Di
kediaman pengasingan jauh di dalam gunung suasana terasa sangat damai.
Para
penjaga berdiri di luar dan para pelayan wanita bekerja di dalam, mereka saling
bertukar salam bila bertemu wajah-wajah yang dikenalnya. Udara begitu penuh
cinta.
Hongqian
tidak banyak bekerja lagi sejak Zuiju bertanggung jawab atas kepulihan
Pingting, ia tersenyum dan menyelinap keluar untuk bermain. Pingting dan Zuiju
tidak keberatan.
Akhir-akhir
ini salju hanya turun ringan dan matahari bersinar terang. Sinar yang hangat
yang mencairkan selapis tipis salju dan es di tanah. Zuiju selalu khawatir
kalau Pingting akan terpeleset karena itu ia memaksa untuk selalu menemaninya
setiap kali Pingting keluar untuk berjalan-jalan.
“Hati-hati,
tanahnya licin.”
Pingting
berdiri di bawah pohon plum yang sedang bermekaran, meraih tangkainya untuk
memetik kuncup bunga. Ia tertawa, “Setiap kali aku bergerak kau pasti
mengingatkanku. Kalau kau begitu khawatir, bagaimana kalau kau membantuku.”
Tak
berdaya, Zuiju hanya bisa membantu Pingting menarik batang pohon plum ke bawah,
membiarkan Pingting memetik pucuk-pucuk bunga plumnya.
“Apakah
kau ingin meletakan mereka di ruanganmu ?”
“Tidak,”
Pingting menjawab sambil tersenyum iseng, “Ini untuk di masak.”
“Masak
?”
Ia
membayangkan harum masakan dari panci rebusan ayam yang dicampur tumbuh-tumbuhan
obat dan pucuk-pucuk bunga plum.
Pingting
dengan riang meletakan pucuk-pucuk bunga plum dan bunga-bunga yang mekar ke
dalam sebuah wadah kecil, dan ia berkata, “Aku ingat pernah membaca sebuah buku
tua tentang khasiat dari bunga plum. Aku berencana mencampurkan pucuk-pucuk ini
bersama sedikit gula, garam dan anggur juga beberapa sayuran musim dingin dan
menjadikannya acar seperti yang kami lakukan di Gui Li. Dan ketika Tuan Besar
kembali nanti, kita bisa menikmatinya bersama.”
Zuiju
segera teringat, “Aku belum pernah mendengar kalau bunga plum bisa digunakan
sebagai obat, jadi aku sama sekali tidak bisa menebak apa pengaruhnya. Tak masalah
kalau Tuan Besar yang mencobanya tapi Nona kau harus hati-hati.”
“Aku
tahu,” Pingting menjawab, “Bukankah aku selalu mengikuti petunjukmu untuk
masalah gizi?”
Menyadari
kalau ia agak keterlaluan dan kata-kata Zuiju memang benar, Pingting jadi
sedikit malu.
“Sayang
sekali saat ini sedang musim dingin jadi hanya sedikit bunga plum yang
bermekaran. Begitu musim semi dan musim panas tiba akan lebih banyak bunga
untuk di petik dan kita bisa membuat banyak hidangan. Misalnya, hanya untuk
memasak peony saja bisa menggunakan beberapa cara.” Pingting berbicara sambil
memetik pucuk-pucuk bunga plum lebih banyak lagi. Setelah beberapa saat ia
merasa sedikit lelah. Karena ia sedang mengandung anak Chu Beijie, ia tidak
boleh mengambil resiko dengan melakukan kegiatan yang terlalu melelahkan.
Pingting menyerahkan wadah bunga ke Zuiju
dan mereka berdua kembali ke kamar.
“Sekarang
sudah senja.” Pingting berucap, “Seharusnya Tuan Besar sudah menerima bendera
komando.”
Tebakannya
hanya benar sebagian.
Chu
Beijie sudah menerima bendera komando agak lama tapi ia masih belum bisa
berangkat.
Chu
Beijie menjaga kediaman Selir Li. Penampilan luarnya sangat tenang seperti
biasanya tapi di dalam, ia sangat gelisah.
Sejak
senja di hari kelima ia sudah melewatkan waktu keberangkatan seperti rencananya.
Ia
berpikir bagaimana reaksi Pingting. Pingting sangat ingin melewatkan hari
ulangtahunnya bersamanya. Ia takut sekali, seberapa hebat Pingting akan
tersakiti karena ia melanggar janjinya.
Ia
takkan sanggup menghadapinya kalau Pingting tidak mau melihatnya lagi sama
sekali.
“Apakah
Tuan akan tetap menemaniku? Besok akan turun salju. Tolong ijinkan aku
memainkan beberapa lagu untuk Tuan nikmati saat salju turun.”
Ia
telah mengecewakan Pingting satu kali sebelumnya.
Dan
sekarang ia akan dikecewakan sekali lagi.
Kakak
laki-lakinya, kakak iparnya, Selir Li, Chu Zairan dan semua orang di negaranya
takkan mengerti bagaimana musiknya, suaranya, gerakan tangan-tangannya yang
ramping, bibirnya yang merah dan pucat, dan gerakannya yang anggun selalu
menghantui pikirannya. Ia sangat merindukan keberadaannya.
Istana
sangat hebat tapi terasa kosong. Banyak makanan mewah dan wanita-wanita cantik
tapi tak bisa menghilangkan rasa rindunya.
“Aku
akan berusaha semaksimal mungkin.”
Ia
rindu ingin melingkarkan lengannya di tubuh Pingting yang lembut, menikmati
musim semi yang berbunga dan bulan musim gugur yang bulat besar, berdua
berkelana ke ujung dunia, mengagumi keindahan alam dan takkan pernah berpisah. Ia
akan melindunginya, tak akan membiarkann penderitaan atau kesedihan sekecil
apapun menimpanya.
Tapi
ia sedang dihadapkan pada dilemma. Ini adalah keputusan yang bisa membuat
negaranya kecewa. Bagaimana mungkin ia lebih memilih seorang wanita di banding
kedamaian dan kemakmuran rakyatnya sendiri, meskipun ia adalah satu-satunya
wanita yang dicintainya? Hari ulangtahun pasti datang setiap tahun. Tapi keturunan
darah kerajaan Dong Lin…. Ini adalah sinar harapan terakhir.
Tanpa
ia ketahui pesan yang dikirimkan Ze Yin untuknya telah ditahan oleh Ratu.
Wajah
Ratu menjadi pucat dan terkejut ketika ia perlahan melangkah menuju kediaman
Raja dan memberi salam. Ia memberi tanda agar para pelayan meninggalkan mereka
berdua.
“Ratuku
mengapa kau terlihat sangat pucat?” Raja bertanya ketika mereka sudah berdua
saja, “Bukankah adikku sudah memutuskan untuk tetap tinggal?”
Rambut
sang Ratu dipenuhi hiasan bentuk burung phoenix dan mutiara. Dengan kaku, ia
perlahan duduk di samping tempat tidur, seakan ia harus mengatakan sesuatu yang
sangat buruk dan tak tahu bagaimana memulainya.
Setelah
detak jantungnya agak tenang, ia mengeluarkan surat yang disimpannya si ikat
pinggang dan meletakannya di samping Raja dan berkata dengan suara parau. “Aku
menghadangnya, penerimanya adalah Tuan Besar Zhen Bei Wang, Aku yakin Yang
Mulia akan terkejut kalau tahu penggirimnya.”
Raja
mengambil suratnya dan memandangnya sebelum berkata, “Jendral Bei Mo, Ze Yin?”
Ratu sangat gelisah. Ia menggigit bibirnya dan tergagap, “Isinya lebih
mengejutkan Yang Mulia.”
Suratnya
sangat panjang, tapi Raja tak berani melewatkan satu katapun. Ia dengan
hati-hati membaca isinya dan akhirnya sampai di akhir kalimat - orang
dibelakang semua rencana pembunuhan itu adalah He Xia. Kalimat terakhir terus
berulang di kepalanya, menganggunya. Setelah beberapa saat ia akhirnya menarik
napas panjang dan memandang wajah Ratu yang tersiksa, “Menurut Ratu, bagaimana
tentang hal ini ?”
“Aku
sudah memerintahkan untuk mengecek identitas si pengirim, hasilnya ini memang
tulisan tangan Ze Yin. Segelnya pun merupakan segel pribadi, tidak mungkin
salah.”
“Ze
Yin seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan adikku, mengapa Ze Yin
mengirim surat padanya ?”
“Itu
bukan masalahnya, Ze Yin tidak mungkin berbohong dalam suratnya. Mengungkap rencana
rahasia antara He Xia dan Raja Bei Mo, bukankah malah meletakkan dirinya dalam
posisi berbahaya.” Mata Ratu berkaca-kaca ketika menatap Raja. Ia memejamkan
matanya berharap dirinya bisa bersembunyi, terlindung dari kenyataan. Ia menangis
keras, “He Xia…. Anak-anakku yang malang, semua karena He Xia….”
Tak
mampu lagi menahan kesedihannya, Ratu menangis di bahu Raja.
Dengan
sorot mata yang penuh kepedihan, Raja perlahan memeluk Ratu untuk
menenangkannya. “Kalau hal ini memang benar, maka Bai Pingting bukanlah
pelakunya. Apakah adikku tahu tentang hal ini?”
Dengan
masih menangis Ratu menggelengkan kepalanya. Setelah mulai bisa menguasai
dirinya, ia berkata, “Kalau Bai Pingting bukan pelakunya, apa yang harus kita
lakukan dengan rencana He Xia yang ingin menculiknya ?”
Raja
terdiam.
Raja
berdiri, raut wajahnya tampak serius. Ia berbalik dan berkata dengan tenang
pada Ratu, “Bai Pingting bukan pelakunya, tapi saat ini permasalahannya sudah
berbeda. Kita melakukan ini demi keselamatan banyak nyawa para prajurit, kita
harus menyerahkan Bai Pingting pada He Xia. Sebagai anggota keluarga Kerajaan
Dong Lin, kita harus mengutamakan kepentingan rakyat dan mengabaikan hasrat
pribadi.
Ratu
menatap punggung suaminya dengan sikap hormat di matanya. Punggungnya yang kuat
menahan beban seluruh rakyat.
“Aku
mengerti,” Ratu mengangguk, “Bai Pingting bersalah atau tidak, kita harus
menyelesaikan masalah ancaman di perbatasan. Pasukan He Xia seharusnya sudah
mencapai kediaman pengasingan Beijie di malam hari ini. Beijie sedang focus menjaga
Selir Li yang akan melahirkan. Kita harus memastikan ia tidak meninggalkan
istana.”
Menyadari
bahwa mereka harus bekerjasama dengan pembunuh anak mereka, Ratu merasa muak. Tapi
sebagai seorang Ratu, sebagai seorang ibu Negara, bagaimana bisa ia
mendahulukan perasaannya diatas tugasnya?
“Bicara
tentang Selir Li,” Raja berkata dengan alis berkerut, “kemarin malam tabib
kerajaan melaporkan kalau kondisi Selir Li sedang menghadapi tekanan kuat,
sehingga keadaan bayinya sedikit….”
Ratu
menyadari maksud perkataan Raja. Agar bisa menahan Chu Beijie lebih lama, Ratu
telah mengancam Selir Li dan mengirim pelayan diam-diam untuk menasihatinya
agar meminta bantuan pada Chu Beijie.
Selama
Selir Li tidak menyadari apa yang terjadi sebenarnya, ia bisa menipu Chu Beijie
dengan sempurna. Tanpa masalah yang serius, seperti kelangsungan pewaris tahta,
apa yang bisa menjauhkan Chu Beijie dari Bai Pingting.
Bayi
yang di kandung Selir Li adalah satu-satunya keturunan dari Raja. Jika terjadi
suatu kesalahan…. Apa yang harus mereka lakukan?
“Kondisi
bayinya tidak stabil? Yang Mulia jangan khawatir. Bayi itu pewaris kekuasaanmu,
para leluhur pasti melindunginya. Aku akan kesana dan melihatnya…”
Tiba-tiba
suara langkah kaki menyela perkataan Ratu.
“Yang…
Yang Mulia!” Pelayan pribadi Selir Li berlari masuk dan berlutut di hadapannya,
napasnya berat dan ia berbicara dengan gagap, “Bayi Selir Li, telah bergerak,
ia akan segera melahirkan!”
Ratu
dengan ragu berjalan menuju si pelayan dan berkata, “Bagaimana bisa begitu
cepat? Dari pemeriksaan terakhir bukankah menurut tabib sekitar 7 atau 8 hari
lagi ?”
Si
pelayan menoleh pada Ratu dan mengingat kalau Nyonyanya mungkin telah di sakiti
oleh Ratu, ia berlutut dan berkata, “Aku tidak tahu. Selir Li sedang duduk di
tengah ruangan baik-baik saja, tiba-tiba ia berteriak kalau perutnya sakit. Aku
sangat ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.”
Ratu
tidak memiliki perasaan apapun apa Selir Li tapi ia sangat memikirkan bayi yang
belum lahir, yang sangat penting itu. Suaminya sangat bijaksana dan berkuasa. Tapi
pada saat serperti ini ia terdiam, tak bisa berkata-kata. Akhirnya Ratu yang
menjadi panik segera berkata, “Apa yang dilakukan tabib, apa dia sudah tiba?”
Si
pelayan menjawab dengan tergagap “Su….sudah dipanggil.”
“Yang
Mulia!”
Wajah
Raja juga terlihat panik, tapi ia segera menggantinya dengan ekspresi tabah dlalu
menggenggam tangan Ratu dan menenangkannya, “Ratuku, jangan takut. Selir Li
sangat sehat dan kuat. Lagipula melahirkan lebih cepat 7 atau 8 hari adalah hal
yang normal.”
Bersama
Ratu, Raja segera menuju kediaman Selir Li.
Diluar
bangunan sangat terlihat kacau, beberapa pelayan muda dan beberapa pelayan yang
lebih berumur berjalan dengan tergesa-gesa.
“Air
panas! Cepat bawakan air panas!”
“Handuk
bersih!”
“Sup
gingseng! Cepat, pergi dan bawakan sup gingseng!” Para pelayan segera
berlarian.
‘Ahhhhh!
Ahhhhh! Ahhhh, Yang Mulia…!” Teriakan Selir Li semakin keras dan kencang,
mengalahkan suara gaduh para pelayan.
Chu
Beijie tetap memegang janjinya dan berdiri diluar kediaman dengan pedang di
tangannya, menunggu kelahiran si bayi. Ketika melihat kedatangan Raja dan Ratu,
ia berlutut menyambut mereka, “Kakak, kakak ipar.”
Raja
tiba bersama rombongan dan segera menghampiri tabib kerajaan, “Bagaimana
kondisinya ?”
“Yang
Mulia, Aku rasa Selir Li kurang istirahat sehingga ia tidak tidur dan makan
dengan baik beberapa hari belakangan ini. Hal inilah yang membuat kondisi
bayinya tidak stabil.” Dahi tabib penuh dengan keringat, “Aku khawtir Selir Li
akan melahirkan lebih cepat.”
“Ahhhhhh! Ahhhhhh!” Suara Selir Li memecah suasana.
Tabib
segera berlari ke dalam ruangan.
Raja
berdiri di depan pintu dan berkata keras, “Sayanku tolong jangan takut, aku
disini untukmu. Tabib mengatakan kalau bayinya sangat sehat, semuanya akan
segera baik-baik segera.”
Teriakan
Selir Li masih berlanjut tidak memperdulikan kata-kata Raja yang berusaha
menenangkannya.
“Yang
Mulia, apa yang harus kita lakukan?” Ratu bertanya dengan berbisik tak bisa
menyembunyikan rasa khawatir di matanya. Dengan menggunakan Selir Li dalam
rencananya, ia sama sekali tidak menduga akan menyakiti bayi yang dikandungnya.
Kalau
bayi itu sampai meninggal, ia satu-satunya yang patut disalahkan.
Chu
Beijie berdiri disamping dan mempelajari ekspresi wajah Raja dan Ratu dan mulai
merasa curiga.
Meskipun
Ratu sangat panik, ia berhasil mengendalikan dirinya karena menyadari tatapan
mata Chu Bejie padanya. Raja juga menyadari sikap Chu Bejie sehingga ia
bertukar pandang dengan Ratu. Mereka menyadari perasaan masing-masing yang
merasa gusar.
Mereka
mengandalkan Selir Li yang akan melahirkan sekitar 7 atau 8 hari lagi, dan bisa
dipastikan saat itu Bai Pingting telah
berada di tangan He Xia sehingga kepungan pasukan di perbatasan akan mundur
teratur.
Dengan
kejadian ini, waktu mereka untuk menahan kepergian Chu Beijie akan segera
berakhir.
Dan
atas kejadian ini pula, sebodoh-bodohnya Chu Beijie, dengan akal sehatnya
bahkan rencana yang paling sempurna pun akan segera terbongkar.
Ratu
menguatkan dirinya untuk bersikap tenang. Saat ini, hanya sedikit yang bisa
mereka lakukan. Yang paling utama adalah kelahiran bayi dengan selamat, karena
itulah ia tetap berdiri disamping Raja dan menunggu.
--
Tidak
begitu jauh di dalam hutan sekawanan burung terbang dengan terkejut dan
tiba-tiba.
Pingting
segera membuka matanya dan terduduk di tempat tidurnya.
Bulan
purnama berada tinggi di langit, sinar pucat menyinari tumpukan salju dan es
yang tipis. Bintang-bintang sedang bersembunyi mala mini.
“Nona?”
Zuiju tidur dikamar Pingting untuk menemaninya. Ia menggosok matanya dan
mengenakan mantelnya lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati
Pingting. “Apa Nona haus?”
Pingting
menggelengkan kepalanya.
Sinar
bulan menerangi wajahnya yang lembut dan penuh kesedihan.
“Burung-burung
terbang karena terkejut. Ada orang-orang yang sedang menuju ke gunung ini.”
Zuiju
melihat ke luar jendela kea rah hutan. di kegelapan hutan ia tak bisa melihat
dengan pasti, “Tidak mungkinkah hanya para penebang kayu?”
“Apa
yang dilakukan penebang kayu di tengah malam begini di tengah hutan? Di
kegelapan, hewan liar pasti sedang kelaparan dan mencari makan. Tidak, penebang
kayu hanya akan pergi di siang hari.” Pingting tenggelam dalam pikirannya. Setelah
beberapa saat matanya berkedip dan ia menyadari sesuatu. “Panggil Moran.”
Zuiju
mengangguk dan membuka pintu lalu memerintahkan penjaga malam yang bersiaga di
depan.
Moran
tiba tak lama kemudia, pakaiannya rapi dan sopan dan tak sehelaipun rambutnya
berjuntai. Tidak terlihat seperti seseorang yang terbangun dengan terburu-buru.
Memasuki ruangan dan mencari Pingting, lalu bertanya, “Apa ada sesuatu yang
bisa kulakukan untuk anda Nona Bai?”
“Ini
sudah sangat larut malam, kenapa kau tidak beristirahat?” Pingting bertanya, “Apa
telah terjadi sesuatu?”
Moran
menjawab, “Sebagai kepala penjaga, aku membuat giliran jagaku pada jam seperti
ini setiap malam. Beberapa saat tadi sekawanan burung terbang dengan terkejut. Aku
memerintahkan beberapa penjaga untuk pergi memeriksa, seharusnya baik-baik saja
tapi lebih baik kalau kita berjaga-jaga.” Dengan ekspresi yang sedikit berubah
ia bertanya lagi, “Apakah Nona Bai terbangun karena burung-burung itu?”
Setelah
mendengar kalau Moran telah memerintahkan penjaga untuk memeriksa, Pingting
menjadi agak tenang dan ia mengangguk, “Aku pernah ikut ke medan perang. Di
tengah malam, sekawanan burung yang tiba-tiba berterbangan bisa berari penanda
pasukan musuh datang mendekat.”
Moran
tersenyum dan mengangguk, “Benar, setelah bertahun-tahun berada di medan
perang, mendengar suara burung berterbangan memang harus segera bersiaga. Nona
Bai tidak perlu khawatir. Aku sendiri dan para penjaga akan mengurus masalah
ini. Angin malam sangat mengigit, anda seharusnya beristirahat.”
Dengan
tugas yang sudah menunggunya, Moran memberikan beberapa kata-kata untuk
menenangkan Pingting dan segera berlalu.
Zuiju
menguap dan berkata dengan mengantuk, “Nona sudah mendengar sendiri dari Moran,
segalanya akan baik-baik saja. Ia akan menyelidiki masalah ini. Anginnya sangat
dingin, boleh saya tutup jendelanya sekarang?”
Pinting
selalu tidur dengan cahaya, dan setelah kejadian ini, ia takkan bisa
melanjutkan tidurnya. Ia sudah sepenuhnya terjaga dan sangat mengerti ia takkan
bisa terlelap. “Bulan purnama musim dingin sangat cantik, menyinari salju,
bercahaya seperti kapas. Tidak akan terasa dingin.”
Zuiju
menggelengkan kepalanya atas keras kepalanya Pingting. Dan mengetahui bahwa ia
takkan berhasil membujuknya untuk kembali tidur, ia menghela napas, “Nona
biasanya sangat dewasa. Dari mana munculnya sifat kekanakkan ini?” merayap
dibawah selimutnya lalu ia duduk di sebelah Pingting dan ikut menatap bulan.
“Tuan
Besar akan segera kembali, benar kan ?” sambil menatap bulan Pingting berbisik
dengan tatapan lembut.
Zuiju
terkekeh dan berkata dengan gembira, “Aku tahu Nona akan berkata seperti itu. Aku
bertaruh Nona pasti terus memikirkan hal ini.” Ia bergerak untuk mengambil
pergelangan tangan Pingting dan memeriksanya lalu ia mengela napas lagi, “Cinta
memang hal yang menarik, kalian berdua menjadi bodoh pada saat tertentu.”
Pingting
menoleh ke arah Zuiju, “Tentu, tertawakan aku sekarang. Cinta adalah sesuatu
yang tidak akan kau mengerti sampai kau menghadapinya.” Pingting berbalik untuk
kembali menatap bulan, dan ia berbisik lembut, “Sungguh bulan yang cantik. Andai
aku bisa duduk di atas salju dan memainkan kecapi ditemani sinar lembut ini,
itu akan sangat sempurna.”
Zuiju
segera menghentikan pikirannya, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya. Malam
ini sangat dingin. Kalau duduk di tengah salju dan memainkan kecapi kondisimu
akan memburuk lagi. Kondisi Nona sudah lebih baik setelah meminum obat beberapa
lama. Apa Nona akan menyia-nyiakannya?”
Pingting
mengerti kalau yang dikatakan Zuiju memang benar, dan ia tidak berkata-kata
lagi.
Meskipun
akan sangat menyenangkan memainkan kecapi di bawah cahaya bulan, tapi pendengar
setianya sedang tidak ada.
Dalam
diam menggagumi salju yang semakin menumpuk, ingatan Pingting kembali ke
Kediaman Hua ketika Chu Beijie pertama
kali berkunjung dan meminta dimainkan sebuah lagu. Pingting mengabulkannya dan
Chu Beijie meminta sebuah lagu lagi.
Saat
itu ia sama sekali tidak menduga siapa Chu Beijie sebenarnya tapi sudah tahu
dengan pasti kalau pria itu menggunakan nama samaran. “Tuan menginginkan sebuah
lagu dariku, tentu aku mengabulkannya. Dan tentunya dengan nama asli Tuan.”
“Apa
Nona tidak menginginkan hal lain?” Tanya Chu Beijie.
“Apa
yang kuingingkan?”
“Apa
yang Nona inginkan secara alami tentu saja, sebuah penilaian atas permainan
Nona.”
Sebuah
tawa yang menyenangkan, penuh percaya diri dan kegembiraan. Bergema di benak
Pingting.
Sangat
yakin bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menghancurkannya.
Pingting
menyadari kalau ia tidak melupakan satu kata maupun tindakan Chu Beijie di hari
itu. Ia bisa mengingatnya dengan sangat rinci..
Ia
sama sekali tidak pernah berpikir kalau saat itu akan membawa mereka sampai ke
hari ini.
Kalau
ini memang sebuah berkah langit, langit sungguh sangat murah hati. Ia memiliki
sebuah nyawa yang sedang tumbuh setiap harinya dan tertidur dengan nyamannya di
dalam perutnya.
Pingting
mengusap perut bawahnya, masih terasa rata dan rasa hangat menjalar dari
jari-jarinya ke hatinya, sepertinya nyawa kecil itu sedang melindunginya
seperti yang dilakukan ayahnya.
Ia
berbalik dan berbisik, “Zuiju, terima kasih.”
“Untuk
apa?”
“Terima
kasih sudah mengijinkanku untuk mengatakannya sendiri pada Tuan Besar tentang
berita ini.” Tatapannya sangat lembut dan penuh impian, “Itu pasti akan menjadi
saat yang paling bahagia dalam hidupku.”
Pingting
menatap keluar jendela ke arah timur. Sangat tenang. Pohon tinggi membentuk
tembok, menghalangi pandangannya.
Itu
adalah arah Chu Beijie kembali pulang.
----
Langit
perlahan mulai terang.
Sebuah
tangisan bayi menyela ketegangan di dalam ruangan, samar dan perlahan merambat
melalui lubang pintu. Suara yang meninggalkan tanda pada hati setiap orang.
Raja
Dong Lin berdiri dari kursinya.
“Bayinya
sudah lahir?”
Tabib
berlari keluar dari ruangan, wajahnya pucat karena letih, ia segera berlutut
pada Raja dan Ratu lalu mengumumkan, “Selamat, keduanya, anak dan ibu baik-baik
saja.”
“Bayinya
apakah laki-laki atau perempuan?” Ratu menyela.
Semua
mata menatap tabib istana.
“Yang
Mulia Ratu, bayinya seorang putri kecil yang cantik.”
Hampir
semua wajah tiba-tiba menjadi gelap.
Bukan
pangeran.
Dong
Lin tanpa seorang pangeran mahkota.
Tabib
mengerti kalau mereka bukannya tidak pernah menduga hal ini, maka ia berkata
dengan pelan pada Raja, “Selir Li dan bayinya baik-baik saja, apa Yang Mulia
ingin melihat mereka?”
“Tentu.” Raja mengangguk, meluruskan alisnya yang
berkerut. “Selir Li telah berjuang keras.” Ia lalu berbalik menatap adiknya.
“Selamat
kakak.” Chu Beijie berjalan mendekat dan berlutut, kemudian berkata lagi, “Perang
masih membayangi. Sama sekali tidak boleh membuang waktu, aku sudah menerima
bendera komando dan sekarang sudah seharusnya menuju garis depan. Begitu aku
kembali dengan kemenangan kita bisa merayakannya dengan minum bersama.”
Raja
terlihat terkejut tapi dengan segera menenangkan dirinya, “Adik tidak perlu
terburu-buru. Untuk perang yang begitu penting setidaknya kau harus membiarkan
aku melepasmu di depan gerbang masuk.”
Chu
Beijie membalas dengan tajam, “Masalah militer adalah hal yang terpenting. Tidak
diperlukan kemewahan untuk saat seperti
ini.” Meskipun ia berbicara pada Raja tapi tatapannya terus memperhatikan
ekspresi Ratu.
Sulit
untuk Ratu, tapi ia berhasil mempertahankan wajah tenangnya dan berkata pada
Raja, “Yang Mulia, perkataan Chu Beijie tidak bermaksud menyinggung. Masalah militer
adalah hal yang utama. Ia telah berada di istana untuk beberapa hari saat ini. Aku
yakin para prajurit telah menunggu perintahnya.”
Raja
bertukar pandangan dengan Ratu dan segera mengangguk, “Baiklah, aku melepasmu
adik. Tetap hidup. Aku menunggumu kembali dengan kejayaan agar ktia bisa
merayakannya bersama.”
Chu
Beijie mengangguk setuju. Ia berbalik dan pergi dengan langkah kaki yang keras
dan berisik.
Setelah
sosoknya menghilang di kejauhan, Ratu memanggil ketua penjaga yang baru, “Segera
tutup jalan di Kediaman Zhau Qing, lakukan seperti perintahku sebelumnya.”
“Yang
Mulia Ratu segalanya sudah dipersiapkan seperti diperintahkan. Anak panah sudah
diganti dengan yang tidak terlalu tajam seperti yang digunakan untuk latihan. Hanya
akan menembus paling dalam setengah inci. Penjaga yang ikut, adalah yang tidak pernah
di latih oleh Tuan Besar Zhen Beiwang sendiri.”
“Bagus.”
Ratu mengangguk sebelum menoleh pada Raja, matanya penuh kebulatan tekad, “Pergilah.”
“Baik!”
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar