Jumat, 24 Februari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.53

-- Volume 2 chapter 53 --



Ketika Gui Changqing mendapat berita kematian Pingting, rasanya seperti batu besar yang menyangsang di hatinya telah dikeluarkan. Ia begitu gembira sehingga langsung menaikan jabatan prajurit yang berhasil melaksanakan tugasnya, Fanlu, menjadi gubenur, setelah memberi perintah tegas untuk merahsiakannya.

Ia sama sekali tidak tahu bagaimana situasi akan berkembang, tapi sepertinya awan gelap terkait musibah kehilangan banyak nyawa prajurit Yun Chang telah bubar. Tidak hanya peperangan batal terjadi, tapi juga Chu Beijie sangat terpukul dengan kematian Pingting dan ia menghilang. Dong Lin sepenuhnya kacau dan sama sekali bukan ancaman bagi Yun Chang. Bendera komando di tangan He Xia sudah kembali pada Putri dan tidak ada peperangan yang harus dilakukan lagi.

“Haha,” tawa Gui Changqing, karena ia berbahagia. “Sepertinya masalah Bai Pingting telah selesai dengan baik.”

Ia sangat berharap tidak ada pihak lain yang mengetahui keterkaitan kematian Bai Pingting dengan Yun Chang. Ia tetap merahasiakan hal itu, menunggu sampai Bei Mo membuka mulut dan menyebarkan berita kematian Bai Pingting ke seluruh dunia. Setelah itu barulah ia pergi ke istana memberitahu Putri Yaotian.

“Meninggal?” Yaotian mundul selangkah. Ia berkata pelan, “Bukankah aku sudah memberitahu Pejabat Senior, karena perang sudah selesai maka tidak masalah membiarkan Pingting pergi dengan bebas. Mengapa kau tidak melepaskannya?”

“Putri salah sangka. Bagaimana mungkin aku tidak mematuhi perintahmu? Bai Pingting berniat melewati pos pemeriksaan perbatasan Yun Chang, hendak menuju Bei Mo dengan melewati gunung Songsen. Malangnya, perjalanan itu membawa kematian untuknya. Ia bertemu para serigala di gunung.”

Yaotian aga ragu. Ia diam agak lama, dan akhirnya mengerutu, “Apa Suamiku sudah tahu?”

“Beritanya sudah menyebar. Suami Ratu seharusnya sudah mendengarnya.” Yaotian menghela napas berat. Gui Changqing penasaran, “Kenapa Putri? Kematian Bai Pingting yang tiba-tiba ini, apakah merugikan Putri?”

Senyum Yaotian pahit. “Kalau suamiku tahu Bai Pingting telah meninggal, suasana hatinya pasti tidak baik. Kalau ia kecewa, bagaimana aku juga tidak kecewa.”

Gui Changqing melihat kalau Yaotian sangat ingin membuat He Xia gembira dan ia merasa khawatir. Ia segera menganti topic, “Pikirkan ini, terakhir kali Putri sudah memerintahkan untuk membuat gudang makanan dan harta untuk para prajurit. Aku sedang menunda perintah ini.”

Yaotian menatap Gui Changqing terkejut. “Masalah militer sangat mendesak. Bahkan jika kita bergegas masih tidak cukup cepat. Mengapa Pejabat Senior menundanya?”

“Aku berpikir kalau hal ini tidak benar.”

“Ia seorang Suami Ratu yang terpuji. Apa yang tidak benar dengan membuatnya bertanggung jawab dari sebuah gudang makanan dan harta untuk pasukan.”

“Putri, dengakan kata-kataku.” Gui Changqing berdiri dan mengambil dua langkah mendekat. Suaranya penuh peringatan. “He Xia sudah memiliki kekuatan militer, dan yang bisa mengendalikan ia hanya makanan dan uang. Kalau ia memiliki keduanya apalagi yang Putri miliki untuk mengendalikannya?”

Yaotian mengehela napas lemah, “Aku tahu Pejabat Senior memikirkan aku. Tapi, kami sudah menjadi suami istri. Ia telah bekerja keras siang dan malam untuk Yun Chang, tapi kita masih mencurigainya dan berusaha menahannya. Apa itu tidak masalah? Suamiku dan aku adalah satu sekarang. Jangan lupa, anak dia nantinya akan menjadi penguasa Yun Chang.”

Sejak dulu sampai sekarang, perasaan antara wanita dan pria adalah masalah yang sulit diatur. Banyak orang yang terperangkap dan mereka tak bisa melepaskan diri bagaimanapun berusaha.

Kalau Yaotian wanita biasa, pemikiran seperti ini sangat tepat. Bagaimanapun, Yaotian adalah perwakilan kerajaan Yun Chang.

Gui Changqing tahu ia sulit untuk meyakinkan Yaotian lebih jauh, tapi ia tetap melanjutkan. Ia terbatuk sekali dan berkata, “Putri, apa kau ingat apa yang kau katakan di hari pernikahanmu?”

“Di hari pernikahanku?” ekspresi Yaotian mencoba untuk mengingat-ingat. Ia tertawa kecil, “Bagaimana aku bisa lupa? Hari itu Yaotian merasa gugup dan bertanya pada Pejabat Senior di sebuah ruangan untuk berbicara berdua saja.”

“Putri bertanya bagaiamana caranya mendapatkan hati He Xia dan memintaku memikirkan caranya.” Gui Changqing membungkuk, “Saat itu, aku berjanji pada Putri akan mencurahkan seluruh kemampuanku untuk itu.”

Yaotian memandang serius pada Gui Changqing, ia berkata pelan, “Tapi saat ini, mengapa aku merasa setiap tindakan Pejabat Senior selalu membuat Suamiku semakin dan semakin menjauh dariku?”

“Putri…”

“Pejabat Senior tak perlu mengatakan apapun lagi.” Yaotian menyela kata-katanya. Ia menarik napas dan wajahnya menjadi serius kembali, “Aku sudah menjanjikan suamiku untuk memberikannya gedung harta dan makanan khusus prajurit. Ini demi kepentingan negara, tolong jangan mendebatkan hal ini lagi, dan segeralah disejutui.”

Gui Chagqing merasa ragu, tapi melihat ekspresi Yaotian, ia tahu takkan berhasil mengubah pendapatnya. Ia hanya bisa menundukan kepalanya dan berkata, “Baiklah.” Lalu ia menghela napas.

Gui Changqing telah menjabat selama bertahun-tahun dan ia sangat banyak pertimbangan. Yaotian sejak kecil selalu menghormatinya sebagai pejabat senior. Yaotian tidak pernah menolak pendapatnya dengan kasar didepannya. Gui Changqing merasa agak kecewa. Yaotian diam agak lama tapi akhirnya ia berkata dengan pelan, “Apa masih ada yang ingin Pejabat Senior sampaikan padaku?”

Gui Changqing memang masih ingin menyampaikan sesuatu.

“Ahem,” kata Gui Changqing, “Iya, masih ada hal lain.”

“Hm?”

“Aku ingin bertanya pada Putri, aku hendak memberikan seseorang pada He Xia.”

Yaotian sangat terkejut mendengarnya. Ia menatap Gui Changqing, “Siapa?”

“Anak perempuan angkatku yang baru, Huan Fengyin. Meskipun ia tidak terlalu cantik, ia sangat lembut dan pandai bermain kecapi juga bernyanyi. Ia sangat setia dan berdedikasi pada negara.”

Yaotian memikirkan apa yang baru saja ia dengar. Ketika ia mengerti, hatinya sangat resah. Ia menjawab dengan dingin, “Pejabat Senior ingin aku mengirim seorang selir untuk suamiku sendiri?”

“Yun Chang memiliki sebuah aturan tegas, karena itulah Putri dan suami tidak tinggal bersama. Setidaknya harus ada seorang selir yang tinggal di Kediaman Suami Ratu. Lagipula, He XIia hampir menjadikan Bai Pingting sebagai selir waktu itu. Sekarang setelah Bai Pingting meninggal, mengapa Putri tidak berbaik hati dan memberikannya seseorang?”

Wajah Yaotian menjadi kusut, “Siapa yang mengatakan kalau Suamiku membutuhkan seorang selir? Aku seorang Putri, kalau sebuah aturan bisa dibuat, maka aku juga bisa menghapusnya.”

Gui Changqing tersenyum, “Putri salah, aturan bisa dirubah, tapi apa hati bisa di ubah? Daripada membiarkan He Xia memilih seseorang yang Putri tidak sukai, bukankah lebih baik Putri memilih sendiri seseorang yang bisa membantu Putri menjaga Suamimu. Dengan keberadaan wanita itu disana, He Xia akan sulit membawa masuk selir lain, dan jika hatinya beralih ke wanita lain, setidaknya ada seseorang yang bisa melaporkan hal itu.”

Dada Yaotian menjadi sesak. Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, yang lain bisa dibicarakan tapi tidak yang ini.”

Gui Changqing tahu sekarang bukan saatnya memaksa. Ia mundur selangkah, “Kalau begitu baiklah, aku akan pergi. Tolong Putri pertimbangkan. Belum terlambat untuk berjaga-jaga.” Ia menunduk dan pergi meinggalkan ruangan.

Yaotian menatap tirai yang bergoyang. Ia sendirian di dalam ruangan. Suasana hatinya yang bahagia hancur total karena pendapat Gui Changqing barusan. Ia diam-diam membencinya.

Apanya yang demi dia, ketika ia dengan beraninya mengusulkan ide mengirim seorang wanita lain?

Ia begitu kesal dengan peraturan ini, ketika seorang wanita menikah tentu saja ia harus tinggal bersama suaminya. Mengapa seorang Putri yang malang harus tetap tinggal di istana? Seperti dua bintang yang terpisah oleh sungai perak. Yang satu berada di istana dan yang lainnya di Kediaman Suami Ratu, para penghuninya hanya bisa tinggal di dalam dan saling menyaksikan kekacauan di tempat pasangannya.

Bagaimanapun…

He Xia kuat dan tampan. Kehebatannya bisa menguncang langit. Sebagai seorang pahlawan, ia memiliki banyak pengalaman. Sekarang ia sebagai Suami Ratu, memiliki lebih banyak kekuatan dan kemasyuran. Berapa banyak yang memperhatikannya dari balik dinding dengan pipi merona? Bagaimana ia bisa menghentikannya dari mendua atau bahkan tiga?

Bagaimana kalau He Xia benar-benar jatuh cinta pada seseorang dan memohon pada dirinya untuk bisa mengangkat wanita itu sebagai selir? Masyarakat akan tertarik untuk menyaksikan apakah dia sebagai Putri yang berkuasa bersedia mengijinkannya. Dan kalau ia menolah, setiap orang akan menertawakan kecemburuannya.

Yaotian menatap cermin, tidak senang. Kecemburuan yang terlihat di cermin membuatnya takut. Ia segera menarik sebuah kain dan menutupi cermin.

Luyi di balik tirai berkata, “Putri, bunga-bunga sudah tiba.”

Suasana hati Yaotian sangat kacau dan tidak ingin diganggu siapapun. Ia bersuara dengan nada tinggi, “Bawa pergi, kalau tidak ada hal penting, tidak perlu melapor.”

Luyi mendengar kemarahan dalam suaranya sehingga ia melompat mundur. Ia berkata pelan, “Baik.” Ia menahan lidahnya, ia tidak tahu apa yang telah dikatakan Pejabat Senior sehingga Putri begitu marah.

Ketika ia hendak pergi sambil membawa pot yang penuh di isi bunga, ia mendengar Yaotian berkata lagi, “Luyi, tunggu disana.”

Luyi berhenti dan menjawab, “Baik.” Dan ia menunggu di balik tirai.

Mengapa ia sebagai Putri harus tinggal di istana? Sungguh tidak adil…

Yaotian telah memikirkan pendapat Gui Changqing, dan mempertimbangkan dengan seksama dan akhirnya menyadari kalau hal itu cukup masuk akal.

Si wanita bernama Fengyin itu, ‘tidak begitu cantik’ jadi kalau suaminya seperti menemukan hal baru yang menyegarkan, dalam sepuluh atau setengah bulan, ketertarikannya akan memudar. ‘Sangat lembut dan senang bermain kecapi serta bernyanyi’ hanya itulah yang bisa menghilangkan kebosanan suaminya.

Dan sebagai orang yang ditemukan oleh Pejabat Senior, Yaotian akan sepenuhnya percaya padanya. Ia akan menuangkan teh di sisinya atau kadang akan sedekat bantal untuk bisa dengan mudah memantau setiap tindakan suaminya. Dan berikutnya, kalau suaminya benar-benar akan melirik wanita lain, Fengyin akan menghadapinya dengan berteriak atau membuat keributan, bertingkah sebagai hal yang menyulitkan untuk hubungan mereka.

“Benar, sepertinya tidak terlihat sebagai ide yang aneh.” Yaotian berguman sendiri, dan perlahan bergerak. Tapi ketika ia memikirkan akan ada selir di sisi He Xia, alisnya berkerut dan merasa tubuhnya sedikit tidak nyaman. Ini adalah hal yang membuatnya lemas.

Luyi yang berdiri diluar mendengar suara langkah kaki Yaotian mendekat. Terkadang ia mendengar suara manik-manik tirai bergemerincing tapi kemudian sunyi lagi, dan tidak ada gerakan. Setelah agak lama akhirnya ia mendengar suara dari dalam, “Luyi.”

“Luyi disini Putri.”

“Kirimkan seseorang untuk menyampaikan pesan pada Pejabat Senior.” Suara dari dalam berhenti lagi.

Luyi memasang telingannya baik-baik dan menunggu lama. Ia memandang bingung ke balik tirai.

Yaotian berdiri di tengah ruangan, punggungnya lurus dan ia tidak bergerak seperti patung.

“Putri?” Luyi berkata.

Yaotian akhirnya menghela napas. Wajahnya pucat pasi, “Katakan pada Pejabat Senior kalau aku sudah memikirkannya lagi dan lagi dan Pejabat Senior boleh melakukannya. Perintah dari istana akan segera di buat untuk di kirim ke Kediaman Suami Ratu.”

Kuda He Xia telah menderap sepanjang hari. Belum meminum setetes airpun ketika tiba di Kediaman Suami Ratu, seorang pengirim pesan tiba untuk menyampaikan titah dari istana.

He Xia menerima titah di dalam ruangan dan meminta seseorang untuk mengantarkan si pengirim pesan ke pintu. Dongzhuo berkata setelah tidak ada seorangpun di dalam ruangan, “Mereka masih tidak puas dengan mata-mata diantara pelayan dan sekarang meletakan seseorang lagi di atas bantalmu. Aku bertaruh ini pasti kerjaan Pejabat Senior.”

He Xia menggenggam surat perintah, wajahnyanya kelabu dan tanpa suara.

Tak lama kemudian, seorang pelayan datang melapor, “Tuan, ada sebuah kereta tiba di depan. Sepertinya Nona Fengyin.”

Mata He Xia berkilat marah. Ia menjawab dengan ketus, “Mengerti, aku akan kesana sekarang.” Ia bergegas keluar. Begitu ia tiba di pintu, wajahnya yang kelabu berubah menjadi senyuman manis.

“Nona Fengyin pasti lelah.” He Xia sendiri yang maju ke depan, membantu wanita yang di dalam kereta untuk turun.

Fengyin begitu menginjak tanah segera membungkuk pada He Xia. “Suami Ratu.”suaranya merdu, ia menengadah dan menatap He Xia, mereka berdua merasa malu.

Mereka berdua masuk ke dalam bersama-sama. He Xia membawanya ke halaman sambil berkata, “Titah dari istana baru tiba, jadi ruangan Nona belum di siapkan. Bagaimana kalau Nona minum teh di dalam sambil menunggu. Begitu makan malam selesai, para pelayan juga pasti sudah selesai.”

Fengyin menundukan kepalanya. “Fengyin menerima titah untuk melayani Suami Ratu. Aku hanya pelayan rendah, jadi tidak perlu ruangan khusus. Suami Ratu bisa memberi Fengyin ruangan yang pernah ditempati pelayan sebelumnya, tidak masalah.” Ia berhenti di depan ruangan yang sebelumnya pernah di tempati Pingting.

Ekspresi Dongzhuo tiba-tiba berubah. Ia melangkah beberapa kali tapi segera berhenti begitu melihat tatapan peringatan dari He Xia, jadi ia mengertakan giginya dan mundur.

Suara He Xia menjadi lebih lembut, “Begitu, ruangan itu memang sudah kosong. Mungkin akan sedikit kurang nyaman, tapi Nona bisa tinggal disana.”

“Terima kasih, Suami Ratu.” Fengyin tersenyum lalu berbalik menghadap He Xia. “Fengyin undur diri untuk masuk ke ruangan dan membongkar bawaan sebelum nanti melayani Suami Ratu untuk makan malam.”

“Pergilah.”

He Xia meyaksikannya membuka pintu dan masuk ke dalam.

Ia tidak berkata apa-apa hanya diam dan berbalik pergi. Wajah Dongzhuo menggelap ketika ia mengikutinya di belakang. Ketika mereka baru tiba di gunung buatan, mereka mendengar suara kecapi di mainkan. Sepertinya Fengyin memainkan kecapi yang berada di dalam ruangan.

Dongzhuo berhenti melangkah. Ia mengertakan giginya, “Gui Changqing, si tua yang tak bisa mati, bertindak terlalu jauh kali ini! Tuan, kenapa….” Ketika ia menengadah ia menyadari kalau He Xia sudah melangkah jauh.

--

Ketika salju mencair, pertanda musim semi datang.

Akhirnya musim memetik bunga telah tiba.

Dibanding tahun sebelumnya, situasi empat negara benar-benar berbeda.

Di dalam istana Gui Li, hubungan antara Raja dan keluarga Ratu semakin menegang.

Panglima andalan Bei Mo hidup bersembunyi, membawa istri dan anaknya jauh dari lokasi terakhirnya.

Raja Dong Lin meninggal dalam keputusasaan. Dan yang memegang kekuasaan tertinggi saat ini adalah Ratu Dong Lin.

Kematian Bai Pingting serta Zhen Beiwang yang menghilang.

Hanya satu dari dua Jendral hebat yang masih tersisa, Tuan Besar dari Jin Anwang, tapi ia tidak melakukan tindakan apapun.

Untuk menguasai dunia, seseorang harus mempersiapkannya dengan matang.

Hasilnya, tangan yang memegang pedang He Xia tetap tenang dan sabar.

--

Di luar Yun Chang.

Tengah malam, bulan bersinar terang dan serangga bernyanyi lembut.

Di sebuah kabin di pinggir hutan, seorang pria tua berambut putih duduk sambil memangku kakinya. Muridnya yang masih muda bertanya dengan hormat, “Ada sesuatu yang tidak kumengerti, kuharap guru bersedia mengajariku. Guru mengajar di Bei Mo selama beberapa tahun dan dicintai disana. mengapa kau berniat meninggalkan Bei Mo dan datang ke Yun Chang?”

Si pria tua tertawa. “Ketika manusia menjadi tua, mereka takut mati. empat negara segera akan kacau. Dimana lagi aku bisa bersembunyi di tempat yang aman selain Yun Chang?”

Si murid masih penasaran, “Bagaimana guru bisa tahu Yun Chang tempat yang paling aman?”

“Hahaha, dua jendral hebat dibawah langit ini adalah Chu Beijie dan He Xia. Diantara mereka siapa yang masih ada?”

“Chu Beijie tidak diketahui keberadaannya, sementara He Xia saat ini statusnya sebagai Suami Ratu di negara Yun Chang.”

“Bagaimana mungkin seorang Tuan Besar dari Kediaman Jin Awang cukup puas dengan jabatan Suami Ratu?” si pria tua menghela napas, “Gui Li telah menghancurkan pertahanan terkuat mereka Kediaman Jin Anwang. Bei Mo telah melepas Ze Yin, dan Dong Lin kehilangan Chu Beijie. Ketika He Xia memimpin pasukan untuk menyerang, tiga negara tidak ada yang memiliki Jendral yang cukup hebat untuk melawannya. Dimana lagi selain Yun Chang kau bisa bersembunyi dari perang?”

“Kesimpulan guru terlalu cepat.”

“Siapa lagi yang mampu melawan He Xia?”

“Ada satu,” kata si murid, “Chu Beijie.”

Si pria tua tersenyum ketika menatapnya, seorang anak muda yang tidak berpikir jauh dan manja. “Dimana Chu Beijie saat ini?”

Si murid menjawab dengan keras kepala, “Selama ia masih hidup, ia tetap Jendral hebat yang mampu melawan He Xia.”

“Lantas kenapa kalau ia masih hidup? Ia hanya seperti mayat hidup, bahkan jika ia menghadapi He Xia, ia hanya akan mengantarkan nyawa.”

“Ada seseorang yang bisa membuatnya kembali bersemangat.”

“Siapa?”

“Bai Pingting.”

Si pria tua tertawa lagi, “Dan dimana Bai Pingting sekarang?”

Si murid terkejut dan ia teringat, lalu ia menunduk sedih, “Dia sudah meninggal.”

“Benar, sudah meninggal.” Si pria tua mengusap janggutnya yang abu-abu lalu menghela napas.

Si murid masih berusaha. “Kalau Chu Beijie bisa pulih demi Bai Pingting mengapa ia tidak bisa melakukannya untuk yang lain?”

Tatapan lembut si pria tua berhenti pada wajah muridnya. Sudut matanya sudah keriput karena usia tua, tapi sinar matanya penuh kebijaksanaan.

“Apa kau pernah mendengar permainan Bai Pingting?”

“Belum.”

“Apa kau pernah bertemu Bai Pingting?”

“Belum.”

“Apa kau pernah melihat surat yang di tulis Bai Pingting yang dibawa sendiri oleh Putri Yaotian ke medan perang untuk Chu Beijie?”

“Belum.” Si murid menjawab sambil menundukan kepala, “Aku hanya pernah mendengar namanya, dan apa saja yang pernah di lakukannya.”

Bai Pingting, Bai Pingting dari Kediaman Jin Anwang.

Namanya telah mengarungi dunia.

Dan kisahnya belum berakhir.

--00--                                                                               


Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

                                                                                                   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar