Sangat
hangat.
Setelah
menghadapi angin dan salju di gunung Songsen, dan malam-malam di bawah batu dan
salju, selimut katun tebal ini sangat hangat.
Tulang
kakinya yang patah masih terasa sangat sakit, sakitnya bisa membuat seseorang
menjadi koma.
Ia
membuka matanya dan berusaha menyentuh luka di kakinya. Seseorang telah
membalutnya dengan sembarangan, ia bisa mencium bau obat dari baliknya.
Tapi,
ia tetap berpikir, ada sesuatu yang salah. Alis matanya tertarik ke atas sambil
menarik selimutnya, tapi ia bisa merasakan kalau ia dirinya tanpa pakaian.
“Ah…”
Zuiju terkejut dan segera menarik tangannya.
“Ah,”
suara seorang pria mengejeknya dari pojok ruangan yang gelap.
Zuiju
memelakan matanya, “Dimana pakaianku?”
“Di
salju.”
Benar, salju,
Yangfeng, minta bantuan…
Pingting…
Oh tidak, Pingting!
Zuiju
menyentuh rambutnya tapi ia tidak menemukannya.
“Dimana
tusuk rambut giokku?” Zuiju bertanya dengan gugup.
“Di
salju. Aku bahkan bersusah payah mencari jasad seorang wanita dan meletakan
tusuk rambut itu di kepalanya. Tapi, mungkin sebagian besar sudah masuk ke
dalam perut para serigala.”
“Sudah
berapa lama?”
“Berapa
lama apa?”
Zuiju
sangat mengkhawatirkan Pingting. Ia segera bertanya, “Sudah berapa lama sejak
kau memojokanku dengan para serigala? Setengah hari? Satu hari? Kau meletakan
pakaian dan tusuk rambutku di salju? Katakan dimana persisnya, karena aku harus
mendapapatkan kembali.”
“Setengah
bulan.”
“Apa?”
Zuiju menatap pria itu dengan tidak percaya.
Fanlu
melangkah dari pojokan, busur kecilnya masih di tangannya. Sudut bibirnya
terangkat, “Salju di tanah sudah mencair. Kau tertidur selama setengah bulan.”
Zuiju
merasa dadanya seperti di hantam palu besar. Ia sulit bernapas. Ia
menggelengkan kepalanya, “Mustahil, itu mustahil.”
Tiga
hari, Pingting berkata ia akan menunggunya selama tiga hari.”
Pingting
masih menunggunya di gunung Songseng dan nadinya sangat lemah.
“Kurasa
sudah cukup untuk pertanyaanmu. Bagaimana aku bisa membawamu keliling kalau kau
masih tidak sadar?”
“Kau…”
Fanlu
menyelanya dan bertanya, “Aku sudah menyelamatkan nyawamu, mengapa kau tidak
berterima kasih?”
Zuiju
menatap tajam pada pria itu. Ia diam sebentar sebelum berteriak dari balik
giginya yang dirapatkan, “Kau berengsek! Dasar bajingan! Pergilah ke neraka!
Mengapa kau menyakitiku? Kenapa kau menyelamatkanku? Aku akan membunuhmu!
Membunuhmu!”
Zuiju
mengutuknya selama sekitar setengah jam, sampai akhirnya ia terengah-engah,
kelelahan. Luka di kakinya mulai terasa lagi, jadi ia harus berhenti bicara
karena menahan sakit. Ia memeluk selimutnya sambil berusaha bernapas tenang.
Siapa
yang tahu seberapa tebal kulitnya Fanlu. Melihat Zuiju begitu kesakitan, ia
hanya berdiri diam mendengarkan tanpa ekspresi. Setelah melihat Zuiju bisa
bernapas teratur, ia berkata, “Sudah cukup?”
“Belum!”
tidak mungkin kemarahan Zuiju bisa reda. Ia menatap Fanlu sambil berkata, “Kau
sampah, kau anak umur enam tahun kejam dan ompong yang hanya makan telur…”
Zuiju
memang berlidah tajam, ia bahkan mengeluarkan seluruh kata-kata mengutuk dari
empat negara.
Fanlu
dengan sabar mendengarkan dan akhirnya ia tersenyum. Ia bahkan bersandar di
dinding. Hal itu membuat Zuiju semakin benci padanya. Ia menarik napas panjang
dan berkata-kata dengan lebih kencang. Fanlu mendengarkan sebentar, dan senyumnya
menghilang. Wajahnya menjadi serius, “Cukup, kalau kau lanjutkan lagi, aku akan
mengambil selimutmu.”
“Kau…”
Zuiju dengan kesal akhirnya berhenti.
Zuiju
tidak takut mati, tapi ia benar-benar tanpa pakaian di balik selimutnya. Kalau
pria itu menarik selimutnya, ia akan melihat semuanya. Itu sungguh memalukan,
ia bahkan takkan mampu menghadapi kematian. Tidak banyak wanita yang berani
menghadapi perlakuan seperti itu.
Fanlu
mengamatinya dan tertawa mengejek.
Zuiju
diam agak lama. Dan ia agak melunak, meskipun kata-katanya masih kasar, “Aku
tidak berharap kau menyelamatkanku, silakan kalau ingin membunuhku.”
Kemarahannya telah hilang, digantikan kesedihan yang muncul dari hatinya. Ia berbaring
dan berbalik, membelakangi Fanlu.
Pingting
sudah setengah bulan berada di gunung. Mungkin ia sudah meninggal, Zuiju tak
bisa menahan airmatanya yang berjatuhan, meskipun ia masih berharap dari dasar
hatinya. Ia berpikir, musuhnya ini berpikir kalau ia adalah Bai Pingting,
artinya berkurang satu orang yang akan menyakiti Pingting di gunung Songsen.
Mungkin, langit berbelas kasihan, membiarkan Pingting selamat. Berpikir seperti
itu, ia ingin segera ke gunung Songseng untuk memastikan. Tapi dengan
keadaannya sekarang, bagaimana ia bisa pergi?
Rahasia
ini tak boleh sampai pria itu tahu.
Airmatanya
mengalir dari pipinya seperti butiran mutiara yang lepas dari untaian benang.
Fanlu
melihat Zuiju bergelung di balik selimut, terlihat sangat menyedihkan.
Punggungnya terus bergetar, menandakan ia terus menangis, tapi Fanlu tidak
peduli. Ia berbalik dan keluar dari ruangan, lalu kembali dengan membawa senampan
hidangan dan diletakan di samping tempat tidur.
“Makanlah.”
Zuiju
benar-benar kehilangan napsu makan dan benar-benar membenci Fanlu. Ia
mengatupkan giginya dan diam.
Fanlu
melihatnya tidak bergerak dan tahu kalau Zuiju sedang berpikir. Ia berkata
dingin, “Aku tidak memohon padamu, aku menawarkan. Menurutlah dan makan, atau
jangan salahkan aku kalau aku bertindak kejam.”
Zuiju
merasakan selimutnya ditarik perlahan. Ia segera duduk dan menahan selimutnya
dengan sekuat tenaga. Ia takut tapi juga marah, “Kau.. apa yang kau inginkan?”
Fanlu
tersenyum tapi sorot matanya kejam. “Aku sudah bersusah payah menyelamatkanmu,
menyuapimu bubur setiap hari selama perjalanan. Dan entah berapa banyak lagi
usaha yang sudah kulakukan. Kalau kau memang benar-benar berniat mati,
setidaknya kau harus membayar usahaku sedikit.”
Zuiju
melihat Fanlu menatapnya dan menghampirnya dengan cepat. Zuiju menjadi sangat
ketakukan.
Fanlu
hanya berniat menakutinya, perlahan ia mundur dan bersandar pada dinding. Ia menatap
hidangan dan berkata, “Makanlah.”
Mata
Zuiju perlahan memerah, ia menatap tajam pada Fanlu sampai Fanlu sepertinya
berniat bergerak lagi. Akhirny ia menyerah dan mengambil mangkuk, lalu mulai
memakannya sedikit demi sedikit.
Di
gunung bersalju, ia sangat kelaparan, dan ketika ia sudah terbebas dari gunung
itu yang ia dapatkan adalah semangkuk bubur. Meskipun ia sedang khawatir dan
marah, setelah dua suap, perutnya mulai berbunyi. Semakin ia banyak ia makan
rasanya semakin lebih baik. Dan akhirnya ia tak hanya menghabiskan semangkuk
bubur tapi juga dua hidangan lainnya.
Setelah
ia meletakan mangkuknya, ia menegadah dan menyadari kalau pria itu sedang
menyaksikannya selama ia makan. Zuiju melotot padanya. Ia sangat takut kalau
Fanlu benar-benar akan menarik selimutnya, ia tidak berani berkata-kata lagi,
hanya bisa melotot padanya.
“Apa
kau melotot pada Panglima Zhen Beiwang seperti itu?” tiba-tiba Fanlu berkata.
Zuiju
ragu sebentar tapi kemudian ia ingat kalau Fanlu berpikir bahwa ia Bai
Pingting. Ia mengatupkan bibirnya dan tahu ia tidak cukup pintar untuk berdebat
dengannya. “Bukan urusanmu.”
Fanlu
tidak berkata lagi tapi masih tetap mengamati Zuiju.
Tatapannya
tidak sopan dan tajam. Meskipun Zuiju memegang erat selimutnya, tapi Zuiju bisa
menangkap maksud Fanlu yang berusaha melihat tubuh polosnya di balik selimut.
Ia bersabar sampai akhirnya ia tidak tahan lagi. Ia melotot pada Fanlu
menantangnya, “Apa yang kau lihat?”
Fanlu
tidak menjawab hanya menatapnya agak lama, dan akhirnya ia berkata, “Kabar
mengatakan kalau kau tidak cantik, menurutku kau lumayan.”
Hati
Zuiju gembira mendengarnya. Ia menatap Fanlu dengan khawatir, ia menggenggam
selimutnya lebih erat lagi.
Mereka
berdua tidak berbicara. Udara terasa lebih tipis dan membuat lebih sulit
bernapas.
Fanlu
tidak bergerak dan hanya terus memeperhatikan Zuiju dengan diam.
Zuiju
berpikir kalau tatapan Fanlu lebih menakutkan daripada para serigala itu,
membuat seluruh bulu kuduknya merinding. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang
keras di punggungnya, ia menyadari kalau ternyata ia bergerak mundur, dan
sekarang tubuhnya sudah menyentuh dinding.
“Dimana
ini?” Zuiju membuka mulutnya bertanya.
Bibir
Fanlu bergerak, tapi ia tidak menjawab.
Zuiju
mengerutu pelan, “kenapa kau tersenyum?”
Fanlu
menjawab, “Aku bertaruh dengan diriku sendiri apakah kau akan berbicara padaku
sepanjang satu duba terbakar, dan kau melakukannya.” Senyum jahil tersungging
di wajahnya menampilkan sederet gigi yang putih. “Apa kau takut padaku?”
“Hmmp,
yang benar saja.”
Kata-kata
Zuiju belum selesai ketika tiba-tiba Fanlu mendekat dengan cepat seperti seekor
hewan buas.
“Ah!”
Zuiju berteriak, tapi ia terhimpit di dinding dan tak bisa bergerak kemana-mana
lagi.
Ketika
ia membuka matanya, wajah Fanlu muncul di depannya dengan jarak kira-kira satu
langkah kaki.
“Apa…
apa yang kau lakukan?”
“Melihat
ekspresi wajahmu, sepertinya kau belum tahu.” Fanlu mencubit dagunya, “Apa Chu
Beijie tak pernah menyentuhmu, meskipun kau sudah bersamanya begitu lama?”
Zuiju
selalu menemani Gurunya dan selalu di manjakan. Kemanapun ia pergi, sebutan
sebagai ‘murid dari tabib jenius’ selalu mengikutinya, maka bahkan para
penghuni istanapun akan memperlakukan dirinya dengan sopan. Ia tidak pernah
dilecehkan oleh seorang pria seperti ini.
Hembusan
napas Fanlu yang hangat menyentuh wajahnya. Pria ini sungguh lebih menyeramkan
daripada segerombolan serigala. Zuiju ketakutan dan malu, ia berteriak,
“Pergilah, pergilah!”
“Siapa
kau?”
“Aku
Bai Pingting, Bai Pingting!”
“Bai
Pingting?” Fanlu menghela napas, melepaskannya, dan turun dari tempat tidur.
Zuiju
merasa seperti ia baru saja terbebas dari pintu kematian, dan ia merasa lega.
Ia semakin menempel pada dinding.
Fanlu
terlahir sebagai mata-mata. Ia sangat pintar, dan mampu membaca eskpresi wajah,
hal yang paling penting untuk mengumpulkan informasi. Bagaimana mungkin ia
tidak mengerti?
Wanita
ini bukan Bai Pingting.
Entah
bagaimana ia bisa memiliki tusuk rambut giok itu, tapi ia bukan Bai Pingting.
Pada
saat Pejabat Senior mendapat berita kematian Bai Pingting, ia segera menaikan
jabatan Fanlu karena gembira, membuatnya menjadi Gubenur kota Qierou.
Ia
mempertaruhkan hidupnya untuk membuat kematian palsu, dan laporan palsu. Ia
berpikir untuk mendapatkan keuntungan dari hal ini.
Tapi
ternyata, ia melakukan kesalahan besar.
Pemikiran
tentang segala yang mungkin terjadi bermunculan di kepala Fanlu. Dari sudut
matanya, ia memperhatikan Zuiju yang menatapnya.
Wanita
ini bukan Bai Pingting. Sama sekali tidak berharga.
Terlebih
lagi jika Pejabat Senior sampai mengetahui kebohongannya, ia pasti mati.
Membunuh
wanita itu?
Perlahan
tangannya menyentuh busur kecil di atas meja.
Tapi,
kemudian berhenti.
Untuk
apa membunuhnya? Kalau Bai Pingting sampai muncul lagi, bahkan jika ia membunuh
wanita ini, kebohongannya tetap akan terkuak.
Fanlu
menatap Zuiju yang sedang menatapnya di atas tempat tidur.
Wanita
itu memiliki bola mata hitam besar, rambut hitam yang lebat dan bibir yang
mungil.
Hari
itu, mengapa ia merasa perlu melindunginya dan menyelamatkannya?
Selain
memikirkan kalau ia berharga, ada apa dalam diri wanita itu yang membuatnya
lemah, mempertaruhkan hidupnya untuk mencurinya dari mulut para serigala?
Fanlu
menatapnya lama, dan akhirnya berkata, “Tempat ini disebut Qierou, sebuah kota
kecil di negara Yun Chang.” Ia memperhatikan Zuiju, dan tersenyum jahil yang
hanya bisa ditampilkan olehnya. “Aku baru saja ditunjuk sebagai Gubenur dikota
ini jadi akulah pejabat tertinggi disni. Kalau kau ingin melarikan diri, aku
akan memburumu seperti seekor kelinci.” Dan ia menambahkan dengan sedikit ragu.
“Lalu, aku akan mengulitimu dan memajangmu, tanpa pakaian di atas tembok.”
--
Yangfeng
meminum obatnya sebelum berbaring. Tubuhnya terasa lebih segar tapi hatinya
sangat khawatir pada Pingting. Ia segera memanggil seorang pelayan.
Si
pelayan dengan agak takut berkata, “Nyonya, Tuan berkata Nona Bai telah di
letakan di ruangan di ujung koridor. Tuan juga berkata akan segera menemuimu
setelah tabib selesai memeriksa Nona Bai dan menuliskan resep. Dan seorang
pelayan telah diperintahkan untuk menemaninya, jadi Nyonya hanya perlu
beristirahat dengan benar.”
Yangfeng
duduk di tempat tidurnya dan menurunkan lututnya hendak memakai sepatu. “Jangan
takut pada Tuan, ini keinginanku sendiri. Aku tidak akan memaksakan tubuhku,
hanya melihat sebentar dan aku akan kembali untuk berbaring. Aku belum melihat
Pingting dengan seksama. Meskipun pertemuan terakhir kami belum terlalu lama.
Apa yang kau lakukan? Kemarilah bantu aku.”
Si
pelayan takut Ze Yin akan marah, tapi melihat Yangfeng, ia juga takut padanya.
Si pelayan merasakan dilemma sehingga ia menarik napas panjang, dan akhirnya ia
membantu Yangfeng. Ia memanggil seseorang untuk membantu dan mereka berdua
membantu Yangfeng.
Si
pelayan berkata, “Benar-benar hanya melihat sebentar? Kalau Tuan menyalahkan
kami, Nyonya harus mengatakan pembelaan untuk kami.”
“Tentu
saja.” Yangfeng terkekeh, “Kalian berdua terlalu pintar. Mengapa kalian takut
pada Tuan dan tidak padaku?”
Ia
bersandar pada pundak mereka berdua, dan perlahan masuk ruangan.
Mereka
hendak melangkah masuk, tapi terlihat oleh Ze Yin dan saat itu juga tabib
keluar dari ruangan. Wajah Ze Yin mengelap dan ia melangkah mendekati mereka.
Ia memeluk Yangfeng dan mengangkatnya lalu memarahinya, “Bukankah aku sudah
menyuruhmu untuk berbaring? Mengapa kau tetap turun dari tempat tidur? Sekarang
Pingting sudah disini, kau bisa melihatnya setiap saat.”
Ia
melotot pada dua pelayan yang sudah ketakutan hingga melangkah mundur
kebelakang.
Yangfeng
yang berada di pelukannya merasa hangat dan nyaman. Ia menatap Ze Yin dan
tersenyum manis, “Jangan salahkan mereka. Bagaimana mungkin mereka tidak patuh
pada perintah istri dari seorang Jendral hebat? Suamiku, bagaimana keadaan
Pingting? Apa ia sekarat?”
“Tubuhnya
sangat lemah. Tentunya tidak mudah melewati perjalananan sulit seperti itu.” Ze
Yin membawa Yangfeng kembali ke ruangannya, ia berbisik. “Pingting hamil.”
Yangfeng
terkejut, wajahnya sangat terkejut.
“Itu
pasti anak Chu Beijie.” Ia berbisik kembali.
“Benar.”
Ze Yin menghela, “Dari surat Ruohan kemarin, sepertinya sakit Raja Dong Lin
semakin parah. Dua pangeran sudah mati ditangan Raja kita dan He Xia…” Ze Yin
menurunkan Yangfeng di tempat tidur dan menyelimutinya.
“Darah
daging kerajaan Dong Lin di dalam kandungan Pingting.” Yangfeng perlahan
mengatakannya, “Lalu dimana Chu Beijie? Dimana ia sekarang?”
“Tidak
ada yang tahu keberadaannya. Sejak mendengar kematian Pingting, sepertinya ia
menghilang. Raja kita bergembira dengan hal ini dan mengadakan perayaan selama
tiga hari di istana. Kalau ia tahu Pingting tidak meninggal dan mengandung anak
Chu Beijie, ia pasti segera bergegas kemari.” Suara Ze Yin menghilang dan menatap
serius pada Yangfeng.
Yangfeng
juga merasa ragu. Ia berpikir lama, lalu menghela napas, “Meskipun ia
menyedihkan, ia juga menyebalkan. Hari ini ia terlihat sedih pada Pingting,
tapi kalau besok negaranya mengalami musibah lagi, ia akan segera mengunakan
Pingting. Saat ini, seluruh dunia percaya kalau Pingting sudah meninggal,
mengapa tidak kita biarkan saja? Biar Pingting bisa hidup damai.”
“ini…”
“Tentu
saja hal ini harus atas persetujuan Pingting terlebih dahulu. Aku akan
menanyakan padanya tentang ini. Ia akan mengerti.” Yangfeng berhenti sebentar,
“Setelah tragedy seperti itu, aku tidak akan membiarkannya meninggalkanku lagi.
Entah aku kaya atau miskin, tak peduli apa yang akan terjadi, kami bersaudara
akan selalu bersama. Dengan begitu kita bisa saling melindungi.”
Ze
Yin sangat tahu isi hati Yangfeng, ia masih menyesali pertempuran di Kanbu. Ini
kesalahan yang takkan pernah mampu ia tebus pada Pingting sepanjang hidupnya.
Buat
Ze Yin, selama Yangfeng selamat, apa lagi yang perlu di khawatirkan? Ze Yin
tidak pernah menyesali perbuatannya, ia segera mengangguk setuju. “Baiklah,
kalau Pingting memutuskan untuk hidup bersama kita menyembunyikan diri, kita
akan segera membereskan barang-barang dan pindah ke suatu tempat. Tempat ini
sudah tidak aman. Ruohan tahu, Raja juga tahu, bahkan Chu Beijiepun tahu. Entah
siapa lagi yang akan datang di kemudian hari.”
“Kali
ini, kita akan memutuskan segala hubungan dengan Bei Mo. Bahkan Ruohan dan
Raja, kita akan memutus kabar.”
Ze
Yin memperhatikan istrinya dan berkata dengan suara rendah, “Baiklah.”
“Suamiku….”
Yangfeng sangat terharu dengan keputusan suaminya.
--
Salju
sudah mencair dan angin musim semi sudah bertiup.
Pingting, apa kau
masih ingat bagaimana kita bernyanyi untuk bersenang-senang, melipat daun pohon
willow, menertawakan motip yang digunakan di kediaman Putra Mahkota He Su? Apa
kau ingat ketika kau bermain kecapi dalam perayaan ulang tahunmu di Kediaman
Jin Anwang?
Hari ini, He Su
menjadi penguasa negaranya, dan Kediaman Jin Anwang menjadi debu.
He Xia melalui
ribuan mil dalam perjalanannya, memasuki negara Yun Chang dan menjadi Suami
Ratu.
Perubahan hidup
tanpa pengalaman sulit di perkirakan.
Tapi masih tetap
menyenangkan, karena kau dan aku masih disini.
--
Karena
Ze Yin berharap kondisi Yangfeng segera membaik, ia memerintahkan dengan tegas
kalau Yangfeng tidak boleh turun dari tempat tidurnya. Ia memerintahkan
beberapa pelayan untuk menjaga Pingting dan mengatur segalanya. Ia tidak merasa
lelah sama sekali bahkan ia merebus sendiri ramuan obat untuk mereka.
Yangfeng
tak bisa menolak, ia hanya bisa pasrah selama tujuh atau delapan hari. Ia
dengan patuh mendengarkan tabib dan meminum obatnya setiap hari di waktu yang
sama. Sekarang ia sudah hampir pulih, Ze Yin terkadang membawa anak mereka
untuk menemui ibunya. Ia bahagia melihat anaknya, memeluknya dan menciumnya. Ia
berkata, “Qing Er sayang, pergilah jenguk bibi Pingting mewakili ibumu. Ada
seorang adik bayi laki-laki kecil di dalam perutnya, dan dia akan bermain
bersamamu nantinya.”
Ze
Qing baru hampir satu tahun, jadi mustahil ia mengerti perkataan Yangfeng.
Matanya yang bersinar melirik ke kanan dan ke kiri. Ia beberapa kali membuka
mulutnya untuk tersenyum dan tertawa pada ibunya.
Ze
Yin berdiri disatu sisi, menyaksikan ibu dan anak. Ia merasa lucu, “Bagaimana
kau tahu kalau bayi Pingting laki-laki?”
“Menebak,
tentu saja. Apa Pingting sudah lebih baik?”
Ekspresi
Ze Yin menjadi gelap, ia menggelengkan kepalanya, “Ia tidak banyak bicara dan
sepertinya sangat kecewa. Apa Zuiju pelayannya?”
Yangfeng
mengelengkan kepalanya, “Tidak ada nama seperti itu di Kediaman Jin Anwang.
Kalau ia seorang pelayan, mungkin seseorang yang diberikan Chu Beijie.”
Meskipun ia tak pernah bertemu Zuiju, ia merasa kasihan atas nasibnya yang dicabik-cabik
oleh para serigala tapi setidaknya Zuiju tidak sekecewa Pingting. Yangfeng
merubah topik pembicaraan, “Melihatnya, apakah ada kemungkinan ia ingin kembali
pada Chu Beijie? Chu Beijie telah bersalah padanya, tapi ia memiliki darah
dagingnya. Aku takut kalau Pingting akan memaafkannya.”
Ze
Yin sedikit ragu. Ia memimpin pasukan dengan formasi yang jelas dan masuk akal,
dan masalah ini ia sama sekali tidak menguasainya. Ia mengaruk kepalanya dan
berkata, “Hati seorang wanita sangat sulit ditebak. Bagaimana aku bisa tahu?”
Yangfeng
menatapnya dibalik bulu matanya dan tersenyum, “Aku bisa memberitahumu.
Panglima, seseorang disini telah pulih sejak beberapa hari lalu. Tak bisakah
kau sedikit berbaik hati, menarik kembali perintahmu agar aku bisa turun dari
tempat tidur ini? Hal ini tidak sesulit seperti membuat air menjadi busuk atau
membuat engsel pintu tidak dimakan rayap. Orang sakit perlu berjalan-jalan agar
lebih cepat pulih.”
Ze
Yin melihat Yangfeng tersenyum gembira seperti bunga yang mekar. Tubuh dan
pikirannya ikut senang. Memikirkan kalau Yangfeng telah terjebak di tempat
tidur selama berhari-hari, akhirnya ia menyerah juga. Ia membelai rambut yang
terurai dari jepitannya dan berkata, “Jangan paksakan dirimu dengan berjalan
tergesa-gesa karena dirimu baru pulih. Salju musim salju baru saja mencair,
udara masih sangat dingin. Kalau kau ingin melihat Pingting, aku akan membawamu
kesana.” Lalu ia berdiri dan mengangkat Yangfeng dengan kedua tangannya.
Si
kecil Ze Qing diletakan di atas tempat tidur. Ia menangis karena merasa di
tinggal.
Ze
Yin tersenyum dan melihat ke arahnya. “Anak baik, kau masih kecil. Nanti kalau
kau sudah dewasa, kau bisa mengangkat kekasihmu seperti ini.”
Yangfeng
melihat suaminya sedang mengajarkan anak mereka, ia menggelengkan kepala lucu
dan sedikit marah.
Ruang
tamu sangat sunyi. Mereka berdua masuk, dan aura senang mereka tiba-tiba
menghilang.
“Pingting?”
Pingting
terbangun. Ia juga menerima perintah tegas Ze Yin tidak boleh turun dari tempat
tidur. Ia sudah duduk di atas tempat tidurnya, tubuhnya bersandar di bantal dan
kakinya ditutup selimut. Mendengar suara Yangfeng, ia sangat terkejut. Ia
berbalik menatap mereka, rambutnya yang hitam terurai di pundaknya, “Yangfeng?”
Masih
tersisa garis-garis keceriaan di wajahnya, tapi pipinya benar-benar pucat,
membuat yang melihatnya merasa takut.
“Pingting,
Pingting…” mata Yangfeng memerah, dan ia mulai menangis.
Ze
Yin menurunkan Yangfeng, meletakannya di sisi sebelah Pingting.
“Kenapa
kau menangis?” Pingting memegang tangan Yangfeng, dan tertawa kecil, “Kudengar
kau sakit. Apa kau sudah sehat sekarang?” Pingting memandangnya memperhatikan.
Ze
Yin berdiri seperti menara baja di samping, memperhatikan istrinya dengan sikap
meliindungi.
“Hmm,
jauh lebih baik.” Yangfeng menjawab, “Dan kau?”
Pingting
menjawab dengan penuh terima kasih, “Aku juga lebih baik, berkat bantuan
Jendral.”
“Apa
kau meminum obatmu tepat waktu?”
“Tentu
saja.” Pingting menundukan kepala dan perlahan menyentuh perutnya yang mulai
menonjol. “Anak ini sangat penurut, hari ini ia tidak menendang atau membuat
kekacauan.”
Yangfeng
menghela napas. “Kau tahu betapa pentingnya anakmu, jangan terus-terusan
bersedih. Pingting berhentilah menyalahkan dirimu. Zuiju sudah meninggal. Kau
tidak boleh mengacaukan hidupmu. Memangnya apa yang bisa kita lakukan untuk
membuatnya hidup kembali? Karena kalian berdua sangat dekat, ia pasti kecewa
dengan tindakanmu ini.”
Ze
Yin mengerutkan dahinya, berpikir kalau ia pernah mendengar kata-kata ini
sebelumnya.
Ketika
Pingting mendengar nama Zuiju, senyumnya langsung menghilang. Ia menghela napas
dan menatap ke atas, “Aku mengerti maksudmu, tapi hatiku sakit sekali. Kalau
aku memikirkan ia, hatiku seperti di tusuk-tusuk jarum. Aku menyuruhnya turun
gunung, karena aku berniat menyelematkannya. Ada satu yang selamat lebih baik
daripada berdua mati kelaparan dan kedinginan. Aku tak pernah menyangka kalau
ia akan….”
Yangfeng
melihat Pingting menjadi sedih dan ia segera merubah topik, “Aku kemari karena
ingin membicarakan sesuatu denganmu. Pertama, aku sudah memutuskan tidak akan
membiarkanmu berkelana keliling empat negara lagi, membuatku khawatir seperti
ini. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat dan tinggal bersembunyi
bersama? Karena situasinya sudah seperti ini, kalau kau tidak berniat, paling
tidak untuk anakmu. Jangan terus bersedih, pikirkan kehidupanmu juga.”
Pingting
tahu perkataan Yangfeng sangat benar. Ia tidak ingin membuat Yangfeng khawatir
lagi. Ia tersenyum dan mengangguk. “Hidup bersembunyi sepertinya lebih baik.
Tapi suamimu adalah Jendral terkenal dan ia memiliki begitu banyak pengikut
serta harta berlimpah. Dimana kau bisa tinggal bersembunyi? Meskipun kita
pindah tempat, mungkin hanya dalam tiga hari, Jendral Bei Mo lain akan segera
menemukanmu. Aku tidak ingin ada yang tahu kalau aku masih hidup, jadi kupikir
aku akan mencari tempat untuk aku dan anakku memulai kehidupan baru.”
Yangfeng
menyadari kalau Pingting tidak berniat menyebut Chu Beijie. Ia terlihat lebih
bertenaga daripada sebelumnya. Dan ia menyadari kalau Pingting sudah memiliki
rencana lain. Ia segera berkata, “Memangnya kenapa? Kita bisa membubarkan para
pelayan dan penjaga. Karena kita berniat bersembunyi, apa perlunya kehidupan
mewah seperti di Kediaman seorang Jendral?”
Pingting
memperhatikan Yangfeng dan ia menggelengkan kepalanya, “Kau tidak seperti aku.
Aku telah mengalami begitu banyak tragedi. Aku sudah pernah mencuri untuk
keperluanku, mendaki gunung bersalju dan menderita kelaparan. Aku tahu rasanya
menjadi miskin. Sejak kecil, kau ditempatkan di Kediaman Pangeran, dan begitu
kau sampai di Bei Mo, kau menjadi istri Jendral. Bagaimana kau bisa bertahan
dengan kehidupan seperti itu?”
Yangfeng
menegakkan punggungnya dan menjawab dengan lembut, “Pingting, aku tidak sedang
bercanda. Setelah aku tahu kalau kau meninggalkan Kediamanku untuk pergi ke
Dong Lin menemui Chu Beijie, aku begitu menyesal sampai hampir merobek
jantungku. Kau juga ditempatkan di Kediaman Jin Anwang dan diperlakukan seperti
nona besar. Bagaimana mungkin aku tidak mampu menjalani kehidupan seperti yang
kau lalui?” ia memikirkan sesuatu tapi kemudian ia menyadari kalau ini bukan
hanya keputusan ia sendiri. Ia berbalik dan menatap Ze Yin.
Ze
Yin berkata pelan dengan suaranya, “Jangan khawatir, aku akan mengaturnya.”
Ketika
ia meminta Yangfeng untuk menikahinya dulu, ia telah lama berniat meninggalkan
medan perang dan tinggal sederhana, seluruh hatinya menginginkan kehidupan
damai bersama istrinya.
Apa
artinya para pelayan dan penjaga untuknya?
Yangfeng
tahu kebaikan hati suaminya dan mereka berdua tertawa geli.
Pingting
melihat keduanya dan tiba-tiba ia teringat Chu Beijie. Dari sudut hatinya ia
merasa sakit, tapi ia menahannya agar tidak terlihat oleh mereka. Ia khawatir
Yangfeng akan mengetahuinya, maka ia menoleh ke belakang dan menyeka matanya
yang mulai berkaca-kaca.
Ze
Yin melakukan yang ia katakana. Malam itu, ia memanggil semua pelayan dan
penjaga ke halaman utama, dan berkata, “Aku pernah berjanji pada Yangfeng untuk
hidup sederhana, dan kali ini tidak akan kembali lagi. Karena kami akan tinggal
di pedalaman desa, maka kami tidak butuh pelayan dan penjaga. Untuk para
penjaga, kalian semua masih muda dan jika kalian masih berniat mengabdi pada
negara, kalian bisa kembali ke ibukota. Aku akan menulis surat untuk Jendral
Ruohan agar bisa mengatur tempat lain untuk kalian. Sedangkan untuk para
pelayan, kalian yang punya kampung halaman, bisa kembali ke rumah kalian. Dan
yang tidak, kalian bebas pergi dan bekerja di kediaman lain. Semua
barang-barang disini sebagian besar hasil dari karir militerku. Semuanya adalah
harta berharga dari kerajaan. Bagilah diantara kalian, kalian bisa
menggunakannya untuk usaha, investasi, pensiun atau mas kawin, apa saja
sialakan.”
Ketika
mereka mendengar perkataannya, mereka semua menangis.
Ekspresi
Ze Yin tidak berubah, ia berkata dengan lebih pelan, “Kalian semua tahu
sifatku. Bahkan seluruh pasukan harus mendengarkan perintah sederhanan dariku,
apalagi kalian. Jangan biarkan perasaan kalian berlarut-larut. Tidak ada
perayaan yang tidak berakhir di bawah langit ini. Melakukan perpisahan dengan
gembira dan bebas adalah hal yang biasa dilakukan oleh para rakyat Bei Mo. Satu
lagi, ada seseorang disini yang kalian mungkin bisa tebak identitasnya, berita
tentang ia masih hidup jangan sampai tersebar keluar. Kalian semua sudah
menemaniku bertahun-tahun, aku percaya pada kalian. Tapi, aku ingin kalian
berjanji disini, kalau kalian tidak akan mengatakannya pada siapapun.”
Setelah
ia selesai, setiap orang mengerti kalau Ze Yin sudah membuat keputusan bulat.
Para
penjaga, telah mengikuti Ze Yin melakukan perjalanan jauh, mereka semua
berdarah juang tinggi. Maka mereka semua berharap suatu saat Ze Yin akan
kembali ke ibukota, kembali ke posisinya semula di militer dan berjuang untuk
negara seperti dulu. Setelah mendengar kata-kata Ze Yin, mereka semua berjanji
untuk tidak mengatakan apapun tentang Bai Pingting yang masih hidup.
Sedangkan
para pelayan, mereka mengkikuti Jendral sejak mereka masih muda. Dan semuanya
sangat setia, meskipun mereka tidak mengerti masalah militer atau negara, tapi
mereka tahu Bai Pingting adalah teman baik Nyonya mereka, maka mereka juga
berjanji.
Ze
Yin bertindak cepat, ia meminta seseorang membawakannya tinta dan kuas, dan ia
mulai menulis surat untuk Ruohan. Lalu ia menyerahkan barang-barang berharganya
kepada setiap orang, agar mereka tidak perlu khawatir kelaparan dan kedinginan.
Ia sangat sibuk sampai larut malam, sampai akhirnya semua persiapan selesai
dilakukan, tapi tetap saja masih ada sebuah masalah sulit.
Si
penjaga bernama Weiting satu-satunya yang menolak pergi. Matanya memerah ketika
ia berkata, “Aku telah bersama Jendral begitu lama, kemana lagi aku bisa pergi?
Jendral tahu sifatku, dan kalau Jendral lain memerintahku, aku tidak akan
patuh. Setidaknya Jendral butuh seseorang untuk membawa air atau mengiring
ternak di pegunungan sekalipun, benarkan? Kalau Jendral tidak bersedia
membawaku, aku akan mati disini saat ini.” Ia mengeluarkan pedangnya dan
meletakannya di lehernya.
Masalah
utama Weiting adalah ia tidak paham membaca ekspresi orang lain sehingga
menimbulkan pertentangan dengan beberapa Jendral termasuk Ruohan. Tapi ketika
bertempur, ia sama sekali tidak takut mati, dan kekuatannya patut dihargai.
Karena hal inilah, Ze Yin menghargainya dan membiarkannya bersamanya.
Ze
Yin tahu benar sifatnya, mungkin kalau ia benar-benar menggelengkan kepalanya,
Weiting akan benar-benar memotong lehernya sendiri. Tiba-tiba ia ingat kalau
Weiting telah banyak menyinggung Jendral penting lainnya. Bahkan kalau ia
merekomendasikannya, ia akan di ganggu atau bahkan lebih buruk. Akhirnya ia
menangguk setuju, “Baiklah, kau bisa ikut.”
Selain
Weiring ada pula pengasuh Ze Yin dan Paman Xu yang membesarkannya. Mereka
berdua sudah sangat tua, maka Ze Yin membawa mereka serta untuk membalas budi
mereka sampai napas terakhir mereka.
“Semuanya
persiapan sudah dilakukan. Yang tersisa adalah mencari tempat untuk tinggal.”
Pingting
memikirkan ini, dan ia berkata, “Aku tahu tempat yang bagus. Ada sebuah desa
kecil di balik kaki gunung Songsen. Ada sebuah dataran untuk bercocok tanam,
dan rerumputan bisa tumbuh. Meskipun sedikit miskin, tapi orang-orangnya sangat
baik hati.”
“Kalau
kau saja memuji tempat itu, tentunya tempat itu sangat bagus.” Yangfeng selalu
percaya penilaian Pingting. Ia meminta persetujuan Ze Yin, “Kau setuju?”
Ze
Yin menatap dengan penuh kasih. “Kalau kau menyukainya, aku setuju.”
“Satu
hal lagi.” Pingting berkata. “Aku ingin memindahkan kurburan Zuiju, aku tidak
mau meninggalkannya sendiri disini.”
Yangfeng
membalas, “Itu mudah. Kita akan mengalinya dan membawanya.”
“Guru
Zuiju adalah tabib jenius di Dong Lin, tabib Huo Yunan.” Pingting mengeluarkan surat
dari lengan bajunya. “Kudengar, Zuiju adalah satu-satunya muridnya dan
kesayangannya. Aku sudah menulis surat. Jendral, tolong carikan seseorang untuk
mengirimnya, dan kalau tabib Huo bertanya siapa yang menulis surat ini, katakan
saja dari salah seorang teman Zuiju.”
Ze
Yin menerima suratnya, “Beristirahatlah, aku akan memastikan surat ini diterima
oleh tabib Huo.”
Ketika
mereka kembali ke ruangan Ze Yin bertanya pada Yangfeng, “Apa kau pikir surat
ini benar-benar harus dikirim?”
Yangfeng
menjawab dengan kaku, “Megapa tidak?”
“Huo
Yunan adalah tabib jenius negara Dong Lin dan sering berada di istana kerajaan.
Ia memiliki hubungan kuat dengan keluarga kerajaan. Kalau surat ini dikirim dan
Huo Yunan curiga dengan kematiannya, dan kalau ia menyelidiki, apa yang akan
terjadi pada Pingting? Aku khawatir ia bisa mengetahui hubungan hal ini.”
Setelah
mendengarnya barulah Yangfeng mengerti. Raut wajahnya berubah, “Pingting
memiliki darah daging Chu Beijie dalam kandungannya. Peperangan di dalam istana
juga mengerikan, apalagi setelah Chu Beijie menghilang. Kalau ia sampai terkait
dalam perebutan takhta… apa mereka akan mengirim seseorang untuk membunuhnya.”
Ze
Yin mengangguk, “Itulah yang aku khawatirkan.”
“Kalau
begitu, surat ini tidak perlu dikirim.” Yangfeng hanya khawatir dengan
keselamatan Pingting, ia akan menutup mata pada masalah tabib jenius dari Dong
Lin. Ia berpikir sebentar, memutuskan dan berkata, “Berikan padaku.” Begitu ia
memegang suratnya, ia membakarnya. Ia menyaksikan api melahap surat itu dan
berbisik, “Pingting, aku tahu kau berhati mulia dan tak bisa berhenti
memikirkan guru Zuiju yang terus mencari muridnya. Tapi, keselamatanmu lebih
penting, jadi biarkan aku yang memutuskan kali ini.”
Semua
orang di kediaman terbiasa dengan gaya Ze Yin yang hebat dan tegas. Meskipun
mereka engan, tapi mereka mampu pergi tanpa menangis.
Hanya
dalam beberapa hari, setiap orang sudah terbagi-bagi dalam beberapa kelompok.
Barang-barang berharga dalam ruanganpun sudah dibawa.
Hanya
keluarga Ze Yin bertiga, Pingting, Paman Xu, si pengasuh dan Weiting yang
tertinggal, mereka semua berjumlah tujuh orang. Mereka membawa uang yang
tersisa, Ze Yin telah mempersiapkan perjalanan mereka. Kali ini, mereka
benar-benar meninggalkan urusan negara Bei Mo.
--00--
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar