Ketika
waktu kira-kira pukul tiga pagi, dan semua orang hampir terlelap, Nanfeng
terbangun karena waspada terhadap sesuatu.
“Siapa
itu?” Nanfeng berteriak keras sambil melompat keluar dari semak-semak.
Mungkinkah
wanita Bai itu?
Ia
membuka semak-semak untuk melihat perangkap yang ia pasang disana. Perangkap
memperlihatkan kondisi rusak, seperti seseorang telah terjatuh disana, tapi
tidak ada yang terperangkap. Ada sesuatu yang bersinar di kegelapan, Nanfeng mengambilnya
dan memperhatikan dengan seksama. Sebuah sepatu yang disulam dengan rapi.
“Bocah
Gao! Lihat!”
Nanfeng
berteriak, dan Gao keluar dari pepohonan. “Makanan? Untuk anak-anak anjing?”
“Seorang
wanita! Lihat, sebuah sepatu!”
Dibalik
rajutan sepatu, ada sebuah tulisan kecil yang terlihat dalam kegelapan – dibuat
oleh Kediaman Suami Ratu.
“Ini
berasal dari Kediaman Suami Ratu.”
“Pasti
dari wanita Bai itu!” Nanfeng berkata dengan gembira, “Wanita itu pasti lewat
sini dan hampir terperangkap. Pelacur itu.”
Pria
yang berjaga di pos pemeriksaan mendengar teriakannya dan menghampiri,
“Nanfeng, ada apa?”
“Boss,
wanita Bai itu berada di hutan. Aku menemukan sepatunya.”
Kesabaran,
rasa malas dan lelah mereka dalam sekejap menguap dengan kejadian sesaat ini,
ketika mereka menemukan sebuah sepatu bersulam indah. Semua orang menjadi
bersemangat, “Hehehe, sekarang mereka sudah berada di hutan. Mereka tidak bisa
melarikan diri.”
Dua
anjing setinggi separuh pria dewasa dibawa ke tempat itu. Mereka
mengendus-endus sepatu itu dan segera bergerak gelisah, sampai tali di leher
anjing-anjing itu bergemertak.
Si
pemimping bandit melepaskan anjing-anjing. “Pergi.”
Ketika
anjing-anjing itu bebas, mereka segera berlari menuju kedalaman hutan.
Angin
malam sangat dingin, tapi semua orang sangat bersemangat.
“Heh,
ayo teman-teman!”
“Jangan,
biarkan di boss duluan!”
“Tangkap
dua pelacur kecil itu!”
Pedang-pedang
dikeluarkan dari sarungnya, besi dingin memancarkan sinar bulan. Bayangan besar
bergerak menuju hutan, mengejar sosok tangkas para anjing pelancak.
“Kepung
mereka!”
“Jangan
biarkan mereka lolos!”
Mereka
berkeringat banyak ketika mengejar sampai ke sumber air di gunung. Para anjing
yang mengonggong sepanjang perjalanan tiba-tiba mencelupkan kepala mereka ke
air, minum dengan lahapnya.
“Teruskan
mengejar! Mengapa mereka minum disaat seperti ini?” para anjing di tendang
sampai mereka mengaing-ngaing kesakitan, tapi mereka tetap berada di samping
sumber air itu.
Mereka
tak bisa berbuat apa-apa. Pingting telah meletakan ramuan khusus di sepatunya.
Ketika anjing-anjing itu mengendusnya mereka akan merasakan hidung mereka panas
dan tubuh mereka serasa terbakar. Hal inilah yang membuat mereka mencari sumber
air terdekat.
Dan
ketika mereka semua tiba di sungai, mereka melihat para anjing pelacak meminum
air dengan dahaganya. Mereka sepenuhnya berhenti mengejar. “Dimana mereka?
Mengapa para anjing itu berenti mengejar?” Para bandit melangkah mendekati
bebatuan tempat Pingting menyembunyikan busur. Percakapan mereka belum selesai
ketika tembakan pertama melayang di udara mengenai salah seorang dari mereka.
“Ah!”
sebuah anak panah menusuk bahu bocah Qi. Ia berteriak kesakitan.
“Serangan
diam-diam! Berengsek, pelacur itu memiliki busur!” para bandit merasa heran.
Mereka merunduk untuk berlindung.
Beberapa
dari mereka mengangkat kepalanya dan mereka mendengar hembusan angin.
“Hati-hati.”
Dalam
kegelapan, mereka tidak tahu berapa banyak anak panah yang melayang. Mereka
pikir cukup dengan pedang saja untuk menangkap dua wanita, Pingting dan Zuiju,
yang sama sekali tidak terpikirkan akan memiliki busur dan kemampuan menyerang
balik dari kejauhan. Para bandit mulai berteriak kesal.
“Para
pelacur menembakkan anak panah lagi!”
“Kalau
mereka tertangkap, kita harus membuat mereka menderita lebih parah dari
kematian!”
Tapi
anak panah berikutnya tidak sampai ke tempat mereka dan jatuh agak jauh dari
sumber air. Si pemimping yang lebih berpengalaman berkata, “Mereka menembak
sambil mundur, kejar!”
Para
bandit mengejar menyebrangi sungai, bersenjata lengkap dengan pisau dan pedang.
Mereka memercik air kemana-mana ketika mereka melewati aliran air. Mereka baru
tiba di seberang ketika busur ke tiga mulai menembak dari jarak yang lebih
jauh.
“Kejar
mereka, cepat!”
“Dasar
berengsek, mereka cepat sekali!”
Para
bandit bergerak melebar, berusaha mengepung sasaran mereka, mereka menyamarkan
keberadaan mereka di dalam hutan. Anak panah masih terus menembak. Para bandit
menuju arah anak panah itu berasal, arah tembakan anak panah itu semakin kacau.
Selain anak panah yang mengenai si bocah Qi yang lainnya sama sekali tidak
terluka. Para bandit yang marah itu menjadi semakin bersemangat. Semakin
bersemangat mereka, semakin mereka kesal. Mereka memikirkan berbagai macam cara
untuk menghukum dua wanita itu ketika mereka berhasil menangkapnya.
Setelah
tujuh tembakan busur, sudah tidak ada lagi gerakan.
Nanfeng
tersenyum jahat. “Hehehe, mereka sudah kehabisan anak panah. Boss, sergap
mereka!”
Mereka
tenang sebentar sebelum gelombang kegermbiraan datang kemudian. Mereka telah
ditempatkan disana agak sehingga sudah tahu persis daerah itu. Arah dua wanita
itu menuju di depannya adalah jalan buntu. Mereka hendak mengepung melingkar
ketika wajah Nafeng menunjukan ekspresi aneh. “Kakiku….” Rasa geli mulai
merambat naik ke kakinya. Pedangnya jatuh menimpa batu ketika ia memegangi
kakinya. “Gatal, gatal sekali, aaaaahhh!” ia memasukan tangannya ke dalam
sepatunya. Rasanya sangat sakit seperti selapis kulit sedang dikelupas. Ia
berteriak kencang.
Si
pemimping berteriak dengan marah, “Mengapa kau bersikap seperti seekor monyet,
Nanfeng? Ah….” Ia tiba-tiba merasakan perasaan aneh di kakinya sendiri.
Awalnya
hanya seperti kesemutan lembut, tapi kemudian menjadi rasa sakit yang sulit di
tahan.
Dan
semua orang di sekitarnya berjatuhan ke tanah satu per satu, berteriak sambil
mencengkram kaki mereka masing-masing.
“Ow…
ah…. Pelacur itu….! Para pelacur itu menaburkan racun!”
Percakapan
mulai terdengar seperti hewan liar menjerit dan wajah mereka sangat gelisah.
Si
pemimpin gemetar kesakitan. Ia masih ingin melanjutkan niatnya tapi ia merasa
sangat kesakitan. Ia berkata sambil menahan sakitnya, “Siapa yang menjaga pos
pemeriksaan?”
“Kami
semua… kami semua datang untuk mem..bantu.. menang..kap… aaah…. Sakit
sekali…siapa yang menjaga pos pemeriksaan?” si bocah Qi yang paling sial di
antara mereka semua. Kakinya terkena racun dan pundaknya terluka karena anak
panah. Kukunya dipenuhi aliran darah yang panjang. Menahan sakit seperti itu
adalah pertempurannya sendiri.
“Berengsek,
ktia telah dipermainkan!”
Langit
segera terang, warna langit yang abu-abu segera berganti dengan kecoklatan,
membuat seringai mengejek di wajah mereka.
Tak
heran, Pejabat Senior memperingatkan mereka berkali-kali untuk tidak menganggap
remeh wanita yang bernama Bai Pingting.
Berengsek!
--00--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar