Di kota Gui Li,
semua orang tak membuat suara, bahkan suara langkah kakipun harus di redam.
Tuan Besar Jin
Anwang yang bisa memutuskan hukuman mati seseorang hanya dengan satu kata,
hari ini sedang sangat marah.
Fei Zhaoxing segera
bergegas melangkah masuk. Melihat He Xia dengan wajah yang tidak ramah, ia
menunjukan sikap tunduk seorang bawahan. Ia dengan hati-hati berdiri
disampingnya dan menunggu He Xia bertanya.
“Kau sudah tiba.” He
Xia melihat ke arahnya, tidak bertanya tentang apa yang sudah ia kerjakan
baru-baru ini. Ia menunjuk ke mejanya yang penuh dengan dokumen-dokumen. “Lihat
ini, meskipun aku sudah dengan jelas berkali-kali mengatakan kalau
peristiwa-peristiwa janggal itu buatan seseorang dan hanya perlu mengirimkan
petugas untuk menangkap dan menghukum mereka, orang-orang bodoh ini masih saja
merasa benar-benar perlu melaporkannya
padaku, dan memintaku untuk tidak terburu-buru mengesahkan negara baru, dan ada
kata-kata kemurkaan langit. Apa maksudnya murka, mereka hanya ingin berkata
langit tidak ingin aku menjadi kaisar.”
Fei Zhaxing tahu
kemarahan He Xia tidak ringan. Ia segera menyetujuinya, “Tuan benar,
orang-orang bodoh ini, tdak mengerti betapa pentingnya sebuah negara baru, jadi
jangan terlalu marah pada mereka. Dan rencana Tuan untuk mendirikan negara
baru, menurutku itu sangat tepat.”
“Aku juga berpikir
begitu, tapi tidak berhasil” kemaran He Xia berkurang sedikit. Ia menghela
napas, “Sama sekali tidak ada tanda-tanda pergerakan dari sisi Chu Biejie. Aku
curiga para Jendral itu merasa sudah cukup berperang atau mereka takut pada Chu
Beijie sehingga tidak sepenuh hati mencari mereka. Aku benar-benar ingin segera
mengirim pasukan begitu lokasi mereka ditemukan…”
Ia menyadari kalau
ia benar-benar kehilangan ketenangannya, ia berhenti sejenak, menarik napas. Ia
menghabiskan secangkir teh dengan sekali teguk dan melanjutkan dengan lebih
tenang, “Banyak hal terjadi belakangan ini. Perekrutan tidak berjalan bagus,
awalnya aku tidak ingin Yun Chang menyediakan pangan untuk militer, tapi Dong Lin dan Bei Mo telah hancur karena
perang, banyak tanah-tanah pertanian terabaikan, sehingga akan sulit memenuhi
kebutuhan dari tempat itu.
Karena masalah
makanan, sebagian besar pasukan yang telah dibentuk kembali tinggal di Gui Li.
Karena setiap bagan dari istana Yun Chang mengingatkannya pada Yaotian, dan ia
sering merasakan sakit di hatinya hingga tidak tertahankan tanpa sadar, ia
tidak ingin segera kembali kesana.
Dari Tujuh resimen
Yun Chang, resimen Yongxiao dibawah komando Gui Yan yang pertama di hancurkan
di awal peperangan. He Xia telah menggunakan tawanan perang dari beberapa
negara untuk membentuk resimen Yongxiao yang baru. Fei Zhanxio melakukan
perhitungannya sendiri, saat ini, dua resimen di tempatkan di Gui Li, satu
resimen berkemah di antara Dong Lin dan Bei Mo dan sisanya berada di wilayah
Yun Chang.
Empat negara telah
ditaklukan, dan pemimpin utama berada jauh dari Yun Chang untuk sementara,
situasi ini sebenarnya agak berbahaya.
Kalau dulu, Fei
Zhaoxing pasti sudah memperingatkan He Xia dengan lantang, tapi sejak ia merasa
curiga, ia lebih berhati-hati dan selalu memikirkan rencana cadangan untuk
segala hal. Ia berdiri sambil menyarankan sesuatu, “Chu Beijie ini seperti
momok (sesuatu yang menakutkan karena berbahaya). Meskipun ia saat ini sedang
bersembunyi, ia tidak bisa diabaikan. Seharusnya ia bersembunyi di Dong Lin,
kalau satu resimen masih belum bisa menemukannya, maka mengirim lebih banyak
pasukan seharusnya cukup untuk bisa menemukan jejaknya. Mengapa Tuan tidak
megirim aku, atau Jendral Cui dari resimen Ganfeng untuk pergi ke Dong Lin, dan
membantu pencarian?”
He Xia tetap diam,
wajahnya tidak senang ketika berguman, “Kau mungkin tidak tahu berita yang baru
saja tiba pagi ini. Cui Linjian telah dibunuh”
“Ah?”
Cui Linjian adalah
Jendral muda yang dinaikkan pangkatnya oleh He Xia sendiri. Ia baru berumur dua
puluh dua, tapi sangat pintar dan bekerja dengan baik. Ia sangat setia pada He
Xia karena telah di promosika. Kematiannya merupakan serangan langsung kepada
He Xia, bagi yang berniat memasuki jenjang militer dengan cepat dan menguasai
seluruh kendali militer.
“Ia dibunuh di
tengah malam di dalam tendanya sendiri. Kepalanya di gantung di tiang depan
perkemahan.”
Fei Zhaoxing
bertanya, “Apakah mungkin Chu Beijie? Kita harus segera mengangkat seorang
Jendral penganti. Resimen Ganfeng kehilanga komandan utama mereka.”
“Siapa orangnya,
menurutmu yang paling tepat?”
Tenu saja Fei
Zhaoxing tidak mungkin menyebut dirinya sendiri. Ia memilih seseorang yang
jelas, “Sulit menemukan orang yang tepat disaat genting. Jendral Qing Tian dari
resimen Shuitai, saat ini yang berada paling dekat dengan resimen Ganfeng.
Mengapa tidak mengabungkan dua resimen itu dan sementara berada di bawah
komando Jendral Qing Tian?”
He Xia menggelengkan
kepalanya, alis matanya berkerut, “Meskipun Chu Beijie memiliki kemampuan itu,
mungkin saja bukan dia. Hanya seseorang yang sudah tahu benar struktur militer
Yun Chang yang akan memilih Cui Linjian sebagai sasaran. Aku khawatir
masalahnya tidak sesederhana itu.”
Fei Zhaoxing juga
pintar, dan ia segera mengerti maksud He Xia. Cui Linjian bukan penduduk Yun
Chang dan ia terhitung baru di militer. Banyak Jendral Yun Chang lain yang
keberatan tentang penugasan Cui Linjian, terutama Qing Tian, ia yang paling
menunjukan sikap menentang.
Tapi siapa di dalam
militer yang berani membunuh seorang komandan resimen di saat perebutan
kekuasaan seperti ini?
Fei Zhaoxing secara
diam-diam menyesali karena mengungkapkannya terlalu cepat, seperti membantu
Qing Tian mendapatkan resimen lain. Setelah ia menyesalinya ia berusaha
memperbaikinya, “Apakah sebaiknya kita mengirim pasukan lain untuk masalah Chu
Beijie? Saat ini aku sedang mengerjakan tugas yang diberikan sebelumnya, aku
khawatir tidak bisa pergi. Bagaimana kalau mengirim Jendral Qing Tian beserta
resimen Shuitai sebagai bala bantuan?”
He Xia akhirnya
mengangguk, “Kalau begitu kirim dia.” Ia mengambil kuas dan menuliskan perintah
di atas sebuah perkamen. Ia menambahkan segel miliknya dan menyerahkannya pada
seorang petugas, lalu ia bertanya lagi pada Fei Zhaoxing, “Bagaimana kemajuan
proses pembuatan mahkota?”
Fei Zhaoxing
melapor, “Para pembuat perhiasan sudah ditemukan. Dua dari mereka berasal dari
Gui Li dan satu lagi yang sangat layak berasal dari Dong Lin. Mereka semua
sudah sangat terkenal ketrampilannya dan mereka bersembunyi begitu perang
bergolak. Menemukan mereka tetap membutuhkan waktu, semua batu permata berharga
dan logam mulia masih dikumpulkan, sudah hampir cukup. Ada satu batu sapphire
yang paling bagus, rencananya akan diletakan di posisi paling tengah. Satu yang
bisa digunakan sudah ditemukan. Bahan-bahannya sudah cukup untuk satu mahkota
Kaisar, tapi untuk Ratu…”
“Gunakan untuk
mahkota Ratu terlebih dahulu.”
“Tuan ?” Fei
Zhaoxing agak ragu ketika bertanya.
“Gunakan batu itu
untuk mahkota Ratu terlebih dahulu. Kau bisa perlahan menyiapkan untuk mahkota
Kaisar, jangan khawatir. Ingatlah, hasilnya harus luar biasa indah dan hanya
menggunakan bahan-bahan yang paling bagus, terutama mahkota Ratu.”
Fei Zhaoxing menatap
wajah He Xia dengan ekspresi bingung. Wajah tampan He Xia terlihat seperti
sedikit sedih dan tertutup kabut. Ia berdiri disampingnya tapi terlihat sangat
jauh. Ia hanya bisa menjawab “Baik” dan pergi keluar.
Begitu ia kembali ke
tempatnya, bawahannya Jendral An, segera menghampirinya dan mengajaknya keluar
untuk minum-minum.
Jendral An adalah
prajurit senior yang sudah cukup lama bergabung dalam militer dan berasal dari
pasukan Yun Chang. Fei Zhaoxing sudah lebih berpengalaman dibanding Dongzhuo.
Meskipun ia telah mengambil alih resimen Weibei setelah Gui Changning
meninggal, ia tetap membutuhkan tenaga dan waktu untuk memenangkan hati para
Jendralnya. Melihat Jendral An, Fei Zhaoxing tersenyum, “Minum lagi? Jendral
sudah mendapatkan banyak sekali penghargaan dan mendapat hadiah yang juga
banyak sekali. Mengapa tidak membeli sebidang tanah yang luas dan mendirikan
sebuah kediaman, lalu menikahi beberapa wanita cantik untuk menikmati hidup?
Bukankah itu lebih menarik dari pada minum arak?”
Jendral An
mengibaskan tangannya, “Aku hanya suka minum arak. Aku tidak tahu kapan akan
selesai, menjadi orang yang membunuh di medan peperangan. Satu wanita sudah
cukup. Kalau aku menikahi beberapa, akan ada beberapa janda nantinya.” Ia
menghela napas, “Wanita tidak cukup baik. Lihatlah Chu Bejie, ia mengacaukan
yang lain karena menghilang demi seorang wanita. Kudengar ia telah kembali
baru-baru ini. Hehh kurasa itu hanya sebuah kebohongan. Dan Suami Ratu kita….”
Ia teringat He Xia telah melarang keras siapapun menyebutnya sebagai Suami
Ratu. Ia segera terdiam.
Fei Zhaoxing merasa
jantungnya melompat kencang, ia tersenyum dan bertanya, “Ada apa dengan Suami
Ratu?”
Jendral An menggaruk
kepalanya, “Tuan Jin Anwang jatuh cinta sangat dalam, sayang sekali Tuan Putri
bernasib malang, meninggal ketika hendak melahirkan. Kalau saja Tuan Putri
masih hidup, ia akan menikmati kemegahan tiada akhir ini.”
Fei Zhaoxing merasa
percakapan ini sudah diluar tempatnya. Ekspresi wajahnya berubah cepat dan ia
mempertimbangkan sebelum berkata, “Aku bingung dengan ukuran mahkota Ratu yang
harus kuselesaikan secepatnya, mungkin Tuan Jin Anwang bermaksud menemukan Ratu
baru ketika ia menaiki taktah.”
Jendral An seseorang
yang agak angkuh, ia tidak menyadari ekspresi Fei Zhaoxing. Tangannya mengibas
beberapa kali, “Dimana kau bisa menemukan Ratu seperti itu? Apa Jendral ada
melihat wanita disekitar Tuan Jin Anwang? Bahkan kalau ia menikah lagi, kurasa
wanita itu hanya akan menjadi selir. Itu sebabnya kubilang Tuan Jin Anwang
terlalu baik pada Tuan Putri kita, kudengar ia memerintahkan untuk membangun
ulang kuburan Tuan Putri, membuatnya menjadi lebih megah. Ckckck, orang kecil
si pemarah itu, berkata kalau Suami Ratu membunuh Tuan Putri, tapi kurasa itu
mustahil jika melihat perasaan antara suami dan istri.”
Begitu Fei Zhaoxing
mendengarnya, ia segera mengerti, segala kekacauan di pikirannya telah
terangkat sepenuhnya menjadi sejernih langit. Ia tiba-tiba mengerti segalanya.
Ia menjadi kaku,
berdiri diam di tempatnya.
Jendral An tiba-tiba
menyadari ada sesuatu yang salah, “Jendral, ada masalah?”
Fei Zhaoxing
menjawab dengan agak pusing, “Aku tiba-tiba teringat suatu hal penting, aku
harus segera melakukannya. Kutemani kau minum arak di lain hari.”
Ia segera berlari
masuk ke ruangannya dan menutup pintu, dan ruangan yang mewah itu menjadi agak
gelap karena tertutup dari sinar matahari di luar.
Sebuah sengatan
dingin menjalan dari ujung kakinya.
He Xia berniat
membunuhnya.
Untuk Yaotian, He
Xia berniat membalas dendam untuk Yaotian.
Tak heran, dari
begitu banyak orang ia dipilih untuk membuat mahkota Ratu dan memerintahkan
untuk memperbaiki kuburan Yaotian. Seperti ia baru saja menengok ke belakang
dan menyadari sebuah jala telah di lempar untuk menangkap ikan besar, dirinya
sendiri.
Mengingat bagaimana
ia berpikir hanya kekayaanlah yang terbentang di depan, ia menyadari itu semua
hanya gelembung sabun. He Xia telah menjadi orang yang paling berkuasa di
dunia, mengambil nyawanya, seorang Fei Zhaoxing, sama sekali bukan masalah.
Meskipun ia
berkali-kali menyarankan He Xia untuk membunuh Yaotian semua itu ia lakukan
demi kepentingan kekuasaan He Xia.
Rupanya setelah
membunuh Yaotian, ia sangat menyesalinya, dan berniat menggunakan Fei Zhaoxing
sebagai kambing hitam untuk melepaskan kemarahannya.
Keringat Fei
Zhaoxing bercucuran. Ia sangat marah dan putus asa. Tinjunya terkepal kuat
sampai kukunya menancap begitu dalam hingga telapak tangannya mengalirkan darah
segar.
--
Pembuatan obat bius
berjalan lancar.
Kondisi Fanlu sangat
luarbiasa. Zuiju sebenarnya tidak menggunakannya terlalu banyak sehingga ia
bisa pulih dalam dua sampai tiga hari. Lalu Zuiju memberinya tugas, “Temukan
cara untuk meletakan obat ini ke dalam persediaan makanan.” Zuiju memegang
sebuah buntalan tas berukuran besar di tangannya.
“Bagaimana
meletakannya bersama persediaan yang lain? Semua bahan pangan itu menggunakan
karung goni, kecuali kau ingin aku membuka karung itu satu per satu dan
meletakan obat itu kedalamya, kau pikir petugas yang menjaga bahan pangan
semuanya bodoh?”
“Kau yang bodoh,
tidak ada seorangpun yang memintamu membuka karung.” Zuiju mengambil sedikit
untuk memperagakan. “Larutkan sedikit tepung obat ini bersama air dan siramkan
ke atas karung. Bukankah dengan begitu obatnya akan tersebar?”
Gagasan yang sangat
bagus, semangkuk kecil obat tidak akan ditemukan jika disiramkan. Meskipun hal
itu akan memperkecil efeknya, tapi beras itu akan dimasak langsung sebanyak
beberapa karung dalam panci besar. Siapa yang akan melewatkan kesempatan ini?
Ekspresi Zuiju tidak
berubah, “Bukan hanya kau yang bisa melakukan pekerjaan ini. Tugas mudah
seperti ini, Tuan Besar bisa memilih siapa saja untuk menyamar sebagai petugas
dan ikut bersamamu untuk melakukan pemeriksaan. Karena kulihat kau sedang
santai, maka aku membantumu menemukan sesuatu yang bisa kau lakukan.”
Fanlu mengerutu
beberapa kali, tapi ia mengambil bungkusan itu juga pada akhirnya.
Setelah beberapa
hari berlalu, ada sebuah kabar tersiar secara samar.
Awalnya, diduga
sebuah wabah menyebar di perkemahan pasukan. Tabib yang bertugas di perkemahan
tidak mengerti apa yang terjadi, maka beberapa tabib didatangkan dari luar kota
untuk memeriksa.
Tak lama kemudian,
sebuah gejala berhasil ditemukan. Para tabib bersepakat yang sedang terjadi
bukanlah wabah. Para prajurit seperti mengalami gangguan kesehatan karena iklim
setempat.
“Mereka memang tidak
bodoh. Awalnya mereka mengira karena makanan, dan mereka memeriksa secara
keseluruhan, lagi dan lagi, tapi tidak berhasil menemukan apapun. Aku juga
cukup bekerjasama, aku segera mengirim beberapa bahan makanan yang juga sudah
ditaburi obat, dari persediaan kota. Aku bahkan mengatakan kalau racun ini
kemungkinan tidak bisa diketahui melalui pengujian dengan jarum perak, maka
harus menggunakan beberapa tumbuhan dan air juga, kalau airnya berubah hitam
maka beracun. Kurasa itu cukup membuat mereka sibuk lebih lama.”
Kata-kata Fanlu
membuat para pendengarnya yang berada di dalam ruangan tertawa lebar.
Hanya Zuiju yang
melotot kepadanya. “Mengapa harus menambah kebohongan? Mereka bisa mencurigaimu
karena perkataanmu, dan itu bisa membawa masalah.”
Pingting duduk di
sebelah Zuiju dan mengenggam tangannya. Ia menatapnya dan menjelaskan. “Racun
seperti itu memang ada, jadi Fanlu tidak berbohong.”
Chu Beijie juga
berkata, “Kita berniat untuk membuat Jendral ini bingung sedikit lebih lama.
Biarkan Fanlu meyenangkannya, sebuah jalinan persahabatan cukup bagus.”
Dan Zuiju menyadari
kalau ia telah salah menuduh Fanlu. Awalnya ia berniat meminta maaf, tapi
ketika ia menoleh Fanlu memberikan tatapan bangga pada dirinya sendiri dan
memberikan sebuah kedipan pada Zuiju. Permintaan maafnya tertelan di
tenggorokannya dan turun ke perutnya.
Moran bertanya, “Dan
kabar lainnya?”
“Banyak sekali,
mungkin langit sedang membantu kita.”
Fanlu adalah sumber informasi utama untuk berita yang beredar di dalam
pemeritahan Yun Chang, maka semua orang duduk mengelilinginya. Ketika
membicarakan militer, Fanlu lebih bersemangat. Ia bercerita dengan penekanan,
“Pertama-tama kita harus berterima kasih pada Tuan Besar Zhen Beiwang. Karena
telah membunuh Cui Linjian dengan pisau, bukan dengan pedangnya sendiri.”
Chu Beijie menjawab,
“Cui Linjiang adalah pilihan utama darimu. Tanpamu, situasi saat ini sulit
dilakukan.”
Mendengarnya, Fanlu
mengetahui kalau Chu Beijie sangat penasaran dengan situasi terbaru. Ia hendak
mendapatkan persetujuan dari Chu Beijie sehingga dirinya yang berstatus
‘Gubernur Yun Chang’ bisa dengan mulus menjadi bagian dalam kelompok Chu
Beijie. Dan ia memberikan tatapan terima kasih pada Chu Beijie sambil
melanjutkan perkataannya. “Kematian Cui Linjian, membuat He Xia mencurigai Qing
Tian. He Xia telah menempatkan pendatang baru pada jabatan yang sebelumnya
dipegang seorang senior tua, hal ini mendatangkan banyak penolakan dari para
senior Yun Chang yang lain. Cui Linjian adalah Jendral muda yang mendapatkan
kenaikan paling tinggi diantara yang lainnya. Dan, ia bukan penduduk Yun
Chang.”
Moran mendengarkan
dengan seksama, ia bertanya, “Kau memiliki mata-mata di Gui Li? Kau sangat
yakin kalau He Xia mencurigai Qing Tian.”
Fanlu terkekeh,
“Bagaimana aku bisa menempatkan mata-mata di samping He Xia? Tapi hal ini tak
sulit diketahui, Resimen Ganfeng saat ini tidak memiliki pemegang tongkat
komando karena kematian Cui Linjiang, dan He Xia tidak memerintahkan Qing Tian
untuk mengambil alih padahal posisinya yang paling dekat. Sebaliknya ia malah
membuat Qing Tian menuju Dong Lin untuk memburu Panglima Zhen Bei Wang.” Ia
berhenti, dan memberi pandangan sekilas pada Chu Beijie.
Zuiju tertawa. “Si
Qing Tian itu sungguh tidak beruntung. Para prajurit diperkemahan saat ini sama
sekali tidak memiliki tenaga untuk mengerakkan tubuh mereka, dan mereka masih
belum berhasil menemukan penyebabnya, mustahil mereka bisa berangkat menuju
Dong Lin. He Xia akan semakin kesal padanya, karena mereka terlambat bergerak.”
Zuiju melihat yang lain menatapnya dengan diam, ia jadi merona, “Apa aku
mengatakan sesuatu yang salah lagi?”
Fanlu berkata, “Itu
karena apa yang kau katakan sangat benar.
Kami semua sangat terkejut.” Mata Zuiju membesar dan sebelum ia sempat
berkata lagi, Fanlu berbalik pada Pingting dan membungkuk padanya, “Sesuai
perkiraan Nona Bai, saya sangat kagum, sangat kagum pada anda.”
Pingting menjawab,
“Tuan Gubernur terlalu menyanjung, rencana ini, yang kuat berpura-pura lemah,
sangat tergantung pada lokasi. Semua ini berkat pemikiran Tuan Besar Zhen
Beiwang, bukan kemampuan Pingting sendiri.”
Fanlu menggelengkan
kepalanya, “Nona tidak boleh berpikir seperti itu. Tanpa Nona, siapa lagi yang
bisa membuat obat luar biasa seperti itu?”
Zuiju berpikir sesaat,
dan akhirnya ia mengerti. Mengapa Chu Beijie merencanakan untuk mencampurkan
obat di perkemahan Qing Tian adalah untuk memperkuat ketegangan antara Qing
Tian dan He Xia. Pembunuhan, prajurit yang keracunan, dan membuat Fanlu
berhubungan baik dengan Qing Tian, semua itu saling berhubungan. Zuiju berguman
sendiri, “Begitu membicarakan perang, kalian para pria sangat bersemangat,
berputar di lingkaran besar dan melakukan sesuatu.” Tiba-tiba ia ingat
keberadaan Pingting yang tepat di sebelahnya, dan Pingting bukan seorang pria.
Ia menahan lidahnya dan menoleh untuk melihat Pingting.
Dan akhir-akhir ini,
Huo Yunan ikut serta mendengarkan pembicaraan mereka dengan penuh ketertarikan,
ia merasa sendirian walaupun ikut duduk disana bersama mereka. Lalu ia berkata
dengan agak kencang, “Dari yang kulihat atas situasi saat ini, niat Tuan Besar
untuk mengguncang Yun Chang sudah tercapai. Lalu apa kau berencana turun tangan
sendiri untuk menarik keluar Qing Tian?”
Pingting
mengelengkan kepalanya sambil berpikir, “Situasinya masih belum pas. Para
Jendral itu tidak akan memberontak dengan mudahnya.”
“Aku juga berpikir
situasinya masih belum cukup. Qing Tian tidak akan menghianati He Xia secepat
ini.” Chu Beijie tersenyum hangat sebelum mengubah pembicaraan, “Tapi saat ini
adalah waktu yang sangat penting, aku tetap berencana menemui Qing Tian.”
“Tuan?”
"Situasi saat
ini memang belum matang, tapi tidak mustahil untuk membuatnya matang sedikit
lebih cepat.”
Fanlu mulai
bersemangat, “Pangkatku sangat rendah. Sulit bagiku untuk mendapatkan
kesempatan bertemu Jendral Qing Tian. Tapi seorang mata-mata, mereka paling
hebat ketika memperhatikan seseorang. Ia tidak tahu aku, tapi aku sering
memperhatikannya secara rahasia.”
Tanpa menunggu lama,
mereka semua memikirkan segala kemungkinan dan kebutuhan dan segera menyusun
rencana.
Chu Beijie dan Moran
membawa sepuluh orang terbaik, begitu juga dengan Fanlu, dan mereka segera
mempersiapkan keberangkatan, meninggalkan kota.
Ini pertama kalinya
Fanlu berangkat bersama mereka. Zuiju merasa sedikit khawatir, ia menarik
lengan baju Fanlu dan membawanya kepojokan, lalu berkata dengan pelan, “Apa kau
harus pergi?”
“Tentu saja,” ia
memperlihatkan kepalan tinjunya, “Kau lihat, tanganku sudah sangat gatal.”
Zuiju berkata,
“Entah mengapa, jantungku berdegup kencang. Kau harus sangat berhati-hati dalam
perjalanan kali ini.”
Fanlu menjawab
dengan agak kasar, “Jantungmu berdebar kencang? Oooh, itu pertanda buruk dalam
militer. Kemarilah, biar aku menyentuhnya agar jantungmu tidak berdebar kencang
lagi.”
Awalnya Zuiju
khawatir sekali tapi ia sama sekali tidak menyangka ucapan yang dilontarkan
Fanlu akan seperti itu. Ia begitu marah dan matanya membelak, lalu memukul
Fanlu dan berjalan pergi.
Chu Beijie dan
kelompok kecilnya bergerak meninggalkan kota. Mereka tergesa-gesa sepanjang
perjalanan, tujuan mereka adalah mencapai dataran dekat perkemahan resimen
Shuitai sebelum langit menjadi gelap. Begitu tiba, setiap orang menyembunyikan
diri mereka di pinggiran perkemahan sambil memperhatikan cahaya kecil yang
membelah dataran kosong di depan mereka.
Chu Beijie memberi
perintah dengan berbisik, “Aku akan menemui Qing Tian secara langsung, Moran
dan Fanlu menyelinap ke dalam, bersiap membantu untuk keadaan terdesak. Kalau
terjadi sesuatu di luar dugaan, kita akan berlari ke arah timur untuk keluar.
Sisanya bersiap membuat kebakaran, jangan berusaha beradu pedang, cukup
menciptakan suasana kacau agar kita bisa melarikan diri.”
Lalu Chu Beijie menjelaskan
lagi dengan dengan beberapa kalimat. Semua orang sudah terlatih dan terbiasa
melakukan pekerjaan tanpa persiapan, jadi mereka tidak memerlukan penjelasan
rinci.
Tatapan tajam Chu
Beijie beralih sisi lain, ia memandang pada kekosongan, “Ayo bergerak”. Moran
dan Fanlu mengikuti di belakangnya. Mereka semua mengenakan pakaian serba
hitam, dan megenakan penutup wajah. Mereka bertiga bergerak seperti bayangan,
tanpa suara dan tanpa kesulitan menyelinap ke dalam perkemahan musuh.
Tempat perkemahan
resimen Shuitai ini telah ditempati sejak lama sehingga tempat itu bukan tempat
singgah sementara, mereka menggunakan tenda-tenda yang kuat dan pagar halaman
berlapis. Tenda-tenda itu seperti bangunan-bangunan kecil yang polos. Dan
bangunan yang paling terang berada tepat di tengah, tempat Qing Tian berada.
Chu Beijie berjalan
sambil bersembuyi melewati pratroli kecil, lurus menuju area tengah, tempat
tenda sang komandan resimen. Moran masih bersamanya beberapa saat tadi,
sehingga posisi Moran tak jauh dari tenda utama.
Fanlu sudah pernah menyelinap
ke resimen Shuitai sebelumnya, sehingga ia lebih terbiasa dengan tempat itu
daripada Chu Biejie dan Moran. Ia sangat berani, ketika ia melewati sebuah
tempat kecil, ia memeriksa apakah ada seseorang disana sebelum memasukinya, dan
ia menemukan seragam lengkap seorang prajurit, ia mengenakannya dan berjalan
keluar dengan santai.
Tanda peluit patroli
masih sama, tidak berubah sama sekali dengan beberapa tahun lalu ketika ia
menyelinap untuk memata-matai. Fanlu berdiri di kegelapan, mendengarkan
perbincangan sebua kelompok kesatuan kecil.
“Kedamaian untuk
Tuan Putri.”
“Kejayaan bagi Yun
Chang.”
Fanlu berpikir, Tuan
Putri sudah meninggal. Jendral Qing Tian sungguh memiliki rasa setia yang
dalam, ia tidak melupakan majikan terdahulunya. Dan karena ia mengetahui kata
sandi yang diperlukan maka ia tidak perlu bersembunyi. Fanlu melangkah keluar
dari kegelapan, dan menoleh ke sekelilingnya. Kepada setiap orang yang bertanya
apapun padanya, ia menjawabnya dengan kata sandi yang sama. Dan mendengar ia
menggunakan logat Yun Chang, maka sikapnya sangat alami sebagai bagian dari
mereka, sehingga tak ada seorangpun yang mencurigainya.
Chu Beijie
seharusnya sudah berhasil menyelinap ke tenda Qing Tian. Fanlu terus menuju ke
arah tengah, berencana membuat Chu Beijie melihat betapa kompetennya dirinya.
Ia masih setengah perjalanan ketika tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia berbalik
menatap sebuah bangunan di sebelah kirinya. Ia ingat dengan sangat jelas, tidak
ada bagunan apapun sebelumnya disana, dan para penjaga yang berada di depannya,
jumlahnya terlalu banyak dibanding tempat lainnya. Sebuah bendera terpasang di
pintu, begitu angin berhembus, sebuah tulisan ‘Xia’ terlihat menari bersama
angin.
Sebagai seorang
mata-mata, instingnya jauh lebih tajam dari para pencuri. Ia segera tahu ada
sesuatu yang janggal tersembunyi di dalamnya.
Ia bersembunyi
sambil mengamati tempat itu. Dan akhirnya ia tersenyum, “Beruntung sekali, aku
melewati tempat ini.” ia berbalik dan berjalan, beruntung malam itu begitu
gelap, ia melangkah mencari suara air. Ia berguman, “Aku ingat kalau disini ada
sebuah sungai.” Ia bukan tipe yang berdiam diri, terlahir sebagai seorang
mata-mata, ia selalu berkeliling ke sudut-sudut dan sela-sela sebuah tempat di
sekitarnya. Termasuk perkemahan resimen shuitai ini.
Fanlu,tentu saja
pernah menyelam di sungai ini, dan ia tahu pasti kalau sungai ini akan melewati
arus bawah bangunan itu.
Ia menyelam ke dalam
sungai tanpa menimbulkan suara percikan. Begitu berada di dalam air, ia
bernapas dengan lambat dan terus berenang. Setelah beberap saat, ia menyadari
seperti ada sebuah ruang di atasnya. Ia mengarahkan kepalanya keluar dari dari
air, sebuah dinding batu. Hanya sebuah celah tipis antara air dan dinding batu
itu, tapi cukup untuk mengisi paru-parunya dengan udara. Dan ia beristirahat
untuk bernapas sejenak.
Fanlu mengambil
napas panjang sekali lagi dan mulai berenang kembali. Kali ini ia berenang
lebih jauh dari sebelumnya. Airnya sangat gelap, ia hanya bisa meraba-raba
jalannya. Jari-jarinya mulai terasa panas ketika ia tiba-tiba menyentuh
sesuatu. Ia meraba bagian lainnya dan segera menyadari kalau ia sedang
menyentuh besi panas, ia hampir berteriak.
Tidak ada benda
seperti ini sebelumnya. Fanlu teringat kata-kata Zuiju sebelum ia pergi dan hatinya
mendesah. Apa ia akan meninggal seperti ini?
Ia sangat menyesal
karena dirinya begitu sombong sehingga kematiannya akan begitu tidak adil
seperti ini.
Dadanya seperti
terbakar api. Tapi Fanlu tidak berani membuka mulutnya. Ia tahu benar, membuka
mulutnya disaat seperi itu hanya akan membawanya pada kematia. Ia menggenggam
kuat besi panas itu dan sekuat tenaga menguncangnya.
Rasa sakit karena
kekurangan udara mulai membakarnya. Pikirannya mulai kacau, ia hanya terus
menggunakan tenaganya untuk berjuang melepas besi panas itu.
Tiba-tiba besi panas
di tangannya bergeser sedikit. Meskipun hanya sedikit, semangat Fanlu mulai
kembali, ia mengguncangnya dengan lebih kuat dan kali ini ia juga menggunakan
kakinya, menendang sekuatnya.
Udara di
paru-parunya hampir habis, tenaganya perlahan berkurang. Samar-samar ia seperti
mendengar suara Zuiju, Fanlu gemetar tapi ia berhasil mengumpulkan tenaganya
untuk terus mengguncang besi itu.
Ketika ia hampir
menyerah, besi itu bergerak lagi, dan kali ini lebih banyak dari sebelumnya,
sepertinya pangkalnya mulai lepas, sebuah celah, Fanlu mendorong kepalanya dan
berhasil melewati besi itu.
Langit benar-benar
sedang membantunya.
Setelah hampir mati,
ia berjuang mendorong tubuhnya sekuatnya. Ia tidak peduli dengan goresan yang
terasa di seluruh tubuhnya dan berusaha keras mencapai permukaan air. Ia sama
sekali tidak menduga akan berhadapan dengan dinding batu lagi. Sama sekali
tidak ada ruang untuk bernapas.
Hati Fanlu serasa
jungkir balik, ia meraba-raba lagi disekitar dinding batu, ia berjuang untuk
berenang ke atas. Setelah beberapa saat, setelah seluruh tenaganya serasa
kosong, ia merasakan telapak tangannya dingin. Fanlu merasa senang sekali, ia
menggerakan kakinya mendorong ke atas, dan akhirnya wajahnya muncul di
permukaan. Udara yang segar menyambutnya.
Fanlu bernapas
dengan terengah-engah, menyebarkan tetesan air dimana-mana ketika ia berjalan
keluar dari air. Ia selalu membawa pematik api yang telah di bungkus kertas
minyak bersamanya. Ia menyalakan api dan mulai memeriksa sekelilingnya, lalu
berguman, “Si Tian berengsek itu, ia membuat penjara air dan membuatku hampir
mati.”
Sepertinya Fanlu
bukan satu-satunya yang menemukan jalur air ini. Tempat ini sepertinya sudah
pernah di perbaiki. Tak heran ada besi panas terpasang, untuk menghindari
penyusup seperti dirinya.
Fanlu ingat dirinya
berada di wilayah musuh dan ia memadamkan apinya kembali. Ia berhati-hati
berjalan ke arah cahaya lampu pijar yang berkelip. Pijar apinya begitu kecil,
hanya seukuran biji kacang kedelai, tapi cukup untuk menerangi seluruh ruangan
dengan samar.
Dua penjaga tertidur
di meja sambil mendengkur. Beberapa kendi arak tergeletak di kaki mereka.
Dengan begitu banyak penjaga di luar, kemungkinan penjaga yang berada di dalam
hanya sepuluh banding satu. Siapa yang akan menyangka seekor iblis akan keluar
dari air?
Fanlu menghampiri
dua penjaga itu. Ia memukul belakang kepala mereka untuk memastikan mereka
benar-benar pingsan.
“Baiklah, bagaimana
kalau aku mencari tahu, siapa yang perlu dikurung seperti ini?”
Ia menatap ke dalam
ruangan penjara dan melihat seorang pria tinggi besar yang sedang duduk.
Matanya bersinar di kegelapan dan tatapannya sangat tajam.
Fanlu bertanya dari
balik jeruji, “Hei, siapa kau?”
Pria itu diikat di
bahu dan kakinya, ia tentu saja bisa mengetahui kedatangan Fanlu yang
mengenakan pakaian prajurit Yun Chang dan memukul dua penjaga di depan tapi ia
sama sekali tidak menunjukan rasa terkejut, ia hanya melihat ke arah Fanlu
sesaat, “Dan kau siapa?”
Ia telah di kurung
lama sekali, rambut dan janggutnya berantakan, dan wajahnya sangat gelap
sehingga bahkan Fanlu tidak bisa mengenalinya. Tapi ketika ia berbicara,
kata-katanya begitu berwibawa, menandakan seserorang yang berpangkat tinggi
dalam militer. Fanlu terkejut sesaat dan memperhatikan dengan lebih seksama
sosok di depannya, dan ia merasakan sesuatu yang akrab. Dan akhirnya wajah
Fanlu mengeluarkan ekspresi sangat terkejut, “Kau Panglima Bei Mo, Ze Yin!”
Seluruh penduduk Bei
Mo mengira Ze Yin dibunuh oleh He Xia ketika ia menantangnya, siapa yang akan
mengira ternyata diam-diam Ze Yin dipenjarakan di perkemahan resimen Shuitai.
“Aku pernah
melihatmu, kau Panglima Bei Mo, Jendral Ze Yin.”
Ze Yin tidak
bersuara, ia tahu Fanlu adalah salah satu prajurit Yun Chang sejak ia
melihatnya, dan hatinya mengatakan untuk waspada dari kemungkinan, ini salah
satu rencana He Xia. Ia tidak boleh berucap, tidak boleh bersuara.
“Mengapa kau
dikurung disini? Sudah berapa lama kau berada disini?”
Fanlu mengucapkan
beberapa pertanyaan, tapi Ze Yin tetap diam. Ia tahu Ze Yin mencurigainya dan
berpikir, aku sudah mempertaruhkan nyawaku untuk sampai kesini dan kau sama
sekali tidak menghargainya. Fanlu sangat kesal, ekspresinya menjadi dingin,
“Apa kau tahu siapa aku?”
Ze Yin mendengar
nada suaranya dan merasa lebih yakin kalau ia adalah salah satu prajurit Yun
Chang yang sudah cukup lama berada di militer. Orang ini seperti mata-mata yang
dikirim He Xia. Ia berguman, “Katakan apa maumu, kalau tidak, pergilah.”
“Aku ayah angkat
dari anakmu Ze Qing!” Fanlu telah mendengar dari Zuiju apa saja yang
diceritakan Pingting padanya, maka ia tahu tentang Yangfeng dan Ze Qing.
Kata-katanya belum
lagi selesai, Ze Yin bangkit dari duduknya ia melangkah mendekat dan berkata
dengan suara tenang, “Banyak yang tahu anakku bernama Ze Qing, kau berani
membodohiku.”
Fanlu tertawa keras,
tidak peduli dengan jawaban Ze Yin. Ia mengambil kunci dari penjaga yang
pingsan dan membuka pintu penjara. Ia berguman sendiri, “Malang sekali anak
angkatku, aku berusaha menyelamatkan ayah kandungmu, tapi ia tidak ingin
bertemu denganmu. Ternyata ia lebih suka duduk diam dan menunggu kematian
disini. Begitu aku memikirkan dirimu dan ibumu yang akan diejek karena tidak
memiliki ayah atau ayah angkatmu disisimu, sungguh memilukan.”
Ze Yin sanga
terkejut mendengarnya.
Karena dipenjara
begitu lama, ia sama sekali tidak tahu kabar istri dan anaknya. Hatinya terasa
seperti dicakar kuku tajam memikirkan mereka kehilangan perlindungan dan diejek
oleh orang-orang.
Fanlu tidak melihat
kea rah Ze Yin, ia merentangkan tubuhnya dan berkata, “Aku mau pergi.
Orang-orang di luar sedang menungguku. Kau bisa mengikutiku berenang untuk
keluar dari sini kalau kau mau, terserah padamu.”ia berbalik dan menuju kearah
ia darang tadi.
Ze Yin agak ragu,
tapi ia segera menyusulnya. Ia sudah memutuskan untuk tidak mencari Yangfeng
setelah keluar dari tempat ini dan tidak akan mengatakan apapun pada orang ini.
Bahkan jika ini jebakan musuh, sama sekali tidak akan berguna.
Diluar perkemahan,
dua bayangan dengan perlahan bergerak menjauh.
Ketika orang-orang
yang bersiaga di luar melihat mereka, mereka segera menghela napas lega.
Chu Beijie dan Moran
ikut menyembunyikan diri mereka bersama, dan bertanya, “Fanlu sudah kembali?”
Semua orang mengelengkan
kepala mereka. Hati Moran sedikit terasa sakit, ia berkata pelan, “Aku akan ke
dalam lagi dan mencarinya.”
“Tidak perlu, ia
lebih tahu tempat itu daripada kita, tunggu sebentar lagi.”
Mereka menunggu
dengan resah, berpikir untuk mengomeli Fanlu dengan berbagai ide. Bahkan alis
Chu Beijie berkerut.
Bagaimana mereka
akan menjelaskan pada Zuiju kalau Fanlu sampai tertangkap di dalam? Mereka
tidak bisa pergi menyelamatkannya. Kalau mereka sampai menerobos masuk untuk
menyelamatkannya seluruh rencana mereka
akan hancur.
Ketika semua orang
sedang sangat khawatir, akhirnya Fanlu muncul. Pakaiannya basah dan karena ia
bergerak diam-diam sambil bersembunyi, seluruh pakaiannya tertutup debu, di
kegelapan malam, ia terlihat seperti terbungkus tanah.
Begitu ia melihat
Chu Biejie, Fanlu tidak merasa perlu menjelaskan kemana ia pergi. Ia hanya
bertanya, “Apa Tuan sudah menemui Qing Tian?”
Chu Beijie berencana
memarahinya tapi setelah mempertimbangkannya, ia memutuskan sekarang bukan
waktunya. Ia menjawab dengan ringan, “Ketika aku tiba, ia sedang membaca surat
perintah dari He Xia, ia dimarahi karena tidak mematuhi perintah militer untuk
membawa pasukannya segera menuju Dong Lin.”
Ketika Moran melihat
Fanlu datang, kekhwatirannya akan Zuiju segera menghilang. Ia tersenyum kecil
dan berkata, “Jujur saja, kenyataan kalau Qing Tian tidak segera memanggil
pengawalnya untuk menangkap Tuan sudah merupakan pertanda kalau kesetiaan Qing
Tian telah terguncang.”
“Qing Tian sungguh
malang, hubungannya dengan He Xia akan semakin buruk. Pertama, ia dicurigai
membunuh Cui Linjiang. Kedua, ia dicurigai berbohong tentang prajurit yang
keracunan untuk tidak mematuhi perintah militer, dan sekarang aku membantunya
mendapatkan alasan penting yang ketiga.”
Chu Beijie mengerti
ada maksud mendalam di balik kata-katanya. “Alasan apa yang bisa menjadi begitu
penting?”
Fanlu terkekeh,
“Bukankah akan menjadi petaka kalau ia sampai kehilangan tahanan penting. He
Xia memerintahkan untuk merahasiakan tahanan ini. Dua alasan pertama hanya
kecurigaan He Xia, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa pada Jendral Qing Tian di
permukaan untuk tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak lain. Tapi kehilangan
tahanan penting, adalah alasan yang pasti akan digunakan He Xia untuk
menyingkirkannya. Qing Tian kemungkinan besar, akan segera mempertaruhkan
keberuntungannya pada kita.”
Moran bertanya,
“Siapa tahanan penting ini? dan mengapa ia begitu penting?”
“Apa Panglima Bei
Mo, Ze Yin tidak begitu penting?”
Mereka semua sangat
terkejut.
“Dimana dia?”
Fanlu menoleh ke
belakang dengan malas dan menguap. Ia menunjuk ke sisi bukit di belakangnya,
“Aku menyembunyikannya di sana dan berniat mendiskusikannya terlebih dahulu
dengan Tuan. Kalian berdua, pernah menjadi musuh di medan perang, tapi tolong
jangan bertengkar begitu kalian bertemu muka. Aku memberinya nyawaku.”
Chu Beijie merasa
sangat senang, ia berteriak pelan dan sejumlah orang-orang di sekitarnya mulai
bergerak menuju arah yang ditunjuk Fanlu.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar