Minggu, 29 Oktober 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.74 (Selesai)

-- Volume 3 chapter 74 --



Kemasyran Tuan Besar Jin Anwang sungguh singkat, ia dikalahkan disebuah kota kecil kerajaan kuno.

Yun Chang sudah kehilangan keluarga kerajaan mereka, Bei Mo dan Gui Li juga tak berbeda. Pasukan yang ditinggalkan tidak memiliki pemimpin, setelah beberapa tahun berperang, para penduduk sangat mendambakan kehidupan damai dan tenang.

Penyatuan empat negara sebenarnya sudah siap, yang dibutuhkan hanya seorang Raja yang diterima semua pihak.

Siap lagi yang lebih pantas selain Tuan Besar Zhen Beiwan untuk melakukan pekerjaan penting ini?

Semua perjuangan yang dilakukan He Xia sepanjang hidupnya, pada akhirnya menjadi pencapaian terbesar musuh satu-satunya.

“Pisau! Pisau!”

“Pedang!”

“Pisau! Pisau!”

“Pedang!” Ze Qing menggaruk kepalanya dengan putus asa, ia membetulkan ucapak Changxiao untuk kesekian kalinya.

Cangxiao tetap keras kepala juga untuk kesekian kalinya. “Pisau! Pisau!”

Ze Qing berbalik dan memohon, “Ayah angkat, ayah angka, katakanlah pada Changxiao kalau ini pedang berharga bukan sebuah pisau.”

“Kau, bodoh, kalau ia senang mengatakan pisau, biarkan ia mengucapkanya. Lagi pula, sebutan diciptakan oleh manusia.” Suara Fanlu terdengar keras ketika ia menyingkap tirai, memasuki ruangan bersama Zuiju. “Panglima Ze Yin, hari ini aku datang untuk meminum secangkir teh yang paling penting.”

Zuiju memicingkan matannya pada Fanlu, “Lupakan, kau seharusnya malu dengan tingkahmu itu.”

“Mengapa harus malu? Aku seorang pahlawan?”

“Pahlawan macam apa yang memaksa seseorang untuk membiarkan anak mereka menjadi anak angkatnya?”

Fanlu mengerutu, “Apa salahnya menjadi anak angkatku? Dengan anak Ze Yin, itu sesuatu yang menguntungkan.”

Zuiju megerutu juga, “Mengapa menguntungkan?”

“Bukankah mendapatkan ibu angkat secantik bunga sesuatu yang menguntungkan?” dengan perkataannya ini, Zuiju tak bisa membalasnya.

Kedua anak itu menyaksikan percekcokan mereka dengan bingung. Ze Yin di samping mereka menyaksikan dengan tersenyum.

Karena telah menyelamatkan Ze Yin, Yangfeng merasa sangat berterima kasih pada Fanlu dan telah memikirkan dengan lama dan seksama, untuk menjadikan Ze Qing sebagai anak angkat Fanlu. Begitu ia mendengar kabar kedatangan Fanlu dan Zuiju ia segera datang untuk menyambut mereka, dan ia sempat mendengar ucapan terakhir Fanlu. Ia berdiri di muka pintu sambil tertawa kecil, “Benar sekali, anak itu, Ze Qing sungguh mendapatkan keberuntungan.”

Setelah mendengar perkataan Yangfeng, semua orang tertawa.

Meskipun Fanlu masih merasa agak asing, tapi ia bisa berbaur dengan baik dengan semuanya. Fanlu menganggap masalah pengakuan anak angkat ini sebagai urusan resmi. Ia menyebarkan undangan resmi kepada beberapa teman dan koleganya. Begitu hari menjelang siang, semua orang datang dari arah pintu utama. Ruo Han yang petama tiba, lalu diikuti oleh Moran dan Luo Shang dan yang lainnya, dan yang terakhir tiba adalah Chu Beijie.

Setelah kematian He Xia, semua orang sibuk membenahi masalah yang menumpuk, karena jatuhnya sebuah negara. Hari inilah pertama kalinya mereka semua berkumpul kembali, setelah upacara pengangkatan anak selesai, mereka tidak membubarkan diri.

Fanlu mengambil beberapa kendi arak bagus dan membukanya untuk mereka, ia membiarkan aroma arak memenuhi ruangan.

Begitu tercium aroma arak, tempat itu menjadi lebih hidup. Mereka semua datang dari tempat berbeda, dan mereka mulai berbincang, topik yang yang tak bisa dicuhkan adalah tentang He Xia. Huo Yunan yang telah meneguk beberapa cangkir tiba-tiba menghela napas, “Situasi saat itu sangat mengerikan. Siapa menyangka kalau He Xia tiba-tiba akan menyerang Qierou? Kita sungguh benar-benar beruntung.”

Ze Yin bertanya, “Tabib tua, megapa kau bilang beruntung?”

“Kalau resimen Shuitai dan resimen Yongxiao tidak segera beralih sisi mendukung Tuan Besar Zhen Beiwang bukankah akan menjadi petaka?”

Fanlu mengangguk setuju, “Terkadang tumpukan salju setebal sepuluh sentimeter tidak terjadi dalam satu kali hujan salju. Ayah mertua, perang adalah masalah hati dan pikiran. Meskipun He Xia terlihat memiliki kekuatan hebat, tanpa kesetiaan dari pasukannya, bibit kekalahan sesungguhnya telah tumbuh.”

Kata-kata Fanlu sangat benar. Ruo Han dan yang lainnya sangat tahu kalau perang memang seperti itu dan mereka mengangguk setuju.

Huo Yunan berpikir sejenak, “Tapi ketika kita di Qierou saat itu, keadaannya sangat genting. Dua resimen melawan dua resimen. Dan di sisi kita hanya lebih beberapa ribu prajurit dari pasukan Ting. Tempat itu adalah wilayah Yun Chang, dan kalau yang lainnya mendengar pasukan Yun Chang terkepung oleh pasukan lain, bukankah akan jadi masalah besar kalau resimen Gangfeng juga segera tiba di tempat?”

Moran menjawab dengan sopan, “Tabib tua, resimen Gangfeng berbeda dengan resimen Shuitai dan Yangxiao, mereka tidak mendapatkan obat dari Tuan, maka mereka masih lumpuh. Mereka tidak mungkin segera bergerak.”

Ze Yin juga menambahkan dengan pelan, “Bahkan jika mereka bergegas datang, aku rasa mereka juga tidak akan membantu He Xia kebanyakan dari resimen Gangfeng berasal dari Yun Chang. Kalau mereka tahu He Xia membunuh Yaotian, bukankah mereka akan sangat marah.”

Yangfeng mengingatkan mereka, “Kalian tidak seharusnya memanggilnya Tuan Besar juga Panglima, melainkan calon Kaisar”

Chu Beijie tertawa, “Kalau aku tidak bisa berbicang dengan kalian nantinya setelah aku menjadi Kaisar, aku sebaiknya tidak menaiki taktah.” Ia mengangguk hikmad, “Dulu, aku menjanjikan Pingting, memberikannya rumah yang tenang dan nyaman.”

“Kalau kau tidak mengaturnya dengan hati, bagaimana mungkin dunia bisa damai?”

Chu Beijie tertawa, tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Bagaiman kabar Kediaman Jin Anwang sekarang?”

Semua orang cukup perhatian dengan masalah ini. bawahan Ruo Han yang bertugas mengurus masalah ini, maka mereka semua menatap Ruo Han.

Dan Ruo Han menjawab, “Segalanya berjalan baik. Para penduduk masih menghormati Kediaman Jin Anwang. Hanya saja He Xia… sudahlah, Calon Kaisar menginginkan Kediaman Jin Anwang dibangung kembali, jadi tempat itu bisa digunakan untuk belajar bagi anak-anak. Banyak penduduk yang berinisiatip memberi bantuan, mereka sukarela melakukannya, selain tenaga mereka juga mengeluarkan uang simpanan mereka dan bahan pangan dan buku-buku koleksi pribadi mereka. Pemuda itu, Dongzhuo, tidak mengatakan apapun, tapi ia melakukannya dengan sangat baik jadi segalanya berjalan baik.

Chu Beijie berkata, “Pingting sangat mengkhawatirkannya. Aku sedang berpikir apakah sebaiknya menunggu masalah Jin Anwang selesai terlebih dahulu atau tidak untuk memintanya datang ke istana dan menemui Pingting.”

Ruo Han mimikirkannya sejenak dan berkata dengan muram, “Ia sepertinya menunjukan tanda-tanda kalau ia hendak tinggal di Kediaman Jin Anwang untuk mengurus kuburan He Xia dan para leluhur keluarga Jin Anwang. Begitu Kediaman Jin Anwang selesai diperbaiki dan sekolah mulai dibuka, ia akan tinggal disana untuk membantu anak-anak murid. Tapi kalau ia diperintahan untuk datang, kurasa ia pasti datang.”

Chu Beijie menggelengkan kepalanya, “Tak perlu memaksanya, biarkan ia tinggal disana. Pingting akan lega kalau kepengurusan Kediaman Jin Anwang diserahkan padanya.”

Setelah mereka puas menikmati arak, Chu Beijie segera memanggil Changxiao yang sedang bermain. Yangfeng bertanya dengan pelan “Apa Pingting sudah baikkan?”

Ekspresi Chu Beijie sedikit mengelap, “Penyakitnya dari lubuk hatinya, hal yang paling sulit di obati. Aku khawatir akan membutuhkan waktu lama.”

Yanfeng menghela napas, “Bagaimanapun ia tumbuh bersama He Xia.”

Chu Beijie tahu pasti tentang hal itu dan ia juga menghela napas, “Jangan khawatir, aku akan menjaganya dengan baik.”

Ia membawa Changxiao kembali ke istana, ia sudah melihat Pingting dari kejauhan.

Wanita yang sangat dicintainya berdiri sendirian di beranda. Wajanya selalu terlihat anggun dan matanya menatap danau. Seperti dasar danau membuka dirinya untuk dilihat, memperlihatkan rahasianya yang tersembunyi.

Chanxiao berteriak, “Mama! Mama!” ia berlari dan memeluk Pingting.

Pingting mendengar suara anaknya dan mengalihkan pandangannya dari danau. Ia berbalik dan tersenyum sambil berjongkok dan mengendong anaknya. Chu Beijie melangkah mendekat dan memeluknya, “Apa yang kau pikirkan, berdiri sendirian dan memikirkan sesuatu sampai seperti itu?”

Changxiao yang berada di pelukan Pingting mulai mengeliat untuk melepaskan diri karena ingin bermain di lantai. Pingting menurunkannya dan melepaskannya, ia berkata dengan tegas padanya, “Hati-hati, jangan bermain dengan pisau apapun.” Lalu ia berdiri tegak dan menjawab pertanyaan Chu Beijie, “Aku memikirkan Mahkota Ratu.”

Chu Beijie sangat penasaran, “Mengapa kau menginginkan benda semacam itu?”

Pingting menggelengkan kepalanya, “Bukan untukku, tapi milik Tuan Putri Yaotian.”

Chu Beijie tahu Pingting sangat kecewa dengan He Xia. Ia memeluk Pingting lebih erat dan membiarkannya merasa nyaman di dadanya. Ia berkata dengan pelan, “Mengapa kau memikirkan Mahkota Ratu milik Putri Yaotian.”

Pingting diam agak lama, lalu berkata dengan sedikit muram, “Kau masih ingat masa lalu kita?”

Chu Beijie berpikir sejenak dan tersenyum, “Aku ingat segala hal tentang masa lalu kita. Bagaimana kalau kau mengatakannya padaku hal apa yang sedang ada di pikiranmu saat ini?”

Pingting memejamkan matanya dan berpikir sejenak. Bibirnya yang indah mulai bergerak, “Lima tahun perjanjian damai di lembah, kematian dua pangeran Dong Lin, hanya angka perkiraan, sebenarnya kita memiliki tiga kesempatan.”

Chu Beijie menjawab dengan agak bingung, “Kesempatan untuk apa?”

Pingting menengadah dan menatap Chu Biejie, matanya bersinar ketika ia berkata, “Kalau saja kau berhati kejam, tidak memberikan belas kasih sedikitpun pada Pingting, dalam tiga kesempatan itu, kita akan bernasib He Xia dan Tuan Putri Yaotian.”

Chu Beijie tertawa kecil, “Aku bukan He Xia, dan kau bukan Putri Yaotian.”

Pingting menatapnya tajam dan berkata dengan sedih, “Benar sekali, karena itulah kau bukan He Xia dan aku bukan Tuan Putri Yaotian.”

Helaan napas itu seperti membawa pergi semua kesedihan dan kematian. Ia tetap di pelukan Chu Beijie dan merasa sangat nyaman dan hangat.

Aku yang pintar, aku yang bodoh, aku yang baik hati, aku yang kejam…. Apa mereka semua aku yang kau cintai? Itulah yang dipikirkan Pingting.

Pingting tersenyum.

Matahari tengelam di barat dan bulan mulai muncul.

Kita pernah bersumpah pada bulan, tidak akan pernah saling berhadapan sebagai musuh.

Cinta kita, tidak akan membuat kita saling bertentangan satu sama lain, dan semoga menjadi sesuatu yang abadi dan tidak akan pernah hancur.

--00—

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar