Minggu, 29 Oktober 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.72

-- Volume 3 chapter 72 --



Ternyata keadaan Qing Tian jauh lebih buruk dari perkiraan.

Sejak He Xia mendapatkan kekuasaan yang jauh lebih besar, sikapnya terhadap Jendral Yun Chang yang bekerja tanpa lelah di balik kesuksesannya ini berbalik seratus delapan puluh derajat. Meskipun hadiah-hadiah masih terus berdatangan, tapi, kepercayaannya semakin menjauh. Qing Tian cukup pintar, maka tidak mungkin ia tidak mengetahui kalau He Xia sedang meletakan orang-orangnya di posisi-posisi penting. Salah satu bukti nyatanya adalah memberikan posisi komandan utama Resimen Gangfeng pada Cui Linjian.

Ini artinya, jika suatu saat He Xia selesai mendirikan negara baru, Yun Chang bukan poros utamanya.

Dan seluruh penduduk dari empat negara akan setara.

Bagi rakyat Yun Chang, hal ini sungguh tidak baik.

Ketika Chu Beijie secara rahasia menemuinya malam itu, Qing Tian telah sangat terpojok oleh He Xia. Qing Tian tidak mengerti mengapa kedatangan Chu Beijie seperti sosok dewa penolong di matanya dan megapa juga ia tidak segera memanggil para pengawalnya.

Panglima Zhen Beiwang, yang telah menghilang begitu lama, seperti seekor hewan legenda yang menyilaukan. Lawan sebanding He Xia, tiba-tiba muncul di hadapannya dan berusaha membujuknya, hal ini tidak pernah terpikirkan akan terjadi padanya.

Kata-kata Chu Beijie tidak bisa dikatakan hanya harapan belaka.

“Jendral Qing sudah menyaksikan sendiri cara yang digunakan He Xia untuk menyingkirkan Keluarga Gui. Keluarga Gui telah hancur di tangannya, begitu juga keluarga kerajaan Yun Chang. Tidak ada jaminan Jendral Qing tidak akan dihancurkan olehnya suatu saat. Sebagai keluarga yang terkemuka, tidakkah Jendral Qing berharap generasi penerusya masih tetap selamat?”

Qing Tian menjawab dengan sungguh-sungguh, “Jangan mencoba membuat perselisihan, aku belum pernah melakukan hal yang menyinggung Tuan Besar Jin Anwang, bagaimana mungkin ia merencanakan sesuatu padaku?”

Chu Beijie melihat keteguhannya. Chu Beijie tersenyum lebih dalam dan menjawab, “Lalu apa yang telah di lakukan Yaotian yang membuat He Xia merasa tidak dihormati olehnya?”

Tubuh Qing Tian bergetar sedikit, “Tuan Putri meninggal ketika melahirkan.”

Qing Tian berpikir Chu Beijie akan terus melanjutkan, tapi ia tidak menyangka kalau Chu Beijie justru menghela napas ringan, “Kalau memang itu yang Jendral percaya, apa lagi yang bisa kukatakan? Seorang pahlawan selalu meninggal dengan gagah berani di medan perang, bagaimana bisa Gui Changning beristirahat dengan tenang dengan kematiannya yang seperti itu?”

Chu Beijie mengenakan pakaian sederhana untuk menyembunyikan dirinya di malam hari, tapi keberadaannya tetap memberi kesan wibawanya yang kuat. Dibanding He Xia yang romantis, pria ini lebih memperlihatkan kebranian seorang pahlawan.

Qing Tian dengan tangan terkepal kuat di pegangan pedangnya menyaksikan Chu Beijie pergi meninggalkannya.

Chu Beijie mengunjunginya di tengah malam tapi tidak menyerangnya, tidak seperti yang terjadi pada Cui Linjian, kalau hal ini sampai diketahui He Xia, kecurigaan He Xia padanya akan semakin meningkat.

Setelah ragu beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk menutup mulut atas kejadian barusan.

Kecurigaan diantara para Jendral besar saat ini sudah sangat mengerikan.

Jendral Qing Tian mempertimbangkan tindakannya sepanjang malam. Sinar fajar sudah hampir menerangi langit ketika seorang pengawalnya masuk ke dalam tendanya untuk melapor, “Jendral, gawat, tahanan di penjara air telah kabur!”

“Apa?” rasa kantuk Qing Tian segera menghilang, matanya melotot selebar-lebarnya. Ia berkata, “Bagaimana ia melarikan diri? Apa sudah ada yang diperintahkan untuk menangkapnya?”

“Sepertinya ia melarikan diri dengan menyelam lewat air. Besi penahan telah terbuka, dan tidak ada yang tahu bagaimana ia membuka pintu jeruji. Jendral, apakah kita harus segera melapor pada Tuan Besar Jin Anwang?”

Qing Tian agak bingung sesaat tapi ia segera menjawab dengan tenang, “Jangan sampai hal ini tersebar keluar. Kalian semua harus menjaga mulut kalian. Aku ada sebuah rencana.”  Ia memerintahkan pengawalnya pergi dan berganti pakaian. Berdiri maupun duduk tetap membuatnya tidak nyaman, ia merasa khawatir luar biasa. Selama berperang ia tidak peduli seberapa banyak kehilangan yang ditanggungnya, tapi ternyata mempertahankan sebuah jabatan jauh lebih sulit dan menyakitkan.

Sial, begitu hujan, airnya mengalir membasahi semuanya.

--
Istan kerajaan Gui Li.

Di aula utama, Dongzhuo sedang melapor pada He Xia, “Mata-mata kita telah menemukan jejak Ruohan di Bei Mo. Ia masih berusaha merekrut prajurit baru secara diam-diam”

“Ruo Han?” He Xia melambaikan tangannya tak peduli, “Biarkan dia merekrut peralahan. Aku ingin mendapatkan para pemberontak terkumpul semuanya, agar bisa menyingkirkannya sekaligus. Jangan khawatir, aku sudah punya rencana untuk menghadapi Ruo Han.”

He Xia masih belum mendengar kabar Ze Yin yang telah kabur.

Ia memiliki banyak keuntungan dengan membiarkan Ze Yin tetap hidup. Pengaruh Panglima Ze Yin terhadap pasukan Bei Mo seperti Chu Beijie terhadap pasukan Dong Lin, maka He Xia membiarkannya tetap hidup untuk mencegah pemberontakan Bei Mo dimasa depan nanti.

Bagaimana reaksi para pemberontak Bei Mo ketika mereka mengacungkan pedang tajam mereka dan menemukan bahwa Panglima yang paling mereka hormati dan telah meninggal meninggal lama, muncul di hadapn mereka?

Hal paling penting harus digunakaan di saat-saat terakhir. Hal ini selalu dipegang He Xia setiap kali ia merancang sebuah rencana.

“Laporan dari Qing Tian baru saja tiba. Ia menulis bahwa ia tidak berniat mangkir dari perintah militer, ia tidak bisa segera berangkat karena pasukannya terserang penyakit aneh, mereka semua merasakan anggota badan mereka lumpuh dan tubuh mereka kesemutan…”

“Hmmph,” He Xia menyeringai, “Memalukan sekali, mengutarakan alasan semacam ini. Karena ia mengatakan penyakit, apa penyakit ini sudah diperiksa?”
Dongzhuo adalah orang yang serius dan jujur, ia menjawab “Qing Tian tidak bermaksud mengada-ada, aku juga mendapat kabar serupa disaat yang bersamaan, semuanya mengabarkan kalau di beberapa tenda, para prajurit telah mengalami gejala yang sama. Kami khawatir kalau itu wabah, tapi kondisi para prajurit tidak terlalu parah, tidak ada yang sampai meninggal.”

Hal ini menarik perhatian penuh He Xia, “Apa makanan sudah diperiksa?”

“Tentu saja, mereka sudah memeriksanya. Tak ada masalah, sepertinya sumbernya bukan dari makanan.”

He Xia tersenyum dingin, “Hal itu bahkan lebih mencuigakan, kalau tidak ditemukan apapun. Apa kau sudah lupa siapa yang berada di samping Chu Beijie? Bukan hanya masalah di sebuah perkemahan resimen  tapi juga di beberapa negara. Berani sekali mereka menyusup ke wilayah Yun Chang.”

Dongzhuo tahu persis yang dimaksud He Xia adalah Pingting. Hatinya terkejut, ia berkata dengan enggan, “Tidak mudah mencampurkan sesuatu pada persediaan pangan militer, jadi kurasa hal itu mustahil. Kecuali entah bagamana, mereka berhasil menyelinap ke Zuxi dan memiliki cara untuk mendekati gudang pangan disana”

Para pejabat lain yang berada disana terutama dari militer, semuanya mengangguk setuju.

He Xia tahu, perkataan Dongzhuo memang benar dan ia memikirkannya baik-baik. Tiba-tiba ekspresinya berubah, ia berkata dengan agak keras, “Bawakan peta!” setelah membentangkan peta di atas meja ia mempelajarinya perlahan-lahan, lalu He Xia menunjuk ke sebuah titik. Ia berseru,
“Mereka sungguh pintar, bisa memikirkan hal seperti ini.”

Para pejabat lainnya berkumpul ke depan meja, berusaha melihat ke arah jari He Xia menunjuk. Lalu mereka mendengar He Xia berkata lagi, “Siapa Gubernur Qierou saat ini?”

Seseorang segera memeriksa daftar pejabat dan menjawab “Namanya Fanlu.”

He Xia mendengarnya dan segera mengetahui kalau ia adalah salah satu bawahan Gui Changqing, hal ini bahkan membuat kecurigaannya menjadi lebih pasti. He Xia menggulung petanya dan berkata dengan tenang, “Aku bertaruh, Chu Beijie sekarang berada di Yun Chang, segera lakukan persiapan untuk berangkat, aku sendiri yang akan memimpin pasukan, kembali ke Yun Chang.”

Keahliannya adalah memimpin pasukan dan tak pernah terkalahkan. Ketika mendengar ia sendiri yang akan memimpin, ekspresi wajahnya terlihat sangat yakin dan tegas. Meskipun yang lainnya ada yang merasa ragu dengan keputusannya tapi mereka tidak berani mengungkapkannya. Mereka dengan kompak menjawab dengan keras, “Baik”

Para Jendral tahu akan terjadi pertempuran, dan itu artinya akan ada hadiah untuk dimenangkan maka mereka sangat menyetujui hal ini. Dan mereka mejadi lebih bersemangat.

He Xia berbalik pada Fei Zhaoxing dan berkata, “Zhaoxing, aku khawatir dengan Gui Li, kau selalu mengurus masalah-masalah dengan baik, kau tinggallah disini dan pastikan semuanya baik-baik saja. Sebenarnya ada sekelompok prajurit khusus yang mengurus kota, mereka akan diperintahkan untuk mematuhimu. Untuk resimen Weibei dan sisanya, mereka semua akan ikut bersamaku untuk perjalanan kali ini.”

Jantung Fei Zhaoxing membeku.

Dengan kata lain, He Xia bermaksud mengambil alih kekuatan militernya dan melucutinya habis-habisan. Bukankah itu artinya kematian, jika He Xia meninggalkan perintah rahasia untuk menghabisi dirinya ketika He Xia pergi?”

Fei Zhaoxing mengepalkan tinjunya diam-diam, tapi eksresi wajahnya sama sekali tidak berubah. “Baiklah.”

He Xia memperhatikan Fei Zhaoxing mengeluarkan lambang komando resimen Weibei dan meletakannya di meja. Lalu ia mengangguk dan berkata, “Kalian semua mulailah bersiap, kita akan berangkat tiga jam dari sekarang di gerbang kota.”

Semuanya menjawab dengan keras ‘Baik’ dan segera membubarkan diri.

Fei Zhaoxing meninggalkan gerbang istana sendirian. Ia mendengar seseorang memanggilnya dari belakang, “Jendral Fei, tunggu.”

Ia berbalik dan melihat kepala pengawal pribadi He Xia sedang berlari kearahnya dengan empat orang penjaga lain di belakangnya. Ia tersenyum ketika berkata pada Fei Zhaoxing, “Tuan Besar Jin Anwang telah memerintahkan untuk menyerahkan komando pasukan penjaga kota padamu, aku diperintahkan untuk membawamu menemui mereka sekarang.”

Eksrepsi wajah Fei Zhaoxing sangat wajar dan tidak memperlihatkan akan ada masalah, si kepala pengawal tidak menyangka kalau Fei Zhaoxing lebih pintar daripada rata-rata orang biasa dan telah mencurigai He Xia agak lama.

Tatapan Fei Zhaoxing tidak bergerak, ia hanya melihat para penjaga itu menunduk hormat padanya. Tidak mungkin ia tidak mengerti, kalau ia membuat sedikit saja gerakan, para penjaga itu akan segera mengeluarkan pedang mereka. Ia tertawa kecil dalam hati, sepertinya He Xia benar-benar sudah memerintahkan bawahannya untuk menangkapnya begitu ia sendirian dan segera membereskannya. Fei Zhaoxing tersenyum dan menjawab, “Baiklah, terima kasih kalian sudah bersedia menemaniku.”

Masing-masing dari mereka menaiki kuda mereka sendiri-sendiri dan baru saja hendak berbalik ketika Fei Zhaoxing tiba-tiba mengeluarkan pedangnya dan menusuk si kepala penjaga tepat di jantungnya.

Mereka sama sekali tidak mengira Fei Zhaoxing akan menyerang pertama kali seperti itu, si kepala penjaga berteriak kesakitan lalu terjatuh dari kudanya.

Fei Zhaoxing membenarkan arah kudanya dan berlari kencang. Para penjaga lainnya yang terkejut segera bergerak mengejarnya sekuat tenaga. Perintah He Xia sepertinya sudah mulai dilaksanaka, para prajurit sudah mulai berbaris di depan gerbang ibukota untuk bersiap berangkat, karena itu gerbang itu terbuka lebar. Fei Zhaoxing masih memakai pakaian seragam militernya, para pejaga gerbang yang mengenalinya segera memberi hormat, mereka baru saja menegakkan tubuh mereka kembali tapi Fei Zhaoxing dan kudanya telah menghilang seperti angin.

He Xia yang menerima kabar itu menjadi sangat marah, “Bagaimana kalian bisa gagal menjalankan tugas mudah seperti itu?”

Karena pasukan sudah siap untuk berangkat, He Xia meninggalkan Letnannya disana untuk mencari Fei Zhaoxing dan mengurus masalah di Gui Li, sang Letnan yang mengenakan seragam militernya segera bergegas kembali ke dalam gerbang.

--
Di kota Qierou, gema suara tawa karena Ze Yin telah kembali dengan selamat tak juga berhenti.

Chu Beijie dan Ze Yin pernah menjadi musuh di medan pertempuran dulu, tapi demi Yangfeng dan Pingting dan kekacauan yang sedang berlangsung saat ini, mereka akhirnya menjadi sekutu.

“Haaah, aku ingin sekali melihat anakku.”

“Aku juga.”

Dua panglima perang itu hanya bisa merintih dan merasa resah begitu membicarakan anak-anak mereka

Ze Yin berkata, “Kau lebih baik daripada aku, ada Nona Bai di sisimu. Sayang sekali Yangfeng dan Qing Er masih belum tahu aku selamat, dan aku tidak tahu bagaimana kacaunya keadaan, dulu ketika kabar tentang aku sampai ke telinga mereka.”

Pingting masuk ke ruangan dari luar, ia menahan tawanya dengan tangannya, “Ketidakhadiran membuat cinta tumbuh lebih subur. Yangfeng telah bersedih lama sekali, jadi begitu ia melihatmu nanti betapa gembiranya ia.”

Chu Beijie pernah mengalaminya maka ia mengerti perasaan Ze Yin. Ia menyakinkan dengan sabar “Kita tak bisa berbuat apa-apa, kekuatan militer Dong Lin sangat kecil, jauh lebih baik tidak membuat Yun Chang menyadari keberadaan mereka. Untuk membuat mereka tetap tidak terlacak, kita hanya bisa memutus hubungan dengan mereka untuk sementara.”

Begitu mendengarnya, Fanlu menggenggam tangan Zuiju. Dan bertanya pada Chu Beijie, “Tuan, kapan kau akan menemui Qing Tian lagi?”

“Ia tidak akan sanggup menghadapi He Xia lagi, berkat pelarian diriku, ia pasti merasa sangat resah. Begitu ikan sudah matang dipenggorengan, maka ia siap diangkat ke piring untuk disajikan.” Ze Yin tertawa.

Chu Beijie juga sudah memiliki rencana bagus, maka ia memanggil semua orang berkumpul, “Tak perlu menunggu lagi, kita akan menemui Qing Tian sekali lagi.” Tapi kali ini, Moran dan Ze Yin ikut bersamanya sedangkan Fanlu tetap berjaga di Qierou.

Fanlu merasa sedikit kecewa, ia hanya menjatuhkan dua prajurit dalam pelaksanaan rencana kemarin, sama sekali tidak membunuh satu prajuritpun. Tangannya terasa sangat gatal, tapi ia juga merasa kali ini ia tidak bisa ikut serta.

Zuiju memukul dada Fanlu, “Bagus, bagus sekali. Si monyet terkurung di kandangnya.” Zuiju berkata sambil memicingkan matanya pada Fanlu.

Zuiju sangat gembira, Chu Beijie tidak membawa Fanlu melakukan rencana yang beresiko lagi.

Mereka berangkat seperti sebelumnya. Ketika melepas kepergian mereka, Pingting berkata pada Chu Beijie, “Segeralah kembali secepat mungkin, perasaanku selalu tidak tenang akhir-akhir ini.”

Chu Beijie tersenyum lembut, “Ketika kita berpisah, perasaanku selalu tidak tenang. Jangan khawatir, aku akan kembali secepatnya.” Lalu ia mencium pipinya dan Pingting memejamkan matanya, menerima ciuman Chu Beijie dengan patuh.

Fanlu berada di samping mereka, ia tersenyum dan berkata pada Zuiju, “Lihatlah Nona Bai, ia begitu patuh. Ketika aku pergi sebelumnya, kubilang aku akan membantumu menyentuh lukamu…” ia belum selesai berkata-kata ketika ia berteriak kesakitan karena dadanya di pukul oleh Zuiju.

Perjalanan kali ini berbeda dengan sebelumnya, mereka berangkat subuh dini hari sehingga mereka tiba di perkemahan resimen Shuitai ketika hari masih pagi. Chu Beijie dan yang lainnya memang sangat ahli bersembunyi dan menyelinap. Mereka akan menyembunyikan diri mereka begitu mereka menemukan bebatuan. Tempat ini banyak sekali titik buta di banding perkemahan lainnya. Halaman sekitar tenda Qing Tian sangat sunyi, dan tidak terlihat satu prajuritpun, sepertinya mereka semua telah dibubarkan oleh Qing Tian.

Chu Beijie mempelajari suasana disekitarnya dan merasa tidak begitu nyaman. Ia tidak bersusah payah menyembunyikan dirinya dan hanya terus berjalan lurus.

Qing Tian berada di dalam ruangannya, dahinya berkerut. Ketika sebuah bayangan berkelebat di depannya ia segera menegadah dan melihat Chu Beijie sedang berdiri dihadapannya, tersenyum dengan tenang sambil berkata, “Apakah Jendral Qing Tian telah membuat keputusan? Aku kembali untuk mendengar jawaban.”

Qing Tian membalas dengan tenang pula, “Apakah Ze Yin di bebaskan oleh Panglima Zhen Beiwang?”

Chu Beijie tersenyum tapi tidak menjawab.

“Apa kau tahu, aku cukup berteriak sedikit dan kau akan mati dengan sia-sia?” Qing Tian berkata pelan.

Dan Chu Beijie meskipun tetap tersenyum, matanya menjadi lebih tajam dari sebelumnya, mata mereka bertatapan agak lama sampai akhirnya Chu Beijie mulai menjawab, “Kalau begitu kenapa Jendral masih belum juga berteriak?”

Tingkah lakunya seperti anggota kerajaan yang menekan pengikutnya.

Qing Tian menatapnya lama sampai akhirnya ia menghela napas dalam, “Aku sudah berpikir banyak, akhir-akhir ini…”

Ada dua surat tergeletak terbuka di atas meja. Ia mengambil satu dan menyerahkannya pada Chu Beijie. “Aku pada akhirnya, salah seorang seorang prajurit militer, dan aku paling benci penghianat. Aku sebenarnya sudah membuat keputusan bulat, jika Panglima datang lagi, tak peduli apapun, aku akan membuat anda tetap disini bahkan jika harus mempertaruhkan nyawaku. Apa pentingnya nyawa untuk sebuah kesetiaan? Lihat ini Panglima, kalau bukan karena surat ini tiba pagi ini, aku sudah memanggil para penjaga.”

Chu Beijie menerimanya dan menundukan kepala untuk membacanya. Tiga suku kata, Fei Zhaoxing tertera diatasnya, dan isinya ditulis dengan sangat tergesa-gesa.

“Bukankah Fei Zhaoxing ini salah satu Jendral kerpercayaan He Xia?”

“Benar sekali, dan ini juga segel asli Fei Zhaoxing, tidak mungkin palsu.” Qing Tian mengangguk, ekspresi wajahnya menunjukan perasaan terluka dan amarah. “Dalam surat ini, ia menjelaskan bagaimana He Xia…. bagaimana He Xia mencelakai Tuan Putri Yun Chang.” Suaranya agak parau.

Chu Beijie akhirnya mengerti.

Hatinya melompat gembira, bagaimana kebetulan yang menguntungkan ini bisa terjadi. Ia membaca suratnya dengan hati-hati. Meskipun Fei Zhaoxing sedang melarikan diri, kalimatnya tetap tersusun rapi. Ia menceritakan bagaimana He Xia memenjarakan Yaotian dan mendorongnya menuju kematiannya. Setiap kejadian diceritakan dengan jelas, bahkan bagi orang luar seperti dirinya merasa sulit membaca kelanjutannya, apalagi bagi seorang Jendral yang begitu setia pada kerajaan Yun Chang selama bertahun-tahun.

Kalau Fei Zhaoxing menulis surat ini sebanyak sepuluh lembar dan mengirimkannya pada para Jendral penting Yun Chang, bukankah He Xia akan sangat murka. Tapi mengapa Fei Zhaoxing tiba-tiba memutuskan menghianati He Xia, bahkan dengan cara kejam seperti ini?

Qing Tian menunggunya selesai membaca tulisan Fei Zhaoxing sebelum tiba-tiba bertanya, “Apa Panglima Zhen Beiwang datang dari Qierou?”

Begitu menyinggung Qierou, ekspresi Chu Beijie tersentak. Ia bertanya dengan hati-hati, “Bagaimana Jendral Qing Tian tahu?”

Qing Tian mengambil surat yang satunya lagi dan menyerahkannya pada Chu Beijie. “Ada sebuah surat yang tiba berbarengan dengan surat Fei Zhaoxing. Isinya, He Xia ingin aku segera berangkat, membawa pasukan menuju Qierou. Hmmph, aku hanya ingin membawa pasukan untuk menghadangnya dan mencingcangnya sampai halus!”

Chu Beijie hampir menjatuhkan surat di tangannya. Ia membaca dengan cepat, melewatkan beberapa kalimat tak penting, eksrepsi wajahny berubah sedemikian rupa, “Berengsek!”

He Xia memimpin pasukan untuk mengepung Qierou, dan ia meninggalkan Pingting berserta yang lainnya disana.

Pikiran Chu Beijie kacau sekali. Ia bertanya dengan sungguh-sungguh, “Apa Jendral Qing Tian bisa membawa pasukan untuk benar-benar menghadang He Xia, bagaimana kalau ada yang melaporkan anda berhianat?”

Qing Tian samar-samar tahu akan terjadi sesuatu. Ia berkata dengan blak-blakan, “Resimen Shuitai seluruhnya adalah anak-anak Yun Chang, setelah aku membaca surat Fei Zhaoxing, aku bisa menjamin tidak ada satu prajuritpun yang akan bersedia mengikuti He Xia. Jujur saja, sejak Dong Lin, Bei Mo dan Gui Li ditaklukkan, kami Yun Chang semakin tidak berharga di mata He Xia.”

“Bagus!” Chu Beijie berkata, “Kalau begitu Jendral, segera berangkat bersamaku menuju Qierou untuk menghentikan He Xia.”

“Tentu saja, aku ingin segera berangkat ke Qierou untuk bertarung melawan He Xia, tapi para prajuritku sedang terjangkit penyakit aneh. Mereka semua merasa lemas dan kehilangan tenaga bahkan sampai tidak bisa menaiki kuda mereka.”

Karena Chu Beijie membutuhkan bantuan Qing Tian, ia telah meminta Pingting membuat persiapan juga. Ia segera berkata, “Jangan khawatir tentang hal itu, aku sudah membawa penangkal racunnya. Campurkan ke air dan berikan sedikit pada semua orang untuk diminum. Mereka akan segera membaik.” Ia menyerahkan sebuah bungkusan yang ditelakkan di punggungnya.

Mulut Qing Tian terbuka lebar.

“Satu hal lagi.” Qing Tian mengerutkan dahinya. “Bukannya aku menyepelekan kekuatan Panglima, tapi He Xia bukan orang yang normal, dan ia membawa dua resimen, dengan hanya resimen Shuitai, itu berarti separuh kekuatannya, sama sekali tidak sebanding dengan mereka. Dan begitu dua pihak bertabrakan di medan perang, akan sulit membedakan kawan dan lawan dan juga begitu banyak sekali anak-anak Yun Chang.”

Chu Beijie memikirkan Pingting dan sangat khawatir, tangannya menggenggam erat pangkal pedangnya dan berkeringat dingin. Tapi ia tahu perkataan Qing Tian sangat benar, ia memikirkan sejenak dan bertanya pada Qing Tian, “Selain resimen Gangfeng, apakah resimen Yongxiao berada di dekat sini?”

“Benar sekali, resimen Yangxiao dihancurkan oleh Dong Lin dan sekarang sedang dibentuk ulang dari para penduduk negara yang ditaklukan.”

“Sebagian besar dari mereka, berasal dari mana?”

Qing Tian sungguh memuji kecepatannya berpikir. Ia menjawab, “Penduduk Gui Li hanya beberapa, kebanyakan dari mereka para tahanan perang dari Bei Mo dan Dong Lin. He Xia ingin meyakinkan mereka sehingga memperlakukan mereka sedikit istimewa. Pangan mereka dua kali lipat prajurit lainnya. Meskipun komandan mereka berasan dari Yun Chang, Chang Liang, ia sangat setia pada He Xia. Meskipun ia membaca surat Fei Zhaxing ia mungkin tidak akan begitu membenci He Xia seperti aku.”

Chu Beijie tertawa sesaat, “Kalau begitu untuk apa khawatir?” lalu ia berjalan menuju tirai tenda dan berkata dengan pelan, “Kemarilah kalian semua.”

Beberapa orang yang bersiap di depan mendengar panggilannya dan mengetahui hal terpenting telah terpecahkan. Mereka semua masuk ke dalam tenda.

Waktu sangat mendesak, Chu Beijie segara menyusun rencana dengan cepat, “He Xia saat ini membawa dua resimen untuk menyerang Qierou dan akan tiba setiap saat. Jendral Qing Tian dan aku akan segera berangkat bersama resimen Shuitai kembali ke Qierou. Resimen Yangxiao berada sekitar tiga puluh mil di utara. Komandan mereka bernama Chang Liang, salah satu kepercayaan He Xia, tapi kebanyakan isi pasukan mereka berasal dari Dong Lin dan Bei Mo. Ze Yin dan Moran aku ingin kalian berdua berangkat kesana, bunuh Chang Liang, dan lakukan apapun untuk membawa resimen Yangxiao ke Qierou.”

Semua orang terkejut mendengar He Xia menyerang Qierou, Ze Yin dan Moran tahu mereka memegang tanggung jawab yang sangat besar dan tidak berani ragu sedikitpun. Mereka menerima perintah Chu Beijie dan segera berangkat.

Chu Beijie menarik napas panjang dan menatap Qing Tian. “Jendral Qing, ayo kita balaskan kematian Tuan Putri Yaotian.”

Pingting, kau harus bertahan sampai aku tiba.

--00--

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar