Sabtu, 04 April 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.5

-- Volume 1 chapter 5 --

Diluar jendela, seekor kucing mengeong dan Pingting bangun. Ia membuka matanya yang enerjik dan bercahaya dan melihat ke jendela, tertawa kecil. “Kau kucing yang menyebalkan, besok aku akan mencari sesuatu untuk membalasmu.” Tiba-tiba ia kembali teringat kalau Kediaman Jin Anwang masih berada dalam bahaya, dan senyumnya menghilang.

“Apa yang harus kulakukan?” Diluar masih gelap dan mereka semua masih terlelap, ketika ia bangun dan meraba-raba meja. Ia meminum secangkir teh dingin dan terus khawatir.

Kalau saja aku tidak tertangkap penculik itu, aku masih berada di sisi Tuan dan tidak perlu mengkhawatirkannya. Dongzhuo kurang peka dan terlalu enerjik, kuharap ia takkan terlalu membuat Tuan kesal.

Kalau aku pergi besok, kemana aku akan pergi untuk menemukan Tuan?

Walaupun ia sangat cerdas, ia masih sangat muda dan merasa tak berdaya tanpa bantuan yang lainnya. Tiba-tiba, wajah Chu BeiJie terlintas di pikirannya, matanya seperti bisa melihat kedalam jiwa seseorang.

“Apakah aku harus mengundang Tuan Dong paslsu kesini dan meminta kabar terbaru?” Tapi dalam hatinya ia yakin kalau si 'Dong Dingnan' adalah Chu BeiJie sendiri, dan berada di dekatnya membuatnya merasa tidak nyaman.“Jika aku mengacaukan...”

Dia memikirkan ketika pertama kali menerima kecapi Fong Tong – ia merasakan perasaan gelisah yang sama. Tapi ketika ia memikirkan 'Dong Dingnan' dan caranya membicarakan pengalamannya, sikap percaya dirinya... wajahnya tiba-tiba tersipu.

Pingting memukul pipinya dan berkata, “Pingting, apa yang kau pikirikan? Menemukan Tuan adalah hal yang paling penting saat ini!”

Ketika ia memikirkan banyak kemungkinan dan bermimpi disiang hari, matahari sudah tinggi.

Setelah mandi, ia masuk ke dalam kamar Nona Hua untuk melayaninya. Ketka Nona Hua melihatnya, ia bertepuk tangan dan tertawa kecil. “Kau sudah pergi tidur sebelum kau sempat makan malam, jadi kenapa ada lingkaran hitam dimatamu ? Aku yakin kau memikirkannya sepanjang malam, benar kan ?”

Pingting berputar dan melihat ke cermin. Seperti yang di katakan, ada lingkaran unggu gelap di bawah matanya. Ia tersipu sedikit, “Apa maksud Nona? Bicara seperti itu lagi dan aku takkan mau melayani Nona lagi.”

Ia selalu bicara seperti itu kepada Tuannya di Kediaman Jin Anwang, dan tidak dianggap tidak sopan. Beruntung Nona Hua selalu disanjung sepanjang hidupnya dan ia menyukai watak Pingting. Mencoba menahan tawanya, ia berkata, “Jangan marah, aku sepenuhnya mengerti. Ketika pertama kali aku bertemu pria yang kuimpikan, aku juga tak bisa tidur untuk beberapa malam juga.”

Pingting sebernarnya tidak memikirkan hal itu, tapi perkataan Nona Hua membuat hatinya berdebar dan ia menundukkan kepala. “Biar aku membantumu mandi, airnya mulai dingin.”

“Aku tak butuh bantuanmu, gadis kikuk. Aku bisa mandi sendiri.” Ia mengambil handuk kering dari Pingting, “Kau sama sekali tidak cocok untuk melayani.”

“Aku, tidak cocok untuk melayani?” mata Pinting membelak. Ia selalu melayani orang lain, terutama Tuannya yang nakal, dan tak seorangpun berani mengatakan ia telah melakukan hal yang buruk. Ia mampu bermain kecapi dan catur dengan sangat baik. Ia berbakat dengan puisi dan seni. Ia juga dikenal sebagai orang yang jenaka dan menghibur dan enak diajak berbincang. Dan ia juga dikenal sangat lembut. Bagaimana mungkin ia tidak cocok melayani? Pingting membantah, “Tapi ketika aku membantumu mandi kemarin, aku hanya mematahkan beberapa helai rambutmu.”

“Tentu saja, karena kau tidak pernah membantu orang lain mencuci rambut mereka sebelum ini.”

Nona Hua berkata benar. Di kediamannya, ia punya pelayan sendiri untuk membantunya mandi. Ia sangat kesulitan untuk mencuci rambutnya sendiri, jadi ia tidak pernah memikirkan untuk membantu orang lain mencuci rambut mereka. Sekali atau dua kali, ia mencoba mencuci rambut Tuannya, tapi He Xia menjerit kesakitan setelah beberapa detik dan ia akhirnya menyerah.

Setelah Nona Hua selesai mandi, ia melanjutkan perkerjaan menyulamnya. Sayangnya ia beberapa kali tertusuk sendiri dan menangis kesakitan setelah beberapa saat.

Pingting berusaha menyembunyikan kebosanannya. “Kubilang ini membutuhkan kerjakeras, jadi mengapa Nona masih ingin mempelajarinya? Setiap hari Nona minta aku untuk membantumu dan kemudian kau terluka …. untuk apa bersusah payah seperti ini ?”

Nona Hua mendesah dan memandang sedih sulamannya. “Apa yang bisa kulakukan? Aku sangat merindukannya, jadi aku menyulam untuknya, tapi lalu aku tertusuk dan aku membencinya karena ini salahnya aku sampai melakukan ini. Kemudian aku ingat ia tak bisa bertemu denganku, ia tak tahu apa yang sedang kulakukan. Oh tidak, aku sangat menjengkelkan !”

Pingting ingin tertawa, tapi karena Nona Hua terlihat sangat putus asa, tidak mampu melakukannya. Bayangan 'Dong Dingnan' sekali lagi muncul di pikirannya, penglihatannya mengabur dan jarumnya jadi tak terkendali.

“Ouch !”

Nona Hua bertepuk tangan, matanya bersinar. “Kau akhirnya tertusuk juga. Kubilang jarum ini menyimpang, ia hanya bisa menusuk jariku !”

Keduanya masih berbincang, walaupun Pingting sepertinya serius berbincang, ia merasa gelisah. Ia diam-diam berharap 'Dong Dingnan' akan datang agar ia bisa mengetahui berita tentang Tuannya. Matanya mengawasi dari timur ke barat dan hari hampir berakhir, tapi tak seorangpun yang muncul mencari mereka.

Nona Hua melihat mulut Pingting yang dirapatkan dan ia tersenyum. “Jangan khawatir, ia bilang ia akan datang dalam tiga hari. Jika ia tidak datang, kita akan mengacuhkannya.”

Menjelang sore, keduanya sedang duduk di dalam dan makan malam, ketika Penggurus Rumah terburu-buru datang. “Nona, seseorang ingin bertemu dengan anda.”

Pingting segera mengangkat kepalanya, penasaran. Nona Hua berbalik dan berkata, “Bawa ia masuk.”

Tirai diturunkan dan jantung Pingting mulai berdebar kencang. Ia melihat kearah pintu dan bersiap.

Segera, mereka mendengar langkah kaki mencapai pintu dan bayangan besar orang berjalan muncul. Ia memasuki ruangan dan membungkuk dengan sopan kepada Nona dibalik tirai. “Selamat sore Nona, namaku Chu Morang, aku disini untuk menyerahkan hadiah.”

Oh, jadi bukan si 'Dong Dingnan', tapi orang yang memberikan kecapi padanya. Ia merasa kecewa. Rasanya seperti seseorang telah menuangkan seember air es yang dingin ke semangatnya yang terbakar.

Chu Morang tertawa sopan, “Ini adalah salah satu patung perunggu Gui Li. Mungkin tidak begitu istimewa tapi pengerjaan detilnya sangat mengesankan.”

Pingting melihat melalui tirai, ia bisa mengatakan dengan sekali lihat kalau patung yang dibawa Chu Morang sangat sempurna. Tidak hanya sangat mahal tapi juga dipahat oleh pemahat perunggu Gui Li terkenal Lu Bing. Lu Bing adalah pemahat legenda yang meninggal tiga puluh tahun lalu.

Patung itu berbentuk seorang gadis bermain kecapi diatas gunung, expresi wajahnya sangat hidup dan tenang. Sangat bagus, sehingga banyak orang yang menginginkannya. Dan si 'Dong Dingnan' ini mungkin memberikan kepadanya sebagai perbandingan atas kemampuan bermain kecapinya.

Pingting memutuskan bahwa si 'Dong Dingnan' telah menghabiskan uang begitu banyak dan mengagumi rencananya. “Hadiah yang bergitu berharga ini, sulit untuk diterima. Tolong bawa kembali.” suaranya sangat dingin.

Chu Morang memprotes, “Nona Hua, ini pemberian dari Tuan, khusus untuk anda.”

“Tempo hari kecapi, sekarang patung perunggu, besok apalagi ?” Pingting berhenti sebentar sebelum berkata, “Jika Tuanmu berniat tukar menukar barang, Aku tak punya apapun untuk diberikan olehku yang hanya seorang wanita. Bagaimanapun, kalau Tuanmu menginginkan sesuatu yang lain, mungkin itu takkan mudah didapatkan.”

Nona Hua sangat pintar dan menambahkan beberapa kalimat dari samping, “Ia bahkan menyuruh seseorang untuk menyerahkan hadiah mewakilinya? Sangat tidak sopan, tak heran Nona sangat marah.” Dan ia tersenyum. “Nyonya Hua, bawa ia keluar.”

“Nona, tolong dengarkan Morang, sebenarnya... “

Tapi Nona Hua tidak membiarkannya, “Tidak, tidak, tidak! Kalian para pria hanya tahu bagaimana menyakiti hati wanita.” Mungkin ini karena ia mengingat kekasihnya, dan ia menumpahkan kemarahannya pada Chu Morang, dan memutuskan untuk memanggil Penggurus Rumah.

Penggurus Rumah tiba sebelum Chu Morang sempat menjelaskan. Ia menarik tangan Chu Morang, “Tuan, tolong jangan marah, Nona sudah lelah, tolong mengerti. Ia butuh istirahat, hari sudah mulai gelap.” Tanpa berkata lagi ia membawanya bersama patung perunggu keluar dari Kediaman Hua.

Chu Morang tak pernah di permalukan ketika melakukan perintah Tuannya Zhen Beiwang. Di Kediaman Hua, ia telah mencoba sesopan mungkin karena itu adalah Kediaman dari Nona kesayangan Tuannya. Ia kembali ke Kediaman Zhen Beiwang dan melaporkan semua yang terjadi kepada Tuannya, Chu Beijie.

Setelah selesai bicara, ia meletakan patung perunggu yang dikembalikan di atas meja.

Chu BeiJie sedang membaca dokumen laporan ketika Morang berjalan masuk ruangan. Setelah Moang selesai bicara, ia meletakan dokumennya, mengangkat kepalanya dan tertawa senang. “Aku tak pernah membayangkan ia memiliki watak seperti itu! Kalau ia seorang pria aku pasti memakainya dalam pasukanku. Itu adalah kualitas dari seseorang yang mampu memerintah ribuan prajurit.”

Setelah tertawa sejenak, ia memicingkan matanya, “Ia cerdas, aku tak bisa meremehkannya.”

Chu Morang mendesah. “Ia sangat cantik dan permainan kecapinya luar biasa. Karena Tuan menyukainya, kenapa tidak mengajukan lamaran resmi kepadanya besok, dibawah nama Tuan Besar Zhen Beiwang?”

“Jangan.” Chu BeiJie berpikir sebelum berkata, “Ini perubahan yang menyenangkan dari alur yang biasanya. Ia seorang phoenix dan aku seorang pemuja sederhana.” Ia berdiri, mantelnya berkibar, “Baiklah, aku akan menunjukan perasaanku sekarang.”

“Sekarang...”

Pingting tak bisa tidur malam itu. Ia bertanya-tanya apa 'Dong Dingnan' akan datang besok, setelah ia menyuruh pulang pesuruhnya seperti itu.

Jika ia datang, pertama aku akan menenangkan kemarahannya terlebih dahulu, kemudian… secara wajar bertanya tentang Jin Anwang dengan sungguh-sungguh. Memikirkan kemungkinan percakapan besok dengan seorang pria yang identitas sebenarnya belum diketahui, dan secara aktif mengejarnya, ia hanya bisa khawatir.

“Pingting, apa yang kau pikirkan ?” ia bertanya pada dirinya sendiri, melihat ke luar jendela.

Diluar, bulan menyinari seluruh halaman. Ia mengenakan pakaiannya dan pergi keluar untuk mengagumi bulan.

Gunung buatan di Kediaman Hua pada siang hari, biasanya terlihat kuno tapi di malam hari, menjadi sesuatu yang menarik untuk di lihat. Kediaman Hua sangat sunyi, bahkan seranggapun tak bersuara. Melihat keatas, Pingting memandangi bulan. Tiba-tiba disudut matanya ia melihat kibasan.

Sebuah tubuh besar bertengger di dinding, menyebabkan Pingting melangkah mundur.

Pembunuh!

Pingting hendak berteriak ketika orang itu melompat turun kearahnya seperti memiliki sebuah sayap. Ia tak sempat membuka mulutnya ketika sebuah tangan yang besar menutup mulut dan hidungnya. Wangi dari pria itu merebak di hidungnya.

“Jangan bicara,” pria itu berkata.

Mata Pingting membelak terkejut Itu dia ?

Chu BeiJie melonggarkan cengkramannya dan berbisik di telinganya, “Kau pelayan Nona Hua? Aku, Dong Dingnan, tak bermaksud buruk. Ketika aku melepaskanmu jangan berteriak minta tolong, okay?” Ia menepuk pedang di pinggangnya, kata-katanya sangat sopan dan nada suaranya terdengar ramah.

Pingting mengangguk dan Chu BeiJie bisa melihat kecerdasan di matanya, ia melepaskannya sambil tertawa kecil tanpa suara.

Alis matanya gelap, matanya cerah, hidungnya tinggi dan mulutnya seperti selalu tersenyum. Ini pertamakali Pingting melihatnya begitu dekat, dan jika mengingat kenangan berharganya tentang dia, Pingting tersenyum balik.

Chu BeiJie selalu diperhatikan dan dipuja oleh para pelayan di Kediamannya, jadi ia tidak menyadari Pingting sedang memperhatikannya. Ia malah bertanya, “Apa Nona sudah tidur ?”

Pingting khawatir ia akan mengenali suaranya maka ia mengangguk ringan.

Chu Beijie berpikir, sebelum pergi berperang, seseorang harus mempelajari musuhnya. Pelayan ini selalu berada di dekat Nona Hua, jadi ia pasti tahu apa yang disukainya.  Dengan berpikir seperti itu ia bertanya, “Nonamu senang bermain kecapi, apa kau tahu dimana ia belajar bermain seperti itu ?”

Pingting menunjuk lehernya dan membuka mulutnya dua kali.

Chu Beijie segera mengerti, “Kau tak bisa bicara.” Ia berjalan menuju pintu kamar Nona Hua, berhenti dan mendengarkan. Lalu ia hanya berdiri diam disana.

Apa yang orang ini sedang lakukan?  Pingting merasa khawatir dan tak mau meninggalkan Chu Beijie sendiri.

Ia ingin bertanya tentang Tuannya, tapi sekarang ia seorang pelayan dan bisu, jadi ia tak boleh gelisah atau  mengajukan pertanyaan.

Chu Beijie melihat kekhawatiran dimatanya dan berpikir ia telah salah paham tentang niatnya yang sebenarnya. “Jangan khawatir, aku takkan mengganggu Nonamu. Aku sedang berdiri berjaga untuk phoenix yang kucintai.”

Pingting teringat tradisi Dong Lin. Seorang pria akan berdiri didepan pintu kekasihnya dan berjaga selama tiga malam. Mereka harus melindungi orang yang mereka cintai dan biasanya, dilakukan tiga hari sebelum pernikahan. 'Dong Dingnan' ini sungguh berani, untuk berdiri berjaga demi seorang gadis yang belum bertunangan dengannya.

Ia merasa bersalah karena telah berbohong padanya. Airmata Pingting mengalir, Aku tak punya pilihan lain. Jika ia tahu siapa aku atau bahwa aku bagian dari Kediaman Jin Anwang, ia akan memasukkanku ke penjara dengan segera.

“Kau bisa kembali tidur.”

Pingting melihat ke arahnya, ini tidak benar, tapi meninggalkannya lebih terasa aneh. Kalau ia tahu bahwa 'Nona Hua' yang telah bicara dengannya bukannya yang asli, maka....

“Pergilah, pergi tidur kembali. Ini masalah pria Dong Lin.” Chu Beijie memutuskan melakukan hal ini untuk mendapat kepercayaan dari Nona Hua.

Pingting tak bisa berkata apapun untuk mencegahnya, maka ia kembali ke kamarnya, dengan lunglai.

Bisakah ia tidur? Ia berputar empat atau lima kali, aku tidak memintanya untuk berdiri berjaga, jadi ini bukan masalahku, benar kan? Tapi setelah beberapa saat ia merasa sangat berarti.

Ia tidak tenang dan terbangun lagi. Ia melihat ke jendela.

Chu Beijie masih berdiri ditempat Pinting meninggalkannya, dan ia sedang menatap ke langit. Ia tinggi dan mengesankan. Sinar bulan bersinar di sekitarnya, seperti prajurit surga yang turun dari langit.

Pingting lanjut memperhatikannya, seperti seorang pemahat yang memperhatikan detil terbaik. Chu Beijie tiba-tiba bergerak dan ia segera menunduk, seperti seekor kelinci yang ketakutan. Ia merona.

Ia menekan tangannya di dadanya. Rasanya seperti jantungnya tidak berada disana lagi.

Kenapa kau tidak duduk dan beristirahat? Apa kau Bodoh? Mengapa begitu serius dengan berdiri berjaga? Tidak akan ada orang yang datang untuk memeriksa kau berdiri atau tidak, ya kan ?

Pingting berharap, pagi segera datang agar Chu Beijie bisa segera beristirahat, dan ia tak perlu mengkhawatirkannya lagi.

Langit akhirnya berwarna keabu-abuan, dan Pingting segera menuju pintu.

Tapi sebelum ia sempat keluar, kakinya terasa lunglai dan ia terjatuh.

Chu BeiJie tidak tidur semalaman dan Pingting memperhatikannya sepanjang malam juga.

Apakah mereka sudah gila? Pinting menertawakan dirinya sendiri. Ia menenangkan dirinya sebelum membuka pintu untuk menyapa Chu Beijie.

Chu BeiJie sudah berdiri selama beberapa jam, tapi ia tidak terlihat kelelahan. Ia mendengar langkah kaki dan ia melihat pelayan bisu yang kemarin, sedang menghampirinya.

“Kau bangun cepat hari ini, apa karena kau harus membantu Nona mu membersihkan diri ?”

Pingting mengangguk.

Chu BeiJie tidak bermaksud berbincang dengannya, tapi ketika ia melihatnya, ia merasakan perasaan hangat yang menyenangkan. Ia telah melihat banyak wanita sebelumnya, tapi tak seorangpun dari mereka memiliki aura keemasan, dan tidak mungkin seorang pelayan memilikinya. Mata mereka tak sengaja bertemu.

Bola mata Pingting berkilau seperti kristal hitam.

Matanya mampu berkata. Pandangan pertama, kilaunya seperti sebuah sungai mengalir menuju kegelapan matanya, tapi semakin ia memperhatikan, rasanya semakin dalam. Matanya menyembunyikan ribuan kata.

Chu Beijie tak mampu menahan perkatannya, “Nonamu pasti menyukaimu, kau memiliki mata yang luar biasa.”

Pingting tersenyum sedikit, menjawab, dan Chu Beijie berkata lagi “Memiliki seorang pelayan sepertimu, tak terbayangkan bagaimana rupa Nonanya.”

Pingting merasa seperti ditampar. Expresi wajahnya tetap tak berubah bahkan ketika ia masuk ke kamar Nona Hua.

Nona Hua baru terbangun ketika mendengar suara langkah kaki Pingting.

Pingting sangat diam ketika melakukan rutinitas paginya membantu Nona Hua membersihkan diri.

“Apa yang terjadi denganmu hari ini ?” tanya Nona Hua.

“Tidak banyak.” Pinting sedang berpikir apakah akan mengatakan pada Nona Hua tentang 'Dong Dingnan' tapi ia memutuskan tidak memberitahunya karena Nona Hua pasti akan mengejeknya lagi.

Ia masih sangat khawatir tentang Tuannya, tapi ia lebih takut identitasnya terbongkar bila ia bertanya terlalu banyak. Tekanan ini tak bisa ditahannya, jadi tentu saja ia tak mau Nona Hua menertawakannya.

Biarkan pria itu berdiri. Ia bisa berdiri selama yang ia mau.

Nona Hua dan Pingting akhirnya selesai dan akan keluar kamar dan ketika Pingting keluar. Chu BeiJie tak ada dimanapun.

“Apa yang kau lihat ? Apa tiba-tiba halaman menjadi lebih indah?”

Pinting melihat keliling lagi tapi Chu Beijie benar-benar tidak ada disana. Ia berpikir mungkin besok ia akan memberitahu langsung kepada Nona Hua kalau ia berdiri berjaga sepanjang malam untuknya. Ia tak menyangka bahwa dia akan pergi diam-diam ketika Nona terbangun.

Nona Hua mendorongnya dari belakang, “Ayo jalan, penjual bunga setuju untuk memberiku dua buntal bunga peoni unggu, ayo kita ke halaman depan untuk melihat apakah mereka sudah datang.”

Pingting masih memikirkannya, sekitar pertengahan jalan ia tiba-tiba berseru, “Ai-yaa!”

Nona Hua lompat kebelakang, “Kenapa ?”

Jika Chu Beijie kebetulan masih berdiri dipagi hari, dan menemukan Nona Hua dan dirinya berjalan kearahnya, bukankah penyamaran mereka akan terbongkar? Tidak masalah memberitahunya kalau aku hanya seorang pelayan, tapi bagaimana menjelaskan ketertarikanku pada berita tentang Tuan?  Pingting berkeringat dingin, apa yang terjadi denganku kemarin malam? Masalah ini bahkan tidak terjadi padaku, Aku hanya begitu bodoh menyaksikan pria itu berdiri sepanjang malam !

Tapi setiap kali ia memikirkan Chu Beijie dan malam itu, ia tidak menduga akan merasa bahagia.


--0--




novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar