Jumat, 08 April 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.28

-- Volume 2 chapter 28 --


Untuk mendeskripsikan seperti apa seorang wanita yang bernama Bai Pingting, adalah suatu hal yang bahkan oleh seorang Chu Beijie sulit untuk dilakukan.

 

Chu Beijie terduduk di tempat tidurnya, matanya memperlihatkan tanda-tanda kurang istirahat ketika ia berbalik dan memandang sesosok tubuh yang sedang berbaring di sisinya.

 

Matahari pagi membuat jejak cahaya di sela-sela awan gelap dan hinggap dengan lembut di rambut hitamnya yang berantakan. Chu Beijie melihat seulas senyum yang tidak terduga, di wajah tidurnya.

 

Mimpi indah?

 

Chu Beijie mendekatinya.

 

Ia tahu, ia telah bersikap tidak menyenangkan padanya.

 

Selama delapan bulan, Chu Beijie telah mengurung Pingting di bangunan sebelah barat. Setiap malam ia bersikap kasar padanya untuk mendapatkan kepuasan, sekalipun ia tidak pernah bersikap baik.

 

Bagaimana mungkin ia masih bias bermimpi indah ? Chu Beijie sama sekali tidak mengerti.

 

Chu Beijie menunduk, memperhatikan wajahnya berusaha melihat senyumnya dengan lebih seksama. Sebuah hembusan napas panjang keluar dari hidung Pingting meniup sehelai rambutnya yang lembut.

 

Bulumatanya yang tertutup rapat mulai bergerak. Chu Beijie menarik dirinya dan turun dari tempat tidur.

 

Pingting membuka matanya, melihat Chu Beijie yang sedang berbalik. Ia duduk dan berbisik, “Yang Mulia, sudah mau pergi?”

 

Punggungnya. Selalu … hanya punggungnya yang terlihat.

 

Kegairahan penuh hasrat tadi malam seperti awan yang berlalu. Ketika pagi tiba, sama sekali tidak terlihat jejaknya.

 

Dan Chu Beijie yang terlihat hari ini, sama seperti hari-hari biasanya ketika ia pergi tanpa sepatah katapun, tubuh yang tegap dan hati sekeras batu yang tak tergoyahkan.

 

Delapan bulan berlalu. Sekarang sudah masuk musim salju. Musim semi masih sangat lama.

 

“Nona, anda sudah bangun?” Pelayan pribadinya, Hongqian, masuk ruangan dengan sebaskom air panas di tangannya. Ia meletakannya di meja dan menggosok-gosok tangannya sambil berkata, “Hari ini sangat dingin, dan salju bahkan sudah mulai turun sebelum fajar. Saljunya tidak lebat tapi dinginnya sungguh mematikan. Sebaiknya anda segera membasuh wajah selagi airnya masih panas.”

 

Ia berjalan ke arah Pingting dan membantunya turun dari tempat tidur. Ia melihat kerutan di wajah Pingting, dan segera bertanya, “Kenapa? Anda merasa tidak sehat?”

 

Pingting duduk kembali di tempat tidur. Ia menutup matanya, menenangkan diri dan membukanya kembali. Menggelengkan kepalanya ia berkata, “Tidak pa-pa. Aku berdiri terlalu cepat.”

 

Airnya terasa hangat. Kabut berputar, terlihat seperti sedang berdansa pelan, menyelimuti sebuah tong kolam yang berkilat. Pingting perlahan mencelupkan jari-jarinya ke dalam air, menikmati airnya yang hangat.

 

 

Hongqian melihat jari-jari Pingting dan mengeluh. “Sungguh jari-jari yang indah.”

 

“Indah ?” Tanya Pingting.

 

“Indah.”

 

Pinggting menarik tangannya dari air dan Hongqian mengeringkannya dengan handuk katun putih, perlahan-lahan menepuk-nepuknya.

 

Ujung-ujung jari yang lembut, berbentuk indah dan ramping.

 

Pingting tertawa. “Apanya yang bagus memiliki jari-jari indah? Kedua tangan ini tak bisa lagi memetik kecapi.”

 

“Kenapa ?” Tanya Hongqian penasaran.

 

Pingting sedang tidak ingin bercerita. Ia berbalik, dan dalam diam memandang cuaca dingin di luar jendelanya.

 

Hongqian telah melayani Pingting lebih dari satu bulan, maka ia telah mengenal sifatnya. Mengerti bahwa ia telah melewati batas, ia memutuskan untuk diam. Ia sudah lihai melakukan pekerjaannya, ia mengangkat baskom dan bersiap keluar ruangan.

 

Hongqian telah berada di pintu dan hendak berbalik untuk menutupnya.

 

Suara itu terdengar seperti asap yang dapat hilang sekejab terbawa angin. Berbekas di telinga sebelah kirinya.

 

“Aku… tidak punya kecapi.”

 

Dan kemudian, kecapi itu muncul.

 

Sebelum siang hari, sebuah kecapi telah diletakan di atas meja.

 

Bukan sebuah kecapi mewah yang terbuat dari sisa pembakaran atau pohon cherry, tapi untuk mendapatkan barang semacam kecapi, di tempat terpencil seperti ini, tak lebih dari setengah hari, ini sebuah prestasi.

 

Pingting mendekatinya, menyentuhnya. Ia mengusapnya lembut dan penuh perhatian, seolah-olah yang disentuhnya adalah seekor anak kucing yang sedang ketakukan.

 

Hongqian datang lagi.

 

“Nona, kau bisa bermain kecapi sekarang.”

 

Tapi Pingting menggelengkan kepalanya.

 

Hongqian berkata lagi, “Tapi bukankah kau sudah memiliki sebuah kecapi?”

 

Sepertinya rasa sakit atau sesuatu telah membuat sudut-sudut bibir Pingting terangkat dan ia tertawa, tapi ia tetap menggelengkan kepalanya. “Apa artinya ada kecapi atau tidak? Tidak ada yang mendengarkan, hanya buang-buang tenaga saja.”

 

“Aku akan mendengarkan.”

 

“Kau?” Pingting terkejut, ia berbalik dan tersenyum, “Apa kau bisa mengerti apa yang akan kau dengar?”

 

Sebelum Hongqian menampilkan wajah putus asanya, Pingting mulai tertawa pelan. “Yach yach baiklah, kurasa kau bisa mengerti.”

 

Tangan telah di cuci dan dupa telah di bakar.

 

Sebuah asap putih tebal berputar di udara membawa kelembutan yang tak dapat dibandingkan dalam setiap tarikan napas.

 

Pingting duduk dan menenangkan diri.

 

Ia memetik sebuah nada….

 

Diikuti serangkaian suara lembut, nada-nada kecapi berdansa di tali-tali senar dengan sayap yang tidak terlihat, menarik keluar dengan gemulai dan memenuhi seluruh jangkauan.

 

“Dimana ada masalah, disana ada pahlawan; dimana ada pahlawan, disana ada wanita cantik; membereskan kekacauan, menyelesaikan kekacauan…..”

 

Ia membuka hatinya untuk bernyanyi, memetik senar dengan penuh emosi.

 

Tentang seorang pahlawan dan seorang wanita cantik.

 

Kata-kata ini, ia sangat hafal, hanya seorang bodoh dan nada-nada bodoh yang penuh emosi.

 

“Jika ada prajurit, maka aka ada kemashuran; ketika ada kemashuran, maka akan ada kecurangan; prajurit dan kecurangan, prajurit dan kecurangan…”

 

Meskipun kedua tangannya kurus dan pucat, tapi nyanyiannya kokoh seperti batu.

 

Bersamaan dengan suara petikan senar kecapi, ingatannya kembali pada saat ia berada di jalur lembah awan, ketika ia di dekap kuat oleh kedua lengan Chu Beijie dan berjanji untuk tidak akan pernah saling bertentangan meskipun kaki mereka berada di ujung jurang.

 

Kalau prajurit tahu bermain curang bagaimana dengan perasaan ?

 

Yangfeng berada ribuan mil jauhnya. Ia mengirim surat yang setiap katanya penuh airmata dan penderitaan. Suratnya yang terbaru selalu berisi kekhawatiran dibanding sebelumnya.

 

Pingting menahan emosinya. Ia menyobek setiap surat, yang telah menempuh jarak ribuan mil itu menjadi serpihan kertas yang berterbangan memenuhi ruangan.

 

Ini adalah akibatnya.

 

Bagaimana harus menjelaskan? Apa yang harus dijelaskan?

 

Ia seharusnya tidak memutuskan hubungan dengan Kediaman Jin Anwang.

 

Dan ia juga seharusnya tidak percaya pada cinta Chu Beijie yang tak lebih dari seorang penipu ulung.

 

Kalau memang disana perasaan yang tulus, bagaimana mungkin ia kalah dengan siasat busuk seperti ini.

 

Kalau memang ada cinta yang dalam, maka seharusnya ia percaya sepenuhnya. Tidak menghiraukan banyaknya kesalahan dan menjadi berubah. Seharusnya penilaiannya tidak pernah berubah.

 

“Burung laying-layang membawa keberuntungan, tapi terlalu banyak keberuntungan membawa kerusakan. Dimana kebahagiaan, dimanakah kebahagiaan….”

 

Mantap dan dengan bijaksana membalikkan tuduhan, adalah tujuan yang cerdik.

 

Berharap pada hati yang sedang di uji? Sungguh sebuah kebodohan mengharap cinta sebagai solusi untuk meredakan kemarahan.

 

Pingting tertawa kecil.

 

Ketika seorang wanita menginginkan cintanya, mereka akan melakukan apapun.

 

Ia selalu pintar, menjadi bodoh untuk saat seperti ini, sungguh tak termaafkan.

 

Nada terakhir meluncur gemulai di udara, menunggu di langit-langit seperti enggan untuk pergi. Pingting mengangkat kepalanya dan melihat wajah Hongqian yang kacau balau, airmatanya sudah menumpuk di ujung bulumatanya.

 

“Gadis bodoh, untuk apa kau menangis?” Pingting tak bisa menahan tawanya.

 

Hongqian mengangkat tangannya untuk menyeka airmatanya dan berkata dengan sedih, “Ini karena Nona memainkan lagu yang menyedihkan, tapi mengapa aku disalahkan?”

 

Pingting mengerutkan hidungnya, menampilkan wajah kekanakkannya. Ia berkata, “Sebuah lagu yang bagus tapi di telingamu menjadi lagu melankolis?”

 

Ia mengangkat tangannya dari kecapi dan hendak meminta Hongqian untuk membereskannya ketika tiba-tiba Moran masuk ke ruangan. “Tuan Besar berkata, kalau Nona sudah selesai bermain, kecapinya harus dikembalikan. Dan kalau Nona ingin bermain kecapi lagi ia boleh meminjamnya kembali.”

 

Mata Pingting berputar menunjukan perasaannya sebelum akhirnya ia mengangguk dengan ragu “Baiklah.” Ia mempersilahkan Moran merapikan kecapinya dan berjalan kearah seberang meja dimana secangkir teh telah menunggunya.

 

Hongqian segera berkata, “Nona jangan minum yang itu, tehnya sudah dingin. Aku akan membawakan teh yang masih panas segera.” Ia mendekat untuk mengambil cangkir tehnya.

 

Pingting tidak memperdulikannya. “Aku merasa gerah setelah bermain, teh dingin tidak masalah.” Dan ia segera meminumnya. Dalam satu tegukkan, habis tak bersisa. Moran yang sedang merapikan kecapi berusaha mencegahnya tapi ia terlambat.

 

Sekarang sedang musim dingin dan teh dingin akan terasa seperti balok es. Sejak kekacauan di Kediaman Jin Anwang dimulai, dan Pingting mengalami begitu banyak musibah, akhirnya kesehatannya menjadi rapuh. Tenggorokannya yang tiba-tiba disiram teh yang begitu dingin membuat jantungnya berhenti berdetak dan tak bisa berbicara.

 

Hongqian melihat wajahnya dan segera berkata, “Benarkan, hawa dingin menyergapmu sekarang.”

 

Hongqian segera mengambil air panas, tapi Pingting menariknya dan berbisik, “Tak pa-pa, hanya tercekik sebentar.” Ia mengangkat kepalanya untuk melihat Moran yang masih memegang kecapi. “Kenapa kau masih berdiri disini? Cepatlah pergi. Kalau kau terlambat, Tuan Besar akan marah lagi.”

 

Moran membungkuk dan melangkah keluar ruangan. Ia tidak pergi menuju ruangan Tuan Besar, malah berbelok dua kali di ujung koridor sampai akhinya tiba di sebuah ruangan yang berbatasan dengan kamar Pingting, Chu Beijie sedang menunggunya. Ia terbungkus jubah mantel, dan wajahnya kelabu.

 

“Tuan, aku sudah mengambil kecapinya.”

 

Chu Beijie memperhatikan kecapi itu, sambil berkerut ia bertanya, “Bagaimana dia?”

 

“Dia sedikit pucat.”

 

“Omong kosong!” Wajah Chu Beijie menjadi lebih gelap. “Walaupun ia sedang sangat bosan, memainkan sesuatu yang gembira lebih baik bukannya sesuatu yang rumit dan klasik seperti ini.” Setelah berkata seperti itu ia  mengaruk kepalanya dengan keras.

 

Moran segera mengerti kalau ‘omong kosong’ itu bukan ditunjukan untuknya tetapi pada Pingting. Ia mengela napas lega diam-diam ketika mendengar Chu Beijie memerintahkannya, “Carikan seorang tabib untuk memeriksa nadinya.”

 

“Baik.” Moran menundukkan kepalanya, menuruti perintahnya.

 

Alis Chu Beijie berkerut. “Siapa yang sanggup menelan secangkir penuh teh dingin di cuaca sedingin ini? Beritahu Hongqian untuk melayaninya dengan cermat jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi.” Moran mengangguk dan diam-diam mengintip ekspresi Chu Beijie, yang seperti gagak hitam yang kotor. Emosi Tuan Besar selalu kacau jika berkaitan dengan Bai Pingting, membuatnya sulit untuk menerka.

 

Suara kecapi yang telah memberi nuansa hidup hanyalah sebuah hiburan singkat, dan tidak lagi terdengar.

 

Chu Beijie kembali ke ruang kerjanya menjelang siang. Ia tidak selalu berada di ruangan itu. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya di ruangan sebelahnya. Mengerjakan dokumen-dokumen penting hanyalah kebohongan yang dibuatnya. Bagaimmana mungkin ia masih mengerjakan dokumen-dokumen seperti itu dengan statusnya saat ini? Sebuah ruangan kecil yang terpencil dibuat dengan menggunakan kayu yang lebih tipis dibanding kayu yang biasa digunakannya pada kediaman terdahulunya. Dan tidak mampu meredam suara apapun. Jika Pingting bernyanyi, walaupun sangat pelan sekalipun, suaranya masih mengalir ke ruangan itu melewati dinding, memabukkan Chu Beijie.

 

Membuatnya mabuk meskipun Chu Beijie tidak meminum arak.

 

Kalau saja ia bisa mabuk berat, ia takkan ragu untuk melewati dinding dan berjalan mendekati Pingting yang sedang bernyanyi dan memeluknya erat di dadanya, membuatnya tertawa dan mencintainya.

 

Tapi ia tidak melakukannya.

 

Ia berdiri berdiri di dinding, mendengarkan nyanyian riangnya, percakapannya dengan Hongqian tentang cuaca, tanaman dan bunga-bunga yang belum bermekaran.

 

Delapan bulan. Delapan bulan yang paling panjang dan menyengsarakan dalam hidupnya.

 

Dulu ia pernah berjanji pada Pingting; kalau musim semi sudah tiba dan bunga-bunga bermekaran, ia akan memetiknya untuk di letakan di kuil.

 

Kapan musim semi akan tiba?

 

Ketika malam tiba, Chu Beijie kembali ke kamar Pingting.

 

Tanpa menghiraukan sikap dingin dan kasarnya, juga sikap acuh tak acuhnya yang masih sama.

 

Pingting berkata sambil melihat keluar jendela “Tuan.” Ia tidak melihat satupun bintang di cuaca yang begitu dingin, kesepian di langit malam. Dan berbisik, “Besok, mungkinkah akan turun salju lebat?”

 

Chu Beijie sedang memeluknya dan sepertinya sudah tertidur.

 

Tapi Pingtin tahu kalau Chu Beijie hanya berpura-pura tidur.

 

Dan Chu Beijie pun tahu kalau Pingting mengetahui sikap pura-puranya.

 

Terlepas dari sikap acuhnya, Chu Beijie tidak tahu bagaimana sebaiknya menghukum wanita disampingnya juga dirinya sendiri.

 

“Besok hari ulang tahunku.” Pingting berbisik di telinga Chu Beijie. “Apa Tuan bisa menemaniku? Besok akan turun salju, jadi ijinkan aku bermain kecapi untuk Tuan sementara Tuan mengagumi salju…”

 

Chu Beijie tidak bisa menahannya lagi. Ia menggerakkan lengannya dan mendekap Pingting dengan sangat erat, sampai Pingting berteriak kecil.

 

Jangan dilanjutkan, jangan katakan apapun lagi. Memang kenapa kalau kau berulang tahun? Pingting, aku hanya bisa mencintaimu seperti ini, di dalam kegelapan. Ketika pagi tiba, kakakku yang kusayangi dan jiwa kedua anaknya yang telah meninggal terus menghantuiku.

 

Chu Beijie pergi ketika subuh. Pingting menyaksikan punggungnya, menggigit bibirnya dan tetap diam.

 

Langit berubah terang. Sinar matahari yang muncul sebentar dengan segera digantikan kegelapan, awan hitam yang tebal, membawa udara dingin yang mengigit.

 

“Ah, apakah hari ini akan turun salju ?” Hongqian mengeluh.

 

Pingting duduk dekat jendela. Ia mengeluarkan tangannya. Lalu ia berbalik dan berkata, “Lihat.” Di tengah telapak tangannya terlihat sebuah kepingan salju.

 

“Salju.”

 

Kepingan salju itu terasa lembut dan tenang, tapi angin segera membawanya dengan cepat, dan mengantikannya dengan tetesan tetesan air beku di halaman. Langit sepertinya sedang tidak akur dengan matahari dan berniat menguburnya di balik awan untuk selamanya.

 

Pasir di jam pasir terus berjatuhan sedikit demi sedikit, dan Pingting menghitungnya diam-diam.

 

Hari ini adalah ulang tahunnya, dan tiga jam telah berlalu sia-sia.

 

Ia lahir ditengah cuaca bersalju – setidaknya itulah yang ia bayangkan – walaupun sebenarnya itu adalah pemikiran Nyonya Besar. Orang tua yang tidak pernah di ketahuinya mungkin satu-satunya yang tahu persis kapan ulang tahunya.

 

Ia ingat hari ketika Nyonya Besar membawanya ke Kediaman Jin Anwang. Nyonya berkata dengan yakin, “Dengan kecerdasan sepintar salju ia pasti seorang bayi yang lahir di tengah cuaca bersalju.” Lalu Nyonya Besar menetapkan hari bersalju sebagai hari kelahirannya.

 

Pingting menyukai salju. Setiap tahun di hari ulang tahunnya, Kediaman Jin Anwang menggelar perayaan. He Xia selalu mengundang para bangsawan untuk minum, termasuk pangeran He Su. Semakin mabuk mereka semakin mendesak permintaannya. “Pingting, mainkan kecapi! Cepatlah mainkan kecapinya! Pingting, mainkan sebuah lagu!”

 

Dongzhuo yang paling senang berkelakar biasanya sudah mempersiapkan sebuah kecapi. Ia segera menarik Pingting dan meletakkan kedua tangannya diatas senar, dan Pingting tertawa. Dalam sebuah perayaan selalu terdengar hingar bingar, tapi ketika suara kecapi mulai terdengar dengan segera suasana menjadi hening. Mereka yang duduk maupun berdiri, semua mendengarkan musiknya sambil mengagumi salju. Dan ketika ia selesai memainkan kecapinya ia mendengar suara tepukan yang berbeda dari yang lainnya. Ia tersenyum dan berbalik dengan gembira, “Yangfeng, ayo kau tidak boleh bermalas-malasan! Aku yang berulang tahun, jadi kau harus memainkan setiap lagu sepuluh kali.”

 

Pingting mulai terkekeh, dan berusaha mempertahankan senyumnya.

 

Salju tebal sepertinya mengejek kehidupannya yang berubah.

 

Hari-hari sunyi adalah hal yang tidak diperlukan siapapun, kecuali Chu Beijie.

 

Ia tidak seharusnya menyesalinya.

 

Pingting melihat kearah jam pasir sekali lagi, meyaksikan waktu yang bergulir sebutir demi sebutir. Orang yang ingin ia lihat tidak datang. Ia telah menahan sikap dinginnya selama delapan bulan dan ia belum pernah mendapat seulas senyuman atau kata-kata hangat. Mengapa tidak ada satupun?

 

“Hongqian.”

 

Hongqian mendekat dan berkata, “Apa yang kau inginkan, Nona?”

 

Pingting menunduk dan melihat jari-jarinya yang kurus.

 

“Cari Tuan Besar.” Pingting menekankan setiap katanya. “Aku ingin meminjam kecapi.”

 

Kecapi dengan segera tiba, Moran sendiri yang membawa dan mempersiapkannya, lalu ia berkata, “Jika Nona ingin memetik kecapi untuk melepaskan rasa bosan, mainkan sebuah lagu yang ringan. Jika ingin memainkan lagu yang rumit dan penuh perasaan sebaiknya tidak memainkannya sama sekali.”

 

“Dimana Tuan Besar?”

 

“Tuan Besar sedang…..” Moran menghindar dari tatapan Pingting, “sedang di ruang kerjanya mengerjakan dokumen-dokumen.”

 

“Apa ia sibuk seharian ini?”

 

Moran diam agak lama sampai akhirnya ia menjawab dengan sebuah kata. “Benar.”

 

Pingting mengangguk. “Aku mengerti. Dan untuk kecapinya, aku akan mengembalikannya setelah selesai.”

 

Setelah Moran pergi, Hongqian berniat menyalakan dupa. Tapi Pingting segera menghentikannya. “Tak perlu, biar aku saja.”

 

Ia mematahkan dupa dan membakarnya, lalu membawa air. Dengan hati-hati mencelupkan tangannya perlahan, mengeringkannya dengan handuk, dan duduk di depan kecapi.

 

Dengan sebuah senyum kecil, ia meletakkan jari-jarinya di atas senar, dengan tenang memulai beberapa nada. Ia mencampur nada-nada bergetar, membuat kejutan yang bergejolak seperti sepasukan prajurit bersenjata yang menyerbu masuk. Seluruh ruangan menjadi sangat sunyi.

 

Pingting hampir tertawa tapi wajahnya sangat tenang, jari-jarinya gelisah. Dalam sekejap, teriakan pertempuran, ringkikkan kuda, dan genderang yang ditabuh melanda kesekitar dan menguncang langit. Hongqian yang mendengarkan menjadi pucat dan mencengkram bajunya di dadanya, benar-benar kehilangan tenaga.

 

Bukan Chu Beijie yang harus disalahkan, ini semuanya salahnya sendiri.

 

Ia sendiri yang menghadang Chu Beijie di tengah perjalanannya dan ia juga yang berkata, “Janji itu masih berlaku. Biarkan Pingting ikut Tuan sampai ke ujung dunia, kehormatanku ditangan Tuan dan nyawaku juga ditangan Tuan.”

 

Ia mengeluarkan tanganya dan Chu Beijie menerimanya.

 

Sejak itu, kehormatannya, hidup dan mati dirinya bukan lagi miliknya melainkan milik Chu Beijie.

 

Ia sudah cukup bersabar.

 

Sejak musim semi terakhir, yang ia lihat hanyalah punggungnya yang begitu dingin. Ia telah sangat sabar selama delapan bulan, dan itu akan berakhir hari ini, hari yang sangat ia harapkan ada sebuah kehangatan. Ia akan menahan penderitaan macam apapun untuk sebuah kata, sebuah ekspresi atau sebuah tanda bahwa Chu Beijie masih mencintainya.

 

Tapi ini, tidak ada sama sekali.

 

Suara kecapi menjadi lebih tenang seperti perang yang sudah usai dan beberapa kuda yang terluka berdiri di medan pertempuran sementara api membakar bendera-bendera yang berjatuhan. Sunyi senyap.

 

Keringat banyak bermunculan dari dahi Pingting, tapi Pingting tetap tak bergeming. Ia tetap berjuang menyelesaikan nada terakhirnya. Pingting mencapai batasnya dan tubuhnya mulai goyah.

 

Hongqian terlalu terpaku dengan suara kecapi dan belum tersadar. Seorang pria tiba-tiba masuk dan menahan tubuh Pingting dengan sebelah tangannya dan tangan yang lainnya menahan senar kecapi untuk menghentikan suaranya.

 

Pingting merasa ada seseorang yang menahan tubuhnya dan ia merasakan hatinya bergemuruh gembira ketika berbalik. Sinar di matanya pudar dan ia mengatupkan bibirnya. “Lepaskan.” Ia berusaha duduk kembali. Ia merasakan sakit di seluruh kepalanya tapi ia tetap berusaha untuk diam.

 

Moran segera melepaskannya, dan berkata dengan tenang, “Tuan Besar sedang bekerja di dekat ruangan ini. Suara kecapi Nona…. terlalu berisik.”

 

Ekspresi wajah Pingting terlihat sangat lelah. Ia tertawa getir. “Maafkan aku.”

 

Dan Moran berkata lagi, “Tuan Besar juga mengingatkan kalau Nona hanya meminjam kecapi ini. Karena Nona sudah selesai memainkannya sudah waktunya mengembalikannya.”

 

“Moran, Aku ingin bertemu Tuan.”

 

Moran ragu sejenak dan seperti mendengarkan sekeliling. Ia menunggu sebentar tapi akhirnya berkata sambil merapatkan giginya. “Tuan Besar sangat sibuk hari ini. Ia akan datang di sore hari seperti biasanya.”

 

“Aku ingin sesuatu yang sangat penting padanya.” Pingting berkata dengan ditekankan. “Aku harus menjernihkan semua kesalahpahaman ini.”

 

Moran merasa ragu lagi, tapi tak ada suara yang terdengar. Saat ini, ia bahkan merasa kecewa pada dirinya sendiri, akhirnya ia berkata sambil mengela, “Tuan Besar, ia.. akan datang pada sore hari seperti biasanya.”

 

Mata Pingting menatap Moran yang sepertinya tak berani menatap balik kearahnya. Moran segera berbalik. Dan Pingting berkata dengan pelan. “Kau bisa membawa kecapinya. Sampaikan terima kasihku pada Tuan.” Ia tak mampu lagi menahan tubuhnya, ia menggenggam lengan kursi lalu perlahan duduk.

 

Moran mengambil kecapi dan berlalu keluar ruangan.

 

Chu Beijie tidak berada di ruang kerjanya. Ia berdiri di tengah salju lebat. Tubuhnya tegak, tidak tergoyahkan seperti baja tidak peduli dengan saju yang turun lebat di sekitarnya.

 

“Tuan, aku sudah mengambil kecapinya.” Moran menyerahkan kecapinya pada Chu Beijie.

 

Butiran salju mendarat diatas kecapi. Dimata Chu Beijie hal itu menyebabkan sensasi tidak terduga.

 

Ia menyesalinya. Seharusnya ia tidak memberikan Pingting kecapi dan seharusnya tidak mendengarkan permainannya. Lagu yang ia mainkan masih berbekas di hatinya seperti pisau yang menancap, menggiris-iris dagingnya sementara ia masih tetap hidup. Melodinya sangat sedih, ia bisa merasakan kehancuran yang luar biasa, membuatnya merasakan ketakutan sampai ia berkeringat dingin.

 

Apapun alasannya, ia tidak seharusnya meminta Moran yang kesana. Seharusnya ia sendiri yang pergi. Dan memeluknya, memberikan kehangatan padanya, agar ia tidak akan pernah lagi memainkan melodi seperti itu.

 

Pingting, ia telah cukup menjalaninya.

 

Ia tidak peduli hidup atau mati. Yang ia inginkan, seperti hukuman dalam perang, dengan kebaikan hati memotong lehernya dan mati dengan tragis tapi itu tidak diperuntukkan bagi dirinya.

 

Chu Beijie benar-benar membencinya tapi juga tak mampu menghadapi kemungkinan kehilangan dirinya.

 

Moran tak mampu menahan pertanyaannya, “Tuan, apa anda sungguh tak mau menemui Nona Bai? Nona Bai berkata…”

 

Tatapan Chu Beijie tajam seperti belati dan ia melemparkan kecapi ke wajah Moran, Moran menangkapnya dengan gemetar.

 

Ia segera membungkuk dan berkata, “Pelayanmu pantas mati.”

 

Sebuah hembusan angin yang kuat melewati kupingnya, ia merasakan sesuatu yang lebih dingin dibanding salju.

 

Setelah beberapa lama akhirnya Chu Beijie berkata dengan suara dalam.

 

“Kau boleh pergi.”

 

Chu Beijie kembali ke ruang kerjanya dan tidak keluar lagi, ia juga melewatkan makan siangnya. Moran gellisah sepanjang hari. Ia merasa sangat tidak nyaman ketika menunggu selama dua jam di ruangan samping sampai akhirnya Hongqian muncul dengan membawa nampan makanan. Hongqian berkata dengan khawatir, “Apa yang harus kita lakukan? Nona sama sekali tidak mau makan.”

 

Ia membuka penutup hidangan, memperlihatkan masing-masing makanan yang terdiri dari dua jenis masakan daging yang berbeda, dua jenis masakan sayuran, semangkuk asinan lobak, dan semangkuk nasi seputih salju. Tak satupun di sentuh.

 

“Aku berusaha membujuknya sampai lama, tapi ia sepertinya hanya menghitung butiran nasi atau apapun itu. Setelah mengambil beberapa butir ia meletakan sumpitnya di meja dan berkata kalau ia sudah kenyang. Kalau ini terus berlanjut, ia akan segera sakit parah. Tuan Besar akan menguliti kita semua para pelayan.”

 

“Menguliti siapa?” sebuah bayangan muncul dari pintu ruang kerja.

 

Hongqian terkejut, ia berputar untuk melihat tapi segera menundukan kepalanya. “Tuan…”

 

Tatapan Chu Beijie jatuh pada nampan yang penuh dengan makanan. “Ini punya dia?”

 

“Benar.” Moran menjawab.

 

Hongqian dengan hati-hati melaporkan dengan singkat, “Nona Pingting hanya makan separuh mangkuk bubur tadi pagi. Ia hampir tidak menyentuh makan siangnya. Kupikir ini tidak baik, maka aku melapor pada Jendral Chu.”

 

Tatapan tajam Chu Beijie mengarah pada Hongqian. “Apa ia sudah seperti ini belakangan ini?”

 

“Nafsu makannya sepertinya kurang baik sejak musin dingin. Ia makan lebih sedikit dan semakin sedikit akhir-akhir ini, tapi kemarin malam sepertinya agak mendingan. Ia makan beberapa makanan dan menghabiskan semangkuk nasi penuh.”

 

Moran sepertinya mengingat sesuatu, dan ia berkata dengan pelan pada Chu Beijie, “Kemarin malam Tuan meminta Moran untuk memberikan makanan yang di kirimkan dari ibukota kepada Nona Pingting. Mungkin…”

 

Chu Beijie mendengarkan dengan seksama, sebelum berkata pada Hongqian. “Makanan itu masih tersisa sedikit. Berikan padanya.”

 

Hongqian terpilih untuk melayani Pingting karena kepintarannya dan sikapnya dan sopan. Melihat Chu Beijie sudah tidak terlalu marah, ia memberanikan dirinya berkata. Suaranya sedikit agak takut dan ia berkata dengan pelan, “Melapor pada Tuan, aku juga berpikir kalau Nona Bai menyukai makanan itu, jadi aku menyiapkan untuk hari ini. Tapi itu juga tidak berhasil. Ia sama sekali tidak menyentuhnya malah mengatakan kalau ia sudah kenyang.”

 

Tatapan dingin Chu Beijie mengarah pada makanan yang sudah dingin. “Mengerti, kau boleh pergi.”

 

Setelah kepergian Hongqian ia berbalik pada Moran. “Bagaimana menurutmu.”

 

“Apa?” Moran agak bingung dengan pertanyaan yang diajukan. Setelah memperhatikan ekspresi Chu Beijie, ia tahu kalau ia tidak boleh salah berkata, ia memutuskan untuk menjawab dengan jujur.

 

Chu Beijie berkata lagi, “Ia sudah tak bisa menahannya lagi, benarkan?”

 

“Tuan…”

 

Sebelum Moran selesai berbicara, Chu Beijie menyelanya. “Jangan katakan!” ia berbalik, kedua tangannya di balik punggungnya. Pundaknya bergetar, entah karena terlalu marah atau terlalu gembira. Setelah beberapa saat, ia akhirnya agak tenang. Suaranya terdengar sangat dingin. “Ayo kita lihat dia.”

 

Mereka berdua mendekati ruangan Pingting dan terdengar suara dari dalam.

 

“Nona Bai, Tuan Besar memerintahkan aku. Aku tidak bisa menentang perintahnya. Entah tubuhmu sehat atau tidak, tolong biarkan aku memeriksa nadimu agar aku bisa menilainya sendiri.”

 

“Aku akan menemui Tuan Besar. Katakan saja kalau aku tidak sakit.”

 

Alis Chu Beijie yang tebal menjadi berkerut. Ia mendorong pintu dan masuk ke ruangan. Tubuhnya sangat besar. Ia berdiri di dekat jendela, menahan sebagian besar sinar matahari yang berusaha masuk ruangan dan menciptakan bayangan besar di lantai.

 

Seluruh ruangan menjadi sunyi.

 

Pingting mengenakan mantel tipis. Ia duduk di atas tempat tidur berselimut beludru berwarna hijau, sepertinya ia baru saja terbangun dari tidur siangnya ketika tabib tiba. Rambut hitamnya belum di sisir dan berjuntai di sebelah sisi bahunya. Wajahnya yang putih pucat dan matanya yang hitam sama sekali tidak menandakan sinar kehidupan.

 

Pingting sama sekali tidak menduga Chu Beijie akan mendatanginya secepat ini. Ia merasakan sebuah angina berhembus kencang seperti anak panah yang di tembakan, masuk ke dalam ruangan dan menyebabkan cuaca turun drastic. Ia menyentakkan kepalanya ke atas untuk menatapa mata tajam Chu Beijie.

 

Jantung mereka seketika berdetak kencang ketika kedua mata mereka bertemu dan saling mengikat satu sama lainnya, tak mampu bergerak.

 

Kemarahan Chu Beijie muncul lagi tapi kemudia ia menjadi bimbang dibawah tatapan Pingting. Sambil berusaha mengembalikan ketenangannya ia menyuruh yang lainnya pergi, “Kalian semua boleh keluar.”

 

Hongqian, Moran dan tabib dengan segera menghilang. Hanya tertinggal dua orang yang saling berpandangan tengah ruangan.

 

Chu Beijie menatap Pingting lama. Ia melihat wajahnya yang pucat dan rapuh, tubuhnya yang kurus, membuatnya teringat ketika dulu ia bertubuh sehat. Ia kesal sekali, karena Pingting tidak mau diperiksa tabib walaupun ia terlihat sangat tidak sehat. Tapi semakin ia marah, semakin tenang nada suaranya. Ia bertanya, “Kau sungguh orang yang tidak tahu di untung, jadi katakan apa tujuanmu melakukan hal gila seperti ini ?”

 

Sungguh, sangat lebih baik kalau saja ia tidak bertanya. Pingting menundukkan kepalanya dan mulai tertawa kecil dengan pelan. Ia mengumpulkan semangat di matanya dan tersenyum pada Chu Beijie. “Tuan disini. Tujuan Pingting sudah tercapai.”

 

Walaupun Pingting tidak termasuk cantik tapi matanya yang cerdas sudah cukup menawan. Dan dengan senyumnya yang memperlihatkan kedua lesung pipitnya, jantung Chu Beijie seperti ditombak. Chu Beijie melangkah maju sampai seluruh pandangannya tertutup olehnya, seorang wanita diatas tempat tidurnya.

 

Tatapannya yang siap berperang – dingin dan tanpa perasaan – muncul lagi. Sikap dingin Chu Beijie menyelimuti Pingting

 

“Meskipun saat ini kau sedang berada di hadapanku, kenapa masih melakukan hal tidak berguna seperti ini?”

 

Pingting menegadah untuk menatap Chu Beijie, ia berkata pelan, “Tuan salah, bagaimana mungkin tidak berguna?”

 

Chu Beijie berada di sisinya saat ini dan sedang menatap matanya, adalah hal yang paling mengembirakannya yang takkan ia tukar untuk kekayaan apapun di dunia.

 

Kata-katanya seperti serangan utama, pukulan telak untuk menghancurkan pertahanan Chu Beijie. Chu Beijie berencana untuk pergi tapi ia tak sanggup melakukannya saat ini. Dengan sebuah isyarat tangan dari Pingting ia memutuskan untuk duduk di samping tempat tidur.

 

Tubuh hangat Pingting bersandar padanya dan kedua tangan Pingting melingkar di lehernya. Chu Beijie membenci Pingting karena ia meracuni kedua keponakannya dan berjanji untuk tidak akan pernah menunjukan belas kasihan padanya. Tapi saat ini, ia tak sanggup melepaskannya, maka ia berkata. “Kau ingin menemuiku untuk mengatakan apa?”

 

“Terlambat.”

 

“Terlambat?”

 

Pingting memeluk Chu Beijie lebih erat, dan menjawab dengan pelan. “Aku memang berniat mengatakannya, tapi Tuan telah melewatkan kesempatannya. Mengapa Pingting harus memohon sampai tiga kali untuk membuat seseorang mau mendengarkan praduga tidak bersalahnya? Aku bersumpa atas kelahiran dan kematianku, aku tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Tuan. Kalau Tuan tetap bersikeras menuduhku, silakan saja dan lakukan apa yang perlu.”

 

Chu Beijie tiba-tiba berdiri dan sangat marah, “Kau sama sekali tidak menyesal dan tetap memainkan tipuan seperti ini?”

 

Ia berbalik dan berjalan pergi.

 

“Tunggu!” Pingting berteriak,dan Chu Beijie menahan langkahnya.

 

“Pingting sudah membulatkan tekad.” Suara Pingting terdengar lemah tapi tiba-tiba menjadi sangat dingin. “Selama delapan bulan bersabar, tidak bisa membuat Tuan kembali mencintai Pingting, maka sudah tidak ada alasan bagi Pingting untuk tetap berada disini.”

 

Chu Beijie berbalik dan suaranya terdengar licin. “Jangan berani melarikan diri.”

 

“Bukan.” Pingting tertawa hampa, “Aku memutuskan bunuh diri.”

 

Chu Beijie tertawa mengejek, “Mengancam dengan kematian adalah rencana yang sangat bodoh.”

 

Pingting tidak peduli dengan ejekannya dan melanjutkan perkataannya, “Kecuali Tuan tetap bersama Pingting setiap waktu, kalau tidak begitu Pingting tidak akan bisa hidup tenang.”

 

Chu Beijie membalas dengan panas. “Ditanganku, mati bukan hal yang mudah untuk dilakukan.”

 

Kebulatan tekadnya bertemu dengan tatapan tajam Chu Beijie, tidak bergeming. Menghela napasnya ia berkata pelan, “Seseorang yang sudah memutuskan untuk bunuh diri dengan segenap hati dan jiwanya takkan bisa dihentikan oleh siapapun.”

 

Chu Beijie membuka pintu dan membiarkan salju berjatuhan masuk.

 

“Moran!”

 

“Siap!” Moran segera datang dengan tergesa-gesa.

 

“Pastikan,” ia menunjuk sesosok kurus di dalam ruangan, “kau menjaganya dengan baik. Kalau ada kecelakaan sekecil apapun, segera laporkan padaku!”

 

 

--0--

Home

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar