-- Volume 1 chapter 24 --
Seluruh Dong Lin berubah warna
menjadi sendu. Atas perintah Raja, seluruh rakyat baik bangsawan maupun
kalangan biasa dilarang mengenakan warna cerah selama tiga bulan kedepan.
Pakaian, tirai semuanya sederhana, bahkan papan nama yang menandakan kekayaan dan
kemakmuran harus di turunkan.
Udara sangat berat dengan bayangan
kematian.
Kedua pangeran, kedua anak dari
Raja, telah terkena racun tanpa penawar. Mereka begitu muda dan belum genap
sepuluh tahun. Mereka belum pantas untuk di kuburkan di pemakamaman Dong Lin
tapi harus di kremasikan sesuai tradisi yang berlaku. Abu mereka akan di tebar
di sungai agar mereka bisa menghilang ke dalam bumi.
Chu Beijie telah menerima berita
buruk ini dan bergegas membawa pasukannya kembali.
Sekitar lima puluh mil dari ibukota,
seorang petugas senior sayap kanan, Sangtan, berdiri, menghentikan mereka.
“Berhenti!” Melihat bendera coklat
kerajaan berkibar lemah di kejauhan, Chu Beijie mengangkat tangannya.
pasukan yang berjumlah ribuan yang
telah lelah berhenti dengan kacau, wajah berdebu mereka bingung karena wajah
khawatir dari seorang penjaga istana yang sedang berdiri di luar istana.
“Titah Raja,” Sangtan sambil
memegang kain kuning berkata, “Ibukota saat ini sedang berkabung atas kematian
kedua pangeran. Kehadiran dari pihak yang di duga bertentanggan seprti pasukan
prajurit, sulit untuk diterima maka mereka dilarang memasuki ibukota. Seluruh
pasukan dan kuda harus tetap berada luar dan akan berada di bawah komando
Pangeran Fu Lang.”
Para komandan turun dari kuda mereka,
diam dan mendengarkan. Hanya suara Sangtang yang datar dengan intonasi sempurna
yang terdengar.
Senja mulai tiba, memunculkan lebih
banyak kegelapan. Moran merasakan tulang belakangnya merinding ketika
mendengarkan dan diam-diam melirik ke arah Chu Beijie.
Ekspresi Chu Beijie terlihat datar,
tidak bermusuhan dan juga tidak bersahabat. Ia menerima Titah Raja dengan kedua
tangan dan berdiri tegak.
Ekspresi Sangtan sangat
berhati-hati, tangannya tersembunyi di balik lengan bajunya. Dengan nada ramah
ia berkata, “Pangeran akhirnya anda kembali. Anda adalah adik kandung Raja,
jadi tolong buat dia merasa tenang agar kesehatannya tidak terganggu selama
masa berkabung ini. Raja memintaku secara khusus untuk mengawal anda memasuki
ibukota.” Ia mundur selangkah dan memperlihatkan sekitar lima puluh pengawal
istana di belakangnya. Sepertinya setelah kejadian Pangeran kecil di racun
seluruh petugas istana di ganti. Tidak ada satupun wajah yang terlihat akrab.
“Tuan...” Moran berdiri disamping
Chu Beijie dan suaranya tercekik, “Para prajurit telah lama pergi dari rumah
dan mereka sangat menantikan untuk pulang. Sekarang mereka dilarang untuk
memasuki ibukota, aku takut beberapa orang mungkin akan membuat kekacauan. Aku
mungkin hanya terlalu khawatir, tapi sangat tidak baik kalau sampai terjadi
keributan. Apa yang sebaiknya kita lakukan, tolong, Tuan beritahu kami.”
Ekspresi Sangtan tidak berubah, ia
terbatuk sekali dan berkata pada Moran, “Apa anda tidak mendengarkan Titah Raja
Komandan? Mereka akan di urus oleh Pangeran Fu Lang.”
“Tuan Petugas, ini mungkin hanya
kekhawatiran Moran yang berlebihan, tapi masalah militer sulit untuk
diperkirakan. Disini sangat banyak prajurit, dan jika sesuatu terjadi....”
“Diamlah!” suara Chu Beijie
tiba-tiba menyela.
Moran berhenti bicara dan
menundukan kepalanya.
Sangtan tadinya khawatir untuk
menghadapi Moran tapi melihat Chu Beijie tiba-tiba menyela, ia segera berkata,
“Sekarang sudah hampir malam dan Raja sedang menunggu, jadi mohon Pangeran naik
ke kuda dan ikut bersama kami memasuki ibukota.” Ia memerintah seseorang untuk
menunjukan kuda Chu Beijie.
Chu Beijie telah mengatur kekuatan
militer Dong Lin sejak lama dan ia tidak suka perlakuan berlebihan seperti ini,
karenanya ia selalu memarahi mereka. Sehingga pada bangsawan merasa takut
sekaligus membencinya. Biasanya ia tidak
takut pada mereka, tapi situasi kali ini sangat kacau, kedua pangeran di bunuh
ketika ia bertempur jauh di daerah perbatasan. Kalau pasukannya tidak begitu
jauh, musuh pasti tidak akan bisa mengambil kesempatan ini. Sulit bagi Raja
untuk tidak mencurigainya. Moran sudah terbiasa dengan keadaan ini dan bisa
menduga apa yang akan terjadi maka ia tahu ia tidak boleh membiarkan Tuannya
memasuki ibukota sendirian, dan ia berkata, “Moran dan beberapa pelayan akan
menemani Tuan memasuki ibukota.”
Tapi, Moran tidak menduga kalau
Sangtan sudah menunggu kata-kata ini, dan ia berkata “Pangeran pelayan lainnya
tidak diperlukan untuk menemani. Raja juga berkata kemenangan atas Bei Mo
hampir berhasil dan akan menghadiahkan seluruh prajurit disini. Aku juga
mendengar kalau Komandan Moran telah membuat jasa di peperangan kali ini. Raja
mengijinkan Komandan Moran memasuki ibukota bersama Pangeran Zhen Bei Wang.
Raja sendiri yang akan memberikan hadiah kepada anda.”
Senyum Sangtan sangat ramah, tapi
yang lainnya merasa kesal. Perkataannya tidak banyak tapi sungguh menyebalkan.
Tangan mereka bergerak memegang sarung pedang, dan melirik ke arah Chu Beijie.
Chu Beijie terlihat sulit
mempertahankan posturnya yang tegak. Senyum tipis di bibirnya terlihat cukup
tajam untuk memotong bayangannya dari senja. Ia tanpa ekspresi. Melihat kearah
ibukota yang megah, suaranya ringan ketika berkata, “Sangtan, aku punya
pertanyaan untukmu.”
Suara Sangtan yang sedingin es
terkejut. Bagaimanapun ia sedang menghadapi orang yang paling berbahaya dari
empat kerajaan, Panglima Dong Lin terkuat, yang baru saja kembali dari
peperangan dan mengepalai sepuluh ribu
prajurit. Kalau ia berkata salah, Tuan Besar Zhen Bei Wang akan dengan mudah
menghancurkannya, seorang petugas senior, seperti seekor semut. Ia tidak berani
melihat tatap tajam Chu Beijie. Ia menundukan kepalanya, “Silakan Tuan
bertanya, Sangtan akan menjawab jika ia mampu.”
“Apa kau percaya kalau aku terlibat
atas kematian kedua Pangeran kecil?”
Sebuah pertanyaan jebakan.
Kalau Chu Beijie bertanya, “Apa
Raja berpikir kalau Aku terlibat atas kematian para Pangeran?” maka Sangtan
akan berlaku sebagai petugas yang patuh dengan menjawab ia tidak berani menebak
apa yang dipikirkan oleh Raja dan ia hanya bertidak seperti yang di
perintahkan.
Tapi kata-kata Chu Beijie telah
dipilih dengan sangat hati-hati, menanyakan hal yang sangat di takutkannya.
Kalau ia menjawab tidak tahu itu hanya menunjukan kebohongan besar. Dengan kata
lain hanya ada dua kemungkinan kalau ia tidak ingin melawan Chu Beijie. Jujur
atau berbohong.
Tentu saja ia tidak mampu melawan
Chu Bejie disini, maka jujur adalah satu-satunya jalan keluar. Itu sama dengan
menyerahkan lehernya pada pedang Chu Beijie. Dan kalau ia akan berkata “Sangtan
tentu saja tidak percaya kalau Pangeran terlibat,” di depan seluruh prajurit
disini, dan kalau mereka menyebarkan gosip sehingga sampai ke telingan Raja, ia
mungkin akan dihukum karena berkerjasama jika Pangeran terbukti bersalah. Dan keluarganya
akan dalam masalah.
Pada saat itu, semua kemungkinan
berputar di kepalanya dan walaupun Sangtan terkenal di Dong Lin atas sikapnya
yang tenang, ia sangat berkeringat. Ekspresinya pucat ketika ia akhirnya
berkata, “Pangeran... itu..... itu....”
“Apa pertanyaan ini begitu sulit
untuk dijawab?” Chu Beijie tertawa tapi wajahnya tidak. “Petugas Senior Kiri,
anda hanya perlu menjawab. Menurut anda aku terlibat, atau tidak?”
Tatapan tajam Chu Beijie menembus
melewati Sangtan, yang melangkah mundur satu langkah. “Aku tidak berani...
tidak berani...”
“Hahaha.....” Tidak menunggu
jawaban Sangtan, Chu Beijie mengangkat kepalanya dan tertawa, wajahnya
menunjukan kesedihan yang tidak terbayangkan. Setelah beberapa saat ia berhenti
tertawa, wajahnya kembali serius. Dengan suara pelan ia berkata, “Apa seluruh
anggota Kediaman Zhen Bei Wang telah di pecat sekarang?”
Wajah Sangtan kebingungan, “Tidak
mungkin! Siapa.... siapa yang berkata seperti itu?” Tangannya yang berada di
balik lengan baju gemetar kencang.
Mungkin di dunia ini hanya ada satu
orang, seorang wanita, yang mampu berbicara pada Tuan Besar Zhen Bei Wang tanpa
menjadi pucat.
Chu Beijie berbalik ke arahnya,
perlahan menatapnya, lalu kembali menatap ibukota. Ekspresinya sepertinya
melewati lima puluh mil dan sampai di kediamannya yang nyaman. Kemudian ia
membuka mulutnya dan menghela, “Sebuah bangunan kecil yang berada di paling
barat kediaman. Diluarnya banyak bunga bermekaran dan didalamnya, sebuah
kecapi.” Ia menghela napas lagi sebelum dengan dingin memerintahkan, “Tahan
dia.”
Sangtan matirasa ketika mendengar
perintah Chu Beijie, ia memaksa dirinya untuk bergerak. Moran sudah
menyambarnya dengan tangkas sambil ia menunjukan Titah Kaisar di tangannya. Ia
hanya pejabat lulusan sarjana dan bukan tandingan seorang komandan yang
berpengalaman. Ia ditangkap dengan mudah.
Sangtan duduk dilantai, gemetar,
terkejut dan takut. “Aku hanya menyampaikan Titah Raja, tapi kau memberontak
seperti ini.” Beberapa penjaga pribadi Chu Beijie memaksanya berdiri dan mengikatnya.
Melihat Sangtan di tangkap, rekan
mereka, sebagian besar dari penjaga istana berusaha untuk kabur. Para prajurit
bagaimanapun, bereaksi lebih cepat dan segera mengepung mereka, pedang mereka
tercabut dari sarungnya.
Dalam waktu yang singkat, para
penyambut Chu Beijie sudah terikat seperti lontong.
Moran mendorong Sangtang ke kaki
Chu Beijie dan melaporkan, “Tuan, ada sebuah panah pendek tersembunyi di lengan
bajunya. Sungguh keterlaluan, ada sedikit racun di anak panahnya. Kalau di
tembakkan dalam jarak dekat, sulit untuk menghindar.”
Terdengar suara berdebum. Busur dan
panahnya dilemparkan ke arah matahari senja, menyisakan awan tipis dari debu
berwarna kuning di udara.
Tatapan Chu Beijie berhenti di
kepala Sangtan. Sangtan gemetaran. Orangtua dan istrinya yang berada di balik
gerbang kota telah berpesan kepadanya untuk jangan pernah memohon ampun di
depan Chu Beijie, atau bisa dipastikan ia akan terbunuh. Jauh lebih baik jika
bersikap keras kepala dan tidak mengubah tujuan awalnya. “Chu Beijie, anda
tentu tahu, begitu kedua pangeran meninggal, maka orang yang berhak mewarisi
takhta berikutnya adalah anda. Sebuah rencana yang sederhana, bagaimana mungkin
Raja tidak melihatnya? Biar kuberitahu, seluruh penghuni Kediaman Zhen Bei Wang
telah dipecat dan semua yang anda miliki telah di ambil kembali oleh Raja!
Sungguh malang, aku hanya seorang sarjana, dan tidak tahu bagaimana bersikap
kejam agar bisa melepaskan panah beracun itu.”
Chu Beijie mengabaikan kata-katanya
yang seperti gonggongan anjing, ia hanya mengerutkan dahi menatap ujung anak
panah yang berwarna hijau. “Panah ini, apa permintaan Raja?” ia bertanya dengan
singkat.
“Hmph! Kalau saja Raja bukanlah
saudaramu, ia akan segera membunuhmu. Ia berharap anda datang ke istana dan
menjernihkan kesalahpahaman, kalau memang seperti itu, tapi mengapa aku malah
menyia-nyiakan seluruh kesempatan ini untuk bisa membalaskan dendam mereka?”
wajah Sangtan penuh penyesalan dan kemarahan.
Suara Chu Beijie sangat berbahaya.
“Begitu kau menembakkan panah, entah aku mati atau tidak, kau sedang berada di
tengah sepuluh ribu prajurit, jadi kau pasti akan mati dengan sangat
mengenaskan. Kau tidak akan berani melakukannya, kau takut pada kematian, tak
masalah, tapi kau malah melontarkan kata-kata menggelikan.”
Wajah Sangtan menjadi merah dan
matanya membelak seperti seekor kodok. Ia memutar otaknya tapi tak bisa
mengatakan apapun untuk membela dirinya.
Tangan Chu Beijie di belakang
punggungnya, matanya bahkan tidak melihat Sangtan ketika ia terus berbicara, “Aku
memang orang yang paling pantas dicurigai atas kematian kedua pangeran, tapi
mengapa Raja sampai bisa berpikir kalau akulah orangnya, siapa yang
melakukannya?”
Sangtan diam, menolak untuk
berbicara.
Moran memberitahunya dengan dingin,
“Tuan Petugas Kanan tidak pernah bekerja dengan pasukan militer dan tidak tahu
apapun tentang peraturan di barak. Ketika kami bertemu dengan tahanan yang
menolak bekerja sama, mereka melepaskan pakaiannya dan meninggalkannya pada
rekan-rekan kami untuk bersenang-senang, baru kemudian di siksa.”
Wajah Sangtan menjadi pucat
seketika.
Tidak ada wanita di dalam pasukan
dan itu berarti beberapa ribu pasukan harus menderita karena menahan nafsu
birahinya selama beberapa bulan. Semua orang pasti bisa menerka apa yang
dimaksud ‘bersenang-senang’. Penyiksaan sudah cukup buruk, tapi kalau ia harus
dipermalukan seperti itu, bahkan jika ia mati, ia takkan punya muka untuk
bertemu leluhurnya. Ia sangat gemetar, tidak lagi berusaha untuk berani.
“Katakan.” Chu Beijie berdiri
tenang seperti tidak terjadi apapun.
Keringat Sangtan menetes
berjatuhan, matanya memancarkan kemarahan ketika ia menatap Moran. Dengan gigi
terkatup ia berkata, “Apa Tuan berpikir kalau rencana racun itu sangat rapi?
Malam harinya Raja dengan segera mendapatkan mata-mata itu dan setelah penyiksaan yang sangat berat,
akhirnya ia mengaku, sebagai mata-mata dari Bei Mo. Orang yang memberikannya
racun adalah seorang wanita bernama Bai Pingting. Hmph, bukankah dia, wanita
yang anda cintai?”
Moran terkejut dan mendongakkan
kepalanya ke arah Chu Beijie.
Chu Beijie tetap seperti batu, tak
seorangpun bisa menebak ekspresinya. Seluruh pasukan diam, tak ada yang berani
berdehem. Mereka memandangi Panglima mereka.
Dibawah cahaya terakhir matahari
senja, Chu Beijie bertanya dengan tenang, “Moran, bagaimana menurutmu situasi
saat ini?”
Untuk beberapa alasan, bahkan Moran
merasa sangat gugup sampai kedua tangannya bergetar. Ia berlutut dan berkata
dengan hati-hati. “Kalau Sangtan mengatakan hal yang sebenarnya, sulit bagi Raja
untuk tidak mencurigai Tuan.”
Tiba-tiba suasana menjadi sunyi
mencekam.
Komandan yang lain mendengarkan
baik-baik setiap perkataan Chu Beijie dan Moran.
“Apa kau percaya kalau aku yang
membunuh kedua Pangeran?”
“Tentu saja tidak.”
“Apa Raja juga akan percaya seperti
itu?”
Moran ragu sejenak tapi kemudian
berkata, “Raja akan mempercayai hal ini. Menurut hirarki keluarga, jika Raja
tidak memiliki keturunan, maka Tuanlah yang akan menjadi penerus selanjutnya.
Orang yang menyerahkan racun adalah Pingting, orang yang memiliki hubungan
dengan Tuan. Dan sekarang Tuan kembali
bersama seluruh pasukan, bagaimana mungkin Raja tidak curiga terhadap Tuan?”
Chu Beijie menoleh keatas dan
melihat kalau hari sudah gelap, bahkan sinar terakhir telah menghilang. “Kau
bisa melihat tekanan luar biasa yang dialami Raja. Kalau kita memasuki ibukota,
kita dan semua orang yang berhubungan dengan kita akan di tangkap dan dibunuh,
demi keamanan Dong Lin. Kalau aku sebagai Raja, aku juga akan melakukan hal
yang sama.”
Bruk, bruk. Setelah beberapa kali
suara bruuk, terlihat seluruh pasukan dibelakangnya berlutut, dan berwajah
pucat.
Komandan Shenwei berkata, “Aku
tidak keberatan, masuk ke ibukota sendirian dan berusaha menyakinkan Raja kalau
Tuan tidak bersalah. Aku akan bersumpah atas leluhurku dan seluruh keluargaku
yang masih hidup kalau inilah kebenarannya.”
“Aku juga akan bersumpah kalau Tuan
tidak bersalah!” suara pasukan bergema di langit yang mendung.
“Kau telah menemaniku melewati
peperangan selama beberapa tahun ini. Raja bahkan mencurigaiku, bagaimana ia
tidak curiga pada kalian semua? Memasuki ibukota hanya berarti kematian. Dan
pilihan lainnya adalah mati. Kalau aku memasuki ibukota, tidak masalah kalau
aku mendapat hukuman, tapi semangat pasukan Dong Lin akan berkurang karena
kehilangan Panglima Utama mereka. Walaupun Dong Lin terkenal memiliki banyak
prajurit kuat, tapi sekarang sepertinya bahkan tidak mempunyai cukup kekuatan
untuk mempertahankan diri. Bagaimanapun, kalau kita tidak memasuki ibukota,
Raja mungkin akan menganggap ini sebagai pemberontakan.”
Moran yang paling setia. Ia yatim
piatu dan telah menemani Chu Beijie sejak masih muda. Ia menekan giginya dengan
kuat. “Memasuki ibukota tidak mungkin, tapi tidak memasuki ibukota juga tidak
mungkin. Sejak Raja bersikap curiga, ia tidak akan memaafkan Tuan. Ini sungguh
dilema. Pilihan lain adalah membawa pasukan dan menyerbu ibukota, lagipula,
Tuan adalah pewaris kerajaan berikutnya.”
“Menguasai ibukota tidak sulit
selama aku menguasai pasukan terbaik. Itu juga sebabnya mengapa Raja ingin
menyingkirkanku.” Chu Beijie menggelengkan kepalanya, “Tapi bahkan kalau kita
menyerbu ibukota, membunuh Raja dan mengambil alih kekuasaan, apa yang akan
terjadi pada rakyat Dong Lin? Sekali saja keluarga kerajaan kacau, hati rakyat
akan ragu dan para pejabat akan terbagi. Negara lain akan mengambil kesempatan
ini untuk menyerang. Apa kita ingin Dong Lin di bantai oleh negara musuh?”
Itu sudah cukup untuk membuat Moran
menundukan kepalanya.
Komandan lainnya tahu kalau Chu Beijie
memiliki pertimbangan lain. Mereka tidak berani menyela, hanya berlutut di
tanah tanpa bersuara.
Angin berhembus lebih kencang,
menyebabkan bendera menghantam tiangnya dengan kuat tapi sepuluh ribu prajurit
tetap menunggu dalam diam, sampai Panglima mereka membuat keputusan.
“Untuk menyakitiku, ia bahkan tidak
keberatan menyatakan diri sebagai pembunuh. Meskipun di wilayah Dong Lin dia
sama sekali tidak peduli...” Chu Beijie perlahan berbalik, di ujung bibirnya
terbentuk sebuah senyuman getir. “Tidak hanya berniat membuat Dong Lin kacau
balau, tapi juga membuat Bei Mo sebagai musuh utama Dong Lin. Hebat, taktik
yang hebat.” Ia tertawa pahit agak lama, lalu berhenti, ekspresinya membeku.
Tatapannya kembali pada medan pertempuran yang sejauh seribu mil, sebuah
tatapan yang penuh penghinaan. Lalu ia berkata dengan lantang, “Seluruh
komandan, dengarkan perintahku!”
“Siap!”
“Segera serang ibukota. Setelah
menjatuhkan tembok kota, jangan menyerang mereka yang tidak melawan. Arahkan
seluruh rakyat masuk ke rumah mereka dan tahan para bangsawan, kemudian
menunggu untuk perintah berikutnya.” Chu Beijie mengeluarkan perintah lain,
“Komandan Shenwei!”
“Siap!”
“Begitu kita menguasai ibukota, kau
pimpin sepuluh ribu pasukan dan bertanggung jawab untuk membuat keputusan di
dalam ibukota. Tempatkan pasukan disekitar istana dan kediaman para pejabat
penting, tidak ada yang boleh masuk.”
“Baik!”
“Komandan Shenyong!”
“Siap!”
“Begitu kita menguasai ibukota, kau
pimpin dua puluh ribu pasukan dan jaga tembok ibukota. Jangan sampai ada satu
orangpun yang berhasil kabur, agar kabar penaklukan ibukota tidak tersiar.”
“Baik!”
“Komandan Shenwu, kau ikut
denganku. Kepung istana ketika kita menyerang masuk, untuk melihat Raja.”
“Baik!”
Setelah mengatakan semua perintah
itu, wajah Chu Beijie menjadi lebih tenang. ia tersenyum sedikit ketika ia
menatap para Jendralnya. “Ini untuk Dong Lin dan untuk keamanan kalian. Kalian
semua ingatlah ini, kali ini tidak seperti penyerangan sebelum-sebelumnya.
Pasukan terbaik berada di pihak kita maka para penjaga pasti sudah cukup merasa
takut. Seharusnya mudah untuk mengendalikan ibukota, jadi hindari pembunuhan
sebisa mungkin.”
“Kami akan mematuhi perintah
Panglima Zhen Bei Wang dengan segala resiko!”
Dibawah langit malam, sosok hitam
para prajurit mendekati ibukota Dong Lin, seperti seekor ular.
--0--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar