Ketika
Yaotian tiba di istana, Gui Changqing sudah menunggunya.
“Putri.”
Melihat Yaotian, Gui Changqing segera berdiri dan membungkuk.
Yaotian
menjawab dengan pelan, ia duduk di kursi dengan letih. Ia mengangkat tangannya
untuk menyentuh pelipisnya beberapa saat dan berkata, “Aku menguji Bai
Pingting. Dari apa yang kulihat, ia benar-benar tidak ada niat sama sekali
untuk kembali pada Chu Beijie.”
“Lalu
… bagaimana menurut Putri?”
Yaotian
mempertimbangkan beberapa saat sebelum berkata lagi, “Ia hanya seorang wanita,
kalau ia bukan sebuah ancaman bagi kita, mengapa harus menyakitinya? Pada saat
aku mengabulkan permohonannya untuk pergi, ia sangat gembira. Ia benar-benar
juga tidak berniat untuk berada disisi Suamiku.”
“Putri,
hatimu melunak padanya.” Gui Changqing menghela napas.
“Pejabat
Senior.” Yaotian merubah nada suaranya dan berkata pelan, “Apa Pejabat Senior
tidak mengerti masalah Yaotian?”
Gui
Changqing diam.
Pejabat
Yun Chang ini selalu tidak berkompromi untuk urusan cara ia menyelesaikan masalah
yang terkait masa depan Yun Chang.
Ia
berdiri, mengalihkan pandangannya dari Yaotian pada menara di kejauhan yang
tidak terlihat jelas. Ia berkata, “Apakah masalah Putri adalah masalah Negara?
Putri sudah memperoleh kekuasaan yang sangat besar, seharusnya dipergunakan
untuk melindungi dan memberikan kemurahan hati bukan hanya pada Bai Pingting seorang.
Memang benar, melepaskan Bai Pingting tidak sulit. Tapi bagaimanapun, aku
khawatir jika Putri tidak mampu menghadapi masalah kecil seperti Bai Pingting,
tidak mau bertindak lebih jauh hanya karena merepotkan, apa Putri akan mampu
menghadapi masalah yang lebih besar yang akan mengakibatkan kehancuran seluruh
Yun Chang?”
Yaotian
kehilangan kata-kata dan hanya diam.
Gui
Changqing melanjutkan, “Perang sangat kejam, sebuah hutan yang ganas, dan tidak
pernah menjadi jalan hidup yang
sebenarnya. Putri memiliki kedudukan yang sangat penting, banyak orang yang
akan mengambil keuntungan dari Putri jika anda tidak cukup berhati kuat. Hanya
karena Putri tidak ingin orang lain merasakan buah yang rasanya begitu pahit
atau sebuah kekalahan, apa artinya Putri yang akan menanggungnya?”
Yaotian
mendengarkan setiap kata-katanya sampai ke hati dan tetap diam untuk beberapa
saat. “Yaotian mengerti maksud Pejabat Senior.”
“Tolong
dipertimbangkan Putri.”
Yaotian
tetap diam sampai akhirnya ia berkata, “Baiklah, silakan, Pejabat Senior.”
“Baik!”
“Pejabat
Senior.”
“Putri
….”
“Kau
harus merahasiakan hal ini, jangan sampai Suamiku tahu.”
“Aku
akan berhati-hati.” Gui Changqing pergi sambil masih membungkuk.
Tirai
bergerak ketika Gui Changqing pergi, menyebabkan manik-manik saling
bertabrakan, menyebarkan sinar dingin ke segala arah.
He
Xia sedang dalam perjalanan, tubuhnya penuh debu dan ia bergegas menuju
perbatasan.
Seandainya
ia tahu, bahwa pelayan kesayangannya sedang mengalami ketidakberuntungan,
bagaimana ia akan bereaksi?
Yaotian
sangat khawatir dan ia berpikir sangat hati-hati berkali-kali.
Yaotian
sangat mencintai pria itu dan sangat mengerti seandainya He Xia tahu apa yang
sudah ia lakukan, ia takkan pernah dimaafkan.
Takdir
sudah memainkan banyak tipuan pada manusia.
Pingting,
wanita itu dipanggil dengan nama Pingting, sangat pintar dan sederhana.
Menjelajah
dunia, tanpa khawatir sedikitpun akan masalah dunia, bebas seperti burung.
Kalau
saja ada seseorang yang mampu menjelajah dunia, tanpa sedikitpun kekhawatiran
tentang apapun, sebebas burung, maka sungguh sangat luar biasa….
Karena,
meskipun Yun Chang adalah negara yang paling damai diantara tiga negara
lainnya, ia telah mengikuti kebijakan politik sepanjang hidupnya.
--
Meskipun
awan peperangan telah memenuhi kepala seluruh rakyat di negara ini, pusat
perdagangan di ibukota belum terkena dampaknya. Beberapa kereta, kuda dan
orang-orang, mondar-mandir disekitar, kios-kios
menjual kacang-kacang, susu kacang kedelai, nasi kepal, persis seperti yang
mereka pajang, ada yang bermain-main dengan monyet-monyet untuk mendapatkan
uang. Beberapa pelayan terlihat sangat tertarik ketika berjalan sepanjang jalan,
mereka memilih pemerah pipi atau memilih lukisan cat air dan banyak diantaranya
sepertinya telah memesannya terlebih dahulu dan membelinya untuk Nona atau Tuan
mereka di Kediamannya.
Pingting
dan Zuiju memilih tempat yang paling ramai. Mereka mengambil beberapa jalan
kecil untuk jalan pintas, berbalik dan berputar sampai akhirnya mereka sampai
di jalan yang sangat sibuk.
Zuiju
mengikuti dibelakang Pingting sambil memegang bawaannya. Kakinya tak lagi
menyukai sentuhan permukaan tanah, “Nona, kita sudah berjalan sangat lama.”
“Aku
sedang mencoba menghilangkan penguntit di belakang kita.”
Zuiju
terkejut, “Ada orang yang mengikuti kita?”
“Aku
hanya menerkanya. Terlalu banyak orang untuk bisa tahu siapa sebenarnya.”
“Nona?”
Tatapan
tak berdaya muncul di wajah Pingting. “Aku sungguh tidak tahu.”
Ia
selalu di lindungi ketika berada di dalam Kediaman, dilindungi oleh He Xia atau
Chu Beijie dimanapun ia berada, entah di dalam atau di luar. Bahkan ketika berada
di medan perang atau di dalam tenda penasihat, para penjaga selalu menemaninya.
Dan sebagai hasilnya, pertemuannya dengan musuh adalah kejadian yang luar
biasa.
Kalau
He Xia dan Chu Beijie berada disana, mereka pasti segera menyadari siapa musuh
mereka, tapi Pingting tidak memiliki kemampuan ini. Perasaannya yang tajam
selalu memperingatinya ketika bahaya mendekat, tapi yang ia bisa lakukan hanya
bersembunyi semampunya.
Mereka
berdua menghilangkan wajah pucat mereka ketika Pingting tiba-tiba berhenti dan
berkata, “Aku haus, ayo beli semangkuk susu kedelai.” Ia mendorong Zuiju menuju
sebuah kedai dan meletakan dua koin perak, “Aku minta dua mangkuk susu kedelai
Tuan, terima kasih.”
Ketika
ia menerimanya, tangannya tiba-tiba gemetar dan separuh dari susunya tumpah.
“Kyaa!”
Zuiju tak sempat menghindar dan bajunya basah. Pingting juga tak sempat
menghindar dan lengan bajunya juga terkena tumpahan susu.
“Oops.”
Pingting segera meletakan mangkuk susunya. “Ini salahku karena sudah ceroboh,
sekarang bagaimana?” ia khawatir dan melihat dirinya sendiri. Ia melihat
seorang ibu tua melihat kearah mereka ketika hendak keluar dari rumahnya.
Pingting segera mendorong Zuiju ke arah pintu masuk, dan memasang wajah polos.
“Nyonya, apakah kami bisa meminjam pakaian dari rumah ini?”
Pakaian
mereka sangat indah dan mereka bersikap sangat sopan, si ibu tua mengira,
sepertinya mereka anak perempuan dari keluarga baik-baik. Dengan sikap ramah khas
warga Yun Chang, si ibu tua segera menjawab, “Megapa tidak, masuklah, bagaimana
mungkin kalian berjalan-jalan di luar dengan penampilan seperti ini?”
Ia
membukakan pintu dan membiarkan mereka masuk ke dalam.
Si
ibu tua melihat ke arah Zuiju yang sepertinya telah berendam di dalam kuah sup
selama satu jam. Ia terkekeh, “Susu kedelai banyak menggunakan gula dan akan
lengket ketika kering. Kalian bisa melepaskan pakaian kalian dan aku akan
mencucikannya.”
Pingting
berkata, “Ibu akan berteriak padaku karena menghancurkan pakaianku ketika
kembali nanti. Nyonya tolong berikan aku air agar aku bisa mencucinya sendiri.”
“Oh,
jangan mencucinya sendiri. Kau tamu sejak kau masuk kesini. Bagaimana mungkin
kami membiarkan tamu kami mencuci pakaian mereka sendiri?”
Si
ibu tua sangat baik dan mengambilkan dua buah pakaian untuk mereka. “Tolong
ganti dengan pakaian ini Nona-Nona, ini milik mantu perempuanku, dan ukurannya
sama dengan kalian. Pakaian ini tidak terbuat dari bahan terbaik seperti milik
kalian, tapi setidaknya pakaian ini bersih.”
Ini
persis seperti yang Pingting harapkan. Ia segera berterima kasih dan menganti
pakaiannya bersama Zuiju. Ia lalu berbisik pada Zuiju, “Berikan koin perak yang
kau simpan.”
Zuiju
memberikannya.
Setelah
berganti pakaian, si ibu tua mengambil pakaian basah mereka. “Aku akan
mencucinya dulu, akan segera kembali. Bahan ini pasti sangat mahal, oh tidak,
sungguh mahal.”
Begitu
punggung si ibu tua menghilang dari pintu, Pingting segera menarik Zuiju. “Ayo
pergi.” Ia meletakan koin perak di meja dan hendak pergi, ketika ia meragu
sesaat. Ia mengambil taplak meja berwarna biru, lalu mendorong Zuiju keluar.
Zuiju
berkata, “Nona itu sisi belakang.”
“Tentu
saja, kita tidak mungkin keluar dari pintu utama. Kalau memang ada seseorang
yang mengikuti kita, mereka akan menunggu kita diluar saat ini.” Pingting telah
memutuskan untuk mendekati si ibu tua ketika melihat rumahnya berukuran cukup
besar, karena itu berarti mereka orang cukup berada dan seharusnya memiliki
halaman yang cukup luas, sehingga kemungkinan mereka memiliki pintu belakang
lain untuk keluar.
“Lihat!”
Ada nada gembira dalam nada suara Pingting. “Memang benar, ada pintu lain.”
Mereka
berdua keluar dari pintu itu, dan ternyata mereka berada di sebuah lorong kecil
yang sepi. Pingting mengacak-acak rambut Zuiju, “Buat dua ikatan rambut.” Lalu
Pingting melepaskan ikatan rambutnya sendiri dan mengikatnya seperti wanita
biasa pada umumnya. Tak lama kemudian, mereka berdua terlihat seperti orang
yang benar-benar berbeda. Pingting kemudian membentangkan kain taplak meja yang
ia ambil dan membungkus bawaan mereka. “Sekarang mereka tak bisa mencirikan
bawaan ktia juga.”
Mereka
berdua bertukar senyum dan berjalan keluar lorong dengan hati-hati. Langkah
mereka lambat dan mereka berlaku seperti dua saudara yang sedang berkeliling
untuk berbelanja.
“Bisakah
kita pergi keluar ibukota sekarang?” Zuiju berbisik.
“Belum.”
Tatapan Pingting berkeliling melihat sekitar. Ia berguman, “Masuk ke
penginapan.” Ketika pengintai mereka menyadari kalau mereka telah menghilang,
tempat pertama yang akan mereka datangi pasti gerbang kota. Karena itu, mengapa
tidak tinggal sehari dua hari dan menunggu pengintai mereka menjauh.
Zuiju
mengerti hal ini, dan diam-diam kagum pada kepandaian Pingting. Ia mengangguk,
“Kalau begitu, ayo pergi.”
“Kau
pergilah duluan.” Pingting terkekeh ketika bicara. “Kau pergi duluan, aku akan
menyusul. Kita akan memesan satu kamar masing-masing, agar tidak terlihat
berhubungan. Berikan aku beberapa koin perak yang kau simpan.”
Zuiju
melihat semangat Pingting sedang meningkat, semangatnya seperti seekor burung
yang baru terlepas dari sangkar. Zuiju tersenyum dan menyerahkan beberapa koin
perak padanya sambil berkata, “Aku mengerti, jadi kita sama sekali tidak
berhubungan. Aku akan pergi sekarang, tapi kapan kau akan menyusul?”
“Tidak
terlalu cepat. Aku akan menyusul ketika senja.”
Zuiju
mulai khawatir. “Nona, mengapa tidak kau yang pergi duluan dan biarkan aku yang
berada di jalan…”
“Jangan
melawan.” Pingting mengatupkan bibirnya dan tersenyum. “Ibukota adalah medan
peperangan. Aku adalah penasihat utama, jadi jangan melawan keputusanku, kau
hanya salah seorang prajurit.” Pingting mendorong pundak Zuiju, “Pergilah.”
Zuiju
menuruti perintah Pingting dan pergi memesan kamar di sebuah penginapan.
Meskipun ruagannya agak kecil, tapi sangat rapi dah bersih. Di kamarnya Zuiju
berjalan bolak-balik, mempelajari setiap sudut dan celah dan tidak menemukan
satupun kesalahan untuk membuatnya kesal. Ia menjadi sedikit tenang dan duduk
sendirian di kamar, menunggu Pingting.
Kesunyian
membuatnya merasa kesepian, sungguh penyiksaan sempurna bagi pikiran seorang
manusia. Sejak meninggalkan Dong Lin, ia tak pernah berpisah dengan Pingting.
Ia hanya bisa menunggu sebentar sebelum akhirnya menjadi sangat khawatir.
Pingting adalah sasaran utama, dan kondisi tubuhnya sangat rentan. Bagaimana
kalau… kesunyian membuatnya memikirkan segala hal buruk. Zuiju menyesalinya, ia
seharunya tidak menuruti Pingting untuk masuk penginapan terlebih dahulu. Hati
dan pikirannya seperti dijalari semut-semut. Semakin ia banyak berpikir,
semakin ia merasa takut. Zuiju lalu berdiri, berniat segera mencari Pingting.
Ia melangkah menuju pintu, tapi kemudian segera berhenti.
Bagaimana
kalau ia pergi dan Pingting datang, sehingga Pingting tidak menemukannya?
Setelah berpikir seperti itu. Ia menghalau ketakutannya dan duduk menunggu.
Waktu
sepertinya berlalu sangat lambat. Setiap menit dan detik yang berlalu sangat
menyakitkan. Akhirnya ia menyadari hari sudah senja dan Pingting masih belum
tiba. Zuiju menjadi sangat sangat gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di
ruangannya.
Bodoh, bodoh. Aku
seharusnya tidak menuruti Nona Bai.
Hari
sudah mulai gelap. Duduk menunggu semakin meningkatkan gelisahan Zuiju di
setiap detik yang berlalu.
Tok. Tok.
Suara
ketukan di pintu membuat Zuiju terlompat kaget. Ia mengepalkan tinjunya dan
memasang ekspresi tenang di wajahnya dan ia barjalan ke arah pintu.
“Kau
mencari siapa?”
Dihadapannya
berdiri seorang pria membawa sebuah buntelan besar. Ia kurus dan agak tinggi,
sebagian besar wajahnya tertutup topi bamboo, sedikit menampilkan dagu yang
berwarna kecoklatan.
“Ah…”
Sebuah tawa kecil keluar dari balik topi bamboo.
Ekspresi
Zuiju berubah, dan segera menarik orang itu ke dalam. Ia menutup pint dengan
hati-hati dan mengertakan giginya. “Kau menakutiku sampai hampir mati! Kau
pergi kemana Nona? Kenapa baru datang sekarang?” Ia menghela napas lega.
“Aku
mendengar tentang seseorang yang menyamar sebagai pria dan sekarang aku sedang
berusaha melakukannya.” Pingting membuka topi bambunya, matanya yang hitam dan
putih terlihat kontras dengan warna kulit wajahnya yang agak gelap. Terlihat
seperti dua batu permata yang terang bersinar. Ada sesuatu yang dikenakan
didalam pakaiannya, membuat pundaknya terlihat lebih lebar, tapi juga semakin
menonjolkan tubuh kurusnya. Pingting melepaskan sepatunya yang berat menggosok
kakunya yang kemerahan di atas tempat tidur. “Waktunya tidak cukup, jadi aku
hanya merubah penampilan wajahku. Aku sangat lelah, harus beristirahat
sebentar.” Lalu Pingting berbaring di tempat tidur.
“Bukankah
kau bilang kita akan memesan kamar masing-masing, jadi kita tidak terlihat
berhubungan?” Pingting memikirkan suatu hal lucu dan ia tertawa geli. “Ketika
aku tiba di penginapan ini, aku mendeskripsikan dirimu pada si pelayan, aku mengatakan
kalau kau adalah istriku, yang pergi dari rumah karena bertengkar. Lalu ia
membawaku kesini.”
Zuiju
merasa tidak puas, “Bukankah orang-orang akan menertawakanku besok ketika kita
pergi?” Tapi ia tak bisa menahan tawanya. Ia membuka bungkusan yang dibawa
Pingting. “Apa ini? Ah!” ia segera menarik tangannya kembali.
“hati-hati,
itu sangat tajam.” Pingting segera turun dari tempat tidur dan menghampiri
Zuiju. “Biar kulihat. Apa kau terluka parah?”
“Tidak,
aku cukup cepat.” Zuiju mengeluarkan tangannya untuk dilihat Pingting, sebuah
bercak merah terlihat di jarinya. “Untuk apa kau membeli benda-benda itu?”
“Untuk
melindungi diri dalam perjalanan. Akan lebih mudah digunakan kalau kita
berhati-hati.” Pingting telah membawa beberapa pisau, belati kecil dan benda
aneh, yang Zuiju sama sekali tidak bisa memikirkannya. Ia mengeluarkan
benda-benda itu di meja. Lalu Pingting berkata, “Masih ada beberapa benda
lainnya. Karena pabrik sedang sibuk, aku membayar lebih dan akan mengambilnya
besok pagi.” Pingting lalu mengeluarkan kuas dan tinta, menulis beberapa jenis
tanaman obat, dan menyerahkannya pada Zuiju, “Bawa ini ke toko obat besok dan
belilah beberapa.”
Zuiju
membacanya dan bertanya dengan penasaran, “Jenis tanaman ini tidak cocok satu
sama lainnya, dan hasilnya tidak begitu kuat, dan mereka tidak pernah di
gunakan bersamaan. Nona akan menggunakannya untuk apa? Apa Nona merasa kurang
enak badan?”
“Jangan
khawatir, ini bukan untukku.”
Setelah
merasa sedikit tenang, Zuiju akhirnya menerima resep itu. Ia mengingatkan
dengan keras, “Aku tahu pengetahuanmu tentang obat-obatan lumayan hebat, tapi
untuk urusan tubuhmu, resep dariku jauh lebih baik.”
“Aku
mengerti.”
Pingting
membeli beberapa bakpau hangat dari jalan. Mereka berdua tetap tinggal di dalam
ruangan, mereka memakannya dan pergi tidur.
Kasur
di penginapan sangat keras, tapi sungguh mengejutkan karena Pingting sepertinya
merasa sangat nyaman. Zuiju menghela napas dan berkata, “Sungguh nyaman…”
“Gunakan
selimut lebih agar Nona tidak kedinginan.” Lalu Zuiju berkata lagi, “Kurasa aku
tidak bisa ikut tidur ditempat tidur, terlalu sempit.”
“Sempit
lebih baik, jadi lebih hangat.” Pingting menarik tangan Zuiju ke bawah selimut
dan berkata lembut, “Sungguh baik anakku tidak akan lahir di situasi kacau begini.
Aku ingin ia lahir di antara pegunungan dan hutan, sebuah tempat dimana musim
semi berlari dan burung-burung berterbangan di atasnya.”
“Membangun
sebuah rumah kecil, memasak beberapa hidangan dan membeli sebuah kecapi tua.”
Zuiju melanjutkan.
Pingting
mulai tertawa. “Terdengar bagus.” Mereka
berdua lalu terdiam dan teringat kehidupan mereka ketika berada di kediaman
terpencil di dalam gunung, tengelam dalam keindahan malam. Pingting lalu
bertanya, “Apa kau tidak berniat kembali pada gurumu?”
“Bagaimana
mungkin aku tidak kembali? Setelah begitu lama, aku sungguh merindukan Guru.”
Suara Zuiju terdengar sangat jauh. “Ketika guru melihatku ia pasti
mengomeliku.”
“Zuiju,
ayo kita berjanji.”
“Hm?”
Zuiju berbalik, melihat tatapan serius Pingting. Sesuatu tiba-tiba terlintas di
kepalanya dan ia segera berkata, “Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang
keadaanmu, terutama Tuan Besar.” Lalu ia membuat gerakan, seperti yang biasa
orang-orang Dong Lin lakukan ketika membuat sebuah janji.
Pingting
mengangguk dan bernapas lega.
Dan
mereka berdua tertidur lelap.
--
Dibawa
bulan yang sama, Chu Beijie tidak bisa tertidur malam itu.
Angina
dingin berhembus di telinga Chu Beijie, sangat sunyi. Ia telah mengeluarkan
pedangnya dari sarungnya dan berlatih di malam dingin.
Sebuah
pedang memiliki kekuatan.
Ia
telah mengalahkan pasukan Bei Mo di medan pertempuran hanya dengan tiga
perintah, mennghancukan semangat bertempur mereka.
Ketika
seorang pahlawan menggenggam sebuah pedang, semangat mereka meningkat.
Selama
mereka memiliki sebuah pedang di tangannya, mereka tidak pernah merasa takut,
terus maju tanpa menoleh ke belakang.
Ia
tahu, pedang di tangannya penuh kekuatan, cukup untuk mengguncang seluruh
gunung kokoh di muka bumi. Lagipula, ada berapa banyak Jendral yang cukup
memiliki keberanian untuk menantang seorang Chu Beijie?
Di
kedalaman matanya, terpancar sinar dari tenda pasukan. Para prajurit yang
sedang tertidur itu, mereka sama sekali tidak pernah berpikir kalau Panglima
mereka akan kalah.
Chu
Beijie adalah seseorang yang tidak pernah gagal. Dengan ia yang memimpin
mereka, peperangan ini adalah salah satu kemenangan dari yang berikutnya.
Dibawah
sinar bulan, Chu Beijie dengan tenang mengayunkan pedangnya seperti sedang
menari. Tubuhnya seperti seekor naga yang terbang rendah di tengah udara malam
di atas dataran.
Teknik
berpedangnya sangat tajam tapi hatinya sangat lembut.
Hatinya
tidak hanya sedang kacau tapi juga sangat sakit.
Hatinya
yang robek semakin dalam, membuatnya hidup lebih menyakitkan daripada mati.
Semakin
hatinya terasa sakit, semakin ia harus menahannya. Pedangnya menjawab dengan
kasar.
Di
dalam kegelapan yang luas, sinar redup memancarkan gerakan-gerakannya yang
halus. Membungkus sosoknya yang kacau dan sedikit tersenyum lembut padanya.
Setiap
detik, setiap menit, ia semakin mengerti penderitaan yang dirasakan Pingting
ketika berpisah. Tapi ia tetap saja tidak bear-benar mengerti rasa putus asa
dan tanpa harapan yang datang menghujam kemudian. Kemampuan berpedangnya sulit
ditandingi, dan kudanya adalah yang terbaik di dunia, tapi cinta tulus dari
wanita yang paling penting dalam hidupnya perlahan semakin menghilang.
Seluruh
kenangan dibawah bunga dan bulan terasa berbeda. Sekarang ketika ia
memikirkannya, kenangan-kenangan itu seharusnya menjadi tidak terlupakan, tapi
ia telah menghancurkannya. Mengapa ia baru menyadarinya sekarang, Pingting
telah mencurahkan seluruh kemampuannya, menghadapi kegelisahannya sendiri, putus
asa berusaha menaruh kepercayaannya padaku?
“Kalau
kau hidup, aku hidup. Dan kalau kau mati, aku hanya bisa mengikutimu menuju
kematian.”
“Tolong
ijinkan Pingting mengikuti Tuan ke ujung dunia. Kehormatanku ditangan Tuan dan
kematianku ditentukan oleh Tuan.”
Kata-kata
janjinya, tidak satupun berisi kebohongan.
Setiap
kata berasal dari hati, setiap kata berisi airmata dan darahnya.
Janji
itu menjerat hatinya yang kacau, memukulnya dalam kesedihan. Chu Beijie
mengencangkan pegangannya pada pedang berharganya, mengerakannya dengan ganas
melawan angin. Pedang itu terbang dengan bebas dari tangannya.
Dan
ia sama sekali tidak tahu, kalau orang yang sangat ingin ia selamatkan telah
melakukan perjalanan panjang. Perjalanan itu sangat panjang dan berbahaya, yang
akan berakhir di ujung jurang.
--
Mereka
siap pergi di hari ketiga. Seorang istri yang telah meninggalkan rumah,
emosinya akhirnya sudah cukup reda untuk pulang ke rumah bersama suaminya yang
kurus dan agak tinggi. Mereka berdua pamit di tempat penerima tamu. Untuk
membuat istrinya senang, suaminya sepertinya telah menghabiskan waktu seharian
membeli benda-benda bagus untuk istrinya. Ketika mereka tiba, mereka hanya
membawa dua bungkusan kecil, dan bungkusan itu menjadi lebih besar ketika
mereka pergi.
“Hati-hatilah
di perjalanan, lain kali kalian datang ke ibukota pastikan kalian kembali ke
penginapan kami.” Si pelayan berkata ketika mengantar mereka keluar.
Sang
suami yang pendiam tiak berkata apapun, tapi Zuiju mengangguk padanya.
Mereka
keluar dari gerbang ibukota dengan tenang, berjalan menuju timur laut.
“Kita
masih harus membeli dua kuda.” Zuiju berkata.
“Terlalu
mencolok jika membeli dua kuda di ibukota.” Pingting mengeluarkan sebuah peta
kasar yang ia beli dari seorang pengembara beberapa hari lalu. Ia
memperhatikannya beberapa saat. “Sepertinya ada sebuah kota kecil sekitar lima
belas kilo jaraknya dari sini. Masih cukup waktu untuk membeli kuda sebelum
malam”
Dua
gadis menawan berjalan bersama, membawa bawaan mereka di punggung. Langkah
mereka tidak terlalu lambat, sehingga mereka mampu menempuh lima belas kilo
ketika malam mulai datang, tapi kota kecil yang ditandai di peta tidak terlihat
dimanapun.
“Mengapa
kita belum sampai juga?”
Pingting
menjadi pucat. “Peta ini tidak sejelas seperti yang biasa di gunakan oleh
militer, jadi jarak dan arah hanya berupa perkiraan. Aku menduga kota kecil ini
masih didepan, mungkin sekitar dua kilometer lagi.”
Angin
dingin dari gunung sepertinya telah menembus gunung dari bebatuan yang retak,
membuat suara-suara bergema yang megerikan. Zuiju melihat ke sekelilingnya.
Pepohonan berwarna keabuan di bawah sinar redup, seperti menyembunyikan para
hantu, monster atau binatang buas yang akan melompat keluar kapan saja. Ia
gemetaran dan berkata, “Nona, jalan ini sungguh suram, dan kita masih harus
berjalan dua kilo lagi?”
“Apalagi
yang bisa kita lakukan selain berjalan? Atau mungkin bermalam di tengah hutan
pegunungan?”
Mereka
berdua menggertakan gigi dan terus berjalan. Jalur di gunung semakin menanjak,
membuat tiap menit yang mereka lalui semakin melelahkan. Mereka berjalan
berputar di jalan gunung untuk sekitar satu setengah jam, napas mereka
terengah-engah ketika malam tiba. Bulan sudah muncul di belakang mereka,
menjatuhkan bayangan pepohonan ke atas tanah. Seperti menekankan kegerian
sebuah hutan.
“Sudah
hampir terlalu gelap untuk melihat jalan.” Zuiju berkata, “Sudah waktunya
menyalakan lampu pijar.” Ia membuka bungkusannya, mengeluarkan korek api dan
sebuah lampu minyak kecil. Ia memegang lampu dengan sebelah tangannya dan
hendak menyalakan korek ketika Pingting segera menghentikannya.
“Diamlah!”
Suara Pingting sangat mendesak dan gelisah ketika merasakan bahaya.
Zuiju
segera menghentikan gerakannya, mengikuti arah tatapan Pingting.
Sebuah
suara kayu terbakar terdengar dari dalam hutan di sebelah tenggara.
“Pengelana
lain.” Ketika Zuiju melihat mereka. Ia mengembalikan korek dan lampu minyaknya
ke dalam bungkusan. “Aku heran, apa yang mereka lakukan?”
Mata
Pingting menatap sinar yang redup di kedalaman hutan. Ia berbisik, “Ini adalah
jalan yang harus di lewati jika ingin menuju Bei Mo dari Ibukota.”
Kalau
jejaknya hilang di ibukota, dimana lagi tempat yang tepat untuk menyergap
mereka selain jalan ini yang terletak di tengah gunung?
Malam
sudah agak larut.
“Kita
harus pergi!” Zuiju segera berbisik.
“Ini
rintangan yang harus kita hadapi cepat atau lambat.” Pingting perlahan
menggelengkan kepalanya, sebuah keyakinan keluar dari mulutnya. “Ikut aku.”
Mereka
berdua berjalan pelan-pelan masuk ke dalam hutan. Mereka melewati pepohonan
yang lebat disekitar mereka hingga mereka mendekati sumber kerlipan api yang
mereka lihat di jalan tadi.
“Para
gadis itu! Berapa lama lagi kita harus menunggu?”
Mendengar
suara mereka, Pingting dan Zuiju secara alami menyembunyikan diri mereka di
antara semak-semak.
Ada
beberapa orang pria, mereka berbaring atau duduk disekitar perapian. Sekitar
dua atau tiga sedang meminum arak, beberapa diantaranya sedang menggosok pedang
dan sisanya berbaring tak beraturan di atas tanah.
“Perampok?”
Zuiju berbisik di telinga Pingting.
Pingting
menaikan alisnya, “Tidak yakin.”
Suara
langkah kaki menginjak ranting tiba-tiba terdengar, mereka berdua terdiam dan
ketakutan. Mereka terlalu takut untuk berbicara tapi tetap mendengarkan.
“Yach,
berapa lama lagi kita harus menjaga jalan terkutuk ini?”
Seorang
pria yang menundukan kepalanya untuk membuka kendi arak dan meminumnya,
sepertinya adalah pemimpin mereka, berkata, “Hentikan omong kosong kalian.
Kalau kita harus menunggu yach menunggu!”
“Tapi
kita sudah menunggu setiap hari. Kapan dua gadis kecil itu muncul?” kata
seorang pria bungkuk dengan wajah licik seperti tikus, sambil menjaga perapian.
Dua
gadis kecil?
Pingting
dan Zuiju merasakan jantung mereka berdetak kencang karena menyadari sesuatu.
Mereka saling memandang satu sama lain.
Seorang
pria lain bersin dan berdiri. “Aku menyadari kalau tempat ini sehari perjalanan
dari ibukota. Sama sekali tidak ada pergerakan dalam tiga hari terakhir ini.
Mereka pasti telah tersesat di jalan dan penantian kita sia-sia.”
“Sudah
kubilang, hentikan omong kosong kalian dan tunggulah dengan sabar disini!” si
pemimpin marah dan melemparkan cangkir yang sudah kosong. “Mereka itu, sama
sekali tidak berguna, kehilangan jejak ketika menguntit. Bagaimana dua pelacur
kecil bisa menghilang di ibukota? Akhirnya kita harus menunggu disini tanpa
harapan. Pejabat Senior mengatakan kalau jalan ini harus dilewati jika ingin
menuju perbatasan Bei Mo. Dan tugas ini sangat sangat penting. Kalau kita tidak
bisa menyelesaikannya, kita akan disini selamanya.”
Pria
yang berada di dekat perapian meratapi nasibnya. “Semua orang mengatakan kalau
si pelacur kecil Bai itu sangat licik. Siapa yang tahu ia akan lewat jalan
mana?”
Zuiju
sama sekali tidak berani bergerak, ia berpegang erat pada lengan Pingting di
bawah semak-semak.
“Jangan
khawatir, cepat atau lambat, ia akan tertangkap oleh orang kita. Jalan menuju
Dong Lin dan Gui Li juga sudah dijaga ketat.”
“Hehehe…”
suara seorang pria yang terlihat seperti tikus tajam dan tinggi, sangat
menjijikkan. “Meskipun aku sangat berharap dua pelacur kecil itu akan lewat
jalan ini. Kudengar Chu Beijie sangat tergila-gila pada salah satu pelacur itu.
Bahkan Suami Ratu menganggapnya sebagai harta karun. Taruhan, pasti keahliannya
di tempat tidur sangat luar biasa, sungguh sayang kalau dibunuh.”
Para
pria itu tertawa keji.
“Benar,
aku juga berharap mereka melewati jalan ini. Aku ingin lihat apa ia bisa
membuat kita merasa puas sampai ingin mati atau kita yang membuat dia merasa
puas sampai ingin mati.”
“Hahahaha,
kita sebaiknya mulai membuat daftar urutan agar nantinya tidak ada yang
kecewa.”
Pemimpin
mereka meperingati mereka dengan hati-hati. “Kalian bisa bermain dengan mereka
sesuka kalian tapi jangan di bunuh. Kalau ia mati, kalian akan menemui Pejabat
Senior dengan kepala terpengal.”
Pingting
selalu dimanjakan oleh Tuan dan Nyonya Besar sejak kecil. Bahkan ketika ia
terkurung atau menjadi tahanan ia selalu diperlakukan dengan sopan.
Mendengarkan perkataan mereka membuatnya gemetar karena menahan marah.
Zuiju
bisa menyadari kemarahan Pingting dan menatapnya, menariknya untuk pergi.
Tapi
Pingting tidak bergerak sama sekali, tatapannya tertuju pada perapian.
Kelompok
pria itu berbincang dengan bersemangat selama beberapa saat. Seseorang bangkit
lalu menuju hutan ketika perapian sudah agak kecil. Pingting dan Zuiju masih
tidak bergerak. Jantung mereka hampir melompat keluar, ketika mendengar suara
ranting terinjak, sekitar sepuluh langkah dari tempat mereka. Saat itu sangat
gelap di dalam hutan, tapi semak-semak berwarna agak kekuningan. Beruntunglah
semak-semak itu sangat rapat. Pakaian Pingting dan Zuiju serta buntalan bawaan
merekapun berwarna gelap, tersamar di kegelapan malam. Pria itu berjalan lagi,
mengumpulkan ranting-ranting dan melemparkannya satu persatu ke dalam perapian.
Kayu-kayu
terbakar oleh api, menghasilkan bunyi percikan api.
“Waktunya
berganti jaga.” Si pemimpin berdiri, terlihat tinggi dan besar. Ia menendang
seorang pria yang sedang tertidur di sebelahnya, “Kalian bertiga, pergilah
menjaga pos pemeriksaan di depan. Bocah Qi, kau ketempat pengintai diatas. Kau
dan Nanfeng, periksa perangkap.”
“Aku
pergi sekarang. Hehehe, mungkin para pelacur itu sudah terjebak di perangkap,
menunggu kita!”
Suara
tawa bergemuruh.
Bocah
Qi berdiri dan memutari api. Ada sesuatu berwarna merah di belakangnya,
terlihat seperti daging mentah. Karena udara sangat dingin, daging mentah bisa
tahan lama di udara terbuka.
Ia
mengeluarkan pisau tajam dan memotongnya. “Ayo berangkat.”
Pingting
menyadari mereka akan melewati semak-semak, artinya mereka bisa saja di
temukan. Ia menarik tangan Zuiju lalu menjauh dengan perlahan dan tanpa suara.
Mereka
berdua sampai di tempat yang tidak terkena sinar bulan, bersembunyi di balik
batu besar. Zuiju berpikir kalau saja bukan karena kemampuan Pingting yang bisa
merasakan bahaya dan Zuiju terlanjur menyalakan lampu pijar, mereka bisa saja sudah
di temukan musuh saat ini, dan mereka akan disiksa melebihi kematian. Napasnya
yang berat sulit dikendalikan ketika ia berbicara, “Aku tidak pernah
membayangkan kalau Putri Yaotian bisa begitu kejam. Nona, apa yang akan kita
lakukan?”
Pingting
berkata dengan berbisik, “Mereka sudah bersiap di depan, dan ada pengintai di
atas serta jebakan di dalam hutan.” Pingting berpikir lama dan akhirnya membuka
buntelan yang di bawanya. Ia mengeluarkan kotak kecil. “Oleskan ini ke
tanganmu, kaki dan wajahmu.”
Zuiju
tidak bisa melihat apa isi kotak kecil itu, jadi ia menciumnya dan
menyadarinya. Itu adalah tumbuhan obat yang diminta Pingting dalam daftar
belanjaannya. Pingting telah membuatnya menjadi bubuk dan mencampurnya dengan
minyak beroma aneh. Hasilnya lotion berwarna aneh yang sekarang berada di kotak
kecil.
Pingting
juga mengoleskan lotion itu banyak-banyak di wajah, tangan dan kakinya. Ia
menjelaskan, “Ini untuk menghindari pencium anjing pelacak.”
“Bagaimana
Nona tahu mereka punya anjing pelacak?”
“Pria
itu, memotong daging mentah sebelum pergi. Itu sudah pasti untuk di berikan
pada anjing pelancak.” Pingting membereskan kembali kotak kecil itu ketika
mereka sudah selesai membalurkannya pada tubuh mereka. Ia mengeluarkan lagi
beberapa benda dari buntelannya dan menyusunnya di tanah.
Sinar
bulan tidak mengenai mereka, Zuiju sama sekali tidak terpikirkan apa yang
sedang Pingting lakukan. Selama tiga hari mereka di ibukota, Pingting telah
menghabiskan delapan atau sembilan puluh persen uang mereka yang diberikan oleh
Yaotian. Pingting membeli barang-barang aneh yang Zuiju tidak bisa menerka sama
sekali akan digunakan untuk apa. “Nona, mengapa kita tidak kembali ke ibukota
dan mengulur waktu? Kita kembali lewat jalan yang sama lalu mencari tempat
untuk sembunyi. Tidak akan terlambat untuk pergi ke Bei Mo setelah para
kelompok bandit itu pergi.”
“Semakin
cepat kita mencapai Bei Mo, semakin aman. Kalau kita terlalu mengulur waktu, He
Xia mungkin menyadari pelarianku dan akan menggirim perintah untuk menangkapku
apapun resikonya.” Dalam kegelapan, mata Pingting bersinar penuh harga diri.
Suaranya menjadi kaku, “Lagipula, bagaimana mungkin aku membiarkan para bandit
kasar itu.”
Zuiju
tahu kalau Pingting sangat marah.
Wanita
ini memiliki kekuatan yang sebanding dengan Chu Beijie dan He Xia. Ketika
berurusan dengan serangan atau pertahanan, sebuah pertempuran sudah
dipersiapkan, ia sama sekali bukan tandingan bagi pemula.
Bagaimana
mungkin ia membiarkan mereka?
“Sekarang
bukan saatnya untuk mendendam. Mereka semuanya pria dan bersenjata.”
Senyum
manis Pingting terlihat di kegelapan. “Jangan takut. Para babi hutan itu sama
sekali bukan apa-apa bagiku, selama aku memiliki ini.” Ia mengambil beberapa
dari tanah dan memberikannya pada Zuiju. Lalu Pingting meletakan buntelannya
kembali ke punggungnya. Dan berkata pelan, “Ikut aku.”
Mereka
berdua bergerak perlahan melewati hutan. Pingting berhenti beberapa kali di
beberapa tempat, mendengarkan dengan seksama dan mengendus untuk mencari arah
yang tepat. Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah sungai kecil. Mereka
mengkikuti aliran dari arah datang dan menemukan sumbernya. Air itu mengucur keluar
dari bebatuan, menghasilkan suara air mengalir. Ini memang sumbernya.
Dalam
kegelapan malam, Pingting agak sulit menentukan bentuk gunung dan hutan
disekitar mereka. Ia berbalik pada Zuiju dan berkata, “Kemah mereka terlihat
jelas dari sini, kurasa tempat pengintaian atas dan pos permeriksaanpun tidak
jauh dari sini. Untuk menghalangi kita melewati hutan, mereka sudah pasti
meletakan perangkap yang banyak. Sepertinya kelompok mereka terbagi dua untuk
meningkatkan pengawasan. Kalau kita berusaha untuk lewat, mereka pasti akan
tahu.”
“Kita
tidak boleh membuat mereka tahu. Jumlah mereka sangat banyak. Kalau mereka
mengepung kita, bagaimana kita bisa lolos?”
Pingting
duduk di dekat sumber air. Ia mencelupkan tangannya ke dalam air, lalu
membelokan aliran. Ia duduk terdiam beberapa saat lalu berkata lagi, “Bentuk
perlawanan kita, hanya perlu membuat mereka siaga.”
“Nona?”
Pingting
mengambil benda di tangan Zuiju. “Bentuk pepohonan ini sangat pas.” Pingting
mulai mengambil benda di tangan Zuiju satu per satu. Zuiju mulai bisa menebak
apa yang sedang direncanakan Pingting.
“Itu
sebuah busur?”
“Meskipun
bentuknya seperti busur, tapi bukan busur biasa.” Pingting mengeluarkan tali
kulit dan dengan cekatan meletakannya di balik pohon. Lalu ia menarik talinya
ke ujung sumber air, dan persiapan selesai. “Ketika menginjak ini, busur akan
menembakkan anak panah.”
Setelah
yang satu selesai, ia mulai membuat yang kedua. Ia memasang tali kulitnya dan
menyembunyikannya di balik pepohonan atau di dalam semak, sangat berhati-hati
ketika menyembunyikan talinya.
Pingting
sangat sibuk, meletakkan sekitar tujuh busur. Setiap busur diletakan berjauhan
dan semakin ke dalam hutan. Zuiju memperhatikan dan menyadari kalau busur-busur
itu tidak akan menembak pada saat bersamaan. Pingting menggunakan tali kulit
itu untuk menhubungkan mereka.
“Ketika
yang pertama menembak, yang kedua akan bersiap. Dan ketika yang kedua selesai
menembak, yang ketiga sudah siap dan seterusnya….” Setelah Pingting selesai, ia
dan Zuiju kembali ke tempat busur pertama di letakan. Ia berdiri di ujung
sungai kecil, menujuk ke arah busur terakhir di sembunyikan. “Hutan ini sangat
gelap, mereka pasti tidak menyadari kalau ada busur di sembunyikan di balik
pohon. Mereka akan mengetahuinya ketika pagi tiba.”
Zuiju
berpikir keras dibalik kegelapan. Tiba-tiba ia mengerti, “Ketika mereka
menginjak tali itu, yang pertama akan menembak, membuat mereka berpikir kalau
kita berada di sisi seberang sungai. Dan setelah yang pertama menembak, yang
kedua akan menembak dari tempat yang lebih jauh, sehingga mereka akan berpikir
kita telah mundur jauh ke dalam hutan. Dan mereka akan segera pergi dari tempat
ini.”
Pingting
menjawab, “Meskipun banyak anak panah, tapi arahnya tidak bisa tepat jadi tidak
akan melukai mereka dengan berarti. Hal yang paling penting disini.” Ia
perlahan menunjuknya.
“Sumber
mata air?”
“Sebagai
sumber, air inilah yang akan mengalir mengisi sungai. Ketika mereka menyebrang
sungai dengan terburu, mereka akan membuat cipratan besar.”
“Maksud
Nona…” Zuiju melihat tangan putih Pingting memegang beberapa tanaman obat dan
menggulungnya menjadi bola kecil dan suaranya menjadi bimbang, “meracuni
mereka?”
“Benar.
Kita akan meletakan ini di dalam sungai. Obat ini perlahan akan larut dalam air
dan bertahan sekitar satu atau dua hari.”
Zuiju
mengangguk kagum, tiba-tiba ia teringat hal penting, “Tapi bagaimana mereka
akan kemari dan menginjak tali?”
Wajah
Pingting terlihat yakin dan tersenyum penuh percaya diri. “Bukankah mereka
memiliki anjing pelacak?”
Zuiju
melihat senyumnya dan perlahan mulai merasa kasihan pada para bandit itu.
Inilah
Nona Bai, yang mampu menguncang empat negara dan sedang merasa sangat putus
asa. Setelah mendengarkan percakapan pada bandit itu, ia sudah cukup marah. Dan
ia berencana melepaskan kemarahannya pada kelompok bandit yang kurang beruntung
itu.
Siapa
yang berani macam-macam dengan Bai Pingting, bahkan Chu Beije dan He Xia takut
untuk melakukannya.
--00--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar