-- Volume 2 chapter 30 --
Tuan
Besar Zhen Bei Wang yang tidak terkalahkan telah ditaklukkan oleh Bai Pingting
yang tidak takut pada kematian.
Ia
tidak percaya dan tidak rela untuk mengakuinya.
Hanya
saja ketika ia melihat ke dalam dua bola matanya, segala perasaan benci dan
ketidakpuasan menghilang.
Siapa
yang memintanya untuk mengeraskan hati atau menggunakan cara yang kejam ?
Siapa
sangka, Pingting akan mengalahkannya dengan senyum berseri-seri tak berdosa
ketika melihat wajahnya atau dengan menaikan kedua alisnya, dengan menunjukkan
sedikit saja perasaan akan mendapatkan banyak sebagai gantinya, membuatnya
sebagai tindakan yang paling berguna ?
Bai
Pingting sangat tenang seperti dahan pohon willow yang bergoyang di terpa angin
musim semi. Ia merasa gembira. Ia sangat mengerti kalau cara berkompromi
tidaklah berguna, dan ia sangat berniat untuk membebaskan dirinya setelah
delapan bulan sengsara.
Sampai
ia mampu untuk turun dari tempat tidur dan bisa menggagumi salju.
Hongqian
membersihkan pavilium dan meminta Moran untuk membawakan kecapi, sebelum
menuangkan arak.
Chu
Beijie belum memasuki ruangan ketika ia mendengar suara kecapi melewati
dinding.
Ia
berhenti, memicingkan matanya dan mendengarkan.
Jauh,
tenang dan gembira.
Bebas
seperti awan di langit, seperti bulan dan bintang yang berada di orbitnya
dengan tepat dan segala kemalasan yang mungkin dilakukan sepanjang waktu.
Hanya
gunung-gunung yang mampu berdiri dengan tenang, tegak dan tidak bergerak.
Banyak binatang kecil di dalam gunung tidak takut dengan salju dan angin. Pada
saat salju berhenti, mereka berkumpul di halaman dan bermain perang bola salju.
Mereka membuat gua salju dan mengumpulkan pucuk pohon cemara, sebuah
pertunjukan kompetisi. Riang gembira.
Chu
Beijie tak bisa menahan dirinya untuk mendekati suara kecapi yang terdengar.
Dengan bangganya ia menuju ke halaman, dimana terdapat sebuah paviliyun kecil,
sebuah kecapi, arak terbaik, beberapa pelayan dan seorang wanita yang luar
biasa ceria meskipun sedikit pemalas yang telah memegang hatinya.
Ping! Suara kecapi terhenti dengan suara yang tidak
wajar.
Chu
Bejie menjadi pucat. Ia segera berlari menghampiri paviliyun. “Apa yang
terjadi?”
Pingting
menundukan kepalanya sambil memegang tangan kanannya. Jari telunjuknya telah
teriris karena senar yang tiba-tiba putus, meninggalkan sebuah luka kecil.
“Mengapa
kau begitu ceroboh?” Kedua alis Chu Beijie mengerut. Ia menarik tangan Pingting
yang lembut dan berkata. “Apakah sakit?”
Hongqian
yang mengintip di balik Chu Beijie segera berkata, “Aku akan segera mengambilkan
obat.”
Darah
merah terang perlahan mengalir dari jari-jarinya, membentuk air terjun kecil.
Expresi Chu Beijie antara marah dan frustasi. “Mengapa kau bermain kecapi di
udara sedingin ini?” Ia terus memandangi darah merah yang mengalir. Ia menarik
jari seputih giok itu dan memasukannya ke dalam mulutnya, dan rasa darah
mengalir di tenggorokkannya.
Pingting
tak bisa menahan tawanya, alisnya naik membentuk bulan sabit ketika Chu Beijie
menjilati lukanya dengan lidahnya yang basah dan panas.
“Masih
tertawa ?” Wajah Chu Beijie mengelap dan ia mengeluarkan sikap seorang Jendral
untuk menekan suasana sekitar. “Jangan ceroboh lagi lain kali.” Ia melepaskan
jarinya, darahnya sudah berhenti dan menarik Pingting dengan tangannya. “Ayo
kembali ke ruangan.”
Tapi
Pingting tidak bergerak.
Chu
Beijie kembali menoleh padanya. “Hm ?” Ia bertanya dengan dahi berkerut.
Mata
Pingting yang energik berputar dan perlahan berhenti di jari tangan sebelahnya,
“Yang ini juga ingin dicium oleh Tuan.”
Semakin
banyak Pingting menerima, semakin banyak Pingting menginginkan. Dan sepertinya
setelah beberapa saat, Tuan Besar Zhen Beiwang yang terhormat akan menjadi
seorang idiot yang akan mematuhi apapun perintah istrinya?
Wajah
Chu Beijie semakin mengelap. “Berhenti bermain. Ayo kembali ke dalam…”
Sebelum
ucapannya selesai, ekspresi Pingting menjadi dingin. Ia meletakan jarinya di
mulutnya dan tanpa keraguan mengigitnya dengan keras.
“Kau….”
Chu Beijie dengan menarik tangan Pingting dengan paksa, tapi terlambat.
Tangannya yang cantik dan sempurnya telah bertemu bencana. Terukir sebuah jejak
gigi yang dalam, dihianati dengan kejam oleh pemiliknya sendiri.
Darah
perlahan mengalir dari jejak gigi tersebut.
“Untuk
apa ini ?” Chu Beijie khawatir Pingting akan melakukan hal bodoh lagi. Ia
memegang kuat tangan Pingting. Alisnya berkerut kuat dan ia mengertakan
giginya.
Pingting
tidak khawatir dengan jarinya yang terluka, ia bersandar pada lengan Chu Beijie
sepertinya itu adalah hal yang paling alami di dunia.
“Pfft.”
Pingting tertawa.
Ekspresinya
kembali normal. Ia menegadah dan menatap
Chu Beijie. “Selama Duke peduli pada Pingting, Pingitng tidak peduli kalau
tangan ini menjadi sia-sia dan tidak bisa bermain kecapi lagi.” Suaranya pelan
dan lemah.
Kata-katanya
sangat santai dan tenang tanpa sedikitpun keraguan.
Hati
Chu Beijie berguncang. Ia merangkul Pingting lebih erat. Dan dengan suara pelan
ia berkata, “Hidup dan matimu, kehormatan dan nama baikmu adalah milikku. Kau
tidak boleh menyia-nyiakan dan melukai dirimu sendiri. Kalau kau melanggarnya
aku akan menghukummu sesuai cara militer.”
Sudut
mata Pingting menunjukan sedikit keraguan lalu ia menarik napas dalam di dalam
rangkulan Chu Beijie. Menatap ke dalam mata Chu Beijie dan berkata, “Cara
militer sangat keras, jadi Pingting akan menyerahkan diri.”
Bersandar
di dada Chu Beijie dan merasakan otot-otonya bergerak, ia merasakan kekuatan
luar biasa yang di miliki Chu Beijie.
Pingting
memejamkan kedua matanya, perlahan berkata. “Burung laying-layang membawa
keberuntungan, tapi terlalu banyak keberuntungan membawa petaka. Mencari sebuah
kebahagiaan, mencari sebuah kebahagiaan….”
Chu
Beijie mendengarkan sambil memeluk, sesuatu yang seperti sebuah harta paling
rapuh di dunia yang akan menghilang dalam sekejap.
Sebuah
senyum manis terlihat di wajahnya yang gagah.
Seperti
dulu ketika di kediamannya, Pingting berada di pelukannya dan menyanyikan
lagu-lagu yang indah.
Lagu
itu ada disana, melodinya pun ada disana dan orang yang menyanyikannya juga
disana.
Matahari,
bintang dan bulan juga disana, langit dan bumi juga disana.
Bai
Pingting berada di pelukannya.
Sejak
hari itu, suara nyanyian Pingting yang jernih sering terdengar dari pavilium
kecil.
Mendengarkan,
dan mendengarkan dengan bijaksana, musik yang mengalun, membuat yang lain
menjadi iri dengan pria yang berada disampingnya yang sedang memelukknya.
Bagi
Hongqian, perubahan ini campuran antara kejutan dan kegembiraan. Ia dengan
tenang berkata pada Zuiju, “Lihat ? Karena dendam nyawa mereka saling terikat.
Sekarang semuanya sudah terselesaikan sungguh hebat, sehebat salju yang turun
ini. Tuan Besar seorang Jendral hebat, tapi terhadap wanita yang dicintainya ia
harus mengakui kekalahannya. Yach, seperti itulah, bahkan orang hebatpun
menjadi lebih lembut ketika berhadapan dengan cinta.”
Zuiju
dengan trampil mempersiapkan hidangan untuk Pingting kemudian ia berbalik untuk
melihat Hongqian sedang bersandar di pintu, mereka menyaksikan dua orang yang
saling terikat oleh takdir. “Tuan Besar adalah lawan yang kuat, dan Nona Bai
juga lawan untuk hal lainnya. Aku heran bagaimana langit bisa membuat mereka
menjadi dua pihak yang berlawanan.” Ia berseru.
Hongqian
berbalik. “Tapi berlawanan, membuat hidup menjadi lebih menarik. Siapa lagi
selain Nona Bai, yang pantas untuk Tuan Besar kita ?”
Zuiju
menyetujui sambil menghela napas, “Hal ini mungkin bisa menghibur, tapi tak
seorangpun tahu berapa banyak lagi kesulitan terbentang di depan. Apa kau sudah
lupa peristiwa kematian dua Pangeran ?”
Menyebut
dua Pangeran Dong Lin tawa Hongqian menghilang. Ia menatap kebelakang Zuiju.
Zuiju
berbalik dan melihat Moran sedang berdiri tanpa ekspresi di belakangnya.
“Jangan
pernah menyebut hal itu lagi.” Moran berkata dengan dingin.
“Baik.”
Zuiju
menjawab dan melirik pada dua sosok itu.
Apakah dengan tidak
menyebutnya maka kau boleh melupakannya?
Pingting
sangat bahagia atas cinta Chu Beijie, setelah bertahan selama delapan bulan
atas sikap diamnya. Melihat penyesalan Chu Beijie dan ekspresinya yang tanpa
harapan, Pingting senang, karena setidaknya kemuraman tidak lagi muncul di
wajah Chu Beijie. Mengesampingkan seluruh kemampuan hebatnya, Chu Beijie
sendiri yang membuatkannya bubur dan menyuapi obatnya. Chu Beijie meninggalkan
semua pekerjaannya, dan menemani Pingting menyaksikan matahari terbit, matahari
terbenam, dan mengamati pergerakan bulan dan bintang-bintang.
Harapannya
begitu banyak yang telah terpenuhi. Pingting berbaring di lengan Chu Beijie,
mendengarkan suara musim dingin. Ia meminta Chu Beijie untuk memetik bunga plum
yang mekar paling indah di kediamannya dan meletakannya di rambutnya.
Segalanya
seperti mimpi yang sempurna, mimpi yang mengapung di atas bayangan kelabu.
Pingting dan Chu Beijie meyakinkan diri mereka sendiri untuk mengabaikan
bayangan kelam yang seharusnya tidak boleh dilupakan.
“Pingting
telah melakukan hal yang sangat bodoh.”
“Oh
?” Chu Beijie merasakan udara malam yang dingin, tapi Pingting menangis,
mengatakan ia ingin melihat bintang-bintang. Maka Chu Beijie membuka jendela,
sambil memeluknya erat, ia berkata, “Seperti ?”
“Seperti,
kepada Tuan….” Di tengah perkataannya, ia menutup bibirnya yang kecil, matanya
yang jernih menatap Chu Beijie dengan penuh pertimbangan. ia menertawakan
dirinya sendiri, “Aku punya sebuah permintaan bodoh.”
Chu
Beijie menunduk dan memperhatikan wajahnya. “Seberapa bodoh?”
Pingting
menolehkan pandangannya pada bayangan dibalik pohon-pohon di bawah sinar bulan.
Untuk beberapa saat ia tetap diam sampai akhirnya berkata, “Bodoh kalau aku
menginginkan Tuan tetap tidak berubah pikiran tentang aku, setelah ratusan dan
ribuan belokan serta tikungan di depan sana.” Tertinggal sebuah senyum getir di
bibirnya ketika berbisik, “Si cerdas Bai Pingting, si bodoh Bai Pingting, Bai
Pingting yang baik hati dan Bai Pingting yang jahat…… apa akan selalu menjadi
Bai Pingting yang dicintai oleh Tuan?”
Wajah
Chu Beijie tanpa ekspresi, tapi warnanya semakin gelap. “Jangan lanjutkan.” Ia
meraih dan mengusir warna-warna dan sinar dari langit yang penuh bintang. Ia
dengan mantap dan lembut mendorong Pingting di tempat tidur yang lembut.
“Sudah
dingin. Tidurlah.”
Ia
melepaskan pakaian Pingting dengan lihai juga mantelnya yang berat, menampilkan
sutra putih di baliknya. Dengan sebuah lambaian tangan, Pingting telah tertutup
selimut seutuhnya kecuali wajahnya. Chu Beijie melepaskan pakainnya sendiri
dengan cepat dan bergelut di dalam selimut. Ia menarik pinggang Pingting yang
kurus, dan membiarkan wajah Pingting beristirahat di dadanya.
“Tuan…”
“Tidurlah
dengan patuh. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak berguna.”
Dengan
sedikit marah, ia meniup lilin terakhir yang masih menyala di ruangan.
Mata
yang sehitam tinta itu tidak tertutup melainkan menjadi penuh kesedihan.
Mereka
berdua saling memeluk dengan erat, mendengarkan detak jantung masing-masing,
suara darah mengalir.
“Uhuk….
Uhuk…uhuk….”
“Kenapa
?” Tubuh Chu Beijie yang kuat yang kekar bergerak, tangannya meraih dahi
Pingting.
“Tidak….
Uhuk…uhuk…uhuk uhuk…” Pingting berusaha menghentikan batuknya.
“Obatmu
sepertinya kurang manjur. Terkadang bisa membuat semakin parah. Aku akan
panggil Zuiju untuk memeriksamu. Meski kau tidak percaya pada kemampuan
pengobatan para tabib, tapi pada murid Huo Yunan kau harus membuat
pengecualian.” Chu Beijie berkata sambil turun dari tempat tidur bersiap untuk
memanggil Zuiju.
Pingting
agak sulit untuk duduk, berusaha menghentikannya. “Bahkan bila aku harus
diperiksa seseorang, di malam seperti ini tidak akan membuat perubahan.
Bagaimana kalau besok? Kalau kita membuat suasana menjadi gusar, aku akan
semakin sulit tidur.”
Chu
Beijie perlahan memperhatikan alismata Pingting, yang dengan jelas
memperlihatkan tanda-tanda butuh tidur. Ia mengangguk setuju, lalu kembali
memeluknya untuk tidur, “Kau harus tidur dengan benar dan jangan memikirkan
hal-hal tidak berguna lagi.”
Api
dari arang memercik ketika terbakar di perapian.
Pinting
memejamkan matanya dan patuh untuk tidur.
Esok
harinya, Zuiju telah di panggil pagi-pagi sekali. Ia masuk ke ruangan dan tidak
melihat seorangpun di kursi favorit Pingting, maka ia berdiri di depan pintu
masuk sampai ia mendengar suara berat Chu Beijie berkata, “Kami di dalam.”
Zuiju
masuk ke dalam.
Chu
Beijie sudah bangun dan berpakaian lengkap. Ada sebuah lapisan tipis keringat
di dahinya sepertinya ia telah berlatih ilmu pedannya. Pingting masih berbaring
di tempat tidur dan berusaha untuk bangkit ketika ia melihat Zuiju datang. Chu
Beijie menghentikannya. “Ketika aku menginginkan ia datang semalam kau dengan
keras kepala menolaknya. Sekarang kau sudah seperti ini, dan kau masih berusaha
bergerak? Berbaringlah dengan patuh dan biarkan Zuiju memeriksa nadimu.”
Zuiju
melangkah maju dan duduk di samping tempat tidur. Ia tersenyum pada Pingting,
“Beristirahatlah Nona Bai, guruku bilang aku sangat mahir untuk bidang ini.” Ia
memasukkan tangannya ke selimut hangat dan dengan perlahan menarik keluar
pergelangan tangan Pingting.
Sebelum
ia sempat mendengarkan nadinya, ia disela oleh hembusan angina dari pintu yang
terbuka. Tirai tiba-tiba tersingkap dan Moran muncul dengan wajah serius.
“Tuan, surat pribadi dari istana.”
Alis
mata Chu Beijie berkerut terkejut. “Surat pribadi dari istana ?”
“Surat
pribadi dari Raja.”
Ekspresi
Chu Bejie tiba-tiba menjadi serius. Tubuhnya menjadi tegak seperti tombak. “Ke
ruang kerja,” ia memerintahkan Moran.
Setelah
dua langkah ia berbalik lagi, menoleh pada Zuiju. “Periksa nadinya dengan baik,
atur obatnya dengan hati-hati dan cari tahu akar penyakitnya. Kesehatannya
memang tidak baik, jangan gunakan obat yang terlalu keras.” Lalu ia melangkah
keluar dengan langkah lebar, pergi dengan cepat.
Mereka
berdua masuk ke ruangan dengan waktu yang berbeda. Ketika Moran memasuki
ruangan, ia segera menutup pintu di belakangnya dan mengeluarkan sebuah surat
dari lengan bajunya.
Chu
Beijie mengambilnya dan memperhatikan segel kerajaan. Ada beberapa tulisan
kecil diatas suratnya. “Rahasia untuk Chu Beijie.” Tak di ragukan, surat ini
memang dari kakaknya satu-satunya, ditulis sendiri oleh Raja Dong Lin.
Bahayanya, jantungnya berdetak dengan kencang. Karena kedua pangeran yang mati diracun,
ia telah membawa badai mengamuk di ibukota, pemberontakan dengan pertempuran
keras para prajurit. Peristiwa itu berakhir dengan perpisahan dengan Raja dari
Dong Lin yang merasa kesal.
Setelah
peristiwa yang begitu getir, kecuali hal ini adalah harapan terakhir, tidak
mungkin Raja Dong Lin menulis surat pribadi.
Chu
Beijie dan Raja Dong Lin lahir dari ibu yang sama, mereka berdua sangat akrab
sejak kecil. Yang seorang membuat keputusan sebagai Raja, dan yang seorang lagi
dengan setia memimpin pasukan mempertahankan Negara. Mereka saling mempercayai
satu sama lainnya. Meskipun Chu Beijie dengan marah dan hati terluka telah
bersumpah untuk mengasingkan diri, ikatan darah sangat kuat. Bagaimana mungkin
ia tidak khawatir pada kakaknya yang berada jauh di ibukota, ketika menerima
surat penting?
Chu
Beijie melepas segelnya, membuka suranya dan membacanya dengan penuh perhatian.
Suratnya
tidak panjang dan sangat tidak diragukan di tulis sendiri oleh Raja bukan
tiruan. Semakin banyak Chu Beijie membaca, ekspresinya semakin menakutkan.
Moran menjadi semakin khawatir. Ia menunggu sambil terengah-engah.
Chu
Beijie selesai membaca suratnya dan mengenggam tangannya di belakang tubuhnya.
sangat lama sebelum akhirnya ia berbicara, “Yun Chang dan Bei Mo telah bersekutu
dan mereka mengirim tiga ratus ribu prajurit untuk menekan perbatasan Dong
Lin.”
Moran
telah menemani Chu Beijie di medan perang melewati api dan air, maka ia sangat
mengerti kekuatan militer keempat Negara. Pasukan Bei Mo jelas tidak begitu
kuat di pertempuran setahun lalu. Dan Yun Chang yang selalu diam di pojok
sangat mengejutkan atas kekuatan mereka yang besar karena selama ini mereka
selalu bersikap netral. Ia berpikir sejenak sebelum berkata, “Siapa Jendral
yang di kirim Yun Chan untuk memimpin pasukan ?”
Meskipun
ekspresi Chu Beijie sangat berat, ia masih mampu menampilkan wajah senang,
“Moran memang selalu bisa menebak inti masalah. Sebuah perkembangan besar.”
Sebuah cahaya berkilau di matanya ketika ia berkata, “He Xia.”
“He
Xia ?” Moran sudah menduganya samar-samar tapi dahinya tetap berkerut ketika
medengarnya dari Chu Beijie. “Kekuatan dan kemampuan strateginya sangat hebat.
Aku khawatir Tuan adalah orang yang mampu menyainginya. Hmph, Yun Chang
akhirnya mengirim Suami Ratu mereka. Aku takut kalau Nona Bai..”
“Pingting
tidak tahu apapun.” Chu Beijie menyela, “Ia tidak perlu berurusan dengan hal
semacam ini lagi.”
Moran
mengangguk setuju. “Benar.” Ia teringat dengan masalah militer Dong Lin dan
agak ragu berkata, “Meskipun pasukan Yun Chan dan Bei Mo bersatu dan jumlah
mereka sekitar tiga ratus ribu tapi kenyataannya mungkin hanya sekitar seratus
lima puluh ribu. Dengan kekuatan pasukan Dong Lin dipimpin oleh Tuan, dan
beberapa pemimpin terdahulu serta pasukan prajurit khusus, seharusnya cukup
untuk mengalahkan musuh.”
Pandangan
Chu Beijie sangat jauh. Terbentuk sebuah senyum pahit di wajahnya yang tampan
dan mukanya yang kaku. “Aku tak pernah berpikir kalau Dong Lin ku yang telah
memulai perang dan menekan perbatasan Negara lain akan ditekan perbatasannya
suatu hari. Sepertinya memang kesalahan terbesarku tidak menaklukan ibukota Bei
Mo dengan sekali serangan penuh. Hasilnya malah mereka bersekutu dengan Yun
Chang.”
Moran
segera merapatkan mulutnya, tidak berkata apa-apa lagi.
Bai
Pingting telah mengacaukan pertempuran dengan Bei Mo. Kejadiannya begitu rumit.
Moran tahu apa yang terjadi, lebih dari yang orang-orang ketahui. Bai Pingting
adalah kelemahan terbesar Chu Beijie.
Ekspresi
Chu Beijie tidak bisa di tebak dan tidak ada petunjuk untuk ditebak.
Suasana
menjadi tegang di dalam ruagan, menyebabkan orang-orang yang berada di dalam
sulit untuk bernapas. Moran menunggu dengan penasaran dan akhirnya memaksa
dirinya untuk merubah pembicaraan, “Musuh mendekat selangkah demi selangkah,
dan Jendral lawan menyatakan dirinya adalah He Xia. Tanpa kemampuan Tuan, aku
khawatir pasukan Dong Lin tidak bisa bertahan lama. Apa Tuan berniat segera
kembali ke ibukota dan menyiapkan peperangan ?”
Punggung
Chu Beijie yang lebar menegak, keputusannya sudah bulat. Terlihat kegagahannya,
terpengaruh gaya di medan perang ketika ia menyeringai, “Aku mungkin hidup di
pengasingan, tapi Negara dalam masalah dan He Xia menyakiti Dong Lin ku.
Bagaimana bisa aku hanya duduk dan menyaksikan? Aku harus berangkat secepatnya.”
Moran
ragu, tidak tahu bagaimana harus bertindak. Chu Beijie berbalik, “Aku harus
bergegas ke ibukota dengan kuda untuk menemui kakakku.”
“Tuan
?”
Chu
Beijie mengangkat tangannya untuk menghentikan Moran dan memerintahkan, “Aku
saja sudah cukup di medan perang. Kau pimpin penjaga untuk melindungi tempat
ini dan melindungi Pingting.” Suaranya menjadi lebih pelan ketika menatap ke
luar jendela ke cahaya pagi di timur. Dengan suara dingin ia menambahkan, “Ratu
tidak pernah melupakan kebenciannya atas pembunuhan kedua putranya, ia pasti
telah mengirimkan mata-mata secara diam-diam, menunggu kesempatan untuk
menyakiti Pingting. Kau seharusnya tahu apa yang perlu di lakukan.”
Moran
menjawabnya, “Aku juga telah mengirimkan mata-mata sebelumnya. Mata-mata Ratu
memang sangat ahli tapi mereka sangat sedikit. Penjaga yang ada disini untuk
jumlah dan kemampuan sudah cukup untuk menghadapi mereka. Aku hanya khawatir
setelah kepergian Tuan, Ratu memutuskan untuk membunuh Nona Bai dan menggunakan
kekuatan militer….”
“Bisakah
dia mengerakan pasukan Dong Lin untuk menyerang kediamanku?” Suara dalam Chu
Beijie sangat penuh keyakinan. “Itu juga sebabnya mengapa aku memintamu untuk
tinggal. Selama kau berdiri di depan pintu, apakah para Jendral berani
bergerak?”
Memang
benar, tidak ada seorangpun yang berani melawan Chu Beijie dalam pasukan. Moran
adalah orang kepercayaannya, ia adalah orang terbaik sebagai perwakilan Chu
Beijie.
Chu
Beijie mengangkat kepalanya, sepertinya berpikir keras tentang sesuatu.
Pandangannya menyapu seluruh dinding dan akhirnya berjalan maju mengambil
pedang berharganya yang tak pernah di lepaskan ketika di medan perang. Ia
mengenggamnya di tangannya, menyentuhnya dengan lembut.
Di
dalam bangunan lain.
Sebuah
jejak terkejut bocor dari kedua mata Zuiju.
Zuiju
menarik tangannya dari pergelangan tangan Pingting dan matanya yang bersinar
menatap ke arah Pingting.
Sebuah
senyuman terbentuk di bibir Pinting, sebuah senyuman paling manis yang sulit
dihilangkan. Ia mengangguk pelan.
Zuiju
menarik napas panjang, berbisik, “Kapan kau tahu?”
“Ketika
aku curiga, aku memeriksa nadiku sendiri.”
“Tak
heran kau tidak membiarkan tabib memerikasa nadimu.” Zuiju memperhatikannya
sebelum akhirnya menghela napas, “Nona, kau telah bertindak terlalu jauh. Kau
sudah tahu tapi tetap melakukan hal – mogok makan. Kalau Tuan Besar sudah
kehilangan hatinya, bukankah kalian berdua akan mati dengan sia-sia ?” Ia
menggelengkan kepalanya menyatakan ketidak setujuannya, dan bertanya lagi, “Apa
Tuan sudah tahu ?”
Pingting
tidak selalu romantic tapi sekarang ia merona malu. Ia berbisik pelan, “Bisakah
aku memberitahunya sendiri?”
Zuiju
berbikir sejenak lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi biar kuberitahu kau Nona, kau
telah sangat mengacaukan tubuhmu. Mulai sekarang kau harus penuh perhatian
mengembalikan kesehatanmu dan makan hidangan yang pantas, semuanya mengikuti
petunjukku. Kau tidak boleh bermain kecapi di luar ketika turun salju juga
tidak di loteng ketika angin bertiup kencang. Kalau kau tidak menurut, aku akan
membuat Tuan datang dan memintanya untuk mengikatmu agar tidak bergerak. Kau
bahkan akan dilarang untuk turun dari tempat tidur.”
Semakin
ia berkata semakin ia menjadi lebih serius. Pingting tak bisa menahan tawanya
dan berkata pelan, “Mengerti, Pingting tahu ia telah bertindak salah.”
Suaranya
merayu dan gerakannya anggun. Ia tersenyum sedih, alis dan matanya sangat
tenang. Dengan kata-katanya yang pelan, Zuiju tak bisa mengomelinya lagi dan ia
mengeleng dengan gusar.
Dalam
hatinya Zuiju menghela, ia menyadari inilah pesona kecantikan yang unggul.
Ketika akhirnya mereka menguasai, mereka tak bisa dihentikan dan luar biasa romantis
yang tidak bisa ditolak siapapun.
Ia
memiliki kemampuan untuk membuat Chu Beijie bahagia dan juga kemampuan untuk
membuat Chu Beijie khawatir. Zuiju masih menghela napas ketika ia melihat Chu
Beijie memasuki ruangan, ia segera berdiri.
“Tuan
sudah datang.”
“Kau
sudah memeriksa nadinya ?” Chu Beijie bertanya, “Apa sakitnya ?”
Mata
Zuiju menatap Pingting lalu menjawab, “Tidak perlu terlalu khawatir, ia hanya
perlu hati-hati mengembalikan kesehatannya. Zuiju pamit untuk menulis resep.”
Ia meninggalkan ruangan, memberi Pingting kesempatan untuk berduaan dengan Chu
Beijie.
Pingting
berbaring di tempat tidur, matanya mengikuti setiap gerakan Chu Bejie. Ia
menyaksikan Chu Beijie berjalan ke arahnya. Ia tersenyum lebih gembira daripada
biasanya. Ia berinisiatip menarik lengan baju Chu Beijie dan berkata, “Duduklah
Tuan, Pingting ingin mengatakan sesuatu.”
Ketika
Chu Beijie duduk, pandangan Pingting jatuh pada pedang di tangannya. “Apa Tuan
ingin berlatih? Mengapa membawa pedang berhargamu?” Pingting bertanya dengan
penasaran.
“Aku
berniat bergegas kembali ke ibukota.” Chu Beijie menatap dalam kedua mata
wanita paling yang paling cantik dalam hidupnya, lalu ia menyerahkan pedangnya
padanya. “Kau masih ingat pedang ini? Aku punya dua pedang, yang satu Jiwa Yang
Terbelah yang telah di berikan pada He Xia sebagai simbol perjanjian lima tahun
gencatan senjata pada Gui Li. Yang ini Semangat Surga, pasangan Jiwa Yang
Terbelah.”
Ketika
Pingting mendengar kalau Chu Beijie hendak pergi, wajah gembiranya segera
menghilang. Ia menerima pedang yang berat, menundukkan kepala untuk melihat
dengan jelas ukiran yang indah di sarung pedang dan tak bisa berkata-kata.
Chu
Beijie lalu berkata lagi, “Disini sangat terpencil, jadi aku meninggalkan Moran
dan para penjaga untuk melindungimu. Kalau… kalau terjadi sesuatu diluar
perkiraan, kirim seseorang dengan kuda cepat dengan pedang ini ke Barak Naga
Hariamau dua puluh mil ke utara dan minta Jendral Chen Mu untuk membantu. Ia
mengenali pedangku.”
Setelah
selesai, ia melihat wajah Pingting yang sangat kesepian. Ia menggerakkan
tangannya yang besar dan kasar merapikan rambut di dahinya. “Megapa sangat
diam?”
Pingting
meletakan Pedang Semangat Surga yang berharga dan perlahan bersandar pada dada
Chu Beijie, bernapas dalam seperti berusaha mengumpulkan kekuatan. Beberapa
saat kemudian ia berbicara dengan pelan, “Apa Tuan akan pergi berperang? Siapa
yang berani menyerang Dong Lin?” Ia merasakan Chu Beijie sedikit menegang dan
segera menutup mulutnya dengan tangannya. Pingting menengadah menatap Chu
Beijie, “Tuan tidak perlu menjelaskan pada Pingting. Pingting tidak lagi peduli
apapun selain Tuan sekarang.”
Chu
Beijie memeluk erat Pingting. Dan ia berbisik, “Bukankah kau ingin mengatakan
sesuatu padaku?”
Pingting
dengan tenang menatapnya dan berkata, “Pingting melewatkan hari ulang tahun
sendirian, jadi saat ulang tahun Tuan, bisakah kita bersama ?”
Chu
Beijie lahir tanggal enam bulan pertama kalender bulan, tinggal lima belas hari
lagi. Kalau ia harus kembali dengan kuda cepat, ia tak bisa tinggal lebih dari
empat hari di istana.
Dan
saat ini, situasi pasukan dan perbatasan belum jelas, Chu Beijie tidak bisa
yakin apakah ia bisa pergi dari istana dalam empat hari.
Ia
juga tidak ingin mengecewakan Pingting, jadi ia tetap diam dan tidak menjawab.
Pingting
tidak memperdulikan hal ini, matanya menyembunyikan tawa hangat. Ia mengangkat
kepalanya menatap Chu Beijie, “Tuan adalah seorang Jendral. Sebelas hari cukup
untuk pergi ke dan dari istana dan empat hari cukup untuk mendapatkan dukungan
pasukan Raja. Pingting tidak serakah, hanya berharap Tuan akan datang untuk
melihat Pingting sebelum menuju medan perang. Di hari ulang tahun Tuan,
Pingting ingin mengatakan hal yang sangat penting.”
Jantung
Chu Beijie berdetang kencang, “Sangat penting? Tak bisakah kau beritahukan
sekarang?”
Mata
hitam Pingting menunjukan sifat keras kepalanya. Ia mengelengkan kepalanya,
“Ini sesuatu yang sangat penting dan harus di katakan pada hari yang selalu di
ingat dan membawa keberuntungan.”
Chu
Bejie hendak membantahnya, ketika Moran memasuki ruangan dengan tergesa-gesa,
“Tuan, semuanya telah siap.”
Ia
melihat mereka berdua dan bertanya dengan berhati-hati, “Mungkin anda ingin
berangkat di hari lain?”
“Tidak,
Aku harus secepatnya berangkat.” Chu Beijie melepaskan Pingting dan meletakan
kepalanya di bantalnya. Chu Beijie menatapnya dan tidak meragukan kecantikannya
rambut hitamnya terurai keluar. Tatapan kasihan terukir di wajahnya yang
seperti di pahat. Dan ia akhirnya membuka mulutnya, “Aku akan berusaha kembali
secepatnya.”
Melihat
kegembiraan luar biasa yang muncul mengantikan tatapan dalam di kedua mata
Pingting, Chu Beijie pun berjalan melangkah keluar.
Kuda
terbaik, diberi makan makanan terbaik, sudah siap di luar gerbang.
Chu
Beijie menaiki kudanya, tatapannya menyapu melewati Moran.
Moran
mengertakan giginya dan mengangguk dengan berat.
Chu
Beijie menunduk dan berkata pada para penjaga. “Aku harus pergi ke istana untuk
menerima perintah Raja. Aku akan kembali sebelum menuju perbatasan untuk
menangani pasukan disana. Kalian semua, pastikan berjaga dengan baik. Jangan
membuat kesalahan!”
Para
penjaga semuanya telah mengalami medan perang dan mereka adalah prajurit
terlatih. Mendengar pasukan musuh mengancam Negara mereka membuat darah mereka
mendidih. Setelah Chu Beijie selesai bicara, semangat juang mereka bangkit dan
semuanya menjawab, “Baik.”
Chu
Beijie tersenyum kecil lalu memacu kudanya, meninggalkan empat jejak kaki kuda
dan meniup salju yang berada di sekitarnya.
Sosok
punggung yang penuh harga diri dan keangkuhan malah lebih dirasakan ketika
berada jauh.
Pingting
tetap di ruangannya, tenang dan menyandarkan tubuhnya sendiri pada posisi
duduk.
Ia
mendengar suara tangisan di kejauhan, alismatanya menandakan sedikit
kekecewaan. Ia tahu Chu Beijie telah pergi, meninggalkannya bersama hatinya
yang hampa.
“Apa
Tuan sudah tahu ?”
Pingting
menengadah dan menyadari kalau Zuiju telah berada di ruangan sejak tadi.
“Tanggal
enam bulan pertama tanggalan bulan adalah hari kelahirannya. Aku akan
mengatakan padanya di hari itu.”
Zuiju
agak menerka-nerka dan sedikit gelisah. “Bukankah lebih baik kalau Nona
memberitahu Tuan, mengapa harus menundanya sampai tanggal enam bulan pertama ?
Haah, mengapa semakin pandai seseorang, mereka semakin senang sulit di tebak? Kalau
ini terus berlanjut, sesuatu yang tidak perlu terjadi akan terjadi.”
Pingting
menjadi pucat, dan segera menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu mengapa, tapi
Tuan mengatakan ia harus secepatnya kembali ke ibukota. Aku menjadi khawatir. Aku
sungguh takut sesuatu yang buruk akan terjadi di ibukota Dong Lin. Pada saat
yang begitu kritis, Tuan mungkin harus membuat keputusan yang riskan, dengan
begitu semakin sedikit pertimbangan akan semakin baik. Jauh lebih baik untuk
tidak memberitahukan tentang kehamilanku. Jangan menambahkan kekhawatirannya.” Ia
menjawab dengan penuh pertimbangan.
Zuiju
terkejut melihat ekspresinya yang tenang. Ia berkata dengan tenang juga, “Moran
pernah mengatakan kalau Nona mampu melihat jauh kedepan. Mendengarkan perkataan
Nona, mungkin anda sudah memiliki dugaan tentang apa yang sedang terjadi.”
“Dugaan
tentang apa?” Pingting tersenyum masam. “Aku tidak tahu kabar tentang dunia
luar begitu lama.”
Surat
terakhir Yangfeng hanya menyebutkan kalau ia dan Ze Yin pergi mengasingkan diri
tanpa keterangan lebih detil.
Mungkin
Yangfeng tidak ingin membuat tubuh dan pikirannya lelah untuk ikutserta dalam
persaingan kekuasaan.
Bei
Mo pernah satu kali berperang dengan Dong Lin dan Gui Li, akibatnya mereka
kehilangan pasukan dalam jumlah besar. Sampai sekarang, Negara yang memiliki
kemampuan untuk menantang Dong Lin adalah Yun Chang yang selalu berada di luar.
Bagaimanapun,
mengapa Yun Chan mengubah kebijakannya bertahan jadi menekan kekuatan militer
Dong Lin?
Ia
berbalik dan melihat Zuiju, sebuah senyum lembut terbentuk di bibirnya. “Jangan
khawatir, tak peduli apa yang terjadi, aku sangat yakin pada dua hal.”
Zuiju
penasaran dan bertanya, “Apa itu?” setelah mendengar suara Pingting yang penuh
keyakinan.
“Pertama,
tak peduli seberapa kuat musuh, Tuan pasti akan menang.”
Zuiju
setuju dengan hal ini dan ia mengangguk. “Dan yang kedua ?” ia bertanya lagi.
“Yang
kedua ?” Mata Pingting menjadi lebih cerah, menampakkan kebanggaannya. “Tak
peduli dimanapun Tuan berada, selama aku berada dalam bahaya, ia akan kembali
tepat waktu.”
Zuiju
terkejut.
Mengapa
wanita yang pandai dan kuat ini yang selalu menguji Tuan, lagi dan lagi, bisa
menaruh kepercayaan yang begitu besar pada Tuan disaat serperti ini.
Pingting
mengerti keterkejutan Zuiju, ia tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipitnya.
Dan ia meregangkan tubuhnya dengan malas, “Selama dua hal ini terjamin, mengapa
aku harus menggerluarkan tenaga untuk hal lain? Ah, Zuiju kau harus menjaga
janin di perutku dengan baik, agar ketika Tuan kembali, aku bisa memberitahunya
kabar baik tentang sangat sehat dan tumbuh.”
Zuiju
menjawabnya dan pergi keluar untuk melihat obat yang ia siapkan untuk Pingting.
Ketika ia sampai di halaman, ia melihat Moran yang telah selesai mengantar Chu
Beijie.
Moran
bertaka, “Tuan Besar sudah pergi. Mengapa ekspresi wajahmu begitu aneh? Apa
terjadi sesuatu pada Nona Bai ?”
Ekspresi
Zuiju sedikit gugup.
Zuiju
menggelengkan kepalanya dan berpikir serius sejenak, lalu memperlihatkan
ekspresi seorang gadis remaja. Ia mengeluh kecil, “Aku mengerti sekarang ketika
seorang wanita telah menemukan pria impiannya itu adalah hal yang sangat menenteramkan
hati.”
Ia
menghela beberapa kali, merasakan sedikit cemburu. Ia lalu pergi untuk melihat
obat, meninggalkan Moran yang sedang tercenggang.
Chu
Beijie dalam perjalanan di atas kuda cepatnya, bergerak sangat cepat dari area
terpencilnya seperti seekor burung dara yang cerdas mengepakkan sayap-sayapnya
di langit.
Jendral
ini, yang telah mengoncangkan empat Negara, segera meninggalkan gunung dan
hutan pengasingannya, membawa kehadirannya kembali ke asalnya sekali lagi.
Di
istana Dong Lin, Yang Mulia Raja Dong Lin perlahan melangkah mundur dan masuk,
hanya di temani oleh empat pelayan pribadinya. Ratu Dong Lin menghentikan
langkahnya di depan pintu kayu dan meminta pelayannya pergi, ia masuk ke
ruangan sendirian.
“Yang
Mulia,” ia perlahan duduk di tepi tempat tidur Raja dan menatap wajah suaminya.
Ratu Dong Lin bertanya dengan suara penuh perhatian, “Apa Yang Mulia tidak
merasa baikkan setelah meminum obat dari tabib jenius ?”
Raja
Dong Lin tersenyum menghibur dan mengenggam pergelangan tangan Ratu, “Maap, Aku
sudah membuat Ratu khawatir.” Pandangannya menuju pada pintu masuk yang kosong,
“Ada kabar dari adikku?”
“Aku
baru saja menerimanya. Tuan Besar Zhen Bei Wang sudah berangkat dan akan segera
tiba di ibukota.” Ratu memberitahukan dari surat yang diterimanya. “Ia tidak
membawa seorangpun, berangkat sendirian. Aku sudah memerintahkan Pejabat Senior
untuk meneruskan perintah kepada Pejabat Kota agar mereka memperhatikannya
dengan baik.”
Ia
berhentik sejenak sebelum menundukkan kepalanya, “Tuan Besar Zhen Bei Wang,
seperti yang di harapkan, meninggalkan Pingting sendirian di sana.”
“Itu
karena ia tidak ingin melukaimu. Ia tidak ingin Bai Pingting muncul di hadapan
kita, meskipun ia enggan meninggalkannya.” Raja Dong Lin terbatuk dua kali, di wajah
pucatnya muncul bayangan berwarna kemerahan. Matanya menggelap, “Apa semuanya
sudah dipersiapkan?”
Ratu
mengangguk dan menghela dengan putus asa. Ia menyakinkannya, “Jangan salahkan
dirimu Yang Mulia. Anggota kerajaan manapun pasti akan menganggap ini sebagai sebuah
kehormatan, menggorbankan diri untuk Negara.”
Meskipun
ia mengatakan ini, wajahnya yang tidak pernah mengumbar emosinya memperlihatkan
kesedihan.
Pertempuran
besar-besaran dengan Gui Li dan Bei Mo telah menyebabkan Dong Lin kehilangan
kekuatan penuh militernya, tapi sebenarnya karena pengasingan diri Chu Beijie
lah yang telah membuat lubang begitu besar atas Negara Dong Lin yang sangat
kuat.
Karena
Chu Beijie telah memutuskan untuk melepaskan kekuatan militernya dan hidup di
pengasingan, akan sulit untuk mengukur sejauh mana keretakan pada kekuatan
militer Dong Lin.
Meskipun
demikian, semangat juang para prajurit Dong Lin telah terguncang.
Hanya
dalam satu tahun yang singkat, kekuatan empat Negara telah bergeser dan
mengejutkan, ia yang berada di posisi sangat menguntungkan dalam hal kekuatan
militer adalah suami baru dari Ratu Negara Yun Chang, He Xia.
Persekutuan
antara militer Yun Chang dan Bei Mo telah menghasilkan tiga ratus ribu pasukan,
mendekat dengan penuh ancaman. Meskipun Dong Lin selalu menjadi Negara yang unggul
dalam militer, mereka pernah kalah satu kali, sehingga menimbulkan rasa
khawatir.
Ratu
Dong Lin telah menerima surat rahasia yang ditulis oleh He Xia sendiri. Tiga ratus
ribu pasukan yang akan tiba hanya menginginkan seorang wanita.
Hanya
seorang wanita.
Hanya
seorang …. Bai Pingting.
Wanita
yang telah membunuh kedua anak-anaknya, wanita yang begitu dibenci Chu Beijie tapi
juga begitu dicintai Chu Beijie sepertinya, akan menjadi penyelamat Dong Lin saat
ini.
Bukankah
ini sangat tragis?
Bukankah
ini sangat memalukan?
Sungguh
hal yang lucu, tapi surat yang di tulis sendiri oleh He Xia tidak bisa dikesampingkan,
dibubuhkan dengan segel resmi Negara Yun Chang dan tulisan tangan Putri Yaotian
juga.
Raja
Dong Lin memanggil pejabat yang paling di percayanya untuk berdiskusi disamping
tempat tidurnya.
“Tuan
Besar Zhen Bei Wang menolak untuk menyerahkan Bai Pingting.”
“Adikku
akan bertempur dan memenangkan perang ini untuk kita.”
“Yang
Mulia,” Pejabat Senior, Chu Zairan berlutut. Kata-katanya langsung dan penuh
kepedihan, “Dengan kekuatan pasukan saat ini, bahkan seorang Zhen Bei Wang yang
mungkin bisa memenangkan, ini akan menjadi pertempuran berdarah. Pasukan Dong Lin
akan kehilangan prajurit yang tak terhitung.”
Raja
Dong Lin memperhatikan pejabat yang lebih tua itu yang telah menemani mereka
bertahun-tahun, diam seribu bahasa.
Untuk
semua nyawa anak muda, istana kerajaan Dong Lin dan para pejabat yang
melindungi, sungguh tidak berharga hanya untuk seorang wanita meskipun ia
adalah wanita yang paling dicintai Chu Beijie.
Jika
Chu Beijie masih seorang Tuan Besar Zhen Bei Wang, maka ia harus tahu kalau ini
tidak sepadan.
“Ratu…”
Raja Dong Lin memanggil istrinya ke kamar di tengah malam.
Ia
memandang wajah bangsawan yang tegas milik istrinya untuk beberapa lama. Lalu ia
menghela napas, “Aku tahu Ratu telah mengirim pasukan dekat kediaman pengasingan
adik dan siap untuk menyerang mereka untuk membalaskan dendam anak-anak kita
yang terbunuh.”
Ekspresi
Ratu tidak berubah ketika ia menjawab, “Lalu.”
“Tapi
Ratu tidak pernah menurunkan perintah untuk melakukannya.”
Ratu
tertawa mengutuk, dan wajahnya mengelap. “Bagaimanapun, ia wanita yang sangat
dicintai oleh Tuan Zhen Bei Wang. Kalau aku benar-benar memerintahkan mereka
untuk melakukannnya, maka persaudaraan antara Yang Mulia dan Tuan Zhen Bei Wang
akan benar-benar hilang. Dia.. bukan hanya adik Yang Mulia tapi juga pelindung
Dong Lin. Ia adalah benteng Dong Lin yang tidak bisa diserang. Tak peduli betapa
bodohnya aku, aku tidak akan menghancurkan tiang penopang Negara hanya untuk
perasaan pribadiku.”
Raja
Dong Lin telah menikahinya selama bertahun-tahun sehingga tahu benar kalau Ratu
sangat memikirkan anak-anaknya yang terbunuh. Sebuah pisau serasa menghujam
jantungnya. Ia memeluk tubuhnya yang lembut dalam lengannya, memeluknya erat. “Jangan
khawatir Ratu, aku tahu.”
Bagaima
bisa Chu Beijie, saudaranya sendiri, Jendral terbaik Dong Lin, Tuan Besar Zhen
Bei Wang yang telah menguncang empat Negara, memaafkan wanita yang telah
meracuni pangeran muda Dong Lin?
Ratu
berbalik, menahan air matanya. Ia dengan tenang berkata, “He Xia menjaga
janjinya dan telah mundur sepuluh mil dari perbatasan, menunggu kabar terbaru. Apa
Yang Mulia telah memutuskan ?”
Raja
Dong Lin memejamkan matanya dan berpikir lama. Ketika akhirnya ia membuka
matanya, ia berkata, “Buatkan titah, ijinkan He Xia dan pasukannya menuju
kediaman pengasingan adik untuk membawa Bai Pingting. Dan untuk ibukota, buat
Chu Beijie tetap disana dengan cara apapun sampai Bai Pingting dibawa pergi.”
Surat
pribadi yang di tulis sendiri oleh Raja Dong Lin yang dikirim kepada Chu Beijie,
yang begitu mencintai Bai Pingting begitu dalam, telah membuat Chu Beijie yang
tidak bisa melupakan masalah negaranya, dengan berat hati meninggalkan Bai
Pingting.
Chu
Beijie telah pergi dan tiba di pinggiran ibukota di siang hari. Ia sama sekali
tidak menduga kalau setiap langkah kuda yang dinaikinya membuatnya menuju
semakin dekat dalam genggaman pihak istana yang telah mengetahui segalanya,
semakin dekat pada genggaman kakak satu-satunya, Raja Dong Lin.
Dalam
istana, mereka berdua tanpa pelayan.
Ratu
memperhatikan Raja Dong Lin yang sakitnya bertambah parah dan akhirnya
menanyakan hal yang para pejabat tak berani utarakan di hadapannya.
“Ketika
pasukan musuh mundur dan Tuan Zhen Bei Wang akhirnya mengetahui kalau Bai
Pingting telah di bawa orang-orang He Xia, bagaimana kita akan menjelaskan
padanya?”
Wajah
Raja Dong Lin menjadi lebih pucat. Disamping wajahnya yang sayu terlihat
ketetapan hati yang kuat seperti milik Chu Beijie. Dengan keyakinan dan
kebanggaanya sebagai seorang Raja ia menjawab, “Tak perlu penjelasan. Selama ia
adalah adikku, selama ia seorang Tuan Besar Zhen Bei Wang, selama ia masih
terikat darah dengan kerajaan Dong Lin, maka ia harus mengerti dan memilih yang
terbaik untuk kepentingan Negara ini.”
Anggota
kerajaan adalah mereka yang menyerah atas keinginan mereka sendiri dan
mengutamakan Negara beserta rakyatnya.
Tak
peduli seberapa terkasihnya seorang wanita, tidak sebanding dengan sebidang
tanah yang tandus. Meskipun Raja sangat sedih atas kehilangan anak-anaknya,
tapi harga dari kehilangan seorang Zhen Bei Wang terlalu besar.
Tidak
tidak pernah bisa melupakan kalau Chu Beijie, satu-satunya saudaranya, adalah
perwakilan Dong Lin di medan perang, Tuan Besar Zhen Bei Wang.
Sampai
kemudian, siang dan malam, Chu Beijie tergila-gila untuk mendengarkan Pingting bernyanyi
dengan mempesona di kamarnya.
Mereka
sama sekali tidak berpikir kalau suatu saat mereka akan hidup di pengasingan.
Kekuasaan,
perang, strategi, dan cinta membuat ikatan yang rumit yang terbentang di antara
mereka.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar