Ternyata
keadaan Qing Tian jauh lebih buruk dari perkiraan.
Sejak
He Xia mendapatkan kekuasaan yang jauh lebih besar, sikapnya terhadap Jendral
Yun Chang yang bekerja tanpa lelah di balik kesuksesannya ini berbalik seratus
delapan puluh derajat. Meskipun hadiah-hadiah masih terus berdatangan, tapi,
kepercayaannya semakin menjauh. Qing Tian cukup pintar, maka tidak mungkin ia
tidak mengetahui kalau He Xia sedang meletakan orang-orangnya di posisi-posisi
penting. Salah satu bukti nyatanya adalah memberikan posisi komandan utama
Resimen Gangfeng pada Cui Linjian.
Ini
artinya, jika suatu saat He Xia selesai mendirikan negara baru, Yun Chang bukan
poros utamanya.
Dan
seluruh penduduk dari empat negara akan setara.
Bagi
rakyat Yun Chang, hal ini sungguh tidak baik.
Ketika
Chu Beijie secara rahasia menemuinya malam itu, Qing Tian telah sangat terpojok
oleh He Xia. Qing Tian tidak mengerti mengapa kedatangan Chu Beijie seperti
sosok dewa penolong di matanya dan megapa juga ia tidak segera memanggil para
pengawalnya.
Panglima
Zhen Beiwang, yang telah menghilang begitu lama, seperti seekor hewan legenda
yang menyilaukan. Lawan sebanding He Xia, tiba-tiba muncul di hadapannya dan
berusaha membujuknya, hal ini tidak pernah terpikirkan akan terjadi padanya.
Kata-kata
Chu Beijie tidak bisa dikatakan hanya harapan belaka.
“Jendral
Qing sudah menyaksikan sendiri cara yang digunakan He Xia untuk menyingkirkan
Keluarga Gui. Keluarga Gui telah hancur di tangannya, begitu juga keluarga
kerajaan Yun Chang. Tidak ada jaminan Jendral Qing tidak akan dihancurkan
olehnya suatu saat. Sebagai keluarga yang terkemuka, tidakkah Jendral Qing
berharap generasi penerusya masih tetap selamat?”
Qing
Tian menjawab dengan sungguh-sungguh, “Jangan mencoba membuat perselisihan, aku
belum pernah melakukan hal yang menyinggung Tuan Besar Jin Anwang, bagaimana
mungkin ia merencanakan sesuatu padaku?”
Chu
Beijie melihat keteguhannya. Chu Beijie tersenyum lebih dalam dan menjawab,
“Lalu apa yang telah di lakukan Yaotian yang membuat He Xia merasa tidak
dihormati olehnya?”
Tubuh
Qing Tian bergetar sedikit, “Tuan Putri meninggal ketika melahirkan.”
Qing
Tian berpikir Chu Beijie akan terus melanjutkan, tapi ia tidak menyangka kalau
Chu Beijie justru menghela napas ringan, “Kalau memang itu yang Jendral percaya,
apa lagi yang bisa kukatakan? Seorang pahlawan selalu meninggal dengan gagah
berani di medan perang, bagaimana bisa Gui Changning beristirahat dengan tenang
dengan kematiannya yang seperti itu?”
Chu
Beijie mengenakan pakaian sederhana untuk menyembunyikan dirinya di malam hari,
tapi keberadaannya tetap memberi kesan wibawanya yang kuat. Dibanding He Xia
yang romantis, pria ini lebih memperlihatkan kebranian seorang pahlawan.
Qing
Tian dengan tangan terkepal kuat di pegangan pedangnya menyaksikan Chu Beijie
pergi meninggalkannya.
Chu
Beijie mengunjunginya di tengah malam tapi tidak menyerangnya, tidak seperti
yang terjadi pada Cui Linjian, kalau hal ini sampai diketahui He Xia,
kecurigaan He Xia padanya akan semakin meningkat.
Setelah
ragu beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk menutup mulut atas kejadian
barusan.
Kecurigaan
diantara para Jendral besar saat ini sudah sangat mengerikan.
Jendral
Qing Tian mempertimbangkan tindakannya sepanjang malam. Sinar fajar sudah
hampir menerangi langit ketika seorang pengawalnya masuk ke dalam tendanya
untuk melapor, “Jendral, gawat, tahanan di penjara air telah kabur!”
“Apa?”
rasa kantuk Qing Tian segera menghilang, matanya melotot selebar-lebarnya. Ia
berkata, “Bagaimana ia melarikan diri? Apa sudah ada yang diperintahkan untuk
menangkapnya?”
“Sepertinya
ia melarikan diri dengan menyelam lewat air. Besi penahan telah terbuka, dan
tidak ada yang tahu bagaimana ia membuka pintu jeruji. Jendral, apakah kita
harus segera melapor pada Tuan Besar Jin Anwang?”
Qing
Tian agak bingung sesaat tapi ia segera menjawab dengan tenang, “Jangan sampai
hal ini tersebar keluar. Kalian semua harus menjaga mulut kalian. Aku ada
sebuah rencana.” Ia memerintahkan
pengawalnya pergi dan berganti pakaian. Berdiri maupun duduk tetap membuatnya
tidak nyaman, ia merasa khawatir luar biasa. Selama berperang ia tidak peduli
seberapa banyak kehilangan yang ditanggungnya, tapi ternyata mempertahankan
sebuah jabatan jauh lebih sulit dan menyakitkan.
Sial,
begitu hujan, airnya mengalir membasahi semuanya.
--
Istan
kerajaan Gui Li.
Di
aula utama, Dongzhuo sedang melapor pada He Xia, “Mata-mata kita telah
menemukan jejak Ruohan di Bei Mo. Ia masih berusaha merekrut prajurit baru
secara diam-diam”
“Ruo
Han?” He Xia melambaikan tangannya tak peduli, “Biarkan dia merekrut peralahan.
Aku ingin mendapatkan para pemberontak terkumpul semuanya, agar bisa
menyingkirkannya sekaligus. Jangan khawatir, aku sudah punya rencana untuk
menghadapi Ruo Han.”
He
Xia masih belum mendengar kabar Ze Yin yang telah kabur.
Ia
memiliki banyak keuntungan dengan membiarkan Ze Yin tetap hidup. Pengaruh
Panglima Ze Yin terhadap pasukan Bei Mo seperti Chu Beijie terhadap pasukan
Dong Lin, maka He Xia membiarkannya tetap hidup untuk mencegah pemberontakan
Bei Mo dimasa depan nanti.
Bagaimana reaksi para pemberontak Bei Mo
ketika mereka mengacungkan pedang tajam mereka dan menemukan bahwa Panglima
yang paling mereka hormati dan telah meninggal meninggal lama, muncul di hadapn
mereka?
Hal paling penting harus digunakaan di
saat-saat terakhir. Hal ini selalu dipegang He Xia setiap kali ia merancang
sebuah rencana.
“Laporan dari Qing Tian baru saja tiba. Ia
menulis bahwa ia tidak berniat mangkir dari perintah militer, ia tidak bisa
segera berangkat karena pasukannya terserang penyakit aneh, mereka semua
merasakan anggota badan mereka lumpuh dan tubuh mereka kesemutan…”
“Hmmph,” He Xia menyeringai, “Memalukan
sekali, mengutarakan alasan semacam ini. Karena ia mengatakan penyakit, apa
penyakit ini sudah diperiksa?”
Dongzhuo adalah orang yang serius dan jujur,
ia menjawab “Qing Tian tidak bermaksud mengada-ada, aku juga mendapat kabar
serupa disaat yang bersamaan, semuanya mengabarkan kalau di beberapa tenda,
para prajurit telah mengalami gejala yang sama. Kami khawatir kalau itu wabah,
tapi kondisi para prajurit tidak terlalu parah, tidak ada yang sampai
meninggal.”
Hal ini menarik perhatian penuh He Xia, “Apa
makanan sudah diperiksa?”
“Tentu saja, mereka sudah memeriksanya. Tak
ada masalah, sepertinya sumbernya bukan dari makanan.”
He Xia tersenyum dingin, “Hal itu bahkan
lebih mencuigakan, kalau tidak ditemukan apapun. Apa kau sudah lupa siapa yang berada
di samping Chu Beijie? Bukan hanya masalah di sebuah perkemahan resimen tapi juga di beberapa negara. Berani sekali
mereka menyusup ke wilayah Yun Chang.”
Dongzhuo tahu persis yang dimaksud He Xia
adalah Pingting. Hatinya terkejut, ia berkata dengan enggan, “Tidak mudah
mencampurkan sesuatu pada persediaan pangan militer, jadi kurasa hal itu
mustahil. Kecuali entah bagamana, mereka berhasil menyelinap ke Zuxi dan
memiliki cara untuk mendekati gudang pangan disana”
Para pejabat lain yang berada disana
terutama dari militer, semuanya mengangguk setuju.
He Xia tahu, perkataan Dongzhuo memang benar
dan ia memikirkannya baik-baik. Tiba-tiba ekspresinya berubah, ia berkata
dengan agak keras, “Bawakan peta!” setelah membentangkan peta di atas meja ia
mempelajarinya perlahan-lahan, lalu He Xia menunjuk ke sebuah titik. Ia
berseru,
“Mereka sungguh pintar, bisa memikirkan hal seperti ini.”
“Mereka sungguh pintar, bisa memikirkan hal seperti ini.”
Para pejabat lainnya berkumpul ke depan
meja, berusaha melihat ke arah jari He Xia menunjuk. Lalu mereka mendengar He
Xia berkata lagi, “Siapa Gubernur Qierou saat ini?”
Seseorang segera memeriksa daftar pejabat
dan menjawab “Namanya Fanlu.”
He Xia mendengarnya dan segera mengetahui
kalau ia adalah salah satu bawahan Gui Changqing, hal ini bahkan membuat
kecurigaannya menjadi lebih pasti. He Xia menggulung petanya dan berkata dengan
tenang, “Aku bertaruh, Chu Beijie sekarang berada di Yun Chang, segera lakukan
persiapan untuk berangkat, aku sendiri yang akan memimpin pasukan, kembali ke
Yun Chang.”
Keahliannya adalah memimpin pasukan dan tak
pernah terkalahkan. Ketika mendengar ia sendiri yang akan memimpin, ekspresi
wajahnya terlihat sangat yakin dan tegas. Meskipun yang lainnya ada yang merasa
ragu dengan keputusannya tapi mereka tidak berani mengungkapkannya. Mereka
dengan kompak menjawab dengan keras, “Baik”
Para Jendral tahu akan terjadi pertempuran,
dan itu artinya akan ada hadiah untuk dimenangkan maka mereka sangat menyetujui
hal ini. Dan mereka mejadi lebih bersemangat.
He Xia berbalik pada Fei Zhaoxing dan
berkata, “Zhaoxing, aku khawatir dengan Gui Li, kau selalu mengurus
masalah-masalah dengan baik, kau tinggallah disini dan pastikan semuanya
baik-baik saja. Sebenarnya ada sekelompok prajurit khusus yang mengurus kota,
mereka akan diperintahkan untuk mematuhimu. Untuk resimen Weibei dan sisanya,
mereka semua akan ikut bersamaku untuk perjalanan kali ini.”
Jantung Fei Zhaoxing membeku.
Dengan kata lain, He Xia bermaksud mengambil
alih kekuatan militernya dan melucutinya habis-habisan. Bukankah itu artinya
kematian, jika He Xia meninggalkan perintah rahasia untuk menghabisi dirinya
ketika He Xia pergi?”
Fei Zhaoxing mengepalkan tinjunya diam-diam,
tapi eksresi wajahnya sama sekali tidak berubah. “Baiklah.”
He Xia memperhatikan Fei Zhaoxing
mengeluarkan lambang komando resimen Weibei dan meletakannya di meja. Lalu ia
mengangguk dan berkata, “Kalian semua mulailah bersiap, kita akan berangkat
tiga jam dari sekarang di gerbang kota.”
Semuanya menjawab dengan keras ‘Baik’ dan
segera membubarkan diri.
Fei Zhaoxing meninggalkan gerbang istana
sendirian. Ia mendengar seseorang memanggilnya dari belakang, “Jendral Fei,
tunggu.”
Ia berbalik dan melihat kepala pengawal
pribadi He Xia sedang berlari kearahnya dengan empat orang penjaga lain di
belakangnya. Ia tersenyum ketika berkata pada Fei Zhaoxing, “Tuan Besar Jin
Anwang telah memerintahkan untuk menyerahkan komando pasukan penjaga kota
padamu, aku diperintahkan untuk membawamu menemui mereka sekarang.”
Eksrepsi wajah Fei Zhaoxing sangat wajar dan
tidak memperlihatkan akan ada masalah, si kepala pengawal tidak menyangka kalau
Fei Zhaoxing lebih pintar daripada rata-rata orang biasa dan telah mencurigai
He Xia agak lama.
Tatapan Fei Zhaoxing tidak bergerak, ia
hanya melihat para penjaga itu menunduk hormat padanya. Tidak mungkin ia tidak
mengerti, kalau ia membuat sedikit saja gerakan, para penjaga itu akan segera
mengeluarkan pedang mereka. Ia tertawa kecil dalam hati, sepertinya He Xia
benar-benar sudah memerintahkan bawahannya untuk menangkapnya begitu ia
sendirian dan segera membereskannya. Fei Zhaoxing tersenyum dan menjawab,
“Baiklah, terima kasih kalian sudah bersedia menemaniku.”
Masing-masing dari mereka menaiki kuda
mereka sendiri-sendiri dan baru saja hendak berbalik ketika Fei Zhaoxing
tiba-tiba mengeluarkan pedangnya dan menusuk si kepala penjaga tepat di
jantungnya.
Mereka sama sekali tidak mengira Fei
Zhaoxing akan menyerang pertama kali seperti itu, si kepala penjaga berteriak
kesakitan lalu terjatuh dari kudanya.
Fei Zhaoxing membenarkan arah kudanya dan
berlari kencang. Para penjaga lainnya yang terkejut segera bergerak mengejarnya
sekuat tenaga. Perintah He Xia sepertinya sudah mulai dilaksanaka, para
prajurit sudah mulai berbaris di depan gerbang ibukota untuk bersiap berangkat,
karena itu gerbang itu terbuka lebar. Fei Zhaoxing masih memakai pakaian
seragam militernya, para pejaga gerbang yang mengenalinya segera memberi
hormat, mereka baru saja menegakkan tubuh mereka kembali tapi Fei Zhaoxing dan
kudanya telah menghilang seperti angin.
He Xia yang menerima kabar itu menjadi
sangat marah, “Bagaimana kalian bisa gagal menjalankan tugas mudah seperti itu?”
Karena pasukan sudah siap untuk berangkat,
He Xia meninggalkan Letnannya disana untuk mencari Fei Zhaoxing dan mengurus
masalah di Gui Li, sang Letnan yang mengenakan seragam militernya segera
bergegas kembali ke dalam gerbang.
--
Di kota Qierou, gema suara tawa karena Ze
Yin telah kembali dengan selamat tak juga berhenti.
Chu Beijie dan Ze Yin pernah menjadi musuh
di medan pertempuran dulu, tapi demi Yangfeng dan Pingting dan kekacauan yang
sedang berlangsung saat ini, mereka akhirnya menjadi sekutu.
“Haaah, aku ingin sekali melihat anakku.”
“Aku juga.”
Dua panglima perang itu hanya bisa merintih
dan merasa resah begitu membicarakan anak-anak mereka
Ze Yin berkata, “Kau lebih baik daripada
aku, ada Nona Bai di sisimu. Sayang sekali Yangfeng dan Qing Er masih belum
tahu aku selamat, dan aku tidak tahu bagaimana kacaunya keadaan, dulu ketika
kabar tentang aku sampai ke telinga mereka.”
Pingting masuk ke ruangan dari luar, ia
menahan tawanya dengan tangannya, “Ketidakhadiran membuat cinta tumbuh lebih
subur. Yangfeng telah bersedih lama sekali, jadi begitu ia melihatmu nanti
betapa gembiranya ia.”
Chu Beijie pernah mengalaminya maka ia
mengerti perasaan Ze Yin. Ia menyakinkan dengan sabar “Kita tak bisa berbuat
apa-apa, kekuatan militer Dong Lin sangat kecil, jauh lebih baik tidak membuat
Yun Chang menyadari keberadaan mereka. Untuk membuat mereka tetap tidak
terlacak, kita hanya bisa memutus hubungan dengan mereka untuk sementara.”
Begitu mendengarnya, Fanlu menggenggam
tangan Zuiju. Dan bertanya pada Chu Beijie, “Tuan, kapan kau akan menemui Qing
Tian lagi?”
“Ia tidak akan sanggup menghadapi He Xia
lagi, berkat pelarian diriku, ia pasti merasa sangat resah. Begitu ikan sudah
matang dipenggorengan, maka ia siap diangkat ke piring untuk disajikan.” Ze Yin
tertawa.
Chu Beijie juga sudah memiliki rencana
bagus, maka ia memanggil semua orang berkumpul, “Tak perlu menunggu lagi, kita
akan menemui Qing Tian sekali lagi.” Tapi kali ini, Moran dan Ze Yin ikut
bersamanya sedangkan Fanlu tetap berjaga di Qierou.
Fanlu merasa sedikit kecewa, ia hanya
menjatuhkan dua prajurit dalam pelaksanaan rencana kemarin, sama sekali tidak
membunuh satu prajuritpun. Tangannya terasa sangat gatal, tapi ia juga merasa
kali ini ia tidak bisa ikut serta.
Zuiju memukul dada Fanlu, “Bagus, bagus
sekali. Si monyet terkurung di kandangnya.” Zuiju berkata sambil memicingkan
matanya pada Fanlu.
Zuiju sangat gembira, Chu Beijie tidak
membawa Fanlu melakukan rencana yang beresiko lagi.
Mereka berangkat seperti sebelumnya. Ketika
melepas kepergian mereka, Pingting berkata pada Chu Beijie, “Segeralah kembali
secepat mungkin, perasaanku selalu tidak tenang akhir-akhir ini.”
Chu Beijie tersenyum lembut, “Ketika kita
berpisah, perasaanku selalu tidak tenang. Jangan khawatir, aku akan kembali
secepatnya.” Lalu ia mencium pipinya dan Pingting memejamkan matanya, menerima
ciuman Chu Beijie dengan patuh.
Fanlu berada di samping mereka, ia tersenyum
dan berkata pada Zuiju, “Lihatlah Nona Bai, ia begitu patuh. Ketika aku pergi
sebelumnya, kubilang aku akan membantumu menyentuh lukamu…” ia belum selesai
berkata-kata ketika ia berteriak kesakitan karena dadanya di pukul oleh Zuiju.
Perjalanan kali ini berbeda dengan
sebelumnya, mereka berangkat subuh dini hari sehingga mereka tiba di perkemahan
resimen Shuitai ketika hari masih pagi. Chu Beijie dan yang lainnya memang
sangat ahli bersembunyi dan menyelinap. Mereka akan menyembunyikan diri mereka
begitu mereka menemukan bebatuan. Tempat ini banyak sekali titik buta di
banding perkemahan lainnya. Halaman sekitar tenda Qing Tian sangat sunyi, dan
tidak terlihat satu prajuritpun, sepertinya mereka semua telah dibubarkan oleh
Qing Tian.
Chu Beijie mempelajari suasana disekitarnya
dan merasa tidak begitu nyaman. Ia tidak bersusah payah menyembunyikan dirinya
dan hanya terus berjalan lurus.
Qing Tian berada di dalam ruangannya,
dahinya berkerut. Ketika sebuah bayangan berkelebat di depannya ia segera
menegadah dan melihat Chu Beijie sedang berdiri dihadapannya, tersenyum dengan
tenang sambil berkata, “Apakah Jendral Qing Tian telah membuat keputusan? Aku
kembali untuk mendengar jawaban.”
Qing Tian membalas dengan tenang pula,
“Apakah Ze Yin di bebaskan oleh Panglima Zhen Beiwang?”
Chu Beijie tersenyum tapi tidak menjawab.
“Apa kau tahu, aku cukup berteriak sedikit
dan kau akan mati dengan sia-sia?” Qing Tian berkata pelan.
Dan Chu Beijie meskipun tetap tersenyum,
matanya menjadi lebih tajam dari sebelumnya, mata mereka bertatapan agak lama
sampai akhirnya Chu Beijie mulai menjawab, “Kalau begitu kenapa Jendral masih
belum juga berteriak?”
Tingkah lakunya seperti anggota kerajaan
yang menekan pengikutnya.
Qing Tian menatapnya lama sampai akhirnya ia
menghela napas dalam, “Aku sudah berpikir banyak, akhir-akhir ini…”
Ada dua surat tergeletak terbuka di atas
meja. Ia mengambil satu dan menyerahkannya pada Chu Beijie. “Aku pada akhirnya,
salah seorang seorang prajurit militer, dan aku paling benci penghianat. Aku
sebenarnya sudah membuat keputusan bulat, jika Panglima datang lagi, tak peduli
apapun, aku akan membuat anda tetap disini bahkan jika harus mempertaruhkan
nyawaku. Apa pentingnya nyawa untuk sebuah kesetiaan? Lihat ini Panglima, kalau
bukan karena surat ini tiba pagi ini, aku sudah memanggil para penjaga.”
Chu Beijie menerimanya dan menundukan kepala
untuk membacanya. Tiga suku kata, Fei Zhaoxing tertera diatasnya, dan isinya
ditulis dengan sangat tergesa-gesa.
“Bukankah Fei Zhaoxing ini salah satu
Jendral kerpercayaan He Xia?”
“Benar sekali, dan ini juga segel asli Fei
Zhaoxing, tidak mungkin palsu.” Qing Tian mengangguk, ekspresi wajahnya
menunjukan perasaan terluka dan amarah. “Dalam surat ini, ia menjelaskan
bagaimana He Xia…. bagaimana He Xia mencelakai Tuan Putri Yun Chang.” Suaranya
agak parau.
Chu Beijie akhirnya mengerti.
Hatinya melompat gembira, bagaimana
kebetulan yang menguntungkan ini bisa terjadi. Ia membaca suratnya dengan
hati-hati. Meskipun Fei Zhaoxing sedang melarikan diri, kalimatnya tetap
tersusun rapi. Ia menceritakan bagaimana He Xia memenjarakan Yaotian dan
mendorongnya menuju kematiannya. Setiap kejadian diceritakan dengan jelas,
bahkan bagi orang luar seperti dirinya merasa sulit membaca kelanjutannya,
apalagi bagi seorang Jendral yang begitu setia pada kerajaan Yun Chang selama
bertahun-tahun.
Kalau Fei Zhaoxing menulis surat ini
sebanyak sepuluh lembar dan mengirimkannya pada para Jendral penting Yun Chang,
bukankah He Xia akan sangat murka. Tapi mengapa Fei Zhaoxing tiba-tiba
memutuskan menghianati He Xia, bahkan dengan cara kejam seperti ini?
Qing Tian menunggunya selesai membaca
tulisan Fei Zhaoxing sebelum tiba-tiba bertanya, “Apa Panglima Zhen Beiwang
datang dari Qierou?”
Begitu menyinggung Qierou, ekspresi Chu
Beijie tersentak. Ia bertanya dengan hati-hati, “Bagaimana Jendral Qing Tian
tahu?”
Qing Tian mengambil surat yang satunya lagi
dan menyerahkannya pada Chu Beijie. “Ada sebuah surat yang tiba berbarengan
dengan surat Fei Zhaoxing. Isinya, He Xia ingin aku segera berangkat, membawa
pasukan menuju Qierou. Hmmph, aku hanya ingin membawa pasukan untuk
menghadangnya dan mencingcangnya sampai halus!”
Chu Beijie hampir menjatuhkan surat di
tangannya. Ia membaca dengan cepat, melewatkan beberapa kalimat tak penting,
eksrepsi wajahny berubah sedemikian rupa, “Berengsek!”
He Xia memimpin pasukan untuk mengepung
Qierou, dan ia meninggalkan Pingting berserta yang lainnya disana.
Pikiran Chu Beijie kacau sekali. Ia bertanya
dengan sungguh-sungguh, “Apa Jendral Qing Tian bisa membawa pasukan untuk
benar-benar menghadang He Xia, bagaimana kalau ada yang melaporkan anda
berhianat?”
Qing Tian samar-samar tahu akan terjadi
sesuatu. Ia berkata dengan blak-blakan, “Resimen Shuitai seluruhnya adalah
anak-anak Yun Chang, setelah aku membaca surat Fei Zhaoxing, aku bisa menjamin
tidak ada satu prajuritpun yang akan bersedia mengikuti He Xia. Jujur saja,
sejak Dong Lin, Bei Mo dan Gui Li ditaklukkan, kami Yun Chang semakin tidak
berharga di mata He Xia.”
“Bagus!” Chu Beijie berkata, “Kalau begitu
Jendral, segera berangkat bersamaku menuju Qierou untuk menghentikan He Xia.”
“Tentu saja, aku ingin segera berangkat ke
Qierou untuk bertarung melawan He Xia, tapi para prajuritku sedang terjangkit
penyakit aneh. Mereka semua merasa lemas dan kehilangan tenaga bahkan sampai
tidak bisa menaiki kuda mereka.”
Karena Chu Beijie membutuhkan bantuan Qing
Tian, ia telah meminta Pingting membuat persiapan juga. Ia segera berkata,
“Jangan khawatir tentang hal itu, aku sudah membawa penangkal racunnya.
Campurkan ke air dan berikan sedikit pada semua orang untuk diminum. Mereka
akan segera membaik.” Ia menyerahkan sebuah bungkusan yang ditelakkan di
punggungnya.
Mulut Qing Tian terbuka lebar.
“Satu hal lagi.” Qing Tian mengerutkan
dahinya. “Bukannya aku menyepelekan kekuatan Panglima, tapi He Xia bukan orang
yang normal, dan ia membawa dua resimen, dengan hanya resimen Shuitai, itu
berarti separuh kekuatannya, sama sekali tidak sebanding dengan mereka. Dan
begitu dua pihak bertabrakan di medan perang, akan sulit membedakan kawan dan
lawan dan juga begitu banyak sekali anak-anak Yun Chang.”
Chu Beijie memikirkan Pingting dan sangat
khawatir, tangannya menggenggam erat pangkal pedangnya dan berkeringat dingin.
Tapi ia tahu perkataan Qing Tian sangat benar, ia memikirkan sejenak dan
bertanya pada Qing Tian, “Selain resimen Gangfeng, apakah resimen Yongxiao
berada di dekat sini?”
“Benar sekali, resimen Yangxiao dihancurkan
oleh Dong Lin dan sekarang sedang dibentuk ulang dari para penduduk negara yang
ditaklukan.”
“Sebagian besar dari mereka, berasal dari
mana?”
Qing Tian sungguh memuji kecepatannya
berpikir. Ia menjawab, “Penduduk Gui Li hanya beberapa, kebanyakan dari mereka
para tahanan perang dari Bei Mo dan Dong Lin. He Xia ingin meyakinkan mereka
sehingga memperlakukan mereka sedikit istimewa. Pangan mereka dua kali lipat
prajurit lainnya. Meskipun komandan mereka berasan dari Yun Chang, Chang Liang,
ia sangat setia pada He Xia. Meskipun ia membaca surat Fei Zhaxing ia mungkin tidak
akan begitu membenci He Xia seperti aku.”
Chu Beijie tertawa sesaat, “Kalau begitu
untuk apa khawatir?” lalu ia berjalan menuju tirai tenda dan berkata dengan
pelan, “Kemarilah kalian semua.”
Beberapa orang yang bersiap di depan
mendengar panggilannya dan mengetahui hal terpenting telah terpecahkan. Mereka
semua masuk ke dalam tenda.
Waktu sangat mendesak, Chu Beijie segara
menyusun rencana dengan cepat, “He Xia saat ini membawa dua resimen untuk
menyerang Qierou dan akan tiba setiap saat. Jendral Qing Tian dan aku akan
segera berangkat bersama resimen Shuitai kembali ke Qierou. Resimen Yangxiao
berada sekitar tiga puluh mil di utara. Komandan mereka bernama Chang Liang,
salah satu kepercayaan He Xia, tapi kebanyakan isi pasukan mereka berasal dari
Dong Lin dan Bei Mo. Ze Yin dan Moran aku ingin kalian berdua berangkat kesana,
bunuh Chang Liang, dan lakukan apapun untuk membawa resimen Yangxiao ke
Qierou.”
Semua orang terkejut mendengar He Xia
menyerang Qierou, Ze Yin dan Moran tahu mereka memegang tanggung jawab yang
sangat besar dan tidak berani ragu sedikitpun. Mereka menerima perintah Chu
Beijie dan segera berangkat.
Chu Beijie menarik napas panjang dan menatap
Qing Tian. “Jendral Qing, ayo kita balaskan kematian Tuan Putri Yaotian.”
Pingting,
kau harus bertahan sampai aku tiba.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar