Di
kedalam hutan lebat, sebuah pondok kecil dipenuhi kebahagiaan.
Meskipun
sangat sunyi, suasana gembira yang terasa diseluruh ruangan tak dapat
disangkal.
Diatas
tempat tidur yang terbuat dari kayu, berbaring dua orang yang terperangkap rasa
bahagia. Mungkin mereka tidak sanggup untuk tidur sepanjang malam.
“Bintang
malam ini bersinar sangat terang,” Chu Beijie berkata dan menunggu jawaban
Pingting.
Pingting
tertawa kecil dengan pelan.
“Apa
yang lucu?”
“Tuan,
akhirnya tahu bagaimana harus bicara.” Ia tersenyum lembut dan menatap mata Chu
Beijie, matanya sangat hitam dan kedalamannya tak dapat diukur. Ia tersenyum
malu sambil berguman, “Apa yang Tuan lihat?”
Chu
Beijie menatapnya lama sampai akhirnya ia menghela napas dan berkata,
“Pingting, kau cantik sekali.”
Pingting
tersentuh dengan kata-katanya. Ia berkata pelan, “Tuan kurus sekali, ini salah
Pingting.”
“Tidak
ada hubungannya dengan Pingting. Memang ini yang ingin kulakukan. Aku mencintai
Pingting karena itu, aku bersedia melakukan apapun untuk Pingting, aku akan
memberikan setiap menit dan detik hanya untuk Pingting.”
Pingting
terdiam sebelum berkata perlahan, “Para pria selalu berambisi, bukankah
seharusnya kau memberikan perhatianmu pada dunia.”
“Dengan
sepenuh hati melakukan sesuatu, tanpa takut dengan kegagalan, itu juga ambisi
yang besar.” Chu Beijie dengan lembut membelai rambutnya, “Ambisiku hanya satu,
menjadikanmu wanita yang paling bahagia di dunia.”
Airmata
Pingting berkumpul di permukaan kedua bola matanya. ia berbisik, “Benarkah Tuan
berpikir seperti itu?”
Chu
Beijie mengangkat dua jarinya mengarah ke atas. Wajahnya serius sambil berkata,
“Aku, Chu Beijie bersumpah pada langit bahwa kata-kata yang barusan kuucapkan,
tidak akan berubah sampai kapanpun.”
Pingting
sangat tersentuh ketika menyaksikannya. Airmatanya mengalir jatuh ke bawah.
“Kalau begitu, apa Tuan bersedia melakukan satu hal untuk Pingting?”
Chu
Beijie menjawab lembut, “Tidak hanya satu, bahkan ribuanpun tidak masalah.
Selama Pingting mengharapkannya, tidak ada yang bisa menghentikan Chu Beijie
untuk memenuhinya.”
Pingting
menatapnya dan memandang pria yang sangat ia cintai itu. Alis mata di wajahnya
yang tampan masih sangat hitam. Hidungnya yang lurus dan bibir tipisnya,
semuanya persis seperti mimpinya.
Setiap
gerakan kecil dari tangannya tidak pernah hilang dari hatinya.
Pria
inilah orang yang sangat dicintainya.
Mungkin
cintanya yang ia miliki dalam hidupnya yang singkat ini jauh lebih dalam
daripada yang bisa dimiliki seseorang dalam tiga kehidupan.
Cintanya
sangat dalam tapi begitu juga penderitaannya. Mereka pikir mereka sudah cukup
sengsara, tapi seperti bulan yang menjadi nyala api, mereka harus merasakannya
lagi.
Ia
bergerak, mengeluarkan sebuah benda dari tas yang berada disampingnya.
“Tuan
pernah meninggalkan pedang ini di kediaman terpencil untuk keselamatan Pingting.”
Pingting memegang pedang itu dengan kedua tangannya dan bertanya dengan
perlahan, “Bersediakan Tuan menggunakan pedang yang sama untuk membereskan
kekacauan dan menyatukan empat negara, agar Pingting bisa mendapatkan tempat
yang tenang untuk hidup?”
Chu
Beijie mengasingkan diri begitu lama, ia tidak tahu sama sekali tetang
peperangan yang telah berlangsung. Ia sangat terkejut. Mengetahui sifat dan
jalan pikiran Pingting, ia tahu Pingting tidak akan melakukannya kecuali itu
pilihan terakhir.
“Apa
Tuan tidak mau melakukannya?” alismata Pingting berkerut ketika ia bertanya
lagi.
“Chu
Beijie telah menghabiskan seluruh hidupnya dalam dunia militer. Satu hal yang
tidak pernah ia takuti adalah pergi ke medan perang untuk membunuh musuhnya.
Apalagi kalau ini permintaan Pingting, tidak mungkin aku menolaknya.”
Ia
ragu sejenak, tapi kemudian ia tersenyum, “Memberikan istrinya sebuah tempat
damai dan nyaman adalah salah satu tugas yang harus dilakukan setiap pria.”
Ia
segera mengambil pedangnya, sensasi akrab menjalar melalui telapak tangannya.
Hari itu ia membuang pedangnya di ruangan berkabung. Hari ini, pedangnya
kembali ke pemiliknya sekali lagi.
Berat
dan dingin, ia masih ingat setiap ukiran yang terpahat. Pedang itu pernah
memimpin ratusan ribu parjurit dan membunuh musuh tanpa ragu.
Begitu
dikeluarkan dari sarungnya, maka ia akan menguncang dunia.
Inilah
pedang Panglima Zhen Beiwang.
Di
mata Chu Beijie, sinar harapan mulai berkelip.
Pedangnya
berada di tangannya dan wanita yang dicintainya telah kembali.
Ambisinya
mulai tumbuh.
Hutan
belantara yang luas telah memberinya keajaiban, dan ia harus kembali ke dunia
dengan keajaiban lain.
Ia
akan menggunakan pedang ini untuk menaklukan dunia, untuk wanita yang paling
dicintainya sepanjgan hidupnya.
Meskipun
istana Dong Lin telah terbakar habis, selama keluarga kerajaan masih hidup,
sebuah negara belum sepenuhnya jatuh.
--
Pertempura
He Xia sedang berlangsung, kudanya terus berderap tanpa henti, bergerak kesana
kemari di tengah petarungan. Ia selalu menghadapi musuh-musuhnya dengan sopan
dan diatur dengan rapi, tanpa keraguan, tapi ketika ia berpikir untuk
menyingkirkan Yaotian, ia sangat bimbang.
Beberapa
hari setelah kepulangannya ke ibukota Yun Chang, Fei Zhaoxing menyinggung
masalah ini berkali-kali, tapi He Xia selalu mengelak dan merasa kesal. “Tidak
perlu tindakan segera untuk saat ini. Tunggu sampai kita menyelesaikan urusan
dengan keluarga kerajaan Dong Lin dan Gui Li.”
Fei
Zhaoxing mengulangi nasihatnya, “Suami Ratu, ini memang masalah kecil dan tidak
penting, tapi kalau tidak segera dibereskan, aku khawatir nantinya akan menjadi
penderitaan terbesar.”
He
Xia tidak mungkin tidak mengetahui hal itu.
Pasukan
yang ikut bersamanya semuanya berada di bawah kendalinya, kebanyakan dari
mereka memang prajurit Yun Chang dan sebagian merupakan tahanan perang dan sebagian
lagi anggota yang baru bergabung. Kalau berita Yaotian telah ditahan di
istananya sendiri sampai tersebar atau Yaotian mencoba mengambil alih
wewenangnya atas militer, maka situasi kemenangan saat ini akan benar-benar
berubah.
Apakah
ia harus menyakiti istri dan anaknya sendiri?
He
Xia sangat menderita untuk masalah ini. Pikirannya sedang tidak berada di
pertempuran, bau darah dan asap sama sekali tidak tercium di hidungnya. Bahkan
ketika ia meminum arak yang bagus, ia menjadi lebih gelisah dan tidak sabaran.
Melihat ekspresinya begitu kacau, para pejabat di pertemuan menjadi lebih
waspada karena takut menyinggungnya, dan khawatir mereka akan bernasib sama
seperti keluarga Gui.
Syukurlah
beberapa hari kemudian datang sebuah laporan.
“Kami
telah menemukan tempat persembunyian Ratu Dong Lin, pasukan kami telah
mengepung mereka.”
“Bagus.”
He Xia tersenyum, “Ratu Dong Lin telah melarikan diri dari kita, selama
beberapa hari. Kau tidak boleh membiarkannya lolos lagi. Kepung mereka dengan
rapat tapi jangan menyerangnya. Aku sendiri yang akan menghadapi mereka.”
Setelah
menyuruh pergi si pengirim pesan, He Xia segera mengumpulkan pasukannya dan
berangkat. Ia sangat memperhatikan setiap hal kecil, ia tahu kalau para Pejabat
Yun Chang semuanya takut mati. Mereka tidak sepenuhnya tunduk. Ia harus
berhati-hati, karena itu ia memerintahkan Fei Zhaoxing untuk tinggal di ibukota
dan mengawasi bersama Dongzhuo.
Ia
tidak menyangka kalau pasukannya hanya bisa menempuh perjalanan sepanjang dua
ratus kilo selama tiga hari. Fei Zhaoxing berkuda menyusul mereka dengan cepat,
mencegat He Xia dan pasukannya.
“Dimana
Suami Ratu?”
He
Xia menarik tali kendali kudanya dan berbalik menoleh pada Fei Zhaoxing. Wajah
Fei Zhaxing dipenuhi debu dan ia hanya ditemani oleh beberapa penjaga. He Xia
segera waspada dan berkata dengan kencang, “Fei Zhaoxing, kemarilah.”
Kerumunan
terbelah sampai ke tengah membawa Fei Zhaoxing ke tempat yang tepat. Begitu He
Xia turun dari kudanya ia segera bertanya, “Apa yang terjadi di ibukota?”
Masalah
yang dibawanya sangat penting, ia mengeluarkan surat dari balik lengan bajunya
tanpa menyekan debu di wajahnya. Ia menatap He Xia dengan tenang ketika
menyerahkan suratnya.
He
Xia mengambil suratnya, membukanya dan membaca dua baris pertamanya.
Ekspresinya menjadi berubah, dan ketika ia membaca lanjutannya, alis matanya
berkerut dalam. Wajahnya sedingin es ketika ia bertanya dengan suara pelan,
“Ini sebuah surat perintah. Ini… tulisan Tuan Putri sendiri?”
Matanya
sangat dingin, surat itu sangat mengejutkannya.
“Benar,
aku sudah meminta ahlinya untuk memeriksa tulisannya. Bukan tiruan dan tidak
diragukan berasal dari Tuan Putri sendiri.”
He
Xia berguman, “Bukankah para pelayan Tuan Putri tidak boleh membiarkan Tuan
Putri sendirian? Dengan begitu banyak para penjaga, bagaimana seorang pelayan
bisa keluar? Bersama sebuah surat?”
“Suami
Ratu, tenanglah.” Fei Zhaoxing menjawab dengan tenang, “Masalah ini sudah
diselidiki, seorang penjaga berhasil di suap dan sudah tertangkap. Mungkin
karena memiliki perasaan tersembunyi, dan ia belum menyebarkan rahasia apapun.
Kami masih terus memeriksanya.”
“Periksa
dia dengan hati-hati.” Mata He Xia seperti membeku, tapi wajahnya sepertinya
sudah mulai normal, “Apa si pelayan sudah diperiksa? Apa yang ia katakan?”
Fei
Zhaoxing menjawab, “Si pelayan sangat ketakutan ia mengakui semuanya tanpa
disiksa. Tuan Putri menulis surat ini dan memberikannya pada pelayan pribadinya
Luyi, Luyi memberikannya padanya dan memerintahkannya untuk memberikan pada
Pejabat Zhang Yin dan memberitahukan Pejabat Zhang Yin untuk memberikan surat
pada Pejabat lainnya.”
“Pejabat
lainnya?” He Xia tersenyum mengejek, “Pejabat mana yang sudah tidak ingin
hidup, aku ingin tahu. Dimana daftarnya?”
Fei
Zhaoxing membungkuk lebih dalam, “Pejabat Zhang Yin pasti memiliki daftarnya.
Sebelum meninggalkan ibukota, aku sudah mengirim beberapa orang untuk menangkap
Zhang Yin dan menyiksanya. Hal ini bukan masalah kecil lagi, tidak boleh sampai
tersebar. Karena itu Dongzhuo tetap di ibukota dan aku menyusul anda.”
Ia
bekerja cepat, melakukan tindakan dengan tepat dan menyelesaikan masalah. He
Xia menatapnya dengan penuh apresiasi.
Laporan
Fei Zhaoxing sudah selesai. Ia ragu sejenak sebelum melanjutkan dengan suara
pelan, “Suami Ratu, tolong segera kembali ke ibukota secepatnya. Saat ini Ratu
Dong Lin tidak sepenting ibukota Yun Chang. Tuan Putri telah bergerak, kalau
mereka sampai mengetahui kebenarannya, situasi akan sulit diatasi. Para Pejabat
itu ketakutan, mereka tidak perlu dikhawatirkan. Tapi Tuan Putri masih pemegang
kekuasaan tertinggi di Yun Chang, selain Suami Ratu tidak ada yang berani
menghadapi Tuan Putri.”
“Tuan
Putri sendiri yang menulis surat ini, memerintahkan para Pejabat untuk secara
diam-diam bersiap untuk mengambil alih tampuk kepemimpinan militer dari
tanganku…” He Xia menatap surat di tangannya, kemarahannya memuncak. Tangannya
mengepal erat-erat, menghancurkan surat yang dipegangnya. Ia mengatupkan
mulutnya dan diam lama sekali. Lalu perlahan wajahnya kembali berwarna, “Apa
Tuan Putri sudah tahu hal ini?”
“Seharusnya
belum, si pelayan tertangkap dalam perjalanan menemui Pejabat Zhang Yin. Karena
Tuan Putri berada di dalam istana, dan dijaga oleh banyak pengawal, tidak ada
yang bisa mengabarkannya pada Tuan Putri atau pelayan istana lainnya.”
He
Xia mengangguk, “Kau dan aku akan segera kembali ke ibukota. Masalah ini tidak
boleh ditunda, kita harus segera menghancurkan sumber masalah.”
Fei
Zhaoxing mengangguk dengan sungguh-sungguh, “Benar.”
Tanpa
menunda lama, He Xia telah membuat keputusan. Ia segera memilih separuh pasukan
untuk kembali ke ibukota bersamanya, dan membiarkan sisanya melanjutkan
perjalanan dipimpin oleh Jendral yang dipilih sendiri olehnya. Ia
memerintahkan, “Begitu kau tiba di Dong Lin, sampaikan perintahku. Segera serang
mereka dan tangkap Ratu Dong Lin hidup-hidup sebagai lambang kemenangan,
sisanya jangan dibiarkan hidup.”
Begitu
ia selesai memberitak perintahnya, He Xia, Fei Zhaoxing dan para prajurit
memacu kuda mereka menuju ibukota.
Mereka
sama sekali tidak beristirahat, melakukan perjalanan siang dan malam. Begitu
mereka melewati gerbang kota, Fei Zhaxing bertanya dengan suara pelan, “Suami
Ratu, anda akan ke istana terlebih dahulu?”
He
Xia menggelengkan kepalanya, “Kita akan kediamanku dahulu.”
Begitu
mereka tiba di kediaman Suami Ratu, He Xia menanyakan situasi terbaru. Zhang
Yin tidak tahan dengan siksaan akhirnya menyerahkan daftar rahasia para Pejabat
yang harus ia hubungi.
He
Xia menerima daftar itu, membukanya dan memanggil seorang Jendral yang ia percaya.
Ia memerintahkan, “Segera buatkan pengumuman dari militer. Katakan kalau para
pembunuh dari Gui Li telah menyelinap masuk ke ibukota, sehingga akan
diberlakukan jam malam, semua orang tidak boleh berada di jalan.”
Setelah
itu, ia berkata pada Dongzhuo, “Kebanyakan para Pejabat dari daftar ini berada
di ibukota. Tidak perlu khawatir untuk saat ini. Gunakan alasan jam malam untuk
mengawal mereka ke rumah mereka. Hati-hati memilih satu-persatu jangan sampai
menumpahkan kacang.”
Dongzhuo
mengerti petunjuk He Xia, ia segera meninggalkan ruangan untuk membuat
persiapan.
“Aku
ingin kau melakukan satu hal, segera.” He Xia berbalik menoleh pada Fei
Zhaoxing, “Jendral penyokongku tidak terlalu setia padaku. Kalau Yun Chang
berubah, banyak yang akan mendukungku kecuali dia, Jendral Shang Lu yang
bertanggung jawab atas sarana perjalanan militer. Keluarga Shang Lu telah
dijaga oleh kerajaan dari masa ke masa. Kesetiaannya sangat membuta dan kolot.
Kalau aku menaiki takhta, ia akan menjadi orang pertama yang menentangku dari
pihak militer.”
Setelah
mendengar penjelasan yang cukup panjang, Fei Zhaoxing mengerti apa yang
diinginkan He Xia, “Katakan perintah anda, Suami Ratu.”
“Shang
Lu saat ini di tempatkan di Bei Mo. Aku akan menulis perintah militer, memintanya
untuk menyerang Gui Li. Cari kesempatan agar dia bertarung dengan Jendral Le
Zhen. Kau sendiri yang akan membawa surat perintah dan pergi ke Bei Mo lalu
membacakannya. Pimpin Resimen Weibei untuk menghancurkan pasukan Le Zhen
bersama Shang Lu. Dalam perang kali ini, Shang Lu akan menjadi wakil dan kau
pemimpin utama. Kau tahu harus berbuat apa?”
Fei
Zhaoxing pikirannya telah terlatih, ia sangat mengerti maksud He Xia, lalu ia
mengangguk, “Jendral akan meninggal dalam pertempuran dan namanya akan dikenang
selama sepuluh tahun. Begitu dua pasukan bertabrakan, arah senjata tidak bisa
diperkirakan. Sebagai Jendral Yun Chang, kematian Shang Lu adalah hal yang
wajar. Tenanglah, Suami Ratu bisa mempercayakan hal ini padaku.”
He
Xia dengan cepat membuat dua perintah militer. Yang satu akan diserahkan pada
Shang Lu dan satu lagi untuk memberikan wewenang pada Fei Zhaoxing sebagai
pemimpin utama dalam pertempuran melawan Gui Li. He Xia meletakan kuasnya dan
tersenyum pahit. “Shang Lu harus segera dibereskan dan Le Zhen juga tidak boleh
dilewatkan. Kekuatan militer kita cukup kuat untuk menghadapi mereka, tapi aku
khawatir, hubungan masa lalumu dengan Le Zhen, kalian pernah majikan dan
pelayan, aku takut nantinya hal ini akan membuat keraguan di hatimu.”
Fei
Zhaoxing dengan hormat menerima surat perintah militer itu. Ia menjawab, “Aku
mempertaruhkan nyawaku untuk Keluarga Le tapi aku berakhir dengan nasib harus
memasak anjing mati demi makanan. Apa pentingnya bekas majikan dan pelayan?
Keahlian Le Zhen sedang-sedang saja, ia menjadi Panglima atas prestasi
leluhurnya. Aku pasti menghancurkannya sampai habis.” Sambil menyimpan surat
perintah di sakunya, ia berkata dengan suara lebih pelan, “Suami Ratu, istana
kerajaan….”
“Tentang
istana, aku akan mengurusnya. Kau pergilah.”
Begitu
Fei Zhaoxing pergi, hiasan-hiasan di ruangan terdiam.
He
Xia berdiri sendirian lama sekali, ia mengeluarkan surat Tuan Putri dari balik
bajunya. Beberapa hari lalu ia meremas surat itu dengan perasaan sangat kesal.
Surat itu menjadi sangat kusut. Ia meletakan suratnya di atas meja, dan
perlahan merapikannya sambil membacanya lagi. Ekspresi wajahnya setenang air,
tapi matanya memegang sinar tajam. Dibawah kerlipan kecil cahaya matanya, entah
berapa banyak pemikiran rumit yang bersembunyi.
Begitu
Dongzhuo menyelesaikan persiapannya, ia segera kembali. Kakinya baru melangkah
sebelah melewati pintu ketika melihat punggung He Xia. Karena terkejut, ia
tidak berani bergerak, sebelah kakinya berada di luar pintu dan sebelah lagi di
dalam.
Punggung
He Xia terlihat sangat gelisah dan tegang. Tubuhnya seperti seberat gunung
sehingga meskipun ia mengumpulkan seluruh tenaganya di satu titik tetap sulit
untuk membuatnya bergerak walau sedikit.
“Apa
itu kau Dongzhuo? Masuklah.”
Dongzhuo
yang membeku melangkah masuk setelah mendengar suara He Xia. Ia perlahan
berjalan menuju meja sampai tiba disamping He Xia, ia menundukan kepala dan
terkejut melihat surat berisi tulisan Putri Yaotian. Ia tahu apa yang tertulis
di dalamnya dan hatinya bergetar. Ia berkata pelan, “Apa yang akan Tuan lakukan
pada Tuan Putri?”
“Kalian
semua, bertanya untuk hal yang sulit.” Senyum He Xia terlihat getir. Ia
mengerutkan bibirnya membuatnya terlihat lebih dingin dari biasanya. “Kalau
surat ini berhasil keluar, sampai ke tangan beberapa Pejabat sementara aku
tidak berada ibukota, pada saat rencana mereka berhasil dan Tuan Putri
diselamatkan, semangat juang pasukan akan terguncang.”
“Tuan…”
He
Xia mengabaikan perkataan Dongzhuo ia berkata lagi, “Kalau Putri muncul kembali
di hadapan orang-orang, ia akan memiliki nilai yang lebih baik. Tak peduli
berapa banyak jasaku selama peperangan, tak peduli seberapa banyak aku menang, tak
peduli berapa banyak kemenangan yang begitu sulit, para prajurit Yun Chang akan
segera meninggalkanku karena lawanku adalah satu-satunya penguasa Yun Chang.
Prajurit dan rakyat tidak tahu bagaimana memilih orang berbakat. Mereka hanya
tahu sumpah bodoh dan kesetiaan pada keluarga kerajaan.”
Kata-kata
He Xia seperti keluar dari lapisan es. Dongzhuo mendengarkan dengan tubuh
gemetar. Surat perintah yang mengemparkan akan segera dibuat isinya tentang
penghianatan Suami Ratu karena berniat membentuk negara baru.
Susana
di dalam ruangan menjadi kaku. Bahkan anginpun tidak bisa menghancurkan suasana
antara hidup dan mati ini.
“Katakan,
menurutmu Tuan Putri benar-benar mencintaiku?” He Xia berbalik dan berjalan ke
sisi dinding yang lain.
Dongzhuo
berpikir masak-masak sebelum berbicara dengan penuh keberanian, “Tuan Muda,
Tuan Putri menulis seperti itu karena ia ingin menyelamatkan kerajaannya.
Situasi memaksanya, tapi hatinya….jauh di dalam hatinya…”
He
Xia menatap Dongzhuo. Perlahan ia mulai tersenyum, “Dalam hatinya, ia tidak
benar-benar ingin membunuhku, benar?”
Dongzhuo
melihat senyum He Xia dan ia merasa ngeri. Awalnya ia ingin mengangguk tapi tak
bisa melakukannya dan akhirnya ia hanya bisa menghela napas. Ia dengan enggan
mengatakan yang sebenarnya, “Tuan benar, kalau Tuan Putri benar-benar
mendapatkan wewenangnya kembali, meskipun ia tidak ingin tapi para Pejabat
pasti menekannya untuk menghukum mati Tuan.”
He
Xa sangat khawatir tentang hal ini. Mendengar kebenaran dari mulut Dongzhuo,
hatinya terasa ditusuk jarum sampai sakitnya luar biasa. Kata-katanya sudah
diucapkan, Dongzhuo tidak peduli lagi akan akibatnya. Ia tidak bisa menebak
sama sekali bagaimana reaksi He Xia, maka ia hanya menunduk tidak berani
menatap Tuan Mudanya.
Setelah
lama berselang, ia mendengar He Xia menghela napas dengan pelan.
He
Xia bekata, “Aku akan menyiapkan hadiah, lalu pergi ke istana untuk bertemu
Tuan Putri.”
--
Di
Bei Mo, sekitar delapam puluh mil sebelah kanan kota Kanbu, ada sebuah tempat yang
dikenal dengan nama kota kuno Jiangling.
Sebuah
kota lama yang telah diabaikan, hampir seluruh tembok kotanya hancur.
Pasir
kuning memenuhi pemandangan.
“Jendral,
silakan airnya.”
Si
perajurit pembawa air, tubuhnya berbalut pasir kuning. Kebutuhan hidup di kota
Jiangling ini sangat tidak bagus. Air dan sumber pangan sangat sulit. Tapi ada
lorong rahasia yang menghubungkan seluruh kota, sehingga jika mereka ditemukan
prajurit Yun Chang, mereka masih bisa melarikan diri dengan selamat.
Ruo
Han mengambil gayung yang berisi air dan meminumnya sedikit. Ia menyerahkannya
pada prajurit disebelahnya, “Minumlah sedikit.”
Kekuatan
militer Bei Mo telah dikalahkan He Xia di pertempuran Zhuoqing. Ruo Han
bersusah payah melarikan diri dengan selamat, ia mengumpulkan prejurit yang
tersisa dan melawan He Xia lagi, sekitar dua atau tiga kali, tapi lawannya
terlalu kuat sehingga setiap perlawanan selalu menghasilkan kekalahan.
Perbedaan
kekuatan antara mereka terlalu jauh, jumlah prajurit, kemampuan pemimpinya dan
kekuatan militernya. Semuanya kalah jauh di bandingkan lawan mereka. Melindungi
nyawanya sendiri dan juga para prajuti yang tersisa sudah sangat sulit.
Meskipun
begitu, setiap orang yang berada disana sama sekali tidak berpikir untuk
menyerah pada He Xia.
Para
prajurit yang berada di belakang Ruo Han menatap langit yang kemerahan.
Seseorang bertanya, “Jendral, menurutmu berapa banyak yang berhasil dibawa
Jendral Senrong?”
“Sangat
sedikit,” Ruo Han menjawab, hatinya sedikti sakit.
Ia
memikirkan atasannya yang dulu, Panglima hebat Bei Mo, Ze Yin.
Sejak
berita Panglima Ze Yin menantang He Xia secara terbuka, jumlah rakyat yang
ingin bergabung jadi meningkat.
Tidak
ada yang tahu bagaimana kisah itu dimulai, tapi setiap orang tahu kalau itu
adalah kenyataannya.
He
Xia bisa berdarah dan suatu hari pasti akan dikalahkan. Begitulah yang
ditanamkan Panglima Ze Yin.
Selama
mimpi tidak dilupakan, semangat juang pasti tetap ada. Meskipun diambang
kematian, sungai kecil akan selalu mengalir tidak pernah menghentikan
perjalanannya.
Kali
ini, Senrong pasti akan membawa banyak anak muda yang bersemangat.
“Jendral,
Jendral Senrong sudah kembali!” si prajurit penjaga melambai dengan semangat.
Ruo
Han segera berdiri, menatap pada kejauhan. Di ujung sana, ia melihat beberapa
kuda yang sedang berlari cepat, mereka berpacu lurus mengarah ke tempatnya.
“Apa
kau yakin?”
“Benar,
apakah Jendral Senrong baik-baik saja.” Si penjaga berkata dengan ragu, “Aneh,
mengapa kali ini sedikit sekali?”
Ruo
Han juga mencurigai hal itu.
Sejak
peristiwa Panglima Ze Yin jumlah orang yang ingin bergabung meningkat hari demi
hari, tapi mengapa kali ini hanya membawa beberapa orang? Apakah ada sebuah
masalah?
Kuda-kuda
itu berlari dengan kecepatan penuh, dan akhirnya tiba di tempat mereka tak lama
kemudian. Senrong melambaikan tangan pada prajurit penjaga, dan mereka segera
membukakan pintu untuknya.
Ruo
Han segera menuju pintu gerbang untuk menemui Senrong yang baru saja tiba. Ia
bertanya, “Apa yang terjadi? Apa hanya itu prajurit baru yang berhasil kau bawa?”
Senrong
menerima air yang dibawakan oleh bawahannya. Ia tidak peduli dengan tubuhnya
yang penuh debu, ia mendongak dan menegak air dari gayungnya. “Banyak sekali
yang bergabung, tapi aku tidak membawa mereka.”
“Mengapa?”
“Mudah
sekali membuat tiga musuh, tapi sungguh sulit untuk mendapatkan seorang
Jendral. Jadi…” Senrong terlihat sangat bahagia. Ekspresi kegembiraan di
wajahnya tidak dapat dikendalikannya, dan ia menyerigai lebar.
“Jangan
katakan kalau kau berhasil menemukan seorang Jendral dalam perjalanan kali
ini?”
“Bukan
seorang Jendral biasa, melainkan seorang dewa! Seseorang Jendral yang pasti
akan mengalahkan He Xia.”
Ruo
Han mendengarkan kata-katanya yang agak kacau dan alis matanya berkerut.
He
Xia adalah seorang Jendral yang diakui dunia dan ia pantas untuk dibilang
hebat. Ruo Han bertanya-tanya siapa yang mampu meletakan dirinya setara dengan
He Xia bahkan mengalahkannya.
Para
prajurit yang berada disini semakin kurus dan bahan makanan semakin sulit,
membuat semangat mereka menurun. Sen Ron selalu berhati-hati. Bagaimana mungkin
ia tidak tahu? Kalau ia tidak dapat menarik kata-kata yang telah diucapkannya,
atau semangat para prajurit akan benar-benar hilang. Ia berbisik, “Sen Ron,
berhentilah berbicara omong kosong. Kau sudah pernah melawan He Xia. Kau tahu
benar kekuatannya. Bagaimana mungkin mendapatkan seorang Jendral yang bisa
mengalahkan He Xia? kecuali…” tiba-tiba Ruo Han berhenti bicara dan menghela.
Ia
memikirkan Bai Pingting.
Dulu,
kepandaiannya dalam pertempuran Kanbu masih terukir jelas di pikirannya,
seperti terpahat oleh pisau.
Selama
pertempuran Zhuoqing, strategi He Xia sangat kejam dan sulit ditebak. Hanya Bai
Pingting yang berhasil memukul mundur pasukan Chu Beijie ratusan mil dengan
patuh, yang bisa menyainginya.
Sayangnya,
wanita itu telah meninggal.
Ruo
Han sering sekal berpikir, seandainya Bai Pingtinglah yang menjadi penasihat
perang mereka selama pertempuran Zhuoqing.
“Berhentilah
berkeluh kesah Jendral, kemarilah, aku bawa sesuatu yang ingin kutunjukan.”
Senrong tertawa dan maju mendekat. Ia mengambil bungkusan dari punggungnya. Lalu
mendorong Ruo Han ke sampingnya, ketika membuka bungkusannya, ia berkata, “Jendral
hati-hati, barang ini sangat menyilaukan, lindungi mata anda.”
Ruo
Han melihat semangatnya. Ia merasa curiga tapi ia bersabar menunggunya sampai
bungkusan itu terbuka. Pertama melihatnya, sebuah kain berwarna hitam atau biru
gelap dan beberapa bercak merah, seperti noda keringat dan darah. Tapi kemudian
ia melihat lebih jelas lagi, dan pipinya seperti memerah secara ajaib. Ia hanya
menatap bungkusan yang terbuka dan tidak bergerak.
Senrong
telah menunggu ekspresinya, ia berkata dengan gembira, “Bagaimana menurutmu?”
Ruo
Han membelakkan matanya, menatap kain itu. Yang lain mungkin tidak tahu, tapi
ia tahu persis. Kain kotor itu, adalah jubah para Jendral Bei Mo yang diberikan
pada Bai Pingting sebagai rasa terima kasih setelah pertempuran Kanbu.
Jubah
bernoda darah mereka sangat memiliki nilai bagi mereka. Mereka hanya akan
memberikan jubah mereka untuk sebuah penghormatan yang luar biasa. Bungkusan
itu berisi jubah milik Ze Yin, Senrong dan juga Ruo Han sendiri…”
Setelah
beberapa lama Ruo Han akhirnya bergerak, tubuhnya bergetar karena bersemangat.
“Ini…ini…. Senrong.” Ia mencengkram Senrong. Ia sangat terkejut, “Maksudmu,
katakan kalau, Nona Bai, dia …. Dia tidak mati?”
Senrong
sangat senang. Awalnya ia ingin mengoda Ruo Han tapi melihatnya begitu
bersemangat Senrong harus membatalkan niatnya itu. Ia mengangguk dan menjawab
dengan kencang, “Benar sekali, Nona Bai tidak mati, ia masih hidup.”
“Hidup…”
mata Ruo Han membelak lebar, “Kalau begitu dimana dia?” sejak diangkat menjadi
Panglima ia menjadi lebih perhatian pada hal-hal kecil. Ia berbalik dan
tatapannya jatuh pada orang-orang yang ikut kembali bersama Senrong.
Satu
sosok terlhat lebih kecil. Ia bahkan tidak berpaling ketika Ruo Han menatapnya.
Orang itu mengangkat tangannya dan membuka topi besarnya untuk meperlihatkan
wajahnya, “Jendral Ruo Han, lama tak bertemu.”
Senyumnya
sangat indah, membuat sekitarnya lebih berwarna.
Saat
itu, siapa lagi yang bisa membuat susasan menjadi begitu hidup selain Bai
Pingting?
Ruo
Han tetap diam di tempatnya, memperhatikan Pingting lama sekali, sekitar
bakaran satu dupa sampai akhirnya ia menggerakkan kakinya mendekati Pingting.
Ia perlahan mempersipakan dirinya, perlahan pula ia menegakkan punggungnya,
seakan tidak percaya kalau Pingting berada di depan matanya. sampai akhirnya ia
mengehela napas panjang dengan perasaan luar biasa, dan berkata, “Ruo Han
akhirnya mengerti apa yang disebut hadiah dari langit.”
Pingting
tertawa ringan, “Jendral, jangan terlalu cepat berterima kasih pada langit.
Kali ini Pingting datang untuk melawan He Xia, dan untuk itu Pingting hendak
menagih hutang lama.”
Ruo
Han melihat senyum Pingting yang lebar, seperti angin musim semi. Kepercayaan
diri Ruo Han meningkat. Dan ia tersenyum, “Ruo Han bersedia memberikan nyawanya
untuk membalas budi Nona atas pertempuran di Kanbu. Ahh, meskipun anda tidak
memiliki jubah-jubah ini ataupun tidak membantu di Kanbu, selama Nona bersedia
melawan He Xia, tak ada yang lain lagi yang bisa kutawarkan pada Nona.”
“Itu
bagus sekali….” Sinar di bola mata Pingting terlihat sambil berkata dengan agak
kencang, “Pingting dengan lancang berharap Jendral memenuhi permintaan
Pingting.”
“Katakan
saja, Nona.”
“Pingting
membawa seseorang, Pingting berharap Jendral dan pasukan bersedia setia padanya
dan mendengarkan kata-katanya. Tak peduli siapa orang itu, Jendral harus
menerimanya dan mengakuinya sebagai penasihat utama. Apa Jendral setuju?”
Pingting
lalu mengatupkan bibirnya memikirkan sesuatu. Tak lama kemudian ia tersenyum
lagi dan menghelan napas ringan, “Situasi perperangan sangat mendesak dan
prajurit harus tahu bisa bertindak tepat. Aku ingin Jendral mengerti sebelum
setuju. Baiklah, aku akan memberitahu Jendral terlebih daluhu siapa orang itu
sebelum memutuskan setuju atau tidak.” Sinar di matanya berkelip ketika ia
dengan lembut berkata, “Tuan.”
Mendengarnya,
kepala Ruo Han seperti di hantam petir, tiba-tiba kata-katanya seperti di luar
kendali.
Tak
mungkin, benarkah…
Tatapannya
beralih.
Seorang
pria tinggi disamping Pingting membuka tudung kepalanya, memperlihatkan wajah
arogan. Matanya seperti mata harimau, penuh semangat dan ia tersenyum ketika
menatap Ruo Han. “Serangan tengah malam di barak waktu itu, murni karena niatku
mencari istriku. Kalau Chu Beijie telah menyakiti Jendral, mohon dimaafkan.”
Sosok
tinggi itu, kokoh seperti gunung, adalah Panglima Zhen Beiwang yang telah
menghilang begitu lama.
Rasa
terkejut menghantamnya, setiap kejutan menghantamnya lebih keras dari yang
sebelumnya. Ruo Han telah banyak pengalaman tapi saat itu tetap saja ia sangat
terkejut. Ia menatap Chu Beijie lama sekali.
Dua
Jendral hebat dan terkenal selain He Xia, masih hidup.
Dan
tetap terlihat hebat dan sangat percaya diri.
“Apa
Jendral bersedia mengesampingkan kebencian antara Dong Lin dan Bei Mo, serta
mengikuti Tuanku untuk melawan He Xia ?” suara Pingting terdengar jauh, begema
dengan gaung yang lembut.
Ruo
Han menatap wajah Chu Beijie dalam-dalam. Orang ini pernah memimpin pasukan dan
hampir menghancurkan Bei Mo. Ia juga orang yang sama yang menyelinap ke barak
dan mempermainkan dirinya sampai mereka memandunya ke tempat tinggal Panglima
Ze Yin.
Tapi
orang ini memang satu-satunya yang bisa mengimbangi He Xia saat ini.
“Jendral?”
Senrong muncul di belakangnya tanpa diketahuinya. Ia menepuk ringan.
Ruo
Han terkejut, tapi itu membuatnya kembali pada kenyataan. Pinting dan para
Jendral yang lain sedang menatapnya. Ia menegadah dan melihat para prajurit
yang telah mengikutinya dari seluruh pelosok negri, sedang menjulurkan kepala
mereka untuk melihat Chu Beijie yang terkenal itu.
Semua
orang menahan napas mereka, menunggu jawabannya.
Ruo
Han berkata kencang, “Para prajurit, kalian sudah mendengarnya. Orang ini
Panglima Zhen Beiwang, Chu Beijie yang hampir menghancurkan negara kita Bei Mo.
Hari ini, ia berdiri di antara kita, berharap, kita mau mengikutinya untuk
melawan He Xia. Katakan, apa aku harus menolaknya?”
Sangat
sunyi, bahkan suara batukpun tidak terdengar.
Ruo
Han bertanya lagi, tapi lagi-lagi hanya keheningan yang terdengar.
“Baiklah…”
Ruo Han menatap berkeliling, “Aku mengerti.” Lalu ia menatap Chu Beijie dan
berkata tegas, “Istana Bei Mo telah dihancurkan oleh He Xia, dan wilayah
perbatasan Bei Mo sedang diinjak-injak prajurit Yun Chang. Sungguh bodoh kalau
terus membenci Dong Lin saat ini. Siapapun yang bisa mengalahkan He Xia dan
menyelamatkan rakyat di tempat ini, aku akan mengakuinya sebagai pemimpin dan
mengikutinya ke medan perang.”
Chu
Beijie tersenyum kecil, ia menyentakan tangannya sebelum mendengar gema suara
orang banyak di telingannya.
Di
bawah sinar matahari yang panas, pancaran sinar dari pedang Semangat Langit
menyebar ke seluruh arah. Pedang Panglima Zhen Beiwang telah di keluarkan.
“Aku
akan mengalahkan He Xia dan menyelamatkan rakyat di tempat ini. Para prajurit,
siapa yang bersedia mengikutiku?”
Semua
orang mendengarkan suaranya yang dalam, dan penuh kekuatan.
Sekitarnya
menjadi lebih sunyi dari sebelumnya.
“Siapa
yang bersedia mengikutiku, Chu Beijie?” Chu Beijie bertanya dengan lebih
kencang.
Pingting
perlahan mengangkat kepalanya, ia menatap berkeliling ke wajah-wajah penuh
debu.
“Aku.”
Sebuah suara lemah terdengar dari kerumunan.
“Aku.”
Jawab seorang lagi.
“Aku!”
Seseorang berteriak.
“Aku,
aku bersedia!”
“Aku!”
“Aku,
aku juga!”
“Aku!”
“Aku!”
Suara
gema seperti gemuruh yang meledak menjadi ombak auman.
Kesediaan
untuk mengikuti Panglima Zhen Beiwang.
Mengikuti
musuh lama Bei Mo, mengikuti orang ini menghancurkan keputusasaan dari muka
bumi, mengikuti Jendral terkenal ini yang mampu mengalahkan He Xia.
Raja
mereka sudah meninggal, dan istana telah hancur. Hati mereka diinjak-injak dan
orang tua mereka disiksa oleh pasukan Yun Chang.
Yang
mereka butuhkan adalah semangat juang, keberanian untuk tidak pernah menyerah,
tidak takut darah mengalir di tanah kuning itu, pedang berkarat dan kuda tua.
“Panglima
Zhen Beiwang!”
“Panglima
Zhen Beiwang! Kalahkan He Xia!”
“Kalahkan
He Xia! Kalahkan He Xia! Usir jauh prajurit Yun Chang…”
Kota
kuno Jiangling menjadi bergetar.
Setiap
wajah tertutup debu, tanah, darah dan luka, tapi mereka bersemangat, tersenyum
dan berlinang air mata.
Ruo
Han menahan air matanya yang hendak jatuh. Ia meletakan tangannya di atas
pegangan pedangnya yang berada di pinggangnya. Ia maju selangkah dan berkata
lantang, “Aku, Ruo Han, berjanji pada pedangku, mulai hari ini, aku bukan lagi
Jendral Ruo Han dari Bei Mo. Aku Jendral Ruo Han pengikut Panglima Zhen
Beiwang, tolong ingat janji anda Panglima.”
“Aku
akan mengalahkan semua orang yang menyebabkan kematian orang lain, termasuk He
Xia.” Chu Beijie menjawab dengan tenang. Tatapannya beralih pada Pingting dan
matanya menajadi lembut, “Karena aku berjanji pada wanita yang kucintai aku
akan memberikannya tempat yang damai untuk ia hidup.”
Pingting
tidak pernah menyangka Chu Beijie akan menunjukan emosinya di depan kerumunan
orang banyak seperti ini. Meskipun suara tepuk tangan bergemuruh disekitar
mereka, tapi kata-kata lembut Chu Beijie terdengar jelas oleh Ruo Han, Senrong
dan beberapa orang lagi yang berada di dekat mereka. Pingting menjadi merona
dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ia menatap ke bawah dan berusaha
bersikap tenang. Ia berkata, “Semangat juang mereka sedang tumbuh, Tuan harus
mengatakan hal yang penting dengan cepat. Ini pasukan Tuan yang pertama sejak
Tuan kembali. Mungkin nama resmi harus diberikan? Seperti … pasukan Zhen Bei?”
Kata-kata
Pingting ada maksud lain. Kali ini pasukan tiap negara telah dihancurkan oleh
Yun Chang. Prajurit di bawah komando Chu Beijie bukan hanya berasal dari Dong
Lin. Artinya ia tiak bisa menggunakan nama negara atau hati mereka akan
terluka.
Chu
Beijie telah memimpin pasukan bertahun-tahun jadi ia sangat mengerti maksud
Pingting. Ia tertawa sambil mengangguk, “Benar, kita harus memberi nama.”
Chu
Beijie menganggkat pedangnya ke langit dan berkata lantang, “Para prajurit dan
Jendral, tenanglah sebentar. Aku ingin mengatakan sesuatu!’
Hanya
dengan sebuah kata, semua orang segera terdiam. Mereka semua menanti apa yang
akan diucapkan Panglima hebat itu.
“Mulai
hari ini, kita akan menjadi pasukan yang akan melawan He Xia.” Chu Beijie
berkata dengan perlahan, “Pasukan ini tidak akan disebut sebagai Pasukan Zhen
Bei, atau Pasukan Dong Lin. Kita akan dikenal dengan nama Pasukan Ting!”
Pingting
menatap Chu Beijie tidak percaya.
“Beberapa
dari kalian mungkin bertanya, mengapa disebut Pasukan Ting.” Tangan kekar Chu
Beijie menarik sosok lembut Pingting ke dalam rangkulannya. Ia berkata lebih
keras lagi, “Karena wanita yang paling kucintai bernama Bai Pingting. Aku
berjanji padanya akan menghilangkan kekhawatirannya dan menyatukan empat negara
agar ia mendapat tempat yang damai untuk hidup. Aku menantang He Xia karena
ingin melindungi Pingting, melindungi hal yang paling penting dalam hidup Chu
Beijie.”
“Para
prajurit, kalian mengikutiku bukan karena kekuatan, kekayaan, tanah, juga bukan
karena kekuasaan dan ambisi, dan bukan karena perintah. Semua ini juga bukan
untukku Chu Beijie.”
“Lantas
untuk apa kalian mempertaruhkan hidup kalian mengikutiku?”
“Karena
sama denganku.”
“Untuk
melindungi yang paling kalian cintai, menuju arena pertumpahan darah. Menderita
karena luka, dan merelakan nyawa untuk memenuhi harapan.”
“Katakan
apa kalian sama denganku!”
“Katakan
prajurit, apa kalian akan melupakan mengapa kalian dinamakan Pasukan Ting!”
“Katakan,
para prajurit dari pasukan Ting, kalian tidak akan melupakan orang yang kalian
cintai, tidak akan melupakan hal yang paling membahagiakan kalian! Jangan
lupakan untuk apa kalian bertarung!”
“Katakan
dengan suara lantang, apa nama pasukan kita?” Chu Beijie berteriak keras di
dalam kota kuno itu, melewati awan dan langit.
Setelah
diam sejenak tiba-tiba teriak para prajurit terdengar keras.
“Pasukan
Ting!”
“Pasukan
Ting! Pasukan Ting!”
“Pasukan
Ting!”
Seluruh
isi kota Jiangling bergetar karena gemuruh teriakan.
Pingting
masih berada dalam rangkulan Chu Beijie yang hangat, air matanya perlahan
jatuh.
Senrong
berkata dengan kagum, “Panglima Zhen Beiwang, pria yang paling hebat mencintai
kekasihnya.”
“Aku
tidak tahu mengenai mencintai dengan
hebat,” Ruo Han menghela napas, “tapi aku yakin ia seorang Panglima yang
sangat mengerti bagaimana meningkatkan semangat para prajurit.”
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar