Setelah
ibukota Dong Lin di taklukkan, He Xia memerintahkan untuk memburu keluarga
kerajaan dan para Jendral yang tersisa. Ia juga memerintahkan untuk membakar
istana Dong Lin.
Berkat
obor para prajurit Yun Chang, ibukota Dong Lin terbungkus asap tebal, dan api
terang dari istana kerajaan membuat langit menjadi separuh berwarna merah.
“Istana…
istana kerajaan!” raktyat yang masih berada di ibukota menoleh ke langit, wajah
mereka terkejut dan berurai airmata sambil menyaksikan api meliuk-liuk.
He
Xia memerintahkan untuk membantai prajurit yang tersisa bukan hanya untuk
membalaskan kemarahannya. Karena untuk mempertahankan pasukan yang begitu
besar, biayanya sangat mahal. Tidak ada negara yang memiliki wilayah yang
begitu luas seperti ini, maka ia harus bertindak cepat dan pasti.
Untuk
menghancurkan sebuah negara, yang pertama harus dihilangkan adalah kepercayaan
dan keyakinan rakyatnya.
Istana
kerajaan telah hangus menjadi abu, rata dengan tanah oleh para prajurit Yun
Chang. Untuk mereka yang beruntung bisa melarikan diri, keyakinan mereka telah
dihancurkan.
Istana
yang merupakan lambang kerajaan selama berpuluh-puluh tahun telah menghilang
dilahap api, bagi rakyat Dong Lin merupakan pukulan telak terakhir pada hati
mereka.
Tuan
Besar Zhen Beiwang yang telah memberikan rasa aman yang begitu kuat telah
menghilang, kepada siapa mereka bisa menggantungkan harapan mereka?
Kabar
buruk telah menyebar luas, melewati setiap sudut wilayah Dong Lin, membuat
rakyat Dong Lin yang terperangkap menjadi putusasa.
“Yang
Mulia, apa yang akan kita lakukan?” kabar itu melewati tempat yang jauh dimana
para prajurit yang tersisa melaporkan pada Ratu yang sedang terduduk kaku.
Hampir
separuh wilayah ibukota telah hilang. Rakyat kehilangan rumah mereka dan istana
telah menjadi debu.
Bagaimana
bisa Dong Lin yang hebat, hancur seperti ini?
Jendral
Chen Mu telah meninggal dalam peperangan, sementara Moran dan Luoshang dengan
susah payah melindunginya ketika meninggalkan ibukota. Dibelakang mereka, suara
para prajurit yang terbunuh mengetarkan langit, dan darah mereka membuat bercak
di pakaiannya.
Setelah
itu ia sangat menyadari, Zhen Beiwang adalah harta yang melebihi benda
berharga. Tak heran, begitu para pejuang Dong Lin menyebut Tuan Besar Zhen
Beiwang, wajah mereka sangat gembira dan bangga.
Saat
ini ia bukan lagi wanita kelas atas yang terperangkap di istana. Sekarang, ia
mengenakan pakaian kasar, semua kemewahan menghilang. Ia dilindungi oleh
beberapa prajurit Dong Lin yang tersisa bersembunyi di dalam hutan atau daerah tak
berpenghuni, menghindari pengejaran prajurit Yun Chang.
Di
dalam kegelapan yang pekat, dan masa depan yang sulit diduga, Ratu sering
teringat masa lalunya.
Dulu,
Dong Lin memiliki kekuatan yang begitu besar. Pasukan mereka siap untuk
berperang melawan tiga negara, bersama Raja dan Zhen Beiwang.
Kapan
nasib buruk mulai terjadi?
“Bai
Pingting…” sebuah nama keluar dari ucapan Ratu, nama yang tak mungkin
dilupakan.
Bai
Pingting bergerak di Bei Mo, membuat He Xia mendapat kesempatan ikut campur.
Hari
itu, Tuan Muda Jin Awang berkerjasama dengan Raja Bei Mo meracuni dua anaknya.
Itulah awal nasib buruk Dong Lin.
Kematian
dua pangeran membuat Chu Beijie dan Bai Pingting saling curiga, tapi juga
membuat cinta mereka semakin kuat.
Dan
ketika cinta mereka begitu kuat, prajurit sekutu Yun Chang dan Bei Mo tiba.
Hati
Ratu membeku. Apa He Xia telah merencakan semua ini, membuat perangkap maut
untuk menghancurkan negaranya.
Selangkah
demi selangkah, ia membuat Chu Beijie kehilangan Bai Pingting, membuat Dong Lin
kehilangan Chu Beijie, dan akhirnya menghilangkan seluruh jejak Dong Lin dari
peta….
“Nyonya!
Nyonya!” suara teriakan dan langkah kaki bergegas. Jendela sebuah kereta
sederhana tersingkap, menampilkan wajah Luoshang yang sangat panik. “Kami
menemukan jejak prajurit di depan, mereka sepertinya mengarah kesini. Nyonya
kita harus segera berangkat. Cepatlah! Cepat!” ia terengah-engah ketika
berbicara.
Lagi?
Perasaan
lelah menyerbu Ratu, tapi ia tidak bisa membiarkan dirinya tertangkap karena ia
seorang Ratu, symbol istana kerajaan yang tersisa.
Ratu
mengertakan giginya dan berjalan menuju seekor kuda.
Sosok
bayangan besar memenuhi kaki langit. Barisan pasukan Yun Chang bergerak maju.
Luoshang
berada di belakang sebagai pertahanan. Ia memacu kudanya begitu cepat untuk
bisa melarikan diri selama gelap.
Pingting, jika
jiwamu berada di surge, tolong buka matamu dan lihatlah kekacauan ini.
Aku, bersedia
mengantikan seluruh penderitaanmu dengan sepuluh kali kelahiran sebagai orang
yang bernasip buruk.
Tolong berbelas
kasihlah pada kami. Demi seluruh rakyat yang tidak bersalah, kembalikan Zhen
Beiwang.
Hanya dia,
satu-satunya harapan.
--
Di
pedalaman desa terpencil, hati itu tidak seperti biasanya. Sangat sunyi.
“Kalian
ingin mendengar sebuah kisah?”
“Sebuah
kisah?”
“Diluar
sana…. Dilereng bukit… jalan setapak…datang seorang pendongeng.”
Setiap
orang berbisik dan terlihat gugup, seperti takut prajurit Yun Chang tiba-tiba
muncul dari bawah tanah.
Tapi
setiap orang sepertinya tahu kalau si pendongeng ini bukan pendongeng biasa
yang bercerita untuk membuat suasana gembira. Dengan sedikit harapan, mereka
tidak bisa menahan rasa penasaran.
Di
sore hari, seseorang muncul di lereng bukit. Awalnya hanya satu orang tapi
kemudian datang lagi satu orang yang berjalan dengan berhati-hati. Dan
tiba-tiba sepasang atau sekelompok kecil yang berjumlah tiga orang mulai
berdatangan.
Wajah
mereka menampakan ekspresi takut ketahuan, tapi begitu mereka melihat yang
lainnya, mata mereka menampakan semangat dan keberanian.
Mereka
semua berkumpul di tengah rerumputan yang agak gelap dan di malam ketika bulan
gelap, sulit sekali untuk bisa saling melihat satu sama lain. Secara samar
mereka bisa menerka, yang hadir saat ini bukan hanya para pria tapi juga
beberapa wanita.
“Ah,
jangan terlalu ke tengah.”
“AHan,
kau juga datang?” suara seorang penduduk desa yang sudah akrab berbisik.
Suara
tawa AHan terdengar di kegelapan. “Tentu saja, isrtiku juga ikut datang.”
Seseorang
menyuruh mereka diam. “Diamlah, ceritanya sudah akan dimulai…”
Tiba-tiba
suasana menjadi hening.
Kisah
ini sungguh luar biasa. Si pendongeng duduk di tengah kerumunan. Para
pendengarnya hanya bisa melihat sosoknya yang gelap sambil menunggu dengan
penasaran dan tidak sabar menanti orang itu untuk segera mengucapkan sebuah
kata.
Si
pendongeng menjernihkan tengorokannya. Suaranya rendah dan ia berbicara dengan
logat yang kacau. Meskipun kurang nyaman untuk di dengar tapi hal itu membuat
mereka bersemangat.
“Teman-temanku
para penduduk desa, hari ini aku ingin menceritakan sebuah kisah pada kalian.
Aku beritahu kalian, cerita ini belum lama terjadi, dan sungguh-sungguh
kejadian nyata. Para prajurit Yun Chang yang kejam itu tidak ingin berita ini
tersebar, tapi kami para pendongeng Bei Mo yang telah kehilangan rumah
mendengar berita ini. Kami membuatnya sebagai cerita dan mengisahkannya ke
setiap arah. Aku tahu belakangan ini, para pendongeng telah diburu dan dibunuh,
tapi kami para pendongeng tidak akan pernah hilang. Satu orang mengatakan pada
sepuluh orang, sepuluh orang akan menjadi seratus orang. Aku tidak takut mati
dan aku sama dengan para pendongeng yang telah di bunuh. Aku hanya ingin para
penduduk Bei Mo mengetahui kisah ini…”
Di
kegelapan, si pendongeng menghentikan kata-katanya. Ia seperti sedang menyusun
ceritanya.
Dan
para pendengarnya menahan napas mereka serta berusaha untuk diam bersabar,
diluar kebiasaan mereka yang biasanya kasar dan malu-malu sungguh sikap yang
berbeda. Mereka semua tahu, mereka akan mendengar berita yang luar biasa dan
menggetarkan.
“Kehidupan
kita yang sulit ini disebabkan oleh seorang iblis. Iblis ini disebut He Xia.
sebelumnya ia adalah seorang Tuan Muda Jin Anwang dan sekarang ia seorang Suami
dari Ratu Yun Chang. Ia telah membunuh Raja kita dengan racun dalam sebuah
pertemuan perayaan, lalu memaksa kita menyerahkan persediaan beras kita,
mencuri kuda-kuda, ternak sapi dan domba, dan membunuh orang-orang yang kita
sayangi. Panglima kita, Ruohan memimpin pasukan untuk melawannya, tapi He Xia
terlalu hebat, Panglima Ruohan berhasil
dikalahkan. Pasukan Bei Mo dihancurkan, hal ini seperti menghancurkan tulang
punggung rakyat Bei Mo…”
Begitu
mendengarnya mereka semua merasa marah dan kecewa. Mereka menundukan kepala
karena sedih.
Si
pendongeng berkata dengan nada sedih. Tapi tiba-tiba ia berganti dengan nada
bersemangat. “Tapi, kalian masih ingat dengan Panglima Ze Yin? Dulu, ketika ia
tinggal di pengasingan dan pasukan Chu Beijie tiba, ia turun gunung dan
mendesak Chu Beijie kembali ke negaranya. Sekarang, He Xia datang untuk
menghancurkan negara kita, bagaimana mungkin Panglima Ze Yin hanya duduk
menyaksikan? Teman-temanku, Panglima telah turun gunung sekali lagi!”
Sebuah
reaksi bersemangat mulai terlihat di antara kerumunan. Setiap orang tiba-tiba
berwajah penuh harapan, kegelapan dalam mata mereka mulai mengeluarkan sinar.
“Panglima
Ze Yin, kita masih punya Panglima Ze Yin…”
“Panglima
Ze Yin, dimana dia? Dimana?”
“Tenanglah,
biarkan aku menyelesaikannya.” Para pendengarnya menjadi tenang kembali. Setiap
orang mendengarkan dengan penuh perhatian, “Panglima Ze Yin adalah seorang
pemimpin yang bisa mengatur pasukan dengan baik. Ia tahu persis kalau kekuatan
militer Bei Mo belum bisa mengalahkan Yun Chang, menyerang mereka secara langsung hanya akan
melukai prajurit yang tersisa. Panglima tidak bisa berbuat seperti itu. Ia
mengucapkan selamat tinggal pada keluarganya dan meninggalkan kediamannya yang
tenang di pedalaman. Ia tahu He Xia adalah ahli strategi utama pasukan Yun
Chang, tanpa He Xia Yun Chang pasti bisa dikalahkan. Panglima berpikir lama,
dan akhirnya ia memutuskan, menulis surat tantangan untuk melawan He Xia.”
Seseorang
berkata, “Ah”, yang sepertinya berasal dari seorang wanita.
Para
pendengar sangat khawatir mendengar kelanjutannya tapi AHan tidak terlalu
khawatir tentang itu, “He Xia mempunyai begitu banyak prajurit, jika mereka
menyerang bersama-sama, Panglima pasti kalah.”
Si
pendongeng berkata lagi, “Tidak, meskipun He Xia seorang iblis, ia tetap
seorang pria terhormat dengan semangat seorang pejuang dan sangat jago bela
diri. Panglima sengaja mengajukan surat tantangan terbuka, agar para Jendral
lainnya mengerti tujuannya. Kalau He Xia berani menolak atau tidak datang
menanggapinya, maka para Jendral bawahannya akan menyepelekannya. Inilah tujuan
Panglima, He Xia sangat memandang tinggi dirinya.”
“Kalau
begitu… apakah Panglima berhasil mengalahkannya?” Tanya seseorang dari
kegelapan dengan gugup.
Si
pendongeng menghela napas. Sikapnya membuat para pendengarnya menjadi lebih
khawatir.
“Tidak
mudah. Meskipun Panglima memiliki ilmu bela diri yang bagus, begitu juga dengan
He Xia. Dan kesimpulannya, He Xia memiliki kesempatan sedikit lebih besar untuk
menang.”
“Lalu…
kalau memang sama sekali tidak ada kemungkinan menang, mengapa Panglima
menantangnya? Bukankah itu berarti bunuh diri?”
“Benar…
tindakan bunuh diri.” Hal ini membuat mereka menghela napas lagi. Si pendongeng
merendahkan suaranya, “Mungkin seseorang juga telah mengatakan hal yang sama
pada Panglima. Tapi Panglima berkata, Kalau aku berhasil membunuh He Xia karena
keberuntungan maka Bei Mo pasti telah diberkati langit, tapi kalau He Xia tidak
terbunuh dan ia mati, maka itu kematian yang berharga untuknya. Haaaa….sungguh
seorang pahlawan, negara Bei Mo kita memiliki seorang pahlawan…”
Ia
menggelengkan kepalanya dan menghela napas beberapa kali, dan setiap orang
sangat penasaran tentang nasib Ze Yin. Mereka dengan tidak sabar bertanya,
“Tuan, tolong katakana pada kami. Apa hasil pertarungannya?”
“Panglima
kalah.” Jawab di pendongeng, hal ini menyebabkan yang lainnya sangat terpukul.
Si pendongeng berkata lagi, “Hari itu, Panglima pergi sendirian dengan kuda dan
pedangnya. Ia hendak melawan He Xia dikelilingi oleh para Jendral dan prajurit
Yun Chang, mereka semua menyemangati He Xia. Panglima sangat mengerti, kalau ia
membunuh He Xia, ia pasti tidak akan selamat. Mereka berdua saling beradu
pedang, mereka saling mengeluarkan ratusan jurus dan pukulan untuk menyerang.
Dan akhirnya, ternyata ilmu pedang He Xia lebih unggul, ia menemukan celah
kecil dan pedangnya berhasil menusuk Panglima tepat di perut.”
“Ah…”
“Oh
tidak…” mereka semua sangat terkejut, seakan pedang He Xia telah menusuk perut
mereka sendiri.
Si
pendongeng tidak mempedulikan suasana riuh di sekitarnya, ia melanjutkan,
“Panglima berhasil menahan serangannya, tapi He Xia segera menyerang
bertubi-tubi sama sekali tidak memberi kesempatan. Panglima tidak mempedulikan
dirinya yang hampir mati, ia menyerang hendak menusuk leher He Xia, tapi He Xia
sudah terbiasa bertarung sehingga ia mampu mengelak serangan Panglima. Meskipun
begitu serangan terakhir Panglima bukan serangan yang bisa dihindari
sepenuhnya. Meskipun pedangnya tidak mampu memotong leher He Xia, tapi berhasil
menusuk pundaknya.”
Si
pendongeng berhenti sejenak, seperti hendak mengumpulkan kembali
gambarang-gambaran yang meneggentarkan itu. Dan ia kembali berkata dengan
pelan, “Perut Panglima tertusuk dan ia jatuh dari kudanya. He Xia duduk di atas
kudanya, pundaknya yang terluka mengeluarkan banyak darah. Teman-teman para
penduduk Bei Mo, kalian harus melihat ekspresi He Xia saat itu, sungguh kalian
harus melihatnya. Melihat pemimpin mereka terluka, semua prajurit Yun Chang
terkejut, mereka segera menghampirinya untuk membalut lukanya. Tapi He Xia
menghentikan mereka, menundukan kepalanya dan berkata pada Panglima Ze Yin,
‘Apa ini pantas?’ dan tahukah kalian apa jawaban Panglima?” dan ia berhenti
lagi.
Mereka
semua diam dan kaku sampai-sampai mereka tidak bisa merasakan napas mereka
sendiri. Mereka hanya tahu bahwa mereka sedang berdiri disana, menyaksikan He
Xia dengan kekuasaannya sedang menatap ke bawah dari atas kudanya dan Panglima
Ze Yin yang terluka berada di tanah dengan keberaniannya yang tidak pernah
hilang.
Agak
lama sampai akhirnya seseorang berbisik, “Tuan, apa yang dikatakan Panglima?”
Si
pendongeng menoleh dan ia tersenyum kecil, ia berkata dengan penyesalan dan
kekaguman, “Panglima mendongakkan kepalanya, tersenyum pada He Xia sambil
berkata, ‘tentu saja, karena mulai hari ini seluruh rakyat Bei Mo akan
mengetahui kalau He Xia tidak begitu menakutkan. He Xia bisa berdarah, He Xia
juga bisa terluka. Dan suatu hari He Xia akan dikalahkan’.”
Perkataannya
sangat jelas, setiap kata diucapkan dengan pelan dan berat. Sangat merasuk ke
dalam hati para pendengarnya.
“Kisahku
sangat singkat, dan selesai sampai disini. Biarkan aku menghilangkan dahaga
sejenak, aku masih harus segera ke desa berikutnya.” Ia merasa botol air di
kakinya dan mengangkatnya ke mulutnya lalau meminumnya. Kemudian ia berkata
lagi, “Aku mendengar kisah ini dari seseorang, dan orang itu mendengarnya dari
orang lain juga. Aku tidak tahu seberapa banyak kebenarannya, tapi kita tahu
kalau ini adalah benar. Selama kalian mendengarkan kisah ini dan menyimpannya
dalam hati kalian, pengorbanan Panglima tidak sia-sia. Ingatlah, kita masih
punya Panglima Ruohan, meskipun kita tidak tahu dimana ia berada, cepat atau
lambat, ia akan mengikuti jejak Panglima Ze Yin, dan melawan He Xia sekali
lagi.”
Lalu
si pendongeng bangkit dari duduknya dan mengambil tongkat kayunya.
“Tuan…”
seseorang memanggilnya, “Bagaimana nasib Panglima Ze Yin? Apakah He Xia
membunuhnya?”
Si
pendongeng menggelengkan kepalanya. “Siapa yang tahu? Kisah ini diteruskan dari
mulut ke mulut. Aku hanya bisa menyampaikan apa yang kudengar.” Dan ia
melanjutkan langkahnya.
Mulai
saat itu, seluruh rakyat Bei Mo sudah mengetahui kalau He Xia tidak begitu
menakutkan.
He
Xia bisa berdarah.
He
Xia bisa terluka.
Dan
suatu saat pasti akan dikalahkan.
“Apakah
Panglima Ruohan akan kembali dan memimpin pasukan?”
“Bisakah
kita mengalahkan He Xia? Ia seorang Jendral yang hebat.”
“Kalau
memang kita kalah, lantas mengapa?”
Sedikit
secercah cahaya muncul dari perkataan mereka. Mereka bubar dalam kelompok-kelompok
kecil dan sesosok angun tertinggal di belakang, berdiri dalam diam di
tempatnya.
“Yangfeng…”
“Ia
masih hidup.” Yangfeng berdiri lama sekali, berkata sambil menyakinkan dirinya
sendiri, “Ia pasti masih hidup, hidup, sehingga ia bisa menyaksikan He Xia
berdarah lagi, terluka. Hidup, sehingga ia bisa menyaksikan He Xia dikalahkan
suatu hari nanti.” Dengan kalimat itu, airmatanya berurai sangat deras.
Pingting
memeluk Yangfeng yang gemetar dan kedinginan.
Ia
tidak berkata apapun.
Ia
tidak mampu menenangkan Yangfeng dengan kata-katanya, tidak mampu - karena
Yangfeng jauh lebih kuat daripada dirinya. Yangfeng sangat mengerti Ze Yin dan
tahu bagaimana mencintainya.
Dua
Jendral hebat yang ada dimuka bumi, yang satu milik Yun Chan dan satunya milik
Dong Lin.
Bei
Mo tidak memiliki satupun.
Tapi
Bei Mo memiliki pahlawan, pria terhormat, anak muda dengan semangat tinggi,
orang yang keras kepala.
Bukan
hanya Ze Yin, tapi banyak, banyak orang-orang Bei Mo lainnya.
Hari
berikutnya, kabar tersebar lebih dari lima belas mil dari desa. Mayat si
pendongeng ditemukan tidak utuh, terpotong-potong oleh pedang. Kepala berambut
putih tergantung di atas pohon, memperingatkan rakyat Bei Mo yang berani
melanjutkan kisahnya.
AHan
dan beberapa anak muda desa menggunakan kesempatan di kegelapan malam untuk
mencuri kepalanya. Dan mereka menguburnya di lereng bukit diluar desa.
Mereka
tidak membuatkannya sebuah kuburan, hanya meletakan semangkuk tanah. Tapi
sungguh mengejutkan, banyak orang yang kesana untuk memberikan penghormatan
mereka, pada seorang pendongeng yang tidak diketahui namanya.
Diantaranya
termasuk juga Pingting dan Yangfeng yang membawa serta anak mereka yang masih
kecil.
Saat
itu adalah waktunya panen di musim gugur. Buah-buah sudah pada masak, kuda-kuda
telah menjadi kuat, dan domba-domba sudah gemuk.
Dalam
situasi yang tidak aman seperti ini, rakyat biasa sungguh tidak beruntung
karena harus menyaksikan pembunuhan, kekejaman dan kesempatan, tapi mereka juga
bisa merasakan semangat yang berkobar dan keberanian yang luar biasa.
Setelah
tiba kembali di rumah, Pingting segera melangkah masuk ke dalam ruangan. Tanpa
ragu sedikitpun ia mengambil pedang “Jiwa langit” yang tergantung di dinding.
“Aku
tidak ingin kau turun gunung demi aku.” Yangfeng menghalanginya untuk
menghentikannya, matanya memerah seperti hendak menangis darah. Ekspresinya
sangat tegas, “Pingting, jangan melakukan sesuatu hanya demi orang lain,
memaksa dirimu sendiri melakukan hal yang tidak ingin kau lakukan.”
“Ini
bukan untukmu, ini untukku.” Pingting mengenggam pedang di tangannya dan ia
perlahan berbalik, ia menatap sekeliling. Ia berkata pelan, “Aku berniat menyudahi
kemarahanku dan berniat menengok kekasihku, ayah dari anakku. Aku ingin ia
mencintaiku, melindungiku, dan tidak akan membiarkan anakku dan aku di ganggu
atau di paksa, jadi kita tidak perlu menyaksikan hal mengerikan seperti itu
lagi.”
Bibirnya
terangkat perlahan, menghasilkan senyum pernuh kepercayaan diri yang indah.
“Yangfeng,
aku sama seperti Ze Yin, ini hal yang ingin aku lakukan sepenuh hati, hatiku
benar-benar ingin melakukan ini.” Lalu Pingting menoleh pada AHan, “Tuan kau
masih punya seekor kuda yang kau sembunyikan bukan? Bisakah kau pinjamkan
padaku?”
“Nyonya
Pingting, mengapa kau membutuhkan kuda?”
Pingting
menggenggam pedang dengan lebih erat dan tertawa pelan, “Aku ingin mencari
orang, seorang pria yang bisa mengalahkan He Xia. Perjalanan ini akan sangat
jauh, karena itu aku butuh kudamu. Dan, tolong bantu Yangfeng menjaga anakku
Chanxiao.”
Yangfeng
menyaksikan sosok teman baiknya yang lemah, sehingga hatinya terasa sangat
sakit. Ia diam-diam menyeka airmatanya,
dan berusaha keras bersikap tenang, “Apa kau akan baik-baik saja sendirian, melewati
para prajurit itu? Kemana kau akan menemukan Zhen Beiwang yang telah lama
menghilang?”
“Jangan
khawatir.” Pingting berkata dengan mantap ketika menjawab, “Selama ia masih
hidup, aku akan menemukannya.”
--
Rakyat
Yun Chang menyambut Suami Ratu yang hebat dengan upacara besar.
He
Xia berada di paling depan barisan di atas kudanya sambil menerima sorakan dari
kerumunan. Fei Zhaoxing menarik tali kekangnya dan mendekati He Xia. Ia tidak
berani berkuda di sampingnya, jadi ia berada sedikit di belakangnya sambil
berbisik, “Suami Ratu, begitu anda memasuki ibukota apakah anda akan ke istana
terlebih dahulu?”
He
Xia menggelengkan kepalanya dan menjawab dingin, “Apa gunanya ke istana, kalau
Dongzhuo telah menunggu kita di Kediamanku?”
Dan
begitu mereka tiba disana, Dongzhuo sudah menunggu mereka di dalam. Kekuatan He
Xia sedang berada di tingkat tertinggi begitu juga Dongzhuo. Ia adalah
penggurus segala masalah Yun Chang saat ini.
He
Xia, Fei Zhaoxing dan Dongzuo memasuki ruang kerja. Tidak ada pejabat Yun Chang
lainnya, maka mereka berbicara dengan bebas.
He
Xia bertanya, “Apa yang dikatakan para Pejabat?”
“Para
Pejabat Yun Chang untuk sementara ini masih stabil, tapi mereka masih lebih
menghormati istana.”
Karena
Dongzhuo tetap tinggal di dalam ibukota untuk memantau situasi, ia tahu para
pejabat itu menyembunyikan niat mereka sebenarnya.
Fei
Zhaoxing berkata, “Untuk menjadikan Tuan Muda Jin Awang sebagai Raja adalah hal
yang melanggar hukum. Tak peduli seberapa banyak hasil yang dicapai, ia tidak
memiliki darah kerajaan.”
“Aku
telah berdiskusi dengan banyak pejabat yang dihormati. Dengan sikap mereka,
mereka tidak akan banyak membantu untuk membuat negara baru atau memilih Raja
baru.” Dongzhuo berkata.
Ekspresi
He Xia sangat tidak senang. Ia menyeringai, “Mereka sungguh licik. Ratusan ribu
prajurit di tanganku, kalau mereka berani menentangku, mereka mengulangi
kesalahan Gui Changqing.”
“Pasukan
juga lebih berpihak pada kerajaan. Aku khawatir Tuan Muda Jin Anwang tidak akan
terlalu didukung oleh mereka.” Fei Zhaoxing melanjutkan, “Sebernarnya tidak
begitu sulit, mereka hanya kaki tangan kerajaan. Kalau anggota kerajaan sudah
habis, mereka akan kehilangan pegangan dan segera mendukung Tuan Muda. Saat
itu, tidak akan ada yang menolak pengangkatan Raja baru. Nama negara baru, bisa
dikemukakan setelah itu.”
Dongzhuo
mendengarkan kata-kata Fei Zhaoxing dan terkejut dengan usulan menyingkirkan
Tuan Putri. Ia tidak terlalu menyukai kerajaan Yun Chang, tapi Putri Yaotian
memperlakukan He Xia dengan baik. Membunuh Putri terasa tidak sepatutnya, ia
merasa tidak setuju dan itu terlihat di raut wajahnya. Ia berkata pelan, “Tuan
Putri sudah berada di istana dalam dan tidak akan memjadi ancaman untuk kita.
Mengapa harus membunuhnya? Lagipula, ia sedang mengandung darah daging Tuan
Muda.”
Fei
Zhaoxing sudah tahu masalah yang terjadi di Gui Li, dan ia hanya mengatakan hal
yang seperlunya, “Selama ada wanita, mengapa khawatir tidak memiliki keturunan.
Lagipula sepetinya Tuan Muda Jin Anwang cukup populer, hanya saja pijakannya
belum stabil. Ia harus berhasil mendapatkan takhta dan memastikan gelarnya
sebelum….”
“Zhaoxing,”
He Xia menyela sambil menaikkan telapak tangannya dan ia berdiri. Fajar sudah
mulai tiba. Ia berkta pelan, “Jangan dilanjutkan. Kau harus pulang, pergilah
dan beristirahat.”
Fe
Zhaoxing agak terkejut. Ia menatap Dongzhuo lalu menjawab, “Fei Zhaoxing pergi
beristirahat terlebih dahulu.”
He
Xia menghela napas setelah Fei Zhaoxing meninggalkan ruangan. Ia berkata,
“Dongzhuo, kau telah bersamaku sejak anak-anak, katakan saja apa yang yang ada
dipikiranmu.”
Meskipun
Dongzhuo tetap berada di ibukota selama perjalanan He Xia menuju empat sudut.
Ia terus mengikuti berita tentang tindak tanduk pasukan Yun Chang, ia telah
mengumpulkan segala unek-uneknya. Ia ingin meberitahu He Xia begitu Tuan
Mudanya kembali. Ia ingin mengeluarkan semuanya, tapi begitu mendengar ucapan
He Xia, hatinya jadi tertegun.
Ia
telah besar di Kediaman Jin Anwang dan sekarang ia menyaksikan Tuan Mudanya
telah menajadi penjahat akibat tekanan lingkukangannya, seorang jenius telah
menjauh dari berkah langit. Ia telah berusaha dengan mulus menjadi Suami Ratu
Yun Chang, tapi kemudian ia ditekan oleh pemerintah Yun Chang hingga tidak
mampu mengangkat kepalanya. Ia menyaksikan kemarahan Tuan Mudanya dan dengan
satu gerakan, ia membalikan meja, setiap ketidakadilan yang ia rasakan dibalas
tiga kali lipat.
Tersandung
berkali-kali. Seorang Jendral yang ditakuti seluruh dunia sekarang berdiri di
depannya. Pengalamannya sangat pahit dan Dongzhuolah yang sangat mengerti hal
itu.
Mungkin
karena pengalaman pahit yang telah
membuat He Xia begitu terluka itulah yang membuatnya mengambil tindakan kejam
dan jahat, sehingga Dongzhuopun merasa sangat takut.
Dongzhuo
menoleh memandang He Xia.
Sosok
Tuan Mudanya tampan, tapi sekarang terasa agak kabur. Sepertinya ada kabut
tebal di antara mereka, dan jarak ketika saling menatap.
“Tuan.”
Suara Dongzhuo terdengar pelan, “Tolong maafkan dan lupakan, keluarga Gui telah
mendapatkan yang pantas mereka dapatkan, tapi Tuan Putri berbeda, apa Tuan sama
sekali tidak ada perasaan apapun pada Tuan Putri?”
He
Xia menjadi kaku. Ia terdiam lama setelah mendengar perkataan Dongzhuo.
Kekejaman di wajahnya menghilang sedikit demi sedikit, dan akhirnya ekspresinya
menjadi lebih lembut.
Saat
itu, ia terlihat seperti He Xia, Tuan Muda Jin Awang yang romantis seperti
dulu.
“Dalam
dunia peperangan dan kekuasaan, dimana perasaan bisa diletakan?” Ia berbalik
dan menatap Dongzhuo, orang yang paling dipercayanya. He Xia jendral paling
hebat yang tidak pernah kalah dalam pertempuran dan selalu bangga akan dirinya,
tersenyum pahit dan sedikit mengiba. “Dongzhuo kau telah bersamaku selama ini,
apa aku selalu menjadi orang yang berhati kejam?”
Ia
sama sekali tidak kejam, hanya saja karena sebuah kejadian.
Keluarga
Jin Anwang yang memiliki kekuasaan militer yang cukup besar, keluarga
terpandang, hanya dengan satu perintah dari Raja Gui Li telah menyebabkan
keluarganya hancur dan mati.
Apa
gunannya menjadi Suami Ratu? Yaotian seorang wanita lemah yang tidak mengerti
masalah militer. Ia bisa mengabaikan seluruh jernih payahnya hanya untuk
menghancurkan peperangan antara Dong Lin dan Yun Chang.
Terlebih
lagi, ia telah kehilangan senyum dan suara kecapi Pingting. Ketika kembali ke
rumah, ia hanya bisa memandang kediamannya yang sepi yang kosong.
Ia
belum cukup menerima hukuman…
He
Xia memejamkan matanya, menutupi semua kepenatan dan keputusasaan yang ia
rasakan.
--00—
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar