangannya untuk menerima penghargaan.

 

Dibawah rencana yang luar biasa dipersiapkan dengan matang, keluarga terpandang selama ratusan tahun, hancur dalam sekejab.

 

Bagaimana mungkin He Xia melupakan dendam seperti itu?

 

Ketika mendengar Chu Beijie mengerahkan pasukan Dong Lin dan hendak melawan He Xia sampai akhir, peperangan sampai mati. Raja Gui Li menunggu dengan gembira. Sungguh sulit mengambarkan dengan kata-kata, kegembiraan yang dirasakannya saat itu.

 

Pasukan Gui Li telah bersiap disuatu tempat. Begitu He Xia dikalahkan, Gui Li akan segera bergabung dalam peperangan, menghancurkan pos permeriksaan Yun Chang. Lalu, mereka akan melakukan serangan langsung pada He Xia, satu-satunya orang yang sangat dibenci Raja Gui Li.

 

Siapa menyangka kalau Tuan Putri Yun Chang akan muncul dan menghancurkan semua rencana yang telah ia persiapkan.

 

“Itu bukan Tuan Putri Yun Chang.” Raja Gui Li melepaskan mahkotanya dan merenggangkan otot-ototnya. Ia telah mendengarkan laporan selama setengah hari dan akhirnya bisa mengeluarkan beberapa kesimpulan.

 

“Yang Mulia?” Le Di, seorang Pejabat tua, bertanya dengan terkejut. “Apa Yang Mulia berpikir kalau laporannya salah?”

 

“Bukan, Maksudku, bukan Tuan Putri Yaotian yang membuat Chu Beijie menarik mundur pasukannya.” Raja mengangkat wajahnya menatap langit sambil medesah berat. Ekspresinya memancarkan kesepian yang di sudut hatinya yang dalam. “Itu Bai Pingting.”

 

Ekspresi Le Di berubah, “Bai Pingting? Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang?”

 

Mengapa ia selalu mendengar nama itu? Wanita itu hanya seorang pelayan dari Kediaman Jin Anwang. Ia bisa memainkan beberapa lagu dengan kecapi, tapi mengapa ia terlibat langsung dengan seluruh kejadian ini?

 

Bahkan Ratu menyinggung namanya dalam pembicaraan pribadi mereka berdua.

 

“Pejabat Senior pasti tidak percaya juga. Chu Beijie adalah seorang pahlawan, tapi ia mendeklarasikan perang hanya demi seorang wanita biasa. Kemudian, wanita biasa itu juga yang menghentikan perang. Dan sekarang setelah kupikir-pikir, nasib Yun Chang dan Dong Lin sepenuhnya terletak di tangan satu wanita ini.”

 

Le Di tidak setuju, “Yang Mulia terlalu berlebihan. Seorang wanita seharusnya diam di rumah, memikirkan bagaimana melayani suami dan ayah mereka. Chu Beijie sungguh bodoh melakukan hal itu hanya demi seorang wanita, dan pemikiran seperti itu adalah salah didikan. Ia pernah memimpin pasukan dan mengotori tanah Gui Li. Sekarang melihatnya menghancurkan dirinya sendiri, sungguh kegembiraan terbesar bagi Gui Li.

 

Raja melihat pada si pengirim pesan yang berdiri di samping, diam saja tak bisa berkata-kata. Sudut bibir Raja tiba-tiba naik dan ia tersenyum. Ia mungkin tersenyum tapi mungkin juga tidak. “Biar aku memberitahu Pejabat senior, sesuatu yang menarik. Ketika Bai Pingting direbut oleh He Xia, dibawa  dari Dong Lin menuju Yun Chang, aku telah mengirim pasukan untuk menyergap mereka di wilayah Dong Lin, berharap untuk membawa Bai Pingting kembali ke Gui Li.”

 

“Apa?” Le Di sangat terkejut mendengarnya.

 

“Aku tidak merundingkan hal ini dengan Pejabat Senior karena, aku tahu Pejabat Senior tidak akan setuju.” Dari samping, ekspresi Raja memperlihatkan ketetapan hati dan kekeras kepalaan. “Sebenarnya, aku telah memikirkan beberapa pertanyaan belakangan ini. Bai Pingting, seorang pelayan rendah dari Kediaman Jin Anwang, dan telah berada di bawah pengawasanku selama bertahun-tahun. He Xia dan Chu Beijie saat ini berperang untuk dirinya, artinya nilai dirinya ratusan kali berlipat ganda di banding sebelumnya. Kalau aku tahu akan jadi seperti ini, bukankah sebaiknya aku memasukan Bai Pingting ke istana sebagai salah satu selirku.” Pembicaraan ini sangat mengejutkan dan tiba-tiba bergeser membicarakan selir.

 

Ekspresi Le Di berubah, jantungnya berdetak kencang seperti kincir angin yang berputar karena angin menerjangnya dengan cepat. Anak perempuan satu-satunya saat ini adalah Ratu Gui Li. Karena anak permpuannya telah menjadi ibu negara, maka keluarga Le bersinar terang seperti matahari di saat siang. Ia secara alami memperoleh kekuasaan militer setelah mengalahkan Jin Anwang.

 

Le Di mempertimbangkan sebentar sebelum akhirnya tersenyum tenang. “Yang Mulia pasti bergurau. Bai Pingting berasal dari kalangan biasa dan statusnya seorang pelayan. Dan yang sering kudengar wajahnya juga biasa-biasa saja. He Xia bertindak sejauh ini karena masa lalu mereka, sedangkan Chu Beijie, ia berpikir pendek dan dibutakan oleh wanita itu.”

 

“Bergurau?” Raja Gui Li itu tersenyum kecil. Ia berbalik ke tempat duduknya dan bersandar di singgasananya. Kata-katanya memperingatkan, “Pejabat Senior, kau salah besar.”

 

“Oh?”

 

“Kecantikan Bai Pingting tidak terletak pada wajahnya tapi kepintaran dan kepribadiannya. Kalau kita mau membahas ini, maka, semua Ratu dari empat negara sama sekali tidak bisa dibandingkannya. Kalau tidak, bagaimana bisa seorang pahlawan seperti Chu Beijie dengan cepat menarik mundur pasukannya hanya dengan selembar surat dari Bai Pingting?” Raja menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Kau dan aku tahu, tindakan Chu Beijie, benar-benar tidak seperti biasanya.” Raja tersenyum pahit.

 

Le Di tidak tahu harus berkata apa lagi. Mereka mendengar seorang penjaga berteriak, “Ratu telah tiba.”

 

Mendengar suara langkah akrab yang terburu-buru, pintu aula terbuka pelan, menampilkan wajah tersenyum Ratu Gui Li.

 

“Oh, Ratu disini.” Le Di secara diam-diam merasa lega karena pembicaraan tentang Bai Pingting terhenti disini. Ia segera bangun dari kursinya.

 

“Yang Mulia.” Ratu berlutut pada Raja Gui Li sebelum berbalik menuju Le Di. “Ayah juga berada disini? Duduklah.” Ia berkata dengan suara lembut. Ia duduk sambil membuka pembicaraan dengan berisik. “Cuaca hari ini sungguh tidak bisa ditebak. Aku khawatir kaki ayah kambuh lagi, aku berencana mengirimkan obat untuk ayah. Meskipun masalah negara penting, tapi ayah harus memperhatikan kesehatan juga.” Setelah Ratu berkata sebanyak itu, ia berbalik dan tersenyum pada Raja. “Apa Raja akan terjaga sepanjang malam lagi? Apa ada sesuatu yang terjadi?”

 

Raja tersenyum hangat padanya, menggelengkan kepalanya. “Yun Chang dan Dong Lin sudah tidak terlibat peperangan lagi, tidak ada masalah tentang itu. Kami hanya membicarakan tentang Bai Pingting.”

 

Ratu mendengar nama Bai Pingting disebut dan jantungnya serasa lompat. Tapi ekspresi wajahnya tidak berubah. “Dari yang kudengar ia mengikuti He Xia ke Yun Chang. Aku penasaran bagaimana kabarnya sekarang.”

 

“Apa Ratu sudah tahu, Chu Beijie menarik mundur seluruh pasukannya hanya karena selembar surat dari Bai Pingting.”

 

“Hal seperti itu bisa terjadi?” Ratu menarik napas panjang sambil berbisik pelan.

 

Aula tiba-tiba menjadi sunyi.

 

Raja dan Le Di melanjutkan pembahasan masalah negara. Le Di meninggalkan istana ketika hari sudah sangat terang. Begitu ia keluar dan menaiki keretanya, ia berguman, “Kita pergi ke kediaman Jendral Utama, cepatlah!”

 

Si kusir segera memacu kudanya menuju kediaman Jendral Utama. Jendral Le Zhen dan selirnya telah berpesta dan minum-minum sepanjang malam, sehingga mereka masih tertidur ketika mendengar kedatangan ayahnya. Le Zhen segera turun dari tempat tidurnya.

 

“Mengapa kau disini ayah? Ada masalah? Kalau ada perlu suruh seseorang menyampaikan pesan.” Le Zhen berkata ketika menyambut ayahnya di gerbang sebelum melihat ekspresi muram ayahnya.

 

Le Di diam saja. Ia berjalan menuju ruang kerja. Begitu mereka tiba di kantor, ia melihat ke kiri dan kanan sebelum menutup sendiri pintunya. Ia menghela napas lega dan berkata dengan pelan, “Raja sudah mulai curiga.”

 

Le Zhen berkata, “Apa” dan ia bertanya lagi dengan penasaran, “Apa yang dikatakan Yang Mulia Raja?”

 

“Yang Mulia terus membicarakan Bai Pingting, Yang Mulia berkata, seharusnya ia menjadikan Bai Pingting sebagai selirnya.” Le Di menatap anaknya dan mengerutu, “Ini merupakan peringatan bagi kita, kedudukan Ratu bisa digeser.”

 

“Kediaman Jin Anwang selama beberapa generasi terus menerus menduduki Jabatan utama. Bai Pingting tidak bisa diremehkan. Wanita itu tidak hanya berhubungan dengan He Xia yang saat ini sebagai Suami dari Penguasa Yun Chang, tapi juga Panglima Zhen Beiwang dari Dong Lin. Ia bahkan memiliki hubungan dengan beberapa Jendral Bei Mo.”

 

“Ayah…”

 

“Apa kau sudah membereskan orang yang kau kirim untuk memperingati He Xia?”

 

Le Zhen menjawab, “Ayah, jangan khawatir. Aku sudah mengatur agar ia meninggalkan ibukota secepat mungkin. Raja tidak akan memperhatikan.”

 

“Jangan!” Mata Le Di menjadi gelap. “Kau harus membersihkan semuanya sampai ke akarnya, agar tidak menjadi masalah nantinya.”

 

Wajah Le Zhen menjadi muram. “Fei Zhaoxing salah satu Jendral yang langka. Ia selalu menyertaiku dan sangat setia….”

 

“Sudah jangan dibahas lagi, lakukan saja apa yang kukatakan.” Le Di berkata dengan dingin. “Raja mengirim pasukan untuk menyergap He Xia, tapi kita secara rahasia memperingatkannya dengan mengirim surat. Kalau hal ini sampai diketahui Raja, ini akan menjadi alasan untuk menghancurkan keluarga kita sampai habis. Kemasyuran keluarga Le kita hanya sesaat. Kalau Raja memang mencurigai kita dan berhasil menemukan bukti, maka, apa yang terjadi pada Kediaman Jin Anwang juga bisa terjadi pada kita.” Suaranya sangat pelan dan matanya bersirat sinar dingin. Ia mengertakan giginya dan berguman, “Fei Zhaoxing harus mati! Kalau ia mati, tidak ada saksi mata. Bahkan jika Raja curiga, ia tak bisa melakukan apapun pada Ratu dan kau sebagai Jendral Utama.”

 

Le Zhen menampilkan ekspresi ragu-ragu. Ia berpikir sejenak dan akhirnya membuat keputusan bulat. “Aku mengerti.”

 

--

Separuh buah-buah berry itu sudah habis dimakan.

 

Angin dingin bertiup sepanjang malam. Pingting dengan beruntungnya bersembunyi di dalam gua bebatuan, menyelamatkan dirinya dari udara dingin. Langit sudah keabu-abuan, ia berharap cuaca hari ini cukup bersahabat agar Zuiju bisa mencapai perbatasan dan aman berada di tempat Yangfeng, tidak bertemu badai salju lagi.

 

Tiga hari bukan waktu yang lama jika diucapkan tapi juga bukan waktu yang cukup singkat.

 

Meskipun Pingting telah berjanji beberapa hal pada Zuiju, hatinya terasa kosong. Bayinya sedang tenang di dalam rahimnya. Ia tidak lagi merasakan sakit yang akhir-akhir ini selalu bersamanya. Ia sangat, sangat, memikirkan hal itu.

 

Anakku kau akan baik-baik saja.

 

Pingting dengan lembut mengusap perutnya berharap bisa merasakan pergerakan di dalamnya. Anak itu secara perlahan tumbuh semakin besar. Dalam perjalanan mereka, Pingting merasa yakin kalau anak itu menendang perutnya dengan kaki kecilnya.

 

Zuiju bilang anaknya masih sangat kecil dan belum bisa menendang, tapi Pingting tahu pasti anak itu bergerak. Aksi dari sebuah nyawa kecil yang penuh semangat hidup. Setiap gerakan yang ia buat membuat airmata Pingting mengalir.

 

“Anakku, lindungi bibi Zuiju dan lindungi ibumu untuk melewati kesulitan ini.” Pingting dengan lembut mengusap perutnya, membisikan beberapa permohonan.

 

Ia tahu permohonan ini tidak berguna, tapi di mimpinya, ia tahu anak ini memiliki semangat yang gigih seperti ayahnya, mereka berdua memiliki semangat melindungi siapapun.

 

Melindungi?

 

Bibir Pingting sedikit terangkat membuat sebuah senyum. Berry yang di petik Zuiju masih tersisa beberapa. Kulit buah berry mulai berkeriput sedikit, warna mereka tidak lagi sejernih hari kemarin. Pingting merasa pusing, ingatannya kembali ke jalur Lembah Awan.

 

Orang itu telah melewati hutan yang lebat, terjatuh, dan mendarat di tanah yang dipenuhi buah berry.

 

Ia dan Chu Beijie saling bertukar pandangan curiga.

 

Sosok Chu Beijie sangat jelas dibawah sinar bulan, sangat kokoh ,penuh kekuatan dan gagah.

 

Pingting berkata dengan terus terang, “Aku yang memerintahkan mereka untuk mencegahmu mencapai tenda kami, maaf aku lupa memberitahumu.”

 

Mata Chu Beijie yang sedingin mata harimau menatapnya sangat lama. Ia menegadah dan tertawa keras dan berguman pada langit, “Ckck ckck, Chu Beijie kau sungguh bodoh!”

 

Tawanya menembus sampai ke tulang belakang Pingting.

 

Pingting tiba-tiba tersadar, buah berry dalam gengamannya telah remuk dan hancur, tangannya penuh warna merah.

 

Oh, buah berrynya.

 

Saat itu, ia telah memetik beberapa buah berry juga. Pria itu sedang marah. Meskipun ia seorang Jendral hebat, ketika marah, pria itu lebih mirip anak kecil yang sedang merajuk. Ia tidak peduli dengan lukanya sendiri, berpura-pura kuat. Ia tak memperbolehkan Pingting membalut lukanya dan juga tidak mau memakan buah berrynya.

 

Berry itu sangat pahit dan keras, seperti yang sekarang ia genggam.

 

Entah mengapa, pada akhirnya mereka bisa bersatu?

 

Pria itu tersenyum padanya dan mencium bibirnya.

 

Napasnya yang hangat mengalir ke jantung dan paru-parunya seperti menyatakan pada dunia kalau Bai Pingting milik Chu Beijie.

 

Pria itu berkata, “Aku akan menunggumu di Dong Lin.”

 

Pria itu tersenyum, sungguh-sungguh percaya kalau ke depannya hanya akan ada kegembiraan dan kebahagiaan.

 

Apa yang terjadi?

 

Apa yang terjadi kemudian?

 

Sepertinya langit belum mengijinkan mereka untuk bersama, dengan membuat pertikaian. Air mata Pingting mengalir jatuh ke pakaiannya. Dan ia menyadari kalau wajahnya sudah penuh air mata.

 

Tidak, jangan memikirkan pria itu lagi. Hal itu tidak akan berakhir baik. Tak peduli seberapa keras kau berusaha sampai berdarah-darah tidak akan berakhir baik.

 

Jangan dipikirkan lagi, jangan sakiti lagi hatimu.

 

Pingting berusaha mengeluarkan kehangatan itu dari hatinya. Setelah beristirahat semalam ia jadi lebih bertenaga. Ia berbaring di dinding batu, berusaha untuk berdiri. Ia berencana memetik beberapa buah berry segar lagi. Setelah berjalan dua langkah, ia merasakan sakit luar biasa di perut bawahnya seperti di tuduk pisau tajam.

 

“Ah!”

 

Pingting berteriak, memegangi perutnya dan ia terjatuh di tanah.

 

Keringat dingin mulai mengalir.

 

Anakku, anakku tersayang, ada apa?

 

Apa kau tidak suka berry pahit?

 

Apa kau kedinginan?

 

Ayahmu tidak disini, jadi ibu yang akan melindungimu.

 

“Ah! Ah! Semburan rasa sakit di perutnya membuatnya berguling di tanah. Keringat sebesar biji kacang mulai keluar di dahinya, sepuluh jari-jarinya menyengkram tanah, mencakar tanah meninggalkan jejak goresan yang panjang.

 

“Beijie, Beijie….” Ia membelakan matanya, menatap langit abu-abu yang semakin mendekat dan mendekat, menekan kepalanya. “Chu Beijie, dimana kau?”

 

Mengapa kau tidak di dekatku?

 

Kalau kau muncul saat ini, aku bersumpah pada langit, aku akan selalu berada di sampingmu, memainkan kecapi dan bernyanyi untukmu. Asal kau mengenggam tanganku saat ini dan berkata, “Pingting, aku menemukanmu,” aku akan melupakan semuanya. Aku akan melupakan langit yang rusak malam itu, juga bulan yang kejam, di hari tanggal enam.

 

Aku akan mengumpulkan setiap pecahan hatiku di tanah, asal kau muncul saat ini sekarang juga.

 

Aku benar-benar ingin melihatmu. Aku ingin melihatmu.

 

Bukankah kau bilang, kau mencintaiku?

 

Bukankah kau bilang akan segera kembali? Aku menyiksa pikiranku sehingga aku mampu menunggu bulan di tanggal enam muncul, tapi sampai akhir aku tidak bisa melihat sosokmu kembali pulang.

 

Aku ingin melihatmu, cukup satu tatapan atau bayanganmu saja.

 

Kau tahu, tidak ada kata-kata yang bisa mewakilkan keputusasaanku.

 

Kau bilang, kita bersumpah pada bulan untuk tidak pernah saling melawan. Bisakah kita tidak saling berhadapan satu sama lain?

 

Benarkah kita tidak akan pernah saling bermusuhan lagi?

 

“Aku benci kau….”

 

Pingting telah menghabiskan semua tenaganya untuk menangis, sampai ia jatuh ke dalam kegelapan total. Ia hanya menyadari kalau membenci seseorang jauh lebih mudah dibanding melupakannya.

 

--00--

 
 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar