Jumat, 27 Mei 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.32

-- Volume 2 chapter 32 ----


Di kediaman pengasingan jauh di dalam gunung suasana terasa sangat damai.

 

Para penjaga berdiri di luar dan para pelayan wanita bekerja di dalam, mereka saling bertukar salam bila bertemu wajah-wajah yang dikenalnya. Udara begitu penuh cinta.

 

Hongqian tidak banyak bekerja lagi sejak Zuiju bertanggung jawab atas kepulihan Pingting, ia tersenyum dan menyelinap keluar untuk bermain. Pingting dan Zuiju tidak keberatan.

 

Akhir-akhir ini salju hanya turun ringan dan matahari bersinar terang. Sinar yang hangat yang mencairkan selapis tipis salju dan es di tanah. Zuiju selalu khawatir kalau Pingting akan terpeleset karena itu ia memaksa untuk selalu menemaninya setiap kali Pingting keluar untuk berjalan-jalan.

 

“Hati-hati, tanahnya licin.”

 

Pingting berdiri di bawah pohon plum yang sedang bermekaran, meraih tangkainya untuk memetik kuncup bunga. Ia tertawa, “Setiap kali aku bergerak kau pasti mengingatkanku. Kalau kau begitu khawatir, bagaimana kalau kau membantuku.”

 

Tak berdaya, Zuiju hanya bisa membantu Pingting menarik batang pohon plum ke bawah, membiarkan Pingting memetik pucuk-pucuk bunga plumnya.

 

“Apakah kau ingin meletakan mereka di ruanganmu ?”

 

“Tidak,” Pingting menjawab sambil tersenyum iseng, “Ini untuk di masak.”

 

“Masak ?”

 

Ia membayangkan harum masakan dari panci rebusan ayam yang dicampur tumbuh-tumbuhan obat dan pucuk-pucuk bunga plum.

 

Pingting dengan riang meletakan pucuk-pucuk bunga plum dan bunga-bunga yang mekar ke dalam sebuah wadah kecil, dan ia berkata, “Aku ingat pernah membaca sebuah buku tua tentang khasiat dari bunga plum. Aku berencana mencampurkan pucuk-pucuk ini bersama sedikit gula, garam dan anggur juga beberapa sayuran musim dingin dan menjadikannya acar seperti yang kami lakukan di Gui Li. Dan ketika Tuan Besar kembali nanti, kita bisa menikmatinya bersama.”

 

Zuiju segera teringat, “Aku belum pernah mendengar kalau bunga plum bisa digunakan sebagai obat, jadi aku sama sekali tidak bisa menebak apa pengaruhnya. Tak masalah kalau Tuan Besar yang mencobanya tapi Nona kau harus hati-hati.”

 

“Aku tahu,” Pingting menjawab, “Bukankah aku selalu mengikuti petunjukmu untuk masalah gizi?”

 

Menyadari kalau ia agak keterlaluan dan kata-kata Zuiju memang benar, Pingting jadi sedikit malu.

 

“Sayang sekali saat ini sedang musim dingin jadi hanya sedikit bunga plum yang bermekaran. Begitu musim semi dan musim panas tiba akan lebih banyak bunga untuk di petik dan kita bisa membuat banyak hidangan. Misalnya, hanya untuk memasak peony saja bisa menggunakan beberapa cara.” Pingting berbicara sambil memetik pucuk-pucuk bunga plum lebih banyak lagi. Setelah beberapa saat ia merasa sedikit lelah. Karena ia sedang mengandung anak Chu Beijie, ia tidak boleh mengambil resiko dengan melakukan kegiatan yang terlalu melelahkan. Pingting menyerahkan wadah bunga ke Zuiju  dan mereka berdua kembali ke kamar.

 

“Sekarang sudah senja.” Pingting berucap, “Seharusnya Tuan Besar sudah menerima bendera komando.”

 

Tebakannya hanya benar sebagian.

 

Chu Beijie sudah menerima bendera komando agak lama tapi ia masih belum bisa berangkat.

 

Chu Beijie menjaga kediaman Selir Li. Penampilan luarnya sangat tenang seperti biasanya tapi di dalam, ia sangat gelisah.

 

Sejak senja di hari kelima ia sudah melewatkan waktu keberangkatan seperti rencananya.

 

Ia berpikir bagaimana reaksi Pingting. Pingting sangat ingin melewatkan hari ulangtahunnya bersamanya. Ia takut sekali, seberapa hebat Pingting akan tersakiti karena ia melanggar janjinya.

 

Ia takkan sanggup menghadapinya kalau Pingting tidak mau melihatnya lagi sama sekali.

 

“Apakah Tuan akan tetap menemaniku? Besok akan turun salju. Tolong ijinkan aku memainkan beberapa lagu untuk Tuan nikmati saat salju turun.”

 

Ia telah mengecewakan Pingting satu kali sebelumnya.

 

Dan sekarang ia akan dikecewakan sekali lagi.

 

Kakak laki-lakinya, kakak iparnya, Selir Li, Chu Zairan dan semua orang di negaranya takkan mengerti bagaimana musiknya, suaranya, gerakan tangan-tangannya yang ramping, bibirnya yang merah dan pucat, dan gerakannya yang anggun selalu menghantui pikirannya. Ia sangat merindukan keberadaannya.

 

Istana sangat hebat tapi terasa kosong. Banyak makanan mewah dan wanita-wanita cantik tapi tak bisa menghilangkan rasa rindunya.

 

“Aku akan berusaha semaksimal mungkin.”

 

Ia rindu ingin melingkarkan lengannya di tubuh Pingting yang lembut, menikmati musim semi yang berbunga dan bulan musim gugur yang bulat besar, berdua berkelana ke ujung dunia, mengagumi keindahan alam dan takkan pernah berpisah. Ia akan melindunginya, tak akan membiarkann penderitaan atau kesedihan sekecil apapun menimpanya.

 

Tapi ia sedang dihadapkan pada dilemma. Ini adalah keputusan yang bisa membuat negaranya kecewa. Bagaimana mungkin ia lebih memilih seorang wanita di banding kedamaian dan kemakmuran rakyatnya sendiri, meskipun ia adalah satu-satunya wanita yang dicintainya? Hari ulangtahun pasti datang setiap tahun. Tapi keturunan darah kerajaan Dong Lin…. Ini adalah sinar harapan terakhir.

 

Tanpa ia ketahui pesan yang dikirimkan Ze Yin untuknya telah ditahan oleh Ratu.

 

Wajah Ratu menjadi pucat dan terkejut ketika ia perlahan melangkah menuju kediaman Raja dan memberi salam. Ia memberi tanda agar para pelayan meninggalkan mereka berdua.

 

“Ratuku mengapa kau terlihat sangat pucat?” Raja bertanya ketika mereka sudah berdua saja, “Bukankah adikku sudah memutuskan untuk tetap tinggal?”

 

Rambut sang Ratu dipenuhi hiasan bentuk burung phoenix dan mutiara. Dengan kaku, ia perlahan duduk di samping tempat tidur, seakan ia harus mengatakan sesuatu yang sangat buruk dan tak tahu bagaimana memulainya.

 

Setelah detak jantungnya agak tenang, ia mengeluarkan surat yang disimpannya si ikat pinggang dan meletakannya di samping Raja dan berkata dengan suara parau. “Aku menghadangnya, penerimanya adalah Tuan Besar Zhen Bei Wang, Aku yakin Yang Mulia akan terkejut kalau tahu penggirimnya.”

 

Raja mengambil suratnya dan memandangnya sebelum berkata, “Jendral Bei Mo, Ze Yin?” Ratu sangat gelisah. Ia menggigit bibirnya dan tergagap, “Isinya lebih mengejutkan Yang Mulia.”

 

Suratnya sangat panjang, tapi Raja tak berani melewatkan satu katapun. Ia dengan hati-hati membaca isinya dan akhirnya sampai di akhir kalimat - orang dibelakang semua rencana pembunuhan itu adalah He Xia. Kalimat terakhir terus berulang di kepalanya, menganggunya. Setelah beberapa saat ia akhirnya menarik napas panjang dan memandang wajah Ratu yang tersiksa, “Menurut Ratu, bagaimana tentang hal ini ?”

 

“Aku sudah memerintahkan untuk mengecek identitas si pengirim, hasilnya ini memang tulisan tangan Ze Yin. Segelnya pun merupakan segel pribadi, tidak mungkin salah.”

 

“Ze Yin seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan adikku, mengapa Ze Yin mengirim surat padanya ?”

 

“Itu bukan masalahnya, Ze Yin tidak mungkin berbohong dalam suratnya. Mengungkap rencana rahasia antara He Xia dan Raja Bei Mo, bukankah malah meletakkan dirinya dalam posisi berbahaya.” Mata Ratu berkaca-kaca ketika menatap Raja. Ia memejamkan matanya berharap dirinya bisa bersembunyi, terlindung dari kenyataan. Ia menangis keras, “He Xia…. Anak-anakku yang malang, semua karena He Xia….”

 

Tak mampu lagi menahan kesedihannya, Ratu menangis di bahu Raja.

 

Dengan sorot mata yang penuh kepedihan, Raja perlahan memeluk Ratu untuk menenangkannya. “Kalau hal ini memang benar, maka Bai Pingting bukanlah pelakunya. Apakah adikku tahu tentang hal ini?”

 

Dengan masih menangis Ratu menggelengkan kepalanya. Setelah mulai bisa menguasai dirinya, ia berkata, “Kalau Bai Pingting bukan pelakunya, apa yang harus kita lakukan dengan rencana He Xia yang ingin menculiknya ?”

 

Raja terdiam.

 

Raja berdiri, raut wajahnya tampak serius. Ia berbalik dan berkata dengan tenang pada Ratu, “Bai Pingting bukan pelakunya, tapi saat ini permasalahannya sudah berbeda. Kita melakukan ini demi keselamatan banyak nyawa para prajurit, kita harus menyerahkan Bai Pingting pada He Xia. Sebagai anggota keluarga Kerajaan Dong Lin, kita harus mengutamakan kepentingan rakyat dan mengabaikan hasrat pribadi.

 

Ratu menatap punggung suaminya dengan sikap hormat di matanya. Punggungnya yang kuat menahan beban seluruh rakyat.

 

“Aku mengerti,” Ratu mengangguk, “Bai Pingting bersalah atau tidak, kita harus menyelesaikan masalah ancaman di perbatasan. Pasukan He Xia seharusnya sudah mencapai kediaman pengasingan Beijie di malam hari ini. Beijie sedang focus menjaga Selir Li yang akan melahirkan. Kita harus memastikan ia tidak meninggalkan istana.”

 

Menyadari bahwa mereka harus bekerjasama dengan pembunuh anak mereka, Ratu merasa muak. Tapi sebagai seorang Ratu, sebagai seorang ibu Negara, bagaimana bisa ia mendahulukan perasaannya diatas tugasnya?

 

“Bicara tentang Selir Li,” Raja berkata dengan alis berkerut, “kemarin malam tabib kerajaan melaporkan kalau kondisi Selir Li sedang menghadapi tekanan kuat, sehingga keadaan bayinya sedikit….”

 

Ratu menyadari maksud perkataan Raja. Agar bisa menahan Chu Beijie lebih lama, Ratu telah mengancam Selir Li dan mengirim pelayan diam-diam untuk menasihatinya agar meminta bantuan pada Chu Beijie.

 

Selama Selir Li tidak menyadari apa yang terjadi sebenarnya, ia bisa menipu Chu Beijie dengan sempurna. Tanpa masalah yang serius, seperti kelangsungan pewaris tahta, apa yang bisa menjauhkan Chu Beijie dari Bai Pingting.

 

Bayi yang di kandung Selir Li adalah satu-satunya keturunan dari Raja. Jika terjadi suatu kesalahan…. Apa yang harus mereka lakukan?

 

“Kondisi bayinya tidak stabil? Yang Mulia jangan khawatir. Bayi itu pewaris kekuasaanmu, para leluhur pasti melindunginya. Aku akan kesana dan melihatnya…”

 

Tiba-tiba suara langkah kaki menyela perkataan Ratu.

 

“Yang… Yang Mulia!” Pelayan pribadi Selir Li berlari masuk dan berlutut di hadapannya, napasnya berat dan ia berbicara dengan gagap, “Bayi Selir Li, telah bergerak, ia akan segera melahirkan!”

 

Ratu dengan ragu berjalan menuju si pelayan dan berkata, “Bagaimana bisa begitu cepat? Dari pemeriksaan terakhir bukankah menurut tabib sekitar 7 atau 8 hari lagi ?”

 

Si pelayan menoleh pada Ratu dan mengingat kalau Nyonyanya mungkin telah di sakiti oleh Ratu, ia berlutut dan berkata, “Aku tidak tahu. Selir Li sedang duduk di tengah ruangan baik-baik saja, tiba-tiba ia berteriak kalau perutnya sakit. Aku sangat ketakutan dan tidak tahu harus berbuat apa.”

 

Ratu tidak memiliki perasaan apapun apa Selir Li tapi ia sangat memikirkan bayi yang belum lahir, yang sangat penting itu. Suaminya sangat bijaksana dan berkuasa. Tapi pada saat serperti ini ia terdiam, tak bisa berkata-kata. Akhirnya Ratu yang menjadi panik segera berkata, “Apa yang dilakukan tabib, apa dia sudah tiba?”

 

Si pelayan menjawab dengan tergagap “Su….sudah dipanggil.”

 

“Yang Mulia!”

 

Wajah Raja juga terlihat panik, tapi ia segera menggantinya dengan ekspresi tabah dlalu menggenggam tangan Ratu dan menenangkannya, “Ratuku, jangan takut. Selir Li sangat sehat dan kuat. Lagipula melahirkan lebih cepat 7 atau 8 hari adalah hal yang normal.”

 

Bersama Ratu, Raja segera menuju kediaman Selir Li.

 

Diluar bangunan sangat terlihat kacau, beberapa pelayan muda dan beberapa pelayan yang lebih berumur berjalan dengan tergesa-gesa.

 

“Air panas! Cepat bawakan air panas!”

 

“Handuk bersih!”

 

“Sup gingseng! Cepat, pergi dan bawakan sup gingseng!” Para pelayan segera berlarian.

 

‘Ahhhhh! Ahhhhh! Ahhhh, Yang Mulia…!” Teriakan Selir Li semakin keras dan kencang, mengalahkan suara gaduh para pelayan.

 

Chu Beijie tetap memegang janjinya dan berdiri diluar kediaman dengan pedang di tangannya, menunggu kelahiran si bayi. Ketika melihat kedatangan Raja dan Ratu, ia berlutut menyambut mereka, “Kakak, kakak ipar.”

 

Raja tiba bersama rombongan dan segera menghampiri tabib kerajaan, “Bagaimana kondisinya ?”

 

“Yang Mulia, Aku rasa Selir Li kurang istirahat sehingga ia tidak tidur dan makan dengan baik beberapa hari belakangan ini. Hal inilah yang membuat kondisi bayinya tidak stabil.” Dahi tabib penuh dengan keringat, “Aku khawtir Selir Li akan melahirkan lebih cepat.”

 

“Ahhhhhh!  Ahhhhhh!” Suara Selir Li memecah suasana.

 

Tabib segera berlari ke dalam ruangan.

 

Raja berdiri di depan pintu dan berkata keras, “Sayanku tolong jangan takut, aku disini untukmu. Tabib mengatakan kalau bayinya sangat sehat, semuanya akan segera baik-baik segera.”

 

Teriakan Selir Li masih berlanjut tidak memperdulikan kata-kata Raja yang berusaha menenangkannya.

 

“Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan?” Ratu bertanya dengan berbisik tak bisa menyembunyikan rasa khawatir di matanya. Dengan menggunakan Selir Li dalam rencananya, ia sama sekali tidak menduga akan menyakiti bayi yang dikandungnya.

 

Kalau bayi itu sampai meninggal, ia satu-satunya yang patut disalahkan.

 

Chu Beijie berdiri disamping dan mempelajari ekspresi wajah Raja dan Ratu dan mulai merasa curiga.

 

Meskipun Ratu sangat panik, ia berhasil mengendalikan dirinya karena menyadari tatapan mata Chu Bejie padanya. Raja juga menyadari sikap Chu Bejie sehingga ia bertukar pandang dengan Ratu. Mereka menyadari perasaan masing-masing yang merasa gusar.

 

Mereka mengandalkan Selir Li yang akan melahirkan sekitar 7 atau 8 hari lagi, dan bisa dipastikan  saat itu Bai Pingting telah berada di tangan He Xia sehingga kepungan pasukan di perbatasan akan mundur teratur.

 

Dengan kejadian ini, waktu mereka untuk menahan kepergian Chu Beijie akan segera berakhir.

 

Dan atas kejadian ini pula, sebodoh-bodohnya Chu Beijie, dengan akal sehatnya bahkan rencana yang paling sempurna pun akan segera terbongkar.

 

Ratu menguatkan dirinya untuk bersikap tenang. Saat ini, hanya sedikit yang bisa mereka lakukan. Yang paling utama adalah kelahiran bayi dengan selamat, karena itulah ia tetap berdiri disamping Raja dan menunggu.

 

--

Tidak begitu jauh di dalam hutan sekawanan burung terbang dengan terkejut dan tiba-tiba.

 

Pingting segera membuka matanya dan terduduk di tempat tidurnya.

 

Bulan purnama berada tinggi di langit, sinar pucat menyinari tumpukan salju dan es yang tipis. Bintang-bintang sedang bersembunyi mala mini.

 

“Nona?” Zuiju tidur dikamar Pingting untuk menemaninya. Ia menggosok matanya dan mengenakan mantelnya lalu turun dari tempat tidurnya dan berjalan mendekati Pingting. “Apa Nona haus?”

 

Pingting menggelengkan kepalanya.

 

Sinar bulan menerangi wajahnya yang lembut dan penuh kesedihan.

 

“Burung-burung terbang karena terkejut. Ada orang-orang yang sedang menuju ke gunung ini.”

 

Zuiju melihat ke luar jendela kea rah hutan. di kegelapan hutan ia tak bisa melihat dengan pasti, “Tidak mungkinkah hanya para penebang kayu?”

 

“Apa yang dilakukan penebang kayu di tengah malam begini di tengah hutan? Di kegelapan, hewan liar pasti sedang kelaparan dan mencari makan. Tidak, penebang kayu hanya akan pergi di siang hari.” Pingting tenggelam dalam pikirannya. Setelah beberapa saat matanya berkedip dan ia menyadari sesuatu. “Panggil Moran.”

 

Zuiju mengangguk dan membuka pintu lalu memerintahkan penjaga malam yang bersiaga di depan.

 

Moran tiba tak lama kemudia, pakaiannya rapi dan sopan dan tak sehelaipun rambutnya berjuntai. Tidak terlihat seperti seseorang yang terbangun dengan terburu-buru. Memasuki ruangan dan mencari Pingting, lalu bertanya, “Apa ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk anda Nona Bai?”

 

“Ini sudah sangat larut malam, kenapa kau tidak beristirahat?” Pingting bertanya, “Apa telah terjadi sesuatu?”

 

Moran menjawab, “Sebagai kepala penjaga, aku membuat giliran jagaku pada jam seperti ini setiap malam. Beberapa saat tadi sekawanan burung terbang dengan terkejut. Aku memerintahkan beberapa penjaga untuk pergi memeriksa, seharusnya baik-baik saja tapi lebih baik kalau kita berjaga-jaga.” Dengan ekspresi yang sedikit berubah ia bertanya lagi, “Apakah Nona Bai terbangun karena burung-burung itu?”

 

Setelah mendengar kalau Moran telah memerintahkan penjaga untuk memeriksa, Pingting menjadi agak tenang dan ia mengangguk, “Aku pernah ikut ke medan perang. Di tengah malam, sekawanan burung yang tiba-tiba berterbangan bisa berari penanda pasukan musuh datang mendekat.”

 

Moran tersenyum dan mengangguk, “Benar, setelah bertahun-tahun berada di medan perang, mendengar suara burung berterbangan memang harus segera bersiaga. Nona Bai tidak perlu khawatir. Aku sendiri dan para penjaga akan mengurus masalah ini. Angin malam sangat mengigit, anda seharusnya beristirahat.”

 

Dengan tugas yang sudah menunggunya, Moran memberikan beberapa kata-kata untuk menenangkan Pingting dan segera berlalu.

 

Zuiju menguap dan berkata dengan mengantuk, “Nona sudah mendengar sendiri dari Moran, segalanya akan baik-baik saja. Ia akan menyelidiki masalah ini. Anginnya sangat dingin, boleh saya tutup jendelanya sekarang?”

 

Pinting selalu tidur dengan cahaya, dan setelah kejadian ini, ia takkan bisa melanjutkan tidurnya. Ia sudah sepenuhnya terjaga dan sangat mengerti ia takkan bisa terlelap. “Bulan purnama musim dingin sangat cantik, menyinari salju, bercahaya seperti kapas. Tidak akan terasa dingin.”

 

Zuiju menggelengkan kepalanya atas keras kepalanya Pingting. Dan mengetahui bahwa ia takkan berhasil membujuknya untuk kembali tidur, ia menghela napas, “Nona biasanya sangat dewasa. Dari mana munculnya sifat kekanakkan ini?” merayap dibawah selimutnya lalu ia duduk di sebelah Pingting dan ikut menatap bulan.

 

“Tuan Besar akan segera kembali, benar kan ?” sambil menatap bulan Pingting berbisik dengan tatapan lembut.

 

Zuiju terkekeh dan berkata dengan gembira, “Aku tahu Nona akan berkata seperti itu. Aku bertaruh Nona pasti terus memikirkan hal ini.” Ia bergerak untuk mengambil pergelangan tangan Pingting dan memeriksanya lalu ia mengela napas lagi, “Cinta memang hal yang menarik, kalian berdua menjadi bodoh pada saat tertentu.”

 

Pingting menoleh ke arah Zuiju, “Tentu, tertawakan aku sekarang. Cinta adalah sesuatu yang tidak akan kau mengerti sampai kau menghadapinya.” Pingting berbalik untuk kembali menatap bulan, dan ia berbisik lembut, “Sungguh bulan yang cantik. Andai aku bisa duduk di atas salju dan memainkan kecapi ditemani sinar lembut ini, itu akan sangat sempurna.”

 

Zuiju segera menghentikan pikirannya, “Jangan pernah berpikir untuk melakukannya. Malam ini sangat dingin. Kalau duduk di tengah salju dan memainkan kecapi kondisimu akan memburuk lagi. Kondisi Nona sudah lebih baik setelah meminum obat beberapa lama. Apa Nona akan menyia-nyiakannya?”

 

Pingting mengerti kalau yang dikatakan Zuiju memang benar, dan ia tidak berkata-kata lagi.

 

Meskipun akan sangat menyenangkan memainkan kecapi di bawah cahaya bulan, tapi pendengar setianya sedang tidak ada.

 

Dalam diam menggagumi salju yang semakin menumpuk, ingatan Pingting kembali ke Kediaman  Hua ketika Chu Beijie pertama kali berkunjung dan meminta dimainkan sebuah lagu. Pingting mengabulkannya dan Chu Beijie meminta sebuah lagu lagi.

 

Saat itu ia sama sekali tidak menduga siapa Chu Beijie sebenarnya tapi sudah tahu dengan pasti kalau pria itu menggunakan nama samaran. “Tuan menginginkan sebuah lagu dariku, tentu aku mengabulkannya. Dan tentunya dengan nama asli Tuan.”

 

“Apa Nona tidak menginginkan hal lain?” Tanya Chu Beijie.

 

“Apa yang kuingingkan?”

 

“Apa yang Nona inginkan secara alami tentu saja, sebuah penilaian atas permainan Nona.”

 

Sebuah tawa yang menyenangkan, penuh percaya diri dan kegembiraan. Bergema di benak Pingting.

 

Sangat yakin bahwa tidak ada apapun di dunia ini yang bisa menghancurkannya.

 

Pingting menyadari kalau ia tidak melupakan satu kata maupun tindakan Chu Beijie di hari itu. Ia bisa mengingatnya dengan sangat rinci..

 

Ia sama sekali tidak pernah berpikir kalau saat itu akan membawa mereka sampai ke hari ini.

 

Kalau ini memang sebuah berkah langit, langit sungguh sangat murah hati. Ia memiliki sebuah nyawa yang sedang tumbuh setiap harinya dan tertidur dengan nyamannya di dalam perutnya.

 

Pingting mengusap perut bawahnya, masih terasa rata dan rasa hangat menjalar dari jari-jarinya ke hatinya, sepertinya nyawa kecil itu sedang melindunginya seperti yang dilakukan ayahnya.

 

Ia berbalik dan berbisik, “Zuiju, terima kasih.”

 

“Untuk apa?”

 

“Terima kasih sudah mengijinkanku untuk mengatakannya sendiri pada Tuan Besar tentang berita ini.” Tatapannya sangat lembut dan penuh impian, “Itu pasti akan menjadi saat yang paling bahagia dalam hidupku.”

 

Pingting menatap keluar jendela ke arah timur. Sangat tenang. Pohon tinggi membentuk tembok, menghalangi pandangannya.

 

Itu adalah arah Chu Beijie kembali pulang.

 

----

 

Langit perlahan mulai terang.

 

Sebuah tangisan bayi menyela ketegangan di dalam ruangan, samar dan perlahan merambat melalui lubang pintu. Suara yang meninggalkan tanda pada hati setiap orang.

 

Raja Dong Lin berdiri dari kursinya.

 

“Bayinya sudah lahir?”

 

Tabib berlari keluar dari ruangan, wajahnya pucat karena letih, ia segera berlutut pada Raja dan Ratu lalu mengumumkan, “Selamat, keduanya, anak dan ibu baik-baik saja.”

 

“Bayinya apakah laki-laki atau perempuan?” Ratu menyela.

 

Semua mata menatap tabib istana.

 

“Yang Mulia Ratu, bayinya seorang putri kecil yang cantik.”

 

Hampir semua wajah tiba-tiba menjadi gelap.

 

Bukan pangeran.

 

Dong Lin tanpa seorang pangeran mahkota.

 

Tabib mengerti kalau mereka bukannya tidak pernah menduga hal ini, maka ia berkata dengan pelan pada Raja, “Selir Li dan bayinya baik-baik saja, apa Yang Mulia ingin melihat mereka?”

 

“Tentu.”  Raja mengangguk, meluruskan alisnya yang berkerut. “Selir Li telah berjuang keras.” Ia lalu berbalik menatap adiknya.

 

“Selamat kakak.” Chu Beijie berjalan mendekat dan berlutut, kemudian berkata lagi, “Perang masih membayangi. Sama sekali tidak boleh membuang waktu, aku sudah menerima bendera komando dan sekarang sudah seharusnya menuju garis depan. Begitu aku kembali dengan kemenangan kita bisa merayakannya dengan minum bersama.”

 

Raja terlihat terkejut tapi dengan segera menenangkan dirinya, “Adik tidak perlu terburu-buru. Untuk perang yang begitu penting setidaknya kau harus membiarkan aku melepasmu di depan gerbang masuk.”

 

Chu Beijie membalas dengan tajam, “Masalah militer adalah hal yang terpenting. Tidak diperlukan  kemewahan untuk saat seperti ini.” Meskipun ia berbicara pada Raja tapi tatapannya terus memperhatikan ekspresi Ratu.

 

Sulit untuk Ratu, tapi ia berhasil mempertahankan wajah tenangnya dan berkata pada Raja, “Yang Mulia, perkataan Chu Beijie tidak bermaksud menyinggung. Masalah militer adalah hal yang utama. Ia telah berada di istana untuk beberapa hari saat ini. Aku yakin para prajurit telah menunggu perintahnya.”

 

Raja bertukar pandangan dengan Ratu dan segera mengangguk, “Baiklah, aku melepasmu adik. Tetap hidup. Aku menunggumu kembali dengan kejayaan agar ktia bisa merayakannya bersama.”

 

Chu Beijie mengangguk setuju. Ia berbalik dan pergi dengan langkah kaki yang keras dan berisik.

 

Setelah sosoknya menghilang di kejauhan, Ratu memanggil ketua penjaga yang baru, “Segera tutup jalan di Kediaman Zhau Qing, lakukan seperti perintahku sebelumnya.”

 

“Yang Mulia Ratu segalanya sudah dipersiapkan seperti diperintahkan. Anak panah sudah diganti dengan yang tidak terlalu tajam seperti yang digunakan untuk latihan. Hanya akan menembus paling dalam setengah inci. Penjaga yang ikut, adalah yang tidak pernah di latih oleh Tuan Besar Zhen Beiwang sendiri.”

 

“Bagus.” Ratu mengangguk sebelum menoleh pada Raja, matanya penuh kebulatan tekad, “Pergilah.”

 

“Baik!”

--0--
 
 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar