Rabu, 27 April 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.30

-- Volume 2 chapter 30 --
 
 
Tuan Besar Zhen Bei Wang yang tidak terkalahkan telah ditaklukkan oleh Bai Pingting yang tidak takut pada kematian.
 
Ia tidak percaya dan tidak rela untuk mengakuinya.
 
Hanya saja ketika ia melihat ke dalam dua bola matanya, segala perasaan benci dan ketidakpuasan menghilang.
 
Siapa yang memintanya untuk mengeraskan hati atau menggunakan cara yang kejam ?
 
Siapa sangka, Pingting akan mengalahkannya dengan senyum berseri-seri tak berdosa ketika melihat wajahnya atau dengan menaikan kedua alisnya, dengan menunjukkan sedikit saja perasaan akan mendapatkan banyak sebagai gantinya, membuatnya sebagai tindakan yang paling berguna ?
 
Bai Pingting sangat tenang seperti dahan pohon willow yang bergoyang di terpa angin musim semi. Ia merasa gembira. Ia sangat mengerti kalau cara berkompromi tidaklah berguna, dan ia sangat berniat untuk membebaskan dirinya setelah delapan bulan sengsara.
 
Sampai ia mampu untuk turun dari tempat tidur dan bisa menggagumi salju.
 
Hongqian membersihkan pavilium dan meminta Moran untuk membawakan kecapi, sebelum menuangkan arak.
 
Chu Beijie belum memasuki ruangan ketika ia mendengar suara kecapi melewati dinding.
 
Ia berhenti, memicingkan matanya dan mendengarkan.
 
Jauh, tenang dan gembira.
 
Bebas seperti awan di langit, seperti bulan dan bintang yang berada di orbitnya dengan tepat dan segala kemalasan yang mungkin dilakukan sepanjang waktu.
 
Hanya gunung-gunung yang mampu berdiri dengan tenang, tegak dan tidak bergerak. Banyak binatang kecil di dalam gunung tidak takut dengan salju dan angin. Pada saat salju berhenti, mereka berkumpul di halaman dan bermain perang bola salju. Mereka membuat gua salju dan mengumpulkan pucuk pohon cemara, sebuah pertunjukan kompetisi. Riang gembira.
 
Chu Beijie tak bisa menahan dirinya untuk mendekati suara kecapi yang terdengar. Dengan bangganya ia menuju ke halaman, dimana terdapat sebuah paviliyun kecil, sebuah kecapi, arak terbaik, beberapa pelayan dan seorang wanita yang luar biasa ceria meskipun sedikit pemalas yang telah memegang hatinya.
 
Ping!  Suara kecapi terhenti dengan suara yang tidak wajar.
 
Chu Bejie menjadi pucat. Ia segera berlari menghampiri paviliyun. “Apa yang terjadi?”
 
Pingting menundukan kepalanya sambil memegang tangan kanannya. Jari telunjuknya telah teriris karena senar yang tiba-tiba putus, meninggalkan sebuah luka kecil.
 
“Mengapa kau begitu ceroboh?” Kedua alis Chu Beijie mengerut. Ia menarik tangan Pingting yang lembut dan berkata. “Apakah sakit?”
 
Hongqian yang mengintip di balik Chu Beijie segera berkata, “Aku akan segera mengambilkan obat.”
 
Darah merah terang perlahan mengalir dari jari-jarinya, membentuk air terjun kecil. Expresi Chu Beijie antara marah dan frustasi. “Mengapa kau bermain kecapi di udara sedingin ini?” Ia terus memandangi darah merah yang mengalir. Ia menarik jari seputih giok itu dan memasukannya ke dalam mulutnya, dan rasa darah mengalir di tenggorokkannya.
 
Pingting tak bisa menahan tawanya, alisnya naik membentuk bulan sabit ketika Chu Beijie menjilati lukanya dengan lidahnya yang basah dan panas.
 
“Masih tertawa ?” Wajah Chu Beijie mengelap dan ia mengeluarkan sikap seorang Jendral untuk menekan suasana sekitar. “Jangan ceroboh lagi lain kali.” Ia melepaskan jarinya, darahnya sudah berhenti dan menarik Pingting dengan tangannya. “Ayo kembali ke ruangan.”
 
Tapi Pingting tidak bergerak.
 
Chu Beijie kembali menoleh padanya. “Hm ?” Ia bertanya dengan dahi berkerut.
 
Mata Pingting yang energik berputar dan perlahan berhenti di jari tangan sebelahnya, “Yang ini juga ingin dicium oleh Tuan.”
 
Semakin banyak Pingting menerima, semakin banyak Pingting menginginkan. Dan sepertinya setelah beberapa saat, Tuan Besar Zhen Beiwang yang terhormat akan menjadi seorang idiot yang akan mematuhi apapun perintah istrinya?
 
Wajah Chu Beijie semakin mengelap. “Berhenti bermain. Ayo kembali ke dalam…”
 
Sebelum ucapannya selesai, ekspresi Pingting menjadi dingin. Ia meletakan jarinya di mulutnya dan tanpa keraguan mengigitnya dengan keras.
 
“Kau….” Chu Beijie dengan menarik tangan Pingting dengan paksa, tapi terlambat. Tangannya yang cantik dan sempurnya telah bertemu bencana. Terukir sebuah jejak gigi yang dalam, dihianati dengan kejam oleh pemiliknya sendiri.
 
Darah perlahan mengalir dari jejak gigi tersebut.
 
“Untuk apa ini ?” Chu Beijie khawatir Pingting akan melakukan hal bodoh lagi. Ia memegang kuat tangan Pingting. Alisnya berkerut kuat dan ia mengertakan giginya.
 
Pingting tidak khawatir dengan jarinya yang terluka, ia bersandar pada lengan Chu Beijie sepertinya itu adalah hal yang paling alami di dunia.
 
“Pfft.” Pingting tertawa.
 
Ekspresinya kembali normal.  Ia menegadah dan menatap Chu Beijie. “Selama Duke peduli pada Pingting, Pingitng tidak peduli kalau tangan ini menjadi sia-sia dan tidak bisa bermain kecapi lagi.” Suaranya pelan dan lemah.
 
Kata-katanya sangat santai dan tenang tanpa sedikitpun keraguan.
 
Hati Chu Beijie berguncang. Ia merangkul Pingting lebih erat. Dan dengan suara pelan ia berkata, “Hidup dan matimu, kehormatan dan nama baikmu adalah milikku. Kau tidak boleh menyia-nyiakan dan melukai dirimu sendiri. Kalau kau melanggarnya aku akan menghukummu sesuai cara militer.”
 
Sudut mata Pingting menunjukan sedikit keraguan lalu ia menarik napas dalam di dalam rangkulan Chu Beijie. Menatap ke dalam mata Chu Beijie dan berkata, “Cara militer sangat keras, jadi Pingting akan menyerahkan diri.”
 
Bersandar di dada Chu Beijie dan merasakan otot-otonya bergerak, ia merasakan kekuatan luar biasa yang di miliki Chu Beijie.
 
Pingting memejamkan kedua matanya, perlahan berkata. “Burung laying-layang membawa keberuntungan, tapi terlalu banyak keberuntungan membawa petaka. Mencari sebuah kebahagiaan, mencari sebuah kebahagiaan….”
 
Chu Beijie mendengarkan sambil memeluk, sesuatu yang seperti sebuah harta paling rapuh di dunia yang akan menghilang dalam sekejap.
 
Sebuah senyum manis terlihat di wajahnya yang gagah.
 
Seperti dulu ketika di kediamannya, Pingting berada di pelukannya dan menyanyikan lagu-lagu yang indah.
 
Lagu itu ada disana, melodinya pun ada disana dan orang yang menyanyikannya juga disana.
 
Matahari, bintang dan bulan juga disana, langit dan bumi juga disana.
 
Bai Pingting berada di pelukannya.
 
Sejak hari itu, suara nyanyian Pingting yang jernih sering terdengar dari pavilium kecil.
 
Mendengarkan, dan mendengarkan dengan bijaksana, musik yang mengalun, membuat yang lain menjadi iri dengan pria yang berada disampingnya yang sedang memelukknya.
 
Bagi Hongqian, perubahan ini campuran antara kejutan dan kegembiraan. Ia dengan tenang berkata pada Zuiju, “Lihat ? Karena dendam nyawa mereka saling terikat. Sekarang semuanya sudah terselesaikan sungguh hebat, sehebat salju yang turun ini. Tuan Besar seorang Jendral hebat, tapi terhadap wanita yang dicintainya ia harus mengakui kekalahannya. Yach, seperti itulah, bahkan orang hebatpun menjadi lebih lembut ketika berhadapan dengan cinta.”
 
Zuiju dengan trampil mempersiapkan hidangan untuk Pingting kemudian ia berbalik untuk melihat Hongqian sedang bersandar di pintu, mereka menyaksikan dua orang yang saling terikat oleh takdir. “Tuan Besar adalah lawan yang kuat, dan Nona Bai juga lawan untuk hal lainnya. Aku heran bagaimana langit bisa membuat mereka menjadi dua pihak yang berlawanan.” Ia berseru.
 
Hongqian berbalik. “Tapi berlawanan, membuat hidup menjadi lebih menarik. Siapa lagi selain Nona Bai, yang pantas untuk Tuan Besar kita ?”
 
Zuiju menyetujui sambil menghela napas, “Hal ini mungkin bisa menghibur, tapi tak seorangpun tahu berapa banyak lagi kesulitan terbentang di depan. Apa kau sudah lupa peristiwa kematian dua Pangeran ?”
 
Menyebut dua Pangeran Dong Lin tawa Hongqian menghilang. Ia menatap kebelakang Zuiju.
 
Zuiju berbalik dan melihat Moran sedang berdiri tanpa ekspresi di belakangnya.
 
“Jangan pernah menyebut hal itu lagi.” Moran berkata dengan dingin.
 
“Baik.”
 
Zuiju menjawab dan melirik pada dua sosok itu.
 
Apakah dengan tidak menyebutnya maka kau boleh melupakannya?
 
Pingting sangat bahagia atas cinta Chu Beijie, setelah bertahan selama delapan bulan atas sikap diamnya. Melihat penyesalan Chu Beijie dan ekspresinya yang tanpa harapan, Pingting senang, karena setidaknya kemuraman tidak lagi muncul di wajah Chu Beijie. Mengesampingkan seluruh kemampuan hebatnya, Chu Beijie sendiri yang membuatkannya bubur dan menyuapi obatnya. Chu Beijie meninggalkan semua pekerjaannya, dan menemani Pingting menyaksikan matahari terbit, matahari terbenam, dan mengamati pergerakan bulan dan bintang-bintang.
 
Harapannya begitu banyak yang telah terpenuhi. Pingting berbaring di lengan Chu Beijie, mendengarkan suara musim dingin. Ia meminta Chu Beijie untuk memetik bunga plum yang mekar paling indah di kediamannya dan meletakannya di rambutnya.
 
Segalanya seperti mimpi yang sempurna, mimpi yang mengapung di atas bayangan kelabu. Pingting dan Chu Beijie meyakinkan diri mereka sendiri untuk mengabaikan bayangan kelam yang seharusnya tidak boleh dilupakan.
 
“Pingting telah melakukan hal yang sangat bodoh.”
 
“Oh ?” Chu Beijie merasakan udara malam yang dingin, tapi Pingting menangis, mengatakan ia ingin melihat bintang-bintang. Maka Chu Beijie membuka jendela, sambil memeluknya erat, ia berkata, “Seperti ?”
 
“Seperti, kepada Tuan….” Di tengah perkataannya, ia menutup bibirnya yang kecil, matanya yang jernih menatap Chu Beijie dengan penuh pertimbangan. ia menertawakan dirinya sendiri, “Aku punya sebuah permintaan bodoh.”
 
Chu Beijie menunduk dan memperhatikan wajahnya. “Seberapa bodoh?”
 
Pingting menolehkan pandangannya pada bayangan dibalik pohon-pohon di bawah sinar bulan. Untuk beberapa saat ia tetap diam sampai akhirnya berkata, “Bodoh kalau aku menginginkan Tuan tetap tidak berubah pikiran tentang aku, setelah ratusan dan ribuan belokan serta tikungan di depan sana.” Tertinggal sebuah senyum getir di bibirnya ketika berbisik, “Si cerdas Bai Pingting, si bodoh Bai Pingting, Bai Pingting yang baik hati dan Bai Pingting yang jahat…… apa akan selalu menjadi Bai Pingting yang dicintai oleh Tuan?”
 
Wajah Chu Beijie tanpa ekspresi, tapi warnanya semakin gelap. “Jangan lanjutkan.” Ia meraih dan mengusir warna-warna dan sinar dari langit yang penuh bintang. Ia dengan mantap dan lembut mendorong Pingting di tempat tidur yang lembut.
 
“Sudah dingin. Tidurlah.”
 
Ia melepaskan pakaian Pingting dengan lihai juga mantelnya yang berat, menampilkan sutra putih di baliknya. Dengan sebuah lambaian tangan, Pingting telah tertutup selimut seutuhnya kecuali wajahnya. Chu Beijie melepaskan pakainnya sendiri dengan cepat dan bergelut di dalam selimut. Ia menarik pinggang Pingting yang kurus, dan membiarkan wajah Pingting beristirahat di dadanya.
 
“Tuan…”
 
“Tidurlah dengan patuh. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak berguna.”
 
Dengan sedikit marah, ia meniup lilin terakhir yang masih menyala di ruangan.
 
Mata yang sehitam tinta itu tidak tertutup melainkan menjadi penuh kesedihan.
 
Mereka berdua saling memeluk dengan erat, mendengarkan detak jantung masing-masing, suara darah mengalir.
 
“Uhuk…. Uhuk…uhuk….”
 
“Kenapa ?” Tubuh Chu Beijie yang kuat yang kekar bergerak, tangannya meraih dahi Pingting.
 
“Tidak…. Uhuk…uhuk…uhuk uhuk…” Pingting berusaha menghentikan batuknya.
 
“Obatmu sepertinya kurang manjur. Terkadang bisa membuat semakin parah. Aku akan panggil Zuiju untuk memeriksamu. Meski kau tidak percaya pada kemampuan pengobatan para tabib, tapi pada murid Huo Yunan kau harus membuat pengecualian.” Chu Beijie berkata sambil turun dari tempat tidur bersiap untuk memanggil Zuiju.
 
Pingting agak sulit untuk duduk, berusaha menghentikannya. “Bahkan bila aku harus diperiksa seseorang, di malam seperti ini tidak akan membuat perubahan. Bagaimana kalau besok? Kalau kita membuat suasana menjadi gusar, aku akan semakin sulit tidur.”
 
Chu Beijie perlahan memperhatikan alismata Pingting, yang dengan jelas memperlihatkan tanda-tanda butuh tidur. Ia mengangguk setuju, lalu kembali memeluknya untuk tidur, “Kau harus tidur dengan benar dan jangan memikirkan hal-hal tidak berguna lagi.”
 
Api dari arang memercik ketika terbakar di perapian.
 
Pinting memejamkan matanya dan patuh untuk tidur.
 
Esok harinya, Zuiju telah di panggil pagi-pagi sekali. Ia masuk ke ruangan dan tidak melihat seorangpun di kursi favorit Pingting, maka ia berdiri di depan pintu masuk sampai ia mendengar suara berat Chu Beijie berkata, “Kami di dalam.”
 
Zuiju masuk ke dalam.
 
Chu Beijie sudah bangun dan berpakaian lengkap. Ada sebuah lapisan tipis keringat di dahinya sepertinya ia telah berlatih ilmu pedannya. Pingting masih berbaring di tempat tidur dan berusaha untuk bangkit ketika ia melihat Zuiju datang. Chu Beijie menghentikannya. “Ketika aku menginginkan ia datang semalam kau dengan keras kepala menolaknya. Sekarang kau sudah seperti ini, dan kau masih berusaha bergerak? Berbaringlah dengan patuh dan biarkan Zuiju memeriksa nadimu.”
 
Zuiju melangkah maju dan duduk di samping tempat tidur. Ia tersenyum pada Pingting, “Beristirahatlah Nona Bai, guruku bilang aku sangat mahir untuk bidang ini.” Ia memasukkan tangannya ke selimut hangat dan dengan perlahan menarik keluar pergelangan tangan Pingting.
 
Sebelum ia sempat mendengarkan nadinya, ia disela oleh hembusan angina dari pintu yang terbuka. Tirai tiba-tiba tersingkap dan Moran muncul dengan wajah serius. “Tuan, surat pribadi dari istana.”
 
Alis mata Chu Beijie berkerut terkejut. “Surat pribadi dari istana ?”
 
“Surat pribadi dari Raja.”
 
Ekspresi Chu Bejie tiba-tiba menjadi serius. Tubuhnya menjadi tegak seperti tombak. “Ke ruang kerja,” ia memerintahkan Moran.
 
Setelah dua langkah ia berbalik lagi, menoleh pada Zuiju. “Periksa nadinya dengan baik, atur obatnya dengan hati-hati dan cari tahu akar penyakitnya. Kesehatannya memang tidak baik, jangan gunakan obat yang terlalu keras.” Lalu ia melangkah keluar dengan langkah lebar, pergi dengan cepat.
 
 
Mereka berdua masuk ke ruangan dengan waktu yang berbeda. Ketika Moran memasuki ruangan, ia segera menutup pintu di belakangnya dan mengeluarkan sebuah surat dari lengan bajunya.
 
Chu Beijie mengambilnya dan memperhatikan segel kerajaan. Ada beberapa tulisan kecil diatas suratnya. “Rahasia untuk Chu Beijie.” Tak di ragukan, surat ini memang dari kakaknya satu-satunya, ditulis sendiri oleh Raja Dong Lin. Bahayanya, jantungnya berdetak dengan kencang. Karena kedua pangeran yang mati diracun, ia telah membawa badai mengamuk di ibukota, pemberontakan dengan pertempuran keras para prajurit. Peristiwa itu berakhir dengan perpisahan dengan Raja dari Dong Lin yang merasa kesal.
 
Setelah peristiwa yang begitu getir, kecuali hal ini adalah harapan terakhir, tidak mungkin Raja Dong Lin menulis surat pribadi.
 
Chu Beijie dan Raja Dong Lin lahir dari ibu yang sama, mereka berdua sangat akrab sejak kecil. Yang seorang membuat keputusan sebagai Raja, dan yang seorang lagi dengan setia memimpin pasukan mempertahankan Negara. Mereka saling mempercayai satu sama lainnya. Meskipun Chu Beijie dengan marah dan hati terluka telah bersumpah untuk mengasingkan diri, ikatan darah sangat kuat. Bagaimana mungkin ia tidak khawatir pada kakaknya yang berada jauh di ibukota, ketika menerima surat penting?
 
Chu Beijie melepas segelnya, membuka suranya dan membacanya dengan penuh perhatian.
 
Suratnya tidak panjang dan sangat tidak diragukan di tulis sendiri oleh Raja bukan tiruan. Semakin banyak Chu Beijie membaca, ekspresinya semakin menakutkan. Moran menjadi semakin khawatir. Ia menunggu sambil terengah-engah.
 
Chu Beijie selesai membaca suratnya dan mengenggam tangannya di belakang tubuhnya. sangat lama sebelum akhirnya ia berbicara, “Yun Chang dan Bei Mo telah bersekutu dan mereka mengirim tiga ratus ribu prajurit untuk menekan perbatasan Dong Lin.”
 
Moran telah menemani Chu Beijie di medan perang melewati api dan air, maka ia sangat mengerti kekuatan militer keempat Negara. Pasukan Bei Mo jelas tidak begitu kuat di pertempuran setahun lalu. Dan Yun Chang yang selalu diam di pojok sangat mengejutkan atas kekuatan mereka yang besar karena selama ini mereka selalu bersikap netral. Ia berpikir sejenak sebelum berkata, “Siapa Jendral yang di kirim Yun Chan untuk memimpin pasukan ?”
 
Meskipun ekspresi Chu Beijie sangat berat, ia masih mampu menampilkan wajah senang, “Moran memang selalu bisa menebak inti masalah. Sebuah perkembangan besar.” Sebuah cahaya berkilau di matanya ketika ia berkata, “He Xia.”
 
“He Xia ?” Moran sudah menduganya samar-samar tapi dahinya tetap berkerut ketika medengarnya dari Chu Beijie. “Kekuatan dan kemampuan strateginya sangat hebat. Aku khawatir Tuan adalah orang yang mampu menyainginya. Hmph, Yun Chang akhirnya mengirim Suami Ratu mereka. Aku takut kalau Nona Bai..”
 
“Pingting tidak tahu apapun.” Chu Beijie menyela, “Ia tidak perlu berurusan dengan hal semacam ini lagi.”
 
Moran mengangguk setuju. “Benar.” Ia teringat dengan masalah militer Dong Lin dan agak ragu berkata, “Meskipun pasukan Yun Chan dan Bei Mo bersatu dan jumlah mereka sekitar tiga ratus ribu tapi kenyataannya mungkin hanya sekitar seratus lima puluh ribu. Dengan kekuatan pasukan Dong Lin dipimpin oleh Tuan, dan beberapa pemimpin terdahulu serta pasukan prajurit khusus, seharusnya cukup untuk mengalahkan musuh.”
 
Pandangan Chu Beijie sangat jauh. Terbentuk sebuah senyum pahit di wajahnya yang tampan dan mukanya yang kaku. “Aku tak pernah berpikir kalau Dong Lin ku yang telah memulai perang dan menekan perbatasan Negara lain akan ditekan perbatasannya suatu hari. Sepertinya memang kesalahan terbesarku tidak menaklukan ibukota Bei Mo dengan sekali serangan penuh. Hasilnya malah mereka bersekutu dengan Yun Chang.”
 
Moran segera merapatkan mulutnya, tidak berkata apa-apa lagi.
 
Bai Pingting telah mengacaukan pertempuran dengan Bei Mo. Kejadiannya begitu rumit. Moran tahu apa yang terjadi, lebih dari yang orang-orang ketahui. Bai Pingting adalah kelemahan terbesar Chu Beijie.
 
Ekspresi Chu Beijie tidak bisa di tebak dan tidak ada petunjuk untuk ditebak.
 
Suasana menjadi tegang di dalam ruagan, menyebabkan orang-orang yang berada di dalam sulit untuk bernapas. Moran menunggu dengan penasaran dan akhirnya memaksa dirinya untuk merubah pembicaraan, “Musuh mendekat selangkah demi selangkah, dan Jendral lawan menyatakan dirinya adalah He Xia. Tanpa kemampuan Tuan, aku khawatir pasukan Dong Lin tidak bisa bertahan lama. Apa Tuan berniat segera kembali ke ibukota dan menyiapkan peperangan ?”
 
Punggung Chu Beijie yang lebar menegak, keputusannya sudah bulat. Terlihat kegagahannya, terpengaruh gaya di medan perang ketika ia menyeringai, “Aku mungkin hidup di pengasingan, tapi Negara dalam masalah dan He Xia menyakiti Dong Lin ku. Bagaimana bisa aku hanya duduk dan menyaksikan? Aku harus berangkat secepatnya.”
 
Moran ragu, tidak tahu bagaimana harus bertindak. Chu Beijie berbalik, “Aku harus bergegas ke ibukota dengan kuda untuk menemui kakakku.”
 
“Tuan ?”
 
Chu Beijie mengangkat tangannya untuk menghentikan Moran dan memerintahkan, “Aku saja sudah cukup di medan perang. Kau pimpin penjaga untuk melindungi tempat ini dan melindungi Pingting.” Suaranya menjadi lebih pelan ketika menatap ke luar jendela ke cahaya pagi di timur. Dengan suara dingin ia menambahkan, “Ratu tidak pernah melupakan kebenciannya atas pembunuhan kedua putranya, ia pasti telah mengirimkan mata-mata secara diam-diam, menunggu kesempatan untuk menyakiti Pingting. Kau seharusnya tahu apa yang perlu di lakukan.”
 
Moran menjawabnya, “Aku juga telah mengirimkan mata-mata sebelumnya. Mata-mata Ratu memang sangat ahli tapi mereka sangat sedikit. Penjaga yang ada disini untuk jumlah dan kemampuan sudah cukup untuk menghadapi mereka. Aku hanya khawatir setelah kepergian Tuan, Ratu memutuskan untuk membunuh Nona Bai dan menggunakan kekuatan militer….”
 
“Bisakah dia mengerakan pasukan Dong Lin untuk menyerang kediamanku?” Suara dalam Chu Beijie sangat penuh keyakinan. “Itu juga sebabnya mengapa aku memintamu untuk tinggal. Selama kau berdiri di depan pintu, apakah para Jendral berani bergerak?”
 
Memang benar, tidak ada seorangpun yang berani melawan Chu Beijie dalam pasukan. Moran adalah orang kepercayaannya, ia adalah orang terbaik sebagai perwakilan Chu Beijie.
 
Chu Beijie mengangkat kepalanya, sepertinya berpikir keras tentang sesuatu. Pandangannya menyapu seluruh dinding dan akhirnya berjalan maju mengambil pedang berharganya yang tak pernah di lepaskan ketika di medan perang. Ia mengenggamnya di tangannya, menyentuhnya dengan lembut.
 
Di dalam bangunan lain.
 
Sebuah jejak terkejut bocor dari kedua mata Zuiju.
 
Zuiju menarik tangannya dari pergelangan tangan Pingting dan matanya yang bersinar menatap ke arah Pingting.
 
Sebuah senyuman terbentuk di bibir Pinting, sebuah senyuman paling manis yang sulit dihilangkan. Ia mengangguk pelan.
 
Zuiju menarik napas panjang, berbisik, “Kapan kau tahu?”
 
“Ketika aku curiga, aku memeriksa nadiku sendiri.”
 
“Tak heran kau tidak membiarkan tabib memerikasa nadimu.” Zuiju memperhatikannya sebelum akhirnya menghela napas, “Nona, kau telah bertindak terlalu jauh. Kau sudah tahu tapi tetap melakukan hal – mogok makan. Kalau Tuan Besar sudah kehilangan hatinya, bukankah kalian berdua akan mati dengan sia-sia ?” Ia menggelengkan kepalanya menyatakan ketidak setujuannya, dan bertanya lagi, “Apa Tuan sudah tahu ?”
 
Pingting tidak selalu romantic tapi sekarang ia merona malu. Ia berbisik pelan, “Bisakah aku memberitahunya sendiri?”
 
Zuiju berbikir sejenak lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi biar kuberitahu kau Nona, kau telah sangat mengacaukan tubuhmu. Mulai sekarang kau harus penuh perhatian mengembalikan kesehatanmu dan makan hidangan yang pantas, semuanya mengikuti petunjukku. Kau tidak boleh bermain kecapi di luar ketika turun salju juga tidak di loteng ketika angin bertiup kencang. Kalau kau tidak menurut, aku akan membuat Tuan datang dan memintanya untuk mengikatmu agar tidak bergerak. Kau bahkan akan dilarang untuk turun dari tempat tidur.”
 
Semakin ia berkata semakin ia menjadi lebih serius. Pingting tak bisa menahan tawanya dan berkata pelan, “Mengerti, Pingting tahu ia telah bertindak salah.”
 
Suaranya merayu dan gerakannya anggun. Ia tersenyum sedih, alis dan matanya sangat tenang. Dengan kata-katanya yang pelan, Zuiju tak bisa mengomelinya lagi dan ia mengeleng dengan gusar.
 
Dalam hatinya Zuiju menghela, ia menyadari inilah pesona kecantikan yang unggul. Ketika akhirnya mereka menguasai, mereka tak bisa dihentikan dan luar biasa romantis yang tidak bisa ditolak siapapun.
 
Ia memiliki kemampuan untuk membuat Chu Beijie bahagia dan juga kemampuan untuk membuat Chu Beijie khawatir. Zuiju masih menghela napas ketika ia melihat Chu Beijie memasuki ruangan, ia segera berdiri.
 
“Tuan sudah datang.”
 
“Kau sudah memeriksa nadinya ?” Chu Beijie bertanya, “Apa sakitnya ?”
 
Mata Zuiju menatap Pingting lalu menjawab, “Tidak perlu terlalu khawatir, ia hanya perlu hati-hati mengembalikan kesehatannya. Zuiju pamit untuk menulis resep.” Ia meninggalkan ruangan, memberi Pingting kesempatan untuk berduaan dengan Chu Beijie.
 
Pingting berbaring di tempat tidur, matanya mengikuti setiap gerakan Chu Bejie. Ia menyaksikan Chu Beijie berjalan ke arahnya. Ia tersenyum lebih gembira daripada biasanya. Ia berinisiatip menarik lengan baju Chu Beijie dan berkata, “Duduklah Tuan, Pingting ingin mengatakan sesuatu.”
 
Ketika Chu Beijie duduk, pandangan Pingting jatuh pada pedang di tangannya. “Apa Tuan ingin berlatih? Mengapa membawa pedang berhargamu?” Pingting bertanya dengan penasaran.
 
“Aku berniat bergegas kembali ke ibukota.” Chu Beijie menatap dalam kedua mata wanita paling yang paling cantik dalam hidupnya, lalu ia menyerahkan pedangnya padanya. “Kau masih ingat pedang ini? Aku punya dua pedang, yang satu Jiwa Yang Terbelah yang telah di berikan pada He Xia sebagai simbol perjanjian lima tahun gencatan senjata pada Gui Li. Yang ini Semangat Surga, pasangan Jiwa Yang Terbelah.”
 
Ketika Pingting mendengar kalau Chu Beijie hendak pergi, wajah gembiranya segera menghilang. Ia menerima pedang yang berat, menundukkan kepala untuk melihat dengan jelas ukiran yang indah di sarung pedang dan tak bisa berkata-kata.
 
Chu Beijie lalu berkata lagi, “Disini sangat terpencil, jadi aku meninggalkan Moran dan para penjaga untuk melindungimu. Kalau… kalau terjadi sesuatu diluar perkiraan, kirim seseorang dengan kuda cepat dengan pedang ini ke Barak Naga Hariamau dua puluh mil ke utara dan minta Jendral Chen Mu untuk membantu. Ia mengenali pedangku.”
 
Setelah selesai, ia melihat wajah Pingting yang sangat kesepian. Ia menggerakkan tangannya yang besar dan kasar merapikan rambut di dahinya. “Megapa sangat diam?”
 
Pingting meletakan Pedang Semangat Surga yang berharga dan perlahan bersandar pada dada Chu Beijie, bernapas dalam seperti berusaha mengumpulkan kekuatan. Beberapa saat kemudian ia berbicara dengan pelan, “Apa Tuan akan pergi berperang? Siapa yang berani menyerang Dong Lin?” Ia merasakan Chu Beijie sedikit menegang dan segera menutup mulutnya dengan tangannya. Pingting menengadah menatap Chu Beijie, “Tuan tidak perlu menjelaskan pada Pingting. Pingting tidak lagi peduli apapun selain Tuan sekarang.”
 
Chu Beijie memeluk erat Pingting. Dan ia berbisik, “Bukankah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?”
 
Pingting dengan tenang menatapnya dan berkata, “Pingting melewatkan hari ulang tahun sendirian, jadi saat ulang tahun Tuan, bisakah kita bersama ?”
 
Chu Beijie lahir tanggal enam bulan pertama kalender bulan, tinggal lima belas hari lagi. Kalau ia harus kembali dengan kuda cepat, ia tak bisa tinggal lebih dari empat hari di istana.
 
Dan saat ini, situasi pasukan dan perbatasan belum jelas, Chu Beijie tidak bisa yakin apakah ia bisa pergi dari istana dalam empat hari.
 
Ia juga tidak ingin mengecewakan Pingting, jadi ia tetap diam dan tidak menjawab.
 
Pingting tidak memperdulikan hal ini, matanya menyembunyikan tawa hangat. Ia mengangkat kepalanya menatap Chu Beijie, “Tuan adalah seorang Jendral. Sebelas hari cukup untuk pergi ke dan dari istana dan empat hari cukup untuk mendapatkan dukungan pasukan Raja. Pingting tidak serakah, hanya berharap Tuan akan datang untuk melihat Pingting sebelum menuju medan perang. Di hari ulang tahun Tuan, Pingting ingin mengatakan hal yang sangat penting.”
 
Jantung Chu Beijie berdetang kencang, “Sangat penting? Tak bisakah kau beritahukan sekarang?”
 
Mata hitam Pingting menunjukan sifat keras kepalanya. Ia mengelengkan kepalanya, “Ini sesuatu yang sangat penting dan harus di katakan pada hari yang selalu di ingat dan membawa keberuntungan.”
 
Chu Bejie hendak membantahnya, ketika Moran memasuki ruangan dengan tergesa-gesa, “Tuan, semuanya telah siap.”
 
Ia melihat mereka berdua dan bertanya dengan berhati-hati, “Mungkin anda ingin berangkat di hari lain?”
 
“Tidak, Aku harus secepatnya berangkat.” Chu Beijie melepaskan Pingting dan meletakan kepalanya di bantalnya. Chu Beijie menatapnya dan tidak meragukan kecantikannya rambut hitamnya terurai keluar. Tatapan kasihan terukir di wajahnya yang seperti di pahat. Dan ia akhirnya membuka mulutnya, “Aku akan berusaha kembali secepatnya.”
 
Melihat kegembiraan luar biasa yang muncul mengantikan tatapan dalam di kedua mata Pingting, Chu Beijie pun berjalan melangkah keluar.
 
Kuda terbaik, diberi makan makanan terbaik, sudah siap di luar gerbang.
 
Chu Beijie menaiki kudanya, tatapannya menyapu melewati Moran.
 
Moran mengertakan giginya dan mengangguk dengan berat.
 
Chu Beijie menunduk dan berkata pada para penjaga. “Aku harus pergi ke istana untuk menerima perintah Raja. Aku akan kembali sebelum menuju perbatasan untuk menangani pasukan disana. Kalian semua, pastikan berjaga dengan baik. Jangan membuat kesalahan!”
 
Para penjaga semuanya telah mengalami medan perang dan mereka adalah prajurit terlatih. Mendengar pasukan musuh mengancam Negara mereka membuat darah mereka mendidih. Setelah Chu Beijie selesai bicara, semangat juang mereka bangkit dan semuanya menjawab, “Baik.”
 
Chu Beijie tersenyum kecil lalu memacu kudanya, meninggalkan empat jejak kaki kuda dan meniup salju yang berada di sekitarnya.
 
Sosok punggung yang penuh harga diri dan keangkuhan malah lebih dirasakan ketika berada jauh.
 
 
Pingting tetap di ruangannya, tenang dan menyandarkan tubuhnya sendiri pada posisi duduk.
 
Ia mendengar suara tangisan di kejauhan, alismatanya menandakan sedikit kekecewaan. Ia tahu Chu Beijie telah pergi, meninggalkannya bersama hatinya yang hampa.
 
“Apa Tuan sudah tahu ?”
 
Pingting menengadah dan menyadari kalau Zuiju telah berada di ruangan sejak tadi.
 
“Tanggal enam bulan pertama tanggalan bulan adalah hari kelahirannya. Aku akan mengatakan padanya di hari itu.”
 
Zuiju agak menerka-nerka dan sedikit gelisah. “Bukankah lebih baik kalau Nona memberitahu Tuan, mengapa harus menundanya sampai tanggal enam bulan pertama ? Haah, mengapa semakin pandai seseorang, mereka semakin senang sulit di tebak? Kalau ini terus berlanjut, sesuatu yang tidak perlu terjadi akan terjadi.”
 
Pingting menjadi pucat, dan segera menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu mengapa, tapi Tuan mengatakan ia harus secepatnya kembali ke ibukota. Aku menjadi khawatir. Aku sungguh takut sesuatu yang buruk akan terjadi di ibukota Dong Lin. Pada saat yang begitu kritis, Tuan mungkin harus membuat keputusan yang riskan, dengan begitu semakin sedikit pertimbangan akan semakin baik. Jauh lebih baik untuk tidak memberitahukan tentang kehamilanku. Jangan menambahkan kekhawatirannya.” Ia menjawab dengan penuh pertimbangan.
 
Zuiju terkejut melihat ekspresinya yang tenang. Ia berkata dengan tenang juga, “Moran pernah mengatakan kalau Nona mampu melihat jauh kedepan. Mendengarkan perkataan Nona, mungkin anda sudah memiliki dugaan tentang apa yang sedang terjadi.”
 
“Dugaan tentang apa?” Pingting tersenyum masam. “Aku tidak tahu kabar tentang dunia luar begitu lama.”
 
Surat terakhir Yangfeng hanya menyebutkan kalau ia dan Ze Yin pergi mengasingkan diri tanpa keterangan lebih detil.
 
Mungkin Yangfeng tidak ingin membuat tubuh dan pikirannya lelah untuk ikutserta dalam persaingan kekuasaan.
 
Bei Mo pernah satu kali berperang dengan Dong Lin dan Gui Li, akibatnya mereka kehilangan pasukan dalam jumlah besar. Sampai sekarang, Negara yang memiliki kemampuan untuk menantang Dong Lin adalah Yun Chang yang selalu berada di luar.
 
Bagaimanapun, mengapa Yun Chan mengubah kebijakannya bertahan jadi menekan kekuatan militer Dong Lin?
 
Ia berbalik dan melihat Zuiju, sebuah senyum lembut terbentuk di bibirnya. “Jangan khawatir, tak peduli apa yang terjadi, aku sangat yakin pada dua hal.”
 
Zuiju penasaran dan bertanya, “Apa itu?” setelah mendengar suara Pingting yang penuh keyakinan.
 
“Pertama, tak peduli seberapa kuat musuh, Tuan pasti akan menang.”
 
Zuiju setuju dengan hal ini dan ia mengangguk. “Dan yang kedua ?” ia bertanya lagi.
 
“Yang kedua ?” Mata Pingting menjadi lebih cerah, menampakkan kebanggaannya. “Tak peduli dimanapun Tuan berada, selama aku berada dalam bahaya, ia akan kembali tepat waktu.”
 
Zuiju terkejut.
 
Mengapa wanita yang pandai dan kuat ini yang selalu menguji Tuan, lagi dan lagi, bisa menaruh kepercayaan yang begitu besar pada Tuan disaat serperti ini.
 
Pingting mengerti keterkejutan Zuiju, ia tersenyum memperlihatkan kedua lesung pipitnya. Dan ia meregangkan tubuhnya dengan malas, “Selama dua hal ini terjamin, mengapa aku harus menggerluarkan tenaga untuk hal lain? Ah, Zuiju kau harus menjaga janin di perutku dengan baik, agar ketika Tuan kembali, aku bisa memberitahunya kabar baik tentang sangat sehat dan tumbuh.”
 
Zuiju menjawabnya dan pergi keluar untuk melihat obat yang ia siapkan untuk Pingting. Ketika ia sampai di halaman, ia melihat Moran yang telah selesai mengantar Chu Beijie.
 
Moran bertaka, “Tuan Besar sudah pergi. Mengapa ekspresi wajahmu begitu aneh? Apa terjadi sesuatu pada Nona Bai ?”
 
Ekspresi Zuiju sedikit gugup.
 
Zuiju menggelengkan kepalanya dan berpikir serius sejenak, lalu memperlihatkan ekspresi seorang gadis remaja. Ia mengeluh kecil, “Aku mengerti sekarang ketika seorang wanita telah menemukan pria impiannya itu adalah hal yang sangat menenteramkan hati.”
 
Ia menghela beberapa kali, merasakan sedikit cemburu. Ia lalu pergi untuk melihat obat, meninggalkan Moran yang sedang tercenggang.
 
Chu Beijie dalam perjalanan di atas kuda cepatnya, bergerak sangat cepat dari area terpencilnya seperti seekor burung dara yang cerdas mengepakkan sayap-sayapnya di langit.
 
Jendral ini, yang telah mengoncangkan empat Negara, segera meninggalkan gunung dan hutan pengasingannya, membawa kehadirannya kembali ke asalnya sekali lagi.
 
 
Di istana Dong Lin, Yang Mulia Raja Dong Lin perlahan melangkah mundur dan masuk, hanya di temani oleh empat pelayan pribadinya. Ratu Dong Lin menghentikan langkahnya di depan pintu kayu dan meminta pelayannya pergi, ia masuk ke ruangan sendirian.
 
“Yang Mulia,” ia perlahan duduk di tepi tempat tidur Raja dan menatap wajah suaminya. Ratu Dong Lin bertanya dengan suara penuh perhatian, “Apa Yang Mulia tidak merasa baikkan setelah meminum obat dari tabib jenius ?”
 
Raja Dong Lin tersenyum menghibur dan mengenggam pergelangan tangan Ratu, “Maap, Aku sudah membuat Ratu khawatir.” Pandangannya menuju pada pintu masuk yang kosong, “Ada kabar dari adikku?”
 
“Aku baru saja menerimanya. Tuan Besar Zhen Bei Wang sudah berangkat dan akan segera tiba di ibukota.” Ratu memberitahukan dari surat yang diterimanya. “Ia tidak membawa seorangpun, berangkat sendirian. Aku sudah memerintahkan Pejabat Senior untuk meneruskan perintah kepada Pejabat Kota agar mereka memperhatikannya dengan baik.”
 
Ia berhentik sejenak sebelum menundukkan kepalanya, “Tuan Besar Zhen Bei Wang, seperti yang di harapkan, meninggalkan Pingting sendirian di sana.”
 
“Itu karena ia tidak ingin melukaimu. Ia tidak ingin Bai Pingting muncul di hadapan kita, meskipun ia enggan meninggalkannya.” Raja Dong Lin terbatuk dua kali, di wajah pucatnya muncul bayangan berwarna kemerahan. Matanya menggelap, “Apa semuanya sudah dipersiapkan?”
 
Ratu mengangguk dan menghela dengan putus asa. Ia menyakinkannya, “Jangan salahkan dirimu Yang Mulia. Anggota kerajaan manapun pasti akan menganggap ini sebagai sebuah kehormatan, menggorbankan diri untuk Negara.”
 
Meskipun ia mengatakan ini, wajahnya yang tidak pernah mengumbar emosinya memperlihatkan kesedihan.
 
Pertempuran besar-besaran dengan Gui Li dan Bei Mo telah menyebabkan Dong Lin kehilangan kekuatan penuh militernya, tapi sebenarnya karena pengasingan diri Chu Beijie lah yang telah membuat lubang begitu besar atas Negara Dong Lin yang sangat kuat.
 
Karena Chu Beijie telah memutuskan untuk melepaskan kekuatan militernya dan hidup di pengasingan, akan sulit untuk mengukur sejauh mana keretakan pada kekuatan militer Dong Lin.
 
Meskipun demikian, semangat juang para prajurit Dong Lin telah terguncang.
 
Hanya dalam satu tahun yang singkat, kekuatan empat Negara telah bergeser dan mengejutkan, ia yang berada di posisi sangat menguntungkan dalam hal kekuatan militer adalah suami baru dari Ratu Negara Yun Chang, He Xia.
 
Persekutuan antara militer Yun Chang dan Bei Mo telah menghasilkan tiga ratus ribu pasukan, mendekat dengan penuh ancaman. Meskipun Dong Lin selalu menjadi Negara yang unggul dalam militer, mereka pernah kalah satu kali, sehingga menimbulkan rasa khawatir.
 
Ratu Dong Lin telah menerima surat rahasia yang ditulis oleh He Xia sendiri. Tiga ratus ribu pasukan yang akan tiba hanya menginginkan seorang wanita.
 
Hanya seorang wanita.
 
Hanya seorang …. Bai Pingting.
 
Wanita yang telah membunuh kedua anak-anaknya, wanita yang begitu dibenci Chu Beijie tapi juga begitu dicintai Chu Beijie sepertinya, akan menjadi penyelamat Dong Lin saat ini.
 
Bukankah ini sangat tragis?
 
Bukankah ini sangat memalukan?
 
Sungguh hal yang lucu, tapi surat yang di tulis sendiri oleh He Xia tidak bisa dikesampingkan, dibubuhkan dengan segel resmi Negara Yun Chang dan tulisan tangan Putri Yaotian juga.
 
Raja Dong Lin memanggil pejabat yang paling di percayanya untuk berdiskusi disamping tempat tidurnya.
 
“Tuan Besar Zhen Bei Wang menolak untuk menyerahkan Bai Pingting.”
 
“Adikku akan bertempur dan memenangkan perang ini untuk kita.”
 
“Yang Mulia,” Pejabat Senior, Chu Zairan berlutut. Kata-katanya langsung dan penuh kepedihan, “Dengan kekuatan pasukan saat ini, bahkan seorang Zhen Bei Wang yang mungkin bisa memenangkan, ini akan menjadi pertempuran berdarah. Pasukan Dong Lin akan kehilangan prajurit yang tak terhitung.”
 
Raja Dong Lin memperhatikan pejabat yang lebih tua itu yang telah menemani mereka bertahun-tahun, diam seribu bahasa.
 
Untuk semua nyawa anak muda, istana kerajaan Dong Lin dan para pejabat yang melindungi, sungguh tidak berharga hanya untuk seorang wanita meskipun ia adalah wanita yang paling dicintai Chu Beijie.
 
Jika Chu Beijie masih seorang Tuan Besar Zhen Bei Wang, maka ia harus tahu kalau ini tidak sepadan.
                                                 
“Ratu…” Raja Dong Lin memanggil istrinya ke kamar di tengah malam.
 
Ia memandang wajah bangsawan yang tegas milik istrinya untuk beberapa lama. Lalu ia menghela napas, “Aku tahu Ratu telah mengirim pasukan dekat kediaman pengasingan adik dan siap untuk menyerang mereka untuk membalaskan dendam anak-anak kita yang terbunuh.”
 
Ekspresi Ratu tidak berubah ketika ia menjawab, “Lalu.”
 
“Tapi Ratu tidak pernah menurunkan perintah untuk melakukannya.”
 
Ratu tertawa mengutuk, dan wajahnya mengelap. “Bagaimanapun, ia wanita yang sangat dicintai oleh Tuan Zhen Bei Wang. Kalau aku benar-benar memerintahkan mereka untuk melakukannnya, maka persaudaraan antara Yang Mulia dan Tuan Zhen Bei Wang akan benar-benar hilang. Dia.. bukan hanya adik Yang Mulia tapi juga pelindung Dong Lin. Ia adalah benteng Dong Lin yang tidak bisa diserang. Tak peduli betapa bodohnya aku, aku tidak akan menghancurkan tiang penopang Negara hanya untuk perasaan pribadiku.”
 
Raja Dong Lin telah menikahinya selama bertahun-tahun sehingga tahu benar kalau Ratu sangat memikirkan anak-anaknya yang terbunuh. Sebuah pisau serasa menghujam jantungnya. Ia memeluk tubuhnya yang lembut dalam lengannya, memeluknya erat. “Jangan khawatir Ratu, aku tahu.”
 
Bagaima bisa Chu Beijie, saudaranya sendiri, Jendral terbaik Dong Lin, Tuan Besar Zhen Bei Wang yang telah menguncang empat Negara, memaafkan wanita yang telah meracuni pangeran muda Dong Lin?
 
Ratu berbalik, menahan air matanya. Ia dengan tenang berkata, “He Xia menjaga janjinya dan telah mundur sepuluh mil dari perbatasan, menunggu kabar terbaru. Apa Yang Mulia telah memutuskan ?”
 
Raja Dong Lin memejamkan matanya dan berpikir lama. Ketika akhirnya ia membuka matanya, ia berkata, “Buatkan titah, ijinkan He Xia dan pasukannya menuju kediaman pengasingan adik untuk membawa Bai Pingting. Dan untuk ibukota, buat Chu Beijie tetap disana dengan cara apapun sampai Bai Pingting dibawa pergi.”
 
Surat pribadi yang di tulis sendiri oleh Raja Dong Lin yang dikirim kepada Chu Beijie, yang begitu mencintai Bai Pingting begitu dalam, telah membuat Chu Beijie yang tidak bisa melupakan masalah negaranya, dengan berat hati meninggalkan Bai Pingting.
 
Chu Beijie telah pergi dan tiba di pinggiran ibukota di siang hari. Ia sama sekali tidak menduga kalau setiap langkah kuda yang dinaikinya membuatnya menuju semakin dekat dalam genggaman pihak istana yang telah mengetahui segalanya, semakin dekat pada genggaman kakak satu-satunya, Raja Dong Lin.
 
Dalam istana, mereka berdua tanpa pelayan.
 
Ratu memperhatikan Raja Dong Lin yang sakitnya bertambah parah dan akhirnya menanyakan hal yang para pejabat tak berani utarakan di hadapannya.
 
“Ketika pasukan musuh mundur dan Tuan Zhen Bei Wang akhirnya mengetahui kalau Bai Pingting telah di bawa orang-orang He Xia, bagaimana kita akan menjelaskan padanya?”
 
Wajah Raja Dong Lin menjadi lebih pucat. Disamping wajahnya yang sayu terlihat ketetapan hati yang kuat seperti milik Chu Beijie. Dengan keyakinan dan kebanggaanya sebagai seorang Raja ia menjawab, “Tak perlu penjelasan. Selama ia adalah adikku, selama ia seorang Tuan Besar Zhen Bei Wang, selama ia masih terikat darah dengan kerajaan Dong Lin, maka ia harus mengerti dan memilih yang terbaik untuk kepentingan Negara ini.”
 
Anggota kerajaan adalah mereka yang menyerah atas keinginan mereka sendiri dan mengutamakan Negara beserta rakyatnya.
 
Tak peduli seberapa terkasihnya seorang wanita, tidak sebanding dengan sebidang tanah yang tandus. Meskipun Raja sangat sedih atas kehilangan anak-anaknya, tapi harga dari kehilangan seorang Zhen Bei Wang terlalu besar.
 
Tidak tidak pernah bisa melupakan kalau Chu Beijie, satu-satunya saudaranya, adalah perwakilan Dong Lin di medan perang, Tuan Besar Zhen Bei Wang.
 
Sampai kemudian, siang dan malam, Chu Beijie tergila-gila untuk mendengarkan Pingting bernyanyi dengan mempesona di kamarnya.
 
Mereka sama sekali tidak berpikir kalau suatu saat mereka akan hidup di pengasingan.
 
Kekuasaan, perang, strategi, dan cinta membuat ikatan yang rumit yang terbentang di antara mereka.
 
--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar