“Kabar
kematian yang baik, meskipun sedikit terlambat.” Harum dupa menyebar di
ruangan. Di balik asap dupa, Ratu Gui Li tersenyum mengejek sambil berkata
dengan santai, “Pelayan itu mampu meracuni dua pangerang Dong Lin dan merayu
Chu Beijie. Lupakan hubungannya dengan Tuan Muda Jin Anwang, siapa yang tahu
bahkan para Jendra Bei Mo akan berkabung untuk dia. Hmp, apa semua orang di
bawah langit ini sudah gila?”
“Yang
Mulia benar.” Le Di mengusap janggutnya yang indah. “Bai Pingting bukan
siapa-siapa, tapi begitu Chu Beijie mengetahui berita kematiannya, ia pasti
sangat terluka dan hancur. Ia tidak lagi berbahaya, dan itu sangat penting bagi
situasi empat negara saat ini.”
“Hancur?”
Ratu terkejut untuk beberapa saat. Tatapannya menjadi sedih. Ia terbatuk dan
menghela, “Sepertinya masih ada pria yang berhati tulus di dunia ini, tapi
mengapa Bai Pingting yang berhasil mendapatkannya? Kalau saja Raja kita
memiliki setengahnya hati Chu Biejie, sungguh sebuah karunia untukku.”
“Ratu
tak perlu bersedih untuk Chu Beijie. Masih ada yang harus dilakukan terlebih
dahulu.”
“Apa?”
Le
Di membuka jendela melihat kekanan dan kirinya, lalu menutupnya kembali. Ia
melangkah sampai tiba di depan Ratu dan berkata dengan pelan, “Ratu masih ingat
Fei Zhaozing?”
Ratu
berpikir sejenak sampai ia mengingatnya, “Bukankah salah satu bawahan kakak?
Ketika Raja mengirim orang untuk menyergap He Xia dan Bai Pingting, kita
mengirim ia untuk mengabari He Xia agar…”
“Benar.”
“Kenapa,
bukankah orang ini sudah dibereskan?”
“Kalau
memang sudah dibereskan mengapa perlu merasa khawatir? Mengapa perlu
membicarakannya lagi, semua ini berkat kakakmu yang tidak bisa diharapkan.” Le
Di menghela napas sambil berkata, “Hati kakakmu tidak cukup kuat, ia berpikir
karena mereka tumbuh bersama sejak kecil, maka ia pasti sangat setia. Kakakmu
tidak menyuruh seseorang untuk membunuhnya ketika ia kembali, hanya menyuruh
seseorang memberinya uang agar ia bisa bersembunyi di tempat yang jauh.”
Ekspresi
wajah Ratu berubah, “Mengapa kakak bisa begitu bodoh? Bagaimana bisa ia berbelas
kasihan untuk masalah seperti ini? Kakak tidak tega, ayah kau harus
membicarakannya dengan kakak.”
Masalah
ini antara penting dan tidak penting. Bagaimanapun, kalau hal ini sampai tersebar,
akan menjadi kasus penghianatan yang akan mengakibatkan kehancuran keluarga
mereka.
Le
Di mengerutkan dahinya, “Tidak mungkin aku tidak memberitahunya, Kakakmu sudah
mendengarkanku dan mengirim orang untuk mencari Fei Zhaoxing. Tapi, siapa
menyangka kalau ia begitu pintar, sama sekali tidak meninggalkan jejak.”
Ratu
berpikir kalau mereka berdua, ayah dan kakaknya benar-benar tidak becus, tapi
ia juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia berkata dingin, “Fei Zhouxing memang
pintar bersembunyi seperti hantu sejak muda. Kalau ia curiga dan pergi ke
gunung, bagaimana kita bisa membunuhnya dengan mudah?”
“Selama
ia masih hidup, kekhawatiran kita takkan pernah selesai. Dan kalau Raja
menemukannya…”
“Aku
tahu.” Ratu berhenti sejenak dan berkata lagi, “Aku akan kirim seseorang untuk
benegosiasi dengan Fei Zhaouxing. Ayah, pergilah dan katakan pada kakak, jangan
khawatirkan hal lain, fokus saja memimpin pasukan dan dapatkan kepercayaan para
Jendral yang lain. Selama kita berhasil memegang kekuatan militer. Bahkan Raja
sekalipun takkan bisa menyentuh kita, keluarga Le. Hmph, dengan kejadian yang
menimpa Kediaman Jin Awang, bagaimana mungkin kita setia sampai mati seperti
mereka. Mereka bekerja keras sepanjang hidup mereka hanya untuk dibinasakan.”
Le
Di mengangguk, “Ratu benar.” Ia tiba-tiba memikirkan sesuatu, dan bertanya,
“Apa Raja sudah mendengar kabar kematian Bai Pingting?”
“Dibawah
langit ini, siapa yang belum tahu hal itu? Apalagi setelah para Jendral Bei Mo
mengadakan acara berkabung untuknya.” Hal ini membuat Ratu menjadi marah, dan
karena hanya ada ayahnya di ruangan itu, ia tidak menyembunyikannya sama
sekali. Ia mengertakan giginya, “Aku tidak tahu apa kehebatan si pelayan itu.
Ia sama sekali tidak cantik. Ketika Raja mendengar kalau ia sudah meninggal, ia
diam saja sepanjang hari. Aku dengar Raja berencana membuatkan patungnya,
sebagai Dewi Pemain Kecapi dari Gui Li, karena kemampuan permainannya yang luar
biasa. Bukankah itu sangat konyol?”
Le
Di sangat khawatir mendengarnya, “Ratu, tindakan Raja sepertinya sebuah
peringatan.”
Ekspresi
Ratu menjadi lebih gelap ketika ia menghela napas panjang, “Tentu saja aku
tahu, setelah Kediaman Jin Awang hancur, Keluarga Le kita menjadi semakin
berkuasa. Lihatlah, sudah berapa banyak yang memimpin pasukan yang diangkat
berkat ayah dan kakak. Dulu, Raja menutup mata atas kejadian Yangfeng, tapi
sekarang Raja semakin tidak menyukaiku karena Bai Pingting.”
“Pikirkan
hal itu, Ratu sangat pintar.” Le Di memperhatikan ekspresi putrinya sambil
melanjutkan, “Raja adalah penguasa negara, sangat wajar kalau ia memiliki
beberapa wanita cantik disisinya. Bagaimana kalau Ratu sedikit berbaik hati dan
membiarkan seorang gadis seperti Li Er, yang dulu pernah datang beberapa tahu
lalu untuk menjadi selir? Tapi, Ratu malah memaksa Raja untuk memberikan gadis
itu pada Raja Dong Lin.”
Ratu
mengerutu, “Bukannya justru aku membantu dia? Raja Dong Lin menjadikan ia Selir
Li bahkan melahirkan seorang Putri. Ayah, tak perlu melanjutkan hal ini lagi.
Aku sedang kesal sekarang, aku hanya akan mengatakan hal-hal yang tidak baik,
dan ayah terus mencoba membuatku semakin kesal.”
Le
Di tahu putrinya sedang cemburu dan ia menghela napas untuknya. Ia masih hendak
melanjutkan tapi tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Ia segera
menghentikan niatnya. Ia duduk di kursinya dan mengangkat cangkirnya hendak
meminumnya. Pelayan terdekat Ratu, Yangrong memanggil dari luar, “Ratu, Raja
mengirim seseorang pengirim pesan.”
“Masuklah.”
Ratu berkata. Ia meminum tehnya sambil bertanya, “Apa yang dikatakan Raja?”
“Melapor
pada Ratu, Raja telah menurunkan perintah. Bai Pingting akan dianugrahi gelar
sebagai Dewi Pemain Kecapi dari Gui Li dan akan dibuatkan sebuah patung untuk
memperingatinya, patung itu akan di diletakan di gerbang utama istana kerajaan
dalam tiga hari. Raja berkata, Ratu yang akan menerima patung pada hari itu,
dengan begitu akan menjadi contoh bagi para wanita Gui Li.”
Dalam
separuh ucapan si pengirim pesan, Ratu hampir menghancurkan cangkir tehnya. Ia
bergetar karena sangat marah. Le Di memperhatikan ekspresi putrinya dari
samping, sangat berharap kalau putrinya masih memiliki sedikit lagi kesabaran.
Ratu
menelan amarahnya dan berkata ringan, “Mengerti, Tiga hari lagi, Gerbang utama
istana, benar? Katakan para Raja, aku akan mempersiapkannya dengan sangat
baik.”
Si
pengirim pesan memberikan gulungan titah dan pergi untuk melaporkan kembali.
Le
Di menutup pintu. Ketika ia berbalik, ia melihat wajah putrinya telah berubah.
“Sudah
kuduga, sudah kuduga! Lagi-lagi Bai Pingting, bahkan rohnya tidak membiarkan
kita tenang!” Ratu mengertakan giginya yang putih. “Apa yang sudah dilakukan
Bai Pingting sampai semua orang melakukan hal ini untuknya? Seorang Raja
menurunkan titah untuk menganugrahkan sebuah gelar pada seorang pelayan rendah seperti
dia, bagaimana menjelaskan hal itu pada masyarakat?”
Ekspresi
Le Di juga menjadi putus asa. Ia berpikir jauh, “Raja berpikir melakukan hal
yang sama, yang ia lakukan pada Kediaman Jin Awang, pada kita Keluarga Le.
Meskipun Kediaman Jin Anwang sudah tak ada lagi, tapi rakyat Gui Li belum
melupakan mereka. Kediaman Jin Anwang di hukum oleh Raja, karena itu Raja bisa
menggunakan nama Kediaman Jin Awang. Raja hanya menggunakan salah seorang
pelayan setia mereka, pelayan yang selalu menemani He Xia.”
“Ayah
benar.” Ratu agak tenang sedikit begitu juga suaranya. Ia ragu sedikit sebelum
tertawa pahit, “Tapi aku tidak percaya kalau Raja hanya berniat menaikan
statusnya tanpa ada perasaan apaapun pada Bai Pingting.”
“Bukankah
ia sudah meninggal?”
“Jauh
lebih buruk karena ia meninggal.” Kuku tajam Ratu meninggalkan jejak panjang di
kursi kayu. “Hati seorang pria yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya
adalah yang paling kuat.”
--
Tidak
ada hal yang tidak masuk akal, dan disaat yang sama juga tidak ada hal yang
lebih masuk akal.
Kematian
Bai Pingting telah menyebar di seluruh negara.
Seorang
pelayan dari Kediaman Jin Awang telah menguncang dunia.
Ia
seorang dewi pemain kecapi dari Gui Li, pelayan He Xia, pernah menjadi pemegang
tertinggi kekuasaan dalam pasukan Bei Mo dan juga istri dari seorang Panglima
Zhen Beiwang.
Meskipun
mereka belum pernah melangsungkan pernikahan secara resmi, siapapun yang pernah
bertemu dengannya atau Tuan Besar Zhen Beiwang, akan mengerti dengan pasti,
bahwa ia adalah satu-satunya wanita bagi pahlawan hebat itu dalam hidupnya.
Bai
Pingting telah meninggal.
Dimana
Chu Beijie?
Dimana
Panglima hebat tanpa tanding itu?
--
Ratu
Dong Lin menatap orang di depannya, dan ia menarik napas panjang. Ia berkata,
“Tabib Huo yang jenius, tidak ada orang lain disini. Tak perlu menyembunyikan
apapun, katakan yang sebenarnya.”
“Melapor
pada Ratu, penyakit Raja….” Dalam beberapa bulan, Tabib jenius Huo Yunan
sepertinya telah menua beberapa puluh tahun. Rambutnya yang putih berpadu dengan
janggutnya yang hitam. “Aku takut, Raja tidak akan bertahan labih lama.”
“Katakan
padaku berapa lama lagi?”
“Aku
takut, tak lebih dari tujuh hari.”
Ratu
sangat terkejut mendengarnya. Sangat lama sekali sampai akhirnya ia mampu
bergerak. Tulang belakangnya tak sanggup menahan tubuhnya. Ia bersandar di
kursi. Dan dengan harapan terakhirnya ia memohon pada Tabib hebat Dong Lin itu,
“Apakah mungkin untuk memperpanjang hidupnya yang tinggal beberapa hari itu
menjadi beberpa bulan?”
“Ratu.”
Meskipun berat tapi Huo Yunan harus mengatakan dengan jelas. Ia menguatkan hati
dan berkata, “Seluruh cara telah dicoba, setelah Raja, itu…”
“Ratu,
Ratu!” percakapan terganggu oleh seorang pelayan yang berlari ke dalam ruangan.
Ia membungkuk di depan Ratu dan berkata dengan tergesa-gesa, “Ratu, Raja
terbangun dan ia memanggil anda.”
Ratu
segera berdiri, tapi pandangannya goyah dan ia hampir jatuh ke lantai.
“Ratu!”
“Ratu!”
Si
pelayan dan tabib Huo berteriak sambil berusaha menahan tubuh Ratu.
Ratu
meraih kursi dan berhasil menstabilkan berdirinya, “Aku tak pa-pa.”
Wajahnya
sangat pucat, begitu juga bibirnya.
Sebenarnya
sejak ia mendengar kabar kematian Bai Pingting, wajahnya selalu pucat.
Segalanya
telah kacau.
Dalam
kandungan Bai Pingting, ada darah daging kerajaan Dong Lin.
Sampai
sekarang, Raja dan Zhen Beiwang tidak memiliki keturunan anak laki-laki.
Bagaimana
ini bisa terjadi? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi di dunia ini?
Kemarin
ketika Bei Mo dan Yun Chang menekan perbatasan mereka dengan tiga ribu pasukan,
mengapa sama sekali tidak terpikirkan akhir seperti ini?
Tubuh
dan pikirannya gemetar karena penyesalan. Dan lebih banyak lagi masalah muncul
di hadapannya. Karma apa yang telah dilakukan keluarga kerajaan Dong Lin pada
Bai Pingting di kehidupan lalu? Segalanya menjadi kusut, sulit untuk diurai.
Ratu
segera bergegas ke samping tempat tidur Raja, pria yang telah menemaninya
sepanjang hidupnya sedang berbaring lemah.
Pria
itu pernah menjadi pejuang yang gigih. Ia seperti Zhen Beiwang, yang mampu
menggunakan pedang, menegak arak dan tertawa lepas.
“Yang
Mulia, aku disini.” Ratu duduk disampingnya, dan memegangi kedua tangan Raja.
Raja
sangat kurus, begitu kurus sehingga tulang-tulangnya terlihat di balik
kulitnya. Melihatnya membuat hati Ratu bergetar.
Ratu
terisak dan ia tak bisa menahan airmatanya yang mengalir jatuh. “Apa yang Yang
Mulia butuhkan?”
Sorot
mata Raja Dong Lin itu sudah gelap tanpa cahaya.
“Diamana
adikku? Apa ia sudah kembali?” suaranya serak dan lemah ketika ia bertanya.
“Aku
sudah meminta seseorang untuk mencarinya. Tuan Besar Zhen Beiwang akan segera
kembali.”
Raja
mengangkat kepalanya dengan sulit dan ia menatap istrinya. “Ratu, bila kau
ingin menangis, menangislah.” Meskipun suaranya lemah dan tak bertenaga, tapi
penuh kehangatan. “Aku sangat mengerti, Chu Beijie tidak akan kembali.”
“Yang
Mulia!”
“Bai
Pingting, Yun Chang dan Bei Mo bersama, dengan tiga ribu pasukan menekan
perbatasan, dan perintah untuk memindahkan barak Naga Harimau. Kita….” Ia
berhenti untuk bernapas, “Tiga negara telah menggunakan kekuatan militernya
untuk memojokkan istrinya menuju kematiannya.”
“Semua
ini salahku…”
“Jangan
menyalahkan dirimu sendiri.” Raja menggenggam tangan Ratu. Ia menggenggamnya
erat, berniat memberikan tenaga terakhirnya pada istrinya. “Ratu tidak bisa
disalahkan, ini sudah takdir. Hal yang paling kita takutkan telah terjadi. Adik
memang keras kepala, dan aku berharap aku mampu mengubahnya sedikit. Kalau ada
yang perlu disalahkan, orang itu adalah aku.” Raja berbalik, menghembuskan
napas sambil berkata pada yang lainnya, “Kalian semua pergilah. Pejabat Senior,
tolong berjaga di pintu.”
“Baik.”
Chu Zairan selalu berjaga di sisi Raja. Ia memiliki banyak pengalaman dan tahu
bahwa Raja hendak mengucapkan perpisahan pada istrinya. Ia tak mampu menahan
airmatanya ketika ia berlutut, menyentuhkan kepalanya ke lantai. lalu ia
berjalan keluar ruangan dan menutup pintu di belakangnya.
Di
dalam ruangan, hanya Raja dan Ratu yang tersisa.
“Ratu,
bukalah kotak giok di atas tempat tidur. Dan bacakan isi di dalamnya.”
Ratu
membuka dan berkata dengan pelan, “Raja sedang tidak sehat, tidak perlu
mengkhawatirkan masalah negara saat ini. Biarkan Pejabat Senior yang
menanganinya.”
Raja
menggelengkan kepalanya perlahan, “Bukalah.”
Ratu
melihat sikapnya dan tidak berani membantah lebih lanjut. Ia membuka dan
perlahan membacanya. Ia membaca judulnya yang berbunyi, “Perintah untuk
menjadikan Ratu sebagai penganti Raja.” Dengan huruf lebar, ia sangat terkejut
dan berkata, “Yang Mulia, tentu saja tidak….”
“Ini
harapanku.”
“Yang
Mulia, Tuan Besar Zhen Beiwang pasti akan kembali. Ia satu-satunya saudara Yang
Mulia dan bagian dari Kerajaan Dong Lin. Tidak mungkin ia menyerahkan negaranya
hanya untuk seorang wanita.”
“Ratu…”
Suara Raja tiba-tiba melemah dan ia menatap mata Ratu dengan tegang. “Lupakan
titah itu. Kemarilah, duduk disini.”
Mendengar
ucapan lembut, hati Ratu menjadi lebih sedih. Ia dengan patuh duduk
disampingnya. Ketika ia melihat tangan Raja berusaha meraihnya, ia segera
menangkapnya dan menggenggamnya.
“Ratu,
aku punya pertanyaan.”
“Yang
Mulia, katakan saja, aku akan jawab.”
Suara
Raja semakin pelan dan lemah. Ia berkata dengan berguman, “Ini bukan tentang
masalah militer atau masalah negara. Hanya sebuah pertanyaan pribadi yang ingin
kutanyakan sejak lama, tapi sedikit konyol. Aku sudah begini, kalau tidak
kutanya, aku takkan bisa mendengar jawabannya.”
Ratu
menundukan kepalanya dan mengusap air matanya. Ia berkata pelan, “Tanyakan
saja.”
“Ratu,
pernikahan kita di atur oleh ayahku, Raja sebelumnya. Takdir kita sebagai suami
istri telah ditentukan, tanpa rintangan.” Raja menoleh memandang wajah Ratu dan
memperhatikannya, “Kalau kita seperti Chu Beijie dan Bai Pingting, terlahir sebagai
musuh antar negara dan memegang posisi saling berhadapan langsung, apakah
kau….. akan tetap bersedia disampingku sepanjang sisa hidupmu?”
Ratu
berpikir agak lama, dan akhirnya mengeluarkan sebuah kata, “Tentu saja.”
Sepanjang
sisa hidupnya.
Ya,
ia akan melakukannya, hanya saja akan sulit sekali untuk melakukannya.
Meskipun
kekuatan besar menghalangi mereka? Terlahir sebagai pihak yang bermusuhan,
cinta membuat mereka saling terikat, siapa yang akan menghianati pertama kali?
Apakah
negara lebih penting, atau perasaan rindu lebih tidak tertahan sehingga salah
satu akan segera berlari menuju pelukan kekasihnya.
Syukurlah,
mereka bukan Chu Beijie dan Bai Pingting.
Dan
kalau mereka seperti itu?
Bagaimana
kalau nasib seperti itu yang menimpa mereka?
Ratu
memejamkan matanya, memegang erat kedua tangan suaminya yang besar.
Tentu
saja, meskipun sangat berat, seperti berusaha menerangi langit malam.
Tapi
ia akan melakukannya.
“Kita
berada di negara yang bermusuhan.” Raja berkata.
“Iya.”
“Memegang
posisi saling berdahapan.”
“Iya.”
“Untuk
sepanjang sisa hidup?”
Ratu
diam lama.
Tapi
ia mengeluarkan sebuah kata, “Tentu saja.”
Raja
menarik napas panjang. Musim dingin hampir berakhir, dan udara sudah membawa
harum musim semi. Angin dingin memenuhi dadanya.
Tentu
saja istrinya akan bersedia.
Raja
memejamkan kedua matanya.
Sebuah
senyum indah terukir di bibirnya.
--
Beberapa
hari kemudian, pembawa pesan Ruohan tiba di gunung Songseng lagi.
Salju
di tanah sudah mencair, dan bibit rumput mulai bermunculan di baliknya. Musim semi
belum tiba sepenuhnya tapi di hati semua orang sudah mulai dipenuhi
semangatnya.
Si
pembawa pesan tidak hanya membawa tumbuh-tumbuhan obat terbaik yang telah di
kumpulkan Ruohan dari banyak tempat, tapi juga membawa salam dari Raja Bei Mo.
“Gingseng
ribuan tahun ini hadiah dari Raja.”
Ze
Yin menerimanya dengan penuh terima kasih dan ia membungkuk ke arah istana.”
Si
pembawa pesan sebelumnya adalah bawahan Ze Yin. Begitu ia menyelesaikan
tugasnya menyerahkan semuanya, ia bertanya dengan penasaran. “Panglima, apakah
Nyonya ….. sudah lebih baik?”
Ze
Yin mengelengkan kepalanya, dan ekspresinya sedih. “Kalau saja ada sedikit
tanda membaik, aku akan sedikit lega. Ini sakit karena hati, sulit
disembuhkan.”
Setelah
Pingting di kuburkan, Yangfeng mengenggam tusuk rambut giok sambil berdiri di
didepan kuburannya sepanjang malam, dan besoknya terjatuh sakit.
Tusuk
rambut berkilau di kegelapan malam, terbalut oleh tanah yang berwarna
kecoklatan.
“Kematian
Pingting karena aku.”
Pingting
wanita yang cerdas dan ia membebaskan dirinya, meninggalkan He Xia dan Chu
Beijie. Ia berkuda sendiri untuk mencapai Bei Mo. Pingting mencarinya, untuk
melupakan nasibnya yang tidak beruntung. Tapi ia malah berlutut padanya dan
memohon, membuatnya berada di antara pasukan Bei Mo dan Chu Beijie.
Dua
pasukan saling berdahapan, marah dan siap untuk membunuh. Segalanya di mulai
dari situ.
Lalu
berlanjut ke pedalaman hutan, istana Dong Lin, Kediaman terpencil, Kediaman
Suami Ratu Yun Chang, dan akhirnya gunung Songsen yang tertutup salju.
Mengapa
orang yang begitu ceria harus bernasib seperti itu, sampai
tulang-belulangnyapun tidak terkumpul lengkap?
Yangfeng
tidak bisa memaafkan dirinya.
Dari
semua kemalangan yang menimpa Pingting, dialah penyebabnya.
“Yangfeng,
istriku saying, apa kau lupa anak kita?” Ze Yin dengan hati-hati berkata. “Kau
tidak bisa meninggalkan Qing Er. Kau berjanji padaku, kau akan menemaniku
seumur hidup kita. Bersemangatlah dan minum obatnya.”
“Qing
Er….” Mata Yangfeng sedikit bersinar.
“Ia
terus menangis mencari ibunya. Yangfeng, jangan salahkan dirimu terus. Bahkan
jika kau menghancurkan hidupmu, apa bisa mengembalikan Pingting? Pingting akan
kecewa denganmu di alam sana. Ayolah, minum obatnya dan sehat kembali.” Ze Yin
memegang mangkuk obat yang masih hangat di tangannya dan mencobanya terlebih
dulu sebelum mendekatkannya pada Yangfeng, “Minumlah, pikirkan tentang Qing
Er.”
Dada
Yangfeng terasa kosong. Ia ingatannya tentang Pingting dan kuburannya yang
sunyi tertutup salju terus hadir di pikirannya. Setelah mendengar kata-kata Ze
Yin, sebuah perasaan bersalah muncul di matanya ketika ia mendengar tentang
Qing Er.
Yangfeng
perlahan menegadah dan menatap suaminya.
Orang
ini pernah menjadi Jendral Utama negara Bei Mo. Wajahnya terlihat kusut.
Sungguh memilukan.
Dan
semua itu karena dirinya.
Yangfeng
dengan sedih menghela napas dan mulai membuka mulutnya.
Ze
Yin mendengar Yangfeng meneguk obatnya dan merasa sedikit lega. “Ramuan obat
ini dikirim oleh Ruohan. Digodok lama, jadi minum pelan-pelan jangan sampai
tersedak.” Ia membantu Yangfeng dengan sebelah tangan, dan tangan sebelahnya
lagi memegang mangkuk. Setelah Yangfeng menghabiskan obatnya, separuh
kekhawtirannya menghilang. Ia berkata dengan lembut, “Ruohan juga berkata, obat
ini harus diminum terus-menerus selama seminggu…”
Kata-kata
Z Yin belum juga selesai, Yangfeng segera menggelengkan kepalanya. Yangfeng
segera duduk di samping tempat tidur. Obat yang baru saja ia teguk sampai habis
itu keluar dari mulutnya dan membasahi lantai. sepertinya Yangfeng mengeluarkan
seluruh isi perutnya juga. Wajahnya sangat pucat. Ketika ia mampu mengangkat
kepalanya, ia mulai berbaring lagi di tempat tidur.
“Yangfeng!”
Ze Yin segera membantunya. Ia melihat Yangfeng memejamkan matanya dan wajahnya
sangat pucat. Hatinya berdegup kencang dan tidak tahu harus berbuat apa, ia
hampir saja menangis. “Istriku, mengapa kau memuntahkannya? Apa hatimu hanya
untuk Bai Pingting sama sekali tidak tersisa untukku dan Qing Er?”
Yangfeng
sulit bernapas. Mendengar suara Ze Yin, ia membuka matanya sedikit. Ia berguman
pahit, “Tentu saja di hatiku ada kalian. Tapi, kesedihan di hatiku begitu dalam
dan sulit disembuhkan dengan obat. Kami tumbuh bersama seperti kakak adik, tapi
aku malah….. membuatnya terbunuh.”
“Jangan
menangis, jangan menangis lagi. Kau sudah begitu sakit, memikirkan hal seperti
itu hanya akan membuatmu…” tangan Ze Yin yang besar dengan lembut mengusap
airmata yang jatuh di wajah Yangfeng tapi hal itu malah membuat airmata
Yangfeng mengalir lebih banyak.
Hatinya
sangat bingung dan kecewa. Matanya yang tajam seperti harimau menjadi memerah.
Yangfeng
banjir airmata dan ia terisak lama sekali. Ia menoleh ke atas menatap Ze Yin,
“Bukannya aku tidak memikirkan kalian sebagai istri dan ibu tapi lihatlah
diriku, sepertinya aku akan segera menyusul Pingting. Lingkungan istana sama
berbahayanya seperti medan perang, aku tidak ingin Qing Er mengikuti jalan yang
sama seperti Pingting dan Chu Beijie. Kau harus berjanji padaku, tetaplah
tinggal di tempat seperti ini, di pedalaman hutan, agar kau tidak perlu
meninggalkan gunung dan Qing Er tidak bertemu hal-hal seperti itu…. Berjanjilah
padaku.”
Ze
Yin mendengarkan kata-katanya yang terdengar seperti pesan kematian. Seluruh
tubunya basah dengan keringat dingin dan ia hanya mampu memeluk Yangfeng
erat-erat. Ia berkata kencang, “Apa yang kau katakan? Aku tidak mau berjanji,
aku tidak mau berjanji apapun!”
“Suamiku,
aku tidak akan bertahan sampai musim semi.”
“Konyol!”
“Aku
tidak bisa menemanimu melihat bunga-bunga atau membuatkan pakaian untuk Qing
Er…”
“Hentikan!”
“Aku
akan bertemu Pingting dan memohon maaf padanya…”
“Hentikan!
Hentikan! Jangan katakan apapun lagi!”
Ze
Yin memeluk Yangfeng sangat erat sambil menahan tangisnya. Ia tiba-tiba
mendengar langkah kaki tergesa-gesa dari luar dan segera seseorang berlari
dengan terburu-buru di koridor. Perasaan kacau Ze Yin menjadi kemarahan, “Siapa
yang datang? Apa kalian semua tuli, bukankah sudah kubilang jangan ganggu
Nyonya?”
Tirai
tersibak dan seorang pelayan berlari masuk. Ekspresi wajahnya sangat aneh dan
ia menyeka keringatnya sambil berkata pada Ze Yin yang sedang murka, “Panglima,
seseorang ingin bertemu anda.”
“Aku
tidak ingin bertemu siapapun! Pergilah!”
“Dia….dia….”
“Nyonya
butuh ketenangan. Siapapun dia, suruh pergi!”
“Di..
di.. dia….” Si pelayan mengerutkan dahinya, seakan tidak percaya sambil
berkata, “Ia bilang, ia adalah Bai…. Bai Pingting!”
Bai
Pingting?
Ze
Yin dan Yangfeng, tiba-tiba membelakan matanya, mereka berdua terkejut.
Bagaimana
mungkin?
Meskipun
Ze Yin telah bertahun-tahun berada di medan perang dan menemui masalah-masalah
yang tidak biasa, saat ini ia sama sekali tidak tahu harus bagaimana. Ia
berteriak, “Cepat, cepatlah suruh dia masuk!”
“Suamiku.”
Yangfeng dengan gugup berusaha duduk.
Mendengar
berita itu, sepertinya sakitnya telah terbang jauh. Mata Yangfeng bersinar
warna-warna segar ketika ia menatap dengan khawatir ke arah pintu.
Kedua
bola mata Ze Yin juga membesar. Ia merasa khawtir dan diam-diam berpikir
kalau-kalau orang itu palsu, akan sangat menyakiti hati Yangfeng. Tak peduli
siapa dia, ia akan memotongnya sampai berkeping-keping segera.
Tapi
siapa yang begitu berani berpura-pura sebagai Bai Pingting di depan Yangfeng?
Dan
bukankah sangat aneh, kalau seorang penipu bisa mengetahui lokasi mereka di
tempat persembunyian.
Selagi
ia merasa khawatir, seseorang telah tiba di depan pintu. Tirai perlahan mulai
disibak.
Jari-jari
Yanfeng mengenggam erat pakaian Ze Yin sambil menatap ke arah pintu. Seiring
tirai tersibak, pancaran sinar mulai masuk dari arah pintu ke dalam ruangan.
Membuat orang yang berada di dalamnya sedikit silau, dan Yangfeng hanya mampu
melihat bunga-bunga kecil sampai akhirnya sebuah wajah nampak di matanya.
“Yangfeng,
mengapa kau sakit?” suara lembut yang sangat akrab, cukup satu kata sudah
membuatnya berurai air mata.
Yangfeng
menarik napas dalam sambil memperhatikan wajah yang berdiri di depannya dengan
hati-hati. Ia akhinya berkata lega, “Oh langit….” Sebuah tarikan napas menguras
tenaganya dan ia bersandar pada lengan Ze Yin.
Pingting
mendekat. “Yangfeng! Kenapa ?”
“Istriku,
istriku!”
Mereka
berdua segera berteriak dan beberapa pelayan datang membawakan handuk hangat.
Handuk itu diletakan di kening Yangfeng. Ia membuka matanya perlahan, dan
menatap Pingting, takut kalau-kalau ia berkedip Pingting akan menghilang.
Suaranya sangat lemah, “Pingting, kau masih hidup? Oh langit, untuk kali ini
kau sangat bermurah hati.”
“Apa…
kalian semua berpikir, aku sudah mati? tak heran para pelayan melihatku dengan
aneh.” Ekspresi Pingting meminta maaf, “Ini salahku tidak menepati janji tiga
hari. Kau dan Zuiju pasti sangat khawatir karena tidak menemukanku, benarkan?
Dimana Zuiju? Bawa dia kemari agar kekhawatirannya bisa menghilang.”
“Siapa
Zuiju?”
Pingting
menjadi bingung, “Apa dia tidak sampai kesini?”
Ekspresi
Yangfeng dan Ze Yin sangat bingung. Mereka mengelengkan kepala bersama.
Pingting
tahu pasti ada yang salah. Ia segera bertanya, “Kalau kalian tidak bertemu
Zuiju, tidak mengirim bantuan untukku, dan tidak menemukan jejakku, bagaimana
kalian bisa tahu kalau aku sudah mati?”
“Kami
menemukan pakaian wanita dan tulang-tulang berserakan karena para serigala di
kaki gunung, dan diantaranya kami menemukan tusuk rambut giok yang diberikan
Yangfeng padamu. Dari situ kami membuat kesimpulan…”
“Oh
tidak…” Pingting menjadi kaku. Ia menutup mulutnya dan matanya membelak.
Setelah beberapa saat ia menangis keras, “Zuiju!”
Kenangan
badai salju di gunung Songsen bermuculan.
Dalam
setengah sadar, Zuiju berbalik, memegang jarum perak di tangannya. Ujung jarum
bersinar di balik salju yang berkilau. Semakin terang dan terang hendak
menerangi seluruh dunia.
Setelah
itu, tiba-tiba menjadi gelap. Pingting merasa sangat penat, pandangan matanya
menjadi kabur, dan ia terjatuh ke lantai.
Yangfeng
berteriak, “Pingting! Pingting! Kenapa?” ia segera turun dari tempat tidurnya.
Ze
Yin sangat khawatir dan ia membantu Yangfeng, “Yangfeng, hati-hati…”
“Jangan
khawatirkan aku, cepat lihat dia! Cepatlah!”
Ze
Yin mengangkat Pingting dan berteriak, “Tabib, cepat pangil tabib kesini!”
“Cepat,
cepat, bawakan gingseng terbaik kesini.”
“Nyonya,
gingseng itu untukmu.”
Setelah
Yangfeng melihat Pingting, sumber sakitnya telah menghilang dan ia menjadi
lebih baik. Ia menaikan alis matanya dan berkata, “Bagaimana mungkin aku sakit,
kalau Pingting masih hidup? Cepatlah!” ia memerintahkan mereka. Setelah ia
melihat pelayan membawakan gingseng, barulah ia bisa sedikit santai. Lagipula,
ia telah sakit agak lama dan tiba-tiba ia merasa jantungnya berdetak lebih
kencang tidak stabil. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga, dan ia memerintahkan
seorang pelayan, “Masaklah obatku juga dan bawakan kesini.”
Hidup.
Benar,
semua masih hidup.
--00—
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar