-- Volume 1 chapter 25 --
Tangisan pertempuran terdengar di malam bulan purnama. Saudara laki-laki Raja satu-satunya telah memutuskan melakukan sesuatu malam ini kepada Dong Lin, sedikit pemberontakan kecil.
Raja Dong Lin sedang berdiri di tempat tertinggi di istana kerajaan, menyaksikan lidah api yang terbentuk seperti seekor naga, di langit malam, tiba-tiba terdengar suara pertarungan datang mendekat.
“Raja!” Seeorang penjaga berlumuran darah berlari mendekat. “Istana telah di serang oleh penghianat. Disini sudah tidak aman, tolong segera melarikan diri!”
Ratu dan keluarga yang berkumpul segera berdiri, wajah mereka pucat. Ratu masih mengenakan pakaian berkabung dan sedang tertunduk sedih. “Ia sudah membunuh kedua anakku dan sekarang ia berencana untuk membunuh kita semua. Dan saat ini, pasukannya pasti sudah menjaga ibukota. Kemana kita bisa pergi?” Ia menoleh kearah Raja, berlutut sambil menangis, “Raja, maaf tapi aku tidak mau menderita karena dipermalukan. Karena kerajaan telah hancur, tolong ijinkan aku mengikat simpul tali.”
“Jangan, Yang Mulia!” Para pelayan yang telah mengikuti Ratu selama bertahun-tahun semua berlutut dan menangis kencang.
Dan segera seluruh ruangan penuh suara tangis.
Raja Dong Lin dengan perlahan menoleh ke belakang dan berkata, “Chu Lei.”
“Chu Lei, disini Yang Mulia.”
Raja Dong Lin mempertimbangkan sesuatu, kemudian berkata, “Bagaimana keadaan rakyat?”
“Yang Mulia?”
“Adikku, apa dia membunuh rakyat biasa?”
“Pasukan pemberontak menyerbu masuk ibukota dan memerintahkan semua orang untuk tetap berada di dalam rumah mereka. Mereka dilarang mengintip keluar, jadi para prajurit juga tidak memasuki rumah mereka. Mereka tidak berencana membuat keributan besar agar tidak menimbulkan korban.”
Raja mengangguk perlahan, dan bertanya lagi. “Bagaimana dengan para pejabat? Apa mereka yang tidak setuju dengan adikku telah dibunuh?”
Chu Lei bisa mendengar suara pertarungan semakin mendekat dengan cepat, tapi sepertinya Raja tidak berniat untuk sembunyi, dan menghabiskan waktu disni tanpa ekspresi. Tapi ia masih punya tugas untuk dilaksanakan, maka ia menjawab sambil mengerutkan dahi. “Aku mendengar kalau kediaman para pejabat telah di kepung. Pemberontak mengetahui para pejabat dengan baik, yang kudengar mereka segera menangkapnya begitu mereka terlihat. Aku tidak tahu apakah mereka ditahan atau apakah mereka masih hidup. Yang Mulia, waktu begitu berharga, tolong segera berangkat.”
“Kemana aku bisa pergi?” Raja Dong Lin tertawa pahit. “Aku tahu ini akan terjadi, sejak aku memerintahkan Pejabat Senior Kanan menemui Chu Beijie di gerbang kota. Aku percaya ikatan persaudaraan kami dan memberikannya kekuasaan penuh atas militer, jadi ini salahku? Oooh, Dong Lin negaraku akan dalam bahaya, jadi aku hanya bisa berharap....”
Ia tidak sempat menyelesaikan kata-katanya ketika suara keramaian tiba-tiba terdengar. Sepertinya pertempuran sedang terjadi di depan mereka, lalu kemudian tiba-tiba berhenti.
Sangat tenang dan sunyi, sepertinya jantung semua orang berhenti bersamaan.
Bang! Pintu terbuka dan seorang kasim kecil yang gemetar berlari masuk, “Yang Mulia, melapor pada Yang Mulia.... I..i..ia...”
Ratu semakin pucat, hatinya mengerti situasinya, tapi sepertinya ia sudah lebih tenang. Ia mengusap airmatanya dan berdiri, menampar si kasim kecil. Dengan suara dingin ia berkata, “Hanya melapor untuk hal penting, dan ketika melapor harus jelas dan tepat. Apa yang terjadi?” Ia menurunkan tangannya, jari-jarinya mengepal kuat sampai menonjolkan tulang-tulangnya .
Separuh wajah si kasim kecil bengkak, tapi nada suaranya menjadi lebih baik. “Hamba patut di hukum, hamba patut di hukum. Melapor pada Yang Mulia, Pangeran Zhen Bei Wang ingin bertemu Yang Mulia.”
Walaupun mereka tahu pasukan Zhen Bei Wang telah menyerang, tapi mendengar namanya disebut saat ini menyebabkan semua orang merasa takut.
Suara Ratu begitu sedih. “Lebih baik ia yang datang kemari, dengan begitu ia bisa membunuh sendiri kakaknya beserta istrinya.”
“Yang Mulia!” Pejabat Senior sayap kanan berambut putih, Chu Zairan tiba-tiba masuk, berlutut di kaki Raja Dong Lin dan menangis. “Dulu aku pernah memohon Yang Mulia untuk memberi perintah dengan keras pada Pangeran Zhen Bei Wang agar ia tidak pernah memberontak. Yang Mulia hanya mengirim Sangtan, karena akan sangat melukai hati Yang Mulia untuk menemuinya sendiri. Dan seperti Yang Mulia lihat, ia telah menyebabkan banyak masalah untuk Dong Lin. Tolong penuhi permintaanku dan kalau Yang Mulia tidak bersedia, aku akan membunuh diriku sendiri dibawah kaki Yang Mulia.”
Raja Dong Lin menghela napas, “ Mengapa kau menangis, aku mengerti. Anak-anak yang kusayangi telah meninggal, dan seluruh petunjuk mengarah pada adikku. Aku hanya buta sesaat karena kenyataan bahwa ia telah memimpin pasukan untuk menyerang ibukota dan menimbulkan kekacauan. Terima kasih telah mengingatkanku Pejabat Senior, sekarang kau lihat, tidak ada gunanya membunuh kedua anakku jika ia bisa merebut kekuasaanku dengan kekuatan militernya.”
“Yang Mulia!” Ratu merasa kesal. “Apa Yang Mulia benar-benar tidak percaya kalau Chu Bijie tidak memiliki niat buruk? Orang yang telah membunuh pangeran-pangeranku pasti dia. Kenapa Yang Mulia masih tidak menyadarinya juga?”
“Sekarang, aku sudah tidak ragu.” Kata Raja Dong Lin sambil merendahkan suaranya pada Ratu, lalu ia melihat ke arah Chu Zairan, yang masih menangis di lantai. Ia menghela napasnya, “Tapi situasi politik telah berubah dan mustahil untuk di perbaiki. Silakan katakan yang ingin kau katakan.”
Tubuh Chu Zairan gemetar dan ia merapatkan giginya. “Aku memberanikan diri, tolong serahkan kekuasaan Yang Mulia pada Pangerang Zhen Bei Wang.”
“Apa? Apa kau sudah tidak waras?” Mereka semua terkejut, penuh emosi.
“Chu Zairan, kau mengerti yang baru saja kau katakan?”
“Tuan Chu tolong tarik kembali. Kau pasti sudah pikun!”
“Aku masih sadar Yang Mulia.” Chu Zairan menegakkan kepalanya melihat pada Raja Dong Lin yang terdiam, airmata mengalir dari matanya yang tua. “Empat negara telah berperang untuk beberapa tahun, pasukan Dong Lin telah menyerang empat kali, menghasilkan dendam yang dalam. Pasukan mereka semakin bertambah kuat, sedangkan negara kita semakin lemah, karena itu kalau pasukan kita pergi, negara pertama yang akan mereka hancurkan adalah negara kita, Dong Lin. Untuk melindungi negara ini, tolong serahkan kekuasaan anda, Yang Mulia, juga untuk menghindari perselisihan yang akan datang. Aku... aku tahu kata-kata ini berarti penghianatan dan aku tahu hukumannya adalah kematian, aku bersedia untuk mati.” Ia menundukan kepalanya lagi ke lantai batu beberapa kali, darah segar mengalir keluar semakin banyak setiap kali kepalanya mengenai lantai, sampai akhirnya kepalanya penuh darah.
Rambut putih dan wajah penuh darah, serangan yang menyedihkan.
Ratu yang biasanya selalu mencerca juga tidak tahan melihatnya.
Tidak ada suara di ruangan itu. Si kasim kecil masih berlutut di lantai, merasa sangat gelisah. Akhirnya ia berkata dengan ragu, “Yang Mulia, Pangerang Zhe Bei Wang... masih menunggu di luar.”
Walaupun ruangan sangat sunyi di hati mereka terbesit pemikiran. Hal ini seperti ketenangan sebelum badai, dipisahkan oleh tembok yang sangat tebal, siapa yang bisa menduga apa yang menunggu begitu tembok di turunkan.
Raja Dong Lin menghela napas dengan berat. “Baiklah, suruh dia masuk. Ratu dan kalian semua pergilah ke belakang. Pejabat Senior Sayap Kanan, tolong tetap di tempat.”
“Yang Mulia...” Ratu menghembuskan napas pelan.
“Ratu, pergilah.”
Para pelayan membantu Ratu untuk pergi dari ruangan, meninggalkan Raja Dong Lin dan Chu Zairan di ruang utama yang besar. Tak lama kemudian, mereka mendengar suara pintu perlahan di dorong terbuka, cahaya api yang besar terpantul di mata mereka. Dalam sekejab, cahaya itu menghilang lagi dan pintu besar telah di tutup kembali.
Ada seorang yang telah hadir di hadapan mereka, mengenakan baju besinya yang berdebu. Wajahnya tampan dan kehadirannya mengesankan. Tangannya bersandar pada pedangnya dan ia berkata sambil menghela, “Kakak pasti merasa tidak suka, bertemu Beijie.” Benar, ia adalah Pangeran Zhen Bei Wang, yang oleh Raja Dong Lin telah di berikan kekuasan penuh atas militer.
Melihat tidak ada reaksi dari Raja Dong Lin, Chu Beijie terkekeh sedih. “Perasaan Beijie ketika mendengar titah Kakak, bukankah mirip dengan yang kakak rasakan saat ini ?”
“Dan karena segalanya telah menjadi kesalahan besar, tidak ada gunanya menyesalinya.” Raja Dong Lin menoleh kearah lain, berkata pada Chu Zairan dengan singkat, “Pajabat Senior Sayap kanan, mulailah menulis.”
“Baik, Yang Mulia.” Chu Zairang mengambil penanya, gemetar sesaat, lalu bersiap menulis. Ia telah menulis titah untuk Raja selama berpuluh-puluh tahun dan telah banyak pengalaman. Ia bahkan bisa menulis gulungan perkamen yang panjang tanpa beristirahat, hanya menghentikan penanya ketika sudah selesai. Tapi kali ini, kertasnya penuh airmata dan goresan tintanya banyak yang menjadi kabur.
Chu Zairan meletakan penanya dan menyerahkannya pada Raja Dong Lin dengan kedua tangan. “Yang Mulia .... silakan di segel...” suaranya tercekik.
Raja Dong Lin menatap kosong pada Chu Beijie. Hubungan persaudaraan mereka sangat erat dan mereka selalu menertawakan permasalahan negara, siapa yang menduga keadaan menjadi seperti ini pada hari ini. Ia mengeluarkan stempel giok, lalu membubuhi segel dengan menekankan stempel pada perkamen. Ia menyerahkan perkamen dan stempel giok pada Chu Zairan dan tertawa dengan agak dipaksakan, “Berikan ini pada Penguasa Dong Lin berikutnya.”
Chu Beijie hanya berdiri diam di kejauhan. Ia tidak berbicara sepatah katapun sejak Chu Zairan mengambil penanya, sepertinya ia telah menjadi patung yang dikutuk. Tatapan matanya sulit diartikan ketika memperhatikan setiap gerakan di ruangan besar ini.
Menerima perkamen dari Raja dengan kedua tangannya, Chu Beijie tetap diam, kemudian ia mendongakkan kepalanya dan berkata, “Hei kakak, sebagai pertukaran atas takhta ini, boleh aku minta dua hal?”
Raja Dong Lin menatap kearahnya, mulutnya bergerak mengeluarkan sebuah kata, “Katakan.”
“Kakak hanya perlu berjanji untuk tidak lagi meneruskan penyerbuan pada negara lain dan biarkan Dong Lin seperti biasanya.” Chu Beijie berkata, “Dan untukku, aku merasa muak atas semua ini. Aku ingin menghilang, tolong ijinkan aku pensiun.”
“Kau pikir, aku akan setuju untuk tidak mengejar seorang penghianat?”
Chu Beijie menganggukkan kepalanya, percaya penuh. “Menghukum seluruh pasukan pemberontak akan merusak kekuatan militer Dong Lin, dan menimbulkan musuh yang lebih kuat. Kakak pasti ingin menghindari kematian sia-sia, karena itu bersedia menyerahkan kekuasaan bukan? Aaah, walaupun aku seorang Jendral yang tiada bandingnya, bahkan juga seorang Pangeran, aku bukan apa-apa di banding kebesaran hati kakak.”
Raja Dong Lin menatap tajam pada Chu Beijie, “Yang satu lagi, apa yang adik inginkan?”
Wajah Chu Beijie menjadi penuh kesedihan.
“Di kediaman Zhen Bei Wang, ada sebuah bangunan kecil di sebelah timur. Di dalamnya diatas meja, ada....” ia memelankan suaranya, “sebuah kecapi.”
--0--
novel, translate, klasik, cina, chinese, terjemahan, indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar