Jumat, 24 Februari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.52

-- Volume 2 chapter 52 --



Sangat hangat.

Setelah menghadapi angin dan salju di gunung Songsen, dan malam-malam di bawah batu dan salju, selimut katun tebal ini sangat hangat.

Tulang kakinya yang patah masih terasa sangat sakit, sakitnya bisa membuat seseorang menjadi koma.

Ia membuka matanya dan berusaha menyentuh luka di kakinya. Seseorang telah membalutnya dengan sembarangan, ia bisa mencium bau obat dari baliknya.

Tapi, ia tetap berpikir, ada sesuatu yang salah. Alis matanya tertarik ke atas sambil menarik selimutnya, tapi ia bisa merasakan kalau ia dirinya tanpa pakaian.

“Ah…” Zuiju terkejut dan segera menarik tangannya.

“Ah,” suara seorang pria mengejeknya dari pojok ruangan yang gelap.

Zuiju memelakan matanya, “Dimana pakaianku?”

“Di salju.”

Benar, salju, Yangfeng, minta bantuan…

Pingting…

Oh tidak, Pingting!

Zuiju menyentuh rambutnya tapi ia tidak menemukannya.

“Dimana tusuk rambut giokku?” Zuiju bertanya dengan gugup.

“Di salju. Aku bahkan bersusah payah mencari jasad seorang wanita dan meletakan tusuk rambut itu di kepalanya. Tapi, mungkin sebagian besar sudah masuk ke dalam perut para serigala.”

“Sudah berapa lama?”

“Berapa lama apa?”

Zuiju sangat mengkhawatirkan Pingting. Ia segera bertanya, “Sudah berapa lama sejak kau memojokanku dengan para serigala? Setengah hari? Satu hari? Kau meletakan pakaian dan tusuk rambutku di salju? Katakan dimana persisnya, karena aku harus mendapapatkan kembali.”

“Setengah bulan.”

“Apa?” Zuiju menatap pria itu dengan tidak percaya.

Fanlu melangkah dari pojokan, busur kecilnya masih di tangannya. Sudut bibirnya terangkat, “Salju di tanah sudah mencair. Kau tertidur selama setengah bulan.”

Zuiju merasa dadanya seperti di hantam palu besar. Ia sulit bernapas. Ia menggelengkan kepalanya, “Mustahil, itu mustahil.”

Tiga hari, Pingting berkata ia akan menunggunya selama tiga hari.”

Pingting masih menunggunya di gunung Songseng dan nadinya sangat lemah.

“Kurasa sudah cukup untuk pertanyaanmu. Bagaimana aku bisa membawamu keliling kalau kau masih tidak sadar?”

“Kau…”

Fanlu menyelanya dan bertanya, “Aku sudah menyelamatkan nyawamu, mengapa kau tidak berterima kasih?”

Zuiju menatap tajam pada pria itu. Ia diam sebentar sebelum berteriak dari balik giginya yang dirapatkan, “Kau berengsek! Dasar bajingan! Pergilah ke neraka! Mengapa kau menyakitiku? Kenapa kau menyelamatkanku? Aku akan membunuhmu! Membunuhmu!”

Zuiju mengutuknya selama sekitar setengah jam, sampai akhirnya ia terengah-engah, kelelahan. Luka di kakinya mulai terasa lagi, jadi ia harus berhenti bicara karena menahan sakit. Ia memeluk selimutnya sambil berusaha bernapas tenang.

Siapa yang tahu seberapa tebal kulitnya Fanlu. Melihat Zuiju begitu kesakitan, ia hanya berdiri diam mendengarkan tanpa ekspresi. Setelah melihat Zuiju bisa bernapas teratur, ia berkata, “Sudah cukup?”

“Belum!” tidak mungkin kemarahan Zuiju bisa reda. Ia menatap Fanlu sambil berkata, “Kau sampah, kau anak umur enam tahun kejam dan ompong yang hanya makan telur…”

Zuiju memang berlidah tajam, ia bahkan mengeluarkan seluruh kata-kata mengutuk dari empat negara.

Fanlu dengan sabar mendengarkan dan akhirnya ia tersenyum. Ia bahkan bersandar di dinding. Hal itu membuat Zuiju semakin benci padanya. Ia menarik napas panjang dan berkata-kata dengan lebih kencang. Fanlu mendengarkan sebentar, dan senyumnya menghilang. Wajahnya menjadi serius, “Cukup, kalau kau lanjutkan lagi, aku akan mengambil selimutmu.”

“Kau…” Zuiju dengan kesal akhirnya berhenti.

Zuiju tidak takut mati, tapi ia benar-benar tanpa pakaian di balik selimutnya. Kalau pria itu menarik selimutnya, ia akan melihat semuanya. Itu sungguh memalukan, ia bahkan takkan mampu menghadapi kematian. Tidak banyak wanita yang berani menghadapi perlakuan seperti itu.

Fanlu mengamatinya dan tertawa mengejek.

Zuiju diam agak lama. Dan ia agak melunak, meskipun kata-katanya masih kasar, “Aku tidak berharap kau menyelamatkanku, silakan kalau ingin membunuhku.” Kemarahannya telah hilang, digantikan kesedihan yang muncul dari hatinya. Ia berbaring dan berbalik, membelakangi Fanlu.

Pingting sudah setengah bulan berada di gunung. Mungkin ia sudah meninggal, Zuiju tak bisa menahan airmatanya yang berjatuhan, meskipun ia masih berharap dari dasar hatinya. Ia berpikir, musuhnya ini berpikir kalau ia adalah Bai Pingting, artinya berkurang satu orang yang akan menyakiti Pingting di gunung Songsen. Mungkin, langit berbelas kasihan, membiarkan Pingting selamat. Berpikir seperti itu, ia ingin segera ke gunung Songseng untuk memastikan. Tapi dengan keadaannya sekarang, bagaimana ia bisa pergi?

Rahasia ini tak boleh sampai pria itu tahu.

Airmatanya mengalir dari pipinya seperti butiran mutiara yang lepas dari untaian benang.

Fanlu melihat Zuiju bergelung di balik selimut, terlihat sangat menyedihkan. Punggungnya terus bergetar, menandakan ia terus menangis, tapi Fanlu tidak peduli. Ia berbalik dan keluar dari ruangan, lalu kembali dengan membawa senampan hidangan dan diletakan di samping tempat tidur.

“Makanlah.”

Zuiju benar-benar kehilangan napsu makan dan benar-benar membenci Fanlu. Ia mengatupkan giginya dan diam.

Fanlu melihatnya tidak bergerak dan tahu kalau Zuiju sedang berpikir. Ia berkata dingin, “Aku tidak memohon padamu, aku menawarkan. Menurutlah dan makan, atau jangan salahkan aku kalau aku bertindak kejam.”

Zuiju merasakan selimutnya ditarik perlahan. Ia segera duduk dan menahan selimutnya dengan sekuat tenaga. Ia takut tapi juga marah, “Kau.. apa yang kau inginkan?”

Fanlu tersenyum tapi sorot matanya kejam. “Aku sudah bersusah payah menyelamatkanmu, menyuapimu bubur setiap hari selama perjalanan. Dan entah berapa banyak lagi usaha yang sudah kulakukan. Kalau kau memang benar-benar berniat mati, setidaknya kau harus membayar usahaku sedikit.”

Zuiju melihat Fanlu menatapnya dan menghampirnya dengan cepat. Zuiju menjadi sangat ketakukan.

Fanlu hanya berniat menakutinya, perlahan ia mundur dan bersandar pada dinding. Ia menatap hidangan dan berkata, “Makanlah.”

Mata Zuiju perlahan memerah, ia menatap tajam pada Fanlu sampai Fanlu sepertinya berniat bergerak lagi. Akhirny ia menyerah dan mengambil mangkuk, lalu mulai memakannya sedikit demi sedikit.

Di gunung bersalju, ia sangat kelaparan, dan ketika ia sudah terbebas dari gunung itu yang ia dapatkan adalah semangkuk bubur. Meskipun ia sedang khawatir dan marah, setelah dua suap, perutnya mulai berbunyi. Semakin ia banyak ia makan rasanya semakin lebih baik. Dan akhirnya ia tak hanya menghabiskan semangkuk bubur tapi juga dua hidangan lainnya.

Setelah ia meletakan mangkuknya, ia menegadah dan menyadari kalau pria itu sedang menyaksikannya selama ia makan. Zuiju melotot padanya. Ia sangat takut kalau Fanlu benar-benar akan menarik selimutnya, ia tidak berani berkata-kata lagi, hanya bisa melotot padanya.

“Apa kau melotot pada Panglima Zhen Beiwang seperti itu?” tiba-tiba Fanlu berkata.

Zuiju ragu sebentar tapi kemudian ia ingat kalau Fanlu berpikir bahwa ia Bai Pingting. Ia mengatupkan bibirnya dan tahu ia tidak cukup pintar untuk berdebat dengannya. “Bukan urusanmu.”

Fanlu tidak berkata lagi tapi masih tetap mengamati Zuiju.

Tatapannya tidak sopan dan tajam. Meskipun Zuiju memegang erat selimutnya, tapi Zuiju bisa menangkap maksud Fanlu yang berusaha melihat tubuh polosnya di balik selimut. Ia bersabar sampai akhirnya ia tidak tahan lagi. Ia melotot pada Fanlu menantangnya, “Apa yang kau lihat?”

Fanlu tidak menjawab hanya menatapnya agak lama, dan akhirnya ia berkata, “Kabar mengatakan kalau kau tidak cantik, menurutku kau lumayan.”

Hati Zuiju gembira mendengarnya. Ia menatap Fanlu dengan khawatir, ia menggenggam selimutnya lebih erat lagi.

Mereka berdua tidak berbicara. Udara terasa lebih tipis dan membuat lebih sulit bernapas.

Fanlu tidak bergerak dan hanya terus memeperhatikan Zuiju dengan diam.

Zuiju berpikir kalau tatapan Fanlu lebih menakutkan daripada para serigala itu, membuat seluruh bulu kuduknya merinding. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang keras di punggungnya, ia menyadari kalau ternyata ia bergerak mundur, dan sekarang tubuhnya sudah menyentuh dinding.

“Dimana ini?” Zuiju membuka mulutnya bertanya.

Bibir Fanlu bergerak, tapi ia tidak menjawab.

Zuiju mengerutu pelan, “kenapa kau tersenyum?”

Fanlu menjawab, “Aku bertaruh dengan diriku sendiri apakah kau akan berbicara padaku sepanjang satu duba terbakar, dan kau melakukannya.” Senyum jahil tersungging di wajahnya menampilkan sederet gigi yang putih. “Apa kau takut padaku?”

“Hmmp, yang benar saja.”

Kata-kata Zuiju belum selesai ketika tiba-tiba Fanlu mendekat dengan cepat seperti seekor hewan buas.

“Ah!” Zuiju berteriak, tapi ia terhimpit di dinding dan tak bisa bergerak kemana-mana lagi.

Ketika ia membuka matanya, wajah Fanlu muncul di depannya dengan jarak kira-kira satu langkah kaki.

“Apa… apa yang kau lakukan?”

“Melihat ekspresi wajahmu, sepertinya kau belum tahu.” Fanlu mencubit dagunya, “Apa Chu Beijie tak pernah menyentuhmu, meskipun kau sudah bersamanya begitu lama?”

Zuiju selalu menemani Gurunya dan selalu di manjakan. Kemanapun ia pergi, sebutan sebagai ‘murid dari tabib jenius’ selalu mengikutinya, maka bahkan para penghuni istanapun akan memperlakukan dirinya dengan sopan. Ia tidak pernah dilecehkan oleh seorang pria seperti ini.

Hembusan napas Fanlu yang hangat menyentuh wajahnya. Pria ini sungguh lebih menyeramkan daripada segerombolan serigala. Zuiju ketakutan dan malu, ia berteriak, “Pergilah, pergilah!”

“Siapa kau?”

“Aku Bai Pingting, Bai Pingting!”

“Bai Pingting?” Fanlu menghela napas, melepaskannya, dan turun dari tempat tidur.

Zuiju merasa seperti ia baru saja terbebas dari pintu kematian, dan ia merasa lega. Ia semakin menempel pada dinding.

Fanlu terlahir sebagai mata-mata. Ia sangat pintar, dan mampu membaca eskpresi wajah, hal yang paling penting untuk mengumpulkan informasi. Bagaimana mungkin ia tidak mengerti?

Wanita ini bukan Bai Pingting.

Entah bagaimana ia bisa memiliki tusuk rambut giok itu, tapi ia bukan Bai Pingting.

Pada saat Pejabat Senior mendapat berita kematian Bai Pingting, ia segera menaikan jabatan Fanlu karena gembira, membuatnya menjadi Gubenur kota Qierou.

Ia mempertaruhkan hidupnya untuk membuat kematian palsu, dan laporan palsu. Ia berpikir untuk mendapatkan keuntungan dari hal ini.

Tapi ternyata, ia melakukan kesalahan besar.

Pemikiran tentang segala yang mungkin terjadi bermunculan di kepala Fanlu. Dari sudut matanya, ia memperhatikan Zuiju yang menatapnya.

Wanita ini bukan Bai Pingting. Sama sekali tidak berharga.

Terlebih lagi jika Pejabat Senior sampai mengetahui kebohongannya, ia pasti mati.

Membunuh wanita itu?

Perlahan tangannya menyentuh busur kecil di atas meja.

Tapi, kemudian berhenti.

Untuk apa membunuhnya? Kalau Bai Pingting sampai muncul lagi, bahkan jika ia membunuh wanita ini, kebohongannya tetap akan terkuak.

Fanlu menatap Zuiju yang sedang menatapnya di atas tempat tidur.

Wanita itu memiliki bola mata hitam besar, rambut hitam yang lebat dan bibir yang mungil.

Hari itu, mengapa ia merasa perlu melindunginya dan menyelamatkannya?

Selain memikirkan kalau ia berharga, ada apa dalam diri wanita itu yang membuatnya lemah, mempertaruhkan hidupnya untuk mencurinya dari mulut para serigala?

Fanlu menatapnya lama, dan akhirnya berkata, “Tempat ini disebut Qierou, sebuah kota kecil di negara Yun Chang.” Ia memperhatikan Zuiju, dan tersenyum jahil yang hanya bisa ditampilkan olehnya. “Aku baru saja ditunjuk sebagai Gubenur dikota ini jadi akulah pejabat tertinggi disni. Kalau kau ingin melarikan diri, aku akan memburumu seperti seekor kelinci.” Dan ia menambahkan dengan sedikit ragu. “Lalu, aku akan mengulitimu dan memajangmu, tanpa pakaian di atas tembok.”

--

Yangfeng meminum obatnya sebelum berbaring. Tubuhnya terasa lebih segar tapi hatinya sangat khawatir pada Pingting. Ia segera memanggil seorang pelayan.

Si pelayan dengan agak takut berkata, “Nyonya, Tuan berkata Nona Bai telah di letakan di ruangan di ujung koridor. Tuan juga berkata akan segera menemuimu setelah tabib selesai memeriksa Nona Bai dan menuliskan resep. Dan seorang pelayan telah diperintahkan untuk menemaninya, jadi Nyonya hanya perlu beristirahat dengan benar.”

Yangfeng duduk di tempat tidurnya dan menurunkan lututnya hendak memakai sepatu. “Jangan takut pada Tuan, ini keinginanku sendiri. Aku tidak akan memaksakan tubuhku, hanya melihat sebentar dan aku akan kembali untuk berbaring. Aku belum melihat Pingting dengan seksama. Meskipun pertemuan terakhir kami belum terlalu lama. Apa yang kau lakukan? Kemarilah bantu aku.”

Si pelayan takut Ze Yin akan marah, tapi melihat Yangfeng, ia juga takut padanya. Si pelayan merasakan dilemma sehingga ia menarik napas panjang, dan akhirnya ia membantu Yangfeng. Ia memanggil seseorang untuk membantu dan mereka berdua membantu Yangfeng.

Si pelayan berkata, “Benar-benar hanya melihat sebentar? Kalau Tuan menyalahkan kami, Nyonya harus mengatakan pembelaan untuk kami.”

“Tentu saja.” Yangfeng terkekeh, “Kalian berdua terlalu pintar. Mengapa kalian takut pada Tuan dan tidak padaku?”

Ia bersandar pada pundak mereka berdua, dan perlahan masuk ruangan.

Mereka hendak melangkah masuk, tapi terlihat oleh Ze Yin dan saat itu juga tabib keluar dari ruangan. Wajah Ze Yin mengelap dan ia melangkah mendekati mereka. Ia memeluk Yangfeng dan mengangkatnya lalu memarahinya, “Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk berbaring? Mengapa kau tetap turun dari tempat tidur? Sekarang Pingting sudah disini, kau bisa melihatnya setiap saat.”

Ia melotot pada dua pelayan yang sudah ketakutan hingga melangkah mundur kebelakang.

Yangfeng yang berada di pelukannya merasa hangat dan nyaman. Ia menatap Ze Yin dan tersenyum manis, “Jangan salahkan mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak patuh pada perintah istri dari seorang Jendral hebat? Suamiku, bagaimana keadaan Pingting? Apa ia sekarat?”

“Tubuhnya sangat lemah. Tentunya tidak mudah melewati perjalananan sulit seperti itu.” Ze Yin membawa Yangfeng kembali ke ruangannya, ia berbisik. “Pingting hamil.”

Yangfeng terkejut, wajahnya sangat terkejut.

“Itu pasti anak Chu Beijie.” Ia berbisik kembali.

“Benar.” Ze Yin menghela, “Dari surat Ruohan kemarin, sepertinya sakit Raja Dong Lin semakin parah. Dua pangeran sudah mati ditangan Raja kita dan He Xia…” Ze Yin menurunkan Yangfeng di tempat tidur dan menyelimutinya.

“Darah daging kerajaan Dong Lin di dalam kandungan Pingting.” Yangfeng perlahan mengatakannya, “Lalu dimana Chu Beijie? Dimana ia sekarang?”

“Tidak ada yang tahu keberadaannya. Sejak mendengar kematian Pingting, sepertinya ia menghilang. Raja kita bergembira dengan hal ini dan mengadakan perayaan selama tiga hari di istana. Kalau ia tahu Pingting tidak meninggal dan mengandung anak Chu Beijie, ia pasti segera bergegas kemari.” Suara Ze Yin menghilang dan menatap serius pada Yangfeng.

Yangfeng juga merasa ragu. Ia berpikir lama, lalu menghela napas, “Meskipun ia menyedihkan, ia juga menyebalkan. Hari ini ia terlihat sedih pada Pingting, tapi kalau besok negaranya mengalami musibah lagi, ia akan segera mengunakan Pingting. Saat ini, seluruh dunia percaya kalau Pingting sudah meninggal, mengapa tidak kita biarkan saja? Biar Pingting bisa hidup damai.”

“ini…”

“Tentu saja hal ini harus atas persetujuan Pingting terlebih dahulu. Aku akan menanyakan padanya tentang ini. Ia akan mengerti.” Yangfeng berhenti sebentar, “Setelah tragedy seperti itu, aku tidak akan membiarkannya meninggalkanku lagi. Entah aku kaya atau miskin, tak peduli apa yang akan terjadi, kami bersaudara akan selalu bersama. Dengan begitu kita bisa saling melindungi.”

Ze Yin sangat tahu isi hati Yangfeng, ia masih menyesali pertempuran di Kanbu. Ini kesalahan yang takkan pernah mampu ia tebus pada Pingting sepanjang hidupnya.

Buat Ze Yin, selama Yangfeng selamat, apa lagi yang perlu di khawatirkan? Ze Yin tidak pernah menyesali perbuatannya, ia segera mengangguk setuju. “Baiklah, kalau Pingting memutuskan untuk hidup bersama kita menyembunyikan diri, kita akan segera membereskan barang-barang dan pindah ke suatu tempat. Tempat ini sudah tidak aman. Ruohan tahu, Raja juga tahu, bahkan Chu Beijiepun tahu. Entah siapa lagi yang akan datang di kemudian hari.”

“Kali ini, kita akan memutuskan segala hubungan dengan Bei Mo. Bahkan Ruohan dan Raja, kita akan memutus kabar.”

Ze Yin memperhatikan istrinya dan berkata dengan suara rendah, “Baiklah.”

“Suamiku….” Yangfeng sangat terharu dengan keputusan suaminya.

--

Salju sudah mencair dan angin musim semi sudah bertiup.

Pingting, apa kau masih ingat bagaimana kita bernyanyi untuk bersenang-senang, melipat daun pohon willow, menertawakan motip yang digunakan di kediaman Putra Mahkota He Su? Apa kau ingat ketika kau bermain kecapi dalam perayaan ulang tahunmu di Kediaman Jin Anwang?

Hari ini, He Su menjadi penguasa negaranya, dan Kediaman Jin Anwang menjadi debu.

He Xia melalui ribuan mil dalam perjalanannya, memasuki negara Yun Chang dan menjadi Suami Ratu.

Perubahan hidup tanpa pengalaman sulit di perkirakan.

Tapi masih tetap menyenangkan, karena kau dan aku masih disini.

--

Karena Ze Yin berharap kondisi Yangfeng segera membaik, ia memerintahkan dengan tegas kalau Yangfeng tidak boleh turun dari tempat tidurnya. Ia memerintahkan beberapa pelayan untuk menjaga Pingting dan mengatur segalanya. Ia tidak merasa lelah sama sekali bahkan ia merebus sendiri ramuan obat untuk mereka.

Yangfeng tak bisa menolak, ia hanya bisa pasrah selama tujuh atau delapan hari. Ia dengan patuh mendengarkan tabib dan meminum obatnya setiap hari di waktu yang sama. Sekarang ia sudah hampir pulih, Ze Yin terkadang membawa anak mereka untuk menemui ibunya. Ia bahagia melihat anaknya, memeluknya dan menciumnya. Ia berkata, “Qing Er sayang, pergilah jenguk bibi Pingting mewakili ibumu. Ada seorang adik bayi laki-laki kecil di dalam perutnya, dan dia akan bermain bersamamu nantinya.”

Ze Qing baru hampir satu tahun, jadi mustahil ia mengerti perkataan Yangfeng. Matanya yang bersinar melirik ke kanan dan ke kiri. Ia beberapa kali membuka mulutnya untuk tersenyum dan tertawa pada ibunya.

Ze Yin berdiri disatu sisi, menyaksikan ibu dan anak. Ia merasa lucu, “Bagaimana kau tahu kalau bayi Pingting laki-laki?”

“Menebak, tentu saja. Apa Pingting sudah lebih baik?”

Ekspresi Ze Yin menjadi gelap, ia menggelengkan kepalanya, “Ia tidak banyak bicara dan sepertinya sangat kecewa. Apa Zuiju pelayannya?”

Yangfeng mengelengkan kepalanya, “Tidak ada nama seperti itu di Kediaman Jin Anwang. Kalau ia seorang pelayan, mungkin seseorang yang diberikan Chu Beijie.” Meskipun ia tak pernah bertemu Zuiju, ia merasa kasihan atas nasibnya yang dicabik-cabik oleh para serigala tapi setidaknya Zuiju tidak sekecewa Pingting. Yangfeng merubah topik pembicaraan, “Melihatnya, apakah ada kemungkinan ia ingin kembali pada Chu Beijie? Chu Beijie telah bersalah padanya, tapi ia memiliki darah dagingnya. Aku takut kalau Pingting akan memaafkannya.”

Ze Yin sedikit ragu. Ia memimpin pasukan dengan formasi yang jelas dan masuk akal, dan masalah ini ia sama sekali tidak menguasainya. Ia mengaruk kepalanya dan berkata, “Hati seorang wanita sangat sulit ditebak. Bagaimana aku bisa tahu?”

Yangfeng menatapnya dibalik bulu matanya dan tersenyum, “Aku bisa memberitahumu. Panglima, seseorang disini telah pulih sejak beberapa hari lalu. Tak bisakah kau sedikit berbaik hati, menarik kembali perintahmu agar aku bisa turun dari tempat tidur ini? Hal ini tidak sesulit seperti membuat air menjadi busuk atau membuat engsel pintu tidak dimakan rayap. Orang sakit perlu berjalan-jalan agar lebih cepat pulih.”

Ze Yin melihat Yangfeng tersenyum gembira seperti bunga yang mekar. Tubuh dan pikirannya ikut senang. Memikirkan kalau Yangfeng telah terjebak di tempat tidur selama berhari-hari, akhirnya ia menyerah juga. Ia membelai rambut yang terurai dari jepitannya dan berkata, “Jangan paksakan dirimu dengan berjalan tergesa-gesa karena dirimu baru pulih. Salju musim salju baru saja mencair, udara masih sangat dingin. Kalau kau ingin melihat Pingting, aku akan membawamu kesana.” Lalu ia berdiri dan mengangkat Yangfeng dengan kedua tangannya.

Si kecil Ze Qing diletakan di atas tempat tidur. Ia menangis karena merasa di tinggal.

Ze Yin tersenyum dan melihat ke arahnya. “Anak baik, kau masih kecil. Nanti kalau kau sudah dewasa, kau bisa mengangkat kekasihmu seperti ini.”

Yangfeng melihat suaminya sedang mengajarkan anak mereka, ia menggelengkan kepala lucu dan sedikit marah.

Ruang tamu sangat sunyi. Mereka berdua masuk, dan aura senang mereka tiba-tiba menghilang.

“Pingting?”

Pingting terbangun. Ia juga menerima perintah tegas Ze Yin tidak boleh turun dari tempat tidur. Ia sudah duduk di atas tempat tidurnya, tubuhnya bersandar di bantal dan kakinya ditutup selimut. Mendengar suara Yangfeng, ia sangat terkejut. Ia berbalik menatap mereka, rambutnya yang hitam terurai di pundaknya, “Yangfeng?”

Masih tersisa garis-garis keceriaan di wajahnya, tapi pipinya benar-benar pucat, membuat yang melihatnya merasa takut.

“Pingting, Pingting…” mata Yangfeng memerah, dan ia mulai menangis.

Ze Yin menurunkan Yangfeng, meletakannya di sisi sebelah Pingting.

“Kenapa kau menangis?” Pingting memegang tangan Yangfeng, dan tertawa kecil, “Kudengar kau sakit. Apa kau sudah sehat sekarang?” Pingting memandangnya memperhatikan.

Ze Yin berdiri seperti menara baja di samping, memperhatikan istrinya dengan sikap meliindungi.

“Hmm, jauh lebih baik.” Yangfeng menjawab, “Dan kau?”

Pingting menjawab dengan penuh terima kasih, “Aku juga lebih baik, berkat bantuan Jendral.”

“Apa kau meminum obatmu tepat waktu?”

“Tentu saja.” Pingting menundukan kepala dan perlahan menyentuh perutnya yang mulai menonjol. “Anak ini sangat penurut, hari ini ia tidak menendang atau membuat kekacauan.”

Yangfeng menghela napas. “Kau tahu betapa pentingnya anakmu, jangan terus-terusan bersedih. Pingting berhentilah menyalahkan dirimu. Zuiju sudah meninggal. Kau tidak boleh mengacaukan hidupmu. Memangnya apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya hidup kembali? Karena kalian berdua sangat dekat, ia pasti kecewa dengan tindakanmu ini.”

Ze Yin mengerutkan dahinya, berpikir kalau ia pernah mendengar kata-kata ini sebelumnya.

Ketika Pingting mendengar nama Zuiju, senyumnya langsung menghilang. Ia menghela napas dan menatap ke atas, “Aku mengerti maksudmu, tapi hatiku sakit sekali. Kalau aku memikirkan ia, hatiku seperti di tusuk-tusuk jarum. Aku menyuruhnya turun gunung, karena aku berniat menyelematkannya. Ada satu yang selamat lebih baik daripada berdua mati kelaparan dan kedinginan. Aku tak pernah menyangka kalau ia akan….”

Yangfeng melihat Pingting menjadi sedih dan ia segera merubah topik, “Aku kemari karena ingin membicarakan sesuatu denganmu. Pertama, aku sudah memutuskan tidak akan membiarkanmu berkelana keliling empat negara lagi, membuatku khawatir seperti ini. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat dan tinggal bersembunyi bersama? Karena situasinya sudah seperti ini, kalau kau tidak berniat, paling tidak untuk anakmu. Jangan terus bersedih, pikirkan kehidupanmu juga.”

Pingting tahu perkataan Yangfeng sangat benar. Ia tidak ingin membuat Yangfeng khawatir lagi. Ia tersenyum dan mengangguk. “Hidup bersembunyi sepertinya lebih baik. Tapi suamimu adalah Jendral terkenal dan ia memiliki begitu banyak pengikut serta harta berlimpah. Dimana kau bisa tinggal bersembunyi? Meskipun kita pindah tempat, mungkin hanya dalam tiga hari, Jendral Bei Mo lain akan segera menemukanmu. Aku tidak ingin ada yang tahu kalau aku masih hidup, jadi kupikir aku akan mencari tempat untuk aku dan anakku memulai kehidupan baru.”

Yangfeng menyadari kalau Pingting tidak berniat menyebut Chu Beijie. Ia terlihat lebih bertenaga daripada sebelumnya. Dan ia menyadari kalau Pingting sudah memiliki rencana lain. Ia segera berkata, “Memangnya kenapa? Kita bisa membubarkan para pelayan dan penjaga. Karena kita berniat bersembunyi, apa perlunya kehidupan mewah seperti di Kediaman seorang Jendral?”

Pingting memperhatikan Yangfeng dan ia menggelengkan kepalanya, “Kau tidak seperti aku. Aku telah mengalami begitu banyak tragedi. Aku sudah pernah mencuri untuk keperluanku, mendaki gunung bersalju dan menderita kelaparan. Aku tahu rasanya menjadi miskin. Sejak kecil, kau ditempatkan di Kediaman Pangeran, dan begitu kau sampai di Bei Mo, kau menjadi istri Jendral. Bagaimana kau bisa bertahan dengan kehidupan seperti itu?”

Yangfeng menegakkan punggungnya dan menjawab dengan lembut, “Pingting, aku tidak sedang bercanda. Setelah aku tahu kalau kau meninggalkan Kediamanku untuk pergi ke Dong Lin menemui Chu Beijie, aku begitu menyesal sampai hampir merobek jantungku. Kau juga ditempatkan di Kediaman Jin Anwang dan diperlakukan seperti nona besar. Bagaimana mungkin aku tidak mampu menjalani kehidupan seperti yang kau lalui?” ia memikirkan sesuatu tapi kemudian ia menyadari kalau ini bukan hanya keputusan ia sendiri. Ia berbalik dan menatap Ze Yin.

Ze Yin berkata pelan dengan suaranya, “Jangan khawatir, aku akan mengaturnya.”

Ketika ia meminta Yangfeng untuk menikahinya dulu, ia telah lama berniat meninggalkan medan perang dan tinggal sederhana, seluruh hatinya menginginkan kehidupan damai bersama istrinya.

Apa artinya para pelayan dan penjaga untuknya?

Yangfeng tahu kebaikan hati suaminya dan mereka berdua tertawa geli.

Pingting melihat keduanya dan tiba-tiba ia teringat Chu Beijie. Dari sudut hatinya ia merasa sakit, tapi ia menahannya agar tidak terlihat oleh mereka. Ia khawatir Yangfeng akan mengetahuinya, maka ia menoleh ke belakang dan menyeka matanya yang mulai berkaca-kaca.

Ze Yin melakukan yang ia katakana. Malam itu, ia memanggil semua pelayan dan penjaga ke halaman utama, dan berkata, “Aku pernah berjanji pada Yangfeng untuk hidup sederhana, dan kali ini tidak akan kembali lagi. Karena kami akan tinggal di pedalaman desa, maka kami tidak butuh pelayan dan penjaga. Untuk para penjaga, kalian semua masih muda dan jika kalian masih berniat mengabdi pada negara, kalian bisa kembali ke ibukota. Aku akan menulis surat untuk Jendral Ruohan agar bisa mengatur tempat lain untuk kalian. Sedangkan untuk para pelayan, kalian yang punya kampung halaman, bisa kembali ke rumah kalian. Dan yang tidak, kalian bebas pergi dan bekerja di kediaman lain. Semua barang-barang disini sebagian besar hasil dari karir militerku. Semuanya adalah harta berharga dari kerajaan. Bagilah diantara kalian, kalian bisa menggunakannya untuk usaha, investasi, pensiun atau mas kawin, apa saja sialakan.”

Ketika mereka mendengar perkataannya, mereka semua menangis.

Ekspresi Ze Yin tidak berubah, ia berkata dengan lebih pelan, “Kalian semua tahu sifatku. Bahkan seluruh pasukan harus mendengarkan perintah sederhanan dariku, apalagi kalian. Jangan biarkan perasaan kalian berlarut-larut. Tidak ada perayaan yang tidak berakhir di bawah langit ini. Melakukan perpisahan dengan gembira dan bebas adalah hal yang biasa dilakukan oleh para rakyat Bei Mo. Satu lagi, ada seseorang disini yang kalian mungkin bisa tebak identitasnya, berita tentang ia masih hidup jangan sampai tersebar keluar. Kalian semua sudah menemaniku bertahun-tahun, aku percaya pada kalian. Tapi, aku ingin kalian berjanji disini, kalau kalian tidak akan mengatakannya pada siapapun.”

Setelah ia selesai, setiap orang mengerti kalau Ze Yin sudah membuat keputusan bulat.

Para penjaga, telah mengikuti Ze Yin melakukan perjalanan jauh, mereka semua berdarah juang tinggi. Maka mereka semua berharap suatu saat Ze Yin akan kembali ke ibukota, kembali ke posisinya semula di militer dan berjuang untuk negara seperti dulu. Setelah mendengar kata-kata Ze Yin, mereka semua berjanji untuk tidak mengatakan apapun tentang Bai Pingting yang masih hidup.

Sedangkan para pelayan, mereka mengkikuti Jendral sejak mereka masih muda. Dan semuanya sangat setia, meskipun mereka tidak mengerti masalah militer atau negara, tapi mereka tahu Bai Pingting adalah teman baik Nyonya mereka, maka mereka juga berjanji.

Ze Yin bertindak cepat, ia meminta seseorang membawakannya tinta dan kuas, dan ia mulai menulis surat untuk Ruohan. Lalu ia menyerahkan barang-barang berharganya kepada setiap orang, agar mereka tidak perlu khawatir kelaparan dan kedinginan. Ia sangat sibuk sampai larut malam, sampai akhirnya semua persiapan selesai dilakukan, tapi tetap saja masih ada sebuah masalah sulit.

Si penjaga bernama Weiting satu-satunya yang menolak pergi. Matanya memerah ketika ia berkata, “Aku telah bersama Jendral begitu lama, kemana lagi aku bisa pergi? Jendral tahu sifatku, dan kalau Jendral lain memerintahku, aku tidak akan patuh. Setidaknya Jendral butuh seseorang untuk membawa air atau mengiring ternak di pegunungan sekalipun, benarkan? Kalau Jendral tidak bersedia membawaku, aku akan mati disini saat ini.” Ia mengeluarkan pedangnya dan meletakannya di lehernya.

Masalah utama Weiting adalah ia tidak paham membaca ekspresi orang lain sehingga menimbulkan pertentangan dengan beberapa Jendral termasuk Ruohan. Tapi ketika bertempur, ia sama sekali tidak takut mati, dan kekuatannya patut dihargai. Karena hal inilah, Ze Yin menghargainya dan membiarkannya bersamanya.

Ze Yin tahu benar sifatnya, mungkin kalau ia benar-benar menggelengkan kepalanya, Weiting akan benar-benar memotong lehernya sendiri. Tiba-tiba ia ingat kalau Weiting telah banyak menyinggung Jendral penting lainnya. Bahkan kalau ia merekomendasikannya, ia akan di ganggu atau bahkan lebih buruk. Akhirnya ia menangguk setuju, “Baiklah, kau bisa ikut.”

Selain Weiring ada pula pengasuh Ze Yin dan Paman Xu yang membesarkannya. Mereka berdua sudah sangat tua, maka Ze Yin membawa mereka serta untuk membalas budi mereka sampai napas terakhir mereka.

“Semuanya persiapan sudah dilakukan. Yang tersisa adalah mencari tempat untuk tinggal.”

Pingting memikirkan ini, dan ia berkata, “Aku tahu tempat yang bagus. Ada sebuah desa kecil di balik kaki gunung Songsen. Ada sebuah dataran untuk bercocok tanam, dan rerumputan bisa tumbuh. Meskipun sedikit miskin, tapi orang-orangnya sangat baik hati.”

“Kalau kau saja memuji tempat itu, tentunya tempat itu sangat bagus.” Yangfeng selalu percaya penilaian Pingting. Ia meminta persetujuan Ze Yin, “Kau setuju?”

Ze Yin menatap dengan penuh kasih. “Kalau kau menyukainya, aku setuju.”

“Satu hal lagi.” Pingting berkata. “Aku ingin memindahkan kurburan Zuiju, aku tidak mau meninggalkannya sendiri disini.”

Yangfeng membalas, “Itu mudah. Kita akan mengalinya dan membawanya.”

“Guru Zuiju adalah tabib jenius di Dong Lin, tabib Huo Yunan.” Pingting mengeluarkan surat dari lengan bajunya. “Kudengar, Zuiju adalah satu-satunya muridnya dan kesayangannya. Aku sudah menulis surat. Jendral, tolong carikan seseorang untuk mengirimnya, dan kalau tabib Huo bertanya siapa yang menulis surat ini, katakan saja dari salah seorang teman Zuiju.”

Ze Yin menerima suratnya, “Beristirahatlah, aku akan memastikan surat ini diterima oleh tabib Huo.”

Ketika mereka kembali ke ruangan Ze Yin bertanya pada Yangfeng, “Apa kau pikir surat ini benar-benar harus dikirim?”

Yangfeng menjawab dengan kaku, “Megapa tidak?”

“Huo Yunan adalah tabib jenius negara Dong Lin dan sering berada di istana kerajaan. Ia memiliki hubungan kuat dengan keluarga kerajaan. Kalau surat ini dikirim dan Huo Yunan curiga dengan kematiannya, dan kalau ia menyelidiki, apa yang akan terjadi pada Pingting? Aku khawatir ia bisa mengetahui hubungan hal ini.”

Setelah mendengarnya barulah Yangfeng mengerti. Raut wajahnya berubah, “Pingting memiliki darah daging Chu Beijie dalam kandungannya. Peperangan di dalam istana juga mengerikan, apalagi setelah Chu Beijie menghilang. Kalau ia sampai terkait dalam perebutan takhta… apa mereka akan mengirim seseorang untuk membunuhnya.”

Ze Yin mengangguk, “Itulah yang aku khawatirkan.”

“Kalau begitu, surat ini tidak perlu dikirim.” Yangfeng hanya khawatir dengan keselamatan Pingting, ia akan menutup mata pada masalah tabib jenius dari Dong Lin. Ia berpikir sebentar, memutuskan dan berkata, “Berikan padaku.” Begitu ia memegang suratnya, ia membakarnya. Ia menyaksikan api melahap surat itu dan berbisik, “Pingting, aku tahu kau berhati mulia dan tak bisa berhenti memikirkan guru Zuiju yang terus mencari muridnya. Tapi, keselamatanmu lebih penting, jadi biarkan aku yang memutuskan kali ini.”

Semua orang di kediaman terbiasa dengan gaya Ze Yin yang hebat dan tegas. Meskipun mereka engan, tapi mereka mampu pergi tanpa menangis.

Hanya dalam beberapa hari, setiap orang sudah terbagi-bagi dalam beberapa kelompok. Barang-barang berharga dalam ruanganpun sudah dibawa.

Hanya keluarga Ze Yin bertiga, Pingting, Paman Xu, si pengasuh dan Weiting yang tertinggal, mereka semua berjumlah tujuh orang. Mereka membawa uang yang tersisa, Ze Yin telah mempersiapkan perjalanan mereka. Kali ini, mereka benar-benar meninggalkan urusan negara Bei Mo.

--00--

Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar