Selasa, 16 Mei 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.57

-- Volume 3 chapter 57 --



Perang pembalasan dengan Dong Lin berlangsung cepat dan menakjubkan. Ratusan ribu prajurit berbaris rapi disekeliling ibukota, sementara Yaotian sedang panik, mengetahui dirinya hamil. Hal ini membawa keberuntungan bagi He Xia, ia memiliki alasan untuk mengirim Putri ke istana belakang atau membuatnya menjadi tahanan rumah, dan melarangnya terlibat masalah pemerintahan.

Dalam beberapa hari, sebuah dokumen berisi pengakuan penghianatan yang sudah ditanda tangangi Gui Changqing, tiba di hadapan Yaotian. Tak lama kemudian, Gui Changqing di pertontonkan di tembok kota bersama para penghianat lainnya dan keluarga Gui yang tersisa, agar rakyat mengetahui kesalahan mereka.

“Tidak pernah menyangka, Pejabat Senior Gui akan berhianat.”

“Keluarga Gui telah menduduki posisi penting dari generasi ke generasi, mengapa mereka harus berhianat kali ini?”

Bukti-bukti bermunculan terus-menerus, setiap harinya ada saja yang melaporkan penghianatan yang dilakukan keluarga Gui. Sekarang setelah Pejabat Senior yang paling berwenang selama ini, sudah mengakui sendiri penghianatannya, apa perlunya lagi mencari tahu mana yang benar dan salah?

Apalagi ditambah kegagalan membalas Dong Lin, karena dua Jendral dari keluarga Gui yang sangat mengecewakan. Yang satu berlagak hebat dan yang satunya lagi sangat pemabukan, sehingga mengakibatkan satu resimen, yang berjumlah ribuan prajurit meninggal semua.

Bagaimana mungkin, mereka yang mengirim orang kesayangannya pergi sebagai prajurit, hanya untuk mengantar nyawa dengan mengenaskan, tidak membenci dua Jendral itu, yang sama sekali tidak memikirkan nyawa bawahannya.

Dan untungnya atas permasalahan rumit ini, Suami Ratu dengan tangkasnya menunjukan kemampuan militernya, dan berhasil menyingkirkan para penghianat. Bukan hanya itu, ia juga segera membuat pertemuan besar dengan mengumpulkan seluruh Pejabat dalam waktu singkat. Kurang dari satu bulan, sekali lagi, rakyat melepas kepergian seluruh resimen prajurit Yun Chang.

Bendera berkibar di udara dan ratusan ribu prajurit siap berangkat.

Suami Ratu, terlihat bersinar terang, lebih terang dari cahaya apapun yang pernah mereka lihat.

“Dunia sangat luas, tapi tidak ada tempat yang tak bisa diraih oleh Yun Chang!” di atas podium tembok kota, He Xia berkata sambil menghunuskan pedangnya.

Sosok Tuan Putri Yaotian tidak lagi terlihat disamping He Xia. Ia berada di istana belakang, mengandung calon Raja Yun Chang berikutnya.

Para prajurit menjadi bersemangat dan mereka berteriak gembira.

Sorak-sorai untuk He Xia, karena mereka memiliki seorang pahlawan.

Gui Li pernah memiliki He Xia, Dong Lin memiliki Chu Beijie dan Bei Mo setidaknya memiliki seorang Ze Yin. Tapi saat ini, Chu Beijie entah dimana dan Ze Yin sudah pensiun ke tempat terpencil.

Sedangkan He Xia sekarang milik Yun Chang.

Bersama He Xia, prajurit Yun Chang mampu pergi kemanapun.

Apa yang membuat para prajurit terkejut adalah, begitu He Xia memimpin mereka meninggalkan ibukota, ia segera memerintahkan seluruh pasukan untuk mendirikan kemah setelah berjalan hanya sejauh lima puluh mil. Ia memanggil seluruh Jendral ke tenda utama dan melakukan pembahasan rencana.

Begitu mereka semua tiba, He Xia segera berkata, “Kita akan berubah haluan, tidak menuju Dong Lin.”

Para Jendral sudah mulai terbiasa dengan keunikan He Xia yang senang berubah tiba-tiba, dan mereka sudah mulai menduganya ketika mereka diberhentikan tadi, sehingga tidak lagi terkejut dan hanya bertanya dengan ringan, “Kalau bukan meuju Dong Lin, lantas kita mau kemana ?”

“Pasukan akan dibagi menjadi dua, dan berjalan terus mekipun malam, kita akan bertemu di perbatasan Bei Mo.”

Mereka semua segera mengerti, kalau mereka hendak menyerang Bei Mo terlebih dahulu.

Strategi menyerang Bei Mo terlebih dahulu memang lebih tepat. Meskipun pasukan Dong Lin tidak lagi memiliki Chu Beijie, tapi, bahkan untuk sebuah kapal karam, mereka masih memiliki paku yang kuat di bangkainya. Dong Lin bukan musuh yang mudah dikalahkan. Pasukan Bei Mo tidak memiliki Jendral yang cukup kuat, lagi pula mereka sudah tidak memiliki Ze Yin. Perang seperti hendak makan buah kesemek, kau pasti akan memilih bagian yang lunak terlebih dahulu.

Qing Tian telah beberapa kali melakukan misi. Ia memikirkan sesuatu dan sangat penasaran. Ia bertanya pada He Xia dengan sopan, “Suami Ratu menginginkan kami menyerang Bei Mo terlebih dahulu, bukan suatu masalah bagi kami. Bagaimanapun, Dong Lin adalah musuh utama kita, dan Gui Li sedang memperhatikan kita. Bagaimana kalau selama kita menyerang Bei Mo, mereka berdua memutuskan untuk berkoalisi, dan pada akhirnya kita harus menghadapi serangan dari tiga sisi?”

“Tak ada seorangpun yang berharap akan menghadapi serangan dari tiga sisi. Karena itu, Bei Mo pasti tidak menyangka sama sekali kita akan menyerang mereka secara tiba-tiba.”

He Xia tertawa ringan, “Jangan khawatir Jendral. Aku berani menantang Bei Mo karena aku sudah punya rencana untuk menyingkirkan mereka dengan cepat. Wewenang kerajaan Dong Lin saat ini dipegang oleh seorang Ratu, seorang wanita jika berurusan dengan masalah militer tidak pernah tegas dan plin plan. Selama ia memikirkan apakah sebaiknya menyerang kita, kita sudah selesai memusnahkan kekuatan militer Bei Mo.”

Mereka masih agak ragu dengan rencana He Xia. “Begitu kita menyingkirkan Bei Mo, kita masih harus menghadapi Dong Lin. Lantas apa kita masih ada kekuatan untuk menghentikan Gui Li ?”

“Ini memang hal yang harus dipikirkan.” He Xia telihat percaya diri. Ia berkata dengan agak keras, “Zhaoxing, masuklah!”

Tirai tenda tersibak. Seorang prajurit bertubuh kurus melangkah masuk. Ia memberi hormat pada Jendral yang lain dan berdiri di sisi He Xia. Ia terlihat tenang.

Ia memperkenalkannya, “Fei Zhaoxing adalah orang kepercayaan Jendral Le Zhen dari Gui Li. Ia adalah orang yang memberi kabar pada kami tentang rencana penyergapan Raja Gui Li waktu itu.” He Xia mempersilakan Fei Zhaoxing untuk bicara.

Fei Zhaxing bicara dengan agak pelan. “Ratu Gui Li, memerintahkan aku untuk memperingati Tuan Muda Jin Anwang secara diam-diam. Ketika Raja Gui Li melaksanakan rencana untuk menyergap orang-orang Jin Anwang. Asalkan aku menulis surat, tentang penghianatan Ratu dan keluarga Le, serta memastikan seseorang menyampaikan surat itu ke tangan Raja Gui Li, kestabilan pemerintahan Gui Li pasti kacau balau. Mereka tidak akan peduli dengan pertempuran antara Dong Lin dan Yun Chang.”

Jendral dari resimen Weimo sangat penasaran, “Ratu dari keluarga Le sangat mendukung negara Gui Li. Mengapa ia sendiri mengutus seseorang untuk memperingatkan keluarga Jin Anwang, menghianati Rajanya?”

Fei Zhaoxing menjawab ringan, “Untuk menghalangi Bai Pingting memasuki istana selir.”

Para Jendral menjadi lega.

Mendengar nama Bai Pingting disebut, bola mata He Xia mengelap. Ia diam agak lama sampai sinar matanya kembali normal, ia berkata, “Surat Fei Zhaoxing sudah dalam perjalanan menuju ibukota Gui Li. Raja Bei Mo sama sekali tidak memikirkan kita, dan Dong Lin untuk saat ini – takut pada kita, jadi mereka tidak akan segera menyerang. Semuanya, ini saat yang tepat untuk menaklukan Bei Mo.”

Rencana He Xia sangat rapi dan benar-benar direncanakan dengan matang. Awalnya para Jendral tidak percaya dengan pendengaran mereka, tapi sekarang mereka bergembira. Dan mereka segera berkata dengan kompak, “Kami selalu patuh pada perintah Suami Ratu!”

Jejak pasukan Yun Chang menghilang, tidak ada yang tahu kemana mereka pergi.

--
“Waaaah….waaaahhhh….”

Pingting segera berjalan masuk ke dalam ruangan. Ia melihat Ze Qing tengkurap di kaki Yangfeng dan pantatnya terlihat. Tangen Yangfeng naik turun memukul pantat Ze Qing.

“Yangfeng, mengapa kau memukulnya?”

Yangfeng menjawab sambil marah. Ia menunjuk pada sesuatu di bawah di lantai, “Lihat apa yang ia keluarkan dari bawah tempat tidur. Tidak hanya itu, ia juga memainkannya bersama Changxiao. Bagaimana kalau benda itu akan melukai Changxiao?”

Pingting menunduk untuk melihat ke lantai dan ia terkejut melihat sebuah pedang tergeletak. “Mereka berdua terlalu nakal. Changxiao kau juga harus di hukum.” Pingting menarik Changxiao yang sedang berdiri.

Changxiao masih belum bisa berbicara. Ia terlihat mengemaskan, matanya cerah dan bersinar. Ia hanya meringis ketika melihat ibunya masuk.

“Yangfeng jangan memukul Ze Qing lagi. Aku yakin semua ini salah Changxiao. Jangan tertipu olehnya karena ia masih kecil. Begitu ia berjalan dan berlari, kau tidak akan menyangka betapa lihainya dia.”

Pantat Ze Qing telah di pukul beberapa kali. Ia sangat menyukai Changxiao dan ia tidak suka melihatnya menangis, maka ia segera turun ke lantai. Yangfeng yang memukulnya merasa hatinya sangat sakit, maka ia hanya bisa melepaskannya.

“Ah…tersenyumlah… tersenyumlah….” Begitu Ze Qing terbebas dari hukuman ibunya, ia segera menghibur Changxiao. Ia menarik tangan Changxiao dan membawanya keluar sambil berkata, “Bambu, bambuu…” ia sangat cepat jika berlari sehingga Changxiao melompat dan agak sempoyongan ketika keluar dari pintu.

“Ze Qing, jangan memainkan bambu itu sampai menempel ke pakaianmu.” Yangfeng mengejar mereka ke pintu, “Lepaskan Changxiao dan jaga dia jangan sampai jatuh.”

“Yangfeng tidak pa-pa.” Pingting berjalan mendekatinya dan menepuk pundaknya. Ia tersenyum, “Lihatlah wajahmu itu. Jangan mengkhawatirkan Changxiao. Biarkan anak-anak jatuh agar mereka bisa tumbuh.” Ia berbalik dan mengambil pisau di lantai.

Sebuah pedang yang bagus. Mata pisaunya sangat tajam. Sedikit gerakan saja sudah bisa membuat cahaya menjadi gemetar. Pingting memperhatikan pangkal pedangnya, dan seperti dugaannya tulisan “Semangat Langit” terukir disana. Ia menjadi diam. Dan setelah beberapa saat, akhirnya ia bertanya, “Mengapa pedang berharga yang pernah menguncang dunia berkali-kali, berada disini dan tertutup debu? Sungguh disayangkan.”

Yangfeng berbalik dan melihat Pingting menatapi pedang. Jantungnya serasa melompat keluar. Chu Beijie datang dan mendapati kabar kalau Pingting telah meninggal, sehingga ia kehilangan semangat hidupnya. Ia tidak memberitahu Pingting kalau Chu Beijie meninggalkan pedang berharganya. Ia menyembunyikannya di bawah tempat tidur. Mungkin takdir atau hanya ketidaksengajaan, dua berandal kecil itu menemukannya. Ia berpikir sejenak dan berkata dengan pelan, “Chu Beijie meninggalkannya. Ia datang untuk mencarimu.” Melihat Pingting tetap diam, Yangfeng berkata lagi, “Pingting, apa kau masih merindukan pria itu?”

Pingting tidak menjawab, hanya berdiri diam di dalam ruangan. Setelah beberapa saat, ia memasukan kembali pedang ke dalam sarungnya, menggantungnya di dinding dan berjalan keluar. Ia memanggil anaknya, “Changxiao, kemarilah, ibumu akan menyanyikan lagu indah untukmu.” Dan ia tersenyum.

“Ma…mama!” Changxiao terkekeh sambil melangkah mendekat.

“Aku juga mau mendengarkan!” Ze Qing selalu berada di sisi Changxiao. Ia berdiri di belakang Changxiao.

Matahari bersinar terik. Sebuah riak kecil muncul di sebuah permukaan kolam kecil di depan pondok mereka.

Seseorang sedang bernyanyi dengan lembut.

“Ketika ada masalah, disana ada pahlawan, dimana ada pahlawan, disana ada wanita cantik, bertahan dari kekacauan, bertahan dari kekacauan….”

Anakku, ibumu menyimpan sebuah cerita dalam hatinya.

Cerita itu berisi seorang pahlawan dan seorang wanita cantik.

Si cantik dan sang pahlawan saling bersumpah pada bulan, tidak akan pernah saling berhadapan.

Tidak akan pernah, selamanya, saling berhadapan satu sama lainnya.

Lagu itu terdengar lembut dan sangat menyentyh, penuh cinta dari hati dan kemarahan dari bibir. Meskipun dua anak itu tidak mengerti arti sesungguhnya dari lagu itu, mereka mendengarkan dengan takjub.

Sebelum lagunya selesai, sosok Ze Yin muncul di seberang pagar. Ia berjalan cepat dan raut wajahnya gelap.

Pingting segera menhentikan nyanyiannya ketika melihat ekspresi Ze Yin. Ia mengerti ada sesuatu yang sangat penting, “Ada apa?”

Raut wajah Ze Yin semakin gelap ketika ia menggelengkan kepalanya. Weiting mengikutinya di belakangnya. Ekspresi mereka berdua sangat kacau. Tak ada yang berkata apa-apa sambil mereka masuk ke dalam ruangan.

Setelah si pengasuh datang dan membawa anak-anak ke tempat lain untuk bermain, Ze Yin menutup pintu dan berkata pelan, “Raja sudah meninggal.”

Yangfeng sangat terkejut mendengarnya, “Kesehatan Raja selama ini baik-baik saja, apa yang terjadi?”

“He Xia.” Weiting menjawab dengan sedih. “He Xia mengirim undangan kepada Raja untuk bertemu di perbatasan, untuk sebuah perayaan. Yun Chang dan Bei Mo telah bersekutu, Raja memiliki hubungan baik dengan He Xia, sehingga ia sama sekali tidak curiga.”

“Si licik He Xia, ia sungguh berani memberikan arak beracun. Mereka juga disergap oleh sepasukan prajurit, sehingga Raja, rombongan para pejabat dan penjaga, semuanya dibunuh dalam sekejap. Kabar ini sekarang sudah tersebar ke seluruh negri. Rakyat menjadi panik.” Mengingat hubungan terdahulunya antara Bei Mo dan dirinya, seorang mantan Jendral seperti Ze Yin tak kuasa menahan airmatanya.

Ekspresi Yangfeng penuh ketidakpercayaan. “Apa He Xia sudah gila? Setelah kematian Raja, pasukan Bei Mo pasti akan segera menyerangnya.”

“Pasukan Bei Mo pasti tidak berani untuk segera menyerang.” Sebuah suara tegas terdengar dari belakang mereka.

Mereka bertiga berbalik menatap Pingting yang berdiri di samping meja, “Karena He Xia, berani membunuh Raja Bei Mo, maka ia pasti memiliki jumlah pasukan yang cukup besar untuk bisa menghabisi seluruh pasukan Bei Mo, meskipun pasukan Bei Mo dalam kondisi marah karena niat balas dendam.”

Ze Yin menjadi kaku mendengarkan hal itu. “Kalau Yun Chang berani menyerang penuh Bei Mo, seharusnya Dong Lin dan Gui Li tidak akan diam dan melihat saja. Apa He Xia berani berperang melawan tiga kekuatan?”

“Jendral, kau tbelum pernah melawan He Xia.” Pingting mengatupkan bibirnya, bingung apakah ia merasa marah atau malah bangga. Ia berbisik, “Di medan perang, ia tidak akan melakukan apapun, kecuali ia merasa sangat yakin dan pasti.”

“Kalau begitu, apa sebaiknya kita mengirim berita kepada Ruo Han untuk berhati-hati?”

“… itu sudah terlambat…”

--

Surat Fei Zhaoxing benar-benar berhasil membuat pertengkaran hebat antara Raja Gui Li dan Keluarga Le.

Masalah terkait Bai Pingting tidak bisa di ungkap ke luar, jadi Raja Gui Li mencari-cari alasan untuk mengirim Ratu ke istana dingin.

Tapi kekuatan Keluarga Le sudah mengakar di dalam kerajaan Gui Li, sehingga sulit untuk dibersihkan. Tetua Li Di sudah mengantisipasi kejadian ini jauh sebelumnya. Maka sebelum Raja sempat mengambil tindakan, ia membuat langkah cerdik. Ia menjadikan anaknya Le Zhen, sebagai Panglima utama dalam militer. Sehingga, sebelum Raja sempat memerintahkan untuk menyergap mereka, anaknya sudah meninggalkan ibukota dengan alasan melatih pasukan.

Seperti itulah situasinya, Raja Gui Li berada di dalam, sementara Panglima Utamanya Le Zhen berada di luar ibukota bersama sebagian besar pasukan. Kalau mereka berdua akhirnya bentrok, itu sungguh sesuatu yang dinantikan seseorang.

Kerajaan Gui Li terjebak di dalam permasalahan internnya, sehingga meskipun kabar Raja Bei Mo telah dibunuh oleh He Xia sampai ke dalam istana, tidak ada yang peduli tentang hal itu.

--

Dari empat negara, Dong Lin yang paling waspada dengan tindakan He Xia.

“Kita harus membahas masalah ini.”

Dalam istana kerajaan, Ratu Dong Lin duduk sebagai pemegang takhtah. Ia dengan gugup memandang seluruh Pejabat yang berkumpul. “Kalian semua sudah membaca laporan militer, jadi jangan katakan, kalau tidak ada yang bisa kalian sampaikan padaku? Para Jendral dan Pejabat, kita harus membicarakan masalah ini.”

Chen Mu menghela napas. Ia menguatkan tekad dan melangkah maju, “Ratu, pendapatku tetap sama. Kalau He Xia berani menyerang pasukan Bei Mo, maka sasaran selanjutnya adalah Dong Lin. Waktu sangat berharga, kita harus segera bergabung bersama Bei Mo untuk mengalahkan Yun Chang.”

“Tentu saja tidak.” Chu Zairan berteriak.

Kedua pangeran telah di bunuh atas rencana Raja Bei Mo, sehingga Ratu sama sekali tidak berniat membantu Bei Mo atas masalah mereka. Mendengar Chu Zairan tidak setuju ia bertanya dengan lebih sabar, “Kalau begitu apa saran dari Pejabat Senior, katakanlah.”

Chu Zairan berjalan dengan agak goyah. Ia mendongak dan berkata, “Ratu, kerajaan kita tidak seperti dulu lagi. Kalau kita masih memiliki Tuan Besar Zhen Beiwang, apa yang kita takuti dari seorang He Xia? karena Zhen Beiwang tidak disini dan tidak diketahui jejaknya sama sekali, maka sebaiknya kita jangan memancing He Xia, jadi jangan memancing He Xia.”

Chen Mu berkata dengan tidak sabaran, “He Xia sangat berambisi. Bahkan kalau kita tidak memancingnya, ia tetap akan menyerang kita. Tuan Besar Zhen Beiwang sudah pergi, dan militer kita lemah, itulah sebabnya kita harus mengambil tindakan terlebih dahulu. Kita harus berkerja sama dengan pasukan Bei Mo melawan He Xia untuk keselamatan kita sendiri.”

“Prajurit sangat ganas dan perang sangat berbahaya. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan melindungi diri sendiri.”

“Satu-satunya cara paling tepat, adalah menyerang saat ini juga.”

“Pejabat Senior, kalau kau ada pendapat, katakan saja dengan jelas.”

“Setelah Yun Chang berperang dengan Bei Mo, mereka butuh waktu untuk menyusun kekuatan kembali. Kita bisa menggunakan kesempatan ini untuk melatih prajurit dengan sebaik-baiknya…”

“Jangan terlalu terburu-buru, kita bicarakan dengan hati-hati…”

“Bicarakan apa? Setelah kita menunggu He Xia menaklukan Bei Mo. Dong Lin yang akan menjadi target berikutnya. Aku rasa musuh akan segera sampai disini bahkan sebelum pelatihan dimulai!”

“Berhenti berdebat!” beberapa Pejabat mulai berdebat masing-masing. Ratu menyaksikan mereka satu per satu, kesabarannya habis, ia melempar tatakan tangan, dan seluruh pejabat menjadi terdiam seketika.

“Mengirim pasukan adalah keputusan penting, tidak bisa dilakukan terburu-buru.” Ratu menggosok keningnya dan menghela napas, “Kita akan memikirkan masalah ini dan melanjutkan pembicaraan besok.”

Alis mata Chen Mu berkerut. Ia melangkah maju dan berkata, “Yang Mulia Ratu, kita tidak boleh menunda kesempatan ini lebih lama lagi. Panglima Utama Bei Mo, Ruo Han, sudah melakukan serangan. Perencanaan He Xia sangat matang, aku khawatir hanya dalam beberapa hari, Pasukan Bei Mo akan segera dibinasakan.”

Ratu menjadi marah. “Bukankah sudah kukatakan, kita akan memikirkan masalah ini dan melanjutkan pembicaraan besok. Jendral Chen tak perlu berkata apapun lagi.” Ia berdiri dan segera meninggalkan ruangan.

Reaksi Ratu Dong Lin persis seperti dugaan He Xia, tanpa campur tangan Gui Li dan Dong Lin, He Xia dengan bebas menggerakan pasukannya menyerang Bei Mo dengan kekuatan penuh.

--

Apa yang tejadi selanjutkan sangat mengejutkan ke empat negara.

Dibawah kaki gunung Songseng, sebuah tempat yang dikenal dengan nama Zhouqing. Pasukan Yun Chang seperti terbentuk dari udara yang muncul dari permukaan tanah, membentuk barisan rapat pasukan prajurit. mereka memajang kepala Raja Bei Mo yang mati dengan menyedihkan, membuat murka para prajurit Bei Mo yang sedang berduka. Dibawah perintah dan perencanaan He Xia yang sangat matang, pertempuran penentuan ini menjadi ajang pembataian besar-besaran.

Pasukan Yun Chang sepenuhnya menbinasakan pasukan Ruo Han, hanya sepersepuluh dari mereka yang mampu melarikan diri dan selamat.

Pasukan itu adalah pasuakan utama dan merupakan andalan militer Bei Mo.

Sekali lagi, pertempuran Zhouqing membuktikan kemampuan militer He Xia yang luar biasa.

Setelah itu, kekuatan pasukan He Xia semakin berkembang diluar perkiraan. Setelah mengalahkan pasukan Ruo Han, langkah He Xia selanjutnya adalah menghancurkan pasukan Bei Mo yang tersisa dengan kecepatan penuh. Dan berikutnya, sasaran mengarah pada Dong Lin yang telah kehilangan satu-satunya kesempatan mereka.

Para pejuang Yun Chang tidak pernah menyangka, kalau mengambil alih empat negara begitu mudah dilakukan. Kemenangan berturut-turut membuat semangat mereka melambung tinggi.

Setelah beberapa kali pertempuran, mereka akhirnya berhasil menjatuhkan perbatasan Dong Lin. Di tengah pertumpahan darah, bendera He Xia berkibar paling depan.

Di mata para prajurit yang mengikutinya, sosoknya terlihat seperti dewa perang.

Darah mengalir beratus-ratus mil. Yun Chang menjadi pusat bayangan peperangan yang tersebar ke seluruh jurusan bersama perluasan daerah kekuasaan mereka, sedikit demi sedikit.

Pasukan Bei Mo sepenuhnya musnah. Bahkan sisa-sisa kerajaan Bei Mo turut menghilang.

Pasukan Dong Lin sudah dimusnahkan juga. Jendral Chen Mu terbunuh dalam pertempuran, Moran memimpin pasukan yang tersisa untuk melindungi Ratu, melarikan diri dari istana kerajaan.

Pejabat Senior, dengan rambut putihnya yang panjang, merasa dipermalukan jika tertangkap, sehingga ia memutuskan bunuh diri sebelum prajurit Yun Chang mendobrak rumahnya.

Tidak ada yang menduga He Xia akan mampu melakukan semua ini dalam waktu yang sangat singkat.

“Pasukan Yun Chang datang! Pasukan Yun Chang datang!”

“Lari! Kita harus lari…”

“Ayah! Ayah, dimana kau?”

Mayat-mayat bergeletakan di tanah. Prajurit yang menyerah dan rakyat yang melarikan diri, semuanya berlari. Setiap orang tidak mau tertinggal dibelakang. Yang tua dengan tenang menunggu nasib, yang muda melarikan diri dengan putus asa.

Tapi siapa yang bisa mengalahkan kecepatan kuda perang He Xia?

--00--



Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar