Moran
tidak bisa terlelap malam itu. Ekspresi wajah Chu Beijie malam itu membuatnya
sangat gelisah, dan ia tidak berani menoleh ke arah Pingting.
Siapa
yang bisa menerka kata-kata seperti apa yang telah dilontarkan dari bibir
merahnya yang menyebabkan Tuan kehilangan kesabarannya sampai seperti ini?
Tiupan
angin dan salju sama sekali tidak berhenti sejenakpun sepanjang malam.
Moran
berdiri di satu sisi dan melihat Hongqian sedang menagis sambil memohon, “Nona
kumohon, jangan membuat masalah. Tuan Besar sudah sangat marah.”
Pingting
bersandar dan ia terbatuk, matanya memperlihatkan kebulatan tekadnya. Ia
menoleh ke arah Hongqian dan berkata dengan bercanda, “Jadi hanya demi Tuan.”
Kedua
mata Hongqian merah dan ia segera mengelengkan kepalanya. “Bukan, tentu saja
bukan begitu…. bukan demi Tuan Besar, untuk Nona. Nona jangan merusak kesehatan
seperti ini. Setidaknya makanlah sedikit. Kalau Nona jatuh sakit ketika cuaca
sedingin ini, apa yang harus kulakukan?”
Pingting
memikirkan Hongqian sejenak tapi ia tetap mengeraskan hatinya. “Kemarilah.”
Pingting menarik Hongqian untuk duduk disebelahnya dan menenangkan gemetarnya.
Pingting tertawa kecil, “Gadis bodoh, kau tak perlu khawatir.”
“Oh
tidak, bagaimana mungkin aku tidak khawatir?” berkat bujukan Pingting yang
lembut air mata Hongqian berhenti mengalir. “Tuan Besar berkata kalau terjadi
sesuatu pada Nona, pelayanmu ini akan menerima hukuman militer.” Hongqian
mengusap airmatanya, “Tuan Besar tidak pernah mengingkari kata-katanya.” Ia
gemetar memikirkan tatapan tajam penuh amarah Chu Beijie.
“Cara
militer sangat kasar, aku tidak bisa membantumu.” Pingting tidak tergesa-gesa,
ia perlahan berbaring menghadap belakang.”
Pada
saat itu Hongqian menyadari, adalah hal mustahil untuk merubah keputusannya,
maka ia segera berdiri. Mengibaskan lengan bajunya dan berkata, “Nona, tentu
saja anda bisa membantuku. Kalau Nona makan sedikit saja, anda telah sangat
berjasa untukku.”
Pingting
sepertinya sangat jauh, tidak mendengarkan dan seperti memikirkan sesuatu. Ia
terlihat sangat pusing. Tatapannya berhenti sebentar pada Hongqian dan akhirnya
dengan berat menutup matanya, seperti mencoba untuk tertidur.
Hongqian
bagaimanapun tidak menyerah. Ia memohon lagi, “Nona, anda memiliki hati yang
besar. Nona anda tak mungkin membiarkan aku mati benarkan?”
“Hidup
dan matimu di tangan Tuan Besar.” Pingting menjawab samar-samar. “Hidup dan
matiku juga di tangan Tuan Besar. Jangan memohon padaku, memohonlah pada Tuan
Besar.” Ia berbalik menghadap tembok,
dan tak berkata apapun lagi.
Moran
memperhatikannya sepanjang malam. Pagi kedua, ia segera mendatangi Chu Beijie
di kamar tidurnya. Pelayan Chu Beijie memberitahunya, “Tuan Besar berlatih
pedang sejak subuh.” Moran segera tergesa-gesa menuju halaman kecil tempat Chu
Beijie berlatih. Ketika ia hampir mencapai tempatnya terdengar suara nyaring
yang mengalahkan suara tiupan angin salju, suara pedang saling memukul,
terkeju, Moran segera memasuki halaman.
Chu
Beijie sedang berlatih tanding dengan beberapa bawahannya, pedang tumpul di tangannya
berayun dengan cepat membelah secara horizontal dan vertical, kegigihannya
sulit dihentikan. Dan setiap ia mengayunkan pedangnya setidaknya satu orang
akan terjatuh, tapi semua bawahannya adalah petarung yang gigih dan para
prajurit pemberani. Saat ini belum lama sejak mereka mengeluarkan pedang mereka
dan mulai menyerang, tapi sudah sangat sulit untuk bernapas. Untuk yang tidak
mengenal mereka, pertarungan ini terlihat seperti pertempuran antara hidup dan
mati.
Ketika
Moran menginjakan kakinya di halaman sebuah bayangan segera menghampirinya.
Moran beraksi dengan cepat, ia mengangkat tangannya, menangkapnya dan menekan
wajah Luoshang di tembok halaman. Ia berbisik, “Bagaimana ?”
“Kau
akhirnya tiba.” Luoshang juga salah satu penjaga pribadi Chu Beijie. Ia
mengeluh lega ketika melihat Moran muncul. “Tenangkan Tuan Besar, ia seperti
orang gila hari ini. Kami telah berlatih di tengah cuaca bersalju selama hampir
setengah jam. Sama sekali tidak ada tanda akan selesai. Kami semua mungkin
harus beristirahat total di tempat tidur selama delapan atau sepuluh hari mulai
sekarang.” Meskipun begitu, Luoshang membungkuk, mengambil pedangnya dan
berlari, kembali menuju pertarungan. Chu Beijie membalas serangannya. Dan dua
orang lainnya menahan gerakan pedannya.
Clang! Bunyi dentum pedang
beradu.
Kedua
bahu Luoshang hampir mati rasa. Pedang tumpulnya jatuh ke tanah dengan suara
pelan. Wajah Chu Beijie sama sekali tanpa ekspresi ketika ia berteriak,
“Usahamu masih belum cukup.” Ia mengangkat kaki kirinya dan menendang Luoshang
dekat pinggangnya sehingga ia berguling keluar dari area pertarungan.
“Tuan,
aku ingin melaporkan sesuatu.” Moran berdiri agak jauh dari area mereka dan
berkata dengan suara pelan.
Chu
Beijie sepertinya sudah menunggu Moran. Ia melangkah kebelakang, menyarungkan
pedangnya, melihat ke arah yang lainnya dan melambaikan tangannya, “Sudah cukup
hari ini, kalian bisa pergi.”
Para
prajurit merasa sulit meluruskan punggung mereka. Mereka membungkuk dan segera
menjawab “baik” dan membantu yang lainnya untuk bangun dan bergegas pergi, tak
lupa mereka melayangkan tatapan terima kasih pada Moran ketika melewatinya.
“Apa
yang ingin kau laporkan?” Chu Beijie menyerahkan pedangnya dan mengambil handuk
hangat dari seorang pelayan. Meskipun angin sangat dingin dan salju sangat
lebat, ia hanya mengenakan selembar baju dan berkeringat banyak sekali.
“Hongqian
memohon sepanjang malam tapi Nona Pingting tetap bersikeras bahkan tidak minum
setetespun. Kupikir…”
Bang!
Tangan
Chu Beijie memukul meja kayu. Ia menatap Moran dengan tajam dan berkata dengan
dingin. “Kau bahkan tidak bisa menjaga seorang wanita? Dan kau melaporkan hal
ini sepagi ini? Pergi, aku bahkan tak ingin mendegar namanya.”
Bahkan
ketika menghadapi ribuan pasukan, Chu Beijie tidak pernah kehilangan
ketenangannya seperti saat ini. Moran tetap diam, tak berani berkata apapun.
Dan setelah beberapa saat, akhirnya Moran menjawab, “Baiklah” ia berjalan
menuju arah keluar halaman, ragu sejenak lalu ia berbalik menoleh ke arah Chu
Beijie. Tak ada tanda-tanda perubahan. Moran menghela napasnya dan berjalan
pergi.
Situasinya
menjadi semakin parah.
Setelah
hari kedua, tak peduli Hongqian menagis dan memohon seperti apapun, Pingting
tak mengatakan sepatah katapun.
Pingting
tidak hanya menolak makanan tapi juga teh dan segala jenis makanan. Apapun yang
dibawa ke ruangannya dalam kondisi hangat akan segera menjadi dingin tak tidak
tersentuh.
Hongqian
bertanya pada Moran di sudut di luar ruangan. “Apa yang harus kita lakukan? Ini
sudah dua hari. Kalau lebih lama lagi, bahkan orang sekuat bajapun tak akan
bertahan. Bisakah anda memikirkan cara lain?”
Wajah
tampan Moran menampakan senyum kecil. “Apa yang harus dilakukan? Mungkin
menghadapinya dengan cara militer? Dengan kesehatannya yang seperti ini,
memaksanya makan hanya akan membuat kondisinya lebih buruk.”
Keduanya
berdiri dalam keputusasaan. Karena diskusi mereka sama sekali tidak
menghasilkan ide lain, mereka akhirnya kembali ke ruangan.
Pingting
berada di dalam ruangan, sebuah gulungan perkamen sedang dibacanya dengan
senang. Ia menolak Hongqian mencuci rambutnya dan berusaha menyanggul rambutnya
sendiri. Rambut hitamnya yang berkilau ditahan dengan sebuah tusuk konde.
Beberapa helai perlahan jatuh ke bahunya, menampakkan keelokkan di wajahnya
dengan sikapnya yang menolak untuk makan. Melihat keduanya memasuki ruangan, ia
menaikkan pandangannya dan tersenyum kecil, lalu kembali menunduk untuk
meneruskan bacaannya.
Moran
tidak menyangka kalau rencanannya dilakukan dengan sangat hati-hati. Kalau saja
ini dilakukan lebih awal hanya akan di anggap sebagai hal yang terlalu di
lebih-lebihkan. Tapi hari ini ia menyardari bahwa semakin Pingting terlihat
nyaman semakin ia menjadi sangat gelisah. Ia tak punya pilihan lain, ia segera
berkata pada Hongqian, “Jaga ia dengan seksama, aku akan segera kembali.”
Ia
segera keluar ruangan, mengingatkan penjaga pintu untuk benar-benar
memperhatikannya. Dengan menekan gigi-giginya ia menuju ruangan kerja Chu
Beijie.
Di
tengah jalan ia bertubrukan dengan seseorang yang bertanya sambil tertawa,
“Jendra Chu anda benar-benar berjalan dengan tergesa-gesa. Kemana tujuan anda?”
Moran
menegakkan kepalanya dan melihat wajah yang tidak asing yang belum di lihatnya
lagi sejak beberapa lama. “Zuiju? Kenapa kau disini? Dengan salju setebal ini,
tabib jenius Huo sungguh mengijinkanmu dating kemari ?”
“Aku
berangkat subuh dan tiba saat siang. Tidak berani beristirahat di perjalanan.”
Zuiju mengenakan pakaian pelayan dan menegadah melihat ke langit. “Sungguh
cuaca yang mengerikan. Saljunya hanya berhenti sebentar. Kalau saja bukan
karena surat yang ditulis oleh Tuan Besar sendiri tentang permintaan darurat
yang tidak boleh di tunda, Guru takkan mengijinkan aku pergi keluar. Haaah,
salju tahun ini tidak mau berhenti dan kaki Guru kambuh kembali.”
“Kau…”
“Pertanyaan
bisa menunggu. Kudengar kau bertanggung jawab untuk menjaga Nona Bai yang
terkenal keji itu. Cepatlah bawa aku kesana.”
Zuiju
belajar pada seorang tabib jenius dari Dong Lin , Huo Yunan, ia mempelajari
sekitar tujuh atau delapan puluh persen keahlian gurunya. Tentu saja Moran
mengerti mengapa Chu Beijie memberikan permintaan darurat dan memintanya
datang. “Tentu saja, akan kujelaskan sambil jalan.” Moran memimpin jalan menuju
ruangan Pingting, ia berkata dengan pelan, “Tidak masuk makanan selama dua hari
dan menolak air juga. Tubuhnya sudah lemah sebelum ia memulainya, dan ketika
malam, ia tak berhenti batuk!”
“Shh.”
Zuiju menggerakkan tangannya. Mereka tiba di luar ruangan dan mengintip ke
dalam. Dan ketika berbalik, alis matanya berkerut.
“Itu
dia?”
“Kenapa?”
“Tidak
baik.”
Diluar
ruangan, terdengar suara langkah kaki berderak di atas salju. Seorang ibu
petugas dapur membawa nampan makanan.
Hongqian
keluar dari dalam ruangan dengan tergesa-gesa, mengosok tangannya dengan gugup.
“Makanan sudah tiba?” ia menerima nampannya dan berkata, “Tuan Besar meminta
beberapa hidangan Gui Le juga, apa sudah di buat?”
“Sudah,
untuk beberapa hidangan ini, seluruh dapur porak poranda. Bagaimana mungkin
menyiapkan hidangan Gui Le dalam waktu cepat di tempat seperti ini?” Petugas
dapur menengadah dan melihat ke dalam ruangan, lalu berbisik, “Bagaimana
keadaannya?”
Pertanyaan
ini membuat Hongqian menjadi khawatir lagi. “Bagaimana ? aku khawatir sampai
mau pingsan tapi Nona sangat luar biasa tenang. Biar kukatakan padamu, Tuan
Besar bilang, kalau sampai terjadi sesuatu padanya….” Hongqiang menunjuk ke
arah dalam, “bukan hanya aku, tapi seluruh dapur juga menjadi taruhannya.”
Si
petugas dapur menjadi pucat.
“Berikan
nampan makanan ini padaku.” Disamping mereka tiba-tiba sebuah wajah asing
muncul.
Hongqian
terkejut dan melompat ke belakang. Ia tidak bersuara ketika Zuiju mengambil
nampannya darinya. “Tuan Besar sudah memerintahkan, mulai sekarang aku yang
akan menggurus Nona Bai, Hongqian bisa tetap disini untuk membantuku mengerti
melakukan perkerjaan-pekerjaan disni. Kau bisa memanggilku Zuiju.”
Walaupun
Hongqian terkejut, tapi ia lega ada seseorang yang menggantikannya dari tekanan
melakukan kesalahan. Ia membungkukan kepalanya dan berkata. “Tentu saja.”
“Masih
ada pekerjaan di dapur, aku harus pergi. Nampan ini tidak perlu dikembalikan ke
dapur, aku akan mengambilnya sendiri. Cukup letakan saja di meja di ruangan
sebelah.” Petugas dapur segera berlalu melewati tumpukan salju yang tinggi dari
arah ia datang.
Moran
berjalan mendekati mereka. “Bawa makananya ke dalam sudah hampir dingin.”
Zuiju
mengangguk dan berjalan masuk ke dalam. Ia melihat Hongqian mengikutinya di
belakang, Ia segera berbisik, “Kau tak perlu ikut, biar aku mencobanya sendiri.”
Hongqian
sangat tahu sifat Pingting, kemampuannya terbaiknya adalah mempertahankan
pendapatnya tak peduli seseorang akan menagis dan memohon seperti apapun. Tapi
melihat keyakinan Zuiju, ia tak yakin harus berkata apa. Ia melirik ke arahnya
dan mengangguk lalu pergi ke ruang sebelah.
Zuiju
menaikan tirai, berdiri di dekat pintu, dan diam memperhatikan Pingting yang
sedang membaca di atas tempat tidurnya.
Setelah
beberapa saat, akhirnya ia berjalan menuju meja, meletakan nampannya dan
membuka penutup hidangan. Satu demi satu Zuiju menata hidangan di atas meja
yang masih terasa hangat.
Dua
hidangan daging, dua hidangan sayur, sup ayam kukus dengan jamur kuping,
semangkuk bubur yang direbus dengan pas dan empat hidangan Gui Li.
Sepuluh
macam seluruhnya, dengan warna yang sangat menarik, penuh rasa dan nikmat.
Sungguh membuat airliur mengalir.
Setelah
selesai menata hidangan ia berdiri dekat tempat tidur dan dengan hati-hati
berkata. “Pelayanmu Zuiju, atas perintah Tuan Besar, telah datang, khusus untuk
melayani Nona Bai.”
Pingting
tidak bergerak tetap menunduk dan membaca. Lehernya yang terkulai lemah
berwarna putih pucat sungguh menyedihkan.
“Aku
tahu semua perkataan telah digunakan oleh Hongqian, dan walaupun hidangan di
meja adalah kelezatan yang sulit di dapat di gunung atau lautan, Nona tidak
berhasrat untuk menyantapnya.” Zuiju tersenyum dengan malu-malu, “Harapan Nona
sebernarnya sederhana, Nona menginginkan Tuan Besar berada di sini Nona. Dan
dengan sifat Tuan Besar, pastinya hanya dengan masalah genting dan merupakan
cara terakhir yang bisa menaklukkannya. Untukku, kalau memang ini adalah cara
terakhir, dan akhirnya Tuan Besar datang, anda tidak akan bisa bertahan.
Masalah ‘aku mengujimu atau kau yang mengujiku’ ini, hanya akan mengakibatkan kematianmu
dan membuat Tuan Besar berduka selamanya. Nona orang yang bijak, mengapa tetap
melanjutkan hal bodoh seperti ini?”
Pandangan
Pingting akhirnya beralih dari perkamennya dan menatap Zuiju.
Zuiju
melihat gerakannya dan berjalan mendekat, dan berbisik, “Perasaan Nona pada
Tuan Besar sangat dalam dan tak bisa membiarkan Tuan Besar sendirian bukan?
Anda harus menjaga tubuh anda agar bisa memenangkan cinta Tuan suatu hari
nanti. Aku punya sebotol obat istimewa, racikan rahasia keluarga. Cukup satu bisa
mengantikan makan sehari. Dan makanan di meja, Nona tidak perlu khawatirkan
itu. Cukup kembalikan saja seperti biasa. Dan dalam dua hari, Tuan Besar pasti
panic dan segera datang melihat Nona.”
Zuiju
mengeluarkan sebuah botol kecil dari lengannya dan mengoyangkannya di depan
Pingting. “Cara ini tak akan diketahui oleh siapapun, atapun hantu, juga para
dewa. Ini tepat sekali untuk menguji perhatian Tuan Besar kepada Nona dan tidak
merusak tubuhmu. Bagaimana menurut Nona?”
Moran
telah bersembunyi di balik pintu, pendengarannya diatas rata-rata dan bisa
menangkap sekitar tujuh puluh lima persen ucapan Zuiju, dan ia berpikir apa
yang dilakukan Zuiju sangat cerdas.
Untuk
menyerang lawan yang kuat, utamakan menyerang hatinya. Sebotol obat adalah
umpan yang tepat, agar kedepannya lebih mudah.
Pandangan
Pingting tetap lembut dan sejernih embun pagi. Ia menatap Zuiju agak lama
sebelum akhirnya membuka mulutnya dan berbicara, “Bisakah kau mencium wangi
salju?” karena tidak mengkonsumsi makanan maka suara Pingting sangat serak tapi
tetap memiliki semagat.
Zuiju
terperanjat, tidak yakin bagaimana harus menjawab.
Pingting
perlahan menoleh kearah salju yang sedang berjatuhan dan matahari sedang
mencoba berlari menghindari awan putih tebal.
Pingting
meregangkan alis matanya dan melanjutkan kata-katanya. “Hanya mereka yang
memiliki hati yang murni yang mampu mencium wangi salju. Kalau kau tidak bisa
mengatasi kesedihan dan terus-menerus dilanda gelisah, apa bedanya hidup atau
mati? Aku sudah menemukan cara untuk mati, pergilah dan katakan pada Tuan Besar
kalau Pingting sekarang sangat merasa tenang.”
Zuiju
merasa bingung berberapa saat sebelum akhirnya ia memasukan botol obatnya
kembali ke lengan bajunya. Ia beranjak pergi. Diluar pintu ia melihat Moran
yang terkejut dan sangat putus asa. Ia tersenyum kecil, “Tak ada lagi yang bisa
kulakukan, kecuali menyakinkan Tuan Besar untuk datang segera.”
Moran
mengela napas dengan pasrah. “Mudah untuk dikatakan daripada dilakukan, Tuan
Besar bahkan lebih sulit diyakinkan daripada Nona Bai. Aku hanya bisa berharap
Tuan akan berubah pikiran karena khawatir. Kau dan aku akan menanggung hukuman
seperti apa dari Tuan Besar?”
Hubungan
antara pria dan wanita memang sangat mengerikan, bisa membuat seseorang yang
begitu cerdas seperti Tuan Besar terjatuh ke dalam lubang perangkap,
mempertaruhkan hidupnya sebagai resiko. Permainan berbahaya antara dua orang
cerdas ini bisa menghasilkan banyak kerugian.
Zuiju
berkata lagi, “Kalau di satu tempat tidak berhasil, maka harus mencoba tempat
lainnya. Biar aku mencobanya.” Meninggalkan Moran di belakangnya, Zuiju
berjalan menuju ruang kerja Chu Beijie seorang diri.
Chu
Beijie sedang berada di ruang kerjanya. Ia memegang secangkir teh di tangannya,
tapi sama sekali tidak di minumnya sampai tehnya menjadi dingin.
Kemudian
ia mendengar suara seseorang mendekat. “Zuiju ingin berbicara dengan Tuan
Besar.”
Chu
Beijie segera berdiri dari kursinya, sebelum menyadari kalau perbuatannya
terlalu menunjukan kata hatinya. Ia duduk kembali. Meletakan tehnya kembali di
meja dan berkata. “Masuklah.”
Zuiju
berjalan memasuki ruangan dan membungkuk pada Chu Beijie. “Tuan, Zuiju telah
melihat Nona Bai.”
“Masih
tidak mau makan?”
“Benar.”
“Bagaimana
tubuhnya?”
“Melihat
dari raut mukanya, sangat tidak bagus.”
Chu
Beijie berkata lagi, “Hm.” Dengan suara dalam dan berat, “Kau belum memeriksa
nadinya?”
“Belum.”
“Memberikannya
racikan obat?”
“Belum.”
“Melakukan
akupuntur?”
“Belum.”
Chu
Beijie tertawa dingin. “Gurumu begitu memuji kepandaianmu, tentang bagaimana
kau bisa mengetahui niat seorang pasien, sehingga kondisi kejiwaan bisa
disembuhkan. Karena kau tidak memeriksa nadinya, tidak juga memberinya obat
atau melakukan akunpuntur padanya, kurasa kau sudah memiliki cara lain untuk
membantunya?”
“Benar.”
Zuiju menjawab dengan sedikit gembira, “Zuiju sudah memiliki sebuah cara untuk
menolongnya.”
“Oh?”
sebuah sinar menandakan kertertarikan berkebat di mata Chu Beijie. “Katakan,
bagaimana kau akan melakukannya?”
Zuiju
berpikir dengan hati-hati sejenak kemudian ia berkata dengan cepat, “Kalau Tuan
tetap menolak untuk menemui Nona Bai, maka rencana terbaik Zuiju untuk menolong
Nona Bai adalah menyiapkan racun untuknya, agar ia bisa meninggal tanpa merasa
sakit.” Zuiju berhenti sejenak dan menghela napasnya. “Tak ada seorangpun yang
bisa merubah tekad Nona Bai. Hanya sebuah kalimat darinya, bukan kata-kata
ancaman juga bukan kata-kata fitnah tapi sesuatu yang keluar dari dasar
hatinya. Ia menunggu keputusan Tuan, tanpa amarah dan benci. Hati seorang tabib
seperti orang tua pada anaknya, mengetahui kalau masalah ini sudah menuju jalan
buntu, memberinya racun adalah pilihan yang paling baik.”
Chu
Beijie menahan napasnya, kepalan tangannya mengendur, lalu ia mengepalkannya
lagi. Ia berkata dengan pelan, “Apa yang ia katakan?”
“Ia
bertanya pada Zuiju apakah bisa mencium wangi salju.” Wajah Zuiju berusaha
untuk mengingat-ingat, “Ia bilang, hanya mereka yang berhati murni yang mampu
mencium wangi salju.”
Chu
Beijie tiba-tiba berdiri, seperti baru saja disambar petir. Lama sekali, ia
sepertinya memikirkan sesuatu dengan sangat dalam. “Benarkah itu yang ia
katakana?” Chu Beijie bertanya.
“Tuan,
anda harus mengeraskan hati dan merelakannya.”
Kata-kata
Zuiju belum selesai diucapkan ketika Chu Beijie sudah mendorong pintu ruang
kerjanya yang berat itu terbuka lebar.
Udara
dingin menyembur ke dalam, menyebabkan gulungan-gulungan karya seni
berterbangan dengan berisik menabrak tembok.
Melihat
punggung Chu Beijie, Zuiju menyembunyikan senyumnya. “Kau lihat guru, Aku benar
bukan? Yang sakit adalah Tuan Besar.”
Melangkah
masuk ke ruangan, Chu Beijie sepertinya tidak mampu bergerak menghadapi tatapan
mata Pingting.
Ia
telah sering memikirkan, tapi tidak pernah terlintas sama sekali kalau Pingting
akan menunggunya dengan cara seperti ini.
Pingting
masih berbaring di atas tempat tidurnya, berbalut selimut, kepalanya diatas
bantal empuk.
Selimut
ungu menyelimuti tubuhnya setinggi pinggang, memperlihatkan kerapuhan yang luar
biasa. Sebuah gulungan perkamen separuh terbuka.
Segalanya
tetap indah seperti sebuah karya seni.
Mata
hitamnya yang kelam kemudian menghilang, ia menutup matanya. Bulu matanya
atasnya yang hitam beristirahat dengan sempurna di atas bulu mata bawahnya.
Sesuatu
seperti sebuah senyuman terbentuk di atas bibirnya yang kering.
Saat
itu, hanya ada satu hal di pikiran Chu Beijie.
Pingting telah
meninggal.
Ia
sudah tidak ada lagi, pergi dengan sebuah senyuman.
Dunianya
hancur menjadi kepingan yang tidak terhitung, seperti ada seekor binatang buas
memperlihatkan taringnya dan menelan empat musim dalam sekejab.
Segalanya
seperti hilang, bunga-bunga musim semi, bulan musim gugur, kumbang musim panas,
salju musim dingin. Seluruh warna menghilang.
Pingting
meredup seperti melodinya yang berangsur-angsur menghilang.
Sudah
menghilang.
Chu
Beijie berdiri seperti patung tanah liat yang mulai hancur. Moran mendekatinya
untuk menyangganya tapi tangan Chu Beijie mendorongnya.
Hongqian
masuk ke dalam ruangan dan melihat sosok Chu Beijie. Suaranya bercampur antara
terkejut dan gembira ketika ia menangis, “Nona, Nona Bai! Tuan Besar sudah
datang!” ia memeluk Pingting dan berbisik, “Jangan tidur lagi, Nona, Tuan Besar
sudah datang!”
Hongqiang
menguncangnya beberapa kali.
Chu
Beijie melihat bola matanya sedikit bergerak dan akhirnya kelopak matanya
perlahan terbuka sedikit demi sedikit.
Kelopak
mata itu yang telah menyembunyikan semua warna di kehidupan Chu Beijie. Seiring
perlahan terbuka, cahaya juga mulai bermunculan. Semakin lebar matanya, semakin
berserakan warna-warna yang tadi bersembunyi. Warna-warna mulai bermunculan di
selimut, tempat tidur, bantal, perkamen di tangannya dan pipi yang kemerahan di
wajah Hongqian, yang sebelumnya semua berwarna putih dan abu-abu.
Sepertinya
sebuah cahaya terang mengelilingi Pingting, menyebabkan sulit melihatnya.
Chu
Beijie akhirnya menyadari tangan dan kakinya, tapi pikirannya masih hampa dan
matanya penuh dengan cahaya. Bersyukurlah kakinya sepertinya punya pikiran
sendiri dan membuatnya duduk di atas kursi. Ia memilih semangkuk sup lalu
membawanya ke samping tempat tidur.
Ia
tidak tahu kapan, tapi Moran dan Hongqian telah menghilang.
Chu
Beijie memegang sup dan Pingting berkedip.
Mereka
berdua tidak menyembunyikan kenyataan kalau mereka sedang saling menatap satu
sama lain.
“Tuan…”
“Apa
kau harus mati?”
“Apa
Tuan ingin Pingting tetap hidup?”
Chu
Beijie mengerutkan bibir tipisnya, dengan diam menatap sup di tangannya.
“Jangan
khawatir. Kalau Tuan tidak ingin bicara Pingting tak akan memaksa.” Pingting
bergerak, berusaha untuk duduk. “Aku akan meminumnya sendiri.”
“Jangan.”
Tanpa berpikir, tangan Chu Beijie sudah menekan pundaknya yang kurus, membuat
tubuhnya berbaring kembali. “Biar aku saja,” ia membisikan tiga kata ini dan
mengambil sebuah sendok.
Ia
perlahan menyendoknya dan mendekatkan ke bibirnya, perlahan meniunya. Tapi
kemudian ia menyadari supnya sudah tidak terlalu panas, ia mengerutkan dahi dan
berbalik hendak menyuruh seseorang untuk mengantinya.
“Tak
pa-pa,” kata sebuah suara lemah.
Chu
Beijie berbalik.
Bibir
indahnya kering dan pecah-pecah karena kekurangan air. Melihatnya seperti
mengiris hatinya.
“Jangan,
kau harus memakannya ketika panas.” Chu Beijie berkata keras, “Kirim seseorang
ke dapur secepatnya dan katakan untuk membawa hidangan baru.”
Perkataannya
tidak ada keraguan sama sekali. Mereka yang berada di luar ruangan menjawab
‘Baik’ dan segera berlari untuk menyampaikan perintahnya.
Ia
meletakan sup dinginnya, tatapannya tak mampu berpaling dari bibir pucat
Pingting. Jari-jari Chu Beijie yang kuat perlahan menyentuh retakan-retakan
halus di bibirnya.
“ini
pecah….” Chu Beijie berguman. Ia meletakkan lidahnya yang panas di bibir
Pingting, melembabkan lukanya yang menggering.
Sikap
diam Pingting akhirnya berakhir. “Ah,” Pingting menangis dengan suara pelan dan
berbalik, terkejut dan merasa malu, tapi tangan Chu Beijie yang besar dan
lembut menariknya kembali.
“Bukankah
hidup dan matimu, juga kehormatanmu adalah milikku?” Chu Beijie bertanya dengan
pelan.
Sebuah
ciuman panas dari Chu Beijie seperti sebuah serangan para prajurit Dong Lin di
bawah pimpinannya, sebuah kekuatan yang sesungguhnya.
Pingting
seperti setangkai bunga yang rapuh yang tak mampu membendung kekuatan angin.
Ia
menahan napasnya.
Ia
dengan lemah meletakkan jari-jarinya yang ramping di baju Chu Beijie. Entah
dengan niat mendorongnya menjauh atau malah berusaha menariknya lebih dekat.
Salju
yang bertiup di depan sepertinya sudah agak reda dan wajah Pingting jadi merona
dan panas.
Pingting
berusaha membuka matanya lebih lebar dan melihat mata Chu Beijie yang bersinar.
“Tuan,
supnya sudah siap…”
Tidak
hanya sup saja yang datang, tapi juga empat nampan penuh hidangan, dan semuanya
masih mengepulkan asap.
Hongqian
dan Zuiju mengintip kea rah Pingting dan Chu Beijie, dan rona kemerahan muncul
di dekat telinga mereka. Mereka mengigit bibir mereka sambil merapikan
hidangan-hidangan dengan sedikit kesulitan.
Para
petugas dapur memang luar biasa. Mereka berhasil menyiapkan begitu banyak
hidangan dalam waktu yang sangat singkat.
Dua
hidangan daging dan dua hidangan sayur diletakan di tengah meja dan dikelilingi
dengan berbagai hidangan berwarna warni disekitarnya, seperti bintang-bintang
yang menemani sang bulan yang bersinar terang. Dari merah lalu jingga kemudian
kuning lalu unggu, semuanya berwarna cermelang.
Bunga
daun bawang mengapung di atas sup teratai. Dengan cuaca bersalju seperti ini,
pasti sangant sulit untuk mendapatkan bahan-bahan itu.
Zuiju
membawakan mangkuk sup dengan hati-hati lalu menyendok sesendok dan perlahan
meniupnya sebelum mengarahkannya pada Pingting.
“Nona
Bai, Tuan Besar sudah disini, makanlah.”
“Ayo
makan.”
Pingting
menolak membuka mulutnya dan juga tidak berkata apa-apa.
Meskipun
sup itu sangat harum, tapi ia sama sekali tidak tergoda.
Setelah
ciuman yang membara dan sikapnya yang penuh kasih sayang, akhirnya Chu Biejie
melepaskan pelukannya dan mengerutkan dahi. “Apa lagi syaratnya?”
Pingting
merapatkan bibirnya, sikap dinginnya tersembunyi di matanya ketika ia dengan
enggan menatap Chu Beijie.
Chu
Beijie duduk di kursi, merasakan seluruh tubuhnya terbakar di bawah tatapan
Pingting. Lebih rumit dari yang paling rumit, tidak sakit juga tidak lelah, dan
sangat sulit di terka.
Bagaimana
mungkin ia membiarkannya melakukan seperti keinginannya? Chu Bejie melebarkan
kelopak matanya, tidak berkata apapun ketika ia menatap balik ke arah Pingting.
Tatapan
Chu Beijie lebih tajam.
Semakin
Chu Beijie bertambah kuat, Pingting semakin melemah. Jika salah satu menjadi
lebih mempesona yang lainnya menjadi lembut, menunjukkan sikap keras kepalanya.
Semakin
keras kepala semakin mengagumkan.
Hati
Chu Beijie melemah. Ia hanya bisa menghela napas.
Dalam
pertempuran antara dua pihak, bukan yang terkuatlah yang menang.
Tak
heran, biasanya orang yang berhati lembutlah yang menjadi pahlawan sejati.
“Buka
mulutmu.” Chu Beijie tak berdaya, ia mengambil mangkuk dari tangan Zuiju.
Ketika
ucapan itu terlontarkan, sebuah senyum gembira muncul dari wajah sedih yang
pucat milik Pingting. Sebuah senyuman yang menampilkan kemampuan yang tak
terbatas. Chu Beijie menggelengkan kepalanya ketika melihat senyumnya.
Tangannya yang telah memegang pedang begitu banyak tak bisa berhenti gemetar,
menjatuhkan beberapa tetes sup di atas selimut unggunya.
“Minumlah
pelan-pelan.” Chu Beijie merendahkan suaranya, berusaha menenangkan dirinya
sendiri.
Sebuah
tawa tersembunyi di mata Pingting. Ia dengan patuh membuka mulutnya dan menelan
semulut penuh sup hangat. Teratainya terasa manis dan dagingnya lembut.
“Tiup
lagi,” Pingting tiba-tiba berkata.
“Eh
?”
“Tiup
lagi.” Ia tersenyum lebih lebar, kedua lesung pipitnya terlihat malu. “Panas.”
Chu
Beijie yang telah memimpin jutaan prajurit tak pernah mengira kalau ia akan
merasa begitu tak berdaya seperti ini. Ia telah begitu melekat pada wanita yang
tak pernah merasa puas ini. Setiap ucapannya membuatnya merasa memalukan.
Ia
dengan kikuk duduk di tempat tidur, meniup sup sampai dingin sebelum dan dengan
sedikit ceroboh mendekatkannya ke bibir Pingting.
Pingting
dengan patuh membuka mulutnya sekali lagi dan meneguk sup teratai yang lezat
itu. Berbaring di atas bantal ia tertawa kecil. “Ini sup terbaik yang pernah
kudapatkan, Tuan setuju?”
Chu
Beijie menjawab dengan mengigit bibirnya, “Bagaimana aku tahu ?”
Pingting
melihat ekspresi Chu Beijie yang sedang berusaha sabar dan Pingting tak bisa
menahan tawanya. Dan setelah melihat Chu Beijie yang mulai jengkel, tangannya
yang seputih batu pualam mengambil sedok dan mengisinya dengan sup lalu
mengarahkan ke mulut Chu Beijie.
Chu
Beijie menatapnya.
Matanya
sangat jernih, seperti bukit musim semi yang segar, tanpa sedikitpun noda.
Pemandangan ini terlalu menyakitkan dan membuatnya kesal. Ia menolak membuka
mulutnya. Tapi dengan begitu Pingting merasa telah dikecewakan, kekecewaan yang
paling mengecewakan.
Sangat
kejam, sangat menjengkelkan!
Chu
Beijie mengigit bibir kuat, tapi kemudian ia sepertinya berubah pikiran. Ekspresinya
berubah seperti saat-saat yang menentukan dalam sebuah pertempuran. Ia segera
membuka mulutnya lebar dan melahap sesendok penuh sup kedalam mulutnya.
Tubuhnya yang besar bergerak maju, sebelah tangannya tetap memegang kuat
mangkuk sup dan sebelahnya lagi memegang bahu Pingting, menekan bibirnya ke
bibir Pingting.
Apa
yang terasa bukan hanya sup tapi juga kekuatan Chu Beijie, kepintarannya, sikap
dominannya, keangkuhannya.
Bagaimana
bisa ia menyerah pada semua keinginanan Pingting?
Bulumata
Pingting bergetar. Ia menutup matanya, tangannya yang lemah memeluk pundak Chu
Beijie yang lebar. Sambil mengertakan giginya ia berbisik, “Mulai hari ini dan
seterusnya kalau Tuan tulus pada
Pingting, Pingting akan 100kali bersikap lebih tulus pada dirinya sendiri.
Apapun yang terjadi, Pingting hanya punya satu nyawa, membuangnyapun tidak
masalah, kalau Tuan sudah tidak menginginkannya.”
Pingting
berada di pelukan hangat Chu Beijie dan merasakan seluruh tubuhnya menjadi kaku
ketika mendengar Chu Beijie berkata, “Berapa kali kau berencana untuk
menentangku?”
“Seribu
kali tidak cukup. Bahkan puluhan ribu kalipun tidak cukup.” Pingting menjawab
dengan sangat pelan tanpa sedikitpun tanda penyesalan.
Kemaran
Chu Beijie berkembang dua kali lebih besar dibanding sebelumnya tapi kemudian
berhenti ketika dua tangan ramping memeluknya. Ia menatap ke bawah dan melihat
airmata di wajahnya. Airmata yang terlihat cocok dengan kulitnya yang berwarna
gading, mengalir tapi tidak sampai terjatuh. Giginya yang putih menahan kuat
bibirnya agar tidak mengeluarkan suara tangisnya.
Matanya
yang cerah tidak takut dengan tatapan tajam Chu Beijie, sangat kesepian dan
tidak menyembunyikan niat apapun.
Kemarahannya
hilang dengan segera dan seperti sebuah baja murni berumur ribuan tahun
akhirnya meleleh sekali lagi.
“Aku
begitu membencimu! Kau begitu jahat!” Chu Beijie memeluknya dengan erat seperti
ingin memasukkan Pingting ke dalam tulang-tulang Chu Beijie. “Sungguh
membencimu Bai Pingting! Sungguh kejam….”
Matahari
bersembunyi di balik awan, salju yang menawan perlahan turun sekali lagi.
Sebenarnya
tidak masalah, karena di dalam ruangan terasa sangat hangat. Meskipun saat ini
musim dingin tapi di dalam seperti dataran musim semi.
Hongqian
masih mengintip ke dalam dan mukanya bersemu sangat merah. Wajahnya dengan
segera berkerut. “Kau mengacaukannya. Sup itu tidak habis dimakan. Bukankah itu
tidak baik?”
Zuiju
tersenyum sedikit. “Sudah ada orang yang merawat tubuh Nona Bai, untuk apa kita
ikut campur? Ayo kemari, karena salju ini begitu indah kita harus pergi ke
halaman dan membuat boneka salju.”
Tidak
lagi tertarik dengan adengan mengharukan di dalam, setelah pertempuran antara
cinta dan takdir, mereka semua pergi ke halaman dan membuat gundukan salju yang
tinggi.
Guru, sepertinya
Tuan Besar Zen Beiwang telah jatuh cinta pada wanita yang sangat sulit di
tundukan.
--00--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar