Rabu, 09 Desember 2015

Gu Fang Bu Zi Shang -- 1.23

-- Volume 1 chapter 23 --

He Xia datang melewati pintu masuk melengkung dari taman luar. Ia melihat Pingting yang sedang duduk dari kejauhan, lewat jendela yang terbuka, di antara bunga-bunga yang segar.

Pingting terlihat kurus, amat sangat kurus. Pipinya sangat cekung, tidak lagi seperti pelayan yang selalu tertawa di Kediaman Jin Anwang, begitu kurus kering, sangat menyayat hati melihatnya.

He Xia menyingkap tirai manik-manik, perlahan memasuki ruangan. Sudah beberapa hari ini ia menunggu Pingting bangun, disisinya, sampai akhirnya tabib mengatakan Pingting akan segera sadar dua hari lalu.

Ia tidak yakin akan sanggup menghadapi ekspresi wajah Pingting ketika ia bangun. Setelah menimbang-nimbang akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari ruangan ketika dilihatnya Pingting akan segera tersadar.

Walaupun ia tidak ingin pergi tapi ia tak punya pilihan.

“Pingting...” He Xia memanggil dengan suara lembut, dan mendekat dengan hati-hati.

Pelayannya yang setia dan cerdas yang dulu selalu mengikutinya sekarang terlihat seperti sebuah patung giok, tanpa jiwa hanya sebuah tubuh. Dimana kilau indah dan kehangatan yang memancarkan kecantikannya ? Dimana suhu panas dari tubuh dingin itu yang dulu pernah bersandar padanya, menunggang kuda bersamanya, dan mengagumi pemandangan indah bersama ? He Xia tak bisa menahan keinginannya untuk menyentuhnya.

“Jangan sentuh aku.” Suaranya yang dingin membekukan hatinya dan suaranya penuh kepahitan.

Tangan He Xia terhenti, menggantung di udara, tak bisa bergerak maju lagi. Pingting menoleh kearahnya menatap matanya, tapi sepertinya Pingting tak bisa melihat apapun saat itu.

Gadis yang selalu lembut, lihai, pintar, dan selalu penasaran itu telah menghilang. He Xia hanya melihat hatinya yang telah membeku karena kebingungan dan penderitaan.

He Xia menurunkan tangannya. “Pingting kau berubah,” katanya, matanya sangat putus asa.

“Pingting bukan lagi Pingting yang dulu.” Pingting tersenyum dengan sedih dan bertanya, “Apa Tuan masih sama seperti yang dulu?”

He Xia menatapnya, mempelajari Pingting perlahan. Masa lalu telah menghilang, disapu dari kehidupan hanya dalam sekejap.

Ia mengeluh, perasaannya kacau balau. Dengan suara lembut ia berkata, “Kau ingat ketika kita kecil? Aku belajar kaligrafi dan kau menggiling tinta. Aku berlatih pedang sementara kau memainkan kecapi. Kau selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, tak mau ketinggalan. Ketika kita dewasa, kapanpun aku pergi bertugas, kau selalu ikut serta. Setidaknya separuh dari kesuksessanku sebagai Tuan Muda Jin Anwang adalah berkat kau dan perencanaanmu. Andai kita bisa kembali ke masa lalu, itu akan sangat indah.”

“Masa lalu?” Pingting seperti kehilangan ingatan, tapi kemudian matanya kembali membeku. “Benar, ketika kita membuat obat bius itu, kaulah yang mengatakan padaku kalau obat itu bisa menjadi racun bagi anak kecil, tapi itu tidak dibuat untuk mereka, maka seharusnya hanya digunakan sebagai obat bius, bukan untuk membunuh.” Suaranya terdengar lemah.

He Xia gemetar, begitu marahnya sampai suaranya ikut gemetar dan membalas dengan dingin, “Jadi Kediaman Jin Anwang masih ada dan kedua orangtuaku tidak terbunuh oleh mata-mata?”

Warna merah darah seperti merobek pandangan Pingting.

Pingting kehilangan suaranya, berdiri tiba-tiba, tapi segera terjatuh kembali di tempat tidur karena tumitnya terasa lunglai.

“Kediaman Jin Anwang sudah banyak berjasa bagi Gui Li, dan sudah memutuskan untuk menyerahkan segalanya, untuk kehidupan tenang di gunung. Siapa menyangka kalau He Su memerintahkan mata-mata untuk membunuh kita dengan segala usaha. Ini salahku karena membagi rombongan menjadi dua, dan menempatkan kedua orangtuaku di rombongan yang lain. He Su, kalau aku, He Xia, tidak membalas dendam untuk mereka maka, aku bukan manusia!” ia menggertakkan giginya, dan bola matanya yang hitam kembali menatap Pingting. Dengan suara rendah ia berkata, “Orangtuaku sekarang sudah meninggal dan karena aku tidak punya saudara lain, kaulah orang yang paling kusayangi yang tersisa saat ini.”

Pingting terkejut.

Tuan Besar Jin Anwang sudah meninggal....

Nyonya Besar juga....

Dermawan yang telah membantunya selama delapan belas tahun kehidupannya, telah meninggal. Tanpa mereka, bukankah ia hanya akan menjadi tumpukan tulang di luar kota, karena kelaparan dan kedinginan?

Bisakah ia, benar-benar tidak marah atas apa yang terjadi pada Kediaman Jin Anwang?

Kalau begitu, ia seharusnya bisa memaafkan Raja baru Gui Li, He Su, yang sudah sangat - tidak tahu terima kasih, merencanakan menghanguskan pejabatnya sampai mati, dan mengakibatkan ia terdampar di Dong Lin sehingga bertemu musuh utama Gui Li, Chu Beijie, yang telah membelah hatinya.

Pikirannya melayang jauh, lalu berhenti di atas bangunan yang hangus, Kediaman Jin Anwang. Disana, pertama kalinya Nyonya Besar Jin Anwang menggenggam tangannya yang montok, membawanya menemui He Xia yang sedang memandangi hasil kaligrafinya. Ia tertawa, “Lihatlah, seorang balita perempuan. Ditinggalkan di dekat pintu masuk, mungkin ia berjodoh dengan Kediaman Jin Anwang. Xia’er apa kau mengerti tentang takdir?”

He Xia meletakan penanya, ia tertawa ketika melihat Pingting. “Jangan bergerak, tetap berdiri disana. Aku akan melukismu, hasilnya akan cantik.”

Setelah satu goresan lagi, ia telah menjadi pelayan pribadi He Xia, teman belajar, teman bermain, penasihat militer dan untuk beberapa saat ia hampir menjadi salah seorang selirnya.

“Tuan Besar, Tuan Muda mengajariku memegang pena.”

“Nyonya Besar bilang, aku jauh lebih baik dibanding Tuan Muda ketika memainkan kecapi.”

“Kalau kau tidak mempelajari seni militer dengan baik seperti yang kuperintahkan, Aku akan melapor pada Nyonya Besar.”

Suara tawa yang lembut perlahan menghilang.

Ia berusaha meraihnya, tapi kepingan masa lalu itu berjatuhan dari jari-jarinya. Tak bisa digenggam.

Sudah tak bisa kembali kesana. Kalau ia bukan seorang pelayan He Xia, bagaimana mungkin ia menyusun rencana untuk membuat Chu Beijie terperangkap seutuhnya, memaksanya melakukan perjanjian damai atas Gui Li selama lima tahun?

Kalau Chu Beijie tidak menjanjikan perdamaian atas nama Kerajaan Dong Lin, maka He Su tidak akan sempat mengirim pasukannya untuk memojokkan Jin Anwang, bahkan, mungkin Tuan Besar tidak akan pernah disergap oleh pasukan Kerajaan.

Kejadian yang saling terkait, sebab dan akibat.

Memikirkan hal itu, Pingting merasa dadanya berlubang. Ia bahkan kehilangan kekuatan untuk marah dan dengan suara putus asa ia berkata, “Aku mengerti, Tuan membenci He Su, tapi mengapa Tuan bersama Raja Bei Mo, merencanakan untuk membunuh kedua Pangeran Dong Lin? Bukankah, kalau Dong Lin mampu mengatasi masalah itu dengan segera, maka Bei Mo akan menghadapi bencana yang lebih besar.”

He Xia memandang Pingting dengan pandangan kasihan, lalu menghela napas, “Aku tak peduli apa yang akan terjadi pada Bei Mo, tapi, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu tetap disisiku, Pingting.”

Pingting menjadi kaku, lalu perlahan memandang He Xia dan tersenyum. “Tuan tidak berpikir kalau kesetiaanku sekarang adalah untuk Chu Beijie bukan? Kalau tidak, Pinting tak mungkin kabur dari sana atas keinginannya sendiri dan memaksa Chu Beijie membuat perjanjian, dan memastikan lokasi kalian aman.”

“Sekarang tidak sama dengan dulu, apa sekarang Pingting masih bisa kembali ke sisi Chu Beijie?” He Xia menoleh ke arah lain, dan bertanya dengan suara berat. “Apakah Chu Beijie masih bisa percaya kata-kata Pingting?”

Pingting tidak begitu terpukul seperti yang di perkirakan He Xia. Ia hanya berkata, “Tuan Besar dan Nyonya sudah meninggal, apa rencana Tuan selanjutnya?”

“Membawamu. Kita akan tinggal di pedalaman gunung dan aku akan memperlakukanmu sangat baik tidak seperti kemarin.”

Bola mata hitam Pingting menatap He Xia. Untuk beberapa alasan, ia mendapatkan tenaganya kembali dan ia bangkit perlahan, menatap mata He Xia sambil berjalan pelan kearahnya, seperti berusaha menyimpan sosok He Xia untuk setiap detilnya. Ia memandang bola mata He Xia yang hitam, wajahnya sangat dekat. Pingting menekankan setiap kata-katanya, “Apakah Pingting masih bisa percaya kata-kata Tuan?” Mulutnya terbentuk sebuah senyuman yang pahit ketika ia berbalik, merendahkan suaranya, “Sejak aku meninggalkan kalian, Pingting sudah tidak ada hubungan apapun dengan Kediaman Jin Anwang, Tuan He, silakan pergi.”

Ruangan terasa sunyi mencekam.

Pingting merasa seperti ada kemarahan yang ditahan, ia mendengar suara napas yang berat, lalu akhirnya suara langkah kaki yang berat pergi meninggalkannya.

Suara tirai berguncang. He Xia telah menghilang.

Pingting kehabisan tenaga dan ia roboh di kursinya.

Selain Nyonya dari Jendral Utama beserta kandungannya yang sedang khawatir, semua orang di kediaman ini sedang sangat bahagia.

Perbatasan yang sudah lepas dari peperangan dan pasukan Dong Lin sudah pergi. Jendral Utama sangat mengagumkan, berjasa seperti pohon besar yang melindungi Bei Mo.

Seluruh penghuni kediaman Jendral Ze Yin sangat gembira, karena Raja mengirim banyak hadiah terus-menerus. Semua orang tahu hadiah-hadiah itu hanya basa-basi. Raja menunggu Ze Yin menyelesaikan masalah di perbatasan dan kembali ke Bei Yali untuk memberikannya imbalan yang sesungguhnya.

Yangfeng terlihat bosan dengan emas, perak dan permata mewah di salah satu ruang tamunya yang mungil. Ia telah sangat sangat khawatir pada Pingting, yang telah berbaring begitu lama di tempat tidur, tapi secara tiba-tiba kesehatan Pingting pulih berangsur-angsur dengan begitu cepatnya hanya dalam beberapa hari ini. Pingting meminum semua obatnya dan makan tepat waktu, ia juga tidak menangis. Yangfeng sangat yakin kalau kondisi Pingting semakin baik.

Kabar baik lagi datang. Seorang kurir dari Kanbu melaporkan kalau Ze Yin akan kembali ke Bei Yali segera.

Yangfeng mendekap surat Ze Yin, jantungnya berdebar sangat cepat. Ia memikirkan bagaimana reaksi Ze Yin ketika melihat perutnya yang buncit, dan bagaimana bahagianya dia. Akhirnya separuh dari kekhawatirannya menghilang, lalu ia pergi ke dapur dan membuat beberapa masakan andalannya. Kemudian ia membawanya ke kamar Pingting.

“Kenapa kau duduk?” Yangfeng meletakan menu rebusannya di meja dan segera membantu memperbaiki posisi duduk Pingting. “Sudah kuberitahu, jangan khawatir, kau harus sembuh perlahan-lahan. Ze Yin akan kembali dalam dua hari. Aku menmintanya untuk membeli beberapa gingseng yang bagus dan empedu beruang dalam perjalanan pulang.”

Pingting menggelengkan kepalanya. “Aku sudah banyak beristirahat beberapa hari ini, sekarang waktunya aku pergi.”

Yangfeng terkejut, “Pingting, saat ini kau....” Ia menghela napas, merendahkan suaranya. “Bagaimana aku tidak khawatir?”

“Disini aku begitu di perhatikan, aku tidak bisa tinggal lebih lama.” Pingting menggenggam tangan Yangfeng, dan merendahkan suaranya juga. “Kita bersaudara, kau tahu mengapa aku sampai di tempat ini. Aku akan memberimu beberapa petunjuk, tolong di ingat-ingat.”

Hati Yangfeng terasa pedih ketika ia menunduk, “Katakan.”

“Situasi politik berubah, keempat negara akan mengalami kekacauan yang belum pernah terjadi. Jendral utama telah meraih hal yang luar biasa, ini saat yang tepat untuk pensiun. Dan,” Pingting menyesal sebelum akhirnya berkata, “Berhati-hatilah terhadap Tuan Muda Jin Anwang.”

“Tuan Muda Jin Anwang?”

“Dia bukan lagi He Xia yang kita kenal.”

Mereka berdua memikirkan kedua pangeran muda Dong Lin dan saling terdiam.

Yangfeng melihat makanannya yang sudah dingin di sudut matanya, dan merasakan perasaan berat di hatinya. Menampilkan wajah sedih ia berkata, “Apa kau sungguh akan pergi?”

“Pasti.”

“Dunia begitu luas, kemana kau akan pergi?” Tangan Yangfeng memeluk erat Pingting dan dengan suara tercekik ia berkata, “Bagaimana aku bisa tidur di malam hari, kalau memikirkanmu, seorang gadis mengembara sendirian? Dan orang-orang yang ingin menangkapmu di Gui Li dan Chu Beijie, yang tidak di ragukan lagi berpikir kalau kau yang membunuh kedua keponakannya.”

“Aku akan pulang?”

“Pulang?”

Pingting tersenyum samar, kelembutan dan harapan tersirat di suaranya. Perlahan ia menjawab, “Ada seseorang yang menungguku.” Pingting mengangkat tangannya dan merasakan angin menyapu rambutnya, membuatnya berantakan, ketika ia menatap ke luar jendela ke arah Dong Lin.

Waktunya menepati janji.

--0--



novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar