Angin
menyenth tirai-tirai, dan mengarahkan mereka kehalaman.
Di
bawah sinar bulan yang sama, He Xia duduk sendirian, tetap terjaga.
Setelah
semua orang berulang-ulang menghimbaunya, akhinya ia pergi ke istana Gui Li.
Tembok emas mewah ini membuatnya lebih mrka dibandingkan ketika ia memandang
halaman Jin Anwang yang terabaikan.
Ia
sulit terlelap.
Setelah
semua musuh yang berdiri dihadapannya menghilang, musuh tidak terlihat mulai
tumbuh.
Empat
negara hancur oleh jejak kaki kuda peperangan, dan setelah semua pejabat
pemerintahan dan militer yang berani menentangnya dibasmi, sebuah negara baru
akan segera dibentuk.
Kabar
sudah disebar ke setiap pejuru.
Pasukan
Yun Chang sudah tidak ada pekerjaan, karena telah kehabisan musuh. Akan lebih
sulit mengendalikan mereka mulai saat ini dan para Jendral mereka menjadi lebih
serakah dan sulit dipuaskan.
He
Xia bersandar menghadap jendela. Ia mencoba mengendalikan amarahnya, ia
perlahan mempelajari doumen-dokumen di atas meja.
Benar-benar
tidak ada kabar sama sekali dari orang-orang yang ditugaskannya melacak Chu
Bejie, dan sama sekali tidak ada petunjuk dimana mereka bersembunyi. Seperti
yang diharapkan dari seorang Chu Beijie, ia benar-benar bisa menahan dirinya
dengan baik. Ia tidak menggunakan kesempatan ketika pasukan Yun Chang menyerang
Gui Li, atau menggunakannya untuk menggumpulkan prajurit secara besar-besaran.
Ia tidak mengumumkan peperangan atas nama dirinya untuk mengumpulkan semua
pemberontak agar melakukan serangan.
He
Xia sudah menerka beberapa hal ini, dan memberika kesempatan pada Chu Beijie
untuk bisa melakukannya, tapi Chu Bejie sama sekali tidak melakukan semua hal
itu.
Sungguh
diluar dugaan.
Orang
itu seperti angin berhembus, tiba-tiba muncul di timur setelah sebelumnya
muncul di barat. Hanya dengan beberapa tipuan, mereka membuat sepuluh ribu
pasukan Yun Chang kacau balau.
Tapi
di Bei Mo, ada kabar kalau Panglima Bei Mo sebelumnya, Jendral Ruohan secara
diam-diam merekrut prajurit.
“Seseorang
kemarilah.”
Dua
penjaga dan dua pelayan yang bertugas malam,
muncul dari balik tirai. Mereka berdiri berbaris dan membungkuk. “Siap.”
He
Xia bertanya, “Bagaimana perekrutan prajurit baru di Bei Mo?”
“Ada
beberapa pemuda yang melarikan diri dari desa-desa Bei Mo, sekitar seribu dua
ratus setiap harinya entah dari mana saja. Aku telah menurunkan perintah
hukuman, tapi sepertinya para penduduk Bei Mo itu telah terbiasa melihat darah
segar. Mereka tidak takut lagi dengan hukuman kejam dan tetap melarikan diri
tanpa takut mati. Aku mendengar kabar Ruo Han telah membentuk beberapa
perkemahan untuk perekrutan. Aku juga telah mengirim beberapa mata-mata dan
mereka berhasil menghancurkan sekitar dua sampai tiga perkemahan itu, tapi….”
“Aku
tidak menanyakan sisa-sisa pasukan Bei Mo.” He Xia menjawab dingin, “Aku
bertanya sudah berapa banyak yang kita rekrut setelah pengumuman?”
Orang
yang berdiri di depan menundukan kepalanya semakin ke bawah. He Xia mengerutu,
orang itu ragu sejenak lalu berkata lagi, “Sejauh ini, sekitar…. Sekitar….
Empat ratus, mungkin?”
He
Xia sangat geram, ia ingin memukul tinjunya ke meja. Tapi ia bersusah payah
menahan emosinya, dan berkata dengan sangat pelan, “Bukankah sudah kubilang
padamu untuk melakukan perekrutan dengan sikap baik?”
Si
petugas itu menjawab dengan hati-hati, “Aku sudah menyampaikan perintah Tuan
Jin Anwang dengan sebenarnya, para penduduk Bei Mo yang bergabung menjadi
prajurit akan di beri hadiah besar dan pajak keluarga akan dikurangi sampai
setengah…” ia ketakutan dan menghentikan kata-katanya ketika He Xia menatapnya
dengan mengerikan.
Sejak
kabar tetang niatnya membentuk negara baru di umumkan, He Xia berniat
mengumpulkan seluruh orang berbakat dari setiap negara. Ia tidak seperti tipe
penguasa Yun Chang sebelumnya.
Terakhir
kali ketika Pejabat Cui bertanggung jawab menyediakan teh untuk istana
kerajaan, ia datang melapor dalam keadaan sehat. Tapi entah apa yang
dikatakannya, ketika ia pulang, sudah berbentuk mayat. Para penjaga membawa
tubuhnya, darahnya berceceran di lantai biru. Hal ini membuat takut para
Pejabat lainnya yang menunggu di luar, dua dari mereka pingsan di tempat.
“Lalu
bagaimana dengan Gui Li?”
Petugas
lain yang sudah terbiasa sudah bisa menduga kalau He Xia akan menanyakan hal
ini. Ia sudah bersiap, ia maju selangkah dan menjawab dengan hati-hati,
“Setelah pengumuman, jumlah yang bergabung sekitar empat ratus orang.”
Bahkan
Gui Li pun hanya sesedikit itu?
Alis
mata He Xia berkerut. Dulu ketika Kediaman Jin Anwang masih termashyur, hanya
dengan melambaikan kedua tangannya, para penduduk Gui Li bersedia berperang
untuknya tanpa takut mati dan jumlahnya tidak terhitung.
Tapi
sekarang, situasinya menjadi seperti ini…..
Keningnya
berasa sakit sekali. Ia mengelusnya tanpa merubah ekspresi wajahnya. Suaranya
jadi melembut, “Kalian tidak bisa disalahkan. Mulai sekarang, kurangi pajak
sepertiga di semua tempat. Sampaikan perintahku, entah dia prajurit ataupun
Jendral, kalau tidak patuh, bunuh di tempat. Dan untuk mayat He Su beserta
keluarga…. Berikan mereka penguburan selayaknya anggota kerajaan.”
Si
pelayan di sebelah He Xia bisa melihat kalau Tuannya sudah sangat kelelahan,
maka mereka menyediakan teh panas, He Xia menerimanya dan memegangnya dengan
tangannya. Ia menghirup aromanya tapi tidak meneguknya. Lalu ia bertanya lagi,
“Apa benda berharga lambang keberuntungan telah selesai dikumpulkan untuk
peresmian pembentukan negara baru?”
Semua
orang disana sangat takut ia akan menyakan hal ini, ekspresi wajah mereka
menjadi sangat gelap.
“Dari
wajah kalian, jelas sekali kalian belum menemukan satupun. Baiklah, aku tidak
akan menanyakan hal itu untuk saat ini.” He Xia berkata lagi, “Apa ada kabar
tentang suatu kejadian-kejadian aneh yang melambangkan akan terjadinya bencana,
baru-baru ini?”
Dua
petugas berdiri diam seperti batang kayu. Mereka saling bertukar pandang dan
tak ada seorangpun yang berani berkata.
Siapa
yang berani melaporkan tentang kejadian-kejadian buruk. Ketika He Xia sedang
mengumpulkan seluruh ambisinya untuk membentuk negara baru, di Bei Mo, Dong Lin
dan Gui Li telah terjadi peristiwa-peristiwa aneh.
Tanah
mengeluarkan darah, burung-burung mati berjatuhan tiba-tiba, patung menangis
darah…. Semua orang sudah sangat khawatir. Setelah peristiwa-peristiwa itu,
sebuah kabar beredar dan membuat sepuluh lalu ratusan, ribuan dan akhirnya
semua orang menjadi ketakutan. Semuanya berpikir kalau pembentukan negara baru
akan membawa bencana.
Dan
kabar itu akhirnya mencapai perkemahan pasukan.
Dan
didalam pasukan Yun Chang ada beberapa Jendral yang tidak mendukung pembentukan
negara baru. Meskipun mereka tidak berani mengutarakannya, hati mereka berbisik
lain. Dan untuk para tawanan perang dari tiga negara, setidaknya delapan dari
sepuluh benar-benar tidak setuju atas rencana He Xia ini.
He
Xia melihat para petugas itu cukup tenang dan tidak terganggu. Ia tersenyum,
“Meskipun semua hal itu menggelikan, ternyata sudah cukup untuk membuat kalian
ketakutan. Semua itu dibuat oleh seseorang dari balik bayangan. Sampaikan
perintahku, semua negara harus mengetatkan penjagaan mereka. Kau, pilihlah
beberapa orang yang sangat terlatih, sebar mereka untuk membereskan hal ini.
Mereka bisa membongkar tipuan murahan ini untukku.” Lalu ia menundukan
kepalanya dan melihat beberapa dokumen lagi dan akhirnya berkata, “Kalian semua
bisa pergi.”
Dua
petugas segera beranjak begitu mendapat ijin. Begitu mereka melewati pintu
ruangan, mereka saling bertukar pandang. Pakaian mereka basah oleh keringat,
ketika angin berhembus, rasa dingin menjalar diseluruh tulang-tulang mereka.
Dongzhuo
menerima surat perintah atas penugasan dirinya memimpin resimen Yongchang dan
segera pergi dari Yun Chang, beberapa hari lalu. Ia selalu berada di samping He
Xia sejak kecil, maka statusnya berbeda dengan yang lainnya. Pejabat
pemerintahan atau Militer lainnya harus menunggu di ruang tengah terlebih
dahulu, tapi Dongzhuo ia segera memasuki istana begitu melewati gerbang ibukota
Gui Li.
Begitu
dua petugas keluar, Dongzhuo melangkah masuk. Ia melihat mata He Xia terpejam
dan bersandar di kursinya, seperti berusaha untuk beristirahat. Ia melihat
beberapa dokumen di meja sebelum berbisik, “Tuan, anda sudah lelah sekali,
beristirahatlah.”
Ia
mengulangi lagi sampai dua kali, sampai akhirnya He Xia mengelengkan kepalanya.
“Tidak perlu.” Ia membuka matanya, “Dongzhuo kau sudah sibuk sekali dua hari
ini, pergilah tidur.”
Dongzhuo
memang sibuk tapi ia tetap berdiri di tempatnya tidak bergerak.
He
Xia melihatnya tidak mau beranjak dan tertawa kecil, “Kau, kau sudah seorang
Jendral sekarang. Bagaimana bisa kau tetap begitu keras kepala? Baiklah, kalau
kau tidak mau pergi, aku juga ingin bertanya tentang beberapa hal, bagaimana
rencanamu untuk resimen Yongchang?”
“Para
prajurit di bawah asuhan Shang Lu sangat sopan. Aku sudah memeriksa mereka di
luar kota dua kali dua hari ini. Mereka berlatih dengan baik, mental mereka
juga sudah kompak dan bagus. Hanya saja…” Dongzhuo agak ragu, “Mungkin karena
aku belum cukup berpengalaman memimpin pasukan atau juga tanpa kemampuan
militer, meskipun para petugas dibawahku menghormatiku, tapi aku tahu mereka
tidak setuju aku memimpin mereka.”
He
Xia berguman, “Hmm” tapi tidak berkata apa-apa.
Dongzhuo
merasa agak bingung dengan hal ini. Ia penasaran dan bertanya, “Dalam hal
menggerakan pasukan untuk berperang, Fei Zhaoxing sungguh orang yang sangat
berbakat. Mengapa tugas ini tidak tetap diberikan padanya saja, apalagi ia
sudah membantu Tuan membunuh Shang Lu.”
Ketika
He Xia mendengar nama Fei Zhaoxing ia menghela napasnya, Dongzhuo merasa
jantungnya seperti melompat keluar dan segera menutup mulutnya rapat-rapat.
Di
ruangan yang mewah dan luar biasa indah itu, kesunyian melanda.
Dongzhuo
telah tumbuh besar di sisi He Xia, maka ia berkata seperti biasanya tanpa
memilah ucapannya. Beberapa tahun belakangan pemikiran He Xia menjadi semakin
kesini semakin sulit ditebak. Terkadang ekspresinya dingin, tapi hal itu
sepertinya untuk mengisi hatinya yang pedih. Tuannya semakin mendekati taktah, tapi
ia justru merasa Tuannya semakin menjauh darinya. Hanya dengan sebuah helaan
napas, seseorang dengan kekuasaan utama, nuansa mulia dan kejam seorang kaisar,
sepenuhnya membuat para penontonnya terdiam.
Dengan
pemikiran ini, Dongzhuo merasa sangat sedih.
Setelah
beberapa saat, He Xia melembutkan ekspresinya. Melihat Dongzhuo berdiri disana
dengan berhati-hati, tidak berani membuat suara sedikitpun, ia memberi isyarat
padanya untuk mendekat dan berbisik, “Aku ingin kau melakukan sesuatu, Fei
Zhaoxing belum memberitahuku tentang hal ini. Ia sedang berhubungan dengan
beberapa orang yang berbahaya, korupsi dan pemerasan. Temukan bukti atas
kejahatannya dan tetap rahasiakan, jangan sampai beritanya keluar.”
Dongzhuo
terkejut untuk beberapa saat.
Tak
perlu di perjelas, Tuan ingin menyelesaikan Fei Zhaoxing. Seperti tindakan Tuan
yang biasanya, kalau ia tidak memulainya, tidak ada yang terjadi, tapi begitu
ia mulai bergerak, kemungkinan Fei Zhaoxing melarikan diri sama sekali tidak
ada.
Sementara
Dongzhuo masih terpaku, He Xia bertanya, “Apa sudah jelas?”
“Sudah.”
Dongzhuo berguman.
He
Xia memandang ekspresi Dongzhuo. Ia tiba-tiba bertanya, “Menurutmu aku kejam?”
Dongzhuo
segera menggelengkan kepalanya.
Tatapan
He Xia sangat tajam ketika memperhatikannya, kedua bola matanya sangat hitam.
Dongzhuo merasa ia tidak bisa menyembunyikan apapaun dari tatapannya, dan
merasa pikirannya bisa terbaca juga.
He
Xia memperhatikannya agak lama dan menurunkan pandangannya. Ia lalu tertawa
kecil, “Siapa sangka, semuanya akan berubah seperti ini? aku akan segera
membentuk negara baru dan menaiki taktah, kau si kecil yang ceroboh menjadi
seorang Jendral dari resimen yang besar. Dan Pingting…..” ia segera
menghentikan kata-katanya, wajah tampannya menampakan perasaan sedih yang sulit
digambarkan.
Dimana
Pingting, Pingting yang selalu di sampingnya sejak ia kecil, Bai Pingting yang
selalu memainkan kecapi untuknya di istana Gui Li.
Sulit
sekali untuk melupakan bagaimana suara tawanya bergema di Kediaman Jin Anwang
yang seperti lonceng perak, terdengar enak di telinga, meninggalkan kelopak
bunga kesetiap tempat.
Karena
itulah, He Xia dengan mudah menemukannya. Ia menariknya dari sudut ruangan dan
berkata dengan riang, “Pingting, ayo pergi berkuda.”
Pergi
berkuda, pergi melukis, pergi membaca, pergi mendengarkan lagu…..
Bersama-sama,
bahkan ke medan perang…..
He
Xia menatap cahaya lilin, menyaksikan kerlipannya. Sinarnya menerangi wajahnya
yang terlihat lembut.
Saat
itu, Dongzhuo melihat kembali Tuannya yang dulu, Tuan Muda yang romantis dari
Jin Anwang di masa lalu.
Angin
dingin berhembus, menggoyangkan tirai sutra di jendela yang terbuka.
Dongzhuo
berbisik, “Tuan, apa Tuan berpikir kalau Pingting masih hidup?”
“Chu
Beijie meninggalkan gunung, siapa lagi selain Pingting yang bisa melakukannya?”
begitu ia menyebut Chu Beijie, kelembutan di wajah He Xia menghilang digantikan
ekspresi tajam yang bersinar di matanya.
Dongzhuo
berpikir sejenak sebelum berkata, “Tapi sampai sekarang, belum ada saksi yang
melihat langsung Chu Beijie, apalagi Pingting. Bagaimanapun, kita harus melihat
mereka dalam sebuah sosok…”
“Aku
akan membunuhnya jika harus!” He Xia tiba-tiba mengertakan giginya, dan memukul
meja dengan keras.
Telinga
Dongzhuo berdegung, ia sangat terkejut. Dan lama sekali sebelum ia bisa berkata
lagi, “Tuan…. Yang anda maksud….. Chu Beijie?”
Sepertinya
memang karena Pingtinglah alasan Chu Bejie meninggalkan gunung. Bahkan Dongzhuo
bisa menebak dengan mudah dari kata-kata He Xia, dan sekarang dua orang ini
muncul bersama, dan kemungkinan peperangan yang akan terjadi nantinya, ini
sungguh hal terburuk dari yang paling buruk.
Kalau
memang Pingting benar-benar membantu Chu Beijie melawan Tuan, apa yang akan
terjadi jika nanti mereka berdua bertemu muka? Dongzhuo sangat sulit memikirkan
hal ini, tapi ia tidak berani bertanya pada He Xia.
Ia
masih bertahan sebagai orang-orang yang tidak bersalah dari Kediaman Jin Anwang
sebelumnya. Ia berharap bisa mendengar langsung maksud Tuannya sebenarnya dan
berharap akan berubah. Ia benar-benar tidak percaya Pingting akan begitu kejam.
Wajah
He Xia sangat dingin. Ia menekankan setiap kata-katanya, “Bukan, yang kumaksud
Pingting.”
Dan
itu bukan wajah bercanda.
Dongzhuo
tidak pernah mengira He Xia akan menjawab dengan tegas dan jelas. Tubuhnya
tiba-tiba terasa dingin. Ia merasa jantungnya seperti di cakar seekor kucing,
sangat sakit dan perih. Ia melangkah mundur beberapa kali.
Ekspresi
He Xia sangat menakutkan. Ia menatap dokumen di meja seperti melihat musuhnya. Lama
sekali sampai ekspresinya sedikit lebih tenang, dan bahkan sedikit terlihat
bercanda. Senyumnya agak miring ketika berkata, “Mengapa ia berbuat seperti
itu? Apa ia sama sekali tidak mengingat masa lalu?”
Dibawah
cahaya lilin yang kemerahan, wajahnya terlihat pucat.
Mereka
berdua diam, saling menatap wajah masing-masing, dan merasa tidak ada yang
perlu diucapkan lagi.
He
Xia mengibaskan tangannya, “Pergilah tidur, besok masih banyak yang perlu
dilakukan.”
Dongzhuo
menjawab, “Baik,” ia menundukan kepalanya rendah dan keluar ruangan.
Dari
belakangnya suara teredam dan samar He Xia menyanyi terdengar.
“Langit
yang menari, mimpi yang sunyi, perasaan sayang tidak bertahan lama…..” He Xia
menghela napas dalam, menyembunyikan penyesalan yang tak terhingga.
Begitu
ia tiba di ruangannya Dongzhuo teringat. Di sebuah perayaan bersama Yaotian, di
Kediaman Suami Ratu, He Xia mengambil pedangnya dan menari dengan lagu itu.
Malam
itu, halaman penuh dengan salju yang sebagian sudah mencair.
Para
penari Bei Mo yang mengenakan pakaian berwarna-warni, mengikat genderang kecil
di pinggang mereka. Dengan lincahnya mereka memukulnya, menciptakan irama
sambil menari, semangat mereka membuat Yaotian sangat gembira.
Mereka
berdua, suami istri tenggelam dalam suasana luar biasa, minum bersama di bawah
sinar bulan.
He
Xia menari dengan pedangnya sementara Yaotian tersenyum.
Langit
yang menari, mimpi yang sunyi.
Perasaan
sayang.
Tidak
bertahan lama.
Dongzhuo
akhirnya mengerti mengapa He Xia berniat membunuh Fei Zhaoxing.
He
Xia tidak akan pernah melupakannya, ketika ia mendengar Fei Zhaoxing
mengutarakan sarannya untuk membunuh Yaotian. Hatinya seperti dengan perlahan
di belah oleh halilintar bisu.
--
Qierou.
Mungkin
akibat peperangan, pemandangan para penduduk tanpa rumah dan berkeliaran di
jalan terlihat dimana-mana. Jumlah orang yang memasuki kota semakin bertambah.
“Lantas
kenapa? Bukankah akan membawa banyak manfaat jika semakin banyak orang. Bagus!
Bagus!” Fanlu mendengarkan laporan dari bawahannya dan tertawa lebar.
Si
Gubernur sepertinya terlihat lebih segar hari ini, dan suasana hatinya sedang
sangat baik. Emosinya yang dari beberapa hari lalu, sama sekali tidak berbekas.
Ia
menyilangkan kakinya sambil membahas sesuatu dengan bawahannya itu sampai
tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia memerintahkan, “Orang-orang yang datang
adalah teman-teman lamaku ketika aku masih di militer. Dan masing-masing dari
mereka, semuanya bisa membunuh, mereka juga tidak suka berhubungan dengan orang
asing. Mereka juga membenci orang-orang yang mencoba mencari tahu diri mereka.
Kau sebaiknya berhati-hati tidak membuat masalah dengan mereka.”
Dujing
tahu kalau Sang Gubernur berasal dari militer. Ia dengan path berkata, “Aku
tidak akan berani menganggu teman-teman Tuan. Tentu saja tidak, tidak berani.”
“Heh,
aku juga tidak berharap kau akan melakukannya.” Fanlu menyeringai dan tertawa.
Ia
tahu, berita Chu Beijie bersembuyi di kediamannya tidak boleh sampai tercium
bagaimanapun. Jika tidak ratusan ribu prajurit akn segera datang mengepung
mereka. Bagusnya, Chu Beijie dan orang-orangnya sangat lihai dan terlatih, jadi
tidak mungkin mereka melakukan kesalahan. Dan para petugas di kediaman sendiri
tidak ada yang terlalu pintar. Hanya Dujing yang agak cerdas sedikit, mungkin
ia bisa melihat sesuatu yang sedikit mencurigakan.
Tapi
Fanlu sama sekali tidak khawatir, ia telah memberitahu Moran untuk menempatkan
seorang pengawas yang ahli. Begitu Dujing waspada atau terlihat menyadari
sesuatu, si pengawas itu harus segera membunuhnya.
Meskipun
ia hanya seorang Gubernur di kota kecil seperti Qierou tapi ia seorang
diktator. Tak ada seorangpun yang tak bisa ia sembunyikan. Juga termasuk
beberapa anggota Chu Beijie yang ditempatkan di luar kota yang datang
berbarengan dengan para penduduk yang bermigrasi, sekitar delapan atau sepuluh
orang.
Ketika
ia tertawa, ia mendengar suara seseorang bertanya pada penjaga pintu, “Dimana
Tuan Gubernur?”
Fanlu
menurunkan kakinya dan berkata dengan suara keras, “Disini.”
Zuiju
mendorong pintu dan melangkah masuk. Ia menggenggam keranjang persegi di
tangannya. Begitu ia melihat Fanlu, ia tersenyum, “Jadi kau bahkan melakukan
hal-hal serius juga terkadang.” Ia melangkah mendekat, dan meletakan kerangjang
di meja dengan hati-hati. Dalam keranjang ada semangkuk bubur yang baru saja
matang.
Fanlu
menatap Zuiju lalu beralih ke mangkuk bubur. Ia terseyum dari hatinya yang
paling dalam, tapi mulutnya berkata, “Aku sudah sarapan.”
Zuiju
tidak marah, ia berkata ringan, “Oh, kalau begitu biar kuberikan pada Tuan
petugas ini.”
Dujing
segera menolaknya, “Aku tidak berani! Aku tidak berani! Tuan, aku harus pergi
untuk mengurus beberapa hal.”
“Bagaimana
mungkin kau berani memakan makananku?” Fanlu mengambil mangkuknya dan tidak
membiarkannya lepas.
Dujing
tahu, ini adalah masalah pribadi Fanlu. Ini sesuatu yang seharusnya ia tidak
ikut campur sama sekali. Maka ia segera pamit dan menutup pintu, membiarkan
mereka berdua.
Fanlu
masih memegang mangkuknya, ia beberapa kali mengatakan terlalu panas, dan
terkadang ia mengatan terlalu lembek. Begitu ia menghabiskan seluruhnya, ia
bersendawa dan memuji Zuiju, “Sejak bertemu ayah mertua, kau jadi lebih
penurut.”
Zuiju
bertanya, “Apa aku harus sepenurut ini di masa depan nanti juga?”
Fanlu
menganguk semangat, “Tentu saja, tentu saja! Itu akan sangat bagus!”
Zuiju
berkat, “Guru bilang, aku harus bisa membedakan mana hal yang penting dan tidak
mengacaukannya. Aku tidak akan mengganggumu dengan pekerjaanmu, aku akan datang
lagi nanti untuk menemanimu.” Ia berdiri dan pergi.
Kejaiban
membuat Fanlu sangat senang, dan karena Zuiju memujinya, mengerjakan
pekerjaannya dengan serius, ia berniat melakukannya seperti itu. Ia bekerja
dengan penuh perhatian, berencana bermain-main dengan Zuiju sepanjang hari
begitu ia selesai.
Dan
ketika ia hampir selesai dengan pekerjaannya, seperti yang diharapkannya, Zuiju
membuka pintu. Ia tersenyum ketika melihat Fanlu, “Apa kau masih baik-baik
saja?”
Fanlu
menjawab ketus, “Sangat baik, mengapa aku harus tidak baik?” melihat ekspresi
Zuiju yang agk aneh, hatinya terpukul. Dan ekspresi wajahnya sendiri berubah,
“Apa yang kau campurkan di buburnya?” sebaiknya ia tidak mengatakannya. Dan
begitu ia selesai berucap, Fanlu berdiri di atas kedua kakinya dan merasakan
tenaganya tiba-tiba menghilang sepenuhnya. Kedua kakinya bergetar dan seluruh
tubunya kesemutan hebat.
Zuiju
tersenyum, dan berpura-pura memeriksa nadi Fanlu di pergelangan tangannya. Ia
menghela napas, “Nona Bai sungguh hebat, meskipun tidak ditemukan tanda-tanda
penyakit, korban juga tidak bisa dianggap mabuk.”
Fanlu
sangat marah, giginya seperti sedang diasah menjadi debu. Ia berusah meraih
Zuiju tapi tidak ada tenaga sama sekali jadi gerakan tangannya sangat lambat.
Dan Zuiju dengan mudah mengelaknya, Fanlu mengerutu, “Mengapa kau mencobanya
padaku?”
Zuiju
yang sebelumnya tertawa, begitu mendengar pertanyaan Fanlu, ekspresi wajahnya
berubah. Ia menatapnya sambil bertolak pinggang. “Katakan, mengapa kau mengatakan
pada guru kalau aku…kalau aku sudah……tidur denganmu?”
Fanlu
yang awalnya marah setelah mendengar perkataan Zuiju dan melihatnya merona tak
bisa menahan tawnya, ia tertawa sampai perutnya terasa sakit.
Begitu
Fanlu puas tertawa, ia berkata, “Itu hanya percakapan asal, aku akan
mengakuinya nanti. Obatmu sungguh hebat. Tapi, bagaimana kalau kita buat
percakapan asal itu menjadi kenyataan malam ini. Apa yang sudah terjadi tidak
bisa diputar balik…..” ia belum selesai berkata ketika beberapa pukulan
menghantamnya.
Fanlu
merengek ketika bertanya, “Berapa lama obat ini bekerja?”
Zuiju
merasa sedikit lega setelah memukulnya beberapa kali. Ia menjawab, “Bisa cepat,
tergantung kondisi tubuhmu. Kau tidak tahu betapa sulitnya menyiapkan obat ini.
Aku memang tahu pengobatan dan bisa membantu, tapi menggunakan banyak sekali
tumbuhan obat, membuatku agak pusing. Nona Bai memang luar biasa, ia tahu
begitu banyak.” Dan ia melanjutkan memujinya, “Bahkan jarum perak tidak bisa
medeteksinya di dalam mangkuk bubur. Mereka yang memakannya hanya merasa lesu,
efek yang besar tergantun masing-masing orang. Beberapa mungkin merasa anggota
tubuh mereka kebas dan tidak bertenaga sementara yang lain akan benar-benar
tertidur pulas, tapi tidak akan menimbulkan tanda-tanda di tubuh. Jendral Yun
Chang tidak akan curiga. Kau lihat, hebat bukan?”
Fanlu
memutar bola matanya dan menghela napas, “Aku tahu kau merasa senang, karena
aku orang yang dikorbankan untuk diuji. Hahhhh, kalau hasilnya tidak seperti
perkiraanmu, kau akan membunuh suamimu.”
Zuiju
menjulurkan lidahnya kea rah Fanlu, “Benar sekali, aku sungguh gembira akan hal
itu.” Dengan mengabaikan reaksi Fanlu yang tidak senang, ia segera pergi keluar
menjuju halaman.
Pingting
sangat sibuk menyiapkan obat itu selama beberapa hari terakhir ini, dan ia
belum tidur sama sekali. Begitu mereka selesai, akhirnya ia bisa beranjak dari
tempatnya. Huo Yunan segera memeriksa nadi Pingting dan menuliskan resep.
Setelah Zuiju selesai melihat reaksi obat pada Fanlu, ia menemani Pingting
sepanjang malam.
Pingting
berkata, “Kau sudah membantuku disampingku sepanjang hari sejak kemarin
kemarin, kau juga sudah lelah, berisitirahatlah. Apa yang harus kulakukan kalau
kau juga sampai sakit?”
Zuiju
berkata, “Aku akan disini sebentar lagi, lalu akan pergi. Aku akan menunggu
sampai kau tertidur.”
Pingting
berkata lagi, “Aku hanya akan terus bercerita kalau kau disini. Aku bahkan jadi
tidak ingin terlelap.”
Begitu
mendengar perkataan Pingting, Zuiju tersenyum dan kembali ke ruangannya. Pingting berbaring di atas bantalnya, dan
segera terlelap. Samar-samar ia merasa seseorang membelai rambutnya. Ia
berguman, “Kau sudah kembali?” ia membuka matanya dan melihat sinar bulan
menyebar dari celah jendela, dan Chu Beijie duduk di ujung tempat tidur. Ia
masih berpakaian lengkap, sepertinya baru saja tiba.
“Mengapa
kepalamu sangat panas?”
“Tuan
kembali di saat yang tepat. Obatnya sudah selesai hari ini. Persis seperti yang
kita inginkan. Kami akan menyiapkannya lagi besok, agar cukup untuk segalanya.”
Pingting
tahu Chu Beijie kesal padanya karena tidak memperhatikan kesehatannya sendiri.
Ia membuat sebuah senyum di wajahnya, “Apa Tuan menghasilkan sesuatu untuk
kepulangan ini?”
“Menyelinap
ke perkemahan musuh dan membunuh satu sudah cukup. Aku tidak menggunakan
pedangku kali ini, hanya pisau agar tidak meninggalkan tanda yang bisa
dikenali.” Chu Beijie melepaskan pedang di pinggangnya dengan sebelah tangan
dan meletakannya di meja. Wajahnya menjadi sangat serius, “Kalau aku sampai
terpojok nantinya di kemudian hari, mungkin aku harus jadi pembunuh.”
Pingting
membalas dengan lembut, “Aku tahu Tuan tidak akan melakukan hal tidak terhormat
seperti itu. Kalau kita memiliki cukup pasukan, Tuan pasti akan menantang
secara terbuka para Jendral musuh di medan perang.”
Chu
Beijie menghela napas dengan berat, ia menjawab dengan tenang, “Untukmu, aku
akan melakukan apa saja. Apa masalahnya dengan pembunuhan, ketika kau harus
melakukan apapun untuk menjatuhkan lawanmu?”
Pingting
mendengarkan, lalu ia bertanya lagi dengan pelan, “Ada kabar dari luar?”
Chu
Bejie tidak ingin memberitahu Pingting terlebih dahulu, tapi ia tidak bisa
menyembunyikannya jika Pingting sudah bertanya. Ia menghela napas, “Tugas yang
kuberikan pada Ruo Han dan yang lain untuk membuat peristiwa-peristiwa janggal
agar He Xia menunda acara menaiki taktahnya, sama sekali tidak bisa membodohi
He Xia. He Xia menurunkan prajurit pilihan untuk melacak mereka dan berhasil
menemukan jejak orang-orang kita.”
Pingting
menghela napas dengan lemah.
Chu
Beijie diam selama beberapa saat, “Huacan meninggal. Luoshang tidak diketahui,
hubungan dengan mereka benar-benar terputus, aku khawatir ketidakberuntungan
justru berbalik pada kita. Aku segera memerintahkan Ruo Han untuk menghentikan
semuanya, agar ia tidak menarik perhatian lagi. Tapi entah bagaimana, jumlah
keluarga bangsawan yang menentang pembentukan negara baru ini, bertambah
banyak.” Ia melanjutkan dengan agak ragu, “He Xia juga tahu tidak semua Jendral
Yun Chang setuju dengan rencananya ini, maka ia berencana membentuk pasukannya
sendiri. Ia telah melakukan perekrutan besar-besaran di Bei Mo dan Gui Li, tapi
tidak banyak yang ingin bergabung.”
Pingting
menghela napas lagi, membiarkan dirinya tengelam dalam lengan Chu Beijie, “Tuan
Muda menjadi semakin tidak disukai.”
Tuan
muda Jin Anwang, dimasa lalu merekrut para pemuda Gui Li sampai tak terhitung jumlahnya
untuk bertarung bersamanya tanpa takut mati hanya dengan menangkat kedua tangannya.
Membunuh
seluruh keluarga Raja benar-benar kesalahan besar.
Pingting
gemetar. Ia menghitung setiap kesalahan yang dilakukan Tuan Mudanya, dan
memikirkan bagaimana untuk menggunakannya dalam rencananya…..
Kenyataan
sungguh mengejek kehidupan dengan cara yang sangat kejam.
Tuan
Muda telah kembali ke Kediaman Jin Anwang.
Tapi
kelembutan dan kehangatannya ribuan kilo jauhnya.
Sepeti
itulah, siapa lagi yang tertinggal di hatinya untuk dirindukan di bawah sinar
bulan?
--00—
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar