Minggu, 12 April 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.6

-- Volume 1 chapter 6 --

Pingting merasa kacau menatap hidangan makan malamnya. Tidak diduga, ternyata Chu Beijie tidak datang berkunjung hari ini, tapi ia bagaimanapun telah mengharapkan kedatangannya dan telah menyiapkan banyak pertanyaan untuknya.

Keheningannya terasa janggal sampai Nona Hua berpikir kalau Pingting sedang bertingkah aneh. Ia tidak meminta Pingting untuk mengerjakan apa-apa lagi setelah makan malam, dan menyuruhnya untuk beristirahat.

Pingting sudah tidak tidur sepanjang malam kemarin, dan hari ini walaupun ia sangat lelah, ia tidak bisa tidur. Ia membuka matanya lebar dan memandang ke langit-langit, jantungnya berdebar tak beraturan. Ia turun dari tempat tidurnya dan mengamati keluar jendela.

Dan seperti yang dikira, ada seseorang di depan kamar Nona Hua.

Ia terlihat begitu hikmad, misterius dan tersenyum angkuh, dan Pingtig dengan tenang mengamatinya. Awalnya ia menyakinkan dirinya sendiri kalau pria itu hanya sedang bertindak aneh, tapi setelah beberapa lama, ia memutuskan bahwa ia sungguh kejam jika membiarkannya berdiri disana sendirian

Chu Beijie berniat untuk berdiri sepanjang malam lagi. Ia telah mengerjakan begitu banyak pekerjaan di Kediamannya, dan besok akan lebih banyak lagi. Tapi ia tetap datang bagaimanapun, dan ia hanya berdiri disana, memikirkannya sedang bermain kecapi dan percakapan mereka, ia tersenyum.

Ia mendengar langkah kaki dibelakangnya dan berbalik, “kau lagi ?”

Pingting menundukkan kepalanya. Di tanganya ia membawa sebuah kursi dengan bantal kulit. Ia menunjuk pada Chu Beijie kemudian menunjuk pada kursi.

“Aku tidak lelah, aku tak perlu kursi.”

Mata Pingting mungkin yang paling cermelang di dunia, tiba-tiba terlihat sedih, hal ini menusuk hati Chu Beijie. Matanya membuatnya merasa bersalah karena telah menolak kebaikannya.

Pingting mnatapnya, kegelisahan, perhatian dan kebingungan tersembunyi di matanya. Matanya menantangnya hingga ia menyerah dan berkata. “Baiklah, baiklah. Terima kasih.”

Mata mungilnya tiba-tiba bersinar, seperti cahaya dari mutiara langka. Dan bila hati Chu Beijie terbuat dari es akan meleleh seketika, membuatnya merasa nyaman dan duduk menjadi pilihan yang menyenangkan.

Pingting melihat Chu Beijie duduk dan berbalik, untuk pergi ke ruang dalam.

Chu Beijie memperhatikannya ketika ia berjalan masuk, ia bingung dengan tindakannya sendiri. Tapi kemudian ia ingat janjinya untuk melindungi phoenix dan berbalik ke arah kamar Nona Hua.

Setelah beberapa saat ia mendengar langkah kaki lagi mendekatinya lagi. Chu Beijie menyipitkan matanya, tapi tidak berbalik. Seperti yang di duga, Pingting datang kembali. Ia meletakan sebuah nampan besar di tanah. Di atas nampan ada sebuah cangkir dan teko. Bahkan, juga ada beberapa kue kecil.

“Kau sungguh memikirkan segalanya.”

Pingting telah berjalan jauh untuk mendapatkan kue dari dapur. Ketika ia dipuji ia tak bisa menahan senyumnya.

Senyumnya perlahan mengembang, bukan hanya bibirnya yang tersenyum, tapi setiap senti wajahnya tersenyum indah. Chu Beijie seketika terpesona, ia benar-benar cantik. Tapi ketika ia melihat lebih dekat, ia menyadari bahwa gadis itu adalah si pelayan bisu, dengan dua mata besar meskipun sederhana.

Chu Beijie telah melihat lukisan Nona Hua, ia sangat cantik.

Pingting dikelilingi sinar bulan, dan Chu Beijie hanya menatapnya seperti orang yang sedang mabuk. Orang ini keberadaannya sangat kuat, bahkan di Kediaman Hua ini. Walaupun ia duduk di kursi saat ini, ia tetap lebih besar di banding orang lainnya. Apa ia manusia sungguhan? Ketika Pingting melirik sekilas padanya, sebuah pikiran jahil melintas di kepalanya, mengingatkannya pada Tuannya.

Yach, jika aku bertanya tentang Tuan sekarang, apa ia akan menjawab? Bulan bersinar lembut dan raut wajah Chu Beijie menjadi lebih ramah. Mungkin tidak masalah jika melontarkan satu atau dua pertanyaan.

Wajah penuh tekad Chu Beijie membawa Pingting kembali pada kenyataan. Tak mungkin, bagaimana aku melakukan itu? Dia bukan pria biasa yang terobsesi pada cinta.

Pikirannya kacau tapi ia segera mengingat jati dirinya. Si Pelayan Pingting, Si pembohong Pingting. Ia merasa tidak berdaya dan putusasa. Ia segera berdiri, tidak peduli dengan tatapan tajam Chu Beijie dan kembali ke kamarnya.

Bersembunyi dibalik jendelanya, Pingting memperhatikan Chu Beijie sepanjang malam lagi.

Pagi harinya Chu Beijie telah pergi.

Pingting sekarang sudah tidak tidur selama dua malam, dan batuknya mulai kambuh lagi. Ia bahkan demam dan sangat lemah.

Nona Hua tahu ia sedang sakit, maka ia menyuruh seseorang memanggilkan tabib. Ia berkata dengan sabar, “Minum obatmu. Aku akan mencari orang lain untuk menggurusku, jadi jangan berani meninggalkan tempat tidurmu hari ini !”

Pingting merasa agak sakit kelapa tapi ia tahu kesehatannya lebih penting. Ia mendengarkan perintah Nona Hua, meminum obatnya dan berisitirahat.

Ketika ia terbangun, hari sudah gelap.

Nona Hua baru selesai makan malam dan datang melihat keadaan Pingting. “Kau benar-benar tidur sepanjang hari, aku bisa katakan kau terlihat lebih baik. Dong Dingnanmu hari ini datang, tapi aku tak berani berkata sepatah katapun, jadi aku berpura-pura tenggorokkanku sakit dan memintanya pergi.”

Pingting menjawab “huh” dan terburu-buru duduk.

“Jangan khawatir, jika ia sungguh menyukaimu ia akan datang lagi.”

Pingting sangat kecewa, karena sudah melewatkan sebuah kesempatan lagi untuk mencari tahu tentang Tuannya. Waktu berlalu begitu cepat dan ia belum tahu kapan ia bisa berkumpul kembali dengan para penghuni Jin Anwang. Yang terpenting, semakin lama ia tinggal di Kediaman Hua, hatinya akan semakin gelisah, tak terkendali.

Ia merasa seperti berada di pasir hisap. Tidak baik jika bergerak dan tidak baik juga jika diam, ia terjebak.

Nona Hua tidak tahu apa yang ia pikirkan dan ia mengira Pingting masih agak pusing dengan sakit kepalanya. Ia meminta pelayan lain untuk membawakan Pingting makanan dan obat kemudian perlahan pergi.

Malamnya, Chu Beijie datang lagi. Ia sedang berdiri di depan kamar Nona Hua, tapi ia mendengarkan dengan seksama sekitarnya. Si Pelayan bisu sepertinya selalu berada di sekelilingnya tapi ketika ia berusaha menangkapnya, ia akan menghilang. Chu Beiji kesal dengan dirinya sendiri, bukankah ia disini untuk melindungi Phoenixnya? Ia merasa kecewa karena tidak setia dengan orang yang ia sukai, tapi malangnya ia tak bisa melupakan mata pelayan itu.

Bola mata bersinar itu seperti menyampaikan ribuan kata dalam diam.

Sekali lagi ia mendengar langkah kaki dan irama kebahagiaan mengalun di pikirannya. Ia segera berbalik. Tiba-tiba wajahnya menggelap “Apa yang terjadi ?”

Pingting berjalan goyah, seperti akan pingsan setiap saat. Chu Beijie menjulurkan tangannya, lalu menangkap tangan Pingting untuk menyeimbangkannya.

Tangan Pingting terasa hangat.

“Kau sakit ?” tanya Chu Beijie.

Pingting mengelengkan kepalanya, berusaha menyembunyikan airmatanya. Ia menghabiskan waktu begitu lama  sendirian, dan walaupun Nona Hua, Nyonya Hua dan Nonya Chen begitu peduli padanya, ia tak pernah merasa begitu bahagia mendengar pertanyaan yang baru saja dikatakan orang ini.

Dua kata itu sudah cukup untuk membuatnya tenang.

Ia tersenyum ringan dan Chu Beijie melihat lesung pipitnya yang sedih. Moment itu ditangkap hati Chu Beijie. Dan ia benar-benar melupakan phoenix terkasihnya. Ia segera membopongnya, melindungi.

“Kamarmu disana?” Ia bertanya.

Pingting menganguk. Ia ingin menyanggah tapi ia segera mengigit bibirnya.

Chu Beijie membawanya dengan cepat.

“Istirahatlah. Ini sangat larut dan kau sakit. Apa Nonamu tidak merawatmu.” Ia masuk ke kamar Pingting dan dengan lembut membaringkannya di tempat tidur.

Ia selalu melakukan hal yang ia inginkan lakukan, dan tak peduli dengan batasan pri dan wanita. Ia dengan kikuk menyelimuti Pingting, sebelum berdiri tegak.

“Tidur.” ia memperhatikan mata yang ia sukainya perlahan menutup. Suaranya tidak seperti biasanya ketika menyuruh Pingting untuk tidur lebih seperti seorang komandan kepada prajuritnya.

Pingting, entah bagaimana, merasa nyaman dengan hal itu. Ia menutup matanya menurut tapi setelah beberapa saat, ia membuka matanya lagi.

Chu Beijie baru hendak pergi ketika ia menyadari kalau 'prajurit' ini tidak mematuhi perintahnya. “Pejamkan matamu dan tidurlah.”

Pingting tiba-tiba merasa geli, ini mengingatkannya ketika ia menggoda Tuannya. Ia membuka matanya lagi dan menatap Chu Beijie.

Chu Beijie tiba-tiba merasa jantungnya berdegup kencang, dan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, mengalir membanjirinya. Perasaan ini bahkan membuatnya lebih bahagia daripada kesenangan dan kesibukan yang ia rasakan di medan perang.

Ia tidak terlalu suka dengan yang ini, karena sebagai Zhen Beiwang ia telah melalui setiap situasi dan selalu mampu mendapatkan yang diinginkannya. Tapi ini seperti sebelah jantungnya pergi, membuatnya bernapas dengan susah.

Si kecil bisu diatas tempat tidur, tidak diragukan adalah seorang yang cantik, jika mengabaikan wajah, hidung dan mulutnya. Ia memiliki keanggunan yang tak ada bandingnya yang tak dimiliki orang lain, itulah yang membuatnya terlihat cantik.

“Pejamkan matamu.” Chu Beijie membersihkan tenggorokannya, “Aku pergi.”

Pingting merasa kecewa, tapi kali ini ia benar-benar menutup matanya.

Chu Beijie adalah seorang pria sejati, ia benar-benar pergi.

Semalam lagi. Lebih sulit dari malam kemarin, lebih sulit dari malam sebelumnya.

Pingting terlelap ketika hampir pagi dan ia tertidur sampai siang hari. Nona Hua tergesa-gesa datang dan berbisik di telinganya, “Kau tahu siapa Dong Dingnan sesungguhnya?”

Jantung Pingting berdetak kencang.

“Kuberitahu kau, ia adalah Panglima Dong Lin, Zhen Beiwang! Aku melihat lukisannya kemarin, tapi oh Tuhan, ia si hebat Zen Beiwang !”

Pingting tiba-tiba pucat, tubuhnya masih lemah dan ia duduk dengan susah payah.

Panglima Zen Beiwang? Dong Dingnan, itu pria yang berdiri berjaga di malam hari, pria yang membopongnya adalah Zen Beiwang.... Panglima dari Dong Lin, Petarung terbaik Dong Lin, musuh Gui li, dan lawan terberat Tuan.

Nona Hua berpikir ini adalah keajaiban dan terus memuji Pingting. Kemudian ia menepuk pundaknya, berkata “Hong, kita sudah seperti saudara sendiri, jadi kau akan membantuku, ya kan ?”

“Eh ?”

“Mudah saja. Aku sudah mengirim Nyonya Hua untuk menyerahkan surat kepada Tuan Besar Zen Beiwang. Isinya mengatakan kalau Nona Hua saat ini sudah bertunangan bukan seorang wanita yang bebas. Dan jika ia berbaik hati,  bersedia  menggunakan kekuasaannya untuk membatalkan pernikahanku, maka akan lebih mudah untuk dikemudian hari.” Nona Hua terlihat senang dengan tindakannya, “Kali ini ayah takkan menentangnya, dan ketika pernikahanku batal, aku akan mengatakan pada Tuan Besar Zen Beiwang yang sebenarnya. Aku bahkan akan menghadiahkanmu gaun pernikahan yang indah. Oh Yach, kau bisa memakai gaun pernikahannku.”

Wajah Pingting menjadi suram. “Apa … apa yang kau pikirkan? Tuan Besar Zen Beiwang sangat kuat, sepuluh kali lebih kuat dari keluargamu. Jika ia tahu kita sudah membohonginya, orang-orang kediaman Hua akan dalam masalah besar.” Ia masih sangat lemah jadi ia tak bisa menekankan betapa seriusnya masalah ini.

Nona Hua tidak menanggapinya, “Ia menyukaimu. Aku yakin ia tak keberatan kau meminjam identitasku.”

“Bukan begitu!” Pingting menarik tangan Nona Hua, “Beritahu Nyonya Hua jangan mengirim suratnya!”

Nona Hua merasa agak khawatir melihat Pingting begitu marah. Kepalanya tertunduk malu, “Tapi Nyonya Hua baru saja kembali, ia bahkan memberitahuku balasan dari Tuan Besar Zen Beiwang.”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia bilang, besok, Nona Hua akan kembali bebas.”

“Besok ?”

Nona Hua melihat expresi aneh di wajah Pingting dan ia mencebik. “Aku harus berlatih kecapi, aku akan bicara denganmu besok.” dan ia berlalu.

Pingting menatap kosong beberapa saat, akhirnya ia mampu menyerap kejadian ini di kepalanya.

“Tak mungkin … Tuan Besar Zhen Beiwang, ia sungguh adalah Tuan Besar Zhen Beiwang....” Pingting berpikir dengan keras untuk beberapa saat, lalu matanya bersinar, menunjukan ia telah membuat keputusan akhir. “Aku belum menemukan Tuan, aku tak punya alasan untuk tetap disini. Baiklah, Kediaman Hua … semoga beruntung.”

Entah bagaimana caranya, Pingting mampu bangun dan membereskan barang-barangnya. Ia merasa dirinya begitu kejam ketika memikirkan betapa baiknya orang-orang Kediaman Hua padanya. Tak peduli apa yang dipikirkannya, ia tetap harus pergi. Ia sedang berada di Dong Lin, negara musuh, dan jika Tuan Besar Zhen Beiwang menemukan identitasnya, Keluarga Hua akan masalah lebih besar.

Ia pergi melewati pintu belakang yang jarang di gunakan dan tak seorangpun yang menyadari kepergiannya. Seperti itulah, Pinting meninggalkan Kediaman Hua.

Malam itu ia lewatkan disebuah rumah makan. Ia telah terbiasa melihat Chu Beijie berdiri berjaga malam, karena itu ia tidak bisa tidur lagi, membiarkan kepalanya berpikir berulang-ulang sepanjang malam.

Yang paling menghawatirkannya adalah kenyataan bahwa batuknya semakin memburuk. Sekali batuk akan terus menerus, tak ada tanda tanda akan membaik.

Hari berikutnya, kota sangat tenang. Ia terlalu lemah untuk pergi keluar, jadi ia bertanya pada pekerja disana tentang keadaan diluar, tapi tak ada kejadian apa pun menyangkut orang terkemuka.

Ia melewatkan satu malam lagi. Pagi di hari ketiga seorang pekerja membawakannya air panas. “Sesuatu telah terjadi kemarin malam. Keluarga terpandang Hua karena suatu hal, telah membuat Tuan Besar Zhen Beiwang begitu marah sehingga ia memerintahakan untuk memenggal seluruh penghuninya.”

Pingting tersigap, tapi ia mencoba agar tidak terlihat terlalu antusias. “Apa ? Seluruh penghuni akan di hukum penggal?”

“Aku tak tahu apa yang membuat Tuan Besar Zhen Beiwang begitu murka.” Si pekerja mendesah, “Keluarga Hua pasti telah membuat hal yang luar biasa memalukan sampai pantas mendapat hukuman seperti ini. Tuan Besar Zhen Beiwang kami sebenarnya sanat baik.”

Pingting tidak mendengarkan dua kalimat terakhir. Ia menebak Chu Beijie pasti akan sangat marah tapi, ia tak pernah mengiria ia sampai menghukum mati begitu banyak orang.

Sifat keras dan wajah keras kepala Chu Beijie melintas di kepalanya dan ia memejamkan matanya. Ya, ia tahu kalau pria itu takkan pernah bisa dipercaya. Ia mungkin seorang pria baik, tapi begitu berhubungan dengan perang, ia seorang iblis haus darah yang pernah ada. Pinting pernah mendengar tentang kekejaman Tuan Besar Zhen Beiwang sifat haus darahnya hingga bisa membuat sebuah sungai dari para prajurit Gui Li.

“Apa ia akan membunuh semua penghuni Kediaman Hua?” Pingting menatap meja dan kursi di depannya, yang perlahan menggabur karena airmatanya, Ia menggelengkan kepala “tak mungkin...”

Bahkan jika Tuan Besar Zhen Beiwang menghancurkan sepuluh keluarga besar seperti Keluarga Hua, masyarakat Dong Lin tidak akan membantah.

Tuan Besar Hua, Nona Hua, Nyonya Hua, Nyonya Chen, You Er, Zi Hua … kepala mereka akan dipenggal, meninggalkan bencana berdarah. Dadanya terasa sesak, seperti ingin dimuntahkan.

“Tidak, aku tak bisa hanya duduk dan menyaksikan mereka mati.” ia mencengkram pinggir tempat tidurnya, perlahan memaksa bangun.

Kediaman Zhen Beiwang terasa lebih hening daripada biasanya, dua baris penjaga berdiri di luar. Pelayan yang melayani di dalam berjalan dengan berjingkat dan bila ada yang merasa tenggorokannya gatal, mereka harus diam-diam pergi ke tempat yang jauh dari Tuan Besar dan batuk disana.

Bahkan Chu Morang, yang biasanya sangat tenang, berkeringat sementara berdiri di dalam kantor.

Chu Beijie melihatnya dari atas kertas kerjanya, “Kau kepanasan ?”

“Tidak.”

“Hapus keringat di wajahmu kalau begitu.”

“Baik.”

Chu Beijie tidak benar-benar gelagapan seperti yang Pingting bayangkan.

Dua hari lalu, ia telah bertransaksi dengan keluarga tunangan Nona Hua untuk membatalkan perjanjian pernikahan. Ia telah menghabiskan sepanjang malam bersiap untuk Nona Hua, tapi ketika ia tiba di kediaman Hua, ia diberitahu kebenarannya. Ia tidak memicingkan matanya, tidak berteriak pada mereka dan tidak kehilangan ketenangannya. Ia hanya berdiri di depan kamar Pingting untuk beberapa saat, kemudian berlalu.

Dan di pihak Nona Hua, ia berpikir bahwa bahaya telah berlalu. Ia tersenyum tak bersalah pada Kepala Rumah Tangga dan berkata, “Aku benar kan? Tuan Besar Zhen Beiwang orang yang baik, Hong sudah khawatir tanpa alasan”

Kembali ke kediamannya, Chu Beijie telah duduk dan dengan perlahan menghirup tehnya. Chu Morang berdiri di sisinya, berusaha membuat napasnya tetap tenang, karena ia tahu Tuannya diambang batas. Ia sedang marah besar.

Seperti yang di harapkan, setelah tehnya habis ia memerintahkan dengan suara tenang, “Besok, sore hari, penggal seluruh penghuni Kediaman Hua di depan Kediaman kita.”

Akhirnya Chu Beijie bersuara, Chu Morang mendesah lega. “Baik.”

“Jangan lewatkan satu orangpun, bahkan seekor anjing” Chu Beijie menambahkan.

Sekarang, sore hampir tiba. Seluruh orang-orang Kediaman Hua terikat dan menangis. Pisau penggal sudah diasah, menunggu perintah Zhen Beiwang untuk memotong leher manis para korban.

“Tuan,” Chu Morang menatap langit, “Sudah waktunya.”

“Sudah waktunya?” Chu Beijie melihat sekeliling, terasa keheningan yang tidak biasa. Ia melihat langit, keajaiban yang ia harapakan tidak terjadi. Wajahnya berubah sedingin batu dan seringai haus darah muncul di bibirnya, “Bunuh mereka.”

Tapi sebelum kata-katanya dilaksanakan, terdengar suara lembut kecapi. Suara yang mewah terdengar dari dinding pembatas, melewati jendela dan sampai di telinga Chu Beijie.

“Ketika ada masalah, disana ada pahlawan.... ketika ada pahlawan maka ada wanita cantik. Bertahan dari kekacauan, bertahan dari kehancuran...” Suaranya redup tapi ini lagu yang sama. Ia tak bisa menahan senyumnya pada nada hangat dan lembut ...

“Jika ada pasukan, maka akan ada kemasyuran, akan ada kecurangan; prajurit tahu kecurangan, prajurit tahu kecurangan”

Suara kecapi sangat merdu terdengar. Kadang halus seperti benang laba-laba, kadang seperti burung yang terbang tinggi, begitu tinggi melewati awan, dan terkadang terbang rendah sejajar lapangan rumput.

Sudut mulut Chu Beijie terangkat.

Chu Morang juga terkagum-kagum mendengarnya tapi kemudian ia teringat harus menyampaikan pesan Tuannya. Tapi tiba-tiba ia mendengar Chu Beijie berkata, “Jangan bunuh mereka dulu. Bawa gadis yang memainkan kecapi kemari.”

“Baik.”

Segera Chu Beijie bertemu dengan mata hitam yang ia cintai sekaligus ia benci.

Kali ini matanya mengarah pada Chu Beijie, tanpa kemarahan, tanpa beban, tidak takut dan tidak gembira. Pingting hanya memperhatikannya dan dengan kerendahan hati membungkuk. “Aku disini, Tuan.”

Chu Beijie terkejut mendengar suara yang ia kenal yang terdengar dari balik tirai. Ia mengerutkan bibirnya.

Memicingkan matanya kepadanya, ia berkata, “Hari ini sepertinya pandanganku tentang kehidupan bertambah. Kau adalah Nona sekaligus si pelayan. Kau bisu tapi kau juga bisa bernyanyi. Kalau ada hal lain yang bisa kau lakukan, perlihatkan.”

Suara Tuan Besar Zhen Beiwang sangat mengancam, biasanya mampu membuat prajurit yang paling berani menjadi gemetar, tapi Pingting tidak marah juga tidak takut.

Pingting malah tersenyum, pura-pura terlihat sedih “Tuan, marah ?”

Chu Beijie mendengus dingin, ia malah bertanya balik, “Aku berpendapat kau sangat mengerti arti ‘prajurit tahu kecurangan’ kadang kecurangan membawa kemenangan tapi juga bisa menjadi kekalahan parah?”

“Pemenang selalu menentukan nasib yang kalah.” Wajah Pingting berubah serius dan ia menghela napas, “Jika begitu, silakan Tuan menghukumku.” Ia menundukkan kepalanya.

Chu Beijie diam-diam tersenyum pada kepalanya yang tertunduk. Ia mengambil lambang giok di mejanya dan mengenggamnya. “Aku mengerti maksudmu, Kau tak ingin Keluarga Hua dihancurkan. Kurasa itu suara hati yang bagus untuk seorang pelayan. Baiklah, aku memaafkan Keluarga Hua untuk saat ini, tapi....” Ia berpikir sejenak berkata dingin. “Kau harus tinggal disini.”

“Tinggal disini dan, melayani Tuan ?”

Chu Beijie berkata lagi, “Atau apa kau berencana menjadi istriku atau semacamnya ?”

Tanpa berkata lagi, Pingting perlahan membungkuk padanya.



--0--




novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia


Tidak ada komentar:

Posting Komentar