-- Volume 1 chapter 26 --
Peralihan kekuasaan atas Dong Lin
telah tejadi dua kali di ibukota dan hanya beberapa orang yang mengerti
kejadian mengejutkan ini.
Pagi-pagi sekali, para petani
dengan hati-hati keluar dari rumah mereka. Mereka telah bersembunyi sepanjang
malam seperti yang diperintahkan. Meskipun sepertinya nyala api dan suara
pertarungan tak pernah berakhir, Sang Raja masih sebagai Raja dan anggota
kerajaan masih tetap sebagai anggota kerajaan.
Para pelayan yakin keadaan sudah
aman ketika para pejabat yang ditahan di kediaman masing-masing datang ke
istana. Raja Dong Lin memanggil mereka satu-persatu, tidak menghukum mereka
melainkan memuji mereka, seperti Pejabat Senior Sayap Kanan yang juga telah di
panggil untuk bantuannya.
Mereka semua mengerti maksud Raja
dan mereka merasa tenang.
Terlepas dari mereka yang
bersikukuh bersikap menentang selama penyerangan, korban jiwa dan korban luka
tidak terlalu banyak, tapi Raja memerintahkan pensiun untuk keluarga mereka.
Pasukan Dong Lin yang perkasa tetap
tinggal, tapi Panglima mereka yang hebat, Tuan Besar Zhen Bei Wang telah pergi.
Diluar, di jalan yang berlumpur,
sebuah kelompok kereta, tanpa bendera, perlahan bergerak maju.
Ada beberapa kereta dan kuda. Wajah
pengendaranya tidak ramah dan segan dan mata mereka nampak tidak bercahaya. Dua
kereta di tengah untuk wanita dan anak-anak, sementara dua lainnya tidak di
ketahui isinya tapi terlihat berat, karena rodanya meninggalkan jejak yang
dalam di lumpur.
Satu kereta terlihat tidak di hias
dengan sempurna, tapi jelas terlihat cukup mahal dari kayu dan rodanya yang
terbuat dari bahan yang sulit di dapatkan, kayu dengan kualitas bagus.
Sederhana tapi indah.
Setelah malam yang panjang, berada
di dalam kereta, Chu Beijie akhirnya memejamkan matanya.
Masalah Dong Lin telah selesai.
Setelah kejadian ini, Raja Dong Lin tidak akan lagi mencurigainya telah
membunuh kedua Pangeran.
Tapi bagaimanapun seorang ayah
telah kehilangan anaknya, dan seorang kakak telah kehilangan adiknya, sementara
Dong Lin tidak lagi memiliki Panglima yang bisa melindungi.
Dong Lin pasti akan menghadapi
masalah besar setelah bertahun-tahun pernyerangannya. Chu Beijie tak mampu
membayangkannya.
Tapi racun itu berasal dari tangan
wanita itu.
Chu Beijie mengangkat tangannya,
menatap tulang-tulangnya yang kuat karena menggunakan pedang terlalu lama. Ia
mengingat tangan Pingting, jarinya yang ramping, putih dan lembut. Tangan yang
menyentuh kecapi, memetik bunga dan juga bisa meracuni.
“Yang paling beracun dari semuanya
..... sungguh hati seorang wanita bagaimanapun?” Ia memicingkan matanya yang
sehitam tinta.
Tak ingin orang lain melihat
kepedihannya, ia memejamkannya, dan berpikir. Setelah beberapa saat, napasnya
menjadi teratur dan terlihat santai, sepertinya ia tertidur.
Jalanannya tidak rata naik dan turun,
menyebabkan kereta berguncang. Sedikit demi sedikit bergerak menjauhi masa
lalu.
Kusir kereta sepertinya telah
menerjang batu dan kehilangan keseimbangan. Chu Beijie terbangun dan ia
menegakkan punggungnya. Lalu, setelah ia tersadar sepenuhnya ia berteriak,
“Berhenti.”
Ia membuka tirai kereta dan
tubuhnya mulai gemetar.
Disisi jalan ada sesosok tubuh yang
lembut. Satu tangan menepuk kuda dan tangan yang lainnya memegang tali kekang
yang menyentuh ujung rumput yang tidak dipangkas. Mengetahui gerombolan kereta
berhenti, ia menoleh kearah mereka, ekspresinya bingung dan bukannya terkejut
ketika melihat wajah Chu Beijie. Ia dengan lembut berkata, “Tuan, Pingting
datang sesuai janji.”
Tidak hanya Chu Beijie tapi juga
orang-orang yang bersamanya, membeku seperti patung kayu. Bibir Bai Pingting
yang merah tersenyum dengan cepat. “Sejujurnya, Pingting telah sangat khawatir,
karena tidak tahu bagaimana caranya bertemu Tuan, jadi aku menunggu di jalan.
Jika Tuan pada akhirnya melewati Pingting, maka itu berarti takdir kita sudah
selesai. Aku telah pergi ke Dong Lin, tapi sepertinya Tuan tidak lagi memiliki
hubungan dengan Dong Lin saat ini.”
Tatapan Chu Beijie tidak
meninggalkan senyum Pingting. Ia merendahkan suaranya, “Aku menyadarinya.”
“Maka...” Pingting berkata dengan
tegas, “Bai Pingting mulai sekarang adalah anggota dari keluarga Chu.”
“Anggota keluarga Chu?”
“Apa Tuan sudah lupa? Mari
bersumpah pada bulan, takkan pernah melawan satu sama lain.”
Chu Beijie menggulangi setiap
perkataannya dengan dingin, disertai jeda disetiap katanya. “Mari bersumpah
pada bulan, takkan pernah melawan satu sama lain?”
Mata Pingting sama cantiknya
seperti pada pertemuan pertama mereka. “Apa Tuan telah melupakan janji kita?”
“Aku ingat.” Chu Beijie
menganggukkan kepalanya.
“Janji itu masih berlaku,” Pingting
berjalan mendekatinya, menggenggam kedua tangannya. “Tolong ijinkan Pingting
mengikuti Tuan sampai ujung dunia, kehormatanku berada di tangan Tuan dan
kematianku berada di tangan Tuan.”
Chu Beijie melihat tangan yang
kecil dan putih yang akrab. Ia bisa dengan mudah menyentuhnya.
Ia telah menyentuh tangan itu lebih
dari ribuan kali, menikmati sentuhannya ketika mengaguminya. Ia ingat
kehangatannya dan kelahusannya, ketangkasannya dan kelembutannya.
Ia tak pernah menduga sebelumnya,
ternyata merupakan sepasang tangan yang licik juga, yang mampu membalik awan
dan hujan sesuai kehendaknya.
Pingting tidak terkejut juga tidak
takut, hanya berdiri patuh menghadapi Chu Beijie. Seperti dulu ketika ia
bernyanyi tentang wanita cantik dan pahlawan serta prajurit dan penipuan. Matanya
yang sebening kristal masih mampu berbicara, bersinar terang di setiap
sudutnya.
Chu Beijie setelah diam yang lama
akhirnya memecahkan keheningan dengan berkata, “Pingting, jawab pertanyaanku.”
“Silakan Tuan.”
“Obat yang digunakan oleh mata-mata
Bei Mo, apa ia melakukannya atas perintahmu?”
“Benar.” Ekspresi Pingting tidak
berubah, hanya melontarkan sebuah kata.
“Kau tahu kalau mereka Pangeran
Dong Lin, keponakanku sendiri?”
Pingting menoleh ke arah Chu
Beijie, dan ia menghela napas panjang, “Aku tahu.”
“Kau ingat, kau telah berjanji
untuk tidak melukai keluargaku.”
“Aku ingat.”
“Aku, Chu Beijie, bukan seorang
pria yang akan melupakan dendam atas keluargaku hanya untuk seorang wanita.”
Pingting bisa merasakan kemarahan Chu
Beijie dan tersenyum sedih di bibirnya. “Aku mengerti. Pingting mengerti setiap
perkataan Tuan. Selama Tuan berniat mencari Pingting, tak ada gunannya Pingting
berusaha sembunyi, silakan Tuan lakukan apapun yang Tuan inginkan.”
“Pertanyaan terakhir.” Chu Beijie
agak ragu, tapi kemudian bertanya dengan kejam, “Kau tahu kau akan mati, kenapa
masih mengganggu perjalananku?”
Hati Pingting rasanya telah di
tusuk dengan kuat. Tubuhnya tiba-tiba goyah sedikit, sementara matanya
memperhatikan Chu Beijie dengan seksama. Suaranya terdengar sedih. “Pingting
sungguh bodoh, tapi Tuan juga bodoh. Meskipun aku berbicara sampai suaraku
hilang, apa Tuan akan percaya bahkan satu kata dariku? Semuanya telah menjadi
sebuah kesalahan besar, kita takkan bisa kembali ke masa lalu.” Tak mampu
berkata lagi, airmata berjatuhan dari pipinya menuju ke tanah.
Senja telah tiba.
Tidak ada mayat di jalan kering
berwana kuning itu.
Sebuah tubuh ramping, dalam diam
bergabung dengan kelompok kereta dan kuda itu.
Chu Beijie menyadari tangan yang
menggenggam hati dan pedang tidak selalu bertentangan.
--0--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar