Jumat, 24 Februari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.51

-- Volume 2 chapter 51 --



“Kabar kematian yang baik, meskipun sedikit terlambat.” Harum dupa menyebar di ruangan. Di balik asap dupa, Ratu Gui Li tersenyum mengejek sambil berkata dengan santai, “Pelayan itu mampu meracuni dua pangerang Dong Lin dan merayu Chu Beijie. Lupakan hubungannya dengan Tuan Muda Jin Anwang, siapa yang tahu bahkan para Jendra Bei Mo akan berkabung untuk dia. Hmp, apa semua orang di bawah langit ini sudah gila?”

“Yang Mulia benar.” Le Di mengusap janggutnya yang indah. “Bai Pingting bukan siapa-siapa, tapi begitu Chu Beijie mengetahui berita kematiannya, ia pasti sangat terluka dan hancur. Ia tidak lagi berbahaya, dan itu sangat penting bagi situasi empat negara saat ini.”

“Hancur?” Ratu terkejut untuk beberapa saat. Tatapannya menjadi sedih. Ia terbatuk dan menghela, “Sepertinya masih ada pria yang berhati tulus di dunia ini, tapi mengapa Bai Pingting yang berhasil mendapatkannya? Kalau saja Raja kita memiliki setengahnya hati Chu Biejie, sungguh sebuah karunia untukku.”

“Ratu tak perlu bersedih untuk Chu Beijie. Masih ada yang harus dilakukan terlebih dahulu.”

“Apa?”

Le Di membuka jendela melihat kekanan dan kirinya, lalu menutupnya kembali. Ia melangkah sampai tiba di depan Ratu dan berkata dengan pelan, “Ratu masih ingat Fei Zhaozing?”

Ratu berpikir sejenak sampai ia mengingatnya, “Bukankah salah satu bawahan kakak? Ketika Raja mengirim orang untuk menyergap He Xia dan Bai Pingting, kita mengirim ia untuk mengabari He Xia agar…”

“Benar.”

“Kenapa, bukankah orang ini sudah dibereskan?”

“Kalau memang sudah dibereskan mengapa perlu merasa khawatir? Mengapa perlu membicarakannya lagi, semua ini berkat kakakmu yang tidak bisa diharapkan.” Le Di menghela napas sambil berkata, “Hati kakakmu tidak cukup kuat, ia berpikir karena mereka tumbuh bersama sejak kecil, maka ia pasti sangat setia. Kakakmu tidak menyuruh seseorang untuk membunuhnya ketika ia kembali, hanya menyuruh seseorang memberinya uang agar ia bisa bersembunyi di tempat yang jauh.”

Ekspresi wajah Ratu berubah, “Mengapa kakak bisa begitu bodoh? Bagaimana bisa ia berbelas kasihan untuk masalah seperti ini? Kakak tidak tega, ayah kau harus membicarakannya dengan kakak.”

Masalah ini antara penting dan tidak penting. Bagaimanapun, kalau hal ini sampai tersebar, akan menjadi kasus penghianatan yang akan mengakibatkan kehancuran keluarga mereka.

Le Di mengerutkan dahinya, “Tidak mungkin aku tidak memberitahunya, Kakakmu sudah mendengarkanku dan mengirim orang untuk mencari Fei Zhaoxing. Tapi, siapa menyangka kalau ia begitu pintar, sama sekali tidak meninggalkan jejak.”

Ratu berpikir kalau mereka berdua, ayah dan kakaknya benar-benar tidak becus, tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia berkata dingin, “Fei Zhouxing memang pintar bersembunyi seperti hantu sejak muda. Kalau ia curiga dan pergi ke gunung, bagaimana kita bisa membunuhnya dengan mudah?”

“Selama ia masih hidup, kekhawatiran kita takkan pernah selesai. Dan kalau Raja menemukannya…”

“Aku tahu.” Ratu berhenti sejenak dan berkata lagi, “Aku akan kirim seseorang untuk benegosiasi dengan Fei Zhaouxing. Ayah, pergilah dan katakan pada kakak, jangan khawatirkan hal lain, fokus saja memimpin pasukan dan dapatkan kepercayaan para Jendral yang lain. Selama kita berhasil memegang kekuatan militer. Bahkan Raja sekalipun takkan bisa menyentuh kita, keluarga Le. Hmph, dengan kejadian yang menimpa Kediaman Jin Awang, bagaimana mungkin kita setia sampai mati seperti mereka. Mereka bekerja keras sepanjang hidup mereka hanya untuk dibinasakan.”

Le Di mengangguk, “Ratu benar.” Ia tiba-tiba memikirkan sesuatu, dan bertanya, “Apa Raja sudah mendengar kabar kematian Bai Pingting?”

“Dibawah langit ini, siapa yang belum tahu hal itu? Apalagi setelah para Jendral Bei Mo mengadakan acara berkabung untuknya.” Hal ini membuat Ratu menjadi marah, dan karena hanya ada ayahnya di ruangan itu, ia tidak menyembunyikannya sama sekali. Ia mengertakan giginya, “Aku tidak tahu apa kehebatan si pelayan itu. Ia sama sekali tidak cantik. Ketika Raja mendengar kalau ia sudah meninggal, ia diam saja sepanjang hari. Aku dengar Raja berencana membuatkan patungnya, sebagai Dewi Pemain Kecapi dari Gui Li, karena kemampuan permainannya yang luar biasa. Bukankah itu sangat konyol?”

Le Di sangat khawatir mendengarnya, “Ratu, tindakan Raja sepertinya sebuah peringatan.”

Ekspresi Ratu menjadi lebih gelap ketika ia menghela napas panjang, “Tentu saja aku tahu, setelah Kediaman Jin Awang hancur, Keluarga Le kita menjadi semakin berkuasa. Lihatlah, sudah berapa banyak yang memimpin pasukan yang diangkat berkat ayah dan kakak. Dulu, Raja menutup mata atas kejadian Yangfeng, tapi sekarang Raja semakin tidak menyukaiku karena Bai Pingting.”

“Pikirkan hal itu, Ratu sangat pintar.” Le Di memperhatikan ekspresi putrinya sambil melanjutkan, “Raja adalah penguasa negara, sangat wajar kalau ia memiliki beberapa wanita cantik disisinya. Bagaimana kalau Ratu sedikit berbaik hati dan membiarkan seorang gadis seperti Li Er, yang dulu pernah datang beberapa tahu lalu untuk menjadi selir? Tapi, Ratu malah memaksa Raja untuk memberikan gadis itu pada Raja Dong Lin.”

Ratu mengerutu, “Bukannya justru aku membantu dia? Raja Dong Lin menjadikan ia Selir Li bahkan melahirkan seorang Putri. Ayah, tak perlu melanjutkan hal ini lagi. Aku sedang kesal sekarang, aku hanya akan mengatakan hal-hal yang tidak baik, dan ayah terus mencoba membuatku semakin kesal.”

Le Di tahu putrinya sedang cemburu dan ia menghela napas untuknya. Ia masih hendak melanjutkan tapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Ia segera menghentikan niatnya. Ia duduk di kursinya dan mengangkat cangkirnya hendak meminumnya. Pelayan terdekat Ratu, Yangrong memanggil dari luar, “Ratu, Raja mengirim seseorang pengirim pesan.”

“Masuklah.” Ratu berkata. Ia meminum tehnya sambil bertanya, “Apa yang dikatakan Raja?”

“Melapor pada Ratu, Raja telah menurunkan perintah. Bai Pingting akan dianugrahi gelar sebagai Dewi Pemain Kecapi dari Gui Li dan akan dibuatkan sebuah patung untuk memperingatinya, patung itu akan di diletakan di gerbang utama istana kerajaan dalam tiga hari. Raja berkata, Ratu yang akan menerima patung pada hari itu, dengan begitu akan menjadi contoh bagi para wanita Gui Li.”

Dalam separuh ucapan si pengirim pesan, Ratu hampir menghancurkan cangkir tehnya. Ia bergetar karena sangat marah. Le Di memperhatikan ekspresi putrinya dari samping, sangat berharap kalau putrinya masih memiliki sedikit lagi kesabaran.

Ratu menelan amarahnya dan berkata ringan, “Mengerti, Tiga hari lagi, Gerbang utama istana, benar? Katakan para Raja, aku akan mempersiapkannya dengan sangat baik.”

Si pengirim pesan memberikan gulungan titah dan pergi untuk melaporkan kembali.

Le Di menutup pintu. Ketika ia berbalik, ia melihat wajah putrinya telah berubah.

“Sudah kuduga, sudah kuduga! Lagi-lagi Bai Pingting, bahkan rohnya tidak membiarkan kita tenang!” Ratu mengertakan giginya yang putih. “Apa yang sudah dilakukan Bai Pingting sampai semua orang melakukan hal ini untuknya? Seorang Raja menurunkan titah untuk menganugrahkan sebuah gelar pada seorang pelayan rendah seperti dia, bagaimana menjelaskan hal itu pada masyarakat?”

Ekspresi Le Di juga menjadi putus asa. Ia berpikir jauh, “Raja berpikir melakukan hal yang sama, yang ia lakukan pada Kediaman Jin Awang, pada kita Keluarga Le. Meskipun Kediaman Jin Anwang sudah tak ada lagi, tapi rakyat Gui Li belum melupakan mereka. Kediaman Jin Anwang di hukum oleh Raja, karena itu Raja bisa menggunakan nama Kediaman Jin Awang. Raja hanya menggunakan salah seorang pelayan setia mereka, pelayan yang selalu menemani He Xia.”

“Ayah benar.” Ratu agak tenang sedikit begitu juga suaranya. Ia ragu sedikit sebelum tertawa pahit, “Tapi aku tidak percaya kalau Raja hanya berniat menaikan statusnya tanpa ada perasaan apaapun pada Bai Pingting.”

“Bukankah ia sudah meninggal?”

“Jauh lebih buruk karena ia meninggal.” Kuku tajam Ratu meninggalkan jejak panjang di kursi kayu. “Hati seorang pria yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya adalah yang paling kuat.”

--
Tidak ada hal yang tidak masuk akal, dan disaat yang sama juga tidak ada hal yang lebih masuk akal.

Kematian Bai Pingting telah menyebar di seluruh negara.

Seorang pelayan dari Kediaman Jin Awang telah menguncang dunia.

Ia seorang dewi pemain kecapi dari Gui Li, pelayan He Xia, pernah menjadi pemegang tertinggi kekuasaan dalam pasukan Bei Mo dan juga istri dari seorang Panglima Zhen Beiwang.

Meskipun mereka belum pernah melangsungkan pernikahan secara resmi, siapapun yang pernah bertemu dengannya atau Tuan Besar Zhen Beiwang, akan mengerti dengan pasti, bahwa ia adalah satu-satunya wanita bagi pahlawan hebat itu dalam hidupnya.

Bai Pingting telah meninggal.

Dimana Chu Beijie?

Dimana Panglima hebat tanpa tanding itu?

--
Ratu Dong Lin menatap orang di depannya, dan ia menarik napas panjang. Ia berkata, “Tabib Huo yang jenius, tidak ada orang lain disini. Tak perlu menyembunyikan apapun, katakan yang sebenarnya.”

“Melapor pada Ratu, penyakit Raja….” Dalam beberapa bulan, Tabib jenius Huo Yunan sepertinya telah menua beberapa puluh tahun. Rambutnya yang putih berpadu dengan janggutnya yang hitam. “Aku takut, Raja tidak akan bertahan labih lama.”

“Katakan padaku berapa lama lagi?”

“Aku takut, tak lebih dari tujuh hari.”

Ratu sangat terkejut mendengarnya. Sangat lama sekali sampai akhirnya ia mampu bergerak. Tulang belakangnya tak sanggup menahan tubuhnya. Ia bersandar di kursi. Dan dengan harapan terakhirnya ia memohon pada Tabib hebat Dong Lin itu, “Apakah mungkin untuk memperpanjang hidupnya yang tinggal beberapa hari itu menjadi beberpa bulan?”

“Ratu.” Meskipun berat tapi Huo Yunan harus mengatakan dengan jelas. Ia menguatkan hati dan berkata, “Seluruh cara telah dicoba, setelah Raja, itu…”

“Ratu, Ratu!” percakapan terganggu oleh seorang pelayan yang berlari ke dalam ruangan. Ia membungkuk di depan Ratu dan berkata dengan tergesa-gesa, “Ratu, Raja terbangun dan ia memanggil anda.”

Ratu segera berdiri, tapi pandangannya goyah dan ia hampir jatuh ke lantai.

“Ratu!”

“Ratu!”

Si pelayan dan tabib Huo berteriak sambil berusaha menahan tubuh Ratu.

Ratu meraih kursi dan berhasil menstabilkan berdirinya, “Aku tak pa-pa.”

Wajahnya sangat pucat, begitu juga bibirnya.

Sebenarnya sejak ia mendengar kabar kematian Bai Pingting, wajahnya selalu pucat.

Segalanya telah kacau.

Dalam kandungan Bai Pingting, ada darah daging kerajaan Dong Lin.

Sampai sekarang, Raja dan Zhen Beiwang tidak memiliki keturunan anak laki-laki.

Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi di dunia ini?

Kemarin ketika Bei Mo dan Yun Chang menekan perbatasan mereka dengan tiga ribu pasukan, mengapa sama sekali tidak terpikirkan akhir seperti ini?

Tubuh dan pikirannya gemetar karena penyesalan. Dan lebih banyak lagi masalah muncul di hadapannya. Karma apa yang telah dilakukan keluarga kerajaan Dong Lin pada Bai Pingting di kehidupan lalu? Segalanya menjadi kusut, sulit untuk diurai.

Ratu segera bergegas ke samping tempat tidur Raja, pria yang telah menemaninya sepanjang hidupnya sedang berbaring lemah.

Pria itu pernah menjadi pejuang yang gigih. Ia seperti Zhen Beiwang, yang mampu menggunakan pedang, menegak arak dan tertawa lepas.

“Yang Mulia, aku disini.” Ratu duduk disampingnya, dan memegangi kedua tangan Raja.

Raja sangat kurus, begitu kurus sehingga tulang-tulangnya terlihat di balik kulitnya. Melihatnya membuat hati Ratu bergetar.

Ratu terisak dan ia tak bisa menahan airmatanya yang mengalir jatuh. “Apa yang Yang Mulia butuhkan?”

Sorot mata Raja Dong Lin itu sudah gelap tanpa cahaya.

“Diamana adikku? Apa ia sudah kembali?” suaranya serak dan lemah ketika ia bertanya.

“Aku sudah meminta seseorang untuk mencarinya. Tuan Besar Zhen Beiwang akan segera kembali.”

Raja mengangkat kepalanya dengan sulit dan ia menatap istrinya. “Ratu, bila kau ingin menangis, menangislah.” Meskipun suaranya lemah dan tak bertenaga, tapi penuh kehangatan. “Aku sangat mengerti, Chu Beijie tidak akan kembali.”

“Yang Mulia!”

“Bai Pingting, Yun Chang dan Bei Mo bersama, dengan tiga ribu pasukan menekan perbatasan, dan perintah untuk memindahkan barak Naga Harimau. Kita….” Ia berhenti untuk bernapas, “Tiga negara telah menggunakan kekuatan militernya untuk memojokkan istrinya menuju kematiannya.”

“Semua ini salahku…”

“Jangan menyalahkan dirimu sendiri.” Raja menggenggam tangan Ratu. Ia menggenggamnya erat, berniat memberikan tenaga terakhirnya pada istrinya. “Ratu tidak bisa disalahkan, ini sudah takdir. Hal yang paling kita takutkan telah terjadi. Adik memang keras kepala, dan aku berharap aku mampu mengubahnya sedikit. Kalau ada yang perlu disalahkan, orang itu adalah aku.” Raja berbalik, menghembuskan napas sambil berkata pada yang lainnya, “Kalian semua pergilah. Pejabat Senior, tolong berjaga di pintu.”

“Baik.” Chu Zairan selalu berjaga di sisi Raja. Ia memiliki banyak pengalaman dan tahu bahwa Raja hendak mengucapkan perpisahan pada istrinya. Ia tak mampu menahan airmatanya ketika ia berlutut, menyentuhkan kepalanya ke lantai. lalu ia berjalan keluar ruangan dan menutup pintu di belakangnya.

Di dalam ruangan, hanya Raja dan Ratu yang tersisa.

“Ratu, bukalah kotak giok di atas tempat tidur. Dan bacakan isi di dalamnya.”

Ratu membuka dan berkata dengan pelan, “Raja sedang tidak sehat, tidak perlu mengkhawatirkan masalah negara saat ini. Biarkan Pejabat Senior yang menanganinya.”

Raja menggelengkan kepalanya perlahan, “Bukalah.”

Ratu melihat sikapnya dan tidak berani membantah lebih lanjut. Ia membuka dan perlahan membacanya. Ia membaca judulnya yang berbunyi, “Perintah untuk menjadikan Ratu sebagai penganti Raja.” Dengan huruf lebar, ia sangat terkejut dan berkata, “Yang Mulia, tentu saja tidak….”

“Ini harapanku.”

“Yang Mulia, Tuan Besar Zhen Beiwang pasti akan kembali. Ia satu-satunya saudara Yang Mulia dan bagian dari Kerajaan Dong Lin. Tidak mungkin ia menyerahkan negaranya hanya untuk seorang wanita.”

“Ratu…” Suara Raja tiba-tiba melemah dan ia menatap mata Ratu dengan tegang. “Lupakan titah itu. Kemarilah, duduk disini.”

Mendengar ucapan lembut, hati Ratu menjadi lebih sedih. Ia dengan patuh duduk disampingnya. Ketika ia melihat tangan Raja berusaha meraihnya, ia segera menangkapnya dan menggenggamnya.

“Ratu, aku punya pertanyaan.”

“Yang Mulia, katakan saja, aku akan jawab.”

Suara Raja semakin pelan dan lemah. Ia berkata dengan berguman, “Ini bukan tentang masalah militer atau masalah negara. Hanya sebuah pertanyaan pribadi yang ingin kutanyakan sejak lama, tapi sedikit konyol. Aku sudah begini, kalau tidak kutanya, aku takkan bisa mendengar jawabannya.”

Ratu menundukan kepalanya dan mengusap air matanya. Ia berkata pelan, “Tanyakan saja.”

“Ratu, pernikahan kita di atur oleh ayahku, Raja sebelumnya. Takdir kita sebagai suami istri telah ditentukan, tanpa rintangan.” Raja menoleh memandang wajah Ratu dan memperhatikannya, “Kalau kita seperti Chu Beijie dan Bai Pingting, terlahir sebagai musuh antar negara dan memegang posisi saling berhadapan langsung, apakah kau….. akan tetap bersedia disampingku sepanjang sisa hidupmu?”

Ratu berpikir agak lama, dan akhirnya mengeluarkan sebuah kata, “Tentu saja.”

Sepanjang sisa hidupnya.

Ya, ia akan melakukannya, hanya saja akan sulit sekali untuk melakukannya.

Meskipun kekuatan besar menghalangi mereka? Terlahir sebagai pihak yang bermusuhan, cinta membuat mereka saling terikat, siapa yang akan menghianati pertama kali?

Apakah negara lebih penting, atau perasaan rindu lebih tidak tertahan sehingga salah satu akan segera berlari menuju pelukan kekasihnya.

Syukurlah, mereka bukan Chu Beijie dan Bai Pingting.

Dan kalau mereka seperti itu?

Bagaimana kalau nasib seperti itu yang menimpa mereka?

Ratu memejamkan matanya, memegang erat kedua tangan suaminya yang besar.

Tentu saja, meskipun sangat berat, seperti berusaha menerangi langit malam.

Tapi ia akan melakukannya.

“Kita berada di negara yang bermusuhan.” Raja berkata.

“Iya.”

“Memegang posisi saling berdahapan.”

“Iya.”

“Untuk sepanjang sisa hidup?”

Ratu diam lama.

Tapi ia mengeluarkan sebuah kata, “Tentu saja.”

Raja menarik napas panjang. Musim dingin hampir berakhir, dan udara sudah membawa harum musim semi. Angin dingin memenuhi dadanya.

Tentu saja istrinya akan bersedia.

Raja memejamkan kedua matanya.

Sebuah senyum indah terukir di bibirnya.

--

Beberapa hari kemudian, pembawa pesan Ruohan tiba di gunung Songseng lagi.

Salju di tanah sudah mencair, dan bibit rumput mulai bermunculan di baliknya. Musim semi belum tiba sepenuhnya tapi di hati semua orang sudah mulai dipenuhi semangatnya.

Si pembawa pesan tidak hanya membawa tumbuh-tumbuhan obat terbaik yang telah di kumpulkan Ruohan dari banyak tempat, tapi juga membawa salam dari Raja Bei Mo.

“Gingseng ribuan tahun ini hadiah dari Raja.”

Ze Yin menerimanya dengan penuh terima kasih dan ia membungkuk ke arah istana.”

Si pembawa pesan sebelumnya adalah bawahan Ze Yin. Begitu ia menyelesaikan tugasnya menyerahkan semuanya, ia bertanya dengan penasaran. “Panglima, apakah Nyonya ….. sudah lebih baik?”

Ze Yin mengelengkan kepalanya, dan ekspresinya sedih. “Kalau saja ada sedikit tanda membaik, aku akan sedikit lega. Ini sakit karena hati, sulit disembuhkan.”

Setelah Pingting di kuburkan, Yangfeng mengenggam tusuk rambut giok sambil berdiri di didepan kuburannya sepanjang malam, dan besoknya terjatuh sakit.

Tusuk rambut berkilau di kegelapan malam, terbalut oleh tanah yang berwarna kecoklatan.

“Kematian Pingting karena aku.”

Pingting wanita yang cerdas dan ia membebaskan dirinya, meninggalkan He Xia dan Chu Beijie. Ia berkuda sendiri untuk mencapai Bei Mo. Pingting mencarinya, untuk melupakan nasibnya yang tidak beruntung. Tapi ia malah berlutut padanya dan memohon, membuatnya berada di antara pasukan Bei Mo dan Chu Beijie.

Dua pasukan saling berdahapan, marah dan siap untuk membunuh. Segalanya di mulai dari situ.

Lalu berlanjut ke pedalaman hutan, istana Dong Lin, Kediaman terpencil, Kediaman Suami Ratu Yun Chang, dan akhirnya gunung Songsen yang tertutup salju.

Mengapa orang yang begitu ceria harus bernasib seperti itu, sampai tulang-belulangnyapun tidak terkumpul lengkap?

Yangfeng tidak bisa memaafkan dirinya.

Dari semua kemalangan yang menimpa Pingting, dialah penyebabnya.

“Yangfeng, istriku saying, apa kau lupa anak kita?” Ze Yin dengan hati-hati berkata. “Kau tidak bisa meninggalkan Qing Er. Kau berjanji padaku, kau akan menemaniku seumur hidup kita. Bersemangatlah dan minum obatnya.”

“Qing Er….” Mata Yangfeng sedikit bersinar.

“Ia terus menangis mencari ibunya. Yangfeng, jangan salahkan dirimu terus. Bahkan jika kau menghancurkan hidupmu, apa bisa mengembalikan Pingting? Pingting akan kecewa denganmu di alam sana. Ayolah, minum obatnya dan sehat kembali.” Ze Yin memegang mangkuk obat yang masih hangat di tangannya dan mencobanya terlebih dulu sebelum mendekatkannya pada Yangfeng, “Minumlah, pikirkan tentang Qing Er.”

Dada Yangfeng terasa kosong. Ia ingatannya tentang Pingting dan kuburannya yang sunyi tertutup salju terus hadir di pikirannya. Setelah mendengar kata-kata Ze Yin, sebuah perasaan bersalah muncul di matanya ketika ia mendengar tentang Qing Er.

Yangfeng perlahan menegadah dan menatap suaminya.

Orang ini pernah menjadi Jendral Utama negara Bei Mo. Wajahnya terlihat kusut. Sungguh memilukan.

Dan semua itu karena dirinya.

Yangfeng dengan sedih menghela napas dan mulai membuka mulutnya.

Ze Yin mendengar Yangfeng meneguk obatnya dan merasa sedikit lega. “Ramuan obat ini dikirim oleh Ruohan. Digodok lama, jadi minum pelan-pelan jangan sampai tersedak.” Ia membantu Yangfeng dengan sebelah tangan, dan tangan sebelahnya lagi memegang mangkuk. Setelah Yangfeng menghabiskan obatnya, separuh kekhawtirannya menghilang. Ia berkata dengan lembut, “Ruohan juga berkata, obat ini harus diminum terus-menerus selama seminggu…”

Kata-kata Z Yin belum juga selesai, Yangfeng segera menggelengkan kepalanya. Yangfeng segera duduk di samping tempat tidur. Obat yang baru saja ia teguk sampai habis itu keluar dari mulutnya dan membasahi lantai. sepertinya Yangfeng mengeluarkan seluruh isi perutnya juga. Wajahnya sangat pucat. Ketika ia mampu mengangkat kepalanya, ia mulai berbaring lagi di tempat tidur.

“Yangfeng!” Ze Yin segera membantunya. Ia melihat Yangfeng memejamkan matanya dan wajahnya sangat pucat. Hatinya berdegup kencang dan tidak tahu harus berbuat apa, ia hampir saja menangis. “Istriku, mengapa kau memuntahkannya? Apa hatimu hanya untuk Bai Pingting sama sekali tidak tersisa untukku dan Qing Er?”

Yangfeng sulit bernapas. Mendengar suara Ze Yin, ia membuka matanya sedikit. Ia berguman pahit, “Tentu saja di hatiku ada kalian. Tapi, kesedihan di hatiku begitu dalam dan sulit disembuhkan dengan obat. Kami tumbuh bersama seperti kakak adik, tapi aku malah….. membuatnya terbunuh.”

“Jangan menangis, jangan menangis lagi. Kau sudah begitu sakit, memikirkan hal seperti itu hanya akan membuatmu…” tangan Ze Yin yang besar dengan lembut mengusap airmata yang jatuh di wajah Yangfeng tapi hal itu malah membuat airmata Yangfeng mengalir lebih banyak.

Hatinya sangat bingung dan kecewa. Matanya yang tajam seperti harimau menjadi memerah.

Yangfeng banjir airmata dan ia terisak lama sekali. Ia menoleh ke atas menatap Ze Yin, “Bukannya aku tidak memikirkan kalian sebagai istri dan ibu tapi lihatlah diriku, sepertinya aku akan segera menyusul Pingting. Lingkungan istana sama berbahayanya seperti medan perang, aku tidak ingin Qing Er mengikuti jalan yang sama seperti Pingting dan Chu Beijie. Kau harus berjanji padaku, tetaplah tinggal di tempat seperti ini, di pedalaman hutan, agar kau tidak perlu meninggalkan gunung dan Qing Er tidak bertemu hal-hal seperti itu…. Berjanjilah padaku.”

Ze Yin mendengarkan kata-katanya yang terdengar seperti pesan kematian. Seluruh tubunya basah dengan keringat dingin dan ia hanya mampu memeluk Yangfeng erat-erat. Ia berkata kencang, “Apa yang kau katakan? Aku tidak mau berjanji, aku tidak mau berjanji apapun!”

“Suamiku, aku tidak akan bertahan sampai musim semi.”

“Konyol!”

“Aku tidak bisa menemanimu melihat bunga-bunga atau membuatkan pakaian untuk Qing Er…”

“Hentikan!”

“Aku akan bertemu Pingting dan memohon maaf padanya…”

“Hentikan! Hentikan! Jangan katakan apapun lagi!”

Ze Yin memeluk Yangfeng sangat erat sambil menahan tangisnya. Ia tiba-tiba mendengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar dan segera seseorang berlari dengan terburu-buru di koridor. Perasaan kacau Ze Yin menjadi kemarahan, “Siapa yang datang? Apa kalian semua tuli, bukankah sudah kubilang jangan ganggu Nyonya?”

Tirai tersibak dan seorang pelayan berlari masuk. Ekspresi wajahnya sangat aneh dan ia menyeka keringatnya sambil berkata pada Ze Yin yang sedang murka, “Panglima, seseorang ingin bertemu anda.”

“Aku tidak ingin bertemu siapapun! Pergilah!”

“Dia….dia….”

“Nyonya butuh ketenangan. Siapapun dia, suruh pergi!”

“Di.. di.. dia….” Si pelayan mengerutkan dahinya, seakan tidak percaya sambil berkata, “Ia bilang, ia adalah Bai…. Bai Pingting!”

Bai Pingting?

Ze Yin dan Yangfeng, tiba-tiba membelakan matanya, mereka berdua terkejut.

Bagaimana mungkin?

Meskipun Ze Yin telah bertahun-tahun berada di medan perang dan menemui masalah-masalah yang tidak biasa, saat ini ia sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Ia berteriak, “Cepat, cepatlah suruh dia masuk!”

“Suamiku.” Yangfeng dengan gugup berusaha duduk.

Mendengar berita itu, sepertinya sakitnya telah terbang jauh. Mata Yangfeng bersinar warna-warna segar ketika ia menatap dengan khawatir ke arah pintu.

Kedua bola mata Ze Yin juga membesar. Ia merasa khawtir dan diam-diam berpikir kalau-kalau orang itu palsu, akan sangat menyakiti hati Yangfeng. Tak peduli siapa dia, ia akan memotongnya sampai berkeping-keping segera.

Tapi siapa yang begitu berani berpura-pura sebagai Bai Pingting di depan Yangfeng?

Dan bukankah sangat aneh, kalau seorang penipu bisa mengetahui lokasi mereka di tempat persembunyian.

Selagi ia merasa khawatir, seseorang telah tiba di depan pintu. Tirai perlahan mulai disibak.

Jari-jari Yanfeng mengenggam erat pakaian Ze Yin sambil menatap ke arah pintu. Seiring tirai tersibak, pancaran sinar mulai masuk dari arah pintu ke dalam ruangan. Membuat orang yang berada di dalamnya sedikit silau, dan Yangfeng hanya mampu melihat bunga-bunga kecil sampai akhirnya sebuah wajah nampak di matanya.

“Yangfeng, mengapa kau sakit?” suara lembut yang sangat akrab, cukup satu kata sudah membuatnya berurai air mata.

Yangfeng menarik napas dalam sambil memperhatikan wajah yang berdiri di depannya dengan hati-hati. Ia akhinya berkata lega, “Oh langit….” Sebuah tarikan napas menguras tenaganya dan ia bersandar pada lengan Ze Yin.

Pingting mendekat. “Yangfeng! Kenapa ?”

“Istriku, istriku!”

Mereka berdua segera berteriak dan beberapa pelayan datang membawakan handuk hangat. Handuk itu diletakan di kening Yangfeng. Ia membuka matanya perlahan, dan menatap Pingting, takut kalau-kalau ia berkedip Pingting akan menghilang. Suaranya sangat lemah, “Pingting, kau masih hidup? Oh langit, untuk kali ini kau sangat bermurah hati.”

“Apa… kalian semua berpikir, aku sudah mati? tak heran para pelayan melihatku dengan aneh.” Ekspresi Pingting meminta maaf, “Ini salahku tidak menepati janji tiga hari. Kau dan Zuiju pasti sangat khawatir karena tidak menemukanku, benarkan? Dimana Zuiju? Bawa dia kemari agar kekhawatirannya bisa menghilang.”

“Siapa Zuiju?”

Pingting menjadi bingung, “Apa dia tidak sampai kesini?”

Ekspresi Yangfeng dan Ze Yin sangat bingung. Mereka mengelengkan kepala bersama.

Pingting tahu pasti ada yang salah. Ia segera bertanya, “Kalau kalian tidak bertemu Zuiju, tidak mengirim bantuan untukku, dan tidak menemukan jejakku, bagaimana kalian bisa tahu kalau aku sudah mati?”

“Kami menemukan pakaian wanita dan tulang-tulang berserakan karena para serigala di kaki gunung, dan diantaranya kami menemukan tusuk rambut giok yang diberikan Yangfeng padamu. Dari situ kami membuat kesimpulan…”

“Oh tidak…” Pingting menjadi kaku. Ia menutup mulutnya dan matanya membelak. Setelah beberapa saat ia menangis keras, “Zuiju!”

Kenangan badai salju di gunung Songsen bermuculan.

Dalam setengah sadar, Zuiju berbalik, memegang jarum perak di tangannya. Ujung jarum bersinar di balik salju yang berkilau. Semakin terang dan terang hendak menerangi seluruh dunia.

Setelah itu, tiba-tiba menjadi gelap. Pingting merasa sangat penat, pandangan matanya menjadi kabur, dan ia terjatuh ke lantai.

Yangfeng berteriak, “Pingting! Pingting! Kenapa?” ia segera turun dari tempat tidurnya.

Ze Yin sangat khawatir dan ia membantu Yangfeng, “Yangfeng, hati-hati…”

“Jangan khawatirkan aku, cepat lihat dia! Cepatlah!”

Ze Yin mengangkat Pingting dan berteriak, “Tabib, cepat pangil tabib kesini!”

“Cepat, cepat, bawakan gingseng terbaik kesini.”

“Nyonya, gingseng itu untukmu.”

Setelah Yangfeng melihat Pingting, sumber sakitnya telah menghilang dan ia menjadi lebih baik. Ia menaikan alis matanya dan berkata, “Bagaimana mungkin aku sakit, kalau Pingting masih hidup? Cepatlah!” ia memerintahkan mereka. Setelah ia melihat pelayan membawakan gingseng, barulah ia bisa sedikit santai. Lagipula, ia telah sakit agak lama dan tiba-tiba ia merasa jantungnya berdetak lebih kencang tidak stabil. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga, dan ia memerintahkan seorang pelayan, “Masaklah obatku juga dan bawakan kesini.”

Hidup.

Benar, semua masih hidup.

--00—



Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar