Minggu, 29 Oktober 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.69

-- Volume 3 chapter 69 --



Bermandikan cahaya pagi, Fei Zhaoxing memimpin pasukannya berjalan di dataran rata. Di kejauhan mereka sudah bisa melihat gerbang ibukota Gui Li.

Sisa-sisa pasukan Gui Li sudah dibereskan sepenuhnya. Di dalam dua kota yang tertutup, masing-masing berisi kepala Le Di dan Le Zhen.

Ayah dan anak yang dulunya adalah majikannya. Ia mengikuti mereka, mempertaruhkan nyawanya, menguras keringat, sampai akhirnya mereka berusaha merebusnya pelan-pelan, seperti membuang busur begitu seluruh burung mati terpanah.

Tidak puas! Ia benar-benar tidak puas!

Perasaan ini membuatnya berhianat tanpa ragu, dan akhirnya memberikan hasil.

Wuuuu……wuuuu…… suara terompet tanduk kuno terdengar panjang dan dalam, menandakan kedatangan mereka.

Gerbang di buka, Fei Zhaoxing memasuki Gui Li bersama pasukannya diantara suara panjang terompet tanduk.

Gui Li sudah tidak ada lagi. He Su sudah meninggal, kerajaan sudah hancur.

Dikedua sisi jalan, para penduduk berlutut memberi salam. Para penduduk dari negara yang dikalahkan dipaksa menyerahkan rumah untuk para prajurit. Mereka berlutut sambil gemetar, tatapan mereka antara marah dan takut. Mereka berusaha menyembunyikannya, agar tatapan tajam mereka tidak terlihat oleh para prajurit.

Tatapan mereka mungkin tidak baik, tapi hal itu tidak menurunkan semangat Fei Zhaoxing dan harga dirinya.

Ia tidak perlu merasa peduli. Para penduduk ini dengan rendah hati berlutut. Mereka tahu He Su hanya seorang pengecut. Mereka tidak tahu sebagai seorang penguasa, seseorang harus tegas, tanpa perasaan dan kejam.

Dan siapa lagi yang lebih baik dari He Xia, si romantis Tuan Muda Jin Anwang dengan bela dirinya yang mengagumkan dan juga ketampanannya.

Para penonton juga mengerti.

Fei Zhaoxing lebih tahu daripada He Xia. Yaotian, hal yang akan menyulitkan He Xia.

Begitu Yaotian menghembuskan napas terakhirnya di dalam istana Yun Chang, tidak ada lagi yang mengikat He Xia, ia tidak terhentikan.

Hal ini membuat Fei Zhaxing sangat gembira. Kehidupan berjudi dengannya. Sangat penting untuk melihat kemenangan. Fei Zhaxing telah salah mengikuti Le Zhen, tapi kali ini ia berhasil bertaruh pada sisi yang menang.

Ia memilih He Xia dan mendapatkan kesempatan emas.

Setelah melewati para penduduk yang berlutut, semakin ia kedalam, ia semakin menyadari jalanan semakin sepi. Biasanya ia akan melihat tatapan ketidakpastian di mata penduduk, tapi di bawah tatapan dingin pasukan Yun Chang di siang hari seperti ini, ekspresi mereka sama semua seperti patung.

Salah satu pengawal He Xia yang dipercaya menyambut mereka di jalan. Ia sangat bersemangat ketika berkata pada Fei Zhaoxing yang hendak menuju istana, “Tuan Muda Jin Anwang tidak berada di istana, Jendral Fei silakan menuju Kediaman Jin Anwang.”

Fei Zhaoxing mengangguk, menarik tali kekangnya dan berbelok. Kediaman Jin Anwang tempat tinggal He Xia sebelumnya jadi menunggu disana termasuk wajar.

Akhirnya ia tiba di Kediaman Jin Awang. Pemandangan yang ia lihat adalah kehancuran. Ia terkejut untuk beberapa saat sebelum mengikuti para penjaga  melewati pintu masuk yang tinggi.

Tempat itu terlihat hijau karena banyaknya rerumputan yang sangat tinggi.

Di tengah kolam yang kering, terlihat api unggun, He Xia berdiri sendirian di tengah kesunyian.

Sosok kesepian ini mampir menguasai seluruh sungai dan gunung untuk selamanya, dan namanya akan selalu dikenang.

Fei Zhaoxing tidak berani menurunkan kewaspadaannya. Ia berlajan mendekat dan berdiri lalu berkata dengan sopan, “Melapor pada Tuan Besar Jin Anwang, aku sudah membawa kepala Le Di dan Le Zhen.”

He Xia tahu ia sudah tiba sejak beberapa saat lalu. Ia berbalik dan menatapnya lalu tersenyum, “Kerja bagus, kau sudah melakukan dengan baik, aku sudah menyiapkan hadiahmu. Kemarilah, dan bacakan.”

Seorang pegawal datang menghampiri, membuka sebuah gulungan dan mulai membaca dengan keras. Hadianya adalah seperti yang diharapkan, sangat berlimpah. Fei Zhaoxing terbiasa mengikuti Le Zhen maka ia sering mengunjungi istana sejak kecil. Hadiah yang diberikan padanya, termasuk benda berharga yang tidak mungkin diberikan oleh Raja Gui Li terdahulu.

He Xia duduk di sebuah kursi. Ekspresinya seperti tersenyum tapi tawa di matanya juga terlihat meskipun tidak jelas, sulit untuk ditebak. Fei Zhaoxing menunggu sampai si penjaga selesai membaca dan berlutut untuk berterima kasih atas hadiahnya. “Aku hanya bertempur di medan perang yang mudah, terima kasih berkat berkah Tuan Besar Jin Anwang. Aku tidak berani menerima begitu banyak hadiah.” Lalu ia bertanya dengan hati-hati, “Tuan belum melihat kepala Le Di Dan Le Zhen, mungkin….”

“Tak perlu.” He Xia menggelengkan kepalanya, “Mengapa aku tidak percaya padamu?”

Dua pelayan cantik datang membawakan teh hangat, menyajikan pada He Xia dan Fei Zhaoxing. Fei Zhaoxing berterimakasih pada He Xia dan mengambil cangkirnya dengan kedua tangan. Cangkir itu bersinar indah. Mudah sekali menebaknya kalau cangkir itu salah satu benda berharga. Di tempat yang terbengkalai seperti ini, cangkir itu terlihat tidak pantas.

He Xia sepertinya mengetahui pemikirannya. He Xia segera meneguk tehnya dan berkata, “Aku pernah memerintahkan untuk menghias tempat ini dengan sutra berwarna-warni, dan meletakan beberapa peralatan indah, tapi sama sekali tidak membuatnya terlihat mewah dan hidup. Aku juga sudah memerintahkan untuk membanngun kembali tembok-tembok yang rusak, tapi begitu mereka mulai mengerjakannya aku menyuruhnya berhenti. Kau tahu kenapa?”

Fei Zhaoxing meletakan cangkirnya dan beridir lalu menjawab dengan nada serius, “Kediaman Jin Anwang di masa lalu akan selalu menjadi Kediaman Jin Anwang di masa lalu. Dibangun kembali seperti apapun, masa lalu tidak akan kembali.”

Bibir tipis He Xia bergerak sedikit hendak tersenyum tapi segera menghilang, “Benar, apa yang sudah hilang tetap akan hilang. Mengapa ketika orang mengambil keputusan, mereka tak pernah mengingat hal ini, aku sungguh menyesalinya.”

Diantara kata-katanya terlihat eskpresi pedih yang luar biasa.

Fei Zhaoxing tidak menyangka He Xia akan mengucapkan kata-kata seperti ini, keluar dari dalam hatinya. Ia tersanjung dengan kepercayaannya tapi tiak berani mengatakan apapun.

Di dalam hatinya, He Xia adalah orang dengan martabat tinggi yang jarang ada. Orang jenis ini penuh perasaan tapi menyembunyikan dengan baik di dalam pikiran mereka, karena mereka takut akan terlihat oleh yang lain.

Fei Zhaoxing menundukan kepalanya dan mengambil cangkirnya lalu meneguknya untuk menyejukan tenggorokannya.

“Aku membunuh He Su dan seluruh keluarganya.” He Xia tiba-tiba berkata, “Apa kau sudah tahu kabar yang beredar di luar?”

Fei Zhaoxing menangguk, “Aku sudah mendegarnya dan juga kabar yang beredar.”

“Bagaimana menurutmu?”

“Anggota keluarga kerajaan yang sudah ditaklukan tak lebih dari seekor semut. Tuan Besar Jin Anwang sudah menaklukan dunia, apa salahnya membunuh beberapa ekor semut?”

“Aku tidak ingin menipumu.” He Xia menatapnya dan tersenyum pedih, “Kabar yang beredar tidak benar. He Su dan Ratu tidak berniat membunuhku setelah menyerahkan diri. Aku membunuh mereka bertiga tanpa alasan.” Fei Zhaoxing terkejut, ia tidak tahu harus berkata apa. Lalu He Xia mengubah pembicaraan, “Jendral Shang Lu sudah mati, siapa yang akan memimpin Resimen Yongchang?”

Fei Zhaoxing menjawab, “Ketika pasukan kehilangan penasihat mereka, situasinya menjadi kacau, jadi harus segera membuat keputusan, saat ini aku yang memimpin mereka.”

He Xia sama sekali tidak keberatan, “Dongzhuo sudah cukup umur, sudah waktunya memberikan pengalaman untuk berlatih. Keadaan di ibukota Yun Chang sudah cukup stabil, aku hendak membawanya ke medan perang untuk melatihnya beberapa kemampuan. Berikan Resimen Yongchang padanya dan sampaikan pesanku begitu kau pergi.”

Fei Zhaoxing mengangguk.

Tak ada yang mengerti mengapa,  He Xia sepertinya lebih berpikir dalam daripada biasanya. Ia menghela napas, berdiri dari kursinya dan berkata, “Kemari, temani aku berjalan-jalan.”

Fei Zhaoxing mengikutinya dari belakang, berkeliling Kediaman Jin Anwang.

Halaman sepenuhnya terabaikan, kolampun dipenuhi rerumputan liar. Terkadang kolam itu mengeluarkan beberapa gelembung udara yang membuat riak di permukaannya. Warnanya tidak lagi berasal dari ikan yang berwarna-warni seperti dulu, melainkan hitam dan abu-abu dari ikan liar yang entah bagaimana bisa berada di sana.

Para serangga yang bertengger disekitar rerumputan sangat berisik.

Mereka berlompatan di sekitar rumput yang tinggi, dari satu batang ke batang yang lainnya. He Xia setelah agak lama berjalan dalam diam akhirnya membuka suaranya, “Aku tidak menyangka Gui Li akan jatuh semudah ini.” Suaranya sangat penuh emosi.

Fei Zhaoing sedang berusaha menebak jalan pikiran He Xia. Orang itu telah menaklukan dunia tapi mengapa terlihat lebih kecewa daripada sebelumya.

Ia memperhatikan punggung He Xia, sangat tegak dan lurus seperti senar kecapi yang di tarik sangat kuat.

Mungkin karena saat ini tidak ada apapun yang bisa melawan He Xia, terlebih bersama kehadiran pasukan He Xia saat ini, membuat Fei Zhaoxing merasa sedikit asing padanya. Kewibaannya sebagai penguasa telah keluar meskipun ia belum menaiki taktahnya.

“Pasukan terakhir dari Gui Li telah dihancurkan, dengan begitu empat negara telah di taklukan menjadi satu. Aku berencana membuat pengumuman resmi, membentuk negara baru di bawah nama Jin Anwang.”

Fei Zhaoxing merasa ragu sejenak lalu ia mengutarakan isi kepalanya, “Menetapkan negara baru memang penting, tapi masalah Chu Beijie belum diselesaikan. Bukankah sebaiknya kita..”

“Tak perlu khawatir, bahkan dengan kemampuan Chu Beijie yang sepuluh kali lipat, tak mungkin ia bisa melawan ratusan ribu prajuritku saat ini. Apa yang perlu di khawatirkan dari seekor singa yang sudah ompong?” He Xia menyeringai, “Begitu aku menaiki taktah, statusku akan lebih stabil, saat itu ia tidak lagi menjadi Tuan Besar Zhen Beiwang dari Dong Lin, hanya seseorang yang berusaha merebut kekuasaan. Akan sangat wajar menjatuhinya hukuman mati. Meskipun ia akan sulit dibereskan, tapi aku akan punya banyak waktu untuk mengurusnya, aku akan menghadapinya perlahan-lahan.”

Menurut pemikiran He Xia, empat negara telah selesai di taklukan sepenuhnya. Maka tidak ada lagi lawan yang begitu perlu diperhatikannya, maka ia sedikit enggan untuk segera membunuh Chu Beijie. Ia akan perlahan mempermainkanya sampai mati, seperti kucing terhadap tikus.

He Xia tidak bisa dikatakan besar kepala. Karena bagaimanapun juga empat negara, seluruh musuh-musunya telah di hancurkan. Apa yang bisa dilakukan Chu Beijie seorang diri menantang pasukan Yun Chang?

Kalau ia berani secara terbuka menyatakan pemberontakan, pasukan Yun Chang akan segera tiba, lalu mereka akan bertempur beberapa kali. Tapi bagaimanapun, mustahil bagi Chu Beijie untuk melarikan diri dari kematian.

Fei Zhaoxing sebearnya merasa tidak tenang, tapi mendengar suara He Xia yang berkata dengan santai. Ia menyadari kalau ia tidak akan bisa menyakinkannya. Maka ia hanya diam dan mengangguk.

He Xia tiba-tiba berhenti. “Ada satu hal, kuharap kau bisa melakukannya.”

“Baik.”

“Aku ingin kau menggumpulkan semua benda berharga dari empat negara, mutiara dan batu permata. Dan temukan seorang ahli pembuat perhiasan.”

Fei Zhaoxing akhirnya mengerti, ia berkata, “Untuk membuat mahkota raja, benar bukan?”

He Xia menggelengkan kepalanya, mengangkat dua jarinya. “Dua, satu mahkota Raja dan satu lagi mahkota Ratu. Keduanya harus indah dan sempurna, jangan ada cacat sedikitpun.”

Fei Zhaoxing menjawab dan pergi setelah menerima beberapa petunjuk lagi.

Setelah tiba di tempatnya beristirahat Fei Zhaoxing mulai memikirkan hal tadi. Ia berpikir, ada sesuatu yang janggal, lalu ia memanggil seorang pengawal He Xia yang telah selesai bertugas. “Apa Tuan Besar Jin Awang telah bertemu seorang wanita setelah kembali ke Gui Li?”

Si pengawal mempertimbangkan dan dengan hati-hati menggelengkan kepalanya, “Tidak mendengar apapun tentang Tuan Besar dekat dengan seorang wanita. Setelah tiba di Gui Li, ia sibuk menggurus segala masalah terkait Kediaman Jin Anwang. Tidak heran, jika ingin mengenang mereka yang sudah meninggal ketika melihat rumah terdahulunya.”

Fei Zhaoxing merasakan bongkahan di tenggorokannya tapi ia tidak tahu apa yang harus dikatakan. Ia merasa sepertinya ia melewatkan sesuatu. Ketika ia berpikir, seorang bawahannya datang dan melapor bahwa hadiah yang ia dapatkan telah tiba.

Fei Zhaoxing menyambutnya sendiri. Begitu ia membuka kotak-kotaknya, ia menyadari benda-benda itu sangat langka. Sepertinya He Xia sangat bermurah hati dan tidak akan menjadi seorang Raja yang pelit nantinya.

Fei Zhaoxing sangat senang dan menghadiahi si pembawa barang beberapa benda. Pengawal He Xia, Toumu juga datang, ia memberi selamat dengan senyum menyeringai, “Aku di perintahkan datang kesini dengan sebuah pesan juga. Masalah Jendral Dongzhuo yang akan bertanggung jawab atas resimen Yongchang, tolong, Jendral Fei membubuhkan segel militer sebagai tanda penyerahan secara resmi.”

Fei Zhaoxing sudah mendengar hal ini tadi. Ia dengan hati-hati, menerima gulungan kertas, mengelarnya di atas meja dan membubuhkan segel untuk perubahan hak atas kepemimpinan resimen Yongchang. Lalu ia memerintahkan seorang prajurit untuk mengirimkannya.

Karena terlalu senang, meskipun ia sudah menempuh perjalanan panjang, Fei Zhaoxing tidak mampu terlelap. Lalu ia memanggil beberapa orang bawahannya untuk minum-minum sedikit.

“Kemarilah, bersulang! Cangkir ini dipersembahkan untuk para Jendral kita, yang dengan perlahan tapi pasti, akan menaiki tingkat jabatan tak terbatas di masa depan. Ini juga dipersembahkan kepada Suami Ratu kita agar ia segera menaiki taktahnya!”

Seorang letnan menyela, “Jangan menyebutnya Suami Ratu. Perintah dari atas mengatakan kalau kita harus memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar Jin Anwang. Jendral Zhang, kau sebaiknya tidak melanggar aturan.”

“Heh, aku orang yang bertempur di medan perang. Apa aku akan peduli dengan peraturan. Bersulang!” sang letnan hendak membujuknya lagi tapi segera menghentikannya ketika Jendral Zhang mengibaskan tangannya dan berteriak dengan tidak sabar, “Aku tahu, aku tahu, Tuan Besar Jin Anwang, tidak akan dipanggil seperti itu lebih lama juga, melainkan Kaisar. Kudengar para petugas pemerintahan juga akan segera menjadi pejabat.”

Para Jendral dilarang keras untuk menyentuh arak selama di medan perang. Setelah lama tidak merasakannya, mereka dengan rakus dan gembira meneguk beberapa kendi. Fei Zhaoxing tersandung ketika berjalan terhuyung-huyung dan entah bagaimana ia selamat mencapai kamar tidurnya.

Ia tertidur dan bermimpi tapi tiba-tiba ia tersentak, membuatnya tebangun dari tidurnya.

Ia membuka matanya, dengan kaku duduk di atas tempat tidurnya. Jantungnya berdetak kencang, ia merasa sangat tidak tenang.

Pasti ada yang salah.

Ia sangat percaya pada intuisinya.

Ia tidak pernah merasa bisa beristirahat sejak Le Zhen berniat membunuhnya. Ia berangkat di tengah malam untuk melarikan diri. Saat itu hatinya juga tidak tenang seperti ini. Ia berhati-hati, mengingat-ingat percakapannya dengan He Xia lagi dan lagi, memikirkannya perlahan-lahan lagi dan lagi, tapi sama sekali tidak menemukan sesuatu yang aneh.

Ia telah melakukan semua yang diinginkan He Xia, ia tidak hanya mengacaukan pasukan Dong Lin tapi juga membunuh Le Di dan Le Zhen begitu juga dengan Shang Lu, apalagi yang bisa dilakukannya lebih dari ini?

Kalau masalah ia begitu serakah atas emas dan perhiasan, He Xia pasti tahu akan hal ini sejak lama dan akan menghukumnya atas alasan yang tidak wajar.

Apa yang salah?

Apa ini lagi-lagi membuang busur setelah seluruh burung terpanah? Fei Zhaoxing menggelengkan kepalanya.

Tidak, tidak, He Xia bukan Le Di dan Le Zhen. Ia Tuan Besar Jin Anwang yang berbakat dan sabar.

Setelah perang selesai, negara baru akan terbentuk. Tidak heran kalau ia tidak sesopan sebelumnya, tapi selama ia bersedia membagi kekayaannya yang luar biasa, Fei Zhaoxing tidak mempermasalahkannya sama sekali.

Ia mencoba berpikir lagi, sama saja, sama sekali tidak terbersit apapun sampai akhirnya ia terlelap.

Tapi sejak itu ia menjadi lebih berhati-hati dan selalu waspada.

--
Bergerak dengan cepat, Chu Beijie dan kelompoknya menuju Qierou. Awalnya ia khawatir perjalanan akan sangat melelahkan dan Pingting tak mampu melaluinya.

Bai Pingting juga pernah mengikuti perjalanan bersama pasukan untuk jarak yang jauh maupun dekat, maka kekhawatiran Chu Beijie tidak beralasan, maka ia memimpin yang lainnya dengan bergerak lebih cepat.

Seribu prajurit khusus berpencar di dekat perbatasan Yun Chang untuk menyelinap dan bertemu kembali di pinggir kota Qierou.

Orang-orang ini sudah sering bertempur dan melewati peperangan yang dashyat. Setiap prajurit dipilih sendiri oleh Moran di peringatkan berkali-kali, bergerak tak terlihat seperti hantu dan jagan membuat kesalahan sekecil apapun.

Tak ada satupun peringatan terdengar ketika seribu orang itu menyelinap masuk wilayah Yun Chang dan tiba di pinggiran Qierou. Pasukan Yun Chang sama sekal tidak menduga kalau pasukan musuh sudah begitu dekat. Dan para penduduk Qierou tidak tahu akan petaka yang akan terjadi.

Dan Fanlu tidak tahu sama sekali, dirinya akan menjadi target Panglima Zhen Beiwang.

Si Gubernur ini sedang sangat kesal dan sama sekali tidak berhubungan dengan Chu Beijie.

“Mereka hanya ingin memaksaku mati! Baiklah, ayo! Setelah begitu lama berada di dalam pasukan, tidak ada lagi yang tak bisa kulakukan!” dokumen yang baru saja tiba, dibuat menjadi bola dan dilemparkan ke tanah oleh Fanlu. Suara si Gubernur terdengar di seluruh kediaman ketika ia berteriak, “Bagaimana aku tahu kemana dua orang itu pergi? Begitu banyak orang menyaksikan mereka meninggalkan Qierou, dan terkadang mereka pergi begitu saja. Mungkin mereka sudah melewati perbatasan beberapa hari lalu. Apa gunanya mengirim dokumen memerintahkan aku untuk menemukan mereka, padahal mereka sudah pergi? Persetan dengan ini!”

Si pengirim pesan sudah pergi ketakutan sejak tadi, hanya tinggal Dujin yang masih berada di ruangan. Ia mengerutkan dahinya ketika menyaksikan Fanlu, dengan marah melangkah bolak balik di dalam ruangan, ia hanya berdiri diam dibelakangnya.

Kemarahan sang Gubernur benar-benar meledak hari ini, entah karena apa.

“Tuan, tolong tenang sebentar. Meskipun perintah itu tidak masuk akal, tapi tetap perintah penting, kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ini….”

“Aku tahu kita tidak bisa mengabaikannya.” Fanlu masih mengamuk, ia melepaskan kemarahannya sampai akhinya bisa sedikit tenang. Tubuhnya mulai sedikit santai. Dan ia mulai tertawa lebar. Kakinya menyentuh dokumen tadi dan ia menendangnya ke sudut.

Ia berjalan untuk duduk di kursinya dan meletakan kakinya di atas meja dengan acuh. “Hm, baiklah aku akan mencari mereka. Tulis pengumuman di kota, letakan lukisan wajah dua o..orang… bukan dua petugas itu. Pastikan lukisan wajahnya sangat mirip dan tulis….” Ia mengunyah sesuatu di mulutnya dan mengatakan dengan tidak jelas, “Dua petugas telah menghilang, karena itu Sang Gubernur mencari mereka. Jika hidup bawa orangnya, jika mati bawa mayatnya kepadaku. Si penemu akan diberikan hadiah seribu koin perak jika hidup dan dua ribu koin  perak jika mati. Tulis seperti itu.”

Dari nada suaranya, Dujin bisa mengetahui kalau Tuan Pu Guang dan Pu Sheng sangat membuat majikannya luar biasa kesal, tapi ia juga tidak bisa membedakan apakah majikannya sedang bercanda atau tidak. Ia hampir menangis ketika berkata, “Tuan, aku khawatir seribu koin perak terlalu sedikit kalau mereka masih hidup, dan jika mereka mati apakah tidak terlalu besar?”

“Baiklah, baiklah, terserah kau.” Fanlu mengibaskan tangannya dan bersin. “Pekerjaan hari ini sudah selesai. Pergilah pasang pengumumannya segera, aku ingin beristirahat.”

Setelah kembali ke halaman belakang, ia menarik pergelangan tangan Zuiju dan membawanya masuk ke ruangan.

Zuiju membiarkan dirinya di tarik. Dan ia bertanya dengan tegang, “Ada apa? Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri.”

“Ini hari yang baik. Temani aku berjalan-jalan santai.”

Setelah mendengarnya, Zuiju terdiam. Ia mencoba melepaskan pergelangan tangannya, “Lepaskan, tumbuhan kecilku masih belum di beri air. Mengapa aku membiarkan mereka layu hanya karena Tuan Gubernur ingin berjalan-jalan santai?”

Fanlu menolak melepaskannya, tidak mengendurkan pegangannya sedikitpun. Ia berbalik dan menatap Zuiju, “Sebuah dokumen tiba hari ini. Berita besar, Tuan Pu Guang dan Pu Sheng telah menghilang dan petugas tingkat atas ingin melacak jejak mereka. Hm, apa kau sekarang ingin menemaniku berjalan-jalan?”

Zuiju mundur selangkah dan menatap sekelilingnya.

Tidak ada yang tahu kecuali mereka berdua tentang kematian Pu Guang dan Pu Sheng.

Setelah He Xia mendapatkan kekuasaan, Yun Chang menerapkan hukuman keras, sehingga kepanikan terjadi dimana-mana. Zuiju merasa mereka perlu menemukan tempat tenang untuk membahas masalah ini dengan Fanlu. Ia ragu sejenak dan mulai berpikir mengapa Fanlu mengajaknya berjalan-jalan. Fanlu melepaskannya dan membawanya melewati pintu kediaman dengan riang.

Meskipun Qierou hanya sebuah kota kecil, jalan-jalannya sangat hidup. Fanlu mengenakan pakaian biasa, dan Zuiju tidak pernah suka mengenakan pakaian mewah. Maka mereka berdua sama sekali tidak mencolok.

“Mau tanhulu?”

“Satu mangkuk susu kedelai?”

Fanlu sering berhenti begitu ia melihat sesuatu yang ia sukai, ia mengeluarkan uang, membelinya dan memberikannya pada Zuiju. Zuiju akan menggelengkan kepalanya, menandakan ia tidak menginginkannya. Dan Fanlu akhirnya akan memberikannya pada anak kecil yang ia temukan di jalan. Dan akhirnya, Zuiju tak bisa menolak lagi, ia menerima sebuah boneka kecil yang juga dibeli Fanlu.

Bahkan setelah berjalan sepanjang sore. Fanlu tidak mengatakan apapun yang berguna. Ia sama sekali tidak berniat membahas Pu Guang dan Pu Sheng.

Sambil memegang bonekanya, Zuiju tidak tahan lagi dan berkata, “Hei, bicaralah.”

“Bicara apa?”

“Apa yang harus kita lakukan? Meninggalkan kota?”

Fanlu berbalik dan memperhatikannya. Ia merenung sejenak, “Kau sungguh berpikir kita sedang melarikan diri?”

Dari ekspresinya, Zuiju bisa tahu ia sedang tidak berbohong, tapi lagi-lagi kata-katanya tidak pernah bisa dipercaya. Ia memelankan suaranya, “Kalau begitu mengapa kau membawaku keluar? Bukankah dokumen itu menyuruhmu untuk melacak mereka? Kalau kebenaran terungkap, kau tidak akan bisa kabur dari hukuman mati bahkan jika kau punya seribu kepala.”

“Aku sudah memberitahu tadi. Kau menemaniku berjalan-jalan santai. Kau sungguh merasa bersalah dan mengaitkan segalanya dengan melarikan diri.” Fanlu menegadah dan membelakangi gerbang kota, “Aku sudah mulai melacak mereka sejak tadi. Apa kau tidak melihat pengumumannya?”

Untuk masalah penting Zuiju selalu menjadi sangat serius berkali-kali lipat. Mendengarnya membuat pengumuman, ia segera berniat melihatnya. Ia menarik tangan Fanlu dan menariknya menuju gerbang kota tanpa berkata-kata.

Biasanya Fanlu yang selalu menarik tangan Zuiju, maka ini pertama kalinya Zuiju menarik tangannya.

Zuiju tidak melakukannya dengan sengaja. Sentuhan lembut tangannya membuat jantung Fanlu berdetak kencang untuk beberapa saat. Ia menatap Zuiju dalam-dalam, tapi Zuiju sedang sangat khawatir jadi ia tidak memperhatikan tatapan Fanlu.

Dujing adalah tipe bawahan yang melakukan tugasnya dengan baik. Pengumuman sudah dipasang di seluruh gerbang kota. Dan wajah yang dilukis terlihat buruk. Karena Pu Guang dan Pu Sheng terkenal tidak baik, para penduduk tetap tenang dengan pengumuman itu dan menunggu kabar selanjutnya. Zuiju berbaur dengan kerumunan ketika membacanya dan menyadari kalau isi tulisannya benar-benar wajar. Ia berkata pelan, “Apa kau yang menulis ini?”

Fanlu menggerutu dan berkata kesal, “Berengsek, si Dujing itu mengganti kata-kataku. Juru tulis itu benar-benar tidak bagus.”

Zuiju melangkah mundur, “Apa yang diubah?”

“Sebenarnya aku menyuruhnya menulis ‘dua babi telah menghilang’ tapi mengapa malah menjadi ‘dua petugas telah menghilang’ ?”

Zuiju tertawa kecil, lalu menahan tawanya dan melotot pada Fanlu, “Gubernur macam apa kau, selalu tidak serius dan membuat orang bingung?”

Fanlu tidak pernah kalah kalau bermain kata, lalu ia berkata, “Kau sudah melihat pengumumannya, ayo kita pergi.”

Mereka berdua berpegangan tangan ketika melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Fanlu berkata dengan suara pelan, “Apa kau takut melihat orang mati?”

Zuiju mengerutkan alisnya, “Apa kau mau membunuh lagi?”

Ia hanya sekedar bertanya sama sekali tidak berharap Fanlu akan menjawabnya, “Benar.”

Jantung Zuiju berdebar kencang dan tangannya memegang tangan Fanlu dengan lebih erat lagi.

Suara Fanlu lebih pelan lagi dari yang tadi hampir berbisik. “Seseorang mengikuti kita sejak tadi sampai sekarang. Jangan takut, aku akan membawanya ke tempat gelap seperti hutan untuk berburu, dan membereskannya disana seperti memanah seekor kelinci.”

Setelah beberapa kali berbelok, suara kesibukan mulai berkurang. Jalan-jalan semakin kecil sementara mereka berdua terus melangkah. Celah tembok semakin dekat bahkan cahaya matahari tidak mampu menyinarinya.

Semakin dalam semakin gelap.

Fanlu memiliki sifat liar meskipun ketika berada di dalam pasukan. Berkat kesibukannya menjadi Gubernur yang harus mengurus dokumen demi dokumen dan surat-surat yang tak habisnya, ia sekarat menginginkan sebuah target untuk sedikit kesenangan. Sebagai seorang mata-mata, ia sangat peka. Ia tahu hanya satu orang yang mengikuti mereka maka ia memilih jalan buntu dan tidak terlalu khawatir. Begitu ia melihat tembok, ia berbalik, satu tangan memegang tangan Zuiju dan tangan yang lainnya mengeluarkan busur kecil dari pinggangnya. Setelah memasang anak panahnya ia bertanya pada Zuiju, “Apa kau lebih suka aku memanah lehernya atau jantungnya?”

Zuiju memperhatikan busur dengan anak panah yang sudah terpasang. Ia gemetar, “Jangan bertanya padaku.” Ia memegang tangan Fanlu lebih erat lagi.

Hal ini sebenarnya membuat Fanlu bahagia. Dan bibirnya tersenyum, “Teman yang sedang mengikuti kami, mengapa kau tidak menampakan diri dan berbincang sedikit.”

Sebuah sosok keluar dari pojokan tak lama kemudian. Seseorang dengan perlahan melangkah keluar. Ia tersenyum, “Aku sungguh senang bertemu denganmu. Mengapa kau tidak mengirim surat untuk memberi kabar, apa kau tidak tahu betapa khawatirnya kami semua?” ia berbicara langsung kepada Zuiju.

Mata Zuiju membelak, ia kehilangan suaranya, “Moran!”

Moran mengangguk, lalu tatapannya beralih menatap tajam pada Fanlu. Suaranya sangat jelas dan jernih, “Tuan Gubernur, anda beruntung. Kalau aku tidak melihat Zuiju disampingmu, aku khawatir lehermu sudah terlepas dari tubuhmu.”

Fanlu terkekeh dan menoleh ke Zuiju. “Aku lebih suka leher. Begitu panahnya tertancap, akan membuatnya segera terdiam.” Fanlu hendak menurunkan sedikit busurnya tapi tiba-tiba ia menjadi kaku.

Sesuatu yang tajam, pedang sedingin es, tanpa suara berada di lehernya, mengimbangi situasi saat ini.

Suara seorang pria, dalam dan berat, mulai tertawa, “Aku juga lebih memilih leher.”

Fanlu terlalu bangga dengan indra tajamnya, tapi ia tidak pernah di dekati dari belakang semudah ini. Maka ia sangat, sangat terkejut.

Ia sangat lihai menyelidiki musuh. Mendengar suara yang begitu tenang dan berwibawa dari belakangnya, Fanlu bisa menebaknya kalau ia bukan orang biasa melainkan sangat ahli. Ia menurunkan busurnya dengan hati-hati dan memaksa tertawa, “Pada akhirnya, akulah si kelinci yang tidak beruntung.”

Zuiju menoleh kebelakang dan lebih terkejut lagi. Tangannya menutupi mulutnya dan ia mulai menangis, “Oh tidak, Tuan……”

Chu Bejie berdiri disamping Fanlu dan memandang Zuiju, “Kau sudah membuat Pingting sedih begitu lama.”

“Nona Bai?” Zuiju merasa hatinya tiba-tiba bersemangat berlipat-lipat dan ia mencengkram dadanya erat. Serasa gelombang kembang api mulai meluncur ke atas, begitu cantik sehingga membuatnya ingin menangis. Ia menarik napas panjang, dan bicara dengan tergagap, “Nona Bai…. Dia masih hidup? itu bagus….. bagus….. anaknya? Anak itu…..”

“Kalian bisa berbincang santai nanti. Lihat, dileherku masih ada benda ini.” Fanlu menyela.

Zuiju terlalu takut untuk bergerak. Ia menghapus air matanya dan melotot pada Fanlu, “Bagaimana kau masih bersikap tidak sopan terhadapku disaat seperti ini? Apa kau tahu siapa dibelakangmu? Hati-hati atau Tuan akan menusuk pedang itu ke lehermu.”

Dari percakapan mereka, Fanlu sudah bisa menebak kalau pria itu adalah Pangliman Zhen Beiwang.

Lupakan musuh-musuhnya yang lain. Kalau Panglima Zhen Beiwang yang mengarahkan pedang ke lehernya, maka ia tidak akan bisa melarikan diri meski kemampuannya sepuluh kali lipat. Ia bisa menerima keadaannya dan memutuskan kalau langit akan mengambil hidupnya jika memang sudah waktunya. Ia tidak lagi merasa takut, ekspresinya menampakan sedikit pusing, “Kau tidak akan merindukanku?”

Zuiju merasa malu dengan Fanlu yang tersenyum padanya di depan Chu Beijie dan Moran. Ia merona, “Kau…kau… kau selalu mengejekku. Aku berharap Tuan membunuhmu untuk membalaskan dendamku!”

Fanlu hendak bicara lagi tapi tiba-tiba lehernya berasa dingin. Pedang itu bergerak sedikit melewati kulitnya, menimbulkan sedikit rasa perih.

“Kyaa!” Zuiju melihat darah mengalir turun dari leher Fanlu dan hampir membuatnya pingsan. Ia segera menarik napas dalam-dalam, “Tuan, Tuan, aku hanya bercanda, jangan lakukan….”

Moran sudah mengira-ngira tentang hubungan mereka, ketika melihat mereka berdua. Ia memberikan pandangan bertanya pada Chu Beijie. Chu Beijie mengangguk dan Moran mulai berkata dengan tenang, “Merayu, bertengkar dan berbincang bisa dilakukan nanti. Tuan Gubernur kami datang hari ini karena ingin membahas sesuatu denganmu.”

Fanlu berpikir cepat. He Xia saat ini berada dipuncak kekuasaan. Untuk apa seorang Panglima Zhen Beiwang berada di kota kecil seperti Qierou? Ia menjawab, “Alasan mengapa kau tertarik padaku, tidak mungkin karena jabatan rendahku sebagai Gubernur, satu-satunya alasan adalah jalur persediaan militer yang melewati kota ini. Karena hubunganku dengan Pejabat Senior Gui, He Xia tidak memperlakukanku seperti manusia. Bahkan kucing dan anjing berusaha mempermainkanku. Aku sudah merasa cukup. Singkatnya, aku tidak keberatan menyerahkan kota ini kepada Panglima Zhen Beiwang, tapi aku punya persyaratan.”

Chu Beijie melihat niat Fanlu cukup jujur, dan hatinya menjadi lebih lega. Mengapa seseorang dengan bakat seperti ini di letakan di kota kecil seperti Qierou? Chu Beijie memperhatikannya bicara sampai akhirnya ia berbicara tentang persyaratan, tapi ia sudah mendapatkan intinya. Ia menarik pedangnya sehingga tidak lagi menekan kulit leher Fanlu. Ia menoleh pada Moran.

Moran bertanya, “Apa persyaratannya?”

Fanlu berpikir sejenak dan tiba-tiba mengubah pikirannya, “Hm… tidak, Qierouku tetap sebuah kota bagaimanapun. Tidak sebanding kalau di tukar hanya dengan satu syarat jadi aku minta dua.”

Ini pertama kalinya Moran bertemu orang yang begitu lihai, dan ia sangat terkejut.

Zuiju sudah tahu sifat Fanlu yang seperti ini. Ia mendongak dan memperhatikan darah yang mengalir di lehernya, diam-diam ia kesal sekali, mengapa pria ini masih berani menantang Chu Beijie disaat seperti ini. Ia segera berkata, “Apa kau tidak bisa menahan kata-katamu?” Zuiju tidak menyadari tangannya bergetar hebat. Berpikir kalau mungkin Tuan Zhen Beiwang akan melepaskannya demi Nona Bai, ia memberi pandangan memohon pada Chu Beijie, “Tuan, sifatnya memang seperti itu. Jangan menyalahkannya.”

Melihat Zuiju berkata seperti itu, hati Fanlu menjadi lebih manis dibanding madu. Ia tidak peduli apakah nyawanya akan selamat atau tidak, ia tertawa lebar.

Zuiju menjadi marah dan khawatir. Ia memukul lengan Fanlu dengan keras.

Chu Beijie dengan acuh memperhatikan dua orang ini. Ia berpikir sejenak dan berguman, “Katakan dua persyaratanmu.”

Fanlu sudah tahu Chu Beijie akan menerimanya. Ia tertawa, “Pertama, aku ingin Zuiju.”

Zuiju menahan napasnya, ia merona sampai ke telinga. Ia tidak tahu apakah sebaiknya berdiri diam atau bersembunyi. Ia berguman sambil mengutuk, “Bagaimana bisa kau meminta aku pada Tuan, aku bukan barang.”

Fanlu berkata, “Aku membuat persyaratan dengan Panglima Zhen Beiwang. Bukan urusanmu.” Mendengarnya membuat Zuiju sangat marah.

Chu Beijie mengangguk. “Aku bisa memberikan syarat yang ini padamu.”

Fanlu bertanya lagi, “Zuiju bukan barang. Bagaimana kau bisa mengatakan ia akan bersamaku?”

“Mudah.” Chu Beijie perlahan berkata, “Aku akan bertanya apakah ia setuju sambil mengarahkan pisauku pada jarimu. Setiap kali ia berkata tidak, aku akan memotong setu jarimu. Kupastikan ia akan setuju sebelum kesepuluh jarimu habis terpotong.”

Fanlu tak bisa menahan rasa terkejutnya. Ia berguman, “Sungguh cara yang kejam.”

Tiga orang pria itu diam sejenak lalu tertawa lebar. Chu Bejie melangkah mundur untuk menarik pedangnya dari leher Fanlu.

Wajah Zuiju benar-benar merah mendengar mereka tertawa. Ia menggertakan giginya, “Pria memang tidak baik, kalian semua satu kelompok.” Lalu ia menoleh pada Fanlu, “Bahkan kalau seluruh jarimu terpotong, aku tidak akan peduli. Aku bukan pelayan yang dijual pada Tuan, tidak ada yang bisa seenaknya padaku!”

Chu Beijie berkata pelan, “Kalau begitu, mau kita coba?”

Zuiju menjadi waspada. Ia tahu kalau Chu Beijie selalu bertindak sesuai perkataannya. Jari-jari itu bukan miliknya, kalau memang dipotong, ia juga tidak merasa kehilangan. Dari perkataan Moran, sepertinya mereka berencana membunuh sang Gubernur awalnya.

Zuiju pernah mendengar kabar, para bangsawan yang saling bercanda tentang membunuh orang-orang, dan ia khawatir kalau dirinya akan membuat Fanlu terluka. Maka ia tidak berani bertidak ceroboh, ia menutup mulutnya rapat-rapat, tidak berkata apapun lagi.

“Apa yang kedua?” Moran bertanya.

Fanlu tertawa, “Belum kupikirkan. Apa boleh kukatakan nanti dikemudian hari?”

Chu Beijie menyadari pria ini sangat pandai dan lihai, dan sulit dipercaya kalau ia melakukan segalanya untuk Zuiju, tapi hal ini membuat Chu Beijie agak menyukainya. Sudut bibir Chu Beijie tersenyum kecil, “Baklah.”

Fanlu bertanya, “Berapa banyak yang Panglima Zhen Beiwang bawa ke dalam kota?”

“Hanya kami berdua yang masuk ke dalam kota.”

“Hanya berdua?”

Fanlu sangat terkejut, Chu Beijie sungguh berani. Kalau identitas dirinya terbongkar, pasukan dari seluruh kota akan segera berkumpul. Dan tidak mungkin ia bisa bertahan hidup jika dikepung.
Chu Beijie berkata lagi, “Dua sudah cukup.”

Sebenarnya mereka masuk ke dalam kota hanya untuk melihat situasi. Mereka sama sekali tidak menduga, setelah melewati para penjaga gerbang, mereka melihat Sang Gubernur dengan pakaian biasa. Dan yang lebih mengejutkan, orang yang bersamanya adalah Zuiju, gadis yang selama ini membuat Pingting merasa sangat bersalah. Tak mungkin Chu Beijie melewatkan kesempatan baik ini.

Ketiga pria ini telah berada di lingkungan militer cukup lama. Mereka sama sekali tidak menyia-nyiakan waktu, mereka segera mengatur rencana untuk pertemuan berikutnya. Dan rencananya adalah, berkumpul di Kediaman Gubernur sore ini.

Dan ketika Chu Beijie dan Moran hendak pergi, Fanlu bertanya “Apa kalian tidak khawatir aku akan mengambil kota kembali?”

Moran menatap Zuiju dan menjawab, “Dengan Zuiju sebagai sandera, tidak mungkin kau berani.”

Ekspresi Fanlu tiba-tiba berubah. Ia mejawab dengan tajam, “Jangan berani berpikir, membawanya pergi dariku.” Ia memikirkan sesuatu dan senyumnya terlihat sedikit, “Begitu ia menghilang dari pandanganku, aku akan membuat pengumuman dari tempat tertinggi. Kalau tidak, kau bisa membunuhku sekarang.”

Melihat Fanlu yang menjadi gugup, Chu Beijie melihatnya sebagai hiburan. Ia berkata dengan pelan “Kami tidak akan membawanya pergi. Kau bisa memiliki Zuiju sebagai sandera dan kami memiliki gurunya sebagai sandera. Kedua pihak bisa tenang.” Chu Beijie mendengar suara seseorang berjalan di lorong, ia menoleh pada Moran untuk memperingatkan.

Waktunya sudah habis. Mereka berdua menangguk pada Fanlu dan segera menghilang tanpa berkata apapun lagi.

Fanlu berdiri di tempatnya, menyaksikan mereka berlalu.

Panglima Zhen Beiwang memang sesuai reputasinya. Dan kemampuannya sebagai pembunuh, benar-benar sesuatu yang sulit dicari tandingannya.

Mungkin selain para penghuni istana, tidak ada yang bisa hidup dalam ketakutan setelah berhadapan dengan Chu Beijie.

Tangan Fanlu yang terasa berat, tiba-tiba gemetar beberapa kali. Lalu ia berbalik menghadap Zuiju.

Zuiju sangat gembira, matanya membesar dan bulat. “Apa kau mendengarnya? Guruku! Guruku juga datang, ah….. aku tidak salah dengar bukan? Benarkhan aku tidak salah dengar?” ia mengambil napas panjang beberapa kali, jantungnya berdetak kencang sekali di dalam dadanya. Ia menghelan napas, “Oh Dewa, sungguh banyak sekali berita baik hari ini. Pergi keluar berjalan-jalan santai memang keputusan tepat. Nona Bai masih hidup, dan Tuan juga sudah datang, bahkan Guruku juga kemari…..” ia menggosok matanya dan mulai menangis.

Fanlu sebenarnya tipe yang tidak sabaran, tapi melihat Zuiju menangis, ia berusaha menghiburnya. “Kenapa kau malah menangis ketika kau sedang sangat gembira? Sudah hampir mulai gelap, ayo kita kembali.”

Zuiju masih terisak sedikit, ia menggelengkan kepalanya, “Hatiku masih sangat kacau, sehingga kakiku terasa lemas. Tapi jangan mengkhawatirkan aku.”

Fanlu mulai terkekeh, “Aku menjual Qierou untukmu, hatiku jauh lebih kacau. Tapi mulai sekarang kau milikku. Kurasa, aku hanya sedikit tidak beruntung dan harus membopongmu kembali ke kediaman.”

Dan Zuiju tak bisa menahan diri, ia melotot pada Fanlu. Tapi ia bertanya dengan suara pelan, “Kau sudah bersekutu dengan musuh terdahulumu untukku, apa kau merasa bersalah?”

Fanlu menjawab ketus, “Kerajan Yun Chang sudah mati dan He Xia berniat membentuk negara baru. Tidak bisa dibilang aku menghianati negaraku. Paling tidak, aku hanya menghianati He Xia. mengapa harus merasa bersalah untuk itu?”

--
Chu Beijie mendapat kabar baik begitu ia mengunjungi Qierou dan ia sangat senang. Begitu ia kembali ke tempat persembunyian sementaranya diluar pinggiran Qierou, ia mengatakan pada Moran, “Jangan beritahu siapapun tentang kejadian hari ini. Aku ingin memberi Pingting kejutan.”

Moran berkata, “Tabib Huo akan terkejut juga.”

“Tentu saja.”

Mereka berdua selesai membahasnya dan memasuki tenda. Semua orang telah menunggu kabar dari mereka, Pingting sangat khawatir pada Chu Beijie sejak ia memasuki kota, tapi begitu melihatnya memasuki tenda ia merasa sangat lega. Ia berdiri menyambut mereka, “Bagaimana situasi di dalam kota? Kami sudah membahas beberapa hal tadi dan memikirkan berbagai macam rencana, tapi selalu menemukan kekurangan. Sungguh sulit membuat kota kecil ini menghilang dari perhatian.” Pingting mengambil gulungan yang baru saja di tulis di atas meja dan menyerahkannya pada Chu Beije.

Chu Beijie membacanya dengan cepat dan meletakannya. Ia tersenyum, “Kupikir, aku punya rencana yang lebih baik.”

Ia seorang penasihat utama dan kepercayaan dirinya hanya berarti rencana yang sangat bagus. Orang-orang yang berkumpul bersam di dalam tenda merasa lega dan seseorang bertanya, “Rencana seperti apa yang sudah terpikirkan oleh Panglima?”


“Kita akan memasui kota secara resmi dan memberi salam pada Guberur, mengikuti peraturan. Lalu semua orang akan duduk dengan tenang dan mengutarakan niat kita, membujuknya untuk melawan He Xia.”

Mereka sudah menunggu dengan penasaran, tapi begitu mendengar perkataan Chu Beijie mereka segera menjadi takut. Mereka tersenyum muram, “Panglima pasti sedang bercanda bukan?”

Tapi Pingting tahu persis kalau Chu Beijie tidak pernah bercanda untuk urusan militer. Ia memikirkan sesuatu dan bertanya pada Chu Beijie, “Apa Tuan sudah bertemu dengan Gubernur selama perjalanan hari ini? Si Gubernur itu, apakah ia ditempatkan oleh He Xia atau Gui Changqing?”

Pertanyaan ini sungguh tepat sasaran, Moran berdiri untuk memujinya.

Kalau Fanlu bukan dari pihak Gui Changqing dan tidak menderita atas perlakuan orang-orang He Xia, meskipun ia memiliki Zuiju di sisinya, belum tentu ia akan menyerahkan Qierou secepat itu begitu ia melihat Chu Beijie.

Chu Beije melihat Pinting sedang menatap padanya. Ia tak bisa menahan dirinya untuk menggenggam tangan Pingting dan menjawab dengan santai, “Tebakan Pingting sangat tepat sekali. Aku sungguh ingin menyerahkan posisiku sebagai penasihat utama. Masih ada alasan lain dibalik itu, coba Pingting tebak”

Yang lainnya melihat betapa pasangan ini sangat mesra. Mereka tidak berani bersuara, hanya tersenyum sambil menunggu.

Pingting berkata dengan lebih pelan, “Kalau Pingting harus menebak, kemungkinan, Tuan telah melakukan penyerangan, memberitahu Sang Gubernur seberapa kuatnya seorang Panglima Zhen Beiwang.”

Moran bertepuk tangan, “Sungguh hebat, Nona Bai bisa menebak sampai kesana. Kemampuan Tuan membunuh adalah hal yang sangat ditakuti bahkan oleh para Jendral di empat negara.”

Chu Beijie tetap tersenyum, “Lanjutkan.”

Pingting mengerutkan alisnya lama, lalu ia menggelengkan kepalanya “Tidak tahu lagi, aku bukan dewa.”

“Kuberi kau sedikit petunjuk. Aku akan membawa Tabib Huo malam mini.”

Pingting berguman, “Oh” dan bertanya, “Gubernur Qierou memiliki seseorang yang sangat disayanginya yang sedang sakit?”

Kalau sang Gubernur tidak ditekan oleh pihak He Xia dan diancam oleh Chu Beijie dan ditambah lagi seseorang yang sangat disayanginya sedang sakit, kemungkinan ia mau bekerja sama tetap hal yang mustahil.

Chu Beijie berkata lagi, “Siapa yang tidak memiliki seseorang yang sangat disayanginya? Masalah Qierou telah terpecahkan bagaimanapun. Langit benar-benar membantu kita kali ini. Ikutlah bersamaku malam ini, kau akan mengerti.”

Begitu malam tiba, Chu Beijie benar-benar membawa Pingting mengajak Tabib Huo. Lalu mereka memilih beberapa orang yang paling terlatih dan menyelinap masuk kota sebelum gerbang kota di tutup.

Ketika Pingting sedang tidak memperhatikan, Moran bertanya pada Chu Beijie, “Aku sudah berpikir lagi dan lagi, tetap saja kurasa ini terlalu beresiko. Bagamana kalau orang itu mengingkarinya, dan melaporkan Tuan? Kalau hanya kita berdua, kita masih bisa  berusaha kabur, tapi aku khawatir dengan Nona Bai dan Tabib Huo.”

Chu Beijie menjawab dengan tenang, “Kau masih belum bertemu wanita yang kau cintai. Begitu kau menemukannya, kau akan tahu mengapa Gubernur itu tidak akan berhianat. Kau tidak percaya penilaianku?” menjadi seorang penasihat utama berati kau harus bisa menilai sifat dan kepribadian seseorang. Chu Beijie jarang sekali salah tentang hal ini, sehingga Moran menjadi agak tenang setelah mendengar kata-katanya.

Kelompok itu berhenti di depan Kediaman Gubernur. Mereka menyebutkan diri mereka sebagai teman lama dari tempat jauh yang datang berkunjung untuk melihat Fanlu. Si penjaga telah di bertahu sebelumnya oleh Fanlu bahwa beberapa teman lamanya akan datang berkunjung. Ia harus menyambut mereka dengan sopan dan segera mempersilahkan mereka masuk.

Tak lama kemudian, Fanlu datang. Ia meyambut ramah begitu melihat Chu Beijie, “Lama tak bertemu, apa kawan baik-baik saja?” ia lalu merangklul pundak Chu Beijie dan memberi isyarat untuk masuk ke ruangan.

Tak satupun dari para prajurit yang dibawa serta Chu Beijie mengetahui tujuan mereka sebenarnya datang ke tempat ini. Mereka berpikir siap mati karena menampakkan diri di Kediaman seorang Gubernur di wilayah musuh, tapi mereka tetap ikut karena perintah Chu Beijie adalah mutlak. Melihat sikap sang Gubernur, sebagian kekhawatiran mereka berkurang, tapi mereka tetap waspada. Tangan mereka mengencangkan pegangan ke pangkal pedang dan tidak beranjak jauh dari Chu Beijie.

Hanya Pingting yang tahu kalau Chu Beijie benar-benar sedang santai. Ia tahu kalau Chu Beijie sangat yakin dengan rencananya, maka Pingting hanya mengikuti saja tanpa berkomentar.

Fanlu memimpin rombongan masuk ke ruangan. Ia membubarkan para pelayan sebelum melepaskan pundak Chu Beijie. Moran memperkenalkan setiap orang. Ia menunjuk Pingting dan berkata, “Ini Nona Bai.”

Pingting belum pernah melihat Fanlu, maka Pingting hanya menanggapnya sebagai orang asing dan ia dengan sopan menganggukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menduga kalau pria inilah yang membuatkannya berita kematian palsu dirinya.

Dan Fanlu, ia menyadari kalau bukan karena wanita ini ia tak akan pernah bertemu Zuiju. Karena Zuiju, Fanlu memberikan seulas senyuman, yang terlihat agak aneh bagi Pingting.

Lalu Moran dengan sopan menunjuk pada Tabib Huo, “Ini si tabib jenius Huo Yunan.”

Begitu kata-kata ini keluar, ekspresi Fanlu menjadi serius. Ia segera berlutut ke tanah dengan suara keras.

Tabib Huo sangat terkejut. Ia tahu kalau orang ini sangat penting bagi Tuan Zhen Beiwang dan segera membantunya untuk berdir. “Tidak, tidak, aku tidak pantas diperlakukan seperti ini. Biarkan aku memeriksa siapa yang sakit. Aku bukan orang tua yang hebat tapi kemampuan mengobatiku lumayan bagus”

Fanlu tetap berlutut, “Tidak ada yang sakit. Aku hanya punya sebuah permintaan padamu. Namaku Fanlu, wajahku lumayan tampan, tubuhku sehat, cukup hebat dalam memanah, dan memperlakukan orang-orang dengan baik sepenuh hati, sangat pintar, cepat belajar dibanding orang lain…..”

Ia bicara dengan cepat tentang berbagai hal. Selain Chu Beijie dan Moran tak ada seorangpun yang bisa menebak maksud perkataannya. Setelah Fanlu selesai mengutarakan semua kemampuan dan kehebatannya, ia bertanya pada tabib Huo, “Bagaimana, apa kau cukup puas dengan pria seperti aku?”

Tabib Huo sedikit bingung mendengar perkataan Fanlu. Ia berpikir mungkin Fanlu berlutut karena hendak belajar ilmu pengobatan padanya. Ia hanya memiliki satu murid sepanjang hidupnya, Zuiju, dan tidak berniat mengambil murid lagi. Tapi karena ia tahu betapa pentingnya orang ini bagi Tuan Zhen Beiwang untuk rencana besarnya, ia tidak berani menolaknya. Ia segera menjawab samar, “Bagaimana mungkin aku tidak puas dengan orang berbakat sepertimu?”

Mendengar kata-kata tabib Huo, Fanlu menjawab dengan gembira, “Kalau begitu aku harus bersujud tiga kali, agar terlihat resmi.”

“Tidak, tidak, aku tidak pantas….”

Tapi sebelum Tabib Huo selesai berkata, Fanlu sudah bersujud tiga kali dengan suara kepala menyentuh lantai dengan keras. Lalu Fanlu berdiri dan ekspresi wajahnya terlihat ada sedikit rasa humor dibanding yang sebelumnya sangat serius sekali. Ia menyeringai, “Sekarang sudah tidak boleh menyangkal, terimalah hormatku, ayah mertua.”

Mendengar kata-kata ini tidak hanya Tabib Huo, Pingting juga ikut terkejut.

Dan yang lainnya saling bertukar pandang, sedangkan Fanlu terlihat seperti telah memenangkan sebuah pertempuran. Ia segera melompat dan pergi ke belakang sambil berteriak, “Tunanganku! Tunangan Fanlu, kemarilah beri salam pada gurumu yang juga ayah mertuaku.”

Fanlu telah membohongi Zuiju yang mengatakan akan segera memanggilnya begitu Chu Beijie tiba. Tapi Fanlu malah menyerang tabib Huo terlebih dahulu sebelum ia memberitahunya.

Zuiju menungu dengan tidak sabar di ruangannya ingin segera melihat gurunya dan Nona Bai. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Fanlu, ia segera bergegas menghampiri. Begitu ia memasuki ruangan, ia melihat wajah yang akrab dan ia berkata dengan tenggorokan yang hampir tercekik, “Nona Bai…” lalu ia berbalik dan meskipun ia sudah bersiap ia sangat terkejut melihat gurunya menjadi sangat kurus.

Ruangan menjadi sangat sunyi, bahkan suara jarum yang terjatuhpun akan terdengar jelas.

Zuiju berdiri denga tatapan kosong agak lama, sampai akhirnya pundaknya bergetar dan mulai menangis, “Guru! Guru!”

Tabib Huo terbelak.

Ia tidak lagi bisa mendengar apapun lagi sejak melihat Zuiju muncul dari balik pintu. Ia merasa seperti sedang menginjak lapisan awan, ia sangat gembira luar biasa sehingga seluruh pikirannya seras menghilang entah kemana.

Zuiju, sungguh di gadis kecil Zuiju…

Sosok itu, dagunya yang lancip, matanya yang gelap, ekspresi wajahnya…. Itu memang Zuiju.

Mata orang tua itu menjadi berkaca-kaca. Mulutnya bergetar tapi tak mampu berkata-kata.

Sebuah tenaga mendekatinya dan memeluknya erat. Suara tangisan memasuki telinganya, sebuah suara yang terdengar akrab yang membuat orang tua ini ingin ikut menangis juga.

“Guru….guru, aku akhirnya bisa melihatmu”

Tabib Huo menundukan kepalanya. Penglihatannya sedikit kabur. Tapi walaupun samar ia masih bisa melihat muridnya sedang memeluknya dan menangis. Pikirannya sangat kacau ketika ia bicara, “Anakku, anakku…” ia tidak perlu bertanya macam-macam, ia hanya mengelus punggungnya seperti yang selalu ia lakukan di masa lalu.

Dada Pingting terasa sakit, dan agak lama sampai ia akhirnya bisa bernapas normal kembali. Ia tetap berdiri di tempatnya, matanya bersinar terang. Seseorang menarik lengan bajunya dan ia menoleh ke belakang, Chu Beijie tersenyum padanya, “Menangislah di dadaku.”

Pingting masuk ke pelukannya dan mulai terisak.

Dan yang lainnya mulai mengerti. Mereka dengan gembira menyaksikan kedua wanita itu menangis seperti hujan. Bahkan kedua mata Tabib Huo memerah.

Moran berdiri disamping dan tersenyum.

Setelah menunggu sambil berdiri, Fanlu menyadari kalau tangisan Zuiju sepertinya tidak akan pernah berakhir. Ia mendekat untuk mengejeknya. “Jangan menangis, Gurumu sudah setuju untuk menerima aku sebagai menanantunya. Aku sudah bersujud tiga kali, sekarang giliranmu untuk bersujud tiga kali juga.”

Zuiju mengusap airmatanya dan menatap Fanlu, “Siapa yang memintamu bersujud?” Zuiju baru saja menangis sangat deras, matanya menjadi merah dan bengkak Suaranyapun agak serak, ia lalu bertanya lagi pada Fanlu, “Dan Mengapa kau menyebut guruku, ayah mertua?”

Fanlu sama sekali tidak merasa terganggu, ia dengan santai berkata, “Baiklah, aku akan memanggilnya guru juga.”

Tabib Huo merasa hatinya sangat ringan setelah melihat muridnya. Ia tidak pernah merasa begitu gembira dan dengan sulit menahan airmatanya. Mendengar percakapan mereka bedua, ia menatap Zuiju dengan lebih seksama dan mengerti ketika melihat sedikit rona di wajahnya. Rasa gembira di hatinya bahkan menjadi lebih besar dan hidungnya berasa berair lagi. Ia segera tertawa, “Ayah mertua atau guru terserah saja, dan kau tidak perlu berlutut. Kau hanya perlu menjaga muridku dengan baik.”

Zuiju merasa sangat malu, “Guru!”

Sebenarnya tidak akan begitu memalukan jika saja Zuiju tidak berteriak, tapi karena ia melakukannya, maka yang lainnya sontak tertawa. Pingting juga sudah menghapus airmatanya ketika masih di pelukan Chu Beijie. Ia menengadah dan hendak mengatakan sesuatu, tapi Chu Beije segera merasa bersalah karena menyembunyikan hal ini dan ia berkata, “Ada hal yang lebih penting, ayo kita bahas terlebih dahulu.”

Semua orang tahu situasi saat ini lebih mengerikan, dan mereka menjadi sangat serius “Kalau begitu tanpa panjang lebar, percakapan santai ini cukup sampai disini.”

Fanlu mengajak mereka ke sebuah meja dan membeber sebuah gulungan, wajahnya tidak lagi tersenyum. “Ini peta kota Qierou dan wilayah disekitarnya, lima garis dengan warna merah adalah jalur persediaan bahan pangan militer dan semuanya akan saling bersinggunggan disini, Qierou.”

Ia mengambar peta itu sendiri, dan sangat terperinci di banding peta biasanya. Chu Beijie memberinya tatapan salut, diam-diam mengakui kemampuannya.

Zuiju tidak mengerti tentang perang, jadi setelah ia menangis hebat, ia memikirkan Pingting kembali. Ia berkata pada tabib Huo, “Guru, bagaiman kalau kita ke ruanganku, Zuiju akan memijatmu seperti biasanya.” Lalu Zuiju menatap Pingting dan tersenyum padanya. Kegembiraan terlihat di matanya, ketika Zuiju berjalan keluar ia berkata, “Nona Bai, kami akan ke ruanganku.”

Pingting benar-benar ingin tahu kisah sebenarnya saat ini juga. Ia mengikuti Zuiju dan pergi bersama.

Mereka bertiga duduk di kursi, Zuiju menuangkan teh pada cangkir masing-masing. Lalu ia perlahan memijat pundak gurunya sambil mengingat-ingat dengan rinci apa saja yang telah terjadi setelah ia berpisah dengan Pingting.

Karena khawatir tabib Huo dan Pingting akan marah pada Fanlu, ia melewatkan hal-hal buruk yang telah dilakukan Fanlu.

Tabib Huo mendengarkan dan tertawa kecil, “Kau mengatakan kalau ia bertabiat buruk, tapi ia tidak benar-benar melakukan hal buruk.”

Pingting bertanya, “Apa kau menyukainya?”

Pipi Zuiju memerah dan ia berguman “Siapa yang menyukainya?”

Tabib Huo dan Pingting berpikir kalau Zuiju benar-benar menyukainya.

Mereka bertiga berbincang-bincang lama sekali sedangkan para pria dengan seriusnya membahas sesuatu.

Chu Beijie mengemukakan tujuan mereka yang sebenarnya, yang kemudian disambut tawa oleh Fanlu “Tuan telah menemukan orang yang tepat untuk ini. Aku sudah berkelana disekitar pasukan selama beberapa tahun, jadi aku tahu persis keadaan dalam militer. Aku tahu siapa saja Jendral yang akan membelot dan siapa yang tetap setia.”

Chu Beijie sangat senang, ia segera membuat keputusan, “Bagus sekali, kalau begitu segera tulis dengan jelas agar kita bisa segera menyusun rencana pasti.”

Pingting sedang berkelana, kembali ke pegunungan yang seputih salju itu, ketika ia selesai mengucapkan salam perpisahan dengan Zuiju, di hari ia mengira Zuiju telah meninggal karena dimakan para serigala. Ia ingat sekali perasaan pedih yang menyesakan di dadanya dan airmata yang terjatuh berkali-kali. Lalu ia menghela napas beberapa kali dan mulai memberitahu Zuiju tentang Changxiao yang sangat sehat dan mengemaskan. Airmatanya sudah selesai mengalir ketika ia kembali ke ruangan Chu Beijie dan yang lainnya berada.

Begitu memasuki ruangan, Pingting bertanya, “Apakah perencanaannya berjalan lancar?”

Chu Beijie berbalik dan tertawa. “Sungguh berkah baik. Dan, rencana tentang persediaan pangan sedikit diubah. Kali ini, kami sungguh membutuhkan bantuan penasihat Bai.” Lalu Chu Beijie membungkuk pada Pingting.

Pingting tahu kalau Chu Beije sedang bercanda, maka ia membiarkanya saja. Lalu bertanya “Aku tidak akan masuk perangkap lagi. Aku bertaruh, kalau aku menerima hormatmu ini, pasti ada suatu hal yang sangat sulit yang harus kulakukan. Bagian mana yang berubah dari rencana awal?”

Ia memutar kepalanya dan semua orang bertingkah agak aneh, wajah mereka sangat bersemangat. Chu Beijie jelas-jelas sudah memikirkan sebuah rencana hebat.

Chu Beijie tersenyum padanya. Ia diam sejenak sebelum berkata, “Kami tidak menaruh racun, hanya obat.”

Pingting mendengarkan, dan matanya membelak. Alis matanya yang indah tiba-tiba mengendur. Ia menjawab pelan, “Sungguh ide yang hebat sekali. Tenanglah Tuan, Pingting akan segera menyiapkan obat yang dibutuhkan.”

Yang lainnya sudah mulai terbiasa dengan rencana rencana licik Pingting, jadi mereka hanya tersenyum. Fanlu memperhatikan Pingting dan ia benar-benar terkejut.

Setelah persiapan selesai, Fanlu memperkenalkan mereka sebagai teman lama kepada para penjaga pintu. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada semuanya, ia berjalan menuju ruangan Zuiju seperti biasanya.

Tapi begitu ia tiba di depan pintu, Zuiju segera berlari dan menahan pintu agar tidak bisa dibuka. “Mengapa kau kesini? Aku ingin berbincang dengan guru sepanjang malam hari ini.”

Fanlu ingin mengodanya. “Kalau begitu, besok malam?”

“Besok malampun kau tidak boleh masuk.”

Fanlu mengangkat bahu dan hendak pergi.

“Hei” Zuiju khawatir ia marah dan segera memanggilnya agar berhenti. Ia bertanya, “Bagaimana menurutmu, setelah kau bertemu mereka?”

Fanlu berpikir sejenak dan menghela napas dalam, “Aku akhirnya mengerti, mengapa He Xia dan Pejabat Senior Gui menggunakan segala cara dan kemampuan untuk memisahkan mereka.”

Siapa lagi di dunia ini yang mampu menyaingi mereka ketika mereka bersatu?

Wajar sekali kalau dulu He Xia sangat bersusah payah untuk megambil Pingting dari Dong Lin..


--00--


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar