Jumat, 27 Mei 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.33

-- Volume 2 chapter 33 --


Langit mulai terang, angin bertiup dari utara dan matahari sudah sepenuhnya terbangun dari balik awan dan membawa kehangatan dengan sinarnya.

 

Hal pertama yang dilakukan Pingting pagi itu mengolah sebaskom bunga plum yang telah ia petik, menambahkan arak, gula, garam dan rumput musim dingin. Setelah bekerja beberapa lama ia beristirahat, “Mungkin sebaiknya kita tambahkan juga panili.”

 

“Aku akan ambilkan.” Hongqian sangat bersemangat dan memandangi baskom dengan kagum, “Sungguh terlihat enak pasti rasanya juga. Apa Nona menyiapkan ini untuk menyambut kepulangan Tuan Besar?”

 

Zuiju segera mengerti maksud Hongqian dan segera menatapnya untuk menggodanya, “Aku yakin begitu sajian ini siap kau akan segera mencicipinya.”

 

Hongqian bertepuk tangan beberapa kali dan akhirnya bertanya, “Apa masih ada yang bisa kubantu?”

 

Pingting telah melewatkan malam dengan menatap bulan dan merasakan dirinya ikut bersemangat. Ia dengan gembira berkata, “Pergilah dan temukan tempat bagus di halaman, bersihkan saljunya dan gali lubang kecil. Salju menutup tanah sehingga menahan cahaya dan menyegarkan wanginya. Kita akan mengubur kendi ini di bawah salju dan mengasapinya setengah jam agar wanginya meresap dalam kendi. Dan ketika Tuan Besar kembali kita bisa membuka kendi ‘Yang Mengunci Diri” ini.”

 

Zuiju berseru “Yang Mengunci Diri? Nama yang menarik, pilihan bagus, membuatku penasaran akan rasanya.”

 

Pingting menatapnya menggoda dan tersenyum, menyebabkan mata Zuiju berbinar terang.

 

Hongqian mengambil sapu dan pergi keluar untuk mencari tempat yang cocok.

 

Pingting mengangkat kendi yang ternyata agak berat. Kehilangan keseimbangannya, ia berjalan dengan sempoyongan dan Zuiju yang ketakutan segera menghampiri dan mengabil alih kendi. “Tolonglah, jangan seperti ini lagi, cepat atau lambat kau akan membuatku terkena serangan jantung.”

 

Lalu Zuiju membawa kendinya keluar.

 

Hongqian agak lama mencari lokasi dan akhirnya ia membersihkan salju. Ia sedang menggali dan mengalami banyak kesulitan ketika melakukannya.

 

“Biar aku lanjutkan.” Zuiju menarik lengan bajunya dan mengambil sekop. Setelah bekerja dengan berkeringat, ia juga tidak bisa menggali lebih dalam lalu berkata dengan kesal, “Tanah ini menyebalkan, begitu keras seperti batu.”

 

Pingting merasa geli menyaksikan tingkah mereka. Begitu mendengar komentar Zuiju, Pingting tak mampu lagi menahan tawanya. “Kau memang tidak cocok sebagai pekerja kasar. Ketika musim dingin tanah akan menjadi sangat keras jadi kita tidak akan bisa menggalinya. Akan lebih mudah jika kita minta seorang penjaga untuk melakukannya.”

 

“Itu mudah, aku akan pergi mencari seorang penjaga untuk kita.” Hongqian memiliki hubungan baik dengan para penjaga, maka ia bisa dengan cepat mendapatkan seseorang.

 

Ketika ia berbalik, Zuiju menahan punggungnya, “Tidak perlu memanggil seseorang. Bantuan akan datang dengan sendirinya.”

 

Mereka bertiga menatap pintu masuk halaman, dan melihat seseorang sedang berjalan ke arah mereka. Dari kejauhan sosoknya terlihat seperti Moran.

 

“Oh, Jendral Chu…” Hongqian berkata, tapi ketika melihat ekspresi wajahnya ia menahan ucapannya.

 

Dan itu memang Moran.

 

Ia menggenakan pakaian yang sama sejak semalam dan pedangnya di pinggangnya. Rambutnya rapi, tapi ekspresinya menghianatinya.

 

Bahkan berita tentang pasukan musuh yang menekan perbatasanpun takkan mampu membuatnya berekspresi seperti itu.

 

Melihat ekspresinya, senyum Pingting dan Zuiju segera membeku.

 

Setelah agak lama, akhirnya Pingting bertanya, “Ada apa?”

 

Sikap Moran yang tenang menyembunyikan kekhawatirannya. Moran mengambil napas panjang dan berkata dengan tenang agar Pingting tidak terkejut, “Situasi telah berubah, kita tidak bisa tetap disini. Tolong ikuti saya segera.”

 

Moran bebalik dan mulai melangkah tapi kemudian ia menyadari kalau Pingting tidak mengikutinya dan ia mengerutkan dahi. “Jangan membuang waktu, cepatlah.”

 

Pingting diam tak bergerak, angin utara terasa mengigit kulitnya. Ia menggenggam tanganya untuk mencari sedikit kehangatan dan berkata, “Ikuti aku.” Lalu berbalik dan berjalan.

 

Melihat ekspresinya yang tenang, Moran agak terkejut. Ia agak ragu tapi akhirnya mengikutinya.

 

Zuiju dan Hongqian bisa merasakan suasana yang tegang, tapi mereka tidak bisa menduga seberapa seriusnya kondisi mereka. Mengetahui kalau Pingting membicarakan masalah serius dengan Moran, Zuiju menarik lengan baju Hongqian dan mereka berdua membawa kendi yang tidak jadi dikubur itu kedalam ruangan dan berusaha menunggu dengan tenang.

 

Pingting masuk ke ruangan dan duduk. Matanya terlihat bingung ketika ia duduk tak bergerak merenung. Setelah beberapa lama ia mengambil secangkir teh di depannya. Menahannya di bibirnya dan ia menyadari kalau tehnya sudah dingin, kemudian meletakannya kembali dan perlahan bertanya pada Moran, “Apa mereka dikirim oleh Ratu?”

 

Moran sekali lagi merasa terkejut.

 

Chu Beijie pasti tidak akan memberitahunya tentang pasukan Ratu yang bersembunyi di sekitar, pikir Moran.

 

Ia menatap Pingting.

 

Pingting tertawa kasar, “Tidak sulit untuk di tebak. Jika memikirkan betapa ia begitu membenciku… Tuan tidak mengijinkan aku keluar selangkahpun dari kediaman dan meninggalkan para penjaga disini bahkan termasuk dirimu Moran. Dari seluruh Dong Lin, siapa yang begitu berani menantang dirinya dan membenciku begitu dalam sehingga bisa berbuat seperti itu? Katakan saja seberapa buruk kondisinya?”

 

Dengan kata-kata Pingting, Moran jadi bersemangat. Mata Pingting memancarkan kepintaran dan perhitungan mengingatkannya bahwa berkat Pingtinglah Bei Mo selamat dari kehancuran.

 

Moran menatap wajah yang lembut itu sebelum ia mengaku, “Kondisinya lebih menakutkan dari yang kuperkirakan. Aku mengirim 10 penjaga ke dalam hutan untuk mengintai. Tak seorangpun kembali. Pagi ini, aku mengirim lagi beberapa orang untuk mencari tahu lokasi mereka dan melihat pergerakannya…”

 

“Para penjaga itu juga tidak kembali,” Pingting menyela dan ia menghela napas lalu melanjutkan, “Kalau begitu, aku takut gunung telah terkepung total. Apakah Ratu sungguh memiliki pasukan sebesar itu?”

 

“Nona Bai, kita sudah membuang waktu cukup banyak, tolong ikut aku menuju belakang gunung.” Moran berkata, “Tuan Besar membuat bangunan tersembunyi untuk hal darurat. Tempatnya sulit untuk dilacak, kediaman ini benar-benar sudah tidak aman.”

 

Pingting melihat ke arahnya, “Kita hanya punya satu tim penjaga, bahkan bila kita termasuk kau, melawan pasukan yang mengepung kita. Hasilnya sudah sangat jelas. Kenapa mereka masih bergerak?”

 

Moran berpikir sejenak sebelum akhirnya menatap ke atas dan berkata dengan tidak percaya, “Mungkinkah mereka sudah menemukan lokasi persembunyian? Dan mereka hanya menunggu, untuk bisa menangkap kita ketika dalam perjalan kesana?”

 

Untuk memikirkan rencana lawan, dengan jumlah pasukan lawan yang jauh lebih besar, apalagi yang bisa dilakukan? Perasaan tidak ada harapan sulit untuk dihilangkan ketika berada dalam jebakan.

 

Pingting tidak menjawab, ia membuka tirai dan melihat keluar mengira-ngira waktu saat ini lalu berkata, “Berapa banyak burung dara yang kita punya?”

 

“Seluruhnya lima belas, kenapa ?” Tanya Moran.

 

“Lepaskan mereka semua, lepaskan pada semua sudut mata angin.”

 

Suaranya lembut dan tenang tapi penuh kharisma. Moran mematuhinya tanpa pertanyaan, “Baik, akan kulakukan segera.”

 

Zuiju berjalan masuk setelah melihat Moran terburu-buru pergi. Ia membawa teh hangat dan menatap Pingting sedang melihat kelangit dari pintu. Mereka begitu sibuk mempersiapkan bunga plum yang telah dipetik sehingga rambut Pingting belum sempat disanggul. Meskipun begitu kayu hitam pintu membingkai wajahnya yang penuh kesedihan. Ekspresinya membuat Zuiju menjadi takut. Ia perlahan menyentuh lengannya, “Nona Bai?”

 

Pingting kembali pada kenyataan ketika melihatnya, “Itu kau?” dan ia tertawa sedih, lalu berkata, “Sepertinya selama kita masih hidup, tidak akan pernah ada kedamaian.” Pingting terlihat tanpa harapan. Lalu Zuiju berkata, “Disini sangat dingin. Masuklah dan kita minum teh untuk menghangatkan diri.”

 

Zuiju masuk dengan membawa teh dan menuangkannya untuk Pingting dan dirinya sendiri. Sambil menggenggam cangirnya untuk menghangatkan tangannya ia mempelajari ekspresi Pingting. Setelah beberapa saat ia berkata, “Tak peduli apa yang terjadi, Moran akan membereskannya. Ini masih wilayah Tuan Besar Zhen Beiwang, siapa yang berani macam-macam disini?”

 

Pingting tahu Zuiju sangat cerdas dan tabib yang berbakat tapi bagaimanapun ia masih sangat muda. Ia menjawab dengan lembut, “Justru, karena mengetahui bahwa ini adalah wilayah Tuan Besar Zhen Beiwang yang membuat aku khawatir. Siapa yang berani melakukannya, siapa orang yang memiliki kekuasaan sebanding dengan Tuan Besar? Bahkan kepergian Tuan Besar, pasti juga sudah diperhitungkan oleh mereka, aku takut…” Pingting melihat ke arah perutnya yang masih rata, tangannya memeluk melindunginya. Matanya menoleh kea rah Zuiju.

 

Zuiju terkejut dengan pandangan tajam Pingting dan membalas, “Aku tidak memberitahu siapapun. Aku bahkan tidak memberitahu Tuan Besar. Siapa lagi yang bisa kuberitahu.”

 

Pingting mengangguk setuju dan menghela, “Kuharap keadaan tidak seburuk yang kuduga.”

 

Tirai yang tergantung disingkap dengan cepat dan Moran masuk ke ruangan.

 

Mereka berdua menatap Moran dan menyadari eskpresinya lebih buruk dari sebelumnya.

 

“Burung-burung itu tidak terbang begitu jauh sebelum mereka semua di panah jatuh,” Moran berkata dengan sulit, “Lima belas burung dara, semuanya tidak ada yang selamat. Kediaman telah dikepung total.”

 

Dan akhirnya Zuiju mengerti sepenuhnya kondisi saat ini. Ia berteriak dan matanya membelak.

 

Moran berpikir sejenak sebelum berbicara dengan gigi terkatup, “Bisakah Nona Bai memberikan padaku pedang yang diberikan Tuan Besar pada anda? Aku akan mengirim penjaga dan membuka jalan untuknya. Sebuah pasukan berdiam sekitar 20 mil di selatan. Begitu Jendral disana melihat pedang itu, ia akan segera mengirim pasukannya untuk membantu.”

 

Pingting menegadahkan kepalanya dan menatap pedang yang tergantung di dinding.

 

Chu Beijie telah meninggalkannya untuknya.

 

Tangan Chu Beijie begitu hangat ketika mengenggam tangannya, “Aku meninggalkan Moran dan para penjaga disini untuk melindungimu. Kalau terjadi hal-hal yang tidak terduga, kirim seseorang dengan kuda cepat bersama pedang ini menuju Barak Naga Harimau 20 mil ke arah selatan dari sini, dan minta Jendral Chen Mu untuk membantu. Ia akan mengenali pedangku.”

 

Kata-katanya terngiang di telinga Pingting.

 

Pedang yang dihiasi pertama yang pernah membantai musuh-musuh, tergantung dalam diam di dinding.

 

Pingting tidak tahu apakah ia ingin tertawa atau menangis.

 

Chu Beijie telah memikirkan segalanya begitu baik, memikirkan segala kemungkinan, kecuali yang satu ini.

 

Siapa yang bisa menyalahkannya? Tak ada yang bisa menduga kondisinya akan berjalan sampai seperti ini.

 

Pingting berjalan, perlahan menurunkan pedang dan mengusap pangkal pedangnya.

 

Mengetahui bahwa mereka tidak bisa menyia-nyiakan waktu dan melihat Pingting begitu cemas, Moran akhirnya berkata, “Hanya pedang ini yang bisa mewaliki Tuan Besar dan menggerakan pasukan. Setelah pasukan bantuan tiba, pedang itu akan segera dikembalikan.”

 

Moran melangkah mendekat untuk menerima pedang, tapi Pingting melangkah menjauh.

 

Pingting selalu memikirkan keadaan dari sudut pandang luas dan tidak pernah bertingkah egois, tapi pada saat kritis seprti ini, mengapa ia memiliki pemikiran lain?

 

Menghadapi musuh yang berat, setiap detiknya sangat menentukan. Mengingat jumlah pasukan musuh yang begitu besar yang mengepung mereka, membuat hatinya kecut.

 

Dengan kedua tangan mengenggam kuat pedang, Pingting duduk kembali. Ia menatap Moran dan dengan sedikit rasa takut dimatanya ia bertanya, “Kediaman Tuan Besar Zhen Beiwang dikepung total seperti ini, menurutmu apakah Raja tidak tahu tentang hal ini?”

 

Moran terlihat terguncang dan menjadi pucat ketika menyadarinya.

 

Bukan atas perintah rahasia Ratu?

 

Melainkan Raja sendiri?

 

Kalau Raja juga ikut campur dalam masalah ini, apakah masih ada harapan?

 

Pingting melanjutkan, “Menutup jalur di gunung bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Ini karena kita telah dikepung agak lama, dan mereka tidak ingin kita mengetahuinya. Dan untuk penduduk sekitar juga barak prajurit yang berjarak 20 mil, apakah mungkin mereka tidak memperhitungkannya?”

 

Moran tidak bisa mengucapkan sepatah katapun untuk menjawabnya.

 

Sebenarnya ia tidak harus menjawabnya.

 

Seperti kabut yang tersingkap, segalanya mulai terlihat jelas dan masuk akal.

 

Chu Beijie telah mempersiapkan segala kemungkinan, menjaganya dari musuhnya juga kakak iparnya, tapi apakah ia pernah memperhitungkan untuk menjaganya dari kakaknya sendiri, Raja yang termulia dari Dong Lin.

 

Ikatan darah yang begitu kuat.

 

Kakaknya yang paling mengenalnya dengan baik, kakaknya yang seharusnya paling mengerti betapa berartinya Pingting baginya.

 

Zuiju menyadari kalau ia sedang menahan napasnya.

 

Pingting melihat kearah pedang yang ia genggam didadanya, ia bisa merasakan kehangatan Chu Beijie merambat keluar dari besi yang dingin itu.

 

“Pasukan tidak akan bergerak saat ini, atau Jendral disana telah diganti. Tidak akan ada bantuan.” Pingting menatap keluar jendela, kemudian ia bertanya, “Tanggal berapa sekarang?”

 

Zuiju segera menjawab, “Empat.”

 

Matahari sudah berada di tengah, saat ini sudah siang hari.

 

“Tanggal empat?” Pingting tersenyum dan wajahnya penuh kehangatan dan harapan, “Kalau begitu tinggal dua hari lagi.” Ia berbalik dan berkata pada Moran, “Aku ingin peta daerah ini dan semua informasi rinci yang memungkinkan, jumlah penjaga, kemampuan mereka, persediaan makanan dan sumber air. Juga termasuk jalur berburu dan jalur penebang kayu penduduk sekitar…”

 

Setelah mengucapkan semua perintahnya, Pingting menarik napas dalam, dan bernapas dengan tenang sebelum berkata dengan dingin, “Mengepung total musuh dan masih tidak membuat gerakan, sepertinya mereka mengharapkan kita untuk menyerahkan diri. Ini bukan ciri khas Raja Dong Lin tapi seseorang yang sangat tidak asing. Siapakah kemungkinannya?” Pingting memikirkannya, alis matanya berkerut. Tatapannya menjadi lebih tegas dan stabil.

 

---

Sementara itu di ibukota Dong Lin.

 

Sinar matahari membelah kegelapan, mengelilingi tanah dengan cahaya dan kehangatan. Meskipun sinar matahari menyinari seluruh istana tapi ada kemuraman yang juga tidak hilang.

 

Raja dan Ratu Dong Lin melangkah masuk ke ruangan Selir Li dan dengan lembut menenangkan wajah pucat Selir Li. Pelayan istana dengan cepat membawakan bayi perempuannya, terbungkus kain sutra putih. Ia menyerahkannya pada Raja dan Ratu.

 

“Ia mirip Yang Mulia,” Ratu berbisik.

 

Alis mata Raja berkerut. Melihat anak perempuannya yang baru lahir, ia memaksa senyumnya. Ujung bibirnya masih tersenyum ketika terdengar suara pedang beradu di luar.

 

“Yang Mulia, tolong berhati-hati!” suara pedang teradu semakin keras. Penjaga pribadi Raja saling bertukar pandang dan menyadari terjadi pertarungan di luar. Keempatnya bergerak untuk melindungi Raja dan Ratu. Mereka mengeluarkan pedang mereka dan berdiri di depan, waspada dengan sekitarnya. Dua penjaga berjaga di jendela untuk melihat musuh.

 

Jeritan kesakitan terdengar bersamaan suara pukulan keras. Keributan akhirnya sampai ke ruangan, membangunkan sang bayi dan ia mulai menanggis.

 

Suara adu pedang tiba-tiba berhenti, dan kesunyian menandakan pertarungan telah selesai.

 

Sebuah cahaya bersinar di mata Raja. Ia tiba-tiba berdiri, membuka pintu dan berdiri di undankan paling tinggi.

 

Sosok Chu Beijie yang tenang tertangkap pandangannya.

 

Perkelahian telah selesai.

 

Para penjaga telah terluka dan berdarah, mereka berjalan sempoyongan dan mengertakan gigi. Mereka tidak bersuara meskipun sangat kesakitan.

 

Beberapa penjaga yang terluka mengenggam erat tombak mereka dan mengepung Chu Beijie, tapi tak seorangpun dari mereka berani menyerangnya.

 

Chu Beijie berdiri di tengah halaman, melihat ke arah pedang di tangannya. Darah mengalir turun dari ujungnya membasahi lantai yang halus.

 

Wajahnya sangat tenang, sama sekali tidak menghiraukan para penjaga disekitarnya. Bahkan seorang prajurit hebatpun takkan mampu menahannya.

 

Mungkin itulah masalahnya.

 

Sikap dinginnya membuat gemetar.

 

Semua orang menatap Tuan Besar Zhen Beiwang yang perkasa dan hebat. Tidak berkedip dan menahan napas mereka, mereka tak berani membuat gerakan sekecil apapapun.

 

Ketika tetes terakhir darah jatuh dari pedangnya, Chu Beijie menatap kakaknya. Dengan rasa sakit dan terluka di matanya, ia bertanya, “Kenapa?”

 

Suaranya lembut tapi tidak menyembunyikan ancaman di baliknya.

 

Berbalut darah tapi masih menolak untuk menyerah, pemimpin para penjaga yang sebelumnya diperintahkan untuk menghentikan Chu Beijie.

 

Ratu terguncang dengan tatapan tajamnya. Ia membuka mulut untuk berbicara, tapi Raja segera mengenggam tanggannya. Ratu menundukkan kepala dan berdiri diam disamping Raja.

 

“Aku ceroboh.” Raja berdiri diatas undakan, menoleh ke bawah kepada adik satu-satunya dan menghela, “Setelah memimpin pasukan bertahun-tahun, kau terus memegang bendera komando setiap saat. Tentu saja kau tidak perlu ke ibukota untuk menerimanya kembali. Beijie, apakah kau akan menyia-nyiakan semua yang telah kulakukan untukmu?”

 

Chu Beijie tetap menatapnya dan bertanya kembali, “Kenapa?”

 

Itu adalah titik dimana kau tidak bisa berbalik.

 

“Karena kau satu-satunya adikku. Kau adalah Tuan Besar Zhen Beiwangnya Dong Lin.” Suara Raja semakin kencang ketika ia berbicara, menjadi lebih percaya diri, “Sepertinya aku tidak akan memiliki anak laki-laki lagi. Suatu hari semua ini akan menjadi milikmu. Negara ini akan menjadi milikmu seorang, seluruh rakyat yang tidak terhitung dan para prajurit pemberani yang menjaga perbatasan kita. Segalanya akan menjadi milikmu.”

 

Kata-katanya menggema.

 

Chu Beijie tidak tertarik. Tetap berdiri tegap, dan ia menatap tajam pada Raja. Sinar mata Raja memancarkan penyesalan tapi kemudian berubah menjadi kesedihan yang menyiksa dan penderitaan.

 

“Dalam menghadapi perang, sebagai anggota kerajaan, keamanan Negara seharusnya yang utama bagi kita. Kakak, kau melakukan segala hal untuk menunda keberangkatanku. Apa kau tidak khawatir dengan kondisi di perbatasan?” Chu Beijie berkata sebelum menggelengkan kepalanya, “Bukan, bukan itu.” Eskpresinya menjadi semakin gelap, “Kau ingin menghentikan aku kembali ke kediamanku.”

 

Sebuah kediaman kecil dan terasing, mengapa Raja dan Ratu begitu peduli?

 

Chu Beijie menyadari ekspresi Ratu yang hampir tidak terlihat dan merasakan jantungnya berdebar kencang. Dengan sedikit gemetar, meskipun sudah mengetahui jawabannya, ia bertanya, “Apakah karena Pingting?”

 

Pingting berada jauh dari perlindungannya. Kalau Raja ikut campur, meskipun dengan bantuan Moran, kecil harapan untuk keselamatannya.

 

Melihat Raja enggan untuk menjawab, Chu Beijie merasakan hatinya menjadi semakin dingin.

 

“Kakak?” Chu Beijie berkata dengan pelan, sambil menahan amarah yang memuncak.

 

Suaranya sangat tenang dengan sedikit gemetar. Kalau saja pedang yang digenggamnya tidak terbuat dari besi pasti telah hancur sejak tadi.

 

Pingting.

 

Mereka membuat dirinya kembali untuk mendapatkan Pingting.

 

Apakah ada kekacauan besar selama keterlambatannya keluar dari istana kerajaan ?

 

Mungkinkah ketika ia kembali nanti, ia takkan bisa lagi melihat sosoknya yang sedang duduk di bawah pohon?

 

Chu Beijie menatap Raja, merasakan bukti sebuah penghianatan tapi ia tetap bisa merasakan sedikit kerlipan harapan.

 

Ia sungguh berharap setidaknya dengan memandang ikatan mereka sebagai adik kakak, kakaknya akan memberi sebuah kesempatan bagi Pingting untuk bertahan hidup.

 

Bahkan seorang Raja Dong Lin yang telah mengeraskan hatinya menolak untuk bertemu pandang dengannya, ia malah menoleh kearah lain.

 

Karena kakaknya tidak bersedia menatap matanya, Chu Beijie membeku.

 

Hatinya hancur. Ia merasa kegelapan telah menelan dirinya hidup-hidup.

 

Hari keenam.

 

“Pada hari ulangtahun Tuan, bisakah kita bersama?”

 

Suara burung bersiul terdengar di telinga Chu Beijie. Ia bisa melihat semua senyum dan gerakan Pingting dalam kenangannya di hatinya.

 

Ia telah membuat janji pada hari keenam.

 

Ia merasakan dirinya mati rasa.

 

Semakin ketakutan menguasainya, ia merasakan hatinya semakin dingin.

 

Tak lama kemudian, sebuah keputusan melintas di kepala Chu Beijie. Dengan mengenggam kuat pedangnya, ia berbalik untuk melangkah pergi.

 

Para penjaga di sekeliling Chu Beijie menggerakkan tombak mereka dengan hati-hati. Seiring ia berjalan menuju pintu keluar, kekuatan memancar dari tiap langkahnya. Para penjaga begitu terkejut sehingga tidak yakin apakah mereka sebaiknya menghentikannya atau tidak. Mata pedang Chu Beijie masih mengarah ke tanah. Tidak peduli pada besi tajam yang mengarah padanya, Chu Beijie menekankan pada setiap langkahnya bahwa, tak ada apapun yang bisa menghentikannya, meskipun sebuah pisau tajam diarahkan tepat ke jantungnya.

 

Tatapannya segelap lautan luas, tak bisa diterka. Semua orang bisa merasakan badai besar yang siap mengamuk.

 

Tak ada yang berani menatap matanya dan tidak ada juga yang berani menyenggol pedangnya.

 

Siapa yang tidak pernah mendengar Tuan Besar Zhen Beiwang yang luar biasa hebat ?

 

Para penjaga di paksa melangkah mundur.

 

“Biarkan dia pergi.” Raja memerintahkan.

 

Para penjaga bergerak, membuat jalan untuk Chu Beijie lewati.

 

Perhiasan burung phenik Ratu bergoyang ketika ia berteriak, “Yang Mulia!”

 

“Apa Ratu berharap agar aku membunuhnya, atau membiarkannya membunuh seluruh prajurit yang kita miliki?” Raja berdiri dengan kaku. Ia memandang sosok Chu Beijie sampai menghilang dari halaman, lalu menghela napas dengan berat, “Biarkan ia pergi. Seharusnya sudah hampir selesai sekarang. Bahkan jika ia berhasil tiba di kediamannya, sudah sangat terlambat baginya untuk melakukan apapun.”

 

Bahkan setelah kepergian Chu Beijie yang agak lama, suasana masih terasa mencekam. Tak ada seorangpun yang berani bergerak. Bahkan sang bayi bisa turut merasakan bahaya dan kesuraman.

 

Raja Dong Lin menatap langit yang perlahan semakin gelap, matanya sulit diterka. Tapi didalamnya terlihat penderitaan dan penyesalan.

 

Suara langkah kaki akhirnya memecah keheningan, Pejabat Senior Chu Zairan melangkah menaiki undakan dan berlujut di depan Raja, “Yang Mulia, setelah meninggalkan istana, Tuan Besar Zhen Beiwang secara pribadi menunjuk dua belas prajurit muda, menggumpulkan tiga ribu pasukan berkuda dengan bendera komando dan berangkat dari gerbang barat.”

 

“Biarkan ia pergi.” Raja Dong Lin menatap pada kejauhan, berusaha menenangkan dirinya, lalu ia berjalan menuruni undakan sambil berkata dengan tenang, “Tanpa belajar rasa sakit karena kehilangan, bagaimana ia bisa tumbuh menjadi Raja Dong Lin di masa depan?”

 

Beijie, pergilah dan lihatlah dengan matamu sendiri, kekacauan yang terjadi di kediamanmu.

 

Kuharap dengan melihat api yang membakar, kau akan melihatnya menghanguskan irisan terakhir dari keegoisanmu.

 

Sebagai seorang Raja, untuk mengatur Negara, kau belum memiliki syarat terakhir.

 
--0--
 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar