Suara
gemuruh tiba-tiba terdengar di telinga Fanlu.
“Aneh.”
Fanlu menatap ke langit dan melihat titik hitam kecil di langit. “Bentuk
putaran itu biasanya menandakan burung elang berkembang biak. Mengapa tiba-tiba
melintas di atas sini?”
Pingting
mengerutkan dahinya dan menatap ke atas. Ia dengan melihat dengan jelas burung
elang di langit. “Ketika Tuan tiba di Qierou ia membawa sekelompok kecil
pasukan untuk bersembunyi di perbatasan Yun Chang dan Bei Mo, dan bertugas
memperhatikan pergerakan musuh. Kapten mereka memiliki seekor burung elang tua.
Mungkinkah burung miliknya? Mengapa ia terbang di atas sini?” mendengar elang
itu tak henti-hentinya berkoak, sepertinya menandakan sesuatu yang mendesak. Ia
segera berlari ke dalam ruangan dan mengambil lonceng elang yang tinggalkan Chu
Beijie. Ia mengguncangnya dan terdengar suara bersahutan antara lonceng dan
elang.
Lonceng
ini di berikan pemilik elang pada Chu Beijie untuk mengirim pesan. Begitu elang
mendengar suara lonceng, maka ia tahu ia telah tiba di tempat tujuannya. Dengan
sebuah teriakan panjang, sang elang menukik ke bawah.
Ada
sebuah sobekan kain kecil terbungkus di kakinya. Fanlu segera berusaha
meraihnya.
Zuiju
berdiri di kejauhan dan berkata, “Hati-hati jangan sampai terpatuk!”
Ucapan
Zuiju belum selesai ketika secarik kain itu berada di tangan Fanlu. Fanlu
tersenyum, “Elang ini lebih ramah daripada kau. Ia tidak akan mematuk orang
sembarangan. Biar aku membaca pesan apa yang dibawanya.” Ia membukanya dan
ekspresinya tiba-tiba berubah.
Zuiju
sudah cukup lama mengenalnya, dan ini pertama kalinya ia melihat ekspresi jelek
seperti itu diwajahnya. Ia segera bertanya, “Ada masalah apa?”
“He
Xia dalam perjalanan, membawa dua resimen untuk menyerang Qierou.”
“Ah!”
Zuiju menangis karena panik, segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia
menatap Pingting.
Mendegar
perkataan Fanlu, warna di wajah Pingting menghilang. Pingting merasa tubuhnya
bergetar, setelah agak lama ia bertanya, “Resimen mana yang dibawa? Dan berapa
lama lagi mereka tiba?”
Fanlu
tersenyum getir, “Bagaimana aku tahu? Kain ini hanya cukup mengatakan sebanyak
itu. Tapi melihat tulisannya yang begitu berantakan, kurasa ini sangat
mendesak.”
Zuiju
berkata dengan takut, “Kedatangan He Xia adalah bencana. Apa Nona sudah
memikirkan rencana bagus? Oh tidak, mengapa Tuan Besar memilih hari ini untuk
pergi?”
Pingting
mengelengkan kepalanya, “Bagus Tuan pergi hari ini.” suaranya menghilang
diakhir ucapannya.
Fanlu
berkata dengan serius, “Kalian harus segera pergi. Aku akan bertahan disini dan
berusaha menahan He Xia selama mungkin.”
Wajahnya
menampakan kemurahan hati yang langka.
Zuiju
sangat panik dan hampir berteriak menangis.
Pingting
memikirkan sejenak, dan segera menegakkan kepalanya. Ia telah membuat
keputusan, “Perintahkan penyerahan diri segera. Kalau He Xia bergegas menuju
Qierou, ia pasti sudah tahu segalanya. Pedangnya akan segera menghunusmu tanpa
satu katapun.”
Huo
Yunan dan yang lainnya sudah tiba dan begitu mendengar kata-kata Pingting ia
bertanya, “Tidak mungkin semenakutkan itu ya kan? Elang lebih cepat dari
pasukan, seharusnya masih ada waktu. Kita bisa menunggu sampai Tuan Besar
kembali, jadi bisa merencakan sesuatu yang lebih baik.”
Pingting
mengelengkan kepalanya dengan gusar. “Tidak, kita harus segera keluar dari Qierou,
Fanlu, pikirkan cara untuk mengungsikan seluruh penduduk Qierou sesegera
mungkin. Tidak perlu persiapan, kita harus segera meninggalkan kota dan menuju
arah Resimen Shuitai.”
Fanlu
mengerutkan dahinya, “Kita masih belum tahu apakah rencana membujuk Qing Tian
berjalan mulus. Bagaimana kalau ia menolak, dan membawa pasukannya untuk
membantu He Xia. Dan dalam perjalanan mereka kita menghadangnya, bukankah itu
berarti kematian?”
Pingting
menghela napas, “He Xia membawa dua resimen kesini, dan kita hanya punya
beberapa ribu prajurit. Kalau Tuan Besar tidak berhasil meyakinkan resimen
Shuitai tepat waktu, kita pasti akan mati. Tapi kalau Resimen Shuitai bergabung
bersama Tuan Besar dan kita berhasil mencapai mereka, kita memiliki kesempatan
untuk hidup.”
Pignting
sangat mengerti situasinya dengan baik, dan kata-katanya cukup menjelaskan
keadaan serta kemungkinan yang terjadi. Mereka semua tiba-tiba menyadari betapa
suramnya situasi saat ini dan jantung mereka serasa menciut. Mereka bahkan
tidak repot-repot membawa perbekalan, mereka segera bergegas meninggalkan kota.
Fanlu
memanggil beberapa pegawai di rumahnya, ia memberikan mereka sejumlah besar
koin perak, dan dengan sopan memerintahkan, “Hari ini, ada tugas yang harus
kalian selesaikan. Masing-masing dari kalian menulis sepuluh pemberitahuan dan
tempelkan di tempat yang paling ramai di seluruh kota. Tugas ini harus selesai
dalam setengah jam, dan aku akan memberikan kalian perak lebih banyak lagi
untuk kalian masing-masing.”
Para
pegawai ini belum pernah memegang koin perak sebanyak itu di tangan mereka.
Mereka menjadi sedikit curiga dengan keberuntungan yang tiba-tiba ini, “Tuan
ingin kami menuliskan apa? Kami akan menulisnya dengan indah.”
Alis
Fanlu berkerut, “Konyol sekali! Siapa yang menyuruh kalian untuk menulis dengan
indah? Cepatlah, ini harus dilakukan dengan cepat! Masing-masing dari kalian
tulis --- Cepatlah! Lari, pergi ke arah timur! ---- cukup empat hurup ini, dan
jangan bertanya apa artinya. Lakukan saja seperti yang kuperintahkan. Dengar
baik-baik, kalian harus menyelesaikannya dalam setengah jam!”
Begitu
para pegawainya berhamburan pergi, Fanlu bergegas ke pintu belakang. Zuiju dan
yang lainnya telah memegang kuda di tangan mereka. Ketika Zuiju melihat Fanlu
ia segera memeberikan tali kekang kepadanya, Fanlu segera menaiki kudanya dan
berkata, “Ayo berangkat!”
Suara
langkah kaki kuda segera terdengar bergemuruh. Mereka semua memacu kudanya kea
rah gerbang kota. Pasar hari ini tidak ada kegiatan, maka pintu gerbang di
tutup lebih cepat dari biasanya. Begitu Fanlu tiba di bawah gerbang kota, ia
menegadah dan berteriak, “Buka gerbang! Cepatlah buka gerbangnya!”
Si
penjaga melihat sang Gubernur berteriak ke arahnya untuk membukakan gerbang,
mereka menjadi panik dan segera membukanya. Begitu pintu bergerak, pengumuman
yang baru saja di tempelkan mulai memperlihatkan hasilnya, semakin banyak orang
yang berkumpul dengan menaiki kuda mereka menuju gerbang. Ternyata mereka
adalah para prajurit yang berangkat bersama Chu Beijie, mereka berbaur dengan
warga sekitar, dan bersiap menunggu. Begitu gerbang mulai terbuka, sudah lebih
dari seratus orang yang berkumpul dan bersenjata lengkap.
Gerbang
kota terbuka dengan suara gesekan kayu yang kuat, perlahan mulai memperlihatkan
celah untuk satu orang lewat, Fanlu melewatinya terlebih dahulu, tapi begitu
kudanya menginjakan kakinya di luar gerbang, sebuah panah terbang membelah
angin dari arah depan. Kepala Fanlu miring untuk menghindari panah itu, sungguh
beruntung, panah itu menancap ke gerbang.
Zuiju
berteriak, “Celaka, mereka sudah tiba. Cepatlah tutup pintunya kembali. Mungkin
kita bisa bertahan di dalam.”
“Tidak.”
Pingting berkata dengan tenang, “Itu panah yang dilepaskan dengan terburu-buru,
mereka belum bisa sepenuhnya mencapai kita. Mereka harus membentuk formasi
untuk pengepungan, kita masih lebih cepat dari He Xia.” Pingting tersenyum kecil.
Disaat
genting seperti itu, senyumnya terlihat lebih cerah dibanding bintang yang
bersinar
Melihat
Pingting yang begitu yakin, kekhawatiran semua orang menghilang, keberanian
mereka semakin meningkat.
Di
sisi gerbang selalu tersedia beberapa perisai kecil, Fanlu mengambil satu dan
ia berteriak, “Ayo maju!”
Seluruh
tubuhnya bergetar karena semangatnya meningkat.
Kali
ini, beberapa panah terbang ke arah Fanlu, tapi panah-panah itu segera
berjatuhan begitu Fanlu menahannya dengan perisainya, bukan panah yang kuat
yang biasa digunakan dalam peperangan. Ini berarti ucapan Pingting benar, dan
Fanlu merasa sedikit tenang, karena jumlah mereka yang sangat sedikit sekali.
Ia menaikan perisainya dan menghalau panah-panah itu satu demi satu. Sampai
gerbang kota sepenuhnya terbuka lebar, dan mereka yang berada di belakangnya
mengikuti tindakannya. Mereka mengambil perisai-perisai untuk melindungi tubuh
mereka. Dan mereka yang tidak kebagian perisai, berlindung disampingnya, hujan
panah mulai berdatangan, menyerang mereka begitu mereka bergerak keluar
gerbang.
Begitu
mereka berada di luar gerbang, mereka sudah bisa melihat pasukan musuh yang
hampir mencapai pinggiran kota Qierou. Jumlah musuh tak banyak, hanya sekitar
seratus orang lebih, tapi bisa diketahui kebanyakan dari mereka adalah para
pemanah.
Fanlu
berteriak, ia mengeluarkan pedangnya yang berat dan panjang. Ia segera menusuk
seorang prajurit begitu ia mengeluarkan senjatanya, orang-orang di belakangnya
juga telah tiba di tempat, mereka semua adalah para prajurit khusus Chu Beijie,
orang-orang pilihan, begitu kilauan cahaya pedang mulai bermunculan, perang
dimulai.
Kemampuan
bela diri Fanlu tidak begitu bagus, tapi ia cepat dan bela diri lawannya juga
tidak begitu bagus. Mereka berteriak dan beradu pedang, dan beberapa musuh
mulai berjatuhan dari kuda mereka sambil berlumuran darah.
Pingting
khawatir Fanlu akan terluka ia berteriak, “Fanlu jangan melawan, lari!”
Fanlu
tahu niat baik Pingting, tapi ia tahu, para pemanah cukup tak berdaya untuk
pertarungan jarak dekat, tapi jika mereka lari, sungguh tidak lucu kalau mereka
di hujani panah dari belakang. Ia berteriak, “Kalian pergi duluan, aku akan
membereskan mereka sebelum menyusul.”
Ia
baru saja selesai membereskan seorang musuh yang meyerangnya dengan cepat.
Wuuu!!
Suaran
langkah kaki kuda bergermuruh dan menggetarkan dataran. Meskipun ringan dan
sepertinya terasa jauh, tapi rasa-rasanya sudah berada disamping telinga,
dentuman gemuruh itu membuat jantung mereka berdetak kencang.
Pingting
dengan pucat berkata,”Astaga, pasukan sudah tiba! LARIiiiii!”
Semua
orang tahu, He Xia telah tiba, dan jantung mereka membeku. Sudah hampir
sembilan puluh persen dari pasukan awal yang mereka serang terbunuh. Mereka
menarik tali kekang kuda mereka dan memacunya menuju timur. Pingting mencambuk
kudanya untuk berlari sekencangnya. Lalu ia berbalik untuk melihat, kepulan
tebal debu berombak naik ke langit tepat di belakang mereka. Mungkin sekitar
sepuluh ribu pasukan, dengan kekuatan penuh, menuju ke arah mereka.
“Bunuh!”
Teriakan
peperangan mengguncang bumi. Mereka menerkam dari belakang.
Tuan
Muda, Tuan Muda menangkapku…..
Bukan,
bukan Tuan Muda, tapi He Xia
He
Xia yang telah membunuh Yaotian. He Xia yang telah membunuh Raja Bei Mo. He Xia
yang telah membunuh anggota keluarga kerajaan Gui Li.
Bumi
seperti terbelah karena hentakan kaki pasukan.
Angin
melolong dan pasir menerjang. Gelombang hujan panah mengear mereka, dan beberap
orang yang melindungi Pingting yang berada disekitarnya mulai berjatuhan dari
kuda mereka.
Zuiju
menangis karena panik.
Pingting
berteriak, “Jangan menengok ke belakang! Lari ke depan!” ia mencambuk kuda
Zuiju dengan kuat.
Setiap
kali hujan panah dilepaskan, selalu ada yang jatuh dari kudanya. Setiap darah
yang mengalir menjadi jalan keluar agar mereka bisa mempertahankan yang masih
hidup.
Kuda-kuda
yang kehilangan penunggangnya berteriak dan berada di sekitar mayat tuan
mereka. Mereka terlalu takut untuk berlari dan mungkin mereka terluka karena
hujan panah yang tak henti-hentinya.
Suara
tiupan panjang dari terompet tanduk terdengar tak putus-putus merobek hati
setiap orang.
Panah-panah
masih terus berdatangan seperti hujan, keadaan mereka sudah sangat
mengkhawatirkan. Hanya tersisa sekitar selusin yang masih terus menjaga
Pingting dan mereka masih belum mencapai desa kecil yang berada didepan mata
mereka.
Suara
langkah kaki di belakang mereka yang sepertinya datang dari neraka, semakin dekat
dan lebih dekat lagi.
Darah
segar bercipratan di dekat Pingting begitu para penjaga tertusuk panah tajam.
Cairan hangat melukis udara tak henti-hentinya.
Kenapa?
Tuan
Muda Jin Anwang, kenapa?
Berapa
banyak nyawa yang telah kau kubur antara surga dan bumi? Kemana perginya
kelembutanmu, kebaikan hatimu, dan senyum menawanmu yang dulu?
Untuk
apa kau membuat sungai darah dan gunung mayat?
Angin
menempa matanya. Darah hangat dan dunia yang tetap diam bercampur menjadi
pemandangan yang indah. Pingting berada tepat di tengahnya, airmatanya mengalir
turun.
Bei
Mo, Dong Li, Gui Li, Yun Chang….
He
Su, Gui Changqing, Tuan Putri Yaotian….
Berapa
banyak darah segar yang dibutuhan untuk menghadirkan sebuah negara baru? Untuk
melahirkan gunung dan sungai yang mempesona.
“Ah…”
sebuah suara terdengar dari belakang lagi.
Suara
seseorang terjatuh dari kudanya, salah seorang prajurit untuk selamanya
dikenang di bagian pembentukan negara ini.
Hanya
sebentar saja, sampai jumlah orang yang melindungi Pingting hanya tinggal empat
orang.
Huo
Yunan yang paling tua, Zuiju memberikannya kuda terbaik. Ia tidak terjatuh
dalam perjalanan ini, ketika Zuiju menyadari gurunya berada di depan, Zuiju
menjadi lebih tenang.
Fanlu
melindungi Zuiju dan Huo Yunan, tapi ketika ia khawatir sekali Pingting akan
terjatuh kali ini. Ia segera pindah ke samping Pingting sambil berguman, “Aku
akan melindungimu.”
Pingting
menggelengkan kepalanya, “Lindungi Zuiju.” Fanlu menatapnya dan Pingting
mengibaskan tangannya, ia berkata dengan serius, “Lindungi Zuiju!”
Setelah
beberapa saat, pasukan yang mengejar mereka sudah semakin dekat. Mereka seperti
mangsa kecil yang terkepung kumpulan srigala gila.
Mereka
tiba-tiba mendengar teriakan Zuiju, kudanya terkena panah. Kudanya memberontak
kesakitan, Zuiju tidak siap dengan keadaanya dan ia hampir terjatuh dari
kudanya, beruntunglah Fanlu segera menyusulnya dan berhasil menangkapnya tepat
waktu.
Beberapa
panah masih berdatangan, Fanlu melindungi Zuiju dengan sebelah tangannya,
dengan pedangnya ia mematahkan setiap panah yang datang. Tiba-tiba ia merasa
sakit di punggungnya, dan ia segera tahu kalau ia terkena panah. Ia takut Zuiju
akan khawatir, ia merapatkan giginya dan menahan teriakan kesakitannya. Dan ia
terus memacu kudanya maju.
Saat
itu, penjaga terakhir Pingting jatuh dari kudanya.
Kondisi
mereka benar-benar tanpa harapan.
Pengejar
dari belakang sudah sangat dekat, dan yang berada paling depan adalah He Xia
dengan jubah merahnya.
Ketika
prajurit terakhir yang bersamanya jatuh, sesosok yang dikenalnya dari masa lalu
muncul dari sudut pandangannya.
Saat
itu, jangtung He Xia berdetak kencang.
Begitu
kencangnya sampai terasa sakit.
Dulu,
ibunya membawa seorang anak perempuan kecil, anak itu tersenyum sambil
melangkah melewati salju.
“Lihat,
anak perempuan yang tangguh. Takdirnya pasti terkait keluarga Jin Anwang.”
“Xia’er
apa kau tahu takdir?”
Tidak.
Tidak!
Apa
itu takdir? Dimana Jin Anwang sekarang?
Kemana
Tuan Besar Jin Anwang menghilang?
He
Xia kembali pada kenyataan, ia menyadari masa lalu sudah berlalu dalam sekejab.
Tapi hujan panah telah berhenti, para pemanah telah menghentikan tugas mereka,
menunggu perintah selanjutnya. “Mengapa kalian berhenti memanah? Siapa yang
menyuruh kalian berhenti?” He Xia berteriak dengan marah.
Ia
mengambil sebuah busur besar dari salah seorang prajurit dan memasang sebuah
anak panah, lalu membidiknya ke depan.
Seseorang
di sampingnya berteriak sambil mendekatinya “Hentikan!” tapi He Xia lebih
cepat, anak panah itu telah keluar dari busurnya. Suara panah membelah angin
terdengar keras.
Panah
yang tajam membelah udara, melewati mayat yang bergelimpangan di tanah di
antara dua kubu, membawa suara angin bersamanya.
Anak
panah meninggalkan busurnya.
Ia
telah membidiknya, ia sendiri yang melepaskan panahnya.
He
Xia menyaksikan panah terbang di depanya, dan untuk sesaat, waktu sepertinya
berhenti disana. Jari-jari yang telah melepaskan panah serasa kebas. Ia merasa
hampa dan kosong. Ia merasa hatinya menghilang, tapi lautan yang tidak bisa
menghilangkan rasa dahaga hanya lebih menyakitinya.
“Selama
bertahun-tahun, kita belajar dan bermain bersama, bahkan belajar seni perang
dan berkuda bersama.”
“Tapi
aku hanya seperti kakak laki-laki bagimu dan kau seperti adik perempuan
bagiku.”
“Dulu,
siapa yang berkata, akan menemukan pria terbaik untuk dijadikan suami atau
selamanya tidak akan pernah meninkah dan meninggal dalam usia tua?”
Tapi,
mengapa harus Chu Beijie……..
Mengapa,
mengapa harus Chu Beijie?
Panah
itu melaju lurus ke arah punggung Pingting. Karena panah itu tidak dilepaskan
dengan sekuat tenaga, kecepatannya sedikit berkurang ketika mendekati Pingting.
Zuiju yang berkuda bersama Fanlu melihatnya dan ia berteriak sekuatnya,
“Menunduk!”
Pingting
mendengarnya dan segera menunduk tanpa ragu sedetikpun. Sebuah panah dingin
melewati punggungnya.
Ia
berkeringat dingin, banyak sekali.
He
Xia melihat Pingting bisa menghindari panahnya. Hatinya sedikit lega, meskipun
ia sangat marah. Ia berteriak pada Dongzhuo, “Berani sekali kau!”
“Tuan
Muda, itu Pingting! Itu Pingting!” Dongzhuo maju sambil mengenggam erat tali
pelana kudanya. Dan airmatanya berurai deras.
He
Xia memegang tali cambuknya tinggi tapi ia kehilangan semangat untuk memacu
kudanya. Ia melihat ke depan dan menyadari Pingting dan kelompoknya telah
menjauh lagi. He Xia mendorong Dongzhuo menjauh, suaranya sangat dingin, “Aku
akan menghukummu begitu kita kembali.” Ia mengeluarkan pedangnya, “Jangan
tembak, kejar saja! Tangkap mereka hidup-hidup!”
Para
prajurit berteriak ‘Baik’ dan langkah kaki kuda kembali bergemuruh.
Pingting
dan yang lainnya telah kelelahan. Tak peduli seberapa sering mereka memacu kuda
mereka, kuda-kuda itu semakin melambat. Suara gemuruh di belakang mereka sangat
menekan. Satu-satunya harapan mereka hanya mencapai puncak bukit.
Begitu
mereka mencapai kaki bukit, kuda Pingting sudah sangat kelelahan. Kuda itu
terjatuh, Pingting terhempas ke tanah dan terguling. Ia menegadah, debuh dari
tanah bergelombang naik tepat di depan matanya. Dan di tengah kepulan debu
kuning itu, ada sebuah wajah yang sangat dikenalnya.
He
Xia, Tuan Muda Jin Anwang, Suami Ratu Yun Chang, penguasa kejam yang meracuni
empat negara.
Tuan
Mudanya dulu…..
Tuan
mudanya yang dulu tampan, pria yang romantis dan sangat cerdas, sekarang
memiliki sorot mata penuh kepedihan.
Rasa
sakit karena kesepian, dan tak mampu keluar dari penderitaan itu, sungguh
menyakitkan.
Jenis
kesengsaraan yang tak akan berakhir.
Pingting
tertangkap prajurit musuh, karena terjatuh terguling, dan sekarang ia menatap
sepasang mata dari pria yang dulu tumbuh bersamanya.
Ketika
Pingting menegadah, ia sangat terkejut. Sepertinya segala sesuatu menjadi tidak
seruwet perkiraannya. Jalan keluar untuk mengakhiri segala kekacauan ini, tepat
berada di depannya.
Begitu
memikirkan hal itu, ia hanya bisa tersenyum pahit pada He Xia.
Sejak
Pingting jatuh dari kudanya, tatapan He Xia tak pernah meninggalkannya. Ketika
ia melihatnya tersenyum, rasanya seperti terperangkap, sehingga teriakan
pertempuran yang berisik tak terdengar lagi, seperti membeku di tengah angin
yang berhembus.
He
Xia menghentikan kudanya.
Begitu
kudanya berhenti, para prajurit di belakangnya juga ikut berhenti. Setelah
beberapa saat, semua orang dan kuda ikut terdiam. Meskipun mereka telah
mencipratkan darah dan teriakan peperangan memenuhi udara, mereka terkejut
karena bisa sunyi secara tiba-tiba.
Seluruh
dunia seakan ikut terdiam.
Apa
itu kau?
Orang
yang dulu kukenal?
Atau
kita sudah lupa seperti apa kita dulu?
Mungkin
ada sesuatu diantara tatapan He Xia dan Pingting. Seperti daun yang jatuh
ketika musim gugur, daun itu mengalir mengikuti arus sungai kecil.
Disaat
itu, sebuah teriakkan memecah kesunyian.
“Pingting!”
dalam dan tegas, teriakan seorang penakluk yang masuk ke dalam telinga setiap
orang.
Seorang
pria, menunggangi kuda, tiba-tiba terlihat di atas bukit. Sosoknya seperti
seorang dewa. Sebelum yang lainnya sempat bereaksi, pria itu berlari ke arah
Pingting dengan kecepatan cahaya.
Pria
itu memiliki kekuatan untuk membuat diam semua orang.
Jubah
hitamnya berkibar di udara, seperti sepasang sayap di belakang punggungnya.
Chu
Beijie telah tiba.
Panglima
Chu Beijie sudah tiba.
Reaksi
He Xia cukup cepat, begitu ia melihat Chu Beijie, ia turun dari kudanya dan
berjalan ke arah Pingting. Ia mengeluarkan pedangnya, tapi sebelum pedang itu
melukai Pingting, sekilas cahaya melintas di matanya. Pedang Chu Beijie dengan
cepat menghantam He Xia. He Xia segera menarik pedangnya untuk menahan serangan
Chu Beijie
Clang!
Dua
pedang berharga itu saling beradu, menghasilkan percikan yang menyilaukan. Saat
itu, sepuluh ribu prajurit dengan bendera bertuliskan ‘Shuitai’ mulai
bermunculan dari tempat Chu Beijie berada sebelumnya. Para Jendral dan prajurit
keluar dari balik bukit seperti gelombang pasang.
Qing
Tian berkuda tepat di bawah bendera, matanya berkaca-kaca menahan airmata yang
terasa panas, ia menggenggam pedangnya dan berteriak, “Saudaraku, ikuti aku! He
Xia telah membunuh Tuan Putri!”
“He
Xia membunuh Tuan Putri!”
“Balas
dendam Tuan Putri! Bunuh!”
“Bunuh!
Bunuh!”
“Tuan
Putri!”
“Tuan
Putri Yaotian!”
Ketika
He Xia melihat resimen Shuitai muncul tepat dari belakang Chu Beijie, ia tahu,
itu bukan hal baik. Ia mengutuk dirinya sendiri karena tidak mengurus Qing Tian
dengan benar sebelumnya. Tapi sekarang sudah tak bergua menyesalinya, karena
saat ini, pedang Chu Beijie bergerak seperti bayangan mengarah ke tubuhnya.
Chu
Beijie, ketika melihat Pingting berdiri di tanah, ia menjadi kalut dan
menggerakan pedangnya dengan putus asa. He Xia berhasil menahan serangannya,
sehingga terdengar bunyi pedang beradu terus menerus, tapi He Xia tidak juga
bergerak selangkahpun.
Para
prajurit di sekitarnya sangat kacau, mereka bertarung dengan sekuat tenaga.
Dengan
kilauan sinar dari senjata-senjata, sulit untuk membedakan sesuatu.
Ini
pertama kalinya Chu Beijie dan He Xia bertarung di medan perang. Serangan yang
terus-menerus membuat tangan mereka mati rasa. Mereka berhenti sejenak sambil
saling menatap, dan saling menghela napas ‘tak heran, ia seorang Jendral
terkenal yang bukan hanya nama’ begitulah di dalam pikiran mereka
masing-masing.
He
Xia menghindari sebuah serangan, dan terseyum, “Panglima Zhen Beiwang sungguh
hebat, sampai bisa mengerakan salah satu resimenku. Tapi aku membawa dua
resimen, jadi kekuatanku masih dua kali lipat. Bagaimana kau berpikir kau akan
menang?”
Chu
Beije tidak melepaskan kewaspadaannya. Pedangnya mengayun lagi dan dihindari
oleh He Xia dari sisi pundak kanannya. Wajah Chu Beijie tetap tenang, ia
tersenyum dan menjawab pertanyaan He Xia dengan pertanyaan lagi, “Apakah Tuan
Besar Jin Anwang memiliki pasukan? Dari sekian puluhan ribu prajurit ini,
menurutmu berapa banyak yang bersedia menyerahkan nyawanya untukmu?”
Perkataannya
seperti menusuk di bekas luka bagi He Xia. He Xia juga mendengar resimen
Shuitai meneriakan Yaotian dan hatinya seperti tersengat, apalagi yang
mengucapkannya adalah musuhnya saat ini, Chu Beijie. Ia menjadi sangat marah
dan berteriak, “Terima ini.” He Xia mengayunkan pedangnya lagi, tapi sebelum
pedang itu mencapai Chu Beijie, tiba-tiba pedangnya berbalik arah kepada
Pingting yang berada di sisi lain.
“Berani
sekali kau!” Chu Beijie berteriak, dan ia melompat untuk melindungi Pingting.
Sudut
bibir He Xia terbentuk sebuah senyum pahit ketiaka pedangnya berbalik arah
lagi, kali ini mengarah pada leher Chu Beijie. Chu Beijie segera melihat pedang
itu meluncur kearahnya, tapi ia sama sekali tidak takut. Pedang di tangannya,
meskipun agak telat, segera mengarah pada lengannya yang memegang pedang
secepat kilat. Meskipun He Xia berhasil menusuknya, tapi ia pasti akan
kehilangan lengan tangannya. He Xia tidak mungkin menerima hal itu, maka ia
segera menarik pedangnya.
Mereka
berdua saling menarik napas, meskipun hal itu terjadi dalam sekejab, tapi nyawa
mereka telah dipertaruhkan. He Xia berpikir ulang, ia baru saja menempuh
perjalanan jauh, fisiknya sudah sangat kelelahan dibanding Chu Beijie. Kalau ia
tidak memikirkan sebuah rencana, tidak mungkin ia bisa menang melawannya.
Ia
tahu Chu Beijie sangat peduli pada Pingting, kalau Pingting terancam bahaya, ia
akan sangat menyesali dirinya yang tak bisa melindunginya. Karena itu He Xia
memanfaatkan hal ini dan mencoba menyerang Pingting.
Chu
Beijie tidak melakukan perjalanan jauh selama berhari-hari, maka kondisi
tubuhnya jauh lebih baik. Ia bisa melindungi Pingting dalam kekacauan medan
perang, dan sikapnya yang tenang, teguh seperti gunung.
He
Xia menahan beberapa serangan lagi, dan ia mulai memperlihatkan tanda-tanda
kelelahan. Chu Beijie merasa ia hampir menang sehingga ia mengurangi
serangannya sedikit. Ia tidak menyangka He Xia tersenyum dingin dan tiba-tiba
menendang kakinya dengan keras. Tangan kanan He Xia bergerak cepat menyerang
Chu Beijie dan tangan kirinya mengeluarkan sebuah pedang kecil dan
menghunuskannya ke arah Pingting yang berada di belakang Chu Beijie.
Chu
Beijie masih berusaha menahan serangan He Xia ketika ia melihat sebuah cahaya
di sudut matanya, dan menyadari He Xia memeganng pedang kecil di tangan
kirinya. Dan sudah cukup terlambat untuk menghentikannya, maka ia berteriak,
“Pingting.”
Hatinya
seperti tersambar petir.
Pingting
yang berada di belakang Chu Beijie pandangannya atas pertarungan mereka
sepenuhnya tertutup, maka ia tidak mengetahui gerakan He Xia. Ia menujurkan
lehernya untuk melihat ketika pedang kecil He Xia muncul di depan matanya. Mata
Pingting melihat pedang itu dan terus ke tangan si pemegangnya dan akhirnya
menatap matanya. Ekspresi He Xia sangat tenang dan jernih sama sekali tidak ada
kemarahan atau dendam di baliknya.
Hati
He Xia serasa seperti disobek dengan keras, sehingga tangannya diluar
kemauannya jadi melambat. Ekspresinya menampakan wajah kesepian tapi segera
digantikan kepedihan.
“Tuan
Muda!” tangisan Pingting melewati telinganya.
He
Xia melangkah mundur beberapa kali dan ia menatap tubuhnya sendiri. Sebuah
jalur darah mengalir dari pundak ke dadanya. Dan ia menyadari rasa sakit luar
biasa yang mulai menyebar.
Chu
Beijie melangkah mendekati He Xia, tiba-tiba seseorang maju menghadangnya dan
mulai menyerangnya. Chu Beijie bersiap menyerangnya dan hendak menjatuhkannya
dengan sekali serangan, tiba-tiba Pingting mendekati Chu Beijie dan memeluk
lengannya, “Jangan! Jangan bunuh Dongzhuo!”
Chu
Beijie memperhatikan anak muda didepannya dan ia teringat, pemuda itu yang dulu
meloloskan diri dari kediamannya. Sekarang ia mengenakan pakaian seorang
Jendral, Dongzhuo membantu He Xia menaiki
kudanya dan menuju kerumunan pertarungan.
He
Xia menahan sakitnya dan berkuda menjauh dari Chu Beijie. Ia berteriak,
“Mundur! Dengarkan perintahku, mundur ke arah barat!”
Adalah
kesalahan He Xia sama sekali tidak terpikirkan Chu Beijie akan tiba-tiba datang
membawa pasukan, tapi jumlah pasukan yang diabawa He Xia masih lebih banyak di
banding Chu Beijie. Selama mereka bisa mundur dan menyusun rencana kembali,
tidak sulit menghancurkan resimen Shuitai.
Gelombang
rasa sakit menjalar diseluruh dada dan pundaknya.
Para
prajurit He Xia merasa tidak nyaman selama pertarungan, ketika mereka mendengar
perintah mundur, mereka segera melanjutkan pesannya, “Mundur, barat, mundur ke
barat!”
Mereka
semua mundur perlahan ke arah barat.
Resimen
Shuitai baru saja pulih, dan mereka harus melawan dua prajurit musuh
masing-masing, maka agak sulit bagi mereka untuk meneruskan pertarungan.
Kedua
pihak segera terlihat terbagi menjadi dua bagian.
Chu
Beijie menggunakan kesempatan ini untuk menaikan Pingting kekudanya. Ia
memeluknya dan bertanya, “Kau terluka?”
Pingting
sepertinya terluka tapi tidak juga, ia menggelengkan kepalanya. Dan bertanya,
“Apa Tuan Muda terluka parah?”
Karena
He Xia hampir melukai Pingting, Chu Beijie sangat membencinya sampai ia ingin
mencincangnya sampai halus. Tapi ketika ia melihat ekspresi sedih Pingting, ia
hanya menjawabnya dengan samar, “Aku tidak tahu, tapi kuharap ia terluka
parah.”
Qing
Tian juga bertarung sampai ia terluka dan berlumur darah. Ketika ia melihat
pasukan He Xia telah mundur, ia tahu situasinya tidak bagus. Ia segera memacu
kudanya ke arah Chu Beijie dan bertanya, “Panglima Zhen Beiwang, apa yang akan
kita lakukan? Aku khawatir pasukan kita tidak akan bertahan.”
Tapi
sudut bibir Chu Beijie terangkat sedikit. Ia belum lagi berucap sebuah suara
terompet tanduk ditiup panjang terdengar. Kali ini datang dari arah barat.
Setiap resimen Yun Chang, masing-masing memiliki suara khas tiupan terompet
tanduk mereka. Qing Tian mendengarkan dengan seksama, alis matanya menaik tanda
senang, “Resimen Yongxiao!”
He
Xia juga mendengarnya dan ia sangat terkejut. “Resimen Yongxiao?” ia tahu kalau
resimen ini kebanyakan terdiri dari orang-orang Dong Lin dan Bei Mo, mustahil
menggunakan mereka untuk melawan Chu Beijie. Karena itu ia tidak memerintahkan
mereka untuk membantu di Qierou, dan kedatangan mereka sama sekali bukan kabar
bagus.
Di
barat, kepulan debu menaik ke langit.
Ia
samar-samar melihat bendera yang berkibar, dan para parjurit yang bermunculan
dari balik hutan yang lebar di arah barat, seperti rombongan semut. Ze Yin
sangat bersemangat tinggi, ia berkuda paling depan, memimpin yang lainnya. Dari
kejauhan ia berteriak, “He Xia, kau masih ingat padaku, Ze Yin?”
Ketika
Ze Yin berakata seperti itu, para prajurit Bei Mo yang tergabung dalam Resimen
Yongxiao berteriak seperti gemuruh.
Siapa
yang masih mau menjadi tahanan perang jika melihat Panglima mereka seperti dewa
yang turun dari langit?
Dan
lagi-lagi He Xia baru menyadari, Ze Yin telah lolos dari genggamannya.
Para
Jendral He Xia menjadi panik, pandangan mereka semua menuju kearahnya, dan
menunggu perintahnya. Ekspresi He Xia menandakan kalau hal ini sama sekali
diluar perkiraannya. Ia tetap tenang dan tak bereaksi, ia seperti patung batu
dari kejauhan.
Moran
mendekati Ze Yin dan berteriak kencang, “Para prajurit, Panglima Ze Yin berada
di sini dan Panglima Zhen Beiwang berada di sisi depan, jangan lepaskan He
Xia!”
Begitu
para tahanan perang Dong Lin mendengar nama Panglima Zhen Beiwang, mereka
menjadi liar dan mereka mencengkram kuat tombak mereka.
Bumi
berguncang.
Dengan
begini, kedua sisi memiliki kekuatan seimbang. Resimen Yongxiao dan Resimen
Shuitai mengepung pasukan He Xia dari timur dan barat. Di sebelah selatan
adalah kota Qierou, berarti tinggal arah utara yang tersisa. Musuh memiliki
tiga pahlawan, dan disisi mereka hanya ada Tuan Besar Jin Anwang yang terluka.
Dengan
begitu, meskipun mereka percaya pada He Xia, tapi mereka tak bisa menahan
ketakutan di hati mereka.
Tangan
He Xia terkepal erat, meskipun wajahnya pucat, ekspresinya tetap tenang dan
tangannya menggenggam pangkal pedangnya.
Sang
letnan yang berada disebelahnya berkata dengan pelan, “Apa kita akan membuat
jalan keluar untuk anda?”
“Jalan
keluar?” mendengarnya, He Xia tertawa kecil, “Lihatlah di utara.”
Sang
Letnan menengadah ke arah utara, di kejauhan ia bisa mengetahui ada sesuatu
yang tidak biasa. Para prajurit sudah panik dan ketika mereka melihat lebih
banyak bendera, ketakutan mereka mengalahkan akal sehat. Dan begitu pendatang
baru itu muncul, para prajurit bisa melihat bendera besar bertuliskan “Pasukan
Ting.”
Sepertinya
ketika Ruohan masih bersembunyi di Bei Mo, ia menerima kabar, He Xia memimpin
pasukannya kembali ke Yun Chang lebih cepat dari perkiraan Chu Beijie dan yang
lainnya. Ia segera tahu, situasinya tidak baik, dan segera memimpin beberapa
ribu prajurit dari Pasukan Ting untuk misi penyelamatan. Mereka sama sekali
tidak beristirahat, berjalan berhari-hari sepanjang siang dan malam, dan
akhirnya tiba disini, saat ini.
Dan
hasilnya, pasukan He Xia sepenuhnya terkepung, tak ada celah melarikan diri.
Semua
prajurit He Xia terlihat sangat ketakutan.
Sang
Letnan berkata lagi, “Tolong perintahkan sesuatu, Tuan Besar Jin Anwang, aku
khawatir jika terlambat akan sangat tidak bagus!”
Sepertinya
He Xia sama sekali tidak mendengarnya, ia terus menatap bendera yang berkibar
di kejauhan. Ia berguman, “Pasukan Ting…. Jadi mereka menamakannya Pasukan
Ting.” He Xia sangat luar biasa pintar, maka ia langsung bisa tahu siapa yang
mencetuskan nama itu. Pada akhirnya ia tidak bisa menghunuskan pedangnya
langsung kearah Pingting, dan mulutnya tersenyum gembira. Lalu ia merasa luka
di tubuhnya menjadi nyata, dan menebar rasa sakit yang luar biasa. Luka yang
dibuat Chu Biejie ternyata lebih parah dari dugaannya.
He
Xia perlahan mengangkat tangannya memegang lukanya, terasa darah hangat
mengalir melewati jemarinya.
Dug!
Tuan
Muda Jin Anwang yang telah menaklukan empat negara, yang sedang berada di
puncak kejayaannya, terjatuh dari kudanya.
“Tuan!
Tuan!” Dongzhuo turun dari kudanya, mendekati dan berlutut di sisi He Xia.
Ia
agak menjauh dari sisinya tapi selalu khawatir pada He Xia, karena ia takut ia
akan membuat Tuannya marah lagi, dan membuat lukanya semakin parah, maka ia
baru berani mendekatinya sekarang.
Ketika
Dongzhuo tiba disampingnya, ia menyadari kalau tubuh He Xia telah berlumuran
darah dan ia bernapas dengan sulit. Meskipun Dongzhuo sudah tidak lagi mengenal
Tuan Mudanya seperti dulu, tapi ia sama sekali tidak menyangka akan melihat
keadaan Tuan Mudanya seperti ini.
“Tuan?
Tuan!” ia memanggil beberapa kali, tapi He Xia tidak menjawab. Dongzhuo mulai
menangis.
Melihat
Dongzhuo menangis, yang lainnya segera tahu, situasinya mereka tanpa harapan.
Kota
Qierou di belakang mereka, dan mereka di kepung dari tiga penjuru, apalagi
lawan mereka di pimpin oleh Chu Beijie.
Seseorang
menjatuhkan senjata yang dipegangnya, dan yang lain, segera mengikutinya.
Suara
senjata berjatuhan segera bergema dari depan sampai ke belakang. Sampai
akhirnya seluruh prajurit He Xia melepaskan sejata mereka.
Siapa
yang berharap mati, jika mereka masih bisa hidup.
Chu
Beijie dan Pingting perlahan mendekati He Xia. Mereka diikuti oleh Qing Tian
dan Jendral lainnya dan juga para prajurit. Para prajurit yang menyerah segera
memberi jalan untuk mereka, seperti perahu besar yang membelah riak air.
Pingting
melihat He Xia terbaring di tanah, berlumuran darah. Matanya berkaca-kaca, ia
turun dari kuda dan perlahan mendekati. Chu Beijie khawatir He Xia masih belum
mati dan akan melukai Pingting, matanya terus mengawasi Pingting.
Dongzhuo
tenggelam dalam perasaan duka, ketika ia melihat sepasang sepatu bersulam yang
dilapisi debu, ia menengadah dengan mata yang basah.
Pingting
berbisik, “Biar kulihat, boleh?”
Dongzhuo
ragu sejenak, tapi ia segera memberi ruang.
Pingting
perlahan berlutut di samping He Xia.
Di
bawah cahaya kemerahan matahari, segalanya terlihat sangat keji.
Wajah
yang dikenalnya, teliga, hidung, bibir, tangan yang sangat pandai menilai
senjata, orang yang sangat dikenalnya sedang sekarat.
“Jangan
bergerak, diam disitu. Aku akan melukismu, aku akan membuatmu menjadi cantik.”
Itulah
hal pertama yang diucapkan He Xia padanya.
Mengapa
kuas putih yang indah itu menorehkan cerita pahit?
Tuan
Muda Jin Anwang yang hebat, telah menjadi Tuan Besar Jin Anwang yang menaklukan
empat negara, apa kau sama sekali tidak merasa menyesal?
Seperti
aku, aku menyesal atas hilangnya nyawa-nyawa yang tak berdosa, aku menyesal
atas darah yang mengalir tak terbendung, aku menyesal karena tidak menjaga
baik-baik kebahagiaan kecil yang pernah kumiliki.
“Tuan?
Tuan?” Pingting mengoyangkan wajah He Xia.
Wajah
tampannya, meskipun berlinang darah tetap terlihat sangat pucat.
Bibir
He Xia bergerak sedikit, ia perlahan membuka matanya tapi tidak sadar
sepenuhnya. Ia merasakan tangan Pingting yang lembut di pipinya dan ia
tersenyum sambil menahan sakit, “Kau disini?”
Dua
kata saja, sudah cukup membuat airmata Pingting jatuh berderai seperti hujan.
Ia mengangguk menjawab, “Aku disini Tuan.”
Tapi
sepertinya He Xia sudah tidak bisa melihat apapun. Matanya menatap kosong,
napasnya terengah-engah sebelum ia menjawab, “Mengapa kau memanggilku Tuan?”
suaranya sangat lembut.
Pingting
terkejut.
He
Xia tersenyum lebih lebar, seperti mengerahkan seluruh usahanya untuk itu. Ia
berkata lagi, “Putri, Putri, lihat, aku membawakanmu mahkota Ratu yang
kujanjikan…”
Mahkota
Ratu, aku menjanjikanmu Mahkota Ratu. Aku sudah mendapatkan pembuat perhiasan
terbaik dan mengumpulkan batu permata terbaik juga untuk membuat Mahkota Ratu
untuk istriku.
Lihatlah,
aku sudah mendapatkan empat negara, dan akhirnya aku tahu untuk apa semua
kemenangan itu. Semua itu untuk mendapatkan senyummu, seperti yang kau
perlihatkan ketika membuka tirai manik-manik.
Aku
akan memainkan tarian pedang untukmu, dan memetik bunga untuk rambutmu.
Aku
ingat, rambutmu yang halus dan tebal seperti air terjun, sangat memikat.
Aku
juga ingat, kau senang sekali jika aku memuji jari-jemarimu, sangat indah dan
halus.
Istriku,
kau akan menjadi wanita paling terhormat di seluruh dunia, sejak itu tak ada
seorangpun yang akan berani mengejekmu lagi.
Aku
tidak akan membuatmu menangis lagi di ruangan kecil dan gelap itu.
“Mahkota
Ratu, Mahkota Ratu…” He Xia berguman pelan.
Tangannya
yang juga berlumuran darah bergetar, berusaha mengeluarkan Mahkota Ratu dari
balik lengan bajunya yang tidak ada. Ia masih berusaha mengeluarkan tenaganya
untuk mencari-cari di balik lengan bajunya.
Pingting
yang berlutut di sisinya, menggenggam erat tangan He Xia. Sepertinya jika ia
melepaskannya, ia tidak akan bisa lagi menahan nyawa Tuan Mudanya untuk dibawa angin.
Tatapan
mata He Xia yang kosong terlihat gembira.
Senyumnya
masih tetap mempesona seperti dulu, tapi ia terlalu pucat. Ia berjuang
menangkat tangannya dan bernapas dengan sangat sulit, “Putri, Mahkota Ratu…..
Mahkota Ratu…..” ia berhenti sejena dan matanya melebar dan ia berkata dengan
lebih keras, “Apa kau melihatnya? Apa kau melihatnya?”
Pingting
menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, berusaha menahan airmatanya. Tangan sebelahnya
lagi masih memegang tangan Tuan Mudanya yang mulai dingin. Ia berkata, “Aku
melihatnya, aku melihatnya.”
He
Xia menghela napas lega, wajah tampannya lagi-lagi tersenyum. Itulah senyum
Tuan Mudanya di masa lalu, seperti angin yang berhembus di musim semi.
He
Xia berusaha membebaskan tangannya dari genggaman Pingting dan berusaha
menyentuh wajah Pingting tapi sebelum berhasil ia sudah tidak memiliki tenaga
sama sekali.
He
Xia sudah mencapai batasnya, ia menghabiskan tenaga terakhirnya di jemarinya
yang bergetar.
Sepertinya
jarak antara jemarinya dan wajah Yaotian terlalu jauh. Ia bersedia menghabiskan
seluruh waktunya untuk sisi yang berbeda.
Tapi
sepertinya waktunya sudah habis.
Tangannya
bergetar dan akhirnya perlahan jatuh ke tanah.
Pingting
masih berlutut ketika He Xia menutup matanya untuk terakhir kalinya. Senar terakhir
yang masih ia simpan di sudut hatinya seperti telah putus terbelah oleh angin.
Mati,
Tuan Mudanya telah mati.
Ia
bukan lagi Tuan Besar Jin Anwang, bukan juga Jendral terkenal, bukan Raja Setan
yang meracuni seluruh penduduk empat negara, ia hanya He Xia yang lembut.
He
Xia yang jatuh cinta pada Yaotian, dan He Xia yang meninggal sambil memikirkan
istrinya.
Kekayaan
dan kemasyuran, hidup dan mati, kekuasaan dan nama baik, sudah tidak ada urusan
lagi dengannya.
Semua
kenangan masa lalu terlontar keluar di ingatannya, dalam sekejab mata. Segala nampak
kosong dan hanya kegelapan pekat yang tertinggal di depannya.
Dalam
kegelapan, ia seperti melihat tatapan tajam He Xia dengan eskspresinya yang
dulu pernah sangat cermelang, penuh canda tawa, tapi kemudian berubah menjadi
sepasang mata yang penuh kepedihan. Tapi di saat terakhirnya ketika ia berusaha
untuk mengapai mahkota Ratu khayalannya, kebahagiaan terpancar di matanya.
Tuan
Mudanya, disaat saat terakhir sebelum kematiannya, sangat merindukan wanita
yang dulu miliknya dan sangat mencintainya.
Ini
membuktikan kalau ia tidak selalu kesepian, istrinya yang seperti bunga yang
juga penguasa Yun Chang, orang yang juga menginginkan kematiannya, dulu pernah
menemaninya. Istrinya pernah mendengarkan suara kecapi dan nyanyian juga melihat
tarian-tarian bersamanya, disampingnya.
Ketika
ia mendapatkan segalanya, ia juga kehilangan segalanya, ekspresi lembut itu,
kegembiraan dan kesenangan yang membuatnya terhanyut, apakah semua itu palsu?
Pertunjukan
kembang api sudah usai.
Semua
menjadi masa lalu.
Pingting
terlalu berduka dan tubuhnya tak kuat lagi bertahan, ia terjatuh dengan
lunglai, dalam pelukan hangat.
Pelukan
Chu Beijie.
Kapanpun,
dimanapun, pelukan itu selalu membuatnya merasa nyaman.
Pelukan
itu.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar