Akan
selalu ada saja hari yang tidak terduga.
Setelah
dua hari panas, langit mulai murka lagi. Awan tebal menggantung di atas, gelap
mengelilingi gunung-gunung yang dekat dan gunung-gunung yang jauh.
Zuiju
melihat ke langit dan menghela napas. “Sepertinya akan ada badai salju.”
Pingting
berbaring di atas batu ketika ia menaiki lereng gunung yang tertidur. Ia
sedikit terenggah-enggah dengan diam memperhatikan sosok kabur orang-orang
berada jauh di bawahnya. “Gunung Xiaoyang sudah di depan. Setelah itu, pos
pemeriksaan dan kita akan tiba di Bei Mo. Masalah badai salju khawatirkan nanti
saja.”
Zuiju
mengangguk.
Buntelan
bawaan mereka telah di curi oleh para petugas ketika mereka menginap di kabin
pasangan tua. Mereka sudah tidak memiliki baju atau uang. Terkadang mereka
mengobati orang untuk mendapatkan sedikit uang, tapi ini memang masalah penting
dalam perjalanan mereka. Tangan mereka yang halus telah berubah menjadi kasar.
Hari
ini mereka melihat salah satu pos pemeriksaan untuk memasuki Bei Mo, Gunung
Xiaoyang. Mereka berdua sedikit merasa lega. Begitu mereka tiba di Bei Mo,
Yangfeng pasti akan menerima mereka. Pingting dan Zuiju saling membantu
menuruni lereng. Mereka lebih berhati-hati dibanding ketika mendakinya. Mereka
sudah mendapat pengalaman tak terhitung, dalam perjalanan dari ibukota Yun
Chang sampai ke tempat itu. Sekarang mereka bersembunyi dengan tenang di jalan
kecil hutan, duduk tenang di ujung jalan sambil memperhatikan pergerakan di
Gunung Xiaoyang.
Beberapa
orang terlihat seperti saudagar membawa kereta, bersiap untuk melewati pos
pemeriksaan. Mengetahui badai salju akan segera datang, kepala saudagar menoleh
ke langit dengan khawatir. Ia mengeluarkan sekantung uang dan menyerahkannya
pada kepala penjaga. Ia memohon, “Tuan, lihatlah cuacanya. Badai salju segera
turun, meski kami bisa bertahan, tapi barang-barang kami tidak. Berbaik
hatilah, biarkan kami lewat tanpa kegaduhan. Aku lewat jalan ini setiap bulan,
tiga atau empat kali, bagaimana mungkin aku tidak diperbolehkan melewatinya
hari ini? Biasanya kalian tidak pernah memeriksanya, jadi hari ini mengapa
tiba-tiba….”
“Jadi
kau menyalahkan kami, hee?” si kepala penjaga mengerutu. “Kami tidak pernah
memeriksa karena atasan kami memerintahkan seperti itu. Perang akan dimulai sekarang.
Perang, kau mengerti? Ada dokumen tergantung disana dan jika kau cukup
terpelajar, bacalah sendiri. Ditulis dengan jelas, tanpa surat ijin, kau tidak
bisa melewati pos pemeriksaan.”
Di
balik semak-semak, mereka berdua yang turut mendengarkan percakapan itu, saling
bertukar pandang.
“Tempat
ini seperti Gunung Hemeng, hanya mereka yang memiliki surat ijin yang bisa
lewat.” Wajah Zuiju menjadi sedih, “Bagaimana ini, kita sudah menghabiskan
tenaga, tergesa-gesa kesini dari Gunung Hemeng.”
Mata
hitam Pingting menatap ke balik celah kecil diantara pintu gerbang tua Gunung
Xiaoyang. “Sepertinya seluruh pos pemeriksaan dari Yun Chang menuju Bei Mo
telah di perintahkan dengan ketat, hanya memperbolehkan mereka yang memiliki
surat ijin yang bisa lewat.”
Seharusnya
ia telah memikirkan hal ini sebelumnya. Pos pemeriksaan pasti akan luar biasa
ketat begitu perang dimulai.
Yun
Chang tidak bisa membiarkan serangan tiba-tiba dari Bei Mo yang bisa
mengakibatkan kerugian ketika mereka bertempur menghadapi Dong Lin.
“Apa
yang akan kita lakukan?”
“Tak
ada cara lain.” Pingting menaikkan kepalanya, melihat ke ujung gunung yang
tertutup awan gelap.
Jalan
gunung ini memisahkan dua negara, Yun Chang dan Bei Mo. Pos pemeriksaan telah
ditempatkan di seluruh kaki gunung. Di musim salju, hutan di gunung yang tinggi
luar biasa dingin, para binatang kelaparan. Hanya orang gila yang akan melewati
jalan itu.
“Nona?”
Zuiju terlihat sangat gelisah.
Pingting
tersenyum kecil, “Karena kita tidak bisa melewati pos pemeriksaan di sini,
kurasa begitu juga dengan Gunung Songsen.”
“Sungguh
beresiko…” Zuiju mulai berkata, “Kenapa kita tidak tinggal disekitar perbatasan
sebentar dan menunggu…” tatapan Zuiju beralih ke perut Pingting dan ia berhenti
berucap.
Pingting
menggelengkan kepala. “Pos Pemeriksaan tidak akan lengah, hanya akan bertambah
ketat. Putri Yaotian pasti sudah bergegas ke garis depan medan perang saat ini.
He Xia pasti akan segera menyadari arah pelarian kita. Aku sangat tahu
kemampuan He Xia. Pada saat ia kembali dari medan perang, ia akan segera terjun
langsung ke pos pemeriksaan untuk menangkap kita. Ketika itu terjadi, takkan
ada lagi kesempatan untuk meninggalkan Yun Chang.”
Zuiju
menatap hutan gunung Songsen yang gelap dibawah awan hitam, ia menarik napas
panjang dari udara dingin. Bagaimanapun, ia berhasil menenangkan diri. “Sebelum
kita mendaki gunung, aku ingin memetik beberapa tumbuhan obat. Rumput Mo untuk
mencegah keguguran, rumput itu banyak di kaki gunung.”
Pingting
sudah memikirkannya, seharusnya begitu ia berhasil melewati gunung Songsen,
pertempuran antara Yun Chang dan Dong Lin sudah terselesaikan, berkat
keberhasilan Yaotian mengantarkan suratnya.
--
He
Xia duduk di atas kudanya menyaksikan pasukan Dong Lin mundur sebaris demi
sebaris.
Asap
di udara mulai menghilang.
Setelah
ketegangan di tali senar dilepaskan, hanya menyisakan kesepian dan kekecewaan.
Ratusan
ribu prajurit telah dikirim untuk kesempatan ini, tapi tiba-tiba orang yang
paling berkuasa di Yun Chang muncul di tengah medan peperangan. Saat ini, ia
adalah Jendral tertinggi di Yun Chang, dan ia tidak tahu tentang hal ini sama
sekali.
Dibawah
begitu banyak tatapan pasang mata, Chu Beijie dan Yaotian dengan tenang
berbincang-bincang tanpa khawatir, di tengah-tengah dua barisan pasukan.
Ia
melihat Chu Beijie menunggang kudanya kembali dan mendengar suara lantang yang
memerintahkan pasukan Dong Lin.
Ia
sangat mengerti apa yang sedang terjadi.
“Pasukan
Dong Lin mundur?”
“Pasukan
Dong Lin mundur!”
Dari
samping, dari belakang, setiap senti tanah, dari seluruh prajurit Yun Chang
yang telah menunggu kematian yang pasti terjadi di medan pertempuran,
bergemuruh suara gembira yang mengejutkan.
Penasihatnya
datang mendekat, berkata dengan suara pelan, “Suami Ratu, pasukan Dong Lin
sudah mundur.”
Mata
He Xia tiba-tiba menjadi muram.
Saat
itu, ia sangat ingin menarik pedangnya keluar dari sarungnya dan memerintahkan
untuk menyerang. Kedua jumlah pasukan kurang lebih seimbang, tapi karena
pasukan Dong Lin sedang bergerak mundur maka serangan yang tiba-tiba akan membuat
mereka di atas angin.
Selama
mereka bergerak sangat cepat ke depan, ia yakin sekali ia mampu memenggal
kepala Chu Beijie.
Tangannya
mencengkram kuat pangkal pedangnya. He Xia dengan susah payah menahan keinginan
kuat yang bergelora di hatinya.
Ia
tidak mampu mengeluarkan perintah.
Bahkan
jika ia mengeluarkan pedangnya, para prajurit tidak akan mengikuti perintahnya.
Yaotian
berada disini, dan bendera dari orang yang paling berkuasa di Yun Chang sedang
berkibar. Ia hanya seorang Suami Ratu atau hanya salah seorang Jendral.
“Suami
Ratu, pasukan Dong Lin sudah mundur.” Penasihatnya kembali melaporkan dengan
berbisik.
Wajah
He Xia kelabu, tapi akhirnya muncul sebuah senyum kecil di wajahnya. “Aku
melihatnya.”
Ia
tersenyum sambil melihat kereta Yaotian yang perlahan bergerak menuju pasukan
Yun Chang. Di dalam kereta yang berhias mewah dan rumit itu, istrinya, penguasa
Yun Chang duduk.
Seluruh
pasukan tiba-tiba terdiam.
Orang
yang telah mencegah peperangan adalah penguasa tertinggi Yun Chang dan
satu-satunya orang yang dipatuhi seluruh prajurit, Tuan Putri Yaotian.
Kereta
dengan perlahan menderap mendekat, akhirnya berhenti di depan pasukan Yun Chang,
dan pasukan Dong Lin bergerak mundur di belakangnya. Kereta itu berada di depan
ratusan ribu prajurit, termasuk di depan He Xia sendiri.
Yaotian
duduk di dalam kereta. Tubuhnya di balut berlapis-lapis pakaian, tebal dan
berat, tapi ia bisa merasakan gelombang dingin yang membuatnya gelisah.
Setelah
meyakinkan Chu Beijie, ia memiliki masalah sulit lain yang harus dihadapi,
sepertinya tatapan tajam He Xia telah menembus tirai jendela yang tipis. Ia tak
mampu mengeluarkan keberaniannya, untuk menyibak tirai dan menghadapi He Xia.
Bai
Pingting sudah tidak lagi berada di Kediaman Suami Ratu.
Pergi.
Puluhan
ribu alasan hal yang terjadi adalah demi kebaikan semuanya, kenyataannya Bai
Pingting telah pergi.
Karena
itu, ia telah memikirkan banyak alasan untuk menjelaskan hal ini.
Adakah
sebuah alasan yang masuk akal dan terhormat bagi penguasa Yun Chang untuk
meyakinkan, baik dengan paksaan ataupun kelembutan? Atau menggunakan kejujuran
seorang wanita untuk mengatakannya pada He Xia? Mungkin mengeluarkan seluruh
kesedihannya sendiri…
Tidak
berguna, saat ini, semua itu benar-benar tidak berguna.
Kereta
berhenti dalam kesunyian. Dalam pikiran Yaotian hanya ada satu sosok, He Xia,
duduk di atas kudanya, di depannya.
Ia
mendengar sebuah suara nyaring, pedang di keluarkan dari sarungnya.
Begitu
nyaring, begitu manis, sebuah pertanda kebulatan tekad dan ketetapan hati.
Tak
ada seorangpun yang bisa mengeluarkan pedannya dengan cara seperti itu, kecuali
pria yang telah mendapatkan seluruh hatinya.
Suamiku, Suamiku,
apa kau membenci Yaotian?
Apa kau ingin
membunuhku?
Yaotian
memejamkan matanya.
He
Xia menatap ke dalam kereta, melewati tirai yang tertutup, ketika ia
mengeluarkan pedangnya.
Pedangnya
sudah keluar, bergetar tak berhenti. He Xia lalu mengangkatnya ke langit,
mengeluarkan seluruh tenaganya sampai kelelahan. Ia berteriak, “Panjang umur
Tuan Putri.”
“Panjang
umur Tuan Putri!”
“Panjang
umur Tuan Putri!”
“Hoooraay!
Hoooraaay! Panjang umur Tuan Putri!”
Para
prajurit di belakangnya mengikutinya, suara mereka seperti petir.
“Hooraay!”
“Panjang
umur Tuan Putri!”
Di
atas dataran, gema itu terus berlangsung.
Tirai
diantara mereka perlahan mulai terangkat, dan sebuah wajah muncul di depan He
Xia.
“Putri.”
“Suamiku…”
Yaotian berbisik.
“Terima
kasih, Putri.”
Yaotian
menatap wajah tampan yang tak pernah puas-puasnya, ia berbisik, “Mengapa
berterima kasih padaku suamiku? Suamiku tahu aku telah melepaskan Bai Pingting,
yang untuk mendapatkannya telah membuat suamiku mencurahkan segenap
kemampuannya, demi membuat pasukan Dong Lin mundur.
Ekspresi
He Xia masih seperti biasanya. Ia memperhatikan Yaotian dengan seksama lalu
tertawa manis, “Setelah kejadian ini, aku tahu pasti kalau Putri benar-benar
mencintaiku.”
“Suamiku!”
airmata Yaotian tak bisa berhenti. Mengalir keluar tak mempedulikan kerumunan
para prajurit. Ia memeluk dada He Xia. Dalam pelukannya, Yaotian menangis,
“Yaotian melepaskan Bai Pingting berarti Yaotian telah menghianati suaminya.”
“Putri
salah.” He Xia dengan lembut memeluk istrinya dengan lengannya, berbisik,
“Hanya wanita yang tahu cinta sejati yang mampu merasakan cemburu. Untuk
membiarkan Pingting tetap hidup, He Xia…. sangat berterima kasih pada Putri.”
Yaotian
bergetar sedikit di dalam pelukan He Xia, mengetahui pundak He Xia yang lebar
melindunginya memberinya keberanian yang tak terkira.
Suara
He Xia lembut dan hangat. Bendera pasukan Dong Lin terpancar di bola matanya
ketika mereka bergerak menjauh.
Kalau
Pingting pergi, ia tidak akan menetap di Yun Chang juga tidak akan kembali ke
Dong Lin.
Satu-satunya
tempat ia bisa pergi adalah Bei Mo.
--
Di
gunung Songsen, badai salju segera tiba.
Jejak
kaki Pingting dan Zuiju terkadang dalam, dan terkadang dangkal di atas salju.
Mereka tetap bergerak maju mendaki sambil terengah-engah.
“Badai
salju mendekat.”
“Apa
kita bisa sampai di bebatuan sebelum badai?”
Pingting
mempertimbangkannya. “Aku rasa tidak.”
Hati
Zuiju menjadi sedih dan ia gelisah. “Lalu, apa yang akan kita lakukan? Kita di
tengah hutan dan musim dingin. Daun-daun berserakan. Salju tak bisa dihentikan,
jadi kita akan mati kedinginan.” Sepuluh jari-jarinya memegang erat-erat pada
satu-satunya buntelan mereka.
Mereka
berhasil mengumpulkan sedikit uang dari hasil mengobati beberapa orang
belakangan ini. Disamping membeli jarum perak untuk keperluan pengobatan dan
makanan, mereka telah menggunakannya untuk membeli pakaian hangat. Tapi,
meskipun mereka mengenakan pakaian paling tebal yang mereka miliki, tetap tak
bisa membuat mereka bertahan melewati badai salju di udara terbuka. Pingting
menoleh ke atas, menatap langit yang sudah tertutup awan gelap. Badai salju
belum turun. Tapi tak ada angin sama sekali, tapi bayangannya sudah terlihat di
awan.
“Zuiju,
nyalakan api.”
“Haaah,
kenapa menyalakan api disaat seperti ini? Ketika angin dan salju datang, api
sama sekali tidak berguna.”
Pingting
menjawab dengan lembut. “Nyalakan api dan masak air.” Sebuah senyum hangat
terlukis di wajahnya yang anggun.
Zuiju
ingin berkata lagi tapi setelah melihat senyum Pingting, ia menelan kembali
kata-katanya. “Baiklah, aku akan menyalakan api dan memasak air.” Ia menjawab.
Zuiju
mengeluarkan korek, beberapa ranting kering dari hutan segera disusun di atas
tanah bersalju yang tidak berangin.
“Gali
sebuah lubang di tanah.”
Salju
tidak terlalu padat, mereka mengali dengan tangan, lutut mereka menyentuh
tanah. Dalam sekejab tangan mereka telah menyentuh tanah di bawah salju. Tanah
terasa lebih panas dan lebih sulit digali di banding salju.
Zuiju
mengerutkan dahi, “Masih belum terlalu dalam, ayo gali lagi.”
“Tak
perlu” Pingting menjawab, “Buat sebuah bentuk tenda kecil dengan ranting.”
Tak
banyak waktu tersisa, awan hitam bergerak dengan cepat, seperti sedang gelisah
mencari jalan keluar. Sebuah tenda kecil terbentuk di atas lubang, dengan ranting-ranting.
Pingting mengumpulkan banyak daun dan dengan cekatan menyebarkannya di seluruh
ranting-ranting itu.
Zuiju
mendekat untuk membantunya, suaranya menjadi panik. “Ini akan berserakan dengan
satu hembusan angin. Untuk apa?”
Setelah
menyebarkan cukup daun-daun, Pinting membuka buntelan mereka dan membuka dua
pakaian yang tersisa. Ia melebarkannya dan meletakannya di atas ranting.
“Nona,
untuk apa kau lakukan itu?”
“Ambilkan
air dan siramkan diseluruh permukaanya.”
“Tapi
masih belum mendidih,” Zuiju berkata dengan menyesal.
Pingting
merasa kesal tapi ia menahan tawanya. “Cukup mencairkan saljunya. Untuk apa air
mendidih?’
Zuiju
melihat ke tenda kecil dan melihat ke panci salju yang sedang meleleh.
Tiba-tiba ia mengerti, “Oh! Oh!” karena telah mengerti maksudnya, matanya
membelak lebar, “Baik, baik! Aku akan mengambil airnya.”
Mereka
menyiramkan salju yang mencair ke atas tenda, pakaian dan daun menyerap air itu
seperti spon, dan air itu membeku kembali. Dengan segera sebuah lapisan tipis
es terbentuk di atas pakaian.
“Sangat
mudah!” Zuiju mulai tertawa.
“Jangan
tertawa terlalu cepat, airnya masih belum cukup. Cepatlah buatkan lagi.”
“Baik,
baik, aku lakukan sekarang.”
Zuiju
pergi dan terus melelehkan salju.
Sepanci
demi sepanci terus disiramkan ke tenda kecil. Lapisan es menjadi semakin tebal
dan kuat.
Zuiju
terus membawa panci dan terus menyiramkannya, “Apa sudah cukup?” air selalu
disiramkan di atas tenda dan air itu mengalir turun kebawah, membentuk selapis
es di pakaian, sebelum sempat menyentuh tanah.
“Badai
pasti kuat sekali.” Pingting memperhatikan awan gelap di atas mereka. “Cairkan
sedikit lagi.”
Suara
gemuruh…
Ada
beberapa kali suara petir teredam mengikuti awan badai. Sepertinya perjalanan
jauh harus di tempuh sebelum akhirnya bisa menyentuh tanah.
Di
dataran bersalju mungkin ada angin yang bertiup, tapi mungkin juga tidak.
Ekspresi
Pingting tiba-tiba berubah, “Sudah tidak ada waktu untuk mencairkan salju lagi.
Ayo segera masuk ke dalam. Ia menarik tangan Zuiju dan mereka berdua masuk
melewati celah yang dibuat sebagai pintu masuk. Mereka berdua berada dalam
ruangan yang sangat kecil dan sempit, saling berpelukan.
“Didalam
sini sangat hangat.” Meskipun masih terkena sedikit cipratan, Zuiju masih
merasa nyaman.
Angin
sudah mulai menderu.
Kaki
tenda itu tertanam salju dan atapnya berbentuk seperti batu yang terbuat dari
es. Seharusnya cukup kuat untuk bertahan dari badai.
Pingting
dan Zuiju dengan gugup mendengarkan suara seram dan pergerakan angin diluar.
Berlawanan
dengan di luar, di dalam sangat tenang.
“Kita
seharusnya bisa melewati gunung Songsang, benar?”
Pingting
tetap diam. Setelah agak lama ia akhirnya berkata, “Iya, seharusnya bisa.”
“Nona?”
“Hm.”
“Apa
kau sedang memikirkan sesuatu?”
“Benar.”
“Memikirkan
tentang apa?”
Pingting
bergerak lambat dan menjawab dengan lambat, “Zuiju, tak peduli seberapa lama
badai diluar, tak peduli betapa hangatnya didalam sini. Kita tidak boleh
tertidur. Kalau salju menutupi pintu keluar, dan kita tertidur, maka kita pasti
akan mati.”
Zuiju
memang sangat mengantuk dengan kehangatan yang dirasakan. Hal ini membuatnya
terkejut. Tapi ia segera menyingkirkan kekhawatirannya. Ia menjawab,
“Mengerti.” Ia tak bisa menyingkirkan hal ini dalam pikirannya.
Di
dalam tenda, sangat sunyi. Mereka berdua saling berpelukan erat, Pingting bisa
mendengar Zuiju menghela napas.
“Mengapa
kau menghela napas?” Pingting bertanya.
“Tidak
untuk apa-apa.”
Ada
kesunyian beberapa saat sebelum Pingting bertanya kembali, “Apa kau berpikir
bagaimana kalau kita mati disini, dan tidak akan ada yang mengetahui dimana
kita berada, selamanya?”
Zuiju
menghela lagi, “Nona Bai, mengapa kau begitu pandai?”
Sudut
bibir Pingting terangkat. Senyumnya sedikit getir.
Lagi-lagi
kesunyian terjadi di tempat kecil itu.
Beberapa
saat kemudian, Zuiju bertanya dengan suara pelan, “Kalau kita memang akan
memberikan nyawa kita pada gunung Songsen…”
“Itu
tidak akan terjadi.” Pingting menyela kata-kata Zuiju, lalu ia berkata lagi
dengan pelan, “Itu tidak akan terjadi.”
Sebuah
rasa mulai muncul di ujung hidungnya dan matanya mulai memerah. Zuiju
meraba-raba mencari ujung jari Pingting. Dan ia mengenggamnya dengan erat.
Kedua
tangan yang sudah melepuh, tapi masih cekatan, saling mengenggam dengan erat di
kegelapan.
Dalam
kesunyian Zuiju tiba-tiba berhenti bernapas.
Tarikan
napas yang berhenti tiba-tiba adalah hal yang tidak normal. Pingting menunggu
dengan diam sementara Zuiju sama sekali tidak bergerak, seperti sedang menunggu
sesuatu juga.
Setelah
beberapa saat, Zuiju melepas napasnya. Napas yang keluar melewati telinga Pingting
sepertinya lebih khawatir dibanding sebelumnya.
“Nona
Bai, nadimu sangat….. sangat lemah.” Suara Zuiju sangat khawatir. “Aku harus
melakukan akupuntur padamu.”
“Tidak
perlu sekarang Zuiju.” Pingting menjawab dengan tenang.
“Tidak,
ini harus dilakukan secepatnya.” Zuiju segera menarik tangannya mencari-cari
buntelan mereka, tapi tangannya membentur tembok tenda dan ia merasa sakit.
Dimana
buntelan mereka?
Zuiju
tiba-tiba menjadi kaku.
“Kita
masuk dengan terburu-buru.” Dalam kegelapan, suara Pingting sangat lemah.
“Zuiju, butelan itu masih di luar, ingat? Tertinggal ketika aku mengeluarkan
pakaian.”
Salju
dengan kuat menghantam luar tenda, menghasilkan suara mengerikan.
Kesunyian
mematikan di dalam, dan deru angina yang meraung di luar seperti dua dunia yang
berbeda.
Sebuah
cahaya bersinar di kedalaman mata Zuiju yang gelap. Sama sekali tidak ada
keraguan ketika ia berkata, “Aku akan mengambilnya, seharusnya dekat-dekat
sini. Aku akan segera menemukannya begitu aku keluar.”
“Jangan.”
Pingting berkata lemah.
Zuiju
menyadari posisi Pingting berada menghalagi pintu masuk. Tidak mungkin ia
menggeser tubuh Pingting keluar.
“Nona
Bai, aku mengerti kekhawatiranmu, tapi aku harus mendapatkan jarumnya.” Zuiju
berkata lagi dengan pelan, “Aku seorang tabib.”
Dalam
kegelapan, sosok Pingting terlihat kabur, sepertinya seluruh dunia mulai pudar.
Tapi tubuhnya yang rapuh itu tetap kokoh seperti gunung.
“Zuiju
kau bahkan tidak tahu dimana jarumnya berada. Tidak ada yang tahu apakah benda
itu sudah terbawa angin ketika badai datang.”
“Mungkin
benda itu tersangkut di ranting terdekat. Aku masih bisa mencarinya.” Ia masih
melanjutkan berkata dan tangannya menggenggam tangan Pingting, “Nona Bai, aku
pernah mengatakan bahwa aku akan melakukan apapun untuk melindungimu dan
anakmu.”
Tubuh
Pingting berusaha untuk tidak bergerak. Ia diam tak bergerak seperti sebuah
patung berumur ratusan tahun. Tangannya mengenggam tangan Zuiju dengan erat
pula.
“Aku
juga pernah berkata kalau kita tidak akan mati. Itu tidak akan terjadi Zuiju.”
Mereka
berdua kedinginan, jari-jari kurus itu saling mengenggam satu sama lain,
akhirnya sedikit kehangatan perlahan mulai menjalar.
Ruang
gerak di dalam tenda tidak banyak. Zuiju tidak bisa mengeser Pingting.
“Tapi,
anakmu…” Zuiju mendengar suaranya sendiri, sedikit terisak, dalam kegelapan
yang pekat. Ia menarik tangannya dari genggaman Pingting dan mencari nadi
Pingting sekali lagi.
Setelah
menemukan denyut yang tidak teratur, barulah ia menarik tangannya kembali.
Cairan
hangat mengalir dari baju Pingting.
Dalam
kesunyian malam, suara airmata Pingting yang terjatuh terdengar jelas sekali.
Jarum-jarum
itu, bagaimana bisa ia melupakan benda yang paling penting?
Dalam
perjalanan, ia selalu menggunakan ramuan obat dan jarum untuk menguatkan tubuh
Pingting dan menstabilkan nadinya. Mengapa ia bisa lupa ketika badai salju
datang?
Kemana
angin akan membawa buntelan yang berisi jarum itu?
Zuiju
takkan pernah melupakan badai yang kejam ini seumur hidupnya.
“Jangan
khawatir, anakku akan baik-baik saja.”
Apakah
ia salah dengar?
Dalam
suara Pingting ada kelembutan dan ketenangan.
Zuiju
bisa merasakan nadi yang kacau di pergelangan tangan Pingting. Ketenangan dari
kata-kata Pingting seperti jarum yang menusuk jantung Zuiju.
Dalam
kegelapan, ia mendengar Pingting menahan tawanya, suaranya lembut seperti dalam
mimpi. “Anak dalam perutku sedang tidur dengan patuh. Aku ibunya dan aku akan
melindunginya. Badai sangat dashyat tapi ia berada di dalam tubuhku, hangat dan
selamat.”
Mendengar
suara Pingting, Zuiju bisa merasakan sudut bibirnya terangkat menjadi sebuah
senyum kecil.
Lembut
dan menyentuh, seperti hujan pertama di musim semi.
Pingting
benar-benar tersenyum.
Kesalahan
yang paling utama selalu dilakukan pada saat yang paling genting.
Dalam
badai salju, Pingting mengingat buntelannya dengan jarum akupuntur didalamnya.
Pada saat yang sama, ia tahu waktu tidak bisa diputar ulang. Gemuruh angin di
dataran bersalju tidak hanya hebat dalam membawa benda, tapi juga membawa nyawa
orang yang hidup.
Pingting
tahu, nadinya sangat kacau.
Kepalanya
sangat pusing dan matanya memerah. Entah karena kegelapan atau karena hal lain,
tapi ia merasakan tenaganya terkuras sedikit demi sedikit.
Meskipun
demikian, ia harus tersenyum.
“Jangan
khawatirkan anakku dan aku, Zuiju. Kita akan berhasil melewati badai ini.”
Meskipun anak ini
masih sangat muda, tapi ia tidak selemah yang kau kira.”
Anak
itu dikandung di musim dingin.
Dalam
Rahim ibunya, ia bisa merasakan kedamaian di kediaman terpencil, mendengarkan
suara kecapi yang mampu mengetarkan empat negara, mengagumi hati yang putus asa
di bawah bulan yang begitu terang. Ia telah melihat api yang mengamuk di langit
malam, tanah bersalju yang berubah merah karena darah, dan kereta yang membawa
ibunya pergi, penuh keputusasaan dan kepedihan.
Anak ini akan lebih
kuat daripada aku, jauh lebih berani.
Ayahnya adalah
Jendral paling terkenal, yang tak pernah terkalahkan Panglima Zhen Bei Wang
Dalam urat nadinya
mengalir darah Chu Beijie.
Darah paling kuat di
dunia.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
I cried alot...
BalasHapus