Minggu, 30 Oktober 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.43

-- Volume 2 chapter 43 --


Ketika waktu kira-kira pukul tiga pagi, dan semua orang hampir terlelap, Nanfeng terbangun karena waspada terhadap sesuatu.

 

“Siapa itu?” Nanfeng berteriak keras sambil melompat keluar dari semak-semak.

 

Mungkinkah wanita Bai itu?

 

Ia membuka semak-semak untuk melihat perangkap yang ia pasang disana. Perangkap memperlihatkan kondisi rusak, seperti seseorang telah terjatuh disana, tapi tidak ada yang terperangkap. Ada sesuatu yang bersinar di kegelapan, Nanfeng mengambilnya dan memperhatikan dengan seksama. Sebuah sepatu yang disulam dengan rapi.

 

“Bocah Gao! Lihat!”

 

Nanfeng berteriak, dan Gao keluar dari pepohonan. “Makanan? Untuk anak-anak anjing?”

 

“Seorang wanita! Lihat, sebuah sepatu!”

 

Dibalik rajutan sepatu, ada sebuah tulisan kecil yang terlihat dalam kegelapan – dibuat oleh Kediaman Suami Ratu.

 

“Ini berasal dari Kediaman Suami Ratu.”

 

“Pasti dari wanita Bai itu!” Nanfeng berkata dengan gembira, “Wanita itu pasti lewat sini dan hampir terperangkap. Pelacur itu.”

 

Pria yang berjaga di pos pemeriksaan mendengar teriakannya dan menghampiri, “Nanfeng, ada apa?”

 

“Boss, wanita Bai itu berada di hutan. Aku menemukan sepatunya.”

 

Kesabaran, rasa malas dan lelah mereka dalam sekejap menguap dengan kejadian sesaat ini, ketika mereka menemukan sebuah sepatu bersulam indah. Semua orang menjadi bersemangat, “Hehehe, sekarang mereka sudah berada di hutan. Mereka tidak bisa melarikan diri.”

 

Dua anjing setinggi separuh pria dewasa dibawa ke tempat itu. Mereka mengendus-endus sepatu itu dan segera bergerak gelisah, sampai tali di leher anjing-anjing itu bergemertak.

 

Si pemimping bandit melepaskan anjing-anjing. “Pergi.”

 

Ketika anjing-anjing itu bebas, mereka segera berlari menuju kedalaman hutan.

 

Angin malam sangat dingin, tapi semua orang sangat bersemangat.

 

“Heh, ayo teman-teman!”

 

“Jangan, biarkan di boss duluan!”

 

“Tangkap dua pelacur kecil itu!”

 

Pedang-pedang dikeluarkan dari sarungnya, besi dingin memancarkan sinar bulan. Bayangan besar bergerak menuju hutan, mengejar sosok tangkas para anjing pelancak.

 

“Kepung mereka!”

 

“Jangan biarkan mereka lolos!”

 

Mereka berkeringat banyak ketika mengejar sampai ke sumber air di gunung. Para anjing yang mengonggong sepanjang perjalanan tiba-tiba mencelupkan kepala mereka ke air, minum dengan lahapnya.

 

“Teruskan mengejar! Mengapa mereka minum disaat seperti ini?” para anjing di tendang sampai mereka mengaing-ngaing kesakitan, tapi mereka tetap berada di samping sumber air itu.

 

Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Pingting telah meletakan ramuan khusus di sepatunya. Ketika anjing-anjing itu mengendusnya mereka akan merasakan hidung mereka panas dan tubuh mereka serasa terbakar. Hal inilah yang membuat mereka mencari sumber air terdekat.

 

Dan ketika mereka semua tiba di sungai, mereka melihat para anjing pelacak meminum air dengan dahaganya. Mereka sepenuhnya berhenti mengejar. “Dimana mereka? Mengapa para anjing itu berenti mengejar?” Para bandit melangkah mendekati bebatuan tempat Pingting menyembunyikan busur. Percakapan mereka belum selesai ketika tembakan pertama melayang di udara mengenai salah seorang dari mereka.

 

“Ah!” sebuah anak panah menusuk bahu bocah Qi. Ia berteriak kesakitan.

 

“Serangan diam-diam! Berengsek, pelacur itu memiliki busur!” para bandit merasa heran. Mereka merunduk untuk berlindung.

 

Beberapa dari mereka mengangkat kepalanya dan mereka mendengar hembusan angin.

 

“Hati-hati.”

 

Dalam kegelapan, mereka tidak tahu berapa banyak anak panah yang melayang. Mereka pikir cukup dengan pedang saja untuk menangkap dua wanita, Pingting dan Zuiju, yang sama sekali tidak terpikirkan akan memiliki busur dan kemampuan menyerang balik dari kejauhan. Para bandit mulai berteriak kesal.

 

“Para pelacur menembakkan anak panah lagi!”

 

“Kalau mereka tertangkap, kita harus membuat mereka menderita lebih parah dari kematian!”

 

Tapi anak panah berikutnya tidak sampai ke tempat mereka dan jatuh agak jauh dari sumber air. Si pemimping yang lebih berpengalaman berkata, “Mereka menembak sambil mundur, kejar!”

 

Para bandit mengejar menyebrangi sungai, bersenjata lengkap dengan pisau dan pedang. Mereka memercik air kemana-mana ketika mereka melewati aliran air. Mereka baru tiba di seberang ketika busur ke tiga mulai menembak dari jarak yang lebih jauh.

 

“Kejar mereka, cepat!”

 

“Dasar berengsek, mereka cepat sekali!”

 

Para bandit bergerak melebar, berusaha mengepung sasaran mereka, mereka menyamarkan keberadaan mereka di dalam hutan. Anak panah masih terus menembak. Para bandit menuju arah anak panah itu berasal, arah tembakan anak panah itu semakin kacau. Selain anak panah yang mengenai si bocah Qi yang lainnya sama sekali tidak terluka. Para bandit yang marah itu menjadi semakin bersemangat. Semakin bersemangat mereka, semakin mereka kesal. Mereka memikirkan berbagai macam cara untuk menghukum dua wanita itu ketika mereka berhasil menangkapnya.

 

Setelah tujuh tembakan busur, sudah tidak ada lagi gerakan.

 

Nanfeng tersenyum jahat. “Hehehe, mereka sudah kehabisan anak panah. Boss, sergap mereka!”

 

Mereka tenang sebentar sebelum gelombang kegermbiraan datang kemudian. Mereka telah ditempatkan disana agak sehingga sudah tahu persis daerah itu. Arah dua wanita itu menuju di depannya adalah jalan buntu. Mereka hendak mengepung melingkar ketika wajah Nafeng menunjukan ekspresi aneh. “Kakiku….” Rasa geli mulai merambat naik ke kakinya. Pedangnya jatuh menimpa batu ketika ia memegangi kakinya. “Gatal, gatal sekali, aaaaahhh!” ia memasukan tangannya ke dalam sepatunya. Rasanya sangat sakit seperti selapis kulit sedang dikelupas. Ia berteriak kencang.

 

Si pemimping berteriak dengan marah, “Mengapa kau bersikap seperti seekor monyet, Nanfeng? Ah….” Ia tiba-tiba merasakan perasaan aneh di kakinya sendiri.

 

Awalnya hanya seperti kesemutan lembut, tapi kemudian menjadi rasa sakit yang sulit di tahan.

 

Dan semua orang di sekitarnya berjatuhan ke tanah satu per satu, berteriak sambil mencengkram kaki mereka masing-masing.

 

“Ow… ah…. Pelacur itu….! Para pelacur itu menaburkan racun!”

 

Percakapan mulai terdengar seperti hewan liar menjerit dan wajah mereka sangat gelisah.

 

Si pemimpin gemetar kesakitan. Ia masih ingin melanjutkan niatnya tapi ia merasa sangat kesakitan. Ia berkata sambil menahan sakitnya, “Siapa yang menjaga pos pemeriksaan?”

 

“Kami semua… kami semua datang untuk mem..bantu.. menang..kap… aaah…. Sakit sekali…siapa yang menjaga pos pemeriksaan?” si bocah Qi yang paling sial di antara mereka semua. Kakinya terkena racun dan pundaknya terluka karena anak panah. Kukunya dipenuhi aliran darah yang panjang. Menahan sakit seperti itu adalah pertempurannya sendiri.

 

“Berengsek, ktia telah dipermainkan!”

 

Langit segera terang, warna langit yang abu-abu segera berganti dengan kecoklatan, membuat seringai mengejek di wajah mereka.

 

Tak heran, Pejabat Senior memperingatkan mereka berkali-kali untuk tidak menganggap remeh wanita yang bernama Bai Pingting.

 

Berengsek!

 

--00--

 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
 

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.42

-- Volume 2 chapter 42 --


Ketika Yaotian tiba di istana, Gui Changqing sudah menunggunya.

 

“Putri.” Melihat Yaotian, Gui Changqing segera berdiri dan membungkuk.

 

Yaotian menjawab dengan pelan, ia duduk di kursi dengan letih. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pelipisnya beberapa saat dan berkata, “Aku menguji Bai Pingting. Dari apa yang kulihat, ia benar-benar tidak ada niat sama sekali untuk kembali pada Chu Beijie.”

 

“Lalu … bagaimana menurut Putri?”

 

Yaotian mempertimbangkan beberapa saat sebelum berkata lagi, “Ia hanya seorang wanita, kalau ia bukan sebuah ancaman bagi kita, mengapa harus menyakitinya? Pada saat aku mengabulkan permohonannya untuk pergi, ia sangat gembira. Ia benar-benar juga tidak berniat untuk berada disisi Suamiku.”

 

“Putri, hatimu melunak padanya.” Gui Changqing menghela napas.

 

“Pejabat Senior.” Yaotian merubah nada suaranya dan berkata pelan, “Apa Pejabat Senior tidak mengerti masalah Yaotian?”

 

Gui Changqing diam.

 

Pejabat Yun Chang ini selalu tidak berkompromi untuk urusan cara ia menyelesaikan masalah yang terkait masa depan Yun Chang.

 

Ia berdiri, mengalihkan pandangannya dari Yaotian pada menara di kejauhan yang tidak terlihat jelas. Ia berkata, “Apakah masalah Putri adalah masalah Negara? Putri sudah memperoleh kekuasaan yang sangat besar, seharusnya dipergunakan untuk melindungi dan memberikan kemurahan hati bukan hanya pada Bai Pingting seorang. Memang benar, melepaskan Bai Pingting tidak sulit. Tapi bagaimanapun, aku khawatir jika Putri tidak mampu menghadapi masalah kecil seperti Bai Pingting, tidak mau bertindak lebih jauh hanya karena merepotkan, apa Putri akan mampu menghadapi masalah yang lebih besar yang akan mengakibatkan kehancuran seluruh Yun Chang?”

 

Yaotian kehilangan kata-kata dan hanya diam.

 

Gui Changqing melanjutkan, “Perang sangat kejam, sebuah hutan yang ganas, dan tidak pernah menjadi  jalan hidup yang sebenarnya. Putri memiliki kedudukan yang sangat penting, banyak orang yang akan mengambil keuntungan dari Putri jika anda tidak cukup berhati kuat. Hanya karena Putri tidak ingin orang lain merasakan buah yang rasanya begitu pahit atau sebuah kekalahan, apa artinya Putri yang akan menanggungnya?”

 

Yaotian mendengarkan setiap kata-katanya sampai ke hati dan tetap diam untuk beberapa saat. “Yaotian mengerti maksud Pejabat Senior.”

 

“Tolong dipertimbangkan Putri.”

 

Yaotian tetap diam sampai akhirnya ia berkata, “Baiklah, silakan, Pejabat Senior.”

 

“Baik!”

 

“Pejabat Senior.”

 

“Putri ….”

 

“Kau harus merahasiakan hal ini, jangan sampai Suamiku tahu.”

 

“Aku akan berhati-hati.” Gui Changqing pergi sambil masih membungkuk.

 

Tirai bergerak ketika Gui Changqing pergi, menyebabkan manik-manik saling bertabrakan, menyebarkan sinar dingin ke segala arah.

 

He Xia sedang dalam perjalanan, tubuhnya penuh debu dan ia bergegas menuju perbatasan.

 

Seandainya ia tahu, bahwa pelayan kesayangannya sedang mengalami ketidakberuntungan, bagaimana ia akan bereaksi?

 

Yaotian sangat khawatir dan ia berpikir sangat hati-hati berkali-kali.

 

Yaotian sangat mencintai pria itu dan sangat mengerti seandainya He Xia tahu apa yang sudah ia lakukan, ia takkan pernah dimaafkan.

 

Takdir sudah memainkan banyak tipuan pada manusia.

 

Pingting, wanita itu dipanggil dengan nama Pingting, sangat pintar dan sederhana.

 

Menjelajah dunia, tanpa khawatir sedikitpun akan masalah dunia, bebas seperti burung.

 

Kalau saja ada seseorang yang mampu menjelajah dunia, tanpa sedikitpun kekhawatiran tentang apapun, sebebas burung, maka sungguh sangat luar biasa….

 

Karena, meskipun Yun Chang adalah negara yang paling damai diantara tiga negara lainnya, ia telah mengikuti kebijakan politik sepanjang hidupnya.

 

--

 

Meskipun awan peperangan telah memenuhi kepala seluruh rakyat di negara ini, pusat perdagangan di ibukota belum terkena dampaknya. Beberapa kereta, kuda dan orang-orang, mondar-mandir disekitar,  kios-kios menjual kacang-kacang, susu kacang kedelai, nasi kepal, persis seperti yang mereka pajang, ada yang bermain-main dengan monyet-monyet untuk mendapatkan uang. Beberapa pelayan terlihat sangat tertarik ketika berjalan sepanjang jalan, mereka memilih pemerah pipi atau memilih lukisan cat air dan banyak diantaranya sepertinya telah memesannya terlebih dahulu dan membelinya untuk Nona atau Tuan mereka di Kediamannya.

 

Pingting dan Zuiju memilih tempat yang paling ramai. Mereka mengambil beberapa jalan kecil untuk jalan pintas, berbalik dan berputar sampai akhirnya mereka sampai di jalan yang sangat sibuk.

 

Zuiju mengikuti dibelakang Pingting sambil memegang bawaannya. Kakinya tak lagi menyukai sentuhan permukaan tanah, “Nona, kita sudah berjalan sangat lama.”

 

“Aku sedang mencoba menghilangkan penguntit di belakang kita.”

 

Zuiju terkejut, “Ada orang yang mengikuti kita?”

 

“Aku hanya menerkanya. Terlalu banyak orang untuk bisa tahu siapa sebenarnya.”

 

“Nona?”

 

Tatapan tak berdaya muncul di wajah Pingting. “Aku sungguh tidak tahu.”

 

Ia selalu di lindungi ketika berada di dalam Kediaman, dilindungi oleh He Xia atau Chu Beijie dimanapun ia berada, entah di dalam atau di luar. Bahkan ketika berada di medan perang atau di dalam tenda penasihat, para penjaga selalu menemaninya. Dan sebagai hasilnya, pertemuannya dengan musuh adalah kejadian yang luar biasa.

 

Kalau He Xia dan Chu Beijie berada disana, mereka pasti segera menyadari siapa musuh mereka, tapi Pingting tidak memiliki kemampuan ini. Perasaannya yang tajam selalu memperingatinya ketika bahaya mendekat, tapi yang ia bisa lakukan hanya bersembunyi semampunya.

 

Mereka berdua menghilangkan wajah pucat mereka ketika Pingting tiba-tiba berhenti dan berkata, “Aku haus, ayo beli semangkuk susu kedelai.” Ia mendorong Zuiju menuju sebuah kedai dan meletakan dua koin perak, “Aku minta dua mangkuk susu kedelai Tuan, terima kasih.”

 

Ketika ia menerimanya, tangannya tiba-tiba gemetar dan separuh dari susunya tumpah.

 

“Kyaa!” Zuiju tak sempat menghindar dan bajunya basah. Pingting juga tak sempat menghindar dan lengan bajunya juga terkena tumpahan susu.

 

“Oops.” Pingting segera meletakan mangkuk susunya. “Ini salahku karena sudah ceroboh, sekarang bagaimana?” ia khawatir dan melihat dirinya sendiri. Ia melihat seorang ibu tua melihat kearah mereka ketika hendak keluar dari rumahnya. Pingting segera mendorong Zuiju ke arah pintu masuk, dan memasang wajah polos. “Nyonya, apakah kami bisa meminjam pakaian dari rumah ini?”

 

Pakaian mereka sangat indah dan mereka bersikap sangat sopan, si ibu tua mengira, sepertinya mereka anak perempuan dari keluarga baik-baik. Dengan sikap ramah khas warga Yun Chang, si ibu tua segera menjawab, “Megapa tidak, masuklah, bagaimana mungkin kalian berjalan-jalan di luar dengan penampilan seperti ini?”

 

Ia membukakan pintu dan membiarkan mereka masuk ke dalam.

 

Si ibu tua melihat ke arah Zuiju yang sepertinya telah berendam di dalam kuah sup selama satu jam. Ia terkekeh, “Susu kedelai banyak menggunakan gula dan akan lengket ketika kering. Kalian bisa melepaskan pakaian kalian dan aku akan mencucikannya.”

 

Pingting berkata, “Ibu akan berteriak padaku karena menghancurkan pakaianku ketika kembali nanti. Nyonya tolong berikan aku air agar aku bisa mencucinya sendiri.”

 

“Oh, jangan mencucinya sendiri. Kau tamu sejak kau masuk kesini. Bagaimana mungkin kami membiarkan tamu kami mencuci pakaian mereka sendiri?”

 

Si ibu tua sangat baik dan mengambilkan dua buah pakaian untuk mereka. “Tolong ganti dengan pakaian ini Nona-Nona, ini milik mantu perempuanku, dan ukurannya sama dengan kalian. Pakaian ini tidak terbuat dari bahan terbaik seperti milik kalian, tapi setidaknya pakaian ini bersih.”

 

Ini persis seperti yang Pingting harapkan. Ia segera berterima kasih dan menganti pakaiannya bersama Zuiju. Ia lalu berbisik pada Zuiju, “Berikan koin perak yang kau simpan.”

 

Zuiju memberikannya.

 

Setelah berganti pakaian, si ibu tua mengambil pakaian basah mereka. “Aku akan mencucinya dulu, akan segera kembali. Bahan ini pasti sangat mahal, oh tidak, sungguh mahal.”

 

Begitu punggung si ibu tua menghilang dari pintu, Pingting segera menarik Zuiju. “Ayo pergi.” Ia meletakan koin perak di meja dan hendak pergi, ketika ia meragu sesaat. Ia mengambil taplak meja berwarna biru, lalu mendorong Zuiju keluar.

 

Zuiju berkata, “Nona itu sisi belakang.”

 

“Tentu saja, kita tidak mungkin keluar dari pintu utama. Kalau memang ada seseorang yang mengikuti kita, mereka akan menunggu kita diluar saat ini.” Pingting telah memutuskan untuk mendekati si ibu tua ketika melihat rumahnya berukuran cukup besar, karena itu berarti mereka orang cukup berada dan seharusnya memiliki halaman yang cukup luas, sehingga kemungkinan mereka memiliki pintu belakang lain untuk keluar.

 

“Lihat!” Ada nada gembira dalam nada suara Pingting. “Memang benar, ada pintu lain.”

 

Mereka berdua keluar dari pintu itu, dan ternyata mereka berada di sebuah lorong kecil yang sepi. Pingting mengacak-acak rambut Zuiju, “Buat dua ikatan rambut.” Lalu Pingting melepaskan ikatan rambutnya sendiri dan mengikatnya seperti wanita biasa pada umumnya. Tak lama kemudian, mereka berdua terlihat seperti orang yang benar-benar berbeda. Pingting kemudian membentangkan kain taplak meja yang ia ambil dan membungkus bawaan mereka. “Sekarang mereka tak bisa mencirikan bawaan ktia juga.”

 

Mereka berdua bertukar senyum dan berjalan keluar lorong dengan hati-hati. Langkah mereka lambat dan mereka berlaku seperti dua saudara yang sedang berkeliling untuk berbelanja.

 

“Bisakah kita pergi keluar ibukota sekarang?” Zuiju berbisik.

 

“Belum.” Tatapan Pingting berkeliling melihat sekitar. Ia berguman, “Masuk ke penginapan.” Ketika pengintai mereka menyadari kalau mereka telah menghilang, tempat pertama yang akan mereka datangi pasti gerbang kota. Karena itu, mengapa tidak tinggal sehari dua hari dan menunggu pengintai mereka menjauh.

 

Zuiju mengerti hal ini, dan diam-diam kagum pada kepandaian Pingting. Ia mengangguk, “Kalau begitu, ayo pergi.”

 

“Kau pergilah duluan.” Pingting terkekeh ketika bicara. “Kau pergi duluan, aku akan menyusul. Kita akan memesan satu kamar masing-masing, agar tidak terlihat berhubungan. Berikan aku beberapa koin perak yang kau simpan.”

 

Zuiju melihat semangat Pingting sedang meningkat, semangatnya seperti seekor burung yang baru terlepas dari sangkar. Zuiju tersenyum dan menyerahkan beberapa koin perak padanya sambil berkata, “Aku mengerti, jadi kita sama sekali tidak berhubungan. Aku akan pergi sekarang, tapi kapan kau akan menyusul?”

 

“Tidak terlalu cepat. Aku akan menyusul ketika senja.”

 

Zuiju mulai khawatir. “Nona, mengapa tidak kau yang pergi duluan dan biarkan aku yang berada di jalan…”

 

“Jangan melawan.” Pingting mengatupkan bibirnya dan tersenyum. “Ibukota adalah medan peperangan. Aku adalah penasihat utama, jadi jangan melawan keputusanku, kau hanya salah seorang prajurit.” Pingting mendorong pundak Zuiju, “Pergilah.”

 

Zuiju menuruti perintah Pingting dan pergi memesan kamar di sebuah penginapan. Meskipun ruagannya agak kecil, tapi sangat rapi dah bersih. Di kamarnya Zuiju berjalan bolak-balik, mempelajari setiap sudut dan celah dan tidak menemukan satupun kesalahan untuk membuatnya kesal. Ia menjadi sedikit tenang dan duduk sendirian di kamar, menunggu Pingting.

 

Kesunyian membuatnya merasa kesepian, sungguh penyiksaan sempurna bagi pikiran seorang manusia. Sejak meninggalkan Dong Lin, ia tak pernah berpisah dengan Pingting. Ia hanya bisa menunggu sebentar sebelum akhirnya menjadi sangat khawatir. Pingting adalah sasaran utama, dan kondisi tubuhnya sangat rentan. Bagaimana kalau… kesunyian membuatnya memikirkan segala hal buruk. Zuiju menyesalinya, ia seharunya tidak menuruti Pingting untuk masuk penginapan terlebih dahulu. Hati dan pikirannya seperti dijalari semut-semut. Semakin ia banyak berpikir, semakin ia merasa takut. Zuiju lalu berdiri, berniat segera mencari Pingting. Ia melangkah menuju pintu, tapi kemudian segera berhenti.

 

Bagaimana kalau ia pergi dan Pingting datang, sehingga Pingting tidak menemukannya? Setelah berpikir seperti itu. Ia menghalau ketakutannya dan duduk menunggu.

 

Waktu sepertinya berlalu sangat lambat. Setiap menit dan detik yang berlalu sangat menyakitkan. Akhirnya ia menyadari hari sudah senja dan Pingting masih belum tiba. Zuiju menjadi sangat sangat gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di ruangannya.

 

Bodoh, bodoh. Aku seharusnya tidak menuruti Nona Bai.

 

Hari sudah mulai gelap. Duduk menunggu semakin meningkatkan gelisahan Zuiju di setiap detik yang berlalu.

 

Tok. Tok.

 

Suara ketukan di pintu membuat Zuiju terlompat kaget. Ia mengepalkan tinjunya dan memasang ekspresi tenang di wajahnya dan ia barjalan ke arah pintu.

 

“Kau mencari siapa?”

 

Dihadapannya berdiri seorang pria membawa sebuah buntelan besar. Ia kurus dan agak tinggi, sebagian besar wajahnya tertutup topi bamboo, sedikit menampilkan dagu yang berwarna kecoklatan.

 

“Ah…” Sebuah tawa kecil keluar dari balik topi bamboo.

 

Ekspresi Zuiju berubah, dan segera menarik orang itu ke dalam. Ia menutup pint dengan hati-hati dan mengertakan giginya. “Kau menakutiku sampai hampir mati! Kau pergi kemana Nona? Kenapa baru datang sekarang?” Ia menghela napas lega.

 

“Aku mendengar tentang seseorang yang menyamar sebagai pria dan sekarang aku sedang berusaha melakukannya.” Pingting membuka topi bambunya, matanya yang hitam dan putih terlihat kontras dengan warna kulit wajahnya yang agak gelap. Terlihat seperti dua batu permata yang terang bersinar. Ada sesuatu yang dikenakan didalam pakaiannya, membuat pundaknya terlihat lebih lebar, tapi juga semakin menonjolkan tubuh kurusnya. Pingting melepaskan sepatunya yang berat menggosok kakunya yang kemerahan di atas tempat tidur. “Waktunya tidak cukup, jadi aku hanya merubah penampilan wajahku. Aku sangat lelah, harus beristirahat sebentar.” Lalu Pingting berbaring di tempat tidur.

 

“Bukankah kau bilang kita akan memesan kamar masing-masing, jadi kita tidak terlihat berhubungan?” Pingting memikirkan suatu hal lucu dan ia tertawa geli. “Ketika aku tiba di penginapan ini, aku mendeskripsikan dirimu pada si pelayan, aku mengatakan kalau kau adalah istriku, yang pergi dari rumah karena bertengkar. Lalu ia membawaku kesini.”

 

Zuiju merasa tidak puas, “Bukankah orang-orang akan menertawakanku besok ketika kita pergi?” Tapi ia tak bisa menahan tawanya. Ia membuka bungkusan yang dibawa Pingting. “Apa ini? Ah!” ia segera menarik tangannya kembali.

 

“hati-hati, itu sangat tajam.” Pingting segera turun dari tempat tidur dan menghampiri Zuiju. “Biar kulihat. Apa kau terluka parah?”

 

“Tidak, aku cukup cepat.” Zuiju mengeluarkan tangannya untuk dilihat Pingting, sebuah bercak merah terlihat di jarinya. “Untuk apa kau membeli benda-benda itu?”

 

“Untuk melindungi diri dalam perjalanan. Akan lebih mudah digunakan kalau kita berhati-hati.” Pingting telah membawa beberapa pisau, belati kecil dan benda aneh, yang Zuiju sama sekali tidak bisa memikirkannya. Ia mengeluarkan benda-benda itu di meja. Lalu Pingting berkata, “Masih ada beberapa benda lainnya. Karena pabrik sedang sibuk, aku membayar lebih dan akan mengambilnya besok pagi.” Pingting lalu mengeluarkan kuas dan tinta, menulis beberapa jenis tanaman obat, dan menyerahkannya pada Zuiju, “Bawa ini ke toko obat besok dan belilah beberapa.”

 

Zuiju membacanya dan bertanya dengan penasaran, “Jenis tanaman ini tidak cocok satu sama lainnya, dan hasilnya tidak begitu kuat, dan mereka tidak pernah di gunakan bersamaan. Nona akan menggunakannya untuk apa? Apa Nona merasa kurang enak badan?”

 

“Jangan khawatir, ini bukan untukku.”

 

Setelah merasa sedikit tenang, Zuiju akhirnya menerima resep itu. Ia mengingatkan dengan keras, “Aku tahu pengetahuanmu tentang obat-obatan lumayan hebat, tapi untuk urusan tubuhmu, resep dariku jauh lebih baik.”

 

“Aku mengerti.”

 

Pingting membeli beberapa bakpau hangat dari jalan. Mereka berdua tetap tinggal di dalam ruangan, mereka memakannya dan pergi tidur.

 

Kasur di penginapan sangat keras, tapi sungguh mengejutkan karena Pingting sepertinya merasa sangat nyaman. Zuiju menghela napas dan berkata, “Sungguh nyaman…”

 

“Gunakan selimut lebih agar Nona tidak kedinginan.” Lalu Zuiju berkata lagi, “Kurasa aku tidak bisa ikut tidur ditempat tidur, terlalu sempit.”

 

“Sempit lebih baik, jadi lebih hangat.” Pingting menarik tangan Zuiju ke bawah selimut dan berkata lembut, “Sungguh baik anakku tidak akan lahir di situasi kacau begini. Aku ingin ia lahir di antara pegunungan dan hutan, sebuah tempat dimana musim semi berlari dan burung-burung berterbangan di atasnya.”

 

“Membangun sebuah rumah kecil, memasak beberapa hidangan dan membeli sebuah kecapi tua.” Zuiju melanjutkan.

 

Pingting mulai tertawa. “Terdengar bagus.”  Mereka berdua lalu terdiam dan teringat kehidupan mereka ketika berada di kediaman terpencil di dalam gunung, tengelam dalam keindahan malam. Pingting lalu bertanya, “Apa kau tidak berniat kembali pada gurumu?”

 

“Bagaimana mungkin aku tidak kembali? Setelah begitu lama, aku sungguh merindukan Guru.” Suara Zuiju terdengar sangat jauh. “Ketika guru melihatku ia pasti mengomeliku.”

 

“Zuiju, ayo kita berjanji.”

 

“Hm?” Zuiju berbalik, melihat tatapan serius Pingting. Sesuatu tiba-tiba terlintas di kepalanya dan ia segera berkata, “Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang keadaanmu, terutama Tuan Besar.” Lalu ia membuat gerakan, seperti yang biasa orang-orang Dong Lin lakukan ketika membuat sebuah janji.

 

Pingting mengangguk dan bernapas lega.

 

Dan mereka berdua tertidur lelap.

 

--

 

Dibawa bulan yang sama, Chu Beijie tidak bisa tertidur malam itu.

 

Angina dingin berhembus di telinga Chu Beijie, sangat sunyi. Ia telah mengeluarkan pedangnya dari sarungnya dan berlatih di malam dingin.

 

Sebuah pedang memiliki kekuatan.

 

Ia telah mengalahkan pasukan Bei Mo di medan pertempuran hanya dengan tiga perintah, mennghancukan semangat bertempur mereka.

 

Ketika seorang pahlawan menggenggam sebuah pedang, semangat mereka meningkat.

 

Selama mereka memiliki sebuah pedang di tangannya, mereka tidak pernah merasa takut, terus maju tanpa menoleh ke belakang.

 

Ia tahu, pedang di tangannya penuh kekuatan, cukup untuk mengguncang seluruh gunung kokoh di muka bumi. Lagipula, ada berapa banyak Jendral yang cukup memiliki keberanian untuk menantang seorang Chu Beijie?

 

Di kedalaman matanya, terpancar sinar dari tenda pasukan. Para prajurit yang sedang tertidur itu, mereka sama sekali tidak pernah berpikir kalau Panglima mereka akan kalah.

 

Chu Beijie adalah seseorang yang tidak pernah gagal. Dengan ia yang memimpin mereka, peperangan ini adalah salah satu kemenangan dari yang berikutnya.

 

Dibawah sinar bulan, Chu Beijie dengan tenang mengayunkan pedangnya seperti sedang menari. Tubuhnya seperti seekor naga yang terbang rendah di tengah udara malam di atas dataran.

 

Teknik berpedangnya sangat tajam tapi hatinya sangat lembut.

 

Hatinya tidak hanya sedang kacau tapi juga sangat sakit.

 

Hatinya yang robek semakin dalam, membuatnya hidup lebih menyakitkan daripada mati.

 

Semakin hatinya terasa sakit, semakin ia harus menahannya. Pedangnya menjawab dengan kasar.

 

Di dalam kegelapan yang luas, sinar redup memancarkan gerakan-gerakannya yang halus. Membungkus sosoknya yang kacau dan sedikit tersenyum lembut padanya.

 

Setiap detik, setiap menit, ia semakin mengerti penderitaan yang dirasakan Pingting ketika berpisah. Tapi ia tetap saja tidak bear-benar mengerti rasa putus asa dan tanpa harapan yang datang menghujam kemudian. Kemampuan berpedangnya sulit ditandingi, dan kudanya adalah yang terbaik di dunia, tapi cinta tulus dari wanita yang paling penting dalam hidupnya perlahan semakin menghilang.

 

Seluruh kenangan dibawah bunga dan bulan terasa berbeda. Sekarang ketika ia memikirkannya, kenangan-kenangan itu seharusnya menjadi tidak terlupakan, tapi ia telah menghancurkannya. Mengapa ia baru menyadarinya sekarang, Pingting telah mencurahkan seluruh kemampuannya, menghadapi kegelisahannya sendiri, putus asa berusaha menaruh kepercayaannya padaku?

 

“Kalau kau hidup, aku hidup. Dan kalau kau mati, aku hanya bisa mengikutimu menuju kematian.”

 

“Tolong ijinkan Pingting mengikuti Tuan ke ujung dunia. Kehormatanku ditangan Tuan dan kematianku ditentukan oleh Tuan.”

 

Kata-kata janjinya, tidak satupun berisi kebohongan.

 

Setiap kata berasal dari hati, setiap kata berisi airmata dan darahnya.

 

Janji itu menjerat hatinya yang kacau, memukulnya dalam kesedihan. Chu Beijie mengencangkan pegangannya pada pedang berharganya, mengerakannya dengan ganas melawan angin. Pedang itu terbang dengan bebas dari tangannya.

 

Dan ia sama sekali tidak tahu, kalau orang yang sangat ingin ia selamatkan telah melakukan perjalanan panjang. Perjalanan itu sangat panjang dan berbahaya, yang akan berakhir di ujung jurang.

 

--

Mereka siap pergi di hari ketiga. Seorang istri yang telah meninggalkan rumah, emosinya akhirnya sudah cukup reda untuk pulang ke rumah bersama suaminya yang kurus dan agak tinggi. Mereka berdua pamit di tempat penerima tamu. Untuk membuat istrinya senang, suaminya sepertinya telah menghabiskan waktu seharian membeli benda-benda bagus untuk istrinya. Ketika mereka tiba, mereka hanya membawa dua bungkusan kecil, dan bungkusan itu menjadi lebih besar ketika mereka pergi.

 

“Hati-hatilah di perjalanan, lain kali kalian datang ke ibukota pastikan kalian kembali ke penginapan kami.” Si pelayan berkata ketika mengantar mereka keluar.

 

Sang suami yang pendiam tiak berkata apapun, tapi Zuiju mengangguk padanya.

 

Mereka keluar dari gerbang ibukota dengan tenang, berjalan menuju timur laut.

 

“Kita masih harus membeli dua kuda.” Zuiju berkata.

 

“Terlalu mencolok jika membeli dua kuda di ibukota.” Pingting mengeluarkan sebuah peta kasar yang ia beli dari seorang pengembara beberapa hari lalu. Ia memperhatikannya beberapa saat. “Sepertinya ada sebuah kota kecil sekitar lima belas kilo jaraknya dari sini. Masih cukup waktu untuk membeli kuda sebelum malam”

 

Dua gadis menawan berjalan bersama, membawa bawaan mereka di punggung. Langkah mereka tidak terlalu lambat, sehingga mereka mampu menempuh lima belas kilo ketika malam mulai datang, tapi kota kecil yang ditandai di peta tidak terlihat dimanapun.

 

“Mengapa kita belum sampai juga?”

 

Pingting menjadi pucat. “Peta ini tidak sejelas seperti yang biasa di gunakan oleh militer, jadi jarak dan arah hanya berupa perkiraan. Aku menduga kota kecil ini masih didepan, mungkin sekitar dua kilometer lagi.”

 

Angin dingin dari gunung sepertinya telah menembus gunung dari bebatuan yang retak, membuat suara-suara bergema yang megerikan. Zuiju melihat ke sekelilingnya. Pepohonan berwarna keabuan di bawah sinar redup, seperti menyembunyikan para hantu, monster atau binatang buas yang akan melompat keluar kapan saja. Ia gemetaran dan berkata, “Nona, jalan ini sungguh suram, dan kita masih harus berjalan dua kilo lagi?”

 

“Apalagi yang bisa kita lakukan selain berjalan? Atau mungkin bermalam di tengah hutan pegunungan?”

 

Mereka berdua menggertakan gigi dan terus berjalan. Jalur di gunung semakin menanjak, membuat tiap menit yang mereka lalui semakin melelahkan. Mereka berjalan berputar di jalan gunung untuk sekitar satu setengah jam, napas mereka terengah-engah ketika malam tiba. Bulan sudah muncul di belakang mereka, menjatuhkan bayangan pepohonan ke atas tanah. Seperti menekankan kegerian sebuah hutan.

 

“Sudah hampir terlalu gelap untuk melihat jalan.” Zuiju berkata, “Sudah waktunya menyalakan lampu pijar.” Ia membuka bungkusannya, mengeluarkan korek api dan sebuah lampu minyak kecil. Ia memegang lampu dengan sebelah tangannya dan hendak menyalakan korek ketika Pingting segera menghentikannya.

 

“Diamlah!” Suara Pingting sangat mendesak dan gelisah ketika merasakan bahaya.

 

Zuiju segera menghentikan gerakannya, mengikuti arah tatapan Pingting.

 

Sebuah suara kayu terbakar terdengar dari dalam hutan di sebelah tenggara.

 

“Pengelana lain.” Ketika Zuiju melihat mereka. Ia mengembalikan korek dan lampu minyaknya ke dalam bungkusan. “Aku heran, apa yang mereka lakukan?”

 

Mata Pingting menatap sinar yang redup di kedalaman hutan. Ia berbisik, “Ini adalah jalan yang harus di lewati jika ingin menuju Bei Mo dari Ibukota.”

 

Kalau jejaknya hilang di ibukota, dimana lagi tempat yang tepat untuk menyergap mereka selain jalan ini yang terletak di tengah gunung?

 

Malam sudah agak larut.

 

“Kita harus pergi!” Zuiju segera berbisik.

 

“Ini rintangan yang harus kita hadapi cepat atau lambat.” Pingting perlahan menggelengkan kepalanya, sebuah keyakinan keluar dari mulutnya. “Ikut aku.”

 

Mereka berdua berjalan pelan-pelan masuk ke dalam hutan. Mereka melewati pepohonan yang lebat disekitar mereka hingga mereka mendekati sumber kerlipan api yang mereka lihat di jalan tadi.

 

“Para gadis itu! Berapa lama lagi kita harus menunggu?”

 

Mendengar suara mereka, Pingting dan Zuiju secara alami menyembunyikan diri mereka di antara semak-semak.

 

Ada beberapa orang pria, mereka berbaring atau duduk disekitar perapian. Sekitar dua atau tiga sedang meminum arak, beberapa diantaranya sedang menggosok pedang dan sisanya berbaring tak beraturan di atas tanah.

 

“Perampok?” Zuiju berbisik di telinga Pingting.

 

Pingting menaikan alisnya, “Tidak yakin.”

 

Suara langkah kaki menginjak ranting tiba-tiba terdengar, mereka berdua terdiam dan ketakutan. Mereka terlalu takut untuk berbicara tapi tetap mendengarkan.

 

“Yach, berapa lama lagi kita harus menjaga jalan terkutuk ini?”

 

Seorang pria yang menundukan kepalanya untuk membuka kendi arak dan meminumnya, sepertinya adalah pemimpin mereka, berkata, “Hentikan omong kosong kalian. Kalau kita harus menunggu yach menunggu!”

 

“Tapi kita sudah menunggu setiap hari. Kapan dua gadis kecil itu muncul?” kata seorang pria bungkuk dengan wajah licik seperti tikus, sambil menjaga perapian.

 

Dua gadis kecil?

 

Pingting dan Zuiju merasakan jantung mereka berdetak kencang karena menyadari sesuatu. Mereka saling memandang satu sama lain.

 

Seorang pria lain bersin dan berdiri. “Aku menyadari kalau tempat ini sehari perjalanan dari ibukota. Sama sekali tidak ada pergerakan dalam tiga hari terakhir ini. Mereka pasti telah tersesat di jalan dan penantian kita sia-sia.”

 

“Sudah kubilang, hentikan omong kosong kalian dan tunggulah dengan sabar disini!” si pemimpin marah dan melemparkan cangkir yang sudah kosong. “Mereka itu, sama sekali tidak berguna, kehilangan jejak ketika menguntit. Bagaimana dua pelacur kecil bisa menghilang di ibukota? Akhirnya kita harus menunggu disini tanpa harapan. Pejabat Senior mengatakan kalau jalan ini harus dilewati jika ingin menuju perbatasan Bei Mo. Dan tugas ini sangat sangat penting. Kalau kita tidak bisa menyelesaikannya, kita akan disini selamanya.”

 

Pria yang berada di dekat perapian meratapi nasibnya. “Semua orang mengatakan kalau si pelacur kecil Bai itu sangat licik. Siapa yang tahu ia akan lewat jalan mana?”

 

Zuiju sama sekali tidak berani bergerak, ia berpegang erat pada lengan Pingting di bawah semak-semak.

 

“Jangan khawatir, cepat atau lambat, ia akan tertangkap oleh orang kita. Jalan menuju Dong Lin dan Gui Li juga sudah dijaga ketat.”

 

“Hehehe…” suara seorang pria yang terlihat seperti tikus tajam dan tinggi, sangat menjijikkan. “Meskipun aku sangat berharap dua pelacur kecil itu akan lewat jalan ini. Kudengar Chu Beijie sangat tergila-gila pada salah satu pelacur itu. Bahkan Suami Ratu menganggapnya sebagai harta karun. Taruhan, pasti keahliannya di tempat tidur sangat luar biasa, sungguh sayang kalau dibunuh.”

 

Para pria itu tertawa keji.

 

“Benar, aku juga berharap mereka melewati jalan ini. Aku ingin lihat apa ia bisa membuat kita merasa puas sampai ingin mati atau kita yang membuat dia merasa puas sampai ingin mati.”

 

“Hahahaha, kita sebaiknya mulai membuat daftar urutan agar nantinya tidak ada yang kecewa.”

 

Pemimpin mereka meperingati mereka dengan hati-hati. “Kalian bisa bermain dengan mereka sesuka kalian tapi jangan di bunuh. Kalau ia mati, kalian akan menemui Pejabat Senior dengan kepala terpengal.”

 

Pingting selalu dimanjakan oleh Tuan dan Nyonya Besar sejak kecil. Bahkan ketika ia terkurung atau menjadi tahanan ia selalu diperlakukan dengan sopan. Mendengarkan perkataan mereka membuatnya gemetar karena menahan marah.

 

Zuiju bisa menyadari kemarahan Pingting dan menatapnya, menariknya untuk pergi.

 

Tapi Pingting tidak bergerak sama sekali, tatapannya tertuju pada perapian.

 

Kelompok pria itu berbincang dengan bersemangat selama beberapa saat. Seseorang bangkit lalu menuju hutan ketika perapian sudah agak kecil. Pingting dan Zuiju masih tidak bergerak. Jantung mereka hampir melompat keluar, ketika mendengar suara ranting terinjak, sekitar sepuluh langkah dari tempat mereka. Saat itu sangat gelap di dalam hutan, tapi semak-semak berwarna agak kekuningan. Beruntunglah semak-semak itu sangat rapat. Pakaian Pingting dan Zuiju serta buntalan bawaan merekapun berwarna gelap, tersamar di kegelapan malam. Pria itu berjalan lagi, mengumpulkan ranting-ranting dan melemparkannya satu persatu ke dalam perapian.

 

Kayu-kayu terbakar oleh api, menghasilkan bunyi percikan api.

 

“Waktunya berganti jaga.” Si pemimpin berdiri, terlihat tinggi dan besar. Ia menendang seorang pria yang sedang tertidur di sebelahnya, “Kalian bertiga, pergilah menjaga pos pemeriksaan di depan. Bocah Qi, kau ketempat pengintai diatas. Kau dan Nanfeng, periksa perangkap.”

 

“Aku pergi sekarang. Hehehe, mungkin para pelacur itu sudah terjebak di perangkap, menunggu kita!”

 

Suara tawa bergemuruh.

 

Bocah Qi berdiri dan memutari api. Ada sesuatu berwarna merah di belakangnya, terlihat seperti daging mentah. Karena udara sangat dingin, daging mentah bisa tahan lama di udara terbuka.

 

Ia mengeluarkan pisau tajam dan memotongnya. “Ayo berangkat.”

 

Pingting menyadari mereka akan melewati semak-semak, artinya mereka bisa saja di temukan. Ia menarik tangan Zuiju lalu menjauh dengan perlahan dan tanpa suara.

 

Mereka berdua sampai di tempat yang tidak terkena sinar bulan, bersembunyi di balik batu besar. Zuiju berpikir kalau saja bukan karena kemampuan Pingting yang bisa merasakan bahaya dan Zuiju terlanjur menyalakan lampu pijar, mereka bisa saja sudah di temukan musuh saat ini, dan mereka akan disiksa melebihi kematian. Napasnya yang berat sulit dikendalikan ketika ia berbicara, “Aku tidak pernah membayangkan kalau Putri Yaotian bisa begitu kejam. Nona, apa yang akan kita lakukan?”

 

Pingting berkata dengan berbisik, “Mereka sudah bersiap di depan, dan ada pengintai di atas serta jebakan di dalam hutan.” Pingting berpikir lama dan akhirnya membuka buntelan yang di bawanya. Ia mengeluarkan kotak kecil. “Oleskan ini ke tanganmu, kaki dan wajahmu.”

 

Zuiju tidak bisa melihat apa isi kotak kecil itu, jadi ia menciumnya dan menyadarinya. Itu adalah tumbuhan obat yang diminta Pingting dalam daftar belanjaannya. Pingting telah membuatnya menjadi bubuk dan mencampurnya dengan minyak beroma aneh. Hasilnya lotion berwarna aneh yang sekarang berada di kotak kecil.

 

Pingting juga mengoleskan lotion itu banyak-banyak di wajah, tangan dan kakinya. Ia menjelaskan, “Ini untuk menghindari pencium anjing pelacak.”

 

“Bagaimana Nona tahu mereka punya anjing pelacak?”

 

“Pria itu, memotong daging mentah sebelum pergi. Itu sudah pasti untuk di berikan pada anjing pelancak.” Pingting membereskan kembali kotak kecil itu ketika mereka sudah selesai membalurkannya pada tubuh mereka. Ia mengeluarkan lagi beberapa benda dari buntelannya dan menyusunnya di tanah.

 

Sinar bulan tidak mengenai mereka, Zuiju sama sekali tidak terpikirkan apa yang sedang Pingting lakukan. Selama tiga hari mereka di ibukota, Pingting telah menghabiskan delapan atau sembilan puluh persen uang mereka yang diberikan oleh Yaotian. Pingting membeli barang-barang aneh yang Zuiju tidak bisa menerka sama sekali akan digunakan untuk apa. “Nona, mengapa kita tidak kembali ke ibukota dan mengulur waktu? Kita kembali lewat jalan yang sama lalu mencari tempat untuk sembunyi. Tidak akan terlambat untuk pergi ke Bei Mo setelah para kelompok bandit itu pergi.”

 

“Semakin cepat kita mencapai Bei Mo, semakin aman. Kalau kita terlalu mengulur waktu, He Xia mungkin menyadari pelarianku dan akan menggirim perintah untuk menangkapku apapun resikonya.” Dalam kegelapan, mata Pingting bersinar penuh harga diri. Suaranya menjadi kaku, “Lagipula, bagaimana mungkin aku membiarkan para bandit kasar itu.”

 

Zuiju tahu kalau Pingting sangat marah.

 

Wanita ini memiliki kekuatan yang sebanding dengan Chu Beijie dan He Xia. Ketika berurusan dengan serangan atau pertahanan, sebuah pertempuran sudah dipersiapkan, ia sama sekali bukan tandingan bagi pemula.

 

Bagaimana mungkin ia membiarkan mereka?

 

“Sekarang bukan saatnya untuk mendendam. Mereka semuanya pria dan bersenjata.”

 

Senyum manis Pingting terlihat di kegelapan. “Jangan takut. Para babi hutan itu sama sekali bukan apa-apa bagiku, selama aku memiliki ini.” Ia mengambil beberapa dari tanah dan memberikannya pada Zuiju. Lalu Pingting meletakan buntelannya kembali ke punggungnya. Dan berkata pelan, “Ikut aku.”

 

Mereka berdua bergerak perlahan melewati hutan. Pingting berhenti beberapa kali di beberapa tempat, mendengarkan dengan seksama dan mengendus untuk mencari arah yang tepat. Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah sungai kecil. Mereka mengkikuti aliran dari arah datang dan menemukan sumbernya. Air itu mengucur keluar dari bebatuan, menghasilkan suara air mengalir. Ini memang sumbernya.

 

Dalam kegelapan malam, Pingting agak sulit menentukan bentuk gunung dan hutan disekitar mereka. Ia berbalik pada Zuiju dan berkata, “Kemah mereka terlihat jelas dari sini, kurasa tempat pengintaian atas dan pos permeriksaanpun tidak jauh dari sini. Untuk menghalangi kita melewati hutan, mereka sudah pasti meletakan perangkap yang banyak. Sepertinya kelompok mereka terbagi dua untuk meningkatkan pengawasan. Kalau kita berusaha untuk lewat, mereka pasti akan tahu.”

 

“Kita tidak boleh membuat mereka tahu. Jumlah mereka sangat banyak. Kalau mereka mengepung kita, bagaimana kita bisa lolos?”

 

Pingting duduk di dekat sumber air. Ia mencelupkan tangannya ke dalam air, lalu membelokan aliran. Ia duduk terdiam beberapa saat lalu berkata lagi, “Bentuk perlawanan kita, hanya perlu membuat mereka siaga.”

 

“Nona?”

 

Pingting mengambil benda di tangan Zuiju. “Bentuk pepohonan ini sangat pas.” Pingting mulai mengambil benda di tangan Zuiju satu per satu. Zuiju mulai bisa menebak apa yang sedang direncanakan Pingting.

 

“Itu sebuah busur?”

 

“Meskipun bentuknya seperti busur, tapi bukan busur biasa.” Pingting mengeluarkan tali kulit dan dengan cekatan meletakannya di balik pohon. Lalu ia menarik talinya ke ujung sumber air, dan persiapan selesai. “Ketika menginjak ini, busur akan menembakkan anak panah.”

 

Setelah yang satu selesai, ia mulai membuat yang kedua. Ia memasang tali kulitnya dan menyembunyikannya di balik pepohonan atau di dalam semak, sangat berhati-hati ketika menyembunyikan talinya.

 

Pingting sangat sibuk, meletakkan sekitar tujuh busur. Setiap busur diletakan berjauhan dan semakin ke dalam hutan. Zuiju memperhatikan dan menyadari kalau busur-busur itu tidak akan menembak pada saat bersamaan. Pingting menggunakan tali kulit itu untuk menhubungkan mereka.

 

“Ketika yang pertama menembak, yang kedua akan bersiap. Dan ketika yang kedua selesai menembak, yang ketiga sudah siap dan seterusnya….” Setelah Pingting selesai, ia dan Zuiju kembali ke tempat busur pertama di letakan. Ia berdiri di ujung sungai kecil, menujuk ke arah busur terakhir di sembunyikan. “Hutan ini sangat gelap, mereka pasti tidak menyadari kalau ada busur di sembunyikan di balik pohon. Mereka akan mengetahuinya ketika pagi tiba.”

 

Zuiju berpikir keras dibalik kegelapan. Tiba-tiba ia mengerti, “Ketika mereka menginjak tali itu, yang pertama akan menembak, membuat mereka berpikir kalau kita berada di sisi seberang sungai. Dan setelah yang pertama menembak, yang kedua akan menembak dari tempat yang lebih jauh, sehingga mereka akan berpikir kita telah mundur jauh ke dalam hutan. Dan mereka akan segera pergi dari tempat ini.”

 

Pingting menjawab, “Meskipun banyak anak panah, tapi arahnya tidak bisa tepat jadi tidak akan melukai mereka dengan berarti. Hal yang paling penting disini.” Ia perlahan menunjuknya.

 

“Sumber mata air?”

 

“Sebagai sumber, air inilah yang akan mengalir mengisi sungai. Ketika mereka menyebrang sungai dengan terburu, mereka akan membuat cipratan besar.”

 

“Maksud Nona…” Zuiju melihat tangan putih Pingting memegang beberapa tanaman obat dan menggulungnya menjadi bola kecil dan suaranya menjadi bimbang, “meracuni mereka?”

 

“Benar. Kita akan meletakan ini di dalam sungai. Obat ini perlahan akan larut dalam air dan bertahan sekitar satu atau dua hari.”

 

Zuiju mengangguk kagum, tiba-tiba ia teringat hal penting, “Tapi bagaimana mereka akan kemari dan menginjak tali?”

 

Wajah Pingting terlihat yakin dan tersenyum penuh percaya diri. “Bukankah mereka memiliki anjing pelacak?”

 

Zuiju melihat senyumnya dan perlahan mulai merasa kasihan pada para bandit itu.

 

Inilah Nona Bai, yang mampu menguncang empat negara dan sedang merasa sangat putus asa. Setelah mendengarkan percakapan pada bandit itu, ia sudah cukup marah. Dan ia berencana melepaskan kemarahannya pada kelompok bandit yang kurang beruntung itu.

 

Siapa yang berani macam-macam dengan Bai Pingting, bahkan Chu Beije dan He Xia takut untuk melakukannya.

 

--00--
 

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia