Selasa, 27 Desember 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.46

-- Volume 2 chapter 46 --



Di pagi hari sekali, cahaya kekuningan muncul di balik lapisan awan tipis.

Suara langkah kaki kuda memecah kesunyian, berlari cepat di jalan bersalju.

Bada, bada, bada bump….

Seekor kuda muncul dari kejauhan dan bendera darurat militer dipasang di belakangnya untuk memastikan ia tidak dihadang dalam perjalanannya.

“Buka gerbang! Cepatlah, buka gerbang kota! Pasukan Dong Lin sudah mundur! Pasukan Dong Lin sudah mundur!”

Si pembawa pesan menoleh ke atas sambil berteriak pada gerbang yang tertutup, ada kegembiraan dalam suaranya meskipun ia sangat lelah.

Para penjaga di gerbang terkejut tidak mempercayai apa yang mereka dengar. Mereka melihat ke bawah dan bertanya, “Apa yang baru saja kau katakana?”

“Cepatlah buka gerbang! Aku harus melapor pada Pejabat Senior. Pasukan Dong Lin mundur!”

“Pasukan Dong Lin sudah mundur! Pasukan Dong Lin mundur! Perang sudah selesai!”

Pintu gerbang yang berat mengeluarkan suara gemuruh ketika perlahan mulai terbuka. Berita tentang pasukan Dong Lin yang mundur segera menyebar melalui udara ke seluruh ibukota Yun Chang, menyirami hati setiap orang.

“Pejabat Senior, Pejabat Senior! Pasukan Dong Lin sudah mundur!”

Meskipun ia telah mempersiap hati, si tua Gui Changqing langsung terburu-buru duduk di tempat tidurnya. “Mereka benar-benar telah mundur?”

“Benar, Tuan Putri sendiri yang pergi untuk bernegosiasi dengan Chu Beijie, dan setelah itu pasukan Dong Lin mundur.” Si pengirim pesan berlutut sambil melaporkan dengan jelas. “Pasukan kita sudah mengirimkan mata-mata dalam jumlah yang banyak untuk memperhatikan pergerakan di dalam pasukan Dong Lin. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Mereka benar-benar mundur.”

Gui Changqing telah selesai mengenakan pakaian yang dibawakan oleh pelayannya, “Dimana Tuan Putri dan Suaminya?”

“Tuan Putri dan Suaminya dalam perjalanan, memimpin pasukan menuju ibukota.”

“Kita harus mempersiapkan penyambutan meriah.” Gui Changqin berbalik, ekspresi wajahnya sangat lembut. “Pergilah, suruh Pejabat Umum untuk segera kemari, dan semua para pejabat yang terkait urusan persediaan, upacara, dan hiburan. Tunggu…” Ia berpikir sejenak, lalu melanjutkan kembali, “Dalam pertempuran antara Dong Lin dan Yun Chang ini, tetap saja ada sejumlah anak-anak Yun Chang yang telah meninggal atau terluka. Panggil Pejabat Militer untuk membicarakan masalah pensiun dan lainnya.”

Si pelayan, yang bertugas untuk menyampaikan perintah segera mengangguk, menulis semua perintah itu dan bergegas pergi.

Suara gemuruh.

Beberapa suara gemuruh terdengar dan sebuah suara sangat kencang, menguncang debu di ujung atap. Semua orang di dalam ruagan sangat terkejut dan ekspresi Gui Changqing berubah. “Apa yang terjadi di ibukota? Segera periksa!”

Tak lama kemudian, si pelayan segera kembali. “Melapor pada Pejabat Senior, kabar pasukan Dong Lin mundur telah mencapai ibukota. Setiap orang bangun dan minum arak, bernyanyi dan berdansa di jalan-jalan. Kembang api dan petasan dinyalakan di mana-mana, toko kembang api terbesar di ibukota telah menyalakan kembang api yang paling besar untuk merayakannya. Suara barusan berasal dari kembang api itu. Apa Pejabat Senior bermaksud memenjarakan mereka?”

Gui Changqing mengerti keadaan saat ini, ia mengelengkan kepalanya dan berkata, “Memenjarakan mereka untuk alasan apa? Siapa yang tidak punya anak atau adik kecil yang bergabung menjadi prajurit? Sekarang perang sudah berakhir, rakyat bergembira, artinya kekhawatiran kita juga akhirnya bisa beristirahat.” Lalu ia memerintahkan, “Panggil seorang pelayan untuk mengelurakan seribu dua ratus koin perak untuk membeli arak. Letakan di halaman depan istana kerajaan agar rakyat bisa dengan bebas mengambilnya.”

Si pelayan tertawa. “Pejabat Senior, gudang bawah dan gudang barang kita penuh, tidak perlu mengeluarkan uang untuk membeli arak dari rakyat.”

“Semua itu untuk digunakan ketika Putri dan Suaminya tiba di istana. Aku takut persediaan kita tidak cukup untuk para Jendral dan prajurit. Sungguh kabar yang mengembirakan!” Memikirkan peperangan artinya membawa kehilangan besar pada negara, dan sebab akibat yang tidak berakhir. Gui Changqing sangat memikirkannya, berkat dirinyalah selama ini Yun Chang memainkan kebijakan politik untuk tidak menyerang negara lain selama bertahun-tahun.

Tak lama kemudian, si pelayan pertama yang disuruhnya pergi telah kembali dan melapor, “Para Pejabat telah tiba dan sekarang sedang menunggu di ruang utama.”

“Baiklah.” Gui Changqing merapikan jubahnya yang besar sekali lagi sebelum melangkah keluar pintu.

Ia melewati jalan utama di kediaman, melewati taman dan berencana berjalan lurus menuju ruang utama. Karena gembira, langkahnya menjadi lebih ringan. Ketika ia tiba di kolam yang tertutup lapisan tipis es, ia mendengar suara salah seorang kurirnya berkata dengan tegang dan kencang, “Lapor! Laporan darurat dari pasukan! Lapor!” suaranya terdengar semakin dekat dan petugas itu yang berteriak dengan putus asa segera berlari mendekat padanya.

Hati Gu Changqing berdebar.

Pasukan Dong Lin sudah mundur, berita darurat apa lagi yang bisa dibawa dari perbatasan?

Apakah situasi telah berubah?

“Kau pergilah,” Gui Changqing berkata pada pelayan yang berada di belakangnya.

Si pembawa pesan telah tiba sebelum ia sempat berbalik.

Gui Changqing menghentikan langkahnya ketika hendak melewati jembatan. Ia berkata pelan, “Apakah pasukan Dong Lin batal mundur?”

Si pembawa pesan baru saja turun dari kuda dan berlari sekencangnya. Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, aku tidak datang dari perbatasan.”

“Oh?’ Gui Changqing perlahan mulai tenang, “Katakan kabar apa yang kau bawa?”

“Melapor pada Pejabat Senior, pos pemeriksaan di gunung Tonglin, Hemeng, Xiaoyang, Yunliao telah diterobos. Si pelaku bukan prajurit Bei Mo tapi seseorang yang datang dari arah Yun Chang.”

Gui Changqing bertanya dengan terkejut, “Hanya seorang pria?”

“Benar.” Bahkan wajah di pembawa pesan menampakan ketidakpercayaan. “Dengan hanya seekor kuda, ia dengan teratur menerobos empat pos pemeriksaan Yun Chang. Pria itu datang tidak terduga. Kemampuan berpedangnya sangat luar biasa. Karena pertempuran dengan Dong Lin, para prajurit dengan kemampuan lebih yang diletakan di pos pemeriksaan, seluruhnya di panggil ke perbatasan, jadi prajurit yang tersisa tidak berani melawan pria ini.”

Gui Changqing berpikir sejenak, lalu ia bertanya, “Jendral Chang yang paling dekat dengan kota itu, apa ia sudah mendengar kabar ini?”

“Para prajurit khusus Jendral Chang juga dibawa serta Suami Ratu. Ketika ia mendengar ini, ia segera mengirim sisa prajuritnya untuk mengalahkan orang ini. Tapi, orang ini terlalu kuat dan lihai. Ia sangat hebat menyembunyikan jejaknya dan hanya muncul ketika di pos pemeriksaan tersisa sedikit prajurit. Ia datang dan pergi dengan tenang, jadi ketika tim utama tiba, bayangannya sudah lama pergi. Jendral Chang tidak bisa berbuat apa-apa pada orang ini, ia hanya bisa memerintahkan untuk menutup seluruh pos pemeriksaan untuk mencegahnya menerobos lagi.”

“Karena ia secara teratur menerobos empat pos pemeriksaan, sepertinya tujuannya bukan untuk mencapai Bei Mo.”

“Bukan, setiap kali orang itu menerobos ia selalu menangkap pemimpin disana dan bertanya tentang seorang wanita. Ia memegang sebuah lukisan di tangannya, lukisan seorang wanita. Ia hanya bertanya apakah para penjaga di pos pemeriksaan pernah melihat wanita itu dan kalau mereka tahu kemana arah tujuannya. Orang ini sangat berani dan sangat terlatih. Kalau seorang prajurit biasa, berhadapan dengannya, bukan hanya pedangnya tapi cukup dengan tatapannya saja sudah membuat prajurit itu ketakutan.”

Akhirnya Gui Changqing bisa menebak apa yang sedang terjadi, dan ia tersenyum, “Apa kau tahu siapa orang itu?”

Si pembawa pesan terkejut dan bertanya, “Orang ini selalu mengenakan kain penutup wajah berwarna hitam, menyamarkan penampilannya, hanya terlihat matanya. Bagaimana Pejabat Senior bisa menebak jati diri orang itu?”

Sudut bibir Gui Changqing naik membentuk seulas senyuman. Ia meletakan tangannya di belakang punggungnya dan menatap langit. Ia menghela napas sambil meratap, “Siapa lagi kalau bukan pria itu? Ia tak lain dan tak bukan, Chu Beijie.”

Berita Pasukan Dong Lin menarik diri baru saja mencapai ibukota, tapi Chu Beijie sudah melewati empat pos pemeriksaan, sugguh kecepatan yang luar biasa.”

Ia pasti segera berangkat begitu selesai menarik mundur pasukan.

Kegelisahan Chu Beijie sangat terlihat jelas.

“Tuan Besar Zhen Beiwang dari Dong Lin?” Si pembawa pesan kembali terkejut, ia melebarkan matanya dan menatap agak lama sebelum ia menghembuskan napas kembali. Ia menggelengkan kepalanya. “Tak heran, ia begitu kuat. Aku akan segera kembali dan menyampaikan berita penting ini pada Jendral Chang.”

Berita militer sangat penting bagi negara. Hanya para prajurit setia dan pintar yang diperbolehkan menjadi pembawa pesan. Pikiran mereka lebih jernih di banding para prajurit lainnya.

Si pembawa pesan sedikit ragu ketika ia berkata, “Aku akan membuat pernyataan, karena Tuan Besar Zhen Beiwang dari Dong Lin telah memimpin pasukan untuk menyerang Yun Chang, oleh karena itu ia adalah musuh Yun Chang. Dan sekarang ia sedang sendirian, berada di perbatasan Yun Chang, ini merupakan kesempatan bagus untuk menghabisinya.”

Gui Changqing berpikir lama tentang ini. Bagaimanapun, Chu Beijie merupakan kekhawatiran bagi tiga negara lainnya juga. Tidak ada yang berniat menyentuhnya. Chu Beijie seorang diri dengan kudanya, keluar masuk perbatasan Yun Chang, seperti memberi umpan makanan pada orang-orang yang kelaparan di gurun. Meskipun Gui Changqing bijaksana dan berpengalaman, ia harus sangat menahan diri dari gagasan – segera mengirim pasukan untuk menangkap Chu Beijie.

Chu Beijie takkan mudah di tangkap.

Di gunung bersalju Songsen, memerintahkan pasukan untuk mengepung seorang jendral terkenal yang mampu bersembunyi dengan sempurna adalah hal mustahil untuk dilakukan.

Sulit untuk menangkap seorang seperti Chu Beijie, tapi jauh lebih sulit lagi menemukan kesempatan bagus.

Apalagi….

“Apa gunanya juga jika mengirim pasukan dan berhasil membunuh Chu Beijie dengan sekali tusukan?” Gui Changqing tersenyum pahit sambil mengelengkan kepalanya, dengan segan berusaha melepaskan ide yang begitu meggodanya. “Kalau berita ini tersebar, pasukan Dong Lin yang sedang mundur akan segera bergegas datang kesana. Saat itu, tak diragukan lagi, akan terjadi pertempuran sampai prajurit terakhir tersisa.”

Kedamaian yang sudah mereka usahakan dengan susah payah akan hancur karena satu hal saja.

Yang seperti itu, Gui Changqing sama sekali tidak ingin mengalaminya.

Si pembawa pesan telah mendengar kehebatan Chu Beijie sejak lama, ia mengerti apa yang dikatakan Gui Changqing memang benar. Ia tak berpikir jauh lagi, sambil berlututu ia berkata, “Saya akan meninggalkan ibukota malam ini. Apa Pejabat Senior masih ada perintah lain?”

“Sampaikan pada Jendral Chang dua hal. Yang pertama, tidak perlu mengirim pasukan untuk menyerang Chu Beijie. Orang ini luar biasa berani dan berbahaya. Mustahil dibunuh, kalau bersikeras hanya akan membuat banyak  prajurit Yun Chang mati sia-sia. Perang baru saja selesai, tidak perlu membuat marah Panglima musuh. Masalah pos pemeriksaan, ia hanya sedang mencari seseorang, tidak berniat melukai, jadi tidak perlu melawannya. Dan yang kedua,….” Gui Changqing ragu sesaat, sebuah kilatan bersinar di matanya. Ia berkata pelan, “Katakan pada semua yang berada di pos pemeriksaan, apapun yang terjadi, jangan sampai Chu Beije bertemu wanita itu.”

“Baik.”

“Ingat baik-baik yang kedua.”

“Baik, aku mengerti.”

Gui Changqing memperhatikannya, prajurit itu terlihat sedikit kecewa ketika ia pergi. Mata Gui Changqing melihat sekelilingnya, ada sebuah kolam kosong di sebelahnya, sebuah jembatan yang tertutup salju, tidak ada seorangpun yang bisa bersembunyi disana tanpa diketahui. Gui Changqing bertanya lagi pada si pembawa pesan, “Apa kau mengenal gunung Songsen dengan baik?”

“Aku selalu ditempatkan di gunung Songsen dan sangat tahu seluk beluk gunung itu.”

“Siapa namamu dan apa jabatanmu di pasukan?”

“Melapor pada Pejabat Senior, namaku Fanlu, jabatanku Wakil Jendral.”

“Aku akan menaikan pangkatmu menjadi Jendral.”

“Eh?” Fanlu terlihat sangat terkejut. Ia menyadari ekspresi serius Gui Changqing, jadi hal ini bukan sekedar becandaan. Matanyanya bersinar sambil ia menjawab dengan kencang, “Terima kasih, Pejabat Senior! Aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk membalas kebaikan Pejabat Senior.”

Gui Changqing melangkah turun dari jembatan, membantu Fanlu untuk berdiri sambil berbisik, “Aku ada permintaan ketiga, hanya untuk kau dengar. Hanya keluar dari mulutku dan masuk ke telingamu.”

“Baik.” Fanlu menjawab dengan tegas dan ia mendekatkan telinganya kea rah Gui Changqing.

“Wanita itu, mungkin berada di sekitar gunung Songsen, tidak boleh bertemu Chu Beijie. Kau harus menemukannya lebih cepat dari Chu Beijie.”

“Membunuh wanita itu?”

“Tidak.” Gui Changqing menjawab dengan berbisik, “jangan sampai ada tanda di tubuhnya kalau itu perbuatan manusia.”

Sekilas sinar kejam yang hanya bisa nampak di mata seorang prajurit muncul di mata Fanlu. “Disana banyak binatang buas yang keluar sepanjang tahun. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”

“Apa kau sudah pernah melihat lukisannya?”

“Belum, hanya orang-orang yang di tangkap Chu Beijie yang pernah melihatnya. Tapi, hanya sedikit wanita yang berani berada di sekitar gunung Songsen.”

“Ingatlah, wanita itu memakai sebuah tusuk rambut giok yang bercahaya. Itu satu-satunya perhiasan yang tak pernah dilepasnya sejak ia berangkat dari Dong Lin sampai Yun Chang.

--

Zuiju lupa sama sekali sudah berapa lama ia menunggu dalam kegelapan. Setiap menit dan setiap detiknya membuat hatinya tersentak. Pernderitaan itu berlanjut berkali-kali dalam kegelapan. Ia mengenggam ringan tangan Pingting, tak mau melepaskannya. Ia takut kalau ia lepaskan, ia akan selamanya kehilangan Pingting. Udara bergemuruh oleh dua tarikan napas.

Oh langit, tolong lindungo Nona Bai dan anaknya melewati rintangan ini.

Ia merasa wajahnya basah. Airmatanya jatuh melewati kulit wajahnya.

“Kapan badai akan selesai?” Zuiju sulit berkata dengan tenang, tanpa menangis.

“Mungkin akan segera berhenti.” Pingting menjawab dengan tenang dan pelan.

Semakin Pingting tenang, semakin Zuiju menjadi panik. Setelah sunyi yang tidak menyenangkan, suara Zuiju terdengar lagi. “Aku benar-benar benci Tuan Besar.” Zuiju berbisik.

“Zuiju.”

“Aku benar-benar benci Tuan Besar, sunggu benci padanya.” Zuiju mengertakan giginya.

Zuiju hanya mampu menyalahkan pria itu dan hanya bisa membenci pria itu. Mengapa, ia memiliki kemampuan begitu luar biasa, tapi wanita yang ia cintai harus menderita seperti ini?

“Semua ini salah Tuan Besar. Semuanya salah dia. Bukankah seharusnya seorang pria melindungi wanita? Seharusnya wanita yang mereka cintai dilindungi dalam telapak tangannya.” Semakin ia berpikir, semakin ia menjadi marah. Semakin ia berucap, semakin ia menjadi gelisah.

Pingting menghela napas dan menarik tangan Zuiju dalam gengamannya. Ia menenangkannya. “Zuiju, jangan dilanjutkan.”

“Tuan Besar seharusnya berada disini. Seharusnya Tuan Besarlah yang menemanimu disini.”

Kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan mengalir keluar, dan akhirnya menghasilkan kesunyian yang menyakitkan. Zuiju baru menyadarinya, ia pasti telah menjadi gila karena badai dan kegelapan.

Chu Beijie, kalau saja Chu Beijie disini, apalah artinya badai seperti ini? Pundaknya yang lebar, bisa melindungi Pingting dari cuaca keras begini.

“Nona, aku….” Zuiju menyesal, “Aku seharusnya tidak menyebut namanya.”

“Kau benar.” Pingting menjawab dengan sedih. “Akan lebih baik kalau ia disini.”

Benar-benar akan lebih baik kalau mereka tidak berpisah, meskipun kekuasaan paling tinggi berusaha melakukannya.

--
Badai menyembunyikan siang. Gunung Songsen telah mejadi putih. Angin mulai melolong, menghantam keras bukit bebatuan, menghasilkan suara siulan yang mewakili ketidakpuasan hati.

Chu Beijie duduk di antara bebatuan, mengayunkan pedangnya di tangannya.

Ia telah menghabiskan hampir seluruh hidupnya dalam peperangan dan melihat badai yang jauh lebih buruk dari yang ini. Ia segera mengamankan dirinya di dalam gua yang paling kokoh ketika mulai memasuki gunung.

Tidak ada tempat untuk badai di hatinya. Ia menunggu badai berlalu dalam diam. Begitu angin berhenti, ia akan segera turun gunung dan berniat memeriksa satu lagi pos pemeriksaan, Suyang.

Suyang, pos pemeriksaan Yun Chang yang paling lemah. Kalau Pingting berniat pergi ke Bei Mo, ia pasti akan memilih untuk melewatinya.

Mungkin juga Pingting sudah melewati pos pemeriksaan Suyang hari ini.

Tapi bagaimana kalau hari inipun tanpa hasil? Sinar di bola mata Chu Beijie mulai meredup.

Beberapa hari belakangan ini, ia telah mencapai empat pos pemeriksaan Yun Chang tapi tak satupun yang telah melihat Pingting. Apakah Pingting tidak menuju Bei Mo?

Hal ini membuatnya sangat khawatir. Kalau ia tetap tinggal di Yun Chang, meskipun Putri Yaotian membebaskannya pergi, tapi He Xia jelas tidak. He Xia akan mengirim pasukan pengejar dan akan tiba dalam satu atau dua hari.

Suara gemuruh yang memekakan telinga terdengar dari langit, dan petir berwarna merah darah seperti memukul hati Chu Beijie, menusuk luka di dadanya dan membuat segalannya mengalir ke dalam kegelapan yang tak pernah berakhir. Tubuhnya terasa kosong, kecuali kegelisahan dan penderitaan yang masih tersisa.

Pinting, dimana kau?

Apa kau dan anakmu berada di gunung, di dalam badai salju, disuatu tempat di jalanan bergelombang?

Aku hanya ingin memelukmu erat, tubuhku melindungi tubuhmu dari salju yang melolong.

Kalau kau mengijinkan aku melakukannya, aku akan menjadi pria paling berbahagia.

“Dimana kau? Dimana kau berada?” Chu Beijie melihat sarung pedangnya. Ukiran bunga di sarungnya mengingatkannya pada tusuk rambut emas yang menghiasi rambut Pingting.

Saat ini, ia sangat merindukan kehangatan Pingting, ia ingin melihat ekspresi tenangnya, dan senyumnya yang sangat percaya diri itu sekali lagi.

Deru angin mulai mereda. Bumi telah gelap, tidak seperti sebelumnya, kali ini menandakan badai akan berakhir.

Wajah Chu Beijie menjadi gembira. Ia segera bergerak keluar.

Kalau ia tidak berhasil di pos pemeriksaan Suyang, berarti Pingting telah menemukan jalan lain menuju Bei Mo.

Dan ia takkan ragu untuk menuju Bei Mo.

Bahkan kalau ia harus berjalan ke ujung dunia, ia harus menemukan Pingting.
--

Zuiju hampir berpikir kalau ia takkan bisa bertahan sampai badai berakhir. Ia telah berdoa dan memohon pada langit dengan cara yang ia tahu, meskipun nadi Pingting masih belum stabil, setidaknya tidak memburuk.

“Sepertinya badai hampir selesai.”

Dalam kegelapan, ia mendengar Pingting menghela napas lega. “Sungguh?” Pingting berusaha duduk dan meluruskan punggung dengan sangat lama. Terlihat seperti seseorang yang sangat kelelahan sedang berjuang dengan napas terakhirnya mencapai tujuannya sampai ia pingsan.

“Nona!” Zuiju menangis dengan panik.

Pingting berusaha menahan dirinya. “Jangan khawatir.” Suaranya sangat lemah.

Zuiju mengeluarkan tangannya dan mengelap dahi Pingting yang penuh keringat. “Apa dadamu terasa kaku?”

“Benar.” Pingting berbisik.

“Salju sudah hampir berhenti.”

Pingting dengan perlahan bergeser agar pintu keluar terlihat. bagian itu tidak dituangkan air maka tidak tertutup blok es. Ujung pakaian dari atap telah jatuh menutupi pintu masuk, penuh embun beku dari badai salju. Pingting mendorong dengan kuat, tapi pakaian dan salju sama sekali tidak bergerak. Setelah beberapa kali mendorong, seberkas cahaya mulai memaksa masuk. Meskipun hanya sedikit, tapi lebih baik daripada kegelapan total. Pingting dan Zuiju segera mengigil, dua kali.

Sungguh dingin, tapi salju sudah hampir berhenti. Suara mengerikan yang mengertakan ranting-ranting perlahan menghilang. Akhirnya, mereka berhasil membuka pintu masuk dan berjuang keluar.

Tenda es itu telah melindungi mereka dari bencana, bersinar cerah di bawah cahaya matahari. Sangat kecil, sehingga terlihat mustahil kalau tenda itu telah membantu dua orang dewasa terbebas dari badai salju.

Udara dingin mengalir melewati hidung mereka, membawa kesegaran khas dari hutan gunung. Mereka telah berhasil bertahan hidup dan melihat sinar matahari di depan mereka, membuat mereka lebih menghargai kehidupan mereka. Semangat mereka segera pulih.

“Nona, ayo kita lanjutkan perjalan kita.”

“Tentu.”

“Ijinkan aku memeriksa nadimu lagi. Apa dadamu masih terasa kaku?”

Pingting mengelengkan kepalanya. “Sudah lebih baik.”

Zuiju mempelajarinya, ragu sesaat.

Pingting memang benar. Badai salju telah menghancurkan seluruh cabang pohon, dan buntelan mereka diterbangkan entah kemana beberapa saat lalu. Mereka sudah tidak memiliki jarum lagi atau juga tumbuhan obat yang dipersiapkan sebelum mendaki gunung.

Zuiju bertanya dengan khawatir. “Apakah kita akan terus?”

“Iya.”

“Kuharap langit terus melindungi kita dan membiarkan kita menemukan beberapa tanaman obat. Tanpa jarum perak, jarum dari dahan cemarapun bisa melakukan sesuatu untuk saat ini.” Zuiju melanjutkan. “Nona duduklah disini sebentar. Aku akan mencari cabang cemara untuk dibuat jarum. Setelah beberapa tusukan kau akan bisa menahan ketidaknyamananmu untuk beberapa saat.”

--00--


Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar