Rabu, 27 April 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.31

-- Volume 2 chapter 31 --


Chu Beijie tiba di ibukota dengan lusuh, pagi dini hari.

 

Di kejauhan, berdiri gerbang masuk yang menjulang, megah dan mengesankan, terlihat akrab tapi juga terasa asing. Beijie memandangnya untuk beberapa lama sampai akhirnya mengarahkan kudanya maju, menuju pesta penyambutannya.

 

“Tuan!”

 

“Tuan Zhen Bei Wang kita sudah kembali!”

 

“Tuan Besar Zhen Bei Wang akhirnya kembali!”

 

Yang datang menyambutnya tidak hanya para pejabat pemerintahan tapi banyak juga rakyat yang tinggal di ibukota yang berkerumun memenuhi dua sisi jalan. Jendral perkasa mereka akhirnya kembali.

 

Mata mereka memancarkan kegembiraan. Hanya beberapa pejabat tinggi yang tahu tentang kedatangannya kembali dan mereka tetap bersikap tenang, memperhatikan dengan diam dan berusaha mati-matian menyembunyikan kegelisahan yang terpancar di mata mereka.

 

Kepala acara penyambutan ini adalah Chu Zairan, seorang pejabat senior pengadilan yang sangat di hormati di Dong Lin. Ia berdiri di depan, memimpin tak terhitung jumlahnya para pejabat di belakangnya dan memberikan hormatnya pada Chu Beijie, “Tuan akhirnya kembali pada kami.” Tak ada yang bisa menyembunyikan kegembiraan di mata tuanya yang bijaksana.

 

“Pejabat Senior.”  Chu Beijie bergerak mendekat pada pejabat setia yang telah memberikan hidupnya untuk melayani negaranya, memintanya untuk berdiri. Dan menyerahkan tali kekang kudanya pada pelayan di belakangnya, Chu Beijie melangkah maju dan berkata, “Bagaimana situasinya ?”

 

“Tidak baik.” Chu Zairan dan Chu Beijie berjalan menuju istana, dan mengangguk untuk menjawab sorakan rakyat yang berkumpul, “Raja jatuh sakit.”

 

“Kakak ?” Chu Beijie berhenti dan terdiam sejenak kemudian melanjutkan perjalanannya. Dengan kening berkerut ia bertanya dengan sopan, “Bagaimana ini terjadi ?”

 

“Sejak Tuan pergi untuk hidup di pengasingan, kesehatan Raja memburuk. Sakit di dadanya menjadi semakin tidak tertahankan. Ia bahkan tidak bisa tidur di malam hari. Sudah beberapa hari ini ia hanya terbaring di tempat tidur.” Suara Chu Zairan penuh penderitaan, “Bahkan tanpa bayangan peperangan dengan Yun Chang dan Bei Mo serta pasukan mereka yang sedang menekan perbatasan kita, aku akan memohon pada Tuan untuk kembali.”

 

Chu Beijie merasa hatinya tengelam.

 

 

Sementara itu, kabar keberangkatan Chu Beijie dari kediamannya di pengasingan telah sampai di sebuah kediaman yang berada jauh di dalam gunung dekat perbatasan Bei Mo.

 

Yangfeng tiba-tiba mengangkat kepalanya dan memandang pada Ze Yin dengan menusuk. “Pasukan He Xia telah menekan perbatasan tapi Chu Beijie malah menuju ibukota dan meninggalkan Pingting sendirian.”

 

Ze Yin mengangguk dengan tenang dan menjawab, “Benar.”

 

“Oh Tidak!” Yangfeng berseru sedih, terjatuh di kursi mahogany di belakangnya, menyengkram pegangan kursi dengan putus asa dan menyembunyikan wajahnya. “Pingting pasti belum memberitahu Chu Beijie yang sebenarnya, kalau tidak ia pasti tidak meninggalkannya disana untuk menghadapi kerusuhan yang mungkin terjadi. Ia pasti masih berpikir kalau He Xia dan Pingting masih menjaga hubungan Tuan dan Majikan dan sama sekali tidak menduga apa yang telah He Xia lakukan padanya.”

 

Ze Yin memperhatikan, hatinya sakit melihat istrinya menderita, lalu meminta pelayan untuk membawa anak mereka yang masih bayi dan periang. Dengan lembut meletakan bayi itu ke pangkuan Yangfeng, dan mengayun mereka, “Chu Beijie adalah seorang pahlawan dan seorang pria sejati; ia pasti akan melindungi wanita yang dicintanya.”

 

Yangfeng menyentuh tangan yang mendorongnya dengan lembut di punggungnya dan berkata dengan sedih, “Aku tidak pernah lupa ekspresi wajah Pingting ketika ia berbicara tentang He Xia sebelum ia pergi. Aku hanya tidak mengerti, Raja kita hanya untuk kekayaan, bersekutu dengan He Xia dan mengirim pasukannya menuju Dong Lin? Tidakkah ia menyadari apa yang akan terjadi kalau membuat Chu Beijie marah?” Kemudia ia menyadari Sesutu lalu menatap pada tatapan Ze Yin yang tenang dan bertanya, “Mengapa kau begitu tenang? Apa suamiku tersayang melihat sesuatu dari situasi ini?”

 

Ze Yin merasa tidak tenang dengan situasi yang terjadi, menyadari Yangfeng sedang menatapnya dan menunggu jawaban, ia memberitahunya dengan tenang, “Ketika pasukan yang bersekutu tiba di perbatasan, He Xia dengan segera memerintahkan mereka untuk mundur 10 mil. Karena hal inilah aku merasa yakin kalau He Xia tidak berniat untuk berperang melawan Dong Lin tapi menggunakan pasukannya hanya untuk menekan Dong Lin, untuk mendapatkan sesuatu.”

 

Yangfeng menatap suaminya, mata hitamnya yang berkilau tidak berkedip, menunggunya berbicara lagi.

 

Ze Yin menghela, “Kalau Chu Beijie kembali dan memimpin pasukan untuk melawan mereka, bisa dipastikan kedua pihak pasti akan menderita banyak sekali kehilangan.”

 

Maksud dibalik kata-katanya sangat jelas.

 

Apapun keinginan He Xia, Raja Dong Lin pasti akan menyetujuinya atau ia akan menderita lebih banyak kehilangan karena perang.

 

Apa yang sangat di inginkan He Xia sehingga Raja Dong Lin akhirnya menyerah?

 

Yangfeng menjadi kaku ketika menyadarinya.

 

Denga mata membelak dan jantungnya berdebar kencang, Yangfeng menyengkram lengan baju Ze Yin dengan kuat, tulang-tulangnya yang putih semakin terlihat ketika cengkramannya semakin kuat.

 

“Pingting!” Ia menangis, menatap Ze Yin, “He Xia menginginkan Pingting!”

 

Ze Yin menundukan kepalanya. Menatap wajah pucat istrinya dan perlahan mengangguk.

 

“Kenapa?” Yangfeng berkata sambil mengatupkan giginya, “Apakah yang sudah ia lakukan masih belum cukup padanya? He Xia sungguh berhati kejam.” Kemarahan mengalir di dadanya, ia lalu berdiri menatap jauh ke luar jendela kea rah gunung yang tertutup salju.

 

Ia tak boleh membiarkan Pingting menderita lagi.

 

Mengambil napas dalam di udara yang begitu dingin di musim salju, sambil tetap menatap ke luar jendela membelakangi Ze Yin, Yangfeng menenangkan diri dan memohon pada Ze Yin, “Apakah suamiku tercinta bersedia memenuhi harapanku?”

 

“Kau berharap, aku menulis surat untuk Pingting?”

 

“Bukan.” Yangfeng berbalik untuk menatap cintanya dan berkata dengan pelan, “Aku ingin kau sendiri menulis surat untuk Chu Beijie langsung.”

 

 

Chu Beijie memaksa kakinya mendaki undakan-undakan ke arah istana.

 

Ia akhirnya berhenti, di depan istana pribadi Raja, cahaya pucat dari matahari musim dingin bersinar di wajahnya dan menghangatkannya, ia tak bisa mengabaikan kesedihan di hatinya.

 

Tak ada seorangpun yang menganggunya, semua pelayan istana telah pergi termasuk juga Chu Zairan. Ia berdiri sendiri di depan istana kakak laki-lakinya.

 

Ia pernah mengguncang medan perang dengan kuat tapi saat ini ia begitu takut untuk membuka pintu kayu di depannya.

 

Sakit kakaknya dimulai sejak kesedihannya karena kehilangan kedua anak-anaknya yang masih belia.

 

Dengan mencintai Bai Pingting, ia menghianati saudara sedarah satu-satunya.

 

Pertentangan mereka sudah dimulai jauh sebelumnya, sejak Ratu mengirim pembunuh bersiap di dekat kediamannya. Kedua pihak terjebak di jalan buntu, yang tersisa hanya kenyataan mereka harus bergerak.

 

Ia telah menghianati saudaranya, saudaranya yang begitu di hormatinya yang juga seorang Raja yang ia baktikan hidupnya untuknya.

 

Ia hampir tak bisa mengangkat kakinya, terasa berat karena beban di hatinya.

 

Sebelum ia sanggup untuk membuka pintu kayu, pintu itu terbuka tanpa suara. Chu Beijie melihat wajah yang akrab yang telah kehilangan semangat hidupnya. Pipinya menonjol dan lingkaran gelap di sekitar kedua matanya.

 

“Kakak ipar…”

 

Ratu melangkah keluar, wajahnya letih dan menatap Chu Beijie untuk sesaat, dan memperlihatkan senyum dari hati yang terluka. “Tuan Besar Zhen Bei Wang telah kembali.”

 

Ratu berkata dengan suara tenang dan mantap. Bekas ratap tangis akibat kematian dua pangeran muda yang telah menguncangkan Dong Lin sepertinya sudah menjadi masa lalu.

 

Chu Beijie yang hatinya masih terasa kacau menjawab, “Aku sudah kembali.”

 

Langkah kaki Ratu agak goyah, ia berhenti sesaat, memejamkan matanya untuk menenangkan diri dan berkata pelan, “Yang Mulia sudah menunggumu, masuklah.” Ia memperhatikan Chu Beijie beberapa saat kemudian berlalu.

 

Chu Beijie memperhatikannya sampai ia berbelik di pojok dan menghilang dari pandangannya. Setelah itu barulah ia melihat ke dalam pintu yang terbuka.

 

Mengambil napas dalam lalu membuka pintu kayu yang berat itu.

 

Melangkah masuk ke dalam rasanya seperti perlahan di telan oleh bayangan kegelapan. Raja yang sekarat menjadi tidak nyaman dengan cahaya. Tirai berat di gantung di jendela, menahan sinar matahari masuk. Dan ketika pintu di tutup, ruagan menjadi segelap malam.

 

Satu-satunya cahaya hanya dari sebatang lilin yang menyala.

 

Memikirkan kalau istana yang begitu berkilau dan megah telah menjadi tempat yang begitu menyedihkan.

 

Chu Beijie melangkah mendekati tempat tidur besar yang berlapis warna emas.

 

“Kakak,” Ia segera berbicara, “Aku sudah kembali.”

 

“Kembali ?” Raja telah menjadi sangat kurus tapi tenaganya masih tersisa. Ia menatap dengan putus asa pada adiknya laki-lakinya seperti hendak mengingat setiap lekuk wajahnya. Setelah beberapa lama, matanya bersinar seperti seorang kakak laki-laki dan tersenyum pahit. “Aku yakin sekali kalau suatu saat kau akan kembali ke sisiku.”

 

Ia menarik tangan yang telah begitu lama mengenggam pedang, tangan yang juga mengalir darah yang sama dengannya.

 

“Kakak, penyakitmu…”

 

“Jangan khawatir, bukan sesuatu yang bahaya, mataku mejadi lebih rapuh dengan cahaya dan dadaku hanya agak sering terasa sakit. Aku sedang menjalani pengobatan untuk itu.”

 

Chu Beijie merasakan kekuatan pada genggaman kakaknya dan hatinya terasa lebih tenang. Duduk disamping tempat tidur, ia mengatakan hal-hal yang membuat hati hangat, “Kakak, tenanglah dan perhatikan kesehatan. Meskipun ada pasukan yang menekan perbatasan kita, mereka sama sekali bukan saingan pasukan Dong Lin. Ketika aku kembali dari medan perang, aku yakin kesehatanmu akan membaik dan kau akan menyambutku di gerbang atas kemenanganku.” Kata-katanya penuh kekuatan dan keyakinan.

 

Sinar mata Raja penuh dengan kehangatan dan harga diri ketika ia menatap adik laki-lakinya.

 

Adiknya bergerak sesuai keinginan hatinya, hal yang tidak boleh di lakukan oleh mereka yang terikat kepentingan Negara.

 

“Musuh sedang berada di perbatasan kita saat ini, tapi masih belum menyatakan perang. Kalau kita segera menyerang dengan mengirim Tuan Zhen Bei Wang kita yang hebat, akan menjadi bahan tertawaan para tetangga. Adikku tinggalah di istana untuk beberapa hari.”

 

Chu Beijie yang tidak pernah menunda pertempuran, menjawab dengan risau, “Kakak kau tidak boleh meremehkan pasukan sekutu ini, komandan mereka He Xia telah membuktikan dirinya dalam peperangan berkali-kali. Aku yakin, jauh lebih baik berhadapan dengan mereka secepatnya, tolong berikan padaku kekuasaan militer dan aku akan segera menghadapi mereka.”

 

Raja tahu kalau Chu Beijie selalu mengangap masalah militer dengan sangat serius dan menggurusnya dengan penuh perhatian, tidak pernah menyia-nyiakan waktu mesti hanya beberapa menit.

 

Kalau Raja bersikeras untuk menunda perang, akan menimbulkan kecurigaannya.

 

Dan Raja memikirkan kepercayaan yang pernah mereka miliki dan rencananya sendiri untuk menunda keberangkatan Chu Beijie, Raja merasa penuh kepedihan. Ia mengangguk setuju, “Adik perkataanmu sangat benar.”

 

Raja tahu benar kalau Chu Beijie sangat mengerti pada Jendral yang bersiaga di garis depan maka mencuri waktu menggunakan masalah militer tidak akan berhasil.

 

“Jendral Linan, adalah orang yang saat ini memegang bendera komando. Aku sudah memintanya kembali dengan membawa bendera itu. Karena ia harus melakukan perjalanan dari garis depan, seharusnya ia sudah sampai dalam dua hari paling lambat. Begitu ia tiba, aku akan memberikan bendera komando dan kau bisa segera berangkat bersama pasukan.”

 

Setelah mendengar ini Chu Beijie segera memikirkan strategi pertempuran, lalu ia berkata, “Kakak jangan khawatir. Aku menjamin tak ada satu pun prajurit musuh yang akan menginjakkan kakinya di tanah Dong Lin.”

 

Ketika Chu Beijie keluar dari istana Raja ia menemukan Chu Zairan tenggah menunggunya di luar. “Aku bisa mendengar Yang Mulia tertawa, sejak mendengar Tuan Zhen Bei Wang kembali suasana hati Yang Mulia menjadi lebih senang. Kediaman anda telah kosong selama hampir setahun sehingga membutuhkan waktu untuk membersihkannya, karena itu aku telah mengatur tempat untuk anda tinggali di istana ini. Ini juga harapan rakyat, mereka sangat menantikan kehadiran anda.”

 

Chu Zairan berhenti di sebuah bangunan di tengah istana dan menepuk tangannya, kemudian sekitar hampir selusin penjaga dan pelayan muncul dan memberi salam pada Chu Beijie.

 

Chu Zairan berkata, “Aku sendiri yang meminta bangunan ini untuk dipersiapkan untuk anda, tempatnya sangat luas, nyaman dan dekat dengan halaman taman bunga plum, tempat kesukaan anda ketika anda masih kecil.”

 

Chu Beijie menilai dengan cepat para penjaga yang di tugaskan, tak ada satu wajahpun yang dikenalnya. Dengan tanpa ekspresi ia menjawab, “Baiklah.”

 

Setelah berpamitan dengan Chu Zairan, ia melangkah masuk.

 

Chu Beijie tumbuh besar di istana Dong Lin. Sebelum akhirnya ia menerima gelar sebagai Tuan Zhen Bei Wang dan menepati kediamannya sendiri.

 

Seorang pelayan wanita yang cantik datang dan memberi salam padanya, “Tuan sudah melakukan perjalanan jauh dan pasti merasa lelah, biarkan kami membantu membasuh tubuh anda.”

 

Mata si pelayan penuh undangan dan suaranya sangat lembut. Tapi Chu Beijie tidak tertarik.

 

“Aku telah memimpin pasukan berkali-kali dan berpengalaman di medan perang. Aku tidak pernah membutuhkan bantuan untuk membasuh tubuhku.” Chu Beijie menyuruhnya pergi.

 

Meskipun ia tumbuh di istana sebagai seorang pangeran, tapi ia tidak manja. Ia telah memulai tugas militernya sejak usia belasan, dan hasil dari kerja keras, kebulatan tekad, watak serta bakat alaminya membuatnya maju pesat di jenjang militer sehingga ia menjadi pahlawan dalam perang antar Negara.

 

Selesai membersihkan debu yang menempel setelah perjalanannya selama beberapa hari, Chu Beijie akhirnya merasa segar dan nyaman.

 

Meskipun tubuhnya lelah secara fisik, Chu Beijie sama sekali tidak kehabisan energy. Mengenakan pakaian tipis dan santai, ia berdiri di balkon dan memandang halaman taman bunga plum yang bermekaran. Angin menerpa tubuhnya, bajunya berkibar juga rambutnya, terlihat sangat percaya diri dan hebat. Para pelayan wanita muda hanya bisa menghela napas dan merasakan detak jantungnya yang semakin kencang ketika melihatnya.

 

Bunga-bunga plum sedang mekar sempurna, seperti ditempat pengasingannya, sebuah aroma yang redup melintas di udara.

 

Tapi halaman itu kekurangan sesuatu atau lebih tepatnya seseorang. Tempat ini takkan bisa di bandingkan dengan tempat pengasingannya di gunung.

 

Dalam perjalanannya kembali ke ibukota Dong Lin, sepertinya orang-orang yang dikenalnya sedang ditempatkan di tempat yang jauh. Dulu, prajurit yang ditugaskan mengawalnya hanyalah orang-orang pilihan. Setelah hampir satu tahun, tak satupun wajah yang dikenalnya. Kakak iparnya sama sekali tidak berbelas kasihan, tak bisa melupakan keterlibatan dirinya atas kematian kedua anaknya. Bagaimanapun ini memang yang terbaik, karena kakaknya sedang sakit, Chu Bejie hanya perlu bersiap untuk perang dan menunggu bendera komando.

 

Setelah beberapa hari, Chu Beijie menyadari tidak ada prajurit muda yang berjaga, semuanya para prajurit tua. Ketika ia menanyakan ini, Chu Zairan menjawab, “Saat ini para prajurit muda sedang ditempatkan di perbatasan atau menunggu panggilan di rumah mereka.”

 

Sesuai peraturan militer, ketika saat perang, semua prajurit harus menunggu panggilan di rumah agar keberadaan mereka selalu diketahui. Chu Beijie tidak menemukan hal yang janggal dari penjelasan Chu Zairan.

 

Bayangan Pingting sedang berbaring di tempat tidurnya dan rambutnya yang hitam tersebar di sekitar bantalnya sepertinya semakin kuat di benaknya dan sering muncul akhir-akhir ini.

 

“Pingting melewatkan hari ulangtahunnya sendirian, jadi saat ulangtahun Tuan, bisakah kita bersama?” Wajah Pingting merona dan ia memberikan senyum lembut penuh cinta.

 

“Aku akan mengusahakannya.”

 

Chu Beije tidak menjajikan Pingting apapun, tapi itu sudah membuat matanya penuh dengan sinar kebahagiaan. Ia secara diam-diam menghitung hari sampai saat kepulangannya.

 

Tanpa ia mengetahui selama ia menunggu bendera komando, sudah tiga hari berlalu.

 

Kesabaran Chu Beijie sudah sampai batasnya ketika akhirnya ia menerima pesan dari penjaga. Melompat dari tempat tidurnya ia berguman, “Seseorang telah berani menunda masalah militer. Kalau aku bertemu dengannya….”

 

Dengan pakaian formal, Chu Beijie melangkah menuju kediaman Raja. Dalam perjalannya ia sela oleh seorang pelayan yang sedang berlutut, “Tuan, tolonglah Selir Li memohon bertemu anda.”

 

Chu Beijie berhenti, memegang sarung pedangnya dan menoleh ke bawah ke arah pelayan wanita itu. Di bawah sinar bulan sulit untuk melihat wajahnya dengan jelas, tapi jelas ia seseorang yang masih sangat muda, sekitar lima atau enam belas. Memikirkan betapa beraninya ia menghalangi jalannya.

 

“Bagaimana kau bisa tahu aku akan lewat sini?” Tatapan Chu Beije sangat tajam.

 

Mendengar intonasinya yang sangat mematikan, si pelayan wanita gemetar sangat ketakutan. Meskipun begitu ia berkata, “Sejak kedatangan Tuan di istana, Selir Li telah menyuruh saya untuk menunggu di sini, karena anda pasti akan melewati tempat ini untuk menuju kediaman Yang Mulia. Karena anda sendirian, aku mengumpulkan keberanianku dan menghampiri anda.”

 

“Aku sedang sibuk dan tidak punya waktu untuk Selir.” Chu Beijie meludah lalu berlajan kembali.

 

Meskipun sangat muda, si pelayan sangat setia pada majikannya dan menyengkram lengan Chu Beijie untuk menghentikannya. “Tuan, masalah ini sangat penting, lebih penting dari masalah militer yang anda hadapi. Tolong penuhi permintaan majikanku.”

 

Chu Beijie telah bertemu dengan banyak orang dan ia penilaiannya terhadap seseorang sangat baik. Melihat sang pelayan yang berani menatap balik padanya, ia tidak merasakan kecurigaan. Tapi bagaimanapun ia merasakan ada sesuatu yang aneh, menoleh ke arah kediaman Raja sejenak dan akhirnya ia setuju dengan kesal, “Tunjukan jalan.”

 

Si pelayan terkejut dan terdiam sejenak sebelum berkata, “Baik,” setelah berdiri, ia membimbing Chu Beijie melewati banyak tikungan halaman dan koridor.

 

Dalam kegelapan, mereka berjalan jauh melalui jalur yang berangin menuju kediaman para Selir. Chu Beijie hanya samar-samar mengingat tempat ini. Ia biasa datang dan bermain kesini ketika kecil. Karena tahu kakaknya mempercai dirinya sepenuhnya, Chu Beijie pun mengikuti si pelayan dengan percaya diri.

 

si pelayan berhenti di depan sebuah bangunan baru, Chu Beijie menebak ini adalah tempat pribadi para Selir kakaknya. Tapi ia tak pernah mendengar nama Selir Li sebelumnya.

 

Si pelayan menoleh pada Chu Beijie lagi sebelum melangkah masuk dan mengumumkan dengan pelan, “Nyonya, Tuan Besar Zhen Bei Wang telah hadir.”

 

“Tolong persilahkan masuk.” Wanita yang kemudian muncul sepertinya sangat di penuhi kekhawatiran, tidak tidur walaupun hari telah sangat larut. Ia terdengar sangat lega ketika mendengar kedatangan Chu Beijie, sepertinya Chu Beijie mampu menyelesaikan masalahnya.

 

Chu Beijie melangkah masuk dan segera memperhatikan sekelilingnnya.

 

Sebuah perapian menyala di tengah ruangan, memberikan kehangatan yang nyaman. Seorang wanita muda cantik duduk membelakangi ruangan. Setelah melihat Chu Beijie ia tersenyum, “Tuan Besar Zhen Bei Wang, karena sulit untukku, aku tak bisa memberi hormat dengan pantas, tolong maafkan aku.” Si wanita dengan lembut mengusap perutnya yang menonjol ketika ia berbicara.

 

Chu Beijie akhirnya mengerti mengapa si pelayan begitu berani membawanya kesini.

 

Ia duduk meskipun belum di persilahkan dan menilai Selir Li. Setelah beberapa saat akhirnya ia berkata, “Aku sangat sibuk, jadi kalau Selir ingin mengatakan sesuatu sebaiknya segera lakukan.”

 

“Tuan Besar Zhen Bei Wang memang seperti yang di katakana, sangat percaya diri dan langsung.” Selir Li memulainya, tangannya memperbaiki rambutnya ke belakang telinganya dan mengerutkan dahinya bingung bagaimana harus melanjutkan dan akhirnya ia berkata dengan sangat hati-hati, “Aku dipanggil tujuh bulan lalu, dan untuk alasannya aku yakin anda sudah tahu,” ia berkata sambil menatap lembut pada perutnya.

 

“Memberikan keturunan pada Yang Mulia adalah sebuah kehormatan di istana selir. Aku diberkahi dengan kehormatan ini dan keinginan terbesarku adalah anak ini lahir dengan selamat. Tapi bagaimanapun, hidup di istana selir aku menjadi khawatir dengan hidupku dan hidup anak ini. Sejak aku mendengar anda telah kembali, aku telah menunggu untuk bertemu anda. Tuan, anda adalah pilar Dong Lin, penyangga dan pelindung kami, tolong bantu lindungi anak ini agar aku bisa melahirkannya dengan selamat.”

 

Chu Beije agak terkejut dan bertanya, “Siapa yang berani menyakiti seorang wanita yang sedang mengandung anak dari Yang Mulia? Kalau kau memang begitu ketakutan, mengapa tidak kau katakan saja pada Yang Mulia?”

 

“Raja sangat tidak sehat, aku sudah tidak melihatnya sejak beberapa bulan.”

 

“Siapa yang berani menyakitimu?”

 

Selir Li menatap kebawah dan kehilangan kata-kata.

 

Chu Beijie akhirnya menebak, “Sang Ratu?”

 

“Hahaha….” Melihat Selir Li mengangguk sebagai jawabannya, Chu Beijie tertawa keras, menatap tajam dan berkata dengan sangat dingin, “Menurutmu kakak iparku jenis orang seperti apa? Kalau ia tidak menyukaimu, kau tidak akan memiliki kemewahan untuk berbicara denganku saat ini. Aku sangat sibuk dan tidak bisa meladeni omong kosongmu aku akan membiarkanmu kali ini. Jangan pernah mengirim orang untuk menghalangi jalanku lagi.” Chu Beijie berkata sambil berjalan pergi.

 

Ketika ia melangkah keluar, Selir Li berbisik pelan, “Ini semua karena Bai Pingting.”

 

Seketika Chu Beijie menghentikan langkahnya. Ia berbaik dan menatapnya dengan sangat tajam.

 

“Apa maksudmu?”

 

“Awalnya Ratu sangat gembira dengan kehamilanku, melebihi Yang Mulia karena akhirnya akan ada seorang keturunan. Ratu dengan rutin mengunjungi dan sangat peduli padaku, seperti kakak sendiri yang selalu kuingingkan. Tapi beberapa hari belakangan, ia menjadi sangat dingin padaku. Aku bisa melihat kebencian di matanya. Aku sangat takut dengan hidup anakku,” Selir Li menghela napas, “Semua ini karena Bai Pingting.”

 

Chu Beijie berjalan kembali ke dalam ruangan dan menatap Selir Li berusaha menemukan jejak kebohongan sebelum berkata, “Apa hubungan Pingting dengan semua ini?”

 

“Aku tidak tahu siapa yang memberitahu Ratu tentang hubunganku dengan Pingting.” Selir Li berkata dengan senyum pahit, “Ketika Pingting meracuni dua pangeran, Yang Mulia kehilangan keturunannya. Anakku yang belum lahir adalah harapan terakhirnya tapi juga berhubungan dengan Pingting. Kalau anda di posisi Ratu, bagaimana perasaan Tuan dalam setuasi seperti ini?”

 

“Kau mengenal Pingting?” Chu Beijie memandang matanya menyelidiki.

 

Selir Li menghela napas sebelum memandang Chu Beijie dan menjelaskan dengan nada tertahan, “Aku bertemu Pingting di halaman istana. Setelah perjanjian lima tahun perdamaian, Raja Gui Li memberikan aku pada Raja Dong Lin. Aku besar di istana, bagaimana mungkin aku tidak tahu Bai Pingting yang begitu terkenal.”

 

Chu Bejie menatap mata Selir Li dengan tajam, menilai kejujurannya perkataannya.

 

Kalau Ratu percaya Selir Li dan Pingting memiliki hubungan, maka anak yang dikandungnya berada dalam bahaya.

 

“Tuan demi kepentingan anak ini, aku mohon anda bersedia tinggal beberapa hari lagi di istana. Aku takut Ratu akan menyakiti kami. Aku akan segera melahirkan, tak bisakah Tuan memberikan beberapa hari saja?” Selir Li meletakan tangannya melindungi anaknya yang belum lahir dan airmatanya mulai mengalir.

 

Chu Beijie merasa pedih dan akhirnya menghela.

 

Kalau Selir Li mengandung anak laki-laki, ia akan menjadi Raja Dong Lin berikutnya.

 

Dong Lin sudah kehilangan dua pangeran. Kalau mereka tidak hati-hati, mereka mungkin kehilangan harapan terakhir mereka.

 

Pagi itu, Raja menerima bendera komando dari Jendral Linan dan seperti yang sudah disepakati, Raja menyerahkannya pada Chu Beijie.

 

“Adik, persiapan sudah selesai, kau bisa berangkat kapanpun kau inginkan.” Mungkin karena kebahagiaan telah berkumpul kembali dengan adiknya kesehatan Raja semakin membaik.

 

Chu Beijie dengan ragu menerima bendera komando. Ia tak pernah ragu melakukan apa pun sebelumnya. Apa yang sebaiknya ia lakukan? Setelah agak lama, ia akhirnya berkata pada Raja, “Kakak, masih ada yang harus kulakukan, aku akan tinggal di istana beberapa hari lagi.”

 

Saat ini sudah hari ke empat sejak kedatangannya ke ibukota.

 

Dan hari ke enam adalah hari ulangtahunnya.

 

--

 
Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar