Sabtu, 08 Juli 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.60

-- Volume 3 chapter 60 --



Suara deru langkah kuda mengguncang langit keempat negara. Si pememenang bermandikan kejayaan sementara yang kalah terus bertempur dengan menahan luka, yang meninggal anggota tubuhnya tercerai-berai.

Dibawah kemewahan emas, arak bagus, dan para penari yang cantik, kesengsaraan milik mereka yang hidup dalam ketakutan dan persembunyian.

Belum ada kerusakan yang begitu besar karena akibat perang untuk saat ini.

Ada sebuah hutan yang sangat lebat yang bahkan oleh pasukan Yun Changpun tidak berani disentuh. Letaknya dekat padang pasir Bei Mo, hutan itu begitu lebatnya, sehingga sinar mataharipun tidak mampu menembusnya dan luasnya ratusan kilo. Bertahun-tahun, begitu banyak binatang busa dan serangga beracun bersembunyi di balik bayangannya.

Bahkan para penebang pohon dan pemburu hanya berani mendirikan pondok kayu di pinggirannya. Hanya sedikit yang berani mengintip ke dalam hutan misterius yang begitu luas itu.

Siapa yang ingat, kalau disana ada sebuah gunung?

Gunung Dianqing.

Puncaknya sangat curam. Pernah sekali seorang wanita memerintahkan ribuan prajurit berkemah di dekat mata air.

Pemandangan sekitarnya sangat indah dipandang mata. Air gunungnya sangat manis seperti suara nyanyiannya.

Wanita itu sangat terkenal karena kemampuannya bermain kecapi mampu menggerakan dunia, dengan kedua tangannya yang anggun. Ia menyelesaikan bahaya di Kota Kanbu, ia terpaksa memegang kekuatan militer Bei Mo.

Pada saat itu, seseorang memimpin pasukan musuh menuju puncak, siap untuk menghadapi wanita itu, Jendral terkenal di dunia, Panglima Zhen Beiwang.

Dalam keputusasaan, pembunuhan, kebohongan, dan persengkongkolan, semuanya berujung disini, akhirnya, harapan wanita itu terpenuhi.

Begitu juga harapan pria itu.

Tragedi masa lalu sudah berakhir.

Siapa yang bisa menebak, sebelum mereka menuruni bukit, sekali lagi mereka bersumpah pada bulan dan berkuda dengan penuh kebahagiaan. Ketika mereka melewati jembatan yang diputus, mereka berpelukan erat sambil terjatuh ke bawah.

Tidak ada.

Tidak ada yang mengerti.

Mengapa Tuan kemari?

Untukmu.

Tapi yang terpenting adalah, tidak ada yang bisa mengerti. Apakah angin tahu? apakah awan tahu? Cabang pepohonan yang patah dan buah yang terjatuh mendengar dan melihatnya.

Bulan di langit menjadi saksi mereka.

“Ayo bersumpah pada bulan, tidak akan saling berhadapan lagi.”

Kalau pria itu memang begitu mencintainya, teganya ia, berbalik melawannya?

Teganya.

Beri liar di lembah sangat asam, Pingting berbaring di pohon dengan perasaan kesal.

Panglima Zhen Beiwang yang telah menguncang dunia, dan menghilang sepenuhnya, berada disini.

Pria itu telah melupakan segalanya.

Telah melupakan Dong Lin, Bei Mo, Gui Li, Yun Chang, kekuatan militer dan takhta kerajaan. Ia telah melupakan kegembiraan rakyat yang memujanya dan kemewahan keangungan hasil kemenangan yang ia rasakan ketika duduk di atas kudanya.

Ia hanya mengingat apa yang telah hilang darinya.

Kau telah membunuh Pingting, kau membenci wanita itu dan mengirimnya kembali pada He Xia, karena itulah ia meninggal sendirian di dalam salju.

Bunga-bunga yang menguncup dan daun-daun yang mulai berjatuhan, gerimis di musim gugur.

Sikap angkuh dan cita-citanya semuanya telah mengalir mengikuti arus sungai.

Ia tidak peduli dunia menertawakannya, karena telah meninggalkan semua kejayaannya sebagai Jendral yang diakui. Karena ia telah kehilangan Pingting.

Pingting, Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang. Namanya telah tersebar di seluruh dunia dan kisahnya tidak pernah meninggalkan mulut orang-orang.

Tapi hanya dia yang tahu persis wanita seperti apa ia, dan betapa cantiknya ia hingga merobek hatinya.

Kalau ada prajurit maka akan ada kemasyhuran.

Kalau ada kemasyuran akan ada kekacauan.

Ia mendengarkan irama kecapi yang paling indah, lagu yang paling indah.

Prajurit tahu kecurangan,

Prajurit tahu kecurangan….

Suara kecapi sangat enak di dengar seperti sehelai rambut hitam yang terjatuh ke lantai, seperti sungai yang mengalir dari atas gunung, dan seperti burung-burung yang bernyanyi di atas awan.

Usia perlahan melewati tubuhnya tapi pikirannya tak berhenti sejenakpun. Angin yang ia hirup mengingatkannya pada bibir Pingting. Pondoknya yang tersembunyi sempurna dengan jurang yang luar biasa dalam seperti mengubur kenyataan dalam kenangan.

Ia masih ingat sekali pertama kali ia mengetahui kematian Pingting.

Chu Beijie duduk di bawah sebuah pohon. Tidak tahu berapa kali hari berganti, dan entah berapa lama ia akan terus seperti itu. Di lembah pepohona selalu berbuah sepanjang tahun, jadi ia tidak perlu khawatir kelaparan. Biasanya ia memetik satu dan memakannya. Banyak yang terasa manis tapi terkadang ada juga yang berasa asam luar biasa. Sepertinya mirip dengan rasa sakit di hatinya, jadi ia hanya menelannya tanpa peduli.

Angin gunung melewatinya, membawa sedikit udara dingin ke dalam hutan.

Matahari telah menghilang di barat, meninggalkan beberapa awan jingga dibelakangnya. Mereka bersembunyi di balik gunung.

Walaupun hati Chu Beijie sedang hancur, ia memiliki kekuatan fisik yang luar biasa sejak kecil. Ia tidak takut dingin ataupun binatang liar yang datang mencari makan ketika malam hari. Ia duduk menghadap pohon sampai bulan muncul, saat ketika ia sangat memikirkan Pingting. Hatinya yang terbakar sekali lagi merasakan sakit yang luar biasa.

Ia berdiri dan perlahan melangkah menuju pondoknya yang kecil yang ia buat sendiri.

Setiap hari selalu pengulangan yang sama. Bahkan dia sendiri tidak percaya ia telah menghancurkan cita-citanya hanya demi seorang wanita dan bersedia terperangkap di hutan pegunungan.

Chu Beijie menegakkan kepalanya. Pondok kecil yang dibuat dengan berantakan terlihat di depan matanya, berdiri di lembah, kesepian, seperti kehidupan si pemiliknya.

Sekarang ia berpikir, betapa berharganya hari-hari yang telah ia lewatkan bersama Pingting. Ketika mereka memandang bintang bersama, mendengarkan permainan kecapinya, dan mengagumi salju.

Braakk…. Pintu kayu itu tidak memiliki kunci. Terbuka dengan sekali dorongan. Isi dalamnya masih sama seperti biasanya, muncul satu per satu di matanya.

Lalu sebuah warna yang tidak terduga melompat ke sudut mata Chu Beijie.

Chu Beijie berdiri di pintu, perlahan membelakan matanya. Warna indah itu perlahan mulai bersatu dan membuat suatu bentuk di kedalaman matanya, membentuk pancaran kecil. Sepertinya menghancurkan tatapan tajam Tuan Besar Zhen Beiwang, seperti menghapus debu tebal dengan sebuah tiupan.

Lembut, indah, sopan, dan berdiri diam di dalam ruangan, seperti kerlip cahaya yang tak pernah padam. Bersinar kesegala arah, menerangi meja, kursi, dan jendela membuat mereka lebih berwarna.

Hanya ada satu orang, hanya dengan pemandangan punggungnya saja, bisa menyatukan bumi dan langit.

Chu Beijie berdiri dengan goyah, sinar berkelip di matanya. Saat ini ia sedang melihat keajaiban.

Keajaiban yang tak pernah berani ia harapkan dalam hidupnya.

Chu Beijie bersumpah, ini adalah hal terindah yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya.

Pingting, ia pasti Pingting…

Selain Pingting, siapa lagi yang tahu kesedihan dan kegembiraan di lembah, di bawah rute awan? Siapa lagi yang tahu malam yang mereka lewatkan bersama, kegembiraan yang begitu manis sehingga mereka serasa bersatu dengan udara?

Siapa yang akan mengerti kenangan masa lalu di hutan belantara ini?

Pingting, hanya Pingtingnya.

Pingting yang jatuh bersamanya dari rute awan, Pingting yang menangis, tertawa dan memeluknya, disini di lembah penuh buah beri liar.

Langit telah berbelas kasih pada jiwanya.

Pingting, Pingting, kau akhirnya bersedia melihatku.

Chu Beijie segera melangkah maju tapi ia segera berhenti, menahan napasnya.

Jangan, jangan membuatnya takut.

Kalau ia takut, ia mungkin akan menjadi asap, dan berubah menjadi kabut lalu menghilang bersama angin.

Tuan Besar Zhen Beiwang yang dulu sangat terkenal saat ini diam berdiri kaku, merasa tidak berdaya. Ia memperhatikan wanita yang dicintainya dengan mata berbinar dan khawatir sedikit suara saja akan mengejutkannya.

Pingting, kau akhirnya datang melihatku.

Aku ingin meminta maaf padamu, atas semua penderitaan yang telah kuberikan padamu.

Aku bersedia memberikan segalanya, hidup dan matiku, dan kehormatanku untuk membalasmu.

Apa artinya hidup dan mati? jangan membuatku kehilangamu lagi.

Itu hukuman paling kejam.

Chu Beijie tidak berani mengedipkan matanya. ketika ia menatap punggung itu, semua kenangan bermunculan seperti longsoran salju.

Sakit, penyesalan, terkejut, rasa syukur dan cinta yang meluap semua perasaan itu bercambur baur di hatinya. Dadanya terasa penuh sampai rasanya mau pecah, membuat Jendral yang paling berani itu tak mampu menahan dirinya lebih lama lagi. Ia berkata dengan sangat pelan, memanggil nama yang selalu menyiksanya selama ini, “Pingting?”

Apa itu kau?

Sungguh itu kau?

Bulan sudah muncul di langit. Apa kau datang untuk melihatku, karena kau masih mengingat janji kita meskipun jiwamu telah pergi jauh sekali dari sini?

Punggung itu bergetar sedikit, lalu bergerak sangat perlahan seperti angin yang menyapu lembut pucuk bunga di musim semi. Sangat tenang dan ringan. Segalanya terlalu indah, seperti mimpi yang tidak mungkin nyata.

Wajah di mimpi itu sedikit demi sedikit, akhirnya menatapnya, “Tuan kau kembali?”

Dia Pingting, benar-benar Pingting!

Bola mata hitam Chu Beijie dipenuhi airmata dan kegembiraan dan senyum kecil di bibirnya.

Pingting telah datang.

Setelah begitu lama penderitaan, dan perasaan putusasa, dia datang pada akhirnya.

Kekuatan dan harapannya yang telah menghilang dimakan waktu, kini mulai tumbuh kembali mengalir dari bawah kakinya ke seluruh tubuhnya. Memenuhinya hingga ia hampir berlutut untuk berterima kasih pda hutan lebat ini yang luas ini.

Hutan itu memberinya keajaiban, kejaiban yang pernah terjadi dalam hidupnya.

Ia berdiri dengan kaku memandangi wanita yang dicintainya, yang dengan penuh kasih berjalan mendekatinya.

“Tuan, Pingting datang untuk mengakui kesalahannya.”

Suaranya sangat merdu, setiap kata yang diucapkan seperti mutiara yang terjatuh ke dalam mangkuk giok.

Perjalanannya sudah begitu lama dan sulit, apakah masalah kalau ia mengeluarkan kegembiraannya.

Pingting yang berada di hadapannya begitu cantik, sebuah mimpi yang siapapun tidak ingin terbangun darinya. Panglima Zhen Beiwang telah membuat takut begitu banyak orang dan musuh-musuhnya, saat ini ia tidak memiliki cukup keberanian untuk menyentuh sosok itu. Ia khawatir sedikit saja sentuhan dari jarinya akan menghancurkan segalanya.

Mata Chu Beijie menatapnya, memperhatikannya.

Mengapa harus mengaku?

Bukankah yang seharusnya meminta maaf adalah dirinya?

“Pingting telah membuat kesalahan yang dilakukan setiap wanita.” Pingting memandangnya dalam-dalam, dan berkata lagi dengan perlahan, “Pingting membuat pria yang dicintainya sangat menderita.” Dan sudut bibirnya terangkat sedikit, menampilkan senyuman kecil, “Tapi, hati Pingting juga hancur oleh Tuan.”

Senyuman Pingting masuk ke hati Chu Beijie dan ia semakin mendekat.

Pingting tersenyum lebih lebar lagi.

Senyumnya sangat indah. Chu Beijie tak bisa menahan lagi, ia mengulurkan tangannya menggengam kedua tangan Pingting.

Tangan dalam genggamannya terasa lembut dan hangat.

Hangat?

Chu Beijie menatap Pingting yang berdiri di depannya dengan tidak percaya. Ia sungguh tidak terlihat seperti hantu. Ia melonggarkan pegangannya sebentar lalu menggenggamnya lagi dengan erat.

Memang hangat.

Kulitnya yang putih terasa hangat, begitu hangatnya sehingga Chu Beijie tak bisa menahan airmatanya yang ingin jatuh sejak tadi.

Hidup, ia masih hidup?

Ia bukan hantu, ia masih hidup!

Sebuah kegembiraan luar biasa menghantamnya lebih keras dari pada badai salju, membuatnya tersentak bahagia.

“Pingting….Pingting, kau masih hidup?” ia melepaskan genggamannya dan memeluknya.

Perasaan nyata ini membuat airmatanya jatuh lebih deras.

Pingting dengan patuh membiarkan dirinya di peluk erat-erat. Ia berbisik, “Pingting tidak meninggal karena diserang para serigala. Maaf, Pingting sudah membuat Tuan khawatir, apa Tuan marah?”

“Tidak, tidak.” Chu Beijie menggelengkan kepalanya.

Kegembiraan telah mengisi setiap pori-pori tubuhnya.

Mengapa harus marah? Pingting masih hidup, ia hidup, hidup!

Ini hal yang paling membahagiakan dirinya, jadi marah untuk apa?

Ia merasakan kegembiraannya menyebar ke sekelilingnya.

Terima kasih pada langit dan bumi, terima kasih gunung dan hutan, terima kasih pada semua dewa yang telah menjaga Pingting tetap hidup.

Chu Beijie berguman mengucap syukur.

Wangi yang akrab yang hanya milik Pingting memenuhi hidungnya. Ia memeluk tubuh ramping itu dengan lebih erat lagi.

Sepertinya ia telah kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan kebahagiaannya.

Ia menggunakan semua kekuatannya untuk merasakan tubuh Pingting dalam pelukannya. Ia merasakan setiap jengkal kehangatan dari tubuh mungil itu, setiap debaran jantungnya dan setiap gerakan-gerakan kecil.

Ia masih merasa takut dan berhati-hati dengan lengannya yang gemetar.

Dalam hidupnya, ia tidak akan, tidak akan pernah melepaskan Pingting lagi.

--
Matahari terbit dari timur di ibukota Yun Chang.

Setelah malam yang panjang, Suami Ratu akhirnya datang ke istana kerajaan.

Istana telah mendapatkan banyak barang berharga baru, setiap benda yang datang selalu lebih indah dari yang sebelumnya. Hiasan-hiasan telah diperbaharui, tak terkecuali para penjaga istana semuanya telah diganti. Setiap penjaga merupakan hasil seleksi, satu dari ratusan. Dan mereka semua hanya patuh pada Suami Ratu, dengan hati-hati menjaga penguasa Yun Chang – Tuan Putri Yaotian.

“Suami Ratu.”

“Kami memberi hormat pada Suami Ratu.”

He Xia melewati beberapa penjaga, dan tiba di tempat paling indah dan tenang di halaman istana. Ia menegakkan kepala, menampilkan wajah tampannya.

Ia melihat Yaotian.

Dalam sebuah ruangan di atas, istrinya yang hamil sedang duduk di samping jendela. Ia tidak lagi mengenakan pakaian mewah ciri khas seorang ratu, hanya mengenakan pakaian sederhana yang anggun dengan warna muda. Rambutnya yang hitam dan mengkilap terurai seperti air terjun bersandar santai di pundaknya.

Melihatnya, hati He Xia menjadi rumit dan perasaannya menjadi lebih kacau balau.

Ia sumber kekuatan militer He Xia, ketika ia sengsara menderita dan putus asa, istrinya telah memberinya harapan baru.

Tapi ia juga yang menjadi pembatas kekuatan militer He Xia.

Selama kerajaan Yun Chang masih memiliki satu orang yang hidup, He Xia tidak akan pernah bisa meyakinkan militer Yun Chang untuk membentuk negara baru.

Ia tidak akan pernah bisa menaiki takhta.

Tak peduli seberapa banyak wilayah yang berhasil ia taklukan, ia hanya akan menjadi Suami Ratu, ayah dari penerus takhta selanjutnya.

Ia selamanya harus membungkuk pada istrinya dan nantinya ia bahkan harus membungkuk pada anaknya sendiri.

Hati He Xia terasa sakit ketika ia menaiki undakan.

“Putri.”

Mendengar suaranya, Yaotian perlahan menoleh dari kursinya disamping jendela. Separuh wajahnya terlihat, ia berbisik, “Suamiku akhirnya bersedia menemuiku.”

He Xia membungkuk dengan hormat kepadanya, lalu ia melangkah maju dan duduk di sebelah Yaotian. “Apa Putri baik-baik saja?”

“Aku baik.” Yaotian menjawab pelan. Tatapannya beralih pada para penjaga bawahan He Xia. Ekspresi wajahnya sedikit berubah ketika ia berbalik menatap pada He Xia lagi, “Apa Suamiku baik-baik saja?”

He Xia menunduk dan melihat pundaknya sendiri. Ia menjawab ringan, “Ze Yin mengirim aku surat tantangan, seperti yang diharapkan dari seorang mantan Panglima Bei Mo, ia berhasil melukaiku. Apa Putri khawatir padaku?”

Yaotian menjawab, “Suamiku adalah orang paling kuat di dunia. Untuk apa aku khawatir?”

He Xia menoleh untuk menatap mata Yaotian. Seperti yang di duga, Yaotian tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa dan kesedihannya, dan juga kebenciannya pada He Xia.

“Apa Putri membenciku?” He Xia menghela napas.

“Kalau aku berkata iya, apa Suamiku akan membunuhku? Seperti yang dilakukan pada Pejabat Senior Gui dan yang lainnya?”

Wajah tampan He Xia menampilkan ekspresi kasihan. Ia berdiri dan membantu Yaotian untuk berdiri juga, “Putri berdirilah.”

Ia membantu Yaotian menuju balkon melihat dunia.

“Putri lihatlah. Kuda-kuda kita telah berlari di semua empat negara. Tidak akan ada penghalang lagi untuk menghentikan mereka. Empat negara sekarang sudah berada di genggamanku, seperti janjiku. He Xia telah membuatnya menjadi kenyataan. Sebagai istriku, tidakkah Putri bahagia untukku?”

Yaotian menunduk, lama sekali sampai akhirnya ia berkata, “Suamiku, apakah seharusnya aku merasa gembira karena para prajuritmu telah berhasil menaklukan seluruh negara, atau aku harus khawatir tentang nasib negaraku Yun Chang?”

“Putri…”

Yaotian tiba-tiba menengadah, menggenggam tangan He Xia. Ia berkata pelan, “Kalau Suamiku memang mencintai Yaotian, tolong berjanjilah. Suamiku akan menghentikan niat, membentuk negara baru. Dan negaraku Yun Chang, tidak akan hilang dalam sederet kemenangan pertempuran ini.”

Ia menatap He Xia dengan matanya yang jernih dan terang. Meskipun Yaotian dilarang pergi keluar, ia tetap anggota kerajaan tertinggi. Ia menggunakan wewenangnya sebagai penguasa yang diakui semua orang. He Xia menghindari tatapannya dan melepaskan genggamannya. Ia berbalik sehingga memunggunggi Yaotian, menghela napas dan berkata, “Mengapa pikiran Putri begitu sempit? Kita suami istri, meskipun aku menjadi Raja, Putri pasti menjadi Permaisuriku. Kita berdua memiliki status yang sama penting. Lagipula, Putri sedang mengandung darah dagingku…”

“Kau tidak bisa menjadi Raja.” Yaotian menyela dengan kaku dari belakangnya. Suaranya menjadi lebih keras dan dingin ketika ia berkata lagi, “Anak dalam kandunganku yang akan menjadi Raja selanjutnya.”

He Xia mendengar nadanya yang kasar. Ia berbalik dan berkata lembut, “Putri…”

“Suamiku, tidak perlu berkata lagi, tolong pergilah.” Yaotian menyelanya.

He Xia menjadi kaku.

Eskpresi Yaotian tenang dan ia tetap berdiri, terhomat dan bermatabat dengan harga diri yang sudah melekat pada tulang-tulangnya. Ketika itu, He Xia merasa kalau istrinya yang cantik dan lembut yang selalu bisa dipengaruhinya dengan kata-kata lembutnya, benar-benar keturunan keluarga kerjaaan sejati.

--00--


Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar