Rabu, 09 Desember 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.24

-- Volume 1 chapter 24 --

Seluruh Dong Lin berubah warna menjadi sendu. Atas perintah Raja, seluruh rakyat baik bangsawan maupun kalangan biasa dilarang mengenakan warna cerah selama tiga bulan kedepan. Pakaian, tirai semuanya sederhana, bahkan papan nama yang menandakan kekayaan dan kemakmuran harus di turunkan.

Udara sangat berat dengan bayangan kematian.

Kedua pangeran, kedua anak dari Raja, telah terkena racun tanpa penawar. Mereka begitu muda dan belum genap sepuluh tahun. Mereka belum pantas untuk di kuburkan di pemakamaman Dong Lin tapi harus di kremasikan sesuai tradisi yang berlaku. Abu mereka akan di tebar di sungai agar mereka bisa menghilang ke dalam bumi.

Chu Beijie telah menerima berita buruk ini dan bergegas membawa pasukannya kembali.

Sekitar lima puluh mil dari ibukota, seorang petugas senior sayap kanan, Sangtan, berdiri, menghentikan mereka.

“Berhenti!” Melihat bendera coklat kerajaan berkibar lemah di kejauhan, Chu Beijie mengangkat tangannya.

pasukan yang berjumlah ribuan yang telah lelah berhenti dengan kacau, wajah berdebu mereka bingung karena wajah khawatir dari seorang penjaga istana yang sedang berdiri di luar istana.

“Titah Raja,” Sangtan sambil memegang kain kuning berkata, “Ibukota saat ini sedang berkabung atas kematian kedua pangeran. Kehadiran dari pihak yang di duga bertentanggan seprti pasukan prajurit, sulit untuk diterima maka mereka dilarang memasuki ibukota. Seluruh pasukan dan kuda harus tetap berada luar dan akan berada di bawah komando Pangeran Fu Lang.”

Para komandan turun dari kuda mereka, diam dan mendengarkan. Hanya suara Sangtang yang datar dengan intonasi sempurna yang terdengar.

Senja mulai tiba, memunculkan lebih banyak kegelapan. Moran merasakan tulang belakangnya merinding ketika mendengarkan dan diam-diam melirik ke arah Chu Beijie.

Ekspresi Chu Beijie terlihat datar, tidak bermusuhan dan juga tidak bersahabat. Ia menerima Titah Raja dengan kedua tangan dan berdiri tegak.

Ekspresi Sangtan sangat berhati-hati, tangannya tersembunyi di balik lengan bajunya. Dengan nada ramah ia berkata, “Pangeran akhirnya anda kembali. Anda adalah adik kandung Raja, jadi tolong buat dia merasa tenang agar kesehatannya tidak terganggu selama masa berkabung ini. Raja memintaku secara khusus untuk mengawal anda memasuki ibukota.” Ia mundur selangkah dan memperlihatkan sekitar lima puluh pengawal istana di belakangnya. Sepertinya setelah kejadian Pangeran kecil di racun seluruh petugas istana di ganti. Tidak ada satupun wajah yang terlihat akrab.

“Tuan...” Moran berdiri disamping Chu Beijie dan suaranya tercekik, “Para prajurit telah lama pergi dari rumah dan mereka sangat menantikan untuk pulang. Sekarang mereka dilarang untuk memasuki ibukota, aku takut beberapa orang mungkin akan membuat kekacauan. Aku mungkin hanya terlalu khawatir, tapi sangat tidak baik kalau sampai terjadi keributan. Apa yang sebaiknya kita lakukan, tolong, Tuan beritahu kami.”

Ekspresi Sangtan tidak berubah, ia terbatuk sekali dan berkata pada Moran, “Apa anda tidak mendengarkan Titah Raja Komandan? Mereka akan di urus oleh Pangeran Fu Lang.”

“Tuan Petugas, ini mungkin hanya kekhawatiran Moran yang berlebihan, tapi masalah militer sulit untuk diperkirakan. Disini sangat banyak prajurit, dan jika sesuatu terjadi....”

“Diamlah!” suara Chu Beijie tiba-tiba menyela.

Moran berhenti bicara dan menundukan kepalanya.

Sangtan tadinya khawatir untuk menghadapi Moran tapi melihat Chu Beijie tiba-tiba menyela, ia segera berkata, “Sekarang sudah hampir malam dan Raja sedang menunggu, jadi mohon Pangeran naik ke kuda dan ikut bersama kami memasuki ibukota.” Ia memerintah seseorang untuk menunjukan kuda Chu Beijie.

Chu Beijie telah mengatur kekuatan militer Dong Lin sejak lama dan ia tidak suka perlakuan berlebihan seperti ini, karenanya ia selalu memarahi mereka. Sehingga pada bangsawan merasa takut sekaligus  membencinya. Biasanya ia tidak takut pada mereka, tapi situasi kali ini sangat kacau, kedua pangeran di bunuh ketika ia bertempur jauh di daerah perbatasan. Kalau pasukannya tidak begitu jauh, musuh pasti tidak akan bisa mengambil kesempatan ini. Sulit bagi Raja untuk tidak mencurigainya. Moran sudah terbiasa dengan keadaan ini dan bisa menduga apa yang akan terjadi maka ia tahu ia tidak boleh membiarkan Tuannya memasuki ibukota sendirian, dan ia berkata, “Moran dan beberapa pelayan akan menemani Tuan memasuki ibukota.”

Tapi, Moran tidak menduga kalau Sangtan sudah menunggu kata-kata ini, dan ia berkata “Pangeran pelayan lainnya tidak diperlukan untuk menemani. Raja juga berkata kemenangan atas Bei Mo hampir berhasil dan akan menghadiahkan seluruh prajurit disini. Aku juga mendengar kalau Komandan Moran telah membuat jasa di peperangan kali ini. Raja mengijinkan Komandan Moran memasuki ibukota bersama Pangeran Zhen Bei Wang. Raja sendiri yang akan memberikan hadiah kepada anda.”

Senyum Sangtan sangat ramah, tapi yang lainnya merasa kesal. Perkataannya tidak banyak tapi sungguh menyebalkan. Tangan mereka bergerak memegang sarung pedang, dan melirik ke arah Chu Beijie.

Chu Beijie terlihat sulit mempertahankan posturnya yang tegak. Senyum tipis di bibirnya terlihat cukup tajam untuk memotong bayangannya dari senja. Ia tanpa ekspresi. Melihat kearah ibukota yang megah, suaranya ringan ketika berkata, “Sangtan, aku punya pertanyaan untukmu.”

Suara Sangtan yang sedingin es terkejut. Bagaimanapun ia sedang menghadapi orang yang paling berbahaya dari empat kerajaan, Panglima Dong Lin terkuat, yang baru saja kembali dari peperangan dan  mengepalai sepuluh ribu prajurit. Kalau ia berkata salah, Tuan Besar Zhen Bei Wang akan dengan mudah menghancurkannya, seorang petugas senior, seperti seekor semut. Ia tidak berani melihat tatap tajam Chu Beijie. Ia menundukan kepalanya, “Silakan Tuan bertanya, Sangtan akan menjawab jika ia mampu.”

“Apa kau percaya kalau aku terlibat atas kematian kedua Pangeran kecil?”

Sebuah pertanyaan jebakan.

Kalau Chu Beijie bertanya, “Apa Raja berpikir kalau Aku terlibat atas kematian para Pangeran?” maka Sangtan akan berlaku sebagai petugas yang patuh dengan menjawab ia tidak berani menebak apa yang dipikirkan oleh Raja dan ia hanya bertidak seperti yang di perintahkan.

Tapi kata-kata Chu Beijie telah dipilih dengan sangat hati-hati, menanyakan hal yang sangat di takutkannya. Kalau ia menjawab tidak tahu itu hanya menunjukan kebohongan besar. Dengan kata lain hanya ada dua kemungkinan kalau ia tidak ingin melawan Chu Beijie. Jujur atau berbohong.

Tentu saja ia tidak mampu melawan Chu Bejie disini, maka jujur adalah satu-satunya jalan keluar. Itu sama dengan menyerahkan lehernya pada pedang Chu Beijie. Dan kalau ia akan berkata “Sangtan tentu saja tidak percaya kalau Pangeran terlibat,” di depan seluruh prajurit disini, dan kalau mereka menyebarkan gosip sehingga sampai ke telingan Raja, ia mungkin akan dihukum karena berkerjasama jika Pangeran terbukti bersalah. Dan keluarganya akan dalam masalah.

Pada saat itu, semua kemungkinan berputar di kepalanya dan walaupun Sangtan terkenal di Dong Lin atas sikapnya yang tenang, ia sangat berkeringat. Ekspresinya pucat ketika ia akhirnya berkata, “Pangeran... itu..... itu....”

“Apa pertanyaan ini begitu sulit untuk dijawab?” Chu Beijie tertawa tapi wajahnya tidak. “Petugas Senior Kiri, anda hanya perlu menjawab. Menurut anda aku terlibat, atau tidak?”

Tatapan tajam Chu Beijie menembus melewati Sangtan, yang melangkah mundur satu langkah. “Aku tidak berani... tidak berani...”

“Hahaha.....” Tidak menunggu jawaban Sangtan, Chu Beijie mengangkat kepalanya dan tertawa, wajahnya menunjukan kesedihan yang tidak terbayangkan. Setelah beberapa saat ia berhenti tertawa, wajahnya kembali serius. Dengan suara pelan ia berkata, “Apa seluruh anggota Kediaman Zhen Bei Wang telah di pecat sekarang?”

Wajah Sangtan kebingungan, “Tidak mungkin! Siapa.... siapa yang berkata seperti itu?” Tangannya yang berada di balik lengan baju gemetar kencang.

Mungkin di dunia ini hanya ada satu orang, seorang wanita, yang mampu berbicara pada Tuan Besar Zhen Bei Wang tanpa menjadi pucat.

Chu Beijie berbalik ke arahnya, perlahan menatapnya, lalu kembali menatap ibukota. Ekspresinya sepertinya melewati lima puluh mil dan sampai di kediamannya yang nyaman. Kemudian ia membuka mulutnya dan menghela, “Sebuah bangunan kecil yang berada di paling barat kediaman. Diluarnya banyak bunga bermekaran dan didalamnya, sebuah kecapi.” Ia menghela napas lagi sebelum dengan dingin memerintahkan, “Tahan dia.”

Sangtan matirasa ketika mendengar perintah Chu Beijie, ia memaksa dirinya untuk bergerak. Moran sudah menyambarnya dengan tangkas sambil ia menunjukan Titah Kaisar di tangannya. Ia hanya pejabat lulusan sarjana dan bukan tandingan seorang komandan yang berpengalaman. Ia ditangkap dengan mudah.

Sangtan duduk dilantai, gemetar, terkejut dan takut. “Aku hanya menyampaikan Titah Raja, tapi kau memberontak seperti ini.” Beberapa penjaga pribadi Chu Beijie memaksanya berdiri dan mengikatnya.

Melihat Sangtan di tangkap, rekan mereka, sebagian besar dari penjaga istana berusaha untuk kabur. Para prajurit bagaimanapun, bereaksi lebih cepat dan segera mengepung mereka, pedang mereka tercabut dari sarungnya.

Dalam waktu yang singkat, para penyambut Chu Beijie sudah terikat seperti lontong.

Moran mendorong Sangtang ke kaki Chu Beijie dan melaporkan, “Tuan, ada sebuah panah pendek tersembunyi di lengan bajunya. Sungguh keterlaluan, ada sedikit racun di anak panahnya. Kalau di tembakkan dalam jarak dekat, sulit untuk menghindar.”

Terdengar suara berdebum. Busur dan panahnya dilemparkan ke arah matahari senja, menyisakan awan tipis dari debu berwarna kuning di udara.

Tatapan Chu Beijie berhenti di kepala Sangtan. Sangtan gemetaran. Orangtua dan istrinya yang berada di balik gerbang kota telah berpesan kepadanya untuk jangan pernah memohon ampun di depan Chu Beijie, atau bisa dipastikan ia akan terbunuh. Jauh lebih baik jika bersikap keras kepala dan tidak mengubah tujuan awalnya. “Chu Beijie, anda tentu tahu, begitu kedua pangeran meninggal, maka orang yang berhak mewarisi takhta berikutnya adalah anda. Sebuah rencana yang sederhana, bagaimana mungkin Raja tidak melihatnya? Biar kuberitahu, seluruh penghuni Kediaman Zhen Bei Wang telah dipecat dan semua yang anda miliki telah di ambil kembali oleh Raja! Sungguh malang, aku hanya seorang sarjana, dan tidak tahu bagaimana bersikap kejam agar bisa melepaskan panah beracun itu.”

Chu Beijie mengabaikan kata-katanya yang seperti gonggongan anjing, ia hanya mengerutkan dahi menatap ujung anak panah yang berwarna hijau. “Panah ini, apa permintaan Raja?” ia bertanya dengan singkat.

“Hmph! Kalau saja Raja bukanlah saudaramu, ia akan segera membunuhmu. Ia berharap anda datang ke istana dan menjernihkan kesalahpahaman, kalau memang seperti itu, tapi mengapa aku malah menyia-nyiakan seluruh kesempatan ini untuk bisa membalaskan dendam mereka?” wajah Sangtan penuh penyesalan dan kemarahan.

Suara Chu Beijie sangat berbahaya. “Begitu kau menembakkan panah, entah aku mati atau tidak, kau sedang berada di tengah sepuluh ribu prajurit, jadi kau pasti akan mati dengan sangat mengenaskan. Kau tidak akan berani melakukannya, kau takut pada kematian, tak masalah, tapi kau malah melontarkan kata-kata menggelikan.”

Wajah Sangtan menjadi merah dan matanya membelak seperti seekor kodok. Ia memutar otaknya tapi tak bisa mengatakan apapun untuk membela dirinya.

Tangan Chu Beijie di belakang punggungnya, matanya bahkan tidak melihat Sangtan ketika ia terus berbicara, “Aku memang orang yang paling pantas dicurigai atas kematian kedua pangeran, tapi mengapa Raja sampai bisa berpikir kalau akulah orangnya, siapa yang melakukannya?”

Sangtan diam, menolak untuk berbicara.

Moran memberitahunya dengan dingin, “Tuan Petugas Kanan tidak pernah bekerja dengan pasukan militer dan tidak tahu apapun tentang peraturan di barak. Ketika kami bertemu dengan tahanan yang menolak bekerja sama, mereka melepaskan pakaiannya dan meninggalkannya pada rekan-rekan kami untuk bersenang-senang, baru kemudian di siksa.”

Wajah Sangtan menjadi pucat seketika.

Tidak ada wanita di dalam pasukan dan itu berarti beberapa ribu pasukan harus menderita karena menahan nafsu birahinya selama beberapa bulan. Semua orang pasti bisa menerka apa yang dimaksud ‘bersenang-senang’. Penyiksaan sudah cukup buruk, tapi kalau ia harus dipermalukan seperti itu, bahkan jika ia mati, ia takkan punya muka untuk bertemu leluhurnya. Ia sangat gemetar, tidak lagi berusaha untuk berani.

“Katakan.” Chu Beijie berdiri tenang seperti tidak terjadi apapun.

Keringat Sangtan menetes berjatuhan, matanya memancarkan kemarahan ketika ia menatap Moran. Dengan gigi terkatup ia berkata, “Apa Tuan berpikir kalau rencana racun itu sangat rapi? Malam harinya Raja dengan segera mendapatkan mata-mata itu  dan setelah penyiksaan yang sangat berat, akhirnya ia mengaku, sebagai mata-mata dari Bei Mo. Orang yang memberikannya racun adalah seorang wanita bernama Bai Pingting. Hmph, bukankah dia, wanita yang anda cintai?”

Moran terkejut dan mendongakkan kepalanya ke arah Chu Beijie.

Chu Beijie tetap seperti batu, tak seorangpun bisa menebak ekspresinya. Seluruh pasukan diam, tak ada yang berani berdehem. Mereka memandangi Panglima mereka.

Dibawah cahaya terakhir matahari senja, Chu Beijie bertanya dengan tenang, “Moran, bagaimana menurutmu situasi saat ini?”

Untuk beberapa alasan, bahkan Moran merasa sangat gugup sampai kedua tangannya bergetar. Ia berlutut dan berkata dengan hati-hati. “Kalau Sangtan mengatakan hal yang sebenarnya, sulit bagi Raja untuk tidak mencurigai Tuan.”

Tiba-tiba suasana menjadi sunyi mencekam.

Komandan yang lain mendengarkan baik-baik setiap perkataan Chu Beijie dan Moran.

“Apa kau percaya kalau aku yang membunuh kedua Pangeran?”

“Tentu saja tidak.”

“Apa Raja juga akan percaya seperti itu?”

Moran ragu sejenak tapi kemudian berkata, “Raja akan mempercayai hal ini. Menurut hirarki keluarga, jika Raja tidak memiliki keturunan, maka Tuanlah yang akan menjadi penerus selanjutnya. Orang yang menyerahkan racun adalah Pingting, orang yang memiliki hubungan dengan Tuan. Dan sekarang Tuan  kembali bersama seluruh pasukan, bagaimana mungkin Raja tidak curiga terhadap Tuan?”

Chu Beijie menoleh keatas dan melihat kalau hari sudah gelap, bahkan sinar terakhir telah menghilang. “Kau bisa melihat tekanan luar biasa yang dialami Raja. Kalau kita memasuki ibukota, kita dan semua orang yang berhubungan dengan kita akan di tangkap dan dibunuh, demi keamanan Dong Lin. Kalau aku sebagai Raja, aku juga akan melakukan hal yang sama.”

Bruk, bruk. Setelah beberapa kali suara bruuk, terlihat seluruh pasukan dibelakangnya berlutut, dan berwajah pucat.

Komandan Shenwei berkata, “Aku tidak keberatan, masuk ke ibukota sendirian dan berusaha menyakinkan Raja kalau Tuan tidak bersalah. Aku akan bersumpah atas leluhurku dan seluruh keluargaku yang masih hidup kalau inilah kebenarannya.”

“Aku juga akan bersumpah kalau Tuan tidak bersalah!” suara pasukan bergema di langit yang mendung.

“Kau telah menemaniku melewati peperangan selama beberapa tahun ini. Raja bahkan mencurigaiku, bagaimana ia tidak curiga pada kalian semua? Memasuki ibukota hanya berarti kematian. Dan pilihan lainnya adalah mati. Kalau aku memasuki ibukota, tidak masalah kalau aku mendapat hukuman, tapi semangat pasukan Dong Lin akan berkurang karena kehilangan Panglima Utama mereka. Walaupun Dong Lin terkenal memiliki banyak prajurit kuat, tapi sekarang sepertinya bahkan tidak mempunyai cukup kekuatan untuk mempertahankan diri. Bagaimanapun, kalau kita tidak memasuki ibukota, Raja mungkin akan menganggap ini sebagai pemberontakan.”

Moran yang paling setia. Ia yatim piatu dan telah menemani Chu Beijie sejak masih muda. Ia menekan giginya dengan kuat. “Memasuki ibukota tidak mungkin, tapi tidak memasuki ibukota juga tidak mungkin. Sejak Raja bersikap curiga, ia tidak akan memaafkan Tuan. Ini sungguh dilema. Pilihan lain adalah membawa pasukan dan menyerbu ibukota, lagipula, Tuan adalah pewaris kerajaan berikutnya.”

“Menguasai ibukota tidak sulit selama aku menguasai pasukan terbaik. Itu juga sebabnya mengapa Raja ingin menyingkirkanku.” Chu Beijie menggelengkan kepalanya, “Tapi bahkan kalau kita menyerbu ibukota, membunuh Raja dan mengambil alih kekuasaan, apa yang akan terjadi pada rakyat Dong Lin? Sekali saja keluarga kerajaan kacau, hati rakyat akan ragu dan para pejabat akan terbagi. Negara lain akan mengambil kesempatan ini untuk menyerang. Apa kita ingin Dong Lin di bantai oleh negara musuh?”

Itu sudah cukup untuk membuat Moran menundukan kepalanya.

Komandan lainnya tahu kalau Chu Beijie memiliki pertimbangan lain. Mereka tidak berani menyela, hanya berlutut di tanah tanpa bersuara.

Angin berhembus lebih kencang, menyebabkan bendera menghantam tiangnya dengan kuat tapi sepuluh ribu prajurit tetap menunggu dalam diam, sampai Panglima mereka membuat keputusan.

“Untuk menyakitiku, ia bahkan tidak keberatan menyatakan diri sebagai pembunuh. Meskipun di wilayah Dong Lin dia sama sekali tidak peduli...” Chu Beijie perlahan berbalik, di ujung bibirnya terbentuk sebuah senyuman getir. “Tidak hanya berniat membuat Dong Lin kacau balau, tapi juga membuat Bei Mo sebagai musuh utama Dong Lin. Hebat, taktik yang hebat.” Ia tertawa pahit agak lama, lalu berhenti, ekspresinya membeku. Tatapannya kembali pada medan pertempuran yang sejauh seribu mil, sebuah tatapan yang penuh penghinaan. Lalu ia berkata dengan lantang, “Seluruh komandan, dengarkan perintahku!”

“Siap!”

“Segera serang ibukota. Setelah menjatuhkan tembok kota, jangan menyerang mereka yang tidak melawan. Arahkan seluruh rakyat masuk ke rumah mereka dan tahan para bangsawan, kemudian menunggu untuk perintah berikutnya.” Chu Beijie mengeluarkan perintah lain, “Komandan Shenwei!”

“Siap!”

“Begitu kita menguasai ibukota, kau pimpin sepuluh ribu pasukan dan bertanggung jawab untuk membuat keputusan di dalam ibukota. Tempatkan pasukan disekitar istana dan kediaman para pejabat penting, tidak ada yang boleh masuk.”

“Baik!”

“Komandan Shenyong!”

“Siap!”

“Begitu kita menguasai ibukota, kau pimpin dua puluh ribu pasukan dan jaga tembok ibukota. Jangan sampai ada satu orangpun yang berhasil kabur, agar kabar penaklukan ibukota tidak tersiar.”

“Baik!”

“Komandan Shenwu, kau ikut denganku. Kepung istana ketika kita menyerang masuk, untuk melihat Raja.”

“Baik!”

Setelah mengatakan semua perintah itu, wajah Chu Beijie menjadi lebih tenang. ia tersenyum sedikit ketika ia menatap para Jendralnya. “Ini untuk Dong Lin dan untuk keamanan kalian. Kalian semua ingatlah ini, kali ini tidak seperti penyerangan sebelum-sebelumnya. Pasukan terbaik berada di pihak kita maka para penjaga pasti sudah cukup merasa takut. Seharusnya mudah untuk mengendalikan ibukota, jadi hindari pembunuhan sebisa mungkin.”

“Kami akan mematuhi perintah Panglima Zhen Bei Wang dengan segala resiko!”

Dibawah langit malam, sosok hitam para prajurit mendekati ibukota Dong Lin, seperti seekor ular.

--0--





novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar