Minggu, 29 Oktober 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.70

-- Volume 3 chapter 70 --



Angin menyenth tirai-tirai, dan mengarahkan mereka kehalaman.

Di bawah sinar bulan yang sama, He Xia duduk sendirian, tetap terjaga.

Setelah semua orang berulang-ulang menghimbaunya, akhinya ia pergi ke istana Gui Li. Tembok emas mewah ini membuatnya lebih mrka dibandingkan ketika ia memandang halaman Jin Anwang yang terabaikan.

Ia sulit terlelap.

Setelah semua musuh yang berdiri dihadapannya menghilang, musuh tidak terlihat mulai tumbuh.

Empat negara hancur oleh jejak kaki kuda peperangan, dan setelah semua pejabat pemerintahan dan militer yang berani menentangnya dibasmi, sebuah negara baru akan segera dibentuk.

Kabar sudah disebar ke setiap pejuru.

Pasukan Yun Chang sudah tidak ada pekerjaan, karena telah kehabisan musuh. Akan lebih sulit mengendalikan mereka mulai saat ini dan para Jendral mereka menjadi lebih serakah dan sulit dipuaskan.

He Xia bersandar menghadap jendela. Ia mencoba mengendalikan amarahnya, ia perlahan mempelajari doumen-dokumen di atas meja.

Benar-benar tidak ada kabar sama sekali dari orang-orang yang ditugaskannya melacak Chu Bejie, dan sama sekali tidak ada petunjuk dimana mereka bersembunyi. Seperti yang diharapkan dari seorang Chu Beijie, ia benar-benar bisa menahan dirinya dengan baik. Ia tidak menggunakan kesempatan ketika pasukan Yun Chang menyerang Gui Li, atau menggunakannya untuk menggumpulkan prajurit secara besar-besaran. Ia tidak mengumumkan peperangan atas nama dirinya untuk mengumpulkan semua pemberontak agar melakukan serangan.

He Xia sudah menerka beberapa hal ini, dan memberika kesempatan pada Chu Beijie untuk bisa melakukannya, tapi Chu Bejie sama sekali tidak melakukan semua hal itu.

Sungguh diluar dugaan.

Orang itu seperti angin berhembus, tiba-tiba muncul di timur setelah sebelumnya muncul di barat. Hanya dengan beberapa tipuan, mereka membuat sepuluh ribu pasukan Yun Chang kacau balau.

Tapi di Bei Mo, ada kabar kalau Panglima Bei Mo sebelumnya, Jendral Ruohan secara diam-diam merekrut prajurit.

“Seseorang kemarilah.”

Dua penjaga dan dua pelayan yang bertugas malam,  muncul dari balik tirai. Mereka berdiri berbaris dan membungkuk. “Siap.”

He Xia bertanya, “Bagaimana perekrutan prajurit baru di Bei Mo?”

“Ada beberapa pemuda yang melarikan diri dari desa-desa Bei Mo, sekitar seribu dua ratus setiap harinya entah dari mana saja. Aku telah menurunkan perintah hukuman, tapi sepertinya para penduduk Bei Mo itu telah terbiasa melihat darah segar. Mereka tidak takut lagi dengan hukuman kejam dan tetap melarikan diri tanpa takut mati. Aku mendengar kabar Ruo Han telah membentuk beberapa perkemahan untuk perekrutan. Aku juga telah mengirim beberapa mata-mata dan mereka berhasil menghancurkan sekitar dua sampai tiga perkemahan itu, tapi….”

“Aku tidak menanyakan sisa-sisa pasukan Bei Mo.” He Xia menjawab dingin, “Aku bertanya sudah berapa banyak yang kita rekrut setelah pengumuman?”

Orang yang berdiri di depan menundukan kepalanya semakin ke bawah. He Xia mengerutu, orang itu ragu sejenak lalu berkata lagi, “Sejauh ini, sekitar…. Sekitar…. Empat ratus, mungkin?”

He Xia sangat geram, ia ingin memukul tinjunya ke meja. Tapi ia bersusah payah menahan emosinya, dan berkata dengan sangat pelan, “Bukankah sudah kubilang padamu untuk melakukan perekrutan dengan sikap baik?”

Si petugas itu menjawab dengan hati-hati, “Aku sudah menyampaikan perintah Tuan Jin Anwang dengan sebenarnya, para penduduk Bei Mo yang bergabung menjadi prajurit akan di beri hadiah besar dan pajak keluarga akan dikurangi sampai setengah…” ia ketakutan dan menghentikan kata-katanya ketika He Xia menatapnya dengan mengerikan.

Sejak kabar tetang niatnya membentuk negara baru di umumkan, He Xia berniat mengumpulkan seluruh orang berbakat dari setiap negara. Ia tidak seperti tipe penguasa Yun Chang sebelumnya.

Terakhir kali ketika Pejabat Cui bertanggung jawab menyediakan teh untuk istana kerajaan, ia datang melapor dalam keadaan sehat. Tapi entah apa yang dikatakannya, ketika ia pulang, sudah berbentuk mayat. Para penjaga membawa tubuhnya, darahnya berceceran di lantai biru. Hal ini membuat takut para Pejabat lainnya yang menunggu di luar, dua dari mereka pingsan di tempat.

“Lalu bagaimana dengan Gui Li?”

Petugas lain yang sudah terbiasa sudah bisa menduga kalau He Xia akan menanyakan hal ini. Ia sudah bersiap, ia maju selangkah dan menjawab dengan hati-hati, “Setelah pengumuman, jumlah yang bergabung sekitar empat ratus orang.”

Bahkan Gui Li pun hanya sesedikit itu?

Alis mata He Xia berkerut. Dulu ketika Kediaman Jin Anwang masih termashyur, hanya dengan melambaikan kedua tangannya, para penduduk Gui Li bersedia berperang untuknya tanpa takut mati dan jumlahnya tidak terhitung.

Tapi sekarang, situasinya menjadi seperti ini…..

Keningnya berasa sakit sekali. Ia mengelusnya tanpa merubah ekspresi wajahnya. Suaranya jadi melembut, “Kalian tidak bisa disalahkan. Mulai sekarang, kurangi pajak sepertiga di semua tempat. Sampaikan perintahku, entah dia prajurit ataupun Jendral, kalau tidak patuh, bunuh di tempat. Dan untuk mayat He Su beserta keluarga…. Berikan mereka penguburan selayaknya anggota kerajaan.”

Si pelayan di sebelah He Xia bisa melihat kalau Tuannya sudah sangat kelelahan, maka mereka menyediakan teh panas, He Xia menerimanya dan memegangnya dengan tangannya. Ia menghirup aromanya tapi tidak meneguknya. Lalu ia bertanya lagi, “Apa benda berharga lambang keberuntungan telah selesai dikumpulkan untuk peresmian pembentukan negara baru?”

Semua orang disana sangat takut ia akan menyakan hal ini, ekspresi wajah mereka menjadi sangat gelap.

“Dari wajah kalian, jelas sekali kalian belum menemukan satupun. Baiklah, aku tidak akan menanyakan hal itu untuk saat ini.” He Xia berkata lagi, “Apa ada kabar tentang suatu kejadian-kejadian aneh yang melambangkan akan terjadinya bencana, baru-baru ini?”

Dua petugas berdiri diam seperti batang kayu. Mereka saling bertukar pandang dan tak ada seorangpun yang berani berkata.

Siapa yang berani melaporkan tentang kejadian-kejadian buruk. Ketika He Xia sedang mengumpulkan seluruh ambisinya untuk membentuk negara baru, di Bei Mo, Dong Lin dan Gui Li telah terjadi peristiwa-peristiwa aneh.

Tanah mengeluarkan darah, burung-burung mati berjatuhan tiba-tiba, patung menangis darah…. Semua orang sudah sangat khawatir. Setelah peristiwa-peristiwa itu, sebuah kabar beredar dan membuat sepuluh lalu ratusan, ribuan dan akhirnya semua orang menjadi ketakutan. Semuanya berpikir kalau pembentukan negara baru akan membawa bencana.

Dan kabar itu akhirnya mencapai perkemahan pasukan.

Dan didalam pasukan Yun Chang ada beberapa Jendral yang tidak mendukung pembentukan negara baru. Meskipun mereka tidak berani mengutarakannya, hati mereka berbisik lain. Dan untuk para tawanan perang dari tiga negara, setidaknya delapan dari sepuluh benar-benar tidak setuju atas rencana He Xia ini.

He Xia melihat para petugas itu cukup tenang dan tidak terganggu. Ia tersenyum, “Meskipun semua hal itu menggelikan, ternyata sudah cukup untuk membuat kalian ketakutan. Semua itu dibuat oleh seseorang dari balik bayangan. Sampaikan perintahku, semua negara harus mengetatkan penjagaan mereka. Kau, pilihlah beberapa orang yang sangat terlatih, sebar mereka untuk membereskan hal ini. Mereka bisa membongkar tipuan murahan ini untukku.” Lalu ia menundukan kepalanya dan melihat beberapa dokumen lagi dan akhirnya berkata, “Kalian semua bisa pergi.”

Dua petugas segera beranjak begitu mendapat ijin. Begitu mereka melewati pintu ruangan, mereka saling bertukar pandang. Pakaian mereka basah oleh keringat, ketika angin berhembus, rasa dingin menjalar diseluruh tulang-tulang mereka.

Dongzhuo menerima surat perintah atas penugasan dirinya memimpin resimen Yongchang dan segera pergi dari Yun Chang, beberapa hari lalu. Ia selalu berada di samping He Xia sejak kecil, maka statusnya berbeda dengan yang lainnya. Pejabat pemerintahan atau Militer lainnya harus menunggu di ruang tengah terlebih dahulu, tapi Dongzhuo ia segera memasuki istana begitu melewati gerbang ibukota Gui Li.

Begitu dua petugas keluar, Dongzhuo melangkah masuk. Ia melihat mata He Xia terpejam dan bersandar di kursinya, seperti berusaha untuk beristirahat. Ia melihat beberapa dokumen di meja sebelum berbisik, “Tuan, anda sudah lelah sekali, beristirahatlah.”

Ia mengulangi lagi sampai dua kali, sampai akhirnya He Xia mengelengkan kepalanya. “Tidak perlu.” Ia membuka matanya, “Dongzhuo kau sudah sibuk sekali dua hari ini, pergilah tidur.”

Dongzhuo memang sibuk tapi ia tetap berdiri di tempatnya tidak bergerak.

He Xia melihatnya tidak mau beranjak dan tertawa kecil, “Kau, kau sudah seorang Jendral sekarang. Bagaimana bisa kau tetap begitu keras kepala? Baiklah, kalau kau tidak mau pergi, aku juga ingin bertanya tentang beberapa hal, bagaimana rencanamu untuk resimen Yongchang?”

“Para prajurit di bawah asuhan Shang Lu sangat sopan. Aku sudah memeriksa mereka di luar kota dua kali dua hari ini. Mereka berlatih dengan baik, mental mereka juga sudah kompak dan bagus. Hanya saja…” Dongzhuo agak ragu, “Mungkin karena aku belum cukup berpengalaman memimpin pasukan atau juga tanpa kemampuan militer, meskipun para petugas dibawahku menghormatiku, tapi aku tahu mereka tidak setuju aku memimpin mereka.”

He Xia berguman, “Hmm” tapi tidak berkata apa-apa.

Dongzhuo merasa agak bingung dengan hal ini. Ia penasaran dan bertanya, “Dalam hal menggerakan pasukan untuk berperang, Fei Zhaoxing sungguh orang yang sangat berbakat. Mengapa tugas ini tidak tetap diberikan padanya saja, apalagi ia sudah membantu Tuan membunuh Shang Lu.”

Ketika He Xia mendengar nama Fei Zhaoxing ia menghela napasnya, Dongzhuo merasa jantungnya seperti melompat keluar dan segera menutup mulutnya rapat-rapat.

Di ruangan yang mewah dan luar biasa indah itu, kesunyian melanda.

Dongzhuo telah tumbuh besar di sisi He Xia, maka ia berkata seperti biasanya tanpa memilah ucapannya. Beberapa tahun belakangan pemikiran He Xia menjadi semakin kesini semakin sulit ditebak. Terkadang ekspresinya dingin, tapi hal itu sepertinya untuk mengisi hatinya yang pedih. Tuannya semakin mendekati taktah, tapi ia justru merasa Tuannya semakin menjauh darinya. Hanya dengan sebuah helaan napas, seseorang dengan kekuasaan utama, nuansa mulia dan kejam seorang kaisar, sepenuhnya membuat para penontonnya terdiam.

Dengan pemikiran ini, Dongzhuo merasa sangat sedih.

Setelah beberapa saat, He Xia melembutkan ekspresinya. Melihat Dongzhuo berdiri disana dengan berhati-hati, tidak berani membuat suara sedikitpun, ia memberi isyarat padanya untuk mendekat dan berbisik, “Aku ingin kau melakukan sesuatu, Fei Zhaoxing belum memberitahuku tentang hal ini. Ia sedang berhubungan dengan beberapa orang yang berbahaya, korupsi dan pemerasan. Temukan bukti atas kejahatannya dan tetap rahasiakan, jangan sampai beritanya keluar.”

Dongzhuo terkejut untuk beberapa saat.

Tak perlu di perjelas, Tuan ingin menyelesaikan Fei Zhaoxing. Seperti tindakan Tuan yang biasanya, kalau ia tidak memulainya, tidak ada yang terjadi, tapi begitu ia mulai bergerak, kemungkinan Fei Zhaoxing melarikan diri sama sekali tidak ada.

Sementara Dongzhuo masih terpaku, He Xia bertanya, “Apa sudah jelas?”

“Sudah.” Dongzhuo berguman.

He Xia memandang ekspresi Dongzhuo. Ia tiba-tiba bertanya, “Menurutmu aku kejam?”

Dongzhuo segera menggelengkan kepalanya.

Tatapan He Xia sangat tajam ketika memperhatikannya, kedua bola matanya sangat hitam. Dongzhuo merasa ia tidak bisa menyembunyikan apapaun dari tatapannya, dan merasa pikirannya bisa terbaca juga.

He Xia memperhatikannya agak lama dan menurunkan pandangannya. Ia lalu tertawa kecil, “Siapa sangka, semuanya akan berubah seperti ini? aku akan segera membentuk negara baru dan menaiki taktah, kau si kecil yang ceroboh menjadi seorang Jendral dari resimen yang besar. Dan Pingting…..” ia segera menghentikan kata-katanya, wajah tampannya menampakan perasaan sedih yang sulit digambarkan.

Dimana Pingting, Pingting yang selalu di sampingnya sejak ia kecil, Bai Pingting yang selalu memainkan kecapi untuknya di istana Gui Li.

Sulit sekali untuk melupakan bagaimana suara tawanya bergema di Kediaman Jin Anwang yang seperti lonceng perak, terdengar enak di telinga, meninggalkan kelopak bunga kesetiap tempat.

Karena itulah, He Xia dengan mudah menemukannya. Ia menariknya dari sudut ruangan dan berkata dengan riang, “Pingting, ayo pergi berkuda.”

Pergi berkuda, pergi melukis, pergi membaca, pergi mendengarkan lagu…..

Bersama-sama, bahkan ke medan perang…..

He Xia menatap cahaya lilin, menyaksikan kerlipannya. Sinarnya menerangi wajahnya yang terlihat lembut.

Saat itu, Dongzhuo melihat kembali Tuannya yang dulu, Tuan Muda yang romantis dari Jin Anwang di masa lalu.

Angin dingin berhembus, menggoyangkan tirai sutra di jendela yang terbuka.

Dongzhuo berbisik, “Tuan, apa Tuan berpikir kalau Pingting masih hidup?”

“Chu Beijie meninggalkan gunung, siapa lagi selain Pingting yang bisa melakukannya?” begitu ia menyebut Chu Beijie, kelembutan di wajah He Xia menghilang digantikan ekspresi tajam yang bersinar di matanya.

Dongzhuo berpikir sejenak sebelum berkata, “Tapi sampai sekarang, belum ada saksi yang melihat langsung Chu Beijie, apalagi Pingting. Bagaimanapun, kita harus melihat mereka dalam sebuah sosok…”

“Aku akan membunuhnya jika harus!” He Xia tiba-tiba mengertakan giginya, dan memukul meja dengan keras.

Telinga Dongzhuo berdegung, ia sangat terkejut. Dan lama sekali sebelum ia bisa berkata lagi, “Tuan…. Yang anda maksud….. Chu Beijie?”

Sepertinya memang karena Pingtinglah alasan Chu Bejie meninggalkan gunung. Bahkan Dongzhuo bisa menebak dengan mudah dari kata-kata He Xia, dan sekarang dua orang ini muncul bersama, dan kemungkinan peperangan yang akan terjadi nantinya, ini sungguh hal terburuk dari yang paling buruk.

Kalau memang Pingting benar-benar membantu Chu Beijie melawan Tuan, apa yang akan terjadi jika nanti mereka berdua bertemu muka? Dongzhuo sangat sulit memikirkan hal ini, tapi ia tidak berani bertanya pada He Xia.

Ia masih bertahan sebagai orang-orang yang tidak bersalah dari Kediaman Jin Anwang sebelumnya. Ia berharap bisa mendengar langsung maksud Tuannya sebenarnya dan berharap akan berubah. Ia benar-benar tidak percaya Pingting akan begitu kejam.

Wajah He Xia sangat dingin. Ia menekankan setiap kata-katanya, “Bukan, yang kumaksud Pingting.”

Dan itu bukan wajah bercanda.

Dongzhuo tidak pernah mengira He Xia akan menjawab dengan tegas dan jelas. Tubuhnya tiba-tiba terasa dingin. Ia merasa jantungnya seperti di cakar seekor kucing, sangat sakit dan perih. Ia melangkah mundur beberapa kali.

Ekspresi He Xia sangat menakutkan. Ia menatap dokumen di meja seperti melihat musuhnya. Lama sekali sampai ekspresinya sedikit lebih tenang, dan bahkan sedikit terlihat bercanda. Senyumnya agak miring ketika berkata, “Mengapa ia berbuat seperti itu? Apa ia sama sekali tidak mengingat masa lalu?”

Dibawah cahaya lilin yang kemerahan, wajahnya terlihat pucat.

Mereka berdua diam, saling menatap wajah masing-masing, dan merasa tidak ada yang perlu diucapkan lagi.

He Xia mengibaskan tangannya, “Pergilah tidur, besok masih banyak yang perlu dilakukan.”

Dongzhuo menjawab, “Baik,” ia menundukan kepalanya rendah dan keluar ruangan.

Dari belakangnya suara teredam dan samar He Xia menyanyi terdengar.

“Langit yang menari, mimpi yang sunyi, perasaan sayang tidak bertahan lama…..” He Xia menghela napas dalam, menyembunyikan penyesalan yang tak terhingga.

Begitu ia tiba di ruangannya Dongzhuo teringat. Di sebuah perayaan bersama Yaotian, di Kediaman Suami Ratu, He Xia mengambil pedangnya dan menari dengan lagu itu.

Malam itu, halaman penuh dengan salju yang sebagian sudah mencair.

Para penari Bei Mo yang mengenakan pakaian berwarna-warni, mengikat genderang kecil di pinggang mereka. Dengan lincahnya mereka memukulnya, menciptakan irama sambil menari, semangat mereka membuat Yaotian sangat gembira.

Mereka berdua, suami istri tenggelam dalam suasana luar biasa, minum bersama di bawah sinar bulan.

He Xia menari dengan pedangnya sementara Yaotian tersenyum.

Langit yang menari, mimpi yang sunyi.

Perasaan sayang.

Tidak bertahan lama.

Dongzhuo akhirnya mengerti mengapa He Xia berniat membunuh Fei Zhaoxing.

He Xia tidak akan pernah melupakannya, ketika ia mendengar Fei Zhaoxing mengutarakan sarannya untuk membunuh Yaotian. Hatinya seperti dengan perlahan di belah oleh halilintar bisu.

--
Qierou.

Mungkin akibat peperangan, pemandangan para penduduk tanpa rumah dan berkeliaran di jalan terlihat dimana-mana. Jumlah orang yang memasuki kota semakin bertambah.

“Lantas kenapa? Bukankah akan membawa banyak manfaat jika semakin banyak orang. Bagus! Bagus!” Fanlu mendengarkan laporan dari bawahannya dan tertawa lebar.

Si Gubernur sepertinya terlihat lebih segar hari ini, dan suasana hatinya sedang sangat baik. Emosinya yang dari beberapa hari lalu, sama sekali tidak berbekas.

Ia menyilangkan kakinya sambil membahas sesuatu dengan bawahannya itu sampai tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia memerintahkan, “Orang-orang yang datang adalah teman-teman lamaku ketika aku masih di militer. Dan masing-masing dari mereka, semuanya bisa membunuh, mereka juga tidak suka berhubungan dengan orang asing. Mereka juga membenci orang-orang yang mencoba mencari tahu diri mereka. Kau sebaiknya berhati-hati tidak membuat masalah dengan mereka.”

Dujing tahu kalau Sang Gubernur berasal dari militer. Ia dengan path berkata, “Aku tidak akan berani menganggu teman-teman Tuan. Tentu saja tidak, tidak berani.”

“Heh, aku juga tidak berharap kau akan melakukannya.” Fanlu menyeringai dan tertawa.

Ia tahu, berita Chu Beijie bersembuyi di kediamannya tidak boleh sampai tercium bagaimanapun. Jika tidak ratusan ribu prajurit akn segera datang mengepung mereka. Bagusnya, Chu Beijie dan orang-orangnya sangat lihai dan terlatih, jadi tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Dan para petugas di kediaman sendiri tidak ada yang terlalu pintar. Hanya Dujing yang agak cerdas sedikit, mungkin ia bisa melihat sesuatu yang sedikit mencurigakan.

Tapi Fanlu sama sekali tidak khawatir, ia telah memberitahu Moran untuk menempatkan seorang pengawas yang ahli. Begitu Dujing waspada atau terlihat menyadari sesuatu, si pengawas itu harus segera membunuhnya.

Meskipun ia hanya seorang Gubernur di kota kecil seperti Qierou tapi ia seorang diktator. Tak ada seorangpun yang tak bisa ia sembunyikan. Juga termasuk beberapa anggota Chu Beijie yang ditempatkan di luar kota yang datang berbarengan dengan para penduduk yang bermigrasi, sekitar delapan atau sepuluh orang.

Ketika ia tertawa, ia mendengar suara seseorang bertanya pada penjaga pintu, “Dimana Tuan Gubernur?”

Fanlu menurunkan kakinya dan berkata dengan suara keras, “Disini.”

Zuiju mendorong pintu dan melangkah masuk. Ia menggenggam keranjang persegi di tangannya. Begitu ia melihat Fanlu, ia tersenyum, “Jadi kau bahkan melakukan hal-hal serius juga terkadang.” Ia melangkah mendekat, dan meletakan kerangjang di meja dengan hati-hati. Dalam keranjang ada semangkuk bubur yang baru saja matang.

Fanlu menatap Zuiju lalu beralih ke mangkuk bubur. Ia terseyum dari hatinya yang paling dalam, tapi mulutnya berkata, “Aku sudah sarapan.”

Zuiju tidak marah, ia berkata ringan, “Oh, kalau begitu biar kuberikan pada Tuan petugas ini.”

Dujing segera menolaknya, “Aku tidak berani! Aku tidak berani! Tuan, aku harus pergi untuk mengurus beberapa hal.”

“Bagaimana mungkin kau berani memakan makananku?” Fanlu mengambil mangkuknya dan tidak membiarkannya lepas.

Dujing tahu, ini adalah masalah pribadi Fanlu. Ini sesuatu yang seharusnya ia tidak ikut campur sama sekali. Maka ia segera pamit dan menutup pintu, membiarkan mereka berdua.

Fanlu masih memegang mangkuknya, ia beberapa kali mengatakan terlalu panas, dan terkadang ia mengatan terlalu lembek. Begitu ia menghabiskan seluruhnya, ia bersendawa dan memuji Zuiju, “Sejak bertemu ayah mertua, kau jadi lebih penurut.”

Zuiju bertanya, “Apa aku harus sepenurut ini di masa depan nanti juga?”

Fanlu menganguk semangat, “Tentu saja, tentu saja! Itu akan sangat bagus!”

Zuiju berkat, “Guru bilang, aku harus bisa membedakan mana hal yang penting dan tidak mengacaukannya. Aku tidak akan mengganggumu dengan pekerjaanmu, aku akan datang lagi nanti untuk menemanimu.” Ia berdiri dan pergi.

Kejaiban membuat Fanlu sangat senang, dan karena Zuiju memujinya, mengerjakan pekerjaannya dengan serius, ia berniat melakukannya seperti itu. Ia bekerja dengan penuh perhatian, berencana bermain-main dengan Zuiju sepanjang hari begitu ia selesai.

Dan ketika ia hampir selesai dengan pekerjaannya, seperti yang diharapkannya, Zuiju membuka pintu. Ia tersenyum ketika melihat Fanlu, “Apa kau masih baik-baik saja?”

Fanlu menjawab ketus, “Sangat baik, mengapa aku harus tidak baik?” melihat ekspresi Zuiju yang agk aneh, hatinya terpukul. Dan ekspresi wajahnya sendiri berubah, “Apa yang kau campurkan di buburnya?” sebaiknya ia tidak mengatakannya. Dan begitu ia selesai berucap, Fanlu berdiri di atas kedua kakinya dan merasakan tenaganya tiba-tiba menghilang sepenuhnya. Kedua kakinya bergetar dan seluruh tubunya kesemutan hebat.

Zuiju tersenyum, dan berpura-pura memeriksa nadi Fanlu di pergelangan tangannya. Ia menghela napas, “Nona Bai sungguh hebat, meskipun tidak ditemukan tanda-tanda penyakit, korban juga tidak bisa dianggap mabuk.”

Fanlu sangat marah, giginya seperti sedang diasah menjadi debu. Ia berusah meraih Zuiju tapi tidak ada tenaga sama sekali jadi gerakan tangannya sangat lambat. Dan Zuiju dengan mudah mengelaknya, Fanlu mengerutu, “Mengapa kau mencobanya padaku?”

Zuiju yang sebelumnya tertawa, begitu mendengar pertanyaan Fanlu, ekspresi wajahnya berubah. Ia menatapnya sambil bertolak pinggang. “Katakan, mengapa kau mengatakan pada guru kalau aku…kalau aku sudah……tidur denganmu?”

Fanlu yang awalnya marah setelah mendengar perkataan Zuiju dan melihatnya merona tak bisa menahan tawnya, ia tertawa sampai perutnya terasa sakit.

Begitu Fanlu puas tertawa, ia berkata, “Itu hanya percakapan asal, aku akan mengakuinya nanti. Obatmu sungguh hebat. Tapi, bagaimana kalau kita buat percakapan asal itu menjadi kenyataan malam ini. Apa yang sudah terjadi tidak bisa diputar balik…..” ia belum selesai berkata ketika beberapa pukulan menghantamnya.

Fanlu merengek ketika bertanya, “Berapa lama obat ini bekerja?”

Zuiju merasa sedikit lega setelah memukulnya beberapa kali. Ia menjawab, “Bisa cepat, tergantung kondisi tubuhmu. Kau tidak tahu betapa sulitnya menyiapkan obat ini. Aku memang tahu pengobatan dan bisa membantu, tapi menggunakan banyak sekali tumbuhan obat, membuatku agak pusing. Nona Bai memang luar biasa, ia tahu begitu banyak.” Dan ia melanjutkan memujinya, “Bahkan jarum perak tidak bisa medeteksinya di dalam mangkuk bubur. Mereka yang memakannya hanya merasa lesu, efek yang besar tergantun masing-masing orang. Beberapa mungkin merasa anggota tubuh mereka kebas dan tidak bertenaga sementara yang lain akan benar-benar tertidur pulas, tapi tidak akan menimbulkan tanda-tanda di tubuh. Jendral Yun Chang tidak akan curiga. Kau lihat, hebat bukan?”

Fanlu memutar bola matanya dan menghela napas, “Aku tahu kau merasa senang, karena aku orang yang dikorbankan untuk diuji. Hahhhh, kalau hasilnya tidak seperti perkiraanmu, kau akan membunuh suamimu.”

Zuiju menjulurkan lidahnya kea rah Fanlu, “Benar sekali, aku sungguh gembira akan hal itu.” Dengan mengabaikan reaksi Fanlu yang tidak senang, ia segera pergi keluar menjuju halaman.

Pingting sangat sibuk menyiapkan obat itu selama beberapa hari terakhir ini, dan ia belum tidur sama sekali. Begitu mereka selesai, akhirnya ia bisa beranjak dari tempatnya. Huo Yunan segera memeriksa nadi Pingting dan menuliskan resep. Setelah Zuiju selesai melihat reaksi obat pada Fanlu, ia menemani Pingting sepanjang malam.

Pingting berkata, “Kau sudah membantuku disampingku sepanjang hari sejak kemarin kemarin, kau juga sudah lelah, berisitirahatlah. Apa yang harus kulakukan kalau kau juga sampai sakit?”

Zuiju berkata, “Aku akan disini sebentar lagi, lalu akan pergi. Aku akan menunggu sampai kau tertidur.”

Pingting berkata lagi, “Aku hanya akan terus bercerita kalau kau disini. Aku bahkan jadi tidak ingin terlelap.”

Begitu mendengar perkataan Pingting, Zuiju tersenyum dan kembali ke ruangannya.  Pingting berbaring di atas bantalnya, dan segera terlelap. Samar-samar ia merasa seseorang membelai rambutnya. Ia berguman, “Kau sudah kembali?” ia membuka matanya dan melihat sinar bulan menyebar dari celah jendela, dan Chu Beijie duduk di ujung tempat tidur. Ia masih berpakaian lengkap, sepertinya baru saja tiba.

“Mengapa kepalamu sangat panas?”

“Tuan kembali di saat yang tepat. Obatnya sudah selesai hari ini. Persis seperti yang kita inginkan. Kami akan menyiapkannya lagi besok, agar cukup untuk segalanya.”

Pingting tahu Chu Beijie kesal padanya karena tidak memperhatikan kesehatannya sendiri. Ia membuat sebuah senyum di wajahnya, “Apa Tuan menghasilkan sesuatu untuk kepulangan ini?”

“Menyelinap ke perkemahan musuh dan membunuh satu sudah cukup. Aku tidak menggunakan pedangku kali ini, hanya pisau agar tidak meninggalkan tanda yang bisa dikenali.” Chu Beijie melepaskan pedang di pinggangnya dengan sebelah tangan dan meletakannya di meja. Wajahnya menjadi sangat serius, “Kalau aku sampai terpojok nantinya di kemudian hari, mungkin aku harus jadi pembunuh.”

Pingting membalas dengan lembut, “Aku tahu Tuan tidak akan melakukan hal tidak terhormat seperti itu. Kalau kita memiliki cukup pasukan, Tuan pasti akan menantang secara terbuka para Jendral musuh di medan perang.”

Chu Beijie menghela napas dengan berat, ia menjawab dengan tenang, “Untukmu, aku akan melakukan apa saja. Apa masalahnya dengan pembunuhan, ketika kau harus melakukan apapun untuk menjatuhkan lawanmu?”

Pingting mendengarkan, lalu ia bertanya lagi dengan pelan, “Ada kabar dari luar?”

Chu Bejie tidak ingin memberitahu Pingting terlebih dahulu, tapi ia tidak bisa menyembunyikannya jika Pingting sudah bertanya. Ia menghela napas, “Tugas yang kuberikan pada Ruo Han dan yang lain untuk membuat peristiwa-peristiwa janggal agar He Xia menunda acara menaiki taktahnya, sama sekali tidak bisa membodohi He Xia. He Xia menurunkan prajurit pilihan untuk melacak mereka dan berhasil menemukan jejak orang-orang kita.”

Pingting menghela napas dengan lemah.

Chu Beijie diam selama beberapa saat, “Huacan meninggal. Luoshang tidak diketahui, hubungan dengan mereka benar-benar terputus, aku khawatir ketidakberuntungan justru berbalik pada kita. Aku segera memerintahkan Ruo Han untuk menghentikan semuanya, agar ia tidak menarik perhatian lagi. Tapi entah bagaimana, jumlah keluarga bangsawan yang menentang pembentukan negara baru ini, bertambah banyak.” Ia melanjutkan dengan agak ragu, “He Xia juga tahu tidak semua Jendral Yun Chang setuju dengan rencananya ini, maka ia berencana membentuk pasukannya sendiri. Ia telah melakukan perekrutan besar-besaran di Bei Mo dan Gui Li, tapi tidak banyak yang ingin bergabung.”

Pingting menghela napas lagi, membiarkan dirinya tengelam dalam lengan Chu Beijie, “Tuan Muda menjadi semakin tidak disukai.”

Tuan muda Jin Anwang, dimasa lalu merekrut para pemuda Gui Li sampai tak terhitung jumlahnya untuk bertarung bersamanya tanpa takut mati hanya dengan  menangkat kedua tangannya.

Membunuh seluruh keluarga Raja benar-benar kesalahan besar.

Pingting gemetar. Ia menghitung setiap kesalahan yang dilakukan Tuan Mudanya, dan memikirkan bagaimana untuk menggunakannya dalam rencananya…..

Kenyataan sungguh mengejek kehidupan dengan cara yang sangat kejam.

Tuan Muda telah kembali ke Kediaman Jin Anwang.

Tapi kelembutan dan kehangatannya ribuan kilo jauhnya.

Sepeti itulah, siapa lagi yang tertinggal di hatinya untuk dirindukan di bawah sinar bulan?

--00—

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar