Minggu, 19 April 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.7

-- Volume 1 chapter 7 --

Hong, namanya adalah Hong. Nama ini tidak semenarik orangnya. Chu Beijie baru saja menambah seorang pelayan baru tapi ia lebih bersemangat daripada biasanya untuk beberapa alasan. Seperti ia sedang berada di saat ‘sekali seumur hidup’ yang begitu berharga, atau seperti suatu masakan yang luar biasa lezat dan tak bsia menunggu untuk mencobanya, tapi pada saat yang bersamaan, tak berani mengacaukannya juga.

Pelayan baru, Hong, telah berbohong pada Tuan Besar Zhen Beiwang, telah ditangkap olehnya dan sekarang di kurung di sebuah ruangan kecil di Kediaman Resmi Zhen Beiwang, jauh dari yang lainnya.

Chu Beijie ingin melihatnya, tapi untuk beberapa alasan ia menahan dirinya.

Ia bukan seorang dewa, tentu saja ia marah. Beberapa kali ia terbangun di tengah malam mengatupkan giginya dan mengepalkan tinjunya, memikirkan kalau ia seorang Panglima menjadi kacau karena seorang pelayan bahkan sampai berdiri di depan pintu wanita lain. Harga dirinya sebagai seorang pria seperti di cabik-cabik. Ia ingin menyiksa wanita berengsek itu, mengurungnya di penjara, meninggalkannya di hutan sebagai mangsa srigala lalu melemparkannya ke jurang.

“Pelayan!”

“Disini! Apa yang Tuan butuhkan?”

Chu Morang muncul di pintu tapi Chu Beijie sudah tenang kembali.

Tidak, ia tak bisa membiarkannya mati begitu mudah. Gadis itu harus tinggal di tempatnya seumur hidupnya, untuk menebus kesalahannya. Kadang ia begitu ingin mengganggunya dan membuatnya menangis.

Hari berikutnya, Pingting begitu sakit, ketika Chu Beijie berencana untuk mencelanya.

“Sakit?” Mata Chu Beijie berkedip ke Chu Morang dan ia tertawa dingin, “Apa ini salah satu tipu muslihatnya, ‘prajurit tahu kecurangan’ ?”

“Tabib sudah memeriksanya. Ia sakit parah.” Chu Morang menjawab, suaranya pelan.

Mata Chu Beijie bersinar, “Sakit apa ?”

“Gejala penyakit berkepanjangan, batuk terus menerus dan selalu mengantuk.”

Chu Beijie memikirkan malam ketika Pingting sedang sakit dan ia telah membopongnya ke kamarnya. Ia ingat mata hitamnya perlahan menutup dibawah sinar bulan, ia sungguh berpikir kalau wanita itu sungguh cantik.

“Tuan... apa kau akan menjengguknya?”

Sebuah tatapan tajam mengarah pada Chu Morang, memaksanya mundur selangkah. Ia menundukkan kepala dan segera berkata, “Aku ku ku pikir.... mungkin....”

Chu Beijie menengok kearah lain dan duduk kembali di kursinya, mengambil dokumen kerjanya dan membacanya. Lalu dengan suara ragu, ia bertanya “Tabib mana yang kau panggil?”

“Chen Guanzhi.”

“Ia hanya seorang pelayan, tak perlu memanggil tabib terkenal.”

Chu Morang tak pernah di tegur oleh Tuannya dan ia menjadi pucat, “Baik, akan segera diganti..”

“Tak perlu,” Chu Beijie mengambil kuas, lalu menulis dua kalimat persetujuan di dokumen. Ia terlihat sudah sedikit lebih tenang, “Ia sudah di panggil, jangan mengganggu yang lain.”

“Baik.”

“Apa ia meminum obatnya?”

“Kami sudah membeli resep yang diberikan Chen Guanzhi dan sekarang sedang di rebus.”

Chu Beijie mengerutkan dahinya, “Ia sudah melawanku tapi masih mendapat tabib terkenal bahkan di rebuskan obat. Waktu yang bagus untuk sakit. Ia sungguh tidak beruntung karena aku seorang pejuan yang berlumuran darah dari gurun, bukan seorang bocah dari padang bunga. Kalau ia sudah lebih baik, katakan padanya untuk berhenti melakukan permainannya di Kediamanku.

Chu Morang bisa merasakan kemarahan Tuannya dan ia berusaha tetap diam sebisa mungkin, lalu mengangguk, “Baik.”

Ia baru saja hendak pergi ketika Chu Beijie melihat keatas dari dokumennya lagi, ia baru saja memikirkan suatu hal. “Raja memberiku dua kotak obat Yumei Tianxiang. Karena kita tak punya wanita yang berkedudukan tinggi disini, kurasa mereka akan jadi sia-sia. Sekarang karena kita punya seorang wanita yang sakit parah, kita bisa memberikan padanya.”

Pingting sangat sakit. Walaupun ia terlihat sehat, tapi ia tak pernah sembuh dari batuk sejak kepergiannya yang terakhir, yang diikuti dengan kejadian-kejadian berikutnya. Kekuatannya dengan pasti meninggalkan tubuhnya. Sepanjang percakapan singkat terakhirnya dengan Chu Beijie, pakaiannya hampir basah kuyup karena keringat dan ia tak mampu berdiri lagi.

Chu Morang ditugaskan untuk menjaga Pingting. Tak mampu menebak niat Tuannya sebenarnya, ia tak berani untuk memperlakukannya terlalu baik atau terlalu keras. Setelah pertimbangan yang agak lama, akhirnya ia meletakkan Pingting di sebuah bangunan kecil terpisah di dalam Kediaman.

Setiap hari, Chu Moran melaporkan kesehatan Pingting. “Nona Hong agak lemah hari ini.”

“Nona Hong sudah memakan buburnya.”

“Nona Hong batuk sedikit kemarin malam, dan ia demam tinggi pagi ini.”

Chu Beijie tak berkata apa-apa dan bersikap seperti tidak mendengarkan.

Di hari kelima bagaimanapun, Chu Beijie merasa tidak tenang. Ketika ia mendengar Chu Morang berkata “Nona Hong batuk lagi hari ini...”  Ia tiba-tiba menjadi geram. “Batuk! Batuk! Batuk! Kenapa ia masih tetap batuk? Apa kau sudah memberikannya obat Yumei Tianxiang? Si tabib Chen Guanzhi juga harus disalahkan... ia bahkan tak bisa menyembuhkan seorang gadis.”

Chu Morang pergi dan hari berikutnya, ia berhati-hati agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin, “Batuknya sudah lebih baik. Seharusnya ia sudah bisa bangun dari tempat tidur segera.”

“Kapan?”

Chu Morang tak mengharapkan Tuannya akan menjawab, bahkan sampai mengeluarkan pertanyaan. “Mungkin .... sekitar sepuluh hari,” ia berkata tidak yakin, lagipula bagaimana ia bisa tahu?

Chu Beijie mendengus sekali, tidak menyetujui dan tidak menyangkal perkataannya.

Setelah sepuluh hari, sebelum Chu Moran sempat memberikan laporan hariannya, Chu Beijie berdiri dan berkata, “Ayo pergi ke tempatnya, kita lihat apa permainan ‘masalah putus asa’ ini sudah selesai.”  Ia dengan cepat melangkah keluar kantornya, dan menuju tempat Pingting.

Bangunan itu memiliki halaman kecil di luar, bunga merah yang tidak diketahu namanya ditanam disana.

Chu Beiji bergegas masuk melewati pintu, tapi kemudian tiba-tiba berhenti dan bergeser ke samping jendela. Ia mendengar sebuah percakapan, salah satu suaranya sudah ia kenal.

“Ada yang lainnya?”

“Satu lagi.” Sebuah suara ramah, lembut, penuh humor. “Jika memasak tulang untuk sup, potong tulang secara sejajar, mendatar, maka akan menghasilkan sebaris sumsum. Jangan di potong tapi di ikat dengan kacang, atau kau akan kehilangan rasa yang spesial. Campurkan daun rumput, tambahkan bubuk akar rumput lemon, tumis semuanya dan masukkan ke dalam sup. Tambahkan tulang dan tunggu hingga setengah matang kemudian masukan akar teratai segar dan wortel. Setelah itu, tutup panci dan masak dengan api kecil samapi matang sempurna.”

“Aneh, aku telah bekerja di dapur selama bertahun-tahun, tapi aku belum pernah mendengar resep seperti ini. Wow, aku sudah merasa lapar dari mendengarnya saja.”

Chu Beijie tetap mendengarkan untuk beberapa saat. Itu semua teknik tinggi memasak, walapun sebagian besar baru didengarnya.

Pingting sudah merasa lebih baik dan entah bagaimana ia mulai membahas tentang masakan dengan Nyonya Zhang, yang selalu membawakannya obat. Salah satu dari minatnya dan ia memberitahukan beberapa teknik membuat masakan. Keduanya tidak menyadari kehadiran Chu Beijie sampai ketika Nyonya Zhang menengok dan melihatnya, ia segera berkeringat dingin.

“Ah! Tuan Besar...” Nyonya Zhan lompat dan menbungkuk dengan goyah.

Chu Beijie bahkan tidak melihat kearah Nyonya Zhang, matanya terpaku pada pipi Pingting, yang masih terlihat pucat bukan pink kemerahan seperti seharusnya.

Nyonya Zhang dengan gugup menggundurkan diri, “Aku...harus kembali ke dapur.” Ia segera membawa mangkok obat dan berjalan keluar dengan hampir tersandung.

Ruangan menjadi lebih sunyi sekarang setelah satu orang pergi dan seperti ruangan menjadi lebih dingin. Wajah tampan Chu Beijie yang seperti pahatan istimewa tanpa ekspresi dan ia sedingin musim salju.

Mata Pingting bertatapan dengan matanya, tapi ia segera menunduk begitu merasakan jantungnya berdetak tak karuan.

“Tuan Besar disini?” Perlahan ia bangkit dari tempat tidurnya berusaha untuk membungkuk sedikit, “Semoga Tuan Besar diberi kesehatan.”

Chu Beijie memicingkan matanya, tangannya didagunya dan dengan nada angkuh, yang biasa digunakan para keluarga kerajaan. “Kudengar kau sakit?”

Pingting sebenarnya berpikir ketika ia sakit, Chu Beijie akan mengunjunginya karena ia mengingat kejadian sebelumnya ketika ia bersikap baik padanya. Kemudian ia akan bertanya tentang Tuannya dan melarikan diri. Tapi ia sangat sakit selama sepuluh hari, dan tidak ada kabar tentang Chu Beijie. Ia berkata pada dirinya sendiri itu normal, tapi dalam hatinya ia merasa sakit karena rindu.

Ia mengeluarkan pertanyaan mengejek lagi, “Kau tidak cantik dan tanpa tirai, kau tak bisa melakukan permainan merayumu, jadi kau menggantinya dengan permainan putus asa?”

Melihat Chu Beijie sudah membuatnya begitu bahagia, tapi mendengar kata-kata tajamnya membuatnya sangat marah. Ia berguman sendiri, “Aku SAKIT.”

Disaat itu, semua penderitaannya sejak kejadian ia terpisah dari Tuannya, sepertinya mengalir keluar. Airmata bening dan bercahaya menetes turun ke pipinya.

Chu Beijie tidak mendengar jawabannya dan hendak berteriak padanya ketika ia melihat pundaknya gemetar. Membungkukan badannya, ia melihat sebuah wajah dengan dua mata memerah dan airmata berlinang. Orang yang ia introgasi sedang menangis dalam diam.

“Untuk apa kau menangis?” Ia mengerutkan dahi, “Berhenti menangis.”

Ia tak mau menangis di depan Tuan Besar Zhen Beiwang atau membuatnya semakin marah, jadi ia mengigit bibirnya dengan kuat.

Chu Beijie melihatnya. Lalu ia menarik pundaknya, membuatnya berdiri dan berkata “Jangan gigit bibirmu. Kau boleh menangis.”

Mata basah Pingting berkedip kearah Chu Beijie, kepalanya tidak bergerak, menolak untuk gigitan di bibirnya.

Chu Beijie tidak suka ditentang. Ia menarik dagunya, memaksanya untuk melihat kearahny. “Kalau kau menangis, aku akan membunuh seluruh penghuni Kediaman Hua.”

Pingting melihat mata Chu Beijie, dan ia sangat serius. Apa arti Keluarga Hua bagi orang ini?

Ketika ia akhirnya melepas bibirnya, terlihat sebaris tipis gigi di antaranya. Ia dengan cepat menghapus airmatanya dan menunjukan wajah perlawanan ketika ia mengangkat matanya ke arah Chu Beijie, tidak berkedip sekalipun.

Yang tidak ia ketahui adalah ekspresi wajahnya membuat jantung Chu Beijie berdegup kencang.

“Aku sudah sering melihat wanita menangis. Dan itu tidak berguna.” Suaranya sangat dekat di kuping Pingting dan jantungnya seperti hendak melompat keluar dari dadanya.

“Duduk.” Ia beibisik, menariknya ke dalam dekapannya.

“Ah....”

“Jangan bergerak, atau kau akan jatuh.” Sebuah wangi yang asing mengusik hidungnya. Membuat tangannya menyentuh wajah Pingting dengan intim, ia bertanya, “Hey, bedak wangi apa yang kau pakai?”

Pingting merasa gugup dan malu, karena wangi Chu Beijie dan udara panas membuatnya pusing. Ia melawan dengan sia-sia, seperti mendorong sebuah gunung, separuh menginginkan dan separuh menolak. Setelah beberapa saat, ia menyerah dan mencoba untuk tenang tapi tetap tenang, berusaha membiarkan dirinya untuk menderita dalam pelukan Chu Beijie.

“Wanginya enak?” ia berkata dengan suara lembut, nada suaranya menggoda.

Ia sangat lihai berpura-pura seperti itu, dan Chu Beijie menjadi kaku.

Ia bahkan tersenyum lebih manis dan menatap mata Chu Beijie, “Kau pria berpendidikan jadi aku yakin kau pernah mendengar rumput Sifang, ya kan?”

Mata Chu Beijie menjadi setajam laser, seperti ingin membelah pipinya.

“Rumput Sifang sangat beracun, daunnya muncul dalam empat warna dan wanginya sangat manis.” Pingting menjawab, “Aku menentang Tuan Besar, artinya aku akan hidup seperti di neraka, jadi aku memutuskan untuk mengakhirinya dengan kematian.”

Ia hanya seorang pelayan, darimana ia bisa mendapatkan rumput beracun?  Chu Beijie sama sekali tidak percaya padanya, tapi ketika ia melihat matanya yang polos membuatnya sedikit merasa ragu. “Karena itu racun yang sangat langka, aku harus mencobanya.” Ia mendekap pundak Pingting, menguncinya dalam tangannya dengan erat dan perlahan mengangkat bibirnya kearahnya.

Pingting bisa merasakan napasnya di pipinya.

Pingting, walaupun sangat dimanjakan di Kediamannnya, tapi ia tidak pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. Maka ketika seorang pria mendekatinya, ia tiba-tiba merasa tak berdaya. Dalam kebingunggannya, ia berusaha berteriak, “Moran! Cepat beritahu Raja, Tuan Besar Zhen Beiwang telah menciumku!”

Chu Beijie bingung.

Mereka mendengar suara tubrukan di luar. Chu Morang benar-benar berada di depan dan mendengar semuanya. Ia telah menabrak sebuah pot bunga, terkejut, ketika Pingting berteriak memangggil namanya.

“Pergi beritahu Raja, kalau ia menang taruhan dari Ratu! Tuan Besar Zhen Beiwang telah menciumku!”

Semuanya terlalu mendadak dan Chu Beijie berpikir ia telah terjebak dalam suatu perangkap. Pingting mengambil kesempatan ini untuk membebaskan diri dari pelukan Chu Beijie dengan tenaga yang tersisa, ia berhasil merangkak ke tepi tempat tidurnya, memeluk lututnya dan melotot padanya.

Ketika Pingting menjauh darinya, Chu Beijie memicingkan matanya, menyadari ia telah terjebak olehnya. “Kau menipuku,” ia berkata dengan suara berbahaya.

“Banyak wanita cantik berkumpul cukup Tuan melambaikan tangan, mengapa Tuan menginginkan pelayan rendah sepertiku?”

“Aku bisa memilih wanita yang kuingingkan, jadi kenapa tidak boleh, memilih seorang pelayan dari Kediamanku sendiri?” Chu Beijie tersenyum hangat dan menunjuk sebelahnya, “Kesini.”

Pingting sangat takut, dan saat ini ia menolak menurut. Ditengah rasa pusing yang menyerangnya, ia dengan susah payah berusaha untuk tertawa, “Mudah untuk mendapatkan Hong, tapi Tuan harus menang taruhan denganku. Kalau Tuan menang Hong akan melakukan apapun keinginginan Tuan.” Ia telah sering bertaruh dengan Tuannya dan ia sudah tahu, apa yang akan ia di pertaruhkan hanya dalam sesaat.

“Taruhan?” Chu Beijie berpura-pura berpikir keras untuk sesaat, lalu tertawa keras, “Kita tidak perlu bertaruh untuk apapun, karena kau sudah milikku, ya kan?” Pingting terdiam, sangat kecewa. Mendadak, Chu Beijie menambahkan, “Tapi aku tidak menginginkanmu sekarang. Sembuhkan dulu dirimu.” Ia menatap dengan penuh arti dan segera pergi meninggalkan ruangan kecil itu.

Kali ini, Pingting yang menjadi bingung.

Setelah beberapa saat, ketika punggung Chu Beijie menghilang, ia bisa berpikir lagi. “Geez, sungguh orang yang sulit dihadapi. Ia menggunakan taktik mundurnya untuk keuntungan dikesempatan berikut, bermain keras untuk mendapatkan. Perasaan para gadis akan menari di telapak tangannya.” Walaupun berpikir seperti itu, wajahnya tiba-tiba merona merah seperti sudah menatap matahari beberapa saat di luar jendelanya.

--0--




novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar