Ketika
Gui Changqing mendapat berita kematian Pingting, rasanya seperti batu besar
yang menyangsang di hatinya telah dikeluarkan. Ia begitu gembira sehingga
langsung menaikan jabatan prajurit yang berhasil melaksanakan tugasnya, Fanlu,
menjadi gubenur, setelah memberi perintah tegas untuk merahsiakannya.
Ia
sama sekali tidak tahu bagaimana situasi akan berkembang, tapi sepertinya awan
gelap terkait musibah kehilangan banyak nyawa prajurit Yun Chang telah bubar.
Tidak hanya peperangan batal terjadi, tapi juga Chu Beijie sangat terpukul
dengan kematian Pingting dan ia menghilang. Dong Lin sepenuhnya kacau dan sama
sekali bukan ancaman bagi Yun Chang. Bendera komando di tangan He Xia sudah
kembali pada Putri dan tidak ada peperangan yang harus dilakukan lagi.
“Haha,”
tawa Gui Changqing, karena ia berbahagia. “Sepertinya masalah Bai Pingting
telah selesai dengan baik.”
Ia
sangat berharap tidak ada pihak lain yang mengetahui keterkaitan kematian Bai
Pingting dengan Yun Chang. Ia tetap merahasiakan hal itu, menunggu sampai Bei
Mo membuka mulut dan menyebarkan berita kematian Bai Pingting ke seluruh dunia.
Setelah itu barulah ia pergi ke istana memberitahu Putri Yaotian.
“Meninggal?”
Yaotian mundul selangkah. Ia berkata pelan, “Bukankah aku sudah memberitahu Pejabat
Senior, karena perang sudah selesai maka tidak masalah membiarkan Pingting
pergi dengan bebas. Mengapa kau tidak melepaskannya?”
“Putri
salah sangka. Bagaimana mungkin aku tidak mematuhi perintahmu? Bai Pingting
berniat melewati pos pemeriksaan perbatasan Yun Chang, hendak menuju Bei Mo
dengan melewati gunung Songsen. Malangnya, perjalanan itu membawa kematian
untuknya. Ia bertemu para serigala di gunung.”
Yaotian
aga ragu. Ia diam agak lama, dan akhirnya mengerutu, “Apa Suamiku sudah tahu?”
“Beritanya
sudah menyebar. Suami Ratu seharusnya sudah mendengarnya.” Yaotian menghela
napas berat. Gui Changqing penasaran, “Kenapa Putri? Kematian Bai Pingting yang
tiba-tiba ini, apakah merugikan Putri?”
Senyum
Yaotian pahit. “Kalau suamiku tahu Bai Pingting telah meninggal, suasana
hatinya pasti tidak baik. Kalau ia kecewa, bagaimana aku juga tidak kecewa.”
Gui
Changqing melihat kalau Yaotian sangat ingin membuat He Xia gembira dan ia
merasa khawatir. Ia segera menganti topic, “Pikirkan ini, terakhir kali Putri
sudah memerintahkan untuk membuat gudang makanan dan harta untuk para prajurit.
Aku sedang menunda perintah ini.”
Yaotian
menatap Gui Changqing terkejut. “Masalah militer sangat mendesak. Bahkan jika
kita bergegas masih tidak cukup cepat. Mengapa Pejabat Senior menundanya?”
“Aku
berpikir kalau hal ini tidak benar.”
“Ia
seorang Suami Ratu yang terpuji. Apa yang tidak benar dengan membuatnya
bertanggung jawab dari sebuah gudang makanan dan harta untuk pasukan.”
“Putri,
dengakan kata-kataku.” Gui Changqing berdiri dan mengambil dua langkah
mendekat. Suaranya penuh peringatan. “He Xia sudah memiliki kekuatan militer,
dan yang bisa mengendalikan ia hanya makanan dan uang. Kalau ia memiliki
keduanya apalagi yang Putri miliki untuk mengendalikannya?”
Yaotian
mengehela napas lemah, “Aku tahu Pejabat Senior memikirkan aku. Tapi, kami
sudah menjadi suami istri. Ia telah bekerja keras siang dan malam untuk Yun
Chang, tapi kita masih mencurigainya dan berusaha menahannya. Apa itu tidak
masalah? Suamiku dan aku adalah satu sekarang. Jangan lupa, anak dia nantinya
akan menjadi penguasa Yun Chang.”
Sejak
dulu sampai sekarang, perasaan antara wanita dan pria adalah masalah yang sulit
diatur. Banyak orang yang terperangkap dan mereka tak bisa melepaskan diri bagaimanapun
berusaha.
Kalau
Yaotian wanita biasa, pemikiran seperti ini sangat tepat. Bagaimanapun, Yaotian
adalah perwakilan kerajaan Yun Chang.
Gui
Changqing tahu ia sulit untuk meyakinkan Yaotian lebih jauh, tapi ia tetap
melanjutkan. Ia terbatuk sekali dan berkata, “Putri, apa kau ingat apa yang kau
katakan di hari pernikahanmu?”
“Di
hari pernikahanku?” ekspresi Yaotian mencoba untuk mengingat-ingat. Ia tertawa
kecil, “Bagaimana aku bisa lupa? Hari itu Yaotian merasa gugup dan bertanya
pada Pejabat Senior di sebuah ruangan untuk berbicara berdua saja.”
“Putri
bertanya bagaiamana caranya mendapatkan hati He Xia dan memintaku memikirkan
caranya.” Gui Changqing membungkuk, “Saat itu, aku berjanji pada Putri akan
mencurahkan seluruh kemampuanku untuk itu.”
Yaotian
memandang serius pada Gui Changqing, ia berkata pelan, “Tapi saat ini, mengapa
aku merasa setiap tindakan Pejabat Senior selalu membuat Suamiku semakin dan
semakin menjauh dariku?”
“Putri…”
“Pejabat
Senior tak perlu mengatakan apapun lagi.” Yaotian menyela kata-katanya. Ia
menarik napas dan wajahnya menjadi serius kembali, “Aku sudah menjanjikan
suamiku untuk memberikannya gedung harta dan makanan khusus prajurit. Ini demi
kepentingan negara, tolong jangan mendebatkan hal ini lagi, dan segeralah
disejutui.”
Gui
Chagqing merasa ragu, tapi melihat ekspresi Yaotian, ia tahu takkan berhasil
mengubah pendapatnya. Ia hanya bisa menundukan kepalanya dan berkata,
“Baiklah.” Lalu ia menghela napas.
Gui
Changqing telah menjabat selama bertahun-tahun dan ia sangat banyak
pertimbangan. Yaotian sejak kecil selalu menghormatinya sebagai pejabat senior.
Yaotian tidak pernah menolak pendapatnya dengan kasar didepannya. Gui Changqing
merasa agak kecewa. Yaotian diam agak lama tapi akhirnya ia berkata dengan pelan,
“Apa masih ada yang ingin Pejabat Senior sampaikan padaku?”
Gui
Changqing memang masih ingin menyampaikan sesuatu.
“Ahem,”
kata Gui Changqing, “Iya, masih ada hal lain.”
“Hm?”
“Aku
ingin bertanya pada Putri, aku hendak memberikan seseorang pada He Xia.”
Yaotian
sangat terkejut mendengarnya. Ia menatap Gui Changqing, “Siapa?”
“Anak
perempuan angkatku yang baru, Huan Fengyin. Meskipun ia tidak terlalu cantik,
ia sangat lembut dan pandai bermain kecapi juga bernyanyi. Ia sangat setia dan
berdedikasi pada negara.”
Yaotian
memikirkan apa yang baru saja ia dengar. Ketika ia mengerti, hatinya sangat
resah. Ia menjawab dengan dingin, “Pejabat Senior ingin aku mengirim seorang
selir untuk suamiku sendiri?”
“Yun
Chang memiliki sebuah aturan tegas, karena itulah Putri dan suami tidak tinggal
bersama. Setidaknya harus ada seorang selir yang tinggal di Kediaman Suami
Ratu. Lagipula, He XIia hampir menjadikan Bai Pingting sebagai selir waktu itu.
Sekarang setelah Bai Pingting meninggal, mengapa Putri tidak berbaik hati dan
memberikannya seseorang?”
Wajah
Yaotian menjadi kusut, “Siapa yang mengatakan kalau Suamiku membutuhkan seorang
selir? Aku seorang Putri, kalau sebuah aturan bisa dibuat, maka aku juga bisa
menghapusnya.”
Gui
Changqing tersenyum, “Putri salah, aturan bisa dirubah, tapi apa hati bisa di
ubah? Daripada membiarkan He Xia memilih seseorang yang Putri tidak sukai,
bukankah lebih baik Putri memilih sendiri seseorang yang bisa membantu Putri
menjaga Suamimu. Dengan keberadaan wanita itu disana, He Xia akan sulit membawa
masuk selir lain, dan jika hatinya beralih ke wanita lain, setidaknya ada
seseorang yang bisa melaporkan hal itu.”
Dada
Yaotian menjadi sesak. Ia menggelengkan kepalanya, “Tidak, yang lain bisa
dibicarakan tapi tidak yang ini.”
Gui
Changqing tahu sekarang bukan saatnya memaksa. Ia mundur selangkah, “Kalau
begitu baiklah, aku akan pergi. Tolong Putri pertimbangkan. Belum terlambat
untuk berjaga-jaga.” Ia menunduk dan pergi meinggalkan ruangan.
Yaotian
menatap tirai yang bergoyang. Ia sendirian di dalam ruangan. Suasana hatinya
yang bahagia hancur total karena pendapat Gui Changqing barusan. Ia diam-diam
membencinya.
Apanya
yang demi dia, ketika ia dengan beraninya mengusulkan ide mengirim seorang
wanita lain?
Ia
begitu kesal dengan peraturan ini, ketika seorang wanita menikah tentu saja ia
harus tinggal bersama suaminya. Mengapa seorang Putri yang malang harus tetap
tinggal di istana? Seperti dua bintang yang terpisah oleh sungai perak. Yang
satu berada di istana dan yang lainnya di Kediaman Suami Ratu, para penghuninya
hanya bisa tinggal di dalam dan saling menyaksikan kekacauan di tempat
pasangannya.
Bagaimanapun…
He
Xia kuat dan tampan. Kehebatannya bisa menguncang langit. Sebagai seorang
pahlawan, ia memiliki banyak pengalaman. Sekarang ia sebagai Suami Ratu,
memiliki lebih banyak kekuatan dan kemasyuran. Berapa banyak yang
memperhatikannya dari balik dinding dengan pipi merona? Bagaimana ia bisa
menghentikannya dari mendua atau bahkan tiga?
Bagaimana
kalau He Xia benar-benar jatuh cinta pada seseorang dan memohon pada dirinya
untuk bisa mengangkat wanita itu sebagai selir? Masyarakat akan tertarik untuk
menyaksikan apakah dia sebagai Putri yang berkuasa bersedia mengijinkannya. Dan
kalau ia menolah, setiap orang akan menertawakan kecemburuannya.
Yaotian
menatap cermin, tidak senang. Kecemburuan yang terlihat di cermin membuatnya
takut. Ia segera menarik sebuah kain dan menutupi cermin.
Luyi
di balik tirai berkata, “Putri, bunga-bunga sudah tiba.”
Suasana
hati Yaotian sangat kacau dan tidak ingin diganggu siapapun. Ia bersuara dengan
nada tinggi, “Bawa pergi, kalau tidak ada hal penting, tidak perlu melapor.”
Luyi
mendengar kemarahan dalam suaranya sehingga ia melompat mundur. Ia berkata
pelan, “Baik.” Ia menahan lidahnya, ia tidak tahu apa yang telah dikatakan
Pejabat Senior sehingga Putri begitu marah.
Ketika
ia hendak pergi sambil membawa pot yang penuh di isi bunga, ia mendengar
Yaotian berkata lagi, “Luyi, tunggu disana.”
Luyi
berhenti dan menjawab, “Baik.” Dan ia menunggu di balik tirai.
Mengapa
ia sebagai Putri harus tinggal di istana? Sungguh tidak adil…
Yaotian
telah memikirkan pendapat Gui Changqing, dan mempertimbangkan dengan seksama
dan akhirnya menyadari kalau hal itu cukup masuk akal.
Si
wanita bernama Fengyin itu, ‘tidak begitu cantik’ jadi kalau suaminya seperti
menemukan hal baru yang menyegarkan, dalam sepuluh atau setengah bulan,
ketertarikannya akan memudar. ‘Sangat lembut dan senang bermain kecapi serta
bernyanyi’ hanya itulah yang bisa menghilangkan kebosanan suaminya.
Dan
sebagai orang yang ditemukan oleh Pejabat Senior, Yaotian akan sepenuhnya
percaya padanya. Ia akan menuangkan teh di sisinya atau kadang akan sedekat
bantal untuk bisa dengan mudah memantau setiap tindakan suaminya. Dan
berikutnya, kalau suaminya benar-benar akan melirik wanita lain, Fengyin akan
menghadapinya dengan berteriak atau membuat keributan, bertingkah sebagai hal
yang menyulitkan untuk hubungan mereka.
“Benar,
sepertinya tidak terlihat sebagai ide yang aneh.” Yaotian berguman sendiri, dan
perlahan bergerak. Tapi ketika ia memikirkan akan ada selir di sisi He Xia,
alisnya berkerut dan merasa tubuhnya sedikit tidak nyaman. Ini adalah hal yang
membuatnya lemas.
Luyi
yang berdiri diluar mendengar suara langkah kaki Yaotian mendekat. Terkadang ia
mendengar suara manik-manik tirai bergemerincing tapi kemudian sunyi lagi, dan
tidak ada gerakan. Setelah agak lama akhirnya ia mendengar suara dari dalam,
“Luyi.”
“Luyi
disini Putri.”
“Kirimkan
seseorang untuk menyampaikan pesan pada Pejabat Senior.” Suara dari dalam
berhenti lagi.
Luyi
memasang telingannya baik-baik dan menunggu lama. Ia memandang bingung ke balik
tirai.
Yaotian
berdiri di tengah ruangan, punggungnya lurus dan ia tidak bergerak seperti
patung.
“Putri?”
Luyi berkata.
Yaotian
akhirnya menghela napas. Wajahnya pucat pasi, “Katakan pada Pejabat Senior
kalau aku sudah memikirkannya lagi dan lagi dan Pejabat Senior boleh
melakukannya. Perintah dari istana akan segera di buat untuk di kirim ke Kediaman
Suami Ratu.”
Kuda
He Xia telah menderap sepanjang hari. Belum meminum setetes airpun ketika tiba
di Kediaman Suami Ratu, seorang pengirim pesan tiba untuk menyampaikan titah
dari istana.
He
Xia menerima titah di dalam ruangan dan meminta seseorang untuk mengantarkan si
pengirim pesan ke pintu. Dongzhuo berkata setelah tidak ada seorangpun di dalam
ruangan, “Mereka masih tidak puas dengan mata-mata diantara pelayan dan
sekarang meletakan seseorang lagi di atas bantalmu. Aku bertaruh ini pasti
kerjaan Pejabat Senior.”
He
Xia menggenggam surat perintah, wajahnyanya kelabu dan tanpa suara.
Tak
lama kemudian, seorang pelayan datang melapor, “Tuan, ada sebuah kereta tiba di
depan. Sepertinya Nona Fengyin.”
Mata
He Xia berkilat marah. Ia menjawab dengan ketus, “Mengerti, aku akan kesana
sekarang.” Ia bergegas keluar. Begitu ia tiba di pintu, wajahnya yang kelabu
berubah menjadi senyuman manis.
“Nona
Fengyin pasti lelah.” He Xia sendiri yang maju ke depan, membantu wanita yang
di dalam kereta untuk turun.
Fengyin
begitu menginjak tanah segera membungkuk pada He Xia. “Suami Ratu.”suaranya
merdu, ia menengadah dan menatap He Xia, mereka berdua merasa malu.
Mereka
berdua masuk ke dalam bersama-sama. He Xia membawanya ke halaman sambil
berkata, “Titah dari istana baru tiba, jadi ruangan Nona belum di siapkan.
Bagaimana kalau Nona minum teh di dalam sambil menunggu. Begitu makan malam
selesai, para pelayan juga pasti sudah selesai.”
Fengyin
menundukan kepalanya. “Fengyin menerima titah untuk melayani Suami Ratu. Aku
hanya pelayan rendah, jadi tidak perlu ruangan khusus. Suami Ratu bisa memberi
Fengyin ruangan yang pernah ditempati pelayan sebelumnya, tidak masalah.” Ia
berhenti di depan ruangan yang sebelumnya pernah di tempati Pingting.
Ekspresi
Dongzhuo tiba-tiba berubah. Ia melangkah beberapa kali tapi segera berhenti
begitu melihat tatapan peringatan dari He Xia, jadi ia mengertakan giginya dan
mundur.
Suara
He Xia menjadi lebih lembut, “Begitu, ruangan itu memang sudah kosong. Mungkin
akan sedikit kurang nyaman, tapi Nona bisa tinggal disana.”
“Terima
kasih, Suami Ratu.” Fengyin tersenyum lalu berbalik menghadap He Xia. “Fengyin
undur diri untuk masuk ke ruangan dan membongkar bawaan sebelum nanti melayani
Suami Ratu untuk makan malam.”
“Pergilah.”
He
Xia meyaksikannya membuka pintu dan masuk ke dalam.
Ia
tidak berkata apa-apa hanya diam dan berbalik pergi. Wajah Dongzhuo menggelap
ketika ia mengikutinya di belakang. Ketika mereka baru tiba di gunung buatan,
mereka mendengar suara kecapi di mainkan. Sepertinya Fengyin memainkan kecapi
yang berada di dalam ruangan.
Dongzhuo
berhenti melangkah. Ia mengertakan giginya, “Gui Changqing, si tua yang tak
bisa mati, bertindak terlalu jauh kali ini! Tuan, kenapa….” Ketika ia
menengadah ia menyadari kalau He Xia sudah melangkah jauh.
--
Ketika
salju mencair, pertanda musim semi datang.
Akhirnya
musim memetik bunga telah tiba.
Dibanding
tahun sebelumnya, situasi empat negara benar-benar berbeda.
Di
dalam istana Gui Li, hubungan antara Raja dan keluarga Ratu semakin menegang.
Panglima
andalan Bei Mo hidup bersembunyi, membawa istri dan anaknya jauh dari lokasi
terakhirnya.
Raja
Dong Lin meninggal dalam keputusasaan. Dan yang memegang kekuasaan tertinggi
saat ini adalah Ratu Dong Lin.
Kematian
Bai Pingting serta Zhen Beiwang yang menghilang.
Hanya
satu dari dua Jendral hebat yang masih tersisa, Tuan Besar dari Jin Anwang,
tapi ia tidak melakukan tindakan apapun.
Untuk
menguasai dunia, seseorang harus mempersiapkannya dengan matang.
Hasilnya,
tangan yang memegang pedang He Xia tetap tenang dan sabar.
--
Di
luar Yun Chang.
Tengah
malam, bulan bersinar terang dan serangga bernyanyi lembut.
Di
sebuah kabin di pinggir hutan, seorang pria tua berambut putih duduk sambil
memangku kakinya. Muridnya yang masih muda bertanya dengan hormat, “Ada sesuatu
yang tidak kumengerti, kuharap guru bersedia mengajariku. Guru mengajar di Bei
Mo selama beberapa tahun dan dicintai disana. mengapa kau berniat meninggalkan
Bei Mo dan datang ke Yun Chang?”
Si
pria tua tertawa. “Ketika manusia menjadi tua, mereka takut mati. empat negara
segera akan kacau. Dimana lagi aku bisa bersembunyi di tempat yang aman selain
Yun Chang?”
Si
murid masih penasaran, “Bagaimana guru bisa tahu Yun Chang tempat yang paling
aman?”
“Hahaha,
dua jendral hebat dibawah langit ini adalah Chu Beijie dan He Xia. Diantara
mereka siapa yang masih ada?”
“Chu
Beijie tidak diketahui keberadaannya, sementara He Xia saat ini statusnya
sebagai Suami Ratu di negara Yun Chang.”
“Bagaimana
mungkin seorang Tuan Besar dari Kediaman Jin Awang cukup puas dengan jabatan
Suami Ratu?” si pria tua menghela napas, “Gui Li telah menghancurkan pertahanan
terkuat mereka Kediaman Jin Anwang. Bei Mo telah melepas Ze Yin, dan Dong Lin
kehilangan Chu Beijie. Ketika He Xia memimpin pasukan untuk menyerang, tiga
negara tidak ada yang memiliki Jendral yang cukup hebat untuk melawannya.
Dimana lagi selain Yun Chang kau bisa bersembunyi dari perang?”
“Kesimpulan
guru terlalu cepat.”
“Siapa
lagi yang mampu melawan He Xia?”
“Ada
satu,” kata si murid, “Chu Beijie.”
Si
pria tua tersenyum ketika menatapnya, seorang anak muda yang tidak berpikir
jauh dan manja. “Dimana Chu Beijie saat ini?”
Si
murid menjawab dengan keras kepala, “Selama ia masih hidup, ia tetap Jendral
hebat yang mampu melawan He Xia.”
“Lantas
kenapa kalau ia masih hidup? Ia hanya seperti mayat hidup, bahkan jika ia
menghadapi He Xia, ia hanya akan mengantarkan nyawa.”
“Ada
seseorang yang bisa membuatnya kembali bersemangat.”
“Siapa?”
“Bai
Pingting.”
Si
pria tua tertawa lagi, “Dan dimana Bai Pingting sekarang?”
Si
murid terkejut dan ia teringat, lalu ia menunduk sedih, “Dia sudah meninggal.”
“Benar,
sudah meninggal.” Si pria tua mengusap janggutnya yang abu-abu lalu menghela
napas.
Si murid masih berusaha. “Kalau Chu Beijie
bisa pulih demi Bai Pingting mengapa ia tidak bisa melakukannya untuk yang
lain?”
Tatapan lembut si pria tua berhenti pada
wajah muridnya. Sudut matanya sudah keriput karena usia tua, tapi sinar matanya
penuh kebijaksanaan.
“Apa kau pernah mendengar permainan Bai
Pingting?”
“Belum.”
“Apa kau pernah bertemu Bai Pingting?”
“Belum.”
“Apa kau pernah melihat surat yang di tulis
Bai Pingting yang dibawa sendiri oleh Putri Yaotian ke medan perang untuk Chu
Beijie?”
“Belum.” Si murid menjawab sambil menundukan
kepala, “Aku hanya pernah mendengar namanya, dan apa saja yang pernah di
lakukannya.”
Bai Pingting, Bai Pingting dari Kediaman Jin
Anwang.
Namanya telah mengarungi dunia.
Dan kisahnya belum berakhir.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar