Minggu, 29 Oktober 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.73

-- Volume 3 chapter 73 --



Suara gemuruh tiba-tiba terdengar di telinga Fanlu.

“Aneh.” Fanlu menatap ke langit dan melihat titik hitam kecil di langit. “Bentuk putaran itu biasanya menandakan burung elang berkembang biak. Mengapa tiba-tiba melintas di atas sini?”

Pingting mengerutkan dahinya dan menatap ke atas. Ia dengan melihat dengan jelas burung elang di langit. “Ketika Tuan tiba di Qierou ia membawa sekelompok kecil pasukan untuk bersembunyi di perbatasan Yun Chang dan Bei Mo, dan bertugas memperhatikan pergerakan musuh. Kapten mereka memiliki seekor burung elang tua. Mungkinkah burung miliknya? Mengapa ia terbang di atas sini?” mendengar elang itu tak henti-hentinya berkoak, sepertinya menandakan sesuatu yang mendesak. Ia segera berlari ke dalam ruangan dan mengambil lonceng elang yang tinggalkan Chu Beijie. Ia mengguncangnya dan terdengar suara bersahutan antara lonceng dan elang.

Lonceng ini di berikan pemilik elang pada Chu Beijie untuk mengirim pesan. Begitu elang mendengar suara lonceng, maka ia tahu ia telah tiba di tempat tujuannya. Dengan sebuah teriakan panjang, sang elang menukik ke bawah.

Ada sebuah sobekan kain kecil terbungkus di kakinya. Fanlu segera berusaha meraihnya.

Zuiju berdiri di kejauhan dan berkata, “Hati-hati jangan sampai terpatuk!”

Ucapan Zuiju belum selesai ketika secarik kain itu berada di tangan Fanlu. Fanlu tersenyum, “Elang ini lebih ramah daripada kau. Ia tidak akan mematuk orang sembarangan. Biar aku membaca pesan apa yang dibawanya.” Ia membukanya dan ekspresinya tiba-tiba berubah.

Zuiju sudah cukup lama mengenalnya, dan ini pertama kalinya ia melihat ekspresi jelek seperti itu diwajahnya. Ia segera bertanya, “Ada masalah apa?”

“He Xia dalam perjalanan, membawa dua resimen untuk menyerang Qierou.”

“Ah!” Zuiju menangis karena panik, segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menatap Pingting.

Mendegar perkataan Fanlu, warna di wajah Pingting menghilang. Pingting merasa tubuhnya bergetar, setelah agak lama ia bertanya, “Resimen mana yang dibawa? Dan berapa lama lagi mereka tiba?”

Fanlu tersenyum getir, “Bagaimana aku tahu? Kain ini hanya cukup mengatakan sebanyak itu. Tapi melihat tulisannya yang begitu berantakan, kurasa ini sangat mendesak.”

Zuiju berkata dengan takut, “Kedatangan He Xia adalah bencana. Apa Nona sudah memikirkan rencana bagus? Oh tidak, mengapa Tuan Besar memilih hari ini untuk pergi?”

Pingting mengelengkan kepalanya, “Bagus Tuan pergi hari ini.” suaranya menghilang diakhir ucapannya.

Fanlu berkata dengan serius, “Kalian harus segera pergi. Aku akan bertahan disini dan berusaha menahan He Xia selama mungkin.”

Wajahnya menampakan kemurahan hati yang langka.

Zuiju sangat panik dan hampir berteriak menangis.

Pingting memikirkan sejenak, dan segera menegakkan kepalanya. Ia telah membuat keputusan, “Perintahkan penyerahan diri segera. Kalau He Xia bergegas menuju Qierou, ia pasti sudah tahu segalanya. Pedangnya akan segera menghunusmu tanpa satu katapun.”

Huo Yunan dan yang lainnya sudah tiba dan begitu mendengar kata-kata Pingting ia bertanya, “Tidak mungkin semenakutkan itu ya kan? Elang lebih cepat dari pasukan, seharusnya masih ada waktu. Kita bisa menunggu sampai Tuan Besar kembali, jadi bisa merencakan sesuatu yang lebih baik.”

Pingting mengelengkan kepalanya dengan gusar. “Tidak, kita harus segera keluar dari Qierou, Fanlu, pikirkan cara untuk mengungsikan seluruh penduduk Qierou sesegera mungkin. Tidak perlu persiapan, kita harus segera meninggalkan kota dan menuju arah Resimen Shuitai.”

Fanlu mengerutkan dahinya, “Kita masih belum tahu apakah rencana membujuk Qing Tian berjalan mulus. Bagaimana kalau ia menolak, dan membawa pasukannya untuk membantu He Xia. Dan dalam perjalanan mereka kita menghadangnya, bukankah itu berarti kematian?”

Pingting menghela napas, “He Xia membawa dua resimen kesini, dan kita hanya punya beberapa ribu prajurit. Kalau Tuan Besar tidak berhasil meyakinkan resimen Shuitai tepat waktu, kita pasti akan mati. Tapi kalau Resimen Shuitai bergabung bersama Tuan Besar dan kita berhasil mencapai mereka, kita memiliki kesempatan untuk hidup.”

Pignting sangat mengerti situasinya dengan baik, dan kata-katanya cukup menjelaskan keadaan serta kemungkinan yang terjadi. Mereka semua tiba-tiba menyadari betapa suramnya situasi saat ini dan jantung mereka serasa menciut. Mereka bahkan tidak repot-repot membawa perbekalan, mereka segera bergegas meninggalkan kota.

Fanlu memanggil beberapa pegawai di rumahnya, ia memberikan mereka sejumlah besar koin perak, dan dengan sopan memerintahkan, “Hari ini, ada tugas yang harus kalian selesaikan. Masing-masing dari kalian menulis sepuluh pemberitahuan dan tempelkan di tempat yang paling ramai di seluruh kota. Tugas ini harus selesai dalam setengah jam, dan aku akan memberikan kalian perak lebih banyak lagi untuk kalian masing-masing.”

Para pegawai ini belum pernah memegang koin perak sebanyak itu di tangan mereka. Mereka menjadi sedikit curiga dengan keberuntungan yang tiba-tiba ini, “Tuan ingin kami menuliskan apa? Kami akan menulisnya dengan indah.”

Alis Fanlu berkerut, “Konyol sekali! Siapa yang menyuruh kalian untuk menulis dengan indah? Cepatlah, ini harus dilakukan dengan cepat! Masing-masing dari kalian tulis --- Cepatlah! Lari, pergi ke arah timur! ---- cukup empat hurup ini, dan jangan bertanya apa artinya. Lakukan saja seperti yang kuperintahkan. Dengar baik-baik, kalian harus menyelesaikannya dalam setengah jam!”

Begitu para pegawainya berhamburan pergi, Fanlu bergegas ke pintu belakang. Zuiju dan yang lainnya telah memegang kuda di tangan mereka. Ketika Zuiju melihat Fanlu ia segera memeberikan tali kekang kepadanya, Fanlu segera menaiki kudanya dan berkata, “Ayo berangkat!”

Suara langkah kaki kuda segera terdengar bergemuruh. Mereka semua memacu kudanya kea rah gerbang kota. Pasar hari ini tidak ada kegiatan, maka pintu gerbang di tutup lebih cepat dari biasanya. Begitu Fanlu tiba di bawah gerbang kota, ia menegadah dan berteriak, “Buka gerbang! Cepatlah buka gerbangnya!”

Si penjaga melihat sang Gubernur berteriak ke arahnya untuk membukakan gerbang, mereka menjadi panik dan segera membukanya. Begitu pintu bergerak, pengumuman yang baru saja di tempelkan mulai memperlihatkan hasilnya, semakin banyak orang yang berkumpul dengan menaiki kuda mereka menuju gerbang. Ternyata mereka adalah para prajurit yang berangkat bersama Chu Beijie, mereka berbaur dengan warga sekitar, dan bersiap menunggu. Begitu gerbang mulai terbuka, sudah lebih dari seratus orang yang berkumpul dan bersenjata lengkap.

Gerbang kota terbuka dengan suara gesekan kayu yang kuat, perlahan mulai memperlihatkan celah untuk satu orang lewat, Fanlu melewatinya terlebih dahulu, tapi begitu kudanya menginjakan kakinya di luar gerbang, sebuah panah terbang membelah angin dari arah depan. Kepala Fanlu miring untuk menghindari panah itu, sungguh beruntung, panah itu menancap ke gerbang.

Zuiju berteriak, “Celaka, mereka sudah tiba. Cepatlah tutup pintunya kembali. Mungkin kita bisa bertahan di dalam.”

“Tidak.” Pingting berkata dengan tenang, “Itu panah yang dilepaskan dengan terburu-buru, mereka belum bisa sepenuhnya mencapai kita. Mereka harus membentuk formasi untuk pengepungan, kita masih lebih cepat dari He Xia.”  Pingting tersenyum kecil.

Disaat genting seperti itu, senyumnya terlihat lebih cerah dibanding bintang yang bersinar

Melihat Pingting yang begitu yakin, kekhawatiran semua orang menghilang, keberanian mereka semakin meningkat.

Di sisi gerbang selalu tersedia beberapa perisai kecil, Fanlu mengambil satu dan ia berteriak, “Ayo maju!”

Seluruh tubuhnya bergetar karena semangatnya meningkat.

Kali ini, beberapa panah terbang ke arah Fanlu, tapi panah-panah itu segera berjatuhan begitu Fanlu menahannya dengan perisainya, bukan panah yang kuat yang biasa digunakan dalam peperangan. Ini berarti ucapan Pingting benar, dan Fanlu merasa sedikit tenang, karena jumlah mereka yang sangat sedikit sekali. Ia menaikan perisainya dan menghalau panah-panah itu satu demi satu. Sampai gerbang kota sepenuhnya terbuka lebar, dan mereka yang berada di belakangnya mengikuti tindakannya. Mereka mengambil perisai-perisai untuk melindungi tubuh mereka. Dan mereka yang tidak kebagian perisai, berlindung disampingnya, hujan panah mulai berdatangan, menyerang mereka begitu mereka bergerak keluar gerbang.

Begitu mereka berada di luar gerbang, mereka sudah bisa melihat pasukan musuh yang hampir mencapai pinggiran kota Qierou. Jumlah musuh tak banyak, hanya sekitar seratus orang lebih, tapi bisa diketahui kebanyakan dari mereka adalah para pemanah.

Fanlu berteriak, ia mengeluarkan pedangnya yang berat dan panjang. Ia segera menusuk seorang prajurit begitu ia mengeluarkan senjatanya, orang-orang di belakangnya juga telah tiba di tempat, mereka semua adalah para prajurit khusus Chu Beijie, orang-orang pilihan, begitu kilauan cahaya pedang mulai bermunculan, perang dimulai.

Kemampuan bela diri Fanlu tidak begitu bagus, tapi ia cepat dan bela diri lawannya juga tidak begitu bagus. Mereka berteriak dan beradu pedang, dan beberapa musuh mulai berjatuhan dari kuda mereka sambil berlumuran darah.

Pingting khawatir Fanlu akan terluka ia berteriak, “Fanlu jangan melawan, lari!”

Fanlu tahu niat baik Pingting, tapi ia tahu, para pemanah cukup tak berdaya untuk pertarungan jarak dekat, tapi jika mereka lari, sungguh tidak lucu kalau mereka di hujani panah dari belakang. Ia berteriak, “Kalian pergi duluan, aku akan membereskan mereka sebelum menyusul.”

Ia baru saja selesai membereskan seorang musuh yang meyerangnya dengan cepat.

Wuuu!!

Suaran langkah kaki kuda bergermuruh dan menggetarkan dataran. Meskipun ringan dan sepertinya terasa jauh, tapi rasa-rasanya sudah berada disamping telinga, dentuman gemuruh itu membuat jantung mereka berdetak kencang.

Pingting dengan pucat berkata,”Astaga, pasukan sudah tiba! LARIiiiii!”

Semua orang tahu, He Xia telah tiba, dan jantung mereka membeku. Sudah hampir sembilan puluh persen dari pasukan awal yang mereka serang terbunuh. Mereka menarik tali kekang kuda mereka dan memacunya menuju timur. Pingting mencambuk kudanya untuk berlari sekencangnya. Lalu ia berbalik untuk melihat, kepulan tebal debu berombak naik ke langit tepat di belakang mereka. Mungkin sekitar sepuluh ribu pasukan, dengan kekuatan penuh, menuju ke arah mereka.

“Bunuh!”

Teriakan peperangan mengguncang bumi. Mereka menerkam dari belakang.

Tuan Muda, Tuan Muda menangkapku…..

Bukan, bukan Tuan Muda, tapi He Xia

He Xia yang telah membunuh Yaotian. He Xia yang telah membunuh Raja Bei Mo. He Xia yang telah membunuh anggota keluarga kerajaan Gui Li.

Bumi seperti terbelah karena hentakan kaki pasukan.

Angin melolong dan pasir menerjang. Gelombang hujan panah mengear mereka, dan beberap orang yang melindungi Pingting yang berada disekitarnya mulai berjatuhan dari kuda mereka.

Zuiju menangis karena panik.

Pingting berteriak, “Jangan menengok ke belakang! Lari ke depan!” ia mencambuk kuda Zuiju dengan kuat.

Setiap kali hujan panah dilepaskan, selalu ada yang jatuh dari kudanya. Setiap darah yang mengalir menjadi jalan keluar agar mereka bisa mempertahankan yang masih hidup.

Kuda-kuda yang kehilangan penunggangnya berteriak dan berada di sekitar mayat tuan mereka. Mereka terlalu takut untuk berlari dan mungkin mereka terluka karena hujan panah yang tak henti-hentinya.

Suara tiupan panjang dari terompet tanduk terdengar tak putus-putus merobek hati setiap orang.

Panah-panah masih terus berdatangan seperti hujan, keadaan mereka sudah sangat mengkhawatirkan. Hanya tersisa sekitar selusin yang masih terus menjaga Pingting dan mereka masih belum mencapai desa kecil yang berada didepan mata mereka.

Suara langkah kaki di belakang mereka yang sepertinya datang dari neraka, semakin dekat dan lebih dekat lagi.

Darah segar bercipratan di dekat Pingting begitu para penjaga tertusuk panah tajam. Cairan hangat melukis udara tak henti-hentinya.

Kenapa?

Tuan Muda Jin Anwang, kenapa?

Berapa banyak nyawa yang telah kau kubur antara surga dan bumi? Kemana perginya kelembutanmu, kebaikan hatimu, dan senyum menawanmu yang dulu?

Untuk apa kau membuat sungai darah dan gunung mayat?

Angin menempa matanya. Darah hangat dan dunia yang tetap diam bercampur menjadi pemandangan yang indah. Pingting berada tepat di tengahnya, airmatanya mengalir turun.

Bei Mo, Dong Li, Gui Li, Yun Chang….

He Su, Gui Changqing, Tuan Putri Yaotian….

Berapa banyak darah segar yang dibutuhan untuk menghadirkan sebuah negara baru? Untuk melahirkan gunung dan sungai yang mempesona.

“Ah…” sebuah suara terdengar dari belakang lagi.

Suara seseorang terjatuh dari kudanya, salah seorang prajurit untuk selamanya dikenang di bagian pembentukan negara ini.

Hanya sebentar saja, sampai jumlah orang yang melindungi Pingting hanya tinggal empat orang.

Huo Yunan yang paling tua, Zuiju memberikannya kuda terbaik. Ia tidak terjatuh dalam perjalanan ini, ketika Zuiju menyadari gurunya berada di depan, Zuiju menjadi lebih tenang.

Fanlu melindungi Zuiju dan Huo Yunan, tapi ketika ia khawatir sekali Pingting akan terjatuh kali ini. Ia segera pindah ke samping Pingting sambil berguman, “Aku akan melindungimu.”

Pingting menggelengkan kepalanya, “Lindungi Zuiju.” Fanlu menatapnya dan Pingting mengibaskan tangannya, ia berkata dengan serius, “Lindungi Zuiju!”

Setelah beberapa saat, pasukan yang mengejar mereka sudah semakin dekat. Mereka seperti mangsa kecil yang terkepung kumpulan srigala gila.

Mereka tiba-tiba mendengar teriakan Zuiju, kudanya terkena panah. Kudanya memberontak kesakitan, Zuiju tidak siap dengan keadaanya dan ia hampir terjatuh dari kudanya, beruntunglah Fanlu segera menyusulnya dan berhasil menangkapnya tepat waktu.

Beberapa panah masih berdatangan, Fanlu melindungi Zuiju dengan sebelah tangannya, dengan pedangnya ia mematahkan setiap panah yang datang. Tiba-tiba ia merasa sakit di punggungnya, dan ia segera tahu kalau ia terkena panah. Ia takut Zuiju akan khawatir, ia merapatkan giginya dan menahan teriakan kesakitannya. Dan ia terus memacu kudanya maju.

Saat itu, penjaga terakhir Pingting jatuh dari kudanya.

Kondisi mereka benar-benar tanpa harapan.

Pengejar dari belakang sudah sangat dekat, dan yang berada paling depan adalah He Xia dengan jubah merahnya.

Ketika prajurit terakhir yang bersamanya jatuh, sesosok yang dikenalnya dari masa lalu muncul dari sudut pandangannya.

Saat itu, jangtung He Xia berdetak kencang.

Begitu kencangnya sampai terasa sakit.

Dulu, ibunya membawa seorang anak perempuan kecil, anak itu tersenyum sambil melangkah melewati salju.

“Lihat, anak perempuan yang tangguh. Takdirnya pasti terkait keluarga Jin Anwang.”

“Xia’er apa kau tahu takdir?”

Tidak.

Tidak!

Apa itu takdir? Dimana Jin Anwang sekarang?

Kemana Tuan Besar Jin Anwang menghilang?

He Xia kembali pada kenyataan, ia menyadari masa lalu sudah berlalu dalam sekejab. Tapi hujan panah telah berhenti, para pemanah telah menghentikan tugas mereka, menunggu perintah selanjutnya. “Mengapa kalian berhenti memanah? Siapa yang menyuruh kalian berhenti?” He Xia berteriak dengan marah.

Ia mengambil sebuah busur besar dari salah seorang prajurit dan memasang sebuah anak panah, lalu membidiknya ke depan.

Seseorang di sampingnya berteriak sambil mendekatinya “Hentikan!” tapi He Xia lebih cepat, anak panah itu telah keluar dari busurnya. Suara panah membelah angin terdengar keras.

Panah yang tajam membelah udara, melewati mayat yang bergelimpangan di tanah di antara dua kubu, membawa suara angin bersamanya.

Anak panah meninggalkan busurnya.

Ia telah membidiknya, ia sendiri yang melepaskan panahnya.

He Xia menyaksikan panah terbang di depanya, dan untuk sesaat, waktu sepertinya berhenti disana. Jari-jari yang telah melepaskan panah serasa kebas. Ia merasa hampa dan kosong. Ia merasa hatinya menghilang, tapi lautan yang tidak bisa menghilangkan rasa dahaga hanya lebih menyakitinya.

“Selama bertahun-tahun, kita belajar dan bermain bersama, bahkan belajar seni perang dan berkuda bersama.”

“Tapi aku hanya seperti kakak laki-laki bagimu dan kau seperti adik perempuan bagiku.”

“Dulu, siapa yang berkata, akan menemukan pria terbaik untuk dijadikan suami atau selamanya tidak akan pernah meninkah dan meninggal dalam usia tua?”

Tapi, mengapa harus Chu Beijie……..

Mengapa, mengapa harus Chu Beijie?

Panah itu melaju lurus ke arah punggung Pingting. Karena panah itu tidak dilepaskan dengan sekuat tenaga, kecepatannya sedikit berkurang ketika mendekati Pingting. Zuiju yang berkuda bersama Fanlu melihatnya dan ia berteriak sekuatnya, “Menunduk!”

Pingting mendengarnya dan segera menunduk tanpa ragu sedetikpun. Sebuah panah dingin melewati punggungnya.

Ia berkeringat dingin, banyak sekali.

He Xia melihat Pingting bisa menghindari panahnya. Hatinya sedikit lega, meskipun ia sangat marah. Ia berteriak pada Dongzhuo, “Berani sekali kau!”

“Tuan Muda, itu Pingting! Itu Pingting!” Dongzhuo maju sambil mengenggam erat tali pelana kudanya. Dan airmatanya berurai deras.

He Xia memegang tali cambuknya tinggi tapi ia kehilangan semangat untuk memacu kudanya. Ia melihat ke depan dan menyadari Pingting dan kelompoknya telah menjauh lagi. He Xia mendorong Dongzhuo menjauh, suaranya sangat dingin, “Aku akan menghukummu begitu kita kembali.” Ia mengeluarkan pedangnya, “Jangan tembak, kejar saja! Tangkap mereka hidup-hidup!”

Para prajurit berteriak ‘Baik’ dan langkah kaki kuda kembali bergemuruh.

Pingting dan yang lainnya telah kelelahan. Tak peduli seberapa sering mereka memacu kuda mereka, kuda-kuda itu semakin melambat. Suara gemuruh di belakang mereka sangat menekan. Satu-satunya harapan mereka hanya mencapai puncak bukit.

Begitu mereka mencapai kaki bukit, kuda Pingting sudah sangat kelelahan. Kuda itu terjatuh, Pingting terhempas ke tanah dan terguling. Ia menegadah, debuh dari tanah bergelombang naik tepat di depan matanya. Dan di tengah kepulan debu kuning itu, ada sebuah wajah yang sangat dikenalnya.

He Xia, Tuan Muda Jin Anwang, Suami Ratu Yun Chang, penguasa kejam yang meracuni empat negara.

Tuan Mudanya dulu…..

Tuan mudanya yang dulu tampan, pria yang romantis dan sangat cerdas, sekarang memiliki sorot mata penuh kepedihan.

Rasa sakit karena kesepian, dan tak mampu keluar dari penderitaan itu, sungguh menyakitkan.

Jenis kesengsaraan yang tak akan berakhir.

Pingting tertangkap prajurit musuh, karena terjatuh terguling, dan sekarang ia menatap sepasang mata dari pria yang dulu tumbuh bersamanya.

Ketika Pingting menegadah, ia sangat terkejut. Sepertinya segala sesuatu menjadi tidak seruwet perkiraannya. Jalan keluar untuk mengakhiri segala kekacauan ini, tepat berada di depannya.

Begitu memikirkan hal itu, ia hanya bisa tersenyum pahit pada He Xia.

Sejak Pingting jatuh dari kudanya, tatapan He Xia tak pernah meninggalkannya. Ketika ia melihatnya tersenyum, rasanya seperti terperangkap, sehingga teriakan pertempuran yang berisik tak terdengar lagi, seperti membeku di tengah angin yang berhembus.

He Xia menghentikan kudanya.

Begitu kudanya berhenti, para prajurit di belakangnya juga ikut berhenti. Setelah beberapa saat, semua orang dan kuda ikut terdiam. Meskipun mereka telah mencipratkan darah dan teriakan peperangan memenuhi udara, mereka terkejut karena bisa sunyi secara tiba-tiba.

Seluruh dunia seakan ikut terdiam.

Apa itu kau?

Orang yang dulu kukenal?

Atau kita sudah lupa seperti apa kita dulu?

Mungkin ada sesuatu diantara tatapan He Xia dan Pingting. Seperti daun yang jatuh ketika musim gugur, daun itu mengalir mengikuti arus sungai kecil.

Disaat itu, sebuah teriakkan memecah kesunyian.

“Pingting!” dalam dan tegas, teriakan seorang penakluk yang masuk ke dalam telinga setiap orang.

Seorang pria, menunggangi kuda, tiba-tiba terlihat di atas bukit. Sosoknya seperti seorang dewa. Sebelum yang lainnya sempat bereaksi, pria itu berlari ke arah Pingting dengan kecepatan cahaya.

Pria itu memiliki kekuatan untuk membuat diam semua orang.

Jubah hitamnya berkibar di udara, seperti sepasang sayap di belakang punggungnya.

Chu Beijie telah tiba.

Panglima Chu Beijie sudah tiba.

Reaksi He Xia cukup cepat, begitu ia melihat Chu Beijie, ia turun dari kudanya dan berjalan ke arah Pingting. Ia mengeluarkan pedangnya, tapi sebelum pedang itu melukai Pingting, sekilas cahaya melintas di matanya. Pedang Chu Beijie dengan cepat menghantam He Xia. He Xia segera menarik pedangnya untuk menahan serangan Chu Beijie

Clang!

Dua pedang berharga itu saling beradu, menghasilkan percikan yang menyilaukan. Saat itu, sepuluh ribu prajurit dengan bendera bertuliskan ‘Shuitai’ mulai bermunculan dari tempat Chu Beijie berada sebelumnya. Para Jendral dan prajurit keluar dari balik bukit seperti gelombang pasang.

Qing Tian berkuda tepat di bawah bendera, matanya berkaca-kaca menahan airmata yang terasa panas, ia menggenggam pedangnya dan berteriak, “Saudaraku, ikuti aku! He Xia telah membunuh Tuan Putri!”

“He Xia membunuh Tuan Putri!”

“Balas dendam Tuan Putri! Bunuh!”

“Bunuh! Bunuh!”

“Tuan Putri!”

“Tuan Putri Yaotian!”

Ketika He Xia melihat resimen Shuitai muncul tepat dari belakang Chu Beijie, ia tahu, itu bukan hal baik. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak mengurus Qing Tian dengan benar sebelumnya. Tapi sekarang sudah tak bergua menyesalinya, karena saat ini, pedang Chu Beijie bergerak seperti bayangan mengarah ke tubuhnya.

Chu Beijie, ketika melihat Pingting berdiri di tanah, ia menjadi kalut dan menggerakan pedangnya dengan putus asa. He Xia berhasil menahan serangannya, sehingga terdengar bunyi pedang beradu terus menerus, tapi He Xia tidak juga bergerak selangkahpun.

Para prajurit di sekitarnya sangat kacau, mereka bertarung dengan sekuat tenaga.

Dengan kilauan sinar dari senjata-senjata, sulit untuk membedakan sesuatu.

Ini pertama kalinya Chu Beijie dan He Xia bertarung di medan perang. Serangan yang terus-menerus membuat tangan mereka mati rasa. Mereka berhenti sejenak sambil saling menatap, dan saling menghela napas ‘tak heran, ia seorang Jendral terkenal yang bukan hanya nama’ begitulah di dalam pikiran mereka masing-masing.

He Xia menghindari sebuah serangan, dan terseyum, “Panglima Zhen Beiwang sungguh hebat, sampai bisa mengerakan salah satu resimenku. Tapi aku membawa dua resimen, jadi kekuatanku masih dua kali lipat. Bagaimana kau berpikir kau akan menang?”

Chu Beije tidak melepaskan kewaspadaannya. Pedangnya mengayun lagi dan dihindari oleh He Xia dari sisi pundak kanannya. Wajah Chu Beijie tetap tenang, ia tersenyum dan menjawab pertanyaan He Xia dengan pertanyaan lagi, “Apakah Tuan Besar Jin Anwang memiliki pasukan? Dari sekian puluhan ribu prajurit ini, menurutmu berapa banyak yang bersedia menyerahkan nyawanya untukmu?”

Perkataannya seperti menusuk di bekas luka bagi He Xia. He Xia juga mendengar resimen Shuitai meneriakan Yaotian dan hatinya seperti tersengat, apalagi yang mengucapkannya adalah musuhnya saat ini, Chu Beijie. Ia menjadi sangat marah dan berteriak, “Terima ini.” He Xia mengayunkan pedangnya lagi, tapi sebelum pedang itu mencapai Chu Beijie, tiba-tiba pedangnya berbalik arah kepada Pingting yang berada di sisi lain.

“Berani sekali kau!” Chu Beijie berteriak, dan ia melompat untuk melindungi Pingting.

Sudut bibir He Xia terbentuk sebuah senyum pahit ketiaka pedangnya berbalik arah lagi, kali ini mengarah pada leher Chu Beijie. Chu Beijie segera melihat pedang itu meluncur kearahnya, tapi ia sama sekali tidak takut. Pedang di tangannya, meskipun agak telat, segera mengarah pada lengannya yang memegang pedang secepat kilat. Meskipun He Xia berhasil menusuknya, tapi ia pasti akan kehilangan lengan tangannya. He Xia tidak mungkin menerima hal itu, maka ia segera menarik pedangnya.

Mereka berdua saling menarik napas, meskipun hal itu terjadi dalam sekejab, tapi nyawa mereka telah dipertaruhkan. He Xia berpikir ulang, ia baru saja menempuh perjalanan jauh, fisiknya sudah sangat kelelahan dibanding Chu Beijie. Kalau ia tidak memikirkan sebuah rencana, tidak mungkin ia bisa menang melawannya.

Ia tahu Chu Beijie sangat peduli pada Pingting, kalau Pingting terancam bahaya, ia akan sangat menyesali dirinya yang tak bisa melindunginya. Karena itu He Xia memanfaatkan hal ini dan mencoba menyerang Pingting.

Chu Beijie tidak melakukan perjalanan jauh selama berhari-hari, maka kondisi tubuhnya jauh lebih baik. Ia bisa melindungi Pingting dalam kekacauan medan perang, dan sikapnya yang tenang, teguh seperti gunung.

He Xia menahan beberapa serangan lagi, dan ia mulai memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Chu Beijie merasa ia hampir menang sehingga ia mengurangi serangannya sedikit. Ia tidak menyangka He Xia tersenyum dingin dan tiba-tiba menendang kakinya dengan keras. Tangan kanan He Xia bergerak cepat menyerang Chu Beijie dan tangan kirinya mengeluarkan sebuah pedang kecil dan menghunuskannya ke arah Pingting yang berada di belakang Chu Beijie.

Chu Beijie masih berusaha menahan serangan He Xia ketika ia melihat sebuah cahaya di sudut matanya, dan menyadari He Xia memeganng pedang kecil di tangan kirinya. Dan sudah cukup terlambat untuk menghentikannya, maka ia berteriak, “Pingting.”

Hatinya seperti tersambar petir.

Pingting yang berada di belakang Chu Beijie pandangannya atas pertarungan mereka sepenuhnya tertutup, maka ia tidak mengetahui gerakan He Xia. Ia menujurkan lehernya untuk melihat ketika pedang kecil He Xia muncul di depan matanya. Mata Pingting melihat pedang itu dan terus ke tangan si pemegangnya dan akhirnya menatap matanya. Ekspresi He Xia sangat tenang dan jernih sama sekali tidak ada kemarahan atau dendam di baliknya.

Hati He Xia serasa seperti disobek dengan keras, sehingga tangannya diluar kemauannya jadi melambat. Ekspresinya menampakan wajah kesepian tapi segera digantikan kepedihan.

“Tuan Muda!” tangisan Pingting melewati telinganya.

He Xia melangkah mundur beberapa kali dan ia menatap tubuhnya sendiri. Sebuah jalur darah mengalir dari pundak ke dadanya. Dan ia menyadari rasa sakit luar biasa yang mulai menyebar.

Chu Beijie melangkah mendekati He Xia, tiba-tiba seseorang maju menghadangnya dan mulai menyerangnya. Chu Beijie bersiap menyerangnya dan hendak menjatuhkannya dengan sekali serangan, tiba-tiba Pingting mendekati Chu Beijie dan memeluk lengannya, “Jangan! Jangan bunuh Dongzhuo!”

Chu Beijie memperhatikan anak muda didepannya dan ia teringat, pemuda itu yang dulu meloloskan diri dari kediamannya. Sekarang ia mengenakan pakaian seorang Jendral, Dongzhuo membantu He Xia  menaiki kudanya dan menuju kerumunan pertarungan.

He Xia menahan sakitnya dan berkuda menjauh dari Chu Beijie. Ia berteriak, “Mundur! Dengarkan perintahku, mundur ke arah barat!”

Adalah kesalahan He Xia sama sekali tidak terpikirkan Chu Beijie akan tiba-tiba datang membawa pasukan, tapi jumlah pasukan yang diabawa He Xia masih lebih banyak di banding Chu Beijie. Selama mereka bisa mundur dan menyusun rencana kembali, tidak sulit menghancurkan resimen Shuitai.

Gelombang rasa sakit menjalar diseluruh dada dan pundaknya.

Para prajurit He Xia merasa tidak nyaman selama pertarungan, ketika mereka mendengar perintah mundur, mereka segera melanjutkan pesannya, “Mundur, barat, mundur ke barat!”

Mereka semua mundur perlahan ke arah barat.

Resimen Shuitai baru saja pulih, dan mereka harus melawan dua prajurit musuh masing-masing, maka agak sulit bagi mereka untuk meneruskan pertarungan.

Kedua pihak segera terlihat terbagi menjadi dua bagian.

Chu Beijie menggunakan kesempatan ini untuk menaikan Pingting kekudanya. Ia memeluknya dan bertanya, “Kau terluka?”

Pingting sepertinya terluka tapi tidak juga, ia menggelengkan kepalanya. Dan bertanya, “Apa Tuan Muda terluka parah?”

Karena He Xia hampir melukai Pingting, Chu Beijie sangat membencinya sampai ia ingin mencincangnya sampai halus. Tapi ketika ia melihat ekspresi sedih Pingting, ia hanya menjawabnya dengan samar, “Aku tidak tahu, tapi kuharap ia terluka parah.”

Qing Tian juga bertarung sampai ia terluka dan berlumur darah. Ketika ia melihat pasukan He Xia telah mundur, ia tahu situasinya tidak bagus. Ia segera memacu kudanya ke arah Chu Beijie dan bertanya, “Panglima Zhen Beiwang, apa yang akan kita lakukan? Aku khawatir pasukan kita tidak akan bertahan.”

Tapi sudut bibir Chu Beijie terangkat sedikit. Ia belum lagi berucap sebuah suara terompet tanduk ditiup panjang terdengar. Kali ini datang dari arah barat. Setiap resimen Yun Chang, masing-masing memiliki suara khas tiupan terompet tanduk mereka. Qing Tian mendengarkan dengan seksama, alis matanya menaik tanda senang, “Resimen Yongxiao!”

He Xia juga mendengarnya dan ia sangat terkejut. “Resimen Yongxiao?” ia tahu kalau resimen ini kebanyakan terdiri dari orang-orang Dong Lin dan Bei Mo, mustahil menggunakan mereka untuk melawan Chu Beijie. Karena itu ia tidak memerintahkan mereka untuk membantu di Qierou, dan kedatangan mereka sama sekali bukan kabar bagus.

Di barat, kepulan debu menaik ke langit.

Ia samar-samar melihat bendera yang berkibar, dan para parjurit yang bermunculan dari balik hutan yang lebar di arah barat, seperti rombongan semut. Ze Yin sangat bersemangat tinggi, ia berkuda paling depan, memimpin yang lainnya. Dari kejauhan ia berteriak, “He Xia, kau masih ingat padaku, Ze Yin?”

Ketika Ze Yin berakata seperti itu, para prajurit Bei Mo yang tergabung dalam Resimen Yongxiao berteriak seperti gemuruh.

Siapa yang masih mau menjadi tahanan perang jika melihat Panglima mereka seperti dewa yang turun dari langit?

Dan lagi-lagi He Xia baru menyadari, Ze Yin telah lolos dari genggamannya.

Para Jendral He Xia menjadi panik, pandangan mereka semua menuju kearahnya, dan menunggu perintahnya. Ekspresi He Xia menandakan kalau hal ini sama sekali diluar perkiraannya. Ia tetap tenang dan tak bereaksi, ia seperti patung batu dari kejauhan.

Moran mendekati Ze Yin dan berteriak kencang, “Para prajurit, Panglima Ze Yin berada di sini dan Panglima Zhen Beiwang berada di sisi depan, jangan lepaskan He Xia!”

Begitu para tahanan perang Dong Lin mendengar nama Panglima Zhen Beiwang, mereka menjadi liar dan mereka mencengkram kuat tombak mereka.

Bumi berguncang.

Dengan begini, kedua sisi memiliki kekuatan seimbang. Resimen Yongxiao dan Resimen Shuitai mengepung pasukan He Xia dari timur dan barat. Di sebelah selatan adalah kota Qierou, berarti tinggal arah utara yang tersisa. Musuh memiliki tiga pahlawan, dan disisi mereka hanya ada Tuan Besar Jin Anwang yang terluka.

Dengan begitu, meskipun mereka percaya pada He Xia, tapi mereka tak bisa menahan ketakutan di hati mereka.

Tangan He Xia terkepal erat, meskipun wajahnya pucat, ekspresinya tetap tenang dan tangannya menggenggam pangkal pedangnya.

Sang letnan yang berada disebelahnya berkata dengan pelan, “Apa kita akan membuat jalan keluar untuk anda?”

“Jalan keluar?” mendengarnya, He Xia tertawa kecil, “Lihatlah di utara.”

Sang Letnan menengadah ke arah utara, di kejauhan ia bisa mengetahui ada sesuatu yang tidak biasa. Para prajurit sudah panik dan ketika mereka melihat lebih banyak bendera, ketakutan mereka mengalahkan akal sehat. Dan begitu pendatang baru itu muncul, para prajurit bisa melihat bendera besar bertuliskan “Pasukan Ting.”

Sepertinya ketika Ruohan masih bersembunyi di Bei Mo, ia menerima kabar, He Xia memimpin pasukannya kembali ke Yun Chang lebih cepat dari perkiraan Chu Beijie dan yang lainnya. Ia segera tahu, situasinya tidak baik, dan segera memimpin beberapa ribu prajurit dari Pasukan Ting untuk misi penyelamatan. Mereka sama sekali tidak beristirahat, berjalan berhari-hari sepanjang siang dan malam, dan akhirnya tiba disini, saat ini.

Dan hasilnya, pasukan He Xia sepenuhnya terkepung, tak ada celah melarikan diri.

Semua prajurit He Xia terlihat sangat ketakutan.

Sang Letnan berkata lagi, “Tolong perintahkan sesuatu, Tuan Besar Jin Anwang, aku khawatir jika terlambat akan sangat tidak bagus!”

Sepertinya He Xia sama sekali tidak mendengarnya, ia terus menatap bendera yang berkibar di kejauhan. Ia berguman, “Pasukan Ting…. Jadi mereka menamakannya Pasukan Ting.” He Xia sangat luar biasa pintar, maka ia langsung bisa tahu siapa yang mencetuskan nama itu. Pada akhirnya ia tidak bisa menghunuskan pedangnya langsung kearah Pingting, dan mulutnya tersenyum gembira. Lalu ia merasa luka di tubuhnya menjadi nyata, dan menebar rasa sakit yang luar biasa. Luka yang dibuat Chu Biejie ternyata lebih parah dari dugaannya.

He Xia perlahan mengangkat tangannya memegang lukanya, terasa darah hangat mengalir melewati jemarinya.

Dug!

Tuan Muda Jin Anwang yang telah menaklukan empat negara, yang sedang berada di puncak kejayaannya, terjatuh dari kudanya.

“Tuan! Tuan!” Dongzhuo turun dari kudanya, mendekati dan berlutut di sisi He Xia.

Ia agak menjauh dari sisinya tapi selalu khawatir pada He Xia, karena ia takut ia akan membuat Tuannya marah lagi, dan membuat lukanya semakin parah, maka ia baru berani mendekatinya sekarang.

Ketika Dongzhuo tiba disampingnya, ia menyadari kalau tubuh He Xia telah berlumuran darah dan ia bernapas dengan sulit. Meskipun Dongzhuo sudah tidak lagi mengenal Tuan Mudanya seperti dulu, tapi ia sama sekali tidak menyangka akan melihat keadaan Tuan Mudanya seperti ini.

“Tuan? Tuan!” ia memanggil beberapa kali, tapi He Xia tidak menjawab. Dongzhuo mulai menangis.

Melihat Dongzhuo menangis, yang lainnya segera tahu, situasinya mereka tanpa harapan.

Kota Qierou di belakang mereka, dan mereka di kepung dari tiga penjuru, apalagi lawan mereka di pimpin oleh Chu Beijie.

Seseorang menjatuhkan senjata yang dipegangnya, dan yang lain, segera mengikutinya.

Suara senjata berjatuhan segera bergema dari depan sampai ke belakang. Sampai akhirnya seluruh prajurit He Xia melepaskan sejata mereka.

Siapa yang berharap mati, jika mereka masih bisa hidup.

Chu Beijie dan Pingting perlahan mendekati He Xia. Mereka diikuti oleh Qing Tian dan Jendral lainnya dan juga para prajurit. Para prajurit yang menyerah segera memberi jalan untuk mereka, seperti perahu besar yang membelah riak air.

Pingting melihat He Xia terbaring di tanah, berlumuran darah. Matanya berkaca-kaca, ia turun dari kuda dan perlahan mendekati. Chu Beijie khawatir He Xia masih belum mati dan akan melukai Pingting, matanya terus mengawasi Pingting.

Dongzhuo tenggelam dalam perasaan duka, ketika ia melihat sepasang sepatu bersulam yang dilapisi debu, ia menengadah dengan mata yang basah.

Pingting berbisik,  “Biar kulihat, boleh?”

Dongzhuo ragu sejenak, tapi ia segera memberi ruang.

Pingting perlahan berlutut di samping He Xia.

Di bawah cahaya kemerahan matahari, segalanya terlihat sangat keji.

Wajah yang dikenalnya, teliga, hidung, bibir, tangan yang sangat pandai menilai senjata, orang yang sangat dikenalnya sedang sekarat.

“Jangan bergerak, diam disitu. Aku akan melukismu, aku akan membuatmu menjadi cantik.”

Itulah hal pertama yang diucapkan He Xia padanya.

Mengapa kuas putih yang indah itu menorehkan cerita pahit?

Tuan Muda Jin Anwang yang hebat, telah menjadi Tuan Besar Jin Anwang yang menaklukan empat negara, apa kau sama sekali tidak merasa menyesal?

Seperti aku, aku menyesal atas hilangnya nyawa-nyawa yang tak berdosa, aku menyesal atas darah yang mengalir tak terbendung, aku menyesal karena tidak menjaga baik-baik kebahagiaan kecil yang pernah kumiliki.

“Tuan? Tuan?” Pingting mengoyangkan wajah He Xia.

Wajah tampannya, meskipun berlinang darah tetap terlihat sangat pucat.

Bibir He Xia bergerak sedikit, ia perlahan membuka matanya tapi tidak sadar sepenuhnya. Ia merasakan tangan Pingting yang lembut di pipinya dan ia tersenyum sambil menahan sakit, “Kau disini?”

Dua kata saja, sudah cukup membuat airmata Pingting jatuh berderai seperti hujan. Ia mengangguk menjawab, “Aku disini Tuan.”

Tapi sepertinya He Xia sudah tidak bisa melihat apapun. Matanya menatap kosong, napasnya terengah-engah sebelum ia menjawab, “Mengapa kau memanggilku Tuan?” suaranya sangat lembut.

Pingting terkejut.

He Xia tersenyum lebih lebar, seperti mengerahkan seluruh usahanya untuk itu. Ia berkata lagi, “Putri, Putri, lihat, aku membawakanmu mahkota Ratu yang kujanjikan…”

Mahkota Ratu, aku menjanjikanmu Mahkota Ratu. Aku sudah mendapatkan pembuat perhiasan terbaik dan mengumpulkan batu permata terbaik juga untuk membuat Mahkota Ratu untuk istriku.

Lihatlah, aku sudah mendapatkan empat negara, dan akhirnya aku tahu untuk apa semua kemenangan itu. Semua itu untuk mendapatkan senyummu, seperti yang kau perlihatkan ketika membuka tirai manik-manik.

Aku akan memainkan tarian pedang untukmu, dan memetik bunga untuk rambutmu.

Aku ingat, rambutmu yang halus dan tebal seperti air terjun, sangat memikat.

Aku juga ingat, kau senang sekali jika aku memuji jari-jemarimu, sangat indah dan halus.

Istriku, kau akan menjadi wanita paling terhormat di seluruh dunia, sejak itu tak ada seorangpun yang akan berani mengejekmu lagi.

Aku tidak akan membuatmu menangis lagi di ruangan kecil dan gelap itu.

“Mahkota Ratu, Mahkota Ratu…” He Xia berguman pelan.

Tangannya yang juga berlumuran darah bergetar, berusaha mengeluarkan Mahkota Ratu dari balik lengan bajunya yang tidak ada. Ia masih berusaha mengeluarkan tenaganya untuk mencari-cari di balik lengan bajunya.

Pingting yang berlutut di sisinya, menggenggam erat tangan He Xia. Sepertinya jika ia melepaskannya, ia tidak akan bisa lagi menahan nyawa Tuan Mudanya  untuk dibawa angin.

Tatapan mata He Xia yang kosong terlihat gembira.

Senyumnya masih tetap mempesona seperti dulu, tapi ia terlalu pucat. Ia berjuang menangkat tangannya dan bernapas dengan sangat sulit, “Putri, Mahkota Ratu….. Mahkota Ratu…..” ia berhenti sejena dan matanya melebar dan ia berkata dengan lebih keras, “Apa kau melihatnya? Apa kau melihatnya?”

Pingting menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, berusaha menahan airmatanya. Tangan sebelahnya lagi masih memegang tangan Tuan Mudanya yang mulai dingin. Ia berkata, “Aku melihatnya, aku melihatnya.”

He Xia menghela napas lega, wajah tampannya lagi-lagi tersenyum. Itulah senyum Tuan Mudanya di masa lalu, seperti angin yang berhembus di musim semi.

He Xia berusaha membebaskan tangannya dari genggaman Pingting dan berusaha menyentuh wajah Pingting tapi sebelum berhasil ia sudah tidak memiliki tenaga sama sekali.

He Xia sudah mencapai batasnya, ia menghabiskan tenaga terakhirnya di jemarinya yang bergetar.

Sepertinya jarak antara jemarinya dan wajah Yaotian terlalu jauh. Ia bersedia menghabiskan seluruh waktunya untuk sisi yang berbeda.

Tapi sepertinya waktunya sudah habis.

Tangannya bergetar dan akhirnya perlahan jatuh ke tanah.

Pingting masih berlutut ketika He Xia menutup matanya untuk terakhir kalinya. Senar terakhir yang masih ia simpan di sudut hatinya seperti telah putus terbelah oleh angin.

Mati, Tuan Mudanya telah mati.

Ia bukan lagi Tuan Besar Jin Anwang, bukan juga Jendral terkenal, bukan Raja Setan yang meracuni seluruh penduduk empat negara, ia hanya He Xia yang lembut.

He Xia yang jatuh cinta pada Yaotian, dan He Xia yang meninggal sambil memikirkan istrinya.

Kekayaan dan kemasyuran, hidup dan mati, kekuasaan dan nama baik, sudah tidak ada urusan lagi dengannya.

Semua kenangan masa lalu terlontar keluar di ingatannya, dalam sekejab mata. Segala nampak kosong dan hanya kegelapan pekat yang tertinggal di depannya.

Dalam kegelapan, ia seperti melihat tatapan tajam He Xia dengan eskspresinya yang dulu pernah sangat cermelang, penuh canda tawa, tapi kemudian berubah menjadi sepasang mata yang penuh kepedihan. Tapi di saat terakhirnya ketika ia berusaha untuk mengapai mahkota Ratu khayalannya, kebahagiaan terpancar di matanya.

Tuan Mudanya, disaat saat terakhir sebelum kematiannya, sangat merindukan wanita yang dulu miliknya dan sangat mencintainya.

Ini membuktikan kalau ia tidak selalu kesepian, istrinya yang seperti bunga yang juga penguasa Yun Chang, orang yang juga menginginkan kematiannya, dulu pernah menemaninya. Istrinya pernah mendengarkan suara kecapi dan nyanyian juga melihat tarian-tarian bersamanya, disampingnya.

Ketika ia mendapatkan segalanya, ia juga kehilangan segalanya, ekspresi lembut itu, kegembiraan dan kesenangan yang membuatnya terhanyut, apakah semua itu palsu?

Pertunjukan kembang api sudah usai.

Semua menjadi masa lalu.

Pingting terlalu berduka dan tubuhnya tak kuat lagi bertahan, ia terjatuh dengan lunglai, dalam pelukan hangat.

Pelukan Chu Beijie.

Kapanpun, dimanapun, pelukan itu selalu membuatnya merasa nyaman.

Pelukan itu.

--00--

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar