Jumat, 24 Februari 2017

Gu Fang Bu Zi Shang -- 2.50

-- Volume 2 chapter 50 --



Pasukan Bei Mo telah bergerak menuju rumah.

Dalam perjalannya, Ruohan menerima surat dari Ze Yin yang di sampaikan oleh kurir yang kembali.

Pertempuran yang telah menyala di hatinya telah redup oleh berita yang diterimanya.

Surat tipis itu digenggamnya dengan sangat berat. Ia menghela napas dan menoleh pada Sen Rong, “Nona Bai, telah meninggal.” Orang yang paling tinggi jabatannya di militer itu, sekarang wajahnya tertumpuk lapisan es tipis.

Hilang, penasihat wanita yang anggun itu telah menghilang.

Ia telah meninggal di pegunungan Songsen yang sangat dingin, tulang-tulangnya yang tersisa telah berceceran di segala arah karena para serigala. Hanya tersisa tusuk rambut giok bersinar di salju.

Siapa yang bisa menebak, wanita yang kuat itu yang telah mengatur pergerakan pasukan di Kanbu, dengna sukarela menghadapi pasukan Dong Lin memiliki nasib seperti itu?

Sen Rong merasa ragu agak lama, tapi akhirnya ia bertanya, “Apakah itu benar?”

Sungguh tak bisa dipercaya, benar-benar tak bisa dipercaya.

Bai Pingting, ia pernah menggunakan satu lagu untuk membuat ratusan ribu prajurit menjauh dari tembok Kanbu.

Hanya satu lagu.

“Istri Panglima Ze Yin juga jatuh sakit.” Ruohan merasa menyesal ketika bertanya, “Kita semua telah bersalah.”

Sen Rong menjadi pusing.

Ruohan menjelaskan, “Ini semua karena Chu Beijie tidak tahu lokasi persisnya kendiaman Ze Yin, maka ia membuat keributan di perkemahan, mengatakan kebohongan untuk mengancam kita. Ia mengikuti kurir kita untuk menemukan Ze Yin.”

Ekspresi Sen Rong berubah, “Bukankah itu berarti…”

“Ia tidak berniat membunuh siapapun melainkan ingin menemukan seseorang. Ia mencari istrinya, Bai Pingting.”

“Mempertaruhkan nyawanya, menyelinap masuk perkemahan bukan untuk kepentingan negara tapi untuk cinta?” Sen Rong membeku agak lama, ia lalu menarik napas panjang. “Jadi Chu Beijie menyerang Yun Chang untuk Nona Bai, bukan alasan yang sepele, tapi sebuah keinginan yang sebenarnya.”

Ruohan mengangguk. “Benar, Sekarang Nona Bai telah memberikan nyawanya pada gunung Songsen, sepertinya ambisi Chu Bejie telah kacau. Meskipun Bei Mo sangat membencinya, ia tetap seorang pahlawan sesungguhnya bagi dunia ini.”

Sungguh disayangkan dan sangat disesalkan.

Yang satu seorang pahlawan dan yang lainya seorang wanita cantik.

Sungguh sebuah lelucon dari langit.

Mereka berdua telah menemani Pingting di pertempuran Kanbu dan sangat mengaguminya. Setelah diam beberapa saat, Sen Rong berkata dengan nada rendah, “Tak peduli apa yang dipikirkan orang lain, aku akan menemukan sebuah tempat untuk mendoakan Bai Pingting malam ini, aku harus mencari seseorang yang menangani masalah perbekalan kita agar menyediakan arak yang bagus dan makanan. Kuharap arak yang bagus masih tersisa di barak. Panglima, aku tahu kalau militer tidak mengijinkan minuman beralkohol, tapi bolehkan kita minum dengan bebas malam ini dibawah sinar bulan?”

“Mengapa tidak?” Ruohan berguman sambil menghela. “Malam ini, semua Jendral yang ikut serta dalam pertempuran Kanbu seharusnya minum untuk kesedihan atas kehilangan Nona Bai.”

Bagaimana mungkin mereka tidak minum, minum untuk melupakan rasa sakit mereka?

--
Mengapa dunia ini tidak bisa menampung seseorang seperti Bai Pingting?

Mengapa langit begitu gelap dan mendung, sungguh tidak suram, atau mungkin seseorang telah menjadi buta dan tidak bisa melihat kenyataan?

Wanita itu seperti salju, keharumannya menyebar di hidung dan membersihkan paru-paru mereka.

Ia pernah sekali mengenakan pakaian berwarna cerah, berputar-putar disekitar Kediaman. Ia menyanyikan lagu sambil menatap kerumunan wajah-wajah yang dikenalnya. Mereka berdiri dibelakang sambil mendengarkan suaranya, mereka yang sedang berjalan menghentikan langkahnya, terpaku ketika mendengarkan.

Dan semua itu menghilang.

Kapan? Mengapa? Penderitaan berat mulai menekan dengan kuat, karena alasan tidak jelas. Sepertinya malah tidak alasan sama sekali, hanya sebuah nasib buruk yang telah menjadi takdir bagi orang pintar.

--
“Nona? Nona?” Sebuah suara dari kejauhan.

Pingting membuka matanya, sebuah kehidupan mulai terlihat di matanya. kedua matanya berusaha menjernihkan pandangan di depannya, sebuah sosok yang tidak asing. Pingting tak bisa mengingat dimana ia berada.

Dimana ia? Ia memandang sekelilingnya. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Bahkan menggerakan sehelai rambutpun menyebabkannya kesakitan seluruh tubuh.

“Hm…” Pingting perlahan bernapas pelan, menunggu rasa sakitnya surut.

Dimana anakku?

Benar, anakku!  Ia tiba-tiba bangun dan membuka matanya lebar. Tangannya memegang perutnya dan perlahan mulai bisa merasakan gerakan kecil di dalamnya.

“Jangan khawatir, kami sudah memberimu ramuan obat. Kau anak di kandunganmu baik-baik saja.” Jawab sebuah wajah di atasnya, tertawa gembira.

Kekhawatiran Pingting menghilang ketika ia melihat ke langit-langit. Sepertinya sudah terlalu lama berlalu sejak ia melihat ke langit-langit. Ia melewatkan begitu banyak waktu di antara bebatuan dan salju, rasanya ia takkan pernah melihat langit-langit rumah lagi.

Baguslah, ia akhirnya telah diselamatkan.

“Dimana Zuiju? Yangfeng?” Pingting melihat sekelilingnya.

“Siapa Zuiju? Siapa Yangfeng?” ekspresi kebingungan nampak di wajah orang yang berada di depannya. Tak lama kemudian, pria itu tertawa lebar, “Oh, aku tahu, kau membicarakan istri Panglima. Nona, kau masih belum menemukannya? Sudah begitu lama, bahkan kuda-kuda sudah melahirkan anak-anaknya, tapi kau masih belum juga menemukan mereka?”

Pria itu salah sangka. Pingting masih agak pusing tapi ketika ia melihat senyum pria itu, ia segera ingat. Ia berkata, “Kau pria tinggi besar yang kutemui di jalan. Kau A.Han.”

“Hah, Nona meingatku sekarang? Benar. Ini aku A.Han! Kau memberikan aku kudamu bahkan memberikan aku uang untuk menikahi wanita baik-baik.” A.Han tersenyum tulus. “Kuberitahu kau sesuatu, Sekarang aku sudah menikah dan sedang mengharapkan seorang A.Han kecil.”

Tawa A.Han yang pecah sampai mengetarkan atap, debu-bedu yang menempelpun ikut berterbangan.

Pingting juga ikut tertawa, lalu betanya dengan penasaran, “Apa kau tidak tahu Zuiju? Bagaimana kau menemukan aku di gunung?”

“Keberuntungan. Aku naik ke gunung hendak berburu untuk menguatkan tubuh istriku. Seekor kelinci abu-abu terkena panahku tapi masih terus berlari sampai tiba di daerah bebatuan. Aku mencarinya dan yang kutemukan bukan seekor kelinci melainkan Nona yang hampir mati beku.” A.Han menceritakannya dengan gembira dan bangga.

“Kau menyelamatkanku?”

“Tentu saja, Aku membopongmu turun dari gunung salju, bersama busurku dan si kelinci. Beruntungnya, tenagaku cukup kuat. Kau benar-benar hampir mati beku dan terlihat agak baikan setelah meminum obat dan sup kelinci. Yup, sup kelinci hutan memang menguatkan tubuh. Aku juga meminta beberapa orang untuk membawakan tumbuhan obat yang bagus untuk janin dan diminumkan padamu. Yach, sebenarnya untuk istriku juga.”

Mendengar perkataannya, Pingting merasa gelisah tapi juga sangat bersyukur sekali.

“Maaf, sudah merepotkanmu.”

“Jangan khawatir, istriku sangat kuat, tubuh dan juga tulangnya. A.Han kecil yang berada dalam perutnya juga kuat, jadi jangan khawatir.”

A.Han sangat bangga ketika seorang wanita mengenakan jaket besar berjalan masuk ruangan. Perutnya agak membesar ketika ia tertawa sambil bertanya, “A.Han apa kau bicara pada dirimu sendiri lagi?”

“Hei, hei, istriku Nona ini sudah sadar!” ia memberi isyarat pada istrinya dan dengan puas memperkenalkan mereka berdua. “Ini istriku.” Lalu ia menunjuk pada perut istrinya dan berkata dengan lembut, “Ini A.Han kecil.”

Istri A.Han juga ikut bersemangat, ia tersenyum sambil mengeluskan pipinya ke suaminya, “Kita kehabisan kayu bakar, potonglah beberapa.” Lalu ia menoleh pada Pingting, “Kau akhirnya siuman Nona, mengapa kau mendaki gunung di cuaca dingin seperti ini? Gunung Songsen bukan gunung yang mudah dilalui. Para priapun tak berani melewatinya ketika musim dingin. A.Han memang bodoh, dia berani sekali membohongiku dan berburu kelinci hutan disana.”

Lalu ia mengkhawatirkan berbagai hal. Mungkin karena mereka telah menyelamatkan seseorang dan berharap orang itu berbahagia. Ia menatap Pingting dengan hangat, “Dengan sekali lagi minum sup ayam, pipimu pasti akan merona segera.”

Tapi Pingting memikirkan hal lain.

Apakah waktu perjanjian tiga hari sudah lewat?

Bagaimana kalau pertolongan datang dan mereka tidak menemukan jejaknya, artinya Yangfeng dan Zuiju akan sangat khawatir.

Tapi, langit masih berbaik hati, mengijinkan ia dan anaknya bertahan dihidup.

Anakku, hidup kita sungguh pernuh berkah.

Pingting dengan lembut mengelus perutnya. Ada rasa keras dan lembut berbarengan. Ia merasakan perasaan yang sulit di ungkapkan di dalam perutnya, perasan hidup.

“Nyonya A.Han, aku…”

“Apa kau lapar? Aku akan membawakan makanan kesini.”

“Bukan, bukan.” Pingting menggelengkan kepalanya. Istri A.Han sungguh pantas untuk A.Han, ia sangat peduli seperti suaminya. “Aku ingin segera melanjutkan perjalananku.”

Istri A.Han membelakan matanya. “Melanjutkan perjalananmu? Kemana kau akan pergi? Tidak, tidak, aku berencana akan membuatkanmu sup ayam besok.”

“Aku harus pergi.” Pingting bangkit dari tempatnya berbaring dengan kedua tangannya. “Aku harus menemukan Yangfeng dan Panglima kalian Ze Yin.”

A.Han sedang memotong kayu di luar, tapi ia memasang kupingnya untuk mendengarkan yang di dalam. Kemudian, ia memasukan kepalanya ke jendela dan berteriak, “Panglima telah menghilang untuk mengasingkan diri. Nona, kau takkan bisa menemukan mereka. Yang kudengar bahkan Raja juga tak bisa menemukannya.”

“Tidak, aku tahu dimana mereka berada. Aku harus bergegas kesana. Kalau mereka tidak menemukan aku, mereka pasti khawatir.”

Yangfeng dan Zuiju pasti sangat khawatir.

--
Pertengahan musim salju sudah hampir berakhir. Dibawah sinar matahari, salju mulai mencair menjadi sebuah sungai kecil, perlahan mengalir.

Mungkin salju di gunung Songsen akan mencair juga seperti itu.

He Xia mengeluarkan bendera komando Yun Chang, ditemani oleh para prajuritnya. Dipertemuan pagi, dibawah ratusan tatapan mata para pejabat, ia dengan tenang mengembalikan bendera itu dengan kedua tangannya. Perang telah usai dan hak untuk mengerakan pasukan telah kembali pada Tuan Putri Yaotian.

Gui Changqing menyaksikan diantara kerumunan ketika bendera komando dipegang oleh He Xia. Ia secara diam-diam menarik napas lega ketika melihat bendera itu telah kembali ke tangan Yaotian.

Perasaan Yaotian kepada He Xia begitu dalam, kalau bukan karena peringatan dari Pejabat Seinor yang berkali-kali dan terus-menerus, ia pasti tidak akan pernah mengeluarkan perintah untuk mengembalikan bendera komando.

“Apa suamiku marah?”

Pertemuan pagi sudah selesai, tapi perasaannya masih terasa tidak nyaman. Ia segera meminta Luyi untuk mengantar He Xia ke tempatnya. Perasaannya sudah agak membaik ketika melihat suaminya berjalan menuju tempatnya.

He Xia terkejut mendengarnya, “Mengapa He Xia harus marah?”

“Karena Yaotian mengambil kembali bendera komando.”

He Xia sedikit bimbang sesaat tapi ia tertawa lebar. Ia terlihat tidak berdaya dan menatap penuh belas kasihan pada Yaotian sambil menggelengkan kepalanya. “Mengapa Putri berpikir seperti itu? Kita suami istri. Bahkan kalau aku iri pada semua orang di dunia ini, aku takkan pernah iri pada istriku sendiri.” Lalu ia duduk di sebelah Yaotian dan menggenggam tangannya. Ekspersinya lalu menjadi misterius dan ia berkata dengan berbisik. “Pejabat Senior berharap Putri segera memiliki keturunan. Kapan Putri akan memberikan perintah, agar aku bisa membantu hal ini?”

Yaotian bersandar pada He Xia, ia mengira kalau He Xia akan mengatakan sesuatu yang penting. Ia mendengarkan dengan baik, tapi kemudian ia menyadari kalau He Xia sedang mengejeknya lagi. Pipinya bersemu merah dan mengerutu. Ia mengerutkan dahi sambil berkata, “Suamiku, kau baru saja mengikuti pertemuan pagi, tapi sekarang sudah mulai bercanda. Kalau Pejabat Senior tahu, ia akan kesal padamu untuk waktu yang lama.”

“Perkataanmu kurang tepat Putri.” Wajah He Xia sangat tenang ketika ia menegakkan punggungnya dan terbatuk dua kali, “Memiliki keturunan adalah hal yang paling penting dalam kehidupan berumah tangga. Bagaimana mungkin hal ini bukan masalah serius, bukankah Pejabat Senior juga mengingatkan berulang kali? Tak peduli Putri akan memberikan perintah atau tidak, aku berniat membantu.”

Hati Yaotian menjadi manis seperti memakan banyak madu. Wajahnya sangat merona ketika menjawab, “Siapa lagi, selain suamiku yang bisa membantu?” suaranya tinggi dan halus seperti seekor nyamuk, hampir tak ada yang bisa mendengarnya.

“Kalau begitu aku akan menunggu kedatangan Putri di Kediamanku malam ini.” He Xia merasa gembira dan lupa dengan tata krama istana, ia mencium wajah Yaotian dengan sedikit memaksa. Lalu ia berdiri, “Aku akan pergi sekarang untuk mengurus masalah militer. Putri jangan  lupa janji kita malam ini.”

Yaotian menyaksikan He Xia berjalan pergi, sosoknya seperti seekor naga. Bibir He Xia tak bisa menyembunyikan senyum angkuhnya.

Luyi, yang membawakan sup bunga teratai, masuk dan melihat wajah Yaotian. Ia terkekeh, “Seperti yang sudah kubilang, tak perlu membawakan sup teratai ini cepat-cepat. Putri baru saja bertemu Suami dan sekarang berkeringat. Apa yang terjadi yang membuatmu seperti itu?”

“Luyi kau sungguh berani, menggejekku?” Yaotian berhasil mengendalikan dirinya dan duduk dengan tegak. Ia mengomel, “Kau harus belajar hal itu dengan suamiku.” Tapi ia tak bisa mempertahankan sikap seriusnya dan mulai terbahak.

Malam itu, Yaotian tiba dikediaman Suami Ratu. Ia turun dari kuda, tapi tidak melihat sosok He Xia keluar dari gerbang. Dongzhuo berlari bergegas untuk menyambutnya. “Putri, suami anda memgirimkan pesan kepadaku, ia sedang mendiskusikan masalah militer dan akan segera kembali. Makan malam sudah siap, sesuai instruksi suami anda, seluruh hidangan yang disajikan adalah kesukaan Tuan Putri. Apa Putri ingin menyantapnya di halaman belakang?”

Mendengar kalau He Xia belum kembali, Yaotian merasa cemas. Ia mengangguk singkat dan berkata, “Kau atur saja.”

“Kalau begitu aku akan memerintahkan untuk menyajikan hidangan di halaman belakang.”

Makanan-makanan itu sangat lezat. Yaotian sering datang ke tempat suaminya, jadi juru masak sudah tahu apa kesukaannya. Mereka telah berusaha keras dalam usahanya membuat hidangan-hidangan itu. Rasanya bahkan lebih baik dari pada hasil masakan istana.

Tapi, He Xia tidak ada disana, Yaotian kehilangan selera makannya. Ia meletakan sumpitnya beberapa kali, menolehkan kepalanya beberapa kali ke langit dan memerintahkan Luyi untuk memeriksa beberapa hal.

Luyi menjawab, “Aku sudah mengirim beberapa orang untuk memeriksa meskipun Putri tidak memerintahkan. Meskipun perang sudah usai, masih ada hal lainnya seperti masalah pensiun dan hadiah, jadi suami anda sedang sangat sibuk.”

Yaotian menghela napas.

Yaotian menunggu hampir setengah jam, Luyi yang selalu menengok ke luat akhirnya berteriak, “Suami Ratu sudah kembali!”

Yaotian gembira mendengarnya, ia berdiri dan menatap ke luar. Sebuah sosok gagah berani sedang berjalan bergegas ke arahnya. He Xia menyapu keringatnya ketika ia memasuki ruangan, ia tersenyum dan bertanya, “Apa Putri sudah selesai makan malam?”

“Sudah, apa suamiku sudah makan juga?”

“Tidak sempat makan.” He Xia menyerahkan handuk putih yang ia gunakan untuk menyeka keringatnya ke seorang pelayan lalu ia duduk di kursi. Yaotian segera memerintahkan pelayan untuk membawakan nasi hangat dan beberapa hidangan. Ia sendiri yang menyerahkan sepasang sumpit pada He Xia. He Xia menerimanya dan tersenyum pada Yaotian. Sambil mengambil makanannya ia menjelaskan, “Aku berniat kembali lebih cepat, tapi kalau tidak kuselesaikan hari ini, besok akan lebih banyak. Maaf sudah membuat Putri menunggu lama, ini semua salahku.”

“Karena masalah militer begitu sibuk, bagaimana kalau aku akan memindahkan dua pejabat untuk membantu suamiku, sehingga beban kerja suami bisa dibagi.”

He Xia segera menelan makanan dalam mulutnya dan ia mengelengkan kepalanya, “Meskipun kami sengsara karena hanya ada beberapa orang yang mengerjakannya, menambah dua orang akan menambah masalah lainnya berdatangan, sehingga kami akan lebih bertambah sibuk.” Melihat wajah Yaotian yang bingung, He Xia menjelaskan dengan sabar, “Memilih siapa yang harus di pensiunkan, siapa yang harus diberi imbalan dan mengatur tingkatan jabatan tidak sulit, tantangannya adalah uang dan ransum yang harus diberikan kepada para prajurit. Aku tidak memiliki uang dan ransum yang bisa digunakan untuk dibagikan kepada mereka sebagai hadiah, karena itu aku harus bertanya pada bendahara negara. Untuk setiap imbalan, banyak sekali para pejabat yang harus memberikan persetujuan mereka, untuk itu banyak surat yang harus ditulis, tapi mereka hanya menyetujui sejumlah uang yang hanya cukup untuk lima ribu prajurit. Besok aku harus berusaha untuk membujuk mereka lagi.”

Yaotian mendengarkan dengan seksama, tangannya memegang sepasang sumpit. Ia membantu He Xia mengambil berberapa makanan, sambil berkata dengan pelan, “Ini bukan masalah ringan. Kalau imbalan dan uang pensiun terlambat di berikan, para prajurit tidak akan senang. Bukankah hal ini bisa menguncang moral militer?”

He Xia terlihat sangat lelah. Satu mangkuk nasi dengan cepat dihabiskannya. Ia memberi perintah pada pelayan untuk membawakan semangkuk lagi. Dan ia menyetujui perkataan Yaotian, “Putri benar, Aku tidak begitu peduli dengan hal itu saat ini, hanya akan membuatku lebih lelah. Tapi, kalau imbalan dan pesiun terlalu lama ditunda, dan perang datang lagi, bagaimana kita akan melawan mereka? Perang dengan Dong Lin kali ini membuat kita lebih memahami tata letak perbatasan, seharusnya kita tidak butuh waktu banyak untuk melakukan persiapan serangan balasan.”

He Xia memang terkenal sebagai Jendral Hebat. Yaotian telah mencoba terlibat dalam pemerintahan belakangan ini, jadi ia tahu benar kalau ucapan He Xia sangat benar. Ia tidak ragu ketika berkata, “Militer memang memerlukan harta dan ransum mereka sendiri. Aku akan membuat perintah di pertemuan besok pagi, agar mereka bisa segera membangunnya, dan gudang itu akan berada di bawah pengawasanmu. Dengan uang dan ransum pasukan bisa dikendalikan dengan baik.”

He Xia terkekeh sambil menasehati, “Putri tidak harus cepat-cepat menurunkan perintah. Hal ini harus dibicarakan dengan Pejabat Senior terlebih dahulu. Kalau Pejabat Senior tidak tahu menahu tentang masalah ini, kita berdua akan kena omelannya.”

“Beristirahatlah suamiku. Selama itu demi kebaikan Yun Chang, Pejabat Senior tidak akan menolak.”

Setelah pembicaraan serius itu, He Xia juga menyelesaikan makannya. Ia dengan nyaman merengangkan lengannya dan memandang Yaotian dengan mesra. Ia tertawa jahil, “Setelah kita selesai membicarakan masalah negara, sekarang waktunya membahas masalah suami istri. Kata manis apapun yang ingin Putri dengar, tolong berikan perintah.”

Yaotian mengejeknya, “Sekarang dimana suamiku yang biasanya serius? Tak mungkin aku memberikan perintah, kau sudah mengeluarkan begitu banyak kata-kata manis, begitu banyak sehingga sulit untuk ditampung.”

He Xia menjawab dengan cepat, “Baiklah, kalau begitu aku tidak akan berkata manis lagi . Putri jangan terluka karena hal ini yach. Hmm, biar kupikirkan, karena aku tidak bisa mengucapkan kata-kata manis, lantas apa yang bisa kulakukan untuk membuat istri tercintaku bahagia?”

Yaotian melihat wajah He Xia di antara lilin-lilin yang berkelip. Alisnya hampir menyentuh pelipisnya, dan ekspresinya menampilkan wajah jahil yang tampan. Yang berada di ruangan itu hanya orang-orang kepercayaan Yaotian, tidak ada orang luar, sehingga Yaotian tidak peduli lagi dengan kewajiban etiket seorang kepala negara. Ia tersenyum, jari-jarinya menyentuh pundak He Xia dan tertawa genit, “Suamiku berhentilah berpura-pura. Melihat ekspresimu, aku tahu kau berniat melakukan hal yang menyenangkan yang aku tahu. Cepatlah dan lakukan, atau aku akan menghukummu.”

He Xia melihat Yaotian sedang mengodanya, dan ia menarik pinggangnya. Ia mengeluarkan tenaganya ketika menarik Yaotian, sehingga berteriak “Kyaa” Yaotian tak berdaya jatuh ke pelukan He Xia. He Xia memeluk pinggangnya dan membiarkannya duduk dipangkuannya. He Xia mencium pipinya, “Apakah tariannya indah?”

“Tarian apa?”

He Xia memperhatikan mata Yaotian yang bersinar. Ia menundukan kepalanya dan dengan lembut mengigit leher Yaotian, Yaotian berteriak lagi, “Kyaa.” Sebelum Yaotian sempat bicara dan mengomel padanya, ia berkata, “Putri lagi-lagi membuatku gembira, Kediamanku menerima group penari Bei Mo belum lama ini dan mereka sangat cantik-cantik. Apakah tak ada seorangpun yang melaporkan ini kepada Putri? Aku yakin ada gelombang rasa sakit di perut seseorang….ow… itu sakit…..”

Yaotian memukul He Xia dengan keras. Ia mengeliat melepaskan dirinya, berbalik untuk menatap He Xia dan berkata, “Suamiku salah, aku bukan wanita yang akan cemburu tanpa alasan.”

He Xia memegang tangannya yang tadi dipukul Yaotian, “Kenapa? Kalau memang tidak cemburu, mengapa kau memukulku sangat keras?” He Xia mendekati lagi dan berbisik di telinga Yaotian, “Melapor pada Putri, aku begitu sibuk dengan pekerjaan hingga tidak sempat melihat para penari itu. Mengapa kita tidak malam ini saja kita minta mereka menari, sambil kita minum arak. Dengan begitu kau tidak perlu menghadapi kecemburanmu sendirian.”

Ketika Yaotian mendengar kalau He Xia belum melihat para wanita penari, kegembiraan muncul di hatinya. Ia berbalik dan berkata, “Sungguh menarik. Aku juga ingin melihat perbedaan tarian Bei Mo.” Lalu Yaotian memijak lengan He Xia, wajahnya merona ketika bertanya, “Apakah sangat sakit?”

Mungkin akan lebih baik kalau ia tidak bertanya. Begitu ia bertanya, He Xia menaikkan alis matanya dan menampilkan wajah kesakitan, “Sakit, bahkan lebih sakit dari luka goresan pedang.”

Yaotian memukulnya ringan. Ia mencemooh, “Apanya yang Jendral terkenal, begitu terkenal di seluruh daratan di bawah langit ini, yang kulihat hanyalah seorang pria yang jahil.”

“Kau bukan prajuritku, mengapa aku harus serius menghadapimu?” He Xia menghentikan keisengannya dan tertawa lebar, suaranya sangat percaya diri.

Para pelayan mengantarkan para penari Bei Mo. Mereka menari di atas panggung batu kecil di halaman belakang, sementara mereka berdua minum dan bersenang-senang di pavilium.

Malam itu, langit juga mendukung. Bulan bergantung di atas, abu-abu dan terang, bersinar di salju yang belum mencair.

Para penari mengenakan pakaian Bei Mo. Warna-warnanya sangat terang, sebuah drum di ikat pinggang mereka dan mereka sangat ahli membunyikannya. Yaotian belum pernah melihat yang begitu menyegarkan dan menarik seperti ini.

He Xia telah menghabiskan seluru tenaganya seharian ini, tapi ia masih terlihat lebih baik dari Yaotian. Setelah tarian selesai, ia bertepuk tangan dengan keras, memuji, “Tarian dan lagu ini sungguh ditampilkan dengan sangat baik, untuk menghormatinya kita harus minum tiga cangkir.”

Yaotian juga minum mengikuti He Xia. Ia membawa cangkirnya ke mulut tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Suamiku, aku tidak begitu kuat dengan arak, tidak sepertimu. Daripada tiga, aku akan minum satu saja.”

He Xia sedang meminum araknya tapi ia tidak memaksa Yaotian melakukan hal yang sama. Ia mengangguk, “Tidak masalah, Putri. Bagaimanapun, tarian ini sungguh indah dan terukir kuat di hati, karena itu aku harus minum tiga cangkir untuk memeriahkan suasana.”

Ia melanjutkan minum dua cangkir lagi kemudian ia mengeluarkan pedangnya.

“Tarian langit, mimpi hampa yang lama, kasih sayang tidak begitu kuat…” Suara He Xia jelas dan mantap, menyenangkan untuk didengar.

Yaotian sudah sering mendengar ucapan manis He Xia, tapi ia belum tahu kalau He Xia ternyata juga bisa bernyanyi dengan baik. Wajah Yaotian menampakkan ekspresi terkejut.

Tapi He Xia berhenti setelah satu baik, ia tidak berniat melanjutkan. Ia memasukan pedangnya, berbalik dan tertawa, “Tarian drum sangat indah dilihat, apakah ada jenis tarian lain yang juga menggunakan drum? Pilih lagu lain dan menarilah.”

Tanpa disadari, bulan sudah melewati setengah langit, dan kendi-kendi arak sudah kosong, sebagian besar masuk ke perut He Xia. Meskipun He Xia termasuk kuat minum, ia merasa agak mabuk saat itu.

Yaotian khawatir terlalu banyak minum akan merusak tubuh suaminya. Ia berkata pelan, “Meskipun tariannya bagus, kita sudah cukup bersenang-senang. Bagaimana kalau kita masuk ke ruangan?”

He Xia tidak berniat meletakan cangkirnya, tapi ia selalu mematuhi hal sekecil apapun yang dikatakan Yaotian, dan ia segera meletakan cangkirnya. “Benar, sudah waktunya beristirahat. Putri juga sudah lelah.”

He Xia berdiri, membubarkan para pelayan, penari dan penjaga. Ia membawa Yaotian masuk ke ruangan.

Mereka berdua telah menyita banyak tenaga para pelayan sepanjang malam, sehingga para pelayan kelelahan. Dan ketika mereka melihat dua majikan mereka hendak tidur, dalam hati mereka diam-diam bergembira. Para penari Bei Mo lebih gembira lagi, mereka menunggu He Xia dan Yaotian sampai masuk ruangan dan menyaksikan lilin-lilin dipadamkan satu per satu baru kemudian membereskan peralatan mereka. Tak lama kemudian, huru-hara di halaman belakang dengan segera menjadi sunyi.

Hanya bulan yang tidak berubah, masih tetap bulat besar dan bergantung di langit seperti sebelumnya.

Udara dingin di kediaman mengalir lembut.

Dongzhuo juga sudah kelelahan seharian ini, matanya terpejam rapat di tempat tidurnya. Tapi kemudian ia tiba-tiba terbangun. Matanya berkedip menatap langit di luar dan menyaksiakan bulan masih berada di atas langit, mengira-ngira kalau ia belum tertidur terlalu lama.

Ia tak bisa melupakan Pingting.

Pingting sangat suka memandangi bulan, bukan hanya bulan tapi juga bintang-bintang. Ia bertanya-tanya dimana Pingting sekarang.

Berpikir seperti itu membuat kantuknya menghilang. Dongzhuo bangun dan turun dari tempat tidurnya berjalan keluar. Hembusan angin dingin menyambutnya, membuatnya gemetaran kencang dua kali.

Sepertinya angin membawa sesuatu.

Dongzhuo berpikir hal ini sangat aneh. Ia melangkah kedepan dan menyiagakan telinganya. Benar, ada suara. Ia berjalan mendekati, hingga tiba di halaman belakang. Suara besi membelah angin semakin berisik. Ketika ia menemukannya, ia sangat terkejut.

Bulan memberikan pancaran dingin di atas pedangnya.

Halaman belakang yang sunyi menampakan sebuah sosok yang lihai bermain pedang di atas salju.

“Tuan…” Dongzhuo berkata dengan pelan.

He Xia sepertinya tidak menyadari kehadiaran orang lian di sekitarnya. Matanya bersinar dan pedangnya menari kesana kemari, meninggalkan jejak cahaya putih dingin.

Dongzhuo memperhatikan keahlian He Xia mengayunkan pedangnya, membelah angin di halaman. Seperti berusaha melepaskan seluruh perasaan yang dipendamnya. Dongzhuo tidak berani bersuara, takut menganggunya, ia hanya diam berdiri disana.

Tak ada yang menganggu He Xia saat ini.

Pedangnya di tangannya.

Jendral termashyur, Penerus Jin Anwang, Suami dari Ratu Yun Chang, saat ini sedang memegang pedang di tangannya.

Di bawah cahaya bulan yang terang, gerakan pedangnya terlihat seperti tarian.

Seluruh hidupnya tercermin dari kilauan sinar dingin pedangnya.

Setiap gerakan berikutnya dilakukan dengan sangat baik, dengan kekuatan seekor naga dan keahlian bela diri seorang pahlawan dan penakluk pegunungan.

Setelah seluruh jurus pedang Jin Anwang selesai di lakukan, dahi He Xia penuh dengan keringat hangat. Pakaiannya yang tipis menempel di tubuhnya ketika ia menyarungkan pedangnya kembali. Ia lalu berbalik menghadap Dongzhuo tanpa ekspresi apapun. Suaranya jernih, “Bei Mo membawa berita, Pingting meninggal.” Lalu ia membawa pedangnya dan berjalan ke ruangan dimana Yaotian berada. Ia perlahan membuka pintunya dan masuk ke dalam.

Pintu tertutup tanpa suara.

Dongzhuo berdiri di tengah angin, terkejut.

Halaman belakang sangat dingin.

Tempat itu masih sama, dan para penghuninya yang tertidur masih berada dalam mimpi mereka.

Suara tamburan genderang mulai terdengar dari kejauhan, membuat kesunyian semakin menjadi.

Pingting.

Kakakku Pingting, yang memiliki senyum mengagumkan dan senang melihat bulan, telah pergi.

--00—


Home


novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar