Di
istana Yun Chang, pavilium itu masih tetap sama.
Matahari
sudah tinggi.
Yaotian
duduk di kursi, memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia menyibak tirai yang
bergoyang oleh angin. Ia baru mengenakan separuh pemerah pipi ketika ia berdiri
di depan cermin, kesepian.
He
Xia melewati banyak penjaga di jalan utama istana dan berbelok di lorong dalam.
Jalurnya menjadi semakin sempit semakin ia jauh melangkah, dan akhirnya ia tiba
di pojok tersunyi. Sebuah pintu kayu besar terkunci erat di sebuah bangunan
kecil di depannya.
Putri
Yaotian dan pelayan pribadinya Luyi, dikurung disana.
“Suami
Ratu.” Hanya orang kepercayaan He Xia yang ditugaskan menjaga pintu itu. Kepala
penjaga datang mendekat, memberi hormat pada He Xia. Lalu ia bertanya dengan
hati-hati, “Apa Suami Ratu ingin kami membukakan pintu untuk masuk ke dalam?”
Mata
hitam He Xia perlahan beralih pada kunci di pintu.
Yaotian
berada di dalam.
Ia
istrinya, ibu dari anak yang belum lahir, sangat lembut, baik dan senang
tersenyum, Putri yang elegan. Penguasa Yun Chang yang menulis sendiri perintah
untuk membunuhnya dengan alasan penghianatan.
Ia
menatap kunci, seakan kunci itu bukan hanya mengunci pintu itu tapi juga
hatinya. Ia berdiri disana, dan terdiam lama sekali, sampai akhirnya ia
menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ingin masuk ke dalam. Jangan katakan pada
siapapun aku datang. berikan ini pada Putri dan katakan padanya aku sudah
melihat suratnya. Zhang Yin sudah dibereskan dengan baik. Ini hadiah, balasan
dariku. Nona Fengyin, wanita yang diberikan Putri padaku, membantuku
membuatnya.”
Si
penjaga mengangguk dan menerima kotak itu dengan hati-hati dari tangan He Xia.
Si penjaga berjalan ke depan pintu dan mengeluarkan anak kunci, ia membuka
pintu dan masuk ke dalam.
Begitu
pintu terbuka, He Xia menoleh ke dalamnya. Dalam waktu yang begitu singkat, ia
tidak bisa melihat apapun.
Tak
lama kemudian, pintu terbuka lagi dari dalam. Kepala penjaga keluar, dan dengan
hati-hati menutup dan menguncinya kembali. Ia menghampiri He Xia untuk
melaporkan, “Hadiah telah diberikan. Dan setiap ucapan Suami Ratu juga telah
disampaikan, tidak ada satu katapun…”
“Ahhhhh!”
suara jeritan ketakutan terdengar dari dalam ruangan.
Suara
jeritan itu sangat mengerikan. Para penjaga yang sudah agak lama bertugas tahu
persis kalau itu suara Tuan Putri Yaotian.
Mereka
yang berjaga bukanlah orang biasa, tapi hampir semuanya termasuk kepala penjaga
sendiri turut gemetar mendengarnya.
Setelah
jeritan berhenti, terdengar seperti ada yang benda berat yang jatuh ke lantai
berwarna ungu emas itu.
Semua
orang berpikir kalah Putri Yaotian telah membuka kotak hadiah dari Suami Ratu
dan terkejut dengan isinya. Tapi apa yang berada di dalam kotak itu yang
membuat Tuan Putri begitu ketakutan luar biasa.
Wajah
para penjaga menjadi ketakutan, tapi melihat wajah tenang He Xia, jauh lebih
menakutkan.
Hanya
He Xia yang tahu isi kotaknya.
Kotak
itu berisi harta berharga. Setidaknya pernah sekali menjadi sesuatu yang
berharga bagi Tuan Putri dan Gui Changqing.
Mereka
pikir wanita itu bisa bermain kecapi sepandai Pingting, cukup hebat untuk bisa
menyentuh segala benda yang telah dipersiapkan He Xia untuk Pingting. Ia
menggunakan sisir Pingting, tidur di atas kain seprai yang telah ditiduri
Pingting, dan menyentuh kecapi yang dimainkan Pingting.
Di
mata He Xia, wanita itu tidak mungkin berharga. Wanita itu hanya siksaan yang
mengekangnya.
Setiap
kali irama kecapi yang terdengar di kediamannya berasal dari jari-jarinya yang
tajam. Kuku-kukunya menancap dalam di hati He Xia.
Kedua
tangan pemain kecapi Fengying, daripada tetap berada di tempatnya, lebih baik
di potong, berdarah, dan dipersembahkan sebagai hadiah dalam kotak.
Tuan
Muda Jin Anwang mengembalikan semua penghinaan dan siksaan pada pemiliknya.
“Tuan
Putri! Tuan Putri! Kenapa? Tuan Putri!” suara Luyi terdengar dari dalam,
suaranya terdengar mengigil melewati pintu kayu.
Ia
berteriak kencang.
Para
penjaga yang berada di luar menegangkan telinga mereka memperhatikan setiap
gerakan dari dalam. Luyi memanggil beberapa kali, tapi kemudian ia berhenti. Di
dalam ruangan sangat sunyi. Setelah beberapa waktu Luyi mulai berteriak lagi.
“Siapa saja! Siapa saja datanglah!”
“Siapa
saja datanglah! Tuan Putri sekarat! Panggil tabib! Cepatlah panggil tabib!”
“Kepala
penjaga, kepala penjaga yang diluar! Aku mohon, panggilkan Suami Ratu!”
“Tuan
Putri…. Tuan Putri… oh tidak, darahnya!” pintu kayu berbunyi seperti di hantam
benda dengan keras dari dalam. Para penjaga melompat kebelakang terkejut.
Terlihat sebuah tangan dan kuku tajam tercetak, “Darah, darah! Siapa saja!
Siapa saja! Siapa saja datanglah….” Luyi berteriak sambil menangis.
Para
penjaga merasa agak takut dengan jeritan kalutnya, mereka menoleh ke arah He
Xia.
He
Xia mendengar jeritan Luyi dan memerintahkan, “Kalian semua boleh pergi, tanpa
ijin dariku tidak ada yang boleh datang.”
Para
penjaga sudah cukup mendegar suara mengerikan yang bisa memberikan mimpi buruk
itu, dan mereka sangat ingin pergi. Dengan segera tempat itu menjadi kosong.
“Tabib,
aku mohon, panggilkan tabib. Siapa saja, siapa saja tolonglah…” Luyi terus
menangis dari dalam. Beberapa suara bentrokan terdengar, sepertinya Luyi berusaha
kembali ke samping Yaotian sambil menabrak meja-meja dan kursi-kursi.
Prang!
Suara
pot bunga yang berisi air terjatuh ke lantai.
“Tuan
Putri, Tuan Putri, kau sudah sadar?” suara Luyi menjadi lebih stabil. “Tuan
Putri apa kau baik-baik saja? Kau menakutiku sampai hampir mati…”
“Luyi,
sakit sekali…” suara Yaotian terdengar.
Setelah
sunyi sesaat.
“Darah,
darah ini, kenapa….” Suara Yaotian yang ketakutan terdengar lagi.
“Tuan
Putri, Tuan Putri! Jangan bergerak…. Siapa saja datanglah! Selamatkan Tuan
Putri! Tuan Putri sangat sekarat, siapa saja!” Luyi mulai menangis lagi, bahkan
lebih menyayat hati dibanding yang sebelumnya. “Suami Ratu, datanglah cepat,
Suami Ratu! Tuan Putri sekarat! Tuan Putri… Tuan Putri akan meninggal….”
Mata
He Xia mulai bersinar dan membara, sangat kuat.
“Tuan
Putri, Tuan Putri! Selamatkan Tuan Putri, selamatkan Tuan Putri! Aku mohon buka
pintunya! Kami butuh tabib, sedikit obat saja tidak pa-pa!” suara pintu kayu di
gedor terdengar sangat keras, Luyi memukulnya dengan membabi buta sambil
berteriak sekuat tenaga.
“Aku
mohon pada kalian semua! Aku mohooon pada kalian semua! Tuan Putri sekarat!
Tabib! Tabib!”
“Suami
Ratu, Suami Ratu, kau sungguh kejam….”
Suami
Ratu, Suami Ratu.
Suami
Ratu Yun Chang. Hanya ada satu Suami Ratu.
Satu
yang menatap dingin setiap orang, tapi dengan bibir lembutnya, si gadis lugu
telah terperangkap.
Mereka
berdua telah bersanding, meskipun sangat berbeda.
Di
ruangan yang dihias luar biasa indah dengan bunga-bunga, dan asmara.
Mengingat
hari pernikahannya, pria itu melepaskan kerudungnya dari kepalanya. Yaotian
menghela napas, “Di malam pernikahan, pria yang berada di hadapanku sangat
berbakat militer dan sastra, seorang pahlawan. Sungguh seperti mimpi indah,
sehingga aku sangat takut kalau itu, benar-benar hanya mimpi.”
Senyum
Yaotian di bawah cahaya lilin terukir di benaknya dengan jeals, pipinya merona
sehabis minum arak.
Putri, istriku. Itu
bukan mimpi indah, melainkan mimpi buruk.
Yang bisa menjadi
kenyataan adalah mimpi buruk yang tak ada seorangpun bisa melarikan diri
darinya.
“Tolong!
Siapa saja datanglah selamatkan Tuan Putri…. Aku mohon …. Aku mohon pada
kalian….” Suara putus asa Luyi bergema di telinganya.
Wajah
tampan He Xia menjadi kacau, sangat pucat dan dingin. Ia menundukan kepalanya,
dan menyadari kalau ia sedang mengenggam erat gembok pintu di tangannya. Ia
sangat terkejut dan segera melangkah mundur, tapi tetap berdiri tegak.
“Siapa
saja, selamatkan Tuan Putri! Aku mohon, selamatkan Tuan Putri…..”
“Suami
Ratu, jangan sekejam ini! Aku mohon Suami Ratu, Tuan Putri sekarat….”
Suara
Luyi menjadi lebih pelan, “Bahkan kalau kalian membunuh Tuan Putri, apa Suami
Ratu tidak mengingikan darah dagingnya sendiri? Aku mohon, Tuan yang di depan,
tolong, tolong, sampaikan pesan pada Suami Ratu!”
Membunuh Putri?
He
Xia menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah berpikir untuk membunuhnya. Ia
hanya berpikir untuk mengambil alih kekuatan militer dan taktahnya, tapi tidak
pernah sekalipun berpikir untuk membunuhnya.
Mengapa
ia harus membunuhnya, ia istrinya satu-satunya, Ratu masa depannya. Ia pernah
berjanji akan membuatnya menjadi wanita nomer satu di seluruh dunia.
Ia
tidak ingin menyakitinya, benar-benar tidak ingin. Tapi istrinya telah menulis
surat, untuk melakukan rencana penyingkiran dirinya. Surat itu sangat singkat
dan jelas, menyatakan kalau ia akan dijatuhi hukuman mati.
Dan
kalau dibiarkan lebih lama, mungkin dirinyalah yang akan dikurung seperti ini.
Yang sedang berdara-darah mungkin ia sendiri, hancur berkeping-keping mungkin
saja dirinya!
Mimpi
buruk, ini sebuah mimpi buruk.
Suara
teriakan Yaotian terdengar di sela tangisan Luyi.
“Ahhh…ahhhhhhh!
Luyi, aku tidak akan bertahan…… ahhh!”
“Tuan
Putri, tabib….tabib…akan segera datang…. akan segera datang…”
“Tidak,
tidak, aku tidak mau tabib. Aku mau suamiku…suamiku….”
“Tuan
Putri….”
“Cepatlah,
panggilkan seseorang panggil suamiku kemari. Buat dia datang kemari…”
Luyi
berkata sambil menangis, “Tuan Putri, Suami Ratu, dia…..”
“Luyi
aku ingin melihatnya…. Aku tidak akan bertahan. Aku ingin melihatnya. Cepatlah,
ia tidak akan sempat melihatku lagi…..”
Suara
Yaotian serak dan lemah, tapi sangat penuh kesetiaan.
Putri!
He
Xia yang berdiri di depan pintu seperti patung tiba-tiba tersentak. Ia bergegas
mendekati pintu dan menggemgam erat gembok dingin dan berat itu.
Dingin
dan sangat berat.
Kunci
ini kunci hatinya, kunci seluruh kehidupannya.
Selama
Tuan Putri masih ada, masalah surat perintah seperti itu akan selalu ada, lagi
dan lagi. Tidak ada yang bisa merubah permasalah ini dimasa depan.
He
Xia menatap gembok, keringatnya berbaur dengan besi, membuat tangannya basah
dan dingin.
Yaotian
masih merintih, “Suamiku, pergilah panggilkan suamiku untukku…. Ia tidak
mungkin menolak melihatku…. Carikan dia…..ahhhh! sakit sekali….”
Tangan
He Xia yang menggenggam gembok mulai bergetar.
Putri, Putri, aku
tidak bisa melihatmu.
Kau istri He Xia,
istri He Xia satu-satunya di dalam hidupnya.
Aku tidak membencimu
karena membiarkan Gui Changqing secara diam-diam berusaha mengendalikanku. Aku
tidak membencimu karena membuatku kehilangan Pingting. Aku benar-benar tidak
membencimu.
Aku hanya membenci
langit, benci pada mimpi buruk ini, benci karena kau menulis surat untuk
menghukum mati diriku dan benci pada segala hal yang membuatku tak mampu
melindungimu.
Air
mata hangat mulai turun di wajahnya, mengalir dengan perih.
He
Xia menyengkram gembok pintu dan mendengarkan Yaotian menangis sambil
memanggilnya. Lututnya tak mampu lagi bertahan.
Esoknya
pagi sekali, acara duka dan penguburan di adakan, mengejutkan seluruh rakyat
yang hendak mulai bekerja sepanjang hari.
Dari
kejauhan, istana Yun Chang terlihat putih dan sunyi.
Rakyat
mendengar beritanya. Penguasa Yun Chang yang sedang mengandung telah melahirkan
lebih cepat dengan tubuhnya yang lemah. Ia meninggal dalam pelukan Suami Ratu
yang hatinya hancur.
Yang
mereka tidak tahu adalah, dimalam yang sama, beberapa pejabat penting telah di
hukum mati dengan berbagai alasan.
--
Ini
adalah malam yang gelap di Dong Lin. Bahkan bintang-bintang bersembunyi.
Moran
menyembunyikan dirinya di dalam hutan sambil menatap khawatir ke arah cahaya
lilin yang berkelip di kejauhan.
Kerlipnya
menghilang di tengah kegelapan malam, mereka memasang busur di sekeliling jalur
hutan di pegunungan tempat mereka bersembunyi.
Panah-panah
sudah terpasang, hanya tinggal di tembakkan.
Situasi
genting ini sudah berlangsung beberapa hari. Kekuatan terakhir dari istana Dong
Lin telah terperangkap tanpa bisa bergerak. Kedua pihak saling mengerti kalau
ketenangan ini hanya kepalsuan yang akan segera berakhir menjadi pertumpahan
darah.
Semak-semak
didekatnya mulai berdesir.
“Siapa
yang tahu kapan He Xia akan datang?” Luoshang dengan hati-hati mendekat sampai
tiba disamping Moran. Ia juga menatap ke arah musuh yang telah mengepung mereka
selama beberapa hari.
Moran
berbisik, “Kalau He Xia keluar dari ibukota Yun Chang, ia seharusnya sudah tiba
sekarang. Kurasa, besok sebelum sampai sore,
mereka akan melancarkan serangan.”
Beban
di hatinya terasa lebih berat.
Mereka
sangat kekurangan jumlah dan ketakutan pada pasukan Yun Chang yang menjadi
lawan. Hanya dengan Moran dan prajurit yang tersisa, memikirkan bisa melarikan
diri hidup-hidup adalah sebuah mimpi, belum lagi harus melindungi Ratu.
Apakah
Dong Lin yang pernah menjadi negara paling kuat diantara empat negara lainnya,
benar-benar akan habis seperti ini?
Dua
orang yang bersembunyi di dalam hutan itu memerhatikan sosok-sosok di sekitar
tenda musuh yang di lindungi malam. Luoshang tak tahan lagi dengan suasana yang
menyesakkan ini, ia berkata pelan,” Sakit Ratu memburuk lagi…” pria yang selalu
optimis ini berkata dengan penuh kepedihan.
“Hush!”
Moran tiba-tiba mendorongnya, “Lihat.”
Luoshang
mengikuti arah tatapannya dan memperhatikan dengan seksama. Para prajurit dan
Jendral mulai bergerak. Perkemahan itu mulai sibuk dengan kegiatan, sepertinya
bersiap hendak menyerang.
“Sepertinya
He Xia sudah tiba.” Luoshang berbisik.
Moran
mengangguk dengan dingin. Tatapannya tajam sekali ketika ia memperhatikan
pergerakan musuh dari kejauhan. Para prajurit di perintahkan untuk berbaris di
atas bukit. Jumlah mereka sudah sangat banyak untuk sebuah pengepungan. Dan He
Xia membawa lebih banyak lagi. Pasukan Yun Chang sepertinya memiliki jumlah
prajurit yang tidak pernah habis, melihat mereka bermunculan terus menerus.
Setiap kelompok memiliki pemimpin yang mengenakan jubah berkibar. Dari kejauhan
terlihat seperti cahaya yang membentuk garis yang membelah gunung.
Moran
dan Luoshang telah mengikuti Chu Beijie kesetiap tempat, dan bertempur begitu
seringnya hingga tak terhitung lagi, tapi mereka tidak pernah bertempur dengan
kondisi perbedaan kekuatan yang begitu luar biasa seperti ini. Hati mereka
menjadi beku.
Moran
menatap Luoshang dan mengatupkan giginya. “Pertempuran penentuan sudah datang.
Kau harus melindungi Ratu dan aku akan membawa prajurit untuk bertahan disini.”
Luoshang
melihat sinar pedang di sisi lawan, lebat seperti hutan, dan menatap pada
jumlah prajurit mereka di belakangnya. Ia sangat mengerti tak satupun dari
mereka yang akan selamat dari serangan kali ini. Ia telah mengikuti Chu Beijie
bertahun-tahun dan terbiasa melihat kondisi antara hidup dan mati. Ia tahu
situasi saat ini tidak mungkin diubah. Ia berkata pelan, “Teman, bunuh musuh
sebanyak yang kau bisa. Kita bisa membandingkan siapa yang paling banyak
membunuh di alam baka nanti.”
Ia
memukul pundak Moran dengan keras dan berbalik ke dalam hutan untuk melaporkan
kabar buruk pada Ratu.
Wuuuu…..
Suara
dari terompet terdengar panjang dari sisi bukit perkemahan lawan, berjalan
melewati langit.
Boom, boom…..
Setelah
suara terompet, berikutnya terdengar suara pukulan genderang. Awalnya irama itu
berhenti setelah dua atau tiga pukulan, seperti awan yang menurunkan gerimis
setetes demi setetes setelah mendung beberapa hari.
Dan
kemudian turun hujan lebih lebat. Pukulan genderang semakin padat, iramanya
menjadi lebih cepat dan suaranya semakin keras. Dan bumi mengikuti irama
genderang membuat suasana lebih mencekam, sehingga jantung para prajurit Dong
Lin berdetak lebih kencang dan semakin kencang.
Ketika
irama genderang mencapai akhir, pasukan Yun Chang mulai bergerak.
Langit
di penuhi cahaya api, memancarkan sinar senjata dari para prajurit yang dengan
agresif menyerang daerah yang sudah mereka kepung.
“Berdiri,
musuh terlalu besar, tak berguna jika bersembunyi.” Moran berdiri di tempat
mereka bersembunyi selama ini. Ia berbalik menatap para prajurit Dong Lin di
belakangnya. “Pertempuran akhir sudah dimulai. Para pemuda Dong Lin, tegakkan
punggung kalian!”
Jendral
musuh didepan mereka menghampiri dengan cepat.
Suara
langkah kaki mereka menghancurkan keheningan dan kedamaian hutan.
Perwakilan
kerajaan Dong Lin, sang Ratu, dan sisa kekuatan militer Dong Lin bersembunyi di
dalam kesunyian ini selama ini.
Moran
menyingkirkan kekhawatirannya akan kematian. Ia melihat prajurit Yun Chang yang
banyak sekali terlihat seperti kawanan burung yang terbang dengan cepat kearah
mereka. Ia menampilkan keberanian yang telah dilatih Chu Beijie dan sama sekali
tidak menampakkan rasa takut ketika ia mengeluarkan pedang dari pinggangnya,
dengan tenang menunggu bentrokan terjadi.
Api
yang menyala mulai menyambar, membakar ranting-ranting pohon yang sekarat.
Moran
memimpin kawanannya yang menangung nasib yang sama. Mereka berdiri tegak di
tengah angin malam yang dingin.
Semua
orang menahan napas mereka.
Dong Lin, tempat aku
lahir dan tumbuh, aku akan mengucurkan darahku dan menguburkan tubuhku untukmu.
Tak
seorangpun merasa takut. Mereka pernah mengikuti Panglima Zhen Beiwang yang
hanya satu di dunia. Mereka telah beberapa kali melewati hidup dan mati, begitu
juga dengan kemenangan hebat.
Keputusasaan
hampir mati, melihat kekejaman di mata mereka.
Pasukan
Yun Chang semakin mendekat dan lebih dekat lagi, suara langkah kaki kuda
semakin kencang.
“Bunuh!
Bunuh! Bunuh!” teriakan para prajurit Yun Chang, membuat gema di seluruh
gunung.
Jendral
yang berada di depan prajurit Yun Chang telah mengeluarkan pedangnya. Kudanya
berlari cepat. Para prajurit itu seperti binatang buas yang liar yang baru saja
dilepaskan dari ikatannya. Mereka mengepung Moran dan yang lainnya dengan
kecepatan luar biasa.
Kemarilah.
Tangan
Moran mengencangkan genggaman pedangnya.
Ia
tahu ia akan di banjiri tusukan, seperti Dong Lin yang akan menjadi sejarah
dalam sinar api ini.
“Bunuh!
Bunuh!”
Api
yang datang dengan jelas menampakkan wajah-wajah mereka.
Kuda,
tombak dan pedang terlihat di sekitar mereka. Kekuatan ribuan prajurit membuat
raungan angin ketika mereka bergerak maju. Tatapan Moran jatuh para Jendral
yang berada di paling depan para prajurit, yang tidak diragukan lagi merupakan
komandan penyerangan kali ini.
“Bunuh!”
Kuda
itu menuju kearahnya dengan cepat. Jendral musuh mengayunkan senjatanya kearah
kepala Moran dari kudanya.
Moran
segera menaikan pedangnya, ia mendengar suara angin.
Fwish
Suara
gemuruh genderang dan teriakan pertempuran yang membelah langit tapi ia malah
fokus mendengarkan suara angin, seakan suara genderang dan teriakan-teriakan
itu tidak penting selain sebuah suara hembusan angin.
“Ah!”
sebuah teriakan mengerikan terdengar dari mulut Jendral Yun Chang di atas
kudanya. Tangannya berada di atas kepala Moran sebelum tubunya mulai bergetar
kacau dan dengan kaku terjatuh dari kudanya.
Sebuah
anak panah berkilau menembus kepalanya, tepat di tengah.
Sungguh
tembakan yang hebat. Anak panah itu cepat dan sangat tepat sasaran.
Kedua
belah pihak yang belum siap akan kematian sangat tekejut dan terdiam setelah
melihat kejadian itu.
Senjata-senjata
hampir berbenturan ketika Jendral Yun Chang tiba-tiba mati dengan cara yang luar
biasa. Hal ini mengejutkan prajurit Yun Chang lebih dari apapun.
Untuk
sesaat, dalam sekejab.
Jendral
mereka terjatuh tepat sebelum pertempuran dimulai.
Jendral
Chengjin telah meninggal.
Jendral
Chengjing dari Resimen Weimo, salah satu dari tujuh resimen Yun Chan, telah
terbunuh oleh sebuah anak panah.
Siapa
yang memiliki kemampuan sehebat itu?
Karena
anak panah terlihat di belakang kepalanya, si pelaku pasti berada di belakang
mereka. Prajurit Yun Chang ketakutan dan mereka menoleh ke belakang mereka.
Mereka
melihat.
Diatas
bukit, sebuah sosok berada di atas kudanya.
Moran
memperhatikan sosok itu. Dan tubuhnya mulai bergetar. Ia terlalu gembira sampai
tak mampu mengenggam pedangnya lagi.
Apakah
ini nyata?
Si
penunggang memegang tali kekang dengan sebelah tangannya, dan tangan yang
satunya lagi memegang busur. Ia berhenti di atas bukit. Meskipun bulan terang,
tapi mereka tidak bisa melihat wajahnya. Tapi mereka bisa melihat api yang
berkelip di sampingnya. Ia menghadap pada ribuan prajurit Yun Chang, sendirian,
seperti seorang dewa yang turun ke dunia manusia.
Begitu
jauh….
Diakah
pemilik panah emas?
Pasukan
berkuda berusaha mencari jawaban sampai sosok itu mengeluarkan anak panah lagi
dan menembakkannya dengan busurnya. Gerakannya terlihat seperti air mengalir,
suara hembusan angin membelah udara terdengar lagi. Sungguh mengerikan, hanya
dalam sekejab mata, sebuah sinar emas melewati mereka dengan cepat.
“Ah!”
sebuah teriakkan lagi. Memecahkan suasana hening karena kematian Jendral
Chengjing.
Di
saksikan ribuan pasang mata, seorang letnan Yun Chang terjatuh dari kudanya,
mendarat disisi tubuh Jendral Chengjing.
Sangat
mengerikan!
Parjurit
Yun Chang mulai merasa takut. Siapa dia? Siapa yang memiliki kehebatan
mengerikan seperti itu?
Para
prajurit Yun Chang yang dikejutkan oleh anak panah kedua, merasa seperti
disambar petir. Mereka segera ingat kalau mereka sedang berada di tengah medan
pertempuran tanpa belas kasihan.
Beberapa
orang ada yang bereaksi lebih cepat.
Pedang-pedang
dari pihak lawan melayang ke arah mereka.
“Tuan
Besar! Tuan Besar telah kembali!” Moran menyerang beberapa prajurit Yun Chang
yang telah kehilangan semangat tempurnya. Wajahnya penuh kegembiraan tak
percaya, seperti baru saja melihat keajaiban. Ia berteriak, “Teman-teman
berteriaklah dengan lantang! Panglima Zhen Beiwang telah kembali!”
“Panglima
Zhen Beieang telah kembali! Panglima Zhen Beiwang telah kembali!”
Teriakan-teriakan
lantang segera memenuhi seluruh lereng bukit yang tersembunyi itu.
Nama
Panglima Zhen Beiwang jauh lebih berguna dibanding senjata apapun untuk
menghancurkan semangat juang pasukan Yun Chang.
Panglima
Zhen Beiwang pernah memimpin pasukan Dong Lin dan menggemparkan empat negara.
Bahkan
dewa perang Yun Chang, He Xia, tidak berani menganggap enteng Panglima Zhen
Beiwang.
Orang
itu, diantara sepuluh ribu prajurit, membunuh Jendral Chengqing hanya dengan
sebuah anak panah.
Chu
Beijie menghentikan kudanya di atas bukit di bawah cahaya bulan. Para prajurit
Yun Chang melihat sesuatu yang lebih mengerikan. Sosok para prajurit yang
bermunculan terus menerus dari belakang Chu Beijie dan dari belakang para
prajurit Yun Chang.
Di
sisi balik bukit, Dong Lin benar-benar memiliki pasukan besar yang di pimpin
oleh Panglima Zhen Beiwang untuk menyergap mereka.
Mereka
telah terjebak.
Mereka
benar-benar di kepung oleh pasukan Panglima Zhen Beiwang dari belakang. Hal ini
sangat mengguncang semangat pasukan Yun Chang. Tidak ada yang tahu siapa yang
pertama kali melakukannya, seseorang telah berteriak ketakutan, melemparkan
senjatanya ke tanah, dan berlari sekuat
tenaganya untuk menyelamatkan diri.
“Panglima
Zhen Beiwang! Itu Panglima Zhen Beiwang!”
“Lari…
lari!”
Prajurit
yang berlarian seperti gunung yang runtuh. Tanpa pemimpin mereka, pasukan Yun
Chang hanya seperti tumpukan pasir.
Moran
memimpin anggotanya, menyerang mereka dari belakang. Setelah menyaksikan sang
legenda yang menghilang Chu Beijie muncul di hadapan mereka, ia tahu prajurit
Yun Chang yang telah membuang senjatanya tidak akan mendapatkan keberanian
mereka untuk melawan balik.
“Bunuh!”
“Ahhhh!”
Jeritan-jeritan
terus terdengar. Para prajurit Yun Chang yang melarikan diri seperti arus air
bah yang tidak terkendali, menyelinap kesetiap arah.
Panglima
Zhen Beiwang yang menjadi tumpuan Dong Lin yang telah menghilang, kini telah
kembali.
Hutan,
bukit, dan tanah di bawah sinar bulan dipenuhi bau darah.
Moran
sangat sibuk mengejar pasukan Yun Chang yang telah kacau. Ia melangkah melewati
mayat-mayat prajurit Yun Chang sambil mendekati sosok di atas bukit.
Ia
tidak pernah bergerak secepat ini selama hidupnya sampai ia bisa melihat wajah
itu, wajah tenang yang dipikirnya tidak akan pernah dilihatnya lagi.
“Tuan!”
dengan seluruh luka di tubuhnya, Moran berlutut di depan kaki Chu Beijie.
“Tuan…Tuan…akhirnya kembali….”
Moran
selalu tenang dan diam, tapi kali ini, ia diluar kendali. Ribuan kata di
hatinya tak mampu diutarakannya, ia hanya membiarkan airmatanya mengalir.
Pasukan
Dong Lin yang berlari di belakangnya juga merasa gembira. Mereka semua ikut
berlutut, dan beberapa dari merekapun tak mampu menahan airmatanya.
Chu
Beijie membantu Moran berdiri sambil berkata kencang, “Pria yang terjun ke
medan perang seharusnya berdarah bukan menangis. Untuk apa kau menangis?” ia
perlahan memperhatikan wajah Moran yang bersimbah darah dan suaranya menjadi
lebih serius, “Moran, kau sudah melakukan yang terbaik.” Ketika ia mendengar
orang-orang Dong Lin terperangkap, ia segera bergegas siang dan malam, tidak
berisrirahat, sampai akhirnya ia mampu menyelamatkan Moran dan yang lainnya. Ia
bertanya, “Apa kakak ipar baik-baik saja?”
“Ratu
berada di dalam hutan. Syukurlah Tuan tiba tepat waktu.” Membicarakan masalah
serius, ekspresi Moran menjadi lebih bersemangat. Tapi wajahnya menjadi lebih
gelap, “Tuan, sakit Ratu sudah sangat parah.”
Chu
Beijie diam mendengarnya. “Aku akan melihatnya.” Ia berbalik dan berkata dengan
lebih lembut, “Pinting, apa kau ikut denganku?”
Mendengar
itu, Moran akhirnya menyadari ada sesosok tubuh mungil di belakang Chu Beijie.
Ia sangat terkejut, “Nona Bai?”
Pingting
melepaskan tudung kepalanya. “Moran, lama tak bertemu.” Pingting tersenyum dan
berbalik pada Chu Beijie, “Aku pergi denganmu.”
Ia
membiarkan Chu Beijie membantunya menaiki kuda dan mereka berdua menuruni bukit
menuju hutan.
Begitu
mereka mendekati kemah, mereka melihat Luoshang yang berlari keluar
terburu-buru. Ia hampir menabrak Chu Beijie yang baru saja turun dari kudanya.
Luoshang
menegadah dan melihat wajah Chu Beijie, dan berkata kencang, “Benar-benar Tuan?
Sungguh bukan tipuan?”
Hal
yang mustahil telah terjadi. Ia sangat senang sehingga melupakan tata kramanya,
ia memeluk Chu Beijie.
Chu
Beijie menepuk pundaknya, memandangnya penuh penghargaan. “Si pemuda Atta, kau
sudah semakin matang. Aku ingin melihat kakak ipar dulu, kita akan bicara
nanti.” Ia lalu menuntun Pingting memasuki kemah, meninggalkan Luoshang yang
masih tidak percaya.
Ia
lalu memeluk Moran yang mengikuti mereka dari belakang. Wajahnya sangat serius
ketika berkata, “Kita tidak bertemu Tuan karena kita sudah dalam perjalanan
setelah kematian bukan?”
--00—
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar