-- Volume 1 chapter 4 --
“Ah, pertunjukannya selesai” Setelah Chu BeiJie pergi, Nona Hua akhirnya bersin, berjalan dan menaikan tirai dengan wajah yang benar-benar bosan. “Dia sungguh maniak perang. Hanya penampilannya saja yang menarik. Dia bahkan sama sekali tidak mengucapkan hal-hal yang menyenangkan. Aku heran bagaimana kau bisa berbincang denganya sampai begitu lama. Hei, Hong mengapa kau begitu diam?”
Pingting masih merasa gelisah dan memikirkan kata-kata terakhir yang di ucapkan Chu BeiJie.
Apa ada kabar tentang Tuannya?
Apa semua penghuni Kediaman Jin Anwang, selamat ?
Apa yang si 'Dong Dingnan' kerjakan sekarang?
Ia meninggalkan kesan dan sebuah senyum seperti sedang membicarakan siasat. Ia tahu dengan baik hal-hal rinci tentang perang seperti Pingting, itu berarti paling tidak, ia seorang komandan militer yang penting.
Komandan Militer? Ia mulai memikirkan setiap komandan penting Dong Lin. Panglima Zhen Beiwanglah yang pertama muncul di kepalanya. Ia mengejapkan matanya, menyesali, mengapa dulu tidak meminta lukisan wajah Chu BeiJie.
Bukankah adalah suatu kebetulan yang rumit kalau ternyata Panglima Zhen Beiwang yang memberikannya – seorang pelayan dari Kediaman Jin Anwang – sebuah kecapi dan meminta untuk bertemu?
Nona Hua melihatnya dalam kebingungan dan tertawa keras, “Dia sudah pergi dan kau masih saja memikirkannya? Sudah mulai merindukannya?” Dia berpura-pura memukul pipi Pingting.
Merasakan pukulannya, Pingting segera sadar dan berkata pada Nona Hua, “Maaf, aku sangat lelah. Aku ingin beristirahat di ruanganku.”
“Kau belum makan malam.”
“Aku akan makan lebih banyak, besok pagi.”
Ketika Pingting berada di ruangannya, dia berbaring dikasurnya yang keras tapi bersih, dan mulai memikirkannya lagi.
“Tuan...” ia mengertakan giginya. Jantungnya seperti terbakar perlahan di dadanya. Ia mulai khawatir. “Jangan khawatir, khawatir hanya akan mengacaukan segalanya.” ia mengatakan pada dirinya sendiri.
Perlahan, pikirannya yang kacau mulai tenang. Ia dengan tenang menarik napas dalam dua kali, dan memejamkan matanya. Dia mengingat bendera Jin Anwang; ia mengingat Tuannya, Kediaman Jin Anwang, kemenangan terakhir dan jalan menuju rumah....
Tuan Muda Jin Anwang telah memenangkan pertempuran, pasukan perlahan berbaris. Bendera Jin Anwang berkibar tinggi diatas angin.
Komandan yang didepan menunggang kuda besar yang hebat. Ia mengenakan seragam unggu yang di hiasi lambang naga. Bilah besi bersinar di punggungnya. Permata, emas dan giok menggantung di pinggangnya dengan mewah. Ia adalah si legenda He Xia.
Hari itu, walaupun He Xia telah memenangkan pertempura, ia tidak tersenyum malah mengerutkan dahi sangat dalam.
“Tuan !” suara seorang gadis terdengar dari kerumunan dan suara langkah kuda dari belakang.
Walaupun He Xia tidak menolehkan kepalanya, ia sudah tahu siapa. “Pingting, bukankah sudah kubilang kau akan naik di kereta karena kau sedang tidak sehat belakangan ini? Mengapa kau malah mengendarai kuda?”
Pingting berhasil mengejar He Xia dan dengan terengah-engah berkata, “Siapa bilang aku butuh perawatan seperti itu? Aku hanya batuk beberapa kali tapi si Pian Dongzhuo menjadi sangat takut dan segera memberitahu Tuan. Aku khawatir Tuan berpikir aku terlalu sering sakit dan tak akan membawaku lagi.”
“Sepertinya kau takkan mendengarkanku, walaupun aku memerintahkanmu untuk tinggal di rumah, benar kan? Sangat disesalkan kau seorang wanita, yang mengikutiku ke medan perang. Walaupun kau sakit, tak ada suami yang akan menjagamu.”
He Xia menoleh, “Kenapa? Kalau kau belum sembuh, jangan memaksakan diri. Matahari sangat terik dan kau masih ingin berkuda denganku. Kalau kau tidak menurut, aku benar-benar tidak akan mengijinkanmu ikut di pasukan lain kali.”
Pingting cepat-cepat menutup mulutnya menahan batuk. Menoleh ke arah Tuannya dan melihat, wajah He Xia sangat khawatir, jadi ia tersenyum perlahan. “Jangan khawatir Tuan, aku lebih sehat dari kuda manapun.” Matanya memperhatikan He Xia untuk beberapa saat, kemudian menunduk, dan berkata pelan, “Aku khawatir kalau... saat Tuan gelisah, tak ada seorangpun disisimu yang berusaha menghiburmu.”
Dia mendesah dan hati He Xia melunak. Ia tersenyum tipis ketika menggelengkan kepala. “Kau benar-benar pelayan yang aneh. Aku tak bisa menyembunyikan apapun darimu.” Melihat Pingting sudah membaik dengan pipinya yang kemerahan, ia tersenyum. “Kemarilah. Naik kuda bersamamu agar kau tidak khawatir berlebihan. Ayo bertukar pikiran.”
“Ok.” Pingting mengangguk dan turun dari kudanya.
He Xia mengulurkan tangan dan menarik Pingting naik ke kudanya. Ia meletakan sebelah tangannya di pinggang Pingting untuk menahannya dan sebelah lagi memegang tali kekang. Ia perlahan mengumpulkan pemikirannya dan memilih kata-katanya, “Lawan kita adalah tentara Dong Lin. Pertempuran dengan Chu Beijie ini bertahan selama dua bulan, dipermukaan kita menang tapi sebenarnya kita kalah.”
Pingting mengangguk, “Tuan benar. Walaupun Dong Lin sudah mundur, Gui Li menderita kerugian besar. Jika Dong Lin menyerang lagi, mustahil bagi Pasukan Gui Li untuk menahan mereka. Kalau saja Raja di pihak Tuan dan tidak begitu keras kepala menolak Tuan mengambil alih, selama dua tahun ini, kondisinya tidak akan separah ini.”
“Pingting, hati-hati berbicara buruk tentang Raja.” He Xia berpikir sejenak, “Ingatlah kalau Raja baru bukanlah Pangeran Su yang dulu sebelum ia naik tahtah.”
Pingting menggigit bibirnya dan berpikir keras. Setelah Pangeran Su menaiki tahta, ia sangat berubah banyak. Ia menghilangkan kekhawatirannya dan berkata dengan tenang, “Aku mengerti mengapa Tuan merasa kecewa, tapi jumlah korban pada tentara kita bukan kesalahan Tuan. Ini sungguh dua tahun yang sulit. Raja akhirnya membiarkan Tuan mengambil alih mungkin karena ia ingin mempermalukanmu.”
“Itu sebabnya mengapa aku gelisah. Kalau kita tidak memenangkan pertempuran ini dan kembali ke ibukota, banyak orang akan memprotes dan bahkan ayah akan terkena dampaknya. Jin Anwang memegang terlalu banyak kekuatan dan pengaruh. Kalau aku yang menjadi Raja, aku juga akan berusaha untuk menyingkirkan mereka.
Mengingat sikap dingin Raja setelah menaiki tahta sangat tidak menyenangkan. Keduanya segera merasakan sensasi mengerikan menjalar turun di punggung mereka.
Melihat pelayan kecilnya mengerutkan dahi karena masalah kerajaan. He Xia tersenyum. Dia menyentuh dahi Pingting dengan ibujarinya, perlahan menghilangkan kerutnya. “Berhenti memikirkan masalah ini. Ayo bicara hal yang menyenangkan. Terimakasih padamu yang sudah memikirkan rencana pintar untuk menahan arus sungai menjadi banjir bandang dan menyapu pasukan musuh ketika mereka masuk gunung. Chu Beijie kalah total untuk itu dan harus mundur. Sekarang setiap orang tahu kalau kita memiliki seorang ahli strategi wanita. Ketika kita sampai di ibukota, aku akan memastikan ayah memberimu hadiah yang sangat besar. Katakan, apa yang kau ingingkan ?”
“Hadiah lagi? Tuan Besar sudah memberiku banyak hadiah untuk kugunakan sampai sepuluh keturunanku.” Pingting menengok ke langit; matahari sudah bergeser ke satu sisi disamping bendera Jin Anwang yang diangkat tinggi. Dia berhati-hati menengok ke He Xia dan perlahan bebalik lagi. Ia berbisik pelan, “Tuan, ada sesuatu yang aku tak tahu sebaiknya aku katakan atau tidak.”
“Apa yang tidak bisa kau katakan padaku ?”
Pingting terlihat tidak nyaman tapi kemudian tersenyum. “Sebenarnya aku tak mau mengatakannya. Jika kukatakan, kau akan merasa terganggu lagi.”
He Xia sepertinya bisa menebak apa yang ingin Pingting katakan dan tersenyum.
Tak sepatah katapun terucapkan oleh mereka dan kuda terus melangkah dengan letih.
Kuda mulai berderap lagi melawan matahari tenggelam, meninggalkan debu yang berterbangan.
Pingting dengan tenang menatap keatas, berpikir keras tentang sesuatu. He Xia tahu bahwa pelayannya yang pintar ini sedang berpikir keras tentang sesuatu, jadi ia memelankan kudanya dan membuat nyaman duduknya.
Setelah beberapa saat Pingting berkata, “Kurasa aku akan mencoba mengatakannya.”
“Aku mendengarkan.” Ketika He Xia melihat Pingting menatapnya begitu serius, ia segera mendengarkan dengan seksama.
“Tuan, kalau perkiraanku benar. Segalanya akan berjalan, bahkan lebih buruk. Aku tidak bercanda.” Pingting memutar kepalanya dan menatap mata He Xia. Dengan gugup ia berkata, “Sepertinya Chu BeiJie tahu betapa lemahnya tentara kita dan takkan sanggup bertahan lebih lama lagi. Jika ia datang lagi dalam dua bulan, tentara Gui Li pasti binasa. Aku yakin dia mundur dengan sukarela disaat kita sangat lemah sehingga... Tuan bisa kembali ke ibukota.”
“Kau benar tapi mengapa ia berbuat seperti itu?”
Bola mata hitam Pingting berputar dua kali, sepertinya ia sudah punya jawaban tapi ia mendesah, “Kalau Tuan kalah di pertempuran, Raja akan mengambil kesempatan untuk menghancurkan kekuatan militer Jin Anwang yang begitu hebat. Katakan Tuan, ia mungkin takkan melakukan itu setelah kau kalah dalam peperangan sekali, benar kan?”
He Xia mengelengkan kepalanya, “Tentu saja tidak. Kediaman Jin Anwang kita sudah menjadi bagian penting dari Gui Li sejak dulu. Jika Raja benar-benar memutuskan utnuk membunuhku, akan ada pertumpahan darah yang tidak perlu dan menyebabkan kekacauan.
“Maka jika Tuan menang dan kembali, apa Raja akan memberi Tuan hadiah ?”
“Kalau kita menang, tentu saja Raja harus memberi kita hadiah.” He Xia melanjutkan, “Walaupun aku tidak menginginkan hadiah, tapi Raja harus memberi hadiah untuk mendapatkan hormat dari yang lain.”
“Jika Tuan menang dan kembali ke ibukota, rakyat akan lebih menyayangimu. Aku yakin Raja akan menghadiahi Tuan tapi dalam hati dia akan lebih membenci Jin Anwang. Kediaman Jin Anwang akan berada dalam bahaya.”
“Dengan kata lain, Raja akan merasa terancam dan mencoba untuk memusnahkan Kediaman Jin Anwang. Segera, setelah Tuan Besar Jin Anwang melakukan kesalahan, Gui Li akan menjadi tidak stabil dan Dong Lin akan mengambil kesempatan ini menyerang. Haha, Chu BeiJie sungguh menggerikan. Yang dia inginkan bukan beberapa kota melainkan seluruh tanah Gui Li.
“Benar apa yang kau katakan!” Pingting menepuk tangannya, matanya berbinar. Dia segera berubah dari penasihat strategi yang serius menjadi pelayan yang bersemangat. Diwajah bulatnya, terlihat dua lesung pipit. Memandang balik pada He Xia dan tersenyum, “Tuan sungguh pintar. Apa yang Chu BeiJie rencanakan, Tuan akan mengetahuinya dengan mudah.”
He Xia tak bisa berhenti tertawa, “Orang yang paling pintar yang kutahu adalah, penasihat strategi kita Bai. Kalau kau seorang pria, aku tak akan menjadi penasihat utama ya kan ?”
keduanya tertawa. Walaupun kegembiraan ini tak berhenti, tapi dalam hati mereka merasa tidak tenang.
Jalan setapak di depan terlihat sulit untuk dilewati.
Walapun hati mereka sudah bersiap, bahkan tidak di dalam mimpi mereka yang paling buruk, akan menduga bahwa dalam satu kedipan mata, segalanya akan berubah. Selamanya.
Setelah perjalanan selama lima hari, mereka akhirnya tiba di ibukota. Raja Gui Li, He Su sendiri yang menyambut mereka. Penduduk kota tahu bahwa Tuan Muda Jin Anwang yang terkenal memenangkan pertempuran dan kembali. Mereka ingin menyambutnya, mereka berkerumun di belakang dua baris prajurit yang entah mengapa berwajah sangat serius. Setiap orang menjulurkan kepalanya kedepan, mencoba mendapat pemandangan ke panggung.
“Yang mana Tuan Muda Jin Anwang?”
“Dasar bodoh. Kau belum pernah melihat Tuan Muda Jin Anwang?” seseorang berkata, “Itu dia, yang di depan pasukan. Geez, siapa orang di ibukota yang tidak mengenali Tuan Muda Jin Anwang?”
“Hey, ini pertama kali aku di ibukota! Aku datang menggunjungi keluargaku. Aku tak pernah membayangkan bisa melihat Tuan Muda Jin Anwang dengan mataku sendiri! Ketika aku kembali ke rumah, aku akan punya banyak cerita untuk disampaikan!”
Sementara kerumunan terus berbicara, tentara sudah sampai di gerbang kota.
He Xia turun dari kudanya. Dengan suara lantang ia berkata, “Salam kepada Raja. Aku, He Xia telah memenangkan pertempuran dan Dong Lin telah mundur secara resmi.
He Su sepenuhnya ditutup warna pakaian kuning emas. Di atas kepalanya ia mengenakan hiasan kepala dengan batu permata. Lebih banyak batu permata berkilap di bajunya. Dia tersenyum ringan dan membantu He Xia bangun. “Pejabat kesayanganku, kau boleh berdiri. Terima kasih sudah menyelesaikan satu dari begitu banyak masalahku. Gui Li sangat bangga memiliki Keluarga Jin Anwang dan berkat mereka kita tak perlu takut pada musuh kita!”
Sambil tetap memegang tangan He Xia, mereka berbalik.
“Lihat! Itu dia!”
“Tuan Muda Jin Anwang!”
Teriakan gembira terdengar dari kerumunan.
He Su tersenyum pada He Xia, “Aku tak cukup berterima kasih padamu.” Dia berjalan naik ke atas panggung dan memegang secangkir arak terbaik di Gui Li. Dengan pelan ia berkata, “Untuk semua yang berkumpul disini, tolong dengarkan. Dong Li telah begitu lama menjadi musuh Gui Li. Setelah kemenangan hari ini, kita tak perlu lagi hidup dalam ketakutan dan aku harus memberi penghargaan pada pahlawan kita atas keberhasilannya.”
Semua orang mengangguk setuju, bertanya-tanya apa yang akan dihadiahkan Raja pada He Xia.
He Xia bertumpu lutut, “Kemenangan ini berkat Raja, yang telah memerintahkan langsung, segalanya. He Xia hanya memastikan para prajurit mengikuti perintah. Aku tidak pantas mendapat hadiah.”
“Tidak, tidak, kau pejabat Gui Li terbaik. Bagaimana aku tidak memberimu hadiah?” He Su berkata, “Aku akan memberimu tiga hadiah. Pertama, aku akan memberimu secangkir arak terbaik di Gui Li.”
Dibelakang He Xia, seseorang memberikannya secangkir arak terbaik. He Xia mengambilnya dan mengangkat kepalanya ke arah Raja. He Su mengangguk, “Kau boleh meminumnya.”
He Su memastikan ia menghabiskan araknya sebelum berkata, “Kedua, aku akan memberimu sebuah pedang pusaka. Pelayan, tolong bawa kemari.”
He Xia di berikan sebuah kotak panjang berwarna merah.
He Xia merasakan kepalanya sakit. Ia menjadi tidak yakin tujuan He Su sesungguhnya. Ia hanya bisa menjawab, “Terima kasih, Yang mulia Raja.” Ia membuka penutup kotaknya dan matanya berbinar, “Ahh....”
Sebuah pedang yang luar biasa berharga terletak di dalam kotak. Tidak ada tanda karat dan pangkal pedang berwarna hitam pekat. Ini adalah pedang yang telah lama menghilang yang dikenal dengan “Pedang pusaka Heimo”. Dikabarkan pedang ini sangat tajam – sedikit luka sabetan kecil akan meninggalkan bekas seumur hidup.
He Xia hidup dalam kemewahan sepanjang hidupnya dan ia tidak tertarik dengan perhiasan atau semacamnya, tapi ia menyukai senjata bagus. Melihat pedang yang begitu berharga membuatnya tersigap.
He Su tertawa, “Bagaimana? Kau menyukainya?”
“Pedang ini begitu berharga. Bagaimana anda...”
“Itu sebabnya harus kuberikan padamu. Semua orang tahu kau menyukai tentara dan senjata. Ambillah.”
He Xia tidak tahu harus terkejut atau bahagia. “Terima kasih, Yang Mulia.” Ia berbalik dan menerima kotaknya.
Pingting muncul dari belakang dan menerima kotak dari Tuannya. Ia sudah hendak pergi ketika He Su mengenalinya, “Oh, bukankah kau Pingting?” Ia berjalan turun dan tersenyum, “Kenapa kau disini bersama He Xia lagi.”
Pingting membungkuk, “Salam Yang Mulia.”
“Tak perlu. Dulu ketika kau masih belajar bersama He Xia, kau mampu mengingat segalanya lebih cepat dari pada kami, dan diakui sebagai wanita jenius. Dulu, kami sering mengunjungi istana, dan disana banyak wanita cantik tapi tak ada yang sepintar kau! He Xia, kau lebih beruntung daripada aku.” He Su memutar kepalanya dan tertawa, “Baiklah, yang ketiga agak biasa, perhiasan dan emas. Aku tahu kau tak begitu menyukai yang itu jadi aku akan meminta seseorang mengirimkannya ke Kediaman Jin Anwang.”
“Terima kasih banyak, Yang Mulia!”
“Kita besar bersama, sudah seperti adik-kakak, untuk apa bersopan-santun?” He Su melihat ke arah He Xia yang bersemangat kemudian melihat kearah Pingting yang sudah akan pergi. “Pingting.”
Pingting merasa sangat lelah dan berencana diam-diam kembali ke kereta untuk beristirahat. Sayangnya ia mendengar He Su memanggilnya dan ia harus menjawab, “Bagaimana aku bisa membantumu, Yang Mulia?”
Ia sudah pasti tidak cantik, tapi suaranya mempesona seperti setiap kata memantul di lidahnya.
He Su menatap kepalanya yang tertunduk, memikirkan hal lain.
“Yang Mulia?”
“Eh ?” He Su mengembalikan kesadarannya dan ia diam sejenak sebelum berkata, “Kau boleh pergi.”
Pingting segera pergi, menyerahkan kotaknya kepada yang lain, dan berkata “Hati-hati dengan itu, Tuan sangat menyukai benda hitam berat ini.” Kemampuannya belajar lebih baik dibanding kebanyakan orang, meskipun ia tidak tahu itu adalah Pedang Pusaka Heimo, ia tidak suka senjata itu sendiri. Ia selalu menyebut 'kesukaan' He Xia sebagai 'benda'.
Tuan telah kembali dengan kemenangan dan Raja memberinya banyak hadiah. Setiap orang di Kediaman akan segera mendapat bagian.
Para prajurit memenuhi tepat dua belas meja dan Tuan Besar Jin Anwang, He Mo duduk di meja utama, menyeringai ketika mendengar pujian dari kerumunan.
He Xia juga minum banyak arak, mungkin tiga botol besar kalau dijumlah. Pingting termasuk salah seorang penting di Kediamannnya, tapi ia tidak hadir sore itu.
Ruangannya cukup jauh dari kebisingan pesta, sangat tenang. Pingting duduk di dalam, ia menyalakan penerangan, membentuk bayangan hitam dari luar.
“Pingting?” He Xia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
Pingting meletakan jarumnya, mengangkat matanya dan tertawa. “Mengapa Tuan disini sementara disana masih banyak tamu?”
“Untuk melihatmu.” He Xia mengambil sulaman bebek mandarin yang belum selesai, “Mereka bilang tak ada orang yang sempurna, jujur, aku tidak setuju. Kau bisa melakukan semuanya, tidak hanya pandai menyanyi dan berpuisi, tapi kau juga bisa menyusun strategi berperang. Belum lagi hasil sulamanmu yang begitu rumit seperti buatan surga.”
Pingting terkekeh, “Tak ada yang membandingkan hasil sulaman dengan surga, kau tahu? Berhenti bermain dengan kata-kata.” Ia mengambil sulamannya melakukan beberapa tusukan dan tiba-tiba mengeluh.
“Pingting, apa ayah sudah mengakatan padamu?”
“Yeah.”
“Aku baru mendengarnya dari Dongzhuo.” He Xia melihat senyum beku Pingting, jadi ia memilih sebuah kursi dan memilih kata-katanya. “Geez ayahku, ia bahkan tidak bertanya dulu padaku.”
“Tuan Besar bilang walaupun aku bukan seorang selir, statusku sudah seperti itu. Ia bilang semua orang disini seharusnya memanggilku dengan sebutan ‘Selir’ terlepas dari ‘Calon resmi istri Tuan’.”
He Xia melihat bagaimana Pingting perlahan membuka hatinya dan hatinya mulai sakit. “Pingting kau setuju untuk menikah denganku?”
“Apa aku tidak pantas untukmu?” Pingting mengangkat kepalanya dan menatap dalam-dalam mata He Xia.
“Bukan begitu!” He Xia menggelengkan kepalanya, tiba-tiba berdiri dan berjalan bolak balik di meja. “Aku mengerti. Selama beberapa tahun, kita belajar dan bermain bersama, bahkan belajar bagaimana menghadapi kuda bersama, tapi aku hanya seorang kakak untukmu dan kau seperti adik perempuan bagiku. Kalau kau menikahiku begitu saja, tidakkah kau merasa kecewa?” Melihat raut muka Pingting, ia mencoba lagi, “Kau tidak seperti gadis kebanyakan. Kau memiliki pendirianmu sendiri. Aku hanya tidak ingin kau kecewa.”
Setelah sunyi beberapa saat, Pingting berbisik pelan, “Kalau Tuan Besar mengharapkan aku seperti itu, apa yang bisa kulakukan? Tuan tahu kalau Tuan Besar membawa Pingting dari jalanan dan membesarkanku seperti anaknya sendiri. Pingting sangat berterimakasih pada Tuan Besar, bahkan kalau Tuan Besar menginginkan nyawaku, aku akan memberikannya.”
“Kau lupa, siapa yang berkata ingin menemukan calon suami terbaik atau lebih baik tidak menikah dan mati dalam kesendirian?” Dia biasanya sangat pintar, kenapa Pingting begitu bodoh hari ini? He Xia sudah kesal dengan rintihan dan keluhan Pingting dan sepertinya meja retak karena ketukan jari-jarinya.
Dua orang itu masih berdiskusi ketika Dongzuo berlari datang. “Tuan, tolong segera pergi ke halaman depan. Raja sudah menurunkan perintah. Dan, sepertinya Pingting juga harus ikut.”
He Xia bertanya, “Apa yang harus dilakukan Pingting pada perintah itu?”
“Jangan bertanya, kau akan tahu setelah tiba disana.”
Tiga orang itu terburu-buru menuju halaman depan.
Halaman depan tidak lagi berisik dengan suasana pesta. Saat ini sudah tengah malam, dan sekitar tujuh puluh atau delapan puluh persen tamu sudah pulang. Sisanya sangat mabuk dan beberapa dari mereka bahkan mendengkur, mengeluarkan air liur di meja.
Seorang pria mengenakan pakaian pelayan kerajaan berdiri disana. Ketika ia melihat mereka ia berkata, “Raja memberikan perintah; Kepada Tuan Muda Jin Anwang dan Pingting harap menemui Beliau di Istana Kerajaan.” Setelah membacakan perintah, wajahnya tersenyum, “Tolong Tuan Muda Jin Anwang membawa serta Pedang Pusaka Heimo. Raja berkata seperti itu.”
He Xia bertanya dengan keras, “Mengapa Yang Mulia ingin bertemu denganku dimalam selarut ini ?”
“Kurasa aku tahu.” Pelayan itu tersenyum lagi dan berkata, “Ratu berkata pada Raja bahwa Kediaman Jin Anwang akan sangat berisik sore ini. Aku tidak tahu persis perkataan Ratu, tapi Raja bercerita bagaimana ia biasa melihat Tuan Muda berlatih pedang, seperti seekor singa, ketika ia belajar. Nona Pingting, yang kepintarannya sangat langka, juga disana, melayani disatu sisi.
“Ah, Raja senang memuji kami hari ini.”
“Benar, benar, benar, jadi kau tahu, pujian Raja membuat Ratu penasarn ingin melihat tarian pedang Tuan Muda, ditemani permainan kecapi Nona Pingting. Seperti Tuan tahu Raja sangat memanjakan Ratu, maka ia mengirim perintah, untuk membawa kalian berdia ke istana,” Pelayan itu berkata lagi, “Raja juga berkata walaupun ini sudah sangat malam, bulan sangat besar dan bulat, cocok untuk acara menatap rembulan hingga digantikan matahari terbit.”
He Xia mengagguk, “Baiklah.” ia berbalik ke arah Pingting, “Karena Ratu ingin mendengarmu bermain kecapi, bawalah kecapi terbaik kita.”
Pingting masuk kedalam dan tak lama kemudian kembali dengan kecapinya. Ia juga mengenakan kain sutra tipis di wajahnya.
He Xia membawa lima orang, termasuk Pingting dan Donzhuo. Tak ada yang naik ke kereta, mereka naik kuda masing-masing. Semua toko sudah tutup sejak sore. Tak ada lampu yang menyala, setiap orang sudah tertidur. Satu satunya suara yang terdengar hanya irama langkah kaki kuda, berderap diatas jalan batu.
Melihat pelayan istana dan rekan-rekannya memimpin jalan dengan pelan, tak jauh dari mereka, Pingting mendekati Tuannya dan berbisik, “Tuan, Raja akan melakukan aksinya.”
“Yeach, perasaanku tak enak juga.” He Xia melihat ke arah punggung Pelayan Istana, “Kecuali si pembawa pesan, orang-orang disampingnya adalah para pembunuh terbaik.”
“Raja ingin Tuan membawa Pedang Pusaka Heimo tapi ini tidak tertulis jelas di surat perintah. Ia malah menyuruh Pelayan mengatakannya... ini pasti perangkap.” Langkah kuda pelan dan ragu-ragu, seperti mencium bahaya. Pingting menepuk punggung kudanya untuk menenangkan, sambil berkata “Aku khawatir Raja berencana membuat Tuan membawa masuk Pedang Pusaka Heimo ke istana lalu membuat kekacauan, sehingga Yang Mulia bisa menuduh Tuan atas penghianatan ketika penjaga istana datang untuk melindungi.”
He Xia melihat sekeliling, “Prajurit istana berbaris disamping jalan. Kalau kita berniat kabur, mereka pasti akan menyerang.”
Dongzhuo disamping mereka, mendengarkan setiap kata. Ia mencengkram ujung sadelnya, memelankan suaranya dan berguman, “Yup, ada hawa membunuh disini.” Ia telah bersama He Xia beberpa lama, jadi ia bisa merasakan bila bahaya mendekat.
Pelayan yang lain ikut siaga, berjaga-jaga dengan sekitar mereka.
Mereka masih setengah perjalanan menuju istana, tapi mereka tahu kalau He Su berniat menjebak mereka, maka memasuki istana adalah kematian.
“Apa yang harus kita lakukan?” He Xia bertanya.
Pingting mengangguk ringan, “Sebenarnya, aku memberitahu Tuan Besar tentang kecurigaanku ketika aku mengambil kecapi. Walaupun begitu banyak orang di Kediaman Jin Anwang, mereka seharusnya sempat melarikan diri dari ibukota di kegelapan malam. Dan kita...” Pingting membuka telapak tangannya, menunjukan lima buah kelereng hitam.
Apapun tujuannya, hanya He Xia sendiri yang mengerti.
“Okay!” tetap bebisik, He Xia dan Pingting saling mengangguk.
“Tuan yang di depan... tolong berhenti sebentar.” Suara nada tinggi Pingting terdengar.
Pelayan istana dan rombongannnya berbalik, dan Pingting sudah memperhitungkan waktu yang tepat untuk melemparkan benda ditangannya. Kilatan cahaya api berpencar berbarengan dengan suara letusan, memisahkan rombongan He Xia dengan si Pelayan istana.
Clang! Pedang Heimo keluar dari sarungnya.
“Raja ingin melukai Tuan kita! Lawan mereka !” Dongzhuo berteriak.
Seperti yang diduga, lebih banyak prajurit lagi bermunculan dari dua sisi jalan.
Langit dipenuhi teriakan pertempuran.
“BUNUH!”
“LAKUKAN! JANGAN SAMPAI ADA YANG LOLOS !”
“Raja telah memberikan perintahnya : TANGKAP HE XIA DAN GADIS ITU HIDUP-HIDUP !!”
Pingting mengangkat kepalanya dan melihat prajurit dipihak lawan tidak begitu banyak. Ia mendesah lega.
Memang seharusnya seperti ini. Kediaman Jin Anwang telah menggatur militer selama berpuluh puluh tahun, menggunakan prajurit untuk membunuh mereka tidak akan berhasil. Tapi tidakkah He Su khawatir kami akan melawan dan menyerang balik istananya ?
“BUNUH!”
Orang yang dibawa He Xia adalah petarung handal yang bertahan hidup dari ratusan peperangan, kecuali Pingting seorang. Tidak butuh waktu lama untuk memecah kepungan musuh.
“Kediaman Jin Anwang telah memberontak.”
“Raja berencana menentang Pejabat setianya ! Raja berencana menentang Pejabat setianya !”
“Kediaman Jin Anwang memberontak.”
“Kediaman Jin Anwang harus dimusnahkan!”
Teriakan pembunuhan bergaung di langit, darah bercipratan di wajah para petarung kedua sisi dan mereka meneriakan perang.
Pingting tidak bisa bertarung dan biasanya bersembunyi di belakang He Xia. Yang bisa ia lakukan hanya melemparkan dua atau tiga bom kecil. Tapi ia tahu, semakin besar kekacauan, akan membuat kesempatan bagi pada penghuni Jin Anwang untuk melarikan diri.
Ia sudah kehabisan bom ketika kelompok He Xia tiba dengan selamat diluar gerbang kota. Semua orang berlumuran darah dan Dongzhuo juga terkena sabetan dua kali, tapi beruntung lukanya tidak terlalu parah.
Meninggalkan pintu gerbang kota di belakang, rasanya seperti pertempuran telah selesai. Hanya hembusan berat napas kuda yang terdengar di malam yang dingin.
Pingting melihat kekejauhan dan ia menunjuk api yang melambung tinggi. “Lihat Tuan, orang istana telah bergerak. Aku harap Tuan Besar selamat. Aku rasa Raja berpikir mampu menangkap kita, jadi ia tidak akan mengirim banyak orang ke kediaman kita.”
He Xia mengikuti arah jarinya, menyadari bahwa itu adalah arah kerumahnya. Ia tak bisa berhenti mengkhawatirkan ayahnya, dan ia membalikkan kudanya. “Pingting, tunggu di luarkota. Kami akan memeriksa ayah dan kembali secepatnya.”
Pingting tahu ia tak bisa bertarung dan tak akan banyak berguna juga. Ia melompat turun dari kuda dan berkata, “Aku akan menunggu kalian semua di tempat itu, di gunung, yang sering kita datangi.”
He Xia mengangguk, “Okay.” Ia memimpin Dongzhuo dan yang lainnya kembali kedalam kota.
Pingting melihat mereka, yang sudah seperti keluarga, menghilang. He Su mungkin seorang Raja tapi juga seorang iblis, tapi ia hanya berani menggunakan beberapa orang yang setia. Pasukan tidak akan memihak paling tidak sampai besok pagi, sampai kekacauan selesai dan dijelaskan. Dengan pasukan yang tidak berpihak para penghuni Jin Anwang seharusnya bisa melarikan diri tanpa kesulitan.
Apa yang akan He Su lakukan besok pagi tidaklah penting selama orang-orang Jin Anwang sudah selamat.
Ia berpikir sampai tiga kali untuk mencari kekeliruannya, sebelum dengan tenang berjalan menuju puncak gunung ke tempat yang mereka sepakati.
Jarak ke gunung dua mil. Akan mudah ditempuh jika ia menggunakan kuda, akan sedikit sulit saat ini karena ia berjalan kaki dan seorang diri.
Pingting sudah berjalan agak lama dan lumayan jauh, ia bisa melihat langit sudah berganti warna menjadi abu-abu putih di belakang gunung. Ia mengambil beberapa langkah lagi ketika tiba-tiba terdengar suara berdesir....
--0--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar