Kemasyran
Tuan Besar Jin Anwang sungguh singkat, ia dikalahkan disebuah kota kecil
kerajaan kuno.
Yun
Chang sudah kehilangan keluarga kerajaan mereka, Bei Mo dan Gui Li juga tak
berbeda. Pasukan yang ditinggalkan tidak memiliki pemimpin, setelah beberapa
tahun berperang, para penduduk sangat mendambakan kehidupan damai dan tenang.
Penyatuan
empat negara sebenarnya sudah siap, yang dibutuhkan hanya seorang Raja yang
diterima semua pihak.
Siap
lagi yang lebih pantas selain Tuan Besar Zhen Beiwan untuk melakukan pekerjaan
penting ini?
Semua
perjuangan yang dilakukan He Xia sepanjang hidupnya, pada akhirnya menjadi
pencapaian terbesar musuh satu-satunya.
“Pisau!
Pisau!”
“Pedang!”
“Pisau!
Pisau!”
“Pedang!”
Ze Qing menggaruk kepalanya dengan putus asa, ia membetulkan ucapak Changxiao
untuk kesekian kalinya.
Cangxiao
tetap keras kepala juga untuk kesekian kalinya. “Pisau! Pisau!”
Ze
Qing berbalik dan memohon, “Ayah angkat, ayah angka, katakanlah pada Changxiao
kalau ini pedang berharga bukan sebuah pisau.”
“Kau,
bodoh, kalau ia senang mengatakan pisau, biarkan ia mengucapkanya. Lagi pula,
sebutan diciptakan oleh manusia.” Suara Fanlu terdengar keras ketika ia
menyingkap tirai, memasuki ruangan bersama Zuiju. “Panglima Ze Yin, hari ini aku
datang untuk meminum secangkir teh yang paling penting.”
Zuiju
memicingkan matannya pada Fanlu, “Lupakan, kau seharusnya malu dengan tingkahmu
itu.”
“Mengapa
harus malu? Aku seorang pahlawan?”
“Pahlawan
macam apa yang memaksa seseorang untuk membiarkan anak mereka menjadi anak
angkatnya?”
Fanlu
mengerutu, “Apa salahnya menjadi anak angkatku? Dengan anak Ze Yin, itu sesuatu
yang menguntungkan.”
Zuiju
megerutu juga, “Mengapa menguntungkan?”
“Bukankah
mendapatkan ibu angkat secantik bunga sesuatu yang menguntungkan?” dengan
perkataannya ini, Zuiju tak bisa membalasnya.
Kedua
anak itu menyaksikan percekcokan mereka dengan bingung. Ze Yin di samping
mereka menyaksikan dengan tersenyum.
Karena
telah menyelamatkan Ze Yin, Yangfeng merasa sangat berterima kasih pada Fanlu
dan telah memikirkan dengan lama dan seksama, untuk menjadikan Ze Qing sebagai
anak angkat Fanlu. Begitu ia mendengar kabar kedatangan Fanlu dan Zuiju ia
segera datang untuk menyambut mereka, dan ia sempat mendengar ucapan terakhir
Fanlu. Ia berdiri di muka pintu sambil tertawa kecil, “Benar sekali, anak itu,
Ze Qing sungguh mendapatkan keberuntungan.”
Setelah
mendengar perkataan Yangfeng, semua orang tertawa.
Meskipun
Fanlu masih merasa agak asing, tapi ia bisa berbaur dengan baik dengan semuanya.
Fanlu menganggap masalah pengakuan anak angkat ini sebagai urusan resmi. Ia menyebarkan
undangan resmi kepada beberapa teman dan koleganya. Begitu hari menjelang siang,
semua orang datang dari arah pintu utama. Ruo Han yang petama tiba, lalu
diikuti oleh Moran dan Luo Shang dan yang lainnya, dan yang terakhir tiba
adalah Chu Beijie.
Setelah
kematian He Xia, semua orang sibuk membenahi masalah yang menumpuk, karena jatuhnya
sebuah negara. Hari inilah pertama kalinya mereka semua berkumpul kembali,
setelah upacara pengangkatan anak selesai, mereka tidak membubarkan diri.
Fanlu
mengambil beberapa kendi arak bagus dan membukanya untuk mereka, ia membiarkan
aroma arak memenuhi ruangan.
Begitu
tercium aroma arak, tempat itu menjadi lebih hidup. Mereka semua datang dari
tempat berbeda, dan mereka mulai berbincang, topik yang yang tak bisa dicuhkan
adalah tentang He Xia. Huo Yunan yang telah meneguk beberapa cangkir tiba-tiba
menghela napas, “Situasi saat itu sangat mengerikan. Siapa menyangka kalau He
Xia tiba-tiba akan menyerang Qierou? Kita sungguh benar-benar beruntung.”
Ze
Yin bertanya, “Tabib tua, megapa kau bilang beruntung?”
“Kalau
resimen Shuitai dan resimen Yongxiao tidak segera beralih sisi mendukung Tuan
Besar Zhen Beiwang bukankah akan menjadi petaka?”
Fanlu
mengangguk setuju, “Terkadang tumpukan salju setebal sepuluh sentimeter tidak
terjadi dalam satu kali hujan salju. Ayah mertua, perang adalah masalah hati
dan pikiran. Meskipun He Xia terlihat memiliki kekuatan hebat, tanpa kesetiaan
dari pasukannya, bibit kekalahan sesungguhnya telah tumbuh.”
Kata-kata
Fanlu sangat benar. Ruo Han dan yang lainnya sangat tahu kalau perang memang
seperti itu dan mereka mengangguk setuju.
Huo
Yunan berpikir sejenak, “Tapi ketika kita di Qierou saat itu, keadaannya sangat
genting. Dua resimen melawan dua resimen. Dan di sisi kita hanya lebih beberapa
ribu prajurit dari pasukan Ting. Tempat itu adalah wilayah Yun Chang, dan kalau
yang lainnya mendengar pasukan Yun Chang terkepung oleh pasukan lain, bukankah akan
jadi masalah besar kalau resimen Gangfeng juga segera tiba di tempat?”
Moran
menjawab dengan sopan, “Tabib tua, resimen Gangfeng berbeda dengan resimen
Shuitai dan Yangxiao, mereka tidak mendapatkan obat dari Tuan, maka mereka
masih lumpuh. Mereka tidak mungkin segera bergerak.”
Ze
Yin juga menambahkan dengan pelan, “Bahkan jika mereka bergegas datang, aku
rasa mereka juga tidak akan membantu He Xia kebanyakan dari resimen Gangfeng
berasal dari Yun Chang. Kalau mereka tahu He Xia membunuh Yaotian, bukankah
mereka akan sangat marah.”
Yangfeng
mengingatkan mereka, “Kalian tidak seharusnya memanggilnya Tuan Besar juga Panglima,
melainkan calon Kaisar”
Chu
Beijie tertawa, “Kalau aku tidak bisa berbicang dengan kalian nantinya setelah
aku menjadi Kaisar, aku sebaiknya tidak menaiki taktah.” Ia mengangguk hikmad, “Dulu,
aku menjanjikan Pingting, memberikannya rumah yang tenang dan nyaman.”
“Kalau
kau tidak mengaturnya dengan hati, bagaimana mungkin dunia bisa damai?”
Chu
Beijie tertawa, tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Bagaiman kabar Kediaman Jin
Anwang sekarang?”
Semua
orang cukup perhatian dengan masalah ini. bawahan Ruo Han yang bertugas
mengurus masalah ini, maka mereka semua menatap Ruo Han.
Dan
Ruo Han menjawab, “Segalanya berjalan baik. Para penduduk masih menghormati
Kediaman Jin Anwang. Hanya saja He Xia… sudahlah, Calon Kaisar menginginkan
Kediaman Jin Anwang dibangung kembali, jadi tempat itu bisa digunakan untuk
belajar bagi anak-anak. Banyak penduduk yang berinisiatip memberi bantuan,
mereka sukarela melakukannya, selain tenaga mereka juga mengeluarkan uang
simpanan mereka dan bahan pangan dan buku-buku koleksi pribadi mereka. Pemuda itu,
Dongzhuo, tidak mengatakan apapun, tapi ia melakukannya dengan sangat baik jadi
segalanya berjalan baik.
Chu
Beijie berkata, “Pingting sangat mengkhawatirkannya. Aku sedang berpikir apakah
sebaiknya menunggu masalah Jin Anwang selesai terlebih dahulu atau tidak untuk
memintanya datang ke istana dan menemui Pingting.”
Ruo
Han mimikirkannya sejenak dan berkata dengan muram, “Ia sepertinya menunjukan
tanda-tanda kalau ia hendak tinggal di Kediaman Jin Anwang untuk mengurus
kuburan He Xia dan para leluhur keluarga Jin Anwang. Begitu Kediaman Jin Anwang
selesai diperbaiki dan sekolah mulai dibuka, ia akan tinggal disana untuk
membantu anak-anak murid. Tapi kalau ia diperintahan untuk datang, kurasa ia
pasti datang.”
Chu
Beijie menggelengkan kepalanya, “Tak perlu memaksanya, biarkan ia tinggal
disana. Pingting akan lega kalau kepengurusan Kediaman Jin Anwang diserahkan
padanya.”
Setelah
mereka puas menikmati arak, Chu Beijie segera memanggil Changxiao yang sedang
bermain. Yangfeng bertanya dengan pelan “Apa Pingting sudah baikkan?”
Ekspresi
Chu Beijie sedikit mengelap, “Penyakitnya dari lubuk hatinya, hal yang paling
sulit di obati. Aku khawatir akan membutuhkan waktu lama.”
Yanfeng
menghela napas, “Bagaimanapun ia tumbuh bersama He Xia.”
Chu
Beijie tahu pasti tentang hal itu dan ia juga menghela napas, “Jangan khawatir,
aku akan menjaganya dengan baik.”
Ia
membawa Changxiao kembali ke istana, ia sudah melihat Pingting dari kejauhan.
Wanita
yang sangat dicintainya berdiri sendirian di beranda. Wajanya selalu terlihat anggun
dan matanya menatap danau. Seperti dasar danau membuka dirinya untuk dilihat,
memperlihatkan rahasianya yang tersembunyi.
Chanxiao
berteriak, “Mama! Mama!” ia berlari dan memeluk Pingting.
Pingting
mendengar suara anaknya dan mengalihkan pandangannya dari danau. Ia berbalik
dan tersenyum sambil berjongkok dan mengendong anaknya. Chu Beijie melangkah
mendekat dan memeluknya, “Apa yang kau pikirkan, berdiri sendirian dan
memikirkan sesuatu sampai seperti itu?”
Changxiao
yang berada di pelukan Pingting mulai mengeliat untuk melepaskan diri karena
ingin bermain di lantai. Pingting menurunkannya dan melepaskannya, ia berkata
dengan tegas padanya, “Hati-hati, jangan bermain dengan pisau apapun.” Lalu ia
berdiri tegak dan menjawab pertanyaan Chu Beijie, “Aku memikirkan Mahkota Ratu.”
Chu
Beijie sangat penasaran, “Mengapa kau menginginkan benda semacam itu?”
Pingting
menggelengkan kepalanya, “Bukan untukku, tapi milik Tuan Putri Yaotian.”
Chu
Beijie tahu Pingting sangat kecewa dengan He Xia. Ia memeluk Pingting lebih
erat dan membiarkannya merasa nyaman di dadanya. Ia berkata dengan pelan, “Mengapa
kau memikirkan Mahkota Ratu milik Putri Yaotian.”
Pingting
diam agak lama, lalu berkata dengan sedikit muram, “Kau masih ingat masa lalu
kita?”
Chu
Beijie berpikir sejenak dan tersenyum, “Aku ingat segala hal tentang masa lalu
kita. Bagaimana kalau kau mengatakannya padaku hal apa yang sedang ada di
pikiranmu saat ini?”
Pingting
memejamkan matanya dan berpikir sejenak. Bibirnya yang indah mulai bergerak, “Lima
tahun perjanjian damai di lembah, kematian dua pangeran Dong Lin, hanya angka
perkiraan, sebenarnya kita memiliki tiga kesempatan.”
Chu
Beijie menjawab dengan agak bingung, “Kesempatan untuk apa?”
Pingting
menengadah dan menatap Chu Biejie, matanya bersinar ketika ia berkata, “Kalau
saja kau berhati kejam, tidak memberikan belas kasih sedikitpun pada Pingting,
dalam tiga kesempatan itu, kita akan bernasib He Xia dan Tuan Putri Yaotian.”
Chu
Beijie tertawa kecil, “Aku bukan He Xia, dan kau bukan Putri Yaotian.”
Pingting
menatapnya tajam dan berkata dengan sedih, “Benar sekali, karena itulah kau
bukan He Xia dan aku bukan Tuan Putri Yaotian.”
Helaan
napas itu seperti membawa pergi semua kesedihan dan kematian. Ia tetap di pelukan
Chu Beijie dan merasa sangat nyaman dan hangat.
Aku
yang pintar, aku yang bodoh, aku yang baik hati, aku yang kejam…. Apa mereka
semua aku yang kau cintai? Itulah yang dipikirkan Pingting.
Pingting
tersenyum.
Matahari
tengelam di barat dan bulan mulai muncul.
Kita
pernah bersumpah pada bulan, tidak akan pernah saling berhadapan sebagai musuh.
Cinta
kita, tidak akan membuat kita saling bertentangan satu sama lain, dan semoga menjadi
sesuatu yang abadi dan tidak akan pernah hancur.
--00—
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar