Bermandikan
cahaya pagi, Fei Zhaoxing memimpin pasukannya berjalan di dataran rata. Di
kejauhan mereka sudah bisa melihat gerbang ibukota Gui Li.
Sisa-sisa
pasukan Gui Li sudah dibereskan sepenuhnya. Di dalam dua kota yang tertutup,
masing-masing berisi kepala Le Di dan Le Zhen.
Ayah
dan anak yang dulunya adalah majikannya. Ia mengikuti mereka, mempertaruhkan
nyawanya, menguras keringat, sampai akhirnya mereka berusaha merebusnya
pelan-pelan, seperti membuang busur begitu seluruh burung mati terpanah.
Tidak
puas! Ia benar-benar tidak puas!
Perasaan
ini membuatnya berhianat tanpa ragu, dan akhirnya memberikan hasil.
Wuuuu……wuuuu……
suara terompet tanduk kuno terdengar panjang dan dalam, menandakan kedatangan
mereka.
Gerbang
di buka, Fei Zhaoxing memasuki Gui Li bersama pasukannya diantara suara panjang
terompet tanduk.
Gui
Li sudah tidak ada lagi. He Su sudah meninggal, kerajaan sudah hancur.
Dikedua
sisi jalan, para penduduk berlutut memberi salam. Para penduduk dari negara
yang dikalahkan dipaksa menyerahkan rumah untuk para prajurit. Mereka berlutut
sambil gemetar, tatapan mereka antara marah dan takut. Mereka berusaha
menyembunyikannya, agar tatapan tajam mereka tidak terlihat oleh para prajurit.
Tatapan
mereka mungkin tidak baik, tapi hal itu tidak menurunkan semangat Fei Zhaoxing
dan harga dirinya.
Ia
tidak perlu merasa peduli. Para penduduk ini dengan rendah hati berlutut.
Mereka tahu He Su hanya seorang pengecut. Mereka tidak tahu sebagai seorang
penguasa, seseorang harus tegas, tanpa perasaan dan kejam.
Dan
siapa lagi yang lebih baik dari He Xia, si romantis Tuan Muda Jin Anwang dengan
bela dirinya yang mengagumkan dan juga ketampanannya.
Para
penonton juga mengerti.
Fei
Zhaoxing lebih tahu daripada He Xia. Yaotian, hal yang akan menyulitkan He Xia.
Begitu
Yaotian menghembuskan napas terakhirnya di dalam istana Yun Chang, tidak ada
lagi yang mengikat He Xia, ia tidak terhentikan.
Hal
ini membuat Fei Zhaxing sangat gembira. Kehidupan berjudi dengannya. Sangat
penting untuk melihat kemenangan. Fei Zhaxing telah salah mengikuti Le Zhen,
tapi kali ini ia berhasil bertaruh pada sisi yang menang.
Ia
memilih He Xia dan mendapatkan kesempatan emas.
Setelah
melewati para penduduk yang berlutut, semakin ia kedalam, ia semakin menyadari
jalanan semakin sepi. Biasanya ia akan melihat tatapan ketidakpastian di mata
penduduk, tapi di bawah tatapan dingin pasukan Yun Chang di siang hari seperti
ini, ekspresi mereka sama semua seperti patung.
Salah
satu pengawal He Xia yang dipercaya menyambut mereka di jalan. Ia sangat
bersemangat ketika berkata pada Fei Zhaoxing yang hendak menuju istana, “Tuan
Muda Jin Anwang tidak berada di istana, Jendral Fei silakan menuju Kediaman Jin
Anwang.”
Fei
Zhaoxing mengangguk, menarik tali kekangnya dan berbelok. Kediaman Jin Anwang
tempat tinggal He Xia sebelumnya jadi menunggu disana termasuk wajar.
Akhirnya
ia tiba di Kediaman Jin Awang. Pemandangan yang ia lihat adalah kehancuran. Ia
terkejut untuk beberapa saat sebelum mengikuti para penjaga melewati pintu masuk yang tinggi.
Tempat
itu terlihat hijau karena banyaknya rerumputan yang sangat tinggi.
Di
tengah kolam yang kering, terlihat api unggun, He Xia berdiri sendirian di
tengah kesunyian.
Sosok
kesepian ini mampir menguasai seluruh sungai dan gunung untuk selamanya, dan
namanya akan selalu dikenang.
Fei
Zhaoxing tidak berani menurunkan kewaspadaannya. Ia berlajan mendekat dan
berdiri lalu berkata dengan sopan, “Melapor pada Tuan Besar Jin Anwang, aku
sudah membawa kepala Le Di dan Le Zhen.”
He
Xia tahu ia sudah tiba sejak beberapa saat lalu. Ia berbalik dan menatapnya
lalu tersenyum, “Kerja bagus, kau sudah melakukan dengan baik, aku sudah
menyiapkan hadiahmu. Kemarilah, dan bacakan.”
Seorang
pegawal datang menghampiri, membuka sebuah gulungan dan mulai membaca dengan
keras. Hadianya adalah seperti yang diharapkan, sangat berlimpah. Fei Zhaoxing
terbiasa mengikuti Le Zhen maka ia sering mengunjungi istana sejak kecil.
Hadiah yang diberikan padanya, termasuk benda berharga yang tidak mungkin
diberikan oleh Raja Gui Li terdahulu.
He
Xia duduk di sebuah kursi. Ekspresinya seperti tersenyum tapi tawa di matanya
juga terlihat meskipun tidak jelas, sulit untuk ditebak. Fei Zhaoxing menunggu
sampai si penjaga selesai membaca dan berlutut untuk berterima kasih atas
hadiahnya. “Aku hanya bertempur di medan perang yang mudah, terima kasih berkat
berkah Tuan Besar Jin Anwang. Aku tidak berani menerima begitu banyak hadiah.”
Lalu ia bertanya dengan hati-hati, “Tuan belum melihat kepala Le Di Dan Le
Zhen, mungkin….”
“Tak
perlu.” He Xia menggelengkan kepalanya, “Mengapa aku tidak percaya padamu?”
Dua
pelayan cantik datang membawakan teh hangat, menyajikan pada He Xia dan Fei
Zhaoxing. Fei Zhaoxing berterimakasih pada He Xia dan mengambil cangkirnya
dengan kedua tangan. Cangkir itu bersinar indah. Mudah sekali menebaknya kalau
cangkir itu salah satu benda berharga. Di tempat yang terbengkalai seperti ini,
cangkir itu terlihat tidak pantas.
He
Xia sepertinya mengetahui pemikirannya. He Xia segera meneguk tehnya dan
berkata, “Aku pernah memerintahkan untuk menghias tempat ini dengan sutra
berwarna-warni, dan meletakan beberapa peralatan indah, tapi sama sekali tidak
membuatnya terlihat mewah dan hidup. Aku juga sudah memerintahkan untuk
membanngun kembali tembok-tembok yang rusak, tapi begitu mereka mulai
mengerjakannya aku menyuruhnya berhenti. Kau tahu kenapa?”
Fei
Zhaoxing meletakan cangkirnya dan beridir lalu menjawab dengan nada serius,
“Kediaman Jin Anwang di masa lalu akan selalu menjadi Kediaman Jin Anwang di
masa lalu. Dibangun kembali seperti apapun, masa lalu tidak akan kembali.”
Bibir
tipis He Xia bergerak sedikit hendak tersenyum tapi segera menghilang, “Benar,
apa yang sudah hilang tetap akan hilang. Mengapa ketika orang mengambil
keputusan, mereka tak pernah mengingat hal ini, aku sungguh menyesalinya.”
Diantara
kata-katanya terlihat eskpresi pedih yang luar biasa.
Fei
Zhaoxing tidak menyangka He Xia akan mengucapkan kata-kata seperti ini, keluar
dari dalam hatinya. Ia tersanjung dengan kepercayaannya tapi tiak berani
mengatakan apapun.
Di
dalam hatinya, He Xia adalah orang dengan martabat tinggi yang jarang ada.
Orang jenis ini penuh perasaan tapi menyembunyikan dengan baik di dalam pikiran
mereka, karena mereka takut akan terlihat oleh yang lain.
Fei
Zhaoxing menundukan kepalanya dan mengambil cangkirnya lalu meneguknya untuk
menyejukan tenggorokannya.
“Aku
membunuh He Su dan seluruh keluarganya.” He Xia tiba-tiba berkata, “Apa kau
sudah tahu kabar yang beredar di luar?”
Fei
Zhaoxing menangguk, “Aku sudah mendegarnya dan juga kabar yang beredar.”
“Bagaimana
menurutmu?”
“Anggota
keluarga kerajaan yang sudah ditaklukan tak lebih dari seekor semut. Tuan Besar
Jin Anwang sudah menaklukan dunia, apa salahnya membunuh beberapa ekor semut?”
“Aku
tidak ingin menipumu.” He Xia menatapnya dan tersenyum pedih, “Kabar yang
beredar tidak benar. He Su dan Ratu tidak berniat membunuhku setelah
menyerahkan diri. Aku membunuh mereka bertiga tanpa alasan.” Fei Zhaoxing
terkejut, ia tidak tahu harus berkata apa. Lalu He Xia mengubah pembicaraan,
“Jendral Shang Lu sudah mati, siapa yang akan memimpin Resimen Yongchang?”
Fei
Zhaoxing menjawab, “Ketika pasukan kehilangan penasihat mereka, situasinya
menjadi kacau, jadi harus segera membuat keputusan, saat ini aku yang memimpin
mereka.”
He
Xia sama sekali tidak keberatan, “Dongzhuo sudah cukup umur, sudah waktunya
memberikan pengalaman untuk berlatih. Keadaan di ibukota Yun Chang sudah cukup
stabil, aku hendak membawanya ke medan perang untuk melatihnya beberapa kemampuan.
Berikan Resimen Yongchang padanya dan sampaikan pesanku begitu kau pergi.”
Fei
Zhaoxing mengangguk.
Tak
ada yang mengerti mengapa, He Xia
sepertinya lebih berpikir dalam daripada biasanya. Ia menghela napas, berdiri
dari kursinya dan berkata, “Kemari, temani aku berjalan-jalan.”
Fei
Zhaoxing mengikutinya dari belakang, berkeliling Kediaman Jin Anwang.
Halaman
sepenuhnya terabaikan, kolampun dipenuhi rerumputan liar. Terkadang kolam itu
mengeluarkan beberapa gelembung udara yang membuat riak di permukaannya. Warnanya
tidak lagi berasal dari ikan yang berwarna-warni seperti dulu, melainkan hitam
dan abu-abu dari ikan liar yang entah bagaimana bisa berada di sana.
Para
serangga yang bertengger disekitar rerumputan sangat berisik.
Mereka
berlompatan di sekitar rumput yang tinggi, dari satu batang ke batang yang
lainnya. He Xia setelah agak lama berjalan dalam diam akhirnya membuka
suaranya, “Aku tidak menyangka Gui Li akan jatuh semudah ini.” Suaranya sangat
penuh emosi.
Fei
Zhaoing sedang berusaha menebak jalan pikiran He Xia. Orang itu telah
menaklukan dunia tapi mengapa terlihat lebih kecewa daripada sebelumya.
Ia
memperhatikan punggung He Xia, sangat tegak dan lurus seperti senar kecapi yang
di tarik sangat kuat.
Mungkin
karena saat ini tidak ada apapun yang bisa melawan He Xia, terlebih bersama kehadiran
pasukan He Xia saat ini, membuat Fei Zhaoxing merasa sedikit asing padanya.
Kewibaannya sebagai penguasa telah keluar meskipun ia belum menaiki taktahnya.
“Pasukan
terakhir dari Gui Li telah dihancurkan, dengan begitu empat negara telah di
taklukan menjadi satu. Aku berencana membuat pengumuman resmi, membentuk negara
baru di bawah nama Jin Anwang.”
Fei
Zhaoxing merasa ragu sejenak lalu ia mengutarakan isi kepalanya, “Menetapkan
negara baru memang penting, tapi masalah Chu Beijie belum diselesaikan.
Bukankah sebaiknya kita..”
“Tak
perlu khawatir, bahkan dengan kemampuan Chu Beijie yang sepuluh kali lipat, tak
mungkin ia bisa melawan ratusan ribu prajuritku saat ini. Apa yang perlu di
khawatirkan dari seekor singa yang sudah ompong?” He Xia menyeringai, “Begitu
aku menaiki taktah, statusku akan lebih stabil, saat itu ia tidak lagi menjadi
Tuan Besar Zhen Beiwang dari Dong Lin, hanya seseorang yang berusaha merebut
kekuasaan. Akan sangat wajar menjatuhinya hukuman mati. Meskipun ia akan sulit
dibereskan, tapi aku akan punya banyak waktu untuk mengurusnya, aku akan
menghadapinya perlahan-lahan.”
Menurut
pemikiran He Xia, empat negara telah selesai di taklukan sepenuhnya. Maka tidak
ada lagi lawan yang begitu perlu diperhatikannya, maka ia sedikit enggan untuk
segera membunuh Chu Beijie. Ia akan perlahan mempermainkanya sampai mati,
seperti kucing terhadap tikus.
He
Xia tidak bisa dikatakan besar kepala. Karena bagaimanapun juga empat negara,
seluruh musuh-musunya telah di hancurkan. Apa yang bisa dilakukan Chu Beijie
seorang diri menantang pasukan Yun Chang?
Kalau
ia berani secara terbuka menyatakan pemberontakan, pasukan Yun Chang akan
segera tiba, lalu mereka akan bertempur beberapa kali. Tapi bagaimanapun,
mustahil bagi Chu Beijie untuk melarikan diri dari kematian.
Fei
Zhaoxing sebearnya merasa tidak tenang, tapi mendengar suara He Xia yang berkata
dengan santai. Ia menyadari kalau ia tidak akan bisa menyakinkannya. Maka ia
hanya diam dan mengangguk.
He
Xia tiba-tiba berhenti. “Ada satu hal, kuharap kau bisa melakukannya.”
“Baik.”
“Aku
ingin kau menggumpulkan semua benda berharga dari empat negara, mutiara dan
batu permata. Dan temukan seorang ahli pembuat perhiasan.”
Fei
Zhaoxing akhirnya mengerti, ia berkata, “Untuk membuat mahkota raja, benar
bukan?”
He
Xia menggelengkan kepalanya, mengangkat dua jarinya. “Dua, satu mahkota Raja
dan satu lagi mahkota Ratu. Keduanya harus indah dan sempurna, jangan ada cacat
sedikitpun.”
Fei
Zhaoxing menjawab dan pergi setelah menerima beberapa petunjuk lagi.
Setelah
tiba di tempatnya beristirahat Fei Zhaoxing mulai memikirkan hal tadi. Ia
berpikir, ada sesuatu yang janggal, lalu ia memanggil seorang pengawal He Xia
yang telah selesai bertugas. “Apa Tuan Besar Jin Awang telah bertemu seorang
wanita setelah kembali ke Gui Li?”
Si
pengawal mempertimbangkan dan dengan hati-hati menggelengkan kepalanya, “Tidak
mendengar apapun tentang Tuan Besar dekat dengan seorang wanita. Setelah tiba
di Gui Li, ia sibuk menggurus segala masalah terkait Kediaman Jin Anwang. Tidak
heran, jika ingin mengenang mereka yang sudah meninggal ketika melihat rumah
terdahulunya.”
Fei
Zhaoxing merasakan bongkahan di tenggorokannya tapi ia tidak tahu apa yang
harus dikatakan. Ia merasa sepertinya ia melewatkan sesuatu. Ketika ia
berpikir, seorang bawahannya datang dan melapor bahwa hadiah yang ia dapatkan
telah tiba.
Fei
Zhaoxing menyambutnya sendiri. Begitu ia membuka kotak-kotaknya, ia menyadari
benda-benda itu sangat langka. Sepertinya He Xia sangat bermurah hati dan tidak
akan menjadi seorang Raja yang pelit nantinya.
Fei
Zhaoxing sangat senang dan menghadiahi si pembawa barang beberapa benda.
Pengawal He Xia, Toumu juga datang, ia memberi selamat dengan senyum
menyeringai, “Aku di perintahkan datang kesini dengan sebuah pesan juga.
Masalah Jendral Dongzhuo yang akan bertanggung jawab atas resimen Yongchang,
tolong, Jendral Fei membubuhkan segel militer sebagai tanda penyerahan secara
resmi.”
Fei
Zhaoxing sudah mendengar hal ini tadi. Ia dengan hati-hati, menerima gulungan
kertas, mengelarnya di atas meja dan membubuhkan segel untuk perubahan hak atas
kepemimpinan resimen Yongchang. Lalu ia memerintahkan seorang prajurit untuk
mengirimkannya.
Karena
terlalu senang, meskipun ia sudah menempuh perjalanan panjang, Fei Zhaoxing
tidak mampu terlelap. Lalu ia memanggil beberapa orang bawahannya untuk
minum-minum sedikit.
“Kemarilah,
bersulang! Cangkir ini dipersembahkan untuk para Jendral kita, yang dengan
perlahan tapi pasti, akan menaiki tingkat jabatan tak terbatas di masa depan.
Ini juga dipersembahkan kepada Suami Ratu kita agar ia segera menaiki
taktahnya!”
Seorang
letnan menyela, “Jangan menyebutnya Suami Ratu. Perintah dari atas mengatakan
kalau kita harus memanggilnya dengan sebutan Tuan Besar Jin Anwang. Jendral
Zhang, kau sebaiknya tidak melanggar aturan.”
“Heh,
aku orang yang bertempur di medan perang. Apa aku akan peduli dengan peraturan.
Bersulang!” sang letnan hendak membujuknya lagi tapi segera menghentikannya
ketika Jendral Zhang mengibaskan tangannya dan berteriak dengan tidak sabar,
“Aku tahu, aku tahu, Tuan Besar Jin Anwang, tidak akan dipanggil seperti itu
lebih lama juga, melainkan Kaisar. Kudengar para petugas pemerintahan juga akan
segera menjadi pejabat.”
Para
Jendral dilarang keras untuk menyentuh arak selama di medan perang. Setelah
lama tidak merasakannya, mereka dengan rakus dan gembira meneguk beberapa kendi.
Fei Zhaoxing tersandung ketika berjalan terhuyung-huyung dan entah bagaimana ia
selamat mencapai kamar tidurnya.
Ia
tertidur dan bermimpi tapi tiba-tiba ia tersentak, membuatnya tebangun dari
tidurnya.
Ia
membuka matanya, dengan kaku duduk di atas tempat tidurnya. Jantungnya berdetak
kencang, ia merasa sangat tidak tenang.
Pasti
ada yang salah.
Ia
sangat percaya pada intuisinya.
Ia
tidak pernah merasa bisa beristirahat sejak Le Zhen berniat membunuhnya. Ia
berangkat di tengah malam untuk melarikan diri. Saat itu hatinya juga tidak
tenang seperti ini. Ia berhati-hati, mengingat-ingat percakapannya dengan He
Xia lagi dan lagi, memikirkannya perlahan-lahan lagi dan lagi, tapi sama sekali
tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Ia
telah melakukan semua yang diinginkan He Xia, ia tidak hanya mengacaukan
pasukan Dong Lin tapi juga membunuh Le Di dan Le Zhen begitu juga dengan Shang
Lu, apalagi yang bisa dilakukannya lebih dari ini?
Kalau
masalah ia begitu serakah atas emas dan perhiasan, He Xia pasti tahu akan hal
ini sejak lama dan akan menghukumnya atas alasan yang tidak wajar.
Apa
yang salah?
Apa
ini lagi-lagi membuang busur setelah seluruh burung terpanah? Fei Zhaoxing
menggelengkan kepalanya.
Tidak,
tidak, He Xia bukan Le Di dan Le Zhen. Ia Tuan Besar Jin Anwang yang berbakat
dan sabar.
Setelah
perang selesai, negara baru akan terbentuk. Tidak heran kalau ia tidak sesopan
sebelumnya, tapi selama ia bersedia membagi kekayaannya yang luar biasa, Fei
Zhaoxing tidak mempermasalahkannya sama sekali.
Ia
mencoba berpikir lagi, sama saja, sama sekali tidak terbersit apapun sampai
akhirnya ia terlelap.
Tapi
sejak itu ia menjadi lebih berhati-hati dan selalu waspada.
--
Bergerak
dengan cepat, Chu Beijie dan kelompoknya menuju Qierou. Awalnya ia khawatir
perjalanan akan sangat melelahkan dan Pingting tak mampu melaluinya.
Bai
Pingting juga pernah mengikuti perjalanan bersama pasukan untuk jarak yang jauh
maupun dekat, maka kekhawatiran Chu Beijie tidak beralasan, maka ia memimpin
yang lainnya dengan bergerak lebih cepat.
Seribu
prajurit khusus berpencar di dekat perbatasan Yun Chang untuk menyelinap dan
bertemu kembali di pinggir kota Qierou.
Orang-orang
ini sudah sering bertempur dan melewati peperangan yang dashyat. Setiap
prajurit dipilih sendiri oleh Moran di peringatkan berkali-kali, bergerak tak
terlihat seperti hantu dan jagan membuat kesalahan sekecil apapun.
Tak
ada satupun peringatan terdengar ketika seribu orang itu menyelinap masuk wilayah
Yun Chang dan tiba di pinggiran Qierou. Pasukan Yun Chang sama sekal tidak
menduga kalau pasukan musuh sudah begitu dekat. Dan para penduduk Qierou tidak
tahu akan petaka yang akan terjadi.
Dan
Fanlu tidak tahu sama sekali, dirinya akan menjadi target Panglima Zhen
Beiwang.
Si
Gubernur ini sedang sangat kesal dan sama sekali tidak berhubungan dengan Chu
Beijie.
“Mereka
hanya ingin memaksaku mati! Baiklah, ayo! Setelah begitu lama berada di dalam
pasukan, tidak ada lagi yang tak bisa kulakukan!” dokumen yang baru saja tiba,
dibuat menjadi bola dan dilemparkan ke tanah oleh Fanlu. Suara si Gubernur
terdengar di seluruh kediaman ketika ia berteriak, “Bagaimana aku tahu kemana
dua orang itu pergi? Begitu banyak orang menyaksikan mereka meninggalkan
Qierou, dan terkadang mereka pergi begitu saja. Mungkin mereka sudah melewati
perbatasan beberapa hari lalu. Apa gunanya mengirim dokumen memerintahkan aku
untuk menemukan mereka, padahal mereka sudah pergi? Persetan dengan ini!”
Si
pengirim pesan sudah pergi ketakutan sejak tadi, hanya tinggal Dujin yang masih
berada di ruangan. Ia mengerutkan dahinya ketika menyaksikan Fanlu, dengan
marah melangkah bolak balik di dalam ruangan, ia hanya berdiri diam
dibelakangnya.
Kemarahan
sang Gubernur benar-benar meledak hari ini, entah karena apa.
“Tuan,
tolong tenang sebentar. Meskipun perintah itu tidak masuk akal, tapi tetap
perintah penting, kita tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ini….”
“Aku
tahu kita tidak bisa mengabaikannya.” Fanlu masih mengamuk, ia melepaskan
kemarahannya sampai akhinya bisa sedikit tenang. Tubuhnya mulai sedikit santai.
Dan ia mulai tertawa lebar. Kakinya menyentuh dokumen tadi dan ia menendangnya
ke sudut.
Ia
berjalan untuk duduk di kursinya dan meletakan kakinya di atas meja dengan
acuh. “Hm, baiklah aku akan mencari mereka. Tulis pengumuman di kota, letakan
lukisan wajah dua o..orang… bukan dua petugas itu. Pastikan lukisan wajahnya
sangat mirip dan tulis….” Ia mengunyah sesuatu di mulutnya dan mengatakan dengan
tidak jelas, “Dua petugas telah menghilang, karena itu Sang Gubernur mencari
mereka. Jika hidup bawa orangnya, jika mati bawa mayatnya kepadaku. Si penemu
akan diberikan hadiah seribu koin perak jika hidup dan dua ribu koin perak jika mati. Tulis seperti itu.”
Dari
nada suaranya, Dujin bisa mengetahui kalau Tuan Pu Guang dan Pu Sheng sangat
membuat majikannya luar biasa kesal, tapi ia juga tidak bisa membedakan apakah
majikannya sedang bercanda atau tidak. Ia hampir menangis ketika berkata,
“Tuan, aku khawatir seribu koin perak terlalu sedikit kalau mereka masih hidup,
dan jika mereka mati apakah tidak terlalu besar?”
“Baiklah,
baiklah, terserah kau.” Fanlu mengibaskan tangannya dan bersin. “Pekerjaan hari
ini sudah selesai. Pergilah pasang pengumumannya segera, aku ingin
beristirahat.”
Setelah
kembali ke halaman belakang, ia menarik pergelangan tangan Zuiju dan membawanya
masuk ke ruangan.
Zuiju
membiarkan dirinya di tarik. Dan ia bertanya dengan tegang, “Ada apa? Kau
seharusnya melihat wajahmu sendiri.”
“Ini
hari yang baik. Temani aku berjalan-jalan santai.”
Setelah
mendengarnya, Zuiju terdiam. Ia mencoba melepaskan pergelangan tangannya,
“Lepaskan, tumbuhan kecilku masih belum di beri air. Mengapa aku membiarkan
mereka layu hanya karena Tuan Gubernur ingin berjalan-jalan santai?”
Fanlu
menolak melepaskannya, tidak mengendurkan pegangannya sedikitpun. Ia berbalik
dan menatap Zuiju, “Sebuah dokumen tiba hari ini. Berita besar, Tuan Pu Guang
dan Pu Sheng telah menghilang dan petugas tingkat atas ingin melacak jejak
mereka. Hm, apa kau sekarang ingin menemaniku berjalan-jalan?”
Zuiju
mundur selangkah dan menatap sekelilingnya.
Tidak
ada yang tahu kecuali mereka berdua tentang kematian Pu Guang dan Pu Sheng.
Setelah
He Xia mendapatkan kekuasaan, Yun Chang menerapkan hukuman keras, sehingga
kepanikan terjadi dimana-mana. Zuiju merasa mereka perlu menemukan tempat
tenang untuk membahas masalah ini dengan Fanlu. Ia ragu sejenak dan mulai
berpikir mengapa Fanlu mengajaknya berjalan-jalan. Fanlu melepaskannya dan
membawanya melewati pintu kediaman dengan riang.
Meskipun
Qierou hanya sebuah kota kecil, jalan-jalannya sangat hidup. Fanlu mengenakan
pakaian biasa, dan Zuiju tidak pernah suka mengenakan pakaian mewah. Maka
mereka berdua sama sekali tidak mencolok.
“Mau
tanhulu?”
“Satu
mangkuk susu kedelai?”
Fanlu
sering berhenti begitu ia melihat sesuatu yang ia sukai, ia mengeluarkan uang,
membelinya dan memberikannya pada Zuiju. Zuiju akan menggelengkan kepalanya,
menandakan ia tidak menginginkannya. Dan Fanlu akhirnya akan memberikannya pada
anak kecil yang ia temukan di jalan. Dan akhirnya, Zuiju tak bisa menolak lagi,
ia menerima sebuah boneka kecil yang juga dibeli Fanlu.
Bahkan
setelah berjalan sepanjang sore. Fanlu tidak mengatakan apapun yang berguna. Ia
sama sekali tidak berniat membahas Pu Guang dan Pu Sheng.
Sambil
memegang bonekanya, Zuiju tidak tahan lagi dan berkata, “Hei, bicaralah.”
“Bicara
apa?”
“Apa
yang harus kita lakukan? Meninggalkan kota?”
Fanlu
berbalik dan memperhatikannya. Ia merenung sejenak, “Kau sungguh berpikir kita
sedang melarikan diri?”
Dari
ekspresinya, Zuiju bisa tahu ia sedang tidak berbohong, tapi lagi-lagi
kata-katanya tidak pernah bisa dipercaya. Ia memelankan suaranya, “Kalau begitu
mengapa kau membawaku keluar? Bukankah dokumen itu menyuruhmu untuk melacak
mereka? Kalau kebenaran terungkap, kau tidak akan bisa kabur dari hukuman mati
bahkan jika kau punya seribu kepala.”
“Aku
sudah memberitahu tadi. Kau menemaniku berjalan-jalan santai. Kau sungguh
merasa bersalah dan mengaitkan segalanya dengan melarikan diri.” Fanlu
menegadah dan membelakangi gerbang kota, “Aku sudah mulai melacak mereka sejak
tadi. Apa kau tidak melihat pengumumannya?”
Untuk
masalah penting Zuiju selalu menjadi sangat serius berkali-kali lipat.
Mendengarnya membuat pengumuman, ia segera berniat melihatnya. Ia menarik
tangan Fanlu dan menariknya menuju gerbang kota tanpa berkata-kata.
Biasanya
Fanlu yang selalu menarik tangan Zuiju, maka ini pertama kalinya Zuiju menarik
tangannya.
Zuiju
tidak melakukannya dengan sengaja. Sentuhan lembut tangannya membuat jantung
Fanlu berdetak kencang untuk beberapa saat. Ia menatap Zuiju dalam-dalam, tapi
Zuiju sedang sangat khawatir jadi ia tidak memperhatikan tatapan Fanlu.
Dujing
adalah tipe bawahan yang melakukan tugasnya dengan baik. Pengumuman sudah
dipasang di seluruh gerbang kota. Dan wajah yang dilukis terlihat buruk. Karena
Pu Guang dan Pu Sheng terkenal tidak baik, para penduduk tetap tenang dengan
pengumuman itu dan menunggu kabar selanjutnya. Zuiju berbaur dengan kerumunan
ketika membacanya dan menyadari kalau isi tulisannya benar-benar wajar. Ia
berkata pelan, “Apa kau yang menulis ini?”
Fanlu
menggerutu dan berkata kesal, “Berengsek, si Dujing itu mengganti kata-kataku.
Juru tulis itu benar-benar tidak bagus.”
Zuiju
melangkah mundur, “Apa yang diubah?”
“Sebenarnya
aku menyuruhnya menulis ‘dua babi telah menghilang’ tapi mengapa malah menjadi
‘dua petugas telah menghilang’ ?”
Zuiju
tertawa kecil, lalu menahan tawanya dan melotot pada Fanlu, “Gubernur macam apa
kau, selalu tidak serius dan membuat orang bingung?”
Fanlu
tidak pernah kalah kalau bermain kata, lalu ia berkata, “Kau sudah melihat
pengumumannya, ayo kita pergi.”
Mereka
berdua berpegangan tangan ketika melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Fanlu
berkata dengan suara pelan, “Apa kau takut melihat orang mati?”
Zuiju
mengerutkan alisnya, “Apa kau mau membunuh lagi?”
Ia
hanya sekedar bertanya sama sekali tidak berharap Fanlu akan menjawabnya,
“Benar.”
Jantung
Zuiju berdebar kencang dan tangannya memegang tangan Fanlu dengan lebih erat
lagi.
Suara
Fanlu lebih pelan lagi dari yang tadi hampir berbisik. “Seseorang mengikuti
kita sejak tadi sampai sekarang. Jangan takut, aku akan membawanya ke tempat
gelap seperti hutan untuk berburu, dan membereskannya disana seperti memanah
seekor kelinci.”
Setelah
beberapa kali berbelok, suara kesibukan mulai berkurang. Jalan-jalan semakin
kecil sementara mereka berdua terus melangkah. Celah tembok semakin dekat
bahkan cahaya matahari tidak mampu menyinarinya.
Semakin
dalam semakin gelap.
Fanlu
memiliki sifat liar meskipun ketika berada di dalam pasukan. Berkat
kesibukannya menjadi Gubernur yang harus mengurus dokumen demi dokumen dan
surat-surat yang tak habisnya, ia sekarat menginginkan sebuah target untuk
sedikit kesenangan. Sebagai seorang mata-mata, ia sangat peka. Ia tahu hanya
satu orang yang mengikuti mereka maka ia memilih jalan buntu dan tidak terlalu
khawatir. Begitu ia melihat tembok, ia berbalik, satu tangan memegang tangan
Zuiju dan tangan yang lainnya mengeluarkan busur kecil dari pinggangnya.
Setelah memasang anak panahnya ia bertanya pada Zuiju, “Apa kau lebih suka aku
memanah lehernya atau jantungnya?”
Zuiju
memperhatikan busur dengan anak panah yang sudah terpasang. Ia gemetar, “Jangan
bertanya padaku.” Ia memegang tangan Fanlu lebih erat lagi.
Hal
ini sebenarnya membuat Fanlu bahagia. Dan bibirnya tersenyum, “Teman yang
sedang mengikuti kami, mengapa kau tidak menampakan diri dan berbincang
sedikit.”
Sebuah
sosok keluar dari pojokan tak lama kemudian. Seseorang dengan perlahan
melangkah keluar. Ia tersenyum, “Aku sungguh senang bertemu denganmu. Mengapa
kau tidak mengirim surat untuk memberi kabar, apa kau tidak tahu betapa
khawatirnya kami semua?” ia berbicara langsung kepada Zuiju.
Mata
Zuiju membelak, ia kehilangan suaranya, “Moran!”
Moran
mengangguk, lalu tatapannya beralih menatap tajam pada Fanlu. Suaranya sangat
jelas dan jernih, “Tuan Gubernur, anda beruntung. Kalau aku tidak melihat Zuiju
disampingmu, aku khawatir lehermu sudah terlepas dari tubuhmu.”
Fanlu
terkekeh dan menoleh ke Zuiju. “Aku lebih suka leher. Begitu panahnya
tertancap, akan membuatnya segera terdiam.” Fanlu hendak menurunkan sedikit
busurnya tapi tiba-tiba ia menjadi kaku.
Sesuatu
yang tajam, pedang sedingin es, tanpa suara berada di lehernya, mengimbangi
situasi saat ini.
Suara
seorang pria, dalam dan berat, mulai tertawa, “Aku juga lebih memilih leher.”
Fanlu
terlalu bangga dengan indra tajamnya, tapi ia tidak pernah di dekati dari
belakang semudah ini. Maka ia sangat, sangat terkejut.
Ia
sangat lihai menyelidiki musuh. Mendengar suara yang begitu tenang dan
berwibawa dari belakangnya, Fanlu bisa menebaknya kalau ia bukan orang biasa
melainkan sangat ahli. Ia menurunkan busurnya dengan hati-hati dan memaksa
tertawa, “Pada akhirnya, akulah si kelinci yang tidak beruntung.”
Zuiju
menoleh kebelakang dan lebih terkejut lagi. Tangannya menutupi mulutnya dan ia
mulai menangis, “Oh tidak, Tuan……”
Chu
Bejie berdiri disamping Fanlu dan memandang Zuiju, “Kau sudah membuat Pingting
sedih begitu lama.”
“Nona
Bai?” Zuiju merasa hatinya tiba-tiba bersemangat berlipat-lipat dan ia
mencengkram dadanya erat. Serasa gelombang kembang api mulai meluncur ke atas,
begitu cantik sehingga membuatnya ingin menangis. Ia menarik napas panjang, dan
bicara dengan tergagap, “Nona Bai…. Dia masih hidup? itu bagus….. bagus…..
anaknya? Anak itu…..”
“Kalian
bisa berbincang santai nanti. Lihat, dileherku masih ada benda ini.” Fanlu
menyela.
Zuiju
terlalu takut untuk bergerak. Ia menghapus air matanya dan melotot pada Fanlu,
“Bagaimana kau masih bersikap tidak sopan terhadapku disaat seperti ini? Apa
kau tahu siapa dibelakangmu? Hati-hati atau Tuan akan menusuk pedang itu ke
lehermu.”
Dari
percakapan mereka, Fanlu sudah bisa menebak kalau pria itu adalah Pangliman
Zhen Beiwang.
Lupakan
musuh-musuhnya yang lain. Kalau Panglima Zhen Beiwang yang mengarahkan pedang
ke lehernya, maka ia tidak akan bisa melarikan diri meski kemampuannya sepuluh kali
lipat. Ia bisa menerima keadaannya dan memutuskan kalau langit akan mengambil
hidupnya jika memang sudah waktunya. Ia tidak lagi merasa takut, ekspresinya
menampakan sedikit pusing, “Kau tidak akan merindukanku?”
Zuiju
merasa malu dengan Fanlu yang tersenyum padanya di depan Chu Beijie dan Moran.
Ia merona, “Kau…kau… kau selalu mengejekku. Aku berharap Tuan membunuhmu untuk
membalaskan dendamku!”
Fanlu
hendak bicara lagi tapi tiba-tiba lehernya berasa dingin. Pedang itu bergerak
sedikit melewati kulitnya, menimbulkan sedikit rasa perih.
“Kyaa!”
Zuiju melihat darah mengalir turun dari leher Fanlu dan hampir membuatnya
pingsan. Ia segera menarik napas dalam-dalam, “Tuan, Tuan, aku hanya bercanda,
jangan lakukan….”
Moran
sudah mengira-ngira tentang hubungan mereka, ketika melihat mereka berdua. Ia
memberikan pandangan bertanya pada Chu Beijie. Chu Beijie mengangguk dan Moran
mulai berkata dengan tenang, “Merayu, bertengkar dan berbincang bisa dilakukan
nanti. Tuan Gubernur kami datang hari ini karena ingin membahas sesuatu
denganmu.”
Fanlu
berpikir cepat. He Xia saat ini berada dipuncak kekuasaan. Untuk apa seorang
Panglima Zhen Beiwang berada di kota kecil seperti Qierou? Ia menjawab, “Alasan
mengapa kau tertarik padaku, tidak mungkin karena jabatan rendahku sebagai
Gubernur, satu-satunya alasan adalah jalur persediaan militer yang melewati
kota ini. Karena hubunganku dengan Pejabat Senior Gui, He Xia tidak
memperlakukanku seperti manusia. Bahkan kucing dan anjing berusaha
mempermainkanku. Aku sudah merasa cukup. Singkatnya, aku tidak keberatan
menyerahkan kota ini kepada Panglima Zhen Beiwang, tapi aku punya persyaratan.”
Chu
Beijie melihat niat Fanlu cukup jujur, dan hatinya menjadi lebih lega. Mengapa
seseorang dengan bakat seperti ini di letakan di kota kecil seperti Qierou? Chu
Beijie memperhatikannya bicara sampai akhirnya ia berbicara tentang
persyaratan, tapi ia sudah mendapatkan intinya. Ia menarik pedangnya sehingga
tidak lagi menekan kulit leher Fanlu. Ia menoleh pada Moran.
Moran
bertanya, “Apa persyaratannya?”
Fanlu
berpikir sejenak dan tiba-tiba mengubah pikirannya, “Hm… tidak, Qierouku tetap
sebuah kota bagaimanapun. Tidak sebanding kalau di tukar hanya dengan satu
syarat jadi aku minta dua.”
Ini
pertama kalinya Moran bertemu orang yang begitu lihai, dan ia sangat terkejut.
Zuiju
sudah tahu sifat Fanlu yang seperti ini. Ia mendongak dan memperhatikan darah
yang mengalir di lehernya, diam-diam ia kesal sekali, mengapa pria ini masih
berani menantang Chu Beijie disaat seperti ini. Ia segera berkata, “Apa kau
tidak bisa menahan kata-katamu?” Zuiju tidak menyadari tangannya bergetar
hebat. Berpikir kalau mungkin Tuan Zhen Beiwang akan melepaskannya demi Nona
Bai, ia memberi pandangan memohon pada Chu Beijie, “Tuan, sifatnya memang
seperti itu. Jangan menyalahkannya.”
Melihat
Zuiju berkata seperti itu, hati Fanlu menjadi lebih manis dibanding madu. Ia
tidak peduli apakah nyawanya akan selamat atau tidak, ia tertawa lebar.
Zuiju
menjadi marah dan khawatir. Ia memukul lengan Fanlu dengan keras.
Chu
Beijie dengan acuh memperhatikan dua orang ini. Ia berpikir sejenak dan
berguman, “Katakan dua persyaratanmu.”
Fanlu
sudah tahu Chu Beijie akan menerimanya. Ia tertawa, “Pertama, aku ingin Zuiju.”
Zuiju
menahan napasnya, ia merona sampai ke telinga. Ia tidak tahu apakah sebaiknya
berdiri diam atau bersembunyi. Ia berguman sambil mengutuk, “Bagaimana bisa kau
meminta aku pada Tuan, aku bukan barang.”
Fanlu
berkata, “Aku membuat persyaratan dengan Panglima Zhen Beiwang. Bukan
urusanmu.” Mendengarnya membuat Zuiju sangat marah.
Chu
Beijie mengangguk. “Aku bisa memberikan syarat yang ini padamu.”
Fanlu
bertanya lagi, “Zuiju bukan barang. Bagaimana kau bisa mengatakan ia akan
bersamaku?”
“Mudah.”
Chu Beijie perlahan berkata, “Aku akan bertanya apakah ia setuju sambil
mengarahkan pisauku pada jarimu. Setiap kali ia berkata tidak, aku akan
memotong setu jarimu. Kupastikan ia akan setuju sebelum kesepuluh jarimu habis
terpotong.”
Fanlu
tak bisa menahan rasa terkejutnya. Ia berguman, “Sungguh cara yang kejam.”
Tiga
orang pria itu diam sejenak lalu tertawa lebar. Chu Bejie melangkah mundur
untuk menarik pedangnya dari leher Fanlu.
Wajah
Zuiju benar-benar merah mendengar mereka tertawa. Ia menggertakan giginya,
“Pria memang tidak baik, kalian semua satu kelompok.” Lalu ia menoleh pada
Fanlu, “Bahkan kalau seluruh jarimu terpotong, aku tidak akan peduli. Aku bukan
pelayan yang dijual pada Tuan, tidak ada yang bisa seenaknya padaku!”
Chu
Beijie berkata pelan, “Kalau begitu, mau kita coba?”
Zuiju
menjadi waspada. Ia tahu kalau Chu Beijie selalu bertindak sesuai perkataannya.
Jari-jari itu bukan miliknya, kalau memang dipotong, ia juga tidak merasa
kehilangan. Dari perkataan Moran, sepertinya mereka berencana membunuh sang
Gubernur awalnya.
Zuiju
pernah mendengar kabar, para bangsawan yang saling bercanda tentang membunuh
orang-orang, dan ia khawatir kalau dirinya akan membuat Fanlu terluka. Maka ia
tidak berani bertidak ceroboh, ia menutup mulutnya rapat-rapat, tidak berkata
apapun lagi.
“Apa
yang kedua?” Moran bertanya.
Fanlu
tertawa, “Belum kupikirkan. Apa boleh kukatakan nanti dikemudian hari?”
Chu
Beijie menyadari pria ini sangat pandai dan lihai, dan sulit dipercaya kalau ia
melakukan segalanya untuk Zuiju, tapi hal ini membuat Chu Beijie agak menyukainya.
Sudut bibir Chu Beijie tersenyum kecil, “Baklah.”
Fanlu
bertanya, “Berapa banyak yang Panglima Zhen Beiwang bawa ke dalam kota?”
“Hanya
kami berdua yang masuk ke dalam kota.”
“Hanya
berdua?”
Fanlu
sangat terkejut, Chu Beijie sungguh berani. Kalau identitas dirinya terbongkar,
pasukan dari seluruh kota akan segera berkumpul. Dan tidak mungkin ia bisa
bertahan hidup jika dikepung.
Chu
Beijie berkata lagi, “Dua sudah cukup.”
Sebenarnya
mereka masuk ke dalam kota hanya untuk melihat situasi. Mereka sama sekali
tidak menduga, setelah melewati para penjaga gerbang, mereka melihat Sang
Gubernur dengan pakaian biasa. Dan yang lebih mengejutkan, orang yang
bersamanya adalah Zuiju, gadis yang selama ini membuat Pingting merasa sangat
bersalah. Tak mungkin Chu Beijie melewatkan kesempatan baik ini.
Ketiga
pria ini telah berada di lingkungan militer cukup lama. Mereka sama sekali
tidak menyia-nyiakan waktu, mereka segera mengatur rencana untuk pertemuan
berikutnya. Dan rencananya adalah, berkumpul di Kediaman Gubernur sore ini.
Dan
ketika Chu Beijie dan Moran hendak pergi, Fanlu bertanya “Apa kalian tidak
khawatir aku akan mengambil kota kembali?”
Moran
menatap Zuiju dan menjawab, “Dengan Zuiju sebagai sandera, tidak mungkin kau
berani.”
Ekspresi
Fanlu tiba-tiba berubah. Ia mejawab dengan tajam, “Jangan berani berpikir,
membawanya pergi dariku.” Ia memikirkan sesuatu dan senyumnya terlihat sedikit,
“Begitu ia menghilang dari pandanganku, aku akan membuat pengumuman dari tempat
tertinggi. Kalau tidak, kau bisa membunuhku sekarang.”
Melihat
Fanlu yang menjadi gugup, Chu Beijie melihatnya sebagai hiburan. Ia berkata
dengan pelan “Kami tidak akan membawanya pergi. Kau bisa memiliki Zuiju sebagai
sandera dan kami memiliki gurunya sebagai sandera. Kedua pihak bisa tenang.”
Chu Beijie mendengar suara seseorang berjalan di lorong, ia menoleh pada Moran
untuk memperingatkan.
Waktunya
sudah habis. Mereka berdua menangguk pada Fanlu dan segera menghilang tanpa
berkata apapun lagi.
Fanlu
berdiri di tempatnya, menyaksikan mereka berlalu.
Panglima
Zhen Beiwang memang sesuai reputasinya. Dan kemampuannya sebagai pembunuh,
benar-benar sesuatu yang sulit dicari tandingannya.
Mungkin
selain para penghuni istana, tidak ada yang bisa hidup dalam ketakutan setelah
berhadapan dengan Chu Beijie.
Tangan
Fanlu yang terasa berat, tiba-tiba gemetar beberapa kali. Lalu ia berbalik
menghadap Zuiju.
Zuiju
sangat gembira, matanya membesar dan bulat. “Apa kau mendengarnya? Guruku!
Guruku juga datang, ah….. aku tidak salah dengar bukan? Benarkhan aku tidak
salah dengar?” ia mengambil napas panjang beberapa kali, jantungnya berdetak
kencang sekali di dalam dadanya. Ia menghelan napas, “Oh Dewa, sungguh banyak
sekali berita baik hari ini. Pergi keluar berjalan-jalan santai memang keputusan
tepat. Nona Bai masih hidup, dan Tuan juga sudah datang, bahkan Guruku juga
kemari…..” ia menggosok matanya dan mulai menangis.
Fanlu
sebenarnya tipe yang tidak sabaran, tapi melihat Zuiju menangis, ia berusaha
menghiburnya. “Kenapa kau malah menangis ketika kau sedang sangat gembira?
Sudah hampir mulai gelap, ayo kita kembali.”
Zuiju
masih terisak sedikit, ia menggelengkan kepalanya, “Hatiku masih sangat kacau,
sehingga kakiku terasa lemas. Tapi jangan mengkhawatirkan aku.”
Fanlu
mulai terkekeh, “Aku menjual Qierou untukmu, hatiku jauh lebih kacau. Tapi
mulai sekarang kau milikku. Kurasa, aku hanya sedikit tidak beruntung dan harus
membopongmu kembali ke kediaman.”
Dan
Zuiju tak bisa menahan diri, ia melotot pada Fanlu. Tapi ia bertanya dengan suara
pelan, “Kau sudah bersekutu dengan musuh terdahulumu untukku, apa kau merasa
bersalah?”
Fanlu
menjawab ketus, “Kerajan Yun Chang sudah mati dan He Xia berniat membentuk
negara baru. Tidak bisa dibilang aku menghianati negaraku. Paling tidak, aku
hanya menghianati He Xia. mengapa harus merasa bersalah untuk itu?”
--
Chu
Beijie mendapat kabar baik begitu ia mengunjungi Qierou dan ia sangat senang.
Begitu ia kembali ke tempat persembunyian sementaranya diluar pinggiran Qierou,
ia mengatakan pada Moran, “Jangan beritahu siapapun tentang kejadian hari ini.
Aku ingin memberi Pingting kejutan.”
Moran
berkata, “Tabib Huo akan terkejut juga.”
“Tentu
saja.”
Mereka
berdua selesai membahasnya dan memasuki tenda. Semua orang telah menunggu kabar
dari mereka, Pingting sangat khawatir pada Chu Beijie sejak ia memasuki kota,
tapi begitu melihatnya memasuki tenda ia merasa sangat lega. Ia berdiri
menyambut mereka, “Bagaimana situasi di dalam kota? Kami sudah membahas
beberapa hal tadi dan memikirkan berbagai macam rencana, tapi selalu menemukan
kekurangan. Sungguh sulit membuat kota kecil ini menghilang dari perhatian.”
Pingting mengambil gulungan yang baru saja di tulis di atas meja dan
menyerahkannya pada Chu Beije.
Chu
Beijie membacanya dengan cepat dan meletakannya. Ia tersenyum, “Kupikir, aku
punya rencana yang lebih baik.”
Ia
seorang penasihat utama dan kepercayaan dirinya hanya berarti rencana yang
sangat bagus. Orang-orang yang berkumpul bersam di dalam tenda merasa lega dan
seseorang bertanya, “Rencana seperti apa yang sudah terpikirkan oleh Panglima?”
“Kita
akan memasui kota secara resmi dan memberi salam pada Guberur, mengikuti
peraturan. Lalu semua orang akan duduk dengan tenang dan mengutarakan niat
kita, membujuknya untuk melawan He Xia.”
Mereka
sudah menunggu dengan penasaran, tapi begitu mendengar perkataan Chu Beijie
mereka segera menjadi takut. Mereka tersenyum muram, “Panglima pasti sedang
bercanda bukan?”
Tapi
Pingting tahu persis kalau Chu Beijie tidak pernah bercanda untuk urusan
militer. Ia memikirkan sesuatu dan bertanya pada Chu Beijie, “Apa Tuan sudah
bertemu dengan Gubernur selama perjalanan hari ini? Si Gubernur itu, apakah ia
ditempatkan oleh He Xia atau Gui Changqing?”
Pertanyaan
ini sungguh tepat sasaran, Moran berdiri untuk memujinya.
Kalau
Fanlu bukan dari pihak Gui Changqing dan tidak menderita atas perlakuan
orang-orang He Xia, meskipun ia memiliki Zuiju di sisinya, belum tentu ia akan
menyerahkan Qierou secepat itu begitu ia melihat Chu Beijie.
Chu
Beije melihat Pinting sedang menatap padanya. Ia tak bisa menahan dirinya untuk
menggenggam tangan Pingting dan menjawab dengan santai, “Tebakan Pingting
sangat tepat sekali. Aku sungguh ingin menyerahkan posisiku sebagai penasihat
utama. Masih ada alasan lain dibalik itu, coba Pingting tebak”
Yang
lainnya melihat betapa pasangan ini sangat mesra. Mereka tidak berani bersuara,
hanya tersenyum sambil menunggu.
Pingting
berkata dengan lebih pelan, “Kalau Pingting harus menebak, kemungkinan, Tuan
telah melakukan penyerangan, memberitahu Sang Gubernur seberapa kuatnya seorang
Panglima Zhen Beiwang.”
Moran
bertepuk tangan, “Sungguh hebat, Nona Bai bisa menebak sampai kesana. Kemampuan
Tuan membunuh adalah hal yang sangat ditakuti bahkan oleh para Jendral di empat
negara.”
Chu
Beijie tetap tersenyum, “Lanjutkan.”
Pingting
mengerutkan alisnya lama, lalu ia menggelengkan kepalanya “Tidak tahu lagi, aku
bukan dewa.”
“Kuberi
kau sedikit petunjuk. Aku akan membawa Tabib Huo malam mini.”
Pingting
berguman, “Oh” dan bertanya, “Gubernur Qierou memiliki seseorang yang sangat
disayanginya yang sedang sakit?”
Kalau
sang Gubernur tidak ditekan oleh pihak He Xia dan diancam oleh Chu Beijie dan
ditambah lagi seseorang yang sangat disayanginya sedang sakit, kemungkinan ia
mau bekerja sama tetap hal yang mustahil.
Chu
Beijie berkata lagi, “Siapa yang tidak memiliki seseorang yang sangat
disayanginya? Masalah Qierou telah terpecahkan bagaimanapun. Langit benar-benar
membantu kita kali ini. Ikutlah bersamaku malam ini, kau akan mengerti.”
Begitu
malam tiba, Chu Beijie benar-benar membawa Pingting mengajak Tabib Huo. Lalu
mereka memilih beberapa orang yang paling terlatih dan menyelinap masuk kota
sebelum gerbang kota di tutup.
Ketika
Pingting sedang tidak memperhatikan, Moran bertanya pada Chu Beijie, “Aku sudah
berpikir lagi dan lagi, tetap saja kurasa ini terlalu beresiko. Bagamana kalau
orang itu mengingkarinya, dan melaporkan Tuan? Kalau hanya kita berdua, kita
masih bisa berusaha kabur, tapi aku
khawatir dengan Nona Bai dan Tabib Huo.”
Chu
Beijie menjawab dengan tenang, “Kau masih belum bertemu wanita yang kau cintai.
Begitu kau menemukannya, kau akan tahu mengapa Gubernur itu tidak akan
berhianat. Kau tidak percaya penilaianku?” menjadi seorang penasihat utama
berati kau harus bisa menilai sifat dan kepribadian seseorang. Chu Beijie
jarang sekali salah tentang hal ini, sehingga Moran menjadi agak tenang setelah
mendengar kata-katanya.
Kelompok
itu berhenti di depan Kediaman Gubernur. Mereka menyebutkan diri mereka sebagai
teman lama dari tempat jauh yang datang berkunjung untuk melihat Fanlu. Si
penjaga telah di bertahu sebelumnya oleh Fanlu bahwa beberapa teman lamanya
akan datang berkunjung. Ia harus menyambut mereka dengan sopan dan segera
mempersilahkan mereka masuk.
Tak
lama kemudian, Fanlu datang. Ia meyambut ramah begitu melihat Chu Beijie, “Lama
tak bertemu, apa kawan baik-baik saja?” ia lalu merangklul pundak Chu Beijie
dan memberi isyarat untuk masuk ke ruangan.
Tak
satupun dari para prajurit yang dibawa serta Chu Beijie mengetahui tujuan
mereka sebenarnya datang ke tempat ini. Mereka berpikir siap mati karena
menampakkan diri di Kediaman seorang Gubernur di wilayah musuh, tapi mereka
tetap ikut karena perintah Chu Beijie adalah mutlak. Melihat sikap sang
Gubernur, sebagian kekhawatiran mereka berkurang, tapi mereka tetap waspada.
Tangan mereka mengencangkan pegangan ke pangkal pedang dan tidak beranjak jauh
dari Chu Beijie.
Hanya
Pingting yang tahu kalau Chu Beijie benar-benar sedang santai. Ia tahu kalau
Chu Beijie sangat yakin dengan rencananya, maka Pingting hanya mengikuti saja
tanpa berkomentar.
Fanlu
memimpin rombongan masuk ke ruangan. Ia membubarkan para pelayan sebelum
melepaskan pundak Chu Beijie. Moran memperkenalkan setiap orang. Ia menunjuk
Pingting dan berkata, “Ini Nona Bai.”
Pingting
belum pernah melihat Fanlu, maka Pingting hanya menanggapnya sebagai orang
asing dan ia dengan sopan menganggukkan kepalanya. Ia sama sekali tidak menduga
kalau pria inilah yang membuatkannya berita kematian palsu dirinya.
Dan
Fanlu, ia menyadari kalau bukan karena wanita ini ia tak akan pernah bertemu
Zuiju. Karena Zuiju, Fanlu memberikan seulas senyuman, yang terlihat agak aneh
bagi Pingting.
Lalu
Moran dengan sopan menunjuk pada Tabib Huo, “Ini si tabib jenius Huo Yunan.”
Begitu
kata-kata ini keluar, ekspresi Fanlu menjadi serius. Ia segera berlutut ke
tanah dengan suara keras.
Tabib
Huo sangat terkejut. Ia tahu kalau orang ini sangat penting bagi Tuan Zhen
Beiwang dan segera membantunya untuk berdir. “Tidak, tidak, aku tidak pantas diperlakukan
seperti ini. Biarkan aku memeriksa siapa yang sakit. Aku bukan orang tua yang
hebat tapi kemampuan mengobatiku lumayan bagus”
Fanlu
tetap berlutut, “Tidak ada yang sakit. Aku hanya punya sebuah permintaan
padamu. Namaku Fanlu, wajahku lumayan tampan, tubuhku sehat, cukup hebat dalam
memanah, dan memperlakukan orang-orang dengan baik sepenuh hati, sangat pintar,
cepat belajar dibanding orang lain…..”
Ia
bicara dengan cepat tentang berbagai hal. Selain Chu Beijie dan Moran tak ada
seorangpun yang bisa menebak maksud perkataannya. Setelah Fanlu selesai
mengutarakan semua kemampuan dan kehebatannya, ia bertanya pada tabib Huo,
“Bagaimana, apa kau cukup puas dengan pria seperti aku?”
Tabib
Huo sedikit bingung mendengar perkataan Fanlu. Ia berpikir mungkin Fanlu
berlutut karena hendak belajar ilmu pengobatan padanya. Ia hanya memiliki satu
murid sepanjang hidupnya, Zuiju, dan tidak berniat mengambil murid lagi. Tapi
karena ia tahu betapa pentingnya orang ini bagi Tuan Zhen Beiwang untuk rencana
besarnya, ia tidak berani menolaknya. Ia segera menjawab samar, “Bagaimana
mungkin aku tidak puas dengan orang berbakat sepertimu?”
Mendengar
kata-kata tabib Huo, Fanlu menjawab dengan gembira, “Kalau begitu aku harus
bersujud tiga kali, agar terlihat resmi.”
“Tidak,
tidak, aku tidak pantas….”
Tapi
sebelum Tabib Huo selesai berkata, Fanlu sudah bersujud tiga kali dengan suara
kepala menyentuh lantai dengan keras. Lalu Fanlu berdiri dan ekspresi wajahnya
terlihat ada sedikit rasa humor dibanding yang sebelumnya sangat serius sekali.
Ia menyeringai, “Sekarang sudah tidak boleh menyangkal, terimalah hormatku,
ayah mertua.”
Mendengar
kata-kata ini tidak hanya Tabib Huo, Pingting juga ikut terkejut.
Dan
yang lainnya saling bertukar pandang, sedangkan Fanlu terlihat seperti telah
memenangkan sebuah pertempuran. Ia segera melompat dan pergi ke belakang sambil
berteriak, “Tunanganku! Tunangan Fanlu, kemarilah beri salam pada gurumu yang
juga ayah mertuaku.”
Fanlu
telah membohongi Zuiju yang mengatakan akan segera memanggilnya begitu Chu
Beijie tiba. Tapi Fanlu malah menyerang tabib Huo terlebih dahulu sebelum ia
memberitahunya.
Zuiju
menungu dengan tidak sabar di ruangannya ingin segera melihat gurunya dan Nona
Bai. Tiba-tiba terdengar suara teriakan Fanlu, ia segera bergegas menghampiri.
Begitu ia memasuki ruangan, ia melihat wajah yang akrab dan ia berkata dengan
tenggorokan yang hampir tercekik, “Nona Bai…” lalu ia berbalik dan meskipun ia
sudah bersiap ia sangat terkejut melihat gurunya menjadi sangat kurus.
Ruangan
menjadi sangat sunyi, bahkan suara jarum yang terjatuhpun akan terdengar jelas.
Zuiju
berdiri denga tatapan kosong agak lama, sampai akhirnya pundaknya bergetar dan
mulai menangis, “Guru! Guru!”
Tabib
Huo terbelak.
Ia
tidak lagi bisa mendengar apapun lagi sejak melihat Zuiju muncul dari balik
pintu. Ia merasa seperti sedang menginjak lapisan awan, ia sangat gembira luar
biasa sehingga seluruh pikirannya seras menghilang entah kemana.
Zuiju,
sungguh di gadis kecil Zuiju…
Sosok
itu, dagunya yang lancip, matanya yang gelap, ekspresi wajahnya…. Itu memang
Zuiju.
Mata
orang tua itu menjadi berkaca-kaca. Mulutnya bergetar tapi tak mampu
berkata-kata.
Sebuah
tenaga mendekatinya dan memeluknya erat. Suara tangisan memasuki telinganya,
sebuah suara yang terdengar akrab yang membuat orang tua ini ingin ikut
menangis juga.
“Guru….guru,
aku akhirnya bisa melihatmu”
Tabib
Huo menundukan kepalanya. Penglihatannya sedikit kabur. Tapi walaupun samar ia
masih bisa melihat muridnya sedang memeluknya dan menangis. Pikirannya sangat
kacau ketika ia bicara, “Anakku, anakku…” ia tidak perlu bertanya macam-macam,
ia hanya mengelus punggungnya seperti yang selalu ia lakukan di masa lalu.
Dada
Pingting terasa sakit, dan agak lama sampai ia akhirnya bisa bernapas normal
kembali. Ia tetap berdiri di tempatnya, matanya bersinar terang. Seseorang
menarik lengan bajunya dan ia menoleh ke belakang, Chu Beijie tersenyum
padanya, “Menangislah di dadaku.”
Pingting
masuk ke pelukannya dan mulai terisak.
Dan
yang lainnya mulai mengerti. Mereka dengan gembira menyaksikan kedua wanita itu
menangis seperti hujan. Bahkan kedua mata Tabib Huo memerah.
Moran
berdiri disamping dan tersenyum.
Setelah
menunggu sambil berdiri, Fanlu menyadari kalau tangisan Zuiju sepertinya tidak akan
pernah berakhir. Ia mendekat untuk mengejeknya. “Jangan menangis, Gurumu sudah
setuju untuk menerima aku sebagai menanantunya. Aku sudah bersujud tiga kali,
sekarang giliranmu untuk bersujud tiga kali juga.”
Zuiju
mengusap airmatanya dan menatap Fanlu, “Siapa yang memintamu bersujud?” Zuiju
baru saja menangis sangat deras, matanya menjadi merah dan bengkak Suaranyapun
agak serak, ia lalu bertanya lagi pada Fanlu, “Dan Mengapa kau menyebut guruku,
ayah mertua?”
Fanlu
sama sekali tidak merasa terganggu, ia dengan santai berkata, “Baiklah, aku
akan memanggilnya guru juga.”
Tabib
Huo merasa hatinya sangat ringan setelah melihat muridnya. Ia tidak pernah
merasa begitu gembira dan dengan sulit menahan airmatanya. Mendengar percakapan
mereka bedua, ia menatap Zuiju dengan lebih seksama dan mengerti ketika melihat
sedikit rona di wajahnya. Rasa gembira di hatinya bahkan menjadi lebih besar
dan hidungnya berasa berair lagi. Ia segera tertawa, “Ayah mertua atau guru
terserah saja, dan kau tidak perlu berlutut. Kau hanya perlu menjaga muridku
dengan baik.”
Zuiju
merasa sangat malu, “Guru!”
Sebenarnya
tidak akan begitu memalukan jika saja Zuiju tidak berteriak, tapi karena ia
melakukannya, maka yang lainnya sontak tertawa. Pingting juga sudah menghapus
airmatanya ketika masih di pelukan Chu Beijie. Ia menengadah dan hendak
mengatakan sesuatu, tapi Chu Beije segera merasa bersalah karena menyembunyikan
hal ini dan ia berkata, “Ada hal yang lebih penting, ayo kita bahas terlebih
dahulu.”
Semua
orang tahu situasi saat ini lebih mengerikan, dan mereka menjadi sangat serius
“Kalau begitu tanpa panjang lebar, percakapan santai ini cukup sampai disini.”
Fanlu
mengajak mereka ke sebuah meja dan membeber sebuah gulungan, wajahnya tidak
lagi tersenyum. “Ini peta kota Qierou dan wilayah disekitarnya, lima garis
dengan warna merah adalah jalur persediaan bahan pangan militer dan semuanya
akan saling bersinggunggan disini, Qierou.”
Ia
mengambar peta itu sendiri, dan sangat terperinci di banding peta biasanya. Chu
Beijie memberinya tatapan salut, diam-diam mengakui kemampuannya.
Zuiju
tidak mengerti tentang perang, jadi setelah ia menangis hebat, ia memikirkan
Pingting kembali. Ia berkata pada tabib Huo, “Guru, bagaiman kalau kita ke
ruanganku, Zuiju akan memijatmu seperti biasanya.” Lalu Zuiju menatap Pingting
dan tersenyum padanya. Kegembiraan terlihat di matanya, ketika Zuiju berjalan
keluar ia berkata, “Nona Bai, kami akan ke ruanganku.”
Pingting
benar-benar ingin tahu kisah sebenarnya saat ini juga. Ia mengikuti Zuiju dan
pergi bersama.
Mereka
bertiga duduk di kursi, Zuiju menuangkan teh pada cangkir masing-masing. Lalu
ia perlahan memijat pundak gurunya sambil mengingat-ingat dengan rinci apa saja
yang telah terjadi setelah ia berpisah dengan Pingting.
Karena
khawatir tabib Huo dan Pingting akan marah pada Fanlu, ia melewatkan hal-hal
buruk yang telah dilakukan Fanlu.
Tabib
Huo mendengarkan dan tertawa kecil, “Kau mengatakan kalau ia bertabiat buruk,
tapi ia tidak benar-benar melakukan hal buruk.”
Pingting
bertanya, “Apa kau menyukainya?”
Pipi
Zuiju memerah dan ia berguman “Siapa yang menyukainya?”
Tabib
Huo dan Pingting berpikir kalau Zuiju benar-benar menyukainya.
Mereka
bertiga berbincang-bincang lama sekali sedangkan para pria dengan seriusnya
membahas sesuatu.
Chu
Beijie mengemukakan tujuan mereka yang sebenarnya, yang kemudian disambut tawa
oleh Fanlu “Tuan telah menemukan orang yang tepat untuk ini. Aku sudah
berkelana disekitar pasukan selama beberapa tahun, jadi aku tahu persis keadaan
dalam militer. Aku tahu siapa saja Jendral yang akan membelot dan siapa yang
tetap setia.”
Chu
Beijie sangat senang, ia segera membuat keputusan, “Bagus sekali, kalau begitu
segera tulis dengan jelas agar kita bisa segera menyusun rencana pasti.”
Pingting
sedang berkelana, kembali ke pegunungan yang seputih salju itu, ketika ia selesai
mengucapkan salam perpisahan dengan Zuiju, di hari ia mengira Zuiju telah
meninggal karena dimakan para serigala. Ia ingat sekali perasaan pedih yang
menyesakan di dadanya dan airmata yang terjatuh berkali-kali. Lalu ia menghela
napas beberapa kali dan mulai memberitahu Zuiju tentang Changxiao yang sangat
sehat dan mengemaskan. Airmatanya sudah selesai mengalir ketika ia kembali ke
ruangan Chu Beijie dan yang lainnya berada.
Begitu
memasuki ruangan, Pingting bertanya, “Apakah perencanaannya berjalan lancar?”
Chu
Beijie berbalik dan tertawa. “Sungguh berkah baik. Dan, rencana tentang
persediaan pangan sedikit diubah. Kali ini, kami sungguh membutuhkan bantuan
penasihat Bai.” Lalu Chu Beijie membungkuk pada Pingting.
Pingting
tahu kalau Chu Beije sedang bercanda, maka ia membiarkanya saja. Lalu bertanya
“Aku tidak akan masuk perangkap lagi. Aku bertaruh, kalau aku menerima hormatmu
ini, pasti ada suatu hal yang sangat sulit yang harus kulakukan. Bagian mana
yang berubah dari rencana awal?”
Ia
memutar kepalanya dan semua orang bertingkah agak aneh, wajah mereka sangat
bersemangat. Chu Beijie jelas-jelas sudah memikirkan sebuah rencana hebat.
Chu
Beijie tersenyum padanya. Ia diam sejenak sebelum berkata, “Kami tidak menaruh
racun, hanya obat.”
Pingting
mendengarkan, dan matanya membelak. Alis matanya yang indah tiba-tiba
mengendur. Ia menjawab pelan, “Sungguh ide yang hebat sekali. Tenanglah Tuan,
Pingting akan segera menyiapkan obat yang dibutuhkan.”
Yang
lainnya sudah mulai terbiasa dengan rencana rencana licik Pingting, jadi mereka
hanya tersenyum. Fanlu memperhatikan Pingting dan ia benar-benar terkejut.
Setelah
persiapan selesai, Fanlu memperkenalkan mereka sebagai teman lama kepada para
penjaga pintu. Setelah mengucapkan salam perpisahan pada semuanya, ia berjalan
menuju ruangan Zuiju seperti biasanya.
Tapi
begitu ia tiba di depan pintu, Zuiju segera berlari dan menahan pintu agar
tidak bisa dibuka. “Mengapa kau kesini? Aku ingin berbincang dengan guru
sepanjang malam hari ini.”
Fanlu
ingin mengodanya. “Kalau begitu, besok malam?”
“Besok
malampun kau tidak boleh masuk.”
Fanlu
mengangkat bahu dan hendak pergi.
“Hei”
Zuiju khawatir ia marah dan segera memanggilnya agar berhenti. Ia bertanya,
“Bagaimana menurutmu, setelah kau bertemu mereka?”
Fanlu
berpikir sejenak dan menghela napas dalam, “Aku akhirnya mengerti, mengapa He
Xia dan Pejabat Senior Gui menggunakan segala cara dan kemampuan untuk
memisahkan mereka.”
Siapa
lagi di dunia ini yang mampu menyaingi mereka ketika mereka bersatu?
Wajar
sekali kalau dulu He Xia sangat bersusah payah untuk megambil Pingting dari
Dong Lin..
--00--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar