Jumat, 08 April 2016

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.29

-- Volume 2 chapter 29 --


Moran tidak bisa terlelap malam itu. Ekspresi wajah Chu Beijie malam itu membuatnya sangat gelisah, dan ia tidak berani menoleh ke arah Pingting.

 

Siapa yang bisa menerka kata-kata seperti apa yang telah dilontarkan dari bibir merahnya yang menyebabkan Tuan kehilangan kesabarannya sampai seperti ini?

 

Tiupan angin dan salju sama sekali tidak berhenti sejenakpun sepanjang malam.

 

Moran berdiri di satu sisi dan melihat Hongqian sedang menagis sambil memohon, “Nona kumohon, jangan membuat masalah. Tuan Besar sudah sangat marah.”

 

Pingting bersandar dan ia terbatuk, matanya memperlihatkan kebulatan tekadnya. Ia menoleh ke arah Hongqian dan berkata dengan bercanda, “Jadi hanya demi Tuan.”

 

Kedua mata Hongqian merah dan ia segera mengelengkan kepalanya. “Bukan, tentu saja bukan begitu…. bukan demi Tuan Besar, untuk Nona. Nona jangan merusak kesehatan seperti ini. Setidaknya makanlah sedikit. Kalau Nona jatuh sakit ketika cuaca sedingin ini, apa yang harus kulakukan?”

 

Pingting memikirkan Hongqian sejenak tapi ia tetap mengeraskan hatinya. “Kemarilah.” Pingting menarik Hongqian untuk duduk disebelahnya dan menenangkan gemetarnya. Pingting tertawa kecil, “Gadis bodoh, kau tak perlu khawatir.”

 

“Oh tidak, bagaimana mungkin aku tidak khawatir?” berkat bujukan Pingting yang lembut air mata Hongqian berhenti mengalir. “Tuan Besar berkata kalau terjadi sesuatu pada Nona, pelayanmu ini akan menerima hukuman militer.” Hongqian mengusap airmatanya, “Tuan Besar tidak pernah mengingkari kata-katanya.” Ia gemetar memikirkan tatapan tajam penuh amarah Chu Beijie.

 

“Cara militer sangat kasar, aku tidak bisa membantumu.” Pingting tidak tergesa-gesa, ia perlahan berbaring menghadap belakang.”

 

Pada saat itu Hongqian menyadari, adalah hal mustahil untuk merubah keputusannya, maka ia segera berdiri. Mengibaskan lengan bajunya dan berkata, “Nona, tentu saja anda bisa membantuku. Kalau Nona makan sedikit saja, anda telah sangat berjasa untukku.”

 

Pingting sepertinya sangat jauh, tidak mendengarkan dan seperti memikirkan sesuatu. Ia terlihat sangat pusing. Tatapannya berhenti sebentar pada Hongqian dan akhirnya dengan berat menutup matanya, seperti mencoba untuk tertidur.

 

Hongqian bagaimanapun tidak menyerah. Ia memohon lagi, “Nona, anda memiliki hati yang besar. Nona anda tak mungkin membiarkan aku mati benarkan?”

 

“Hidup dan matimu di tangan Tuan Besar.” Pingting menjawab samar-samar. “Hidup dan matiku juga di tangan Tuan Besar. Jangan memohon padaku, memohonlah pada Tuan Besar.” Ia berbalik  menghadap tembok, dan tak berkata apapun lagi.

 

Moran memperhatikannya sepanjang malam. Pagi kedua, ia segera mendatangi Chu Beijie di kamar tidurnya. Pelayan Chu Beijie memberitahunya, “Tuan Besar berlatih pedang sejak subuh.” Moran segera tergesa-gesa menuju halaman kecil tempat Chu Beijie berlatih. Ketika ia hampir mencapai tempatnya terdengar suara nyaring yang mengalahkan suara tiupan angin salju, suara pedang saling memukul, terkeju, Moran segera memasuki halaman.

 

Chu Beijie sedang berlatih tanding dengan beberapa bawahannya, pedang tumpul di tangannya berayun dengan cepat membelah secara horizontal dan vertical, kegigihannya sulit dihentikan. Dan setiap ia mengayunkan pedangnya setidaknya satu orang akan terjatuh, tapi semua bawahannya adalah petarung yang gigih dan para prajurit pemberani. Saat ini belum lama sejak mereka mengeluarkan pedang mereka dan mulai menyerang, tapi sudah sangat sulit untuk bernapas. Untuk yang tidak mengenal mereka, pertarungan ini terlihat seperti pertempuran antara hidup dan mati.

 

Ketika Moran menginjakan kakinya di halaman sebuah bayangan segera menghampirinya. Moran beraksi dengan cepat, ia mengangkat tangannya, menangkapnya dan menekan wajah Luoshang di tembok halaman. Ia berbisik, “Bagaimana ?”

 

“Kau akhirnya tiba.” Luoshang juga salah satu penjaga pribadi Chu Beijie. Ia mengeluh lega ketika melihat Moran muncul. “Tenangkan Tuan Besar, ia seperti orang gila hari ini. Kami telah berlatih di tengah cuaca bersalju selama hampir setengah jam. Sama sekali tidak ada tanda akan selesai. Kami semua mungkin harus beristirahat total di tempat tidur selama delapan atau sepuluh hari mulai sekarang.” Meskipun begitu, Luoshang membungkuk, mengambil pedangnya dan berlari, kembali menuju pertarungan. Chu Beijie membalas serangannya. Dan dua orang lainnya menahan gerakan pedannya.

 

Clang! Bunyi dentum pedang beradu.

 

Kedua bahu Luoshang hampir mati rasa. Pedang tumpulnya jatuh ke tanah dengan suara pelan. Wajah Chu Beijie sama sekali tanpa ekspresi ketika ia berteriak, “Usahamu masih belum cukup.” Ia mengangkat kaki kirinya dan menendang Luoshang dekat pinggangnya sehingga ia berguling keluar dari area pertarungan.

 

“Tuan, aku ingin melaporkan sesuatu.” Moran berdiri agak jauh dari area mereka dan berkata dengan suara pelan.

 

Chu Beijie sepertinya sudah menunggu Moran. Ia melangkah kebelakang, menyarungkan pedangnya, melihat ke arah yang lainnya dan melambaikan tangannya, “Sudah cukup hari ini, kalian bisa pergi.”

 

Para prajurit merasa sulit meluruskan punggung mereka. Mereka membungkuk dan segera menjawab “baik” dan membantu yang lainnya untuk bangun dan bergegas pergi, tak lupa mereka melayangkan tatapan terima kasih pada Moran ketika melewatinya.

 

“Apa yang ingin kau laporkan?” Chu Beijie menyerahkan pedangnya dan mengambil handuk hangat dari seorang pelayan. Meskipun angin sangat dingin dan salju sangat lebat, ia hanya mengenakan selembar baju dan berkeringat banyak sekali.

 

“Hongqian memohon sepanjang malam tapi Nona Pingting tetap bersikeras bahkan tidak minum setetespun. Kupikir…”

 

Bang!

 

Tangan Chu Beijie memukul meja kayu. Ia menatap Moran dengan tajam dan berkata dengan dingin. “Kau bahkan tidak bisa menjaga seorang wanita? Dan kau melaporkan hal ini sepagi ini? Pergi, aku bahkan tak ingin mendegar namanya.”

 

Bahkan ketika menghadapi ribuan pasukan, Chu Beijie tidak pernah kehilangan ketenangannya seperti saat ini. Moran tetap diam, tak berani berkata apapun. Dan setelah beberapa saat, akhirnya Moran menjawab, “Baiklah” ia berjalan menuju arah keluar halaman, ragu sejenak lalu ia berbalik menoleh ke arah Chu Beijie. Tak ada tanda-tanda perubahan. Moran menghela napasnya dan berjalan pergi.

 

Situasinya menjadi semakin parah.

 

Setelah hari kedua, tak peduli Hongqian menagis dan memohon seperti apapun, Pingting tak mengatakan sepatah katapun.

 

Pingting tidak hanya menolak makanan tapi juga teh dan segala jenis makanan. Apapun yang dibawa ke ruangannya dalam kondisi hangat akan segera menjadi dingin tak tidak tersentuh.

 

Hongqian bertanya pada Moran di sudut di luar ruangan. “Apa yang harus kita lakukan? Ini sudah dua hari. Kalau lebih lama lagi, bahkan orang sekuat bajapun tak akan bertahan. Bisakah anda memikirkan cara lain?”

 

Wajah tampan Moran menampakan senyum kecil. “Apa yang harus dilakukan? Mungkin menghadapinya dengan cara militer? Dengan kesehatannya yang seperti ini, memaksanya makan hanya akan membuat kondisinya lebih buruk.”

 

Keduanya berdiri dalam keputusasaan. Karena diskusi mereka sama sekali tidak menghasilkan ide lain, mereka akhirnya kembali ke ruangan.

 

Pingting berada di dalam ruangan, sebuah gulungan perkamen sedang dibacanya dengan senang. Ia menolak Hongqian mencuci rambutnya dan berusaha menyanggul rambutnya sendiri. Rambut hitamnya yang berkilau ditahan dengan sebuah tusuk konde. Beberapa helai perlahan jatuh ke bahunya, menampakkan keelokkan di wajahnya dengan sikapnya yang menolak untuk makan. Melihat keduanya memasuki ruangan, ia menaikkan pandangannya dan tersenyum kecil, lalu kembali menunduk untuk meneruskan bacaannya.

 

Moran tidak menyangka kalau rencanannya dilakukan dengan sangat hati-hati. Kalau saja ini dilakukan lebih awal hanya akan di anggap sebagai hal yang terlalu di lebih-lebihkan. Tapi hari ini ia menyardari bahwa semakin Pingting terlihat nyaman semakin ia menjadi sangat gelisah. Ia tak punya pilihan lain, ia segera berkata pada Hongqian, “Jaga ia dengan seksama, aku akan segera kembali.”

 

Ia segera keluar ruangan, mengingatkan penjaga pintu untuk benar-benar memperhatikannya. Dengan menekan gigi-giginya ia menuju ruangan kerja Chu Beijie.

 

Di tengah jalan ia bertubrukan dengan seseorang yang bertanya sambil tertawa, “Jendra Chu anda benar-benar berjalan dengan tergesa-gesa. Kemana tujuan anda?”

 

Moran menegakkan kepalanya dan melihat wajah yang tidak asing yang belum di lihatnya lagi sejak beberapa lama. “Zuiju? Kenapa kau disini? Dengan salju setebal ini, tabib jenius Huo sungguh mengijinkanmu dating kemari ?”

 

“Aku berangkat subuh dan tiba saat siang. Tidak berani beristirahat di perjalanan.” Zuiju mengenakan pakaian pelayan dan menegadah melihat ke langit. “Sungguh cuaca yang mengerikan. Saljunya hanya berhenti sebentar. Kalau saja bukan karena surat yang ditulis oleh Tuan Besar sendiri tentang permintaan darurat yang tidak boleh di tunda, Guru takkan mengijinkan aku pergi keluar. Haaah, salju tahun ini tidak mau berhenti dan kaki Guru kambuh kembali.”

 

“Kau…”

 

“Pertanyaan bisa menunggu. Kudengar kau bertanggung jawab untuk menjaga Nona Bai yang terkenal keji itu. Cepatlah bawa aku kesana.”

 

Zuiju belajar pada seorang tabib jenius dari Dong Lin , Huo Yunan, ia mempelajari sekitar tujuh atau delapan puluh persen keahlian gurunya. Tentu saja Moran mengerti mengapa Chu Beijie memberikan permintaan darurat dan memintanya datang. “Tentu saja, akan kujelaskan sambil jalan.” Moran memimpin jalan menuju ruangan Pingting, ia berkata dengan pelan, “Tidak masuk makanan selama dua hari dan menolak air juga. Tubuhnya sudah lemah sebelum ia memulainya, dan ketika malam, ia tak berhenti batuk!”

 

“Shh.” Zuiju menggerakkan tangannya. Mereka tiba di luar ruangan dan mengintip ke dalam. Dan ketika berbalik, alis matanya berkerut.

 

“Itu dia?”

 

“Kenapa?”

 

“Tidak baik.”

 

Diluar ruangan, terdengar suara langkah kaki berderak di atas salju. Seorang ibu petugas dapur membawa nampan makanan.

 

Hongqian keluar dari dalam ruangan dengan tergesa-gesa, mengosok tangannya dengan gugup. “Makanan sudah tiba?” ia menerima nampannya dan berkata, “Tuan Besar meminta beberapa hidangan Gui Le juga, apa sudah di buat?”

 

“Sudah, untuk beberapa hidangan ini, seluruh dapur porak poranda. Bagaimana mungkin menyiapkan hidangan Gui Le dalam waktu cepat di tempat seperti ini?” Petugas dapur menengadah dan melihat ke dalam ruangan, lalu berbisik, “Bagaimana keadaannya?”

 

Pertanyaan ini membuat Hongqian menjadi khawatir lagi. “Bagaimana ? aku khawatir sampai mau pingsan tapi Nona sangat luar biasa tenang. Biar kukatakan padamu, Tuan Besar bilang, kalau sampai terjadi sesuatu padanya….” Hongqiang menunjuk ke arah dalam, “bukan hanya aku, tapi seluruh dapur juga menjadi taruhannya.”

 

Si petugas dapur menjadi pucat.

 

“Berikan nampan makanan ini padaku.” Disamping mereka tiba-tiba sebuah wajah asing muncul.

 

Hongqian terkejut dan melompat ke belakang. Ia tidak bersuara ketika Zuiju mengambil nampannya darinya. “Tuan Besar sudah memerintahkan, mulai sekarang aku yang akan menggurus Nona Bai, Hongqian bisa tetap disini untuk membantuku mengerti melakukan perkerjaan-pekerjaan disni. Kau bisa memanggilku Zuiju.”

 

Walaupun Hongqian terkejut, tapi ia lega ada seseorang yang menggantikannya dari tekanan melakukan kesalahan. Ia membungkukan kepalanya dan berkata. “Tentu saja.”

 

“Masih ada pekerjaan di dapur, aku harus pergi. Nampan ini tidak perlu dikembalikan ke dapur, aku akan mengambilnya sendiri. Cukup letakan saja di meja di ruangan sebelah.” Petugas dapur segera berlalu melewati tumpukan salju yang tinggi dari arah ia datang.

 

Moran berjalan mendekati mereka. “Bawa makananya ke dalam sudah hampir dingin.”

 

Zuiju mengangguk dan berjalan masuk ke dalam. Ia melihat Hongqian mengikutinya di belakang, Ia segera berbisik, “Kau tak perlu ikut, biar aku mencobanya sendiri.”

 

Hongqian sangat tahu sifat Pingting, kemampuannya terbaiknya adalah mempertahankan pendapatnya tak peduli seseorang akan menagis dan memohon seperti apapun. Tapi melihat keyakinan Zuiju, ia tak yakin harus berkata apa. Ia melirik ke arahnya dan mengangguk lalu pergi ke ruang sebelah.

 

Zuiju menaikan tirai, berdiri di dekat pintu, dan diam memperhatikan Pingting yang sedang membaca di atas tempat tidurnya.

 

Setelah beberapa saat, akhirnya ia berjalan menuju meja, meletakan nampannya dan membuka penutup hidangan. Satu demi satu Zuiju menata hidangan di atas meja yang masih terasa hangat.

 

Dua hidangan daging, dua hidangan sayur, sup ayam kukus dengan jamur kuping, semangkuk bubur yang direbus dengan pas dan empat hidangan Gui Li.

 

Sepuluh macam seluruhnya, dengan warna yang sangat menarik, penuh rasa dan nikmat. Sungguh membuat airliur mengalir.

 

Setelah selesai menata hidangan ia berdiri dekat tempat tidur dan dengan hati-hati berkata. “Pelayanmu Zuiju, atas perintah Tuan Besar, telah datang, khusus untuk melayani Nona Bai.”

 

Pingting tidak bergerak tetap menunduk dan membaca. Lehernya yang terkulai lemah berwarna putih pucat sungguh menyedihkan.

 

“Aku tahu semua perkataan telah digunakan oleh Hongqian, dan walaupun hidangan di meja adalah kelezatan yang sulit di dapat di gunung atau lautan, Nona tidak berhasrat untuk menyantapnya.” Zuiju tersenyum dengan malu-malu, “Harapan Nona sebernarnya sederhana, Nona menginginkan Tuan Besar berada di sini Nona. Dan dengan sifat Tuan Besar, pastinya hanya dengan masalah genting dan merupakan cara terakhir yang bisa menaklukkannya. Untukku, kalau memang ini adalah cara terakhir, dan akhirnya Tuan Besar datang, anda tidak akan bisa bertahan. Masalah ‘aku mengujimu atau kau yang mengujiku’ ini, hanya akan mengakibatkan kematianmu dan membuat Tuan Besar berduka selamanya. Nona orang yang bijak, mengapa tetap melanjutkan hal bodoh seperti ini?”

 

Pandangan Pingting akhirnya beralih dari perkamennya dan menatap Zuiju.

 

Zuiju melihat gerakannya dan berjalan mendekat, dan berbisik, “Perasaan Nona pada Tuan Besar sangat dalam dan tak bisa membiarkan Tuan Besar sendirian bukan? Anda harus menjaga tubuh anda agar bisa memenangkan cinta Tuan suatu hari nanti. Aku punya sebotol obat istimewa, racikan rahasia keluarga. Cukup satu bisa mengantikan makan sehari. Dan makanan di meja, Nona tidak perlu khawatirkan itu. Cukup kembalikan saja seperti biasa. Dan dalam dua hari, Tuan Besar pasti panic dan segera datang melihat Nona.”

 

Zuiju mengeluarkan sebuah botol kecil dari lengannya dan mengoyangkannya di depan Pingting. “Cara ini tak akan diketahui oleh siapapun, atapun hantu, juga para dewa. Ini tepat sekali untuk menguji perhatian Tuan Besar kepada Nona dan tidak merusak tubuhmu. Bagaimana menurut Nona?”

 

Moran telah bersembunyi di balik pintu, pendengarannya diatas rata-rata dan bisa menangkap sekitar tujuh puluh lima persen ucapan Zuiju, dan ia berpikir apa yang dilakukan Zuiju sangat cerdas.

 

Untuk menyerang lawan yang kuat, utamakan menyerang hatinya. Sebotol obat adalah umpan yang tepat, agar kedepannya lebih mudah.

 

Pandangan Pingting tetap lembut dan sejernih embun pagi. Ia menatap Zuiju agak lama sebelum akhirnya membuka mulutnya dan berbicara, “Bisakah kau mencium wangi salju?” karena tidak mengkonsumsi makanan maka suara Pingting sangat serak tapi tetap memiliki semagat.

 

Zuiju terperanjat, tidak yakin bagaimana harus menjawab.

 

Pingting perlahan menoleh kearah salju yang sedang berjatuhan dan matahari sedang mencoba berlari menghindari awan putih tebal.

 

Pingting meregangkan alis matanya dan melanjutkan kata-katanya. “Hanya mereka yang memiliki hati yang murni yang mampu mencium wangi salju. Kalau kau tidak bisa mengatasi kesedihan dan terus-menerus dilanda gelisah, apa bedanya hidup atau mati? Aku sudah menemukan cara untuk mati, pergilah dan katakan pada Tuan Besar kalau Pingting sekarang sangat merasa tenang.”

 

Zuiju merasa bingung berberapa saat sebelum akhirnya ia memasukan botol obatnya kembali ke lengan bajunya. Ia beranjak pergi. Diluar pintu ia melihat Moran yang terkejut dan sangat putus asa. Ia tersenyum kecil, “Tak ada lagi yang bisa kulakukan, kecuali menyakinkan Tuan Besar untuk datang segera.”

 

Moran mengela napas dengan pasrah. “Mudah untuk dikatakan daripada dilakukan, Tuan Besar bahkan lebih sulit diyakinkan daripada Nona Bai. Aku hanya bisa berharap Tuan akan berubah pikiran karena khawatir. Kau dan aku akan menanggung hukuman seperti apa dari Tuan Besar?”

 

Hubungan antara pria dan wanita memang sangat mengerikan, bisa membuat seseorang yang begitu cerdas seperti Tuan Besar terjatuh ke dalam lubang perangkap, mempertaruhkan hidupnya sebagai resiko. Permainan berbahaya antara dua orang cerdas ini bisa menghasilkan banyak kerugian.

 

Zuiju berkata lagi, “Kalau di satu tempat tidak berhasil, maka harus mencoba tempat lainnya. Biar aku mencobanya.” Meninggalkan Moran di belakangnya, Zuiju berjalan menuju ruang kerja Chu Beijie seorang diri.

 

Chu Beijie sedang berada di ruang kerjanya. Ia memegang secangkir teh di tangannya, tapi sama sekali tidak di minumnya sampai tehnya menjadi dingin.

 

Kemudian ia mendengar suara seseorang mendekat. “Zuiju ingin berbicara dengan Tuan Besar.”

 

Chu Beijie segera berdiri dari kursinya, sebelum menyadari kalau perbuatannya terlalu menunjukan kata hatinya. Ia duduk kembali. Meletakan tehnya kembali di meja dan berkata. “Masuklah.”

 

Zuiju berjalan memasuki ruangan dan membungkuk pada Chu Beijie. “Tuan, Zuiju telah melihat Nona Bai.”

 

“Masih tidak mau makan?”

 

“Benar.”

 

“Bagaimana tubuhnya?”

 

“Melihat dari raut mukanya, sangat tidak bagus.”

 

Chu Beijie berkata lagi, “Hm.” Dengan suara dalam dan berat, “Kau belum memeriksa nadinya?”

 

“Belum.”

 

“Memberikannya racikan obat?”

 

“Belum.”

 

“Melakukan akupuntur?”

 

“Belum.”

 

Chu Beijie tertawa dingin. “Gurumu begitu memuji kepandaianmu, tentang bagaimana kau bisa mengetahui niat seorang pasien, sehingga kondisi kejiwaan bisa disembuhkan. Karena kau tidak memeriksa nadinya, tidak juga memberinya obat atau melakukan akunpuntur padanya, kurasa kau sudah memiliki cara lain untuk membantunya?”

 

“Benar.” Zuiju menjawab dengan sedikit gembira, “Zuiju sudah memiliki sebuah cara untuk menolongnya.”

 

“Oh?” sebuah sinar menandakan kertertarikan berkebat di mata Chu Beijie. “Katakan, bagaimana kau akan melakukannya?”

 

Zuiju berpikir dengan hati-hati sejenak kemudian ia berkata dengan cepat, “Kalau Tuan tetap menolak untuk menemui Nona Bai, maka rencana terbaik Zuiju untuk menolong Nona Bai adalah menyiapkan racun untuknya, agar ia bisa meninggal tanpa merasa sakit.” Zuiju berhenti sejenak dan menghela napasnya. “Tak ada seorangpun yang bisa merubah tekad Nona Bai. Hanya sebuah kalimat darinya, bukan kata-kata ancaman juga bukan kata-kata fitnah tapi sesuatu yang keluar dari dasar hatinya. Ia menunggu keputusan Tuan, tanpa amarah dan benci. Hati seorang tabib seperti orang tua pada anaknya, mengetahui kalau masalah ini sudah menuju jalan buntu, memberinya racun adalah pilihan yang paling baik.”

 

Chu Beijie menahan napasnya, kepalan tangannya mengendur, lalu ia mengepalkannya lagi. Ia berkata dengan pelan, “Apa yang ia katakan?”

 

“Ia bertanya pada Zuiju apakah bisa mencium wangi salju.” Wajah Zuiju berusaha untuk mengingat-ingat, “Ia bilang, hanya mereka yang berhati murni yang mampu mencium wangi salju.”

 

Chu Beijie tiba-tiba berdiri, seperti baru saja disambar petir. Lama sekali, ia sepertinya memikirkan sesuatu dengan sangat dalam. “Benarkah itu yang ia katakana?” Chu Beijie bertanya.

 

“Tuan, anda harus mengeraskan hati dan merelakannya.”

 

Kata-kata Zuiju belum selesai diucapkan ketika Chu Beijie sudah mendorong pintu ruang kerjanya yang berat itu terbuka lebar.

 

Udara dingin menyembur ke dalam, menyebabkan gulungan-gulungan karya seni berterbangan dengan berisik menabrak tembok.

 

Melihat punggung Chu Beijie, Zuiju menyembunyikan senyumnya. “Kau lihat guru, Aku benar bukan? Yang sakit adalah Tuan Besar.”

 

Melangkah masuk ke ruangan, Chu Beijie sepertinya tidak mampu bergerak menghadapi tatapan mata Pingting.

 

Ia telah sering memikirkan, tapi tidak pernah terlintas sama sekali kalau Pingting akan menunggunya dengan cara seperti ini.

 

Pingting masih berbaring di atas tempat tidurnya, berbalut selimut, kepalanya diatas bantal empuk.

 

Selimut ungu menyelimuti tubuhnya setinggi pinggang, memperlihatkan kerapuhan yang luar biasa. Sebuah gulungan perkamen separuh terbuka.

 

Segalanya tetap indah seperti sebuah karya seni.

 

Mata hitamnya yang kelam kemudian menghilang, ia menutup matanya. Bulu matanya atasnya yang hitam beristirahat dengan sempurna di atas bulu mata bawahnya.

 

Sesuatu seperti sebuah senyuman terbentuk di atas bibirnya yang kering.

 

Saat itu, hanya ada satu hal di pikiran Chu Beijie.

 

Pingting telah meninggal.

 

Ia sudah tidak ada lagi, pergi dengan sebuah senyuman.

 

Dunianya hancur menjadi kepingan yang tidak terhitung, seperti ada seekor binatang buas memperlihatkan taringnya dan menelan empat musim dalam sekejab.

 

Segalanya seperti hilang, bunga-bunga musim semi, bulan musim gugur, kumbang musim panas, salju musim dingin. Seluruh warna menghilang.

 

Pingting meredup seperti melodinya yang berangsur-angsur menghilang.

 

Sudah menghilang.

 

Chu Beijie berdiri seperti patung tanah liat yang mulai hancur. Moran mendekatinya untuk menyangganya tapi tangan Chu Beijie mendorongnya.

 

Hongqian masuk ke dalam ruangan dan melihat sosok Chu Beijie. Suaranya bercampur antara terkejut dan gembira ketika ia menangis, “Nona, Nona Bai! Tuan Besar sudah datang!” ia memeluk Pingting dan berbisik, “Jangan tidur lagi, Nona, Tuan Besar sudah datang!”

 

Hongqiang menguncangnya beberapa kali.

 

Chu Beijie melihat bola matanya sedikit bergerak dan akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka sedikit demi sedikit.

 

Kelopak mata itu yang telah menyembunyikan semua warna di kehidupan Chu Beijie. Seiring perlahan terbuka, cahaya juga mulai bermunculan. Semakin lebar matanya, semakin berserakan warna-warna yang tadi bersembunyi. Warna-warna mulai bermunculan di selimut, tempat tidur, bantal, perkamen di tangannya dan pipi yang kemerahan di wajah Hongqian, yang sebelumnya semua berwarna putih dan abu-abu.

 

Sepertinya sebuah cahaya terang mengelilingi Pingting, menyebabkan sulit melihatnya.

 

Chu Beijie akhirnya menyadari tangan dan kakinya, tapi pikirannya masih hampa dan matanya penuh dengan cahaya. Bersyukurlah kakinya sepertinya punya pikiran sendiri dan membuatnya duduk di atas kursi. Ia memilih semangkuk sup lalu membawanya ke samping tempat tidur.

 

Ia tidak tahu kapan, tapi Moran dan Hongqian telah menghilang.

 

Chu Beijie memegang sup dan Pingting berkedip.

 

Mereka berdua tidak menyembunyikan kenyataan kalau mereka sedang saling menatap satu sama lain.

 

“Tuan…”

 

“Apa kau harus mati?”

 

“Apa Tuan ingin Pingting tetap hidup?”

 

Chu Beijie mengerutkan bibir tipisnya, dengan diam menatap sup di tangannya.

 

“Jangan khawatir. Kalau Tuan tidak ingin bicara Pingting tak akan memaksa.” Pingting bergerak, berusaha untuk duduk. “Aku akan meminumnya sendiri.”

 

“Jangan.” Tanpa berpikir, tangan Chu Beijie sudah menekan pundaknya yang kurus, membuat tubuhnya berbaring kembali. “Biar aku saja,” ia membisikan tiga kata ini dan mengambil sebuah sendok.

 

Ia perlahan menyendoknya dan mendekatkan ke bibirnya, perlahan meniunya. Tapi kemudian ia menyadari supnya sudah tidak terlalu panas, ia mengerutkan dahi dan berbalik hendak menyuruh seseorang untuk mengantinya.

 

“Tak pa-pa,” kata sebuah suara lemah.

 

Chu Beijie berbalik.

 

Bibir indahnya kering dan pecah-pecah karena kekurangan air. Melihatnya seperti mengiris hatinya.

 

“Jangan, kau harus memakannya ketika panas.” Chu Beijie berkata keras, “Kirim seseorang ke dapur secepatnya dan katakan untuk membawa hidangan baru.”

 

Perkataannya tidak ada keraguan sama sekali. Mereka yang berada di luar ruangan menjawab ‘Baik’ dan segera berlari untuk menyampaikan perintahnya.

 

Ia meletakan sup dinginnya, tatapannya tak mampu berpaling dari bibir pucat Pingting. Jari-jari Chu Beijie yang kuat perlahan menyentuh retakan-retakan halus di bibirnya.

 

“ini pecah….” Chu Beijie berguman. Ia meletakkan lidahnya yang panas di bibir Pingting, melembabkan lukanya yang menggering.

 

Sikap diam Pingting akhirnya berakhir. “Ah,” Pingting menangis dengan suara pelan dan berbalik, terkejut dan merasa malu, tapi tangan Chu Beijie yang besar dan lembut menariknya kembali.

 

“Bukankah hidup dan matimu, juga kehormatanmu adalah milikku?” Chu Beijie bertanya dengan pelan.

 

Sebuah ciuman panas dari Chu Beijie seperti sebuah serangan para prajurit Dong Lin di bawah pimpinannya, sebuah kekuatan yang sesungguhnya.

 

Pingting seperti setangkai bunga yang rapuh yang tak mampu membendung kekuatan angin.

 

Ia menahan napasnya.

 

Ia dengan lemah meletakkan jari-jarinya yang ramping di baju Chu Beijie. Entah dengan niat mendorongnya menjauh atau malah berusaha menariknya lebih dekat.

 

Salju yang bertiup di depan sepertinya sudah agak reda dan wajah Pingting jadi merona dan panas.

 

Pingting berusaha membuka matanya lebih lebar dan melihat mata Chu Beijie yang bersinar.

 

“Tuan, supnya sudah siap…”

 

Tidak hanya sup saja yang datang, tapi juga empat nampan penuh hidangan, dan semuanya masih mengepulkan asap.

 

Hongqian dan Zuiju mengintip kea rah Pingting dan Chu Beijie, dan rona kemerahan muncul di dekat telinga mereka. Mereka mengigit bibir mereka sambil merapikan hidangan-hidangan dengan sedikit kesulitan.

 

Para petugas dapur memang luar biasa. Mereka berhasil menyiapkan begitu banyak hidangan dalam waktu yang sangat singkat.

 

Dua hidangan daging dan dua hidangan sayur diletakan di tengah meja dan dikelilingi dengan berbagai hidangan berwarna warni disekitarnya, seperti bintang-bintang yang menemani sang bulan yang bersinar terang. Dari merah lalu jingga kemudian kuning lalu unggu, semuanya berwarna cermelang.

 

Bunga daun bawang mengapung di atas sup teratai. Dengan cuaca bersalju seperti ini, pasti sangant sulit untuk mendapatkan bahan-bahan itu.

 

Zuiju membawakan mangkuk sup dengan hati-hati lalu menyendok sesendok dan perlahan meniupnya sebelum mengarahkannya pada Pingting.

 

“Nona Bai, Tuan Besar sudah disini, makanlah.”

 

“Ayo makan.”

 

Pingting menolak membuka mulutnya dan juga tidak berkata apa-apa.

 

Meskipun sup itu sangat harum, tapi ia sama sekali tidak tergoda.

 

Setelah ciuman yang membara dan sikapnya yang penuh kasih sayang, akhirnya Chu Biejie melepaskan pelukannya dan mengerutkan dahi. “Apa lagi syaratnya?”

 

Pingting merapatkan bibirnya, sikap dinginnya tersembunyi di matanya ketika ia dengan enggan menatap Chu Beijie.

 

Chu Beijie duduk di kursi, merasakan seluruh tubuhnya terbakar di bawah tatapan Pingting. Lebih rumit dari yang paling rumit, tidak sakit juga tidak lelah, dan sangat sulit di terka.

 

Bagaimana mungkin ia membiarkannya melakukan seperti keinginannya? Chu Bejie melebarkan kelopak matanya, tidak berkata apapun ketika ia menatap balik ke arah Pingting.

 

Tatapan Chu Beijie lebih tajam.

 

Semakin Chu Beijie bertambah kuat, Pingting semakin melemah. Jika salah satu menjadi lebih mempesona yang lainnya menjadi lembut, menunjukkan sikap keras kepalanya.

 

Semakin keras kepala semakin mengagumkan.

 

Hati Chu Beijie melemah. Ia hanya bisa menghela napas.

 

Dalam pertempuran antara dua pihak, bukan yang terkuatlah yang menang.

 

Tak heran, biasanya orang yang berhati lembutlah yang menjadi pahlawan sejati.

 

“Buka mulutmu.” Chu Beijie tak berdaya, ia mengambil mangkuk dari tangan Zuiju.

 

Ketika ucapan itu terlontarkan, sebuah senyum gembira muncul dari wajah sedih yang pucat milik Pingting. Sebuah senyuman yang menampilkan kemampuan yang tak terbatas. Chu Beijie menggelengkan kepalanya ketika melihat senyumnya. Tangannya yang telah memegang pedang begitu banyak tak bisa berhenti gemetar, menjatuhkan beberapa tetes sup di atas selimut unggunya.

 

“Minumlah pelan-pelan.” Chu Beijie merendahkan suaranya, berusaha menenangkan dirinya sendiri.

 

Sebuah tawa tersembunyi di mata Pingting. Ia dengan patuh membuka mulutnya dan menelan semulut penuh sup hangat. Teratainya terasa manis dan dagingnya lembut.

 

“Tiup lagi,” Pingting tiba-tiba berkata.

 

“Eh ?”

 

“Tiup lagi.” Ia tersenyum lebih lebar, kedua lesung pipitnya terlihat malu. “Panas.”

 

Chu Beijie yang telah memimpin jutaan prajurit tak pernah mengira kalau ia akan merasa begitu tak berdaya seperti ini. Ia telah begitu melekat pada wanita yang tak pernah merasa puas ini. Setiap ucapannya membuatnya merasa memalukan.

 

Ia dengan kikuk duduk di tempat tidur, meniup sup sampai dingin sebelum dan dengan sedikit ceroboh mendekatkannya ke bibir Pingting.

 

Pingting dengan patuh membuka mulutnya sekali lagi dan meneguk sup teratai yang lezat itu. Berbaring di atas bantal ia tertawa kecil. “Ini sup terbaik yang pernah kudapatkan, Tuan setuju?”

 

Chu Beijie menjawab dengan mengigit bibirnya, “Bagaimana aku tahu ?”

 

Pingting melihat ekspresi Chu Beijie yang sedang berusaha sabar dan Pingting tak bisa menahan tawanya. Dan setelah melihat Chu Beijie yang mulai jengkel, tangannya yang seputih batu pualam mengambil sedok dan mengisinya dengan sup lalu mengarahkan ke mulut Chu Beijie.

 

Chu Beijie menatapnya.

 

Matanya sangat jernih, seperti bukit musim semi yang segar, tanpa sedikitpun noda. Pemandangan ini terlalu menyakitkan dan membuatnya kesal. Ia menolak membuka mulutnya. Tapi dengan begitu Pingting merasa telah dikecewakan, kekecewaan yang paling mengecewakan.

 

Sangat kejam, sangat menjengkelkan!

 

Chu Beijie mengigit bibir kuat, tapi kemudian ia sepertinya berubah pikiran. Ekspresinya berubah seperti saat-saat yang menentukan dalam sebuah pertempuran. Ia segera membuka mulutnya lebar dan melahap sesendok penuh sup kedalam mulutnya. Tubuhnya yang besar bergerak maju, sebelah tangannya tetap memegang kuat mangkuk sup dan sebelahnya lagi memegang bahu Pingting, menekan bibirnya ke bibir Pingting.

 

Apa yang terasa bukan hanya sup tapi juga kekuatan Chu Beijie, kepintarannya, sikap dominannya, keangkuhannya.

 

Bagaimana bisa ia menyerah pada semua keinginanan Pingting?

 

Bulumata Pingting bergetar. Ia menutup matanya, tangannya yang lemah memeluk pundak Chu Beijie yang lebar. Sambil mengertakan giginya ia berbisik, “Mulai hari ini dan seterusnya kalau Tuan  tulus pada Pingting, Pingting akan 100kali bersikap lebih tulus pada dirinya sendiri. Apapun yang terjadi, Pingting hanya punya satu nyawa, membuangnyapun tidak masalah, kalau Tuan sudah tidak menginginkannya.”

 

Pingting berada di pelukan hangat Chu Beijie dan merasakan seluruh tubuhnya menjadi kaku ketika mendengar Chu Beijie berkata, “Berapa kali kau berencana untuk menentangku?”

 

“Seribu kali tidak cukup. Bahkan puluhan ribu kalipun tidak cukup.” Pingting menjawab dengan sangat pelan tanpa sedikitpun tanda penyesalan.

 

Kemaran Chu Beijie berkembang dua kali lebih besar dibanding sebelumnya tapi kemudian berhenti ketika dua tangan ramping memeluknya. Ia menatap ke bawah dan melihat airmata di wajahnya. Airmata yang terlihat cocok dengan kulitnya yang berwarna gading, mengalir tapi tidak sampai terjatuh. Giginya yang putih menahan kuat bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tangisnya.

 

Matanya yang cerah tidak takut dengan tatapan tajam Chu Beijie, sangat kesepian dan tidak menyembunyikan niat apapun.

 

Kemarahannya hilang dengan segera dan seperti sebuah baja murni berumur ribuan tahun akhirnya meleleh sekali lagi.

 

“Aku begitu membencimu! Kau begitu jahat!” Chu Beijie memeluknya dengan erat seperti ingin memasukkan Pingting ke dalam tulang-tulang Chu Beijie. “Sungguh membencimu Bai Pingting! Sungguh kejam….”

 

Matahari bersembunyi di balik awan, salju yang menawan perlahan turun sekali lagi.

 

Sebenarnya tidak masalah, karena di dalam ruangan terasa sangat hangat. Meskipun saat ini musim dingin tapi di dalam seperti dataran musim semi.

 

Hongqian masih mengintip ke dalam dan mukanya bersemu sangat merah. Wajahnya dengan segera berkerut. “Kau mengacaukannya. Sup itu tidak habis dimakan. Bukankah itu tidak baik?”

 

Zuiju tersenyum sedikit. “Sudah ada orang yang merawat tubuh Nona Bai, untuk apa kita ikut campur? Ayo kemari, karena salju ini begitu indah kita harus pergi ke halaman dan membuat boneka salju.”

 

Tidak lagi tertarik dengan adengan mengharukan di dalam, setelah pertempuran antara cinta dan takdir, mereka semua pergi ke halaman dan membuat gundukan salju yang tinggi.

 

Guru, sepertinya Tuan Besar Zen Beiwang telah jatuh cinta pada wanita yang sangat sulit di tundukan.

 

--00--

 

novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar