Jumat, 24 Februari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.49

-- Volume 2 chapter 49 --



“Panglima! Panglima! Sadarlah!”

Ruohan merasa kepalanya hampir pecah ketika ia membuka matanya. Tenda utama telah terang oleh cahaya lilin. Ia melihat beberapa wajah Jendralnya yang sangat khawatir dengan luka kepalanya.

Dimana Chu Beijie?

Ruohan memegang kepalanya ketika ia memaksa bangun. “Dimana dia? Apa sudah tertangkap?”

Semua orang saling melihat satu sama lain. Sen Rong mendorong semua orang dan maju ke depan. Suaranya sedikit berguman, “Kami mendengar Panglima memanggil dan kami segera datang kemari. Ketika kami datang disekitar sangat gelap, kami begitu khawatir apakah anda selamat atau tidak, saat itu begitu kacau dan kami sangat panik. Begitu lilin-lilin sudah menyala, kami mencari ke sekeliling tapi tidak menemukan jejak si pembunuh.”

Ruohan menghela napas dan memukul kakinya. “Berengsek, sayang sekali!” tapi ia segera ingat, Chu Beijie pasti tidak mudah di tangkap. Ia pasti sudah memikirkan bagaimana untuk pergi sebelum memasuki perkemahan.

Huacan seorang Jendral yang baru naik pangkat. Ia merendahkan suaranya untuk melapor, “Lima belas penjaga pribadi Panglima telah terbunuh. Sepertinya serangan dadakan, mereka terbunuh dengan satu goresan di leher. Kemampuan orang ini sungguh mengerikan.”

Mayat para penjaga itu telah di periksa sendiri oleh para Jendral. Mereka semua sepakat kalau kemampuan musuh sungguh luar biasa, sehingga setiap orang menampilkan wajah takut.

Sen Rong menggelengkan kepalanya. “Empat negara belum pernah mendengar ada pembunuh yang sehebat itu. Mungkin sekarang saatnya untuk merapikan pasukan Bei Mo kita. Apa yang terjadi kalau sampai sesuatu menimpa Panglima dan pasukan kita kehilangan penasihat utama?”

“Benar. Siapa si pembunuh itu?”

Ruohan setelah diam agak lama, akhirnya menjawab, “Chu Beijie.”

Di dalam tenda yang agak luas itu, tiba-tiba terjadi kesunyian. Semua Jendral saling bertukar pandang, tidak tahu harus berkata apa.

Akhirnya yang pertama beraksi adalah Sen Rong, ia menarik napas panjang dan berkata, “Orang itu sungguh Panglima Zhen Beiwang?”

Nama Chu Beijie bagi mereka seperti mimpi buruk.

Di kota Kanbu, Chu Beijie hampir menghancurkan negara mereka. Orang itu telah mengendalikan strategi musuh dan kemampuannya menyusun rencana sungguh mengejutkan. Terlebih lagi kemampuan bela dirinya sangat menakutkan.

Saat ini, dengan menyusup ke perkemahan musuh, Chu Beijie sekali lagi menunjukan keberanian dan kehebatannya.

Siapa yang tidak sakit kepala memiliki musuh seperti itu?

“Untuk apa orang itu datang kemari?”

“Aku tidak yakin.” Ekspresi Ruohan sangat kacau. “Dia ingin aku menyampaikan pesan pada Raja.” Ruohan berusaha mengingat-ingat. Meskipun sangat memalukan dikalahkan dengan satu pukulan, masalah militer tak bisa dianggap remeh, jadi Ruohan berusaha keras untuk menceritakan segalanya dengan jujur.

Semua orang bisa mengerti, karena si penyusup adalah Chu Beijie. Mereka sama sekali tidak meragukan ucapan Ruohan. Ketika mereka mendengar, Chu Beijie telah menyatakan akan membunuh semua Jendral Bei Mo, satu per satu, mereka semua menjadi sangat marah. Mereka dengan suara keras, mengutuk Chu Beijie.

Ruohan lalu berkata, “Ucapan Chu Beijie tak mungkin tanpa alasan. Kalau penjagaan perkemahan kita tidak kuat, kita tidak akan sanggup menahan orang-orang dengan kemampuan seperti dia di kemudian hari.”

Semua orang menjadi diam mendengarnya.

Pasukan Bei Mo, sangat kurang peraturan dan pelatihan, dibanding pasukan Dong Lin. Mereka semua tahu itu dengan sangat jelas.

Pasukan yang dibentuk oleh Chu Beijie hanya mungkin ditandingi oleh He Xia.

Ruohan melihat ke luar tenda. Langit masih belum terang. Hanya ada segaris warna jinga terang membelah awan abu-abu.

“Keberangkatan kita tidak perlu ditunda. Kita pergi besok, kalian bisa bersiap. Biarkan aku berpikir sejenak.” Ketika semua orang pergi, Ruohan memanggil Sen Rong, “Tetaplah disini.”

Sen Ron mengangguk, duduk dan berpikir. Ia berkata dengan wajah pucat, “Panglima, ada satu hal yang tak bisa kumegerti. Chu Beijie berniat membunuh semua Jendral Bei Mo dan berhasil menerobos perkemahan, tapi kenapa ia hanya menginginkan Panglima untuk meneruskan pesan dan tidak memulai rencananya?”

Ruohan menjawab, “Aku juga berpikir kalau ini aneh. Melihat wajahnya, ia sangat yakin dengan kemampuannya dan sangat sombong. Ia segera mengancam akan membunuh seluruh Jendral Bei Mo, satu per satu, dimulai dari pangkat tertinggi, sampai Bei Mo tidak lagi memiliki Jendral satupun.”

“Tapi, Panglima adalah pemilik pangkat tertinggi di Bei Mo, kalau Chu Beijie berniat demikian mengapa ia membiarkan anda hidup?”

Ekspresi Ruohan tiba-tiba berubah, ia segera berdiri dari kursinya. “Berengsek, aku tahu!”

Sen Rong terkejut, “Apa yang anda ketahui Panglima?”

Ekspresi Ruohan tenang dan suaranya dalam. Ia berkata, “Panglima, Panglima Ze Yin.”

Kali ini, Sen Rong juga menjadi pucat. “Benar, Chu Beijie berniat membunuh Panglima Ze Yin terlebih dahulu.”

Ze Yin pilar utama militer Bei Mo. Meskipun ia telah pensiun dan hidup terpencil, martabatnya di dalam pasukan tidak berkurang, seseorang yang seperti Chu Beijie dalam pasukannya.

Kalau berita terbunuhnya Ze Yin oleh Chu Beijie tersebar ke seluruh negara, maka moral militer Bei Mo akan jatuh dan akan mudah dikalahkan.

Sen Rong juga salah satu yang mengikuti Ze Yin sejak lama. Ia menjadi khawatir tentang mantan Panglimanya. Ia mengenggam tangannya dengan gugup, bertanya, “Apa yang harus kita lakukan? Kita tidak bisa diam saja mengetahui masalah hidup mati Panglima Ze Yin.”

“Ze Yin adalah petarung terhebat di Bei Mo dan memiliki para pengawal setia di sisinya. Aku hanya takut kalau Chu Beijie entah bagaimana mampu menyelinap dan berhasil melaksanakan niatnya.”

“Kita harus segera memperingatkan Panglima Ze Yin, agar ia bersiap dengan kedatangan Chu Beijie.” Sen Rong tiba-tiba teringat sesuatu yang membuatnya sangat cemas. “Tak seorangpun yang mengetahui lokasi terpencil Panglima setelah ia mengundurkan diri, kita harus mengirim seseorang segera untuk menemukannya dan memperingatkannya. Chu Beijie menguasai seluruh militer Dong Lin dan memiliki banyak mata-mata. Kita tak bisa boleh membiarkan dia menemukan tempat Panglima Ze Yin sebelum kita.”

Ruohan merasa yakin dan ia tersenyum, “Tak perlu khawatir, aku tahu. Aku akan menulis surat sekarang. Panglima Ze Yin bagaimanapun adalah seorang pahlawan, selama ia cukup waktu untuk membuat persiapan, ia tidak akan dikalahkan Chu Beijie.”

Begitu hari mulai terang, seekor kuda berlari cepat, keluar dari perkemahan Bei Mo, mengarah lurus ke arah gunung Songsen.

Chu Beijie yang telah menunggu lama di rerumputan bukit sebelah menyaksikan punggung si kurir yang sudah mengecil, bergerak sangat cepat di kejauhan. Ia dengan tenang bangun dan menaiki kuda kesayangannya. “Waktunya berpacu. Kita akan menemukan majikan wanitamu.”

Ia mengarahkan kudanya ke gunung, dan menyentakan tali kekang dengan tenang.

Kudanya meringkik, dan mengerakkan ke empat kakinya menjejak debu kuning, mengejar prajurit si pengirim pesan.

Menilai dari arah tujuan si prajurit, seperti dugaannya, Ze Yin dan Yangfeng berada di salah satu gunung, pegunungan Songsen.

Pingting, kau sering menyebut nama teman baikmu Yangfeng padaku.

Kalau kediamannya dekat Yun Chang maka kau pasti akan menuju kesana, benarkan?

Apa kau sudah bertemu Yangfeng? Atau masih dalam perjalanan?

Chu Beijie pasti bisa. Aku sudah menerobos beberapa pos pemeriksaan Yun Chang, tapi sama sekali tidak menemukan jejakmu. Meskipun pedang di tanganku sangat tajam, tapi tak bisa membuatmu keluar dari persembunyianmu di dalam lautan salju ini.

Pingting tolong hentikan langkahmu, jangan berlari lagi. Tolong ingat teman baikmu, Yangfeng, cari dan temukan dia.

Aku akan menunggumu disana, menangkapmu, memelukmu, menciummu dan meminta maaf padamu. Kumohon, maafkan aku, karena membuatmu merasakan kepedihan berturut-turut. Aku akan berusaha untuk cinta kita, agar menjadi sekuat gunung.

Aku sudah mengerti apa kekuatan terbesar, ujung dunia dan apapun itu, jangan pernah pernah saling berhadapan lagi
--
Ibukota Yun Chang penuh kegembiraan dan nyanyian setiap malam. Kembang api berwarna-warni menghias langit dengan dentuman keras, mewakili wajah seluruh rakyat ibukota.

Tuan Putri dan Suaminya telah tiba.

Kereta mewah itu telah terbuka tirainya. Yaotian tersenyum bahagia dan mendekap di lengan He Xia. Pemandangan hangat dan menyentuh itu sangat terkesan di hati rakyat yang melihatnya.

Dibelakang mereka berbaris ribuan prajurit Yun Chang, selamat kembali ke rumah mereka. Para prajurit itu berangkat dengan persiapan mati di medan pertempuran, langit masih berbaik hati, ternyata perang dibatalkan.

Apa yang menunggu mereka di ibukota adalah senyum gembira dan kembang api yang menyilaukan.

Dan satu lagi, arak yang enak.

“Cangkir ini untuk menghormati Pejabat Senior.”

Para penari berpakaian indah berwarna-warni melintasi aula diantara sekitar ratusan para pejabat yang setengah mabuk dan tertawa lepas. He Xia tertawa sopan, ia meneguk habis cangkir demi cangkir dari para Pejabat yang bersulang untuknya. Lalu ia membawa gucinya sendiri dan melangkah mendekati Gui Changqin yang duduk disebelahnya, tersenyum sepanjang waktu.

Gui Changqing sedikit terkejut dengan perbuatan He Xia, ia segera mengangkat cangkirnya sendiri, “Aku tidak berani, kita masih bersulang untuk Suami Ratu. Anda telah memimpin pasukan melewati perjalanan yang begitu jauh, pasti sangat berat.”

He Xia meminum arak begitu banyak, wajahnya yang tampan sedikit memerah. Disudut matanya yang gelap sama sekali tidak menyembunyikan rahasia, ketika ia berkata, “Pejabat Senior berlebihan. Memimpin pasukan ke medan perang adalah hal wajar bagi bawahan. Pejabat Seniorlah yang sebenarnya telah bekerja keras, menyelesaikan permasalahan dari ibukota.”

Gui Changqing tak pernah minum-minum, tapi begitu keadaan perang telah menghilang, sungguh kabar yang mengembirakan yang bahkan orang yang tidak suka minumpun akan merayakannya dengan beberapa cangkir arak. Ia mengumpulkan seluruh harga dirinya dan mengangkat cangkirnya, “Baiklah, secangkir untuk Suami Ratu. Aku juga berharap Tuan Putri Yaotian diberkati umur panjang beserta keturunannya.”

He Xia tertawa mendengarnya, “Sungguh harapan yang jujur, terima kasih Pejabat Senior!” dan menghabiskan araknya dengan sekali teguk.

“Suami Ratu.”

“Luyi?” He Xia berbalik dan melihat pelayan pribadi Yaotian. He Xia melihat sekeliling para pejabat yang berisik, sibuk masing-masing, lalu ia menarik Luyi ke samping dan berkata dengan suara rendah, “Apa Tuan Putri memanggilku?”

Luyi mengelengkan kepalanya, tersenyum kecil dan berkata, “Tidak, Tuan Putri berkata padaku untuk menyampaikan pada anda, kalau, ia telah terguncang keras sepanjang perjalanan dan sangat kelelahan. Putri sudah mandi dan hendak tidur, Putri berharap anda menemuinya besok. Putri juga berpesan agar anda memperhatikan kesehatan anda dan tidak minum arak terlalu banyak. Karena anda juga sudah melakukan perjalanan sejak lama, terlalu banyak arak bisa merusak tubuh.”

He Xia tertawa, “Aku khawatir tak bisa menolak sampai tetes arak terakhir. Tapi karena Putri sudah memberikan perintah, kurasa ini waktu yang tepat untuk meminta mereka pulang dan beristirahat.”

Lalu He Xia menggunakan ucapan Yaotian untuk memecah kebisingan, dan bagi mereka yang masih ingin merayakan, mereka bsia meninggalkan istana dan pergi menuju Kediaman Suami Ratu.

Pintu gerbang utama Kediaman Suami Ratu terbuka lebar dan banyak pelayan menunggu di luar. Dongzhuo memimpin mereka dan lehernya sangat tegang. Ia melihat sosok berayun di kejauhan dan suara langkah kaki kuda yang semakin dekat. Beberapa orang lalu maju ke depan.

“Selamat datang, Suami Ratu!”

“Selamat datang, Suami Ratu!”

Kuda berhenti dan Dongzhuo segera menghampiri untuk mengambil alih tali kekang. Ia menegakkan kepalanya, “Tuan, anda sudah kembali.”

“Benar.” He Xia menjawab sebelum turun dari kudanya. Ketika ia hendak berjalan ke pintu, ia melihat beberapa pelayan wanita telah melangkah maju dan memberi salam padanya. Alis matanya terangkat, “Mengapa begitu banyak orang di depan pintu? Kalian semua pergilah.”

Dongzhuo memberikan tali kekang pada seorang pelayan lain disampingnya. Ia membubarkan semuanya dan mengikuti He Xia.

Langkah He Xia lebar-lebar dan tidak berniat menunggu. Dongzhuo segera berlari mengejarnya. He Xia berjalan menuju halaman belakang dan berputar di sekitar dua atau tiga koridor dan akhirnya tiba di ruangan yang pernah di tinggali Pingting. Ia berhenti, berdiri di depan pintu dan diam agak lama.

Dongzhuo menyaksikan He Xia menatap pintu kamar Pingting, tegak tak bergerak seperti patung kayu. Ketika melihatnya, Dongzhuo merasa hancur.

Dongzhuo berpikir kalau He Xia telah kelihangan rasa belas kasihannya, karena itulah ketika Yaotian menentangnya, ia telah menutup matanya dan membiarkan Pingting pergi. Tapi, melihat He Xia seperti ini, ia sangat sangat menyesal.

Dongzhuo bersalah sekaligus sedih. Ia akhirnya berjalan mendekati He Xia dan berkata pelan, “Tuan.”

He Xia mengembalikan kesadarannya ketika mendengar dirinya dipanggil. Ia agak bingung ketika menatap Dongzhuo tapi akhirnya He Xia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan.

Kreeek…..

Sebuah suara terdengar dari pintu yang bergerak. Perabotan dalam ruangan satu per satu terlihat di matanya.

Bunga di jendela sudah mulai layu, tempat tidur sudah dirapikan dan dibersihkan, jubah musim dingin diletakan di sampingnya. Ada sepasang sepatu berbordir indah di kaki tempat tidur. Dan dimeja hias, sebuah cermin perunggu, disampingnya sebuah kotak kayu indah yang ia pesan khusus dibuat untuk Pingting. Kecapi, masih di tempatnya, bertengger tenang di atas meja, tapi sudah berselimut selapis tipis debu.

He Xia melangkah masuk ke ruangan, langkah kakinya ringan, seperti takut merusak sesuatu. Ia duduk di kursi yang sedingin es, melepaskan pedang berharganya dari pinggangnya dan meletakannya di atas meja.

Ia telah menggunakan pedang itu untuk berlatih.

Disini, di kediaman Suami Ratu ini.

Pedangnya dengan lembut keluar dari sarungnya seperti naga memasuki air, meluncur dengan halus, membuat air beriak lalu mengambang diatasnya seperti selimut kapas.

Pingting berada disana. Ia duduk di pavilium, menyaksikan dengan diam.

Mata Pingting seperti asap tipis dan jari-jarinya mulai memainkan lagu “Sembilan Hari.” Begitu irama kecapi terdengar, ia berpikir kalau segala sesuatunya tak pernah berubah.

Ia berharap kalau hari itu tak pernah berlalu, musim tidak berganti dan kematian tidak nyata.

Ternyata ia salah.

Di kedalaman mata He Xia, terbersit sinar dingin. Ia benar-benar salah, hari telah berlalu dan musim tidak bergerak terbalik.

Rencana dan kemampuannya tidak cukup bagus.

Ia telah dengan susah payah menggunakan seluruh tenaganya untuk melindungi ilusi masa lalunya, tapi hanya dengan sebuah perintah ringan tak berhati, dari Tuan Putri, menyapu bersih semuanya.

Yaotian, istrinya, penguasa Yun Chang.

He Xia sungguh merasa pedih menatap kamar yang telah kehilangan Pingting dan Kediaman Suami Ratu yang telah kehilangan kehangatan.

Selama Yaotian masih ada, ia hanyalah seorang Suami Ratu.

Seorang suami yang tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan pelayannya sendiri.

“Tuan, kecapi ini…. Apa sebaiknya kurapikan?”

“Tak perlu.” He Xia menatap kecapi yang berdebu dan sudut bibirnya sedikit bergetar. “Biarkan, agar ia bisa menunggu Pingting kembali.”

Pingting pasti akan kembali, kembali ke sisiku.

Aku tak akan membiarkan siapapun mencuri milikku dan tak akan mengijinkan seorangpun menodai nama Jin Anwang lagi.

Aku tidak akan membiarkan Kerajaan Dong Lin dan Gui Changqing, si angsa tua itu mengikat tangan dan kakiku.

Aku tak akan membiarkan ambisiku hilang dibawah belas kasihan atau takhta Yaotian.

Tak seorangpun bisa memperlakukanku seperti ini.
--
Chu Beijie sekarang sudah sampai di kaki gunung Songsen, duduk diatas kudanya, setelah mengekor di belakang si kurir. Ia menatap ke atas melihat gunung yang terlihat gagah, misterius, cantik, tertutup salju putih tidak seperti biasanya.

Yangfeng berada di pegunungan ini.

Pingting juga seharusnya berada disini.

Mungkin ia sedang bermain kecapi, atau mungkin sedang membaca, atau bernyanyi dengan pelan tentang pahlawan dan wanita cantik. Ketika ia menatap kembali ke arah gunung, hatinya jadi berdebar-debar.

Ia sangat ingin, segera melihat Pingting.

Ia sangat rindu ingin bertemu. kerinduannya di dalam mimpi tidak cukup untuk diutarakan betapa rindu perasaannya seluruhnya. Tidak mudah menahan kegelisahannya.

Si kurir telah di perintahkan langsung oleh Ruohan, dan sangat hati-hati dalam perjalanannya. Ia selalu menoleh ke belakang berkali-kali khawatir kalau di ikuti, tapi tak peduli seberapa hebatnya ia, tak mungkin ia bisa mengetahui seseorang yang begitu ahli mengekor seperti Chu Beijie.

Chu Beijie menyangsikannya dari kejauhan sampai ia mencapai gunung tempat kediaman Ze Yin. Ia membawa kudanya mendaki dan akhirnya menemukan lusinan pondok kayu bersembunyi di dalam hutan.

Chu Beijie mulai mendekat, tapi belum cukup dekat ketika beberapa orang melompat keluar dari sisi jalan. Mereka berteriak, “Berhenti! Apa kau tahu tempat apa ini? Dan masih berani berkeliaran di sekitarnya?” pedang mereka sudah di tangan, berkilau dingin. Mereka semua sangat terlatih.

Hal seperti ini adalah masalah sepele bagi Chu Beijie dan ia tidak peduli sama sekali. Ia tidak bertahan juga tidak melarikan diri, ia tetap duduk di kudanya dan melihat sekeliling. Lalu berkata dengan suara pelan, “Beritahu Ze Yin, Chu Beijie telah tiba.”

“Chu Beijie?”

“Chu Beijie dari Dong Lin?”

“Panglima Zhen Beiwang?”

“Benar, itu aku.” Sebuah senyuman muncul dari bibir Chu Beijie. “Aku disini untuk membawa kembali istriku, Bai Pingting.”

Seorang pria berdarah dingin yang telah memimpin pasukan Dong Lin berperang kemana-mana, membunuh siapa saja, sekarang berada di hadapan mereka?

Beberapa orang begitu terkejut dan pedang mereka terjatuh ke tanah.

“Mengapa kalian menjadi bodoh, cepatlah sampaikan pesanku.” Chu Beijie tetap duduk di atas kudanya, bersin sekali lalu membuat kudanya melangkah maju.

Semua orang sangat terkejut melihatnya seperti itu, dan mereka melangkah mundur, menatap sambil bersiaga. Panglima terkenal ini hampir mengacaukan Panglima mereka Ze Yin, di pertempuran Kanbu, hampir menyebabkan kehancuran seluruh Bei Mo.

Seorang penjaga yang ketakutan, menangis, sebelum ia berbalik untuk melaporkan. Dan sisanya diam di tempatnya, merasa takut, mengelilingi Chu Beijie dengan senjata mereka. Semuanya menatap pedang yang tergantung di pinggang Chu Beijie.

Kabar yang terdengar, begitu pedang Panglima Zhen Beiwang keluar dari sarungnya, sungai darah pasti mengalir.

Chu Beijie duduk diatas kudanya. Ia terlihat seperti seorang Panglima yang turun dari langit, meskipun ia menatap tajam tapi ekspresinya sangat tenang. Seberkas sinar gembira terlintas di wajahnya.

Pingting aku sudah tiba.

Apa yang sedang kau lakukan?

Apa kau sedang bermain bersama Yangfeng?

Kau pernah mengatakan kalau Yangfeng juga bermain kecapi dengan hebat. Mungkin kau bisa mengijinkan Chu Beijie menyaksikan permainan kalian dari samping?

Biarkan aku duduk di sisimu, menyaksikan jari-jarimu yang ramping mengambil batu hitam dan putih untuk diletakan di papan permainan. Pemandangan seperti itu akan selalu memuaskanku dan aku takkan pernah lelah melihatnya.

Penjaga yang pergi untuk melapor sudah kembali. Ekspresi wajahnya sangat aneh. Ia tidak berani berdiri di dekat Chu Beijie ketika berkata, “Tuan Besar Zhen Beiwang, tuan kami Ze Yin ingin menemui anda.”

Chu Beijie mengangguk. Ia mengikuti seorang penjaga yang berjalan di depannya menuju gerbang utama. Gerbang sangat tenang dan tak ada seorangpun. Ia tidak melihat Yangfeng ataupun Ze Yin.

Ia adalah seorang pemberani tidak takut pada istana Dong Lin ataupun para penjaga kerajaan atau juga darah ketika ia muda. Ia juga tidak takut dengan kamar gelap tentu saja.

Ketika ia turun dari kudanya, ia meletakan tangannya di pedangnya dan berjalan maju.

Ketika ia melangkah masuk ruangan, ia terkejut. Matanya memutih. Tak jauh dari dinding putih, di ruangan tamu yang besar, tak ada apaun kecuali sebuah peti mati yang besar di tengah-tengah.

Ruangan yang dimasuki Chu Beijie adalah ruangan duka.

Ada seorang pria dengan ekspresi sangat tenang berdiri di ruangan. Alisnya tebal dan gelap, dan matanya menatap sangat tajam, “Tuan Besar Zhen Beiwang?”

Chu Beijie dengan tenang mengangkat kepalanya untuk bertemu tatapan tajamnya, “Panglima Bei Mo?”

Ia tiba-tiba mendengar suara tinggi seorang wanita, “Chu Beijie! Dimana Chu Beijie?”

Chu Beijie tahu persis suara Pingting. Ia menebak suara itu berasal dari istri Ze Yin. Ia berkata dengan sedikit keras, “Aku disini.”

Kata-katanya belum selesai ketika tirai disisi ruangan tersibak. Sebuah sosok mungil berlari ke tengah ruangan. Wajah Yangfeng sangat pucat dan seperti orang kehilangan akal ia berniat menusuk dada Chu Beijie.

Meskipun tindakan Yangfeng tidak terduga, tapi ia tak mungkin bisa melukai Chu Beijie. Pisau yang dipegangnya belum mengenai dada Chu Beijie ketika Chu Beijie berhasil menangkap tangan Yangfeng.

Ze Yin sama sekali tidak mengharapkan Yangfeng akan keluar dengan pisau di tangan. Dan ia terlambat menyadarinya sehingga wajahnya berubah menjadi gelap, “Berani sekali kau melukai istriku?” ia melompat untuk melerai.

Chu Beijie menghentikan Yangfeng dalam satu gerakan, dan ia mengingat kalau Yangfeng adalah teman baik Pingting, ia tidak berani melakukan apapun lagi. Tangannya mencengkram pergelangan Yangfeng ringan dan memukulnya mundur dengan lembut. Yangfeng tak bisa mempertahankan keseimbangannya dan ia hampir terjatuh.

Syukurlah Ze Yin berada di dekatnya sehingga ia sempat menahannya. Ia tahu kalau Chu Beijie sangat kuat dan khawatir kalau Yangfeng akan terluka. Ia segera bertanya, “Apa kau terluka?”

Yangfeng menggelengkan kepalanya. Rambutnya berantakan dan matanya merah. Tidak terlihat jejak penampilannya yang biasa tenang. Ia menoleh pada Chu Beijie dan menatap tajam padanya, tapi kemudian tiba-tiba ia menangis. Ia menarik lengan Ze Yin dan memohon, “Tolong bunuh dia! cepatlah bunuh dia untukku!”

Dari yang Chu Beijie pernah dengar dari Pingting, Yangfeng adalah orang yang selalu hangat dan sopan. Ia tak penah menyangka, kesan pertama yang dilihatnya dari Yangfeng adalah seorang wanita gila. Hatinya mulai merasa ragu, tatapannya melihat berkeliling, dan berhenti di peti mati. Ia merasa gusar, dan untuk pertama kalinya, ia merasa takut. Ia berbisik, “Dimana Pingting?”

Yangfeng sepertinya tidak mendengar ucapannya. Ia hanya memukul dada Ze Yin sambil menangis, “Suamiku, bunuh dia untukku! Dia yang telah membunuh Pingting! Dia membunuh Pingting!”

Chu Beijie merasa seperti tersambar petir di kepalanya. Ia maju dua langkah lebar dan berteriak, “Apa yang kau katakan? Apa yang baru saja kau katakan?”

Teriakannya seperti auman singa, dan membuat Yangfeng kembali tersadar. Ia berhenti memukul Ze Yin yang berusaha menenangkannya dan beralih menatap Chu Beijie. Ia berkata dengan mata melotot seperti hendak mengeluarkan darah dari matanya, “Kau membunuh Pingting. Kau membencinya dan kau mengirimnya pada He Xia, karena itulah ia meninggal kesepian di tengah salju.” Setiap kata diucapkannya sambil mengertakan giginya. Suaranya sangat dingin seperti keluar dari kedalaman dunia para hantu.

Chu Beijie mundur selangkah dan berbalik menatap peti mati di tengah ruangan. Ia memaksakan senyuman yang mustahil. “Mustahil, itu mustahil. Kau berbohong padaku karena kau kasihan pada Pingting, kau merencanakan semua ini untukku.” Meskipun ia berkata seperti itu, tapi keringat dingin mengalir di tubuhnya. Ia merasa seperti terjatuh di es.

Yangfeng teman baik Pingting dan mereka berdua tumbuh bersama. Chu Beijie telah bertemu banyak orang dan ia tahu persis kalau perasaan pedih Yangfeng bukan sandiwara. Ia merasa hawa dingin yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya, menguasai tubuhnya. Membelah kulitnya dan memotong tulang-tulangnya.

“Kau bohong. Pingting berada disini, ia sedang bersembunyi.” Chu Beijie tertawa, wajahnya kacau. Matanya berkedip dan menatap Ze Yin yang sedang memeluk Yangfeng.

Tangannya memegang pedangnya seperti hendak memotong Ze Yin menjadi serpihan kalau Ze Yin berkata sedikit saja hal yang tidak menyenangkan.

Ze Yin tak berkata apapun, ia hanya memeluk istrinya yang menangis. Ia menatap balik tatapan Chu Beijie.

Tatapan Chu Beijie, dibalik kejujurannya, kekeraskepalannya dan sedikit rasa takutnya, ada sedikit pengharapan.

Lalu di kedalaman matanya, ada kekacauan seperti badai yang mengamuk, dan menjadi keputusasaan luar biasa.

Ia bisa melihat, dari Ze Yin yang pernah menjadi musuhnya, sedikit perasaan simpati.

“Mustahil, ini mustahil….” Chu Beijie merasa seperti hatinya di tusuk pisau tajam. Ia berteriak panjang, melangkah mundur beberapa kali dan menoleh ke atas sambil menangis, “Pingting, Pingting! Cepatlah keluar, aku datang, Chu Beijie sudah datang!”

“Aku datang untuk meminta maaf padamu! Kau boleh menghukumku sesukamu! Pingting, keluarlah!”

Teriakan mahluk buas yang terluka menguncang hutang dan gunung, menyebabkan salju yang bertumpuk di pepohonan berjatuhan. Seluruh Pegunungan Songsen menjadi diam mendengarkan kesedihan Chu Beijie.

Bagaimana bisa seperti ini? Bagaimana mungkin?

Jari-jari yang trampil itu, senyum yang tiada tandingnya, harum yang memabukan, dan sosok yang anggun, bagaimana mungkin bisa menghilang?

Ia bisa mendengar suara Pingting dengan jelas, suara kecapi dan nyanyiannya tentang pahlawan dan wanita cantik bertahan dari malapetaka. Ia selalu menyanyikan tentang kebangkitan dan kejatuhan sebuah kerajaan dan juga prajurit yang licik. Ia senang bernyanyi tentang keinginannya dan itu adalah hal yang selalu indah di lihat.

Ia pasti disini, di gunung, dibalik kabut, awan dan salju. Senyum Pingting selalu anggun dan sopan. Bola mata hitam Pingting menatapnya dengan tenang, dan di pikirannya seperti hanya terisi oleh Chu Beijie.

Dimana? Dimana Pingting berada?

Chu Beijie berguman sambil menoleh pada peti mati.

“Ia telah sampai di kaki gunung, tapi bertemu dengan para serigala. Ia hanya….” Ze Yin memelankan suaranya, “Hanya sedikit lagi untuk sampai.”

Yangfeng akhirnya bisa tenang. Ia menatap Chu Beijie dengan mata merahnya, dan berguman, “Ia disini untuk mencariku, aku tahu pasti tentang itu. Ia mengenakan tusuk rambut giok pemberianku. Ia mendaki gunung Songsen, berjalan sejauh itu untuk mencariku. Mengapa aku tidak mengirim seseorang lebih cepat? Mengapa? Mengapa…” ia menengelamkan kepalanya di pundak Ze Yin dan gemetar tak terkendali.

Chu Beijie melihat peti mati dengan pusing, sepenuhnya kehilangan jiwannya.

Ketika ia mendekati peti mati, setiap langkah yang dibuatnya sepeti berjalan di atas awan. Terasa halus dan tidak nyata sama sekali.

Segalanya seperti mimpi. Peti mati seperti dekat tapi juga terasa sangat jauh. Jarak itu, walaupun dekat tapi menghabiskan seluruh tenaganya, dan ia sangat berjuang maju, sedikit lagi sampai.

Dan akhirnya ia berhasil menyentuh peti mati dan pancaran hawa dingin keluar dari dalamnya. Menyebar dari jari-jarinya ke hatinya, menyebabkan seorang Tuang Besar Zhen Beiwang gemetaran.

“Pingting, kau di dalam sini…” suaranya lembut seperti berasal dari kegelapan peti mati.

Chu Beijie berniat membuka peti mati, hendak memeluk istrinya tersayang, Nyonya Besarnya, Bai Pingting miliknya.

Tapi ketika sepuluh jari-jarinya menyentuh tutupnya, si pemberani Zhen Beiwang tidak berhasil mengeluarkan tenaganya. Tangan Chu Beijie yang keras karena sering memegang pedang bergetar. Ia mencoba sangat keras, tapi ia tak bisa berhenti bergetar meski hanya sesaat.

“Ia bertemu para serigala, hanya menyisakan pakaiannya, dan…” Tangan Ze Yin mengepal kuat ketika berbisik, “dan beberapa tulang.”

Setiap kata yang diucapkan terasa seberat satu ton, menghantam kuat hati Chu Beijie. Lututnya tak lagi bisa menahan tubuhnya. Ia terjatuh keras ke atas tanah.

Peti mati dingin dan keras, Chu Beijie dengan hati-hati mendorongnya.

Pingting tidak seperti itu. Ia selalu mungil dan indah di tengah salju, semu merah muncul di pipinya. Ia senang menyaksikan bintang di malam hari, dan seperti seekor kucing selalu senang mencari dadaku yang bidang, datang dan pergi sesukanya.

“Pingting….” Chu Beijie merenggangkan kedua lengannya, membuat pelukan sehebatnya.

Aku datang terlambat, sangat terlambat.

Aku seharusnya segera kembali di tanggal enam, dan memeluknya erat, Pingting yang sedang menunggunya. Aku seharusnya memeluknya, tidak membiarkan apapun menyakitinya dan menjauhkan semua bahaya darinya. Aku seharusnya menjaga senyumnya, membiarkannya membaca buku di tengah matahari musim dingin, tidur siang, dan memberikannya kebebasan sepenuhnya sehingga ia bisa dengan nyaman menjaga anak mereka.

“Menikahlah denganku.”

“Kenapa?”

“Bukan hanya karena kau bisa bermain kecapi dan bernyanyi dengan sangat indah, tapi kau juga memiliki tangan cekatan dan hati seindah emas. Aku lebih baik memilihmu dibanding semua wanita lainnya.”

“Aku…”

“Ayo bersumpah pada bulan, jangan pernah berhadapan satu sama lain.”

Tak pernah berhadapan satu sama lain?

Kemana perginya sumpah itu?

“Kalau kau hidup, aku hidup. Kalau kau mati, aku hanya bisa mengikutimu menuju kematian.”

Senyum Pingting dan kerutan dahinya seperti melayang di udara, di keharuman bunga-bunga.

Selalu hadir dimanapun.

“Apa Tuan akan pergi berperang?”

“Tuan tak perlu menjelaskan pada Pingting. Pingting tak peduli apapun lagi, sekarang hanya Tuan saja yang menjadi perhatian Pingting.”

“Pingting sudah melewatkan ulang tahunnya sendirian, jadi di hari ulang tahun Tuan, bisakah kita bersama?”

Chu Beijie tak bisa memenuhinya dan akhirnya, berdiri sebagai pihak yang berhadapan dengannya.

Membiarkan hati Pingting hancur ketika ia menaiki kereta di tengah kilauan sinar pedang-pedang yang tajam.

Membiarkannya menuju Yun Chang bersama darah dagingnya, membiarkannya melewati pergunungan bersalju dengan penderitaan tiada akhir.

Membiarkannya diserang serigala yang mencabik dagingnya sedikit demi sedikit dan menjilati tulang-tulangnya.

“Tidak!” Chu Beijie berteriak dalam kepediahn. Setelah itu ia mengeluarkan pedangnya.

Pedang berharga milik Tuan Besar Zhen Beiwang yang mampu mengguncang langit, dilemparkan ke lantai. Pedang itu terjatuh dengan suara keras, yang menimbulkan sedikit percikan. Chu Beijie perlahan menoleh pada Yangfeng , “Akulah yang mencelakakan Pingting, silakan, bunuhlah aku.” Chu Beijie tidak berkata apa-apa lagi dan ia menaikan kepalanya lalu memejamkan matanya.

Yangfeng terdiam beberapa saat. Ia membebaskan dirinya dari pelukan Ze Yin dan mengambil pedang Chu Beijie dari lantai. Pedang itu, sangat berat, dan Yangfeng harus memegangnya dengan kedua tangannya. Meskipun begitu, pedang itu masih bergetar di kedua tangannya.

Yangfeng mengarahkan pedang pada leher Chu Beijie, cukup dengan sekali goresan, seorang Panglima perang terkenal yang ingin disingkirkan oleh setiap negara, Tuan Besar Zhen Beiwang, akan segera menghilang dari dunia ini.

Cepatlah

Cepatlah…..

Ruangan duka itu sangat sunyi, hanya terdengar isak tangis Yangfeng. Setiap tetes sangat besar dan terjatuh ke lantai tak habis-habisnya.

Yangfeng sangat membenci pria ini dan sama sekali tidak masalah membuat dirinya membunuhnya. Tapi, ketika pedang ini diarahkan kepada pria ini, mengapa tubuhnya tak bisa berhenti bergetar.

Pingting, Pingting, ini Chu Beijie yang telah membuatmu menangis karena menderita dan menghancurkan hatimu, sekarang berada di ujung pedang yang sedang kupegang.

Mungkinkan pria ini pernah membuatmu tersenyum bahagia?

“Dunia ini luas, kemana kau akan pergi?”

“Aku akan pulang.”

“Pulang?”

“Ada seseorang yang menungguku.” Pingting tersenyum pahit, kelembutan dan harapan bersinar di matanya. Ia merapikan rambutnya yang telah dikacaukan angin.

Yangfeng ingat ketika Pingting berdiri di depan jendela. Arah yang ia lihat adalah Dong Lin, tempat Zhen Beiwang berada.

Tangan Yangfeng menggenggam erat pedang yang bergetar, tapi jari-jarinya segera kehilangan kekuatannya. Pedang itu jatuh kembali ke lantai dengan suara cukup keras di samping kaki Yangfeng.

Chu Beijie membuka matanya, terkejut.

Yangfeng membalas tatapan Chu Beijie dengan dingin. “Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu Pingting di surge. Ia tidak ingin bertemu denganmu.” Tatapannya Yangfeng jauh lalu berhenti di depan peti mati, “Pingting, aku tahu kau kelelahan. Sekarang, tak ada seorangpun yang akan menyakitimu lagi.”

Chu Beijie menatap peti mati, hatinya serasa seperti serpihan debu.

Didalam sana berbaring wanita yang sangat ia cintai, istrinya dan ibu dari anaknya. Dalam hidupnya, ia tak pernah benar-benar memperlakukannya dengan baik.

Benar sekali, memang ia yang telah membunuh Pingting.

Pingting tak akan pernah memaafkannya di dunia maupun di surge.

Kalau ia mati, permintaan maafnya hanya akan menimbulkan kebencian, kalau ia hidup, ia akan dibenci karena meminta jenazahnya.

Kecantikan yang tiada tandingnya yang ia puja, telah dihancurkan oleh tangannya sendiri.

“Kau benar…” mata Chu Beijie sangat kosong, seperti patung, ia berdiri perlahan dari lantai. “Kau benar…” Chu Beijie menatap peti mati dengan penuh keinginan, tapi tak punya keberanian lagi untuk menyentuhnya dengan tangannya yang bergetar.

Apa haknya untuk boleh menyentuhnya?

Chu Beijie berbalik, matanya tak lagi melihat apapun, tak melihat Yangfeng, tak melihat Ze Yin, juga tak melihat jalan.

Ia melupakan pedang berharganya, melupakan segalanya, ketika ia berjalan keluar gerbang. Tatapannya terkunci ke depan, ia berjalan menuju kepedalaman hutan di gunung. Kudanya sedang mengunyah rumput di luar, meringkik sekali lalu mengikuti di belakang Chu Beijie. Ia tidak mengerti, mengapa Tuannya seperti telah kehilangan jiwanya.

Para penjaga Ze Yin menyaksian Chu Beijie dan kudanya pergi dan bertanya dengan suara pelan, “Panglima, orang ini musuh utama Bei Mo, bukankah sebaiknya kita mengambil kesempatan ini untuk…”

Ze Yin menyaksikan punggung Chu Beijie dan menggelengkan kepalanya sambil menghela, “Ia bukan lagi musuh siapapun.”

Tuan Zhen Beiwang yang terkenal sudah mati.

Hatinya sudah mati.

--00--


Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar