Pasukan
Bei Mo telah bergerak menuju rumah.
Dalam
perjalannya, Ruohan menerima surat dari Ze Yin yang di sampaikan oleh kurir
yang kembali.
Pertempuran
yang telah menyala di hatinya telah redup oleh berita yang diterimanya.
Surat
tipis itu digenggamnya dengan sangat berat. Ia menghela napas dan menoleh pada
Sen Rong, “Nona Bai, telah meninggal.” Orang yang paling tinggi jabatannya di
militer itu, sekarang wajahnya tertumpuk lapisan es tipis.
Hilang,
penasihat wanita yang anggun itu telah menghilang.
Ia
telah meninggal di pegunungan Songsen yang sangat dingin, tulang-tulangnya yang
tersisa telah berceceran di segala arah karena para serigala. Hanya tersisa
tusuk rambut giok bersinar di salju.
Siapa
yang bisa menebak, wanita yang kuat itu yang telah mengatur pergerakan pasukan
di Kanbu, dengna sukarela menghadapi pasukan Dong Lin memiliki nasib seperti
itu?
Sen
Rong merasa ragu agak lama, tapi akhirnya ia bertanya, “Apakah itu benar?”
Sungguh
tak bisa dipercaya, benar-benar tak bisa dipercaya.
Bai
Pingting, ia pernah menggunakan satu lagu untuk membuat ratusan ribu prajurit
menjauh dari tembok Kanbu.
Hanya
satu lagu.
“Istri
Panglima Ze Yin juga jatuh sakit.” Ruohan merasa menyesal ketika bertanya,
“Kita semua telah bersalah.”
Sen
Rong menjadi pusing.
Ruohan
menjelaskan, “Ini semua karena Chu Beijie tidak tahu lokasi persisnya kendiaman
Ze Yin, maka ia membuat keributan di perkemahan, mengatakan kebohongan untuk
mengancam kita. Ia mengikuti kurir kita untuk menemukan Ze Yin.”
Ekspresi
Sen Rong berubah, “Bukankah itu berarti…”
“Ia
tidak berniat membunuh siapapun melainkan ingin menemukan seseorang. Ia mencari
istrinya, Bai Pingting.”
“Mempertaruhkan
nyawanya, menyelinap masuk perkemahan bukan untuk kepentingan negara tapi untuk
cinta?” Sen Rong membeku agak lama, ia lalu menarik napas panjang. “Jadi Chu
Beijie menyerang Yun Chang untuk Nona Bai, bukan alasan yang sepele, tapi
sebuah keinginan yang sebenarnya.”
Ruohan
mengangguk. “Benar, Sekarang Nona Bai telah memberikan nyawanya pada gunung Songsen,
sepertinya ambisi Chu Bejie telah kacau. Meskipun Bei Mo sangat membencinya, ia
tetap seorang pahlawan sesungguhnya bagi dunia ini.”
Sungguh
disayangkan dan sangat disesalkan.
Yang
satu seorang pahlawan dan yang lainya seorang wanita cantik.
Sungguh
sebuah lelucon dari langit.
Mereka
berdua telah menemani Pingting di pertempuran Kanbu dan sangat mengaguminya.
Setelah diam beberapa saat, Sen Rong berkata dengan nada rendah, “Tak peduli
apa yang dipikirkan orang lain, aku akan menemukan sebuah tempat untuk
mendoakan Bai Pingting malam ini, aku harus mencari seseorang yang menangani
masalah perbekalan kita agar menyediakan arak yang bagus dan makanan. Kuharap
arak yang bagus masih tersisa di barak. Panglima, aku tahu kalau militer tidak
mengijinkan minuman beralkohol, tapi bolehkan kita minum dengan bebas malam ini
dibawah sinar bulan?”
“Mengapa
tidak?” Ruohan berguman sambil menghela. “Malam ini, semua Jendral yang ikut
serta dalam pertempuran Kanbu seharusnya minum untuk kesedihan atas kehilangan
Nona Bai.”
Bagaimana
mungkin mereka tidak minum, minum untuk melupakan rasa sakit mereka?
--
Mengapa
dunia ini tidak bisa menampung seseorang seperti Bai Pingting?
Mengapa
langit begitu gelap dan mendung, sungguh tidak suram, atau mungkin seseorang
telah menjadi buta dan tidak bisa melihat kenyataan?
Wanita
itu seperti salju, keharumannya menyebar di hidung dan membersihkan paru-paru
mereka.
Ia
pernah sekali mengenakan pakaian berwarna cerah, berputar-putar disekitar
Kediaman. Ia menyanyikan lagu sambil menatap kerumunan wajah-wajah yang
dikenalnya. Mereka berdiri dibelakang sambil mendengarkan suaranya, mereka yang
sedang berjalan menghentikan langkahnya, terpaku ketika mendengarkan.
Dan
semua itu menghilang.
Kapan?
Mengapa? Penderitaan berat mulai menekan dengan kuat, karena alasan tidak
jelas. Sepertinya malah tidak alasan sama sekali, hanya sebuah nasib buruk yang
telah menjadi takdir bagi orang pintar.
--
“Nona?
Nona?” Sebuah suara dari kejauhan.
Pingting
membuka matanya, sebuah kehidupan mulai terlihat di matanya. kedua matanya
berusaha menjernihkan pandangan di depannya, sebuah sosok yang tidak asing.
Pingting tak bisa mengingat dimana ia berada.
Dimana
ia? Ia memandang sekelilingnya. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Bahkan
menggerakan sehelai rambutpun menyebabkannya kesakitan seluruh tubuh.
“Hm…”
Pingting perlahan bernapas pelan, menunggu rasa sakitnya surut.
Dimana anakku?
Benar, anakku! Ia tiba-tiba bangun dan membuka matanya lebar.
Tangannya memegang perutnya dan perlahan mulai bisa merasakan gerakan kecil di
dalamnya.
“Jangan
khawatir, kami sudah memberimu ramuan obat. Kau anak di kandunganmu baik-baik
saja.” Jawab sebuah wajah di atasnya, tertawa gembira.
Kekhawatiran
Pingting menghilang ketika ia melihat ke langit-langit. Sepertinya sudah
terlalu lama berlalu sejak ia melihat ke langit-langit. Ia melewatkan begitu
banyak waktu di antara bebatuan dan salju, rasanya ia takkan pernah melihat
langit-langit rumah lagi.
Baguslah,
ia akhirnya telah diselamatkan.
“Dimana
Zuiju? Yangfeng?” Pingting melihat sekelilingnya.
“Siapa
Zuiju? Siapa Yangfeng?” ekspresi kebingungan nampak di wajah orang yang berada
di depannya. Tak lama kemudian, pria itu tertawa lebar, “Oh, aku tahu, kau
membicarakan istri Panglima. Nona, kau masih belum menemukannya? Sudah begitu
lama, bahkan kuda-kuda sudah melahirkan anak-anaknya, tapi kau masih belum juga
menemukan mereka?”
Pria
itu salah sangka. Pingting masih agak pusing tapi ketika ia melihat senyum pria
itu, ia segera ingat. Ia berkata, “Kau pria tinggi besar yang kutemui di jalan.
Kau A.Han.”
“Hah,
Nona meingatku sekarang? Benar. Ini aku A.Han! Kau memberikan aku kudamu bahkan
memberikan aku uang untuk menikahi wanita baik-baik.” A.Han tersenyum tulus.
“Kuberitahu kau sesuatu, Sekarang aku sudah menikah dan sedang mengharapkan
seorang A.Han kecil.”
Tawa
A.Han yang pecah sampai mengetarkan atap, debu-bedu yang menempelpun ikut
berterbangan.
Pingting
juga ikut tertawa, lalu betanya dengan penasaran, “Apa kau tidak tahu Zuiju? Bagaimana
kau menemukan aku di gunung?”
“Keberuntungan.
Aku naik ke gunung hendak berburu untuk menguatkan tubuh istriku. Seekor
kelinci abu-abu terkena panahku tapi masih terus berlari sampai tiba di daerah
bebatuan. Aku mencarinya dan yang kutemukan bukan seekor kelinci melainkan Nona
yang hampir mati beku.” A.Han menceritakannya dengan gembira dan bangga.
“Kau
menyelamatkanku?”
“Tentu
saja, Aku membopongmu turun dari gunung salju, bersama busurku dan si kelinci.
Beruntungnya, tenagaku cukup kuat. Kau benar-benar hampir mati beku dan
terlihat agak baikan setelah meminum obat dan sup kelinci. Yup, sup kelinci
hutan memang menguatkan tubuh. Aku juga meminta beberapa orang untuk membawakan
tumbuhan obat yang bagus untuk janin dan diminumkan padamu. Yach, sebenarnya
untuk istriku juga.”
Mendengar
perkataannya, Pingting merasa gelisah tapi juga sangat bersyukur sekali.
“Maaf,
sudah merepotkanmu.”
“Jangan
khawatir, istriku sangat kuat, tubuh dan juga tulangnya. A.Han kecil yang
berada dalam perutnya juga kuat, jadi jangan khawatir.”
A.Han
sangat bangga ketika seorang wanita mengenakan jaket besar berjalan masuk
ruangan. Perutnya agak membesar ketika ia tertawa sambil bertanya, “A.Han apa
kau bicara pada dirimu sendiri lagi?”
“Hei,
hei, istriku Nona ini sudah sadar!” ia memberi isyarat pada istrinya dan dengan
puas memperkenalkan mereka berdua. “Ini istriku.” Lalu ia menunjuk pada perut
istrinya dan berkata dengan lembut, “Ini A.Han kecil.”
Istri
A.Han juga ikut bersemangat, ia tersenyum sambil mengeluskan pipinya ke
suaminya, “Kita kehabisan kayu bakar, potonglah beberapa.” Lalu ia menoleh pada
Pingting, “Kau akhirnya siuman Nona, mengapa kau mendaki gunung di cuaca dingin
seperti ini? Gunung Songsen bukan gunung yang mudah dilalui. Para priapun tak
berani melewatinya ketika musim dingin. A.Han memang bodoh, dia berani sekali
membohongiku dan berburu kelinci hutan disana.”
Lalu
ia mengkhawatirkan berbagai hal. Mungkin karena mereka telah menyelamatkan
seseorang dan berharap orang itu berbahagia. Ia menatap Pingting dengan hangat,
“Dengan sekali lagi minum sup ayam, pipimu pasti akan merona segera.”
Tapi
Pingting memikirkan hal lain.
Apakah
waktu perjanjian tiga hari sudah lewat?
Bagaimana
kalau pertolongan datang dan mereka tidak menemukan jejaknya, artinya Yangfeng
dan Zuiju akan sangat khawatir.
Tapi,
langit masih berbaik hati, mengijinkan ia dan anaknya bertahan dihidup.
Anakku, hidup kita
sungguh pernuh berkah.
Pingting
dengan lembut mengelus perutnya. Ada rasa keras dan lembut berbarengan. Ia
merasakan perasaan yang sulit di ungkapkan di dalam perutnya, perasan hidup.
“Nyonya
A.Han, aku…”
“Apa
kau lapar? Aku akan membawakan makanan kesini.”
“Bukan,
bukan.” Pingting menggelengkan kepalanya. Istri A.Han sungguh pantas untuk
A.Han, ia sangat peduli seperti suaminya. “Aku ingin segera melanjutkan
perjalananku.”
Istri
A.Han membelakan matanya. “Melanjutkan perjalananmu? Kemana kau akan pergi?
Tidak, tidak, aku berencana akan membuatkanmu sup ayam besok.”
“Aku
harus pergi.” Pingting bangkit dari tempatnya berbaring dengan kedua tangannya.
“Aku harus menemukan Yangfeng dan Panglima kalian Ze Yin.”
A.Han
sedang memotong kayu di luar, tapi ia memasang kupingnya untuk mendengarkan
yang di dalam. Kemudian, ia memasukan kepalanya ke jendela dan berteriak,
“Panglima telah menghilang untuk mengasingkan diri. Nona, kau takkan bisa
menemukan mereka. Yang kudengar bahkan Raja juga tak bisa menemukannya.”
“Tidak,
aku tahu dimana mereka berada. Aku harus bergegas kesana. Kalau mereka tidak
menemukan aku, mereka pasti khawatir.”
Yangfeng
dan Zuiju pasti sangat khawatir.
--
Pertengahan
musim salju sudah hampir berakhir. Dibawah sinar matahari, salju mulai mencair
menjadi sebuah sungai kecil, perlahan mengalir.
Mungkin
salju di gunung Songsen akan mencair juga seperti itu.
He
Xia mengeluarkan bendera komando Yun Chang, ditemani oleh para prajuritnya.
Dipertemuan pagi, dibawah ratusan tatapan mata para pejabat, ia dengan tenang
mengembalikan bendera itu dengan kedua tangannya. Perang telah usai dan hak
untuk mengerakan pasukan telah kembali pada Tuan Putri Yaotian.
Gui
Changqing menyaksikan diantara kerumunan ketika bendera komando dipegang oleh
He Xia. Ia secara diam-diam menarik napas lega ketika melihat bendera itu telah
kembali ke tangan Yaotian.
Perasaan
Yaotian kepada He Xia begitu dalam, kalau bukan karena peringatan dari Pejabat
Seinor yang berkali-kali dan terus-menerus, ia pasti tidak akan pernah
mengeluarkan perintah untuk mengembalikan bendera komando.
“Apa
suamiku marah?”
Pertemuan
pagi sudah selesai, tapi perasaannya masih terasa tidak nyaman. Ia segera
meminta Luyi untuk mengantar He Xia ke tempatnya. Perasaannya sudah agak
membaik ketika melihat suaminya berjalan menuju tempatnya.
He
Xia terkejut mendengarnya, “Mengapa He Xia harus marah?”
“Karena
Yaotian mengambil kembali bendera komando.”
He
Xia sedikit bimbang sesaat tapi ia tertawa lebar. Ia terlihat tidak berdaya dan
menatap penuh belas kasihan pada Yaotian sambil menggelengkan kepalanya.
“Mengapa Putri berpikir seperti itu? Kita suami istri. Bahkan kalau aku iri
pada semua orang di dunia ini, aku takkan pernah iri pada istriku sendiri.”
Lalu ia duduk di sebelah Yaotian dan menggenggam tangannya. Ekspersinya lalu menjadi
misterius dan ia berkata dengan berbisik. “Pejabat Senior berharap Putri segera
memiliki keturunan. Kapan Putri akan memberikan perintah, agar aku bisa
membantu hal ini?”
Yaotian
bersandar pada He Xia, ia mengira kalau He Xia akan mengatakan sesuatu yang
penting. Ia mendengarkan dengan baik, tapi kemudian ia menyadari kalau He Xia
sedang mengejeknya lagi. Pipinya bersemu merah dan mengerutu. Ia mengerutkan
dahi sambil berkata, “Suamiku, kau baru saja mengikuti pertemuan pagi, tapi
sekarang sudah mulai bercanda. Kalau Pejabat Senior tahu, ia akan kesal padamu
untuk waktu yang lama.”
“Perkataanmu
kurang tepat Putri.” Wajah He Xia sangat tenang ketika ia menegakkan
punggungnya dan terbatuk dua kali, “Memiliki keturunan adalah hal yang paling
penting dalam kehidupan berumah tangga. Bagaimana mungkin hal ini bukan masalah
serius, bukankah Pejabat Senior juga mengingatkan berulang kali? Tak peduli
Putri akan memberikan perintah atau tidak, aku berniat membantu.”
Hati
Yaotian menjadi manis seperti memakan banyak madu. Wajahnya sangat merona
ketika menjawab, “Siapa lagi, selain suamiku yang bisa membantu?” suaranya
tinggi dan halus seperti seekor nyamuk, hampir tak ada yang bisa mendengarnya.
“Kalau
begitu aku akan menunggu kedatangan Putri di Kediamanku malam ini.” He Xia
merasa gembira dan lupa dengan tata krama istana, ia mencium wajah Yaotian
dengan sedikit memaksa. Lalu ia berdiri, “Aku akan pergi sekarang untuk
mengurus masalah militer. Putri jangan
lupa janji kita malam ini.”
Yaotian
menyaksikan He Xia berjalan pergi, sosoknya seperti seekor naga. Bibir He Xia
tak bisa menyembunyikan senyum angkuhnya.
Luyi,
yang membawakan sup bunga teratai, masuk dan melihat wajah Yaotian. Ia
terkekeh, “Seperti yang sudah kubilang, tak perlu membawakan sup teratai ini
cepat-cepat. Putri baru saja bertemu Suami dan sekarang berkeringat. Apa yang
terjadi yang membuatmu seperti itu?”
“Luyi
kau sungguh berani, menggejekku?” Yaotian berhasil mengendalikan dirinya dan
duduk dengan tegak. Ia mengomel, “Kau harus belajar hal itu dengan suamiku.”
Tapi ia tak bisa mempertahankan sikap seriusnya dan mulai terbahak.
Malam
itu, Yaotian tiba dikediaman Suami Ratu. Ia turun dari kuda, tapi tidak melihat
sosok He Xia keluar dari gerbang. Dongzhuo berlari bergegas untuk menyambutnya.
“Putri, suami anda memgirimkan pesan kepadaku, ia sedang mendiskusikan masalah
militer dan akan segera kembali. Makan malam sudah siap, sesuai instruksi suami
anda, seluruh hidangan yang disajikan adalah kesukaan Tuan Putri. Apa Putri
ingin menyantapnya di halaman belakang?”
Mendengar
kalau He Xia belum kembali, Yaotian merasa cemas. Ia mengangguk singkat dan
berkata, “Kau atur saja.”
“Kalau
begitu aku akan memerintahkan untuk menyajikan hidangan di halaman belakang.”
Makanan-makanan
itu sangat lezat. Yaotian sering datang ke tempat suaminya, jadi juru masak
sudah tahu apa kesukaannya. Mereka telah berusaha keras dalam usahanya membuat
hidangan-hidangan itu. Rasanya bahkan lebih baik dari pada hasil masakan
istana.
Tapi,
He Xia tidak ada disana, Yaotian kehilangan selera makannya. Ia meletakan
sumpitnya beberapa kali, menolehkan kepalanya beberapa kali ke langit dan
memerintahkan Luyi untuk memeriksa beberapa hal.
Luyi
menjawab, “Aku sudah mengirim beberapa orang untuk memeriksa meskipun Putri
tidak memerintahkan. Meskipun perang sudah usai, masih ada hal lainnya seperti
masalah pensiun dan hadiah, jadi suami anda sedang sangat sibuk.”
Yaotian
menghela napas.
Yaotian
menunggu hampir setengah jam, Luyi yang selalu menengok ke luat akhirnya
berteriak, “Suami Ratu sudah kembali!”
Yaotian
gembira mendengarnya, ia berdiri dan menatap ke luar. Sebuah sosok gagah berani
sedang berjalan bergegas ke arahnya. He Xia menyapu keringatnya ketika ia
memasuki ruangan, ia tersenyum dan bertanya, “Apa Putri sudah selesai makan
malam?”
“Sudah,
apa suamiku sudah makan juga?”
“Tidak
sempat makan.” He Xia menyerahkan handuk putih yang ia gunakan untuk menyeka
keringatnya ke seorang pelayan lalu ia duduk di kursi. Yaotian segera
memerintahkan pelayan untuk membawakan nasi hangat dan beberapa hidangan. Ia
sendiri yang menyerahkan sepasang sumpit pada He Xia. He Xia menerimanya dan
tersenyum pada Yaotian. Sambil mengambil makanannya ia menjelaskan, “Aku
berniat kembali lebih cepat, tapi kalau tidak kuselesaikan hari ini, besok akan
lebih banyak. Maaf sudah membuat Putri menunggu lama, ini semua salahku.”
“Karena
masalah militer begitu sibuk, bagaimana kalau aku akan memindahkan dua pejabat
untuk membantu suamiku, sehingga beban kerja suami bisa dibagi.”
He
Xia segera menelan makanan dalam mulutnya dan ia mengelengkan kepalanya,
“Meskipun kami sengsara karena hanya ada beberapa orang yang mengerjakannya,
menambah dua orang akan menambah masalah lainnya berdatangan, sehingga kami
akan lebih bertambah sibuk.” Melihat wajah Yaotian yang bingung, He Xia
menjelaskan dengan sabar, “Memilih siapa yang harus di pensiunkan, siapa yang
harus diberi imbalan dan mengatur tingkatan jabatan tidak sulit, tantangannya
adalah uang dan ransum yang harus diberikan kepada para prajurit. Aku tidak
memiliki uang dan ransum yang bisa digunakan untuk dibagikan kepada mereka
sebagai hadiah, karena itu aku harus bertanya pada bendahara negara. Untuk
setiap imbalan, banyak sekali para pejabat yang harus memberikan persetujuan
mereka, untuk itu banyak surat yang harus ditulis, tapi mereka hanya menyetujui
sejumlah uang yang hanya cukup untuk lima ribu prajurit. Besok aku harus
berusaha untuk membujuk mereka lagi.”
Yaotian
mendengarkan dengan seksama, tangannya memegang sepasang sumpit. Ia membantu He
Xia mengambil berberapa makanan, sambil berkata dengan pelan, “Ini bukan
masalah ringan. Kalau imbalan dan uang pensiun terlambat di berikan, para
prajurit tidak akan senang. Bukankah hal ini bisa menguncang moral militer?”
He
Xia terlihat sangat lelah. Satu mangkuk nasi dengan cepat dihabiskannya. Ia
memberi perintah pada pelayan untuk membawakan semangkuk lagi. Dan ia
menyetujui perkataan Yaotian, “Putri benar, Aku tidak begitu peduli dengan hal
itu saat ini, hanya akan membuatku lebih lelah. Tapi, kalau imbalan dan pesiun
terlalu lama ditunda, dan perang datang lagi, bagaimana kita akan melawan
mereka? Perang dengan Dong Lin kali ini membuat kita lebih memahami tata letak
perbatasan, seharusnya kita tidak butuh waktu banyak untuk melakukan persiapan
serangan balasan.”
He
Xia memang terkenal sebagai Jendral Hebat. Yaotian telah mencoba terlibat dalam
pemerintahan belakangan ini, jadi ia tahu benar kalau ucapan He Xia sangat
benar. Ia tidak ragu ketika berkata, “Militer memang memerlukan harta dan
ransum mereka sendiri. Aku akan membuat perintah di pertemuan besok pagi, agar
mereka bisa segera membangunnya, dan gudang itu akan berada di bawah
pengawasanmu. Dengan uang dan ransum pasukan bisa dikendalikan dengan baik.”
He
Xia terkekeh sambil menasehati, “Putri tidak harus cepat-cepat menurunkan
perintah. Hal ini harus dibicarakan dengan Pejabat Senior terlebih dahulu.
Kalau Pejabat Senior tidak tahu menahu tentang masalah ini, kita berdua akan
kena omelannya.”
“Beristirahatlah
suamiku. Selama itu demi kebaikan Yun Chang, Pejabat Senior tidak akan
menolak.”
Setelah
pembicaraan serius itu, He Xia juga menyelesaikan makannya. Ia dengan nyaman
merengangkan lengannya dan memandang Yaotian dengan mesra. Ia tertawa jahil,
“Setelah kita selesai membicarakan masalah negara, sekarang waktunya membahas
masalah suami istri. Kata manis apapun yang ingin Putri dengar, tolong berikan
perintah.”
Yaotian
mengejeknya, “Sekarang dimana suamiku yang biasanya serius? Tak mungkin aku
memberikan perintah, kau sudah mengeluarkan begitu banyak kata-kata manis,
begitu banyak sehingga sulit untuk ditampung.”
He
Xia menjawab dengan cepat, “Baiklah, kalau begitu aku tidak akan berkata manis
lagi . Putri jangan terluka karena hal ini yach. Hmm, biar kupikirkan, karena
aku tidak bisa mengucapkan kata-kata manis, lantas apa yang bisa kulakukan
untuk membuat istri tercintaku bahagia?”
Yaotian
melihat wajah He Xia di antara lilin-lilin yang berkelip. Alisnya hampir
menyentuh pelipisnya, dan ekspresinya menampilkan wajah jahil yang tampan. Yang
berada di ruangan itu hanya orang-orang kepercayaan Yaotian, tidak ada orang
luar, sehingga Yaotian tidak peduli lagi dengan kewajiban etiket seorang kepala
negara. Ia tersenyum, jari-jarinya menyentuh pundak He Xia dan tertawa genit, “Suamiku
berhentilah berpura-pura. Melihat ekspresimu, aku tahu kau berniat melakukan
hal yang menyenangkan yang aku tahu. Cepatlah dan lakukan, atau aku akan
menghukummu.”
He
Xia melihat Yaotian sedang mengodanya, dan ia menarik pinggangnya. Ia mengeluarkan
tenaganya ketika menarik Yaotian, sehingga berteriak “Kyaa” Yaotian tak berdaya
jatuh ke pelukan He Xia. He Xia memeluk pinggangnya dan membiarkannya duduk
dipangkuannya. He Xia mencium pipinya, “Apakah tariannya indah?”
“Tarian
apa?”
He
Xia memperhatikan mata Yaotian yang bersinar. Ia menundukan kepalanya dan
dengan lembut mengigit leher Yaotian, Yaotian berteriak lagi, “Kyaa.” Sebelum
Yaotian sempat bicara dan mengomel padanya, ia berkata, “Putri lagi-lagi
membuatku gembira, Kediamanku menerima group penari Bei Mo belum lama ini dan
mereka sangat cantik-cantik. Apakah tak ada seorangpun yang melaporkan ini
kepada Putri? Aku yakin ada gelombang rasa sakit di perut seseorang….ow… itu
sakit…..”
Yaotian
memukul He Xia dengan keras. Ia mengeliat melepaskan dirinya, berbalik untuk
menatap He Xia dan berkata, “Suamiku salah, aku bukan wanita yang akan cemburu
tanpa alasan.”
He
Xia memegang tangannya yang tadi dipukul Yaotian, “Kenapa? Kalau memang tidak
cemburu, mengapa kau memukulku sangat keras?” He Xia mendekati lagi dan
berbisik di telinga Yaotian, “Melapor pada Putri, aku begitu sibuk dengan
pekerjaan hingga tidak sempat melihat para penari itu. Mengapa kita tidak malam
ini saja kita minta mereka menari, sambil kita minum arak. Dengan begitu kau
tidak perlu menghadapi kecemburanmu sendirian.”
Ketika
Yaotian mendengar kalau He Xia belum melihat para wanita penari, kegembiraan
muncul di hatinya. Ia berbalik dan berkata, “Sungguh menarik. Aku juga ingin
melihat perbedaan tarian Bei Mo.” Lalu Yaotian memijak lengan He Xia, wajahnya
merona ketika bertanya, “Apakah sangat sakit?”
Mungkin
akan lebih baik kalau ia tidak bertanya. Begitu ia bertanya, He Xia menaikkan
alis matanya dan menampilkan wajah kesakitan, “Sakit, bahkan lebih sakit dari
luka goresan pedang.”
Yaotian
memukulnya ringan. Ia mencemooh, “Apanya yang Jendral terkenal, begitu terkenal
di seluruh daratan di bawah langit ini, yang kulihat hanyalah seorang pria yang
jahil.”
“Kau
bukan prajuritku, mengapa aku harus serius menghadapimu?” He Xia menghentikan
keisengannya dan tertawa lebar, suaranya sangat percaya diri.
Para
pelayan mengantarkan para penari Bei Mo. Mereka menari di atas panggung batu
kecil di halaman belakang, sementara mereka berdua minum dan bersenang-senang
di pavilium.
Malam
itu, langit juga mendukung. Bulan bergantung di atas, abu-abu dan terang,
bersinar di salju yang belum mencair.
Para
penari mengenakan pakaian Bei Mo. Warna-warnanya sangat terang, sebuah drum di
ikat pinggang mereka dan mereka sangat ahli membunyikannya. Yaotian belum
pernah melihat yang begitu menyegarkan dan menarik seperti ini.
He
Xia telah menghabiskan seluru tenaganya seharian ini, tapi ia masih terlihat
lebih baik dari Yaotian. Setelah tarian selesai, ia bertepuk tangan dengan
keras, memuji, “Tarian dan lagu ini sungguh ditampilkan dengan sangat baik,
untuk menghormatinya kita harus minum tiga cangkir.”
Yaotian
juga minum mengikuti He Xia. Ia membawa cangkirnya ke mulut tapi kemudian ia
menggelengkan kepalanya, “Suamiku, aku tidak begitu kuat dengan arak, tidak
sepertimu. Daripada tiga, aku akan minum satu saja.”
He
Xia sedang meminum araknya tapi ia tidak memaksa Yaotian melakukan hal yang
sama. Ia mengangguk, “Tidak masalah, Putri. Bagaimanapun, tarian ini sungguh
indah dan terukir kuat di hati, karena itu aku harus minum tiga cangkir untuk
memeriahkan suasana.”
Ia
melanjutkan minum dua cangkir lagi kemudian ia mengeluarkan pedangnya.
“Tarian
langit, mimpi hampa yang lama, kasih sayang tidak begitu kuat…” Suara He Xia
jelas dan mantap, menyenangkan untuk didengar.
Yaotian
sudah sering mendengar ucapan manis He Xia, tapi ia belum tahu kalau He Xia
ternyata juga bisa bernyanyi dengan baik. Wajah Yaotian menampakkan ekspresi
terkejut.
Tapi
He Xia berhenti setelah satu baik, ia tidak berniat melanjutkan. Ia memasukan
pedangnya, berbalik dan tertawa, “Tarian drum sangat indah dilihat, apakah ada
jenis tarian lain yang juga menggunakan drum? Pilih lagu lain dan menarilah.”
Tanpa
disadari, bulan sudah melewati setengah langit, dan kendi-kendi arak sudah
kosong, sebagian besar masuk ke perut He Xia. Meskipun He Xia termasuk kuat
minum, ia merasa agak mabuk saat itu.
Yaotian
khawatir terlalu banyak minum akan merusak tubuh suaminya. Ia berkata pelan,
“Meskipun tariannya bagus, kita sudah cukup bersenang-senang. Bagaimana kalau
kita masuk ke ruangan?”
He
Xia tidak berniat meletakan cangkirnya, tapi ia selalu mematuhi hal sekecil
apapun yang dikatakan Yaotian, dan ia segera meletakan cangkirnya. “Benar,
sudah waktunya beristirahat. Putri juga sudah lelah.”
He
Xia berdiri, membubarkan para pelayan, penari dan penjaga. Ia membawa Yaotian
masuk ke ruangan.
Mereka
berdua telah menyita banyak tenaga para pelayan sepanjang malam, sehingga para
pelayan kelelahan. Dan ketika mereka melihat dua majikan mereka hendak tidur,
dalam hati mereka diam-diam bergembira. Para penari Bei Mo lebih gembira lagi,
mereka menunggu He Xia dan Yaotian sampai masuk ruangan dan menyaksikan
lilin-lilin dipadamkan satu per satu baru kemudian membereskan peralatan
mereka. Tak lama kemudian, huru-hara di halaman belakang dengan segera menjadi
sunyi.
Hanya
bulan yang tidak berubah, masih tetap bulat besar dan bergantung di langit
seperti sebelumnya.
Udara
dingin di kediaman mengalir lembut.
Dongzhuo
juga sudah kelelahan seharian ini, matanya terpejam rapat di tempat tidurnya.
Tapi kemudian ia tiba-tiba terbangun. Matanya berkedip menatap langit di luar
dan menyaksiakan bulan masih berada di atas langit, mengira-ngira kalau ia
belum tertidur terlalu lama.
Ia
tak bisa melupakan Pingting.
Pingting
sangat suka memandangi bulan, bukan hanya bulan tapi juga bintang-bintang. Ia
bertanya-tanya dimana Pingting sekarang.
Berpikir
seperti itu membuat kantuknya menghilang. Dongzhuo bangun dan turun dari tempat
tidurnya berjalan keluar. Hembusan angin dingin menyambutnya, membuatnya
gemetaran kencang dua kali.
Sepertinya
angin membawa sesuatu.
Dongzhuo
berpikir hal ini sangat aneh. Ia melangkah kedepan dan menyiagakan telinganya.
Benar, ada suara. Ia berjalan mendekati, hingga tiba di halaman belakang. Suara
besi membelah angin semakin berisik. Ketika ia menemukannya, ia sangat
terkejut.
Bulan
memberikan pancaran dingin di atas pedangnya.
Halaman
belakang yang sunyi menampakan sebuah sosok yang lihai bermain pedang di atas
salju.
“Tuan…”
Dongzhuo berkata dengan pelan.
He
Xia sepertinya tidak menyadari kehadiaran orang lian di sekitarnya. Matanya
bersinar dan pedangnya menari kesana kemari, meninggalkan jejak cahaya putih
dingin.
Dongzhuo
memperhatikan keahlian He Xia mengayunkan pedangnya, membelah angin di halaman.
Seperti berusaha melepaskan seluruh perasaan yang dipendamnya. Dongzhuo tidak
berani bersuara, takut menganggunya, ia hanya diam berdiri disana.
Tak
ada yang menganggu He Xia saat ini.
Pedangnya
di tangannya.
Jendral
termashyur, Penerus Jin Anwang, Suami dari Ratu Yun Chang, saat ini sedang
memegang pedang di tangannya.
Di
bawah cahaya bulan yang terang, gerakan pedangnya terlihat seperti tarian.
Seluruh
hidupnya tercermin dari kilauan sinar dingin pedangnya.
Setiap
gerakan berikutnya dilakukan dengan sangat baik, dengan kekuatan seekor naga
dan keahlian bela diri seorang pahlawan dan penakluk pegunungan.
Setelah
seluruh jurus pedang Jin Anwang selesai di lakukan, dahi He Xia penuh dengan
keringat hangat. Pakaiannya yang tipis menempel di tubuhnya ketika ia
menyarungkan pedangnya kembali. Ia lalu berbalik menghadap Dongzhuo tanpa
ekspresi apapun. Suaranya jernih, “Bei Mo membawa berita, Pingting meninggal.”
Lalu ia membawa pedangnya dan berjalan ke ruangan dimana Yaotian berada. Ia
perlahan membuka pintunya dan masuk ke dalam.
Pintu
tertutup tanpa suara.
Dongzhuo
berdiri di tengah angin, terkejut.
Halaman
belakang sangat dingin.
Tempat
itu masih sama, dan para penghuninya yang tertidur masih berada dalam mimpi
mereka.
Suara
tamburan genderang mulai terdengar dari kejauhan, membuat kesunyian semakin
menjadi.
Pingting.
Kakakku Pingting,
yang memiliki senyum mengagumkan dan senang melihat bulan, telah pergi.
--00—
Home
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar