Minggu, 29 Oktober 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 3.71

-- Volume 3 chapter 71 --



Di kota Gui Li, semua orang tak membuat suara, bahkan suara langkah kakipun harus di redam.

Tuan Besar Jin Anwang yang bisa memutuskan hukuman mati seseorang hanya dengan satu kata, hari ini sedang sangat marah.

Fei Zhaoxing segera bergegas melangkah masuk. Melihat He Xia dengan wajah yang tidak ramah, ia menunjukan sikap tunduk seorang bawahan. Ia dengan hati-hati berdiri disampingnya dan menunggu He Xia bertanya.

“Kau sudah tiba.” He Xia melihat ke arahnya, tidak bertanya tentang apa yang sudah ia kerjakan baru-baru ini. Ia menunjuk ke mejanya yang penuh dengan dokumen-dokumen. “Lihat ini, meskipun aku sudah dengan jelas berkali-kali mengatakan kalau peristiwa-peristiwa janggal itu buatan seseorang dan hanya perlu mengirimkan petugas untuk menangkap dan menghukum mereka, orang-orang bodoh ini masih saja merasa  benar-benar perlu melaporkannya padaku, dan memintaku untuk tidak terburu-buru mengesahkan negara baru, dan ada kata-kata kemurkaan langit. Apa maksudnya murka, mereka hanya ingin berkata langit tidak ingin aku menjadi kaisar.”

Fei Zhaxing tahu kemarahan He Xia tidak ringan. Ia segera menyetujuinya, “Tuan benar, orang-orang bodoh ini, tdak mengerti betapa pentingnya sebuah negara baru, jadi jangan terlalu marah pada mereka. Dan rencana Tuan untuk mendirikan negara baru, menurutku itu sangat tepat.”

“Aku juga berpikir begitu, tapi tidak berhasil” kemaran He Xia berkurang sedikit. Ia menghela napas, “Sama sekali tidak ada tanda-tanda pergerakan dari sisi Chu Biejie. Aku curiga para Jendral itu merasa sudah cukup berperang atau mereka takut pada Chu Beijie sehingga tidak sepenuh hati mencari mereka. Aku benar-benar ingin segera mengirim pasukan begitu lokasi mereka ditemukan…”

Ia menyadari kalau ia benar-benar kehilangan ketenangannya, ia berhenti sejenak, menarik napas. Ia menghabiskan secangkir teh dengan sekali teguk dan melanjutkan dengan lebih tenang, “Banyak hal terjadi belakangan ini. Perekrutan tidak berjalan bagus, awalnya aku tidak ingin Yun Chang menyediakan pangan untuk militer, tapi  Dong Lin dan Bei Mo telah hancur karena perang, banyak tanah-tanah pertanian terabaikan, sehingga akan sulit memenuhi kebutuhan dari tempat itu.

Karena masalah makanan, sebagian besar pasukan yang telah dibentuk kembali tinggal di Gui Li. Karena setiap bagan dari istana Yun Chang mengingatkannya pada Yaotian, dan ia sering merasakan sakit di hatinya hingga tidak tertahankan tanpa sadar, ia tidak ingin segera kembali kesana.

Dari Tujuh resimen Yun Chang, resimen Yongxiao dibawah komando Gui Yan yang pertama di hancurkan di awal peperangan. He Xia telah menggunakan tawanan perang dari beberapa negara untuk membentuk resimen Yongxiao yang baru. Fei Zhanxio melakukan perhitungannya sendiri, saat ini, dua resimen di tempatkan di Gui Li, satu resimen berkemah di antara Dong Lin dan Bei Mo dan sisanya berada di wilayah Yun Chang.

Empat negara telah ditaklukan, dan pemimpin utama berada jauh dari Yun Chang untuk sementara, situasi ini sebenarnya agak berbahaya.

Kalau dulu, Fei Zhaoxing pasti sudah memperingatkan He Xia dengan lantang, tapi sejak ia merasa curiga, ia lebih berhati-hati dan selalu memikirkan rencana cadangan untuk segala hal. Ia berdiri sambil menyarankan sesuatu, “Chu Beijie ini seperti momok (sesuatu yang menakutkan karena berbahaya). Meskipun ia saat ini sedang bersembunyi, ia tidak bisa diabaikan. Seharusnya ia bersembunyi di Dong Lin, kalau satu resimen masih belum bisa menemukannya, maka mengirim lebih banyak pasukan seharusnya cukup untuk bisa menemukan jejaknya. Mengapa Tuan tidak megirim aku, atau Jendral Cui dari resimen Ganfeng untuk pergi ke Dong Lin, dan membantu pencarian?”

He Xia tetap diam, wajahnya tidak senang ketika berguman, “Kau mungkin tidak tahu berita yang baru saja tiba pagi ini. Cui Linjian telah dibunuh”

“Ah?”

Cui Linjian adalah Jendral muda yang dinaikkan pangkatnya oleh He Xia sendiri. Ia baru berumur dua puluh dua, tapi sangat pintar dan bekerja dengan baik. Ia sangat setia pada He Xia karena telah di promosika. Kematiannya merupakan serangan langsung kepada He Xia, bagi yang berniat memasuki jenjang militer dengan cepat dan menguasai seluruh kendali militer.

“Ia dibunuh di tengah malam di dalam tendanya sendiri. Kepalanya di gantung di tiang depan perkemahan.”

Fei Zhaoxing bertanya, “Apakah mungkin Chu Beijie? Kita harus segera mengangkat seorang Jendral penganti. Resimen Ganfeng kehilanga komandan utama mereka.”

“Siapa orangnya, menurutmu yang paling tepat?”

Tenu saja Fei Zhaoxing tidak mungkin menyebut dirinya sendiri. Ia memilih seseorang yang jelas, “Sulit menemukan orang yang tepat disaat genting. Jendral Qing Tian dari resimen Shuitai, saat ini yang berada paling dekat dengan resimen Ganfeng. Mengapa tidak mengabungkan dua resimen itu dan sementara berada di bawah komando Jendral Qing Tian?”

He Xia menggelengkan kepalanya, alis matanya berkerut, “Meskipun Chu Beijie memiliki kemampuan itu, mungkin saja bukan dia. Hanya seseorang yang sudah tahu benar struktur militer Yun Chang yang akan memilih Cui Linjian sebagai sasaran. Aku khawatir masalahnya tidak sesederhana itu.”

Fei Zhaoxing juga pintar, dan ia segera mengerti maksud He Xia. Cui Linjian bukan penduduk Yun Chang dan ia terhitung baru di militer. Banyak Jendral Yun Chang lain yang keberatan tentang penugasan Cui Linjian, terutama Qing Tian, ia yang paling menunjukan sikap menentang.

Tapi siapa di dalam militer yang berani membunuh seorang komandan resimen di saat perebutan kekuasaan seperti ini?

Fei Zhaoxing secara diam-diam menyesali karena mengungkapkannya terlalu cepat, seperti membantu Qing Tian mendapatkan resimen lain. Setelah ia menyesalinya ia berusaha memperbaikinya, “Apakah sebaiknya kita mengirim pasukan lain untuk masalah Chu Beijie? Saat ini aku sedang mengerjakan tugas yang diberikan sebelumnya, aku khawatir tidak bisa pergi. Bagaimana kalau mengirim Jendral Qing Tian beserta resimen Shuitai sebagai bala bantuan?”

He Xia akhirnya mengangguk, “Kalau begitu kirim dia.” Ia mengambil kuas dan menuliskan perintah di atas sebuah perkamen. Ia menambahkan segel miliknya dan menyerahkannya pada seorang petugas, lalu ia bertanya lagi pada Fei Zhaoxing, “Bagaimana kemajuan proses pembuatan mahkota?”

Fei Zhaoxing melapor, “Para pembuat perhiasan sudah ditemukan. Dua dari mereka berasal dari Gui Li dan satu lagi yang sangat layak berasal dari Dong Lin. Mereka semua sudah sangat terkenal ketrampilannya dan mereka bersembunyi begitu perang bergolak. Menemukan mereka tetap membutuhkan waktu, semua batu permata berharga dan logam mulia masih dikumpulkan, sudah hampir cukup. Ada satu batu sapphire yang paling bagus, rencananya akan diletakan di posisi paling tengah. Satu yang bisa digunakan sudah ditemukan. Bahan-bahannya sudah cukup untuk satu mahkota Kaisar, tapi untuk Ratu…”

“Gunakan untuk mahkota Ratu terlebih dahulu.”

“Tuan ?” Fei Zhaoxing agak ragu ketika bertanya.

“Gunakan batu itu untuk mahkota Ratu terlebih dahulu. Kau bisa perlahan menyiapkan untuk mahkota Kaisar, jangan khawatir. Ingatlah, hasilnya harus luar biasa indah dan hanya menggunakan bahan-bahan yang paling bagus, terutama mahkota Ratu.”

Fei Zhaoxing menatap wajah He Xia dengan ekspresi bingung. Wajah tampan He Xia terlihat seperti sedikit sedih dan tertutup kabut. Ia berdiri disampingnya tapi terlihat sangat jauh. Ia hanya bisa menjawab “Baik” dan pergi keluar.

Begitu ia kembali ke tempatnya, bawahannya Jendral An, segera menghampirinya dan mengajaknya keluar untuk minum-minum.

Jendral An adalah prajurit senior yang sudah cukup lama bergabung dalam militer dan berasal dari pasukan Yun Chang. Fei Zhaoxing sudah lebih berpengalaman dibanding Dongzhuo. Meskipun ia telah mengambil alih resimen Weibei setelah Gui Changning meninggal, ia tetap membutuhkan tenaga dan waktu untuk memenangkan hati para Jendralnya. Melihat Jendral An, Fei Zhaoxing tersenyum, “Minum lagi? Jendral sudah mendapatkan banyak sekali penghargaan dan mendapat hadiah yang juga banyak sekali. Mengapa tidak membeli sebidang tanah yang luas dan mendirikan sebuah kediaman, lalu menikahi beberapa wanita cantik untuk menikmati hidup? Bukankah itu lebih menarik dari pada minum arak?”

Jendral An mengibaskan tangannya, “Aku hanya suka minum arak. Aku tidak tahu kapan akan selesai, menjadi orang yang membunuh di medan peperangan. Satu wanita sudah cukup. Kalau aku menikahi beberapa, akan ada beberapa janda nantinya.” Ia menghela napas, “Wanita tidak cukup baik. Lihatlah Chu Bejie, ia mengacaukan yang lain karena menghilang demi seorang wanita. Kudengar ia telah kembali baru-baru ini. Hehh kurasa itu hanya sebuah kebohongan. Dan Suami Ratu kita….” Ia teringat He Xia telah melarang keras siapapun menyebutnya sebagai Suami Ratu. Ia segera terdiam.

Fei Zhaoxing merasa jantungnya melompat kencang, ia tersenyum dan bertanya, “Ada apa dengan Suami Ratu?”

Jendral An menggaruk kepalanya, “Tuan Jin Anwang jatuh cinta sangat dalam, sayang sekali Tuan Putri bernasib malang, meninggal ketika hendak melahirkan. Kalau saja Tuan Putri masih hidup, ia akan menikmati kemegahan tiada akhir ini.”

Fei Zhaoxing merasa percakapan ini sudah diluar tempatnya. Ekspresi wajahnya berubah cepat dan ia mempertimbangkan sebelum berkata, “Aku bingung dengan ukuran mahkota Ratu yang harus kuselesaikan secepatnya, mungkin Tuan Jin Anwang bermaksud menemukan Ratu baru ketika ia menaiki taktah.”

Jendral An seseorang yang agak angkuh, ia tidak menyadari ekspresi Fei Zhaoxing. Tangannya mengibas beberapa kali, “Dimana kau bisa menemukan Ratu seperti itu? Apa Jendral ada melihat wanita disekitar Tuan Jin Anwang? Bahkan kalau ia menikah lagi, kurasa wanita itu hanya akan menjadi selir. Itu sebabnya kubilang Tuan Jin Anwang terlalu baik pada Tuan Putri kita, kudengar ia memerintahkan untuk membangun ulang kuburan Tuan Putri, membuatnya menjadi lebih megah. Ckckck, orang kecil si pemarah itu, berkata kalau Suami Ratu membunuh Tuan Putri, tapi kurasa itu mustahil jika melihat perasaan antara suami dan istri.”

Begitu Fei Zhaoxing mendengarnya, ia segera mengerti, segala kekacauan di pikirannya telah terangkat sepenuhnya menjadi sejernih langit. Ia tiba-tiba mengerti segalanya.

Ia menjadi kaku, berdiri diam di tempatnya.

Jendral An tiba-tiba menyadari ada sesuatu yang salah, “Jendral, ada masalah?”

Fei Zhaoxing menjawab dengan agak pusing, “Aku tiba-tiba teringat suatu hal penting, aku harus segera melakukannya. Kutemani kau minum arak di lain hari.”

Ia segera berlari masuk ke ruangannya dan menutup pintu, dan ruangan yang mewah itu menjadi agak gelap karena tertutup dari sinar matahari di luar.

Sebuah sengatan dingin menjalan dari ujung kakinya.

He Xia berniat membunuhnya.

Untuk Yaotian, He Xia berniat membalas dendam untuk Yaotian.

Tak heran, dari begitu banyak orang ia dipilih untuk membuat mahkota Ratu dan memerintahkan untuk memperbaiki kuburan Yaotian. Seperti ia baru saja menengok ke belakang dan menyadari sebuah jala telah di lempar untuk menangkap ikan besar, dirinya sendiri.

Mengingat bagaimana ia berpikir hanya kekayaanlah yang terbentang di depan, ia menyadari itu semua hanya gelembung sabun. He Xia telah menjadi orang yang paling berkuasa di dunia, mengambil nyawanya, seorang Fei Zhaoxing, sama sekali bukan masalah.

Meskipun ia berkali-kali menyarankan He Xia untuk membunuh Yaotian semua itu ia lakukan demi kepentingan kekuasaan He Xia.

Rupanya setelah membunuh Yaotian, ia sangat menyesalinya, dan berniat menggunakan Fei Zhaoxing sebagai kambing hitam untuk melepaskan kemarahannya.

Keringat Fei Zhaoxing bercucuran. Ia sangat marah dan putus asa. Tinjunya terkepal kuat sampai kukunya menancap begitu dalam hingga telapak tangannya mengalirkan darah segar.

--
Pembuatan obat bius berjalan lancar.

Kondisi Fanlu sangat luarbiasa. Zuiju sebenarnya tidak menggunakannya terlalu banyak sehingga ia bisa pulih dalam dua sampai tiga hari. Lalu Zuiju memberinya tugas, “Temukan cara untuk meletakan obat ini ke dalam persediaan makanan.” Zuiju memegang sebuah buntalan tas berukuran besar di tangannya.

“Bagaimana meletakannya bersama persediaan yang lain? Semua bahan pangan itu menggunakan karung goni, kecuali kau ingin aku membuka karung itu satu per satu dan meletakan obat itu kedalamya, kau pikir petugas yang menjaga bahan pangan semuanya bodoh?”

“Kau yang bodoh, tidak ada seorangpun yang memintamu membuka karung.” Zuiju mengambil sedikit untuk memperagakan. “Larutkan sedikit tepung obat ini bersama air dan siramkan ke atas karung. Bukankah dengan begitu obatnya akan tersebar?”

Gagasan yang sangat bagus, semangkuk kecil obat tidak akan ditemukan jika disiramkan. Meskipun hal itu akan memperkecil efeknya, tapi beras itu akan dimasak langsung sebanyak beberapa karung dalam panci besar. Siapa yang akan melewatkan kesempatan ini?

Ekspresi Zuiju tidak berubah, “Bukan hanya kau yang bisa melakukan pekerjaan ini. Tugas mudah seperti ini, Tuan Besar bisa memilih siapa saja untuk menyamar sebagai petugas dan ikut bersamamu untuk melakukan pemeriksaan. Karena kulihat kau sedang santai, maka aku membantumu menemukan sesuatu yang bisa kau lakukan.”

Fanlu mengerutu beberapa kali, tapi ia mengambil bungkusan itu juga pada akhirnya.

Setelah beberapa hari berlalu, ada sebuah kabar tersiar secara samar.

Awalnya, diduga sebuah wabah menyebar di perkemahan pasukan. Tabib yang bertugas di perkemahan tidak mengerti apa yang terjadi, maka beberapa tabib didatangkan dari luar kota untuk memeriksa.

Tak lama kemudian, sebuah gejala berhasil ditemukan. Para tabib bersepakat yang sedang terjadi bukanlah wabah. Para prajurit seperti mengalami gangguan kesehatan karena iklim setempat.

“Mereka memang tidak bodoh. Awalnya mereka mengira karena makanan, dan mereka memeriksa secara keseluruhan, lagi dan lagi, tapi tidak berhasil menemukan apapun. Aku juga cukup bekerjasama, aku segera mengirim beberapa bahan makanan yang juga sudah ditaburi obat, dari persediaan kota. Aku bahkan mengatakan kalau racun ini kemungkinan tidak bisa diketahui melalui pengujian dengan jarum perak, maka harus menggunakan beberapa tumbuhan dan air juga, kalau airnya berubah hitam maka beracun. Kurasa itu cukup membuat mereka sibuk lebih lama.”

Kata-kata Fanlu membuat para pendengarnya yang berada di dalam ruangan tertawa lebar.

Hanya Zuiju yang melotot kepadanya. “Mengapa harus menambah kebohongan? Mereka bisa mencurigaimu karena perkataanmu, dan itu bisa membawa masalah.”

Pingting duduk di sebelah Zuiju dan mengenggam tangannya. Ia menatapnya dan menjelaskan. “Racun seperti itu memang ada, jadi Fanlu tidak berbohong.”

Chu Beijie juga berkata, “Kita berniat untuk membuat Jendral ini bingung sedikit lebih lama. Biarkan Fanlu meyenangkannya, sebuah jalinan persahabatan cukup bagus.”

Dan Zuiju menyadari kalau ia telah salah menuduh Fanlu. Awalnya ia berniat meminta maaf, tapi ketika ia menoleh Fanlu memberikan tatapan bangga pada dirinya sendiri dan memberikan sebuah kedipan pada Zuiju. Permintaan maafnya tertelan di tenggorokannya dan turun ke perutnya.

Moran bertanya, “Dan kabar lainnya?”

“Banyak sekali, mungkin langit sedang membantu kita.”  Fanlu adalah sumber informasi utama untuk berita yang beredar di dalam pemeritahan Yun Chang, maka semua orang duduk mengelilinginya. Ketika membicarakan militer, Fanlu lebih bersemangat. Ia bercerita dengan penekanan, “Pertama-tama kita harus berterima kasih pada Tuan Besar Zhen Beiwang. Karena telah membunuh Cui Linjian dengan pisau, bukan dengan pedangnya sendiri.”

Chu Beijie menjawab, “Cui Linjiang adalah pilihan utama darimu. Tanpamu, situasi saat ini sulit dilakukan.”

Mendengarnya, Fanlu mengetahui kalau Chu Beijie sangat penasaran dengan situasi terbaru. Ia hendak mendapatkan persetujuan dari Chu Beijie sehingga dirinya yang berstatus ‘Gubernur Yun Chang’ bisa dengan mulus menjadi bagian dalam kelompok Chu Beijie. Dan ia memberikan tatapan terima kasih pada Chu Beijie sambil melanjutkan perkataannya. “Kematian Cui Linjian, membuat He Xia mencurigai Qing Tian. He Xia telah menempatkan pendatang baru pada jabatan yang sebelumnya dipegang seorang senior tua, hal ini mendatangkan banyak penolakan dari para senior Yun Chang yang lain. Cui Linjian adalah Jendral muda yang mendapatkan kenaikan paling tinggi diantara yang lainnya. Dan, ia bukan penduduk Yun Chang.”

Moran mendengarkan dengan seksama, ia bertanya, “Kau memiliki mata-mata di Gui Li? Kau sangat yakin kalau He Xia mencurigai Qing Tian.”

Fanlu terkekeh, “Bagaimana aku bisa menempatkan mata-mata di samping He Xia? Tapi hal ini tak sulit diketahui, Resimen Ganfeng saat ini tidak memiliki pemegang tongkat komando karena kematian Cui Linjiang, dan He Xia tidak memerintahkan Qing Tian untuk mengambil alih padahal posisinya yang paling dekat. Sebaliknya ia malah membuat Qing Tian menuju Dong Lin untuk memburu Panglima Zhen Bei Wang.” Ia berhenti, dan memberi pandangan sekilas pada Chu Beijie.

Zuiju tertawa. “Si Qing Tian itu sungguh tidak beruntung. Para prajurit diperkemahan saat ini sama sekali tidak memiliki tenaga untuk mengerakkan tubuh mereka, dan mereka masih belum berhasil menemukan penyebabnya, mustahil mereka bisa berangkat menuju Dong Lin. He Xia akan semakin kesal padanya, karena mereka terlambat bergerak.” Zuiju melihat yang lain menatapnya dengan diam, ia jadi merona, “Apa aku mengatakan sesuatu yang salah lagi?”

Fanlu berkata, “Itu karena apa yang kau katakan sangat benar.  Kami semua sangat terkejut.” Mata Zuiju membesar dan sebelum ia sempat berkata lagi, Fanlu berbalik pada Pingting dan membungkuk padanya, “Sesuai perkiraan Nona Bai, saya sangat kagum, sangat kagum pada anda.”

Pingting menjawab, “Tuan Gubernur terlalu menyanjung, rencana ini, yang kuat berpura-pura lemah, sangat tergantung pada lokasi. Semua ini berkat pemikiran Tuan Besar Zhen Beiwang, bukan kemampuan Pingting sendiri.”

Fanlu menggelengkan kepalanya, “Nona tidak boleh berpikir seperti itu. Tanpa Nona, siapa lagi yang bisa membuat obat luar biasa seperti itu?”

Zuiju berpikir sesaat, dan akhirnya ia mengerti. Mengapa Chu Beijie merencanakan untuk mencampurkan obat di perkemahan Qing Tian adalah untuk memperkuat ketegangan antara Qing Tian dan He Xia. Pembunuhan, prajurit yang keracunan, dan membuat Fanlu berhubungan baik dengan Qing Tian, semua itu saling berhubungan. Zuiju berguman sendiri, “Begitu membicarakan perang, kalian para pria sangat bersemangat, berputar di lingkaran besar dan melakukan sesuatu.” Tiba-tiba ia ingat keberadaan Pingting yang tepat di sebelahnya, dan Pingting bukan seorang pria. Ia menahan lidahnya dan menoleh untuk melihat Pingting.

Dan akhir-akhir ini, Huo Yunan ikut serta mendengarkan pembicaraan mereka dengan penuh ketertarikan, ia merasa sendirian walaupun ikut duduk disana bersama mereka. Lalu ia berkata dengan agak kencang, “Dari yang kulihat atas situasi saat ini, niat Tuan Besar untuk mengguncang Yun Chang sudah tercapai. Lalu apa kau berencana turun tangan sendiri untuk menarik keluar Qing Tian?”

Pingting mengelengkan kepalanya sambil berpikir, “Situasinya masih belum pas. Para Jendral itu tidak akan memberontak dengan mudahnya.”

“Aku juga berpikir situasinya masih belum cukup. Qing Tian tidak akan menghianati He Xia secepat ini.” Chu Beijie tersenyum hangat sebelum mengubah pembicaraan, “Tapi saat ini adalah waktu yang sangat penting, aku tetap berencana menemui Qing Tian.”

“Tuan?”

"Situasi saat ini memang belum matang, tapi tidak mustahil untuk membuatnya matang sedikit lebih cepat.”

Fanlu mulai bersemangat, “Pangkatku sangat rendah. Sulit bagiku untuk mendapatkan kesempatan bertemu Jendral Qing Tian. Tapi seorang mata-mata, mereka paling hebat ketika memperhatikan seseorang. Ia tidak tahu aku, tapi aku sering memperhatikannya secara rahasia.”

Tanpa menunggu lama, mereka semua memikirkan segala kemungkinan dan kebutuhan dan segera menyusun rencana.

Chu Beijie dan Moran membawa sepuluh orang terbaik, begitu juga dengan Fanlu, dan mereka segera mempersiapkan keberangkatan, meninggalkan kota.

Ini pertama kalinya Fanlu berangkat bersama mereka. Zuiju merasa sedikit khawatir, ia menarik lengan baju Fanlu dan membawanya kepojokan, lalu berkata dengan pelan, “Apa kau harus pergi?”

“Tentu saja,” ia memperlihatkan kepalan tinjunya, “Kau lihat, tanganku sudah sangat gatal.”

Zuiju berkata, “Entah mengapa, jantungku berdegup kencang. Kau harus sangat berhati-hati dalam perjalanan kali ini.”

Fanlu menjawab dengan agak kasar, “Jantungmu berdebar kencang? Oooh, itu pertanda buruk dalam militer. Kemarilah, biar aku menyentuhnya agar jantungmu tidak berdebar kencang lagi.”

Awalnya Zuiju khawatir sekali tapi ia sama sekali tidak menyangka ucapan yang dilontarkan Fanlu akan seperti itu. Ia begitu marah dan matanya membelak, lalu memukul Fanlu dan berjalan pergi.

Chu Beijie dan kelompok kecilnya bergerak meninggalkan kota. Mereka tergesa-gesa sepanjang perjalanan, tujuan mereka adalah mencapai dataran dekat perkemahan resimen Shuitai sebelum langit menjadi gelap. Begitu tiba, setiap orang menyembunyikan diri mereka di pinggiran perkemahan sambil memperhatikan cahaya kecil yang membelah dataran kosong di depan mereka.

Chu Beijie memberi perintah dengan berbisik, “Aku akan menemui Qing Tian secara langsung, Moran dan Fanlu menyelinap ke dalam, bersiap membantu untuk keadaan terdesak. Kalau terjadi sesuatu di luar dugaan, kita akan berlari ke arah timur untuk keluar. Sisanya bersiap membuat kebakaran, jangan berusaha beradu pedang, cukup menciptakan suasana kacau agar kita bisa melarikan diri.”

Lalu Chu Beijie menjelaskan lagi dengan dengan beberapa kalimat. Semua orang sudah terlatih dan terbiasa melakukan pekerjaan tanpa persiapan, jadi mereka tidak memerlukan penjelasan rinci.

Tatapan tajam Chu Beijie beralih sisi lain, ia memandang pada kekosongan, “Ayo bergerak”. Moran dan Fanlu mengikuti di belakangnya. Mereka semua mengenakan pakaian serba hitam, dan megenakan penutup wajah. Mereka bertiga bergerak seperti bayangan, tanpa suara dan tanpa kesulitan menyelinap ke dalam perkemahan musuh.

Tempat perkemahan resimen Shuitai ini telah ditempati sejak lama sehingga tempat itu bukan tempat singgah sementara, mereka menggunakan tenda-tenda yang kuat dan pagar halaman berlapis. Tenda-tenda itu seperti bangunan-bangunan kecil yang polos. Dan bangunan yang paling terang berada tepat di tengah, tempat Qing Tian berada.

Chu Beijie berjalan sambil bersembuyi melewati pratroli kecil, lurus menuju area tengah, tempat tenda sang komandan resimen. Moran masih bersamanya beberapa saat tadi, sehingga posisi Moran tak jauh dari tenda utama.

Fanlu sudah pernah menyelinap ke resimen Shuitai sebelumnya, sehingga ia lebih terbiasa dengan tempat itu daripada Chu Biejie dan Moran. Ia sangat berani, ketika ia melewati sebuah tempat kecil, ia memeriksa apakah ada seseorang disana sebelum memasukinya, dan ia menemukan seragam lengkap seorang prajurit, ia mengenakannya dan berjalan keluar dengan santai.

Tanda peluit patroli masih sama, tidak berubah sama sekali dengan beberapa tahun lalu ketika ia menyelinap untuk memata-matai. Fanlu berdiri di kegelapan, mendengarkan perbincangan sebua kelompok kesatuan kecil.

“Kedamaian untuk Tuan Putri.”

“Kejayaan bagi Yun Chang.”

Fanlu berpikir, Tuan Putri sudah meninggal. Jendral Qing Tian sungguh memiliki rasa setia yang dalam, ia tidak melupakan majikan terdahulunya. Dan karena ia mengetahui kata sandi yang diperlukan maka ia tidak perlu bersembunyi. Fanlu melangkah keluar dari kegelapan, dan menoleh ke sekelilingnya. Kepada setiap orang yang bertanya apapun padanya, ia menjawabnya dengan kata sandi yang sama. Dan mendengar ia menggunakan logat Yun Chang, maka sikapnya sangat alami sebagai bagian dari mereka, sehingga tak ada seorangpun yang mencurigainya.

Chu Beijie seharusnya sudah berhasil menyelinap ke tenda Qing Tian. Fanlu terus menuju ke arah tengah, berencana membuat Chu Beijie melihat betapa kompetennya dirinya. Ia masih setengah perjalanan ketika tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia berbalik menatap sebuah bangunan di sebelah kirinya. Ia ingat dengan sangat jelas, tidak ada bagunan apapun sebelumnya disana, dan para penjaga yang berada di depannya, jumlahnya terlalu banyak dibanding tempat lainnya. Sebuah bendera terpasang di pintu, begitu angin berhembus, sebuah tulisan ‘Xia’ terlihat menari bersama angin.

Sebagai seorang mata-mata, instingnya jauh lebih tajam dari para pencuri. Ia segera tahu ada sesuatu yang janggal tersembunyi di dalamnya.

Ia bersembunyi sambil mengamati tempat itu. Dan akhirnya ia tersenyum, “Beruntung sekali, aku melewati tempat ini.” ia berbalik dan berjalan, beruntung malam itu begitu gelap, ia melangkah mencari suara air. Ia berguman, “Aku ingat kalau disini ada sebuah sungai.” Ia bukan tipe yang berdiam diri, terlahir sebagai seorang mata-mata, ia selalu berkeliling ke sudut-sudut dan sela-sela sebuah tempat di sekitarnya. Termasuk perkemahan resimen shuitai ini.

Fanlu,tentu saja pernah menyelam di sungai ini, dan ia tahu pasti kalau sungai ini akan melewati arus bawah bangunan itu.

Ia menyelam ke dalam sungai tanpa menimbulkan suara percikan. Begitu berada di dalam air, ia bernapas dengan lambat dan terus berenang. Setelah beberap saat, ia menyadari seperti ada sebuah ruang di atasnya. Ia mengarahkan kepalanya keluar dari dari air, sebuah dinding batu. Hanya sebuah celah tipis antara air dan dinding batu itu, tapi cukup untuk mengisi paru-parunya dengan udara. Dan ia beristirahat untuk bernapas sejenak.

Fanlu mengambil napas panjang sekali lagi dan mulai berenang kembali. Kali ini ia berenang lebih jauh dari sebelumnya. Airnya sangat gelap, ia hanya bisa meraba-raba jalannya. Jari-jarinya mulai terasa panas ketika ia tiba-tiba menyentuh sesuatu. Ia meraba bagian lainnya dan segera menyadari kalau ia sedang menyentuh besi panas, ia hampir berteriak.

Tidak ada benda seperti ini sebelumnya. Fanlu teringat kata-kata Zuiju sebelum ia pergi dan hatinya mendesah. Apa ia akan meninggal seperti ini?

Ia sangat menyesal karena dirinya begitu sombong sehingga kematiannya akan begitu tidak adil seperti ini.

Dadanya seperti terbakar api. Tapi Fanlu tidak berani membuka mulutnya. Ia tahu benar, membuka mulutnya disaat seperi itu hanya akan membawanya pada kematia. Ia menggenggam kuat besi panas itu dan sekuat tenaga menguncangnya.

Rasa sakit karena kekurangan udara mulai membakarnya. Pikirannya mulai kacau, ia hanya terus menggunakan tenaganya untuk berjuang melepas besi panas itu.

Tiba-tiba besi panas di tangannya bergeser sedikit. Meskipun hanya sedikit, semangat Fanlu mulai kembali, ia mengguncangnya dengan lebih kuat dan kali ini ia juga menggunakan kakinya, menendang sekuatnya.

Udara di paru-parunya hampir habis, tenaganya perlahan berkurang. Samar-samar ia seperti mendengar suara Zuiju, Fanlu gemetar tapi ia berhasil mengumpulkan tenaganya untuk terus mengguncang besi itu.

Ketika ia hampir menyerah, besi itu bergerak lagi, dan kali ini lebih banyak dari sebelumnya, sepertinya pangkalnya mulai lepas, sebuah celah, Fanlu mendorong kepalanya dan berhasil melewati besi itu.

Langit benar-benar sedang membantunya.

Setelah hampir mati, ia berjuang mendorong tubuhnya sekuatnya. Ia tidak peduli dengan goresan yang terasa di seluruh tubuhnya dan berusaha keras mencapai permukaan air. Ia sama sekali tidak menduga akan berhadapan dengan dinding batu lagi. Sama sekali tidak ada ruang untuk bernapas.

Hati Fanlu serasa jungkir balik, ia meraba-raba lagi disekitar dinding batu, ia berjuang untuk berenang ke atas. Setelah beberapa saat, setelah seluruh tenaganya serasa kosong, ia merasakan telapak tangannya dingin. Fanlu merasa senang sekali, ia menggerakan kakinya mendorong ke atas, dan akhirnya wajahnya muncul di permukaan. Udara yang segar menyambutnya.

Fanlu bernapas dengan terengah-engah, menyebarkan tetesan air dimana-mana ketika ia berjalan keluar dari air. Ia selalu membawa pematik api yang telah di bungkus kertas minyak bersamanya. Ia menyalakan api dan mulai memeriksa sekelilingnya, lalu berguman, “Si Tian berengsek itu, ia membuat penjara air dan membuatku hampir mati.”

Sepertinya Fanlu bukan satu-satunya yang menemukan jalur air ini. Tempat ini sepertinya sudah pernah di perbaiki. Tak heran ada besi panas terpasang, untuk menghindari penyusup seperti dirinya.

Fanlu ingat dirinya berada di wilayah musuh dan ia memadamkan apinya kembali. Ia berhati-hati berjalan ke arah cahaya lampu pijar yang berkelip. Pijar apinya begitu kecil, hanya seukuran biji kacang kedelai, tapi cukup untuk menerangi seluruh ruangan dengan samar.

Dua penjaga tertidur di meja sambil mendengkur. Beberapa kendi arak tergeletak di kaki mereka. Dengan begitu banyak penjaga di luar, kemungkinan penjaga yang berada di dalam hanya sepuluh banding satu. Siapa yang akan menyangka seekor iblis akan keluar dari air?

Fanlu menghampiri dua penjaga itu. Ia memukul belakang kepala mereka untuk memastikan mereka benar-benar pingsan.

“Baiklah, bagaimana kalau aku mencari tahu, siapa yang perlu dikurung seperti ini?”

Ia menatap ke dalam ruangan penjara dan melihat seorang pria tinggi besar yang sedang duduk. Matanya bersinar di kegelapan dan tatapannya sangat tajam.

Fanlu bertanya dari balik jeruji, “Hei, siapa kau?”

Pria itu diikat di bahu dan kakinya, ia tentu saja bisa mengetahui kedatangan Fanlu yang mengenakan pakaian prajurit Yun Chang dan memukul dua penjaga di depan tapi ia sama sekali tidak menunjukan rasa terkejut, ia hanya melihat ke arah Fanlu sesaat, “Dan kau siapa?”

Ia telah di kurung lama sekali, rambut dan janggutnya berantakan, dan wajahnya sangat gelap sehingga bahkan Fanlu tidak bisa mengenalinya. Tapi ketika ia berbicara, kata-katanya begitu berwibawa, menandakan seserorang yang berpangkat tinggi dalam militer. Fanlu terkejut sesaat dan memperhatikan dengan lebih seksama sosok di depannya, dan ia merasakan sesuatu yang akrab. Dan akhirnya wajah Fanlu mengeluarkan ekspresi sangat terkejut, “Kau Panglima Bei Mo, Ze Yin!”

Seluruh penduduk Bei Mo mengira Ze Yin dibunuh oleh He Xia ketika ia menantangnya, siapa yang akan mengira ternyata diam-diam Ze Yin dipenjarakan di perkemahan resimen Shuitai.

“Aku pernah melihatmu, kau Panglima Bei Mo, Jendral Ze Yin.”

Ze Yin tidak bersuara, ia tahu Fanlu adalah salah satu prajurit Yun Chang sejak ia melihatnya, dan hatinya mengatakan untuk waspada dari kemungkinan, ini salah satu rencana He Xia. Ia tidak boleh berucap, tidak boleh bersuara.

“Mengapa kau dikurung disini? Sudah berapa lama kau berada disini?”

Fanlu mengucapkan beberapa pertanyaan, tapi Ze Yin tetap diam. Ia tahu Ze Yin mencurigainya dan berpikir, aku sudah mempertaruhkan nyawaku untuk sampai kesini dan kau sama sekali tidak menghargainya. Fanlu sangat kesal, ekspresinya menjadi dingin, “Apa kau tahu siapa aku?”

Ze Yin mendengar nada suaranya dan merasa lebih yakin kalau ia adalah salah satu prajurit Yun Chang yang sudah cukup lama berada di militer. Orang ini seperti mata-mata yang dikirim He Xia. Ia berguman, “Katakan apa maumu, kalau tidak, pergilah.”

“Aku ayah angkat dari anakmu Ze Qing!” Fanlu telah mendengar dari Zuiju apa saja yang diceritakan Pingting padanya, maka ia tahu tentang Yangfeng dan Ze Qing.

Kata-katanya belum lagi selesai, Ze Yin bangkit dari duduknya ia melangkah mendekat dan berkata dengan suara tenang, “Banyak yang tahu anakku bernama Ze Qing, kau berani membodohiku.”

Fanlu tertawa keras, tidak peduli dengan jawaban Ze Yin. Ia mengambil kunci dari penjaga yang pingsan dan membuka pintu penjara. Ia berguman sendiri, “Malang sekali anak angkatku, aku berusaha menyelamatkan ayah kandungmu, tapi ia tidak ingin bertemu denganmu. Ternyata ia lebih suka duduk diam dan menunggu kematian disini. Begitu aku memikirkan dirimu dan ibumu yang akan diejek karena tidak memiliki ayah atau ayah angkatmu disisimu, sungguh memilukan.”

Ze Yin sanga terkejut mendengarnya.

Karena dipenjara begitu lama, ia sama sekali tidak tahu kabar istri dan anaknya. Hatinya terasa seperti dicakar kuku tajam memikirkan mereka kehilangan perlindungan dan diejek oleh orang-orang.

Fanlu tidak melihat kea rah Ze Yin, ia merentangkan tubuhnya dan berkata, “Aku mau pergi. Orang-orang di luar sedang menungguku. Kau bisa mengikutiku berenang untuk keluar dari sini kalau kau mau, terserah padamu.”ia berbalik dan menuju kearah ia darang tadi.

Ze Yin agak ragu, tapi ia segera menyusulnya. Ia sudah memutuskan untuk tidak mencari Yangfeng setelah keluar dari tempat ini dan tidak akan mengatakan apapun pada orang ini. Bahkan jika ini jebakan musuh, sama sekali tidak akan berguna.

Diluar perkemahan, dua bayangan dengan perlahan bergerak menjauh.

Ketika orang-orang yang bersiaga di luar melihat mereka, mereka segera menghela napas lega.

Chu Beijie dan Moran ikut menyembunyikan diri mereka bersama, dan bertanya, “Fanlu sudah kembali?”

Semua orang mengelengkan kepala mereka. Hati Moran sedikit terasa sakit, ia berkata pelan, “Aku akan ke dalam lagi dan mencarinya.”

“Tidak perlu, ia lebih tahu tempat itu daripada kita, tunggu sebentar lagi.”

Mereka menunggu dengan resah, berpikir untuk mengomeli Fanlu dengan berbagai ide. Bahkan alis Chu Beijie berkerut.

Bagaimana mereka akan menjelaskan pada Zuiju kalau Fanlu sampai tertangkap di dalam? Mereka tidak bisa pergi menyelamatkannya. Kalau mereka sampai menerobos masuk untuk menyelamatkannya  seluruh rencana mereka akan hancur.

Ketika semua orang sedang sangat khawatir, akhirnya Fanlu muncul. Pakaiannya basah dan karena ia bergerak diam-diam sambil bersembunyi, seluruh pakaiannya tertutup debu, di kegelapan malam, ia terlihat seperti terbungkus tanah.

Begitu ia melihat Chu Biejie, Fanlu tidak merasa perlu menjelaskan kemana ia pergi. Ia hanya bertanya, “Apa Tuan sudah menemui Qing Tian?”

Chu Beijie berencana memarahinya tapi setelah mempertimbangkannya, ia memutuskan sekarang bukan waktunya. Ia menjawab dengan ringan, “Ketika aku tiba, ia sedang membaca surat perintah dari He Xia, ia dimarahi karena tidak mematuhi perintah militer untuk membawa pasukannya segera menuju Dong Lin.”

Ketika Moran melihat Fanlu datang, kekhwatirannya akan Zuiju segera menghilang. Ia tersenyum kecil dan berkata, “Jujur saja, kenyataan kalau Qing Tian tidak segera memanggil pengawalnya untuk menangkap Tuan sudah merupakan pertanda kalau kesetiaan Qing Tian telah terguncang.”

“Qing Tian sungguh malang, hubungannya dengan He Xia akan semakin buruk. Pertama, ia dicurigai membunuh Cui Linjiang. Kedua, ia dicurigai berbohong tentang prajurit yang keracunan untuk tidak mematuhi perintah militer, dan sekarang aku membantunya mendapatkan alasan penting yang ketiga.”

Chu Beijie mengerti ada maksud mendalam di balik kata-katanya. “Alasan apa yang bisa menjadi begitu penting?”

Fanlu terkekeh, “Bukankah akan menjadi petaka kalau ia sampai kehilangan tahanan penting. He Xia memerintahkan untuk merahasiakan tahanan ini. Dua alasan pertama hanya kecurigaan He Xia, tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa pada Jendral Qing Tian di permukaan untuk tidak menimbulkan kecurigaan dari pihak lain. Tapi kehilangan tahanan penting, adalah alasan yang pasti akan digunakan He Xia untuk menyingkirkannya. Qing Tian kemungkinan besar, akan segera mempertaruhkan keberuntungannya pada kita.”

Moran bertanya, “Siapa tahanan penting ini? dan mengapa ia begitu penting?”

“Apa Panglima Bei Mo, Ze Yin tidak begitu penting?”

Mereka semua sangat terkejut.

“Dimana dia?”

Fanlu menoleh ke belakang dengan malas dan menguap. Ia menunjuk ke sisi bukit di belakangnya, “Aku menyembunyikannya di sana dan berniat mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Tuan. Kalian berdua, pernah menjadi musuh di medan perang, tapi tolong jangan bertengkar begitu kalian bertemu muka. Aku memberinya nyawaku.”

Chu Beijie merasa sangat senang, ia berteriak pelan dan sejumlah orang-orang di sekitarnya mulai bergerak menuju arah yang ditunjuk Fanlu.

--00--

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar