Gunung
Songseng adalah perbatasan alami yang memisahkan dua negara, Bei Mo dan Yun
Chang.
Sebuah
desa kecil terletak di kaki gunungnya, jika dilihat dari pembagian wilayahnya
desa itu masuk area Bei Mo tapi sangat terpencil. Tidak pernah tersentuh kegiatan
militer karena terlalu jauh dari lokasi pos pemeriksaan. Para penghuninya lebih
sering pergi ke pedalaman gunung untuk kebutuhan tanaman obat dan berburu,
mereka tidak peduli dengan permasalahan Yun Chang dan Bei Mo.
Pegunungan Songsen
adalah milik kami.
AHan sering tertawa kecil ketika mengatakannya.
Menatap
ke kejauhan, Ahan bisa melihat salju sepanjang tahun. Terlihat dingin dan pucat
di bawah cahaya matahari, seperti berlian. Di desa, jejak musim semi mulai
berdatangan, rerumputan tinggi sudah terlihat di sebelah timur, sepertinya
bibit rumput muda dengan senang hati keluar dari balik persembunyiannya.
Musim
semi sudah tiba, sorak sorai gembira terdengar di mana-mana.
“Para
domba terdengar riang.” Ahan berkata ketika keluar di pagi hari. Suaranya
tenang seperti biasanya, ia membawa seekor ayam dengan hati-hati. “Nyonya
keluargaku memiliki ayam-ayam yang gemuk. Aku sudah menyiapkan satu untuk makan
bayimu.”
Yangfeng
keluar dari ruangan, ia meletakan jarinya di mulutnya dan mengelengkan kepalanya.
“Ahan suaramu terlalu keras, kau akan membuat bayinya terbangun lagi.”
Ahan
tiba-tiba teringat dan ia dengan malu mengaruk wajahnya, “Hah, aku lupa lagi,
aku juga sering membangunkan Ahan kecilku.”
Yangfeng
mengambil ayam dari tangan Ahan dan tersenyum, “Nyonya Pingting sedang keluar,
tapi akan segera kembali.”
“Kakak?”
“Ia
pergi bersama Weiting ke gunung, katanya ingin berburu, hasilnya nanti untuk ditukar
dengan beras dan minyak.”
Ze
Yin dan rombongannya datang ke tempat itu untuk menetap, mereka memutuskan
untuk berburu dan mengembala ternak sebagai pencarian mereka. Ahan sering
mengunjungi mereka, dengan kepribadian Ahan yang berterus terang sungguh
beruntung ia tidak terlalu mencari tahu alasan mereka menetap. Melihat Ze Yin
lebih tua, Ahan memanggilnya kakak, dan Yangfeng, tentu saja dipanggil kakak
ipar.
“Aku
tidak perlu duduk, aku masih harus mengurus kuda-kuda.”
“Ah,
jangan pergi dulu.” Yangfeng menghentikannya dan berbalik ke dalam ruangan. Tak
lama kemudian ia keluar dengan membawa sebuah bungkusan kecil. “Bukankah tangan
istrimu melepuh kemarin? Bawa obat ini, seduh dan minumkan padanya.”
Mendengar
kondisi istrinya, ia menjadi muram. “Obat-obatan tidak berguna, ia sudah
mencoba banyak obat, tapi bengkaknya tidak membaik. Ia begitu kesakitan sampai
tidak bisa tidur di malam hari.”
“Obat
ini berbeda. Kuberitahu yach, Pingting memetik sendiri tumbuhan obatnya dari
gunung.”
Mata
Ahan membelak, “Nyonya Pingting bisa pengobatan?”
“Ia
juga pintar untuk hal lainnya. Ia bukan tabib hebat, tapi ia lebih baik dari
pada tabib Lou untuk masalah pengobatan.” Yangfeng menyerahkan bungkusan kecil
itu pada Ahan dan berkata, “Memang mengembirakan melihat istrimu sembuh, tapi
jangan menyebarkannya kemana-mana.”
“Mengerti,
Nyonya Pingting sudah sering mengingatkan. Kakak ipar tenang saja, aku tidak
akan memberitahu yang lain. Aku akan mencoba obat ini, kalau memang manjur aku
akan membawakan ayam lagi nanti.” Ahan hendak pergi tapi kemudian ia menepuk
dahinya, “Lihatlah, aku melupakan pesan istriku.” Ia menngambil tasnya dan
mengeluarkan sesuatu. “Ini dua pakaian yang dijahit sendiri oleh istriku,
sedikit kasar tapi bahannya kuat. Yang satu untuk Qing Er dan satunya lagi
untuk babyi Nyonya Pingting.”
Yangfeng
menerima pakaian dan tersenyum pada pakaian yang lebih kecil. “Ini terlalu
kecil, pundaknya tidak akan cukup.”
“Seberapa
cepat pundak kecil itu melebar?” Ahan terlihat kecewa, “Dicoba saja, siapa tahu
masih cukup.”
Yangfeng
membawa Ahan ke sebuah ayunan kecil. Ia meletakan pakaian itu di atas bayi, dan
memang agak kecil. “Kau lihat, pundaknya tidak cukup. Tidak masalah, aku akan
memperbaikinya dengan menambahkan pakaian yang lainnya.”
Bayi
kecil itu berbaring di tengah ayunan. Wajahnya putih dan lembut, dan hidungnya
mancung. Bayi lain mungkin akan bergelung atau berbalik ketika tidur, tapi bayi
yang ini posisi tidurnya lurus dan rapi seperti kuas pena.
Ahan
memperhatikannya dan tertawa kecil, “Bayi ini memiliki wajah yang elok. Entah
berapa banyak gadis yang akan jatuh cinta padanya ketika ia dewasa. Changxiao,
tertawa dan gembira setiap saat, Nyonya Pingting memilih nama yang unik untuk
seorang anak.” Ahan tak bisa menahan godaan untuk menyentuh bayi itu dengan
jarinya yang besar. Changxiao merasakan seseorang menyentuhnya dalam mimpi dan
ia membalikkan lehernya dengan tidak senang. Matanya tetap tertutup ketika ia
memegang jari Ahan.
“Ah,
ia jelas tidak lemah.” Ahan tersenyum senang, “Ia pasti akan jadi seorang
pahlawan hebat nantinya.”
“Tentu
saja.” Yangfeng tersenyum sedih ketika ia menundukan kepalanya dan menatap
lembut pada bayi yang tertidur itu.
Changxiao,
Chu Changxiao.
Ayahnanya
adalah seorang Panglima hebat bernama Zhen Beiwang.
--
Fengyin
tinggal di Kediaman Suami Ratu, mengambil alih ruangan Pingting dan kecapinya.
Semua yang tinggal disana tahu kalau Tuan Putri Yaotian dan Pejabat Senior
melindunginya dari bayangan, karena itulah mereka tidak berani memperlakukannya
seperti seorang pelayan.
Selama
Yaotian tidak berada disana maka ia adalah seorang Nyonya di Kediaman itu.
“Apa
lagi?”
“Dan…”
Fengyin pucat ketika mempertimbangkan sesuatu, “Suami Ratu membawa pulang
seorang pria gelandangan, sepertinya ia berasal dari Gui Li.”
“Dari
Gui Li? Siapa dia? Namanya? Dari mana asalnya?”
Fengyin
menggelengkan kepalanya. “Aku hanya mendengar secara samar sekali. Yang kutahu
secara pasti, pria itu berasal dari Gui Li.”
Gui
Changqing menatap Fengyin dengan kecewa. Ia menghela napas, “Semakin besar
kekuasaan yang dimiliki He Xia, kekhawatiranku semakin besar. Sungguh
disayangkan Putri tidak mendengar nasihatku. Fengyin, kau harus melakukan apapun
untuk membantu orangtua angkatmu ini.”
Fengyin
mengangguk. “Ayah jangan khawatir.”
“Bagaimana
He Xia memperlakukanmu?”
“Ia
sangat sopan dan memberitahu para pelayan utnuk menggurusku dengan baik.”
“Apa
ia menyukai permainan kecapimu?”
“Ia
tidak pernah memintaku untuk bermain kecapi.”
“Begitu
kau kembali kesana, bermainlah setiap hari. Kemampuan bermainmu sungguh luar
biasa, jangan disia-siakan.”
Fengyin
menahan ucapannya, tapi di bawah tatapan penasaran Gui Changqing, akhirnya ia
mengatakannya, “Mengapa aku harus melakukannya? Setiap kali aku memainkan
kecapi, Suami Ratu jadi lebih pendiam.”
Gui
Changqing bertanya, “Apa kau tahu siapa pemilik kecapi itu?”
“Aku
tahu, kecapi itu milik Bai Pingting.”
Bai
Pingting, masih saja Bai Pingting.
Mengapa
nama itu masih ada dan bertahan meskipun orangnya sudah lama mati.
Gui
Changqing berkata lagi, “Hal ini akan menjadi belenggunya. Tarik setiap
beberapa saat, agar ia selalu ingat. Ini daerah Yun Chang, si pembuat keputusan
adalah Tuan Putri. Siapapun ia, kalau Putri mengharapkannya hidup, ia akan
hidup. Dan kalau Putri menginginkannya mati, ia pasti mati. Inilah peraturan
kerajaan.”
--
Gudang
persediaan militer di buat atas persetujuan Yaotian, hal ini membantu He Xia
dalam pengumpulan kekuatannya.
Raja
Dong Lin sudah mati akibat penyakitnya, dan penggantinya adalah Ratunya.
Kekuatan militer Dong Lin kehilangan Zhen Beiwang begitu juga dengan kejayaannya
di masa lalu.
He
Xia, telah menahan diri begitu lama, maka ia tidak mampu lagi melewatkan
kesempatan yang begitu luar biasa ini lebih lama lagi. Dengan gudang persediaan
militer, yang sudah berisi kuda dan persediaan makanan berlimpah, ia meminta
Yaotian untuk memberikannya kendali pasukan.
“Apa
itu…perlu?” Yaotian menjadi pucat, ia meletakan buah yang dipegangnya, lalu
menatap He Xia.
He
Xia yang tampan, tersenyum ketika membalas tatapan Yaotian, “Menurut Putri
mengapa tidak perlu?”
Tanpa
menunggu jawaban Yaotian, Gui Changqing yang duduk disebelah berkata sambil
tersenyum, “Kebijakan nasional Yun Chang kami adalah mencukupi kebutuhan, bukan
membuat perselisihan atau menyerang negara lain. Dengan memenuhi kebutuhan
rakyat sebuah negara bisa menghindari pemberontakan.”
Ekspresi
Yaotian menandakan persetujuan atas jawaban Gui Changqing.
He
Xia diam sesaat sebelum ia menghela napas, “Ini masalah serius. Tidak perlu
membuat keputusan segera. Di pertemuan besok, Putri bisa meminta pendapat dari
Pejabat yang lainnya juga. Bagaimana ?”
Yaotian
khawatir He Xia dan Gui Changqin akan saling bersitegang. Ia segera mengangguk
dan menatap Gui Changqing, “Bagaimana menurut Pejabat Senior?”
Permohonan
He Xia sebenarnya berada di tangan Gui Changqing. Ia memiliki banyak pendukung
dari para Pejabat pemerintah lainnya dalam istana, tapi ia tidak suka menyentuh
urusan militer. Beberapa pejabat militer ada yang menentang wibawanya, tapi
mereka tidak akan bisa mengalahkannya dalam pertemuan. “Memang benar, ini
masalah serius yang harus di bicarakan bersama para Pejabat lainnya. Putri
sebaiknya mengambil keputusan setelah mendengar pendapat mereka.”
Masalah
militer telah dikesampingkan. Mereka membahas beberapa masalah negara lagi,
lalu Gui Changqing dan He Xia pamit karena masing-masing harus mengurus masalah
penting lainnya.
Yaotian
menyaksikan mereka berdua menghilang di kejauhan dan akhirnya menghela napas
lega. Ketegangan antara mereka berdua semakin kuat di baliknya. Sangat kuat,
sampai bisa meledak hanya karena hal sepele. Sebenarnya mereka sangat mirip,
saking miripnya sehingga kalau bertemu selalu membuat masalah.
Ia
hendak beristirahat ketika ia mendengar suara langkah mendekat. Dan terdengar
akrab.
Yaotian
menoleh dengan terkejut, “Suamiku, mengapa kau kembali?”
He
Xia tersenyum padanya. Ia berjalan sampai berdiri disisinya. Tatapannya diam
diluar jendela ketika ia berkata, “Aku berencana kembali ke kediamanku, tapi
tiba-tiba aku teringat sesuatu dan harus kembali kesini.”
Yaotian
bertanya penasaran, “Hal penting apa yang tiba-tiba muncul dipikiran Suamiku?”
“Dalam
hatiku, hal ini sangat penting.” Sebuah senyum kecil muncul di bibir He Xia
ketika ia mengingat hal yang menyenangkannya. Suaranya sedikit berbisik ketika
ia berkata, “Sungguh sayang Putri telah melupakannya.”
Yaotian
mendekat dan berkata pelan, “Bagaimana Yaotian tahu apa yang dimaksud Suamiku
kalau ia tidak mengatakannya.”
He
Xia diam sesaat lalu berkata dengan perlahan, “Dimalam pengantin kita, aku
telah berjanji pada Putri, suatu hari, aku akan memakaikan Mahkota padamu,
sebagai Ratu dari Empat Negara.”
Jantung
Yaotian berdetak kencang, suaranya agak hilang, “Suamiku…”
“Kata-kata
itu sangat jelas dan Putri juga mengerti, tapi mengapa terjadi hal seperti
ini?” He Xia menatap Yaotian dan tersenyum pahit. “Tapi kalau Putri memang
menginginkan seorang suami yang hanya duduk disampingnya dan tidak melakukan
apapun. Aku tidak akan mengecewakanmu.”
“Suamiku…”
Sorot
mata He Xia seperti bintang yang bersinar, ia berkata lembut, “Hanya itu yang
ingin kukatakan. Putri adalah penguasa negara, jadi Putri harus membuat
keputusan sendiri untuk masalah penting.” He Xia membungkuk sopan dan melangkah
pergi.
Malam
itu, Gui Changqing menulis sendiri dua puluh tujuh surat kepada para Pejabat
pemerintahan. Ia berenacana membujuk mereka untuk menentang rencana He Xia di
pertemuan besok.
--
Paginya,
Gui Changqing terkejut dnegan kedatangan Yaotian yang langsung duduk di kursi
takhta dan berkata dengan penuh wibawa. “Dong Lin adalah musuh utama negara
kita. Saat ini musuh sedang lemah, kita harus mengambil kesempatan ini untuk
menyerang sebelum mereka sempat bernapas. Suami Ratu.”
“Disini.”
Suara He Xia tegas ketika ia melangkah maju.
“Demi
kepentingan Yun Chang di masa depan, Aku, sebagai penguasa Yun Chang,
memerintahkanmu memimpin pasukan untuk menghancurkan Dong Lin. Secepatnya
berangkat, kendali penuh atas militer Yun Chang sepenuhnya berada di tanganmu.”
Para
Pejabat yang telah menyiapkan segudang alasan untuk menolak, tidak menyangka
sama sekali, kalau hal pertama yang akan dilakukan Yaotian adalah membuat
perintah seperti itu. Ekspresi mereka sangat terkejut. Dan mereka semua menatap
Gui Changqing.
Gui
Changqing pucat sepucatnya. Ketika ia hendak melangkah keluar dari barisan, ia
mendengar Yaotian berkata dengan suara dingin, “Sudah agak lama berlalu sejak
Panglima Zhen Beiwang memimpin pasukannya untuk menyerang Yun Chang. Kalau kita
hanya mencari kedamaian, mungkin kita tidak bisa mempertahankan keselamatan
rakyat. Para Pejabat, jangan lupa untuk belajar dari kesalahan masa lalu.”
Hal
ini dikatakan dengan jelas dan tegas. Semua orang mengerti maksud Yaotian.
Jantung Gui Changqing menjadi beku dan ia tidak bisa melangkah maju. Ia
mengertakan giginya ketika menyaksikan He Xia menerima bendera komando militer.
Semua orang tahu, hal ini sudah terjadi dan tidak dapat diubah.
Begitu
acara penyerahan bendera selesai, He Xia dan sekumpulan para Jendral segera
berjalan keluar dari ruangan, berniat secepat mungkin melakukan peperangan.
Para Pejabat pemerintah segera berkumpul mendekati Gui Changqing, ekspresi
mereka sangat kecewa.
“Pejabat
Senior, kau lihat…”
“Pejabat
Senior, hal penting seperti mengirim pasukan seharusnya tidak dilakukan dengan
tergesa-gesa.”
“Pejabat
Senior, tidakkah sebaiknya kau pergi ke istana dan membicarakannya dengan
Putri?”
Gui
Changqing menggelengkan kepalanya, tidak berkata apa-apa. Tanpa mempedulikan
perkataan di belakangnya, ia pergi menaiki keretanya. Ia kembali ke
kediamannya, anaknya yang paling kecil, Gui Yan, menyambutnya di pintu dan
menemaninya ke dalam ruangan. Begitu ia menutup pintu, ia bertanya, “Ayah,
benarkah Putri telah memerintahkan He Xia memimpin pasukan untuk menyerang Dong
Lin?”
Ekspresi
Gui Changqing murung. Ia mengangguk dan menatap anak bungsunya. “He Xia sudah
secara resmi menerima bendera komando ia berhak menggerakan seluruh pasukan,
termasuk Resimen Yongxiao yang berada di bawah komandomu, dan juga Resimen
Weibei yang berada di bawah komando paman keduamu.”
Mereka
berdua terdiam ketika tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dari luar
ruangan. Mereka menunggu dengan sabar.
Gui
Changqing berkata, “Mungkin paman keduamu.”
Ucapan
Gui Changqin belum selesai ketika pintu tiba-tiba terbuka. Sosok tinggi besar
menahan separuh sinar matahari yang masuk. Gui Changning melangkah masuk dan
berkata dengan keras, “Kakak, kudengar Putri telah memerintahkan He Xia untuk
memimpin pasukan untuk menyerang Dong Lin?”
Gui
Chagnqing mengangguk, wajahnya sangat pucat.
Tapi
ekspresi Gui Changning sebaliknya, ia bergembira dan tertawa, “Akhirnya,
menyerang Dong Lin, sungguh menyegarkan! Sungguh disayangkan aku harus melatih
pasukan dan baru bisa kembali sekarang, kehilangan kesempatan untuk melihat
langsung ketika Putri memberikan perintah.”
Selama
beberapa generasi, keluarga Gui telah menjadi Pejabat penting utama di negara
Yun Chang. Dan kali ini Gui Changqinglah yang mendudukinya. Ia telah
merekomendasikan banyak Pejabat pemerintahan tapi hanya dua orang yang ia
rekomendasikan untuk kedudukan militer. Dua orang itu adalah adik keduanya Gui
Changning dan anak bungsunya Gui Yan. Gui Changqing sangat mengerti pribadi
adiknya, ia menyuruhnya diam dengan tatapannya dan berkata, “Apa yang baik dari
sebuah peperangan? He Xia sangat membenciku tapi sampai saat ini ia tidak bisa
berbuat apa-apa. Aku khawatir, karena sekarang ia memiliki kekuasaan penuh atas
militer, ia akan menggunakan Resimen kalian berdua untuk maju ke garis depan.”
“Aku
justru khawatir kalau ia tidak menggunakan pasukanku. Mengapa aku harus takut,
aku tahu beberapa teknik untuk mengalahkan musuh.”
Gui
Yan, meskipun baru menjabat, tapi pemikirannya dalam menilai orang lebih baik
dari pada paman keduanya. Ia merenung sejenak lalu berkata, “Ayah khawatir
karena He Xia sekarang memiliki kekuasan, mungkin akan terjadi kecelakaan pada
Paman Kedua di garis depan. Memang benar kalau sebelah tangan tidak bisa
bertahan dari empat tinju. Begini saja, kalau He Xia memang menggerakan Resimen
Paman Kedua ke garis depan, aku juga akan meminta Resimenku untuk ikut serta.
He Xia tidak bisa menolak paman dan keponakan yang memimpin dua pasukan utama
kecuali ia berani memerintahkan resimen lain untuk mengepung dan menyerang
kami.”
“Jangan
itu terlalu berbahaya. Kalau sampai…”
Gui
Changning bersin dan mengibaskan tangannya. “Kakak, jangan khawatir. Aku rasa
bahaya yang paling besar adalah He Xia tidak menggerakan resimen kita, ia
menggerakan resimen lain lalu menghancurkan Dong Lin dan kembali dengan
kemenangan. Dan kita keluarga Gui tidak melakukan apa-apa hanya berdiri
disamping menyaksikannya.”
Kata-katanya
sungguh benar.
Gui
Changqing memperhatikan mereka berdua. Gui Yan mengangguk ringan memberikan
persetujuan atas perkataan paman keduanya. Gui Changqing berpikir sesaat dan
akhirnya ia menghela napas, “Kalau begitu, yang bisa kita lakukan hanya
menyeberangi jembatan begitu tiba disana. Jujur saja, sangat merugikan kalau
kita tidak bisa menjalin hubungan baik dengan para Jendral lain di perjalanan
kali ini. Adik, bagaimanapun.” Ia berbalik dan menatap Gui Changning dengan
sangat serius, “sebagai kakakmu, aku memperingatkanmu, perjalanan kali ini
berbeda dengan perjalanan sebelum-sebelumnya. Selama disana, kau tidak boleh….”
“Menyentuh
arak, benarkan.” Alis Gui Changning berkerut dan ia mengertakan giginya, “Aku
tidak akan menyentuh arak selama perjalanan ini. Dan kalau aku melakukannya,
aku bukan bagian dari keluarga Gui lagi.”
“Kau
harus selalu ingat, jangan lengah.”
Gui
Changning memukul dadanya, “Kakak jangan khawatir. Aku tidak akan mengacaukan
hal yang penting meskipun aku orang yang ceroboh untuk hal-hal sepele.”
Lalu
Gui Changqing menyemangati anak bungsunya yang telah menolak untuk berkarir di
pemerintahan dan malah memilih jalur militer. Gui Changqing menatap lembut
padanya dan menghela napas, “Di garis depan nanti, jangan dibutakan oleh
kesempatan menang sehingga kau ikut terjun ke dalam pertempuran.”
Masalah
militer berbeda dengan masalah pemerintahan. Ada beberapa Jendral yang telah
bertempur di medan perang dan tidak berasal dari keluarga terpandang juga tidak
memenuhi persyaratan, tapi mereka memiliki kemampuan dan dikagumi. Dan yang
menyebalkan, kemampuan He Xia dalam menyusun strategi dan bela dirinya sunggu
luar biasa, ia berhasil memenangkan hati sebagian besar Jendral hanya dalam
waktu singkat. Kalau tidak, apa yang perlu di khawatirkan oleh keluarga Gui, He
Xia telah membuat kubu dalam istana Yun Chang.
Hati
Gui Changqing sangat kacau. Ia berdiri dan membuka pintu, membiarkan angin
dingin menyerbu masuk. Seorang pelayan setianya berdiri di ujung lorong dan ia
memanggilnya, “Apa Putri telah mengirim seseorang untuk memintaku menemuinya?”
Si
pelayan menoleh pada Gui Changqing dan menjawab dengan hati-hati, “Belum.”
Ekspresi
Gui Changqing menjadi lebih gelap, ia berdiri di depan pintu agak lama. Ia
berkata, “Kau boleh pergi. Segera beritahu kalau ada berita dari istana.”
--
Kuda-kuda
perang sudah siap dan drum peperangan segera akan berbunyi.
He
Xia memegang bendera komando di tangannya. Ia memiliki pasukan, uang dan
makanan tanpa dibatasi oleh siapapun.
Tuan
Putri, kau benar-benar mempertaruhkan masa depan Yun Chang padaku?
Dengan
bendera di tangan, esoknya He Xia segera mempersiapkan pasukan. Ia mengerti
kekosongan akibat kehilangan Zhen Beiwang di dalam pasukan, tapi bagaimanapun
pasukan sempurna milik Zhen Beiwang tidak bisa dianggap remeh. He Xia yang
sangat bersemangat, siap untuk menguncang langit ketika ia mengerahkan tujuh
Resimen Pasukan Yun Chang, termasuk di dalamnya Resimen Weibei dibawah komando
Gui Changning dan Resimen Yongxiao di bawah komando Gui Yan.
Sebuah
tanggal baik telah di pilih, Tuan Putri Yaotian melepas kepergian Suaminya dari
gerbang ibukota.
Rakyat
Yun Chang berkumpul di bawah tembok kota, menyaksikan Suami Ratu dalam balutan
baju perang berwarna perak putih. Penampilannya seperti seorang Panglima yang
turun dari langit. Semua orang memujinya.
“Lihatlah
betapa gagahnya Suami Ratu kita!”
“Dong
Lin akan tahu, Yun Chang tidak tidak bisa disepelekan.”
“Kalahkan
mereka sampai berkeping-keping sehingga dunia akan tahu Yun Chang bukan bahan
ejekan.”
Setahun
lalu mereka telah ditekan oleh kekuatan militer Dong Lin sampai mereka tak bisa
mengangkat kepala mereka. Hari ini mereka akhirnya bisa menunjukan kemarahan
mereka.
Bahkan
Yaotian, tidak menyangka kalau rakyatnya yang hidup dengan tenang sampai saat
ini, ternyata memendam kemarahan yang sedemikian rupa.
Yaotian
memberkati He Xia dengan secangkir arak dan memandang kebelakang He Xia dimana
para prajurit berbaris rapat. Yaotian berkata, “Seluruh rakyat tahu, Suamiku
akan kembali dengan kemenangan.”
He
Xia tertawa ketika bertanya, “Bagaimana dengan Putri sendiri?”
Yaotian
menatap He Xia, “Tak peduli apa yang akan terjadi di pertempuran, Suamiku harus
pulang dengan selamat.”
He
Xia menatap mata Yaotian, matanya bersinar terang seperti bintang di langit
malam. He Xia tidak membalas perkataan Yaotian, ia hanya tersenyum lalu
berbalik dan mengeluarkan pedangnya.
Clang!
Pedang
itu telah berkali-kali dikeluarkan dari sarungnya, berkilat begitu silau
seperti matahari yang baru muncul, pancaran sinarnya begitu menyilaukan
sehingga rakyat yang berkumpul di sekitar mereka menutup matanya. dalam ingatan
mereka terukir sosok He Xia yang tegap bermandikan cahaya matahari, berani dan
angkuh.
“Panjang
umur Suami Ratu!” setelah beberapa saat keheningan, tiba-tiba sorakan kencang
bergema. Dan dengan segera menyebar kesekitarnya.
“Panjang
umur Suami Ratu! Panjang umur Suami Ratu!”
“Panjang
umur Suami Ratu!”
Dari
kumpulan rakyat yang berada di sekitar pasukan sampai yang berada di balik
tembok kota, semuanya berteriak.
He
Xia berbalik dan tertawa lama, wajah tampannya menampilkan keangkuhannya. Ia
menyarungkan pedangnya, menuruni tembok kota dan menaiki kudanya. Ia berkuda
mengelilingi pasukannya satu kali sehingga semua orang bisa melihat sosoknya.
Begitu ia menaikkan tangannya ke udara, seluruh yang hadir segera menutup
mulutnya.
Ia
bukanlah seorang Suami Ratu, juga bukan Tuan Muda dari Jin Anwang.
Ia
telah menjadi harapan bagi Yun Chang dan lambang perwakilan negara.
Mata
He Xia berkeliling menatap pasukannya yang akan menaklukan dunia bersamanya.
Sudut bibirnya membentuk senyum kecil ketika ia berteriak, “Berangkat!”
Hanya
sebuah kata, membuat pasukan yang berjumlah ratusan ribu itu bergerak bersama.
Suara
langkah kaki kuda, membuat sekumpulan awan debu di belakang mereka, begitu
tebalnya sehingga mereka sulit terlihat lagi.
Yaotian
menyaksikan He Xia yang pergi dengan semangat juang tinggi, tangannya menekan
dadanya karena terasa kosong. Dia menatap sampai He Xia tidak nampak lagi di
matanya.
Ibukota
sudah berada jauh di belakang, sepanjang mata memandang hanya ada dataran luas
berwarna kuning yang nampak. He Xia berada di posisi paling depan dari barisan
pasukan yang besar, ia mendengar suara langkah kaki kuda mendekat dari
belakangnya. Dongzhuo memacu kudanya dengan cepat dari belakang, berusaha
sejajar dengannya sambil berkata, “Semua yang Tuan perintahkan sudah siap.”
He
Xia tidak berbalik dan tidak juga menoleh, ia hanya mengangguk ringan.
“Dongzhuo,
pegang pedangmu erat-erat.” He Xia berbalik, menoleh pada pasukannya yang luar
biasa. Sebuah tawa dingin nampak di matanya. “Kita akan melihat darah kali
ini.”
Dongzhuo
juga menoleh ke belakang, ia memperhatikan bendera pasukan Weibei dan Yongxiao
berkibar di terpa angin. Tangannya dengan segera mengenggam erat pedang di
pinggangnya.
Ia
sangat tahu cara berpikir Tuannya. Ketika Tuannya tidak mengambil tindakan,
maka ia sama sekali tidak akan menyentuhnya. Tapi ketika ia melakukannya, ia
akan menyerang seperti petir, tidak menyisakan ruang untuk bergerak.
Itulah
kharakteristik seorang Tuan dari Jin Anwang.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar