Selasa, 16 Mei 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.55

-- Volume 3 chapter 55 --



Gunung Songseng adalah perbatasan alami yang memisahkan dua negara, Bei Mo dan Yun Chang.

Sebuah desa kecil terletak di kaki gunungnya, jika dilihat dari pembagian wilayahnya desa itu masuk area Bei Mo tapi sangat terpencil. Tidak pernah tersentuh kegiatan militer karena terlalu jauh dari lokasi pos pemeriksaan. Para penghuninya lebih sering pergi ke pedalaman gunung untuk kebutuhan tanaman obat dan berburu, mereka tidak peduli dengan permasalahan Yun Chang dan Bei Mo.

Pegunungan Songsen adalah milik kami. AHan sering tertawa kecil ketika mengatakannya.

Menatap ke kejauhan, Ahan bisa melihat salju sepanjang tahun. Terlihat dingin dan pucat di bawah cahaya matahari, seperti berlian. Di desa, jejak musim semi mulai berdatangan, rerumputan tinggi sudah terlihat di sebelah timur, sepertinya bibit rumput muda dengan senang hati keluar dari balik persembunyiannya.

Musim semi sudah tiba, sorak sorai gembira terdengar di mana-mana.

“Para domba terdengar riang.” Ahan berkata ketika keluar di pagi hari. Suaranya tenang seperti biasanya, ia membawa seekor ayam dengan hati-hati. “Nyonya keluargaku memiliki ayam-ayam yang gemuk. Aku sudah menyiapkan satu untuk makan bayimu.”

Yangfeng keluar dari ruangan, ia meletakan jarinya di mulutnya dan mengelengkan kepalanya. “Ahan suaramu terlalu keras, kau akan membuat bayinya terbangun lagi.”

Ahan tiba-tiba teringat dan ia dengan malu mengaruk wajahnya, “Hah, aku lupa lagi, aku juga sering membangunkan Ahan kecilku.”

Yangfeng mengambil ayam dari tangan Ahan dan tersenyum, “Nyonya Pingting sedang keluar, tapi akan segera kembali.”

“Kakak?”

“Ia pergi bersama Weiting ke gunung, katanya ingin berburu, hasilnya nanti untuk ditukar dengan beras dan minyak.”

Ze Yin dan rombongannya datang ke tempat itu untuk menetap, mereka memutuskan untuk berburu dan mengembala ternak sebagai pencarian mereka. Ahan sering mengunjungi mereka, dengan kepribadian Ahan yang berterus terang sungguh beruntung ia tidak terlalu mencari tahu alasan mereka menetap. Melihat Ze Yin lebih tua, Ahan memanggilnya kakak, dan Yangfeng, tentu saja dipanggil kakak ipar.

“Aku tidak perlu duduk, aku masih harus mengurus kuda-kuda.”

“Ah, jangan pergi dulu.” Yangfeng menghentikannya dan berbalik ke dalam ruangan. Tak lama kemudian ia keluar dengan membawa sebuah bungkusan kecil. “Bukankah tangan istrimu melepuh kemarin? Bawa obat ini, seduh dan minumkan padanya.”

Mendengar kondisi istrinya, ia menjadi muram. “Obat-obatan tidak berguna, ia sudah mencoba banyak obat, tapi bengkaknya tidak membaik. Ia begitu kesakitan sampai tidak bisa tidur di malam hari.”

“Obat ini berbeda. Kuberitahu yach, Pingting memetik sendiri tumbuhan obatnya dari gunung.”

Mata Ahan membelak, “Nyonya Pingting bisa pengobatan?”

“Ia juga pintar untuk hal lainnya. Ia bukan tabib hebat, tapi ia lebih baik dari pada tabib Lou untuk masalah pengobatan.” Yangfeng menyerahkan bungkusan kecil itu pada Ahan dan berkata, “Memang mengembirakan melihat istrimu sembuh, tapi jangan menyebarkannya kemana-mana.”

“Mengerti, Nyonya Pingting sudah sering mengingatkan. Kakak ipar tenang saja, aku tidak akan memberitahu yang lain. Aku akan mencoba obat ini, kalau memang manjur aku akan membawakan ayam lagi nanti.” Ahan hendak pergi tapi kemudian ia menepuk dahinya, “Lihatlah, aku melupakan pesan istriku.” Ia menngambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu. “Ini dua pakaian yang dijahit sendiri oleh istriku, sedikit kasar tapi bahannya kuat. Yang satu untuk Qing Er dan satunya lagi untuk babyi Nyonya Pingting.”

Yangfeng menerima pakaian dan tersenyum pada pakaian yang lebih kecil. “Ini terlalu kecil, pundaknya tidak akan cukup.”

“Seberapa cepat pundak kecil itu melebar?” Ahan terlihat kecewa, “Dicoba saja, siapa tahu masih cukup.”

Yangfeng membawa Ahan ke sebuah ayunan kecil. Ia meletakan pakaian itu di atas bayi, dan memang agak kecil. “Kau lihat, pundaknya tidak cukup. Tidak masalah, aku akan memperbaikinya dengan menambahkan pakaian yang lainnya.”

Bayi kecil itu berbaring di tengah ayunan. Wajahnya putih dan lembut, dan hidungnya mancung. Bayi lain mungkin akan bergelung atau berbalik ketika tidur, tapi bayi yang ini posisi tidurnya lurus dan rapi seperti kuas pena.

Ahan memperhatikannya dan tertawa kecil, “Bayi ini memiliki wajah yang elok. Entah berapa banyak gadis yang akan jatuh cinta padanya ketika ia dewasa. Changxiao, tertawa dan gembira setiap saat, Nyonya Pingting memilih nama yang unik untuk seorang anak.” Ahan tak bisa menahan godaan untuk menyentuh bayi itu dengan jarinya yang besar. Changxiao merasakan seseorang menyentuhnya dalam mimpi dan ia membalikkan lehernya dengan tidak senang. Matanya tetap tertutup ketika ia memegang jari Ahan.

“Ah, ia jelas tidak lemah.” Ahan tersenyum senang, “Ia pasti akan jadi seorang pahlawan hebat nantinya.”

“Tentu saja.” Yangfeng tersenyum sedih ketika ia menundukan kepalanya dan menatap lembut pada bayi yang tertidur itu.

Changxiao, Chu Changxiao.

Ayahnanya adalah seorang Panglima hebat bernama Zhen Beiwang.

--

Fengyin tinggal di Kediaman Suami Ratu, mengambil alih ruangan Pingting dan kecapinya. Semua yang tinggal disana tahu kalau Tuan Putri Yaotian dan Pejabat Senior melindunginya dari bayangan, karena itulah mereka tidak berani memperlakukannya seperti seorang pelayan.

Selama Yaotian tidak berada disana maka ia adalah seorang Nyonya di Kediaman itu.

“Apa lagi?”

“Dan…” Fengyin pucat ketika mempertimbangkan sesuatu, “Suami Ratu membawa pulang seorang pria gelandangan, sepertinya ia berasal dari Gui Li.”

“Dari Gui Li? Siapa dia? Namanya? Dari mana asalnya?”

Fengyin menggelengkan kepalanya. “Aku hanya mendengar secara samar sekali. Yang kutahu secara pasti, pria itu berasal dari Gui Li.”

Gui Changqing menatap Fengyin dengan kecewa. Ia menghela napas, “Semakin besar kekuasaan yang dimiliki He Xia, kekhawatiranku semakin besar. Sungguh disayangkan Putri tidak mendengar nasihatku. Fengyin, kau harus melakukan apapun untuk membantu orangtua angkatmu ini.”

Fengyin mengangguk. “Ayah jangan khawatir.”

“Bagaimana He Xia memperlakukanmu?”

“Ia sangat sopan dan memberitahu para pelayan utnuk menggurusku dengan baik.”

“Apa ia menyukai permainan kecapimu?”

“Ia tidak pernah memintaku untuk bermain kecapi.”

“Begitu kau kembali kesana, bermainlah setiap hari. Kemampuan bermainmu sungguh luar biasa, jangan disia-siakan.”

Fengyin menahan ucapannya, tapi di bawah tatapan penasaran Gui Changqing, akhirnya ia mengatakannya, “Mengapa aku harus melakukannya? Setiap kali aku memainkan kecapi, Suami Ratu jadi lebih pendiam.”

Gui Changqing bertanya, “Apa kau tahu siapa pemilik kecapi itu?”

“Aku tahu, kecapi itu milik Bai Pingting.”

Bai Pingting, masih saja Bai Pingting.

Mengapa nama itu masih ada dan bertahan meskipun orangnya sudah lama mati.

Gui Changqing berkata lagi, “Hal ini akan menjadi belenggunya. Tarik setiap beberapa saat, agar ia selalu ingat. Ini daerah Yun Chang, si pembuat keputusan adalah Tuan Putri. Siapapun ia, kalau Putri mengharapkannya hidup, ia akan hidup. Dan kalau Putri menginginkannya mati, ia pasti mati. Inilah peraturan kerajaan.”

--

Gudang persediaan militer di buat atas persetujuan Yaotian, hal ini membantu He Xia dalam pengumpulan kekuatannya.

Raja Dong Lin sudah mati akibat penyakitnya, dan penggantinya adalah Ratunya. Kekuatan militer Dong Lin kehilangan Zhen Beiwang begitu juga dengan kejayaannya di masa lalu.

He Xia, telah menahan diri begitu lama, maka ia tidak mampu lagi melewatkan kesempatan yang begitu luar biasa ini lebih lama lagi. Dengan gudang persediaan militer, yang sudah berisi kuda dan persediaan makanan berlimpah, ia meminta Yaotian untuk memberikannya kendali pasukan.

“Apa itu…perlu?” Yaotian menjadi pucat, ia meletakan buah yang dipegangnya, lalu menatap He Xia.

He Xia yang tampan, tersenyum ketika membalas tatapan Yaotian, “Menurut Putri mengapa tidak perlu?”

Tanpa menunggu jawaban Yaotian, Gui Changqing yang duduk disebelah berkata sambil tersenyum, “Kebijakan nasional Yun Chang kami adalah mencukupi kebutuhan, bukan membuat perselisihan atau menyerang negara lain. Dengan memenuhi kebutuhan rakyat sebuah negara bisa menghindari pemberontakan.”

Ekspresi Yaotian menandakan persetujuan atas jawaban Gui Changqing.

He Xia diam sesaat sebelum ia menghela napas, “Ini masalah serius. Tidak perlu membuat keputusan segera. Di pertemuan besok, Putri bisa meminta pendapat dari Pejabat yang lainnya juga. Bagaimana ?”

Yaotian khawatir He Xia dan Gui Changqin akan saling bersitegang. Ia segera mengangguk dan menatap Gui Changqing, “Bagaimana menurut Pejabat Senior?”

Permohonan He Xia sebenarnya berada di tangan Gui Changqing. Ia memiliki banyak pendukung dari para Pejabat pemerintah lainnya dalam istana, tapi ia tidak suka menyentuh urusan militer. Beberapa pejabat militer ada yang menentang wibawanya, tapi mereka tidak akan bisa mengalahkannya dalam pertemuan. “Memang benar, ini masalah serius yang harus di bicarakan bersama para Pejabat lainnya. Putri sebaiknya mengambil keputusan setelah mendengar pendapat mereka.”

Masalah militer telah dikesampingkan. Mereka membahas beberapa masalah negara lagi, lalu Gui Changqing dan He Xia pamit karena masing-masing harus mengurus masalah penting lainnya.

Yaotian menyaksikan mereka berdua menghilang di kejauhan dan akhirnya menghela napas lega. Ketegangan antara mereka berdua semakin kuat di baliknya. Sangat kuat, sampai bisa meledak hanya karena hal sepele. Sebenarnya mereka sangat mirip, saking miripnya sehingga kalau bertemu selalu membuat masalah.

Ia hendak beristirahat ketika ia mendengar suara langkah mendekat. Dan terdengar akrab.

Yaotian menoleh dengan terkejut, “Suamiku, mengapa kau kembali?”

He Xia tersenyum padanya. Ia berjalan sampai berdiri disisinya. Tatapannya diam diluar jendela ketika ia berkata, “Aku berencana kembali ke kediamanku, tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu dan harus kembali kesini.”

Yaotian bertanya penasaran, “Hal penting apa yang tiba-tiba muncul dipikiran Suamiku?”

“Dalam hatiku, hal ini sangat penting.” Sebuah senyum kecil muncul di bibir He Xia ketika ia mengingat hal yang menyenangkannya. Suaranya sedikit berbisik ketika ia berkata, “Sungguh sayang Putri telah melupakannya.”

Yaotian mendekat dan berkata pelan, “Bagaimana Yaotian tahu apa yang dimaksud Suamiku kalau ia tidak mengatakannya.”

He Xia diam sesaat lalu berkata dengan perlahan, “Dimalam pengantin kita, aku telah berjanji pada Putri, suatu hari, aku akan memakaikan Mahkota padamu, sebagai Ratu dari Empat Negara.”

Jantung Yaotian berdetak kencang, suaranya agak hilang, “Suamiku…”

“Kata-kata itu sangat jelas dan Putri juga mengerti, tapi mengapa terjadi hal seperti ini?” He Xia menatap Yaotian dan tersenyum pahit. “Tapi kalau Putri memang menginginkan seorang suami yang hanya duduk disampingnya dan tidak melakukan apapun. Aku tidak akan mengecewakanmu.”

“Suamiku…”

Sorot mata He Xia seperti bintang yang bersinar, ia berkata lembut, “Hanya itu yang ingin kukatakan. Putri adalah penguasa negara, jadi Putri harus membuat keputusan sendiri untuk masalah penting.” He Xia membungkuk sopan dan melangkah pergi.

Malam itu, Gui Changqing menulis sendiri dua puluh tujuh surat kepada para Pejabat pemerintahan. Ia berenacana membujuk mereka untuk menentang rencana He Xia di pertemuan besok.

--
Paginya, Gui Changqing terkejut dnegan kedatangan Yaotian yang langsung duduk di kursi takhta dan berkata dengan penuh wibawa. “Dong Lin adalah musuh utama negara kita. Saat ini musuh sedang lemah, kita harus mengambil kesempatan ini untuk menyerang sebelum mereka sempat bernapas. Suami Ratu.”

“Disini.” Suara He Xia tegas ketika ia melangkah maju.

“Demi kepentingan Yun Chang di masa depan, Aku, sebagai penguasa Yun Chang, memerintahkanmu memimpin pasukan untuk menghancurkan Dong Lin. Secepatnya berangkat, kendali penuh atas militer Yun Chang sepenuhnya berada di tanganmu.”

Para Pejabat yang telah menyiapkan segudang alasan untuk menolak, tidak menyangka sama sekali, kalau hal pertama yang akan dilakukan Yaotian adalah membuat perintah seperti itu. Ekspresi mereka sangat terkejut. Dan mereka semua menatap Gui Changqing.

Gui Changqing pucat sepucatnya. Ketika ia hendak melangkah keluar dari barisan, ia mendengar Yaotian berkata dengan suara dingin, “Sudah agak lama berlalu sejak Panglima Zhen Beiwang memimpin pasukannya untuk menyerang Yun Chang. Kalau kita hanya mencari kedamaian, mungkin kita tidak bisa mempertahankan keselamatan rakyat. Para Pejabat, jangan lupa untuk belajar dari kesalahan masa lalu.”

Hal ini dikatakan dengan jelas dan tegas. Semua orang mengerti maksud Yaotian. Jantung Gui Changqing menjadi beku dan ia tidak bisa melangkah maju. Ia mengertakan giginya ketika menyaksikan He Xia menerima bendera komando militer. Semua orang tahu, hal ini sudah terjadi dan tidak dapat diubah.

Begitu acara penyerahan bendera selesai, He Xia dan sekumpulan para Jendral segera berjalan keluar dari ruangan, berniat secepat mungkin melakukan peperangan. Para Pejabat pemerintah segera berkumpul mendekati Gui Changqing, ekspresi mereka sangat kecewa.

“Pejabat Senior, kau lihat…”

“Pejabat Senior, hal penting seperti mengirim pasukan seharusnya tidak dilakukan dengan tergesa-gesa.”

“Pejabat Senior, tidakkah sebaiknya kau pergi ke istana dan membicarakannya dengan Putri?”

Gui Changqing menggelengkan kepalanya, tidak berkata apa-apa. Tanpa mempedulikan perkataan di belakangnya, ia pergi menaiki keretanya. Ia kembali ke kediamannya, anaknya yang paling kecil, Gui Yan, menyambutnya di pintu dan menemaninya ke dalam ruangan. Begitu ia menutup pintu, ia bertanya, “Ayah, benarkah Putri telah memerintahkan He Xia memimpin pasukan untuk menyerang Dong Lin?”

Ekspresi Gui Changqing murung. Ia mengangguk dan menatap anak bungsunya. “He Xia sudah secara resmi menerima bendera komando ia berhak menggerakan seluruh pasukan, termasuk Resimen Yongxiao yang berada di bawah komandomu, dan juga Resimen Weibei yang berada di bawah komando paman keduamu.”

Mereka berdua terdiam ketika tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dari luar ruangan. Mereka menunggu dengan sabar.

Gui Changqing berkata, “Mungkin paman keduamu.”

Ucapan Gui Changqin belum selesai ketika pintu tiba-tiba terbuka. Sosok tinggi besar menahan separuh sinar matahari yang masuk. Gui Changning melangkah masuk dan berkata dengan keras, “Kakak, kudengar Putri telah memerintahkan He Xia untuk memimpin pasukan untuk menyerang Dong Lin?”

Gui Chagnqing mengangguk, wajahnya sangat pucat.

Tapi ekspresi Gui Changning sebaliknya, ia bergembira dan tertawa, “Akhirnya, menyerang Dong Lin, sungguh menyegarkan! Sungguh disayangkan aku harus melatih pasukan dan baru bisa kembali sekarang, kehilangan kesempatan untuk melihat langsung ketika Putri memberikan perintah.”

Selama beberapa generasi, keluarga Gui telah menjadi Pejabat penting utama di negara Yun Chang. Dan kali ini Gui Changqinglah yang mendudukinya. Ia telah merekomendasikan banyak Pejabat pemerintahan tapi hanya dua orang yang ia rekomendasikan untuk kedudukan militer. Dua orang itu adalah adik keduanya Gui Changning dan anak bungsunya Gui Yan. Gui Changqing sangat mengerti pribadi adiknya, ia menyuruhnya diam dengan tatapannya dan berkata, “Apa yang baik dari sebuah peperangan? He Xia sangat membenciku tapi sampai saat ini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Aku khawatir, karena sekarang ia memiliki kekuasaan penuh atas militer, ia akan menggunakan Resimen kalian berdua untuk maju ke garis depan.”

“Aku justru khawatir kalau ia tidak menggunakan pasukanku. Mengapa aku harus takut, aku tahu beberapa teknik untuk mengalahkan musuh.”

Gui Yan, meskipun baru menjabat, tapi pemikirannya dalam menilai orang lebih baik dari pada paman keduanya. Ia merenung sejenak lalu berkata, “Ayah khawatir karena He Xia sekarang memiliki kekuasan, mungkin akan terjadi kecelakaan pada Paman Kedua di garis depan. Memang benar kalau sebelah tangan tidak bisa bertahan dari empat tinju. Begini saja, kalau He Xia memang menggerakan Resimen Paman Kedua ke garis depan, aku juga akan meminta Resimenku untuk ikut serta. He Xia tidak bisa menolak paman dan keponakan yang memimpin dua pasukan utama kecuali ia berani memerintahkan resimen lain untuk mengepung dan menyerang kami.”

“Jangan itu terlalu berbahaya. Kalau sampai…”

Gui Changning bersin dan mengibaskan tangannya. “Kakak, jangan khawatir. Aku rasa bahaya yang paling besar adalah He Xia tidak menggerakan resimen kita, ia menggerakan resimen lain lalu menghancurkan Dong Lin dan kembali dengan kemenangan. Dan kita keluarga Gui tidak melakukan apa-apa hanya berdiri disamping menyaksikannya.”

Kata-katanya sungguh benar.

Gui Changqing memperhatikan mereka berdua. Gui Yan mengangguk ringan memberikan persetujuan atas perkataan paman keduanya. Gui Changqing berpikir sesaat dan akhirnya ia menghela napas, “Kalau begitu, yang bisa kita lakukan hanya menyeberangi jembatan begitu tiba disana. Jujur saja, sangat merugikan kalau kita tidak bisa menjalin hubungan baik dengan para Jendral lain di perjalanan kali ini. Adik, bagaimanapun.” Ia berbalik dan menatap Gui Changning dengan sangat serius, “sebagai kakakmu, aku memperingatkanmu, perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan sebelum-sebelumnya. Selama disana, kau tidak boleh….”

“Menyentuh arak, benarkan.” Alis Gui Changning berkerut dan ia mengertakan giginya, “Aku tidak akan menyentuh arak selama perjalanan ini. Dan kalau aku melakukannya, aku bukan bagian dari keluarga Gui lagi.”

“Kau harus selalu ingat, jangan lengah.”

Gui Changning memukul dadanya, “Kakak jangan khawatir. Aku tidak akan mengacaukan hal yang penting meskipun aku orang yang ceroboh untuk hal-hal sepele.”

Lalu Gui Changqing menyemangati anak bungsunya yang telah menolak untuk berkarir di pemerintahan dan malah memilih jalur militer. Gui Changqing menatap lembut padanya dan menghela napas, “Di garis depan nanti, jangan dibutakan oleh kesempatan menang sehingga kau ikut terjun ke dalam pertempuran.”

Masalah militer berbeda dengan masalah pemerintahan. Ada beberapa Jendral yang telah bertempur di medan perang dan tidak berasal dari keluarga terpandang juga tidak memenuhi persyaratan, tapi mereka memiliki kemampuan dan dikagumi. Dan yang menyebalkan, kemampuan He Xia dalam menyusun strategi dan bela dirinya sunggu luar biasa, ia berhasil memenangkan hati sebagian besar Jendral hanya dalam waktu singkat. Kalau tidak, apa yang perlu di khawatirkan oleh keluarga Gui, He Xia telah membuat kubu dalam istana Yun Chang.

Hati Gui Changqing sangat kacau. Ia berdiri dan membuka pintu, membiarkan angin dingin menyerbu masuk. Seorang pelayan setianya berdiri di ujung lorong dan ia memanggilnya, “Apa Putri telah mengirim seseorang untuk memintaku menemuinya?”

Si pelayan menoleh pada Gui Changqing dan menjawab dengan hati-hati, “Belum.”

Ekspresi Gui Changqing menjadi lebih gelap, ia berdiri di depan pintu agak lama. Ia berkata, “Kau boleh pergi. Segera beritahu kalau ada berita dari istana.”

--

Kuda-kuda perang sudah siap dan drum peperangan segera akan berbunyi.

He Xia memegang bendera komando di tangannya. Ia memiliki pasukan, uang dan makanan tanpa dibatasi oleh siapapun.

Tuan Putri, kau benar-benar mempertaruhkan masa depan Yun Chang padaku?

Dengan bendera di tangan, esoknya He Xia segera mempersiapkan pasukan. Ia mengerti kekosongan akibat kehilangan Zhen Beiwang di dalam pasukan, tapi bagaimanapun pasukan sempurna milik Zhen Beiwang tidak bisa dianggap remeh. He Xia yang sangat bersemangat, siap untuk menguncang langit ketika ia mengerahkan tujuh Resimen Pasukan Yun Chang, termasuk di dalamnya Resimen Weibei dibawah komando Gui Changning dan Resimen Yongxiao di bawah komando Gui Yan.

Sebuah tanggal baik telah di pilih, Tuan Putri Yaotian melepas kepergian Suaminya dari gerbang ibukota.

Rakyat Yun Chang berkumpul di bawah tembok kota, menyaksikan Suami Ratu dalam balutan baju perang berwarna perak putih. Penampilannya seperti seorang Panglima yang turun dari langit. Semua orang memujinya.

“Lihatlah betapa gagahnya Suami Ratu kita!”

“Dong Lin akan tahu, Yun Chang tidak tidak bisa disepelekan.”

“Kalahkan mereka sampai berkeping-keping sehingga dunia akan tahu Yun Chang bukan bahan ejekan.”

Setahun lalu mereka telah ditekan oleh kekuatan militer Dong Lin sampai mereka tak bisa mengangkat kepala mereka. Hari ini mereka akhirnya bisa menunjukan kemarahan mereka.

Bahkan Yaotian, tidak menyangka kalau rakyatnya yang hidup dengan tenang sampai saat ini, ternyata memendam kemarahan yang sedemikian rupa.

Yaotian memberkati He Xia dengan secangkir arak dan memandang kebelakang He Xia dimana para prajurit berbaris rapat. Yaotian berkata, “Seluruh rakyat tahu, Suamiku akan kembali dengan kemenangan.”

He Xia tertawa ketika bertanya, “Bagaimana dengan Putri sendiri?”

Yaotian menatap He Xia, “Tak peduli apa yang akan terjadi di pertempuran, Suamiku harus pulang dengan selamat.”

He Xia menatap mata Yaotian, matanya bersinar terang seperti bintang di langit malam. He Xia tidak membalas perkataan Yaotian, ia hanya tersenyum lalu berbalik dan mengeluarkan pedangnya.

Clang!

Pedang itu telah berkali-kali dikeluarkan dari sarungnya, berkilat begitu silau seperti matahari yang baru muncul, pancaran sinarnya begitu menyilaukan sehingga rakyat yang berkumpul di sekitar mereka menutup matanya. dalam ingatan mereka terukir sosok He Xia yang tegap bermandikan cahaya matahari, berani dan angkuh.

“Panjang umur Suami Ratu!” setelah beberapa saat keheningan, tiba-tiba sorakan kencang bergema. Dan dengan segera menyebar kesekitarnya.

“Panjang umur Suami Ratu! Panjang umur Suami Ratu!”

“Panjang umur Suami Ratu!”

Dari kumpulan rakyat yang berada di sekitar pasukan sampai yang berada di balik tembok kota, semuanya berteriak.

He Xia berbalik dan tertawa lama, wajah tampannya menampilkan keangkuhannya. Ia menyarungkan pedangnya, menuruni tembok kota dan menaiki kudanya. Ia berkuda mengelilingi pasukannya satu kali sehingga semua orang bisa melihat sosoknya. Begitu ia menaikkan tangannya ke udara, seluruh yang hadir segera menutup mulutnya.

Ia bukanlah seorang Suami Ratu, juga bukan Tuan Muda dari Jin Anwang.

Ia telah menjadi harapan bagi Yun Chang dan lambang perwakilan negara.

Mata He Xia berkeliling menatap pasukannya yang akan menaklukan dunia bersamanya. Sudut bibirnya membentuk senyum kecil ketika ia berteriak, “Berangkat!”

Hanya sebuah kata, membuat pasukan yang berjumlah ratusan ribu itu bergerak bersama.

Suara langkah kaki kuda, membuat sekumpulan awan debu di belakang mereka, begitu tebalnya sehingga mereka sulit terlihat lagi.

Yaotian menyaksikan He Xia yang pergi dengan semangat juang tinggi, tangannya menekan dadanya karena terasa kosong. Dia menatap sampai He Xia tidak nampak lagi di matanya.

Ibukota sudah berada jauh di belakang, sepanjang mata memandang hanya ada dataran luas berwarna kuning yang nampak. He Xia berada di posisi paling depan dari barisan pasukan yang besar, ia mendengar suara langkah kaki kuda mendekat dari belakangnya. Dongzhuo memacu kudanya dengan cepat dari belakang, berusaha sejajar dengannya sambil berkata, “Semua yang Tuan perintahkan sudah siap.”

He Xia tidak berbalik dan tidak juga menoleh, ia hanya mengangguk ringan.

“Dongzhuo, pegang pedangmu erat-erat.” He Xia berbalik, menoleh pada pasukannya yang luar biasa. Sebuah tawa dingin nampak di matanya. “Kita akan melihat darah kali ini.”

Dongzhuo juga menoleh ke belakang, ia memperhatikan bendera pasukan Weibei dan Yongxiao berkibar di terpa angin. Tangannya dengan segera mengenggam erat pedang di pinggangnya.

Ia sangat tahu cara berpikir Tuannya. Ketika Tuannya tidak mengambil tindakan, maka ia sama sekali tidak akan menyentuhnya. Tapi ketika ia melakukannya, ia akan menyerang seperti petir, tidak menyisakan ruang untuk bergerak.

Itulah kharakteristik seorang Tuan dari Jin Anwang.

--00--



Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar