Sabtu, 08 Juli 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.59

-- Volume 3 chapter 59 --



Setelah ibukota Dong Lin di taklukkan, He Xia memerintahkan untuk memburu keluarga kerajaan dan para Jendral yang tersisa. Ia juga memerintahkan untuk membakar istana Dong Lin.

Berkat obor para prajurit Yun Chang, ibukota Dong Lin terbungkus asap tebal, dan api terang dari istana kerajaan membuat langit menjadi separuh berwarna merah.

“Istana… istana kerajaan!” raktyat yang masih berada di ibukota menoleh ke langit, wajah mereka terkejut dan berurai airmata sambil menyaksikan api meliuk-liuk.

He Xia memerintahkan untuk membantai prajurit yang tersisa bukan hanya untuk membalaskan kemarahannya. Karena untuk mempertahankan pasukan yang begitu besar, biayanya sangat mahal. Tidak ada negara yang memiliki wilayah yang begitu luas seperti ini, maka ia harus bertindak cepat dan pasti.

Untuk menghancurkan sebuah negara, yang pertama harus dihilangkan adalah kepercayaan dan keyakinan rakyatnya.

Istana kerajaan telah hangus menjadi abu, rata dengan tanah oleh para prajurit Yun Chang. Untuk mereka yang beruntung bisa melarikan diri, keyakinan mereka telah dihancurkan.

Istana yang merupakan lambang kerajaan selama berpuluh-puluh tahun telah menghilang dilahap api, bagi rakyat Dong Lin merupakan pukulan telak terakhir pada hati mereka.

Tuan Besar Zhen Beiwang yang telah memberikan rasa aman yang begitu kuat telah menghilang, kepada siapa mereka bisa menggantungkan harapan mereka?

Kabar buruk telah menyebar luas, melewati setiap sudut wilayah Dong Lin, membuat rakyat Dong Lin yang terperangkap menjadi putusasa.

“Yang Mulia, apa yang akan kita lakukan?” kabar itu melewati tempat yang jauh dimana para prajurit yang tersisa melaporkan pada Ratu yang sedang terduduk kaku.

Hampir separuh wilayah ibukota telah hilang. Rakyat kehilangan rumah mereka dan istana telah menjadi debu.

Bagaimana bisa Dong Lin yang hebat, hancur seperti ini?

Jendral Chen Mu telah meninggal dalam peperangan, sementara Moran dan Luoshang dengan susah payah melindunginya ketika meninggalkan ibukota. Dibelakang mereka, suara para prajurit yang terbunuh mengetarkan langit, dan darah mereka membuat bercak di pakaiannya.

Setelah itu ia sangat menyadari, Zhen Beiwang adalah harta yang melebihi benda berharga. Tak heran, begitu para pejuang Dong Lin menyebut Tuan Besar Zhen Beiwang, wajah mereka sangat gembira dan bangga.

Saat ini ia bukan lagi wanita kelas atas yang terperangkap di istana. Sekarang, ia mengenakan pakaian kasar, semua kemewahan menghilang. Ia dilindungi oleh beberapa prajurit Dong Lin yang tersisa bersembunyi di dalam hutan atau daerah tak berpenghuni, menghindari pengejaran prajurit Yun Chang.

Di dalam kegelapan yang pekat, dan masa depan yang sulit diduga, Ratu sering teringat masa lalunya.

Dulu, Dong Lin memiliki kekuatan yang begitu besar. Pasukan mereka siap untuk berperang melawan tiga negara, bersama Raja dan Zhen Beiwang.

Kapan nasib buruk mulai terjadi?

“Bai Pingting…” sebuah nama keluar dari ucapan Ratu, nama yang tak mungkin dilupakan.

Bai Pingting bergerak di Bei Mo, membuat He Xia mendapat kesempatan ikut campur.

Hari itu, Tuan Muda Jin Awang berkerjasama dengan Raja Bei Mo meracuni dua anaknya. Itulah awal nasib buruk Dong Lin.

Kematian dua pangeran membuat Chu Beijie dan Bai Pingting saling curiga, tapi juga membuat cinta mereka semakin kuat.

Dan ketika cinta mereka begitu kuat, prajurit sekutu Yun Chang dan Bei Mo tiba.

Hati Ratu membeku. Apa He Xia telah merencakan semua ini, membuat perangkap maut untuk menghancurkan negaranya.

Selangkah demi selangkah, ia membuat Chu Beijie kehilangan Bai Pingting, membuat Dong Lin kehilangan Chu Beijie, dan akhirnya menghilangkan seluruh jejak Dong Lin dari peta….

“Nyonya! Nyonya!” suara teriakan dan langkah kaki bergegas. Jendela sebuah kereta sederhana tersingkap, menampilkan wajah Luoshang yang sangat panik. “Kami menemukan jejak prajurit di depan, mereka sepertinya mengarah kesini. Nyonya kita harus segera berangkat. Cepatlah! Cepat!” ia terengah-engah ketika berbicara.

Lagi?

Perasaan lelah menyerbu Ratu, tapi ia tidak bisa membiarkan dirinya tertangkap karena ia seorang Ratu, symbol istana kerajaan yang tersisa.

Ratu mengertakan giginya dan berjalan menuju seekor kuda.

Sosok bayangan besar memenuhi kaki langit. Barisan pasukan Yun Chang bergerak maju.

Luoshang berada di belakang sebagai pertahanan. Ia memacu kudanya begitu cepat untuk bisa melarikan diri selama gelap.

Pingting, jika jiwamu berada di surge, tolong buka matamu dan lihatlah kekacauan ini.

Aku, bersedia mengantikan seluruh penderitaanmu dengan sepuluh kali kelahiran sebagai orang yang bernasip buruk.

Tolong berbelas kasihlah pada kami. Demi seluruh rakyat yang tidak bersalah, kembalikan Zhen Beiwang.

Hanya dia, satu-satunya harapan.

--
Di pedalaman desa terpencil, hati itu tidak seperti biasanya. Sangat sunyi.

“Kalian ingin mendengar sebuah kisah?”

“Sebuah kisah?”

“Diluar sana…. Dilereng bukit… jalan setapak…datang seorang pendongeng.”

Setiap orang berbisik dan terlihat gugup, seperti takut prajurit Yun Chang tiba-tiba muncul dari bawah tanah.

Tapi setiap orang sepertinya tahu kalau si pendongeng ini bukan pendongeng biasa yang bercerita untuk membuat suasana gembira. Dengan sedikit harapan, mereka tidak bisa menahan rasa penasaran.

Di sore hari, seseorang muncul di lereng bukit. Awalnya hanya satu orang tapi kemudian datang lagi satu orang yang berjalan dengan berhati-hati. Dan tiba-tiba sepasang atau sekelompok kecil yang berjumlah tiga orang mulai berdatangan.

Wajah mereka menampakan ekspresi takut ketahuan, tapi begitu mereka melihat yang lainnya, mata mereka menampakan semangat dan keberanian.

Mereka semua berkumpul di tengah rerumputan yang agak gelap dan di malam ketika bulan gelap, sulit sekali untuk bisa saling melihat satu sama lain. Secara samar mereka bisa menerka, yang hadir saat ini bukan hanya para pria tapi juga beberapa wanita.

“Ah, jangan terlalu ke tengah.”

“AHan, kau juga datang?” suara seorang penduduk desa yang sudah akrab berbisik.

Suara tawa AHan terdengar di kegelapan. “Tentu saja, isrtiku juga ikut datang.”

Seseorang menyuruh mereka diam. “Diamlah, ceritanya sudah akan dimulai…”

Tiba-tiba suasana menjadi hening.

Kisah ini sungguh luar biasa. Si pendongeng duduk di tengah kerumunan. Para pendengarnya hanya bisa melihat sosoknya yang gelap sambil menunggu dengan penasaran dan tidak sabar menanti orang itu untuk segera mengucapkan sebuah kata.

Si pendongeng menjernihkan tengorokannya. Suaranya rendah dan ia berbicara dengan logat yang kacau. Meskipun kurang nyaman untuk di dengar tapi hal itu membuat mereka bersemangat.

“Teman-temanku para penduduk desa, hari ini aku ingin menceritakan sebuah kisah pada kalian. Aku beritahu kalian, cerita ini belum lama terjadi, dan sungguh-sungguh kejadian nyata. Para prajurit Yun Chang yang kejam itu tidak ingin berita ini tersebar, tapi kami para pendongeng Bei Mo yang telah kehilangan rumah mendengar berita ini. Kami membuatnya sebagai cerita dan mengisahkannya ke setiap arah. Aku tahu belakangan ini, para pendongeng telah diburu dan dibunuh, tapi kami para pendongeng tidak akan pernah hilang. Satu orang mengatakan pada sepuluh orang, sepuluh orang akan menjadi seratus orang. Aku tidak takut mati dan aku sama dengan para pendongeng yang telah di bunuh. Aku hanya ingin para penduduk Bei Mo mengetahui kisah ini…”

Di kegelapan, si pendongeng menghentikan kata-katanya. Ia seperti sedang menyusun ceritanya.

Dan para pendengarnya menahan napas mereka serta berusaha untuk diam bersabar, diluar kebiasaan mereka yang biasanya kasar dan malu-malu sungguh sikap yang berbeda. Mereka semua tahu, mereka akan mendengar berita yang luar biasa dan menggetarkan.

“Kehidupan kita yang sulit ini disebabkan oleh seorang iblis. Iblis ini disebut He Xia. sebelumnya ia adalah seorang Tuan Muda Jin Anwang dan sekarang ia seorang Suami dari Ratu Yun Chang. Ia telah membunuh Raja kita dengan racun dalam sebuah pertemuan perayaan, lalu memaksa kita menyerahkan persediaan beras kita, mencuri kuda-kuda, ternak sapi dan domba, dan membunuh orang-orang yang kita sayangi. Panglima kita, Ruohan memimpin pasukan untuk melawannya, tapi He Xia terlalu hebat,  Panglima Ruohan berhasil dikalahkan. Pasukan Bei Mo dihancurkan, hal ini seperti menghancurkan tulang punggung rakyat Bei Mo…”

Begitu mendengarnya mereka semua merasa marah dan kecewa. Mereka menundukan kepala karena sedih.

Si pendongeng berkata dengan nada sedih. Tapi tiba-tiba ia berganti dengan nada bersemangat. “Tapi, kalian masih ingat dengan Panglima Ze Yin? Dulu, ketika ia tinggal di pengasingan dan pasukan Chu Beijie tiba, ia turun gunung dan mendesak Chu Beijie kembali ke negaranya. Sekarang, He Xia datang untuk menghancurkan negara kita, bagaimana mungkin Panglima Ze Yin hanya duduk menyaksikan? Teman-temanku, Panglima telah turun gunung sekali lagi!”

Sebuah reaksi bersemangat mulai terlihat di antara kerumunan. Setiap orang tiba-tiba berwajah penuh harapan, kegelapan dalam mata mereka mulai mengeluarkan sinar.

“Panglima Ze Yin, kita masih punya Panglima Ze Yin…”

“Panglima Ze Yin, dimana dia? Dimana?”

“Tenanglah, biarkan aku menyelesaikannya.” Para pendengarnya menjadi tenang kembali. Setiap orang mendengarkan dengan penuh perhatian, “Panglima Ze Yin adalah seorang pemimpin yang bisa mengatur pasukan dengan baik. Ia tahu persis kalau kekuatan militer Bei Mo belum bisa mengalahkan Yun Chang,  menyerang mereka secara langsung hanya akan melukai prajurit yang tersisa. Panglima tidak bisa berbuat seperti itu. Ia mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya dan meninggalkan kediamannya yang tenang di pedalaman. Ia tahu He Xia adalah ahli strategi utama pasukan Yun Chang, tanpa He Xia Yun Chang pasti bisa dikalahkan. Panglima berpikir lama, dan akhirnya ia memutuskan, menulis surat tantangan untuk melawan He Xia.”

Seseorang berkata, “Ah”, yang sepertinya berasal dari seorang wanita.

Para pendengar sangat khawatir mendengar kelanjutannya tapi AHan tidak terlalu khawatir tentang itu, “He Xia mempunyai begitu banyak prajurit, jika mereka menyerang bersama-sama, Panglima pasti kalah.”

Si pendongeng berkata lagi, “Tidak, meskipun He Xia seorang iblis, ia tetap seorang pria terhormat dengan semangat seorang pejuang dan sangat jago bela diri. Panglima sengaja mengajukan surat tantangan terbuka, agar para Jendral lainnya mengerti tujuannya. Kalau He Xia berani menolak atau tidak datang menanggapinya, maka para Jendral bawahannya akan menyepelekannya. Inilah tujuan Panglima, He Xia sangat memandang tinggi dirinya.”

“Kalau begitu… apakah Panglima berhasil mengalahkannya?” Tanya seseorang dari kegelapan dengan gugup.

Si pendongeng menghela napas. Sikapnya membuat para pendengarnya menjadi lebih khawatir.

“Tidak mudah. Meskipun Panglima memiliki ilmu bela diri yang bagus, begitu juga dengan He Xia. Dan kesimpulannya, He Xia memiliki kesempatan sedikit lebih besar untuk menang.”

“Lalu… kalau memang sama sekali tidak ada kemungkinan menang, mengapa Panglima menantangnya? Bukankah itu berarti bunuh diri?”

“Benar… tindakan bunuh diri.” Hal ini membuat mereka menghela napas lagi. Si pendongeng merendahkan suaranya, “Mungkin seseorang juga telah mengatakan hal yang sama pada Panglima. Tapi Panglima berkata, Kalau aku berhasil membunuh He Xia karena keberuntungan maka Bei Mo pasti telah diberkati langit, tapi kalau He Xia tidak terbunuh dan ia mati, maka itu kematian yang berharga untuknya. Haaaa….sungguh seorang pahlawan, negara Bei Mo kita memiliki seorang pahlawan…”

Ia menggelengkan kepalanya dan menghela napas beberapa kali, dan setiap orang sangat penasaran tentang nasib Ze Yin. Mereka dengan tidak sabar bertanya, “Tuan, tolong katakana pada kami. Apa hasil pertarungannya?”

“Panglima kalah.” Jawab di pendongeng, hal ini menyebabkan yang lainnya sangat terpukul. Si pendongeng berkata lagi, “Hari itu, Panglima pergi sendirian dengan kuda dan pedangnya. Ia hendak melawan He Xia dikelilingi oleh para Jendral dan prajurit Yun Chang, mereka semua menyemangati He Xia. Panglima sangat mengerti, kalau ia membunuh He Xia, ia pasti tidak akan selamat. Mereka berdua saling beradu pedang, mereka saling mengeluarkan ratusan jurus dan pukulan untuk menyerang. Dan akhirnya, ternyata ilmu pedang He Xia lebih unggul, ia menemukan celah kecil dan pedangnya berhasil menusuk Panglima tepat di perut.”

“Ah…”

“Oh tidak…” mereka semua sangat terkejut, seakan pedang He Xia telah menusuk perut mereka sendiri.

Si pendongeng tidak mempedulikan suasana riuh di sekitarnya, ia melanjutkan, “Panglima berhasil menahan serangannya, tapi He Xia segera menyerang bertubi-tubi sama sekali tidak memberi kesempatan. Panglima tidak mempedulikan dirinya yang hampir mati, ia menyerang hendak menusuk leher He Xia, tapi He Xia sudah terbiasa bertarung sehingga ia mampu mengelak serangan Panglima. Meskipun begitu serangan terakhir Panglima bukan serangan yang bisa dihindari sepenuhnya. Meskipun pedangnya tidak mampu memotong leher He Xia, tapi berhasil menusuk pundaknya.”

Si pendongeng berhenti sejenak, seperti hendak mengumpulkan kembali gambarang-gambaran yang meneggentarkan itu. Dan ia kembali berkata dengan pelan, “Perut Panglima tertusuk dan ia jatuh dari kudanya. He Xia duduk di atas kudanya, pundaknya yang terluka mengeluarkan banyak darah. Teman-teman para penduduk Bei Mo, kalian harus melihat ekspresi He Xia saat itu, sungguh kalian harus melihatnya. Melihat pemimpin mereka terluka, semua prajurit Yun Chang terkejut, mereka segera menghampirinya untuk membalut lukanya. Tapi He Xia menghentikan mereka, menundukan kepalanya dan berkata pada Panglima Ze Yin, ‘Apa ini pantas?’ dan tahukah kalian apa jawaban Panglima?” dan ia berhenti lagi.

Mereka semua diam dan kaku sampai-sampai mereka tidak bisa merasakan napas mereka sendiri. Mereka hanya tahu bahwa mereka sedang berdiri disana, menyaksikan He Xia dengan kekuasaannya sedang menatap ke bawah dari atas kudanya dan Panglima Ze Yin yang terluka berada di tanah dengan keberaniannya yang tidak pernah hilang.

Agak lama sampai akhirnya seseorang berbisik, “Tuan, apa yang dikatakan Panglima?”

Si pendongeng menoleh dan ia tersenyum kecil, ia berkata dengan penyesalan dan kekaguman, “Panglima mendongakkan kepalanya, tersenyum pada He Xia sambil berkata, ‘tentu saja, karena mulai hari ini seluruh rakyat Bei Mo akan mengetahui kalau He Xia tidak begitu menakutkan. He Xia bisa berdarah, He Xia juga bisa terluka. Dan suatu hari He Xia akan dikalahkan’.”

Perkataannya sangat jelas, setiap kata diucapkan dengan pelan dan berat. Sangat merasuk ke dalam hati para pendengarnya.

“Kisahku sangat singkat, dan selesai sampai disini. Biarkan aku menghilangkan dahaga sejenak, aku masih harus segera ke desa berikutnya.” Ia merasa botol air di kakinya dan mengangkatnya ke mulutnya lalau meminumnya. Kemudian ia berkata lagi, “Aku mendengar kisah ini dari seseorang, dan orang itu mendengarnya dari orang lain juga. Aku tidak tahu seberapa banyak kebenarannya, tapi kita tahu kalau ini adalah benar. Selama kalian mendengarkan kisah ini dan menyimpannya dalam hati kalian, pengorbanan Panglima tidak sia-sia. Ingatlah, kita masih punya Panglima Ruohan, meskipun kita tidak tahu dimana ia berada, cepat atau lambat, ia akan mengikuti jejak Panglima Ze Yin, dan melawan He Xia sekali lagi.”

Lalu si pendongeng bangkit dari duduknya dan mengambil tongkat kayunya.

“Tuan…” seseorang memanggilnya, “Bagaimana nasib Panglima Ze Yin? Apakah He Xia membunuhnya?”

Si pendongeng menggelengkan kepalanya. “Siapa yang tahu? Kisah ini diteruskan dari mulut ke mulut. Aku hanya bisa menyampaikan apa yang kudengar.” Dan ia melanjutkan langkahnya.

Mulai saat itu, seluruh rakyat Bei Mo sudah mengetahui kalau He Xia tidak begitu menakutkan.

He Xia bisa berdarah.

He Xia bisa terluka.

Dan suatu saat pasti akan dikalahkan.

“Apakah Panglima Ruohan akan kembali dan memimpin pasukan?”

“Bisakah kita mengalahkan He Xia? Ia seorang Jendral yang hebat.”

“Kalau memang kita kalah, lantas mengapa?”

Sedikit secercah cahaya muncul dari perkataan mereka. Mereka bubar dalam kelompok-kelompok kecil dan sesosok angun tertinggal di belakang, berdiri dalam diam di tempatnya.

“Yangfeng…”

“Ia masih hidup.” Yangfeng berdiri lama sekali, berkata sambil menyakinkan dirinya sendiri, “Ia pasti masih hidup, hidup, sehingga ia bisa menyaksikan He Xia berdarah lagi, terluka. Hidup, sehingga ia bisa menyaksikan He Xia dikalahkan suatu hari nanti.” Dengan kalimat itu, airmatanya berurai sangat deras.

Pingting memeluk Yangfeng yang gemetar dan kedinginan.

Ia tidak berkata apapun.

Ia tidak mampu menenangkan Yangfeng dengan kata-katanya, tidak mampu - karena Yangfeng jauh lebih kuat daripada dirinya. Yangfeng sangat mengerti Ze Yin dan tahu bagaimana mencintainya.

Dua Jendral hebat yang ada dimuka bumi, yang satu milik Yun Chan dan satunya milik Dong Lin.

Bei Mo tidak memiliki satupun.

Tapi Bei Mo memiliki pahlawan, pria terhormat, anak muda dengan semangat tinggi, orang yang keras kepala.

Bukan hanya Ze Yin, tapi banyak, banyak orang-orang Bei Mo lainnya.

Hari berikutnya, kabar tersebar lebih dari lima belas mil dari desa. Mayat si pendongeng ditemukan tidak utuh, terpotong-potong oleh pedang. Kepala berambut putih tergantung di atas pohon, memperingatkan rakyat Bei Mo yang berani melanjutkan kisahnya.

AHan dan beberapa anak muda desa menggunakan kesempatan di kegelapan malam untuk mencuri kepalanya. Dan mereka menguburnya di lereng bukit diluar desa.

Mereka tidak membuatkannya sebuah kuburan, hanya meletakan semangkuk tanah. Tapi sungguh mengejutkan, banyak orang yang kesana untuk memberikan penghormatan mereka, pada seorang pendongeng yang tidak diketahui namanya.

Diantaranya termasuk juga Pingting dan Yangfeng yang membawa serta anak mereka yang masih kecil.

Saat itu adalah waktunya panen di musim gugur. Buah-buah sudah pada masak, kuda-kuda telah menjadi kuat, dan domba-domba sudah gemuk.

Dalam situasi yang tidak aman seperti ini, rakyat biasa sungguh tidak beruntung karena harus menyaksikan pembunuhan, kekejaman dan kesempatan, tapi mereka juga bisa merasakan semangat yang berkobar dan keberanian yang luar biasa.

Setelah tiba kembali di rumah, Pingting segera melangkah masuk ke dalam ruangan. Tanpa ragu sedikitpun ia mengambil pedang “Jiwa langit” yang tergantung di dinding.

“Aku tidak ingin kau turun gunung demi aku.” Yangfeng menghalanginya untuk menghentikannya, matanya memerah seperti hendak menangis darah. Ekspresinya sangat tegas, “Pingting, jangan melakukan sesuatu hanya demi orang lain, memaksa dirimu sendiri melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan.”

“Ini bukan untukmu, ini untukku.” Pingting mengenggam pedang di tangannya dan ia perlahan berbalik, ia menatap sekeliling. Ia berkata pelan, “Aku berniat menyudahi kemarahanku dan berniat menengok kekasihku, ayah dari anakku. Aku ingin ia mencintaiku, melindungiku, dan tidak akan membiarkan anakku dan aku di ganggu atau di paksa, jadi kita tidak perlu menyaksikan hal mengerikan seperti itu lagi.”

Bibirnya terangkat perlahan, menghasilkan senyum pernuh kepercayaan diri yang indah.

“Yangfeng, aku sama seperti Ze Yin, ini hal yang ingin aku lakukan sepenuh hati, hatiku benar-benar ingin melakukan ini.” Lalu Pingting menoleh pada AHan, “Tuan kau masih punya seekor kuda yang kau sembunyikan bukan? Bisakah kau pinjamkan padaku?”

“Nyonya Pingting, mengapa kau membutuhkan kuda?”

Pingting menggenggam pedang dengan lebih erat dan tertawa pelan, “Aku ingin mencari orang, seorang pria yang bisa mengalahkan He Xia. Perjalanan ini akan sangat jauh, karena itu aku butuh kudamu. Dan, tolong bantu Yangfeng menjaga anakku Chanxiao.”

Yangfeng menyaksikan sosok teman baiknya yang lemah, sehingga hatinya terasa sangat sakit.  Ia diam-diam menyeka airmatanya, dan berusaha keras bersikap tenang, “Apa kau akan baik-baik saja sendirian, melewati para prajurit itu? Kemana kau akan menemukan Zhen Beiwang yang telah lama menghilang?”

“Jangan khawatir.” Pingting berkata dengan mantap ketika menjawab, “Selama ia masih hidup, aku akan menemukannya.”
--

Rakyat Yun Chang menyambut Suami Ratu yang hebat dengan upacara besar.

He Xia berada di paling depan barisan di atas kudanya sambil menerima sorakan dari kerumunan. Fei Zhaoxing menarik tali kekangnya dan mendekati He Xia. Ia tidak berani berkuda di sampingnya, jadi ia berada sedikit di belakangnya sambil berbisik, “Suami Ratu, begitu anda memasuki ibukota apakah anda akan ke istana terlebih dahulu?”

He Xia menggelengkan kepalanya dan menjawab dingin, “Apa gunanya ke istana, kalau Dongzhuo telah menunggu kita di Kediamanku?”

Dan begitu mereka tiba disana, Dongzhuo sudah menunggu mereka di dalam. Kekuatan He Xia sedang berada di tingkat tertinggi begitu juga Dongzhuo. Ia adalah penggurus segala masalah Yun Chang saat ini.

He Xia, Fei Zhaoxing dan Dongzuo memasuki ruang kerja. Tidak ada pejabat Yun Chang lainnya, maka mereka berbicara dengan bebas.

He Xia bertanya, “Apa yang dikatakan para Pejabat?”

“Para Pejabat Yun Chang untuk sementara ini masih stabil, tapi mereka masih lebih menghormati istana.”
Karena Dongzhuo tetap tinggal di dalam ibukota untuk memantau situasi, ia tahu para pejabat itu menyembunyikan niat mereka sebenarnya.

Fei Zhaoxing berkata, “Untuk menjadikan Tuan Muda Jin Awang sebagai Raja adalah hal yang melanggar hukum. Tak peduli seberapa banyak hasil yang dicapai, ia tidak memiliki darah kerajaan.”

“Aku telah berdiskusi dengan banyak pejabat yang dihormati. Dengan sikap mereka, mereka tidak akan banyak membantu untuk membuat negara baru atau memilih Raja baru.” Dongzhuo berkata.

Ekspresi He Xia sangat tidak senang. Ia menyeringai, “Mereka sungguh licik. Ratusan ribu prajurit di tanganku, kalau mereka berani menentangku, mereka mengulangi kesalahan Gui Changqing.”

“Pasukan juga lebih berpihak pada kerajaan. Aku khawatir Tuan Muda Jin Anwang tidak akan terlalu didukung oleh mereka.” Fei Zhaoxing melanjutkan, “Sebernarnya tidak begitu sulit, mereka hanya kaki tangan kerajaan. Kalau anggota kerajaan sudah habis, mereka akan kehilangan pegangan dan segera mendukung Tuan Muda. Saat itu, tidak akan ada yang menolak pengangkatan Raja baru. Nama negara baru, bisa dikemukakan setelah itu.”

Dongzhuo mendengarkan kata-kata Fei Zhaoxing dan terkejut dengan usulan menyingkirkan Tuan Putri. Ia tidak terlalu menyukai kerajaan Yun Chang, tapi Putri Yaotian memperlakukan He Xia dengan baik. Membunuh Putri terasa tidak sepatutnya, ia merasa tidak setuju dan itu terlihat di raut wajahnya. Ia berkata pelan, “Tuan Putri sudah berada di istana dalam dan tidak akan memjadi ancaman untuk kita. Mengapa harus membunuhnya? Lagipula, ia sedang mengandung darah daging Tuan Muda.”

Fei Zhaoxing sudah tahu masalah yang terjadi di Gui Li, dan ia hanya mengatakan hal yang seperlunya, “Selama ada wanita, mengapa khawatir tidak memiliki keturunan. Lagipula sepetinya Tuan Muda Jin Anwang cukup populer, hanya saja pijakannya belum stabil. Ia harus berhasil mendapatkan takhta dan memastikan gelarnya sebelum….”

“Zhaoxing,” He Xia menyela sambil menaikkan telapak tangannya dan ia berdiri. Fajar sudah mulai tiba. Ia berkta pelan, “Jangan dilanjutkan. Kau harus pulang, pergilah dan beristirahat.”

Fe Zhaoxing agak terkejut. Ia menatap Dongzhuo lalu menjawab, “Fei Zhaoxing pergi beristirahat terlebih dahulu.”

He Xia menghela napas setelah Fei Zhaoxing meninggalkan ruangan. Ia berkata, “Dongzhuo, kau telah bersamaku sejak anak-anak, katakan saja apa yang yang ada dipikiranmu.”

Meskipun Dongzhuo tetap berada di ibukota selama perjalanan He Xia menuju empat sudut. Ia terus mengikuti berita tentang tindak tanduk pasukan Yun Chang, ia telah mengumpulkan segala unek-uneknya. Ia ingin meberitahu He Xia begitu Tuan Mudanya kembali. Ia ingin mengeluarkan semuanya, tapi begitu mendengar ucapan He Xia, hatinya jadi tertegun.

Ia telah besar di Kediaman Jin Anwang dan sekarang ia menyaksikan Tuan Mudanya telah menajadi penjahat akibat tekanan lingkukangannya, seorang jenius telah menjauh dari berkah langit. Ia telah berusaha dengan mulus menjadi Suami Ratu Yun Chang, tapi kemudian ia ditekan oleh pemerintah Yun Chang hingga tidak mampu mengangkat kepalanya. Ia menyaksikan kemarahan Tuan Mudanya dan dengan satu gerakan, ia membalikan meja, setiap ketidakadilan yang ia rasakan dibalas tiga kali lipat.

Tersandung berkali-kali. Seorang Jendral yang ditakuti seluruh dunia sekarang berdiri di depannya. Pengalamannya sangat pahit dan Dongzhuolah yang sangat mengerti hal itu.

Mungkin karena pengalaman pahit  yang telah membuat He Xia begitu terluka itulah yang membuatnya mengambil tindakan kejam dan jahat, sehingga Dongzhuopun merasa sangat takut.

Dongzhuo menoleh memandang He Xia.

Sosok Tuan Mudanya tampan, tapi sekarang terasa agak kabur. Sepertinya ada kabut tebal di antara mereka, dan jarak ketika saling menatap.

“Tuan.” Suara Dongzhuo terdengar pelan, “Tolong maafkan dan lupakan, keluarga Gui telah mendapatkan yang pantas mereka dapatkan, tapi Tuan Putri berbeda, apa Tuan sama sekali tidak ada perasaan apapun pada Tuan Putri?”

He Xia menjadi kaku. Ia terdiam lama setelah mendengar perkataan Dongzhuo. Kekejaman di wajahnya menghilang sedikit demi sedikit, dan akhirnya ekspresinya menjadi lebih lembut.

Saat itu, ia terlihat seperti He Xia, Tuan Muda Jin Awang yang romantis seperti dulu.

“Dalam dunia peperangan dan kekuasaan, dimana perasaan bisa diletakan?” Ia berbalik dan menatap Dongzhuo, orang yang paling dipercayanya. He Xia jendral paling hebat yang tidak pernah kalah dalam pertempuran dan selalu bangga akan dirinya, tersenyum pahit dan sedikit mengiba. “Dongzhuo kau telah bersamaku selama ini, apa aku selalu menjadi orang yang berhati kejam?”

Ia sama sekali tidak kejam, hanya saja karena sebuah kejadian.

Keluarga Jin Anwang yang memiliki kekuasaan militer yang cukup besar, keluarga terpandang, hanya dengan satu perintah dari Raja Gui Li telah menyebabkan keluarganya hancur dan mati.

Apa gunannya menjadi Suami Ratu? Yaotian seorang wanita lemah yang tidak mengerti masalah militer. Ia bisa mengabaikan seluruh jernih payahnya hanya untuk menghancurkan peperangan antara Dong Lin dan Yun Chang.

Terlebih lagi, ia telah kehilangan senyum dan suara kecapi Pingting. Ketika kembali ke rumah, ia hanya bisa memandang kediamannya yang sepi yang kosong.

Ia belum cukup menerima hukuman…

He Xia memejamkan matanya, menutupi semua kepenatan dan keputusasaan yang ia rasakan.

--00—


Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar