Selasa, 27 Desember 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.45

-- Volume 2 chapter 45 --



Akan selalu ada saja hari yang tidak terduga.

Setelah dua hari panas, langit mulai murka lagi. Awan tebal menggantung di atas, gelap mengelilingi gunung-gunung yang dekat dan gunung-gunung yang jauh.

Zuiju melihat ke langit dan menghela napas. “Sepertinya akan ada badai salju.”

Pingting berbaring di atas batu ketika ia menaiki lereng gunung yang tertidur. Ia sedikit terenggah-enggah dengan diam memperhatikan sosok kabur orang-orang berada jauh di bawahnya. “Gunung Xiaoyang sudah di depan. Setelah itu, pos pemeriksaan dan kita akan tiba di Bei Mo. Masalah badai salju khawatirkan nanti saja.”

Zuiju mengangguk.

Buntelan bawaan mereka telah di curi oleh para petugas ketika mereka menginap di kabin pasangan tua. Mereka sudah tidak memiliki baju atau uang. Terkadang mereka mengobati orang untuk mendapatkan sedikit uang, tapi ini memang masalah penting dalam perjalanan mereka. Tangan mereka yang halus telah berubah menjadi kasar.

Hari ini mereka melihat salah satu pos pemeriksaan untuk memasuki Bei Mo, Gunung Xiaoyang. Mereka berdua sedikit merasa lega. Begitu mereka tiba di Bei Mo, Yangfeng pasti akan menerima mereka. Pingting dan Zuiju saling membantu menuruni lereng. Mereka lebih berhati-hati dibanding ketika mendakinya. Mereka sudah mendapat pengalaman tak terhitung, dalam perjalanan dari ibukota Yun Chang sampai ke tempat itu. Sekarang mereka bersembunyi dengan tenang di jalan kecil hutan, duduk tenang di ujung jalan sambil memperhatikan pergerakan di Gunung Xiaoyang.

Beberapa orang terlihat seperti saudagar membawa kereta, bersiap untuk melewati pos pemeriksaan. Mengetahui badai salju akan segera datang, kepala saudagar menoleh ke langit dengan khawatir. Ia mengeluarkan sekantung uang dan menyerahkannya pada kepala penjaga. Ia memohon, “Tuan, lihatlah cuacanya. Badai salju segera turun, meski kami bisa bertahan, tapi barang-barang kami tidak. Berbaik hatilah, biarkan kami lewat tanpa kegaduhan. Aku lewat jalan ini setiap bulan, tiga atau empat kali, bagaimana mungkin aku tidak diperbolehkan melewatinya hari ini? Biasanya kalian tidak pernah memeriksanya, jadi hari ini mengapa tiba-tiba….”

“Jadi kau menyalahkan kami, hee?” si kepala penjaga mengerutu. “Kami tidak pernah memeriksa karena atasan kami memerintahkan seperti itu. Perang akan dimulai sekarang. Perang, kau mengerti? Ada dokumen tergantung disana dan jika kau cukup terpelajar, bacalah sendiri. Ditulis dengan jelas, tanpa surat ijin, kau tidak bisa melewati pos pemeriksaan.”

Di balik semak-semak, mereka berdua yang turut mendengarkan percakapan itu, saling bertukar pandang.

“Tempat ini seperti Gunung Hemeng, hanya mereka yang memiliki surat ijin yang bisa lewat.” Wajah Zuiju menjadi sedih, “Bagaimana ini, kita sudah menghabiskan tenaga, tergesa-gesa kesini dari Gunung Hemeng.”

Mata hitam Pingting menatap ke balik celah kecil diantara pintu gerbang tua Gunung Xiaoyang. “Sepertinya seluruh pos pemeriksaan dari Yun Chang menuju Bei Mo telah di perintahkan dengan ketat, hanya memperbolehkan mereka yang memiliki surat ijin yang bisa lewat.”

Seharusnya ia telah memikirkan hal ini sebelumnya. Pos pemeriksaan pasti akan luar biasa ketat begitu perang dimulai.

Yun Chang tidak bisa membiarkan serangan tiba-tiba dari Bei Mo yang bisa mengakibatkan kerugian ketika mereka bertempur menghadapi Dong Lin.

“Apa yang akan kita lakukan?”

“Tak ada cara lain.” Pingting menaikkan kepalanya, melihat ke ujung gunung yang tertutup awan gelap.

Jalan gunung ini memisahkan dua negara, Yun Chang dan Bei Mo. Pos pemeriksaan telah ditempatkan di seluruh kaki gunung. Di musim salju, hutan di gunung yang tinggi luar biasa dingin, para binatang kelaparan. Hanya orang gila yang akan melewati jalan itu.

“Nona?” Zuiju terlihat sangat gelisah.

Pingting tersenyum kecil, “Karena kita tidak bisa melewati pos pemeriksaan di sini, kurasa begitu juga dengan Gunung Songsen.”

“Sungguh beresiko…” Zuiju mulai berkata, “Kenapa kita tidak tinggal disekitar perbatasan sebentar dan menunggu…” tatapan Zuiju beralih ke perut Pingting dan ia berhenti berucap.

Pingting menggelengkan kepala. “Pos Pemeriksaan tidak akan lengah, hanya akan bertambah ketat. Putri Yaotian pasti sudah bergegas ke garis depan medan perang saat ini. He Xia pasti akan segera menyadari arah pelarian kita. Aku sangat tahu kemampuan He Xia. Pada saat ia kembali dari medan perang, ia akan segera terjun langsung ke pos pemeriksaan untuk menangkap kita. Ketika itu terjadi, takkan ada lagi kesempatan untuk meninggalkan Yun Chang.”

Zuiju menatap hutan gunung Songsen yang gelap dibawah awan hitam, ia menarik napas panjang dari udara dingin. Bagaimanapun, ia berhasil menenangkan diri. “Sebelum kita mendaki gunung, aku ingin memetik beberapa tumbuhan obat. Rumput Mo untuk mencegah keguguran, rumput itu banyak di kaki gunung.”

Pingting sudah memikirkannya, seharusnya begitu ia berhasil melewati gunung Songsen, pertempuran antara Yun Chang dan Dong Lin sudah terselesaikan, berkat keberhasilan Yaotian mengantarkan suratnya.

--

He Xia duduk di atas kudanya menyaksikan pasukan Dong Lin mundur sebaris demi sebaris.

Asap di udara mulai menghilang.

Setelah ketegangan di tali senar dilepaskan, hanya menyisakan kesepian dan kekecewaan.

Ratusan ribu prajurit telah dikirim untuk kesempatan ini, tapi tiba-tiba orang yang paling berkuasa di Yun Chang muncul di tengah medan peperangan. Saat ini, ia adalah Jendral tertinggi di Yun Chang, dan ia tidak tahu tentang hal ini sama sekali.

Dibawah begitu banyak tatapan pasang mata, Chu Beijie dan Yaotian dengan tenang berbincang-bincang tanpa khawatir, di tengah-tengah dua barisan pasukan.

Ia melihat Chu Beijie menunggang kudanya kembali dan mendengar suara lantang yang memerintahkan pasukan Dong Lin.

Ia sangat mengerti apa yang sedang terjadi.

“Pasukan Dong Lin mundur?”

“Pasukan Dong Lin mundur!”

Dari samping, dari belakang, setiap senti tanah, dari seluruh prajurit Yun Chang yang telah menunggu kematian yang pasti terjadi di medan pertempuran, bergemuruh suara gembira yang mengejutkan.

Penasihatnya datang mendekat, berkata dengan suara pelan, “Suami Ratu, pasukan Dong Lin sudah mundur.”

Mata He Xia tiba-tiba menjadi muram.

Saat itu, ia sangat ingin menarik pedangnya keluar dari sarungnya dan memerintahkan untuk menyerang. Kedua jumlah pasukan kurang lebih seimbang, tapi karena pasukan Dong Lin sedang bergerak mundur maka serangan yang tiba-tiba akan membuat mereka di atas angin.

Selama mereka bergerak sangat cepat ke depan, ia yakin sekali ia mampu memenggal kepala Chu Beijie.

Tangannya mencengkram kuat pangkal pedangnya. He Xia dengan susah payah menahan keinginan kuat yang bergelora di hatinya.

Ia tidak mampu mengeluarkan perintah.

Bahkan jika ia mengeluarkan pedangnya, para prajurit tidak akan mengikuti perintahnya.

Yaotian berada disini, dan bendera dari orang yang paling berkuasa di Yun Chang sedang berkibar. Ia hanya seorang Suami Ratu atau hanya salah seorang Jendral.

“Suami Ratu, pasukan Dong Lin sudah mundur.” Penasihatnya kembali melaporkan dengan berbisik.

Wajah He Xia kelabu, tapi akhirnya muncul sebuah senyum kecil di wajahnya. “Aku melihatnya.”

Ia tersenyum sambil melihat kereta Yaotian yang perlahan bergerak menuju pasukan Yun Chang. Di dalam kereta yang berhias mewah dan rumit itu, istrinya, penguasa Yun Chang duduk.

Seluruh pasukan tiba-tiba terdiam.

Orang yang telah mencegah peperangan adalah penguasa tertinggi Yun Chang dan satu-satunya orang yang dipatuhi seluruh prajurit, Tuan Putri Yaotian.

Kereta dengan perlahan menderap mendekat, akhirnya berhenti di depan pasukan Yun Chang, dan pasukan Dong Lin bergerak mundur di belakangnya. Kereta itu berada di depan ratusan ribu prajurit, termasuk di depan He Xia sendiri.

Yaotian duduk di dalam kereta. Tubuhnya di balut berlapis-lapis pakaian, tebal dan berat, tapi ia bisa merasakan gelombang dingin yang membuatnya gelisah.

Setelah meyakinkan Chu Beijie, ia memiliki masalah sulit lain yang harus dihadapi, sepertinya tatapan tajam He Xia telah menembus tirai jendela yang tipis. Ia tak mampu mengeluarkan keberaniannya, untuk menyibak tirai dan menghadapi He Xia.

Bai Pingting sudah tidak lagi berada di Kediaman Suami Ratu.

Pergi.

Puluhan ribu alasan hal yang terjadi adalah demi kebaikan semuanya, kenyataannya Bai Pingting telah pergi.

Karena itu, ia telah memikirkan banyak alasan untuk menjelaskan hal ini.

Adakah sebuah alasan yang masuk akal dan terhormat bagi penguasa Yun Chang untuk meyakinkan, baik dengan paksaan ataupun kelembutan? Atau menggunakan kejujuran seorang wanita untuk mengatakannya pada He Xia? Mungkin mengeluarkan seluruh kesedihannya sendiri…

Tidak berguna, saat ini, semua itu benar-benar tidak berguna.

Kereta berhenti dalam kesunyian. Dalam pikiran Yaotian hanya ada satu sosok, He Xia, duduk di atas kudanya, di depannya.

Ia mendengar sebuah suara nyaring, pedang di keluarkan dari sarungnya.

Begitu nyaring, begitu manis, sebuah pertanda kebulatan tekad dan ketetapan hati.

Tak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan pedannya dengan cara seperti itu, kecuali pria yang telah mendapatkan seluruh hatinya.

Suamiku, Suamiku, apa kau membenci Yaotian?

Apa kau ingin membunuhku?

Yaotian memejamkan matanya.

He Xia menatap ke dalam kereta, melewati tirai yang tertutup, ketika ia mengeluarkan pedangnya.

Pedangnya sudah keluar, bergetar tak berhenti. He Xia lalu mengangkatnya ke langit, mengeluarkan seluruh tenaganya sampai kelelahan. Ia berteriak, “Panjang umur Tuan Putri.”

“Panjang umur Tuan Putri!”

“Panjang umur Tuan Putri!”

“Hoooraay! Hoooraaay! Panjang umur Tuan Putri!”

Para prajurit di belakangnya mengikutinya, suara mereka seperti petir.

“Hooraay!”

“Panjang umur Tuan Putri!”

Di atas dataran, gema itu terus berlangsung.

Tirai diantara mereka perlahan mulai terangkat, dan sebuah wajah muncul di depan He Xia.

“Putri.”

“Suamiku…” Yaotian berbisik.

“Terima kasih, Putri.”

Yaotian menatap wajah tampan yang tak pernah puas-puasnya, ia berbisik, “Mengapa berterima kasih padaku suamiku? Suamiku tahu aku telah melepaskan Bai Pingting, yang untuk mendapatkannya telah membuat suamiku mencurahkan segenap kemampuannya, demi membuat pasukan Dong Lin mundur.

Ekspresi He Xia masih seperti biasanya. Ia memperhatikan Yaotian dengan seksama lalu tertawa manis, “Setelah kejadian ini, aku tahu pasti kalau Putri benar-benar mencintaiku.”

“Suamiku!” airmata Yaotian tak bisa berhenti. Mengalir keluar tak mempedulikan kerumunan para prajurit. Ia memeluk dada He Xia. Dalam pelukannya, Yaotian menangis, “Yaotian melepaskan Bai Pingting berarti Yaotian telah menghianati suaminya.”

“Putri salah.” He Xia dengan lembut memeluk istrinya dengan lengannya, berbisik, “Hanya wanita yang tahu cinta sejati yang mampu merasakan cemburu. Untuk membiarkan Pingting tetap hidup, He Xia…. sangat berterima kasih pada Putri.”

Yaotian bergetar sedikit di dalam pelukan He Xia, mengetahui pundak He Xia yang lebar melindunginya memberinya keberanian yang tak terkira.

Suara He Xia lembut dan hangat. Bendera pasukan Dong Lin terpancar di bola matanya ketika mereka bergerak menjauh.

Kalau Pingting pergi, ia tidak akan menetap di Yun Chang juga tidak akan kembali ke Dong Lin.

Satu-satunya tempat ia bisa pergi adalah Bei Mo.

--
Di gunung Songsen, badai salju segera tiba.

Jejak kaki Pingting dan Zuiju terkadang dalam, dan terkadang dangkal di atas salju. Mereka tetap bergerak maju mendaki sambil terengah-engah.

“Badai salju mendekat.”

“Apa kita bisa sampai di bebatuan sebelum badai?”

Pingting mempertimbangkannya. “Aku rasa tidak.”

Hati Zuiju menjadi sedih dan ia gelisah. “Lalu, apa yang akan kita lakukan? Kita di tengah hutan dan musim dingin. Daun-daun berserakan. Salju tak bisa dihentikan, jadi kita akan mati kedinginan.” Sepuluh jari-jarinya memegang erat-erat pada satu-satunya buntelan mereka.

Mereka berhasil mengumpulkan sedikit uang dari hasil mengobati beberapa orang belakangan ini. Disamping membeli jarum perak untuk keperluan pengobatan dan makanan, mereka telah menggunakannya untuk membeli pakaian hangat. Tapi, meskipun mereka mengenakan pakaian paling tebal yang mereka miliki, tetap tak bisa membuat mereka bertahan melewati badai salju di udara terbuka. Pingting menoleh ke atas, menatap langit yang sudah tertutup awan gelap. Badai salju belum turun. Tapi tak ada angin sama sekali, tapi bayangannya sudah terlihat di awan.

“Zuiju, nyalakan api.”

“Haaah, kenapa menyalakan api disaat seperti ini? Ketika angin dan salju datang, api sama sekali tidak berguna.”

Pingting menjawab dengan lembut. “Nyalakan api dan masak air.” Sebuah senyum hangat terlukis di wajahnya yang anggun.

Zuiju ingin berkata lagi tapi setelah melihat senyum Pingting, ia menelan kembali kata-katanya. “Baiklah, aku akan menyalakan api dan memasak air.” Ia menjawab.

Zuiju mengeluarkan korek, beberapa ranting kering dari hutan segera disusun di atas tanah bersalju yang tidak berangin.

“Gali sebuah lubang di tanah.”

Salju tidak terlalu padat, mereka mengali dengan tangan, lutut mereka menyentuh tanah. Dalam sekejab tangan mereka telah menyentuh tanah di bawah salju. Tanah terasa lebih panas dan lebih sulit digali di banding salju.

Zuiju mengerutkan dahi, “Masih belum terlalu dalam, ayo gali lagi.”

“Tak perlu” Pingting menjawab, “Buat sebuah bentuk tenda kecil dengan ranting.”

Tak banyak waktu tersisa, awan hitam bergerak dengan cepat, seperti sedang gelisah mencari jalan keluar. Sebuah tenda kecil terbentuk di atas lubang, dengan ranting-ranting. Pingting mengumpulkan banyak daun dan dengan cekatan menyebarkannya di seluruh ranting-ranting itu.

Zuiju mendekat untuk membantunya, suaranya menjadi panik. “Ini akan berserakan dengan satu hembusan angin. Untuk apa?”

Setelah menyebarkan cukup daun-daun, Pinting membuka buntelan mereka dan membuka dua pakaian yang tersisa. Ia melebarkannya dan meletakannya di atas ranting.

“Nona, untuk apa kau lakukan itu?”

“Ambilkan air dan siramkan diseluruh permukaanya.”

“Tapi masih belum mendidih,” Zuiju berkata dengan menyesal.

Pingting merasa kesal tapi ia menahan tawanya. “Cukup mencairkan saljunya. Untuk apa air mendidih?’

Zuiju melihat ke tenda kecil dan melihat ke panci salju yang sedang meleleh. Tiba-tiba ia mengerti, “Oh! Oh!” karena telah mengerti maksudnya, matanya membelak lebar, “Baik, baik! Aku akan mengambil airnya.”

Mereka menyiramkan salju yang mencair ke atas tenda, pakaian dan daun menyerap air itu seperti spon, dan air itu membeku kembali. Dengan segera sebuah lapisan tipis es terbentuk di atas pakaian.

“Sangat mudah!” Zuiju mulai tertawa.

“Jangan tertawa terlalu cepat, airnya masih belum cukup. Cepatlah buatkan lagi.”

“Baik, baik, aku lakukan sekarang.”

Zuiju pergi dan terus melelehkan salju.

Sepanci demi sepanci terus disiramkan ke tenda kecil. Lapisan es menjadi semakin tebal dan kuat.

Zuiju terus membawa panci dan terus menyiramkannya, “Apa sudah cukup?” air selalu disiramkan di atas tenda dan air itu mengalir turun kebawah, membentuk selapis es di pakaian, sebelum sempat menyentuh tanah.

“Badai pasti kuat sekali.” Pingting memperhatikan awan gelap di atas mereka. “Cairkan sedikit lagi.”

Suara gemuruh…

Ada beberapa kali suara petir teredam mengikuti awan badai. Sepertinya perjalanan jauh harus di tempuh sebelum akhirnya bisa menyentuh tanah.

Di dataran bersalju mungkin ada angin yang bertiup, tapi mungkin juga tidak.

Ekspresi Pingting tiba-tiba berubah, “Sudah tidak ada waktu untuk mencairkan salju lagi. Ayo segera masuk ke dalam. Ia menarik tangan Zuiju dan mereka berdua masuk melewati celah yang dibuat sebagai pintu masuk. Mereka berdua berada dalam ruangan yang sangat kecil dan sempit, saling berpelukan.

“Didalam sini sangat hangat.” Meskipun masih terkena sedikit cipratan, Zuiju masih merasa nyaman.

Angin sudah mulai menderu.

Kaki tenda itu tertanam salju dan atapnya berbentuk seperti batu yang terbuat dari es. Seharusnya cukup kuat untuk bertahan dari badai.

Pingting dan Zuiju dengan gugup mendengarkan suara seram dan pergerakan angin diluar.

Berlawanan dengan di luar, di dalam sangat tenang.

“Kita seharusnya bisa melewati gunung Songsang, benar?”

Pingting tetap diam. Setelah agak lama ia akhirnya berkata, “Iya, seharusnya bisa.”

“Nona?”

“Hm.”

“Apa kau sedang memikirkan sesuatu?”

“Benar.”

“Memikirkan tentang apa?”

Pingting bergerak lambat dan menjawab dengan lambat, “Zuiju, tak peduli seberapa lama badai diluar, tak peduli betapa hangatnya didalam sini. Kita tidak boleh tertidur. Kalau salju menutupi pintu keluar, dan kita tertidur, maka kita pasti akan mati.”

Zuiju memang sangat mengantuk dengan kehangatan yang dirasakan. Hal ini membuatnya terkejut. Tapi ia segera menyingkirkan kekhawatirannya. Ia menjawab, “Mengerti.” Ia tak bisa menyingkirkan hal ini dalam pikirannya.

Di dalam tenda, sangat sunyi. Mereka berdua saling berpelukan erat, Pingting bisa mendengar Zuiju menghela napas.

“Mengapa kau menghela napas?” Pingting bertanya.

“Tidak untuk apa-apa.”

Ada kesunyian beberapa saat sebelum Pingting bertanya kembali, “Apa kau berpikir bagaimana kalau kita mati disini, dan tidak akan ada yang mengetahui dimana kita berada, selamanya?”

Zuiju menghela lagi, “Nona Bai, mengapa kau begitu pandai?”

Sudut bibir Pingting terangkat. Senyumnya sedikit getir.

Lagi-lagi kesunyian terjadi di tempat kecil itu.

Beberapa saat kemudian, Zuiju bertanya dengan suara pelan, “Kalau kita memang akan memberikan nyawa kita pada gunung Songsen…”

“Itu tidak akan terjadi.” Pingting menyela kata-kata Zuiju, lalu ia berkata lagi dengan pelan, “Itu tidak akan terjadi.”

Sebuah rasa mulai muncul di ujung hidungnya dan matanya mulai memerah. Zuiju meraba-raba mencari ujung jari Pingting. Dan ia mengenggamnya dengan erat.

Kedua tangan yang sudah melepuh, tapi masih cekatan, saling mengenggam dengan erat di kegelapan.

Dalam kesunyian Zuiju tiba-tiba berhenti bernapas.

Tarikan napas yang berhenti tiba-tiba adalah hal yang tidak normal. Pingting menunggu dengan diam sementara Zuiju sama sekali tidak bergerak, seperti sedang menunggu sesuatu juga.

Setelah beberapa saat, Zuiju melepas napasnya. Napas yang keluar melewati telinga Pingting sepertinya lebih khawatir dibanding sebelumnya.

“Nona Bai, nadimu sangat….. sangat lemah.” Suara Zuiju sangat khawatir. “Aku harus melakukan akupuntur padamu.”

“Tidak perlu sekarang Zuiju.” Pingting menjawab dengan tenang.

“Tidak, ini harus dilakukan secepatnya.” Zuiju segera menarik tangannya mencari-cari buntelan mereka, tapi tangannya membentur tembok tenda dan ia merasa sakit.

Dimana buntelan mereka?

Zuiju tiba-tiba menjadi kaku.

“Kita masuk dengan terburu-buru.” Dalam kegelapan, suara Pingting sangat lemah. “Zuiju, butelan itu masih di luar, ingat? Tertinggal ketika aku mengeluarkan pakaian.”

Salju dengan kuat menghantam luar tenda, menghasilkan suara mengerikan.

Kesunyian mematikan di dalam, dan deru angina yang meraung di luar seperti dua dunia yang berbeda.

Sebuah cahaya bersinar di kedalaman mata Zuiju yang gelap. Sama sekali tidak ada keraguan ketika ia berkata, “Aku akan mengambilnya, seharusnya dekat-dekat sini. Aku akan segera menemukannya begitu aku keluar.”

“Jangan.” Pingting berkata lemah.

Zuiju menyadari posisi Pingting berada menghalagi pintu masuk. Tidak mungkin ia menggeser tubuh Pingting keluar.

“Nona Bai, aku mengerti kekhawatiranmu, tapi aku harus mendapatkan jarumnya.” Zuiju berkata lagi dengan pelan, “Aku seorang tabib.”

Dalam kegelapan, sosok Pingting terlihat kabur, sepertinya seluruh dunia mulai pudar. Tapi tubuhnya yang rapuh itu tetap kokoh seperti gunung.

“Zuiju kau bahkan tidak tahu dimana jarumnya berada. Tidak ada yang tahu apakah benda itu sudah terbawa angin ketika badai datang.”

“Mungkin benda itu tersangkut di ranting terdekat. Aku masih bisa mencarinya.” Ia masih melanjutkan berkata dan tangannya menggenggam tangan Pingting, “Nona Bai, aku pernah mengatakan bahwa aku akan melakukan apapun untuk melindungimu dan anakmu.”

Tubuh Pingting berusaha untuk tidak bergerak. Ia diam tak bergerak seperti sebuah patung berumur ratusan tahun. Tangannya mengenggam tangan Zuiju dengan erat pula.

“Aku juga pernah berkata kalau kita tidak akan mati. Itu tidak akan terjadi Zuiju.”

Mereka berdua kedinginan, jari-jari kurus itu saling mengenggam satu sama lain, akhirnya sedikit kehangatan perlahan mulai menjalar.

Ruang gerak di dalam tenda tidak banyak. Zuiju tidak bisa mengeser Pingting.

“Tapi, anakmu…” Zuiju mendengar suaranya sendiri, sedikit terisak, dalam kegelapan yang pekat. Ia menarik tangannya dari genggaman Pingting dan mencari nadi Pingting sekali lagi.

Setelah menemukan denyut yang tidak teratur, barulah ia menarik tangannya kembali.

Cairan hangat mengalir dari baju Pingting.

Dalam kesunyian malam, suara airmata Pingting yang terjatuh terdengar jelas sekali.

Jarum-jarum itu, bagaimana bisa ia melupakan benda yang paling penting?

Dalam perjalanan, ia selalu menggunakan ramuan obat dan jarum untuk menguatkan tubuh Pingting dan menstabilkan nadinya. Mengapa ia bisa lupa ketika badai salju datang?

Kemana angin akan membawa buntelan yang berisi jarum itu?

Zuiju takkan pernah melupakan badai yang kejam ini seumur hidupnya.

“Jangan khawatir, anakku akan baik-baik saja.”

Apakah ia salah dengar?

Dalam suara Pingting ada kelembutan dan ketenangan.

Zuiju bisa merasakan nadi yang kacau di pergelangan tangan Pingting. Ketenangan dari kata-kata Pingting seperti jarum yang menusuk jantung Zuiju.

Dalam kegelapan, ia mendengar Pingting menahan tawanya, suaranya lembut seperti dalam mimpi. “Anak dalam perutku sedang tidur dengan patuh. Aku ibunya dan aku akan melindunginya. Badai sangat dashyat tapi ia berada di dalam tubuhku, hangat dan selamat.”

Mendengar suara Pingting, Zuiju bisa merasakan sudut bibirnya terangkat menjadi sebuah senyum kecil.

Lembut dan menyentuh, seperti hujan pertama di musim semi.

Pingting benar-benar tersenyum.

Kesalahan yang paling utama selalu dilakukan pada saat yang paling genting.

Dalam badai salju, Pingting mengingat buntelannya dengan jarum akupuntur didalamnya. Pada saat yang sama, ia tahu waktu tidak bisa diputar ulang. Gemuruh angin di dataran bersalju tidak hanya hebat dalam membawa benda, tapi juga membawa nyawa orang yang hidup.

Pingting tahu, nadinya sangat kacau.

Kepalanya sangat pusing dan matanya memerah. Entah karena kegelapan atau karena hal lain, tapi ia merasakan tenaganya terkuras sedikit demi sedikit.

Meskipun demikian, ia harus tersenyum.

“Jangan khawatirkan anakku dan aku, Zuiju. Kita akan berhasil melewati badai ini.”

Meskipun anak ini masih sangat muda, tapi ia tidak selemah yang kau kira.”

Anak itu dikandung di musim dingin.

Dalam Rahim ibunya, ia bisa merasakan kedamaian di kediaman terpencil, mendengarkan suara kecapi yang mampu mengetarkan empat negara, mengagumi hati yang putus asa di bawah bulan yang begitu terang. Ia telah melihat api yang mengamuk di langit malam, tanah bersalju yang berubah merah karena darah, dan kereta yang membawa ibunya pergi, penuh keputusasaan dan kepedihan.

Anak ini akan lebih kuat daripada aku, jauh lebih berani.

Ayahnya adalah Jendral paling terkenal, yang tak pernah terkalahkan Panglima Zhen Bei Wang

Dalam urat nadinya mengalir darah Chu Beijie.

Darah paling kuat di dunia.


--00--


Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

1 komentar: