Minggu, 30 Oktober 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.43

-- Volume 2 chapter 43 --


Ketika waktu kira-kira pukul tiga pagi, dan semua orang hampir terlelap, Nanfeng terbangun karena waspada terhadap sesuatu.

 

“Siapa itu?” Nanfeng berteriak keras sambil melompat keluar dari semak-semak.

 

Mungkinkah wanita Bai itu?

 

Ia membuka semak-semak untuk melihat perangkap yang ia pasang disana. Perangkap memperlihatkan kondisi rusak, seperti seseorang telah terjatuh disana, tapi tidak ada yang terperangkap. Ada sesuatu yang bersinar di kegelapan, Nanfeng mengambilnya dan memperhatikan dengan seksama. Sebuah sepatu yang disulam dengan rapi.

 

“Bocah Gao! Lihat!”

 

Nanfeng berteriak, dan Gao keluar dari pepohonan. “Makanan? Untuk anak-anak anjing?”

 

“Seorang wanita! Lihat, sebuah sepatu!”

 

Dibalik rajutan sepatu, ada sebuah tulisan kecil yang terlihat dalam kegelapan – dibuat oleh Kediaman Suami Ratu.

 

“Ini berasal dari Kediaman Suami Ratu.”

 

“Pasti dari wanita Bai itu!” Nanfeng berkata dengan gembira, “Wanita itu pasti lewat sini dan hampir terperangkap. Pelacur itu.”

 

Pria yang berjaga di pos pemeriksaan mendengar teriakannya dan menghampiri, “Nanfeng, ada apa?”

 

“Boss, wanita Bai itu berada di hutan. Aku menemukan sepatunya.”

 

Kesabaran, rasa malas dan lelah mereka dalam sekejap menguap dengan kejadian sesaat ini, ketika mereka menemukan sebuah sepatu bersulam indah. Semua orang menjadi bersemangat, “Hehehe, sekarang mereka sudah berada di hutan. Mereka tidak bisa melarikan diri.”

 

Dua anjing setinggi separuh pria dewasa dibawa ke tempat itu. Mereka mengendus-endus sepatu itu dan segera bergerak gelisah, sampai tali di leher anjing-anjing itu bergemertak.

 

Si pemimping bandit melepaskan anjing-anjing. “Pergi.”

 

Ketika anjing-anjing itu bebas, mereka segera berlari menuju kedalaman hutan.

 

Angin malam sangat dingin, tapi semua orang sangat bersemangat.

 

“Heh, ayo teman-teman!”

 

“Jangan, biarkan di boss duluan!”

 

“Tangkap dua pelacur kecil itu!”

 

Pedang-pedang dikeluarkan dari sarungnya, besi dingin memancarkan sinar bulan. Bayangan besar bergerak menuju hutan, mengejar sosok tangkas para anjing pelancak.

 

“Kepung mereka!”

 

“Jangan biarkan mereka lolos!”

 

Mereka berkeringat banyak ketika mengejar sampai ke sumber air di gunung. Para anjing yang mengonggong sepanjang perjalanan tiba-tiba mencelupkan kepala mereka ke air, minum dengan lahapnya.

 

“Teruskan mengejar! Mengapa mereka minum disaat seperti ini?” para anjing di tendang sampai mereka mengaing-ngaing kesakitan, tapi mereka tetap berada di samping sumber air itu.

 

Mereka tak bisa berbuat apa-apa. Pingting telah meletakan ramuan khusus di sepatunya. Ketika anjing-anjing itu mengendusnya mereka akan merasakan hidung mereka panas dan tubuh mereka serasa terbakar. Hal inilah yang membuat mereka mencari sumber air terdekat.

 

Dan ketika mereka semua tiba di sungai, mereka melihat para anjing pelacak meminum air dengan dahaganya. Mereka sepenuhnya berhenti mengejar. “Dimana mereka? Mengapa para anjing itu berenti mengejar?” Para bandit melangkah mendekati bebatuan tempat Pingting menyembunyikan busur. Percakapan mereka belum selesai ketika tembakan pertama melayang di udara mengenai salah seorang dari mereka.

 

“Ah!” sebuah anak panah menusuk bahu bocah Qi. Ia berteriak kesakitan.

 

“Serangan diam-diam! Berengsek, pelacur itu memiliki busur!” para bandit merasa heran. Mereka merunduk untuk berlindung.

 

Beberapa dari mereka mengangkat kepalanya dan mereka mendengar hembusan angin.

 

“Hati-hati.”

 

Dalam kegelapan, mereka tidak tahu berapa banyak anak panah yang melayang. Mereka pikir cukup dengan pedang saja untuk menangkap dua wanita, Pingting dan Zuiju, yang sama sekali tidak terpikirkan akan memiliki busur dan kemampuan menyerang balik dari kejauhan. Para bandit mulai berteriak kesal.

 

“Para pelacur menembakkan anak panah lagi!”

 

“Kalau mereka tertangkap, kita harus membuat mereka menderita lebih parah dari kematian!”

 

Tapi anak panah berikutnya tidak sampai ke tempat mereka dan jatuh agak jauh dari sumber air. Si pemimping yang lebih berpengalaman berkata, “Mereka menembak sambil mundur, kejar!”

 

Para bandit mengejar menyebrangi sungai, bersenjata lengkap dengan pisau dan pedang. Mereka memercik air kemana-mana ketika mereka melewati aliran air. Mereka baru tiba di seberang ketika busur ke tiga mulai menembak dari jarak yang lebih jauh.

 

“Kejar mereka, cepat!”

 

“Dasar berengsek, mereka cepat sekali!”

 

Para bandit bergerak melebar, berusaha mengepung sasaran mereka, mereka menyamarkan keberadaan mereka di dalam hutan. Anak panah masih terus menembak. Para bandit menuju arah anak panah itu berasal, arah tembakan anak panah itu semakin kacau. Selain anak panah yang mengenai si bocah Qi yang lainnya sama sekali tidak terluka. Para bandit yang marah itu menjadi semakin bersemangat. Semakin bersemangat mereka, semakin mereka kesal. Mereka memikirkan berbagai macam cara untuk menghukum dua wanita itu ketika mereka berhasil menangkapnya.

 

Setelah tujuh tembakan busur, sudah tidak ada lagi gerakan.

 

Nanfeng tersenyum jahat. “Hehehe, mereka sudah kehabisan anak panah. Boss, sergap mereka!”

 

Mereka tenang sebentar sebelum gelombang kegermbiraan datang kemudian. Mereka telah ditempatkan disana agak sehingga sudah tahu persis daerah itu. Arah dua wanita itu menuju di depannya adalah jalan buntu. Mereka hendak mengepung melingkar ketika wajah Nafeng menunjukan ekspresi aneh. “Kakiku….” Rasa geli mulai merambat naik ke kakinya. Pedangnya jatuh menimpa batu ketika ia memegangi kakinya. “Gatal, gatal sekali, aaaaahhh!” ia memasukan tangannya ke dalam sepatunya. Rasanya sangat sakit seperti selapis kulit sedang dikelupas. Ia berteriak kencang.

 

Si pemimping berteriak dengan marah, “Mengapa kau bersikap seperti seekor monyet, Nanfeng? Ah….” Ia tiba-tiba merasakan perasaan aneh di kakinya sendiri.

 

Awalnya hanya seperti kesemutan lembut, tapi kemudian menjadi rasa sakit yang sulit di tahan.

 

Dan semua orang di sekitarnya berjatuhan ke tanah satu per satu, berteriak sambil mencengkram kaki mereka masing-masing.

 

“Ow… ah…. Pelacur itu….! Para pelacur itu menaburkan racun!”

 

Percakapan mulai terdengar seperti hewan liar menjerit dan wajah mereka sangat gelisah.

 

Si pemimpin gemetar kesakitan. Ia masih ingin melanjutkan niatnya tapi ia merasa sangat kesakitan. Ia berkata sambil menahan sakitnya, “Siapa yang menjaga pos pemeriksaan?”

 

“Kami semua… kami semua datang untuk mem..bantu.. menang..kap… aaah…. Sakit sekali…siapa yang menjaga pos pemeriksaan?” si bocah Qi yang paling sial di antara mereka semua. Kakinya terkena racun dan pundaknya terluka karena anak panah. Kukunya dipenuhi aliran darah yang panjang. Menahan sakit seperti itu adalah pertempurannya sendiri.

 

“Berengsek, ktia telah dipermainkan!”

 

Langit segera terang, warna langit yang abu-abu segera berganti dengan kecoklatan, membuat seringai mengejek di wajah mereka.

 

Tak heran, Pejabat Senior memperingatkan mereka berkali-kali untuk tidak menganggap remeh wanita yang bernama Bai Pingting.

 

Berengsek!

 

--00--

 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar