“Panglima!
Panglima! Sadarlah!”
Ruohan
merasa kepalanya hampir pecah ketika ia membuka matanya. Tenda utama telah
terang oleh cahaya lilin. Ia melihat beberapa wajah Jendralnya yang sangat
khawatir dengan luka kepalanya.
Dimana
Chu Beijie?
Ruohan
memegang kepalanya ketika ia memaksa bangun. “Dimana dia? Apa sudah
tertangkap?”
Semua
orang saling melihat satu sama lain. Sen Rong mendorong semua orang dan maju ke
depan. Suaranya sedikit berguman, “Kami mendengar Panglima memanggil dan kami
segera datang kemari. Ketika kami datang disekitar sangat gelap, kami begitu
khawatir apakah anda selamat atau tidak, saat itu begitu kacau dan kami sangat
panik. Begitu lilin-lilin sudah menyala, kami mencari ke sekeliling tapi tidak
menemukan jejak si pembunuh.”
Ruohan
menghela napas dan memukul kakinya. “Berengsek, sayang sekali!” tapi ia segera
ingat, Chu Beijie pasti tidak mudah di tangkap. Ia pasti sudah memikirkan
bagaimana untuk pergi sebelum memasuki perkemahan.
Huacan
seorang Jendral yang baru naik pangkat. Ia merendahkan suaranya untuk melapor,
“Lima belas penjaga pribadi Panglima telah terbunuh. Sepertinya serangan
dadakan, mereka terbunuh dengan satu goresan di leher. Kemampuan orang ini
sungguh mengerikan.”
Mayat
para penjaga itu telah di periksa sendiri oleh para Jendral. Mereka semua
sepakat kalau kemampuan musuh sungguh luar biasa, sehingga setiap orang
menampilkan wajah takut.
Sen
Rong menggelengkan kepalanya. “Empat negara belum pernah mendengar ada pembunuh
yang sehebat itu. Mungkin sekarang saatnya untuk merapikan pasukan Bei Mo kita.
Apa yang terjadi kalau sampai sesuatu menimpa Panglima dan pasukan kita
kehilangan penasihat utama?”
“Benar.
Siapa si pembunuh itu?”
Ruohan
setelah diam agak lama, akhirnya menjawab, “Chu Beijie.”
Di
dalam tenda yang agak luas itu, tiba-tiba terjadi kesunyian. Semua Jendral
saling bertukar pandang, tidak tahu harus berkata apa.
Akhirnya
yang pertama beraksi adalah Sen Rong, ia menarik napas panjang dan berkata,
“Orang itu sungguh Panglima Zhen Beiwang?”
Nama
Chu Beijie bagi mereka seperti mimpi buruk.
Di
kota Kanbu, Chu Beijie hampir menghancurkan negara mereka. Orang itu telah
mengendalikan strategi musuh dan kemampuannya menyusun rencana sungguh
mengejutkan. Terlebih lagi kemampuan bela dirinya sangat menakutkan.
Saat
ini, dengan menyusup ke perkemahan musuh, Chu Beijie sekali lagi menunjukan
keberanian dan kehebatannya.
Siapa
yang tidak sakit kepala memiliki musuh seperti itu?
“Untuk
apa orang itu datang kemari?”
“Aku
tidak yakin.” Ekspresi Ruohan sangat kacau. “Dia ingin aku menyampaikan pesan
pada Raja.” Ruohan berusaha mengingat-ingat. Meskipun sangat memalukan
dikalahkan dengan satu pukulan, masalah militer tak bisa dianggap remeh, jadi
Ruohan berusaha keras untuk menceritakan segalanya dengan jujur.
Semua
orang bisa mengerti, karena si penyusup adalah Chu Beijie. Mereka sama sekali
tidak meragukan ucapan Ruohan. Ketika mereka mendengar, Chu Beijie telah
menyatakan akan membunuh semua Jendral Bei Mo, satu per satu, mereka semua
menjadi sangat marah. Mereka dengan suara keras, mengutuk Chu Beijie.
Ruohan
lalu berkata, “Ucapan Chu Beijie tak mungkin tanpa alasan. Kalau penjagaan
perkemahan kita tidak kuat, kita tidak akan sanggup menahan orang-orang dengan
kemampuan seperti dia di kemudian hari.”
Semua
orang menjadi diam mendengarnya.
Pasukan
Bei Mo, sangat kurang peraturan dan pelatihan, dibanding pasukan Dong Lin.
Mereka semua tahu itu dengan sangat jelas.
Pasukan
yang dibentuk oleh Chu Beijie hanya mungkin ditandingi oleh He Xia.
Ruohan
melihat ke luar tenda. Langit masih belum terang. Hanya ada segaris warna jinga
terang membelah awan abu-abu.
“Keberangkatan
kita tidak perlu ditunda. Kita pergi besok, kalian bisa bersiap. Biarkan aku
berpikir sejenak.” Ketika semua orang pergi, Ruohan memanggil Sen Rong,
“Tetaplah disini.”
Sen
Ron mengangguk, duduk dan berpikir. Ia berkata dengan wajah pucat, “Panglima,
ada satu hal yang tak bisa kumegerti. Chu Beijie berniat membunuh semua Jendral
Bei Mo dan berhasil menerobos perkemahan, tapi kenapa ia hanya menginginkan
Panglima untuk meneruskan pesan dan tidak memulai rencananya?”
Ruohan
menjawab, “Aku juga berpikir kalau ini aneh. Melihat wajahnya, ia sangat yakin
dengan kemampuannya dan sangat sombong. Ia segera mengancam akan membunuh
seluruh Jendral Bei Mo, satu per satu, dimulai dari pangkat tertinggi, sampai
Bei Mo tidak lagi memiliki Jendral satupun.”
“Tapi,
Panglima adalah pemilik pangkat tertinggi di Bei Mo, kalau Chu Beijie berniat
demikian mengapa ia membiarkan anda hidup?”
Ekspresi
Ruohan tiba-tiba berubah, ia segera berdiri dari kursinya. “Berengsek, aku
tahu!”
Sen
Rong terkejut, “Apa yang anda ketahui Panglima?”
Ekspresi
Ruohan tenang dan suaranya dalam. Ia berkata, “Panglima, Panglima Ze Yin.”
Kali
ini, Sen Rong juga menjadi pucat. “Benar, Chu Beijie berniat membunuh Panglima
Ze Yin terlebih dahulu.”
Ze
Yin pilar utama militer Bei Mo. Meskipun ia telah pensiun dan hidup terpencil,
martabatnya di dalam pasukan tidak berkurang, seseorang yang seperti Chu Beijie
dalam pasukannya.
Kalau
berita terbunuhnya Ze Yin oleh Chu Beijie tersebar ke seluruh negara, maka
moral militer Bei Mo akan jatuh dan akan mudah dikalahkan.
Sen
Rong juga salah satu yang mengikuti Ze Yin sejak lama. Ia menjadi khawatir
tentang mantan Panglimanya. Ia mengenggam tangannya dengan gugup, bertanya,
“Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa diam saja mengetahui masalah
hidup mati Panglima Ze Yin.”
“Ze
Yin adalah petarung terhebat di Bei Mo dan memiliki para pengawal setia di
sisinya. Aku hanya takut kalau Chu Beijie entah bagaimana mampu menyelinap dan
berhasil melaksanakan niatnya.”
“Kita
harus segera memperingatkan Panglima Ze Yin, agar ia bersiap dengan kedatangan
Chu Beijie.” Sen Rong tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya sangat cemas.
“Tak seorangpun yang mengetahui lokasi terpencil Panglima setelah ia
mengundurkan diri, kita harus mengirim seseorang segera untuk menemukannya dan
memperingatkannya. Chu Beijie menguasai seluruh militer Dong Lin dan memiliki
banyak mata-mata. Kita tak bisa boleh membiarkan dia menemukan tempat Panglima
Ze Yin sebelum kita.”
Ruohan
merasa yakin dan ia tersenyum, “Tak perlu khawatir, aku tahu. Aku akan menulis
surat sekarang. Panglima Ze Yin bagaimanapun adalah seorang pahlawan, selama ia
cukup waktu untuk membuat persiapan, ia tidak akan dikalahkan Chu Beijie.”
Begitu
hari mulai terang, seekor kuda berlari cepat, keluar dari perkemahan Bei Mo,
mengarah lurus ke arah gunung Songsen.
Chu
Beijie yang telah menunggu lama di rerumputan bukit sebelah menyaksikan
punggung si kurir yang sudah mengecil, bergerak sangat cepat di kejauhan. Ia
dengan tenang bangun dan menaiki kuda kesayangannya. “Waktunya berpacu. Kita
akan menemukan majikan wanitamu.”
Ia
mengarahkan kudanya ke gunung, dan menyentakan tali kekang dengan tenang.
Kudanya
meringkik, dan mengerakkan ke empat kakinya menjejak debu kuning, mengejar
prajurit si pengirim pesan.
Menilai
dari arah tujuan si prajurit, seperti dugaannya, Ze Yin dan Yangfeng berada di
salah satu gunung, pegunungan Songsen.
Pingting, kau sering
menyebut nama teman baikmu Yangfeng padaku.
Kalau kediamannya
dekat Yun Chang maka kau pasti akan menuju kesana, benarkan?
Apa kau sudah
bertemu Yangfeng? Atau masih dalam perjalanan?
Chu Beijie pasti
bisa. Aku sudah menerobos beberapa pos pemeriksaan Yun Chang, tapi sama sekali
tidak menemukan jejakmu. Meskipun pedang di tanganku sangat tajam, tapi tak
bisa membuatmu keluar dari persembunyianmu di dalam lautan salju ini.
Pingting tolong
hentikan langkahmu, jangan berlari lagi. Tolong ingat teman baikmu, Yangfeng,
cari dan temukan dia.
Aku akan menunggumu
disana, menangkapmu, memelukmu, menciummu dan meminta maaf padamu. Kumohon,
maafkan aku, karena membuatmu merasakan kepedihan berturut-turut. Aku akan
berusaha untuk cinta kita, agar menjadi sekuat gunung.
Aku sudah mengerti
apa kekuatan terbesar, ujung dunia dan apapun itu, jangan pernah pernah saling
berhadapan lagi
--
Ibukota
Yun Chang penuh kegembiraan dan nyanyian setiap malam. Kembang api
berwarna-warni menghias langit dengan dentuman keras, mewakili wajah seluruh
rakyat ibukota.
Tuan
Putri dan Suaminya telah tiba.
Kereta
mewah itu telah terbuka tirainya. Yaotian tersenyum bahagia dan mendekap di
lengan He Xia. Pemandangan hangat dan menyentuh itu sangat terkesan di hati
rakyat yang melihatnya.
Dibelakang
mereka berbaris ribuan prajurit Yun Chang, selamat kembali ke rumah mereka. Para
prajurit itu berangkat dengan persiapan mati di medan pertempuran, langit masih
berbaik hati, ternyata perang dibatalkan.
Apa
yang menunggu mereka di ibukota adalah senyum gembira dan kembang api yang
menyilaukan.
Dan
satu lagi, arak yang enak.
“Cangkir
ini untuk menghormati Pejabat Senior.”
Para
penari berpakaian indah berwarna-warni melintasi aula diantara sekitar ratusan
para pejabat yang setengah mabuk dan tertawa lepas. He Xia tertawa sopan, ia
meneguk habis cangkir demi cangkir dari para Pejabat yang bersulang untuknya.
Lalu ia membawa gucinya sendiri dan melangkah mendekati Gui Changqin yang duduk
disebelahnya, tersenyum sepanjang waktu.
Gui
Changqing sedikit terkejut dengan perbuatan He Xia, ia segera mengangkat
cangkirnya sendiri, “Aku tidak berani, kita masih bersulang untuk Suami Ratu.
Anda telah memimpin pasukan melewati perjalanan yang begitu jauh, pasti sangat
berat.”
He
Xia meminum arak begitu banyak, wajahnya yang tampan sedikit memerah. Disudut
matanya yang gelap sama sekali tidak menyembunyikan rahasia, ketika ia berkata,
“Pejabat Senior berlebihan. Memimpin pasukan ke medan perang adalah hal wajar
bagi bawahan. Pejabat Seniorlah yang sebenarnya telah bekerja keras,
menyelesaikan permasalahan dari ibukota.”
Gui
Changqing tak pernah minum-minum, tapi begitu keadaan perang telah menghilang,
sungguh kabar yang mengembirakan yang bahkan orang yang tidak suka minumpun
akan merayakannya dengan beberapa cangkir arak. Ia mengumpulkan seluruh harga
dirinya dan mengangkat cangkirnya, “Baiklah, secangkir untuk Suami Ratu. Aku
juga berharap Tuan Putri Yaotian diberkati umur panjang beserta keturunannya.”
He
Xia tertawa mendengarnya, “Sungguh harapan yang jujur, terima kasih Pejabat
Senior!” dan menghabiskan araknya dengan sekali teguk.
“Suami
Ratu.”
“Luyi?”
He Xia berbalik dan melihat pelayan pribadi Yaotian. He Xia melihat sekeliling
para pejabat yang berisik, sibuk masing-masing, lalu ia menarik Luyi ke samping
dan berkata dengan suara rendah, “Apa Tuan Putri memanggilku?”
Luyi
mengelengkan kepalanya, tersenyum kecil dan berkata, “Tidak, Tuan Putri berkata
padaku untuk menyampaikan pada anda, kalau, ia telah terguncang keras sepanjang
perjalanan dan sangat kelelahan. Putri sudah mandi dan hendak tidur, Putri
berharap anda menemuinya besok. Putri juga berpesan agar anda memperhatikan
kesehatan anda dan tidak minum arak terlalu banyak. Karena anda juga sudah melakukan
perjalanan sejak lama, terlalu banyak arak bisa merusak tubuh.”
He
Xia tertawa, “Aku khawatir tak bisa menolak sampai tetes arak terakhir. Tapi
karena Putri sudah memberikan perintah, kurasa ini waktu yang tepat untuk
meminta mereka pulang dan beristirahat.”
Lalu
He Xia menggunakan ucapan Yaotian untuk memecah kebisingan, dan bagi mereka
yang masih ingin merayakan, mereka bsia meninggalkan istana dan pergi menuju
Kediaman Suami Ratu.
Pintu
gerbang utama Kediaman Suami Ratu terbuka lebar dan banyak pelayan menunggu di
luar. Dongzhuo memimpin mereka dan lehernya sangat tegang. Ia melihat sosok
berayun di kejauhan dan suara langkah kaki kuda yang semakin dekat. Beberapa
orang lalu maju ke depan.
“Selamat
datang, Suami Ratu!”
“Selamat
datang, Suami Ratu!”
Kuda
berhenti dan Dongzhuo segera menghampiri untuk mengambil alih tali kekang. Ia
menegakkan kepalanya, “Tuan, anda sudah kembali.”
“Benar.”
He Xia menjawab sebelum turun dari kudanya. Ketika ia hendak berjalan ke pintu,
ia melihat beberapa pelayan wanita telah melangkah maju dan memberi salam
padanya. Alis matanya terangkat, “Mengapa begitu banyak orang di depan pintu?
Kalian semua pergilah.”
Dongzhuo
memberikan tali kekang pada seorang pelayan lain disampingnya. Ia membubarkan
semuanya dan mengikuti He Xia.
Langkah
He Xia lebar-lebar dan tidak berniat menunggu. Dongzhuo segera berlari
mengejarnya. He Xia berjalan menuju halaman belakang dan berputar di sekitar
dua atau tiga koridor dan akhirnya tiba di ruangan yang pernah di tinggali
Pingting. Ia berhenti, berdiri di depan pintu dan diam agak lama.
Dongzhuo
menyaksikan He Xia menatap pintu kamar Pingting, tegak tak bergerak seperti
patung kayu. Ketika melihatnya, Dongzhuo merasa hancur.
Dongzhuo
berpikir kalau He Xia telah kelihangan rasa belas kasihannya, karena itulah
ketika Yaotian menentangnya, ia telah menutup matanya dan membiarkan Pingting
pergi. Tapi, melihat He Xia seperti ini, ia sangat sangat menyesal.
Dongzhuo
bersalah sekaligus sedih. Ia akhirnya berjalan mendekati He Xia dan berkata
pelan, “Tuan.”
He
Xia mengembalikan kesadarannya ketika mendengar dirinya dipanggil. Ia agak
bingung ketika menatap Dongzhuo tapi akhirnya He Xia berjalan menuju pintu dan
membukanya perlahan.
Kreeek…..
Sebuah
suara terdengar dari pintu yang bergerak. Perabotan dalam ruangan satu per satu
terlihat di matanya.
Bunga
di jendela sudah mulai layu, tempat tidur sudah dirapikan dan dibersihkan,
jubah musim dingin diletakan di sampingnya. Ada sepasang sepatu berbordir indah
di kaki tempat tidur. Dan dimeja hias, sebuah cermin perunggu, disampingnya
sebuah kotak kayu indah yang ia pesan khusus dibuat untuk Pingting. Kecapi,
masih di tempatnya, bertengger tenang di atas meja, tapi sudah berselimut
selapis tipis debu.
He
Xia melangkah masuk ke ruangan, langkah kakinya ringan, seperti takut merusak
sesuatu. Ia duduk di kursi yang sedingin es, melepaskan pedang berharganya dari
pinggangnya dan meletakannya di atas meja.
Ia
telah menggunakan pedang itu untuk berlatih.
Disini,
di kediaman Suami Ratu ini.
Pedangnya
dengan lembut keluar dari sarungnya seperti naga memasuki air, meluncur dengan
halus, membuat air beriak lalu mengambang diatasnya seperti selimut kapas.
Pingting
berada disana. Ia duduk di pavilium, menyaksikan dengan diam.
Mata
Pingting seperti asap tipis dan jari-jarinya mulai memainkan lagu “Sembilan
Hari.” Begitu irama kecapi terdengar, ia berpikir kalau segala sesuatunya tak
pernah berubah.
Ia
berharap kalau hari itu tak pernah berlalu, musim tidak berganti dan kematian tidak
nyata.
Ternyata
ia salah.
Di
kedalaman mata He Xia, terbersit sinar dingin. Ia benar-benar salah, hari telah
berlalu dan musim tidak bergerak terbalik.
Rencana
dan kemampuannya tidak cukup bagus.
Ia
telah dengan susah payah menggunakan seluruh tenaganya untuk melindungi ilusi
masa lalunya, tapi hanya dengan sebuah perintah ringan tak berhati, dari Tuan
Putri, menyapu bersih semuanya.
Yaotian,
istrinya, penguasa Yun Chang.
He
Xia sungguh merasa pedih menatap kamar yang telah kehilangan Pingting dan
Kediaman Suami Ratu yang telah kehilangan kehangatan.
Selama
Yaotian masih ada, ia hanyalah seorang Suami Ratu.
Seorang
suami yang tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan pelayannya sendiri.
“Tuan,
kecapi ini…. Apa sebaiknya kurapikan?”
“Tak
perlu.” He Xia menatap kecapi yang berdebu dan sudut bibirnya sedikit bergetar.
“Biarkan, agar ia bisa menunggu Pingting kembali.”
Pingting pasti akan
kembali, kembali ke sisiku.
Aku tak akan
membiarkan siapapun mencuri milikku dan tak akan mengijinkan seorangpun menodai
nama Jin Anwang lagi.
Aku tidak akan
membiarkan Kerajaan Dong Lin dan Gui Changqing, si angsa tua itu mengikat
tangan dan kakiku.
Aku tak akan
membiarkan ambisiku hilang dibawah belas kasihan atau takhta Yaotian.
Tak seorangpun bisa
memperlakukanku seperti ini.
--
Chu
Beijie sekarang sudah sampai di kaki gunung Songsen, duduk diatas kudanya,
setelah mengekor di belakang si kurir. Ia menatap ke atas melihat gunung yang
terlihat gagah, misterius, cantik, tertutup salju putih tidak seperti biasanya.
Yangfeng
berada di pegunungan ini.
Pingting
juga seharusnya berada disini.
Mungkin
ia sedang bermain kecapi, atau mungkin sedang membaca, atau bernyanyi dengan
pelan tentang pahlawan dan wanita cantik. Ketika ia menatap kembali ke arah
gunung, hatinya jadi berdebar-debar.
Ia
sangat ingin, segera melihat Pingting.
Ia
sangat rindu ingin bertemu. kerinduannya di dalam mimpi tidak cukup untuk
diutarakan betapa rindu perasaannya seluruhnya. Tidak mudah menahan
kegelisahannya.
Si
kurir telah di perintahkan langsung oleh Ruohan, dan sangat hati-hati dalam
perjalanannya. Ia selalu menoleh ke belakang berkali-kali khawatir kalau di
ikuti, tapi tak peduli seberapa hebatnya ia, tak mungkin ia bisa mengetahui
seseorang yang begitu ahli mengekor seperti Chu Beijie.
Chu
Beijie menyangsikannya dari kejauhan sampai ia mencapai gunung tempat kediaman
Ze Yin. Ia membawa kudanya mendaki dan akhirnya menemukan lusinan pondok kayu
bersembunyi di dalam hutan.
Chu
Beijie mulai mendekat, tapi belum cukup dekat ketika beberapa orang melompat
keluar dari sisi jalan. Mereka berteriak, “Berhenti! Apa kau tahu tempat apa
ini? Dan masih berani berkeliaran di sekitarnya?” pedang mereka sudah di
tangan, berkilau dingin. Mereka semua sangat terlatih.
Hal
seperti ini adalah masalah sepele bagi Chu Beijie dan ia tidak peduli sama
sekali. Ia tidak bertahan juga tidak melarikan diri, ia tetap duduk di kudanya
dan melihat sekeliling. Lalu berkata dengan suara pelan, “Beritahu Ze Yin, Chu
Beijie telah tiba.”
“Chu
Beijie?”
“Chu
Beijie dari Dong Lin?”
“Panglima
Zhen Beiwang?”
“Benar,
itu aku.” Sebuah senyuman muncul dari bibir Chu Beijie. “Aku disini untuk
membawa kembali istriku, Bai Pingting.”
Seorang
pria berdarah dingin yang telah memimpin pasukan Dong Lin berperang kemana-mana,
membunuh siapa saja, sekarang berada di hadapan mereka?
Beberapa
orang begitu terkejut dan pedang mereka terjatuh ke tanah.
“Mengapa
kalian menjadi bodoh, cepatlah sampaikan pesanku.” Chu Beijie tetap duduk di
atas kudanya, bersin sekali lalu membuat kudanya melangkah maju.
Semua
orang sangat terkejut melihatnya seperti itu, dan mereka melangkah mundur,
menatap sambil bersiaga. Panglima terkenal ini hampir mengacaukan Panglima
mereka Ze Yin, di pertempuran Kanbu, hampir menyebabkan kehancuran seluruh Bei
Mo.
Seorang
penjaga yang ketakutan, menangis, sebelum ia berbalik untuk melaporkan. Dan
sisanya diam di tempatnya, merasa takut, mengelilingi Chu Beijie dengan senjata
mereka. Semuanya menatap pedang yang tergantung di pinggang Chu Beijie.
Kabar
yang terdengar, begitu pedang Panglima Zhen Beiwang keluar dari sarungnya,
sungai darah pasti mengalir.
Chu
Beijie duduk diatas kudanya. Ia terlihat seperti seorang Panglima yang turun
dari langit, meskipun ia menatap tajam tapi ekspresinya sangat tenang. Seberkas
sinar gembira terlintas di wajahnya.
Pingting aku sudah
tiba.
Apa yang sedang kau
lakukan?
Apa kau sedang
bermain bersama Yangfeng?
Kau pernah
mengatakan kalau Yangfeng juga bermain kecapi dengan hebat. Mungkin kau bisa
mengijinkan Chu Beijie menyaksikan permainan kalian dari samping?
Biarkan aku duduk di
sisimu, menyaksikan jari-jarimu yang ramping mengambil batu hitam dan putih untuk
diletakan di papan permainan. Pemandangan seperti itu akan selalu memuaskanku
dan aku takkan pernah lelah melihatnya.
Penjaga
yang pergi untuk melapor sudah kembali. Ekspresi wajahnya sangat aneh. Ia tidak
berani berdiri di dekat Chu Beijie ketika berkata, “Tuan Besar Zhen Beiwang,
tuan kami Ze Yin ingin menemui anda.”
Chu
Beijie mengangguk. Ia mengikuti seorang penjaga yang berjalan di depannya
menuju gerbang utama. Gerbang sangat tenang dan tak ada seorangpun. Ia tidak
melihat Yangfeng ataupun Ze Yin.
Ia
adalah seorang pemberani tidak takut pada istana Dong Lin ataupun para penjaga
kerajaan atau juga darah ketika ia muda. Ia juga tidak takut dengan kamar gelap
tentu saja.
Ketika
ia turun dari kudanya, ia meletakan tangannya di pedangnya dan berjalan maju.
Ketika
ia melangkah masuk ruangan, ia terkejut. Matanya memutih. Tak jauh dari dinding
putih, di ruangan tamu yang besar, tak ada apaun kecuali sebuah peti mati yang
besar di tengah-tengah.
Ruangan
yang dimasuki Chu Beijie adalah ruangan duka.
Ada
seorang pria dengan ekspresi sangat tenang berdiri di ruangan. Alisnya tebal
dan gelap, dan matanya menatap sangat tajam, “Tuan Besar Zhen Beiwang?”
Chu
Beijie dengan tenang mengangkat kepalanya untuk bertemu tatapan tajamnya,
“Panglima Bei Mo?”
Ia
tiba-tiba mendengar suara tinggi seorang wanita, “Chu Beijie! Dimana Chu
Beijie?”
Chu
Beijie tahu persis suara Pingting. Ia menebak suara itu berasal dari istri Ze
Yin. Ia berkata dengan sedikit keras, “Aku disini.”
Kata-katanya
belum selesai ketika tirai disisi ruangan tersibak. Sebuah sosok mungil berlari
ke tengah ruangan. Wajah Yangfeng sangat pucat dan seperti orang kehilangan
akal ia berniat menusuk dada Chu Beijie.
Meskipun
tindakan Yangfeng tidak terduga, tapi ia tak mungkin bisa melukai Chu Beijie.
Pisau yang dipegangnya belum mengenai dada Chu Beijie ketika Chu Beijie
berhasil menangkap tangan Yangfeng.
Ze
Yin sama sekali tidak mengharapkan Yangfeng akan keluar dengan pisau di tangan.
Dan ia terlambat menyadarinya sehingga wajahnya berubah menjadi gelap, “Berani
sekali kau melukai istriku?” ia melompat untuk melerai.
Chu
Beijie menghentikan Yangfeng dalam satu gerakan, dan ia mengingat kalau
Yangfeng adalah teman baik Pingting, ia tidak berani melakukan apapun lagi.
Tangannya mencengkram pergelangan Yangfeng ringan dan memukulnya mundur dengan
lembut. Yangfeng tak bisa mempertahankan keseimbangannya dan ia hampir
terjatuh.
Syukurlah
Ze Yin berada di dekatnya sehingga ia sempat menahannya. Ia tahu kalau Chu
Beijie sangat kuat dan khawatir kalau Yangfeng akan terluka. Ia segera
bertanya, “Apa kau terluka?”
Yangfeng
menggelengkan kepalanya. Rambutnya berantakan dan matanya merah. Tidak terlihat
jejak penampilannya yang biasa tenang. Ia menoleh pada Chu Beijie dan menatap
tajam padanya, tapi kemudian tiba-tiba ia menangis. Ia menarik lengan Ze Yin
dan memohon, “Tolong bunuh dia! cepatlah bunuh dia untukku!”
Dari
yang Chu Beijie pernah dengar dari Pingting, Yangfeng adalah orang yang selalu hangat
dan sopan. Ia tak penah menyangka, kesan pertama yang dilihatnya dari Yangfeng
adalah seorang wanita gila. Hatinya mulai merasa ragu, tatapannya melihat
berkeliling, dan berhenti di peti mati. Ia merasa gusar, dan untuk pertama
kalinya, ia merasa takut. Ia berbisik, “Dimana Pingting?”
Yangfeng
sepertinya tidak mendengar ucapannya. Ia hanya memukul dada Ze Yin sambil
menangis, “Suamiku, bunuh dia untukku! Dia yang telah membunuh Pingting! Dia
membunuh Pingting!”
Chu
Beijie merasa seperti tersambar petir di kepalanya. Ia maju dua langkah lebar
dan berteriak, “Apa yang kau katakan? Apa yang baru saja kau katakan?”
Teriakannya
seperti auman singa, dan membuat Yangfeng kembali tersadar. Ia berhenti memukul
Ze Yin yang berusaha menenangkannya dan beralih menatap Chu Beijie. Ia berkata
dengan mata melotot seperti hendak mengeluarkan darah dari matanya, “Kau
membunuh Pingting. Kau membencinya dan kau mengirimnya pada He Xia, karena
itulah ia meninggal kesepian di tengah salju.” Setiap kata diucapkannya sambil
mengertakan giginya. Suaranya sangat dingin seperti keluar dari kedalaman dunia
para hantu.
Chu
Beijie mundur selangkah dan berbalik menatap peti mati di tengah ruangan. Ia
memaksakan senyuman yang mustahil. “Mustahil, itu mustahil. Kau berbohong
padaku karena kau kasihan pada Pingting, kau merencanakan semua ini untukku.”
Meskipun ia berkata seperti itu, tapi keringat dingin mengalir di tubuhnya. Ia
merasa seperti terjatuh di es.
Yangfeng
teman baik Pingting dan mereka berdua tumbuh bersama. Chu Beijie telah bertemu
banyak orang dan ia tahu persis kalau perasaan pedih Yangfeng bukan sandiwara.
Ia merasa hawa dingin yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya, menguasai
tubuhnya. Membelah kulitnya dan memotong tulang-tulangnya.
“Kau
bohong. Pingting berada disini, ia sedang bersembunyi.” Chu Beijie tertawa, wajahnya
kacau. Matanya berkedip dan menatap Ze Yin yang sedang memeluk Yangfeng.
Tangannya
memegang pedangnya seperti hendak memotong Ze Yin menjadi serpihan kalau Ze Yin
berkata sedikit saja hal yang tidak menyenangkan.
Ze
Yin tak berkata apapun, ia hanya memeluk istrinya yang menangis. Ia menatap
balik tatapan Chu Beijie.
Tatapan
Chu Beijie, dibalik kejujurannya, kekeraskepalannya dan sedikit rasa takutnya,
ada sedikit pengharapan.
Lalu
di kedalaman matanya, ada kekacauan seperti badai yang mengamuk, dan menjadi
keputusasaan luar biasa.
Ia
bisa melihat, dari Ze Yin yang pernah menjadi musuhnya, sedikit perasaan
simpati.
“Mustahil,
ini mustahil….” Chu Beijie merasa seperti hatinya di tusuk pisau tajam. Ia
berteriak panjang, melangkah mundur beberapa kali dan menoleh ke atas sambil
menangis, “Pingting, Pingting! Cepatlah keluar, aku datang, Chu Beijie sudah
datang!”
“Aku
datang untuk meminta maaf padamu! Kau boleh menghukumku sesukamu! Pingting,
keluarlah!”
Teriakan
mahluk buas yang terluka menguncang hutang dan gunung, menyebabkan salju yang
bertumpuk di pepohonan berjatuhan. Seluruh Pegunungan Songsen menjadi diam
mendengarkan kesedihan Chu Beijie.
Bagaimana
bisa seperti ini? Bagaimana mungkin?
Jari-jari
yang trampil itu, senyum yang tiada tandingnya, harum yang memabukan, dan sosok
yang anggun, bagaimana mungkin bisa menghilang?
Ia
bisa mendengar suara Pingting dengan jelas, suara kecapi dan nyanyiannya
tentang pahlawan dan wanita cantik bertahan dari malapetaka. Ia selalu
menyanyikan tentang kebangkitan dan kejatuhan sebuah kerajaan dan juga prajurit
yang licik. Ia senang bernyanyi tentang keinginannya dan itu adalah hal yang
selalu indah di lihat.
Ia
pasti disini, di gunung, dibalik kabut, awan dan salju. Senyum Pingting selalu
anggun dan sopan. Bola mata hitam Pingting menatapnya dengan tenang, dan di
pikirannya seperti hanya terisi oleh Chu Beijie.
Dimana?
Dimana Pingting berada?
Chu
Beijie berguman sambil menoleh pada peti mati.
“Ia
telah sampai di kaki gunung, tapi bertemu dengan para serigala. Ia hanya….” Ze
Yin memelankan suaranya, “Hanya sedikit lagi untuk sampai.”
Yangfeng
akhirnya bisa tenang. Ia menatap Chu Beijie dengan mata merahnya, dan berguman,
“Ia disini untuk mencariku, aku tahu pasti tentang itu. Ia mengenakan tusuk
rambut giok pemberianku. Ia mendaki gunung Songsen, berjalan sejauh itu untuk
mencariku. Mengapa aku tidak mengirim seseorang lebih cepat? Mengapa? Mengapa…”
ia menengelamkan kepalanya di pundak Ze Yin dan gemetar tak terkendali.
Chu
Beijie melihat peti mati dengan pusing, sepenuhnya kehilangan jiwannya.
Ketika
ia mendekati peti mati, setiap langkah yang dibuatnya sepeti berjalan di atas
awan. Terasa halus dan tidak nyata sama sekali.
Segalanya
seperti mimpi. Peti mati seperti dekat tapi juga terasa sangat jauh. Jarak itu,
walaupun dekat tapi menghabiskan seluruh tenaganya, dan ia sangat berjuang
maju, sedikit lagi sampai.
Dan
akhirnya ia berhasil menyentuh peti mati dan pancaran hawa dingin keluar dari
dalamnya. Menyebar dari jari-jarinya ke hatinya, menyebabkan seorang Tuang
Besar Zhen Beiwang gemetaran.
“Pingting,
kau di dalam sini…” suaranya lembut seperti berasal dari kegelapan peti mati.
Chu
Beijie berniat membuka peti mati, hendak memeluk istrinya tersayang, Nyonya
Besarnya, Bai Pingting miliknya.
Tapi
ketika sepuluh jari-jarinya menyentuh tutupnya, si pemberani Zhen Beiwang tidak
berhasil mengeluarkan tenaganya. Tangan Chu Beijie yang keras karena sering
memegang pedang bergetar. Ia mencoba sangat keras, tapi ia tak bisa berhenti
bergetar meski hanya sesaat.
“Ia
bertemu para serigala, hanya menyisakan pakaiannya, dan…” Tangan Ze Yin
mengepal kuat ketika berbisik, “dan beberapa tulang.”
Setiap
kata yang diucapkan terasa seberat satu ton, menghantam kuat hati Chu Beijie. Lututnya
tak lagi bisa menahan tubuhnya. Ia terjatuh keras ke atas tanah.
Peti
mati dingin dan keras, Chu Beijie dengan hati-hati mendorongnya.
Pingting
tidak seperti itu. Ia selalu mungil dan indah di tengah salju, semu merah
muncul di pipinya. Ia senang menyaksikan bintang di malam hari, dan seperti
seekor kucing selalu senang mencari dadaku yang bidang, datang dan pergi
sesukanya.
“Pingting….”
Chu Beijie merenggangkan kedua lengannya, membuat pelukan sehebatnya.
Aku
datang terlambat, sangat terlambat.
Aku
seharusnya segera kembali di tanggal enam, dan memeluknya erat, Pingting yang
sedang menunggunya. Aku seharusnya memeluknya, tidak membiarkan apapun
menyakitinya dan menjauhkan semua bahaya darinya. Aku seharusnya menjaga
senyumnya, membiarkannya membaca buku di tengah matahari musim dingin, tidur
siang, dan memberikannya kebebasan sepenuhnya sehingga ia bisa dengan nyaman
menjaga anak mereka.
“Menikahlah
denganku.”
“Kenapa?”
“Bukan
hanya karena kau bisa bermain kecapi dan bernyanyi dengan sangat indah, tapi
kau juga memiliki tangan cekatan dan hati seindah emas. Aku lebih baik
memilihmu dibanding semua wanita lainnya.”
“Aku…”
“Ayo
bersumpah pada bulan, jangan pernah berhadapan satu sama lain.”
Tak
pernah berhadapan satu sama lain?
Kemana
perginya sumpah itu?
“Kalau
kau hidup, aku hidup. Kalau kau mati, aku hanya bisa mengikutimu menuju
kematian.”
Senyum
Pingting dan kerutan dahinya seperti melayang di udara, di keharuman
bunga-bunga.
Selalu
hadir dimanapun.
“Apa
Tuan akan pergi berperang?”
“Tuan
tak perlu menjelaskan pada Pingting. Pingting tak peduli apapun lagi, sekarang
hanya Tuan saja yang menjadi perhatian Pingting.”
“Pingting
sudah melewatkan ulang tahunnya sendirian, jadi di hari ulang tahun Tuan,
bisakah kita bersama?”
Chu
Beijie tak bisa memenuhinya dan akhirnya, berdiri sebagai pihak yang berhadapan
dengannya.
Membiarkan
hati Pingting hancur ketika ia menaiki kereta di tengah kilauan sinar
pedang-pedang yang tajam.
Membiarkannya
menuju Yun Chang bersama darah dagingnya, membiarkannya melewati pergunungan
bersalju dengan penderitaan tiada akhir.
Membiarkannya
diserang serigala yang mencabik dagingnya sedikit demi sedikit dan menjilati
tulang-tulangnya.
“Tidak!”
Chu Beijie berteriak dalam kepediahn. Setelah itu ia mengeluarkan pedangnya.
Pedang
berharga milik Tuan Besar Zhen Beiwang yang mampu mengguncang langit,
dilemparkan ke lantai. Pedang itu terjatuh dengan suara keras, yang menimbulkan
sedikit percikan. Chu Beijie perlahan menoleh pada Yangfeng , “Akulah yang
mencelakakan Pingting, silakan, bunuhlah aku.” Chu Beijie tidak berkata apa-apa
lagi dan ia menaikan kepalanya lalu memejamkan matanya.
Yangfeng
terdiam beberapa saat. Ia membebaskan dirinya dari pelukan Ze Yin dan mengambil
pedang Chu Beijie dari lantai. Pedang itu, sangat berat, dan Yangfeng harus
memegangnya dengan kedua tangannya. Meskipun begitu, pedang itu masih bergetar
di kedua tangannya.
Yangfeng
mengarahkan pedang pada leher Chu Beijie, cukup dengan sekali goresan, seorang
Panglima perang terkenal yang ingin disingkirkan oleh setiap negara, Tuan Besar
Zhen Beiwang, akan segera menghilang dari dunia ini.
Cepatlah
Cepatlah…..
Ruangan
duka itu sangat sunyi, hanya terdengar isak tangis Yangfeng. Setiap tetes
sangat besar dan terjatuh ke lantai tak habis-habisnya.
Yangfeng
sangat membenci pria ini dan sama sekali tidak masalah membuat dirinya
membunuhnya. Tapi, ketika pedang ini diarahkan kepada pria ini, mengapa
tubuhnya tak bisa berhenti bergetar.
Pingting, Pingting,
ini Chu Beijie yang telah membuatmu menangis karena menderita dan menghancurkan
hatimu, sekarang berada di ujung pedang yang sedang kupegang.
Mungkinkan pria ini
pernah membuatmu tersenyum bahagia?
“Dunia
ini luas, kemana kau akan pergi?”
“Aku
akan pulang.”
“Pulang?”
“Ada
seseorang yang menungguku.” Pingting tersenyum pahit, kelembutan dan harapan
bersinar di matanya. Ia merapikan rambutnya yang telah dikacaukan angin.
Yangfeng
ingat ketika Pingting berdiri di depan jendela. Arah yang ia lihat adalah Dong
Lin, tempat Zhen Beiwang berada.
Tangan
Yangfeng menggenggam erat pedang yang bergetar, tapi jari-jarinya segera
kehilangan kekuatannya. Pedang itu jatuh kembali ke lantai dengan suara cukup
keras di samping kaki Yangfeng.
Chu
Beijie membuka matanya, terkejut.
Yangfeng
membalas tatapan Chu Beijie dengan dingin. “Aku tidak akan membiarkanmu
mengganggu Pingting di surge. Ia tidak ingin bertemu denganmu.” Tatapannya
Yangfeng jauh lalu berhenti di depan peti mati, “Pingting, aku tahu kau
kelelahan. Sekarang, tak ada seorangpun yang akan menyakitimu lagi.”
Chu
Beijie menatap peti mati, hatinya serasa seperti serpihan debu.
Didalam
sana berbaring wanita yang sangat ia cintai, istrinya dan ibu dari anaknya.
Dalam hidupnya, ia tak pernah benar-benar memperlakukannya dengan baik.
Benar
sekali, memang ia yang telah membunuh Pingting.
Pingting
tak akan pernah memaafkannya di dunia maupun di surge.
Kalau
ia mati, permintaan maafnya hanya akan menimbulkan kebencian, kalau ia hidup,
ia akan dibenci karena meminta jenazahnya.
Kecantikan
yang tiada tandingnya yang ia puja, telah dihancurkan oleh tangannya sendiri.
“Kau
benar…” mata Chu Beijie sangat kosong, seperti patung, ia berdiri perlahan dari
lantai. “Kau benar…” Chu Beijie menatap peti mati dengan penuh keinginan, tapi
tak punya keberanian lagi untuk menyentuhnya dengan tangannya yang bergetar.
Apa
haknya untuk boleh menyentuhnya?
Chu
Beijie berbalik, matanya tak lagi melihat apapun, tak melihat Yangfeng, tak
melihat Ze Yin, juga tak melihat jalan.
Ia
melupakan pedang berharganya, melupakan segalanya, ketika ia berjalan keluar
gerbang. Tatapannya terkunci ke depan, ia berjalan menuju kepedalaman hutan di
gunung. Kudanya sedang mengunyah rumput di luar, meringkik sekali lalu
mengikuti di belakang Chu Beijie. Ia tidak mengerti, mengapa Tuannya seperti
telah kehilangan jiwanya.
Para
penjaga Ze Yin menyaksian Chu Beijie dan kudanya pergi dan bertanya dengan
suara pelan, “Panglima, orang ini musuh utama Bei Mo, bukankah sebaiknya kita
mengambil kesempatan ini untuk…”
Ze
Yin menyaksikan punggung Chu Beijie dan menggelengkan kepalanya sambil
menghela, “Ia bukan lagi musuh siapapun.”
Tuan
Zhen Beiwang yang terkenal sudah mati.
Hatinya
sudah mati.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar