Sabtu, 08 Juli 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.62

-- Volume 3 chapter 62 --




Di istana Yun Chang, pavilium itu masih tetap sama.

Matahari sudah tinggi.

Yaotian duduk di kursi, memperhatikan keadaan sekitarnya. Ia menyibak tirai yang bergoyang oleh angin. Ia baru mengenakan separuh pemerah pipi ketika ia berdiri di depan cermin, kesepian.

He Xia melewati banyak penjaga di jalan utama istana dan berbelok di lorong dalam. Jalurnya menjadi semakin sempit semakin ia jauh melangkah, dan akhirnya ia tiba di pojok tersunyi. Sebuah pintu kayu besar terkunci erat di sebuah bangunan kecil di depannya.

Putri Yaotian dan pelayan pribadinya Luyi, dikurung disana.

“Suami Ratu.” Hanya orang kepercayaan He Xia yang ditugaskan menjaga pintu itu. Kepala penjaga datang mendekat, memberi hormat pada He Xia. Lalu ia bertanya dengan hati-hati, “Apa Suami Ratu ingin kami membukakan pintu untuk masuk ke dalam?”

Mata hitam He Xia perlahan beralih pada kunci di pintu.

Yaotian berada di dalam.

Ia istrinya, ibu dari anak yang belum lahir, sangat lembut, baik dan senang tersenyum, Putri yang elegan. Penguasa Yun Chang yang menulis sendiri perintah untuk membunuhnya dengan alasan penghianatan.

Ia menatap kunci, seakan kunci itu bukan hanya mengunci pintu itu tapi juga hatinya. Ia berdiri disana, dan terdiam lama sekali, sampai akhirnya ia menggelengkan kepalanya, “Aku tidak ingin masuk ke dalam. Jangan katakan pada siapapun aku datang. berikan ini pada Putri dan katakan padanya aku sudah melihat suratnya. Zhang Yin sudah dibereskan dengan baik. Ini hadiah, balasan dariku. Nona Fengyin, wanita yang diberikan Putri padaku, membantuku membuatnya.”

Si penjaga mengangguk dan menerima kotak itu dengan hati-hati dari tangan He Xia. Si penjaga berjalan ke depan pintu dan mengeluarkan anak kunci, ia membuka pintu dan masuk ke dalam.

Begitu pintu terbuka, He Xia menoleh ke dalamnya. Dalam waktu yang begitu singkat, ia tidak bisa melihat apapun.

Tak lama kemudian, pintu terbuka lagi dari dalam. Kepala penjaga keluar, dan dengan hati-hati menutup dan menguncinya kembali. Ia menghampiri He Xia untuk melaporkan, “Hadiah telah diberikan. Dan setiap ucapan Suami Ratu juga telah disampaikan, tidak ada satu katapun…”

“Ahhhhh!” suara jeritan ketakutan terdengar dari dalam ruangan.

Suara jeritan itu sangat mengerikan. Para penjaga yang sudah agak lama bertugas tahu persis kalau itu suara Tuan Putri Yaotian.

Mereka yang berjaga bukanlah orang biasa, tapi hampir semuanya termasuk kepala penjaga sendiri turut gemetar mendengarnya.

Setelah jeritan berhenti, terdengar seperti ada yang benda berat yang jatuh ke lantai berwarna ungu emas itu.

Semua orang berpikir kalah Putri Yaotian telah membuka kotak hadiah dari Suami Ratu dan terkejut dengan isinya. Tapi apa yang berada di dalam kotak itu yang membuat Tuan Putri begitu ketakutan luar biasa.

Wajah para penjaga menjadi ketakutan, tapi melihat wajah tenang He Xia, jauh lebih menakutkan.

Hanya He Xia yang tahu isi kotaknya.

Kotak itu berisi harta berharga. Setidaknya pernah sekali menjadi sesuatu yang berharga bagi Tuan Putri dan Gui Changqing.

Mereka pikir wanita itu bisa bermain kecapi sepandai Pingting, cukup hebat untuk bisa menyentuh segala benda yang telah dipersiapkan He Xia untuk Pingting. Ia menggunakan sisir Pingting, tidur di atas kain seprai yang telah ditiduri Pingting, dan menyentuh kecapi yang dimainkan Pingting.

Di mata He Xia, wanita itu tidak mungkin berharga. Wanita itu hanya siksaan yang mengekangnya.

Setiap kali irama kecapi yang terdengar di kediamannya berasal dari jari-jarinya yang tajam. Kuku-kukunya menancap dalam di hati He Xia.

Kedua tangan pemain kecapi Fengying, daripada tetap berada di tempatnya, lebih baik di potong, berdarah, dan dipersembahkan sebagai hadiah dalam kotak.

Tuan Muda Jin Anwang mengembalikan semua penghinaan dan siksaan pada pemiliknya.

“Tuan Putri! Tuan Putri! Kenapa? Tuan Putri!” suara Luyi terdengar dari dalam, suaranya terdengar mengigil melewati pintu kayu.

Ia berteriak kencang.

Para penjaga yang berada di luar menegangkan telinga mereka memperhatikan setiap gerakan dari dalam. Luyi memanggil beberapa kali, tapi kemudian ia berhenti. Di dalam ruangan sangat sunyi. Setelah beberapa waktu Luyi mulai berteriak lagi. “Siapa saja! Siapa saja datanglah!”

“Siapa saja datanglah! Tuan Putri sekarat! Panggil tabib! Cepatlah panggil tabib!”

“Kepala penjaga, kepala penjaga yang diluar! Aku mohon, panggilkan Suami Ratu!”

“Tuan Putri…. Tuan Putri… oh tidak, darahnya!” pintu kayu berbunyi seperti di hantam benda dengan keras dari dalam. Para penjaga melompat kebelakang terkejut. Terlihat sebuah tangan dan kuku tajam tercetak, “Darah, darah! Siapa saja! Siapa saja! Siapa saja datanglah….” Luyi berteriak sambil menangis.

Para penjaga merasa agak takut dengan jeritan kalutnya, mereka menoleh ke arah He Xia.

He Xia mendengar jeritan Luyi dan memerintahkan, “Kalian semua boleh pergi, tanpa ijin dariku tidak ada yang boleh datang.”

Para penjaga sudah cukup mendegar suara mengerikan yang bisa memberikan mimpi buruk itu, dan mereka sangat ingin pergi. Dengan segera tempat itu menjadi kosong.

“Tabib, aku mohon, panggilkan tabib. Siapa saja, siapa saja tolonglah…” Luyi terus menangis dari dalam. Beberapa suara bentrokan terdengar, sepertinya Luyi berusaha kembali ke samping Yaotian sambil menabrak meja-meja dan kursi-kursi.

Prang!

Suara pot bunga yang berisi air terjatuh ke lantai.

“Tuan Putri, Tuan Putri, kau sudah sadar?” suara Luyi menjadi lebih stabil. “Tuan Putri apa kau baik-baik saja? Kau menakutiku sampai hampir mati…”

“Luyi, sakit sekali…” suara Yaotian terdengar.

Setelah sunyi sesaat.

“Darah, darah ini, kenapa….” Suara Yaotian yang ketakutan terdengar lagi.

“Tuan Putri, Tuan Putri! Jangan bergerak…. Siapa saja datanglah! Selamatkan Tuan Putri! Tuan Putri sangat sekarat, siapa saja!” Luyi mulai menangis lagi, bahkan lebih menyayat hati dibanding yang sebelumnya. “Suami Ratu, datanglah cepat, Suami Ratu! Tuan Putri sekarat! Tuan Putri… Tuan Putri akan meninggal….”

Mata He Xia mulai bersinar dan membara, sangat kuat.

“Tuan Putri, Tuan Putri! Selamatkan Tuan Putri, selamatkan Tuan Putri! Aku mohon buka pintunya! Kami butuh tabib, sedikit obat saja tidak pa-pa!” suara pintu kayu di gedor terdengar sangat keras, Luyi memukulnya dengan membabi buta sambil berteriak sekuat tenaga.

“Aku mohon pada kalian semua! Aku mohooon pada kalian semua! Tuan Putri sekarat! Tabib! Tabib!”

“Suami Ratu, Suami Ratu, kau sungguh kejam….”

Suami Ratu, Suami Ratu.

Suami Ratu Yun Chang. Hanya ada satu Suami Ratu.

Satu yang menatap dingin setiap orang, tapi dengan bibir lembutnya, si gadis lugu telah terperangkap.

Mereka berdua telah bersanding, meskipun sangat berbeda.

Di ruangan yang dihias luar biasa indah dengan bunga-bunga, dan asmara.

Mengingat hari pernikahannya, pria itu melepaskan kerudungnya dari kepalanya. Yaotian menghela napas, “Di malam pernikahan, pria yang berada di hadapanku sangat berbakat militer dan sastra, seorang pahlawan. Sungguh seperti mimpi indah, sehingga aku sangat takut kalau itu, benar-benar hanya mimpi.”

Senyum Yaotian di bawah cahaya lilin terukir di benaknya dengan jeals, pipinya merona sehabis minum arak.

Putri, istriku. Itu bukan mimpi indah, melainkan mimpi buruk.

Yang bisa menjadi kenyataan adalah mimpi buruk yang tak ada seorangpun bisa melarikan diri darinya.

“Tolong! Siapa saja datanglah selamatkan Tuan Putri…. Aku mohon …. Aku mohon pada kalian….” Suara putus asa Luyi bergema di telinganya.

Wajah tampan He Xia menjadi kacau, sangat pucat dan dingin. Ia menundukan kepalanya, dan menyadari kalau ia sedang mengenggam erat gembok pintu di tangannya. Ia sangat terkejut dan segera melangkah mundur, tapi tetap berdiri tegak.

“Siapa saja, selamatkan Tuan Putri! Aku mohon, selamatkan Tuan Putri…..”

“Suami Ratu, jangan sekejam ini! Aku mohon Suami Ratu, Tuan Putri sekarat….”

Suara Luyi menjadi lebih pelan, “Bahkan kalau kalian membunuh Tuan Putri, apa Suami Ratu tidak mengingikan darah dagingnya sendiri? Aku mohon, Tuan yang di depan, tolong, tolong, sampaikan pesan pada Suami Ratu!”

Membunuh Putri?

He Xia menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah berpikir untuk membunuhnya. Ia hanya berpikir untuk mengambil alih kekuatan militer dan taktahnya, tapi tidak pernah sekalipun berpikir untuk membunuhnya.

Mengapa ia harus membunuhnya, ia istrinya satu-satunya, Ratu masa depannya. Ia pernah berjanji akan membuatnya menjadi wanita nomer satu di seluruh dunia.

Ia tidak ingin menyakitinya, benar-benar tidak ingin. Tapi istrinya telah menulis surat, untuk melakukan rencana penyingkiran dirinya. Surat itu sangat singkat dan jelas, menyatakan kalau ia akan dijatuhi hukuman mati.

Dan kalau dibiarkan lebih lama, mungkin dirinyalah yang akan dikurung seperti ini. Yang sedang berdara-darah mungkin ia sendiri, hancur berkeping-keping mungkin saja dirinya!

Mimpi buruk, ini sebuah mimpi buruk.

Suara teriakan Yaotian terdengar di sela tangisan Luyi.

“Ahhh…ahhhhhhh! Luyi, aku tidak akan bertahan…… ahhh!”

“Tuan Putri, tabib….tabib…akan segera datang…. akan segera datang…”

“Tidak, tidak, aku tidak mau tabib. Aku mau suamiku…suamiku….”

“Tuan Putri….”

“Cepatlah, panggilkan seseorang panggil suamiku kemari. Buat dia datang kemari…”

Luyi berkata sambil menangis, “Tuan Putri, Suami Ratu, dia…..”

“Luyi aku ingin melihatnya…. Aku tidak akan bertahan. Aku ingin melihatnya. Cepatlah, ia tidak akan sempat melihatku lagi…..”

Suara Yaotian serak dan lemah, tapi sangat penuh kesetiaan.

Putri!

He Xia yang berdiri di depan pintu seperti patung tiba-tiba tersentak. Ia bergegas mendekati pintu dan menggemgam erat gembok dingin dan berat itu.

Dingin dan sangat berat.

Kunci ini kunci hatinya, kunci seluruh kehidupannya.

Selama Tuan Putri masih ada, masalah surat perintah seperti itu akan selalu ada, lagi dan lagi. Tidak ada yang bisa merubah permasalah ini dimasa depan.

He Xia menatap gembok, keringatnya berbaur dengan besi, membuat tangannya basah dan dingin.

Yaotian masih merintih, “Suamiku, pergilah panggilkan suamiku untukku…. Ia tidak mungkin menolak melihatku…. Carikan dia…..ahhhh! sakit sekali….”

Tangan He Xia yang menggenggam gembok mulai bergetar.

Putri, Putri, aku tidak bisa melihatmu.

Kau istri He Xia, istri He Xia satu-satunya di dalam hidupnya.

Aku tidak membencimu karena membiarkan Gui Changqing secara diam-diam berusaha mengendalikanku. Aku tidak membencimu karena membuatku kehilangan Pingting. Aku benar-benar tidak membencimu.

Aku hanya membenci langit, benci pada mimpi buruk ini, benci karena kau menulis surat untuk menghukum mati diriku dan benci pada segala hal yang membuatku tak mampu melindungimu.

Air mata hangat mulai turun di wajahnya, mengalir dengan perih.

He Xia menyengkram gembok pintu dan mendengarkan Yaotian menangis sambil memanggilnya. Lututnya tak mampu lagi bertahan.

Esoknya pagi sekali, acara duka dan penguburan di adakan, mengejutkan seluruh rakyat yang hendak mulai bekerja sepanjang hari.

Dari kejauhan, istana Yun Chang terlihat putih dan sunyi.

Rakyat mendengar beritanya. Penguasa Yun Chang yang sedang mengandung telah melahirkan lebih cepat dengan tubuhnya yang lemah. Ia meninggal dalam pelukan Suami Ratu yang hatinya hancur.

Yang mereka tidak tahu adalah, dimalam yang sama, beberapa pejabat penting telah di hukum mati dengan berbagai alasan.

--

Ini adalah malam yang gelap di Dong Lin. Bahkan bintang-bintang bersembunyi.

Moran menyembunyikan dirinya di dalam hutan sambil menatap khawatir ke arah cahaya lilin yang berkelip di kejauhan.

Kerlipnya menghilang di tengah kegelapan malam, mereka memasang busur di sekeliling jalur hutan di pegunungan tempat mereka bersembunyi.

Panah-panah sudah terpasang, hanya tinggal di tembakkan.

Situasi genting ini sudah berlangsung beberapa hari. Kekuatan terakhir dari istana Dong Lin telah terperangkap tanpa bisa bergerak. Kedua pihak saling mengerti kalau ketenangan ini hanya kepalsuan yang akan segera berakhir menjadi pertumpahan darah.

Semak-semak didekatnya mulai berdesir.

“Siapa yang tahu kapan He Xia akan datang?” Luoshang dengan hati-hati mendekat sampai tiba disamping Moran. Ia juga menatap ke arah musuh yang telah mengepung mereka selama beberapa hari.

Moran berbisik, “Kalau He Xia keluar dari ibukota Yun Chang, ia seharusnya sudah tiba sekarang. Kurasa,  besok sebelum sampai sore, mereka akan melancarkan serangan.”

Beban di hatinya terasa lebih berat.

Mereka sangat kekurangan jumlah dan ketakutan pada pasukan Yun Chang yang menjadi lawan. Hanya dengan Moran dan prajurit yang tersisa, memikirkan bisa melarikan diri hidup-hidup adalah sebuah mimpi, belum lagi harus melindungi Ratu.

Apakah Dong Lin yang pernah menjadi negara paling kuat diantara empat negara lainnya, benar-benar akan habis seperti ini?

Dua orang yang bersembunyi di dalam hutan itu memerhatikan sosok-sosok di sekitar tenda musuh yang di lindungi malam. Luoshang tak tahan lagi dengan suasana yang menyesakkan ini, ia berkata pelan,” Sakit Ratu memburuk lagi…” pria yang selalu optimis ini berkata dengan penuh kepedihan.

“Hush!” Moran tiba-tiba mendorongnya, “Lihat.”

Luoshang mengikuti arah tatapannya dan memperhatikan dengan seksama. Para prajurit dan Jendral mulai bergerak. Perkemahan itu mulai sibuk dengan kegiatan, sepertinya bersiap hendak menyerang.

“Sepertinya He Xia sudah tiba.” Luoshang berbisik.

Moran mengangguk dengan dingin. Tatapannya tajam sekali ketika ia memperhatikan pergerakan musuh dari kejauhan. Para prajurit di perintahkan untuk berbaris di atas bukit. Jumlah mereka sudah sangat banyak untuk sebuah pengepungan. Dan He Xia membawa lebih banyak lagi. Pasukan Yun Chang sepertinya memiliki jumlah prajurit yang tidak pernah habis, melihat mereka bermunculan terus menerus. Setiap kelompok memiliki pemimpin yang mengenakan jubah berkibar. Dari kejauhan terlihat seperti cahaya yang membentuk garis yang membelah gunung.

Moran dan Luoshang telah mengikuti Chu Beijie kesetiap tempat, dan bertempur begitu seringnya hingga tak terhitung lagi, tapi mereka tidak pernah bertempur dengan kondisi perbedaan kekuatan yang begitu luar biasa seperti ini. Hati mereka menjadi beku.

Moran menatap Luoshang dan mengatupkan giginya. “Pertempuran penentuan sudah datang. Kau harus melindungi Ratu dan aku akan membawa prajurit untuk bertahan disini.”

Luoshang melihat sinar pedang di sisi lawan, lebat seperti hutan, dan menatap pada jumlah prajurit mereka di belakangnya. Ia sangat mengerti tak satupun dari mereka yang akan selamat dari serangan kali ini. Ia telah mengikuti Chu Beijie bertahun-tahun dan terbiasa melihat kondisi antara hidup dan mati. Ia tahu situasi saat ini tidak mungkin diubah. Ia berkata pelan, “Teman, bunuh musuh sebanyak yang kau bisa. Kita bisa membandingkan siapa yang paling banyak membunuh di alam baka nanti.”

Ia memukul pundak Moran dengan keras dan berbalik ke dalam hutan untuk melaporkan kabar buruk pada Ratu.

Wuuuu…..

Suara dari terompet terdengar panjang dari sisi bukit perkemahan lawan, berjalan melewati langit.

Boom, boom…..

Setelah suara terompet, berikutnya terdengar suara pukulan genderang. Awalnya irama itu berhenti setelah dua atau tiga pukulan, seperti awan yang menurunkan gerimis setetes demi setetes setelah mendung beberapa hari.

Dan kemudian turun hujan lebih lebat. Pukulan genderang semakin padat, iramanya menjadi lebih cepat dan suaranya semakin keras. Dan bumi mengikuti irama genderang membuat suasana lebih mencekam, sehingga jantung para prajurit Dong Lin berdetak lebih kencang dan semakin kencang.

Ketika irama genderang mencapai akhir, pasukan Yun Chang mulai bergerak.

Langit di penuhi cahaya api, memancarkan sinar senjata dari para prajurit yang dengan agresif menyerang daerah yang sudah mereka kepung.

“Berdiri, musuh terlalu besar, tak berguna jika bersembunyi.” Moran berdiri di tempat mereka bersembunyi selama ini. Ia berbalik menatap para prajurit Dong Lin di belakangnya. “Pertempuran akhir sudah dimulai. Para pemuda Dong Lin, tegakkan punggung kalian!”

Jendral musuh didepan mereka menghampiri dengan cepat.

Suara langkah kaki mereka menghancurkan keheningan dan kedamaian hutan.

Perwakilan kerajaan Dong Lin, sang Ratu, dan sisa kekuatan militer Dong Lin bersembunyi di dalam kesunyian ini selama ini.

Moran menyingkirkan kekhawatirannya akan kematian. Ia melihat prajurit Yun Chang yang banyak sekali terlihat seperti kawanan burung yang terbang dengan cepat kearah mereka. Ia menampilkan keberanian yang telah dilatih Chu Beijie dan sama sekali tidak menampakkan rasa takut ketika ia mengeluarkan pedang dari pinggangnya, dengan tenang menunggu bentrokan terjadi.

Api yang menyala mulai menyambar, membakar ranting-ranting pohon yang sekarat.

Moran memimpin kawanannya yang menangung nasib yang sama. Mereka berdiri tegak di tengah angin malam yang dingin.

Semua orang menahan napas mereka.

Dong Lin, tempat aku lahir dan tumbuh, aku akan mengucurkan darahku dan menguburkan tubuhku untukmu.

Tak seorangpun merasa takut. Mereka pernah mengikuti Panglima Zhen Beiwang yang hanya satu di dunia. Mereka telah beberapa kali melewati hidup dan mati, begitu juga dengan kemenangan hebat.

Keputusasaan hampir mati, melihat kekejaman di mata mereka.

Pasukan Yun Chang semakin mendekat dan lebih dekat lagi, suara langkah kaki kuda semakin kencang.

“Bunuh! Bunuh! Bunuh!” teriakan para prajurit Yun Chang, membuat gema di seluruh gunung.

Jendral yang berada di depan prajurit Yun Chang telah mengeluarkan pedangnya. Kudanya berlari cepat. Para prajurit itu seperti binatang buas yang liar yang baru saja dilepaskan dari ikatannya. Mereka mengepung Moran dan yang lainnya dengan kecepatan luar biasa.

Kemarilah.

Tangan Moran mengencangkan genggaman pedangnya.

Ia tahu ia akan di banjiri tusukan, seperti Dong Lin yang akan menjadi sejarah dalam sinar api ini.

“Bunuh! Bunuh!”

Api yang datang dengan jelas menampakkan wajah-wajah mereka.

Kuda, tombak dan pedang terlihat di sekitar mereka. Kekuatan ribuan prajurit membuat raungan angin ketika mereka bergerak maju. Tatapan Moran jatuh para Jendral yang berada di paling depan para prajurit, yang tidak diragukan lagi merupakan komandan penyerangan kali ini.

“Bunuh!”

Kuda itu menuju kearahnya dengan cepat. Jendral musuh mengayunkan senjatanya kearah kepala Moran dari kudanya.

Moran segera menaikan pedangnya, ia mendengar suara angin.

Fwish

Suara gemuruh genderang dan teriakan pertempuran yang membelah langit tapi ia malah fokus mendengarkan suara angin, seakan suara genderang dan teriakan-teriakan itu tidak penting selain sebuah suara hembusan angin.

“Ah!” sebuah teriakan mengerikan terdengar dari mulut Jendral Yun Chang di atas kudanya. Tangannya berada di atas kepala Moran sebelum tubunya mulai bergetar kacau dan dengan kaku terjatuh dari kudanya.

Sebuah anak panah berkilau menembus kepalanya, tepat di tengah.

Sungguh tembakan yang hebat. Anak panah itu cepat dan sangat tepat sasaran.

Kedua belah pihak yang belum siap akan kematian sangat tekejut dan terdiam setelah melihat kejadian itu.

Senjata-senjata hampir berbenturan ketika Jendral Yun Chang tiba-tiba mati dengan cara yang luar biasa. Hal ini mengejutkan prajurit Yun Chang lebih dari apapun.

Untuk sesaat, dalam sekejab.

Jendral mereka terjatuh tepat sebelum pertempuran dimulai.

Jendral Chengjin telah meninggal.

Jendral Chengjing dari Resimen Weimo, salah satu dari tujuh resimen Yun Chan, telah terbunuh oleh sebuah anak panah.

Siapa yang memiliki kemampuan sehebat itu?

Karena anak panah terlihat di belakang kepalanya, si pelaku pasti berada di belakang mereka. Prajurit Yun Chang ketakutan dan mereka menoleh ke belakang mereka.

Mereka melihat.

Diatas bukit, sebuah sosok berada di atas kudanya.

Moran memperhatikan sosok itu. Dan tubuhnya mulai bergetar. Ia terlalu gembira sampai tak mampu mengenggam pedangnya lagi.

Apakah ini nyata?

Si penunggang memegang tali kekang dengan sebelah tangannya, dan tangan yang satunya lagi memegang busur. Ia berhenti di atas bukit. Meskipun bulan terang, tapi mereka tidak bisa melihat wajahnya. Tapi mereka bisa melihat api yang berkelip di sampingnya. Ia menghadap pada ribuan prajurit Yun Chang, sendirian, seperti seorang dewa yang turun ke dunia manusia.

Begitu jauh….

Diakah pemilik panah emas?

Pasukan berkuda berusaha mencari jawaban sampai sosok itu mengeluarkan anak panah lagi dan menembakkannya dengan busurnya. Gerakannya terlihat seperti air mengalir, suara hembusan angin membelah udara terdengar lagi. Sungguh mengerikan, hanya dalam sekejab mata, sebuah sinar emas melewati mereka dengan cepat.

“Ah!” sebuah teriakkan lagi. Memecahkan suasana hening karena kematian Jendral Chengjing.

Di saksikan ribuan pasang mata, seorang letnan Yun Chang terjatuh dari kudanya, mendarat disisi tubuh Jendral Chengjing.

Sangat mengerikan!

Parjurit Yun Chang mulai merasa takut. Siapa dia? Siapa yang memiliki kehebatan mengerikan seperti itu?

Para prajurit Yun Chang yang dikejutkan oleh anak panah kedua, merasa seperti disambar petir. Mereka segera ingat kalau mereka sedang berada di tengah medan pertempuran tanpa belas kasihan.

Beberapa orang ada yang bereaksi lebih cepat.

Pedang-pedang dari pihak lawan melayang ke arah mereka.

“Tuan Besar! Tuan Besar telah kembali!” Moran menyerang beberapa prajurit Yun Chang yang telah kehilangan semangat tempurnya. Wajahnya penuh kegembiraan tak percaya, seperti baru saja melihat keajaiban. Ia berteriak, “Teman-teman berteriaklah dengan lantang! Panglima Zhen Beiwang telah kembali!”

“Panglima Zhen Beieang telah kembali! Panglima Zhen Beiwang telah kembali!”

Teriakan-teriakan lantang segera memenuhi seluruh lereng bukit yang tersembunyi itu.

Nama Panglima Zhen Beiwang jauh lebih berguna dibanding senjata apapun untuk menghancurkan semangat juang pasukan Yun Chang.

Panglima Zhen Beiwang pernah memimpin pasukan Dong Lin dan menggemparkan empat negara.

Bahkan dewa perang Yun Chang, He Xia, tidak berani menganggap enteng Panglima Zhen Beiwang.

Orang itu, diantara sepuluh ribu prajurit, membunuh Jendral Chengqing hanya dengan sebuah anak panah.

Chu Beijie menghentikan kudanya di atas bukit di bawah cahaya bulan. Para prajurit Yun Chang melihat sesuatu yang lebih mengerikan. Sosok para prajurit yang bermunculan terus menerus dari belakang Chu Beijie dan dari belakang para prajurit Yun Chang.

Di sisi balik bukit, Dong Lin benar-benar memiliki pasukan besar yang di pimpin oleh Panglima Zhen Beiwang untuk menyergap mereka.

Mereka telah terjebak.

Mereka benar-benar di kepung oleh pasukan Panglima Zhen Beiwang dari belakang. Hal ini sangat mengguncang semangat pasukan Yun Chang. Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali melakukannya, seseorang telah berteriak ketakutan, melemparkan senjatanya ke tanah, dan berlari  sekuat tenaganya untuk menyelamatkan diri.

“Panglima Zhen Beiwang! Itu Panglima Zhen Beiwang!”

“Lari… lari!”

Prajurit yang berlarian seperti gunung yang runtuh. Tanpa pemimpin mereka, pasukan Yun Chang hanya seperti tumpukan pasir.

Moran memimpin anggotanya, menyerang mereka dari belakang. Setelah menyaksikan sang legenda yang menghilang Chu Beijie muncul di hadapan mereka, ia tahu prajurit Yun Chang yang telah membuang senjatanya tidak akan mendapatkan keberanian mereka untuk melawan balik.

“Bunuh!”

“Ahhhh!”

Jeritan-jeritan terus terdengar. Para prajurit Yun Chang yang melarikan diri seperti arus air bah yang tidak terkendali, menyelinap kesetiap arah.

Panglima Zhen Beiwang yang menjadi tumpuan Dong Lin yang telah menghilang, kini telah kembali.

Hutan, bukit, dan tanah di bawah sinar bulan dipenuhi bau darah.

Moran sangat sibuk mengejar pasukan Yun Chang yang telah kacau. Ia melangkah melewati mayat-mayat prajurit Yun Chang sambil mendekati sosok di atas bukit.

Ia tidak pernah bergerak secepat ini selama hidupnya sampai ia bisa melihat wajah itu, wajah tenang yang dipikirnya tidak akan pernah dilihatnya lagi.

“Tuan!” dengan seluruh luka di tubuhnya, Moran berlutut di depan kaki Chu Beijie. “Tuan…Tuan…akhirnya kembali….”

Moran selalu tenang dan diam, tapi kali ini, ia diluar kendali. Ribuan kata di hatinya tak mampu diutarakannya, ia hanya membiarkan airmatanya mengalir.

Pasukan Dong Lin yang berlari di belakangnya juga merasa gembira. Mereka semua ikut berlutut, dan beberapa dari merekapun tak mampu menahan airmatanya.

Chu Beijie membantu Moran berdiri sambil berkata kencang, “Pria yang terjun ke medan perang seharusnya berdarah bukan menangis. Untuk apa kau menangis?” ia perlahan memperhatikan wajah Moran yang bersimbah darah dan suaranya menjadi lebih serius, “Moran, kau sudah melakukan yang terbaik.” Ketika ia mendengar orang-orang Dong Lin terperangkap, ia segera bergegas siang dan malam, tidak berisrirahat, sampai akhirnya ia mampu menyelamatkan Moran dan yang lainnya. Ia bertanya, “Apa kakak ipar baik-baik saja?”

“Ratu berada di dalam hutan. Syukurlah Tuan tiba tepat waktu.” Membicarakan masalah serius, ekspresi Moran menjadi lebih bersemangat. Tapi wajahnya menjadi lebih gelap, “Tuan, sakit Ratu sudah sangat parah.”

Chu Beijie diam mendengarnya. “Aku akan melihatnya.” Ia berbalik dan berkata dengan lebih lembut, “Pinting, apa kau ikut denganku?”

Mendengar itu, Moran akhirnya menyadari ada sesosok tubuh mungil di belakang Chu Beijie. Ia sangat terkejut, “Nona Bai?”

Pingting melepaskan tudung kepalanya. “Moran, lama tak bertemu.” Pingting tersenyum dan berbalik pada Chu Beijie, “Aku pergi denganmu.”

Ia membiarkan Chu Beijie membantunya menaiki kuda dan mereka berdua menuruni bukit menuju hutan.

Begitu mereka mendekati kemah, mereka melihat Luoshang yang berlari keluar terburu-buru. Ia hampir menabrak Chu Beijie yang baru saja turun dari kudanya.

Luoshang menegadah dan melihat wajah Chu Beijie, dan berkata kencang, “Benar-benar Tuan? Sungguh bukan tipuan?”

Hal yang mustahil telah terjadi. Ia sangat senang sehingga melupakan tata kramanya, ia memeluk Chu Beijie.

Chu Beijie menepuk pundaknya, memandangnya penuh penghargaan. “Si pemuda Atta, kau sudah semakin matang. Aku ingin melihat kakak ipar dulu, kita akan bicara nanti.” Ia lalu menuntun Pingting memasuki kemah, meninggalkan Luoshang yang masih tidak percaya.

Ia lalu memeluk Moran yang mengikuti mereka dari belakang. Wajahnya sangat serius ketika berkata, “Kita tidak bertemu Tuan karena kita sudah dalam perjalanan setelah kematian bukan?”

--00—

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar